Saturday, January 14, 2012

Renungan Sains dan Agama (3)

Orang yang sangat beragama, apalagi tipe agamanya evangelikal (ada dalam semua agama), sangat sukar menjadi saintis tulen meskipun dia sedang studi sains secara formal. Orang semacam ini dapat disebut sebagai seorang saintis teis: saintis sekaligus percaya penuh pada Allah yang personal antropomorfik. 

Bisakah seseorang menjadi saintis sejati sekaligus percaya pada Allah yang antropomorfik, Allah yang mengambil rupa dan sifat manusia?

Dalam agama-agama teis, Allah yang antropomorfik dipercaya suka mengintervensi jalannya hukum-hukum alam, ketika dia membuat mukjizat. Sedangkan seorang saintis akan menyatakan bahwa hukum-hukum alam atau hukum-hukum sains sudah tetap dan berlaku universal, tak bisa diintervensi oleh apapun.

Stephen Hawking pernah menyatakan, hukum-hukum sains yang bisa diintervensi oleh suatu Allah bukanlah hukum-hukum sains. 

Albert Einstein pernah didesas-desuskan sebagai seorang saintis teis, yang percaya pada Allah yang antropomorfik sekaligus sebagai saintis sejati yang sangat cemerlang. Tapi dengan tegas Einstein membantah desas-desus ini dan menyatakan dengan sangat terang bahwa dia tak percaya pada Allah yang personal antropomorfik. 
Tulis Einstein, “Tentu saja suatu dusta jika anda membaca tentang keyakinan-keyakinan keagamaan saya, suatu kebohongan yang dengan sistimatis diulang-ulang. Saya tidak percaya pada suatu Allah personal dan saya tidak pernah menyangkali hal ini tetapi telah mengungkapkannya dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam diri saya yang dapat disebut religius, maka ini adalah suatu kekaguman tanpa batas terhadap struktur dunia yang sejauh ini sains dapat menyibaknya.” 
Kalaupun dia percaya pada suatu Allah, kata Einstein, dia percaya hanya pada Allah Spinoza. Baruch de Spinoza pernah menyatakan Deus sive Natura: Allah atau alam itu sama. Bagi Spinoza, alam raya ini dengan segala hukumnya yang tetap dan berlaku universal dalam jagat raya kita adalah Allah. Inilah the Spinozian God. 

Selain memandang alam ini sebagai Allah, Einstein juga mengalami suasana religius dalam jiwanya ketika dia dibuat kagum oleh orde dan harmoni kosmos. 
Tulis Einstein, “Saya tidak pernah mengenakan pada Alam suatu maksud dan tujuan, atau apapun yang dapat dipahami sebagai antropomorfisme. Apa yang saya lihat dalam Alam adalah suatu struktur yang menakjubkan, yang dapat kita pahami hanya dengan sangat tidak sempurna, dan hal itu harus mengisi seorang pemikir dengan suatu perasaan kerendahan hati. Ini adalah suatu perasaan religius murni yang tidak ada hubungannya dengan mistisisme.”  
Memakai kata Allahsecara metaforis, Einstein menulis, “Allah tidak sedang bermain dadu.” Ucapannya ini kini terbukti keliru! Determinisme saintifik kini sedang ditantang oleh mekanika Quantum yang tampak tidak mematuhi prinsip yang mekanistik ini.

Kini terkenal juga sebutan “the Einsteinian God”.

Dalam hubungan dengan Allah, seorang saintis bisa tetap saintis sejati jika dia percaya hanya pada Allah Spinoza atau Allah Einstein. 

Tapi masih ada jalan lain lagi untuk seorang saintis bisa tulen sebagai saintis sekaligus menerima adanya Allah yang antropomorfik. Yakni, si saintis menjadi seorang deist.

Dalam deisme, Allah dipercaya ada, tetapi tinggal jauh di atas sana dan sama sekali tak mencampuri jalannya hukum-hukum sains.  Dalam deisme, Allah dipercaya pernah menciptakan jagat raya dan hukum-hukum alam, tapi sesudahnya dia tak mencampuri semua urusan dunia alam. Sekian founding fathers negara besar USA adalah para deists. 

Allah dalam deisme bisa dimetaforakan sebagai seorang pembuat arloji yang indah. Setelah Allah deis ini membuat arloji yang sempurna berjalan menurut kerja mesinnya sendiri, arloji itu tak berhubungan lagi dengan Allah ini. Arloji itu berjalan sendiri, berfungsi sempurna, meskipun sudah tak dipantau atau dijaga lagi oleh si pembuatnya.

Atau seseorang bisa tetap saintis tulen dengan tak mengambil sikap dan posisi apapun terhadap agama, dengan menjadi seorang saintis agnostik. Seorang agnostik berdalih bahwa yang namanya Allah itu tak bisa dikenal atau diketahui oleh manusia dengan cara apapun, apakah ada ataukah tak ada. Seorang agnostik itu menolak kalau dia disebut ateis, tapi sekaligus mengambil sikap acuh tak acuh pada isu ketuhanan.

Jadi, adakah jalan untuk tetap sebagai saintis tulen sekaligus percaya pada Allah? Jalannya ada, yakni si saintis percaya pada Allah Spinoza atau Allah Einstein, Allah yang sama sekali bukan Allah agama-agama monoteis. Atau, si saintis menjadi seorang deis atau seorang agnostik.

Tetapi, sekali lagi, adalah hal yang sama sekali tak mungkin untuk seseorang menjadi saintis sejati sekaligus percaya pada Allah antropomorfik. Allah antropomorfik adalah Allah agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam.

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa Allah melanggar hukum-hukum alam hanya untuk menyelamatkan umatnya.

Tak mungkin seorang kosmologiwan sejati percaya sebagai fakta bahwa Allah menciptakan the big bang dan terus mengendalikan ekspansi jagat raya, yang pada suatu saat nanti akan mengerut kembali menjadi the Big Crunch di ujung pengerutan ini. 

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa manusia muncul di muka Bumi langsung dewasa, sebagai Adam dan Hawa yang sudah matang, karena diciptakan oleh Allah.

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa orang jahat akan dibuang nanti ke neraka oleh Allah, setelah dunia berakhir.

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa orang baik akan dimasukkan nanti ke surga oleh Allah, setelah dunia berakhir. 

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa setelah kematian, manusia dihadapkan pada surga atau neraka abadi.

Tak mungkin seorang saintis sejati percaya sebagai fakta bahwa dirinya nanti akan lahir kembali dalam tubuh yang lain dengan identitas yang sama. Dalam pandangan seorang saintis tulen, identitas, jati diri dan kepribadian seseorang sepenuhnya terekam dalam organ otaknya, sehingga begitu seseorang mati dan otaknya membusuk lenyap, maka lenyap pula identitas, jati diri dan kepribadiannya selamanya. 

Jadi, sama sekali tak dimungkinkan untuk seorang saintis sejati bisa tetap menjadi seorang teis tulen. Scientific theism itu sebuah HOAX!


Jakarta, 14 Januari 2012

Baca juga:
Renungan Sains dan Agama (1)
Renungan Sains dan Agama (2)