Tuesday, January 3, 2012

Renungan Sains dan Agama (1)

Banyak hal dalam jagat raya ini yang belum bisa disibak oleh sains; meskipun demikian, para saintis tak memutuskan untuk memakai  iman. Maksudnya: mereka tidak bisa mempercayai sesuatu sebagai kebenaran jika tidak didukung bukti-bukti.

Lain halnya dengan kaum agamawan: mereka mengklaim sudah tahu segala sesuatu, karena, kata mereka, segala sesuatu sudah diwahyukan dan tertulis dalam kitab suci mereka.

Mereka memakai iman untuk bisa menerima semua isi kitab suci sebagai kebenaran-kebenaran yang diwahyukan, tak bisa salah dan tidak bisa usang. Maksudnya: mereka mempercayai begitu saja bahwa semua hal yang ditulis dalam kitab suci mereka adalah kebenaran. Meskipun sangat banyak hal yang mereka imani belum terbukti secara faktual kebenarannya hingga kini, mereka terus saja beriman.

Karena itu, beragama pada hakikatnya adalah hidup dalam suatu dunia hipotesis-hipotesis yang tak pernah terbukti, suatu dunia yang diangan-angankan, suatu dunia yang dikhayalkan, suatu dunia yang diharap-harapkan.

Agama memang pada hakikatnya perkara iman, bukan perkara bukti-bukti objektif dan autentik atas apa yang diimani. Sifat agama yang semacam itu sangat bertolakbelakang dengan sifat sains.

Kaum saintis dengan terbuka mengakui ada banyak hal tentang kehidupan dan jagat raya yang mereka belum ketahui. Tetapi, sekali lagi, kaum saintis tak pernah memakai iman untuk menerima keberadaan sesuatu, tapi melalui penyelidikan dan pembuktian objektif yang terus berlanjut.

Kalau ada yang belum diketahui para saintis, mereka tak memakai iman untuk mengklaim ini dan itu, melainkan melakukan penyelidikan lebih jauh untuk tiba pada temuan-temuan dan kesimpulan-kesimpulan baru.

Sains adalah sebuah perahu yang terus berlayar makin jauh, menuju pelabuhan yang masih sangat jauh dan selalu hanya samar-samar terlihat.

Tetapi agama adalah tempat tidur nikmat yang segera membuat orang tertidur lelap dalam kamar yang sejuk dan lengang.