Monday, March 30, 2009

Dispensasionalisme Pra-Millennial

Dispensasionalisme Pra-Millenial
(Tulisan pertama dari tiga tulisan tentang millennialisme)

Kata Latin “millennium” artinya “seribu tahun”; kata ini gabungan dari dua kata, “mille” (= seribu) dan “annus” (= tahun). Dalam Wahyu 20:1-10, “Millennium” (Yunani: “khilia” = seribu; “etē” = tahun) menunjuk pada masa pemerintahan Kristus selama seribu tahun di akhir zaman. “Millennialisme” adalah pandangan atau ajaran tentang Millennium: bagaimana Millennium harus ditafsirkan, secara literalistik, harfiah, ataukah secara figuratif; apa yang menjadi isinya, dan bagaimana ini berkaitan dengan kedatangan Kristus kembali ke bumi (parousia). Millennialisme adalah sebuah pilihan dari antara pilihan-pilihan lain dalam ajaran gereja tentang akhir zaman, eskatologi (Yunani: “eskhatos” = akhir, ujung, hal-hal terakhir; dan “logos” = uraian, ajaran, pandangan, argumen). 


Oleh para pendukungnya, millennialisme dibangun bukan hanya berdasarkan Wahyu 20, tetapi dengan juga memperhatikan sastra-sastra lain di dalam Alkitab yang dikenal sebagai sastra-sastra eskatologis apokaliptis (Yunani: “apokalipsis” = wahyu; penyingkapan ilahi), misalnya ucapan-ucapan para nabi PL yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa “di masa depan”, Kitab Daniel, dan Markus 13 (dan paralelnya dalam Matius 24 dan Lukas 21).

Dalam sejarah penafsiran atas Millennium, telah muncul tiga pandangan: 1) Pra-millennialisme; 2) Pasca-millennialisme; 3) A-millennialisme (Non-millennialisme). Yang akan dideskripsikan dalam tulisan ini adalah pra-millennialisme.

Pra-millennialisme

Dari ketiga pandangan tentang Millenium itu, pra-millennialisme adalah yang paling literalistik, material dan politis. Sesuai dengan namanya, pra-millennialisme menegaskan bahwa kedatangan Yesus Kristus kembali ke bumi akan mendahului (“pra-“) masa Millennium. Menurut pandangan ini, Millennium, yaitu pemerintahan Yesus Kristus selama seribu tahun (1000 x 365 hari), akan berlangsung di bumi, dengan pusat pemerintahannya di kota Yerusalem, di Negara Israel Modern (berdiri 14 Mei 1948). Millennium adalah pertama-tama penggenapan atau pemenuhan dari seluruh karya dan janji Allah yang ditujukan kepada umat pilihan-Nya yang abadi, bangsa Israel; dan melalui pemerintahan millennial Yahudi ini berkat-berkat Allah akan sampai ke seluruh muka bumi.

Para pra-millennialis (= penganut pra-millennialisme) umumnya berpandangan bahwa karya Allah dalam sejarah dunia dan umat manusia berlangsung progresif, gradual, dalam tahapan-tahapan atau zaman-zaman, dari zaman yang satu ke zaman yang lainnya, terus bergerak maju, sampai pada tibanya Millennium sebagai zaman penutup. Skema kronologis teologis-historis ini dikenal dengan nama dispensasionalisme.


Oleh kalangan Kristen evangelikal dan fundamentalis (Barat), pra-millennialisme ditempatkan dalam bingkai dispensasionalisme, dan ini melahirkan pandangan yang disebut dispensasionalisme pra-millennial, yang memuat sekaligus teologi dan politik Zionis Kristen, yaitu teologi dan politik keberpihakan “Kristen Barat” (injili fundamentalis) secara total, menyeluruh, dalam segala hal, terhadap Negara Israel Modern dalam percaturan politik dan militer di Timur Tengah. 

Dispensasionalisme Pra-millennial

Suatu penafsiran teologis sistimatis atas pekerjaan Allah dalam sejarah dunia dan umat manusia, dari Penciptaan, lalu zaman Adam dan Hawa hingga masa Millennium, yang paling berpengaruh di dalam fundamentalisme dan evangelikalisme Kristen (Barat) dikenal sebagai dispensasionalisme pra-millennial. Kata Latin “dispensatio” (Yunani: oikonomia) berarti “pembagian”, “pembabakan”, atau “pengelolaan” atau “pengaturan.” Dengan demikian, “dispensasionalisme” adalah suatu tafsiran teologis sistimatis tentang tata pengaturan atau karya penyelenggaraan (= ekonomi) Allah atas sejarah manusia dan dunia yang dilihat berlangsung kronologis progresif, maju ke muka, dalam tujuh tahapan zaman yang sudah tetap dan tidak bisa dibatalkan, yang satu sama lain berbeda, dengan kepenuhannya dialami dalam zaman atau dispensasi terakhir, Millennium.

Dua nama, pendeta Edward Irving (Inggris) dan, khususnya, pendeta John Nelson Darby (dari Gereja Irlandia, sebuah denominasi dalam Gereja Anglikan, dan pendiri Plymouth Brethren), dipandang sebagai bapak-bapak penggagas dan penyebar perdana doktrin dispensasionalisme pra-millennial. Keduanya sangat aktif mengkhotbahkan dispensasionalisme pra-millennial pada 1824-1833 di Inggris dan Irlandia. Sejak 1862 John N. Darby banyak berkunjung ke Amerika Utara; dalam kurun waktu 25 tahun dia telah mengadakan tujuh perjalanan propaganda ke negeri ini. Selama kegiatan perkunjungannya ke Amerika, dia berhasil makin dalam menanamkan pengaruhnya atas para pemimpin evangelikalisme Amerika, antara lain James H. Brookes, Arno Gaebelein, Dwight L. Moody, William E. Blackstone, dan Cyrus Ingerson Scofield. Gagasan-gagasan dispensasionalis Darby juga telah mendorong tumbuhnya sekolah-sekolah Alkitab dan konferensi-konferensi bercorak Zionis tentang penggenapan “nubuat para Nabi” (tentang etnis Yahudi), mula-mula di kalangan evangelikalisme, lalu juga di dalam fundamentalisme Amerika Serikat, antara 1875 dan 1920.

William E. Blackstone (1841-1935), karena menerima pengaruh kuat doktrin dispensasionalisme pra-millennial John N. Darby, telah menjadi salah seorang Zionis Kristen pertama di Amerika yang gigih selama puluhan tahun memperjuangkan kepentingan bangsa Yahudi. Sebagai seorang pekabar Injil dan pekerja awam dari Gereja Episkopal Methodis, dan pendiri American Messianic Fellowship International (1887), Blackstone telah menulis sebuah buku, berjudul Jesus Is Coming (terbit 1887; sampai 1927 telah diterjemahkan ke dalam enam puluh bahasa). Di dalam bukunya ini, dia menegaskan bahwa orang-orang Yahudi memiliki hak-hak alkitabiah atas tanah Palestina dan mereka akan segera menempati kembali tanah itu. Bagi Blackstone, munculnya gerakan Zionisme adalah suatu “tanda” bahwa Kristus akan segera datang kembali. Dia juga menekankan bahwa orang-orang Kristen Zionis harus tidak lagi menuntut pertobatan semua orang Yahudi, masuk Kristen, sebagai persiapan pemulihan hak-hak Israel atas bumi Palestina, melainkan harus membantu dan membuka jalan tanpa pamrih apa pun untuk bangsa Yahudi Diaspora (= dalam perserakan) memiliki kembali tanah mereka yang pada waktu itu sedang didiami bangsa Arab-Palestina.

Antara 1908 dan 1917, buku Blackstone tentang kedatangan kembali Kristus dan restorasi atau pemulihan hak-hak bangsa Yahudi ini telah dicetak ulang berkali-kali dan makin populer, dan menjadi buku yang paling luas pembacanya di abad XX sampai diterbitkannya buku-buku dan novel-novel sangat laris sejenis, karangan dua orang Kristen (ultra-) fundamentalis dispensasionalis Amerika masa kini: Hal Lindsey, The Late Great Planet Earth (1970; sampai 2003, buku ini diklaim telah terjual 18 juta copies dalam bahasa Inggris), dan serial fiksi atau novel teologis Tim LaHaye, Left Behind (sejak 1995; sampai tahun 2003 serial ini diklaim telah terjual melebihi 32 juta copies). 


Fiksi-fiksi serial Left Behind, misalnya novel eskatologis apokaliptis mutakhir Glorious Appearing (ditulis Tim LaHaye dan Jerry B. Jenkins), menampilkan bukan Yesus yang cinta damai dan anti-kekerasan, yang mengajar dengan perumpamaan-perumpamaan dan bergaul dengan rakyat kecil, melainkan Yesus yang berotot kuat (seperti Schwarzenegger), berwajah keras dan haus darah, Yesus sebagai juru tempur (warrior) yang tangguh dan hakim yang kejam, ganas, agresif, tidak kenal belas kasih, yang membunuh lawan-lawannya dengan ucapan-ucapan mulutnya, ketika dia, pada waktu kedatangannya kembali, melakukan pembalasan dendam dan menumpahkan murkanya atas dunia dan para pemimpinnya yang tidak percaya. 

Terdapat suatu paralelisme yang kuat antara citra George W. Bush sebagai the war President, yang yakin akan adanya maksud ilahi di balik penyerangan Amerika terhadap Afghanistan dan Irak, citra Negara Israel yang karena dirongrong terus menjadi murka terhadap bangsa Arab-Palestina, dan citra the warrior Jesus dalam novel-novel atau fiksi-fiksi eskatologis dispensasionalis yang dihasilkan orang-orang Kristen evangelikal fundamentalis dewasa ini seperti LaHaye dan Jenkins. 





Scofield Reference Bible

Oleh C. I. Scofield (lahir 19 Agustus 1843), melalui karya anotasinya (= pemberian catatan-catatan tafsiran dan referensi silang teks-teks) atas Alkitab, Scofield Reference Bible (diterbitkan Oxford University Press pada 1909), pandangan-pandangan pra-millennialisme dispensasional John N. Darby dibawa masuk ke dalam, dan diterima secara umum oleh, evangelikalisme arus utama dan fundamentalisme Protestan Amerika. Scofield Reference Bible kini telah menjadi Alkitab kaum fundamentalis Kristen. Seorang murid Scofield yang paling berpengaruh, Lewis Sperry Chafer, pada tahun 1924 mendirikan Dallas Theological Seminary, sebuah perguruan tinggi teologi di Amerika yang kuat membela, memakai dan mempertahankan dispensasionalisme pra-millenialis dan Scofield Reference Bible, serta memperjuangkan kepentingan Zionisme, terutama melalui tulisan-tulisan Charles Ryrie dan John Walvoord.

Scofield adalah seorang sistimatikus fundamentalis yang membagi sejarah karya Allah dalam dunia ke dalam tujuh dispensasi. Sebagai suatu “proof-text” (teks-bukti) untuk membenarkan langkahnya “membagi” sejarah pekerjaan Allah dalam zaman-zaman, Scofield memakai teks 2 Timotius 2:15, yang dalam pandangan Scofield, mengikuti terjemahan John N. Darby, berbunyi, “…, rightly dividing the word of truth” (“membagi dengan benar firman kebenaran”). Untuk teks ini, khususnya kata Yunani orthotomeō, terjemahan ekumenis NRSV (the New Revised Standard Version) lain bunyinya: “…, rightly explaining the word of truth”; terjemahan TB LAI (1974) lain lagi: “…berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.” Menurut keyakinan Scofield, “rightly dividing the word of truth” itulah yang telah dilakukannya terhadap Kitab Suci (= “the word of truth”) sehingga melahirkan skenario dispensasionalisme yang mencakup tujuh dispensasi/zaman. Buku pertama Scofield yang ditulis dalam rangka membela dispensasionalisme pra-millennial berjudul Rightly Dividing the Word of Truth (terbit 1928).



Tujuh Zaman dalam Skenario Dispensasionalisme Scofield
  • (1) Zaman ketidaktahuan (Kejadian 1:3-3:6). Tanggungjawab: Memelihara Taman Eden. Hukuman: kutukan-kutukan; 
  • (2) Zaman hati nurani (Kejadian 3:7-8:14). Tanggungjawab: Berbuat baik. Hukuman: Air Bah; 
  • (3) Zaman pemerintahan sipil (Kejadian 8:15-11:9). Tanggungjawab: Memenuhi Bumi. Hukuman: Diserakkan dengan paksa; 
  • (4) Zaman pemerintahan bapak-bapak leluhur Israel (Kejadian 11:10-Keluaran 18:27). Tanggungjawab: Diam di Tanah Perjanjian. Hukuman: Perbudakan di Mesir; 
  • (5) Zaman Hukum Musa (Keluaran 19:1-Yohanes 14:30). Tanggungjawab: Memelihara Hukum. Hukuman: Pembuangan-pembuangan; 
  • (6) Zaman Anugerah (Zaman Gereja) (Kisah 2:1- Wahyu 19:21). Tanggungjawab: Percaya pada Kristus. Hukuman: Kematian; 
  • (7) Zaman Millennium (Wahyu 20:1-15). Tanggungjawab: Percaya & Taat. Hukuman: Kematian.
Untuk dapat memahami bagaimana skenario dispensasionalisme pra-millennial bekerja, dispensasionalisme Scofield harus diikuti apa adanya. Pertama-tama mesti diperhatikan bahwa bagi Scofield, semua dispensasi itu ditandai oleh kegagalan-kegagalan manusia. Di dalam Zaman Anugerah/Gereja, juga tidak semua orang menerima tawaran keselamatan yang didatangkan oleh Yesus Kristus; dan mereka yang tidak taat dan tidak percaya ini akan mengalami penghukuman berupa kematian pada permulaan Millennium. Dalam dispensasi keenam ini, bangsa Yahudi diyakini akan berbalik, percaya pada Yesus Kristus, dan, karenanya, mereka akan diselamatkan dan, sebagai akibatnya, akan mengalami restorasi atau pemulihan sebagai suatu bangsa di tanah mereka sendiri. Perspektif ini disebut restorasionisme. Tetapi, dalam perkembangan belakangan, restorasionisme dimodifikasi dengan melepaskan keharusan pertobatan bagi bangsa Yahudi. Sebagai gantinya, ditekankan bahwa gereja Kristen harus membantu bangsa Yahudi untuk mengalami pemulihan (tanah mau pun ibadah mereka di Bait Allah), kendati pun mereka tidak menjadi Kristen. Ini harus dilakukan demi mempercepat parousia (= kedatangan kembali) Kristus. Ketika Millennium tiba, barulah mereka akan bertobat, menerima Kristus sebagai sang Mesias mereka.

Harus juga diperhatikan bahwa para dispensasionalis pra-millennial memberi tempat istimewa bagi dispensasi keempat, yakni Zaman Pemerintahan Bapak-bapak Leluhur Israel, dan bagi Perjanjian Davidik (2 Samuel 7:16) yang ditetapkan dalam dispensasi kelima bahwa kerajaan mesianik Yahudi yang dibangun Raja Daud akan berlangsung kekal. Bagi mereka, segala janji Allah kepada bangsa Yahudi, kepada para bapak leluhur mereka dan kepada Raja Daud, akan tetap berlaku sepanjang masa, kekal abadi, kendati pun bangsa Yahudi akan kerap kali gagal memikul tanggungjawab yang Allah berikan. Bangsa Yahudi akan selalu menjadi anak kesayangan, anak emas, Allah. Setiap orang yang mengutuk bangsa Yahudi, akan dikutuk Allah. Masa peralihan dari dispensasi keenam (Zaman Anugerah/Gereja) masuk ke dispensasi ketujuh (Millennium), juga memiliki kekhususan; dan ini akan diuraikan di bawah.

Perjanjian Abrahamik

Dispensasi keempat menjadi sangat penting, karena di dalamnya janji-janji Allah kepada Abraham (yang mengikat seluruh bangsa Israel) diberikan dan diberlakukan kekal, turun temurun; antara lain:
“Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 12:2-3)
“Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya.” (Kejadian 13:14-15)
“Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat: yakni tanah orang Keni, orang Kenas, orang Kadmon, orang Het, orang Feris, orang Refaim, orang Amori, orang Kanaan, orang Girgasi dan orang Yebus itu.” (Kejadian 15:18-19)
Janji perlindungan menyeluruh oleh Allah atas bangsa Israel (bahwa Allah akan mengutuk orang-orang yang mengutuk Israel; akan membenci orang-orang yang membenci bangsa Israel), dan janji pemberian tanah yang luas, lengkap dengan batas-batas geografisnya, bagi bangsa Israel untuk didiami, oleh kalangan Kristen dispensasionalis pra-millennialis dipandang tidak bisa dibatalkan oleh hal apa pun (termasuk oleh kekeliruan tindakan Israel sekalipun). Janji-janji ini akan terus dipertahankan dan dipenuhi oleh Allah bagi bangsa Yahudi, baik dulu, maupun kini ketika bangsa Yahudi (sebelum 1948) masih terserak-serak dan karenanya akan dikumpulkan kembali di Tanah Perjanjian. Mereka menegaskan, Millennium disediakan Allah supaya di dalamnya segala nubuat tentang, dan janji-janji Allah yang diberikan kepada, bangsa Israel terpenuhi harfiah dan material di bumi ini. “Tanda-tanda” bahwa Millennium akan tiba, dan Kristus akan segera datang kembali, akan muncul dari dalam, dan selalu terkait dengan, nasib bangsa Yahudi dan Tanah Israel di Timur Tengah.

“Replacement Theology” Ditolak

Bagi kalangan penganut dispensasionalisme pra-millennial, bangsa Israel sebagai suatu etnisitas bagaimana pun juga tidak bisa digantikan oleh gereja Kristen; “replacement theology” (= teologi yang menyatakan bahwa gereja Kristen, melalui perjanjian yang dibuat Allah di dalam Yesus Kristus, telah menggantikan, replacing, bangsa Israel) mereka tolak. Adanya “Perjanjian Baru” yang dibangun Yesus Kristus yang mengikat gereja, tidak membuat “Perjanjian Abrahamik” dan “Perjanjian Davidik” (tentang pemerintahan mesianik Yahudi yang kekal di bumi) usang, atau sudah digenapi secara spiritual di dalam Yesus dan gerejanya. Kitab Suci Ibrani, the Hebrew Bible (Tenakh; yang oleh kekristenan, karena teologi “replacement”, dinamakan “Perjanjian Lama”) tetap sepenuhnya absah, otentik dan tidak bisa digantikan oleh apa pun, dan banyak nubuat di dalamnya tentang etnis Yahudi dan Tanah Perjanjian, kata para penganut dispensasionalisme, masih menunggu pemenuhannya di zaman modern ini.

Dengan demikian, bagi para dispensasionalis pra-millennial, yang menuruti ajaran John N. Darby, Allah memiliki dua umat yang satu sama lain berbeda: yang pertama, bangsa Yahudi, dan, yang kedua, gereja Kristen. Ada perbedaan-perbedaan mendasar antara etnis Yahudi dan gereja Kristen yang telah diletakkan Allah dalam karya-karya-Nya bagi bangsa Israel dan bagi gereja Kristen. Bangsa Israel adalah umat Allah di “bumi”: umat ini ber-etnis Yahudi; terikat kuat pada Tanah Perjanjian, yaitu Tanah Israel di bumi sebagai “poros jagat raya” (axis mundi), dan pada Bait Allah di Yerusalem bumi sebagai “tempat” kediaman Allah di bumi; dipersiapkan untuk kepentingan tujuan-tujuan material Allah “di bumi”, yakni tegaknya kerajaan mesianik Yahudi di bumi ini, persisnya di Tanah Israel, sesuai dengan Perjanjian Abrahamik dan Perjanjian Davidik (2 Samuel 7:16), dan kerajaan ini berpusat pada Bait Allah dan kota Yerusalem bumi. Sedangkan gereja Kristen adalah komunitas “surgawi”, komunitas rohani yang dibangun bukan karena ikatan etnis atau ikatan “darah dan daging” apa pun dan juga tidak terikat pada suatu tanah di bumi, melainkan karena ikatan iman kepada Yesus Kristus, melampaui batas-batas etnis apa pun dan geografis teritorial mana pun, yang dipersiapkan untuk tujuan-tujuan “surgawi”, yakni pengangkatan ke surga, meninggalkan bumi, menerima “tubuh rohani”, dan masuk ke dalam keselamatan kekal adikodrati, di luar dunia dan di luar sejarah.

Dengan demikian, para penganut dispensasionalisme pra-millennial menolak “rohanisasi” atau “spiritualisasi” apa pun atas Israel dan Yerusalem. Bagi mereka, kalau Kitab Suci (PB khususnya) berbicara tentang Israel atau Yerusalem, maka, yang dimaksud Kitab Suci adalah betul-betul etnis Yahudi, betul-betul Tanah Israel (Eretz Israel) dan betul-betul kota Yerusalem material fisikal di bumi. “Yerusalem baru” tidak berada di surga, tetapi “turun dari surga” (Wahyu 21:2, 10), ada di bumi ini, pada masa Millennium, di kota Yerusalem di Tanah Israel yang sudah direstorasi, dipulihkan. Karena bangsa Yahudi sedang terserak-serak di luar Tanah Perjanjian, maka, bagi Darby pada masanya dan bagi para dispensasionalis lainnya, pencarian dan berkumpulnya kembali umat Allah yang di bumi ini, yaitu etnis Yahudi, di Tanah Israel, akan membawa dunia ke dalam Millennium, di dalam mana berkat Abraham akan sampai ke segala muka bumi.

Perspektif-perspektif yang telah dikemukakan di atas menjadi fondasi-fondasi terpenting dari Zionisme Kristen yang dianut dan diperjuangkan kalangan Kristen evangelikal dan fundamentalis Eropa dan Amerika masa kini, seperti telah diperlihatkan sebelumnya dalam sebuah tulisan di blog ini yang berjudul Fundamentalisme Zionis Yahudi-Kristen (klik di sini).

Zaman Peralihan

Peralihan dari Zaman Anugerah/Gereja masuk ke Zaman Millennium menjadi masa yang sangat penting bagi skema dispensasionalisme pra-millennial. Dalam masa peralihan ini, menurut pandangan ini, akan terjadi siksaan dan kesengsaraan besar dan dahsyat (tribulation) yang “belum pernah terjadi sejak awal dunia, yang diciptakan Allah, sampai sekarang dan yang akan tidak terjadi lagi” (Markus 13:19; Matius 24:21). Masa Kesengsaaan Besar ini akan melanda bumi selama tujuh tahun. Angka tujuh tahun ini adalah tafsiran pra-millennialis atas “satu kali tujuh masa” dalam Daniel 9:27; bdk. 9:24, 25; atau tafsiran atas frasa “tujuh puluh kali tujuh masa” dalam Daniel 9:24. Dalam masa tujuh tahun penderitaan hebat ini, Yesus Kristus akan datang kembali untuk “mengangkat ke surga” (rapture) (1 Tesalonika 4:16-17) gerejanya yang sejati, yakni orang-orang Kristen yang sudah dilahirkan kembali (born-again Christians). 

Tetapi para pra-millennialis berbeda paham tentang kapan persisnya Yesus akan datang kembali dalam masa tujuh tahun itu untuk mengangkat orang-orang kudusnya ke surga. Dalam hal ini, dapat dibedakan empat pandangan: a) Pengangkatan ke surga pra-kesengsaraan besar (pre-tribulation rapture); b) Pengangkatan ke surga pasca-kesengsaraan besar (post-tribulation rapture); c) Pengangkatan ke surga di pertengahan masa kesengsaraan besar (mid-tribulation rapture); d) Pengangkatan ke surga pra-kemurkaan Allah (pre-wrath rapture).

Pengangkatan ke Surga Pra-kesengsaraan Besar (Pre-tribulation Rapture)

Menurut pandangan ini, “pengangkatan ke surga” orang-orang Kristen akan berlangsung persis sebelum Masa Kesengsaraan Besar, yaitu ketika Yesus dari surga datang kembali untuk keduakalinya, secara rahasia dan tiba-tiba. Dengan demikian, gerejanya tidak ikut mengalami kesengsaraan besar itu. Setelah masa kesengsaraan besar ini yang berlangsung selama tujuh tahun berakhir, maka Kristus akan datang kembali dari surga ke dunia untuk ketigakalinya, kali ini bersama rombongan besar orang Kristen (yang sudah bertubuh rohani), untuk mengalahkan sang Antikristus bersama kekuatan-kekuatan dan lasykar-lasykarnya, lalu Kristus akan kembali mendirikan dan menjalankan pemerintahan Yahudi selama Millennium di mana dia sendiri akan memimpin dunia ini sebagai Mesias Yahudi, dengan pusat pemerintahannya di Yerusalem bumi.

Posisi pre-tribulationism ini umumnya dipegang oleh para penggagas dispensasionalisme pra-millennial (John N. Darby, Edward Irving, dan C.I. Scofield); juga oleh para penganut perdana paham ini, seperti Lewis S. Chafer dan Charles Ryrie. Bagi mereka, pre-tribulationism adalah suatu eskatologi dispensasional yang normatif, tidak bisa ditawar-tawar lagi, dan merupakan suatu ciri umum dari pra-millennialisme dispensasional klasik. Pada masa kini, pendukung dan juru kampanye aktif pandangan pre-tribulationism adalah tokoh-tokoh fundamentalis Amerika, seperti Hal Lindsey dan Tim LaHaye.

Pengangkatan ke Surga Pasca-kesengsaraan Besar (Post-tribulation Rapture)

Dalam pandangan ini, yang dipegang kalangan pra-millennialis non-dispensasionalis, orang-orang Kristen akan mengalami seluruh kesengsaraan besar yang berlangsung selama tujuh tahun itu, masa di mana sang Antikristus memegang kendali pemerintahan dunia. Setelah periode tujuh tahun ini berlalu, Yesus Kristus akan datang kembali dan mengangkat orang-orang Kristen ke surga. Orang-orang Yahudi baru percaya kepada Yesus sang Mesias setelah pengangkatan orang-orang Kristen ke surga. Pemerintahan Millennium dilakukan Kristus dari surga, bersama-sama orang-orang Kristen yang sudah diangkat. Posisi post-tribulationism ini dianut antara lain oleh para penulis seperti J. Barton Payne, George E. Ladd, dan R. H. Grundry.

Pengangkatan ke Surga di Pertengahan Masa Kesengsaraan Besar (Mid-tribulation Rapture)

Para penganut mid-tribulationism berpandangan bahwa orang-orang Kristen akan mengalami separuh masa kesengsaraan besar, yaitu kurun waktu yang disebut sebagai “satu masa dan dua masa dan setengah masa” dalam Daniel 7:25 dan Wahyu 12:14, yang ditafsir sebagai masa tiga setengah tahun (= 42 bulan). Di pertengahan masa kesengsaraan besar ini, Kristus akan datang kembali dan mengangkat mereka ke surga.

Pengangkatan ke Surga Pra-kemurkaan Allah (Pre-wrath Rapture)

Pandangan ini (diintrodusir oleh Marvin J. Rosenthal) menegaskan bahwa masa kesengsaraan besar selama tujuh tahun itu harus dibagi dalam tiga bagian, yakni permulaan penderitaan (Matius 24:8), masa kesengsaraan besar (Matius 24:21), dan Hari TUHAN pada saat mana Allah akan menumpahkan seluruh api kemurkaan-Nya atas dunia ini (Matius 24:30-31). Gereja akan mengalami masa kesengsaraan besar ini, tetapi luput dari api murka Allah, sebab pas sebelum kemurkaan ini Yesus Kristus akan telah datang kembali untuk mengangkat orang-orang percaya ke surga. Pada saat kedatangan kembali Kristus ini, sisa-sisa orang Yahudi yang masih hidup akan dikumpulkan di Tanah Israel dan diselamatkan.

Baca juga:
Pasca-millenialisme
A-Millennialisme