Saturday, January 17, 2009

Teori "Cognitive Dissonance" dan Kekristenan Perdana

Teori “Cognitive Dissonance” dan Kekristenan Perdana

Oleh Ioanes Rakhmat

Dengan memakai sebuah teori sosio-psikologis yang dinamakan “cognitive dissonance” (CD), aktivitas evangelisasi (penyebaran agama) dan proselitisme yang dilaksanakan dengan sangat intens dan ekstensif oleh komunitas Kristen perdana (seperti diperlihatkan teks-teks Perjanjian Baru), yang membuat mereka dapat tetap bertahan dan berkembang, dapat diterangkan sebagai aktivitas yang dilaksanakan untuk mengatasi berbagai gejala tekanan psikologis (“cognitive”) yang ditimbulkan oleh melesetnya atau tidak terpenuhinya atau gagalnya (“dissonance”) kepercayaan-kepercayaan dasariah dan esensial yang semula mereka pegang kuat-kuat./1/

Teori CD menyatakan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu suatu komunitas keagamaan yang mengalami kenyataan melesetnya kepercayaan-kepercayaan pokok dan esensial mereka ketika diperhadapkan pada kenyataan-kenyataan di dalam dunia, tidaklah harus ambruk, bubar dan lenyap. Sebaliknya, komunitas ini malah akan dapat lebih giat dan bersemangat lagi, lebih dari sebelumnya, dalam melakukan kegiatan misioner mencari anggota atau petobat baru sebagai suatu tanggapan terhadap keadaan ragu dan kesulitan besar yang timbul dari kegagalan atau melesetnya suatu kepercayaan atau keyakinan pokok yang sebelumnya dipertahankan mati-matian. Melesetnya kepercayaan-kepercayaan pokok dan keadaan ragu dan sulit yang ditimbulkannya dinamakan CD.

Unsur konseptual penting dalam teori CD ini adalah bahwa melesetnya atau gagalnya kepercayaan yang semula dipegang menimbulkan tekanan dan dorongan psikologis yang sangat kuat untuk mengurangi atau meniadakan kegagalan itu. 

Ada dua teknik utama yang digunakan untuk mengurangi, meniadakan atau menyalurkan dorongan tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh kegagalan ini. Pertama, adalah dengan melakukan proselitisme melalui evangelisasi besar-besaran. Di sini ada suatu asumsi yang dipertahankan (seringkali tanpa disadari), yakni jika semakin banyak orang dapat diyakinkan akan kebenaran sistem kepercayaan yang dianut, maka jelas sistem itu bagaimana pun juga pasti benar. Sederhananya begini: sesuatu sudah jelas meleset, gagal, tetapi karena makin banyak orang yang mau menerima sesuatu yang meleset dan gagal itu, maka pastilah yang meleset itu benar. Dalam hal ini, jelas ditemukan suatu paradoks: kepercayaan sudah meleset, malah aktivitas misioner meningkat. Ini bisa terjadi, karena mengiringi “disonansi” (= melesetnya) kepercayaan, dipakai juga teknik (ini yang kedua) rasionalisasi, yakni mencari-cari dan merumuskan penjelasan-penjelasan yang masuk akal untuk membenarkan terjadinya disonansi, dengan mengadaptasi segi-segi tertentu dari sistem kepercayaan yang dipegang dengan tanpa mengubah elemen-elemen esensialnya, sementara dapat juga menerima kenyataan dalam dunia yang telah membuktikan melesetnya sistem kepercayaan yang dianut.

Supaya CD melahirkan proselitisme, ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh suatu komunitas keagamaan:
  1. Kepercayaan atau keyakinan itu harus dipegang dengan kuat, dan harus ada relevansinya dengan tindakan, dengan apa yang dikerjakan orang yang menganutnya dan dengan bagaimana dia bertingkah laku;
  2. Orang yang memegang kepercayaan itu harus memiliki komitmen penuh padanya; maksudnya: demi kepentingan kepercayaan itu, dia harus mau melakukan suatu tindakan penting yang sulit sekali untuk tidak dilakukan. Umumnya, makin penting tindakan-tindakan itu, dan makin sulit untuk tidak melakukannya, maka makin besar komitmen orang itu pada kepercayaan yang dipegangnya;
  3. Kepercayaan itu harus (cukup) spesifik dan terkait dengan dunia nyata, sehingga kejadian-kejadian tertentu di dalam dunia dapat membuktikan dengan jelas dan tegas bahwa kepercayaan itu meleset atau gagal terpenuhi;
  4. Bukti yang tidak dapat disangkal bahwa kepercayaan itu meleset harus ada, dan harus diakui oleh orang yang menganut kepercayaan itu;
  5. Orang yang menganut kepercayaan itu harus memiliki dukungan sosial; jika dia adalah seorang anggota dari suatu komunitas orang percaya yang dapat saling mendukung, maka dapat diharapkan kepercayaan itu dipertahankan dan orang-orang yang memercayainya berusaha melakukan proselitisme atau berusaha meyakinkan orang luar bahwa kepercayaan itu (meskipun tidak terpenuhi) benar adanya.
Syarat-syarat pertama, kedua dan kelima sudah sangat jelas terpenuhi dalam kehidupan komunitas Kristen perdana; karena itu tidak perlu dilakukan pengujian atas ketiganya dengan memperhadapkan ketiganya pada teks-teks PB. Yang harus diuji adalah syarat-syarat ketiga dan keempat. Berikut ini dipaparkan garis besarnya saja.


Test case: Dua Kepercayaan Dasariah Kekristenan Perdana Yang Kuat Dipegang

1) Yesus dipercaya sebagai sang Mesias, tetapi ternyata dia menderita dan
mati dengan memalukan lewat penyaliban

Bahwa Yesus adalah sang Mesias, adalah suatu kepercayaan yang sangat kuat disaksikan PB, sebagai kepercayaan dasariah yang dipegang umat Kristen PB. Dalam rangka teori CD, perlu diajukan satu pertanyaan: Adakah fakta yang telah terjadi pada sang Mesias ini, di dalam dunia ini, yang diakui umat Kristen perdana tetapi mula-mula sukar atau bahkan tidak bisa diterima oleh mereka sehingga menimbulkan tekanan psikologis tertentu pada mereka? Jawabnya juga sudah sangat jelas: Ada, yakni suatu fakta tidak terbantahkan bahwa Yesus yang dipercaya sebagai sang Messias itu ternyata harus menderita dan pada akhirnya mati disalibkan. Fakta penderitaan dan penyaliban Yesus sang Mesias ini adalah suatu fakta yang mula-mula sangat tidak bisa diterima atau tidak diantisipasi sama sekali oleh murid-murid Yesus dan umat Kristen perdana. Konsep tentang Mesias yang sengsara, lalu disalibkan, adalah suatu konsep yang tidak masuk ke dalam pemikiran murid-murid perdana Yesus (orang-orang Yahudi); suatu konsep yang menjadi “batu sandungan.” Bagian-bagian tertentu PB memperlihatkan hal ini, misalnya 1 Korintus 1:23; Markus 8:32; Lukas 24:20-21.

Pendek kata, syarat-syarat ketiga dan keempat yang dituntut teori CD terpenuhi: Ada suatu kepercayaan yang kuat dipegang, termasuk di dalamnya harapan-harapan yang dikaitkan dengan kepercayaan itu (bahwa Yesus itu sang Mesias yang akan melakukan hal-hal besar bagi umat Israel), tetapi juga ada suatu peristiwa yang membuktikan kepercayaan ini meleset, gagal terpenuhi (yakni bahwa Yesus sang Mesias itu mati dengan cara yang memalukan: disalibkan!). Melesetnya kepercayaan ini menimbulkan tekanan dan keguncangan psikologis besar; suatu krisis kejiwaan dari kalangan yang merasa telah ditinggalkan Allah. Jeritan keterlantaran Yesus Mesias di kayu salib juga adalah jeritan komunitas Kristen, karena sang Mesias mereka mati dengan cara yang memalukan, disalibkan, sebagai tanda dia dikutuk Allah (Ulangan 21:23; Galatia 3:13).

Maka, untuk mengatasi krisis sosio-psikologis ini, komunitas-komunitas Kristen perdana melakukan dua hal, yang membuat mereka tetap kenyal, dapat bertahan hidup dan berkembang. 

Pertama, mereka melakukan rasionalisasi, yakni memberi penjelasan-penjelasan teologis yang bisa diterima atas persoalan mengapa sang Mesias disalibkan; penjelasan-penjelasan ini membuat kepercayaan dasariah itu tetap dapat dengan konsisten dipertahankan; dan ini disusul dengan pengajuan amanat proselitisme evangelisasi. Kedua langkah ini ditemukan di banyak bagian PB. Misalnya, dalam madah tua kristologis Filipi 2:6-11 (par. 1 Timotius 3:16) kematian Yesus di kayu salib dijelaskan bukan lagi sebagai suatu peristiwa yang memalukan, melainkan, bersama seluruh rangkaian kehidupannya sebelumnya, sebagai jalan Allah untuk “sangat meninggikan Dia dan mengaruniakannya nama di atas segala nama” (2:9). Bersamaan dengan rasionalisasi ini, suatu dorongan untuk melakukan proselitisme juga diungkapkan dengan kuat: “Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (2:10-11). Dengan rasionalisasi ini, Yesus sebagai sang Mesias yang mati disalibkan, dapat tetap diterima dan dipegang sebagai suatu kepercayaan esensial. Di dalam Injil Yohanes, melalui rasionalisasi, “salib” tidak lagi dipandang sebagai aib dan kutuk, tetapi sebagai jalan Yesus ditinggikan dan dimuliakan, jalan kembali ke kawasan darimana dia datang, sorga. Rasionalisasi atas penyaliban Yesus dengan memakai teks-teks profetis skriptural maupun ucapan-ucapan profetis yang disampaikan Yesus sendiri sebagai pembenaran penyaliban, yang ditempatkan bersisian dengan mandat proselitisme, juga ditemukan di banyak bagian PB (misalnya: Galatia 3:13, 14; 1 Korintus 15:1-4, 5-8, 35-55; Lukas 24:26, 27, 44-46, 47-48; Markus 8:31; 9:31; 10:32-34; 10:45; 14:24; Matius 9:31 & par.; Lukas 9:22 & par.; bdk. Yohanes 12:23-27).

2) Yesus Kristus dipercaya segera datang kembali, tetapi nyatanya dia tidak kunjung datang

Kepercayaan bahwa Yesus akan segera datang kembali, waktunya sudah sangat singkat, dan dunia lama akan berakhir, sangat kuat disuarakan oleh PB (misalnya, 1 Tesalonika 4:16-18; 1 Korintus 7:29, 31; 10:11; Filipi 3:20-21; Roma 13:11,12; Markus 9:1; 13:29-30; Wahyu 1:3; 3:11; 12:12; 22:7, 10, 12, 20). Tetapi, dalam kenyataannya, dia tidak kunjung datang; dan dunia masih seperti sedia kala. Hingga kini, abad 21.

Dalam surat deutero-paulinis 2 Tesalonika (yang ditulis 40 sampai 50 tahun sesudah Yesus mati), dilukiskan jemaat mengalami “kebingungan dan kegelisahan” (2:2) karena ada yang memberitakan bahwa “hari Tuhan telah tiba” (2:3). Kebingungan dan kegelisahan ini bisa ditimbulkan oleh pemberitaan tersebut (yang membuat orang merasa tidak perlu lagi bekerja, tetapi cukup pasif menunggu saja; lihat 2 Tesalonika 3:10); tetapi sangat boleh jadi juga timbul terutama karena jemaat―mendapati bahwa segala sesuatunya masih seperti semula: tidak ada kebangkitan orang mati; tidak kelihatan Yesus turun dari surga; tidak terdengar bunyi sangkakala; tidak ada pengangkatan ke angkasa; tidak ada pertemuan di udara (padahal semua ini diajarkan dalam 1 Tesalonika 4:14-17)―tersadarkan bahwa Yesus belum kunjung datang juga, sementara Paulus sudah meninggal dunia (tahun 64-65?). 

Kenyataan dalam dunia ini bahwa Yesus belum juga datang kembali, membuat kepercayaan akan kedatangan segera Yesus Kristus meleset; terjadi disonansi; dan ini menimbulkan suatu tekanan psikologis kegelisahan dan kebingungan. Menghadapi kenyataan ini, penulis 2 Tesalonika mengajukan suatu skenario atau “tabel waktu” yang berisi daftar lima peristiwa yang harus terjadi lebih dulu sebelum parousia (= kedatangan kembali Yesus) berlangsung (2:3-12). Pengajuan skenario ini menunjukkan, pertama, bahwa si penulis, sementara tetap mempertahankan keyakinan bahwa Kristus akan datang kembali, tidak lagi memandang kedatangan ini akan segera terjadi; dan, kedua, si penulis sedang melakukan rasionalisasi atas melesetnya kepercayaan ini. Bersamaan dengan rasionalisasi ini, si penulis juga, dalam rangka evangelisasi, meminta supaya jemaat berdoa “agar firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (3:1). Pada sisi lain, berita bahwa “hari Tuhan telah tiba”, sementara kehidupan dunia nyatanya masih seperti semula, menunjukkan bahwa si pemberita itu, yang ditentang oleh penulis 2 Tesalonika, sudah memberi definisi dan isi lain atas kepercayaan akan kedatangan “hari Tuhan”; ini juga suatu rasionalisasi untuk menjelaskan mengapa Yesus tidak kunjung datang.

Rasionalisasi-rasionalisasi lainnya untuk menjelaskan fakta bahwa Yesus belum juga datang kembali, ditemukan di banyak bagian PB. Dalam Injil Markus terdapat teks-teks proselitis ekspansionistik yang ditambahkan belakangan (13:10; 16:8b-20); teks-teks ini tidak sejalan dengan gambaran kuat tentang situasi sulit dan menakutkan yang sedang melanda komunitas Markus yang mengharuskan mereka bukan menujukan perhatian pada misi evangelisasi global, melainkan “memikul salib” (8:34) dan “bertahan sampai kesudahannya” (13:13)./2/ Teks-teks ekspansionistik proselitis ini (“Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa” [13:10]; dan “pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” [16:15]) memperlihatkan suatu kondisi di mana parousia sudah tidak dipandang akan segera terjadi, dengan alasan (rasionalisasi!) supaya ada kesempatan untuk bangsa-bangsa lain mendengar injil: Yesus memang tetap akan datang kembali, tetapi kedatangannya tidak segera, karena injil masih harus diberitakan ke dunia bangsa-bangsa, dan ini memerlukan waktu yang panjang.

Mengakhiri abad pertama, dan memasuki abad kedua, kepercayaan bahwa Yesus segera datang kembali juga dipandang meleset; tetapi oleh kekristenan perdana tetap dipertahankan setelah melalui rasionalisasi tertentu. 

Bahwa parousia tidak kunjung terjadi sehingga gagasan ini diragukan dan ditolak sementara orang, diperingatkan dalam surat 1 Klemen (ditulis sekitar tahun 96) supaya jangan menjadi sikap jemaat: Hendaklah apa yang dikatakan Kitab Suci ini jauh dari kita: “Celakalah orang-orang yang mendua hati dan mengatakan, ‘Kami telah mendengar semua hal ini bahkan dalam zaman nenek moyang kami, tetapi lihatlah, kita telah menjadi tua dan tidak ada satu pun dari semuanya ini terjadi”’ (23:3-5). 

Dalam surat 2 Petrus (awal abad kedua) ditampilkan situasi yang sejajar, yaitu munculnya para pengejek yang berujar, “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan” (3:4). Keterlambatan parousia, melesetnya kepercayaan, diterima oleh penulis surat 2 Petrus; tetapi dia tidak melepaskan kepercayaan ini, melainkan merasionalisasinya dengan menyatakan bahwa kedatangan Tuhan yang “seperti pencuri” itu (3:10) tidak dapat diketahui menurut perhitungan waktu manusia, melainkan hanya menurut perhitungan waktu Allah; katanya “Di hadapan Tuhan satu hari sama dengan seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (3:8), dan parousia itu tertunda, karena Tuhan itu “sabar … dan menghendaki supaya jangan ada orang yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (3:9). Lalu fanatisme religius ditanamkannya, dengan dia meminta jemaat untuk “hidup suci dan saleh” sebab dengan cara itu mereka “akan mempercepat kedatangan hari Allah” (3:12). Jelas di sini kita dapati bahwa ejekan makin memperbesar perasaan duka dan gagal yang muncul dari disonansi kepercayaan; ini diatasi dengan merasionalisasi kepercayaan sehingga kepercayaan itu masih tetap dapat dipertahankan, dan dengan penguatan fanatisme religius.


Kesimpulan


Melesetnya kepercayaan-kepercayaan kristologis dasariah kekristenan perdana tidak membuat kekristenan ini bubar dan lenyap dari muka bumi; tetapi sebaliknya, anggota-anggota komunitasnya malah makin bergairah untuk melakukan penyebaran agama untuk menghasilkan petobat-petobat baru sehingga kekristenan perdana dapat tetap hidup, bertahan dan berkembang. Fenomena ini dapat dijelaskan bukan hanya dari sudut teologis (misalnya, karena penyelenggaraan ilahi, “providentia dei”, atau hidayah), tetapi juga dari sudut sosio-psikologis. 


Teori CD bisa menjelaskan fenomena ini dari sudut sosio-psikologis. Melesetnya kepercayaan-kepercayaan esensial jelas menimbulkan tekanan-tekanan psikologis yang sangat kuat dalam diri para pemeluknya. Tinimbang tekanan-tekanan psikologis ini diarahkan ke dalam batin secara destruktif, umat Kristen perdana mengarahkannya ke luar, secara konstruktif, dengan melakukan evangelisasi proselitis ekstensif pada satu pihak, dan, pada pihak lain, dengan mengajukan rasionalisasi untuk bisa menjelaskan perihal gagalnya kepercayaan-kepercayaan mereka untuk sementara waktu. Rasionalisasi membuat mereka dapat tetap konsisten memegang kepercayaan esensial mereka yang telah gagal terpenuhi itu, yang kini sudah ditambahi elemen-elemen baru hasil rasionalisasi; pada waktu yang sama, mereka, dengan memegang teguh kepercayaan mereka, juga melakukan evangelisasi untuk menghasilkan anggota-anggota baru. Pertambahan jumlah anggota komunitas meyakinkan mereka dengan lebih kuat lagi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang mereka pegang itu benar adanya, kendati pun kenyataan-kenyataan dunia mengindikasikan hal-hal yang berbeda dari yang diyakini mereka.


Catatan-catatan

/1/ Sumber primer tentang teori CD, lihat Leon Festinger, H.W. Riecken dan S. Schachter, When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World (New York: Harper and Row, 1956). Pemaparan lebih jauh teori ini, lihat Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance (Stanford, California: Stanford University Press, 1957). Pengenaan teori ini pada kekristenan perdana, lihat John G. Gager, Kingdom and Community: The Social World of Early Christianity (New Jersey: Prentice Hall, 1975) 37-49.

/2/ Gambaran menakutkan tentang perang dalam Markus 13:7-13 tampak mengacu dengan jelas pada pengalaman orang yang menanggung beban berat Perang Yahudi melawan Roma tahun 66-70. Bdk. Daryl D. Schmidt, The Gospel of Mark (Sonoma, California: Polebridge Press, 1990) 127.