Friday, February 29, 2008

Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Prostestan

Doktrin-doktrin Pokok Fundamentalisme Protestan: Sebuah Evaluasi Kritis

Oleh Ioanes Rakhmat

Fundamentalisme Protestan yang muncul pada awal abad 20 tidak dapat dilepaskan dari kandungan paradigma pemikiran Reformasi Protestan evangelikal (abad 16) ketika para tokoh terkemuka dari kalangan evangelikal dalam paradigma ini berkonfrontasi reaktif terhadap nilai-nilai paradigma zaman Pencerahan (abad 17 dan 18). Nilai-nilai ini melahirkan kemodernan dengan nilai-nilai modernnya yang diadaptasi ke dalam teologi modern dan teologi liberal, antara lain pengagungan rasionalitas yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta “progress” bagi peradaban manusia dan sekularisasi. Dalam paradigma Pencerahan ini, manusia tiba pada kesadaran dan pemikiran kesejarahan yang linier yang berorientasi ke masa depan, yang bertentangan dengan nilai-nilai zaman Barok (Renaissance) yang berorientasi ke masa lampau.

Nama “fundamentalisme” berasal dari brosur-brosur yang diterbitkan sebanyak 12 bagian dari 1909-1919 (1910-1915) yang diberi nama The Fundamentals: A Testimony to the Truth[1] (“fundamentals” di sini artinya tentu hal-hal yang mendasar dari iman Kristen) oleh tokoh-tokoh terkemuka kalangan Protestan evangelikal dan para teolog konservatif dari Princeton Theological Seminary, dengan dukungan dana penerbitan dari dua orang Kristen awam. Para pendukung gerakan ini disebut orang-orang “fundamentalis” (istilah ini diciptakan oleh seorang Baptis, C.C. Law, pada tahun 1920). Ada lebih dari satu definisi tentang “fundamentalisme” sebagai gerakan. Antara lain, fundamentalisme adalah “gerakan abad 20 yang terkait erat dengan tradisi kebangunan rohani dari Protestantisme evangelikal arus utama yang dengan militan melawan teologi modernis dan perubahan kebudayaan yang dihubungkan dengannya.”
[2] Dan, sederhana namun menggigit, seorang fundamentalis adalah “seorang evangelikal yang berang terhadap sesuatu.”[3] Definisi-definisi dari pakar non-fundamentalis ini disetujui oleh orang-orang fundamentalis sendiri. Dan “sesuatu” yang membuat mereka berang jelas adalah, seperti ditegaskan oleh seorang fundamentalis sendiri, “Protestantisme liberal radikal yang telah berupaya baik menyekularisasi kekristenan maupun mengkristenisasikan sekularisme pada saat yang bersamaan.”[4]

Apa yang mereka sedang lawan dan tentang mati-matian, terlihat dalam pokok-pokok yang mereka pandang fundamental bagi iman Kristen. Pokok-pokok ajaran dasariah yang dipertahankan dalam The Fundamentals mencakup:

1) pengilhaman dan ketidaksalahan (Infallibility) Alkitab;
2) keilahian Kristus dan kelahirannya dari perawan Maria;
3) pendamaian melalui kematian Yesus Kristus;
4) kebangkitan harfiah/jasmaniah Yesus Kristus; dan
5) kedatangan Yesus Kristus dengan segera.

Dari sekian tulisan dalam The Fundamentals, dua puluh tujuh membahas Alkitab, sembilan tentang apologetika, delapan mengenai pribadi Yesus Kristus, dan tiga tentang kedatangan Kristus kedua kalinya. Kalau isi seluruh tulisan di dalamnya diperiksa, maka kelihatan bahwa tujuan utamanya adalah membela dan memuliakan pandangan-pandangan tradisional mengenai Alkitab. Hampir sepertiga dari keseluruhan tulisan menekuni pokok ini, dan di dalam semua uraiannya pengilhaman dan infallibilitas Kitab Suci dengan kuat dipertahankan.[5]

Tokoh-tokoh Kristen fundamentalis sendiri menyatakan doktrin “inerrancy” dan “infallibility” Alkitab pada dasarnya berkaitan dengan keabsahan dan otoritas Alkitab. Mereka memandang Alkitab sebagai kumpulan tulisan yang “diilhamkan Allah” dan karenanya bebas dari kesalahan apapun di dalam semua pernyataan dan penegasannya sebagai mana terdapat dalam naskah-naskah aslinya. Mereka mengklaim bahwa doktrin fundamentalis tentang Alkitab ini sendiri berasal dari gerakan evangelikal arus utama abad 19 yang mempertahankan konsep “pengilhaman harfiah sepenuh-penuhnya” sebagaimana dikembangkan oleh para teolog dari Princeton Theological Seminary.

Memang pada 1878, dalam mengantisipasi gerakan fundamentalis, dalam Niagara Bible Conference dikeluarkan suatu “Pengakuan Iman Niagara” yang pasal pertamanya berbunyi demikian: “Kami percaya ‘bahwa segala tulisan suci diilhamkan Allah’; yang kami pahami sebagai tulisan suci adalah kitab yang dinamakan Alkitab; kami tidak memahami pernyataan itu seperti yang kadang-kadang secara keliru dipahami bahwa yang diilhami adalah karya-karya orang-orang pandai. Tetapi yang kami pahami adalah bahwa Roh Kudus memberikan kata-kata dari tulisan-tulisan itu sendiri kepada orang-orang suci zaman lampau. Dan bahwa pengilhaman Allah ini tidak berlangsung dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, melainkan berlangsung sama rata dan sepenuhnya untuk semua bagian tulisan-tulisan ini, tulisan-tulisan sejarah, puisi, pengajaran dan nubuat para nabi, dan bahkan sampai pada kata-kata yang paling kecil dan juga infleksi suatu kata, asalkan semuanya itu di dalam naskah-naskah aslinya.”[6] Jelas, pernyataan ini adalah rumusan “kepercayaan”, rumusan “pengakuan iman”,[7] bukan suatu pernyataan atau kesimpulan ilmiah yang dihasilkan melalui penelitian kritis ilmiah.

Lalu, mengapa Alkitab “dipercaya” dan dipertahankan sampai begitu rupa? Jelas, pada awal kelahiran fundamentalisme, pemahaman semacam itu dimaksudkan untuk menolak dan menyerang pendekatan historis kritis terhadap Alkitab yang memakai prinsip-prinsip penalaran dan kesadaran sejarah zaman Pencerahan. Apakah pandangan fundamentalis ini sesuatu yang baru? Jelas, bukan! Tentu sudah ada pemahaman di dalam gereja-gereja perdana semacam ini, bahkan di dalam dunia Perjanjian Lama ketika dituturkan bahwa Roh Allah datang dan memenuhi nabi-nabi yang sedang mengalami ekstasi, dan juga di dalam teologi Yahudi. Juga sudah jelas bahwa bapak-bapak gereja (Ortodoksi) memegang keyakinan yang serupa. Demikian juga dalam teologi Kristen Abad Pertengahan.[8] Bahkan, tegas orang-orang fundamentalis, Yesus sendiri mengutip Perjanjian Lama dan memandangnya sebagai tulisan-tulisan yang diilhami Allah dan bahkan dia sendiri mengacu pada bagian-bagian Kitab Suci yang “diragukan kebenarannya” dan menerimanya sebagai tulisan-tulisan yang menyaksikan kejadian-kejadian yang sungguh-sungguh terjadi (Adam, Yunus, dan orang-orang lainnya).[9]

Sebelum tiba zaman Pencerahan yang melahirkan modernitas, adalah sesuatu yang wajar saja kalau orang berpikir demikian, sama seperti mereka percaya begitu saja bahwa dunia ini diciptakan dalam enam hari dalam arti harfiah. Lalu, apakah sebelum lahirnya fundamentalisme pada awal abad 20 orang-orang zaman pramodern yang memandang Alkitab seperti itu juga orang-orang fundamentalis? Tidak, tidak bisa dikatakan bahwa mereka yang hidup pada zaman pramodern, zaman pra-kritis dalam studi Kitab Suci, adalah orang-orang fundamentalis. Tetapi, orang-orang yang sudah memasuki zaman modern dimana studi-studi Alkitab sudah memakai metode-metode kritis, tetapi masih berkeras memandang Alkitab secara pra-kritis, mereka adalah orang-orang fundamentalis. Dalam hal ini, bukan Alkitab yang mereka pertahankan dan mutlakkan, melainkan doktrin keagamaan pramodern mereka mengenai Alkitab, dan dari doktrin ini memancar segala segi lain yang dipertahankan dalam tradisi keagamaan mereka.[10] Bagaimana dengan Martin Luther? Jelas, dia bukan seorang fundamentalis, sebab baginya meski pun Alkitab adalah firman Allah satu-satunya (sola Scriptura), dalam hermeneutik Luther tidak setiap bagian Alkitab yang berdiri sendiri-sendiri adalah firman Allah; bagian-bagian itu adalah firman Allah hanya sejauh menyaksikan Firman Allah yang menjelma, yaitu Yesus Kristus. Kewibawaan Alkitab dalam pandangan Luther terletak disitu, bukan pada doktrin inerransi dan infallibilitas harfiah Alkitab.

Doktrin mengenai kebangkitan Yesus secara jasmaniah didesakkan untuk melawan pandangan modernisme yang melihat Yesus hanya sebagai “guru moral” yang meninggalkan pesan-pesan moralnya, khususnya Khotbah di Bukit.[11] Bagi kalangan fundamentalis, Yesus adalah sang penyelamat yang hidup yang dapat mengubah kehidupan orang pada masa kini; dia bukan seorang guru etika yang sudah mati. Bagi mereka, kebangkitan yang dilihat hanya sebagai “kebangkitan spiritual” sama sekali tidak memadai, karena tidak sesuai dengan kesaksian Injil (orang-orang fundamentalis mengacu pada Lukas 24:36-43; Yohanes 20:20-29). Beberapa catatan perlu dikemukakan.

Dalam Alkitab, perihal kebangkitan Yesus diberitakan bukan hanya dalam Injil-injil, tetapi juga, misalnya, dalam surat Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Korintus 15:35-58). Disitu, Paulus berbicara tentang tubuh kebangkitan sebagai “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon), sedang tubuh yang ditaburkan “tubuh jasmaniah” atau “tubuh alamiah” (sōma psukhikon). Jelas, Paulus membedakan dua jenis tubuh itu, yang di antara keduanya terdapat diskontinuitas radikal. Orang fundamentalis gagal melihat kemajemukan kesaksian Alkitab sendiri mengenai kebangkitan Yesus. Selain itu, dengan studi kritis, terlihat bahwa kesaksian Perjanjian Baru tentang kebangkitan Yesus berkembang dalam beberapa tahap, dan tahap yang paling awal (madah kristologis pra-Paulinis dalam Filipi 2) menyatakan kebangkitan Yesus itu dengan sebutan “Allah sangat meninggikan Dia” (2:9) tanpa ada rujukan apapun kepada kebangkitan jasmaniah. Baru pada tahap yang belakangan kebangkitan itu dituturkan dalam Injil-injil (Matius, Lukas dan akhirnya Injil Yohanes) dengan terinci dan makin materialis atau fisikal.[12]

Kalaupun orang-orang fundamentalis menekankan kebangkitan Yesus secara jasmaniah dengan mendasarkannya pada pengalaman orang percaya pada kehadirannya di masa kini sebagai penyelamat yang hidup yang mengubah hidup manusia, maka ada beberapa persoalan di sini. Pengalaman kehadiran Yesus pada masa kini jelas adalah pengamalan kehadiran Roh, bukan pengalaman akan kehadiran diri Yesus secara jasmaniah yang dapat dipandang dan disentuh. Jadi, mengapa untuk memberi landasan pada pengalaman spiritual ini harus ada doktrin yang dimutlakkan bahwa Yesus bangkit secara jasmaniah? Bukankah Yesus yang bangkit dalam tubuh rohaniahnya lebih mungkin untuk dapat juga hadir secara rohaniah pada masa kini? Lagi pula, pengalaman keagamaan dihadiri Yesus ini berlangsung dalam suatu lingkungan orang percaya yang memegang tradisi kepercayaan tertentu, dan pengalaman semacam ini bukan satu-satunya pengalaman keagamaan yang dengannya orang mengalami “makna” Yesus buat kehidupannya di masa kini. Di sini terlihat bahwa penekanan doktrinal pada kebangkitan jasmaniah Yesus oleh orang-orang fundamentalis tidak bertolak dari kesaksian Alkitab yang dipahami dengan teliti dan menyeluruh, melainkan bertolak dari pengalaman keagamaan dalam arus tradisi Kekristenan tertentu yang coba dibenarkan melalui harmonisasi tulisan-tulisan Kitab Suci dan muncul dari motivasi melawan modernisme yang menerapkan pendekatan kritis terhadap Kitab Suci.

Akhirnya, satu hal penting perlu dikemukakan. Meski pun doktrin tentang kebangkitan fisikal Yesus ini ditekankan oleh orang-orang fundamentalis, tetapi makna teologisnya tidak ditekankan sekuat yang diberikan pada kematian Yesus di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia.[13] Mestinya, doktrin kebangkitan Yesus akan mendorong orang-orang fundamentalis untuk terjun ke dalam persoalan-persoalan masyarakat untuk mengusahakan pembaruan hidup sebagaimana Kristus yang mati disalibkan dibaharui kembali dalam kebangkitannya. Sebaliknya, mereka aktif untuk memperjuangkan keselamatan pribadi orang seorang saja melalui penginjilan tanpa menyentuh persoalan-persoalan kemasyarakatan, dan melupakan bahwa kebangkitan Yesus didahului oleh kematiannya dalam tangan pemerintah penjajah Roma di abad pertama yang melhat Yesus sebagai seorang tokoh keagamaan yang potensial mengganggu stabilitas Pax Romana. Juga, mestinya pengalaman dihadiri Roh Yesus Kritus yang diklaim kalangan fundamentalis ini akan membuat mereka terbuka juga pada pengalaman-pengalaman spiritual sejenis” yang dialami orang-orang dari tradisi keagamaan lain. Nyatanya, orang-orang fundamentalis tidak menunjukkan sikap dan pengertian semacam itu. Tidak mungkin pengalaman akan kehadiran “The Holy Other” akan memisahkan orang seorang dari orang-orang lain dari tradisi keagamaan yang berbeda yang juga mengalaminya.

Pengalaman batiniah keagamaan masa kini berupa kehadiran Yesus sebagai sang penyelamat yang hidup yang membuka hubungan pribadi dengan orang percaya, memerlukan pemahaman bahwa Yesus adalah Allah yang datang ke dalam dunia tanpa dosa (karena itu, dia harus dilahirkan dari Perawan Maria). Demikianlah argumentasi kalangan fundamentalis untuk doktrin mereka mengenai keilahian Yesus,[14] sementara di dalam doktrin Ortodoksi mengenai Yesus diakui bahwa Ia adalah “Allah dan Manusia”. Pada awal kelahiran fundamentalisme, doktrin ini diajukan untuk melawan pemahaman modernis liberal dan deisme (yang tidak dapat menerima gagasan tentang suatu Allah yang datang ke dalam dunia, menjelma, dan campur tangan dalam dunia manusia) yang melihat Yesus hanya sebagai manusia biasa, pengajar moral, yang menjadi teladan bagi manusia.[15] Karena itu dapat dipahami bahwa sisi kemanusiaan Yesus yang diakui Ortodoksi tidak ditampilkan dalam doktrin fundamentalis ini. Dari sudut ini, juga dapat dipahami kalau mereka tidak memedulikan kesaksian Perjanjian Baru yang juga menekankan kemanusiaan Yesus di samping, dalam tahap-tahap kemudian, keilahiannya.

Kepercayaan pada rasionalitas dan “progress” sebagai nilai-nilai modern menempatkan manusia sebagai makhluk otonom yang dapat membangun masa depannya sendiri dengan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sekularisasi yang menyertai kemodernan menyebabkan agama tidak berperan, dan Allah dipandang tidak diperlukan lagi untuk membangun manusia dan masyarakat. Dalam konteks semangat zaman yang seperti ini, fundamentalisme tampil dengan menekankan doktrin pendamaian dan penebusan dosa melalui pengorbanan Yesus di kayu salib, di samping itu juga untuk melanjutkan perlawanan terhadap Katolisisme yang memegang soteriologi yang sinergistis. Di samping itu, dengan doktrin ini juga orang fundamentalis menolak apabila Yesus hanya dilihat sebagai guru moral yang ajaran-ajarannya bermanfaat untuk membimbing manusia. Bagi mereka, yang diberikan Yesus bukan hanya ajaran-ajarannya, tetapi juga dirinya untuk kebaikan dan keselamatan manusia.

Terakhir, tentang doktrin kedatangan segera Yesus untuk kedua kalinya. Penekanan pada kedatangan yang segera ini memperlihatkan keprihatinan orang-orang fundamentalis pada kecenderungan para teolog dan orang Kristen liberal untuk menerima gagasan tentang “kemajuan” (progress) dan memperbincangkan perihal mengenai “membangun” Kerajaan Allah di bumi melalui prestasi-prestasi sosial kemasyarakatan seperti yang dikembangkan oleh “social Gospel” dengan gagasannya tentang “demokratisasi” Kerajaan Allah dan “mengkristenisasikan tatanan sosial” (antara lain Albrecht Ritschl, Walter Rauschenbusch dan Horace Bushnell). Bagi orang fundamentalis, “social Gospel” telah memodernisasi Injil yang sebenarnya.[16]

Pendekatan terhadap Alkitab yang pramodern menyebabkan mereka juga tidak melihat bahwa eskatologi (= ajaran tentang akhir zaman) Perjanjian Baru lebih dari satu macam dan mengalami perkembangan, dari pengharapan eskatologis yang memandang Yesus segera datang kembali sampai pada pandangan bahwa kedatangannya tidak diketahui kapan terjadinya atau pada pandangan dia sudah datang kembali dalam kehadiran Roh Kebenaran/paraklētos; dan ketika gereja perdana mulai melembaga eskatologi bergeser, diganti oleh lebih banyak tugas penataan organisasi pelayanan gereja di dalam dunia yang masih berlangsung (seperti tercermin dalam Surat-surat Pastoral dan surat-surat Katolik). Satu hal teramat penting yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa “eskatologi” fundamentalis ini dipahami oleh orang-orang fundamentalis secara ideologis, karena mereka mengembangkannya terkait dengan “nasib” Negara Israel modern (berdiri 14 Mei 1948) yang mereka dukung sepenuhnya dalam percaturan politik dan militer di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara adidaya modern, demi wawasan mereka tentang suatu perang (nuklir) “Armageddon”[17] yang dalam skema “dispensasionalisme” fundamentalis (dari kata latin “dispensatio”, artinya “pembagian” atau “pembabakan”, yakni pembabakan sejarah mulai dari zaman Adam dan Hawa, Nuh, sampai pada akhir zaman dengan “pengangkatan” ke surga) akan merupakan peristiwa paling menentukan untuk pengangkatan mereka ke surga di akhir zaman.

Tampak bahwa fundamentalisme Kristen pada awal berdirinya tidak mengembangkan suatu teologi yang utuh dan sistematis. Lagi pula, mustahil mereka dapat melakukannya mengingat mereka tampil sebagai gerakan reaksioner. Lima pokok doktrin yang diklaim dan dipertahankan orang-orang fundamentalis sebagai doktrin-doktrin ortodoks yang universal nyatanya lebih banyak bersifat reaktif dan perlawanan serta ditafsir dalam semangat keagamaan mereka sendiri yang juga tidak lepas dari pengaruh zaman dan kebudayaan di dalam mana mereka hidup. Fundamentalisme adalah suatu, bukan satu-satunya, bentuk kekristenan di dalam zaman modern yang berpijak pada tradisi dan pengalaman keagamaan tertentu mereka sendiri yang menjadi norma dalam mereka menafsirkan Kitab Suci dan memahami tradisi-tradisi gereja, dengan tujuan untuk melawan segala bentuk modernisme.[18] Yang menjadi tulang punggung gerakan fundamentalis adalah doktrin pramodern mereka tentang Alkitab di tengah-tengah zaman modern; doktrin ini memang ukuran utama untuk mencirikan dan melabelkan fundamentalisme. Tetapi fundamentalisme sebenarnya jauh melebihi itu saja.

Fundamentalisme adalah suatu gerakan yang membangun suatu citra khas mereka sendiri mengenai dunia luar; dunia luar mulai dari zaman Alkitab sampai zaman sekarang. Citra tentang dunia luar yang mereka bangun itu memperlihatkan mereka tidak memahami seluruh sejarah kekristenan, mulai dari zaman gereja rasuli sampai pada gereja masa kini.[19] Ketika masyarakat Amerika dibanjiri nilai-nilai dan filosofi serta ilmu pengetahuan modern, maka perubahan-perubahan besar terjadi dengan cepat dalam semua bidang kehidupan dan nilai-nilai tradisional bergeser. Tinimbang memahami dengan sebaik-baiknya modernitas dan menggumuli dengan proaktif peran gereja Kristen di dalamnya, nyatanya mereka serta merta berpaling ke masa lampau, ke dalam kehidupan gereja zaman rasuli untuk mencari pijakan yang “jelas”, “pasti” dan “menjamin jatidiri”, karena mereka menganggap nilai-nilai universal yang murni dan abadi dapat ditemukan di situ dalam kehidupan umat zaman lampau dan dalam “Injil masa lampau”, dan juga ke dalam tradisi-tradisi bapak-bapak gereja dan ke dalam gerakan-gerakan evangelikal abad 18 dan abad 19 karena mereka memandang doktrin-doktrin murni, abadi dan universal dari Ortodoksi sudah dirumuskan pada zaman-zaman itu.

Dari sudut filosofis, langkah ini tepat, sebab menunjukkan pengertian bahwa dari dalam sejarah orang dapat menemukan petunjuk-petunjuk untuk kehidupan masa kini. Tetapi, kekeliruan fatal mereka adalah bahwa mereka tidak menyadari (atau tidak mau menyadari dan menerima?) bahwa setiap tanggapan keagamaan apapun dalam suatu zaman tertentu adalah produk zamannya sekali pun ingin memengaruhi zaman itu. Untuk mengambil pelajaran dari masa lampau, orang tidak perlu menjadi fundamentalis; tetapi orang bisa menjadi fundamentalis ketika dia hanya terpaku pada huruf-huruf tertulis, tanpa menyadari bahwa makna huruf-huruf atau teks-teks diberikan oleh “sistem sosial” di dalam mana teks-teks itu muncul. Memahami sejarah dengan kritis dengan melibatkan pelbagai disiplin ilmu akan membawa si peneliti pada penemuan akan keunikan masing-masing peristiwa sejarah yang dihasilkan dari interaksi dan saling pengaruh antar banyak faktor kontemporer. Pada sisi lain orang-orang fundamentalis tampil untuk melawan modernitas dan modernisme, tetapi mereka dan pandangan-pandangan mereka juga adalah produk zaman modern atau dihasilkan dari pelbagai faktor zaman ini yang berinteraksi. Ini tidak mereka pahami dengan sebaik-baiknya.


Catatan-catatan


[1] The Fundamentals (Chicago: Testimony Publishing Company, 1910-1915).

[2] George M. Marsden, “Fundamentalism as an American Phenomenon: A Comparison with English Evangelicalism”, Church History 46 (June 1977) 215, dikutip dalam Ed Dobson, Ed Hindson, Jerry Falwell, The Fundamentalist Phenomenon. The Resurgence of Conservative Christianity (Grand Rapids: Baker Book House, 1986, cetakan 2) 3.

[3]George M. Marsden, “Defining American Fundamentalism”, Noman J. Cohen (ed), The Fundamentalist Phenomenon (Grand Rapids: Eerdmans, 1990) 22 [22-37].

[4] Pernyataan ini dikemukakan oleh tokoh-tokoh fundamentalis kontemporer sendiri (1981), di antaranya Jerry Falwell, ketika mengacu kepada Harvey Cox yang menulis buku The Secular City (1965). Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 6. Selain buku itu, ada dua buku Cox lain yang disebut-sebut oleh mereka: The Feast of Fools (1969) dan The Seduction of the Spirit (1973).

[5] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 3. Cetak miring ditambahkan.

[6] Teks dikutip oleh Hans Küng (Christianity, 636) dari E.R. Sandeen, The Roots of Fundamentalism. British and American Millenarianism 1800-1930 (Chicago,1970) 273.

[7] Pakar fundamentalis masa kini juga melihatnya sebagai “pengakuan iman” seperti nyata dalam pernyataan ini: “Fundamentalists and evangelicals alike hold to a basic belief in the inerrancy of the Scriptures in their original autographs” (Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8). Cetak miring ditambahkan.

[8] Menurut Jaroslav Pelikan (“Fundamentalism and/or Orthodoxy? Toward an Understanding of the Fundamentalist Phenomenon”, Norman J. Cohen, The Fundamentalist Phenomenon, 8) Ortodoksi Kristen dapat berbicara mengenai “inerransi” Alkitab hanya karena hermeneutiknya peka terhadap “bermacam-macam arti” (sensus plenior) suatu teks alkitabiah; malah pada Abad Pertengahan suatu teks dapat mempunyai empat bahkan tujuh arti.

[9] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 8, ketika menguraikan doktrin tentang keilahian Yesus (hal. 8-9).

[10] James Barr, Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1977, 1978), khususnya bab 2, hlm.11-39; juga pakar-pakar lain yang meneliti fundamentalisme: Hans Küng, Christianity, 636-37; Harvey Cox, Religion in the Secular City, 44; Jaroslav Pelikan, “Fundamentalism and/or Orthodoxy?” 6 [3-21]. Cohen menyebutnya “articulus fundamentalissimus” dari semua doktrin fundamental; Thomas F. O’Meara, Fundamentalism: A Catholic Perspective. A Theologian Looks at the Fundamentalist Challenge Inside and Outside the Catholic Church (New York, New Jersey/Paulist Press, 1990) 14-18. Bahkan O’Meara melihat bahwa dalam fundamentalisme firman Allah tidak terletak pada teks Alkitab melainkan pada subjektivitas dan teologi si pengkhotbah/si penginjil fundamentalis sendiri, dan menolak sabda si pengkhotbah atau si penginjil berarti menolak sama sekali semua penyataan Kristiani (hlm.15,17).

[11] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 10.

[12] Tentang tahap-tahap perkembangan kesaksian Alkitab mengenai kebangkitan Yesus, lihat antara lain Thomas Sheehan, “The Resurrection: An Obstacle to Faith?”, The Fourth R vol. 8, no. 2, (March/April 1995) 3-9. Uraian lengkapnya lihat bukunya The First Coming. How the Kingdom of God Became Christianity? ( New York: Random House, 1988).

[13] James Barr, Fundamentalism, 28.

[14] Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 9.

[15] James Barr, Fundamentalism, 28.

[16] Harvey Cox, Religion in the Secular City, .44; Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 75-76.

[17] Tentang “teologi Armageddon” ini, penulis sudah mengulasnya dengan cukup berpanjang lebar terkait dengan apokaliptisisme alkitabiah, lihat Ioanes Rakhmat, “Apokaliptisisme Alkitabiah dan Teologi Armageddon yang Menyesatkan”, dalam Andar Ismail (Peny.), Mulai dari Musa dan Segala Nabi (Jakarta: Gunung Mulia,1996) 45-70. Sikap politik fundamentalisme Amerika Utara terhadap Negara Israel Modern kentara sekali dalam ucapan representatif dari Jerry Falwell, “We are Pro-American, which means strong national defense and the State of Israel”; lihat Jerry Falwell, “An Interview with the Lone Ranger of American Fundamentalism”, Christianity Today XXV, 15 (September 4, 1981) 21.

[18] Pernyataan Billy Graham (seorang evangelikal) bahwa ia “melawan dengan militan segala bentuk modernisme” membuatnya dipandang sebagai seorang fundamentalis oleh orang-orang yang memang fundamentalis. Tetapi ketika Billy Graham kedapatan membuka hubungan dengan badan-badan gerejawi ekumenis, dengan orang-orang liberal dan dengan Roma Katolik, orang-orang fundamentalis sangat keberatan dan ini akhirnya menimbulkan perpecahan dalam tubuh mereka sendiri. Lihat Ed Dobson et al., The Fundamentalist Phenomenon, 116-17.

[19] James Barr, Beyond Fundamentalism (Philadelphia: Westminster Press, 1984) viii, ix.