Friday, June 8, 2018

Mencegah kepikunan lewat aktivitas sosial

BERGAUL dan TERLIBAT AKTIVITAS SOSIAL SAAT LANSIA MENCEGAH KEPIKUNAN


Friends,

Ini saya share temuan sebuah riset mutakhir tentang kesehatan otak para manula. Kalau anda belum manula, tapi baru pemula, ya pengetahuan ini tetap penting dimiliki.

LUMRAH jika usia bertambah dan kita mulai memasuki masa lansia, kemampuan kognitif otak kita untuk MENGINGAT dll makin MENURUN yang akan bermuara pada KEPIKUNAN.

Tentu ada yang tidak bisa terima dan jalani dengan ikhlas hal yang lumrah ini. Bagi mereka, menjadi lansia, apalagi disertai kondisi sakit-sakitan, adalah suatu azab, suatu penderitaan yang harus diratapi.

Tetapi ada banyak orang yang hepi-hepi dan ikhlas saja menjalani masa lansia mereka. Masa manula mereka pandang sebagai bukti hidup mereka sudah fulfilled, terpenuhi, teraktualisasi, memberi makna, tak ada hal yang perlu disesali atau ditangisi.

Nah, terkait kehidupan manula, ada hasil riset mutakhir yang perlu kita ketahui, di samping ada banyak riset lain sejenis sebelumnya.

Penelitian yang inovatif terhadap tikus (usia lansia) yang dibagi dalam dua bagian (yang hidup dalam kelompok lebih besar, dan yang hidup hanya berdua), menunjukkan bahwa PERGAULAN SOSIAL YANG LUAS membuat kemampuan mengingat otak organisme lansia yang seharusnya makin lemah, ternyata tidak terjadi, dibandingkan organisme yang hidup kesepian atau menyendiri.

TENTU juga terjadi, lantaran otak melemah (khususnya bagian hipokampus), seorang lansia tidak mau bergaul dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ya bagaimana mau bergaul dan aktif di berbagai kegiatan sosial, sementara kemampuan mengingat apapun nyaris sudah lumpuh semuanya.

TAPI KEBALIKANNYA JUGA FAKTUAL: karena aktif bergaul dan terlibat banyak kegiatan sosial, otak para manula yang sudah mulai pikun dan menanggung masalah-masalah kognitif lain ternyata mengalami peremajaan kembali, terlindungi, dan kemampuan mengingat mereka meningkat lebih baik lagi, tidak menyusut.

Pendek kata, sosiabilitas atau kemampuan untuk aktif dalam pergaulan sosial, dan sering bertemu dengan banyak teman dan bercengkerama di saat mulai lansia, sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesehatan otak lansia, khususnya kesehatan kognitif mereka.

Sosiabilitas membuat kepikunan tidak cepat datang, proses degeneratif otak diperlambat, kemampuan mengingat jauh lebih baik, jika dibandingkan manula penyendiri.

Jadi, para lansia perlu sekali bergaul, terlibat interaksi sosial, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang positif, meneduhkan pikiran dan hati, dan membangkitkan kegembiraan dan relaksasi, jika menginginkan otak mereka tetap sehat.

Ingat ya, BERGAUL, bukan GYMN ANGKAT BESI 150 KG. Juga ingat ya, bergaul, bukan berolahraga mendaki gunung sampai ke puncak Mount Everest. Dua olah raga jenis ini bukan untuk orang yang sudah berusia akhir 40-an dan 50-an tahun ke atas. Kenali dan batasi diri. Uang boleh bertimbun. Tetapi kondisi tulang yang mulai rapuh dan rentan patah dan kekuatan otot yang terus berkurang tak bisa dibatalkan oleh uang.

Saya ingin tambahkan. Sering berjalan kaki pelan-pelan di kebun atau di kawasan-kawasan asri yang aman bersama anjing kesayangan atau bersama hewan jinak peliharaan lain, dalam acara rekreasi rutin dengan banyak lansia lain, juga memberi efek positif pada para lansia. Tidur jadi cepat pulas. Sistem imunitas tubuh diperkuat. Wajah jadi berseri. Kebahagiaan bertambah. Tubuh tidak cepat bongkok. Alhasil, meski sudah lansia, hidup tetap bisa mandiri dalam banyak segi.

Sayangnya, dalam kenyataan hidup, ada banyak kendala yang membuat para lansia tidak mungkin memperluas pergaulan mereka sehari-hari seperti yang sudah digambarkan di atas.

Ya karena faktor-faktor ekonomi, kultur keluarga, kesehatan tubuh, dan tempat tinggal di usia lansia yang terisolasi, mereka terpaksa hidup kesepian dan sebatangkara dan merana. Mereka yang berada dalam sikon seperti ini cepat sekali pikun, terserang banyak penyakit lain, lalu terbaring lumpuh bertahun-tahun sebelum wafat dengan tubuh kurus kering dan dalam keadaan vegetatif.

Duuh sedihnya. Sedihnya duuuuhh gak kepalang. For them, life is suffering, really.

Tetapi, sesusah-susahnya hidup, kalau kita melakukan kontemplasi kilas balik, tentu selagi otak masih mampu, tokh kita akan temukan tetap ada sangat banyak hal yang baik dan membahagiakan yang pernah kita alami.

Kalau hidup ini memang duka, ya marilah kita bernyanyi setiap hari. Baik lagu suka maupun lagu duka.

Tanyalah burung-burung nuri, mengapa mereka selalu berkicau dan bernyanyi merdu setiap hari, baik di saat hari hujan maupun di saat hari yang hangat karena cahaya Mentari. Belajarlah kearifan hidup dari mereka.

Silakan share jika ingin.
Tq.

Sumber-sumber:

Maria Cohut, "Research confirms that social interaction protects memory", MedicalNewsToday, 1 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/321976.php.

Riset artikel:
Bryon S. Smith, Xinyue Yao, Kelly C. Chen, Elizabeth D. Kirby, "A Larger Social Network Enhances Novel Object Location Memory and Reduces Hippocampal Microgliosis in Aged Mice", Frontiers in Aging Neuroscience, 31 May 2018, https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnagi.2018.00142/full.

8 Juni 2018
9:06 PM

Stay blessed.
ioanes rakhmat

Sunday, June 3, 2018

Pejihad sejati menyelamatkan kehidupan

"SYUKUR KEPADA ALLOH. AKU TELAH MENYELAMATKAN NYAWANYA!"

Itulah ucapan Mamoudou Gassama, pria muda imigran berkulit hitam dari Republik Mali, Afrika Barat. Negara ini 90% Muslim. Bahasa resmi Prancis. Memiliki kurang lebih 13 bahasa nasional.

Apa soalnya?

Gassama telah bertindak berani dan tangguh ketika dia entah bagaimana bisa bertindak sebagai sosok spiderman betulan dengan dalam waktu 30 detik telah memanjat sampai balkon lantai 4 sebuah apartemen di Paris, Prancis.

Loh dia sedang acting dalam pembuatan sebuah film?

Oh bukan. Gassama saat itu sedang ada dalam sebuah restoran untuk menonton pertandingan sepak bola. Tapi dia mendengar suara ribut orang dan bunyi klakson mobil tak henti-hentinya di jalan raya. Ada apa? Secepat kilat, Gassama keluar.


Gassama melihat di balkon lantai 4 sebuah apartemen di dekatnya tergantung-gantung seorang bocah cilik laki-laki, usia 4 tahun, sambil memegang lantai balkon. Genting! Sebentar lagi si bocah akan jatuh ke jalan dan akan langsung mati.

Ke mana orangtua si bocah? Sedang belanja di toko. Si bocah ditinggal sendirian. Waduh.

Tanpa pikir panjang, Gassama langsung seperti spiderman memanjat naik tanpa bantuan peralatan apapun ke balkon lantai 4 itu dari muka gedung.

Dia hanya menggunakan kaki dan tangan serta tenaga fisik untuk mengangkat tubuhnya lantai demi lantai.

Dalam setengah menit dia sudah sampai di balkon lantai 4 itu dan langsung menarik si bocah ke atas. Pria tetangga si bocah tak bisa berbuat banyak karena ada sebuah penyekat yang memisahkan ruang kapling apartemen mereka.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menerima Gassama di Istana Elysee. Gassama diberi sebuah medali dan sertifikat KEBERANIAN dan KETANGGUHAN oleh Presiden Macron. Kewarganegaraan Prancis juga dianugerahkan kepada pria hitam luar biasa ini.

Walkot Paris, Ms. Anne Hidalgo, sangat menghargai Gassama dan akan membantu Gassama untuk bisa hidup baik dan betah di Paris. Gassama langsung mendapat tawaran pekerjaan sebagai bagian dari satuan pemadam kebakaran kota Paris.

Di FB-nya, Gassama menulis, "Aku selalu siap untuk menyelamatkan nyawa siapapun."

Ya, mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan, bukan membunuh. Itulah jihad Gassama, jihad di jalan Tuhan yang menyayangi dan memelihara kehidupan. He is a true warrior of God.

Bagaimana dengan ayah si bocah itu? Atas kesemberonoannya, sang ayah ini terancam hukuman penjara 2 tahun. Duuuh.

Jika anda ingin melihat video liputan tindakan Gassama yang luar biasa itu, masuklah ke FB saya lewat link ini.

Here is the wisdom of life:

Hidup itu berat, banyak azab, harus dipelihara, dirawat, dipertahankan dan diperjuangkan puluhan tahun. Katakanlah, 70 tahun atau bisa 100 tahun lebih. Mati itu ringan dan singkat, membutuhkan waktu cuma 7 detik atau 70 detik.

Karena itu, yang kita perlukan adalah BERANI HIDUP, bukan BERANI MATI.

Hanya para pemberani dan pemenanglah yang ulet dan tangguh menjalani kehidupan. Cuma para penakut dan pecundang dan orang letoi yang ingin segera mati, apalagi mati dengan membawa paksa orang-orang lain ke dalam kematian juga.

3 Juni 2018
ioanes rakhmat

Sunday, May 13, 2018

Basis Biologi Aneka Ragam Ras Menunjukkan Umat Manusia Itu Bersaudara


Ide tentang ras-ras manusia yang berlainan semula diinvensi oleh para antropolog seperti Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-18. Istilah "ras" diciptakannya dalam usahanya untuk mengkategorisasi grup-grup populasi manusia yang baru, yang dijumpai lalu dieksploitasi sebagai bagian dari kolonialisme Eropa yang makin meluas.

Di tahun 1775, Blumenbach menyusun klasifikasi lima ras manusia. Minat membuat klasifikasi atas hal-hal yang ada dalam dunia ini sudah muncul setidaknya sejak Aristoteles.

Ketika diinvensi pada awalnya, kategori-kategori ras ini dibangun dengan landasan yang acak, sembarangan dan subjektif, yakni hanya pada perbedaan-perbedaan kebudayaan dan bahasa di antara grup-grup manusia, bukan pada biologi manusia yang memang belum mungkin dikaji waktu itu.

Kini para antropolog umumnya, dan biolog, tentu tidak semua, tidak lagi berpendapat bahwa ras atau warna kulit adalah suatu kategori ilmiah yang absah yang perlu dipakai untuk memisah-misahkan manusia./1/

Telah diketahui, riset-riset genetik yang telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa varian-varian warna kulit manusia tidak dapat diklasifikasi ke dalam kategori-kategori yang dinamakan ras.

Klasifikasi ras-ras ini selanjutnya, sejauh ini, telah memunculkan prasangka-prasangka rasial yang tidak adil dan merendahkan, dan mendehumanisasi. Kondisi ini kerap bermuara pada segregasi dan pertikaian rasial atas nama ideologi rasisme.

Menurut biolog dari Universitas Stanford, yang ikut mempelopori riset-riset perbedaan-perbedaan di antara populasi-populasi manusia, keanekaragaman ras manusia dihasilkan oleh 40 gen (sedangkan untuk tinggi tubuh, beberapa ratus gen terlibat). Dari keseluruhan genom, menurut biolog Richard Lewontin di tahun 1972, hanya 10% hingga 15% saja yang berhubungan dengan ras.

Di luar faktor genetik, ada faktor-faktor environmental yang ikut memberi andil pada keanekaragaman ras manusia. Yakni faktor-faktor budaya, penyakit genetik, kendala-kendala sosiologis (seperti kemiskinan atau pilihan-pilihan makanan yang tersedia), ukuran populasi awal, ekologi dan seleksi alamiah (misalnya toleransi pada tekanan oksigen yang rendah di antara populasi orang Tibet dan orang pegunungan Andes).

Menurut Feldman, sebutan "ras" cenderung pejoratif dan tidak relevan lagi, tapi ideologi rasisme tetap hidup dan tidak menurun kekuatannya.

Menurutnya, sekarang ini banyak biolog sudah mengganti sebutan ras dengan "moyang kontinental" atau "moyang benua". Maksudnya, setiap orang memiliki moyang-moyang yang berasal lebih dari satu benua, dengan gen-gen masing-masing terkombinasi. Feldman menandaskan, "Moyang setiap orang lebih mungkin mencakup wakil-wakil dari satu set benua-benua yang ada."/2/

Baiklah, pada kesempatan ini kita berpaling pada suatu studi genetik mutakhir yang berhasil menyingkap pengetahuan-pengetahuan baru tentang relasi beranekaragam warna kulit manusia dengan varian-varian genetik insani yang berkaitan dengan pigmentasi kulit tubuh manusia.

Genetikus dari Penn University, Sarah Tishkoff, dkk, belum lama ini telah melakukan riset genetik atas sejumlah 1.570 relawan Afrika yang berasal dari populasi-populasi yang berbeda genetik dan etnis di Ethiopia, Tanzania, dan Bostwana.

Sarah Tishkoff dan instrumen yang digunakannya dalam riset genetik di Afrika

Para relawan Afrika itu mencakup orang yang berkulit terang seperti beberapa bangsa Asia hingga yang berkulit terhitam di dunia, dan yang berada di antara dua jenis warna kulit ini.

Riset Sarah Tishkoff dkk ini dijalankan lewat kajian pigmen kulit melanin (via pantulan atau refleksi cahaya yang terpancar dari kulit partisipan) dan sampel DNA mereka.

Sarah Tishkoff dkk menemukan sedikitnya ada 6 varian genetik ("penanda biologis") yang terkait signifikan dengan pigmentasi kulit, dan keseluruhannya bertanggungjawab atas 29% varian-varian warna kulit di antara orang-orang di Ethiopia, Tanzania, dan Botswana. Enam varian genetik itu dikenal sebagai SLC24A5, MFSD12, DDB1, TMEM138, OCA2, dan HERC2.

Suatu kajian sebelumnya atas pigmentasi kulit telah berhasil mengidentifikasi varian-varian genetik yang sama, yakni HERC2 dan OCA2, yang ada di balik orang-orang Eropa dan Asia yang umumnya berkulit lebih terang.

Meskipun masih harus dilakukan penelitian lanjutan atas keseluruhan varian genetik yang berhubungan dengan warna kulit, varian-varian genetik yang sudah diidentifikasi itu, yang menghasilkan warna kulit terhitam hingga warna kulit yang lebih terang, menurut Sarah Tishkoff, dipastikan telah ada lebih dari 300.000 tahun yang lalu (saat kemunculan Homo sapiens di Afrika), dan beberapa di antaranya telah berusia hampir 1 juta tahun.

Artinya, varian-varian genetik ini ada lebih dulu dari manusia berpostur modern (Homo sapiens) dan telah membantu mengontrol pigmentasi pada moyang-moyang kita yang primitif.

Selain itu, sangat mungkin varian-varian genetik HERC2 dan OCA2 yang menghasilkan pigmentasi yang lebih terang, telah muncul di Afrika hampir 1 juta tahun lalu, sebelum menyebar ke Eropa dan ke Asia.

Dengan demikian, moyang-moyang purba kita tidak memiliki warna kulit yang gelap atau hitam, tetapi warna kulit yang lebih terang sebelum mereka beradaptasi dengan kondisi-kondisi alam dan kehidupan yang baru. Dulu sekali, di saat kita kehilangan bulu-bulu lebat penutup tubuh dan pindah ke savana-savana yang terbuka, meninggalkan hutan-hutan rimba, tubuh kita beradaptasi dengan menghasilkan kulit yang berwarna lebih gelap dan makin gelap.

Bukti genetik juga menunjukkan bahwa varian pigmentasi yang terang pada SLC24A5 masuk ke Afrika Timur lewat aliran gen dari orang bukan-Afrika. Artinya, lewat kawin silang dengan populasi dari pigmen kulit yang berbeda, warna-warna kulit yang bervariasi dihasilkan lewat kombinasi gen-gen.

Pada sejumlah lokasi genetik itu varian-varian genetik yang terkait dengan pigmentasi gelap orang Afrika identik dengan varian-varian genetik populasi orang Asia Selatan dan populasi orang Australo-Melanesia.


Sarah Tishkoff menyimpulkan bahwa "studi kami ini sungguh-sungguh membuat kita tidak bisa lagi mempercayai ide tentang suatu konstruk biologis bagi setiap ras manusia. Kami temukan, tidak ada batas-batas yang khas dan tersendiri, yang unik, di antara grup-grup ras manusia, yang konsisten dengan varian-varian genetik."

Artinya, varian-varian genetik itu terkombinasi, tercampur, dalam memunculkan anekaragam warna kulit manusia. Bukan eksklusi, tapi inklusi varian-varian genetik-lah yang berlangsung di saat beranekaragam ras manusia muncul di zaman-zaman yang sangat lampau.

Lalu Sarah Tishkoff menandaskan bahwa "ada lebih banyak hal dalam warna kulit kita yang mempersatukan kita alih-alih memisahkan kita. Jadi, pandangan-pandangan rasis dan dugaan-dugaan yang tak berpijak pada sejarah tentang ciri-ciri [fenotipik] yang terkait warna kulit bukan saja tidak bermoral, tapi juga salah sama sekali jika dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan."

Statistikus biologis dari Universitas Michigan, Jedidiah Carlson, menyatakan bahwa "pigmentasi yang berwarna terang, dan mungkin juga ciri-ciri fenotipik lainnya orang Eropa, tidak unik bagi orang Eropa. Populasi-populasi manusia telah dan terus berkawinsilang sepanjang keberadaan kita sebagai suatu spesies."/3/

Dengan kata lain, warna-warna kulit yang berlainan muncul sebagai hasil membangun relasi-relasi kekerabatan yang luas antaretnis dan antarras yang tidak bisa dibatasi, dan lintasbenua.

Jadi, ras-ras manusia yang dikenal sekarang berpangkal pada persaudaraan dan kekerabatan yang luas yang melibatkan lebih dari satu benua, bukan pada permusuhan dan perpecahan yang menyakitkan dan menimbulkan azab antarras
dan antaretnis moyang-moyang manusia dulu.

Akhirnya, satu poin penting perlu jelas dipahami. Ras atau warna kulit tidak sama dengan etnisitas meski keduanya dapat bertumpangtindih.

Ada banyak usaha untuk mendefinisikan etnisitas supaya orang tidak menyamakan begitu saja etnisitas dengan ras.

Etnisitas (dari kata Yunani "ethnos", artinya "bangsa") didefinisikan, misalnya, sebagai "suatu grup manusia yang satu sama lain mengidentifikasi diri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan tradisi-tradisi yang sama di bidang-bidang sosial, kultural, bahasa, politik, dan kebangsaan (lewat kelahiran atau naturalisasi atau asal kedatangan), dan juga memiliki moyang yang sama dan pengalaman sejarah yang sama."

Ada juga yang dengan ringkas menyatakan bahwa "ras terkait dengan biologi, sedangkan etnisitas terkait dengan kebudayaan."

Sedikit lebih rinci, etnisitas dipandang sebagai "suatu istilah untuk kebudayaan manusia dalam suatu wilayah geografis tertentu, termasuk di dalamnya pranata-pranata bahasa, peninggalan sejarah, agama, politik kebangsaan, dan adat-istiadat mereka." Menjadi anggota suatu kelompok etnis, dengan demikian, mengharuskan orang untuk hidup selaras dengan beberapa atau seluruh hal yang dipraktekkan lewat dan dalam pranata-pranata kebudayaan itu.

Tetapi sama seperti etnisitas atau kebangsaan seseorang dapat berubah (lewat proses hukum yang dinamakan naturalisasi, misalnya), ras juga secara biologis tidak langgeng selamanya. Kajian-kajian genetik belakangan ini menunjukkan bahwa warna kulit dapat berubah drastis dalam minimal 100 generasi dalam kurun 2.500 tahun, akibat pengaruh-pengaruh environmental.

Dalam keperluan di bidang sosial dan administrasi kependudukan, jika acuan ke ras dipakai, acuan ini adalah suatu konstruk sosial yang harus bebas dari ideologi rasisme yang, kita tahu, memisah-misahkan manusia berdasarkan warna kulit demi kepentingan-kepentingan segregasi politik dan perlakuan sosial dan ekonomi yang tidak adil.

Biro Sensus Amerika Serikat, misalnya, menegaskan bahwa jika ras dipakai sebagai bagian dari identitas diri, dalam hal ini ras dipandang sebagai "suatu definisi sosial atas setiap ras yang diakui, dan bukan suatu upaya untuk mendefinisikan ras secara biologis, antropologis atau genetik."/4/

Jakarta, 13 Mei 2018
The day of my nativity

ioanes rakhmat

Sumber-sumber

/1/ Baca lebih lanjut Darren Curnoe, "Opinion: Classification of humans into races 'the biggest mistake in the history of science'", Phys.org, 20 Dec 2016, https://m.phys.org/news/2016-12-opinion-classification-humans-biggest-history.html. Semula, artikel ini terbit di https://theconversation.com/the-biggest-mistake-in-the-history-of-science-70575.

/2/ Lebih jauh, lihat David Freeman, "The Science of Race, Revisited", HuffPost Science, update mutakhir 6 Dec 2017, https://m.huffpost.com/us/entry/7699490.

/3/ Lebih lanjut, baca artikel riset Nicholas G. Crawford, Derek E. Kelly, Matthew E.B. Hansen,...., Sarah Tishkoff, "Loci associated with skin pigmentation identified in African Populations", Science, 12 Oct 2017: eaan8433, http://science.sciencemag.org/content/early/2017/10/11/science.aan8433.full.

Lihat juga artikel populernya yang ditulis oleh Peter Dockrill, "Gene Variants That Affect Skin Colour Suggest The Concept of Race Is Deeply Flawed", Science Alert, 16 October 2017, https://www.sciencealert.com/gene-variants-that-affect-skin-colour-suggest-the-concept-of-race-is-deeply-flawed.

/4/ Penjelasan tentang perbedaan antara etnisitas dan ras yang diajukan di atas memakai dua sumber. Lihat Neta Bomani, "Understanding the Difference between Race and Ethnicity", The Daily Dot, 30 Maret 2018, update mutakhir 8 Mei 2018, https://www.dailydot.com/irl/what-is-ethnicity/. Lihat juga Live Science Staff, "What is the Difference between Race and Ethnicity?", Live Science, 9 May 2012, https://www.livescience.com/33903-difference-race-ethnicity.html.


Sunday, April 22, 2018

Sang Sunyi


my mystical poem

SANG SUNYI

Sang Sunyi
Melampaui bahasa insani
Tak dapat diungkap itu ini
Semua kata berhenti
Segala bunyi hilang sepi

Cuma bisa dimasuki
Diselami direnangi
Bak seekor ikan kecil lari-lari
Kiri kanan, kanan kiri 
Belok sana belok sini  
Laju ke depan berlari

Tak bisa sang ikan ini memahami
Tak pernah juga dia habis menyelami
Samudera luas tanpa tepi
Segala sesuatu diselubungi
Tanpa sisi tanpa pantai
Di dalamnya dia berenang kian kemari

Kedalamannya tanpa dasar
Luasnya tanpa pinggir
Geraknya abadi berpusar berputar
Berdentum riuh hingar
Keras debar menggelegar
Mengembang melebar
Bergelombang tersiar
Gaungnya terhantar
Abadi terlontar
Tak makin samar

Menutupi muka planet Bumi
Lautan besar tak terperi 
Bergelombang jauh lari
Jauh jauh jauh lestari
Meninggalkan semua bahari
Masuk ke samudera abadi
Maha dalam maha misteri

Bergelombang menjauh meluas
Memenuhi vakum jagat raya
Lelautan raya tanpa batas
Bergerak jauh tak terkira
Memenuhi ruang maha luas

Tak terbatas tak terkata
Tak tertulis oleh tinta
Tak terjangkau semua indra
Ilmu pengetahuan tak setara
Agama hanya sehasta
Seberkas kilatan cahya semesta
Di hadapan jagat-jagat semesta
Mahabesar tak terkira
Namanya tak tertera

Tak terbatas
Kreativitas
Progresivitas
Infinitas

Sang Sunyi ya sunyi saja
Misteri abadi baka
Tanpa rupa
Tanpa citra
Tanpa suara 
Tanpa kata
Tanpa nama
Tanpa angka
Tanpa bahasa
Senyap saja
Diam saja
Hening saja
Bisu saja

Tapi ramai tak terkira
Bersama trilyunan kartika
Tak terbilang oleh angka
Semua bermandi cahaya
Cahaya megabuana raya
Energi yang tak pernah sirna
Pengembang alam semesta

Di dalam selubungnya
Indra tumpul terasa
Mulut tak bisa dibuka
Hanya terkatup baka!
Sunyi tak terkata
Senyap tak terutara
Hanya hening disua
Kosong tanpa udara
Hanya ada:
AAA….!

Alpha Alpha Alpha
Tanpa omega
Tak terhingga 
Alpha Alpha Alpha

AAA ada yang datang!
Buat perahumu kosong!
Segera! Sekarang!
Jagat raya melolong!


Jakarta
22 April 2018


Tuesday, April 3, 2018

CINTA kepada Tuhan itu akar kecerdasan

ILMU PENGETAHUAN,
JALAN AGUNG MENUJU TUHAN


AJAIB BIN HERAN. Orang yang beragama percaya betul bahwa Allah (mereka) mahatahu. Tapi selama ini mereka umumnya takut untuk mengetahui hal-hal yang disingkap oleh ilmu pengetahuan. Mereka jadi antisains.

Padahal, kalau Allah itu mahatahu, maka Allah sebagai sumber kemahatahuan, pasti juga menghendaki semua penyembah Allah ini makin tahu lebih banyak dari saat ke saat tanpa batas. Kuriositas mereka seharusnya menjadi tak terbendung.

Makin dekat ke Allah, makin dekat ke sumber kemahatahuan. Makin tahu lebih banyak. Lebih luas. Lebih dalam.

Makin tahu lebih banyak, lebih luas dan lebih dalam, makin dekat ke Tuhan sumber kemahatahuan

Nah, untuk makin tahu lebih luas, lebih dalam, dan lebih banyak hal dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan adalah jalannya, metodenya.

Jadi, ilmu pengetahuan adalah jalan agung dan mulia menuju Tuhan yang mahatahu. Jalan agung tanpa ujung.

Lurus. Juga berliku. Belok kiri atau belok kanan. Menanjak dan menurun. Kadang berkabut. Kerap cerah. Kadang sunyi dan hening. Kadang juga ramai dan gembira. Kadang di depan buram dan gelap. Kerap terang dan jelas.

Ditempuh jalan kaki, kerap juga berlari kencang. Kadang tersendat. Kadang macet beberapa waktu. Lalu lancar lagi. Tanpa titik ujung. Jalan panjang yang abadi. Cakrawala tak pernah habis terhampiri.

Mengasyikkan saat ditempuh. Banyak keajaiban dan wonder dijumpai, berpapasan tak disengaja, atau ditemukan di tengah pencarian. Menggairahkan. Membangun harapan.

Menolak ilmu pengetahuan berarti menutup jalan menuju Tuhan. Alhasil, siapapun tidak akan bisa tiba ke Tuhan jika ilmu pengetahuan ditampik, ditolak dan dibenci.

Berbahagialah mereka yang haus ilmu pengetahuan, yang dengan akal dan nalar terus-menerus mencari kebenaran dan pengetahuan. Kepada orang yang seperti inilah Tuhan memberi minum dari mata air dan danau ilmu pengetahuan yang tak pernah kering, tak pernah kotor dan tak pernah tersumbat.


Betapa dekatnya para ilmuwan besar ke pikiran Tuhan. Betapa jauhnya orang bodoh dan tak berakal dari wajah Tuhan.

Sayangnya, kebanyakan orang yang beragama memilih orang jenis yang kedua. Maka sendulah hati Tuhan bak seorang bunda berduka ketika melihat anak-anaknya tidak mau sekolah, tapi hanya bertengkar dan bikin ribut dan onar dalam rumah atau tidur terus sepanjang hari, tak mau bekerja keras dan bekerja cerdas.

Tuhan itu mahapecinta, mahapengasih dan mahapenyayang. God is love.

Tuhan yang mahapecinta ini juga mahatahu. Maka, niscaya, setiap orang yang hidup dalam cinta kepada Tuhan yang mencintainya, akan juga cinta ilmu pengetahuan.

Tidak ada benturan dan konflik antara cinta Tuhan dan cinta ilmu pengetahuan. Antara hati dan akal.

Orang yang membenturkan keduanya terus-menerus, hanya membuat Tuhan mereka jadi tidak mahatahu dan tidak mahapenyayang. Adakah Tuhan yang seperti ini, tak mahatahu dan tak mahapecinta?

Jika anda mencintai seseorang, maka sudah kodratnya anda akan berusaha serius untuk makin mengenal, memahami dan mengetahui kekasih anda itu.

Begitulah, makin besar sayang anda kepada Tuhan, makin besar juga keinginan anda untuk makin kenal, makin memahami, dan makin mengetahui Tuhan. Jalannya?

Ya lewat ilmu pengetahuan sebagai sarana dan wahana yang paling dapat diandalkan untuk tiba makin dekat dan makin dekat pada kebenaran, pada Tuhan yang tak terbatas, yang mahatahu, yang mahapenyayang.

Cintailah Tuhan dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Jika anda benar begitu, maka cinta anda kepada ilmu pengetahuan akan pasti makin dalam dan makin luas. Anda akan makin cerdas dan makin berwawasan, dan makin cekatan dan jitu dalam berakal dan bernalar.

Mencintai Tuhan YMTahu mustahil membuat anda jadi bodoh atau menutup dan membuang akal dan nalar anda.

Jika anda beragama, bertuhan, tapi anda jadi terlihat makin bodoh, makin kehilangan akal, makin picik, makin tertutup, terus-menerus menyangkal fakta-fakta yang dikuak berbagai ilmu pengetahuan, atau yang sudah sangat jelas terlihat objektif, maka pasti, pasti dan pasti ada yang salah pada keberagamaan atau kebertuhanan anda.

Pasti anda memperbodoh diri sendiri dengan sadar atau tanpa anda sadari. Atau anda diperbodoh oleh orang lain, dan, celakanya, anda senang diperbodoh, dan anda menikmati betul kebodohan anda.

Bukan saja Tuhan itu sang bunda yang telaten membimbing dan menyekolahkan anda, Tuhan juga sang guru atau sang dosen yang ingin anda dari waktu ke waktu bertambah ilmu, bertambah cerdas, bertambah visioner, dan bertambah penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Cinta kepada Tuhan itu akar dan sumber mata air kecerdasan, akal sehat, akal ilmiah dan ilmu pengetahuan, dan wawasan luas tanpa batas.

Seperti seekor rusa rindu air yang memberi hidup, marilah kita juga rindu ilmu pengetahuan sebagai aliran yang membawa kita ke samudera luas mahadalam tanpa pantai, Tuhan yang mahatahu, tanpa batas.

3 April 2018
Ioanes Rakhmat