Monday, August 27, 2018

Akal itu pelita iman dan kehidupan

Akal itu pelita iman (tap atau klik gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan terbaca jelas)


"Akal itu adalah kognisi yang aktif, bernalar, bergerak koheren dan logis, mencari kebenaran yang teruji, kreatif, inovatif, inventif, enerjik, dinamis, kuat, progresif, problem-solving, membuka jalan-jalan baru, mencerahkan. Jika tidak demikian, itu bukan akal, tapi bantal." (Ioanes Rakhmat)

Pagi tadi, saya dikirimi via WA sebuah renungan harian dari seorang teman gereja. Isi renungannya tentang sosok Ayub dan sosok Naomi yang dikisahkan konon dihajar Tuhan habis-habisan, tapi mereka tetap harus teguh beriman dan percaya.

Ada sebuah ide teologis di belakang dua kisah Alkitab tersebut, bahwa Tuhan mendidik orang yang beriman kepada-Nya dengan hajaran dan gebukan maut, habis-habisan, dan keras serta mengancam nyawa.

Dalam dunia pendidikan modern, kita tahu bahwa aneka psikologi, ilmu kognisi, neurosains, dan ilmu kesehatan mental dan kesehatan lingkungan, menyadarkan kita semua, termasuk orang-orang yang bekerja profesional di dunia pendidikan anak dan selanjutnya, tentang satu hal yang sangat penting.

Yakni: semua aktivitas sehat belajar dan mengajar, aktivitas sehat pendidikan, haruslah dijalankan dalam suasana yang relaks, ceria, segar, bersahabat, terbuka, tanpa kekerasan, persuasif, dialogis, edukatif, dan tidak boleh berlangsung dalam suasana sanger, mencekam, keras, satu arah, indoktrinatif dan punitif atau menghukum dan menghajar.

Kembali ke sosok Ayub dan sosok Naomi. Sikon terlanda azab dan sekarat padahal mereka saleh dan beriman, menimbulkan sebuah problem teologis yang dinamakan TEODISE (bentukan dari dua kata Yunani "theos", artinya Tuhan, dan kata "dikē" artinya keadilan). Ringkasnya, problem teodise begini: Apakah Tuhan itu tetap adil dan penyayang meski si saleh menanggung azab tak tertahankan yang dibuat Tuhan? Para apologet berusaha keras untuk menjawab pertanyaan ini dengan positif; tapi kelihatan apologetika mereka sia-sia.

Saya tak mau mengulang menyoroti teodise saat ini. Ada hal lain yang akan saya kemukakan ringkas saja. Tapi jika anda mau mengetahui lebih jauh tentang teodise, sedikitnya ada dua tulisan saya di blog ini yang dapat anda baca, di sini dan di sini.

Satu hal sudah pasti, Tuhan Ayub dan Naomi yang semacam itu mustahil untuk saya imani.

Tuhan saya Alrahman Alrahim. Panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Mahapengampun dan mahapemaaf. 

Tuhan saya memelihara burung-burung yang terbang ke sana dan ke sini di udara, tidak membunuh mereka. Tuhan yang saya percaya adalah Tuhan yang merawat dan mendandani bunga-bunga di padang, tidak menelantarkan dan mencoreng-coreng bunga-bunga itu. 

Tuhan yang bengis dan tega mendera dan menghajar habis-habisan manusia, lewat cara apapun, sama sekali bukan Tuhan yang saya percayai. Teologi yang keras ini tidak bisa harmonis dengan psikologi saya.

Catatlah bahwa teodise dikonstruksi manusia, bukan disusun Tuhan sendiri; dan bahwa apa corak pilihan teologi anda ditentukan juga oleh psikologi diri anda pribadi, selain juga oleh lokasi dan kondisi sosiologis kultural anda, oleh posisi ekonomi anda, politik anda dan ekologi anda. Tidak ada teologi yang muncul begitu saja dari ruang vakum.

Hal yang saya tulis selanjutnya ini juga pikiran saya, tidak muncul dari langit atau dari ruang vakum kosmik. Saya usahakan bisa membebaskan dan mencerahkan akal dan perilaku serta sikap dan tindakan siapapun yang mau menerima pesan-pesannya. Tidak mau juga tak apa-apa. Feel free saja.

Iman itu bagian dari berbagai aspek mental seperti pikiran, emosi, kehendak, perasaan, kesadaran, kepekaan moral, empati. Semuanya dinamis, tak statis, karena mood mental dan pikiran kita dll adalah respons otak terhadap berbagai input dari luar yang tak pernah habis. Input dan output berinterkoneksi. Interaktif.

Karena dinamis, maka pikiran kita bergerak; kadang salah, lalu kita sadari dan koreksi. Begitulah, pikiran, dus ilmu pengetahuan, bergerak maju, berkembang, lewat uji coba, verifikasi, falsifikasi, eksperimen, dialektika tesis versus antitesis yang melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru, dll.

"Trust" atau "belief in a god" juga dinamis, "up and down". Ada saatnya menolong, ada saatnya tidak menolong seperti saat kita pasrah, terima nasib yang kita klaim sudah ditetapkan Tuhan. Atau saat iman menutup pintu akal dan nurani. Saat pelita akal ditiup mati. Hasilnya: kegelapan.

Ada saatnya iman merusak segalanya, saat iman yang menggebu melahirkan kepicikan beragama dan radikalisme. Ini umumnya bermuara pada anarki dan destruksi. Akal ditutup, dibunuh; nurani dan kasih dimatikan, ditewaskan, dengan sengaja atau lewat pemaksaan seperti yang terjadi saat cuci otak atau indoktrinasi yang gencar dan koersif.

Itulah realitas pedih yang sedang terjadi dalam dunia luas ketika lampu pijar akal dicopot lalu dibanting pecah berantakan. Sebagai gantinya, fanatisme dan kepicikan ideologis (religius dan sekular) dijadikan watak, isi kepribadian, dan gaya hidup sehari-hari.

Jalan masih sangat panjang di depan. Untuk dapat dengan baik dan benar menempuhnya, kita semua memerlukan kemampuan menimbang-nimbang dan melihat dari berbagai sudut dan arah.

Itulah kemampuan kognitif multilinier dan multisirkular. Kemampuan ini memungkinkan kita bisa melihat seluruh sisi bulatan bulan purnama, baik yang menghadap ke Bumi maupun yang membelakangi Bumi.

Iman salah satu bahan pertimbangan, tidak boleh satu-satunya. Lagi, ingat dan lakukanlah, bahwa akal itu pelita iman dan kehidupan.

Silakan akal sebagai lampu pijar yang bercahaya terang, yang membuat anda tercerahkan dan makin banyak tahu dari waktu ke waktu dan ilmu pengetahuan berkembang tanpa akhir, anda lumpuhkan, bunuh dan pecahkan. Itu kebebasan anda. Kebebasan dalam kebodohan tanpa batas.

Tapi sadarilah satu hal ini: di saat itulah Tuhan YMTahu, sumber segala kearifan dan ilmu pengetahuan, yang telah memberi anda akal, telah pergi jauh dari diri anda dan tak lagi bercahaya bagi anda.

Tuhan telah pindah, entah ke mana. Carilah. Semoga anda masih beruntung, bisa jumpa Tuhan lagi, Tuhan yang mahacerdas, mahatahu dan mahapengasih dan mahapenyayang.

Stay blessed.

Jakarta, 27.8.2018


Tuesday, August 14, 2018

Koh Ahok Konsisten Ikut Yesus

Meditasi Sore

KOH AHOK KONSISTEN IKUT YESUS

1. Koh Ahok konsisten Kristiani. Setia pada Yesus, his Lord, dan ajaran-ajarannya. Yesus bersabda: "Kasihi musuhmu."

Jadi, tak mungkin Koh Ahok membenci siapapun yang telah bersalah atau yang telah memusuhinya. Tak mungkin Koh Ahok dendam kepada siapapun.

Koh Ahok, karena Yesus, pasti baik hati dan cinta kehidupan.


2. ORANG CERDAS juga beretika, baik hati, berkemanusiaan, empatetis, cinta kehidupan, karena mereka tahu kecerdasan adalah ciri khas Homo sapiens, sebagai hasil teratas evolusi spesies yang sudah berlangsung  kurang lebih 3,7 milyar tahun lalu di planet Bumi. Kalau pakai ungkapan teologis Kristen, Homo sapiens adalah "gambar dan rupa Tuhan."

Semakin agung suatu organisme, semakin beretika dan cerdas mereka, serta arif bijaksana.

3. ORANG BIJAK pasti cerdas, karena kebijakan atau kearifan (wisdom) hasil dari pengerahan kapasitas kognitif, afektif, artistik, kultural, metakognitif, visi futuris, dalam mempertimbangkan kejadian-kejadian, pengalaman, dalam konteks ruang dan waktu tertentu.

☆ "Kasihi musuhmu. Berkati orang yang mengutukmu. Tetaplah berbuat baik pada orang yang membencimu. Doakan mereka yang berbuat durjana padamu dan yang menganiaya kamu." - Yesus dari Nazareth

☆ "Ketika engkau berhadapan dengan seorang lawan, taklukkan dia dengan cinta kasih." - Mahatma Gandhi

Selamat bermeditasi.
14 Agustus 2018

It's me,
The Milky Why


Friday, July 20, 2018

RIP Pdt. em. Dr. Chris Hartono

Pdt. em. Dr. Chris Hartono
Utusan GKI di Fakultas Teologi
Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta, Jawa Tengah
Pengajar sejarah gereja
RIP Kamis, 19 Juli 2018, pk. 11:45

Sumber berita: FB Hehanussa Jo

Ketuk atau klik image untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan terbaca jelas

MEMORI

Ku ikut berduka lara
Chris Hartono telah tiada
Dulu diutus GKI untuk bekerja
Di Universitas Kristen Duta Wacana

Puluhan tahun telah lewat sang kala
Setiap sejarawan sahabat sang kala
Konon sang kala bergerak ke muka 
Tapi berputar balik juga untuk disua

Ruangwaktu dapat dilekuk ditata
Alfa dan omega jadi berjumpa
Kutub Selatan dan Kutub Utara
Menempel jadi satu raga

Yang hidup dan yang telah tiada
Tidak ke mana-mana
Hanya sedang berlarian gembira

Berlarian dalam lingkaran mega
Bersiklus apik ria
Lari menari melingkar suka

Yang wafat dan yang ada
Tetap menarikan siklus sang kala
Sejarah itu garis lurus rata
Tapi gerak melingkar jua 

Tak ada yang telah tiada

Cuma mereka lari lebih kencang tiada tara
Yang hidup berlari santai saja
Semua berlarian gembira
Sambil bernyanyi lagu lara

Yang wafat kembali disua
Oleh mereka yang bening mata
Latihlah mata untuk peka
Melihat yang tiada tetap ada

Ooh ada di mana? 

Dalam diri yang masih bernyawa
Kitalah reinkarnasi yang sudah tiada
Wafat dan hidup ada bersama

Tidak ke mana-mana
Bersatu dalam memori baka
Memori itulah kita


ioanes rakhmat
20 Juli 2018


Thursday, July 5, 2018

Crohn dan Ulcerative Colitis


Sistem cerna insani (ketuk atau klik gambar untuk dapat ukuran lebih besar dan huruf yang jelas terbaca)

Sebuah artikel medik mutakhir yang penting baru dipublikasi di MedicalNewsToday 28 Juni 2018 tentang kajian penyakit otoimun IBD ("Inflammatory Bowel Disease", atau penyakit radang perut) dengan fokus populasi spesifik dari "sel-sel CD4T efektor"./1/

Laporan ringkas riset ilmiahnya terbit di Journal of Experimental Medicine yang dipublikasi online 18 Juni 2018./2/ Tim yang melakukan riset ini berasal dari Universitas Alabama, Birmingham.

Sistem cerna insani

IBD yang umum minimal ada dua: Crohn yang menyerang usus-usus, membentuk timbunan massa yang berbentuk bebatuan bulat dan menumbuhkan banyak pseudopolip pada dinding sebelah dalam usus-usus (usus besar dan usus kecil)/3/ dan "ulcerative colitis" atau radang usus besar yang kerap disertai borok dan bisul yang bernanah./4/


Dua gambar di atas: Crohn dan Ulcerative colitis

IBD, khususnya Crohn, dapat menyerang saluran cerna ("gut" or "gastrointestinal tract") mulai dari mulut hingga anus./5/


Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan IBD. Mulai dari gaya hidup dan jenis makanan sebagai faktor pemicu, warisan genetik, hingga otoimunitas (kondisi sistem imunitas tubuh yang berubah fungsi menjadi penyerang sel-sel tubuh sendiri yang semula sehat dan normal).

Riset tersebut di atas fokus pada peran "sel-sel CD4T efektor" dalam sistem imunitas tubuh yang ditunjuk sebagai penyebab otoimunitas (seperti penyakit Crohn dan "ulcerative colitis") dan penyakit-penyakit inflamasi kronis lain seperti artritis rheumatoid, dan juga tipe 1 diabetes.

Tentu termasuk juga penyakit gastritis tipe A yang dinamakan gastritis atrofis otoimun. Pada gastritis jenis ini sel-sel otoimun membinasakan sel-sel parietal dalam seluruh lambung yang memproduksi asam lambung dan zat penyerap vitamin B12. Jika sel-sel parietal makin kurang, si penderita akan mengalami kekurangan zat besi, folat, dan akhirnya vitamin B12./6/

Yang paling umum adalah gastritis tipe B yang berupa radang, iritasi dan kadang borok pada selaput mukosa dinding sebelah dalam lambung bagian bawah. Penyakit gastritis ini timbul karena infeksi virus, dan khususnya infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan borok dan bahkan kanker lambung./7/

Gastritis tipe B ini juga timbul sebagai akibat stres kronik, rasa mual yang tak kunjung hilang, efek negatif obat-obatan seperti aspirin atau obat-obatan antiradang nonsteroidal (NSAIDs), kebanyakan minum alkohol, anemia, luka bekas operasi, dan makanan tertentu yang menimbulkan iritasi lambung seperti laktosa dan gluten. Selain itu, juga karena refluks (aliran balik) cairan empedu (yang berfungsi membantu mencerna lemak) ke dalam lambung dari saluran empedu (yang menghubungkan organ hati dan kandung empedu)./8/

Kembali ke sel-sel CD4T. Sel-sel ini yang bersifat patogenik merupakan sel-sel imun yang belum matang yang berasal dari "stem cell" (atau sel master), yang dalam perkembangannya berhenti pada tahap "progenitor" atau "cikal bakal" atau "pendahulu" sel-sel imun lain. Diketahui, enzim glycosyltransferase ST6Gal-I mengaktifkan fitur-fitur stem cell pada "effector CD4T cells".

Sel-sel CD4T yang patogenik ini memiliki "tandatangan genetik" yang konsisten dengan sel-sel T yang mampu membarui diri dan dengan sel-sel progenitor hematopoietik.

Sel-sel CD4T  memproduksi:

☆ molekul interferon gamma dalam level tinggi dalam sistem saluran cerna yang terserang radang kronis;

☆ Sel-sel CD4T yang masih memiliki fitur-fitur stem cell dan tetap bertahan dalam tahap "progenitor" kemudian mendiferensiasi diri dengan membentuk sel-sel imun lain yang aktif, di antaranya "T helper cell" yang dikaitkan dengan IBD yang membuat penyakit radang ini tak kunjung sembuh.

Ke depan ini, upaya pencegahan dan terapi IBD kronis difokuskan pada peran sel-sel CD4T patogenik ini. Ini sebuah fokus terapi medik baru.

Salah seorang anggota tim peneliti, Prof. Laurie E. Harrington, menyatakan bahwa jika sel-sel CD4T yang menjadi penyebab IBD tidak kunjung sembuh dapat ditangani, hal ini akan memberi efek kuratif pada IBD.

5 Juli 2018
ioanes rakhmat

N.B. Tolong isi tulisan ini jangan di-copypaste berhubung akan mengalami editing atau updating sewaktu-waktu. Cukup copy link-nya saja. 

/1/ Lihat Catherine Paddock, "Could treating these immune cells cure IBD?", MedicalNewsToday, 28 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/322299.php.

/2/ Boyoung Shin, Robert L. Kress,.., Susan L. Bellis, Laurie E. Harrington, "Effector CD4T cells with progenitor potential mediate chronic intestinal inflammation", Journal of Experimental Medicine, 2 July 2018, no. 215 (7): 1803. Terbit online 18 Juni 2018, http://jem.rupress.org/content/215/7/1803.

/3/ Tentang Crohn lihat misalnya "Crohn's Disease", John Hopkins Medicinehttps://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/digestive_disorders/Crohns_Disease_22,CrohnsDisease.

/4/ Tentang "ulcerative colitis" lihat misalnya panduan lewat 25 slideshow, "Slideshow: A Visual Guide to Ulcerative Colitis", WebMD, medically reviewed 14 August 2017, https://www.webmd.com/ibd-crohns-disease/ulcerative-colitis/ss/slideshow-uc-overview.

/5/ Tentang sistem saluran cerna dan gangguan-gangguan yang dapat terjadi padanya, dan bagaimana mengobatinya, lihat antara lain Modi Ramos, "8 Warning Signs of An Unhealthy Gut", Gut Health Projecthttps://www.guthealthproject.com/8-common-health-issues-caused-by-an-unhealthy-gut/.

/6/ Tentang gastritis atrofis otoimun, lihat misalnya "Autoimmune atrophic gastritis", NIH-GARD, last updated 28 November 2016, https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/10310/autoimmune-atrophic-gastritis.

/7/ Tentang gastritis, lihat Jennifer Robinson, "What Is Gastritis", WebMD, 11 September 2016, https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-gastritis. Lihat juga Stanley J. Swierzewski, "Gastritis Overview", Health Communities, 28 Feb 2008, last modified 17 September 2015, http://www.healthcommunities.com/gastritis/gastritis-overview.shtml.

/8/ Tentang kandung empedu dan refluks cairan empedu, lihat misalnya Matthew Hoffman, "Human Anatomy: Picture of the Gallbladder", WebMD, 11 March 2017, lihat https://www.webmd.com/digestive-disorders/picture-of-the-gallbladder.



Wednesday, July 4, 2018

POST-TRUTH vs. SCIENTIFIC TRUTH

POST-TRUTH DALAM LIMA ALINEA


KEBENARAN dipatahkan, ditumbangkan, dibunuh, berdarah-darah. Diganti dengan dusta, fitnah, kelancungan, tipu daya, sensasi kosong dan kerapuhan. Semua pengganti ini diyakini dengan gegap-gempita sebagai kebenaran alternatif yang diterima benar oleh orang yang tak bisa lagi berpikir. Itulah POST-TRUTH. 

POST-TRUTH itu suatu penyakit kognitif pada para filsuf dan ilmuwan pelacur ("junk philosophers and junk scientists") yang sangat haus, dan mengejar, kekuasaan politik dan ekonomi dan kepentingan-kepentingan lain mereka, lewat penyebaran klaim-klaim pseudoilmiah atau klaim-klain ilmiah palsu yang mereka bangun sendiri.

Sebaliknya, "proper or bona fide scientists" tidak kenal post-truth, tapi mereka terus-menerus mencari, menyelidiki, menemukan, menguji dan membagikan SCIENTIFIC TRUTHS.

Kebenaran-kebenaran ilmiah dibangun dengan berdasar pada EMPIRICAL EVIDENCE, bukti-bukti empiris, koherensi logis dan teori-teori besar ilmu pengetahuan, bukan pada syahwat politik dan kerakusan ekonomi dan kekuasaan.

"Proper scientists" terus-menerus mengkaji, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan yang dinamis, tak bisa dipalsukan, tak bisa diabsolutkan dan tak bisa difinalkan. Para saintis tulen memiliki etika keilmuan.

4 Juli 2018
ioanes rakhmat