Tuesday, January 21, 2020

Sang Bunda Maria Penduka

SANG BUNDA MARIA PENDUKA


Sang Bunda Maria Penduka, the weeping/sorrowing Madonna, Mater Dolorosa, atau Virgin La Dolorosa, mengenakan headscarf (jilbab).

Lukisan ini dibuat antara 1480-1549 oleh pelukis dari Leuven, Aelbrecht Bouts.

Saturday, January 18, 2020

Kristen kandangan

KRISTEN KANDANGAN


Banyak kali aku melihat
Di pagi hari yang baru menggeliat
Oleh petugas Dishub mobil-mobil diangkat
Karena diparkir di area terlarang ketat
Lalu digerek ke suatu tempat

Di sana mobil-mobil itu dikandangi
Kena denda Rp. 500 ribu per hari
Jika denda tak dibayar sesuai jumlah hari
Maka jadilah mobil kandangan abadi
Tak ayal lagi karat pun menggerogoti

Terkandang, enak gak?
Orang waras tegas bilang tak enak
Hanya si gila bilang luar biasa ueeenaak
Ini logika sungsang dan rusak
Membuat paru-paru terasa sesak

Dalam ziarahku puluhan tahun
Seringkali aku didatangi beruntun
Oleh orang-orang Kristen kandangan
Bukan oleh petugas Dishub mereka dikandangkan
Tetapi oleh rumah tahanan pikiran

Pikiran siapakah gerangan?
Ya pikiran mereka sendiri yang lamban
Tak cuma lamban, tapi juga ubanan
Rambut beruban tanda hidup banyak pengalaman
Tapi pikiran beruban tanda kematian

Bahagiakah mereka seaslinya?
Tanyalah pada kandang mereka
Merpati dan kupu lebih berbahagia 
Di luar kandang bebas terbang riang ria
Ke sana ke mari dengan bahagia

Orang Kristen kandangan tak mampu lagi berpikir
Apalagi berlogika runtut dari hulu ke hilir
Mereka hanya menghafal mantera sihir
Komat-kamit merapal mantera mereka mahir

Dengan mantera sihir itu mereka yakin
Orang sejagat akan diyakinkan
Untuk pindah agama masuk Kristen
Lalu di dunia menjadi orang terkeren
Padahal mereka baru anak kemaren

Kasihan, kasihan sekali!
Mereka tak sadar sedang terdelusi
Yakin diri paling benar tanpa introspeksi
Percaya diri tak bisa salah sama sekali
Mereka menjadi Tuhan itu sendiri

Oooh... ooohh ohhh!
Betapa hinanya aku yang kerap salah
Betapa bodohnya aku yang tak suka berbalah
Betapa harus hati pikiranku terus diubah
Betapa aku memerlukan karunia sang Mahapemurah

Memang aku hidup di luar kandang
Berziarah bebas menembus perintang
Biarlah aku cukup menjadi sang kunang
Terbang bebas di kegelapan ruang
Membawa sedikit cahaya redup terang

Aku bersyukur tak terkandang
Tak harus membayar denda terutang
Tak terdelusi seolah aku insan maha terpandang
Cukup aku menemukan diri tertantang
Tuk tak memakai kacamata kuda hitam arang

Wahai orang Kristen kandangan!
Mari keluar dari kandang kalian
Untuk bersamaku berenang di lelautan
Yang mahadalam tanpa tepi tanpa pelabuhan
Tanpa dasar dan tanpa permukaan

Air mataku luruh bercucuran menggenang
Saat sia-sia menunggumu keluar dari kandang
Sebab kamu tetap memilih terkandang
Akal, nalar dan kebebasan darimu telah hilang
Tuhan pun menangis berlinang

Tuhan pun menangis berlinang
Karena kalian tak kunjung mau pulang
Karena terhalang oleh pintu kandang 
Yang terkunci rapat tanpa lubang
Sampai tubuh menjadi tulang belulang

Jakarta, 18 Januari 2020
ioanes rakhmat

* Silakan share jika ingin. Thx

Tuesday, January 14, 2020

RIP Pak Jahja Prijatna

RIP PAK JAHJA PRIJATNA
11 Jan 2020


Saya ikut berduka cita
Almarhum itu guru saya
Dulu di SMPK lima
Mengajar ilmu Bumi kita

Saat sedang jalani cuci darahnya
Saya sempat bertemu di gerejanya
Juga dengan mendiang isterinya tercinta
Beberapa kali saja

Kristina Santi puterinya
Dia pernah jadi murid saya
Dulu di STT Jakarta 
Kok gantian ya....

Hidup memang sebuah rotasi cerita
Kerap cerita sedih dan duka
Kerap juga cerita suka
Tragedi dan komedi membingkai kata

Cerita tentang Pak Jahja Prijatna
Tak akan habis diucap kata
Kini tinggal kisah kenangan saja
Hidup dalam memori para pecinta

Selamat jalan ya
Pak Jahja Prijatna ....
Ke negeri ketiadaaan baka
Hanya sunyi yang ada
Sunyi yang bernada

Mari menari bersama
Mengikuti alunan nada 
Nada sunyi, hening, sepi dan lara

☆ ioanes rakhmat

14 Januari 2020


Monday, January 6, 2020

Ritual Perjamuan Kudus gereja dalam sudut pandang baru 2020

RITUAL PERJAMUAN KUDUS GEREJA
SEBUAH PERSPEKTIF BARU 2020 


Di awal 2020, ibadah gereja yang pertama saya ikuti jatuh pada hari Minggu, 5 Januari 2020. Pada saat itu dilaksanakan ritual perjamuan kudus, ritual umat Kristen memakan roti (simbol tubuh atau daging Yesus) dan meminum anggur perjamuan (simbol darah Yesus).

Bagi saya di awal tahun 2020 ini, berita utama ritual perjamuan kudus adalah KASIH SAYANG ALLAH YANG BEGITU BESAR. Seperti kasih sayang yang sangat dalam dari seorang bunda kepada anak-anaknya sendiri.

Atau bak cinta yang diperlihatkan seorang gembala yang baik kepada kawanan domba yang sedang digembalakannya. Juga bisa diumpamakan sebagai cinta seekor induk ayam yang melindungi anak-anaknya di bawah bentangan kedua sayapnya. Bisa pula diibaratkan sebagai cinta sejati seseorang yang mempertaruhkan nyawanya demi menjaga dan melindungi sahabat-sahabatnya dari bahaya dan kedurjanaan.

Tak ada orang yang beragama yang menolak kepercayaan bahwa Tuhan itu mahapengasih dan maha penyayang. Bahwa Tuhan itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Mahapengampun. Mahapemaaf. Mahamerangkul. Sejauh timur dari barat, sejauh utara dari selatan, sejauh itu pula Tuhan yang mahapengasih menjauhkan setiap orang dari segala kesalahan dan dosa mereka, jika mereka mau kembali kepada cinta kasih sayang Tuhan Allah.

CINTA ILAHI. Itu sudah cukup. Cinta ini ampuh meluluhkan hati dan pikiran yang keras. Sanggup meniup jauh dan melenyapkan perlawanan orang kepada Allah yang mahapenyabar dan mahapengampun. Mujarab melenyapkan kesedihan, duka lara dan azab yang dirasakan orang. Kuat mendorong orang masuk ke dalam pelukan Allah sang Kekasih dan Bunda Ilahi semesta. Efektif mencairkan permusuhan dan mendamaikan orang yang satu dengan orang yang lain.

Tuhan itu jauh dari sifat pemurka, pendendam, pemarah, pembalas, pembunuh. Tuhan hanya ingin menyayangi, mencintai, mengampuni, memberi hidup, dan menerima setiap orang. Tuhan tak mengenal diskriminasi. Cinta ilahi mengalir lewat banyak sungai yang berair jernih dan menyegarkan. Sungai-sungai kehidupan.

Karena cinta-Nya yang besar tanpa batas, maka Tuhan pada dirinya sendiri memilih untuk mengampuni dan melupakan segala kesalahan setiap orang yang mau datang kepada-Nya lalu mengakui segala dosa, kesalahan, kealpaan, kekurangan dan keterbatasan mereka, dan meminta ampun dan kasih karunia-Nya.

Lalu mereka bertobat dan selanjutnya berusaha dengan sepenuh hati dan segenap daya untuk hidup baru, hidup kudus, hidup suci, hidup yang berkenan di mata Tuhan. Hidup yang penuh kebajikan kepada sesama manusia. Hidup yang diisi cinta kepada segenap ciptaan. Hidup yang mengalirkan air jernih yang memberi hidup dan menumbuhkannya.

Saat mengikuti perjamuan kudus di hari Minggu yang baru lewat itu, lewat simbol roti dan air anggur saya menemukan dan menghayati kembali kasih sayang Allah yang mahabesar itu bagi saya dan bagi dunia ini.


Saat memegang roti dan cawan anggur perjamuan, saya membayangkan citra wajah Yesus yang paling meresap dalam hati dan pikiran saya sebagai wajah insani Allah. Wajah Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang, sang Gembala Agung yang berada di antara manusia, yang memelihara dan menjaga dan melindungi kawanan domba-Nya.

Wajah insani Tuhan yang menjadi sahabat sejati umat manusia. Wajah insani Tuhan yang menjadi sang bunda bagi umat manusia sebagai anak-anak-Nya sendiri. Wajah insani Tuhan yang mengalirkan cahaya dan terang kehidupan, dari langit di atas ke muka Bumi, dari puncak gunung tinggi ke lembah-lembah.

Wajah sang Abadi yang masuk ke kawasan dunia fana dengan mengambil wujud tubuh atau daging dan darah insani dalam sosok Yesus. Wajah sang Teduh yang memberi rasa teduh, rasa tenang dan hening di tengah-tengah hiruk-pikuk dan hingar-bingar dunia pasar insani.

Terasa damai dan tenteram batin dan pikiran saya ketika ritual perjamuan kudus saya hayati dari sudut pandang di atas.

Mengikuti ritual ini, saya rasakan membawa saya masuk ke dalam meditasi yang dalam: mengenal diri sendiri dan mengenal sang Abadi, sang Ketenangan dan Keheningan. Diri yang fana dan Dia yang abadi menyatu, sebagaimana roti dan anggur masuk ke dalam diri saya saat saya memakan dan meminumnya.

Anda bagaimana?

6 Januari 2020




Thursday, January 2, 2020

Momen Paling Berkesan di 31 Des 2019

MOMEN PALING BERKESAN DI TUTUP TAHUN 2019


Usai kebaktian tutup tahun 2019 di GKI Kepa Duri, Jakarta Barat, 31 Des 2019, mulai pk. 18:00, tak diduga-duga ada momen untuk bervideo bersama Pdt. Engeline Chandra yang enerjik dan ibu-ibu yang lain.

Saya ditanya, apa yang saya harapkan terjadi pada saya di tahun 2020. Jawabnya ada pada video pendek di bawah ini.



Thx ya.
31 Desember 2019
Pk. 23:21

2 Jan 2020
Pk. 17:32