Friday, July 20, 2018

RIP Pdt. em. Dr. Chris Hartono

Pdt. em. Dr. Chris Hartono
Utusan GKI di Fakultas Teologi
Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta, Jawa Tengah
Pengajar sejarah gereja
RIP Kamis, 19 Juli 2018, pk. 11:45

Sumber berita: FB Hehanussa Jo

Ketuk atau klik image untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan terbaca jelas

MEMORI

Ku ikut berduka lara
Chris Hartono telah tiada
Dulu diutus GKI untuk bekerja
Di Universitas Kristen Duta Wacana

Puluhan tahun telah lewat sang kala
Setiap sejarawan sahabat sang kala
Konon sang kala bergerak ke muka 
Tapi berputar balik juga untuk disua

Ruangwaktu dapat dilekuk ditata
Alfa dan omega jadi berjumpa
Kutub Selatan dan Kutub Utara
Menempel jadi satu raga

Yang hidup dan yang telah tiada
Tidak ke mana-mana
Hanya sedang berlarian gembira

Berlarian dalam lingkaran mega
Bersiklus apik ria
Lari menari melingkar suka

Yang wafat dan yang ada
Tetap menarikan siklus sang kala
Sejarah itu garis lurus rata
Tapi gerak melingkar jua 

Tak ada yang telah tiada

Cuma mereka lari lebih kencang tiada tara
Yang hidup berlari santai saja
Semua berlarian gembira
Sambil bernyanyi lagu lara

Yang wafat kembali disua
Oleh mereka yang bening mata
Latihlah mata untuk peka
Melihat yang tiada tetap ada

Ooh ada di mana? 

Dalam diri yang masih bernyawa
Kitalah reinkarnasi yang sudah tiada
Wafat dan hidup ada bersama

Tidak ke mana-mana
Bersatu dalam memori baka
Memori itulah kita


ioanes rakhmat
20 Juli 2018


Thursday, July 5, 2018

Crohn dan Ulcerative Colitis


Sistem cerna insani (ketuk atau klik gambar untuk dapat ukuran lebih besar dan huruf yang jelas terbaca)

Sebuah artikel medik mutakhir yang penting baru dipublikasi di MedicalNewsToday 28 Juni 2018 tentang kajian penyakit otoimun IBD ("Inflammatory Bowel Disease", atau penyakit radang perut) dengan fokus populasi spesifik dari "sel-sel CD4T efektor"./1/

Laporan ringkas riset ilmiahnya terbit di Journal of Experimental Medicine yang dipublikasi online 18 Juni 2018./2/ Tim yang melakukan riset ini berasal dari Universitas Alabama, Birmingham.

Sistem cerna insani

IBD yang umum minimal ada dua: Crohn yang menyerang usus-usus, membentuk timbunan massa yang berbentuk bebatuan bulat dan menumbuhkan banyak pseudopolip pada dinding sebelah dalam usus-usus (usus besar dan usus kecil)/3/ dan "ulcerative colitis" atau radang usus besar yang kerap disertai borok dan bisul yang bernanah./4/


Dua gambar di atas: Crohn dan Ulcerative colitis

IBD, khususnya Crohn, dapat menyerang saluran cerna ("gut" or "gastrointestinal tract") mulai dari mulut hingga anus./5/


Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan IBD. Mulai dari gaya hidup dan jenis makanan sebagai faktor pemicu, warisan genetik, hingga otoimunitas (kondisi sistem imunitas tubuh yang berubah fungsi menjadi penyerang sel-sel tubuh sendiri yang semula sehat dan normal).

Riset tersebut di atas fokus pada peran "sel-sel CD4T efektor" dalam sistem imunitas tubuh yang ditunjuk sebagai penyebab otoimunitas (seperti penyakit Crohn dan "ulcerative colitis") dan penyakit-penyakit inflamasi kronis lain seperti artritis rheumatoid, dan juga tipe 1 diabetes.

Tentu termasuk juga penyakit gastritis tipe A yang dinamakan gastritis atrofis otoimun. Pada gastritis jenis ini sel-sel otoimun membinasakan sel-sel parietal dalam seluruh lambung yang memproduksi asam lambung dan zat penyerap vitamin B12. Jika sel-sel parietal makin kurang, si penderita akan mengalami kekurangan zat besi, folat, dan akhirnya vitamin B12./6/

Yang paling umum adalah gastritis tipe B yang berupa radang, iritasi dan kadang borok pada selaput mukosa dinding sebelah dalam lambung bagian bawah. Penyakit gastritis ini timbul karena infeksi virus, dan khususnya infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan borok dan bahkan kanker lambung./7/

Gastritis tipe B ini juga timbul sebagai akibat stres kronik, rasa mual yang tak kunjung hilang, efek negatif obat-obatan seperti aspirin atau obat-obatan antiradang nonsteroidal (NSAIDs), kebanyakan minum alkohol, anemia, luka bekas operasi, dan makanan tertentu yang menimbulkan iritasi lambung seperti laktosa dan gluten. Selain itu, juga karena refluks (aliran balik) cairan empedu (yang berfungsi membantu mencerna lemak) ke dalam lambung dari saluran empedu (yang menghubungkan organ hati dan kandung empedu)./8/

Kembali ke sel-sel CD4T. Sel-sel ini yang bersifat patogenik merupakan sel-sel imun yang belum matang yang berasal dari "stem cell" (atau sel master), yang dalam perkembangannya berhenti pada tahap "progenitor" atau "cikal bakal" atau "pendahulu" sel-sel imun lain. Diketahui, enzim glycosyltransferase ST6Gal-I mengaktifkan fitur-fitur stem cell pada "effector CD4T cells".

Sel-sel CD4T yang patogenik ini memiliki "tandatangan genetik" yang konsisten dengan sel-sel T yang mampu membarui diri dan dengan sel-sel progenitor hematopoietik.

Sel-sel CD4T  memproduksi:

☆ molekul interferon gamma dalam level tinggi dalam sistem saluran cerna yang terserang radang kronis;

☆ Sel-sel CD4T yang masih memiliki fitur-fitur stem cell dan tetap bertahan dalam tahap "progenitor" kemudian mendiferensiasi diri dengan membentuk sel-sel imun lain yang aktif, di antaranya "T helper cell" yang dikaitkan dengan IBD yang membuat penyakit radang ini tak kunjung sembuh.

Ke depan ini, upaya pencegahan dan terapi IBD kronis difokuskan pada peran sel-sel CD4T patogenik ini. Ini sebuah fokus terapi medik baru.

Salah seorang anggota tim peneliti, Prof. Laurie E. Harrington, menyatakan bahwa jika sel-sel CD4T yang menjadi penyebab IBD tidak kunjung sembuh dapat ditangani, hal ini akan memberi efek kuratif pada IBD.

5 Juli 2018
ioanes rakhmat

N.B. Tolong isi tulisan ini jangan di-copypaste berhubung akan mengalami editing atau updating sewaktu-waktu. Cukup copy link-nya saja. 

/1/ Lihat Catherine Paddock, "Could treating these immune cells cure IBD?", MedicalNewsToday, 28 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/322299.php.

/2/ Boyoung Shin, Robert L. Kress,.., Susan L. Bellis, Laurie E. Harrington, "Effector CD4T cells with progenitor potential mediate chronic intestinal inflammation", Journal of Experimental Medicine, 2 July 2018, no. 215 (7): 1803. Terbit online 18 Juni 2018, http://jem.rupress.org/content/215/7/1803.

/3/ Tentang Crohn lihat misalnya "Crohn's Disease", John Hopkins Medicinehttps://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/digestive_disorders/Crohns_Disease_22,CrohnsDisease.

/4/ Tentang "ulcerative colitis" lihat misalnya panduan lewat 25 slideshow, "Slideshow: A Visual Guide to Ulcerative Colitis", WebMD, medically reviewed 14 August 2017, https://www.webmd.com/ibd-crohns-disease/ulcerative-colitis/ss/slideshow-uc-overview.

/5/ Tentang sistem saluran cerna dan gangguan-gangguan yang dapat terjadi padanya, dan bagaimana mengobatinya, lihat antara lain Modi Ramos, "8 Warning Signs of An Unhealthy Gut", Gut Health Projecthttps://www.guthealthproject.com/8-common-health-issues-caused-by-an-unhealthy-gut/.

/6/ Tentang gastritis atrofis otoimun, lihat misalnya "Autoimmune atrophic gastritis", NIH-GARD, last updated 28 November 2016, https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/10310/autoimmune-atrophic-gastritis.

/7/ Tentang gastritis, lihat Jennifer Robinson, "What Is Gastritis", WebMD, 11 September 2016, https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-gastritis. Lihat juga Stanley J. Swierzewski, "Gastritis Overview", Health Communities, 28 Feb 2008, last modified 17 September 2015, http://www.healthcommunities.com/gastritis/gastritis-overview.shtml.

/8/ Tentang kandung empedu dan refluks cairan empedu, lihat misalnya Matthew Hoffman, "Human Anatomy: Picture of the Gallbladder", WebMD, 11 March 2017, lihat https://www.webmd.com/digestive-disorders/picture-of-the-gallbladder.



Wednesday, July 4, 2018

POST-TRUTH vs. SCIENTIFIC TRUTH

POST-TRUTH DALAM LIMA ALINEA


KEBENARAN dipatahkan, ditumbangkan, dibunuh, berdarah-darah. Diganti dengan dusta, fitnah, kelancungan, tipu daya, sensasi kosong dan kerapuhan. Semua pengganti ini diyakini dengan gegap-gempita sebagai kebenaran alternatif yang diterima benar oleh orang yang tak bisa lagi berpikir. Itulah POST-TRUTH. 

POST-TRUTH itu suatu penyakit kognitif pada para filsuf dan ilmuwan pelacur ("junk philosophers and junk scientists") yang sangat haus, dan mengejar, kekuasaan politik dan ekonomi dan kepentingan-kepentingan lain mereka, lewat penyebaran klaim-klaim pseudoilmiah atau klaim-klain ilmiah palsu yang mereka bangun sendiri.

Sebaliknya, "proper or bona fide scientists" tidak kenal post-truth, tapi mereka terus-menerus mencari, menyelidiki, menemukan, menguji dan membagikan SCIENTIFIC TRUTHS.

Kebenaran-kebenaran ilmiah dibangun dengan berdasar pada EMPIRICAL EVIDENCE, bukti-bukti empiris, koherensi logis dan teori-teori besar ilmu pengetahuan, bukan pada syahwat politik dan kerakusan ekonomi dan kekuasaan.

"Proper scientists" terus-menerus mengkaji, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan yang dinamis, tak bisa dipalsukan, tak bisa diabsolutkan dan tak bisa difinalkan. Para saintis tulen memiliki etika keilmuan.

4 Juli 2018
ioanes rakhmat



Sunday, June 24, 2018

Kita terpapar pada 2 juta virus yang dapat membunuh. Ngeri!


Setelah terjadi pandemik global penyakit pada manusia yang ditimbulkan oleh virus-virus (seperti AIDS, Ebola, Zika dan Sars) yang berdiam pada hewan liar yang menyebar ke manusia, kini metode penanggulangannya diperluas. Tidak lagi hanya KURATIF (suatu penyakit sudah melanda lebih dulu, lalu dipelajari dan dibuat obat atau vaksin penyembuhannya), tapi juga PREVENTIF, mempersiapkan pencegahan.

Inisiatif penggunaan pendekatan PREVENTIF kini sedang dijalankan oleh GVP (Global Virome Project) internasional yang didukung banyak lembaga kesehatan dunia lainnya.

GVP menjalankan riset global bertahap di sejumlah negara untuk mengidentifikasi fitur genetik virus-virus yang berdiam pada hewan-hewan liar (seperti kampret, binatang pengerat, primata dan burung-burung air, selain pada hewan-hewan liar lain dan hewan-hewan jinak yang sudah diketahui).

Sudah diketahui ada lebih dari 1.000 virus pada hewan-hewan liar yang dapat menginfeksi manusia. Tapi, diyakini spesies virus pada hewan liar yang potensial menginfeksi manusia ada JAUH LEBIH BANYAK, mencapai kurang lebih 1,6 juta spesies virus pada banyak hewan liar.

Risikonya besar bahwa virus yang berjumlah luar biasa besar ini dapat menewaskan manusia lewat infeksi. Semuanya masih harus ditemukan dan karakter genetik masing-masing diidentifikasi dengan akurat.

Jika karakter genetik puluhan ribu virus ini sudah dapat diidentifikasi, maka dengan penggunaan Artificial Intelligence akan dapat ditemukan dengan akurat fitur-fitur genetik umum kelompok-kelompok besar virus-virus. Selanjutnya, akan dibuat vaksin-vaksin antivirus untuk melawan semua kategori virus yang sudah diidentifikasi, yang siap digunakan dalam skala global jika muncul penyakit-penyakit baru karena infeksi virus-virus sebelum terjadi pandemik.

Anggaran riset global GVP lumayan besar, tapi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ongkos yang sudah dikeluarkan ketika dunia harus memerangi pandemik penyakit-penyakit seperti AIDS, Ebola, Zika dll.

Apa reaksi anda ketika sekarang mengetahui bahwa kita semua mendiami sebuah planet yang berisi hampir 2 juta virus mematikan yang berdiam pada hewan-hewan liar yang sudah dan akan terus menyebar dan menginfeksi kita, lalu membunuh kita?

Ngerikah? Atau biasa saja? Atau anda mulai merasa takut berdekatan dengan hewan-hewan liar? Atau, aneh bin heran, anda bertepuk tangan kegirangan?

Bagaimana pun juga, Bumi memang sebuah "Animal Planet", dan kita Homo sapiens adalah salah satu hewan cerdas yang mendiami planet ini.

Stay friendly with animals, anyway.

Sumber info:
Robin McKie, "Scientists aim to stop the devastation of Zika-like pandemics", The Guardian, 24 June 2018, https://www.theguardian.com/science/2018/jun/24/global-pandemic-prevented-map-animal-virus-ebola-sars-zika.

Jakarta, 24 Juni 2018

ioanes rakhmat
Sang sahabat semut


Friday, June 8, 2018

Mencegah kepikunan lewat aktivitas sosial

BERGAUL dan TERLIBAT AKTIVITAS SOSIAL SAAT LANSIA MENCEGAH KEPIKUNAN


Friends,

Ini saya share temuan sebuah riset mutakhir tentang kesehatan otak para manula. Kalau anda belum manula, tapi baru pemula, ya pengetahuan ini tetap penting dimiliki.

LUMRAH jika usia bertambah dan kita mulai memasuki masa lansia, kemampuan kognitif otak kita untuk MENGINGAT dll makin MENURUN yang akan bermuara pada KEPIKUNAN.

Tentu ada yang tidak bisa terima dan jalani dengan ikhlas hal yang lumrah ini. Bagi mereka, menjadi lansia, apalagi disertai kondisi sakit-sakitan, adalah suatu azab, suatu penderitaan yang harus diratapi.

Tetapi ada banyak orang yang hepi-hepi dan ikhlas saja menjalani masa lansia mereka. Masa manula mereka pandang sebagai bukti hidup mereka sudah fulfilled, terpenuhi, teraktualisasi, memberi makna, tak ada hal yang perlu disesali atau ditangisi.

Nah, terkait kehidupan manula, ada hasil riset mutakhir yang perlu kita ketahui, di samping ada banyak riset lain sejenis sebelumnya.

Penelitian yang inovatif terhadap tikus (usia lansia) yang dibagi dalam dua bagian (yang hidup dalam kelompok lebih besar, dan yang hidup hanya berdua), menunjukkan bahwa PERGAULAN SOSIAL YANG LUAS membuat kemampuan mengingat otak organisme lansia yang seharusnya makin lemah, ternyata tidak terjadi, dibandingkan organisme yang hidup kesepian atau menyendiri.

TENTU juga terjadi, lantaran otak melemah (khususnya bagian hipokampus), seorang lansia tidak mau bergaul dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ya bagaimana mau bergaul dan aktif di berbagai kegiatan sosial, sementara kemampuan mengingat apapun nyaris sudah lumpuh semuanya.

TAPI KEBALIKANNYA JUGA FAKTUAL: karena aktif bergaul dan terlibat banyak kegiatan sosial, otak para manula yang sudah mulai pikun dan menanggung masalah-masalah kognitif lain ternyata mengalami peremajaan kembali, terlindungi, dan kemampuan mengingat mereka meningkat lebih baik lagi, tidak menyusut.

Pendek kata, sosiabilitas atau kemampuan untuk aktif dalam pergaulan sosial, dan sering bertemu dengan banyak teman dan bercengkerama di saat mulai lansia, sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesehatan otak lansia, khususnya kesehatan kognitif mereka.

Sosiabilitas membuat kepikunan tidak cepat datang, proses degeneratif otak diperlambat, kemampuan mengingat jauh lebih baik, jika dibandingkan manula penyendiri.

Jadi, para lansia perlu sekali bergaul, terlibat interaksi sosial, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang positif, meneduhkan pikiran dan hati, dan membangkitkan kegembiraan dan relaksasi, jika menginginkan otak mereka tetap sehat.

Ingat ya, BERGAUL, bukan GYMN ANGKAT BESI 150 KG. Juga ingat ya, bergaul, bukan berolahraga mendaki gunung sampai ke puncak Mount Everest. Dua olah raga jenis ini bukan untuk orang yang sudah berusia akhir 40-an dan 50-an tahun ke atas. Kenali dan batasi diri. Uang boleh bertimbun. Tetapi kondisi tulang yang mulai rapuh dan rentan patah dan kekuatan otot yang terus berkurang tak bisa dibatalkan oleh uang.

Saya ingin tambahkan. Sering berjalan kaki pelan-pelan di kebun atau di kawasan-kawasan asri yang aman bersama anjing kesayangan atau bersama hewan jinak peliharaan lain, dalam acara rekreasi rutin dengan banyak lansia lain, juga memberi efek positif pada para lansia. Tidur jadi cepat pulas. Sistem imunitas tubuh diperkuat. Wajah jadi berseri. Kebahagiaan bertambah. Tubuh tidak cepat bongkok. Alhasil, meski sudah lansia, hidup tetap bisa mandiri dalam banyak segi.

Sayangnya, dalam kenyataan hidup, ada banyak kendala yang membuat para lansia tidak mungkin memperluas pergaulan mereka sehari-hari seperti yang sudah digambarkan di atas.

Ya karena faktor-faktor ekonomi, kultur keluarga, kesehatan tubuh, dan tempat tinggal di usia lansia yang terisolasi, mereka terpaksa hidup kesepian dan sebatangkara dan merana. Mereka yang berada dalam sikon seperti ini cepat sekali pikun, terserang banyak penyakit lain, lalu terbaring lumpuh bertahun-tahun sebelum wafat dengan tubuh kurus kering dan dalam keadaan vegetatif.

Duuh sedihnya. Sedihnya duuuuhh gak kepalang. For them, life is suffering, really.

Tetapi, sesusah-susahnya hidup, kalau kita melakukan kontemplasi kilas balik, tentu selagi otak masih mampu, tokh kita akan temukan tetap ada sangat banyak hal yang baik dan membahagiakan yang pernah kita alami.

Kalau hidup ini memang duka, ya marilah kita bernyanyi setiap hari. Baik lagu suka maupun lagu duka.

Tanyalah burung-burung nuri, mengapa mereka selalu berkicau dan bernyanyi merdu setiap hari, baik di saat hari hujan maupun di saat hari yang hangat karena cahaya Mentari. Belajarlah kearifan hidup dari mereka.

Silakan share jika ingin.
Tq.

Sumber-sumber:

Maria Cohut, "Research confirms that social interaction protects memory", MedicalNewsToday, 1 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/321976.php.

Riset artikel:
Bryon S. Smith, Xinyue Yao, Kelly C. Chen, Elizabeth D. Kirby, "A Larger Social Network Enhances Novel Object Location Memory and Reduces Hippocampal Microgliosis in Aged Mice", Frontiers in Aging Neuroscience, 31 May 2018, https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnagi.2018.00142/full.

8 Juni 2018
9:06 PM

Stay blessed.
ioanes rakhmat