Thursday, August 20, 2015

Religion of New Atheism



The holy bible of New Atheism religion


I think, the New Atheism is a religion, very seriously. Here are the elements of the ideological construction I call New Atheism religion. These elements are common in all religions insofar as we know. My very brief analysis here is sociological./1/

Its holy book:
The God Delusion, written by Prof. Richard Dawkins; 

Its first holy epistle:
Letter to A Christian Nation, written by Sam Harris;


Its earlier prophets:
Sam Harris, Richard Dawkins, late Christopher Eric Hitchens, Daniel Dennett;


Its core creeds:
“Atheism makes no claims. It is a lack of belief and nothing more.”

“The transcendent dimensions do not exist.” 

Its delusion:
Atheism is scientific; 

Atheism is the only savior of the world currently being fooled and conned by religions;

Its community:
The defenders of the New Atheism worldwide interconnected and unified by the Internet and various social media;


Its cultic rituals:
Daily attacking religions and believers cruelly, barbarically, aggressively, abrasively, cathartically, by using verbal and symbolic violence;


Its gods:
Superhuman intelligent beings in space believed by Prof. Richard Dawkins to exist that created human beings through their advanced genetic engineering long, long ago./2/


So, you could be convinced now that the New Atheism is a religion too. 

Jakarta, 20 August 2015
Ioanes Rakhmat 


Notes

/1/ Sociologists in general consider religions as social institutions founded and developed on several essential or basic elements, namely, canon, code, creed, and cult. Some add other elements such as community, courses of action, and commitment. In addition to these essential elements, there are many other non-essential elements, too many to mention one by one.

/2/ Richard Dawkins expresses his belief in extraterrestrial superhuman intelligent beings as the creators of human beings here https://youtu.be/BoncJBrrdQ8.

The most crucial statement of Dawkins is this: “Well, it could come about in the following way. It could be that at some earlier time, somewhere in the universe, a civilization evolved, probably by some kind of Darwinian means, probably to a very high level of technology, and designed a form of life that they seeded onto perhaps this planet. Now, um, now that is a possibility, and an intriguing possibility. And I suppose it's possible that you might find evidence for that if you look at the details of biochemistry, molecular biology, you might find a signature of some sort of designer.”

If Dawkins denies this statement or wishes to revise or even discard it, I suggest him to make a scientific clarification recorded in a video and then disseminate it through the Internet.


Monday, August 17, 2015

Ten meanings of the word “liberal” in theology


once born free, forever free!

In theology, “liberal” means renewal, discarding irrelevant doctrines, and formulating new ones, in the spirit of freedom and openness.

Another meaning of “liberal” in theology is accepting sciences to contribute to constructing new theologies in response to new challenges, new contexts, and new developments.

The third meaning of “liberal” in theology is set free theology from clerical domination, so ordinary people can participate in doing theology, resulting in democratization in religious life.

The fourth meaning of “liberal” in theology is employ sciences in interpreting holy texts resulting in critical approaches named criticism, historical criticism, for instance.

The fifth meaning of “liberal” in theology is using human rationality freely in search of religious truths whatever are the outcomes it generates.

The sixth meaning of “liberal” in theology is let curiosity alive and free in peoples cognition so that they can grow intelligently and freely into infinity and eternity.

The seventh meaning of “liberal” in theology is view religiosity as a dynamic state of mind never reaching its end, becoming an endless pilgrimage.

The eighth meaning of “liberal” in theology is an openness to endless progress of human capacity and human civilization, as ways to finding the elusive God.

The ninth meaning of “liberal” in theology is refuse anything ideological to imprison the human mind, conscience, and responsible freedom.

The tenth meaning of “liberal” in theology is live cheerfully, kindly, compassionately, responsibly, courageously, confidently, determinedly, greatly as human beings born free. This I call theology-in-action carried out by free human beings.

Those are the 10 meanings of the word “liberal” in theology. To conclude, the word “liberal” in theology is very great, precious and noble. It is weird if you don’t like to be liberal in your religious life. 


P.S. Share it as widely as possible. Thank you. 

Jakarta, 17-8-2015
the independence day of Indonesia
ioanes rakhmat


Happy the independence day of Indonesia, a country still sadly subjugated by stupidity, ignorance, corruption, delusion and ideological bigotry. Save our children.





Sunday, August 2, 2015

Bisakah dalam meditasi pikiran kita “blank”?



Saat pikiran kita buntu pun, kita sedang berpikir, mencari-cari alternatif....


Ada orang yang menyatakan bahwa pada puncak tertinggi suatu teknik meditasi, orang akan berada pada keadaan “tanpa kondisi”, yakni saat pikiran sama sekali berhenti, sama sekali “blank”. 

Yang mereka maksudkan bukan hanya terbendungnya persepsi indrawi (yang lazimnya dinamakan “sensory deprivation”), tetapi berhentinya kognisi manusia sepenuhnya. Dalam sains, kognisi (Latin: cognoscere; artinya "belajar" atau "mengetahui") adalah satu grup proses-proses mental yang mencakup penalaran, memori, pembelajaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, perhatian, penciptaan dan pemahaman bahasa. 

Mistikus dan guru spiritual asal Bangladesh yang bernama Chinmoy Kumar Ghose (lebih dikenal sebagai Sri Chinmoy) dalam tulisan pendeknya yang berjudul “Emptying the Mind” memahami “pikiran yang kosong” betul-betul dalam arti harfiah. Dia menyatakan hal berikut ini:
“Pikiran tidak diperlukan dalam meditasi, karena pikiran dan meditasi adalah dua hal yang berbeda mutlak. Ketika kita bermeditasi, kita tidak berpikir sama sekali. Tujuan meditasi adalah membebaskan diri kita dari semua pikiran. Pikiran itu seperti sebuah titik pada sebuah papan tulis. Entah titik ini baik atau buruk, titik ini sudah ada di situ. Hanya jika pikiran apapun tidak ada, maka kita dapat bertumbuh dan masuk ke realitas yang tertinggi. Di dalam meditasi yang dalam sekalipun, pikiran-pikiran dapat masuk, tetapi hal ini tidak akan terjadi dalam meditasi terdalam dan tertinggi. Dalam meditasi yang tertinggi, hanya akan ada cahaya. Anda harus tidak berpikir bahwa ketika pikiran anda kosong sepenuhnya, anda akan menjadi seorang yang tolol atau akan bertindak seperti seorang idiot. Itu tidak benar. Pada saat anda tidak mempunyai pikiran apapun dalam benak anda, harap anda jangan merasa telah tersesat sama sekali. Sebaliknya, rasakanlah bahwa sesuatu yang ilahi sedang disiapkan bagi kodrat anda yang murni dan terarah ke masa depan.”/1/
Pertanyaannya adalah: Bisakah pikiran kita kosong sama sekali, blanko sepenuhnya, kognisi berhenti? Pertanyaan pendek ini saya akan jawab dengan cukup panjang di bawah ini. Sebelum ke situ baiklah kita ketahui dulu beberapa pendapat lain tentang “pikiran yang kosong” dari beberapa praktisi meditasi orang Indonesia.

Tentang “mengosongkan pikiran”, Darmayasa yang mengaku guru meditasi menyatakan, lewat metafora, bahwa “hanya ketika anda telah mengosongkan gelas yang diisi penuh oleh air busuk, maka anda akan bisa mengisi gelas itu dengan isi lain, dengan air bersih, dengan susu murni, atau dengan amerta.”/2/ Ada dua hal yang mau saya kemukakan. Pertama, jika “mengosongkan pikiran” dipahami secara neurologis sebagai menghapus semua memori lama yang sudah terekam dalam organ otak, hal ini tidak dimungkinkan. Minimal, bekas-bekas memori dari masa lampau akan selalu dapat ditemukan pada area-area tertentu otak.

Sebuah studi menunjukkan bahwa aktivitas berbahasa pada waktu masih kanak-kanak, baik kanak-kanak monolingual maupun kanak-kanak bilingual, selamanya meninggalkan “jejak-jejak neural” yang terus bertahan hingga usia dewasa, tidak hilang sama sekali, dan mendatangkan dampak tertentu hingga usia tua (antara lain, mencegah kepikunan dini pada orang dewasa bilingual). Susan Perry menyatakan bahwa kemampuan bilingual sejak usia dini mengubah dengan signifikan struktur otak (volume materi abu-abu meningkat pada korteks parietal inferior kiri). Orang dewasa yang sejak kanak-kanak sudah fasih berbicara dalam dua bahasa memiliki kemampuan berkonsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang yang monolingual; hal ini menandakan memori aktif mereka berfungsi dengan baik.”/3/ “Tandatangan neural” yang membedakan orang monolingual dan orang bilingual terlihat khususnya pada area yang dinamakan korteks frontalis inferior kiri,/4/ dan juga di area yang dinamakan korteks prefrontalis dorso-lateralis pada bagian otak kanan./5/

Tetapi, jika “mengosongkan pikiran” dipahami sebagai pertumbuhan dan perkembangan kognitif manusia dengan mengubah cara berpikir lama, hal ini dapat dicapai, juga lewat latihan meditasi Vipassana, tetapi itu pun tidak bisa berlangsung dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan proses kognitif yang tidak sederhana. Jelas, ini adalah pemahaman yang tidak harfiah atas frasa “pikiran yang kosong”.

Seorang yang menamakan dirinya Ki Bayu Sejati, dalam blognya, menulis bahwa tingkat lanjut dari meditasi adalah mencapai kondisi di mana si praktisi “sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera, termasuk pikiran dan perasaan” untuk mencapai “kenyataan yang asli”. Katanya lagi, kondisi terberat dalam bermeditasi adalah mencapai kondisi “pikiran tidak ada”, keadaan di mana “anda tidak berpikir lagi.”/6/ Tampaknya dia memahami kondisi “pikiran tidak ada” tidak secara harfiah. Dia menjelaskan bahwa kondisi “pikiran yang kosong” dicapai dengan cara memusatkan pikiran anda pada “suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia-manusia lain, atau cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan”. Cita-cita sejenis inilah yang tampaknya dimaksudkan olehnya sebagai “kenyataan yang asli”, yang juga dapat berupa “cahaya Tuhan yang hadir dalam hati” atau “kebesaran ilahi” atau “kesadaran yang lebih tinggi”. 

Dengan kata lain, pernyataan “anda tidak berpikir lagi” atau “pikiran tidak ada” atau “pikiran kosong” adalah pernyataan yang menyesatkan. Kalau kondisi “pikiran tidak ada” atau kondisi “anda tidak berpikir lagi” atau kondisi “pancaindra dan pikiran dan perasaan tidak digunakan lagi” dimaksudkan olehnya dalam pengertian yang harfiah, saya akan argumentasikan di bawah ini bahwa kondisi ini tidak mungkin bisa dicapai.

Mari kita cari jawabannya, apakah pikiran manusia bisa kosong dalam pengertian harfiah, sama halnya dengan sebuah gelas bisa kosong, dalam arti tidak berisi air atau udara sama sekali. Jika pikiran dapat betul-betul dikosongkan dalam meditasi, maka siapakah atau apakah sosok yang sedang bermeditasi itu? Tubuh duduk yang dinginkah, tanpa kehidupan lagi?

Otak kita tidak pernah berhenti bekerja selama 24 jam, termasuk ketika kita tidur sangat lelap dan tanpa mimpi (dengan gelombang otak delta, 1-3 Hz). Sejak moyang kita di zaman-zaman kuno, ratusan ribu tahun lalu, kondisi otak yang tetap aktif selamanya telah menjadi suatu faktor penting dalam mempertahankan kelangsungan kehidupan spesies kita, homo sapiens. Juga di zaman modern ini, otak kita yang terus aktif membuat kita bisa menavigasi respons-respons proaktif kita terhadap semua persoalan dan tantangan dunia modern, sejak bangun tidur, kerja di kantor, aktif ini dan itu, hingga pulang kembali lalu tidur lagi di malam hari. 

Beruntunglah kita punya pikiran yang terus aktif dan tidak pernah blanko. Tanpa kemampuan pikiran yang terus waspada dan aktif ini, kita sebagai suatu spesies sudah lama punah.  

Guru besar neurologi dan sains kognitif dari Universitas John Hopkins, School of Medicine, Prof. Barry Gordon, menyatakan,
“Otak manusia modern hanya 2% beratnya dari keseluruhan berat tubuh kita, tetapi menggunakan 20% dari seluruh energi yang tersedia dalam tubuh kita. Otak yang ‘lapar energi’ semacam ini, yang terus-menerus mencari petunjuk-petunjuk, hubungan-hubungan dan mekanisme-mekanisme, hanya mungkin bekerja jika metabolisme mamalia dalam tubuh disetel pada peringkat yang konstan tinggi. Kondisi berpikir terus-menerus inilah yang telah membuat kita tidak menjadi makanan kesukaan binatang-binatang buas di savana-savana, dan mencegah kita menjadi suatu spesies yang nyaris punah. Dari situ, kita berkembang menjadi suatu bentuk kehidupan yang paling berprestasi di planet Bumi. Dalam dunia modern pun, pikiran kita selalu mendorong kita dengan kuat untuk menemukan bahaya-bahaya dan peluang-peluang dari lingkungan sekitar kita, agak serupa dengan yang dikerjakan server mesin pencari. Namun, otak kita lebih maju setindak, dengan kemampuannya untuk juga berpikir proaktif, suatu tugas yang memerlukan lebih banyak proses mental…. Peninggalan yang kita terima dari moyang primata kita memberi kita sebuah keuntungan lain, yakni kemampuan untuk menavigasi suatu sistem sosial.”/7/
Sewaktu meditasi paling relaks sekalipun, dengan gelombang otak 1-3 Hz, pikiran kita tetap aktif, tidak pernah berhenti. Jika berhenti, maka tidak ada lagi motor penggerak bagi kehidupan semua organ tubuh kita. Artinya, kita terancam mati, karena organ-organ tubuh tidak diperintah lagi oleh pikiran kita untuk bekerja, sekalipun perintah ini berjalan otomatis, tanpa perlu kita atur dengan sadar. Semua sistem saraf dalam tubuh kita digerakkan oleh proses-proses kognitif dalam arti yang luas. Fungsi-fungsi metabolik dan fisiologis dan organik tubuh lumpuh total, jika pikiran kita seluruhnya tidak bekerja lagi. Graham E. Ewing (dari Montague Healthcare, Inggris) dan S.H. Parvez telah mengargumentasikan bahwa otak berfungsi hierarkis dan sistemik, dan fitur utama fungsi otak adalah mengatur fungsi-fungsi tubuh. Mereka memperlihatkan ada hubungan yang dinamis antara kognisi, sistem-sistem fisiologis, dan sistem saraf otonom, dan juga antara gelombang-gelombang otak dan fungsi tubuh yang berlangsung multilevel./8/ 

Hanya otak yang sudah mati, tidak memproduksi pikiran lagi. Begitu otak mati, si pemilik otak juga mati. Sebaliknya, semua organ tubuh kita, termasuk yang paling vital, pada dirinya sendiri bisa berkurang kemampuan kerjanya, secara bertahap, entah karena terserang berbagai jenis penyakit, kecenderungan-kecenderungan genetik, ataupun karena mengalami degenerasi saat kita perlahan menjadi tua. Penuaan juga, sebetulnya, adalah suatu penyakit, yang kini sedang dicari cara-cara menyembuhkannya. Juga bukan rahasia lagi, bahwa pikiran yang terus-menerus sehat, cerah, tanpa stres, berdampak signifikan pada kesehatan semua organ tubuh kita.     

Telah kita ketahui, otak manusia itu ringan, cuma 1,5 kg beratnya, 2% dari seluruh berat tubuh kita. Tetapi meskipun ringan dan kecil, otak kita setiap hari memerlukan energi yang tersedia dalam tubuh kita sebesar 20 %. Otak kita sangat “energy-consuming”, perlu memakai energi besar. Kenapa? Karena otak kita adalah suatu organ sentral yang membuat kita menjadi suatu organisme hidup yang terus berpikir. Kalau mengambil analogi dari dunia komputer, otak kita adalah CPU-nya. Dan sesungguhnya otak kita memang sebuah komputer organik yang bisa diuraikan mekanisme kerjanya, paralel dengan kerja sebuah komputer. Neuron-neuron dalam otak kita, yang berjumlah 100 milyar sel, bekerja dengan tunduk pada, atau dengan dikondisikan oleh, hukum-hukum fisika dan kimia. Bedanya, sebagai sebuah komputer, mesin organik otak kita tidak bisa di-“switch-off” total.   

Dalam meditasi paling tenang sekalipun, pikiran tetap bekerja, tidak ada kondisi pikiran “blank” dalam meditasi apapun. Uji saja dengan cara sederhana: jika seorang praktisi meditasi yakin dia bisa membuat pikirannya blank 100 %, mintalah dia bermeditasi di sebuah ruang sampai mencapai kondisi yang katanya “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran berhenti sama sekali, alias blank. Lalu mulailah anda matikan AC di ruang tempat dia bermeditasi, lalu buatlah oksigen di ruang itu hampa. Atau, anda bakar ruang itu dengan cepat. Nah, apakah dia tidak akan memberi reaksi? Jelas, otaknya yang katanya sedang blank akan memberi reaksi, pikirannya langsung memerintahkannya melakukan sesuatu. Tidak mungkin dia bisa memberi reaksi jika pikirannya sedang blank. Pikiran yang blank, jika ada, sangat berbahaya buat kelangsungan kehidupan kita. Lagipula, adalah suatu fakta yang tidak bisa dibantah bahwa si pemeditasi bisa tahu pikirannya sedang blank, ya karena pikirannya masih bekerja, ya karena dia berpikir pikirannya sedang blank. Karena dia berpikir pikirannya sedang blank, maka dia temukan pikirannya seolah sedang betul-betul blank. Dengan kata lain, dia dikondisikan oleh pikirannya sendiri, atau dia ditipu, oleh pikirannya sendiri sehingga dia berpikir bahwa pikirannya sedang kosong total.   

Ya betul, pikiran kita bisa kosong total, tetapi hanya jika kita sudah mati, otak kita sudah membusuk dan tidak bekerja lagi, dan tubuh kita sebagian besar berubah menjadi kimia kembali, kimia carbon yang akan terus terdaur ulang dalam alam di Bumi ini. Saat kita sudah mati, personalitas kita lenyap, semua memori juga sirna, maka kondisi tanpa kondisi terjadi. Selama kita masih hidup dalam dunia, di dalam suatu sistem sosial dan sistem kultural, kita semua terkondisi. Bahkan pada level paling fundamental, level subatomik, sel-sel seluruh tubuh kita juga terkondisi oleh hukum-hukum fisika dan kimia yang berlaku dalam empat dimensi ruangwaktu kita dan di dalam jaga raya kita. Sel-sel tubuh kita, karena terkondisi oleh hukum-hukum itu, mengambil bentuk bulatan-bulatan, atau bahkan dawai-dawai, bukan kubus atau elips. Di luar empat dimensi ini, yakni dalam dimensi ke-5 hingga dimensi ke-26, dan dalam jagat-jagat raya lain, dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang berbeda, struktur dan morfologi sel-sel tubuh organisme akan berbeda. Jadi, dari dunia subatomik sampai dunia mahabesar jagat-jagat raya, tidak ada kondisi tanpa kondisi. Jika anda berpikir bahwa anda bisa masuk ke kondisi “tanpa kondisi”, itu adalah pikiran anda yang dikondisikan oleh komunitas anda. Lewat sesepuh-sesepuh komunitas anda ini, anda diajarkan dan diyakinkan demikian. Saat saya menyatakan hal yang berbeda, saya juga dikondisikan oleh sesuatu yang lain, yakni ilmu pengetahuan modern.  

Jadi, adalah sebuah kesalahan besar jika ada orang yang mengklaim “pikiran bisa dihentikan” dalam sebuah meditasi. Tidak ada landasan ilmiahnya, cuma dipropagandakan saja.


Kata orang beragama, jika pikiran kita blank, si setan akan masuk merebutnya!

Pikiran atau pemikiran, mind and thought, melibatkan proses-proses kognitif, tidak akan bisa dihentikan, hard wired dengan fungsi otak kita Tetapi bisa dipantau, diamati. Lalu akan membuat kita makin kenal diri dan kecenderungan-kecenderungan mental kita. Dari situ, kita makin bertambah kenal dunia real, dan tempat kita di dalamnya; alhasil, kita bisa memperbaiki diri dan menyempurnakan diri terus-menerus. Dan karena kehidupan kita sendiri adalah meditasi aktif yang real, maka sangat penting pikiran kita terus-menerus kita pantau: kita melakukan apa yang dalam psikologi dinamakan “metakognisi”.

Metakognisi ini membuat kita berpikir tentang pikiran kita sendiri, memikirkan isi pemikiran kita sendiri. Pikiran atas pikiran. Alhasil, kita bisa makin bijaksana dan makin cerdas dan makin berwawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selama 24 jam, diselingi 8-10 jam tidur malam setiap hari. Inilah yang perlu kita latih, meditasi “keterjagaan” (Vipassana), meditasi memantau dan mengenali isi pikiran kita sendiri sampai detail, bukan menganggap pikiran kita bisa dibuat blank lewat meditasi.

Menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak, lewat Vipassana dan metakognisi, jauh lebih penting ketimbang mengejar kondisi yang dinamakan “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran yang diklaim “kosong”, yang dalam kenyataannya tidak ada sama sekali. Tidak ada landasan ilmiahnya. Lagipula, seandainya pikiran bisa kosong sama sekali, kekosongan pikiran ini berguna untuk apa? Daripada sia-sia mengejar kondisi “tanpa kondisi”, yakni kondisi “pikiran blank”, lebih bermanfaat jika kita mengenali dan memantau isi pikiran-pikiran kita, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan kamil. Dunia dan peradaban dibangun dan dibentuk oleh otak yang penuh, yang konstan bekerja, bukan oleh otak yang kosong dan berhenti bekerja. 

Intermezo saja menjelang akhir tulisan ini: kondisi yang diklaim sebagai “kondisi tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran blank, kosong penuh, yang diklaim dicapai lewat teknik meditasi tertentu, oleh orang beragama yang pernah berdiskusi dengan saya dianggap sebagai kesempatan masuknya setan ke dalam otak yang tidak terjaga! Nah loh. Tentu saja, orang beragama yang berpendapat demikian juga dikondisikan oleh agama mereka saat mereka menyatakan hal yang mengagetkan itu dalam bahasa mitologis. Nothing in the universe is unconditioned! Tentu saja, di dalam zaman modern ini, kekuatan-kekuatan perusak yang dulu dipersonifikasi dalam sosok setan (dan berbagai nama lain), kini dijelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Kalau dulu di era mitologis penyakit perut dibayangkan ditimbulkan oleh masuknya setan-setan atau roh-roh jahat ke dalam perut, kini sang setannya atau sang roh jahatnya, lewat sains, sudah ditemukan sebagai virus dan bakteri. Kalau pun seorang yang baru mulai latihan meditasi vipassana tiba-tiba “kerasukan setan”, dia bukan kerasukan setan dalam arti harfiah, tetapi karena penyakit mentalnya yang dinamakan Multiple Personality Disorder atau Dissociative Identity Disorder tiba-tiba kambuh!  

Sekali lagi, saat saya menyatakan demikian, saya juga dikondisikan, ya oleh ilmu pengetahuan. Pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang segala hal dalam alam ini juga dikondisikan oleh bukti-bukti, metode-metode, teori-teori, model-model atau paradigma-paradigma, dan karena terkondisi, ilmu pengetahuan tidak pernah tiba di ujung terjauh. Tidak pernah final, tidak pernah absolut, tetapi terus berubah dan berkembang, sangat dinamis. Karena terkondisi, maka ilmu pengetahuan pun bisa berfungsi kreatif dan konstruktif bagi peradaban manusia selama dunia masih ada. Karena terkondisi juga, pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang banyak hal akan suatu saat tidak relevan lagi, terbukti keliru, lalu akan digantikan dengan pandangan-pandangan yang lebih baru. Karena kehidupan setiap orang di planet Bumi ini sekarang ini membutuhkan sains dan teknologi modern jika mereka ingin hidup baik dan sehat, maka kehidupan kita semua niscaya terus terkondisi.

Banyak praktisi meditasi dengan tepat melihat bahwa pikiran sama sekali tidak bisa dikosongkan; kita semua hidup terkondisi oleh banyak hal, termasuk juga ketika kita sedang bermeditasi. Dalam meditasi yang diklaim sebagai meditasi tingkat tertinggi sekalipun, pikiran sama sekali tidak pernah bisa dikosongkan, dan, seandainya bisa, memang tidak perlu dikosongkan. Jika seorang praktisi meditasi mengklaim telah “manunggal dengan Tuhan” di dalam puncak meditasinya, klaim ini juga terkondisi, terkondisi oleh teologi mistik yang dipercayainya dan dipercayai komunitasnya. Tidak ada teologi “in vacuum”, yang murni, tidak terkondisi. Tetapi, kendatipun pikiran diakui tidak bisa dikosongkan, mereka tetap mempertahankan frasa “pikiran yang kosong”, tetapi dengan diberi arti bukan harfiah, melainkan metaforis. 

Seorang guru meditasi Vipassana, dan pendiri Vipassana Support International, yang bernama Shinzen Young, mengawali tulisannya yang berjudul “Meditation and Emptying the Mind” dengan kata-kata ini: “Apakah tujuan meditasi adalah untuk mematikan pikiran dan mendapatkan suatu kesenyapan batin atau suatu keadaan tanpa pikiran? Beberapa guru akan menjawab ya dan beberapa lagi akan menjawab pasti bukan itu! Sangat membingungkan...!” Selanjutnya dia menjelaskan berpanjang lebar apa artinya “emptying the mind”, “mengosongkan pikiran”. Menurutnya, “mengosongkan pikiran” adalah “menghancurkan kecanduan orang untuk berpikir atau untuk terpaksa berpikir”. Sesudah kecanduan ini dilenyapkan, “mengosongkan pikiran” berarti menjalankan “proses berpikir yang tidak lagi diserak-serak oleh kekuatan-kekuatan pembuyar”, melainkan terfokus kuat pada satu titik bak “seberkas sinar laser yang koheren dan menembus”. Di saat konsentrasi ini sudah dicapai, maka “mengosongkan pikiran” berarti “berpikir dengan suatu cara yang baru”, yang “spontan dan intuitif”, dan “menjadi bagian dari arus alam yang lembut dan gemulai”, yang akan bermuara pada “suatu keadaan kalem yang siaga”./9/

Lagi, kita temukan, Shinzen Young juga memahami “pikiran yang kosong” tidak secara harfiah, melainkan sebagai sebuah metafora tentang perombakan isi pikiran dan cara berpikir yang lama, diganti dengan isi pikiran dan cara berpikir yang baru: yang terkonsentrasi, yang dicapai dengan spontan, tanpa dipaksa oleh apapun, yang memuat perspektif-perspektif baru, yang akhirnya menimbulkan dampak ketenangan dan kesiagaan batin.

Hemat saya, lebih baik berpendirian seperti Shinzen Young: mengakui bahwa “pikiran yang kosong” adalah kondisi yang tidak mungkin ada, sebagaimana sudah saya argumentasikan di atas; dan, jika frasa “pikiran yang kosong” masih tetap mau dipertahankan, ya frasa ini diberi arti metaforis, bukan arti harfiah.  
 
Jakarta, 2 Agustus 2015 

ioanes rakhmat


Catatan-catatan 

/1/ Sri Chinmoy, “Emptying the Mind”, pada http://www.srichinmoy.org/spirituality/concentration_meditation_contemplation/meditation/the_silent_mind/emptying_the_mind.  

/2/ Darmayasa, “Mengosongkan Pikiran”, Divine Love Society, pada http://www.divine-love-society.org/mengosongkan-pikiran/.

/3/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/. Lihat juga Viorica Marian dan Anthony Shook, “The Cognitive Benefit of Being Bilingual”, Cerebrum, 31 October 2012, pada http://dana.org/Cerebrum/2012/The_Cognitive_Benefits_of_Being_Bilingual/.

/4/ Lihat misalnya Ioulia Kovelman, Stephanie A. Baker, Laura-Ann Pettito, “Bilingual and Monolingual Brains Compared: A Functional Magnetic Resonance Imaging Investigation of Syntactic Processing and a Possible ‘Neural Signature’ of Bilingualism”, Journal of Cognitive Neuroscience, January 2008, Vol. 20, No. 1, hlm. 153-169, pada http://www.mitpressjournals.org/doi/abs/10.1162/jocn.2008.20011?#.Vb7NjmC5I8I.

/5/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, pada http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/.

/6/ Ki Bayu Sejati, “Olah Batin dengan Meditasi”, Blog Ki Bayu Sejati, pada https://kibayu.wordpress.com/olah-batin-dengan-meditasi/.

/7/ Barry Gordon, “Why Is It Impossible to Stop Thinking, to Render the Mind a Complete Blank?”, Scientific American, 18 October 2012, pada http://www.scientificamerican.com/article/ask-the-brains-why-impossible-to-stop-thinking/.

/8/ Graham E. Ewing dan S.H. Parvez, “The Dynamic Relationship between Cognition, the Physiological Systems, and Cellular and Molecular Biochemistry: A Systems-based Perspective on the Process of Pathology", Rediviva, 20 April 2010, pada http://www.rediviva.sav.sk/52i1/31.pdf.

/9/ Shinzen Yang, “Emptying the Mind”, Shinzen.org., Meditation in Action, pada http://www.shinzen.org/Articles/artEmptyMind.htm



Wednesday, July 29, 2015

My Poem: An Endless Voyage



Science is an endless voyage to the unknown
Don’t sit at the coffee shop until dawn
Move, move, move to the open air outside
Go, go, go to the seashore at the high tide

Row, row, row your boat into the dark regions
Unfurl the sails wide to make it move fast forward!
Sail, sail, sail into the ever vague harbor ahead
Fear not the high waves and horrible storms

Watch the clouds sailing by across the sky
Watch the seagulls flying over your head to spy
Watch the shining stars in the night heavens
Watch the compass needle showing you directions

Sing, sing, sing sailor songs loudly and gleefully
Let your vibrant voices reach the sky boundlessly
Beat, beat, beat your drums powerfully
Invite the Sun and the Moon to dance briskly

Transcend the known!
Pursue the unknown!
Unravel the mysteries!
Cross the borders!

Discover the medicines to cure all diseases
Find out the methods to reach immortality
Seek out the ways of all beings living prosperously
Build our other homes on other habitable planets

Teach your sons and daughters to love science
Train them to expand their curiosity forever
Make them know other lives exist in infinite space
Assure them they’re far bigger than space ever

Ask your children to paint their blissful faces
On the limitless paper of the canopy of the sky
To write down their own mathematical equations
On the boundless surface of the glittery night sky

Science is a happy journey that knows no finality
From the known to the ever-expanding unknown
You find you know you don’t know very often
Fear not any undecidedness and uncertainty

Even though science knows nothing absolute
And can as well be wrong and inaccurate
It’s already flown and landed humans on the Moon
Sent spacecraft across the solar system of our own

And what are the things religions so far have done?
A little bit of loving and caring of our neighbors
The most they’ve been doing is violence and wars
Though they’ve existed thousands of years on the globe!

Modern science is still very young indeed
It’s been developing since 400 years in the past
Though still young, it’s very powerful in its deed
Leading us to the civilized deed, mind and heart

Science is the shining candle in any murky rooms
Bringing enlightenment into the human gloomy mind
In the hands of great scientists the world around 
It frees humans from blind faith, arrogance and silliness

Silliness knows no limits in all directions
Arrogance shuts the door of the learning houses tightly
Blind faith brutally kills your capacity to grow intellectually 
Intelligence dances in the silent oceans of limitless progress

Let’s sail from one ocean to another unstoppably
Let’s cleave the huge waves fearlessly 
Let’s conquer the horrific storms daringly 
Let’s penetrate the dark nights valiantly

Row, row, row your science boat more speedily
Break through the unknown determinedly
Don’t take a long rest during the long, long voyage
Until you arrive at the place of nowhere of silence

The science harbor is always elusive and vague
As you come nearer in the sailing voyage
Further and further again endlessly it moves
It’s always greater than any gods and goddesses!

Embrace and hug science
Kiss it! Kiss it! Kiss it!
Try its taste and its grace!
Spread it! Spread it! Spread it!



Jakarta, 29 July 2015
Ioanes Rakhmat




Monday, July 20, 2015

Amr Khaled: Dunia berlari ke depan, Islam tetap di belakang!


Televangelis Muslim, Amr Khaled


Presiden Mesir, Abdel-Fattah el-Sisi, dalam bulan Januari 2015 meminta supaya revolusi dilakukan dalam dunia Islam berhubung penafsiran-penafsiran Islam telah sangat jauh ketinggalan zaman. Keadaan ini, katanya, telah membuat dunia Islam “suatu sumber petaka dan kehancuran.”

Sang Presiden meminta para ulama negara dan Universitas Al-Azhar di Kairo (yang sudah berumur 1000 tahun) untuk segera melakukan perubahan dan pembaruan (“tajdeed”) dalam semua segi di dunia Islam. Seruan ini bersambut. Suara-suara yang menyerukan pembaruan terdengar santer di bulan Ramadan 2015 di seluruh tanah Arab. Baru saja, 14 Juli 2015, Presiden el-Sisi menyatakan bahwa “toleransi telah disingkirkan oleh penafsiran-penafsiran ekstrimis atas teks-teks Islam!”

Dalam bulan Ramadan 2015 ini juga, otoritas Urusan Islam Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, menyelenggarakan kuliah-kuliah umum yang berakhir Jumat, 17 Juli 2015, dengan melibatkan 300 sarjana Islam yang kebanyakan berasal dari Universitas Al-Azhar, dan dihadiri banyak profesional muda dari berbagai etnis di UEA. Tema perkuliahan ini tentang kontraterorisme. Seorang pakar Muslim yang datang dari Amerika, Sheikh Hamza Yusuf, pendiri Zaytuna College di Berkeley (universitas Islam pertama yang diakreditasi di Amerika Serikat, didirikan 2008), berbicara pada kesempatan itu. Yusuf mengingatkan semua peserta bahwa “sarjana-sarjana Muslim telah tidak memberi tanggapan-tanggapan yang tepat dan cukup cepat terhadap tantangan-tantangan zaman sekarang.” Dia juga mendesak umat Muslim untuk kembali ke inti ajaran Islam, yakni kerahiman dan kerahmanian Allah.

Ketika diwawancarai The Associated Press, Yusuf, 58, dengan memakai sebuah metafora, menyatakan bahwa Islam masa kini adalah sebuah rumah yang telah lama ditelantarkan sehingga perlu cepat direnovasi. Katanya, Keran-keran air rumah ini sudah tidak bekerja lagi. Pipa-pipa ledengnya rusak dan berkarat. Seluruh isi rumah berantakan. Rumah ini sudah ditelantarkan. Sudah ambruk. Anda tidak menghancurkannya. Juga tidak menyingkirkannya. Anda perlu merenovasinya. Karena sudah sangat genting, sejumlah orang mulai terbangun dari tidur mereka, dan berpikir lebih baik kita melakukan sesuatu.  

Dalam rangkaian semangat pembaruan ini yang sedang menyebar di dunia Arab, televangelis Muslim paling tersohor di dunia Arab, Amr Khaled, dalam suatu siaran dakwahnya lewat TV Show di Ramadan 2015 ini, menyatakan, “Kehidupan terus berlari ke depan, tapi pemahaman kita mengenai Islam sudah ketinggalan zaman.” Lanjutnya lagi, Sebagai sebuah masyarakat, kita, para Muslim, tidak menghasilkan apa-apa. Kita tidak bekerja lagi. Kita tidak akan tahu bagaimana mereformasi Islam, kecuali kita melihat dan memahami di mana kehidupan kini berada. Bagaimana anda bisa bertanya apa yang dapat ditawarkan Islam kepada kehidupan di masa kini, sementara anda tidak tahu di mana kehidupan sekarang berada.” 

Anda perlu tahu, oleh majalah The New York Magazine, edisi 30 April 2006, Khaled dijuluki “televangelis Muslim paling berpengaruh dan tersohor di dunia.”

Tajdeed! Tajdeed! Tajdeed! 

Tanpa pembaruan dan perumusan ulang di zaman dan tempat yang sudah berbeda, semua agama hanya akan menjadi museum-museum penyimpan fosil-fosil doktrin purba. Tidak akan menjawab dan fungsional lagi di dunia modern. Akhirnya pasti punah. Ini hukum alam.
 

Sumber
Aya Batrawi, “Muslim Scholars Use Ramadan to Push for an Islamic Renewal”, Associated Press, 16 July 2015, pada http://www.apnewsarchive.com/2015/During-Ramadan-call-for-Islamic-awakening-resonates-with-Muslim-scholars-pushing-for-reform/id-b222c911cbf64b2da544b521c3879da2.