Thursday, November 1, 2012

Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow,
The Grand Design (2010)




Di bawah ini sebuah ringkasan buku Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010). Diringkas oleh Ioanes Rakhmat. Jika ada masukan untuk merevisi bagian-bagian tertentu dalam ringkasan ini, akan pasti saya pertimbangkan. 

Buku ini telah dibedah (saya sebagai seorang pembedahnya) dalam acara diskusi buku yang diadakan oleh Freedom Institute, Jalan Proklamasi No 41, Jakarta Pusat, pk. 19.00-22.00 WIB, 17 Desember 2010. Jadi, sudah dua tahun lalu. Ringkasan bukunya baru saya pasang di tahun 2012. 




Buku ini terdiri atas delapan bab; ringkasan setiap babnya diberikan di bawah ini (dengan setiap judul bab dipertahankan dalam bahasa Inggris). Silakan di-copy-paste untuk keperluan pribadi. Terjemahan Indonesia buku ini (penerjemahnya saya tak kenal) terbit di awal Januari 2011, dengan penerbitnya PT Gramedia Pustaka Utama. Salam.

 

Benda-benda bermassa mencerukkan ruang-waktu, alhasil gaya gravitasi tercipta (menurut teori Einstein)


(1) The Mystery of Being

Menyangkut pertanyaan-pertanyaan mengenai jagat raya, menurut SH&LM, “filsafat sudah mati”, karena apa yang dipikirkan para filsuf tidak sejalan dengan perkembangan-perkembangan mutakhir dalam sains modern, khususnya fisika.


Pendekatan yang dipakai SH&LM adalah realisme-yang-bergantung-pada-model (
model-dependent realism). Pendekatan ini didasarkan pada gagasan bahwa otak kita menafsirkan input data yang berasal dari organ indrawi kita dengan membuat suatu model tentang dunia. Jika dua teori atau model fisika memprediksi dengan akurat peristiwa-peristiwa yang sama, teori atau model yang satu tidak dapat dikatakan lebih real dari yang lainnya; melainkan kita bebas menggunakan model mana yang paling cocok.


Syarat sebuah model yang baik (dipindahkan dari bab 3)

Sebuah model dinilai baik jika model ini: (a) sederhana dan cerdas (elegan); (b) berisi sedikit unsur yang acak dan dapat disesuaikan; (c) sejalan dengan dan menjelaskan semua observasi yang ada; (d) membuat prediksi yang rinci mengenai observasi-observasi pada masa yang akan datang yang dapat menolak atau menyalahkan model ini jika observasi-observasi ini tidak didapatkan.

 
M-theory (suatu jaringan berbagai teori)


Bagi SH&LM, “M-theory” adalah teori atau model yang menjadi puncak dan merangkumi semua teori fisika yang pernah ada (dari Plato ke teori klasik Newton ke teori-teori quantum modern), teori atau model pamungkas untuk menjelaskan seluruh jagat raya, teori atau model untuk segala sesuatu (“the ultimate theory of everything”), yang mencakup semua gaya yang ada dalam jagat raya (gaya gravitasi, gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, dan gaya nuklir lemah) dan memprediksi setiap observasi yang dapat kita buat. M-theory menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai jagat raya. Menurut teori ini, jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan ada banyak jagat raya yang diciptakan dari ketiadaan. Penciptaan banyak jagat raya tidak memerlukan intervensi suatu makhluk supernatural atau allah; melainkan muncul dengan sendirinya dari hukum fisika, terprediksikan oleh sains.


Tiga pertanyaan


Dalam buku GD, kedua penulisnya berusaha menjawab 3 pertanyaan “mengapa” (bukan hanya “bagaimana”): Mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada apapun? Mengapa kita ada? Mengapa seperangkat hukum yang khusus dan bukan hukum yang lainnya?



(2)
The Rule of Law

Dalam bab ini SH&LM menelusuri kemunculan dan perkembangan kesadaran saintifik manusia dalam “periode klasik” (mulai kira-kira tahun 500 SM) yang menyingkirkan pemikiran mitologis atau teologis atas jagat raya: Thales dari Miletus (ca. 624 SM-ca. 546 SM) dari Ionia, sebagai orang pertama yang mengajukan suatu konsep bahwa jagat raya ini diatur bukan oleh para dewa, tetapi oleh hukum-hukum alam yang dapat dipahami dan dijelaskan melalui observasi dan nalar; Pythagoras (ca. 580 SM-ca. 490 SM); Archimedes (ca. 287 SM-ca. 212 SM); Anaximander (ca. 610 SM-ca. 546 SM), Empedocles (ca. 490 SM-ca. 430 SM); Demokritus (ca. 460 SM-ca. 370 SM) yang memperkenalkan konsep atom (kata Yunani, yang artinya “tak dapat dipotong”); Aristarkhus (ca. 310 SM-ca. 230 SM) sebagai orang pertama yang berpendapat bahwa Bumi bukanlah pusat sistem planetari kita, tetapi Bumi dan planet-planet lain mengorbit Matahari yang jauh lebih besar.


Tetapi pemikiran Yunani yang sudah dimulai sekitar tahun 500 SM ini hanya berpengaruh selama beberapa abad saja karena berbagai alasan. Pertama, teori-teori yang dikembangkan para pemikir Ionian tampak tidak memberi tempat pada kemauan bebas atau tujuan atau pada konsep tentang dewa-dewa yang mencampuri kerja jagat raya. Kedua, mereka belum menemukan metode saintifik; teori-teori mereka tidak dikembangkan dengan pendasaran pada verifikasi eksperimental. Ketiga, pada masa itu belum dibuat pembedaan antara aturan-aturan manusia dan hukum-hukum alam. Keempat, kalkulasi matematis dan pengukuran yang akurat sulit dilaksanakan pada zaman kuno.


Tampillah sejumlah pemikir yang menolak pemikiran-pemikiran Ionian. Beberapa di antaranya dapat disebutkan. Epikurus (341 SM-270 SM) menolak atomisme yang diperkenalkan Demokritus. Aristoteles juga menolak konsep tentang atom karena dia tidak bisa menerima kalau manusia terdiri atas objek-objek yang tak bernyawa atau tak berjiwa. Pemikiran heliosentrisme Aristarkhus ditolak selama berabad-abad, dan baru muncul kembali dan diterima secara umum ketika Galileo Galilee (1564-1642) menghidupkannya kembali hampir dua puluh abad sesudahnya. Pada abad ketigabelas, filsuf Kristen Thomas Aquinas (ca. 1225-1274) memasukkan kembali allah yang sudah dikeluarkan para pemikir Ionian, ketika dia menyatakan, “Sudahlah jelas bahwa benda-benda tak bernyawa mencapai tujuan mereka bukan secara kebetulan, melainkan karena suatu maksud…. Karena itu, pastilah ada suatu hakikat personal yang cerdas yang olehnya segala sesuatu dalam alam ditata menuju tujuannya.” 

Bahkan astronom besar Jerman, Johannes Kepler (1571-1630), percaya bahwa planet-planet memiliki persepsi indrawi dan dengan sadar mengikuti hukum-hukum gerak yang ditangkap oleh ‘pikiran’ mereka. Pada tahun 1277, Uskup Tempier dari Paris, yang bertindak atas perintah Paus Yohanes XXI, menerbitkan sebuah daftar 219 kekeliruan atau bidah yang harus dikutuk, di antaranya adalah gagasan bahwa alam mengikuti hukum-hukum tertentu, karena gagasan ini dinilai berkonflik dengan kemahakuasaan Allah.

Konsep modern


Konsep modern tentang hukum-hukum alam muncul di abad ketujuhbelas. Tampaknya Johannes Kepler adalah seorang saintis pertama yang memahami terminologi "hukum-hukum alam" dalam pengertian sains modern, meskipun dia mempertahankan suatu pandangan animistik mengenai objek-objek fisik. Galileo menyingkapkan banyak hukum alam, dan mempertahankan sebuah konsep penting bahwa observasi adalah dasar sains dan bahwa tujuan sains adalah menyelidiki hubungan-hubungan kwantitatif yang ada antara fenomena fisika.


Tetapi orang pertama yang dengan eksplisit dan dengan kuat merumuskan konsep tentang hukum-hukum alam sebagaimana kita memahaminya adalah René Descartes (1596-1650). Descartes percaya bahwa semua fenomena fisikal harus dijelaskan dari sudut tabrakan antara massa-massa yang bergerak, yang diatur oleh tiga hukum (pendahulu hukum-hukum gerak Newton yang terkenal). Dia menegaskan bahwa hukum-hukum alam berlaku di semua tempat dan di segala waktu, dan menyatakan dengan eksplisit bahwa ketaatan pada hukum-hukum ini tidak berarti bahwa benda-benda yang bergerak memiliki pikiran. 

Menurut Descartes, Allah dapat dengan kemauannya sendiri mengubah kebenaran atau kesalahan proposisi-proposisi moral atau teorem-teorem matematis, tetapi tidak dapat mengubah alam. Dia percaya bahwa Allah menjadikan hukum-hukum alam tetapi tidak memiliki pilihan dalam hukum-hukum ini; Allah menetapkan hukum-hukum ini karena hukum-hukum ini, sebagaimana kita alami, adalah satu-satunya hukum-hukum yang mungkin. Baginya, tidak peduli bagaimana materi diatur pada permulaan jagat raya, lambat laun suatu dunia yang identik dengan dunia kita akan berevolusi. Menurutnya, sekali Allah membuat jagat raya ini jalan, Allah selanjutnya meninggalkan jagat raya ini sendirian sama sekali.

Isaac Newton (1643-1727) mengambil posisi yang serupa, dengan beberapa kekecualian. Konsep-konsep Newton mengenai suatu hukum saintifik dengan tiga hukum geraknya, dan hukum gravitasinya yang dengannya orang dapat menjelaskan orbit-orbit Bumi, bulan dan planet-planet, dan juga fenomena seperti pasang surut air laut, adalah konsep-konsep yang diterima secara luas sebagai konsep-konsep saintifik modern. 

Dalam dunia sehari-hari, di mana kecepatan-kecepatan gerak benda-benda yang kita temui berada jauh di bawah kecepatan cahaya, hukum-hukum Newton merupakan hukum-hukum sebab berlaku pada kondisi ini; tetapi hukum-hukum Newton harus dimodifikasi jika objek-objek bergerak dengan kecepatan-kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Meskipun Newton mengajukan konsep-konsep saintifik modern, dia percaya juga bahwa Allah dapat dan telah mencampuri kerja jagat raya.

Tiga pertanyaan


Jika alam diatur oleh hukum-hukum, muncul tiga pertanyaan: (1) Dari mana asal-usul hukum-hukum ini? (2) Apakah ada kekecualian-kekecualian apapun terhadap hukum-hukum ini, yakni mukjizat-mukijzat? (3) Apakah hanya ada satu perangkat hukum-hukum yang mungkin?


Jawaban tradisional yang diberikan kepada pertanyaan pertama (yakni jawaban Kepler, Galileo, Descartes, dan Newton) adalah bahwa hukum-hukum alam diciptakan oleh Allah; namun jawaban ini sebenarnya tidaklah lebih dari sebuah definisi tentang Allah sebagai suatu penubuhan atau pengejawantahan hukum-hukum alam. Bagi SH&LM, memakai Allah sebagai suatu jawaban terhadap pertanyaan pertama hanyalah mengganti satu misteri dengan satu misteri lainnya: Maka, timbul pertanyaan pengganti: Dari mana Allah berasal? Siapa yang menciptakan Allah?


Determinisme saintifik


Terhadap pertanyaan kedua, SH&LM menjawab berdasarkan determinisme saintifik.


Laplace (nama lengkapnya Pierre-Simon, marquis de Laplace, 1749-1827) adalah orang pertama yang dengan jelas mempostulatkan determinisme saintifik: jika keadaan jagat raya pada satu waktu diterima, maka seperangkat lengkap hukum-hukum akan dengan sepenuhnya menentukan baik masa depannya maupun masa lampaunya. Karena masa lampau dan masa depan segala sesuatu ditentukan oleh hukum-hukum alam, maka tidak terbuka kemungkinan bagi adanya mukjizat-mukjizat atau adanya suatu peran aktif Allah. Determinisme saintifik adalah jawaban saintifik bagi pertanyaan kedua, dan sesungguhnya merupakan dasar bagi semua sains modern, sebuah prinsip yang diklaim SH&LM sebagai prinsip penting bagi seluruh buku GD. Tulis mereka, “sebuah hukum saintifik bukanlah sebuah hukum saintifik jika hukum ini hanya berlaku kalau suatu hakikat supernatural memutuskan untuk tidak mencampurinya.”


Adakah kehendak bebas?


Apakah determinisme saintifik juga berlaku bagi manusia, sehingga tidak ada kehendak bebas pada manusia (dan semua makhluk hidup lainnya)? Pemahaman kita atas basis molekuler dari biologi memperlihatkan bahwa proses-proses biologis diatur oleh ilmu fisika dan ilmu kimia dan karena itu tunduk pada determinisme saintifik, seperti juga halnya dengan orbit planet-planet. Eksperimen-eksperimen mutakhir dalam neurosains mendukung pandangan bahwa otak fisikal kitalah, yang bekerja dengan mengikuti hukum-hukum sains, menentukan tindakan-tindakan kita, bukan suatu agensi yang berada di luar hukum-hukum itu. Jadi, sukar untuk membayangkan bagaimana kehendak bebas akan dapat beroperasi jika perilaku kita ditentukan oleh hukum-hukum fisika, sehingga tampaklah bahwa kita ini tidak lebih daripada mesin-mesin biologis dan bahwa kehendak bebas hanyalah sebuah ilusi.


Teori efektif


Tetapi karena tubuh manusia terdiri atas ribuan trilyun trilyun molekul yang harus diperhitungkan, dan ada banyak variabel yang ikut bekerja, maka dalam prakteknya sangat sulit bahkan mustahil memprediksi hasil atau akibat yang ditimbulkan oleh kerja hukum-hukum alam di dalam diri manusia, yang menentukan perilaku manusia. Karena sangat tidak praktis menggunakan hukum-hukum fisika sebagai suatu landasan untuk menentukan atau memprediksi perilaku manusia, maka dipakai apa yang dinamakan teori efektif (
effective theory). 

Dalam fisika, suatu teori efektif adalah sebuah kerangka atau sebuah perancah yang diciptakan sebagai model bagi fenomena yang diobservasi tanpa menggambarkan dengan rinci semua proses yang mendasarinya. Misalnya, kita tidak dapat memperinci dengan persis persamaan-persamaan yang mengatur interaksi gravitasi dari setiap atom dalam tubuh seseorang dengan setiap atom dalam Bumi. Tetapi untuk kepentingan praktis, gaya gravitasi di antara seseorang dan Bumi dapat digambarkan hanya dalam beberapa bilangan saja, seperti total massa seseorang. Demikian juga, kita tidak dapat memperinci persamaan-persamaan yang mengatur perilaku atom-atom yang rumit dan molekul-molekul, tetapi kita telah mengembangkan sebuah teori efektif yang dinamakan ilmu kimia yang menyediakan sebuah penjelasan yang memadai tentang bagaimana atom-atom dan molekul-molekul berperilaku di dalam reaksi-reaksi kimiawi tanpa memperhitungkan setiap rincian interaksi ini. Dalam hal manusia, karena kita tidak dapat memperinci persamaan-persamaan yang menentukan perilaku kita, kita menggunakan teori efektif bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Kajian atas kehendak kita, dan atas perilaku kita yang muncul dari kehendak kita, adalah ilmu psikologi.

Terhadap pertanyaan ketiga di atas, SH&LM merujuk ke Plato dan Aristoteles yang, seperti Descartes dan kemudian Einstein, percaya bahwa hukum-hukum alam ada karena “keharusan”, maksudnya, hukum-hukum ini ada karena hukum-hukum inilah satu-satunya hukum-hukum yang secara logis bermakna. Galileo mengamati, hukum-hukum alam inilah satu-satunya hukum-hukum alam yang alam jalankan pada dirinya sendiri, bukan harus ada karena alasan-alasan logis saja.



(3)
What Is Reality?

Persepsi kita atas realitas jagat raya tidak pernah lepas dari keterlibatan diri kita melalui observasi di dalam proses pembentukan persepsi itu. Kita membentuk sebuah model tertentu atas realitas yang sejalan dengan dan menjelaskan persepsi kita atas realitas itu. Inilah yang disebut
model-dependent realism: gagasan bahwa suatu teori fisika atau gambaran tentang dunia adalah sebuah model (umumnya bersifat matematis) dan seperangkat aturan yang menghubungkan unsur-unsur model dengan observasi-observasi. Bukan hanya di dalam sains kita membentuk model-model, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. 

Realisme-yang-bergantung-pada-model berlaku bukan hanya pada model-model saintifik, tetapi juga pada model-model mental yang sadar dan yang tak sadar, yang kita ciptakan untuk menafsirkan dan memahami dunia sehari-hari. Tidak ada kemungkinan untuk menyingkirkan orang yang mengobservasi (yaitu kita) dari persepsi kita tentang dunia ini, yang diciptakan melalui proses pengindraan kita dan melalui cara kita berpikir dan bernalar. Persepsi kita, dan karenanya observasi-observasi yang padanya kita mendasarkan teori-teori kita, tidaklah langsung, melainkan dibentuk oleh semacam lensa, yakni struktur interpretif yang dibentuk oleh otak kita. Beberapa contoh model fisika dapat dikemukakan.

Geosentrisme Ptolemeus (ca. 85-ca. 165), yang diikuti antara lain oleh Aristoteles (yang karena alasan mistikal percaya bahwa Bumi harus menjadi pusat jagat raya), dan yang diadopsi oleh Gereja Katolik dan dipegang sebagai sebuah doktrin resmi selama empat belas abad, adalah sebuah model kosmologis. Model ini kemudian berhadapan dengan model heliosentrisme yang pada tahun 1543 diajukan oleh Kopernikus dalam bukunya
De revolutionibus orbium coelestium (On the Revolutions of the Celestial Spheres). Menurut SH&LM, orang dapat menggunakan kedua gambaran kosmologis ini sebagai sebuah model jagat raya, sebab observasi-observasi kita atas angkasa luar dapat diterangkan dengan mengasumsikan entah Bumi atau Matahari sebagai benda langit yang diam, yang diedari benda-benda langit lainnya.

Sebuah model lama (yang kemudian digantikan oleh sebuah model lain yang lebih cocok dengan observasi) adalah model yang memandang jagat raya ini statis, tidak berubah ukurannya, sebagaimana dipertahankan kebanyakan saintis pada tahun 1920-an. Tetapi, di tahun 1929, Edwin Hubble menerbitkan observasi-observasinya yang menunjukkan jagat raya ini mengembang,
expanding. Tentu saja Hubble tidak langsung mengamati kalau jagat raya ini mengembang. Dia mengobservasi cahaya yang dipancarkan galaksi-galaksi. Cahaya ini membawa suatu tanda tangan yang khas, yakni spektrum cahaya, yang terbentuk berdasarkan komposisi masing-masing galaksi, yang berubah dengan suatu jumlah yang dikenal jika galaksi ini bergerak terkait dengan diri kita sebagai pengamat. Karena itu, dengan menganalisis spektra galaksi-galaksi yang jauh, Hubble dapat menentukan kecepatan-kecepatan mereka. Dia berharap untuk menemukan galaksi-galaksi yang menjauh dari kita sama banyaknya dengan galaksi-galaksi yang mendekati kita. Tetapi yang ditemukan Hubble tidak demikian, melainkan bahwa hampir semua galaksi bergerak menjauh dari kita, dan semakin jauh mereka, semakin cepat gerakan mereka. Hubble menyimpulkan bahwa jagat raya mengembang.


 
(4)
Alternative Histories

Teori-teori saintifik klasik seperti teori-teori Newton dibangun di atas suatu perancah atau kerangka yang merefleksikan pengalaman sehari-hari, yang di dalamnya objek-objek material memiliki suatu eksistensi individual, dapat ditempatkan di lokasi-lokasi yang pasti, bergerak mengikuti jalan-jalan yang pasti, dan seterusnya. Tetapi ketika kita telah mengembangkan teknologi kita dan memperluas ruang kisaran fenomena yang kita dapat observasi, sampai ke dunia atomik atau dunia sub-atomik, kita mulai menemukan bahwa alam ini bertindak dengan cara-cara yang makin kurang sejalan dengan pengalaman kita sehari-hari dan karenanya dengan intuisi kita.


Ternyata apa yang berlangsung dalam dunia atomik atau dunia sub-atomik, tidak bisa lagi dijelaskan oleh teori-teori fisika klasik Newton. Atom-atom dan molekul-molekul individual beroperasi dengan suatu cara yang sangat berbeda dari pengalaman kita sehari-hari. Ketika teori-teori fisika Newton tidak bisa lagi menjelaskan hal-hal yang diobservasi para saintis dalam dunia atomik/sub-atomik, prinsip-prinsip fisika quantum dikembangkan dalam beberapa dekade awal abad ke-20, dengan mengetengahkan skema konseptual yang sama sekali lain, skema yang di dalamnya posisi suatu objek, jalan yang ditempuhnya, dan bahkan masa lalu dan masa depannya, tidak dapat ditentukan dengan persis. Fisika quantum adalah sebuah model baru mengenai realitas yang memberi kita sebuah gambaran mengenai jagat raya dengan makin lengkap.


Ada beberapa fitur penting dari aspek-aspek fisika quantum yang digunakan SH&LM untuk mendasarkan argumen-argumen dalam buku mereka. Pertama, dualitas gelombang/partikel: partikel-partikel materi berperilaku seperti sebuah gelombang. Kedua, prinsip ketidakpastian yang dirumuskan Werner Heisenberg pada tahun 1926. Menurut prinsip ini, ada keterbatasan-keterbatasan pada kemampuan kita untuk serentak mengukur suatu data, seperti posisi dan kecepatan (velositas) suatu partikel. Menurut prinsip ketidakpastian ini, jika anda mengalikan ketidakpastian posisi suatu partikel dengan ketidakpastian momentumnya (= massa-nya dikali kecepatannya), hasilnya tidak pernah dapat lebih kecil dari suatu kuantitas yang sudah ditentukan dengan pasti, yang disebut konstan Planck. Intinya: Semakin persis anda mengukur kecepatan suatu partikel, semakin kurang persis anda dapat mengukur posisinya, demikian juga sebaliknya. Ketiga, prinsip yang menyatakan bahwa jika suatu sistem diamati, maka sistem ini akan harus mengubah jalannya. Menurut fisika quantum, anda tidak dapat “hanya” mengamati sesuatu, maksudnya bahwa jika anda membuat suatu pengamatan, anda harus berinteraksi dengan objek yang sedang anda amati.


Dalam bingkai prinsip ketidakpastian quantum, hasil-hasil dari suatu proses fisika tidak dapat diprediksi dengan pasti karena hasil-hasil ini tidak ditentukan dengan pasti, tak perduli berapa banyak informasi yang kita dapatkan atau berapa kuat kemampuan komputasi kita. Jika keadaan awal (“initial state” atau “initial condition”) suatu sistem diperhitungkan, maka alam menentukan masa depannya melalui suatu proses yang pada dasarnya tidak pasti. Dengan kata lain, alam tidak menentukan hasil dari suatu proses atau eksperimen apapun, bahkan di dalam situasi-situasi yang paling sederhana sekalipun. Melainkan, alam memungkinkan sejumlah hasil akhir yang berbeda, dengan masing-masing memiliki suatu kemungkinan tertentu untuk terwujud. Memakai parafrasis atas ungkapan Einstein, seolah Allah melempar dadu sebelum memutuskan hasil dari setiap proses fisika.


Suatu bentuk baru determinisme saintifik


Apa yang baru dikemukakan dalam alinea di atas tampak seolah merongrong gagasan bahwa alam diatur oleh hukum-hukum; tetapi sebenarnya tidak demikian. Melainkan hal ini membawa kita kepada suatu keadaan untuk menerima suatu bentuk baru determinisme saintifik. Jika keadaan awal suatu sistem pada suatu waktu diperhitungkan, maka hukum-hukum alam menentukan kemungkinan-kemungkinan (probabilities) masa depan dan masa lampau yang beranekaragam ketimbang menentukan satu masa depan dan satu masa lampau dengan pasti. Kemungkinan-kemungkinan di dalam teori-teori quantum berbeda jika dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan dalam fisika Newton atau dalam pengalaman sehari-hari, karena mencerminkan suatu keacakan fundamental di dalam alam. Model quantum mengenai realitas mencakup prinsip-prinsip yang berkontradiksi bukan hanya dengan pengalaman sehari-hari kita, tetapi juga dengan konsep intuitif kita mengenai realitas.


Sejarah-sejarah alternatif


Dalam teori quantum, khususnya dalam suatu pendekatan terhadap teori quantum yang dinamakan “sejarah-sejarah alternatif” (
alternative histories), jagat raya dipandang tidak memiliki hanya satu eksistensi atau hanya satu sejarah atau hanya satu masa lampau tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari jagat raya berada serentak dalam apa yang dinamakan suatu superposisi quantum (a quantum superposition). Fisika quantum menyatakan bahwa tak perduli berapa luas dan menyeluruh observasi kita atas atas masa kini (jagat raya), masa lampau (yang tak terobservasi), seperti juga masa depan, tidaklah pasti dan ada hanya sebagai suatu spektrum kemungkinan-kemungkinan.


(5)
The Theory of Everything

“Teori tentang segala sesuatu” yang disarankan para saintis merupakan suatu teori puncak yang sejalan dengan teori quantum, yang merangkumi empat gaya dalam jagat raya:


Pertama,
gaya gravitasi

Hukum gravitasi Newton, yang dipublikasi tahun 1687, menyatakan bahwa setiap objek dalam jagat raya menarik setiap objek lainnya dengan suatu kekuatan yang sebanding atau proporsional dengan massanya.


Tetapi, oleh Albert Einstein, yang melakukan penelitian dari 1905 sampai 1916, teori gravitasi Newton diganti dengan sebuah teori baru gravitasi yang disebut teori relativitas umum (
general relativity theory): “ruang-dan-waktu” (sebagai suatu dimensi keempat selain dimensi-dimensi “atas-bawah”, “depan-belakang” dan “kiri-kanan”) tidaklah datar, tetapi melengkung atau menceruk dan terdistorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Dalam teori gravitasi Einstein, objek-objek bergerak pada suatu geodesik, yakni jarak terpendek di antara dua titik pada suatu permukaan atau ruang yang melengkung. Teori relativitas umum adalah suatu model tentang jagat raya yang sangat berbeda, yang memprediksi efek-efek seperti gelombang-gelombang gravitasi dan lubang-lubang hitam; dengan demikian, teori ini mengubah fisika menjadi geometri.

[Sebelumnya, di dalam suatu makalah yang ditulis tahun 1905, yang berjudul “Zur Elektrodynamik bewegter Körper” (“Tentang Elektrodinamika Benda-benda Bergerak”), Einstein memperkenalkan suatu teori yang dinamakan teori relativitas khusus,
special relativity theory, yang menyatakan bahwa pengukuran waktu bergantung pada si pengamat yang melakukan pengukuran itu; dengan demikian, waktu tidak bisa mutlak, sebagaimana dipikirkan Newton sebelumnya, atau dengan kata lain, tidaklah mungkin untuk memberikan kepada setiap peristiwa waktu yang setiap pengamat akan setujui. Ruang dan waktu saling merangkul.]

Kedua,
gaya elektromagnetik

Gaya ini bekerja sebagai gaya gravitasi, dengan suatu perbedaan penting bahwa dua muatan listrik atau dua magnit dari jenis yang sama menolak satu sama lain, sedangkan dua muatan yang tak sejenis atau dua magnit yang tidak sejenis saling menarik. Gaya elektrik dan gaya magnetik jauh lebih kuat dari gaya gravitasi, tetapi kita biasanya tidak memperhatikan kedua gaya ini dalam kehidupan sehari-hari karena suatu tubuh makroskopik berisi muatan elektrik positif dan negatif yang jumlahnya hampir sama. Hal ini berarti bahwa gaya elektrik dan gaya magnetik di antara dua tubuh makroskopik hampir membatalkan satu sama lain, tidak seperti gaya-gaya gravitasi yang semuanya berkombinasi. (James Clerk Maxwell, seorang fisikawan Skotlandia, pada tahun 1860-an, berhasil memperlihatkan secara matematis bahwa gaya elektrik dan gaya magnetik adalah manifestasi-manifestasi dari satu entitas fisika yang sama, yakni medan elektromagnetik; dengan demikian, dia telah berhasil menyatukan elektrika dan magnetika ke dalam satu gaya, gaya elektromagnetik).


Ketiga,
gaya nuklir lemah

Gaya ini menyebabkan radioaktivitas dan memainkan suatu peran vital dalam formasi elemen-elemen bintang-bintang dan jagat raya pada tahap dininya. Kita tidak bersentuhan dengan gaya ini dalam kehidupan sehari-hari.


Keempat,
gaya nuklir kuat

Gaya ini menyatukan proton dan neutron di dalam nukleus sebuah atom. Gaya ini juga menyatukan proton dan neutron itu sendiri, yang perlu terjadi karena keduanya terbuat dari partikel-partikel yang lebih kecil, yakni
quark. Gaya nuklir kuat adalah sumber energi bagi matahari dan daya nuklir, tetapi kita tidak bersentuhan langsung dengannya.

SH&LM membuat beberapa catatan berkaitan dengan teori-teori di atas. Jika kita mau memahami perilaku atom-atom dan molekul-molekul, kita memerlukan suatu versi quantum atas teori elektromagnetisme Maxwell; dan jika kita ingin memahami jagat raya pada tahap dininya (
the early universe), ketika semua materi dan energi dalam jagat raya terhimpun padat dalam suatu volume yang kecil, kita harus memiliki sebuah versi quantum atas teori relativitas umum. Dalam fisika quantum, jagat raya dapat memiliki sejarah apapun yang mungkin, masing-masing dengan amplitudo intensitas dan probabilitasnya sendiri. Kita dengan demikian harus menemukan versi-versi quantum atas semua hukum alam; teori-teori semacam ini disebut teori-teori medan quantum (quantum field theories).

Quantum electrodynamics (QED)

Versi quantum atas medan elektromagnetik dinamakan
quantum electrodynamics (QED) atau elektrodinamika quantum, yang dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Richard Feynman dan para saintis lainnya, dan QED ini telah menjadi sebuah model bagi semua teori medan quantum. 

Kalau dalam teori-teori klasik gaya-gaya ditransmisikan oleh medan-medan (fields), dalam teori medan quantum medan-medan gaya digambarkan terbuat dari aneka ragam partikel elementer yang dinamakan boson, yakni partikel yang membawa gaya, yang terbang ke depan dan ke belakang di antara materi-materi partikel, sehingga gaya-gaya ditransmisikan. Partikel-partikel materi dinamakan fermion. Elektron dan quark adalah contoh-contoh fermion. Foton, atau partikel cahaya, adalah sebuah contoh boson. Gaya elektromagnetik ditransmisikan oleh boson. 

Dalam apa yang dinamakan Diagram Feynman, digambarkan cara-cara yang mungkin ditempuh elektron ketika satu sama lain menyebar melalui gaya elektromagnetik. Dalam diagram ini, garis-garis lurus tak putus menggambarkan elektron-elektron, sedangkan garis-garis berombak/keriting menggambarkan foton.




Di atas ini salah satu Diagram Feynman yang sangat termashyur. Richard Phillips Feynman (11 Mei 1918–15 Februari 1988) adalah salah seorang peletak dasar dan teoretikus agung fisika quantum, khususnya elektrodinamika quantum. Dia seorang saintis kebangsaan Amerika, dan juga seorang pemain drum, berjiwa eksentrik dan bebas ... I love his freedom and intelligence.... 

Gaya elektrolemah


Pada 1967, Abdus Salam dan Steven Weinberg tanpa bergantung satu sama lain mengusulkan sebuah teori yang mempersatukan elektromagnetisme dengan gaya nuklir lemah, dan gaya yang dipersatukan ini dinamakan gaya elektrolemah.


Quantum chromodynamics
(QCD)

Versi quantum atas gaya nuklir kuat disebut
quantum chromodynamics (QCD) atau kromodinamika quantum. Menurut QCD, proton, neutron, dan banyak partikel materi elementer lain terbuat dari quark, yang memiliki suatu sifat yang jelas yang para fisikawan sebut sebagai warna (karena itulah muncul nama chromodynamics), yang tak ada hubungannya dengan warna yang kasat mata. QCD memiliki kebebasan asymptotik (asymptotic freedom), maksudnya adalah bahwa gaya-gaya kuat yang terdapat di antara elemen-elemen quark volumenya kecil ketika elemen-elemen quark ini dekat satu sama lain, tetapi bertambah besar ketika quark berjauhan satu sama lain, seolah semua quark terhubung dengan pita-pita karet. Kebebasan asymptotik ini menjelaskan mengapa kita tidak melihat quark yang terisolasi dalam alam dan tidak dapat memproduksinya di dalam laboratorium.

Grand unified theory
(GUT)

Setelah menggabung gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik, para fisikawan di tahun 1970-an mencari suatu jalan untuk memasukkan daya nuklir kuat ke dalam suatu teori gabungan. Dalam hal ini, ada sejumlah teori yang dinamakan
grand unified theory atau GUT, teori besar penyatuan, yang mempersatukan gaya nuklir kuat dengan gaya nuklir lemah dan gaya elektromagnetik, yang bagian terbesarnya memprediksi bahwa proton haruslah membusuk/lenyap rata-rata setelah 10 pangkat 32 tahun. Ini adalah suatu usia yang sangat lama, mengingat jagat raya saja berusia hanya 10 pangkat 10 tahun.

Karena bukti-bukti yang diperoleh dari observasi-observasi sebelumnya gagal juga mendukung GUT, maka kebanyakan fisikawan mengadopsi suatu teori ad hoc yang dinamakan model standard, yang mencakupi teori gabungan gaya-gaya elektrolemah dan QCD sebagai sebuah teori gaya-gaya kuat. 

Tetapi di dalam model standard ini, gaya elektrolemah dan gaya nuklir kuat bertindak sendiri-sendiri dan belum sungguh-sungguh dipersatukan. Model standard sangat sukses dan sejalan dengan semua bukti yang didapat dari observasi sekarang ini, tetapi pada dasarnya tidak memuaskan karena, selain belum berhasil menyatukan gaya elektrolemah dan gaya nuklir kuat, juga belum mencakup gaya gravitasi. 

Terbukti sangat sulit memadukan gaya nuklir kuat dengan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah; tetapi masalah ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan masalah menyatukan gaya gravitasi dengan tiga gaya lainnya, atau dengan masalah yang lebih besar lagi dalam menciptakan suatu teori gravitasi quantum yang berdiri sendiri.

Fluktuasi quantum: tak ada ruang yang sama sekali kosong


Alasan mengapa suatu teori gravitasi quantum terbukti sulit untuk diciptakan berkait dengan prinsip ketidakpastian Heisenberg. Berkaitan dengan prinsip ini, nilai suatu medan dan besaran angka perubahannya memainkan peran yang sama seperti yang dimainkan posisi dan kecepatan suatu partikel. Semakin akurat hal yang satu ditentukan, dapat semakin kurang akurat untuk hal yang lainnya. Salah satu akibat penting dari hal ini adalah bahwa tidak ada ruang yang sama sekali kosong. 

Halnya demikian karena ruang kosong berarti bahwa baik nilai suatu medan maupun besaran angka perubahannya persis nol. Karena prinsip ketidakpastian tidak memungkinkan nilai-nilai medan dan besaran angka perubahan sama persis, ruang tidak pernah kosong. Setiap ruang dapat memiliki suatu energi minimum yang dinamakan vakum. Tetapi keadaan vakum ini bergantung pada apa yang dinamakan quantum jitter (fluktuasi quantum) atau vacuum fluctuation, yaitu suatu kondisi di mana partikel-partikel dan medan-medan gaya bervibrasi atau berfluktuasi di dalam dan keluar dari suatu eksistensi.

Fluktuasi vakum dapat dipikirkan sebagai pasangan-pasangan partikel yang muncul bersamaan pada suatu waktu, bergerak terpisah, lalu menyatu lagi dan saling melenyapkan. Partikel-partikel ini dinamakan partikel-partikel virtual. 

Tidak seperti partikel nyata, partikel virtual tidak dapat diobservasi langsung dengan sebuah detektor partikel. Namun, efek-efek tidak langsung dari partikel virtual, seperti perubahan kecil di dalam energi orbit elektron, dapat diukur, dan sejalan dengan prediksi-prediksi teoretis dengan tingkat akurasi yang luar biasa. Masalahnya adalah bahwa partikel-partikel virtual memiliki energi, dan karena pasangan partikel-partikel virtual ini ada dalam suatu jumlah tak terbatas, partikel-partikel ini memiliki suatu jumlah energi tanpa batas. Menurut teori relativitas umum, ini berarti bahwa partikel-partikel virtual dapat melengkungkan jagat raya sampai ke suatu ukuran kecil tak terbatas.

Supergravitasi dan supersimetri


Pada tahun 1976, para fisikawan mengusulkan apa yang dinamakan supergravitasi. Prefiks “super” ditambahkan bukan karena dianggap teori gravitasi quantum ini dapat betul-betul bekerja, melainkan mengacu pada sejenis simetri yang dimiliki teori ini, yang dinamakan supersimetri. Dalam fisika, suatu sistem dikatakan memiliki suatu suatu simetri jika sifat-sifatnya (properties) tidak terpengaruh oleh suatu transformasi tertentu seperti merotasikannya di dalam ruang atau mengambil gambar cerminnya.  


Supersimetri adalah sejenis simetri yang lebih halus yang tidak dapat dihubungkan dengan suatu tranformasi ruang biasa. Salah satu implikasi penting dari supersimetri adalah bahwa partikel-partikel gaya dan partikel-partikel materi, dan dengan demikian gaya dan materi, sesungguhnya adalah dua sisi dari satu hal yang sama. Kongkretnya, ini berarti bahwa setiap partikel materi, misalnya sebuah quark, harus memiliki suatu partikel mitra berupa suatu partikel gaya, dan setiap partikel gaya, seperti foton, harus memiliki suatu partikel mitra berupa sebuah partikel materi. 

Dalam kenyataannya, partikel-partikel mitra ini belum berhasil diamati. Namun berbagai kalkulasi yang telah dibuat para fisikawan mengindikasikan bahwa partikel-partikel mitra yang bersanding dengan partikel-partikel yang kita amati haruslah seribu kali lebih massif dari massa proton, jika malah bukan lebih berat lagi. Ini terlalu berat bagi partikel-partikel semacam ini untuk dapat dilihat di dalam eksperimen apapun yang telah dilakukan, tetapi diharapkan partikel-partikel semacam ini akan akhirnya dapat diciptakan di dalam Large Hadron Collider di Jenewa. Kebanyakan saintis percaya bahwa supergravitasi mungkin sekali adalah jawaban yang benar terhadap masalah menyatukan gaya gravitasi dengan gaya-gaya lainnya.

Teori dawai (string theory)


Konsep supersimetri sebetulnya bermula beberapa tahun sebelumnya ketika para teoretikus mempelajari suatu teori yang belum matang, yang dinamakan teori dawai, string theory. Menurut teori ini, partikel-partikel bukanlah berbentuk butiran-butiran (
points), melainkan pola-pola (patterns) vibrasi yang memiliki panjang tetapi tidak mempunyai tinggi atau lebar, seperti helai-helai dawai yang ketipisannya tak terbatas. Banyak versi teori dawai; tetapi semuanya konsisten hanya jika ruang-waktu memiliki sepuluh dimensi, ketimbang biasanya hanya empat. Sepuluh dimensi kedengarannya sangat menantang, tetapi hanya betul-betul menjadi masalah kalau anda lupa di mana anda memarkir kendaraan anda. 


Jika memang ada sepuluh dimensi, kenapa kita tidak melihat dimensi-dimensi lainnya? Menurut teori dawai, dimensi-dimensi lainnya ini melengkung atau melipat masuk ke angkasa luar, atau ke ruang internal (internal space), dalam ukuran yang sangat kecil. 

Suatu masalah lagi dalam teori-teori dawai adalah bahwa tampaknya ada sedikitnya lima teori dan jutaan cara dimensi-dimensi lainnya ini melengkung masuk ke dalam ruang internal, sehingga menyulitkan para teoretikusnya yang mau mempertahankan bahwa teori dawai adalah teori unik tentang segala sesuatunya. Kini para fisikawan yakin bahwa teori-teori dawai yang ada lima versi dan teori supergravitasi hanyalah pendekatan-pendekatan yang berbeda dari suatu teori yang lebih mendasar, yang masing-masing valid di dalam situasi-situasi yang berbeda.

M-theory, dan 10 pangkat 500 (10500) jagat raya yang berbeda


Teori yang lebih mendasar itu dinamakan M-theory, dengan “M” dapat merupakan singkatan dari “master”, “miracle” atau “mystery”. M-theory bukanlah sebuah formulasi teori tunggal, melainkan sebuah jaringan (
network) yang merangkai teori-teori lainnya. Pengharapan tradisional para saintis untuk menemukan sebuah teori tunggal mengenai jagat raya tak dapat dipertahankan lagi, sebab ternyata tidak ada satu formulasi tunggal teori tentang segala sesuatu. Bisa jadi, untuk menggambarkan jagat raya kita harus menggunakan teori-teori yang berbeda di dalam situasi-situasi yang berbeda. Setiap teori dapat memiliki versinya sendiri mengenai realitas; dan menurut realisme yang bergantung pada model, setiap teori tentang jagat raya dapat diterima sejauh teori-teori ini sejalan dengan prediksi-prediksi teori-teori ini ketika semuanya bertumpangtindih.

M-theory memiliki beberapa sifat yang kita sudah ketahui. Pertama, teori ini memiliki sebelas dimensi ruang-waktu, bukan sepuluh seperti dipertahankan dalam teori-teori dawai. Kedua, teori ini dapat memuat bukan hanya dawai-dawai yang bervibrasi, tetapi juga partikel-partikel butiran, membran dua dimensi, tutul tiga dimensi, dan objek-objek lain yang lebih sulit digambarkan, dan menguasai bahkan lebih banyak dimensi ruang, sampai sembilan. Objek-objek ini dinamakan
p-brane (p-dimensi ruang-waktu) (dengan p berkisar dari nol sampai sembilan).

Dalam M-theory, dimensi-dimensi ruang-waktu lainnya itu (di luar dimensi-dimensi panjang, lebar dan tinggi) tidak dapat dilengkungkan dengan segala cara apapun. Matematika teori ini membatasi cara melengkungkan dimensi-dimensi ruang internal. Bentuk persis ruang internal menentukan baik nilai-nilai konstan fisika, seperti muatan elektron, maupun sifat interaksi di antara partikel-partikel elementer.


Hukum-hukum di dalam M-theory memungkinkan adanya jagat-jagat raya yang berbeda, dengan hukum-hukum yang berbeda, yang dapat kita observasi, bergantung pada bagaimana ruang internal dilengkungkan. M-theory memiliki solusi-solusi yang memungkinkan adanya banyak ruang internal yang berbeda, mungkin sebanyak 10 pangkat 500, yang berarti teori ini membuka kemungkinan bagi adanya 10
500 jagat raya yang berbeda, dengan masing-masing memiliki hukum-hukumnya sendiri.


(6)
Choosing Our Universe

Dalam bab 6 ini, SH&LM memberi jawab atas pertanyaan mengapa ada sebuah jagat raya, dan mengapa jagat raya ini berjalan sebagaimana sekarang ada.


Uskup Ussher, uskup agung seluruh Irlandia yang menjabat dari 1625 sampai 1656, dengan memakai Alkitab sebagai landasannya, telah menghitung usia jagat raya dan menempatkan asal mula jagat raya sepersisnya pada 27 Oktober 4004 SM. Sedangkan menurut sains modern, jagat raya sendiri muncul sangat jauh lebih awal, kira-kira 13,7 miliar tahun yang lalu, dan manusia adalah ciptaan yang belum lama ini ada.


The big bang, “dentuman besar”


Bukti saintifik pertama yang sebenarnya bahwa jagat raya ini memiliki suatu permulaan muncul tahun 1920-an, ketika Edwin Hubble melakukan observasi-observasi atas jagat raya dengan memakai teleskop 100 inchi di Gunung Wilson, di kawasan bebukitan di atas Pasadena, California. Seperti sudah dikemukakan di atas, dengan menganalisis spektrum cahaya yang dipancarkan galaksi-galaksi, Hubble dapat menetapkan bahwa hampir semua galaksi bergerak menjauh dari kita, dan semakin jauh galaksi-galaksi ini berada semakin cepat gerakan mereka. Pada 1929 dia mempublikasi suatu hukum yang berhubungan dengan besaran angka gerak menjauh galaksi-galaksi itu dari kita, dan menyimpulkan bahwa jagat raya mengembang,
expanding. Bukan alam semestanya sendiri yang mengembang, melainkan jarak di antara dua titik di dalam jagat raya yang makin bertambah besar. Seorang astronom Universitas Cambridge, Arthur Eddington, di tahun 1931, membuat sebuah metafora untuk menggambarkan jagat raya yang mengembang. Jagat raya divisualisasi oleh Eddington sebagai suatu permukaan sebuah balon yang terus mengembang, dan semua galaksi sebagai titik-titik pada permukaan balon itu. Metafora ini dengan jelas menggambarkan mengapa galaksi-galaksi yang jauh bergerak tambah jauh dengan lebih cepat ketimbang galaksi-galaksi yang dekat.

Penemuan Hubble bahwa jagat raya mengembang membawa kita pada suatu pemahaman bahwa di masa yang sangat lampau jagat raya pastilah lebih kecil ukurannya. Sesungguhnya jika kita bertolak ke masa lampau, maka pada masa itu semua energi dan materi di dalam jagat raya terkonsentrasi di dalam suatu kawasan yang sangat kecil, yang densitas (kepekatan) dan temperaturnya tak terbayangkan besarnya, dan jika kita bertolak cukup jauh ke masa lampau maka ada suatu waktu ketika semuanya berawal, yakni peristiwa yang kini kita namakan
the big bang, “dentuman besar”. Alexander Friedmann, seorang fisikawan dan matematikawan Russia, di tahun 1922, dengan berdasar pada persamaan matematis Einstein, mengajukan sebuah model jagat raya yang berawal dengan ukuran nol lalu mengembang sampai gaya gravitasi memperlambatnya, dan akhirnya membuatnya surut menimpa dirinya sendiri. Pada tahun 1927, seorang professor fisika dan imam Katolik Roma, Georges Lemaître, mengajukan sebuah gagasan yang serupa: jika anda menelusuri sejarah jagat raya ke belakang, ke masa lampaunya, jagat raya ini makin kecil dan makin kecil sampai anda tiba pada suatu peristiwa penciptaan, apa yang sekarang kita namakan the big bang. Istilah “big bang” sendiri diciptakan oleh astrofisikawan Cambridge yang bernama Fred Hoyle pada tahun 1949, sebagai suatu istilah atau deskripsi ejekan. Hoyle sendiri percaya pada suatu jagat raya yang selamanya mengembang.

Fase pertama mengembangnya jagat raya dinamakan oleh para fisikawan sebagai
inflasi. Pada saat inflasi kosmologis ini, jagat raya mengembang dengan suatu faktor yang sangat besar, setara dengan sebuah koin berdiameter 1 cm yang tiba-tiba meledak sampai mencapai sepuluh juta kali lebar galaksi Bima Sakti. Hal ini tampaknya melanggar hukum relativitas (khusus) yang menyatakan bahwa tidak ada sesuatupun yang dapat bergerak lebih cepat dari cahaya; tetapi batas kecepatan itu tidak berlaku bagi pengembangan ruang jagat raya sendiri. Pengembangan atau ekspansi jagat raya yang disebabkan oleh inflasi tidaklah seluruhnya seragam.



Halaman 138-139


Bukti-bukti natural lainnya yang membenarkan adanya “dentuman besar” pada awal mula terbentuknya jagat raya adalah adanya radiasi gelombang mikro kosmik yang melatarbelakangi dan memenuhi seluruh jagat raya (CMBR= Cosmic Microwave Background Radiation). 

Selain itu, para astronom juga telah menemukan sidik-sidik jari lainnya yang mendukung gambaran tentang the big bang sebagai suatu jagat raya awal yang kecil dan panas. Sebagai contoh, selama menit-menit pertama, jagat raya lebih panas ketimbang pusat suatu bintang yang tipikal. Selama periode ini seluruh jagat raya bertindak selaku suatu reaktor fusi nuklir. Reaksi nuklirnya berhenti ketika jagat raya mengembang dan cukup mendingin. Menurut teori, ketika ini terjadi jagat raya yang dihasilkan adalah jagat raya yang terdiri terutama atas hidrogen, tetapi juga 23 persen helium, dengan jejak-jejak lithium (semuanya adalah elemen-elemen yang lebih berat yang tercipta belakangan, di dalam bintang-bintang). Kalkulasi ini ternyata sejalan dengan jumlah helium, hidrogen, dan lithium yang diobservasi manusia.

Teori relativitas umum Einstein, teori quantum, dan the big bang


Teori relativitas umum Einstein memprediksi bahwa ada suatu titik dalam waktu di mana temperatur, densitas, dan peringkat lengkungan/kurvatura jagat raya semuanya tak terbatas (
infinite), suatu situasi yang oleh para matematikawan dinamakan suatu singularitas. Bagi seorang fisikawan, ini berarti bahwa teori Einstein gagal pada titik ini dan karenanya tidak dapat digunakan untuk memprediksi bagaimana jagat raya dimulai, tetapi dapat digunakan hanya sejauh berkaitan dengan ihwal bagaimana jagat raya berevolusi sesudahnya. Selain itu, teori relativitas umum tidak memperhitungkan struktur skala kecil dari materi, yang diatur oleh teori quantum. Fisika quantum bisa diterapkan pada jagat raya pada saat terjadinya the big bang karena jika kita mundur cukup jauh ke waktu masa lampau, jagat raya sangat kecil, sekecil ukuran Planck, yakni sepermilyar trilyun-trilyun centimeter, yang merupakan ukuran yang dapat diperhitungkan oleh teori quantum. 

Dengan demikian, meskipun kita masih belum memiliki suatu teori quantum yang lengkap, kita sungguh tahu bahwa asal usul jagat raya adalah suatu peristiwa quantum. Karena itu, teori relativitas umum harus diganti oleh suatu teori yang lebih lengkap yang bisa menjelaskan “initial state”, keadaan awal, yang melahirkan the big bang. Dalam hal ini, SH&LM melihat bahwa jika kita mau mundur dengan lebih jauh ke dalam waktu masa lampau dan mau memahami asal usul jagat raya, kita harus mengombinasikan teori relatitivitas umum dan teori quantum. Untuk mengetahui bagaimana teori gabungan ini bekerja, kita perlu mengerti prinsip bahwa gravitasi mencerukkan atau melengkungkan (warp) ruang dan waktu.

Materi dan energi mencerukkan ruang, sehingga mengubah jalannya objek-objek. Menceruknya ruang dalam jagat raya memperpanjang atau memperpendek jarak di antara titik-titik dalam ruang, mengubah geometri atau bentuknya, dalam suatu cara yang dapat diukur dari dalam jagat raya. Demikian juga, materi dan energi mencerukkan waktu; menceruknya waktu memperpanjang atau memperpendek interval waktu dengan suatu cara yang analogis. Pencerukan (warpage) ruang dan waktu menyebabkan dimensi waktu “bercampur” dengan dimensi ruang; kedua dimensi ini saling mengait dan saling mengunci. Percampuran atau kesalingmengaitan antara waktu dan ruang ini penting di dalam jagat raya pada awalnya dan merupakan kunci untuk memahami permulaan waktu.

Meskipun teori relativitas umum Einstein menyatukan waktu dan ruang sebagai dimensi ruang-waktu dan melibatkan suatu percampuran tertentu ruang dan waktu, waktu masih berbeda dari ruang, dan keduanya memiliki suatu permulaan dan suatu akhir atau jika tidak demikian keduanya akan berlangsung abadi. Tetapi, kalau kita tambahkan efek-efek teori quantum kepada teori relativitas umum, maka dalam kasus-kasus yang ekstrim pencerukan dapat terjadi dengan sangat besar sehingga waktu berperilaku seperti sebuah dimensi lain dari ruang. Pada permulaan jagat raya, secara efektif ada empat dimensi ruang dan tidak ada dimensi waktu. Ini berarti bahwa kalau kita memandang mundur jauh ke belakang dalam waktu, ke permulaan jagat raya, waktu sebagaimana kita kenal tidak ada! Kita harus menerima bahwa gagasan-gagasan lazim kita tentang ruang dan waktu tidak berlaku bagi jagat raya pada awalnya sekali. Ini berada di luar pengalaman kita, tetapi tidak di luar imajinasi kita, atau matematika kita.


Kesadaran bahwa waktu dapat berperilaku seperti sebuah arah lain dari ruang mengharuskan kita membuang masalah tentang waktu mempunyai sebuah permulaan, dengan cara yang sama kita membuang adanya sisi pinggir dunia yang melengkung. Anggaplah permulaan jagat raya seperti Kutub Selatan Bumi, dengan derajat-derajat garis lintangnya berperan sebagai waktu. Kalau kita bergerak ke utara, lingkaran-lingkaran garis lintang konstan, yang menggambarkan ukuran jagat raya, akan bertambah. Jagat raya dimulai sebagai suatu titik di Kutub Selatan, tetapi Kutub Selatan sama dengan titik lain manapun. Pertanyaan apa yang terjadi sebelum permulaan jagat raya menjadi sebuah pertanyaan yang tak bermakna, karena tidak ada apapun di sebelah selatan Kutub Selatan. Dalam gambaran ini, ruang-waktu tidak memiliki batas. Dengan cara yang sama, ketika kita menggabungkan teori relativitas umum dengan teori quantum, pertanyaan apa yang terjadi sebelum permulaan jagat raya menjadi sebuah pertanyaan yang tak bermakna. Gagasan ini bahwa sejarah-sejarah haruslah merupakan permukaan-permukaan yang tertutup tanpa batas disebut kondisi tanpa batas.


Jagat raya, karena fluktuasi quantum, ada dari ketiadaan


Selama berabad-abad banyak orang, termasuk Aristoteles, percaya bahwa jagat raya harus selalu ada untuk menghindari soal bagaimana jagat raya dibangun. Orang lain percaya bahwa jagat raya mempunyai permulaan, dan menggunakannya sebagai sebuah argumen untuk menerima keberadaan Allah. Tetapi kesadaran bahwa waktu berperilaku seperti ruang menyajikan sebuah alternatif. Alternatif ini menyingkirkan keberatan yang sudah ada sangat lama terhadap jagat raya yang memiliki sebuah permulaan, bahkan juga berarti bahwa permulaan jagat raya diatur oleh hukum-hukum sains dan tidak perlu dibuat bergerak oleh suatu allah.

Jadi, permulaan jagat raya adalah suatu peristiwa quantum. Seperti sudah ditulis di atas tentang “sejarah-sejarah alternatif” dalam teori quantum, jagat raya tidak memiliki sejarah masa lampau tunggal, tetapi, dalam kenyataannya, ada banyak jagat raya dan masing-masing memiliki seperangkat berbeda hukum-hukum fisikanya dan sejarahnya sendiri-sendiri, dan semua jagat raya ini ada dengan spontan, dimulai dengan setiap cara yang mungkin. Gagasan ini disebut oleh sejumlah orang sebagai konsep multiverse.

Gambaran tentang jagat raya yang tercipta spontan dari fisika quantum menyerupai pembentukan gelembung-gelembung uap air di dalam air yang mendidih. Banyak gelembung kecil bermunculan, lalu lenyap lagi. Gelembung-gelembung kecil ini menggambarkan jagat-jagat raya kecil yang mengembang tetapi luruh lagi ketika masih dalam ukuran mikroskopis. Gelembung-gelembung kecil ini menggambarkan jagat-jagat raya alternatif yang mungkin ada, tetapi tidak berlangsung cukup lama untuk berkembang menjadi galaksi-galaksi dan bintang-bintang, apalagi kehidupan cerdas. Tetapi beberapa gelembung kecil akan tumbuh cukup besar sehingga mereka luput dari keruntuhan kembali. Mereka akan berlangsung terus untuk mengembang pada suatu besaran angka kecepatan yang terus makin bertambah dan akan membentuk gelembung-gelembung uap yang dapat kita lihat. Fluktuasi quantum (lihat di atas) bermuara pada penciptaan jagat-jagat raya kecil dari ketiadaan. Sedikit dari antaranya mencapai suatu ukuran kritis, lalu mengembang lewat inflasi kosmologis, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan, sedikitnya dalam satu kasus, makhluk cerdas seperti kita. Kita semua adalah produk dari fluktuasi-fluktuasi quantum dalam jagat raya yang sangat awal.



(7)
The Apparent Miracle

Gagasan bahwa jagat raya dirancang untuk mengakomodasi umat manusia muncul dalam teologi-teologi dan mitologi-mitologi yang berasal dari ribuan tahun lalu hingga sekarang ini di banyak tempat di muka Bumi. Dalam kebudayaan Barat, Perjanjian Lama, khususnya kisah tentang penciptaan, ditafsirkan memuat gagasan tentang rancangan atau desain yang dibuat Allah dalam rangka memelihara manusia sebagai puncak semua ciptaan. Gagasan Kristen tentang adanya desain ilahi dalam jagat raya kuat dipengaruhi Aristoteles yang percaya “pada suatu dunia alamiah yang cerdas yang berfungsi menurut suatu desain yang seksama.” Teolog Kristen dari Abad Pertengahan, Thomas Aquinas, memakai gagasan Aristoteles mengenai tatanan dalam alam untuk mempertahankan keberadaan Allah. 


Penemuan yang relatif mutakhir yang memperlihatkan bahwa sangat banyak hukum alam, dan faktor-faktor lingkungan (environmental factors) dalam sistem matahari kita (misalnya kita hidup dalam suatu “Goldilocks zone”, zona yang dapat ditinggali manusia), yang dengan ekstrim telah “disetel dengan pas” (fine tuned) sehingga menghasilkan suatu jagat raya yang bersahabat dengan manusia untuk mereka dapat hidup di planet Bumi, dapat membuat orang kembali ke gagasan lama bahwa desain yang agung ini adalah pekerjaan suatu desainer atau perancang agung. Belakangan ini di Amerika Serikat gagasan lama ini muncul kembali dalam apa yang dikenal sebagai gagasan “intelligent design”, dengan sang desainernya tentu adalah Allah.

Tetapi sains modern tidak menjawab demikian. Adanya multiverse, ketimbang universe, membuat kita harus memandang habitat kosmik kita (yakni seluruh jagat raya yang dapat diamati) hanyalah salah satu saja dari banyak habitat kosmik lainnya, sama seperti sistem matahari kita adalah satu sistem bintang saja dari antara bermilyar-milyar sistem bintang dalam galaksi kita saja, belum lagi sistem-sistem bintang di banyak galaksi lain yang tak terhitung banyaknya. 


“Fine tuning” dalam hukum-hukum alam yang manusia dapat observasi dapat dijelaskan dengan mengacu ke multiverse, yang memungkinkan anggapan bahwa “fine tuning” juga dapat ditemukan di jagat-jagat raya lainnya, dalam multiverse yang majemuk. Gagasan tentang multiverse bukanlah suatu gagasan yang ditemukan untuk menjelaskan keajaiban “fine tuning”, tetapi merupakan suatu konsekwensi kondisi tanpa batas (yang sudah disebut di atas) dan banyak teori kosmologi modern lainnya. Jika ini benar, maka prinsip antropik kuat (bahwa fakta kita ada/hidup menimbulkan pembatasan-pembatasan bukan hanya pada lingkungan kita, tetapi juga pada bentuk dan isi yang mungkin dari hukum-hukum alam itu sendiri) dapat dengan efektif dipandang ekuivalen dengan prinsip antropik lemah (bahwa fakta kita ada/hidup membatasi karakteristik jenis lingkungan yang di dalamnya kita menemukan diri kita sendiri), sehingga menempatkan “fine tuning” hukum-hukum fisika pada landasan yang sama dengan faktor-faktor lingkungan yang juga “fine tuned”.

Banyak orang selama berabad-abad pada zaman mereka mengasalkan keindahan dan kompleksitas alam raya pada pekerjaan Allah, sebab mereka tampaknya tidak punya penjelasan-penjelasan saintifik atas fenomena alam ini. Tetapi sama seperti Charles Darwin dan Wallace menjelaskan bagaimana desain yang tampaknya ajaib dari bentuk-bentuk kehidupan dapat muncul tanpa intervensi suatu makhluk agung supernatural, konsep multiverse dapat menjelaskan “fine tuning” hukum-hukum fisika tanpa memerlukan adanya suatu pencipta yang baik hati yang telah membuat jagat raya demi kebaikan dan keuntungan buat manusia.



(8)
The Grand Design

Dalam bab penutup ini, SH&LM menjelaskan The Game of Life yang diinvensi pada tahun 1970 oleh seorang matematikawan muda di Cambridge yang bernama John Conway. Game ini sebenarnya bukan sebuah game (karena dalam game ini tidak ada pemain dan tidak ada yang kalah atau yang menang), melainkan seperangkat hukum yang mengatur suatu jagat raya dua dimensi. Game ini dipakai SH&LM sebagai sebuah contoh yang dapat membantu kita memikirkan soal-soal mengenai realitas dan ciptaan.


Dalam Game ini, jagat raya yang ditampilkan adalah suatu jagat raya yang deterministik, maksudnya: sekali anda mulai membangun suatu konfigurasi awal, atau kondisi inisial/awal, hukum-hukum dalam jagat raya ini menentukan apa yang akan terjadi di masa depan. Dengan memperhitungkan kondisi awal manapun, hukum-hukum ini melahirkan generasi demi generasi. Jagat raya yang dibayangkan Conway adalah suatu bangunan empat persegi, seperti papan catur, tetapi melebar tanpa batas ke segala arah. Sebagaimana dalam jagat raya kita, dalam The Game of Life realitas anda bergantung pada model yang anda gunakan.


Conway dan murid-muridnya menciptakan dunia ini karena mereka ingin mengetahui apakah suatu jagat raya yang lengkap dengan aturan-aturan mendasarnya, sesederhana seperti yang mereka definisikan, dapat berisi objek-objek yang cukup kompleks untuk mereplikasi diri. Conway dan murid-muridnya ingin tahu, apakah dalam dunia The Game of Life ada objek-objek campuran yang akan melahirkan objek-objek lainnya yang sejenis setelah hanya mengikuti hukum-hukum yang berlaku dalam dunia itu selama beberapa generasi. Bukan hanya mereka dapat mendemonstrasikan bahwa hal itu mungkin, tetapi mereka juga bahkan berhasil memperlihatkan bahwa suatu objek semacam itu, dalam arti tertentu, cerdas. Mereka menunjukkan bahwa campuran besar bangunan segi empat yang mereplikasi diri itu adalah “mesin-mesin cerdas universal”. Hal ini berarti bahwa bagi kalkulasi apapun yang sebuah komputer dalam dunia fisikal kita dapat pada prinsipnya jalankan, jika mesin ini diberi input yang cocok (yakni, menyediakannya lingkungan dunia The Game of Life yang cocok), maka beberapa generasi kemudian mesin ini akan berada pada suatu keadaan yang dari dalamnya suatu output dapat dibaca yang sesuai dengan hasil kalkulasi komputer itu. Contoh The Game of Life Conway menunjukkan bahwa seperangkat sederhana hukum-hukum pun dapat menghasilkan fitur-fitur kompleks yang serupa dengan fitur-fitur kehidupan cerdas.


Pada dua halaman terakhir bab penutup, SH&LM bertanya, bagaimana seluruh jagat raya dapat diciptakan dari ketiadaan? Tidak lain, karena ada suatu hukum seperti gravitasi (selain karena adanya fluktuasi quantum seperti telah diulas di atas). Benda-benda langit seperti bintang-bintang dan lubang-lubang hitam tidak dapat ada hanya dari ketiadaan; tetapi seluruh jagat raya dapat. Karena ada suatu hukum seperti gravitasi, jagat raya dapat dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan, dalam suatu cara yang telah diurai dalam bab 6 buku GD. Penciptaan spontan adalah alasan mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada apapun, mengapa jagat raya ada, dan mengapa kita ada. Tidak perlu melibatkan Allah untuk menyalakan “kertas sentuh biru” dan membuat jagat raya jalan.


Dalam dua alinea terakhir buku GD, kedua penulisnya menyinggung kembali M-theory, dan menegaskan bahwa M-theory adalah teori gravitasi supersimetris yang paling umum dan merupakan satu-satunya kandidat bagi suatu teori lengkap mengenai jagat raya. Jika teori ini dikonfirmasi oleh observasi, maka ini akan merupakan suatu kesimpulan yang sukses dari suatu penyelidikan yang sudah berlangsung lebih dari 3000 tahun. Di dalam M-theory inilah kita menemukan
the grand design.

Peringkas: Ioanes Rakhmat


Kelapa Gading, Jakarta

17 Desember 2010

Edited 15 Juli 2024

Thursday, October 25, 2012

Merenung-renung mengenai Allah dan Setan


Orang yang sangat percaya bahwa Setan itu ada, seringkali menjadi kesetanan sehingga mereka tidak dapat lagi dengan kritis bertanya, Apakah Setan itu betulan ada dalam dunia objektif? Atau, Apakah Setan itu diinvensi oleh manusia sendiri untuk menstigmatisasi lawan-lawan mereka yang dianggap sebagai setan-setan, musuh Allah mereka? Ketika stigmatisasi ini sudah dilakukan, bukankah mereka, atas nama Allah mereka, bebas membantai semua musuh mereka, tanpa bisa dijerat oleh hukum positif apapun? 
― ioanes rakhmat

Penyakit mental kepribadian ganda dan fenomena psikosomatik dapat dengan memuaskan menjelaskan fenomena kesurupan; sebaliknya, sama sekali tak masuk akal, tidak ada teori ilmiahnya, jika anda harus membayangkan Setan atau roh-roh jahat, sebagai makhluk-makhluk immaterial (jika ada), dapat menyerbu dan mengganggu jalannya kerja otak, kerja sel-sel saraf di dalam tempurung kepala anda yang jumlahnya  100 milyar, yang semuanya material, untuk menimbulkan fenomena kesurupan!  
― ioanes rakhmat 


Bermula, antara lain, dari agama Persia kuno yang dikenal sebagai Zoroastrianisme, dikonseplah apa yang dinamakan dualisme etis kosmologis: dalam jagat raya ini terdapat dua wilayah yang saling bertentangan, wilayah kebaikan dengan sang ilahnya sendiri sebagai penguasanya, dan wilayah kejahatan juga dengan sang ilahnya sendiri sebagai penguasanya. Masing-masing penguasa ini, dalam berbagai agama, diberi berbagai nama; untuk mudahnya, orang dapat menyebutnya Allah (bersama bala tentaranya) sebagai sang penguasa kawasan kebaikan, dan Setan (beserta bala tentaranya) sebagai sang ilah yang menguasai kawasan kejahatan. Jadi, dua bentuk moralitas (kebaikan dan kejahatan) dikaitkan entah dengan Allah atau pun dengan Setan.

Apakah kedua oknum spiritual ini, yakni Allah dan Setan, sungguh ada dalam realitas objektif? Sama seperti orang hanya bisa mempercayai bahwa Allah itu ada, dan tidak bisa membuktikan secara empiris objektif keberadaan Allah ini, demikian juga halnya dengan Setan: orang hanya bisa mempercayai adanya Setan, tanpa bisa membuktikan secara empiris objektif keberadaan Setan ini. Allah dan Setan berada pada wilayah teologi, bukan pada wilayah sosiologi, berada pada wilayah mitologi, bukan pada wilayah sejarah.

Kalaupun orang mau mengajukan bukti objektif bahwa Allah itu ada, umumnya akan ditunjuk pertama-tama sifat-sifat baik yang ada dalam diri manusia. Kata sementara orang, bahwa orang itu bisa berbuat baik, membuktikan Allah ada di dalam orang itu. Sebaliknya, kejahatan yang ada dalam dunia ini, yang dilakukan oleh manusia, juga dipakai sebagai bukti bahwa Setan itu ada. Jadi, dari watak moral manusia, orang berargumentasi bahwa Allah itu ada, atau bahwa Setan itu ada. Tetapi argumentasi ini bukanlah argumentasi logis historis, tetapi sebuah lompatan iman, sebab adanya orang baik membuktikan hanya adanya orang baik; begitu juga, adanya orang jahat membuktikan hanya adanya orang jahat. Adanya orang baik dan adanya orang jahat tidak bisa ditarik lebih jauh untuk menyimpulkan hal-hal yang hanya ada dalam teologi atau dalam mitologi. Jika dipaksa ditarik lebih jauh untuk menyimpulkan hal-hal yang ada dalam wilayah teologi/mitologi, maka yang terjadi adalah sebuah lompatan iman, yang tidak membuktikan hal apapun dalam dunia empiris objektif.

Selain itu, harus diingatkan bahwa watak baik atau watak jahat seseorang itu sangat kuat dibentuk oleh lingkungan kehidupan dan pergaulannya, dan oleh jenis serta isi pendidikan yang diterimanya, yang sudah berlangsung sejak tahap-tahap dini perkembangan mentalnya. Kenyataan-kenyataan sosiologis ini sudah lama diobservasi dan diperlihatkan secara saintifik dalam kajian-kajian mengenai perkembangan psikologis perilaku manusia, sehingga kita juga harus sangat berhati-hati untuk tidak sepenuh-penuhnya mengasalkan secara genetik atau secara neurologis semata terbentuknya watak-watak manusia. Genetika dan neurosains yang terfokus penuh pada nature (kodrat) manusia, juga memerlukan sosiologi dan ilmu-ilmu humaniora lain yang berkaitan, yang fokus pada beranekaragam faktor sosiologis yang ikut membangun watak-watak manusia (faktor-faktor nurture).

Meminjam metafora yang digunakan Herbert Simon, psikolog yang meraih Hadiah Nobel, kita dapat menggambarkan nature dan nurture sebagai sebuah gunting yang terdiri atas dua bilah mata: bilah pertama nature, dan bilah kedua nurture. Sebuah gunting bisa dipakai untuk menggunting hanya apabila kedua bilah matanya ini bekerjasama, dalam suatu interaksi yang seimbang. Begitu juga halnya dengan manusia: dalam kehidupannya sehari-hari, faktor nature dan faktor nurture berinteraksi, dan lewat interaksi inilah dia dapat menjalankan berbagai fungsinya sebagai manusia dalam masyarakat.

Jadi, mengasalkan watak baik manusia pada adanya Allah atau watak jahatnya pada adanya Setan dalam diri manusia, berarti mengabaikan atau bahkan meniadakan sama sekali sangat banyak faktor empiris objektif (genetis, neurologis, dan sosiologis) yang sangat dominan membentuk berbagai jenis watak manusia. Reduksionisme semacam ini sesungguhnya mengerdilkan manusia hanya sebagai objek pasif permainan kekuatan-kekuatan yang dibayang-bayangkan saja (entah kekuatan yang diasalkan pada Allah, atau yang diasalkan pada Setan), kekuatan-kekuatan yang tidak real ada dalam dunia kehidupan manusia. Dalam kenyataan sosiologisnya, setiap manusia bukanlah objek pasif yang pasrah saja dipermainkan dan diatur oleh kekuatan-kekuatan di luar dirinya yang diasalkan dari dunia spiritual, melainkan subjek yang sangat aktif dalam menjadikan siapa dan bagaimana dirinya dari waktu ke waktu di dalam masyarakatnya. Ada kehendak bebas dalam diri setiap manusia, meskipun kehendak bebas yang absolut hanya ada dalam ilusi, bukan dalam realitas sosiologis, realitas yang sangat kuat membentuk diri setiap orang, dengan dikehendaki atau dengan tidak dikehendaki olehnya.

Kaum agamawan umumnya akan, bisa dalam batas-batas tertentu atau bisa juga dalam segala hal, mengidentikkan Allah dengan agama (meskipun mereka bisa saja sudah tahu  bahwa praktek semacam ini, yang dalam dunia Islam dikenal sebagai dosa syirik, dilarang oleh agamanya sendiri). Dengan demikian, adanya agama dalam dunia ini dipakai oleh mereka untuk menjadi dasar penarikan kesimpulan bahwa Allah itu ada; dan lewat agamalah, kata mereka, Allah membentuk watak baik manusia. Pandangan semacam ini mengenai hubungan Allah dan agama, atau yang menyatukan Allah dengan agama, memiliki banyak persoalan, antara lain berikut ini.

Pertama, setiap agama, bagaimanapun juga, dapat dengan tepat dipandang sebagai sebuah lembaga sosial yang semuanya memiliki sedikitnya lima unsur sosiologis (objektif ada dan dipercaya komunitas keagamaan yang real), yakni unsur syahadat, unsur kitab suci, unsur kode moralitas, unsur kultus pemujaan dan ritual, unsur komunitas. Kelima unsur ini dapat dengan baik dibangun sekalipun keberadaan dunia adikodrati disangkal, seperti misalnya dalam apa yang sosiolog beken Robert N. Bellah dan sosiolog Martin E. Marty namakan agama sipil, civil religion./1/ Dipandang dari sudut sosiologis, adanya agama yang mewartakan tentang adanya Allah tidak otomatis membuktikan bahwa Allah itu ada di dunia adikodrati yang tak kasat mata, melainkan hanya membuktikan bahwa ada suatu komunitas manusia yang mempercayai bahwa Allah itu ada. Kepercayaan adalah kepercayaan, sesuatu yang subjektif, dan bukan fakta objektif selama isi kepercayaan ini belum faktual terbukti.

Kedua, kalau kita tidak mengidealisir agama, maka kita dapat dengan objektif menyatakan bahwa agama-agama, dalam kenyataannya, tidak hanya menghasilkan kebaikan tapi juga keburukan dalam dunia ini, tidak hanya menghasilkan orang baik tetapi juga orang jahat dalam dunia ini, tidak hanya mendatangkan pencerahan tapi juga kegelapan dalam dunia ini, tidak hanya memperjuangkan kedamaian tapi juga menimbulkan perang dalam dunia ini, dan seterusnya. Jadi, dalam agama juga terdapat unsur-unsur demonik, bukan hanya unsur-unsur ilahi; dengan demikian, adalah sebuah usaha yang sangat berbahaya bagi teologi  jika orang begitu saja menyamakan agama dengan Allah yang umumnya dipercaya oleh orang beragama sebagai suatu Oknum Adikodrati yang mahabaik. Jika Allah itu mahabaik, maka agama, sebagai perwujudan Allah sepenuhnya dalam dunia manusia, haruslah hanya menghasilkan kebaikan, tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Jadi, adanya agama dalam dunia ini sebetulnya dapat dipakai sebagai sebuah bukti baik bagi adanya Allah maupun bagi adanya Setan. Tapi sudah diingatkan di atas bahwa kita akan terjatuh ke dalam reduksionisme atas diri manusia jika watak baik atau watak jahatnya diasalkan pada Allah atau pada Setan.

Ketiga, lima unsur sosiologis yang membentuk agama, yang sudah disebut di atas, dalam kenyataannya juga ditemukan dalam ritual dan kultus yang bukan menyembah Allah, tetapi dengan sengaja menyembah Setan, sehingga ritual atau kultus pemujaan ini dapat juga disebut sebagai “agama Setan”. Tetapi sama seperti agama-agama yang diklaim para penganutnya sebagai agama Allah tidak otomatis membuktikan adanya Allah, begitu juga halnya dengan agama-agama Setan: agama-agama Setan tidak otomatis membuktikan adanya Setan, tetapi hanya membuktikan bahwa para penganutnya memang mempercayai Setan dan menyembah Setan. Mempercayai dan menyembah Setan itu hanya membuktikan adanya kepercayaan dan penyembahan jenis ini, dan sama sekali tidak membuktikan bahwa Setan itu, sebagai objek yang dipercaya dan disembah, betulan ada. Jika fakta adanya agama-agama Setan dijadikan sebagai landasan untuk menyatakan bahwa Setan itu ada di dunia adikodrati yang tak kasat mata, ini juga sebuah lompatan iman. Menyatakan bahwa dunia adikodtrati yang tidak kasat mata itu ada, juga sebuah lompatan iman, sebab keberadaan dunia adikodrati semacam ini tidak bisa dibuktikan secara faktual empiris, tetapi hanya ada dalam iman atau dalam kepercayaan manusia.

Keempat, jangan dilupakan bahwa dalam satu agama saja, atau dalam satu kitab suci yang dipakai dalam satu agama, terdapat lebih dari satu gambaran mengenai Allah dan wataknya. Jangan disangkal, ada lebih dari satu watak Allah yang digambarkan dalam satu agama atau dalam satu kitab suci; dan di antara watak-watak Allah yang digambarkan ini, ada watak-watak Allah yang tidak baik, bahkan jahat dan merusak serta membinasakan kehidupan. Dalam kepercayaan Yahudi yang bertumpu pada kitab suci Yahudi yang dinamakan Tanakh, selain dilukiskan mahakasih dan mahapenyayang, Allah bangsa Yahudi juga di banyak tempat dalam Tanakh digambarkan sebagai Allah yang kerap memerintahkan umatnya berperang dan membunuh semua musuh mereka tanpa ampun, bahkan, dalam mitologi Air Bah yang sudah dikenal umum, Allah bangsa Yahudi digambarkan membinasakan seluruh umat manusia, dan menyelamatkan hanya Nabi Nuh dan keluarganya serta hewan-hewan yang masuk ke dalam bahtera sebelum air bah didatangkan untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan.

Nah, persoalannya adalah: Jika dalam diri Allah terdapat watak-watak yang tidak baik, jahat, kejam dan mematikan (bukan menghidupkan), bagaimana mungkin Allah yang semacam ini bisa memunculkan watak baik dalam diri manusia yang mempercayai Allah semacam ini; bagaimana bisa agama yang mempercayai dan menyembah Allah yang semacam ini bisa melahirkan manusia-manusia yang baik dan pencinta kehidupan? Renungkanlah dalam-dalam, dan terimalah fakta-fakta ini!

Kelima, juga jangan dilupakan, dalam dunia kita sekarang ini ada banyak dan beranekaragam agama dan kitab suci. Adanya beranekaragam agama dan kitab suci dalam dunia ini juga memunculkan bermacam-macam pemikiran (baca: teologi) manusia  mengenai oknum adikodrati yang antara lain dinamakan Allah atau Tuhan (bisa esa dan bisa juga banyak). Teologi yang beranekaragam ini tentu saja makin memperbanyak gambaran manusia mengenai Allah dan watak-wataknya, gambaran-gambaran yang dalam banyak segi tidak harmonis, tidak konsisten, bahkan bertentangan dan bertabrakan satu sama lain. Nah, dalam hutan rimba agama-agama ini, dengan kitab sucinya masing-masing yang memiliki kekhasan sendiri-sendiri, Allah agama dan Allah kitab suci yang manakah yang harus diterima dan dipercaya sebagai Allah yang membentuk watak manusia? Allah bangsa Yahudikah? Allah umat Kristenkah? Allah yang disembah Nabi Muhammadkah? Atau beranekaragam allah atau tuhan atau dewa dalam agama Hindukah, dalam agama Tridharmakah, atau dalam Buddhisme yang mempertahankan teologi apofatikkah, ataukah dewa-dewi dan makhluk-makhluk halus yang dipercaya agama-agama alam atau agama-agama suku, ataukah Dewa Zeus dalam panteon Yunani?

Selain itu, juga muncul sebuah pertanyaan lain: Kebajikan moral yang bagaimanakah atau yang manakah, yang dibela dan dikehendaki oleh masing-masing Allah dalam hutan rimba teologi untuk dipunyai setiap manusia? Pertanyaan ini sangat sukar untuk dijawab dengan satu jawaban tunggal, sebab kebajikan dan moralitas agung yang paling didambakan dan dicita-citakan oleh satu agama (dan oleh satu kebudayaan) akan bisa berbeda tajam dari yang didambakan dan dicita-citakan oleh satu agama lain (dan oleh satu kebudayaan lain).

Jadi, ketimbang berhasil meyakinkan orang bahwa Allah atau Setan itu ada jika orang memakai bukti watak-watak yang dipunyai manusia, cara berargumentasi semacam ini, sebagaimana sudah dibeberkan di atas, malah menimbulkan lebih banyak pertanyaan dan persoalan alih-alih memberi sebuah kesimpulan kuat.

Meskipun sekarang ini kita hidup dalam zaman modern, di mana sains dan teknologi modern sudah menjadi bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari dan tanpa keduanya kita sudah tidak mungkin bisa hidup, masih ada sangat banyak orang, khususnya orang beragama, yang percaya bahwa Setan (atau roh jahat, atau roh-roh jahat) kerap masuk ke dalam tubuh dan pikiran manusia dan berbicara dan melakukan bermacam-macam hal yang destruktif lewat tubuh yang dimasukinya. Fenomena ini di Indonesia dikenal sebagai kesurupan atau kerasukan Setan (Inggris: “possessed”); dan selalu dirujuk oleh para agamawan sebagai sebuah bukti kuat bahwa Setan itu betulan ada. Selanjutnya argumennya ditarik oleh mereka lebih jauh: Jika Setan itu ada, dan Setan ini bisa diusir keluar dari tubuh orang yang dirasuknya oleh seorang (atau lebih) rohaniwan dengan memakai nama Allah (atau nama-nama lain yang diyakini lebih tangguh dan lebih kuat), maka kesimpulannya lainnya adalah bahwa Allah juga ada, dan Allah ini mengalahkan Setan.

Tetapi pertanyaan-pertanyaannya adalah: Apakah kerasukan Setan itu sebuah kejadian objektif, dalam arti bahwa Setan (atau roh jahat) memang ada, lalu bisa merasuki seorang manusia, masuk ke dalam tubuh dan pikirannya lalu mengendalikan keduanya dan menimbulkan kejadian-kejadian yang destruktif, khususnya atas diri orang yang sedang kerasukan? Apakah tubuh manusia itu memang bisa diumpamakan sebagai sebuah botol kosong yang bisa diisi dengan air (baca: setan sebagai roh), atau sebuah balon karet yang belum ditiup, yang bisa digelembungkan dengan memasukkan udara (baca: setan sebagai roh) ke dalamnya? Pertanyaan-pertanyaan ini berkaitan dengan konsep-konsep psikologis tentang diri manusia:

  • Apakah manusia itu dualistik, dalam arti: tubuh dan jiwanya terpisah, keduanya bisa diceraikan satu sama lain, dan “jiwa” menempati “ruang khusus”, di mana ruang khusus ini juga bisa dihuni Setan atau roh-roh jahat? 
  • Ataukah manusia itu monistik, dalam arti: tubuh dan jiwa tak dapat dipisahkan, keduanya menyatu dan saling berkaitan, saling mencengkeram, serta saling memengaruhi, dan kalau tubuh binasa/lenyap, menyatu dengan tanah setelah kematian, jiwa juga dengan sendirinya lenyap, tanpa bekas, tak pergi ke mana-mana? 

Kalau kita menerima bahwa untuk mencari dan menemukan kebenaran, orang harus berpaling ke sains (karena sains selalu jujur, meskipun si saintis bisa tergoda untuk  tidak jujur, perilaku yang akan menghancurkan kredibilitasnya sebagai seorang saintis!), maka bagi sains, manusia adalah insan yang monistik.

Dalam pandangan yang monistik, tidak ada “ruang khusus” untuk tempat tinggal jiwa atau “roh” dalam tubuh manusia, yang terpisah dari bagian-bagian tubuh lainnya, sehingga fenomena yang dinamakan “kesurupan” (yakni masuknya Setan atau roh jahat ke dalam tubuh manusia) tidak mungkin ada. Berbagai kajian klinis neurosains menunjukkan bahwa manusia sebetulnya adalah makhluk yang monistik: tubuh dan jiwanya, atau tubuh dan pikirannya, menyatu, tak terpisah; apa yang menjadi gerak-gerik jiwa, adalah juga apa yang menjadi gerak-gerik otak, dan sebaliknya; dan semua hal yang menyangkut apa yang dinamakan “pengalaman-pengalaman rohani” diproduksi oleh neuron-neuron (sel-sel saraf, berjumlah 100 milyar sel) yang membentuk organ otak manusia, sehingga sesungguh-sungguhnya pengalaman-pengalaman ini berlangsung hanya di dalam tempurung kepala kita, dalam organ otak kita, tidak di dalam dunia yang dinamakan dunia adikodrati. Jadi, ketika otak lenyap, lenyap jugalah jiwa kita; tak ada apa yang dinamakan “roh” dalam diri manusia yang masuk ke dalam tubuh (pertama kali mungkin, harus diandaikan, ketika manusia masih berbentuk janin dalam rahim seorang perempuan), lalu meninggalkan tubuh ini kembali ketika manusia mati (atau saat mengalami apa yang diklaim sebagai “out-of-body experience”, pengalaman jiwa/roh keluar dari tubuh)./2/ 

Belakangan ini saya sudah menyaksikan sedikitnya dua buah film Barat tentang kerasukan Setan. Film yang pertama berjudul The Exorcism of Emily Rose, yang disutradarai oleh Scott Derrickson (produksi tahun 2005, Amerika); yang kedua berjudul Exorcismus, dengan sutradaranya Manuel Carballo (produksi tahun 2010, Spanyol). Tentu saja dalam dua film ini Setan (atau roh jahat) digambarkan betul-betul ada (film yang terdahulu bahkan diklaim dibuat berdasarkan kisah nyata), dan kerasukan Setan sebagai fenomena fisikal dan mental juga dilukiskan objektif terjadi. Tetapi harus diingat: sosok Setan, kejadian kerasukan Setan beserta indikasi-indikasinya, dan dampaknya yang destruktif, dan eksorsisme (ritual pengusiran setan), menjadi begitu real, sangat grafis, umumnya hanya di dalam film-film, bukan dalam dunia nyata sehari-hari.

Jangan dilupakan bahwa setiap film, apalagi yang dibuat dengan kualitas prima dalam segala seginya, memiliki kemampuan besar untuk menghanyutkan para penonton ke dalam dunia maya yang dirasakan mereka sangat real, ke dalam pikiran-pikiran yang imajinatif, yang melampaui pikiran-pikiran sehat dalam dunia kehidupan sehari-hari yang normal, ke dalam situasi-situasi mental yang tak biasa, “gaib” dan “mencengkeram”─fenomena ini, yang dialami ketika seseorang sedang menyaksikan sebuah film dan ketika usai menontonnya bahkan sampai jauh ke depan dalam perjalanan kehidupan seseorang, dinamakan “altered state of consciousness” (ASC): kesadaran manusia yang berubah, dibawa masuk ke tatanan yang lain, yang berbeda, yang tidak sama dengan tatanan dunia sehari-hari yang wajar. 

Ada manusia yang dengan mudahnya menyamakan begitu saja ASC dengan realitas faktual objektif (karena kecondongan-kecondongan mentalnya yang diwarisinya secara genetik, atau karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup); dan ada juga manusia yang tahu dan sadar penuh, dan bersikap sangat kritis, bahwa ASC hanya berlangsung dalam otak di dalam tempurung kepala mereka, bukan dalam dunia nyata sehari-hari. Jika anda termasuk manusia tipe pertama, maka anda akan bisa sangat yakin bahwa kesurupan itu suatu fenomena yang real, hanya karena anda habis menyaksikan dua film yang sudah disebut di atas, yang anda telan mentah-mentah sebagai fakta-fakta, dan anda sama sekali tak sanggup untuk menilainya dengan kritis, dengan memanfaatkan apa yang menjadi pandangan ilmu pengetahuan.

Di negeri-negeri maju, di mana sains dan teknologi mengarahkan segala sesuatu dalam kehidupan manusia, apa yang di Indonesia dinamakan “kesurupan”, yang penyebabnya diasalkan pada Setan atau makhluk-makhluk adikodrati lain yang tak kasat mata, yang rohani, dijelaskan secara saintifik dan diperlihatkan secara klinis sebagai suatu penyakit mental yang dinamakan schizophrenia, yang mencakup berbagai jenis mental disorder. Untuk mudahnya, penyakit mental ini disebut sebagai penyakit kepribadian ganda, yang jika timbul orang yang mengidapnya akan memperlihatkan gejala-gejala yang disebut “kesurupan”. Selain itu, penyakit mental kepribadian ganda, ketika sedang muncul, biasanya juga dibarengi dengan fenomena psikosomatik: keadaan-keadaan kejiwaan yang menekan dengan sangat kuat, merembes keluar, lalu menampakkan diri dalam berbagai kondisi tubuh (stigmata, misalnya). Fenomena psikosomatik menunjukkan dengan sangat jelas bahwa jiwa (Yunani: psykhē) dan tubuh (Yunani: sōma) manusia menyatu, tak terpisahkan; apa yang terjadi dalam jiwa mempengaruhi dengan kuat, atau tampak pada, keadaan-keadaan jasmani, begitu juga sebaliknya.

Ada banyak sekali faktor objektif yang dapat membuat seseorang mengalami penyakit mental kepribadian ganda ini, faktor-faktor yang bahkan bisa sudah bekerja semenjak dia masih kanak-kanak. Selain itu, kehidupan yang setiap hari dijalani dengan perasaan stres, dari yang ringan sampai yang sudah berat, juga potensial menimbulkan fenomena kesurupan, khususnya ketika orang yang stres ini sudah tak tahan lagi dan tak bisa menahan luapan perasaannya yang penuh gejolak dahsyat. Kesurupan itu, dilihat dari sudut ini, tak lain adalah jebolnya bendungan pertahanan diri untuk berkelakuan sehat dan terkendali, yang membuat seseorang mengumbar kegeraman dan kebenciannya tak kepalang tanggung, habis-habisan, sehingga dia tampil dan bersuara seperti seorang lain yang tak dikenal sebelumnya, dan dalam kondisi-kondisi yang ekstrim bahkan desakan-desakan kejiwaan yang hebat ini dapat mengubah keadaan-keadaan tubuhnya. Stres kejiwaan tidak hanya sering menimpa orang perorangan, tetapi juga bisa dialami secara massal, yang melibatkan banyak orang sekaligus, dan ketika stres massal ini tak tertangani dengan baik, stres kolektif ini akan meledak sebagai kerasukan massal.

Biasanya para pakar akan memberi nasihat bahwa orang yang menderita penyakit mental kepribadian ganda ini lambat-laun akan dapat disembuhkan, selain dengan meminum obat-obatan khusus, juga dan terutama lewat kasih sayang dan empati yang dalam terhadap si sakit, di dalam kehidupannya dalam keluarganya dan juga ketika berkonsultasi dengan para ahli yang memakai pendekatan holistik lintasilmu. Nyanyian yang syahdu dan sejuk, musik yang menimbulkan relaksasi, juga bisa meredakan gejolak-gejolak jiwa yang muncul ketika seseorang terserang penyakit ini. Selain itu, para pakar juga akan pasti memeriksa kondisi organ otak si sakit, otak sebagai sebuah “mesin neurologis” yang bisa menghasilkan berbagai macam perilaku mental yang patologis. Jika memang ditemukan, lewat alat-alat pemindai, ada bagian-bagian tertentu otaknya yang cedera atau rusak atau memiliki kelainan struktural dan fisiologis, yang didiagnosis sebagai pemicu fenomena kesurupan, bagian-bagian neural ini tentu saja akan ditangani untuk menolong si penderita. Karena semua pendekatan saintifik ini adalah pendekatan “evidence-based”, tentu saja tak ada seorang pun dari antara mereka yang akan menyatakan bahwa si sakit mengalami penyakit mental ini karena dia dirasuk Setan atau dirasuk roh-roh jahat.

Tentu saja, para agamawan atau para rohaniwan, di Barat maupun di Timur, tidak akan pernah puas jika penyakit mental kepribadian ganda, khususnya yang berdampak destruktif pada diri si sakit dan lingkungan sekitarnya, hanya dijelaskan asal-usulnya dan diberikan terapinya berdasarkan bukti-bukti klinis saja atau berdasarkan pandangan-pandangan saintifik saja. Mereka umumnya akan dengan gigih mempertahankan bahwa “kesurupan” bukan hanya suatu penyakit mental, melainkan sebuah fenomena “paranormal” masuknya Setan atau roh-roh jahat ke dalam tubuh dan pikiran si sakit.

Tetapi, sekali lagi, berhubung  hingga sekarang ini tak pernah terbukti bahwa Setan itu ada dan bahwa Setan ini bisa masuk ke dalam tubuh dan pikiran si sakit, dan, khususnya, berhubung manusia itu insan yang monistik, maka pandangan kaum agamawan atau kaum rohaniwan itu hanya bisa ditempatkan dalam wilayah kepercayaan, wilayah keyakinan mitologis, bukan wilayah dunia objektif dan wilayah sains. Jika mereka berkeras untuk percaya bahwa Setan atau roh-roh jahat itu ada, ya mereka percaya pada kepercayaan yang mereka bangun sendiri! Harus diingatkan lagi, penyakit mental kepribadian ganda dan fenomena psikosomatik dapat dengan memuaskan menjelaskan fenomena kesurupan; sebaliknya, sama sekali tak masuk akal, tidak ada teori ilmiahnya, jika anda harus membayangkan Setan atau roh-roh jahat, sebagai makhluk-makhluk immaterial (jika ada), dapat menyerbu dan mengganggu jalannya kerja otak, kerja sel-sel saraf di dalam tempurung kepala anda yang jumlahnya 100 milyar, yang semuanya material, untuk menimbulkan fenomena kesurupan!

Jika gereja (seperti digambarkan dalam dua film tentang kerasukan Setan yang sudah disebut di atas) tidak dapat berterus terang kepada publik mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang yang diklaim kerasukan Setan, sikap tertutup ini hanya memperkuat kesimpulan bahwa gereja memang tidak bisa membuktikan secara objektif kebenaran klaim ini! Gereja hanya mempercayai kasus kerasukan itu ada, tetapi tak sanggup membuktikannya secara objektif! Dus, mereka bungkam saja, suatu sikap yang sangat bisa dimengerti.

Tentu saja, iman atau kepercayaan seseorang tidak serta-merta harus ditolak dan disingkirkan karena alasan tak memiliki bukti objektif empiris apapun mengenai isi imannya. Sebab, iman seseorang juga bisa memberi dampak positif berupa kestabilan jiwanya atau ketenangan pikirannya, khususnya ketika seseorang, karena imannya, datang dan berdoa kepada Allahnya berhubung dia merasa mentalnya sangat lemah, dan karena itu dia memohon kepada Allahnya kekuatan dan ketegaran. Alhasil, lewat iman dan doanya, dia bisa mengalami penguatan mental, bisa tenang kembali, sehingga pikirannya mulai terbuka kembali, dan akibatnya dia bisa bekerja kembali seperti sebelumnya. Jika iman bekerja seperti ini dan menghasilkan hal-hal yang membangun dan mendewasakan, tentu saja ini adalah iman yang baik dan membangun, dan karenanya perlu dijaga untuk tetap dimilikinya, lepas dari ihwal apakah imannya lebih banyak berisi fiksi atau lebih banyak berisi fakta. Saya mau tegaskan: kekuatan agama memang di situ, membawa orang ke dalam dunia fiksi yang bisa menghibur dan menguatkannya!

Tetapi, jangan pula disangkal bahwa iman atau kepercayaan keagamaan juga bisa menghancurkan kehidupan seseorang, bahkan kehidupan orang lain dan masyarakat secara keseluruhan, jika iman atau kepercayaan seseorang  mendorongnya melakukan hal-hal yang destruktif, atau membuatnya tak lagi bisa memiliki akal sehat dan kesadaran kritis yang tetap terjaga. Watak iman yang berbahaya dan destruktif semacam ini kita dapat lihat bekerja setiap hari dalam kehidupan banyak orang di sekitar kita, mulai dari diri seorang bunda yang lugu namun sangat percaya pada gerejanya yang mengajarkan dengan kuat (ajaran yang tidak ilmiah) bahwa semua penyakit timbul karena gangguan roh-roh jahat, sampai pada banyak orang muda yang memutuskan untuk menjadi teroris atas nama Allah mereka!

Dalam pengalaman saya, kepercayaan bahwa seseorang itu kerasukan roh jahat atau bahwa seseorang itu “dikirimi roh jahat dari jauh ke dalam tubuhnya” oleh seorang praktisi black magic, atau bahwa seseorang itu terkena teluh jahat yang membuatnya sangat menderita atau mengalami banyak keburukan, umumnya membuat si korban dan keluarganya tidak mau lagi mencari penyebab-penyebab objektif dari berbagai kondisi buruk yang sedang dialaminya. Akibatnya, akar-akar masalah yang menimbulkan penderitaan dan keadaan-keadaan yang buruk, yang sangat real dan bisa ditemukan dan bisa ditangani dengan baik, tidak dicari dan tidak dicoba ditemukan. 

Ketimbang dengan cermat memeriksa ke dalam diri sendiri (dan ke dalam kehidupan rumahtangga sendiri, atau ke dalam lingkungan kehidupannya yang lebih luas), orang yang mengasalkan masalah dan penderitaannya pada pekerjaan Setan atau roh-roh jahat atau pada santet dan teluh sangat kuat terdorong untuk mencari kambing hitam dalam diri orang-orang lain di sekitarnya, yang dituduhnya dengan berbagai macam tuduhan yang tidak rasional dan menyakitkan hati. Tuduhan-tuduhan ini berdampak buruk kepada dirinya sendiri, karena makin menjauhkannya dari realitas, makin memblokir kesadaran kritisnya dan akhirnya mematikan kesadarannya sama sekali. Jika masyarakat tempat tinggal si sakit juga tidak kritis, dan percaya saja pada semua tuduhan si sakit (dan anggota-anggota keluarganya), maka orang-orang yang menjadi kambing hitam ini akan dibunuh ramai-ramai oleh seluruh anggota masyarakat. Wuiiih... mengerikan! Dan di Indonesia, lebih menyedihkan dan menakutkan lagi adalah fakta bahwa para pelaku pembunuhan jenis ini, bisa dibiarkan tetap hidup bebas selamanya, tanpa terkena jerat hukum!

Dengan adanya kejadian-kejadian semacam itu dalam masyarakat, orang yang mempunyai kepekaan sosiologis tentu saja akan menempatkan kasus-kasus kerasukan Setan dan eksorsisme dalam perspektif sosiologis dan menganalisisnya secara sosiologis, seperti sudah saya perlihatkan di tempat lain./3/ Jika dianalisis secara sosiologis, akan dapat terlihat bahwa peperangan rohani melawan Setan yang diklaim merasuk ke dalam diri manusia adalah sebuah sisi dari sekeping koin; sedangkan, pada sisi lainnya dari koin yang sama, peperangan ini sebetulnya adalah peperangan jasmaniah atau pertempuran politis melawan orang-orang yang tidak disenangi atau yang dianggap sebagai musuh dan pengacau, yang distigmatisasi sebagai Setan atau sedang dirasuk Setan atau sebagai antek-antek Setan

Jika kaum agamawan memang benar berkaitan dengan kepercayaan mereka bahwa orang bisa dirasuk Setan, dan Setan yang merasuknya bermaksud menghancurkan kehidupan si korban, muncul sebuah pertanyaan besar dalam diri saya yang mereka harus jawab. Jika Setan memang ada (bukan hanya dipercaya ada, tetapi betulan ada di dunia tak kasat mata), dan semua kegiatan Setan bertujuan untuk membinasakan kehidupan manusia bahkan menghancurkan planet Bumi, mengapa sang Setan ini tidak merasuki saja para pemimpin politik besar dunia ini, merasuk dan merusak pikiran mereka semua sehingga tidak terkendali lagi, lalu, dalam kondisi pikiran yang tak terkontrol ini, mereka mengambil keputusan-keputusan berbahaya dan melakukan berbagai kegiatan nekat yang akan membawa dunia ini ke dalam kebinasaan total, misalnya lewat Perang Dunia Ketiga, perang yang akan tidak konvensional lagi, tetapi memakai senjata-senjata pemusnah massal nuklir, kimiawi dan biologis? Mengapa Setan begitu bodoh, menunda-nunda waktu sedemikian lama, dengan hanya merasuk orang-orang kecil yang tak beken dan tak powerful, orang-orang kecil yang memang sudah punya segudang masalah kejiwaan yang berat?

Begitu juga, jika kaum agamawan benar bahwa Allah, sebagai sang penguasa kebaikan, betulan ada di dalam dunia yang tak kasat mata, bukan hanya ada dalam dunia iman keagamaan, dan Allah ini menginginkan semua penduduk dunia (kini sudah tujuh milyar kepala!) hidup berbahagia, tenteram, damai dan makmur selamanya, maka pertanyaan yang serupa juga muncul: Mengapa sang Allah mahabaik dan mahakasih ini tidak segera saja merasuki dan menguasai tubuh, perasaan dan pikiran semua manusia, tanpa pilih bulu, sehingga semua manusia bekerja dan berjuang hanya untuk kebaikan, perdamaian dan kesejahteraan semua manusia dan segala makhluk, dan meninggalkan sama sekali berbagai tindak kejahatan yang mereka pernah lakukan sebelumnya? Mengapa Allah yang mahabaik dan mahakasih ini menunda-nunda pencapaian tujuannya itu begitu lama, sudah 4,5 milyar tahun jika dilihat dari usia planet Bumi,/4/ sehingga penderitaan, sakit-penyakit dan kemiskinan terus saja menemani dengan setia umat manusia penghuni planet ini? Jika para rohaniwan menyatakan, bahwa Allah tidak mungkin melakukan hal yang saya minta itu karena Allah telah memberi manusia kehendak bebas, maka pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: Jika memang manusia memiliki kehendak bebas, maka apa perlunya lagi orang harus percaya pada keberadaan Allah?

Sementara saya menunggu jawaban-jawaban para agamawan dan para rohaniwan atas pertanyaan-pertanyaan saya di atas, dan siap berbantahan dengan mereka di sekitar teodise (doktrin tentang keadilan Allah), saya sekarang sungguh-sungguh bisa mengucap syukur berhubung saya melihat dengan hati yang riang dan hangat, bahwa ada sangat banyak manusia lebih memilih menggantungkan keselamatan semua manusia dan planet Bumi ini bukan pada makhluk-makhluk adikodrati yang tak pernah terbukti ada secara saintifik, tetapi pada usaha-usaha kongkret dan real mereka dalam dunia ini dan sekarang ini, untuk melenyapkan berbagai bentuk penderitaan manusia!  

oleh ioanes rakhmat       

Baca juga:  
Eksorsisme dan demonisasi lawan sebagai strategi pertahanan diri

Catatan-catatan:

/1/ Agama sipil (civil religion) pertama kali dibicarakan panjang lebar oleh Jean-Jacques Rousseau dalam risalahnya yang berjudul The Social Contract (1762), bab 8, buku 4; baginya, agama sipil berfungsi sebagai “suatu fondasi moral dan spiritual yang esensial untuk setiap masyarakat modern”, yang menjadi semacam perekat sosial yang mempersatukan negara lewat pemberian otoritas suci kepada negara. Dalam konteks modern Amerika Serikat, tema agama sipil dibicarakan dengan meluas terutama karena pandangan-pandangan yang dikemukakan Robert N. Bellah dan Martin E. Marty, yang mengkaji agama sipil sebagai sebuah fenomenon kultural atau sebuah fenomenon antropologi kultural. 

Dalam pandangan Marty, orang Amerika mendukung “semua agama pada umumnya” tanpa secara khusus mempersoalkan isi kepercayaan yang dipertahankan agama-agama ini; tetapi dalam praktek berbangsa dan bernegara, orang Amerika sebetulnya merangkul agama sipil (civil religion, atau civic religion) yang menjalankan dua peran utama, yakni peran imamat dan peran kenabian, yang membentuk apa yang disebutnya “teologi publik” (Martin E. Marty, Religion and Republic: The American Circumstance, 1989, hlm. 295). 


Mendahului Marty, Robert N. Bellah memahami agama sipil, dalam fungsi imamatnya, sebagai “sekumpulan terlembaga kepercayaan-kepercayaan suci mengenai Amerika”, dan dalam fungsi profetiknya agama sipil menantang “penyembahan terhadap bangsa sendiri” dan menghendaki “bangsa ini ditempatkan di bawah prinsip-prinsip etis yang mentransendirnya, dan berdasarkan prinsip-prinsip ini bangsa ini harus dinilai.” Menurut Bellah, ada tiga peristiwa besar yang menentukan, yang berpengaruh secara fundamental terhadap isi dan citra agama sipil Amerika, yakni Revolusi Amerika, Perang Saudara, dan Gerakan Hak-hak Sipil. Lihat artikel Bellah, “Civil Religion in America” dalam Daedalus, Journal of the American Academy of Arts and Sciences (Winter 1967; vol. 96, no. 1, hlm. 1-21). 


Dalam agama sipil Amerika, George Washington diperlakukan sebagai semacam imam besar; dokumen-dokumen yang disusun para bapak pendiri negara Amerika sebagai teks-teks suci; bendera Amerika sebagai sebuah totem terpenting dalam kultus nasional; patriotisme dan nasionalisme diekspresikan lewat ritual-ritual suci. Pada pidatonya yang disampaikan di hadapan Young Men's Lyceum Springfield, Illinois, 27 Januari 1838, Abraham Lincoln menyatakan bahwa UUD dan semua hukum Amerika Serikat harus menjadi “agama politik” setiap orang Amerika. Dari Perang Saudara yang pernah berkobar, bangsa Amerika dapat menarik pesan-pesan tentang kematian, pengurbanan dan kelahiran kembali, sebagaimana diekspresikan lewat ritual-ritual suci Hari-hari Peringatan. 

Sejajar dengan ide tentang agama sipil, Robert N. Bellah belakangan ini juga melihat kemungkinan untuk menjadikan agama betul-betul agama alamiah, yang sama sekali tidak memerlukan ide tentang dunia adikodrati, yang disebutnya “naturalisme religius” ; lihat bukunya, Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age (Cambridge, Massachusetts/London, England: The Belknap Press of Harvard University Press, 2011) hlm. 97-104. Ringkasan buku tebal ini (746 hlm.) telah saya usahakan, terpasang di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/08/kelahiran-agama-menurut-robert-n-bellah.html.  

/2/ Lebih jauh, lihat tulisan yang sudah saya buat, yang dengan detail dan panjang membahas berbagai pengalaman spiritual sebagai pengalaman-pengalaman neurologis, bukan pengalaman-pengalaman yang terkait dengan dunia adikodrati yang tak kasat mata, di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.

/3/ Lihat tulisan saya, yang berjudul “Eksorsisme dan Demonisasi Lawan sebagai Strategi Pertahanan Diri”, yang terpasang online di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/02/eksorsisme-dan-demonisasi-lawan-sebagai.html.

/4/ Sementara usia planet Bumi 4,5 milyar tahun, spesies homo sapiens, sebagaimana ditunjukkan oleh bukti-bukti arkeologis, baru muncul 300.000 tahun lalu di Afrika. Lihat L. Vigilant et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, dalam Science 253, no. 5027 [1991], hlm. 1503-1507.