Saturday, July 9, 2022

MEREKA, LEGION, MENGANCAM-ANCAM AKU !!

 


Pertama-tama, pandanglah meme yang terpasang di atas. Tertulis di situ kata-kata penyanyi besar Elvis Presley. Kata-kata yang mengharukan. Seolah Elvis masih hidup di antara kita. Saya terjemahkan:

Semoga anda dapat mengikuti
Mimpi-mimpi anda
Dan selalu percaya pada diri anda sendiri

Tetaplah menatap bintang-bintang
Allah dan pengharapan
Ada dalam hatimu

Ada satu lagu Elvis Presley yang menjadi salah satu lagu favorit saya, judulnya Where No One Stands Alone. Lagu ini direkam 25 Mei 1966. Lirik dan musik karya Mosie Lister.

Saya terjemahkan bagian-bagian tertentu liriknya. Berikut ini.

Suatu ketika aku berdiri
di malam hari
Dengan kepalaku tertunduk dalam-dalam
Di dalam kegelapan yang paling gelap
Dan hatiku merasa sendirian

Dan aku berseru oh Tuhan
Jangan sembunyikan
Wajahmu dari aku...
Pegang tanganku sepanjang jalan
Setiap jam
Setiap hari

Dari sini
Ke sang Misteri Besar
Raih tanganku
Biarlah aku berdiri
Di mana tak ada seorangpun
Yang berdiri sendirian

Saya terpesona sekaligus sedang dikuatkan oleh lagu Elvis Presley tersebut. Perasaan Elvis mungkin sekali perasaan saya juga.

Jika Tuhan Yesus dirasakan tidak hadir, Dia hadir dalam ketidakhadiran-Nya, presence in absence. Wajah Yesus tidak pernah tersembunyi atau disembunyikan oleh-Nya, karena wajah dan kehadiran-Nya ada di mana-mana, bahkan di dalam ketidakhadiran.

Tuhan oleh Elvis dilihat sebagai Sang Misteri Besar, “the Great Unknown”. Albert Einstein memahami Tuhan sebagai “too large a Mystery”, sang Misteri yang terlalu besar untuk dapat dipahami manusia, atau sebagai “too large a Dimension”, suatu Dimensi yang terlalu besar untuk dapat dipersepsi manusia.

Rudolf Otto memakai ungkapan (versi Latin) “Mysterium tremendum et fascinans” dalam menyebut Tuhan, yakni Misteri yang dahsyat menggentarkan sekaligus memukau dan penuh belaskasihan.

Saya memandang Tuhan sebagai “the Endless Unknown”, sang Misteri Abadi, juga sebagai “sang Maha-Langit”, “the Almighty omni-Sky”. Kepada-Nya saya menyerahkan diri sepenuhnya, dan bersama-Nya saya, jati diri sejati saya, masuk ke infinity and eternity, here and now, beyond human scientific understandings and perceptions. This is a deeply personal experience that makes you humble.

Baiklah, sekarang saya mau melanjutkan kisah-kisah saya tentang Legion.

Kali ini, tentang ancaman-ancaman yang sejauh ini ditujukan ke saya oleh roh-roh najis Legion. Oh ya, sebelumnya, sudah saya tulis terkait hal-hal lain yang menyangkut Legion dan saya, di sini, di sini, dan di sini. Bacalah, jika belum. 

Saya segera mulai berkisah tentang ancaman-ancaman yang paling mutakhir, lalu ke belakang. Akan saya sebutkan bentuk-bentuk ancaman yang saya telah terima, dan pesan-pesan yang disampaikan ke saya yang dapat saya tangkap. 

1. Ancaman lewat tikus yang dibunuh

Rabu, 6 Juli 2022, pagi hari di saat saya baru ke luar rumah, untuk berolah raga jalan kaki, saya berdiri di halaman luar di depan pintu kecil dari pintu dorong teralis rumah kami.

Dengan posisi tubuh menghadap ke rumah saya, segera saya menengadah ke atas. Lalu dengan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah tapak tangan yang tertangkup, saya memberi hormat pada sang Matahari yang cerah bercahaya jauh di atas kepala saya, seraya dalam hati saya berdoa.

Bagi saya, sang Matahari adalah objek metaforis yang membawa alam mental saya ke Yesus Kristus, sang Sol Invictus, sang Mentari yang tak terkalahkan, sang Terang Dunia.

Setelah itu, saya berdiri menghadap ke jalan raya, bersiap mau berdoa dengan wajah menatap ke langit, meminta perlindungan Tuhan Maha-Langit. Ketika itulah saya melihat seekor bangkai tikus yang masih segar tergeletak persis di tengah jalan raya di depan rumah kami.

Bersamaan dengan itu, seorang perempuan yang sudah tidak muda lagi dan sangat ceriwis, dengan suara yang tampak sengaja dikencangkan, menyebut-nyebut nama sebuah tempat di luar Jakarta. Saat itu, dia sedang merumpi bersama seorang nenek lain yang sudah lansia betul (usia 80-an), yang duduk di sebuah kursi roda, di pinggir seberang jalan tetangga kanan kami.

Tempat yang disebut-sebut si perempuan tua ceriwis itu, sementara ini, dalam bulan Juli 2022, memang ada kaitannya dengan kami, karena akan kami kunjungi untuk berlibur mencari ketenangan dan keheningan. Rencana ini beberapa kali kami bicarakan internal di dalam rumah kami sendiri.

Sesudah menyebut-nyebut nama tempat itu, si perempuan pengerumpi tua itu segera bergegas menyeberang jalan, lalu masuk ke dalam rumahnya, rumah tetangga kedua di sebelah kanan rumah kami. Nenek satunya lagi, yang berkursi roda itu, berdiam persis di sebelah kanan rumah kami.

Oh ya, dua tetangga sebelah kanan rumah kami ini adalah antek-antek Legion. Salah satunya, yang persis bersebelahan dengan rumah kami, baru tinggal beberapa bulan di situ, sebagai rumah kontrakan. Si pengontrak sekeluarga datang membawa misi Legion, misi kegaduhan dan perusakan, pengupingan dan kemakelaran.

Bagaimanapun juga, saya menangkap asosiasi antara penyebutan nama tempat di luar Jakarta itu dan bangkai segar seekor tikus itu. Dua isyarat ancaman yang sengaja disampaikan ke saya. Ancaman pembunuhan, seperti mereka membunuh seekor tikus.

Kami sudah lama tahu, hal apapun yang kami bicarakan internal dalam rumah kami, akan segera sampai ke telinga para insan demonik Legion.

Ya tentu, saya tahu, ada seorang lelaki yang salah satu pekerjaannya adalah menguping. Bisa dengan kuping biologis, bisa juga dengan kuping elektronik. Mungkin si penguping itu diam di atas genteng rumah kami, atau, lebih mungkin, di bawah tanah.

Sepasang kupingnya pastilah selebar kuping-kuping si Bona, anak gajah cebol berkuping lebar, yang, dalam dunia dongeng anak-anak, bisa terbang dengan mengepak-ngepakkan sepasang telinga lebarnya. 

Si pria Bona ini juga memiliki suatu instrumen elektronik untuk menimbulkan suara keras klotak klotak dalam ruang refrigerator lemari es di ruang makan dan dapur di rumah kami.

Well, ketika sudah satu putaran penuh jalan kaki di pagi hari itu, dan ketika saya melewati rumah kami, bangkai segar tikus itu sudah tidak ada.

Tetapi, di pinggir jalan seberang rumah kami, ada seorang pekerja kebersihan lingkungan (berseragam biru) yang sedang nongkrong, menunggu saya lewat dan mau melihat reaksi saya terhadap bangkai segar tikus itu yang sudah tidak ada di tempatnya semula.

Ya, di depan matanya, tangan kanan saya menunjuk ke tempat yang sebelumnya tergeletak bangkai tikus itu, seraya mulut saya bersuara cut cuut cuut cuut, menirukan suara seekor tikus, sambil tangan kanan saya menirukan gerak lari seekor tikus. Jelas tahulah dia, bahwa saya sebelumnya telah melihat bangkai segar tikus itu.

Ini kata seorang teman, dekat rumah: Hanya orang yang volume otaknya sama dengan volume otak seekor tikus got, akan sanggup menaruh dengan sengaja bangkai segar seekor tikus got di tengah jalan raya.

Setelah menyelesaikan 4 putaran jalan kaki di pagi hari itu, segera saya ambil sekaleng kecil cat hitam yang ada di dalam rumah kami. Lalu saya membuat lingkaran hitam di tempat bekas tikus mati itu tadi diletakkan, dan di dalam lingkaran itu saya tulis dua kata: Tikus Mati.

Lalu, saya membuat tiga video yang terfokus pada lingkaran hitam itu dan meluas ke lingkungan dekat sekitarnya.

Tiga video itu saya mulai dengan lingkaran hitam kecil di pelataran semen di depan luar kiri rumah kami, berbatasan dengan halaman luar depan rumah di sebelah kiri rumah kami.

Lingkaran hitam kecil ini saya buat dengan cat hitam yang sama pada Minggu, 3 Juli 2022. Itu adalah penanda bahwa telah diletakkan di situ setumpuk taik anjing. Dalam lingkaran hitam kecil itu saya tulis kata-kata Taik Anjing, dan membuat gambar-gambar hitam bulat dan bulat panjang taik anjing.

Tumpukan taik anjing itu tidak terlihat dari atas karena tersembunyi di bawah juluran dan rebahan rerumputan lebat dan panjang (sampai 40 cm, bahkan 50 cm) dari tanah halaman luar rumah tetangga sebelah kiri kami yang sudah sangat lama kosong dan tak terurus.

Ketika saya mau mencabuti rerumputan yang terjulur masuk ke halaman depan rumah kami itu, saya, sebagaimana lazimnya, memeriksa dulu, apakah ada sesuatu di bawahnya.

Nah, saya langsung menemukan setumpuk taik anjing yang disembunyikan itu. Saya sama sekali tidak menginjaknya. Menurut pepatah orang di zaman kuno, hanya anjing yang bisa menyembunyikan taik anjing.

Tiga video tersebut, bersama catatan saya satu paragraf, sudah saya kirim ke Ketua Rukun Tetangga kami (RT 11) lewat WA untuk dia mau peduli (??!!), dan saya sudah pasang juga pada suatu album dalam Galeri HP saya. Dalam video itu, saya mengatakan Ok, it is a total war, karena Legion telah mengancamkan kematian kepada kami.

2. Ancaman lewat rekayasa korsleting arus listrik

Pada 25 Juni 2022, di saat saya sedang mau melintasi rumah kami ketika sedang olah raga jalan kaki di pagi hari, saya melihat dua pria pengemudi motor turun dari motor masing-masing.

Masing-masing lelaki itu membawa sebuah kandang kawat binatang pengerat. Lalu, keduanya masuk ke sebuah rumah besar, sangat dekat rumah kami, sebelah kiri rumah kami. Rumah ini juga didiami antek Legion.

Di saat melihat itu, saya naluriah bertanya dalam hati, apa tujuan dua pria itu membawa dua kandang binatang pengerat. Dalam hati juga, saya bertanya kepada Tuhan Yesus: Akan ada kejadian apa lagi, ya Tuhanku?

Tuhan Yesus memberi saya suatu jawaban.

Sekitar jam 10 malam hari, tanggal 27 Juni 2022, ketika saya dan isteri sedang berbaring di ranjang dalam kamar tidur kami, saya melihat seekor tikus rumah kecil berjalan di bagian atas tepi plafon bawah gipsum kecil dan sempit yang mengitari kamar tidur kami. Di atas plafon gipsum kecil ini, ada plafon gipsum atas yang lebar di atas seluruh ruang kamar tidur kami.

Saya sangat kuat terdorong untuk melihat bagian dalam yang membentuk bak dari plafon yang pinggirannya baru saja dilintasi tikus rumah tersebut.

Mendengar suara gerakan tubuh saya, tikus itu segera lenyap, masuk ke dalam celah sempit yang ada antara plafon kecil tersebut dan tutup penyekat dinding kamar, satu meter dari tempat kemunculannya tadi. Tapi, segera disusul kemunculan seekor tikus rumah lain yang ukuran tubuhnya sedikit lebih besar, yang begitu terlihat, langsung lenyap, surut kembali.

Dengan berdiri pada bagian atas yang datar dari tangga lipat aluminium ukuran kecil-sedang yang sudah saya bentangkan (membentuk huruf kapital A, dengan puncaknya datar), saya melongok ke bagian bak sebelah dalam plafon gipsum kecil itu.

Pada bagian dalam bak plafon ini melintas 2 meter pipa tembaga yang sudah terinsulasi dari sebuah AC Split yang terpasang di kamar tidur kami. Selain itu, pada dasar bak plafon kecil itu tergeletak kabel-kabel listrik berinsulasi karet warna putih untuk memberi enerji listrik pada sekian bohlam lampu hemat enerji yang menerangi kamar tidur kami di malam hari.

Pipa tembaga AC ini, bersama kabel listrik yang dilapisi karet warna putih, dibalut karet busa (sponge) seluruhnya, lalu dibalut lagi dengan insulasi tipis warna coklat muda, sebagaimana lazimnya.

Apakah yang saya temukan ketika saya melihat bagian dalam bak plafon kecil tersebut?

Pada pipa tembaga yang terinsulasi itu, saya menemukan bekas gigitan tikus di tiga tempat. Salah satunya, lihat foto di bawah ini.

Ya, jelaslah, selama dua hari sejak saya melihat dua lelaki pembawa dua kandang binatang pengerat itu, dua ekor tikus rumah yang (pastilah) terlatih telah, dalam dua malam, menggigiti tiga bagian pipa tembaga AC yang terinsulasi tersebut.


Minggu sebelumnya, ketika saya mau mengganti sebuah bohlam lampu hemat enerji yang sudah tak bisa bernyala lagi, saya melihat insulasi pipa tembaga AC tersebut masih bagus seluruhnya. Belum pernah ada kejadian, insulasi pipa tembaga AC digigiti dan dimakan tikus-tikus rumah selama dua puluh tahun lebih kami mendiami rumah kami ini.

Jika kabel listrik di dalam insulasi tersebut juga sudah digigiti, maka korsleting arus listrik pasti akan terjadi. Dan.... korsleting ini akan dapat membakar rumah kami jika tidak segera teratasi. Itulah tujuan durjana dan barbar insan-insan Legion.

Ketahuilah, hai Legion, Tuhan Yesus berkuasa jauh di atas kalian, sekalipun kalian memandang diri dengan jumawa sebagai raja-raja tanpa mahkota di Indonesia ini.

Malam itu juga, atas petunjuk puteri kami, di bawah lintasan pipa tembaga terinsulasi AC tersebut saya letakkan dua lembaran karton tebal (tebal 0,5 cm, yang saya ambil dari dua cover kalender meja) yang di atasnya saya sudah borehi pasta atau jeli lem tikus tube merk Gajah. Lem tikus ini sangat lengket dan tak berbau, meski sudah sangat lama, mungkin sudah 2 tahun lebih, ada di rumah kami, dan tidak pernah dipakai.

Sampai jam dua lewat tengah malam, saya menunggu dua ekor tikus rumah yang terlatih tersebut muncul lagi, dan berharap keduanya tertangkap lewat dua lembaran karton tebal lem tikus yang sudah terpasang.

Tapi,... kedua ekor tikus rumah tersebut tidak kunjung muncul lagi. Mungkin keduanya sudah dipanggil oleh para pelatih masing-masing, lalu balik ke kandang masing-masing. Mereka pasti tahu, karena kami di rumah cukup seru membicarakan tikus-tikus tersebut.

Si lelaki penguping yang sudah saya sebut di atas, mungkin sekali sudah meneruskan (sebagai informan) info tentang karton-karton tebal lem tikus yang sudah saya geletakkan di dua tempat di dasar bak plafon kecil tersebut.



Dua ekor tikus rumah terlatih? Ya, setelah saya cari info di Internet, tahulah saya bahwa karet busa dan karet pembalut kabel listrik bukanlah makanan alamiah tikus rumah atau tikus got apapun.

Hanya dengan dilatih dan dikondisikan, tikus-tikus rumah baru akan menggigit, dan memakan sebagian, karet busa insulasi pipa tembaga AC dan karet insulasi kabel listrik dalam rumah. Hal ini perlu kita semua ketahui. Ada banyak bisnis melatih tikus-tikus rumah untuk menggigit dan memakan benda-benda yang bukan objek gigitan dan makanan alamiah tikus-tikus rumah.

Saya cuma perlu melakukan suatu observasi sangat simpel dan kecil. Dibandingkan remah-remah bekas gigitan karet busa yang tertinggal dan terserak di dasar bak plafon, volume lubang-lubang karet busa yang dihasilkan dari gigitan dua ekor tikus rumah tersebut jauh lebih besar.

Keesokan harinya, setelah menyelesaikan olah raga jalan kaki di pagi hari, saya pergi jalan kaki ke sebuah toko bahan bangunan untuk membeli dua tube lem tikus lagi. Tersedia di situ lem tikus tube merk Fox.

Di saat saya bertanya ke pemilik toko tersebut, lalu membeli dua tube lem tikus Fox, ada seorang anak muda yang pasang kuping mendengarkan pembicaraan kami. Sudah beberapa kali hal itu terjadi sebelum-sebelumnya pada waktu saya berbelanja di toko-toko bahan bangunan manapun. Baru belakangan saya menyadari, selalu ada orang ketiga yang menguping.

Biarlah, supaya mereka kali ini tahu bahwa tikus-tikus peliharaan yang mereka telah latih, akan saya jadikan sate setelah tertangkap lewat lem sangat lengket penangkap tikus-tikus rumah terlatih perusak. Sekarang, karton tebal segi empat lem tikus sudah saya pasang di banyak tempat. Sate-sate tikus rumah nanti akan saya berikan ke anjing-anjing, dengan taik anjing sebagai bumbunya.

Oh ya, usaha membakar rumah kami lewat rekayasa korsleting listrik yang sudah saya beberkan di atas, bukanlah usaha yang pertama. Dalam tulisan saya sebelumnya, sudah saya kisahkan usaha-usaha serupa, tapi berbeda metode, yang dilakukan manusia-manusia demonik Legion.

Berhubung tangga lipat aluminium yang ada di rumah kami berukuran kecil-sedang, kami sudah memesan lewat sebuah toko belanja online sebuah tangga aluminium lipat (tinggi 2 meter) yang dapat diluruskan (tinggi menjadi 4 meter).

Yaaahh...., ketika sudah sampai di rumah kami, lalu saya periksa dengan teliti, saya temukan dua bekas gegepan (gigitan tang) baru pada salah satu sisi batang tegak tangga aluminium baru itu di bagian atas. Lewat dua gegepan tersebut, bagian batang aluminium di antara dua bekas gegepan itu dibuat melengkung. Kini sedang ditangani pihak toko belanja online tersebut.




Pastilah, pihak penjual online tersebut sudah mengasuransikan tangga lipat-lurus aluminium itu. Uang pengganti, pasti dijamin tersedia.

Yang tak tersedia adalah otak yang sehat dari para pelaku perusakan tangga aluminium baru itu. Tubuh boleh sehat dan kekar lewat makan gembul dan latihan membangun otot-otot tubuh. Tetapi jika otak sakit, alhasil pikiran jadi sakit, orang yang bertubuh sehat sempurna adalah orang sakit, sesakit-sakitnya.

3. Ancaman lewat bau hangus kayu dibakar

Sudah lama, selalu ada hembusan angin berbau sangit kayu yang hangus dibakar, yang masuk ke rumah kami, baik dari pintu di bawah, maupun dari pintu lantai dua rumah kami, tempat kamar tidur kami. Hembusan angin berbau hangus ini datang persis dari rumah antek Legion di seberang rumah kami.

Tindakan jahat tak waras itu mungkin sekali dilakukan sang Setan Bayu, the Wind Satan, yang bermukim di seberang rumah kami, yang suka bersiul menghembuskan bau busuk dari dalam mulutnya.

Bahwa hembusan angin berbau sangit kayu hangus yang dibakar adalah suatu bentuk ancaman Legion bahwa rumah kami mereka mau bakar, terkonfirmasi oleh dua kejadian.

Kejadian pertama: Di suatu malam, beberapa bulan lalu, melintaslah sebanyak dua kali di jalan raya depan rumah kami sebuah mobil bersirene mobil pemadam kebakaran. Suara sirene yang sangat kencang. Di putaran yang kedua itu, mobil bersirene mobil pemadam kebakaran itu malah berhenti selama 5 menit di jalan di depan rumah kami. Di hari yang sudah gelap loh. Saya diamkan saja, tak ambil pusing. Karena tindakan itu tindakan orang yang sedang mengalami gangguan, yaaa.... gangguan abdomen dan gangguan parkinson.

Nah, pada putaran yang kedua, ketika kembali melintasi rumah kami, mobil gila itu berhenti sekitar lima menit di depan rumah kami. Selain terdengar suara sirene yang sangat memekakkan telinga, dihembuskan juga dari mobil gila itu bau sangit kayu yang hangus terbakar. Ini konfirmasi pertama.

Konfirmasi kedua berlangsung belum lama ini.

Ketika saya di suatu pagi hari sedang akan melintasi suatu jalan tertentu --- kelanjutan dari jalan pintu masuk/keluar yang membentuk sebuah bukit, yang di puncaknya berdiri sebuah pos penjagaan yang berwarna hijau semarak --- tiba-tiba terdengar kencang suara sirene sebuah mobil pemadam kebakaran, memasuki jalan itu yang biasa saya lewati.

Jalan itu segera dijaga oleh seorang pekerja keamanan komplek perumahan kami (komplek Janur/Pelepah Asri). Orang dan kendaraan lain tak boleh masuk. Air dibuat menggenangi aspal jalanan sepanjang 200 hingga 300 meter. Jalan menjadi licin. Orang bisa terjungkal jika terpeleset. Termasuk saya yang sudah berusia jalan 64 tahun, dan bertubuh kurus.

Melihat jalan itu dijaga, saya malah didorong Tuhan Yesus untuk memasukinya. Dorongan ini suatu intuisi yang real, yang saya percayai sebagai bimbingan Tuhan. Hal seperti ini --- sudah cukup sering saya katakan --- kerap terjadi dalam batin saya. Dorongan Roh Tuhan. I am a frail elderly man of the powerful Spirit of God.

Saya masuki dan telusuri jalan licin itu dengan tenang dan hati-hati, sampai saya tiba di tempat mobil pemadam kebakaran itu diparkir di kanan jalan. Mesinnya tak nyala. Mati.

Nah, ada selang sangat besar berbahan plastik kuning dari mobil pemadam kebakaran itu yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah rumah di kiri jalan. Tapi tidak terlihat kepanikan sekecil apapun. Semuanya tenang saja. Tidak ada aktivitas sigap para petugas pemadam kebakaran. Malah ada satu atau dua petugas berseragam resmi Polisi berdiri, menunggui mobil pemadam kebakaran tersebut.

Saya lewati saja mobil pemadam kebakaran itu dengan rileks sambil memandang tajam petugas-petugas berseragam yang sedang menjaga mobil pemadam kebakaran itu. Saya tahu apa reaksi mereka, yang terlihat pada wajah mereka. Sedikitpun tak ada rasa takut muncul di hati saya, terhadap apapun di saat itu. Yuuup, dalam hati, saya memanggil nama Tuhan Yesus.

Saya melintasi saja semua adegan itu, melanjutkan olah raga jalan kaki pagi hari saya. Saya tinggalkan semua adegan itu, moving forward. I don't care for your insanity! Because I am still fully sane! Kalau kalian sudah tak waras, ya tak waraslah sendirian. Saya tak mau ikut-ikutan tak waras. Saya masih waras penuh.

Setengah jam kemudian, ketika melintasi kembali jalan licin itu, semua adegan tadi sudah tidak ada lagi samasekali. Suasana sepi-sepi saja. Tenang-tenang saja. Mobil pemadam kebakarannya juga sudah lenyap. Tadi, di saat baru mau memasuki kembali jalan licin itu, seorang warga saya dengar ngedumel, “Kok kebakaran melulu!” Saya bisa menduga, apa yang ada dalam benak warga itu. Hendaklah ada kalangan yang merasa malu pada seorang warga yang ngedumel itu.

Itulah konfirmasi kedua bahwa ada ancaman dan usaha berulangkali untuk menakut-nakuti saya bahwa rumah kami akan mereka bakar.

4. Ancaman lewat suara gaduh alat-alat tukang bangunan

Nah, ada hal lain terkait rumah persis di seberang rumah kami tersebut.

Selain menjadi sumber hembusan angin berbau hangus kayu yang dibakar ke arah rumah kami, di rumah antek Legion ini sering sekali dibuat kegaduhan dari berbagai benda yang dipukul-pukul dengan besi, juga dari mesin bor dan mesin gerinda yang dibunyikan sangat kencang.

Kegaduhan mereka buat sebagai peringatan kepada saya terkait banyak hal. Saya sendiri berpikir, apa hubungan mereka dengan saya yang berada dalam rumah saya sendiri. Apa urusan mereka? Mengapa Legion itu sangat ketakutan sampai membuat suara-suara gaduh sebagai peringatan kepada saya? Mengapa mereka harus mengatur-ngatur kehidupan saya, sementara saya ini bukan seorang budak mereka, dan mereka juga bukan anggota keluarga saya?

Benarlah pepatah ini bahwa orang bersikap berani karena mereka berada di jalan yang benar dan hidup suci. Orang disengat rasa takut yang besar karena mereka bersalah dan hidup kotor dan menjijikkan.

Nah, ada kegaduhan yang khas yang selalu antek-antek Legion di seberang rumah saya timbulkan jika saya sedang aktif menulis dengan menggunakan dua smartphones saya.

Pastilah, ada jejaring IT/WiFi internal mereka di sekeliling rumah kami, yang membuat para antek Legion di seberang rumah kami itu selalu tahu aktivitas-aktivitas digital saya di dua HP saya, di siang hari dan juga di malam hari.

Saya sedang mencari info bagaimana jejaring IT/WiFi Legion di sekitar rumah kami itu dapat di-deaktivasi selamanya. Belum saya ketahui hingga saat ini. Pasti Tuhan Yesus akan menolong saya.

Cara yang paling sederhana adalah toggle WiFi di smartphone, saya nonaktifkan dulu, setelah itu baru menulis.

Mengaktifkan VPN tidak mau saya lakukan, sebab lewat VPN inilah --- yang dijalankan dengan tidak jujur oleh suatu perusahaan penyedia perangkat lunak app antivirus (karena mereka dibayar kalangan lain) --- beberapa waktu yang lalu orang yang berdomisili di Amerika Serikat dapat mengakses HP saya dan mengubek-ngubeknya (lewat jalur masuk IP yang bukan IP saya yang sebenarnya di Indonesia). Semoga dalam hal ini saya benar.

App antivirus itu, yang perusahaannya tampak bermurahhati kepada saya (lewat pemberitahuan “We have got you covered!”), sudah saya copot dari dua smartphones saya.

Nah, kegaduhan khas yang bagaimana yang dibuat di rumah di seberang rumah kami?

Ya, kegaduhan bunyi kencang bom yang meledak, buuuuummmm, di siang dan di malam hari, tapi bukan bom teroris betulan. Cuma bom teroris-terorisan! Gayanya gaya teroris, tapi bomnya bukan bom betulan. Mungkin pelakunya nanti akan jadi teroris benaran.

Kemarin ini, ketika saya sedang menulis blog post ini dengan menggunakan HP saya, sudah tiga hingga empat kali terdengar suara ledakan buuuuuummmm di rumah seberang. Ditambah lagi, ada kegaduhan lain yang timbul dari tembok-tembok yang digebuki palu-palu di rumah yang sedang direnovasi, rumah ketiga di sebelah kanan rumah kami.

Barusan, kurang lebih pukul 01:30 siang, Sabtu, 9 Juli 2022, terdengar bunyi kencang mesin gerinda di jalan raya depan rumah kami, setelah sebelumnya terdengar suara orang yang sedang memberi aba-aba untuk sebuah mobil mundur. Saya menangkapnya sebagai suatu pesan ancaman, karena mereka tahu saya sedang berkonsentrasi menulis blog post ini. Saya tak tertarik untuk keluar, melihatnya langsung. Soalnya, ancam-mengancam dengan suara mesin gerinda sudah menjadi kebiasaan keji mereka, yang mustahil diubah.

Di saat saya menulis, mereka membuat kegaduhan. Ketika saya sehat, mereka berbuat segala hal untuk membuat saya tertekan, lalu jatuh sakit.

Ketika saya hening dalam meditasi, mereka menyebarkan bau hangus kayu yang dibakar ke dalam rumah kami. Mungkin juga, bau hangus itu dihasilkan dari serbuk olahan pabrik yang cuma perlu dimasukkan ke dalam bara api.

Daripada kalian, wahai Legion, menghembuskan angin pembawa bau sangit kayu yang dibakar, lebih baik kalian bakar kemenyan supaya baunya mengusir roh-roh najis Legion.

Nah, saya tidak tertarik untuk menyelidiki, sumber bunyi buuuuummm itu apa. Mungkin sebuah bola besi berat dijatuhkan ke lantai tanah rumah. Bisa juga cuma suara rekaman yang diperdengarkan lewat sebuah loudspeaker besar. Apapun juga, itu sesuatu yang tak waras. Whatever, it is an insanity! Dan... mereka akan terus melakukannya.

Nah, seorang lelaki yang berdiam di rumah tetangga persis di sebelah kanan rumah kami, yang sudah saya tulis di atas menjalankan pekerjaan menguping (pekerjaan gajah cebol Bona berkuping lebar, dalam dongeng anak-anak) untuk kepentingan Legion, juga harus (kenapa harus, ya?) membuat kegaduhan yang sama ketika Legion memandang saya harus diperingatkan.

Si manusia pria gajah cebol Bona antek Legion ini mahir sekali membunyikan dengan sangat kencang mesin bor dan mesin gerinda. Bahkan dua alat tukang bangunan ini dia pakai betul-betul untuk membor batu betulan dan menggerinda besi betulan, di dalam rumahnya sendiri.

Bayangkan, betapa patut sangat dikasihani orang-orang lain, sebagai satu keluarga, yang berdiam di dalam rumah si lelaki Bona itu. Bunyi penging terdengar setiap hari. Debu berterbangan dalam rumah dari bebatuan sungguhan yang dibor. Percikan api menyebar ke segala arah ketika mesin gerinda sedang menggerinda besi, atau debu halus berhamburan ketika sedang menggerinda bongkahan batu besar yang sudah disiapkan sebelumnya.

Suara sangat penging mesin bor dan mesin gerinda yang kami dengar datang persis dari rumah tetangga kanan kami itu, asli suara dua mesin ini yang sedang dipakai, bukan suara rekaman. Juga tidak datang dari rumah ketiga di sebelah kanan rumah kami yang sedang direnovasi, yang juga sering membuat kegaduhan yang tidak wajar, berbulan-bulan terus-menerus gaduh, tak pernah selesai, hingga saat ini, dan tidak pada tempat dan waktunya (beberapa kali, kegaduhan dibuat jam 7 malam hari selama 30 menit, di bagian belakang bangunan yang mereka sedang renovasi!).

Saya hanya bisa mengurut-urut dada, dan sungguh-sungguh mendoakan si lelaki Bona itu (bersama isterinya) agar Tuhan Yesus menggerakkan hatinya untuk mencari pekerjaan lain yang mempunyai nilai, kualitas dan martabat.

Janganlah siapapun tunduk kepada, dan mau diperhamba oleh, roh-roh najis Legion. Jika seseorang bertuhan, dia pasti menolak dan melawan Legion.

Kita tidak boleh menolak keberagamaan yang teduh, mendamaikan, membangun kehidupan yang toleran, dan mendorong kemajuan bangsa dan negara. Tetapi kita harus tegas menolak keberagamaan yang ekstrim, yang dipenuhi kegaduhan, kemarahan, kedangkalan, keangkuhan, perusakan, tindak kejahatan, dan perasaan paling benar sendiri.

Baru beberapa waktu belakangan ini sudah tidak terdengar lagi kegaduhan mesin bor dan mesin gerinda yang tak waras yang dibuat si pria Bona itu.

Kegaduhan yang timbul dari tembok-tembok rumah kontrakannya itu yang dipukul-pukul dengan palu kuat-kuat olehnya sendiri, juga sudah tidak terdengar lagi belakangan ini. Kegaduhan yang muncul dari besi-besi yang diadu, juga sudah tidak terdengar lagi atau sudah berkurang.

Saya sudah dengan baik-baik menganjurkannya, dari dalam rumah saya sendiri dengan suara agak kencang, untuk mencari pekerjaan lain, di bidang ojek online, jika dia mau. Dia punya sebuah sepeda motor.

Eehhh.... si pria Bona itu kini bertingkah lagi, suka membuat suara gaduh klotak klotak klotak atau suara tok tik tok tik yang saya dan isteri saya dengar datang dari balik atas plafon gipsum lebar persis di atas tempat tidur kami di lantai dua.

Sudah sangat jelas, suara-suara aneh di balik plafon itu bukan suara tikus-tikus gaduh. Beda sekali. Suara-suara itu suara-suara buatan, yang nada-nadanya berubah-ubah dan berinterval, dan lokasi sumbernya berpindah-pindah di balik plafon di atas tempat tidur kami. Terdengar umumnya ketika saya sedang bekerja dengan smartphones saya.

Suatu ketika, di saat bunyi kencang klotak klotak terdengar dari balik plafon di atas ranjang kami, saya membalasnya dengan menggebrak keras titik sumber bunyi itu. Bunyi klotak klotak itu langsung hilang, dan samasekali tidak terdengar suara tikus-tikus yang berlarian ketakutan.

Selain itu, hanya tersedia ruang sempit setinggi kurang lebih 15-20 cm antara plafon gipsum lebar di atas kamar tidur kami dan permukaan bawah coran dak yang ada di atas sebagian ruang tidur kami.

Di ruang sangat sempit itu tidak ada kabel listrik apapun, juga tidak ada pipa tembaga berinsulasi AC apapun. Juga mustahil tikus-tikus rumah mau berdiam di ruang sempit dan pasti berhawa pengap itu. Juga tidak ada lubang apapun yang dapat dimasuki seekor tikus apapun dari luar rumah.

Maka, jadilah saya berhipotesis. Mungkin sekali insan-insan Legion (cecere atau anak-anak bebek Legion banyak sekali yang bekerja sebagai tukang bangunan) telah membuat sebuah lubang yang menghubungkan bagian atas tertentu rumah tetangga sebelah kanan rumah kami (rumah kontrakan si pria Bona) dengan ruang sempit di bawah coran dak di atas kamar tidur kami.

Atau, lubang itu ada di bagian lain rumah kami yang saya perlu periksa dengan cermat. Ini akan saya lakukan tahap demi tahap, mengingat diri saya sekarang tidak sekuat dulu ketika saya berumur 30-an atau 40-an tahun.

Nah, lewat lubang itulah suara-suara klotak klotak klotak atau suara tok tik tok tik dibuat, lalu terdengar oleh kami di ruang tidur kami. Mungkin juga, ada instrumen-instrumen elektronik kecil yang telah dimasukkan ke ruang sempit itu, yang dapat disetel dari rumah kontrakan si lelaki Bona, atau dari lokasi lain yang lebih jauh, untuk mengeluarkan bunyi-bunyi buatan tersebut.

Ya, imajinasi saya sedang bekerja dan saya masuk ke kawasan ide-ide hipotetis. Kata Albert Einstein, imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan. Sementara pengetahuan kita terbatas, meski berkembang progresif, imajinasi tidak mengenal batas-batas, kendatipun imajinasi yang terpelajar haruslah imajinasi yang berdisiplin sekaligus dinamis dan cair.

Kapan lubang dan perlengkapan elektronik itu dibuat dan dipasang? Sekian bulan lalu ketika rumah di sebelah kanan rumah kami itu sedang direnovasi besar oleh pekerja-pekerja bangunan yang menjadi bagian dari Legion. Setelah renovasi selesai, rumah ini tak lama kemudian dikontrakkan untuk dihuni keluarga si pria Bona.

Nah, hipotesis saya di atas hanya bisa dibuktikan benar atau salah kalau plafon gipsum lebar di seluruh kamar tidur kami dicopot, atau dilubangi cukup luas pada bagian di atas ranjang kami untuk memeriksa apakah ada sesuatu di baliknya yang menjadi sumber bunyi klotak klotak klotak atau bunyi tok tik tok tik.

5. Ancaman lewat suara sirene mobil dan suara motor-motor besar

Dalam tulisan blog post saya sebelumnya, sudah saya kisahkan tentang kegaduhan yang ditimbulkan oleh klakson-klakson mobil-mobil yang dibunyikan terus-menerus berinterval, yang sedang membuntuti mobil Avanza yang sedang saya kemudikan. Waktu itu, kejadian ini berlangsung berbulan-bulan lamanya. Lalu berakhir begitu saja.

Tetapi, ada kegaduhan pengganti suara klakson mobil-mobil. Kalau tidak gaduh dan berangasan, bukan Legion namanya.

Selama berbulan-bulan selanjutnya, ke mana saja saya pergi dengan berkendara mobil Avanza saya, kapanpun waktunya, entah siang ataupun malam, selalu ada sebuah mobil yang mengikuti dan membuntuti saya dengan memperdengarkan bunyi sirene yang meraung-raung bisa sampai 30 menit lamanya.

Setelah itu, mobil-mobil bersirene pembuntut itu mengambil arah lain. Di saat itulah saya terbebas dari insan-insan Legion yang memanfaatkan dan mendompleng mobil-mobil bersirene.

Anda tentu tahu semua jenis mobil yang memiliki sirene, dari mobil-mobil pribadi plat hitam (yang, setahu saya, dilarang memasang sirene), sampai mobil-mobil dinas swasta plat hitam dan mobil-mobil dinas milik negara yang berplat bukan-hitam.

Semua jenis mobil bersirene itu bergantian dikerahkan insan-insan Legion untuk menggertak, menakut-nakuti, dan mengancam saya, jika saya tetap tidak mau tunduk terhadap mereka. Tunduk untuk ganti agama. Seenaknya saja mereka itu. Adakah Tuhan yang mereka sembah berdiam dalam diri mereka dengan hening, damai dan teduh? Mereka sendiri yang perlu jujur menjawab pertanyaan ini. Beragama itu, tujuannya untuk menjadikan orang hidup teduh, damai, dan lembut hati; bukan untuk membuat anda serba panas hati, beringas, menimbulkan kegaduhan dan keributan.

Di pihak saya, ya saya selamanya hanya tunduk pada Tuhan Allah, Yahweh Elohim, sang Bapa Maha-Langit yang Mahabaik, dan kepada sang Putera Allah Maha-Langit, Tuhan Yesus Kristus yang mengasihi saya dan yang saya kasihi, sang Juruselamat dunia yang Mahabaik, sang Terang Dunia yang melenyapkan segala bentuk kuasa kegelapan.

Dan, saya pikir.... insan-insan Legion itu dengan takabur mau menunjukkan diri sebagai raja-raja di Jakarta atau bahkan di Indonesia, lewat mobil-mobil bersirene yang mengeluarkan suara mengaum-ngaum.

Mereka menjadi raja-raja? Ya, meski tanpa mahkota apapun, dan tak ada seorangpun yang pernah menjadikan mereka raja-raja. Mereka terdelusi, deluded, main percaya saja bahwa mereka adalah orang-orang besar, yang memiliki kekuatan adiinsani, superpowerful human beings, dan, karena itu, mereka merasa berhak dan mampu dengan segala cara untuk mengganti agama orang lain, atau mencampuri kehidupan privat orang lain manapun.

Padahal faktanya, di negeri Indonesia ini hukum positif adalah sang panglima bagi kehidupan kita semua, tanpa pilih bulu. Premanisme, tidak dapat hidup dalam suatu negara republik demokratis yang diatur oleh hukum positif.

Nah, apa itu delusi? Belum tahukah mereka? Delusi adalah kepercayaan yang sudah jelas salah, tapi tetap dipercaya sebagai hal yang benar dan dipertahankan mati-matian meski fakta-fakta real menyatakan hal yang lain.

Dus, orang yang terdelusi, hidup dalam penyangkalan atas fakta-fakta nyata. Dalam psikologi, fenomena mental ini dinamakan In Denial, yang sudah saya beberkan panjang lebar di sebuah tulisan saya yang lain.

Well, setahu saya, semakin agung dan besar kekuasaan yang dimiliki seseorang --- seperti Pak Presiden Joko Widodo yang sangat saya hormati dan kagumi setelah Presiden Soekarno --- semakin rendah hati dan mulia kepribadian, karakter dan tindakan orang tersebut, dan semakin luas dan dewasa spiritualitas dan wawasan pengetahuannya.

Juga, semakin kuat dorongan dalam dirinya untuk hidup mumpuni dan mengayomi orang banyak, serta mampu hidup ramah dan terbuka pada perbedaan, dalam suatu masyarakat yang majemuk.

Oh ya, saya mau bagi isi suatu mimpi saya beberapa bulan lalu, di saat saya tidur malam.

Waktu itu, sebelum tidur malam, hati saya luar biasa dipenuhi kerinduan untuk dapat melihat dan memandang wajah Yesus. Suasana mental ini muncul tentu karena ada pemicunya. Lalu saya berdoa intens, memohon kepada Yesus supaya saya dapat memandang wajah-Nya. Ini bukan doa yang pertama.

Di dalam tidur malam itu, Yesus menjawab kerinduan saya itu. Tapi yang tampil dalam mimpi saya bukan wajah Yesus yang sudah lazim saya kenali, tetapi wajah Pak Presiden Joko Widodo yang saya lihat sangat segar, cerah dan memancarkan cahaya berkilau-kilau, dan tubuhnya yang berpakaian kemeja dan celana panjang putih juga memancarkan cahaya benderang yang memukau.

Ketika terbangun dari tidur, saya termenung lama memikirkan mimpi saya yang menakjubkan tersebut. Hingga saat ini, saya belum bisa mendapatkan makna mimpi saya yang luarbiasa itu. Setiap mimpi memang harus ditafsirkan. Tentang hal ini, baca di sini dan di sini. Dalam hal mimpi saya itu, biarlah saya menunggu Tuhan Yesus menyingkapkan maknanya.

Satu hal sudah pasti, bahwa mimpi saya itu menyampaikan suatu pesan yang sangat jelas bagi diri saya bahwa Pak Presiden Joko Widodo adalah seorang yang suci.

Hal-hal lainnya terkait mimpi saya itu, akan tersingkap pada waktunya. Saya tak mau terburu-buru menafsirkan mimpi saya itu. Biarlah saya menikmati dulu rasa the magic of an extraordinary dream.

Nah, kita kembali ke negeri Indonesia. Semboyan “Bhinneka tunggal ika” (artinya: beraneka ragam, tapi tetap satu adanya) adalah semboyan yang sangat bagus untuk dan dari bangsa kita, Indonesia, dan menjadi sumber enerji mental besar bagi kemajuan dan kekuatan serta keutuhan dan kesatuan negara dan bangsa Indonesia. Nah, para insan demonik Legion itu tidak menjalani kehidupan mereka dalam koridor semboyan agung ini.

Karena saya seorang yang sadar penuh bahwa saya ini, seasli-aslinya, bukan seorang kriminal jenis apapun sejak dilahirkan, lagipula saya kini sudah menjadi seorang insan lanjut usia, ya.... saya tak pernah merasa takut sekalipun saya terus-menerus ditakut-takuti lewat banyak cara oleh insan-insan Legion terdelusi itu.

Harkat dan martabat saya sebagai seorang Kristen dan sekaligus seorang warganegara Indonesia, patriot bangsa, sedang saya pertahankan dan perlihatkan justru di saat saya sedang menjalani usia 64 tahun. Roh Allah ada di dalam diri saya. I am a frail elderly man of the mighty God in Jesus Christ. In short, I am a man of the loving God.

Ancaman dan peringatan, serta usaha menggertak saya, juga dijalankan para insan Legion itu dengan mengerahkan remaja-remaja baru gede (alias “rebage”) yang mengendarai motor-motor besar yang memiliki roda-roda besar, nyaris seukuran ban mobil sebuah sedan kecil. Bukan hanya berban besar, tapi motor-motor mereka juga mengeluarkan suara knalpot turbo yang penging dan gaduh. Gaduh. Gaduh.

Yang sudah saya pantau, ada sedikitnya empat pengendara rebage lelaki motor penging dan gaduh itu (salah satunya bernomor plat hitam B 37×× UTR), dan satunya lagi pengendara rebage perempuan.

Salah satu motor besar yang bersuara gaduh itu tidak bisa saya baca nomor plat hitamnya karena tidak dipasang di belakang motornya (dengan splashboard belakang sudah dipotong sehingga tinggal separuh), dan satu plat hitam lainnya dipasang sangat tersembunyi di depan, di bawah tangki bensin, di bawah stang. Saya tahu persis, di mana si pengemudi motor besar tanpa plat nomor ini tinggal bersama orangtuanya.

Motor-motor besar itu bisa seenaknya lalu-lalang berputar-putar melewati rumah kami, bahkan di malam hari, sambil menggeber gas, sehingga alarm mobil Avanza saya seringkali berbunyi sendiri.

Kejadian yang sangat mengganggu itu berulangkali terjadi. Termasuk oleh seorang rebage, yang juga memiliki sebuah motor besar bersuara gaduh, yang berdiam di rumah persis di seberang rumah kami, rumah antek Legion. Dalam observasi saya, si rebage ini tidak atau belum mempunyai pekerjaan tetap, atau mungkin masih berstatus mahasiswa yang belum selesai studinya. Mungkin dia sudah mendapat gelar MA, alias Mahasiswa Abadi.

Oh ya, sekalian saja saya ungkap. Insan-insan Legion juga mengerahkan balita dan batita, dan insan-insan lansia yang sudah ringkih, ketika mereka mau menyampaikan pesan dan memaksakan segala kemauan mereka ke saya. Kasihan betul ya. Tega betul ya. Itulah Legion.

Selain itu, mereka pernah mengerahkan armada Gojek dan armada GoGrab untuk membuntuti saya atau untuk menyambut saya (entah apa tujuan mereka) di tempat-tempat yang akan saya kunjungi. Tapi saya tak pernah meladeni mereka.

Nah, setelah sekian waktu saya mengamati pola-polanya, koinsidensi-koinsidensinya, serta koneksinya dengan diri saya dan peristiwa-peristiwa yang saya telah alami atau sedang alami, akhirnya saya dapat menyimpulkan satu hal, ini: bahwa kegaduhan juga ditimbulkan Legion lewat pengaturan suara ribut dan kencang kotek kotek kotek ayam-ayam yang dipelihara di sebuah rumah besar sebelah kanan rumah tetangga persis di seberang rumah kami.

Kini, jika alarm mobil Avanza saya berbunyi sendiri karena kekuatan gelombang suara (dan mungkin juga bersama gelombang elektromagnetik --- saya belum pelajari hal ini) yang dipancarkan derum keras dari knalpot-knalpot turbo motor-motor besar atau knalpot-knalpot turbo mobil-mobil tertentu, ya saya biarkan saja, karena akan berhenti sendiri. Hanya kanak-kanak yang suka membunyikan terompet.

Semua insan Legion memang berjiwa kekanak-kanakan, childish, tak akan pernah bisa dewasa dan matang. Saya berani bertaruh tentang hal ini. Memakai salah satu paham religius mereka, ya... mereka sudah ditakdirkan (terma non-Kristen) atau sudah dipradestinasikan (terma Kristiani) untuk selamanya kanak-kanak dalam kehidupan emosional dan intelektual mereka.

Tak berpengharapankah? Hopeless-kah? Ya.

Dilihat dari sudut psikiatri, semua pola pikir, tindakan, perilaku dan sikap-sikap dan suasana mental yang tidak wajar atau yang tidak waras dari kalangan Legion yang saya beberkan dalam tulisan blog post ini seluruhnya, digolongkan sebagai gangguan mental atau mental illness, yang timbul dari interaksi nurture dan nature, interkoneksi antara faktor-faktor environmental dan faktor genetik dan epigenetik. 

Ihwal apakah gangguan mental bisa disembuhkan, ataukah tidak, tetap ramai dikaji. Tentang hal ini, bacalah di sini, di sini, dan di sini, juga di sini.

Tetapi saya masih mau pertahankan optimisme, meskipun tampak seperti suatu usaha menjaring angin, atau suatu usaha mengecat langit.

Nah, saya ajak mereka untuk memotivasi diri mereka untuk bertumbuh dan berkembang dalam ranah emosi dan intelektual, menjadi insan-insan yang memiliki kecerdasan emosional yang makin matang, tidak bantut pada tahap kanak-kanak.

Dan... memiliki kemampuan metakognitif, yakni kemampuan memikirkan ulang dan mengevaluasi semua pemikiran mereka selama ini tentang dunia ini, sesama manusia yang berbeda latarbelakang, Tuhan, agama-agama, ilmu pengetahuan, moralitas, pekerjaan, kehidupan bersama yang ramah dalam masyarakat yang majemuk, dan tentang kemajuan, keutuhan dan ketahanan bangsa dan negara.

Bisakah mereka sungguh-sungguh cerdas emosi dan cerdas intelek? Diupayakan bisa, sebab dapat terjadi bahwa mereka sudah ditakdirkan atau dipradestinasikan untuk mengubah sendiri garis takdir mereka. Takdir itu bukan sesuatu yang statis, tetapi sesuatu yang dinamis. Jika takdir memang ada, takdir ada untuk diberi respons, bukan untuk dibiarkan saja.

Suara penging dan gaduh juga dikeluarkan knalpot turbo mobil sedan (hatchback) yang berfungsi, dalam observasi saya, sebagai mobil komando pengancam dan penggertak lewat suara knalpot yang kencang menderu dan mendentum ketika pedal gas ditekan kuat-kuat.

Awalnya, mobil komando Legion ini sebuah sedan hatchback warna merah tua mengkilap. Sekian bulan kemudian diganti mobil sedan hatchback warna silver. Sesudah beberapa bulan, sekarang ini, diganti lagi dengan mobil sedan full biru tua mentereng, dengan nomor plat hitam H 17xx EF (mungkin sekali ini nomor palsu), yang sering diparkir di teras rumah tetangga antek Legion, dua rumah di sebelah kanan rumah kami.

Hal yang luar biasa adalah bahwa ketika kami (berempat) berada di luar Jakarta, di kawasan Summarecon Gading Serpong, sebuah motor besar berknalpot turbo yang saya kenali dan mobil komando sedan hatchback warna merah tua mentereng tersebut di atas, menunjukkan diri bahwa mereka hadir dekat kami, disertai derum-deruman sangat keras suara-suara knalpot masing-masing yang sudah tak asing bagi telinga saya sebagai seorang pengamat gerak-gerik mereka.

Ya betul, para Legion itu terus-menerus membuntuti saya, kemanapun saya pergi, untuk menakut-nakuti kami, seolah mereka itu intel-intel negara. Setahu saya, intel betulan bekerja diam-diam, senyap, tak ketahuan, berusaha semampu mungkin untuk tidak meninggalkan jejak. Intel palsu saja yang bekerja dalam kegaduhan dan kepongahan.

Takutkah saya? Samasekali tidak. Karena saya bukan seorang kriminal apapun, sejak saya berada dalam kandungan mama saya.

Sudah lama, sampah harian rumahtangga yang saya masukkan ke dalam sebuah kantong plastik hitam, lalu saya gantung di ujung atas teralis pintu dorong rumah kami, mereka ambil lalu dibawa ke tempat lain untuk diperiksa. Mereka terus-menerus mencari-cari dan mau merekayasa bukti bahwa saya ini seorang kriminal. Telunjuk mereka arahkan ke saya, tapi yang tak mereka lihat adalah: jempol mereka sendiri terarah ke diri mereka sendiri.

Saya sih bersikap ringan-ringan saja, tidak memberi reaksi atas tingkah intel-intelan palsu mereka itu. Sekali lagi, tak ada rasa takut sedikitpun dalam diri saya. Sebaliknya, hati saya penuh nyanyian, karena ada Tuhan Yesus di dalamnya.

6. Menakut-nakuti lewat seragam resmi aparat penjaga keamanan

Saya sangat respek pada aparat kepolisian RI sebagai sosok-sosok pemberi rasa aman, ketenteraman dan perlindungan serta pertolongan kepada warga masyarakat.

Karena itu, saya yakin adalah tidak pada tempatnya, tidak patut, jika seragam kepolisian NKRI dimanfaatkan atau didompleng untuk menakut-nakuti saya yang samasekali, sejak dilahirkan hingga kini sebagai seorang lanjut usia, bukan seorang kriminal apapun.

Pertama kali di sebuah pasar swalayan besar di Mall AG, Jakarta Utara, saya melihat dan berpapasan dengan beberapa orang pria yang berseragam polisi, dan pada salah satu bahu mereka terpasang nama profesi POLISI.

Ada dua orang berseragam polisi RI yang berdiri di pintu masuk ke dalam ruang pasar swalayan tersebut. Beberapa orang lainnya, mondar-mandir saja.

Nah, di antara lelaki berseragam polisi yang mondar-mandir itu, ada seorang yang celana panjangnya kekecilan dan menggantung jauh di atas mata kaki, dan bersepatu necis orang kantoran, bukan memakai sepatu polisi yang sebetulnya.

Saya hanya menyimpan dalam hati apa yang saya telah lihat sebagai kejanggalan.

Saya juga waktu itu berpikir, jika polisi-polisi masuk ke dalam pekerjaan karyawan pasar swalayan apapun, bukankah para pengunjung yang mau berbelanja di situ akan bertanya-tanya, apakah pasar swalayan itu sudah tidak aman. Jika yang bertanya seperti itu makin banyak, bukankah akhirnya pasar swalayan apapun akan sepi pengunjung.

Nah, kali lain, saya sekeluarga datang lagi ke pasar swalayan yang sama di Mall AG. Ketika saya mau masuk ke ruang dalam, di pintu masuk berdiri dua lelaki berseragam polisi RI tetapi pada salah satu bahu masing-masing terpasang tulisan SATPAM, bukan tulisan POLISI lagi. Saya mesem-mesem saja. Kata lain SATPAM itu sekuriti.

Ketika mau masuk ke ruang dalam dengan melewati pintu masuk yang dijaga dua SATPAM yang berseragam polisi itu, saya segera memakai sebuah topi pramuka yang padanya saya sematkan bendera kecil Merah-Putih.

Ketika berhadapan dengan salah seorang SATPAM yang berseragam polisi di pintu masuk itu, sang SATPAM itu tertegun melihat topi pramuka berbendera kecil Merah-Putih yang saya pakai.

Tanpa membuang waktu, saya langsung bertanya kepadanya, apakah di dalam aman-aman saja. Sang SATPAM itu menjawab terputus-putus, “Aaa... aaa maan, Pak!” Lalu saya menimpali, “Bagus deh kalau begitu!”

Lalu saya membuat gerakan seolah mau terus masuk ke dalam ruangan barang-barang dagangan. Tapi, segera saya membalikkan badan, berjalan balik ke arah sang SATPAM itu, cuma berjarak dua langkah darinya. Apa yang saya lihat dan dengar?

Sang SATPAM yang tidak melihat saya di belakang tubuhnya, karena dia sedang menghadap ke arah luar, sedang mengontak seseorang lewat Walkie-Talkie, lalu dia berkata dengan sangat jelas, “Dia sudah tahu! Dia sudah tahu!”

Maksud si SATPAM itu adalah bahwa saya sudah tahu adegan sandiwara mereka.

Ya, adegan sandiwara yang buruk, tidak sempurna skenarionya. Yang dipermalukan bukan saya, tetapi pihak-pihak lain.

Tapi, saya masih mau mengecek lagi. Beberapa hari lalu, saya berkunjung lagi ke pasar swalayan yang sama.

Kali ini, saya lihat, yang berdiri di pintu masuk, hanya satu orang perempuan yang berseragam polisi RI, dengan di salah satu bahunya tercantum tulisan JAYAKARTA, bukan lagi tulisan POLISI atau tulisan SATPAM.

SATPAM-SATPAM pria berseragam polisi sudah tidak ada samasekali, lenyap, dari pasar swalayan itu.

Di depan si Ibu JAYAKARTA, saya kenakan lagi topi pramuka yang tersemat bendera Merah-Putih di sisi kanan topi.

Ketika berhadapan dengannya di pinggir pintu masuk, saya dengan rasa hormat bertanya ke si Ibu JAYAKARTA itu, “Ibu, apakah keadaan di dalam aman?”

Si Ibu JAYAKARTA yang masih belia itu menjawab, “Aman, Bapak!” Saya merespons, “Bagus deh!” Tetapi sang Ibu itu lantas tertegun ketika melihat topi pramuka berbendera Merah-Putih yang sedang saya pakai.

Nah, adegan-adegan yang serupa, bahkan ada yang persis sama, saya temukan dan alami juga di pasar swalayan besar baru di Mall of Indonesia, Jakarta Utara.

Bahkan juga di sebuah restoran Sushi di kawasan BSD: kasir tempat pengunjung membayar, adalah seorang POLISI yang berseragam, tetapi sepasang sepatu yang dipakainya adalah sepatu keren mengkilap mentereng orang kantoran, bukan sepatu Polisi.

Nah, setelah mengalami kejadian-kejadian di atas, masih ada satu kejadian lagi. Kali ini di suatu pintu gerbang masuk ke suatu komplek perumahan di kawasan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara.

Baru kali itu saya alami, pintu masuk ke suatu komplek perumahan dijaga dan ditunggui petugas-petugas POLISI yang berseragam polisi.

Mengingat pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya yakin, seharusnya dalam kondisi wajar dan aman, polisi tidak menjaga dan menunggui pintu masuk ke komplek perumahan manapun.

Maka itu, ketika mau melewati pintu gerbang masuk, kepada seorang petugas POLISI yang sedang duduk menunggu, saya dengan ramah bertanya, “Pak, saya ingin tahu bunyi Sapta Marga. Bisa beritahu saya, meski Bapak bukan seorang prajurit?”

Pak Polisi itu mengernyitkan kening, sepasang matanya terlihat aktif, bergerak ke kiri lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi, terus begitu. Akhirnya dia berkata, “Bapak jalan saja deh!”

Meskipun saya bukan seorang polisi, juga bukan seorang prajurit TNI RI, saya adalah seorang patriot bangsa dan negara. Karena itu, saya juga berusaha sungguh-sungguh untuk menghayati dan menerapkan Sapta Marga, tujuh prinsip dasar sebagai pegangan dan penuntun kehidupan dan pelaksanaan tugas-tugas TNI.

7. Ancaman lewat fitnah politik yang luarbiasa keji

Sekian waktu lampau, saya memiliki dan mengelola tiga akun Facebook. Dua akun pertama, sudah memiliki 5.000 teman, jadi sudah full; sedangkan akun ketiga belum mencapai 5.000 friends. Tetapi akhirnya, ketiga akun FB saya ini harus saya delete permanently. Kenapa?

Alasan utama saya adalah karena ada sejumlah kalangan durjana, yang kini dapat saya golongkan sebagai bagian dari Legion, yang terus-menerus memasang iklan video-video tentang suatu gerakan separatis di Indonesia pada akun-akun FB yang saya kelola waktu itu untuk ikut mencerdaskan bangsa dan memajukan negara.

Selain itu, tautan-tautan ke gerakan separatis ini juga muncul di akun-akun FB saya waktu itu. Kalangan itu tak henti-hentinya berusaha mengaitkan diri saya dengan gerakan politik separatis domestik.

Saya sangat tidak menyukai usaha-usaha politik kotor yang keji itu. Saya tahu, kalangan mana yang memulai fitnah keji separatisme terhadap diri saya. Mereka tahu Yesus, tetapi cinta kasih Yesus tidak ada dalam diri mereka. Ya, mereka itu kawanan serigala berbulu domba-domba Yesus. Kawanan dinosaurus T-Rex gurun Kristen.

Sekian waktu lalu, lebih belakangan, tiba-tiba muncul di akun WhatsApp saya suatu kiriman naskah format PDF yang pada bagian dalam kotak segi empatnya terdapat sebuah kotak kecil yang memuat tiga huruf besar BIN.

Saya langsung mengadu ke Tuhan Yesus, “Tuhanku, Kekasihku, ada apa lagi ini?” Lalu saya diyakinkan untuk tidak usah mempedulikan naskah PDF kiriman itu, yang si pengirimnya tidak beridentitas. Saya perlu langsung menghapus saja. Lebih dari lima kali kiriman naskah yang sama masuk ke akun WA saya, yang semuanya langsung saya hapus, tanpa tahu sedikitpun apa isinya. Akhirnya, kiriman gelap itu tidak datang lagi ke akun WA saya. Berhenti sendiri.

Mungkinkah naskah PDF BIN itu bagian dari fitnah keji politik terhadap saya? Bisa jadi. Jika dokumen PDF BIN itu asli, yang saya tidak pernah tahu apa isinya, apakah pengiriman dokumen BIN itu lewat medsos WA bukan suatu tindak kriminal pembocoran suatu dokumen negara? Apa tujuan insan-insan Legion itu mengirimkannya kepada saya? Semua pertanyaan ini, tidak akan pernah bisa saya jawab, karena saya tidak memiliki sangkutpaut apapun dengan BIN, dan juga bukan wewenang saya untuk menjawab.

Saya ambil sikap positif saja bahwa mungkin juga tiga huruf besar BIN itu dimaksudkan sebagai BINTANG terang dunia. Siapa? Ya Yesus Kristus, Sol Invictus.

Well, siapakah saya ini, sampai ada kalangan yang berusaha mati-matian, dan begitu mati hati, mempertalikan saya dengan suatu gerakan separatis dalam negeri? Atau berupaya keras untuk menunjukkan bahwa saya ini, yang kini sudah lanjut usia, adalah seorang aktivis separatis di Indonesia? Aktif di dunia politik, bukan jalan kehidupan saya selamanya. Semoga Tuhan Allah, sang Bapa Maha-Langit, dapat mengampuni mereka.

Sesudah tiga akun FB itu tidak ada, dengan jedah waktu yang saya tidak ingat lagi, saya membangun sebuah akun baru FB yang memakai nama Daun Mentari. Tujuan saya: menjadikan akun FB Daun Mentari sebagai media sosial tempat saya membagi puisi-puisi saya. Karena itu, pada gambar header halaman depan saya tulis kata-kata Silent Poems.



Tapi karena masih muncul gangguan pada akun FB Daun Mentari Silent Poems, akhirnya akun ini saya hapus permanen juga (30 November 2021). Lagipula, puisi-puisi yang saya munculkan di situ, terpasang juga di Freidenk Blog saya. Ya, ada kurang lebih enam puluh puisi saya, yang saya tulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dan semuanya tersimpan di blog saya itu.

Nah, saya juga sekian waktu lalu memiliki dan mengasuh sebuah akun Twitter, yang jumlah follower-nya sempat mencapai 8.000-an. Tetapi, karena alasan yang sama terkait penghapusan akun-akun FB yang sudah saya tulis di atas, akun Twitter saya inipun akhirnya saya deaktivasi permanen (efektif 15 Agustus 2021).

Tetapi ada screencapture dari pinned tweet yang saya tetap simpan sampai sekarang. Isi cuitannya adalah penolakan saya yang halus tetapi tegas atas segala usaha mengganti kepercayaan saya pada Yesus Kristus. Cuitan di tempat teratas ini bertanggal 19 September 2020, dan sudah dibaca lebih dari 11.000 orang.  Saya lampirkan di bawah ini.




Begitulah, fitnah politik keji digunakan untuk menakut-nakuti saya, supaya untuk akhirnya, dalam skenario biadab para insan Legion, saya akan menyerah kalah, lalu menjadi Yudas Iskariot yang dulu telah mengkhianati Tuhan Yesus yang begitu baik.

No way!

Bukan saya yang memegang kuat Tuhan Yesus, tetapi sebaliknya: Tuhan Yesus memegang dan merangkul erat saya dalam dekapan-Nya yang hangat dan penuh kasih sayang. Selamanya.

Sebagai Sang Firman yang ada pada mulanya, Yesus Kristus adalah co-creator langit dan Bumi, alam semesta, beserta segala isinya. Jadi, seluruh kekayaan material yang tersedia di planet Bumi ini tidak bisa lebih bernilai dan lebih berharga dibandingkan Tuhan Yesus.

8. Ancaman lewat info palsu ke pihak sekuriti

Semula saya merasa sangat heran, mengapa setiap saya dan isteri sedang makan steak sapi di sebuah restoran dekat-dekat gedung Sarinah, tak jauh dari Jalan Sabang, Jakarta Pusat, ada seorang petugas sekuriti (Satpam) yang mengawasi kami terus dengan perasaannya yang tampak tertekan.

Si Satpam ini herannya terus-menerus memandang ke tas tangan kain yang saya bawa. Si Satpam ini terlihat nervous, sedangkan saya yang yakin sedang diawasi, hanya merasa heran luarbiasa. Ada apa ini?

Karena kejadian seperti itu berulang lagi sekian waktu kemudian di tempat yang sama, saya dengan cergas dan naluriah menduga kuat bahwa ada info palsu yang disampaikan ke si Satpam itu (entah lewat telpon gelap, atau lewat info lisan) tentang diri kami berdua, khususnya tentang saya.

Ya, sangat mungkin, info palsu itu adalah bahwa saya ini seorang teroris yang membawa bom dalam tas tangan kain saya. Tetapi, karena saya ini seorang Tionghoa Indonesia, dan tidak terlihat sebagai seorang penjahat, si Satpam menjadi ragu terhadap info yang diterimanya.

Kejadian serupa juga saya alami ketika kami berdua berada di ruang perkantoran besar di lantai tinggi dari sebuah tower di salah satu pusat bisnis di Jakarta.

Akhirnya, saya bisa lebih memastikan bahwa memang ada info palsu yang disebar bahwa saya ini seorang teroris pembawa bom.

Kepastian yang lebih tinggi itu saya dapatkan ketika isteri saya yang jantungnya bermasalah sedang ditangani di sebuah rumah sakit jantung di Jakarta Pusat, sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia dan Indonesia.

Karena akan ada tindakan medik kateterisasi, isteri saya diharuskan menginap satu malam di rumah sakit itu. Saya menemaninya.

Ketika sedang berberes baru masuk di sebuah kamar tidur di rumah sakit tersebut, tiba-tiba saya lihat ada dua petugas sekuriti rumah sakit (satu perempuan, dan satunya lagi lelaki) yang bergegas, hampir berlari, mendatangi kamar kami berdua. Saya terheran-heran, tapi langsung mengerti, bahwa telah masuk info palsu yang keji bahwa kami berdua adalah teroris pembawa bom.

Ketika dua petugas sekuriti itu melihat kami berdua adalah orang Tionghoa Indonesia, dan tak terlihat samasekali sebagai para penjahat, saya menangkap betapa lega hati keduanya. Lalu mereka bercakap sebentar dengan saya, basa-basi. Kemudian keduanya pergi dengan santai.

Penutup

Ya, Tuhan Yesus dan sang Bapa Maha-Langit, dan para malaikat pelindung Maha-Langit yang tak terhitung jumlahnya, selalu menjaga, memelihara, melindungi dan menyelamatkan kami. Doakan kami terus-menerus ya. Terima kasih.

Nah, jika saya masih terus diancam dan diintimidasi dan dibahayakan, dan masih terus dipaksa untuk ganti agama, pertempuran dengan insan-insan demonik setanik Legion akan saya lanjutkan terus.

Saya sudah diburu dan dikejar Legion selama 5 tahun terakhir ini, meskipun mereka sudah lama tahu bahwa saya tidak akan pernah dapat dipisahkan dari Tuhan Yesus Kristus, apapun risikonya. There is no testimony about Jesus and my faith without the test. Kata Tuhan Yesus kepada saya, penderitaanmu sudah cukup, hamba-Ku.

Jadi, masih ada banyak kejadian yang belum saya kisahkan dengan detail, yang menunggu untuk saya kisahkan dengan terbuka di ruang publik. Ya, jika insan-insan Legion itu tetap biadab terhadap kami.

Jakarta, 9 Juli 2022
Diedit 18 Juli 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat


Friday, June 24, 2022

HAI FRIENDS, TUHAN YESUS BUKAN BARANG DAGANGAN !!

 


Mungkin anda heran, atau karena cerdas langsung dapat mengetahui, apa maksud saya memasang gambar gabungan mobil-mobil kertas mainan anak-anak di atas.

Bacalah tulisan ini sampai tuntas, dan dengan telaten, untuk dapat tahu apa maksud saya. Setelah tuntas membacanya, saya yakin bahwa kesadaran nurani, hati dan pikiran anda, akan anda rasakan melayang-layang, dan tersentuh sejauh anda adalah juga kekasih-kekasih sejati Yesus.

Tulisan ini melanjutkan kisah-kisah nyata yang saya telah dan sedang alami dalam pertempuran spiritual saya sejak sekian bulan yang lalu.

Ya, pertempuran spiritual, a spiritual battle, yang dipimpin Tuhan Yesus yang hidup, the Living Lord, dalam melawan roh-roh najis Legion yang mengambil wujud-wujud fisik insan-insan demonik setanik.

Tentang sejumlah sangat besar roh-roh najis yang dinamakan Legion, yang pada abad 1 M telah ditaklukkan Yesus, sebelumnya telah saya tulis di sini dan di sini

Penulis Injil Markus (5:1-20) menyatakan bahwa Legion itu, atas permintaan mereka sendiri kepada Yesus, pindah dari seorang yang sudah lama dirasuk Legion itu, lalu merasuki dua ribu ekor babi. Kemudian, babi-babi ini terjun dari tepi jurang ke dalam sebuah danau, lalu semuanya mati lemas di dasar danau.

Nah, saya mulai dulu dengan hal yang lain, yang menjadi titik-tolak kisah saya yang berkaitan dengan gambar mobil-mobilan di atas. Hal yang lain ini patut saya kisahkan dulu sebagai suatu ucapan terima kasih kepada kekasih-kekasih Yesus yang lain, yang nama-nama mereka dan tempat tinggal mereka saya tidak ketahui.

Di tengah pertempuran saya melawan Legion itu, saya yakin ada komunitas-komunitas para kekasih Yesus lain yang tahu atau mampu merasakan situasi dan kondisi real kehidupan saya yang sudah lansia ini --- saya sebut lagi, usia saya sekarang jalan 64 tahun --- di saat saya sedang bertempur, melawan tantangan roh-roh Legion.

Ya, itu bukan suatu problem, tapi suatu tantangan besar bagi saya untuk mempersaksikan kepada Legion itu bahwa saya ini seorang kekasih Yesus, sang Putera Allah Maha-Langit, yang menyelubungi saya dengan kemahahadiran-Nya.

Di antara para kekasih Yesus itu, entah di mana mereka berada, ada yang, saya percaya, membuat sebuah video lagu Jim Reeves yang berjudul I'd Rather Have Jesus. Video ini diisi dengan sejumlah meme (Kristiani) yang kreatif, keren, bernas, dan sangat kena bagi saya, dari awal lagu hingga akhir.

Saya telah periksa cepat, apakah video tersebut --- apa adanya yang kini saya miliki --- di-download dari suatu kanal Youtube. Ternyata, di kanal ini ada lebih dari satu video lagu Jim Reeves tersebut,  tetapi tanpa meme apapun yang terdapat pada video yang saya telah terima. Silakan dengarkan salah satu videonya di sini

Jikapun video yang telah dikirim ke saya itu memang diunduh dari Youtube, ya tak apa. Saya tetap terharu, dan berterimakasih. They really love me, a slim elderly man.

Setelah melewati sangat banyak forward lewat applikasi WhatsApp, video itu masuk ke akun WA di smartphone saya.

Ketika sekian waktu lalu --- pas saya menerimanya --- saya mendengarkan video tersebut dan memperhatikan semua meme yang dipasang, saya tertegun luar biasa, dan akhirnya sangat terharu.

Saya sangat terhibur dan sangat dikuatkan oleh video itu. Suara Jim Reeves di video itu adalah suara Tuhan Yesus Kristus bagi saya di saat-saat sekarang ini. Setiap hari, kini saya dengarkan kembali video itu.

Ya, saya meyakini (semoga benar) bahwa video itu dibuat untuk ditujukan ke saya, tidak langsung (saya paham, mengapa), dan akhirnya sampai juga di tangan saya, lewat medsos WA. Meme persis di bawah inilah, yang paling meyakinkan saya.





Semua meme yang dipasang, dan lirik lagunya, bagaimanapun juga sangat pas mengungkapkan isi hati, jiwa, kesadaran, komitmen dan pikiran saya sendiri. Di bawah ini, saya akan cantumkan lirik lagu Jim Reeves tersebut.

Sebelumnya, baiklah saya dengan sangat singkat memperkenalkan siapa Jim Reeves. Jika ingin tahu penyanyi kondang ini lebih jauh, bacalah di sini

Dikenal juga sebagai James Travis, penyanyi lagu tersebut, Jim Reeves (20 Agustus 1923 - 31 Juli 1964), adalah seorang Amerika penulis lagu dan penyanyi musik populer dan Country gospel. Lagu-lagunya tetap termashyur dan didengarkan sampai 40 tahun setelah dia wafat.

Dari rekaman-rekaman lagu-lagunya sejak 1950-an hingga 1980-an, Jim Reeves menjadi beken sebagai sosok penyanyi suara Nashville, yakni kombinasi musik gaya country yang lebih tua dengan unsur-unsur musik populer.

Lirik lagu yang menyentuh saya itu, dinyanyikan dan direkam oleh Jim Reeves, dan ditulis oleh Rhea F. Miller dan George B. Shea.

Lagu ini sudah menjadi lagu yang sangat lama bagi saya, alias lagu jadul (jaman dulu), karena sudah saya dengar dan kenal di masa remaja. Lalu tiba-tiba datang ke saya lagi di masa lansia saya, di momen-momen yang tepat. Yesus Kristus tahu apa yang saya butuhkan, karena saya kekasih-Nya, His lover.

Silakan lirik di bawah ini dibaca dan dipahami, tanpa saya perlu menerjemahkannya, karena ditulis dalam bahasa Inggris yang sangat gamblang. Kalau teman-teman mau mendengarkannya, silakan temukan dan dengarkan di kanal Youtube yang salah satu tautannya sudah saya beri di atas.

Ya, saya memang memiliki videonya, tapi saya tidak mau unggah di post blog saya ini. Kenapa? Karena saya selalu sangat diganggu oleh Mr. Goog dan roh-roh Legion lain di Internet jika saya sedang memasang sebuah tulisan berikut ilustrasi-ilustrasi pelengkapnya pada Freidenk Blog saya.

Syukurlah, Tuhan Yesus Kristus telah mengirim ke saya sosok penolong yang berani dan berhati emas di Internet, dalam bertempur dengan Mr. Goog dan roh-roh Legion lain.

Pada pihak lain, ada juga beberapa IT enterprises lain, selain Mr. Goog, dan roh-roh Legion lain (dari dua pesan digital yang masuk ke saya, jadilah saya tahu bahwa mereka berdomisili di Santa Clara, Amerika Serikat), yang telah membajak akun WA saya pada Oppo smartphone saya, bahkan juga akun Telegram yang baru 5-10 menit saya install dan aktifkan di HP yang sama, sebagai pengganti app WA yang sudah dibajak tersebut. Two-step Verification pada keduanya dibuat lumpuh oleh roh-roh Legion itu. Saya heran sekali, kok mereka bisa membajak begitu cepat.

Setelah berusaha sangat keras, dan berpikir cermat, dan memeriksa HP saya yang lebih tua usianya (merk Samsung) dengan detail lewat Settings, akhirnya saya tahu dan temukan (semoga benar) ada dua applikasi pada HP saya yang menjadi pintu masuk yang lebar terbuka bagi roh-roh Legion itu. Dua applikasi ini sudah saya uninstalled dari kedua HP saya itu.

Siapa dalang atau gembong atau Beelzebul roh-roh Legion yang telah menghancurkan privacy and security saya pada dua smartphones saya tersebut, saya tahu dengan pasti: mereka ada di Indonesia, persisnya di Jakarta, lebih persis lagipun saya tahu karena saya telah menemukan indikasi-indikasinya, bahkan telah didekati mereka, tanpa saya memberi respons apapun. Karena apa?

Ya, karena mereka mendekati saya dengan membawa kepentingan-kepentingan ambisius egoistik dan jahat besar mereka sendiri di latar belakang, sebagai udang-udang besar di balik batu. Lain kali, hal ini akan saya kisahkan juga.

Well, inilah lirik lagu Jim Reeves tersebut:

I'D RATHER HAVE JESUS

I'd rather have Jesus than silver or gold
I'd rather be his than have riches untold
I'd rather have Jesus than houses or land

Yes I'd rather be led by his nail pierced hands
Than to be the king of a best domain and beheld in sin's dread sway
I'd rather have Jesus than anything this world affords today

[vibes]

I'd rather have Jesus than worldly applause
I'd rather be faithful to his dear cause
I'd rather have Jesus than world wide things
I'd rather be true to his holy name
Than to be the king...

Baik, di bawah ini saya pasang juga salah satu meme dalam video Jim Reeves yang telah dikirim ke saya itu, lewat jalan yang panjang, yang trajektorinya tak terprediksi.

Pada screencapture meme ini sudah saya tambahkan dua gambar ukuran sangat kecil (juga dari video itu) masing-masing pada sudut kiri atas (kanak-kanak Yesus yang sedang digendong Bunda Maria) dan sudut kanan atas (Yesus dewasa yang bermahkota anyaman duri pada kepala-Nya). Terka sendiri, mengapa saya memasang dua gambar yang menyentuh hati ini masing-masing pada tempatnya. Ada pesan saya. Temukanlah.




Ya, dengan beranekaragam cara, mengiringi cara-cara kekerasan, mereka (insan-insan Legion itu) menawarkan mobil-mobil yang berganti-ganti merk dan harga.

Saya tentu bisa membedakan, mana mobil-mobil tetangga-tetangga saya yang diparkir di dua tepi jalan di depan rumah kami, dan mobil-mobil mana saja yang diparkir sebagai tawaran untuk saya. Saya diam-diam, dan ada juga dengan terang-terangan, mencatat dengan cermat nomor-nomor plat hitam mobil-mobil yang ditawarkan.

Pendek kata, bagi insan-insan Legion itu, Yesus Kristus yang saya kasihi dan percayai sepenuh kehidupan saya --- bahkan sejak saya ada dalam kandungan mama saya, seperti juga diyakini Rasul Paulus tentang dirinya sendiri --- adalah harfiah, literally, barang dagangan yang bisa diperjualbelikan, bisa diperdagangkan.

Mereka beranggapan begini: saya pasti mau ganti agama, melepaskan Tuhan Yesus yang saya kasihi, jika kepada saya diberi mobil mewah, atau sejumlah uang.

Tawaran sejumlah uang yang pertama kali saya alami, lalu saya tahu bahwa si penawar adalah bagian dari insan-insan Legion, diajukan lewat sebuah media sosial (bukan WhatsApp, juga bukan Facebook, juga bukan Twitter).

Ketika itu, dalam rangka suatu kegiatan digital lewat Internet, setelah saya mengisi selembar formulir digital biodata saya yang disodorkan ke saya, termasuk keterangan berapa rupiah penghasilan saya per bulan (saya sudah lama pensiun), saya diminta memberikan nomor rekening bank saya kepada mereka lewat sebuah formulir digital juga. Tentu saja, saya tidak pernah memberi respons apapun terhadap permintaan ini. I was sick of it, indeed!

Kembali ke tawaran mobil. Nah, setelah satu tahun mengamati dan menganalisis, khususnya dalam beberapa bulan terakhir ini, saya dengan cermat dapat menyimpulkan bahwa insan-insan Legion itu terdiri atas tiga kelompok berbeda, tetapi bekerjasama, dengan satu tujuan bersama: memaksa saya ganti agama, dan sebagai imbalannya saya akan diberi uang atau sebuah (atau bahkan dua buah) mobil.

Satu kelompok, ya beragama Kristen, yang sudah biasa saya sebut sebagai Kristen dinosaurus T-Rex gurun kepada teman-teman di gereja, atau sebagai serigala berbulu domba Kristen, atau sebagai ilalang-ilalang di antara gandum-gandum Kristen.

Dua kelompok lainnya bukan-Kristen, tapi satu agama yang berbeda aliran doktrinal dan gaya memperdagangkan Tuhan Yesus kepada saya. Mereka mau membeli Tuhan saya, lalu membuang-Nya. Hal ini akan saya perjelas pada waktunya. Tidak sekarang.

Tetapi sebelum tawaran-tawaran material mobil ini disodorkan ke saya, dengan sangat jahat mereka membikin babak-belur dulu mobil Avanza (usia cukup tua) yang saya miliki dan biasa pakai.

Berbulan-bulan lamanya, setiap saya keluar rumah dengan menyetir mobil Avanza saya, menuju tempat-tempat tertentu, selalu ada sebuah mobil lain yang membuntuti saya sambil membunyikan klakson terus-menerus berinterval.

Mungkin karena sudah memiliki kecerdasan emosional (emotional intelligence) sebagai seorang insan lansia, saya tak pernah terpancing marah terhadap mobil atau si pengemudinya yang sedang bikin suara gaduh klakson di belakang mobil saya. Insan-insan Legion itu memang sudah berpembawaan gaduh dan jumawa, di mana-mana. Kegaduhan mereka sangat biadab, bahkan juga ketika kami berada di luar kota Jakarta. Hal ini akan saya kisahkan lain kali. Catat saja bahwa legion yang dulu telah ditaklukkan Tuhan Yesus juga membuat suara-suara ribut.

Well, dengan tetap tenang, saya terus saja melaju ke depan. Mobil-mobil pembuat gaduh itu setelah satu jam lebih membuntuti saya, akhirnya mengambil arah lain.

Tetapi ada dua kali kejadian yang lain, di waktu dan di jalan raya yang berbeda.

Ketika dibuntuti sebuah mobil yang sekian menit bikin gaduh lewat suara klakson, saya sengaja menyingkir ke kiri, ke tepi jalan, lalu berhenti, mempersilakan mobil gaduh itu jalan lebih dulu, melewati mobil yang sedang saya kendarai.

Waaah, bukannya senang diberi kesempatan lewat lebih dulu, masing-masing supir dua kendaraan itu malah marah luarbiasa. Si supir keluar dari mobilnya. Lalu meninju dan menendang-nendang body mobil saya, sehingga bagian-bagian tubuh mobil saya yang ditinju dan ditendang itu peyot ke dalam.

Saya tidak tahu, apakah tinju dan kaki dua supir mobil-mobil gaduh itu bengkak atau keseleo setelah meninju dan menendang mobil saya di tepi jalan raya.

Dua kali saya mengalami kejadian kekerasan itu. Waktu itu, di dalam mobil, saya cuma bisa berdoa, minta perlindungan Tuhan Yesus. Tak ada niat saya samasekali untuk adu jotos dengan mereka. Saya sudah tak memiliki kekuatan fisik di usia yang mulai dan makin lansia, meskipun di masa remaja dulu saya sempat beberapa bulan berlatih ketangkasan bela diri silat.

Selain dibuntuti mobil-mobil pembuat gaduh, seringkali mobil Avanza yang sedang saya kendarai dipepet lalu dipotong tajam dari sebelah kanan. Selalu terjadi benturan antara mobil saya dan mobil-mobil yang memepet lalu memotong tajam itu. Tentu saja, saya selalu langsung berhenti di sisi kiri jalan untuk memeriksa akibat benturan-benturan itu. Benturan-benturan yang disengaja itu telah membuat bagian depan mobil saya bonyok di sana-sini, dan beberapa sambungannya lepas, tak bisa dirapatkan lagi. Saya biarkan saja kondisi bonyok itu sampai sekarang.

Oh ya, saya sama sekali tidak terdorong untuk mengejar mobil-mobil yang telah membenturkan diri ke mobil yang sedang saya kendarai. Kok bisa begitu? Ya, karena saya tahu siapa mereka dan apa tujuan mereka lewat cara-cara yang barbar itu. Saya bersyukur saja ke Tuhan Yesus atas semua kejadian itu.

Di suatu saat lain, ketika cukup lama memarkir mobil Avanza saya di tepi suatu jalan, bagian asesoris besar penutup bemper depan dan muka mobil dicopot orang, sehingga di sana-sini meninggalkan bopeng-bopeng besar karet-karet hitam bekas lem asesoris penutup bemper depan dan bagian muka mobil itu.

Para pelakunya bukan para pencuri, sebab asesoris besar bekas yang dicopot dari bagian muka mobil Avanza saya itu tidak akan laku dijual. Mereka hanya ingin membuat mobil saya babak-belur di sana-sini sehingga jelek dipandang. Lalu?

Ya, mudah diduga, mereka beranggapan, jika mobil Avanza saya sudah dibuat oleh mereka menjadi begitu jelek tampilan body-nya, maka saya akan pasti menerima tawaran mobil-mobil keren bergantian dari mereka, selama berbulan-bulan.

Sayangnya, saya sama sekali tidak akan pernah tertarik pada setiap dan segala tawaran kekayaan material dari insan-insan Legion itu. Kondisi body mobil Avanza saya yang babak-belur dan wajah depannya berbopeng-bopeng hitam besar ini, saya biarkan saja hingga saat ini. Ya, sebagai barang bukti.

Bahkan mereka mencoba meyakinkan saya lewat berbagai bentuk pesan, lewat berbagai orang, yang saya kenal maupun yang tidak saya kenal, bahkan juga dari seorang pendeta lansia, bahwa jika seseorang mengikuti Junjungan suatu agama, maka orang itu akan pasti berkelimpahan material.

Sebaliknya, kepada seorang yang sangat taat mengikuti semua ketentuan hukum agama Yahudi, Yesus Kristus yang menjadi Tuhan saya memberi satu perintah penyempurna.

Kata Yesus kepada orang yang sangat religius dan sangat kaya itu, Juallah semua harta kekayaanmu itu, lalu berikan seluruh uangmu itu kepada orang-orang miskin,... selanjutnya ikutlah Aku.” (Markus 10:21 dan par.)

Mendengar permintaan Yesus itu, patah-hatilah si orang yang sangat kaya itu, sebab dia memiliki harta yang sangat banyak. Success theology itu teologi modern para kapitalis rakus Kristen. Mereka sangat, sangat banyak jumlahnya, dan ada di mana-mana. Lagu Jim Reeves yang sudah saya muat liriknya di atas, patut mereka dengarkan dan hayati, jika mereka memang betul-betul pengikut sejati Yesus, bukan para pengikut Dewa Mammon.

Nah, terkait tawaran-tawaran mobil kepada saya, ada tiga kejadian yang menarik yang perlu saya kisahkan sekarang.

Setelah sekian bulan saya tak pernah menghiraukan berbagai mobil yang mereka tawarkan, mereka pastilah berpikir bahwa bagi saya, mobil-mobil yang telah ditawarkan oleh mereka adalah mobil-mobil murahan. Maka, berlangsunglah satu drama sekitar kurang-lebih satu jam persis di jalan raya di depan rumah kami.

Menjelang sore di suatu hari belum lama ini, di jalan raya di depan rumah kami dalam komplek suatu perumahan luas di kawasan Jakarta Utara, tiba-tiba terdengar suara-suara sangat ribut dan gaduh luar biasa.

Ya, kami di dalam rumah tiba-tiba mendengar suara sangat ribut dan gaduh, berupa suara derit-derit kencang besi-besi yang digesekkan pada lembaran besi tebal bergerigi, dan suara besi-besi gerendel kunci-kunci penutup bagian-bagian dari (saya duga) mobil truk besi kontainer yang sangat panjang. Besi-besi gerendel kunci-kunci itu ditarik lalu didorong kembali dengan kencang berulang-ulang. Itulah suara yang sangat menyakitkan telinga, yang saya dengar. Sangat-sangat mengganggu, bukan hanya saya, tapi pasti juga tetangga lain sejauh mereka bukan antek-antek Legion.

Tapi saya tetap kalem di dalam rumah. Puteri dan isteri saya juga saya minta tetap tenang. Ya, kami di dalam rumah kami sendiri sudah biasa diperlakukan semau-maunya oleh insan-insan Legion itu, tanpa pihak penjaga keamanan dan ketertiban di komplek kami (RW 12) menegur atau menindak mereka, selama bertahun-tahun. Padahal, kami juga membayar iuran bulanan warga untuk kebutuhan PKL, pemeliharaan dan keamanan lingkungan.

Setelah lima belas menit, suara yang menyayat pendengaran itu berkurang. Barulah saya keluar rumah, dan dari teras rumah kami, betul saja saya melihat sebuah truk besi trailer panjang dengan hamparan bagian belakangnya tertekuk miring ke bawah, sedang diparkir. Truk besi panjang trailer sajakah? Kosong? Oh tidak.

Pada lantai truk trailer panjang itu, yang memang digunakan untuk mengangkut mobil-mobil (saya tafsir, bisa memuat dua mobil), terparkir sebuah mobil sedan Honda warna hijau mentereng dan sangat mengkilap. Mobil baru, tapi sudah bernomor plat hitam.

Ada satu dua orang berdiri tak jauh dari truk besi trailer panjang itu. Mereka sedang menunggu saya, dan mau melihat reaksi saya. Mereka anggap, saya akan takluk pada mereka, karena mata saya pasti menjadi hijau oleh sedan hijau Honda itu.

Saya bertanya kepada Tuhan Yesus, apa yang saya harus lakukan untuk menjawab tantangan sedan mewah Honda hijau itu. Tiba-tiba saja, hati saya digerakkan oleh Roh Tuhan Yesus.

Saya didorong oleh Roh Tuhan untuk langsung mencuci mobil (sudah cukup tua) Yaris warna putih metalik puteri saya, dengan kocoran air PAM lewat selang panjang hanya dengan dua tapak tangan telanjang saya, tanpa memakai cairan sabun, tanpa busa/spons atau kain lap kanebo. Mobil Yaris ini diparkir di bagian kanan teras depan rumah kami, menghadap pintu teralis depan, sehingga semua orang di jalan raya di depan dapat jelas melihatnya. Mobil Avanza saya diparkir di bagian kiri teras depan.

Lalu saya lakukan hal yang didorong oleh Roh Tuhan itu, di depan mata para insan Legion itu selama lima belas menit. Inilah pertama kali saya mencuci sebuah mobil dengan cara seperti itu. Pesan saya jelas: saya sayang pada mobil puteri saya ini, meski sudah cukup tua, dan harganya sudah murah jika dijual. Saya tidak memerlukan sebuah mobil mewah. Cukup sebuah mobil lama Yaris saja, selain mobil Avanza saya yang juga sudah cukup tua usianya.

Well, pesan saya lewat tindakan simbolik mencuci mobil Yaris itu ditangkap oleh dua orang yang sedang menunggu itu. Terdengar oleh saya teriakan orang terkejut, Lihat, lihat itu!

Setelah saya menyelesaikan cuci Yaris dengan tangan telanjang --- dengan kulit dua tapak tangan saya, bergantian kiri dan kanan, langsung menempel pada permukaan bagian demi bagian body mobil ini seperti saya sedang mengelus-elusnya dengan penuh kasih sayang --- truk trailer panjang itu terdengar dinyalakan, lalu mengeloyor pergi, meninggalkan diri saya.

Berakhirkah usaha menawarkan mobil-mobil kepada saya? Pasti tidak, meski sudah berbulan-bulan lalu, mungkin sudah dua tahun lalu, mereka sudah tahu dengan sangat jelas bahwa saya menolak usaha apapun untuk memperdagangkan Tuhan Yesus yang hidup, the Living Lord, lewat tawar-tawaran material apapun kepada saya.

Lewat tulisan naratif ini, sekarang saya mau memberi saran kepada insan-insan demonik Legion itu.

Daripada kalian, roh-roh Legion, terus-menerus berusaha keras menukar Tuhan Yesus yang mengasihi saya dan saya sungguh kasihi dengan harta-benda kalian yang bernilai rupiah besar, lebih baik kalian berikan harta-benda kalian yang banyak itu kepada saudara-saudara sesama yang hidup susah dan terbelenggu kemiskinan. Amal-ibadah kalian yang seperti ini, pasti akan menyenangkan hati Tuhan yang kalian sembah.

Saya ini kekasih Yesus, dan akan selamanya menjadi kekasih Yesus. Berusaha mati-matian, dengan segala cara yang kalian halalkan, untuk merebut dan membuang Yesus Kristus dari kehidupan saya, bukanlah amal-ibadah yang diperkenan Tuhan anda semua. Juga 1000 persen, mustahil terlaksana. Tak terhitung jumlah malaikat Tuhan Maha-Langit yang menyelubungi saya, dan kami, selamanya.

Nah, kejadian kedua berlangsung tak lama kemudian di saat saya sedang olah raga jalan kaki pagi hari, ketika saya melewati rumah kami dalam putaran kedua.

Tetapi, saya terlebih dulu mau menyelingi suatu kisah lain tentang suara gaduh dan getaran lain yang sangat kencang dan besar, yang melanda bangunan rumah kami beberapa bulan lalu. Ada pada saya catatan tanggal kejadian dahsyat yang sangat mengerikan ini, dan sekian detailnya.

Tak heran bagi saya, jika kejadian yang dangerously crazy ini didiamkan saja oleh pihak Ketua RT 11 kami dan oleh para petugas PKL yang berseragam, yang semuanya digaji dari iuran bulanan warga RW 12 komplek perumahan kami.

Kejadian dahsyat apa?

Lantai dua coran beton rumah tetangga sebelah kiri kami (QJ 4/12), yang sudah lama kosong dan tak terurus, DIBOLONGKAN SAMPAI TEMBUS dengan palu sangat besar, pahat batu besar dan linggis sangat besar. Tindakan ini menimbulkan suara mendentum dan getaran sangat keras dan kuat, sampai getarannya terasa di rumah kami, dan pasti juga di rumah-rumah lain yang berdekatan.

Setelah tindakan barbar ini berlangsung sekian puluh menit, barulah saya memutuskan untuk keluar rumah, mendatangi tempat kejadian, lalu melihat langsung tindakan menggedor-gedor dan memalu coran beton lantai dua rumah kosong itu.

Setelah saya berbicara langsung kepada beberapa orang yang berkumpul di situ, dan meminta rumah kami di sebelah kanan rumah kosong itu JANGAN DIJAHATI TERUS-MENERUS, barulah tindakan barbar itu mereda. Tapi, coran beton lantai dua itu terus saja masih digempur, sampai tembus, meninggalkan sebuah lobang.

Seorang yang duduk di halaman depan rumah kosong itu mengatakan kepada saya bahwa lobang tembus di lantai dua itu dibuat untuk mengukur kekuatan coran betonnya, karena rumah kosong itu mau dirobohkan untuk di tanah yang sama akan dibangun sebuah rumah baru.

Saya tahu, itu jawaban yang mengada-ada. Di malam hari, saya bertanya lewat akun WA saya kepada seorang penatua gereja saya, yang bekerja sebagai seorang kontraktor bangunan, apakah jawaban orang itu betul. Sang kontraktor teman saya itu menyatakan, tidak pernah ada cara dan tujuan seperti itu.

Ya, para insan Legion itu sudah beberapa kali berusaha menggetar-getarkan rumah kami, dan berusaha membuat retak dinding-dindingnya, dari berbagai sisi rumah kami.

Bahkan ada usaha-usaha keji membuat rumah kami terbakar lewat rekayasa korsleting arus listrik yang mengalir lewat kabel-kabel PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang terpasang di loteng di bawah wuwungan rumah.

Nah, suatu hari saya terdorong untuk memeriksa loteng di bawah wuwungan rumah kami, dengan membawa alat penerang. Saya menemukan semuanya. Timbunan kapas-kapas tebal diletakkan erat di dua lokasi, tempat terhimpunnya sekian sambungan kabel listrik yang mencuat tersolasi. Saya buat videonya. Saya simpan lembaran-lembaran kapasnya. Saya perbaiki solasi-solasinya, dengan memberi solasi baru. Saya tahu pasti, siapa para kriminal pelaku tindakan keji ini.

Bahkan di beberapa tempat, karet hitam pelapis kabel-kabel listrik PLN digegep dengan tang-tang tajam, sehingga terlihat bekas sayatan-sayatan pada karet pelapis kabel-kabel listrik, dan sebagian karet pelapisnya sudah terkelupas, copot. Tujuannya jelas, untuk membuat saya suatu saat tersengat arus listrik di saat-saat saya sedang mengurus bangunan rumah dan memperbaiki bagian-bagian yang rusak, atau di saat saya sedang meng-input nomor token KWH listrik yang sudah saya beli ke meter prabayar PLN di rumah kami.

Barang-barang bukti tindak kriminal mereka terhadap kabel-kabel listrik PLN di rumah kami, masih saya simpan sampai saat ini. Sebagian kasus tindak kriminal ini sudah saya laporkan langsung ke kantor pusat PLN di kawasan Sunter. Saya tidak mau melaporkannya ke kantor cabang PLN di Jl. Yos Sudarso, Jakarta Utara.

Syukurlah, petugas-petugas dari PLN Pusat itu sudah mengganti semua kabel luar rumah PLN, mulai dari tiang listrik di sudut siku seberang jalan raya hingga masuk ke meter PLN prabayar yang terpasang di halaman depan rumah kami. Juga jalur kabel luar ini sudah dipindah, tidak lagi melintasi dan menempel pada tepi depan dak atap rumah kami. Di saat dua petugas PLN bekerja dengan profesional, suara gaduh dan teriakan-teriakan ditimbulkan dekat-dekat rumah kami oleh sejumlah insan Legion itu. 

Saya tulus berterimakasih kepada kantor PLN Pusat di Sunter. Tetapi, apakah ada tindakan penertiban terhadap para kriminal itu, saya tidak tahu.

Nah, sekarang kembali ke kejadian kedua terkait tawaran mobil lain setelah saya menolak tawaran mobil sedan Honda yang mentereng itu.

Di pagi hari, di saat saya sedang olah raga jalan kaki, ketika sedang mau melintasi rumah saya di putaran kedua, tiba-tiba syuuuur.... meluncur sebuah mobil sedan besar warna hitam mengkilap, yang tergolong mobil mewah (ya, merk Mercy). Sangat dekat dengan saya yang sedang berjalan kaki. Lalu mobil itu berhenti dan diparkir persis di kiri depan rumah kami. Saya tenang saja terus berjalan kaki, dan menyempatkan diri melirik ke nomor plat mobil mewah itu.

Mobil mewah itu diparkir kurang lebih setengah jam. Ketika melewati rumah saya kembali di putaran keempat, mobil itu sudah tidak ada lagi. Ya, karena saya samasekali tidak mempedulikannya.

Nah, usaha yang ketiga belakangan ini, dijalankan kelompok yang lain. Dari indikasi-indikasi yang telah saya temukan, di dalam dan di luar komplek perumahan kami, kelompok ini adalah kelompok Kristen dinosaurus T-Rex gurun.

Cara mereka cukup unik. Mereka memarkir dua mobil, di tepi-tepi jalan raya di depan dan di kanan rumah kami. Masing-masing mobil ini bernomor plat hitam pilihan B **** UYG dan B **** UZL.

Kenapa unik? Karena tiga huruf belakang pada plat-plat hitam nomor-nomor mobil-mobil mereka itu adalah juga tiga huruf belakang mobil Avanza saya (UYG) dan mobil Yaris puteri saya (UZL). Dua mobil kalangan Legion itu diparkir bersamaan selama satu minggu di tepi jalan raya seberang depan rumah kami dan di tepi jalan depan rumah tetangga kanan kami.

Tentu saja, mereka sedang menawarkan dua mobil mahal, satu untuk saya, dan satu lagi untuk puteri saya. I am very sick of it, seriously! Tapi, saya tak pernah mempedulikan mereka sama sekali.

Mungkin karena akhirnya mereka menyadari bahwa memamerkan dua mobil sedan B **** UYG dan B **** UZL di tepi jalan raya di depan dan di kanan rumah kami terlalu terang-benderang, mereka sekarang telah mengganti dengan mobil-mobil lain B **** UZS dan B **** UYK, atau huruf-huruf terakhir lain.

Itulah gawe insan-insan Legion setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun (pasti ada yang menggaji dan mendanai mereka). Seolah mereka akan mati kaku berdiri jika tidak berhasil mengganti agama saya. 

Ya, mereka sangat gigih dan barbar, dan pengecut, untuk melepaskan saya dari Yesus Kristus, supaya saya kemudian, jika mereka berhasil, sebagai akibatnya, akan disumpahi, dikutuki, diludahi, distigmatisasi, dicaci dan dihina oleh gereja-gereja di saat saya sudah berumur lanjut.

Tapi, ada seorang pendeta yang sudah pensiun (lazimnya disebut sebagai Pendeta emeritus, sebagai gelar kehormatan), yang pandai bernyanyi merdu dan mantap. Sekian waktu lalu, tiba-tiba dia menghubungi saya lewat phone call WA, lalu tak lama kemudian dia mengirim video-video lagu-lagu yang dinyanyikannya lewat WA ke saya.

Saya sempat heran, kok tiba-tiba dia share ke saya video-video rekaman lagu-lagu yang dia sedang nyanyikan yang diiringi musik yang dimainkan orang lain. Video-video yang keren, hemat saya.

Tetapi hal yang sangat tidak keren adalah ketika dia, tiba-tiba saja, menulis beberapa pesan WA ke saya. Katanya, kalangan tertentu yang bukan-Kristen yang sedang mendekati saya, lewat berbagai cara, adalah orang-orang yang baik hati. Jika saya terima mereka, kehidupan saya pasti akan berubah menjadi jauh lebih baik. Duuuiiiih!

Langsung saya tahu, sang pendeta emeritus itu sedang menjalankan misinya sebagai makelar atau agen Legion. Kejadian seperti ini sudah sekian kali saya alami. Tak perlu menunggu lebih lama, langsung saya putuskan segala bentuk komunikasi dengannya.

Betulkah, adalah suatu kebaikan, suatu berkat, jika ada kalangan yang menawarkan harta-benda ke saya yang besar nilai rupiahnya, dan akan saya terima, jika saya melepaskan Tuhan Yesus Kristus? Nah, sekarang saya mau menjawabnya.

Sang pendeta emeritus itu rupanya tidak tahu, atau sengaja tidak mau tahu hal ini: bahwa selama bertahun-tahun saya telah dan terus-menerus ditindas, dikejami, dijahati, diintimidasi, ditekan, dibahayakan, dan hak-hak sosial saya dan kami dihambat dan diintervensi (misalnya di saat saya atau isteri sedang berobat lewat jalur asuransi BPJS, termasuk juga ketika sedang berobat jalur bayar sendiri, atau di saat vaksinasi Covid-19 kami tidak bisa melihat dengan mata kepala sendiri cairan vaksin disedot dari botolnya lewat alat penyuntik, dll.).

Nah, sekarang saya mau mengingatkan sang pendeta emeritus yang telah salah jalan itu, dengan mengacu ke apa yang terjadi di saat-saat Yesus dan para murid-Nya sedang mempersiapkan dan merayakan Perjamuan Malam Terakhir, the Last Supper.

Dalam Perjamuan Malam itu, salah seorang dari antara dua belas murid terdekat Yesus, yang bernama Yudas Iskariot (atau lebih lengkap: Yudas, putera Simon Iskariot), ditulis kerasukan Iblis (Yunani: ho satanas) (Yohanes 13:27; bdk. Lukas 22:3). Kenapa?

Karena Yudas telah bersekongkol dengan sejumlah besar orang untuk menyerahkan (Yunani: paradidōmi) Yesus, dan sebagai imbalannya Yudas akan menerima sejumlah uang (Lukas 22:5) (NRSV: money. Yunani: argurion), yang dalam Injil Matius ditulis tiga puluh uang perak (Matius 26:15) (NRSV: thirty pieces of silver. Yunani: triakota arguria).

Dalam kisah Perjamuan Malam Terakhir itu, ditulis bahwa setelah Yudas menerima roti perjamuan, dia segera pergi, dan saat itu HARI SUDAH MALAM, hari yang gelap (Yohanes 13:30). Jelas, sebutan hari sudah malam mau menyatakan bahwa Yudas, dengan tindakannya menjual Yesus, adalah bagian dari kuasa-kuasa kegelapan.

Lewat peran gelap dan jahat Yudas Iskariot itu, Yesus dibuat berhadapan dengan sejumlah besar orang yang mencakup: imam-imam kepala (Yunani: hoi arkhiereis), para ahli Taurat (Yunani: hoi grammateis), para penatua (hoi presbyteroi), orang-orang Farisi (hoi pharisaioi), kepala-kepala pengawal Bait Allah (hoi stratēgoi), dan orang-orang Yahudi (hoi Ioudaioi, sebuah terma khas dalam Injil Yohanes, yang mengacu ke kalangan yang memusuhi Yesus, lihat misalnya 13:33; 18:12).

Semua orang yang memiliki kuasa itu, yang berkonfrontasi dengan Yesus, secara kolektif disebut oleh Yesus sebagai kuasa kegelapan (NRSV: the power of darkness. Yunani: eksousia tou skotous) (Lukas 22:53).

Kita semua sudah tahu bahwa, karena perbuatannya yang aib dan sangat tercela, Yudas Iskariot akhirnya membunuh dirinya sendiri. Saya sudah menulis panjang tentang seluk-beluk tindakan Yudas Iskariot yang sangat tercela dan hina. Bacalah di sini dan di sini.

Jadi, ya sangat jelas. Karena saya ini kekasih Yesus, dan akan abadi setia pada Yesus, maka setiap usaha mentransaksikan Yesus, setiap usaha untuk memberi saya harta-benda dalam jumlah nilai rupiah berapapun sebagai pengganti Yesus, adalah usaha-usaha kuasa kegelapan, usaha-usaha Iblis. Itulah keyakinan saya.

Yang menarik adalah bahwa semua kelompok orang yang memiliki kuasa yang bergabung itu, yang mau mengakhiri kehidupan Yesus, dikatakan Yesus tidak akan bisa mengalahkan “lebih dari dua belas legion malaikat” (Matius 26:53. Teks NRSV: “more than twelve legions of angels”. Teks Yunani: pleiō dōdeka legiōnas aggelōn). Ya, jika Yesus mau memanggil para malaikat itu untuk bertindak.

Jadi, Legion kegelapan dan kedurjanaan tidak akan mampu mengalahkan Legion-Legion para malaikat kudus, apalagi jika jumlah malaikat yang menyertai kekasih-kekasih Yesus tidak terhitung jumlahnya.

Nah, sebagai penutup kisah saya di atas, saya ingin membagi info yang perlu diketahui juga.

Ketika sekian hari lalu saya sedang berolahraga jalan kaki di pagi hari, di suatu jalan yang sedang saya lewati tiba-tiba saja sebuah mobil putih metalik kecil (seperti mobil Yaris puteri saya), yang semula sedang diparkir di pinggir jalan, dinyalakan, lalu terdengar bunyi derit keras dari fanbelt yang sedang berputar pada mesin mobil itu. Lalu mobil ini melaju kencang meninggalkan saya.

Nah, mobil Yaris puteri saya itu juga kadang mengeluarkan suara derit cukup kencang dari fanbelt-nya yang berputar ketika mesin mobil dihidupkan. Jadi, saya menangkap suatu isyarat, isyarat durjana dari satu insan demonik Legion. Saya sudah catat nomor plat mobilnya. Dan, saya tahu, si pengemudinya dari kelompok mana. 

Akhirnya, para kekasih Yesus yang telah membaca tulisan naratif saya ini, biarlah terdorong untuk mendoakan kami dengan tulus dan ikhlas. Doa kepada sang Bapa, Allah Maha-Langit, kepada Yesus Kristus, sang Putera Allah yang hidup, the Living and Loving Lord, kepada Roh Kudus, sang Tuhan Pelindung, Penolong dan Pemberdaya.

Jika bisa, berserulah juga kepada Tuhan Bunda Shekinah, kepada Tuhan Bunda Hikmat, kepada Bunda Maria, sang Ibunda yang diberkati dan dimuliakan, dan kepada para malaikat kudus yang tak terbatas.

Jakarta,
Jumat, 24 Juni 2022

Diedit 28 Juni 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat





Thursday, June 16, 2022

AKU KEKASIH YESUS, AKU WARGANEGARA INDONESIA

 



Pada 4 April 2022, saya mulai berolahraga jalan kaki di pagi hari di komplek perumahan kami di Jakarta Utara. Semula saya mengambil 3-4 putaran terjauh, yang menghabiskan waktu 1,5 jam lebih, malah, karena menikmati dan menghormati alam sekitar, bisa sampai 2 atau 3 jam, di bawah sorotan cahaya Mentari yang memberi sangat banyak manfaat bagi kesehatan kita. 


Tetapi, karena pertimbangan keamanan dan keselamatan diri saya sewaktu berjalan kaki, dalam kurang lebih satu bulan terakhir ini saya jadinya mengambil putaran separuh putaran terjauh sebelumnya, dekat-dekat rumah saja.




BTW, perhatikan foto diri saya persis di atas ini. Saya membotakkan sendiri kepala saya dengan gunting dan pisau silet bertangkai pada 15 Juni 2022. 

Di pagi hari kemarin ini, saya yang berkepala gundul berolahraga jalan kaki dengan membawa sebuah patung kecil plastik Budai, atau sang Buddha periang, the Laughing Buddha, yang mengambil posisi duduk bersila, bermeditasi hening, dengan hati dan wajah yang selalu riang. Patung indah warna kuning jingga ukuran segenggam ini, dengan kepalanya gundul, saya taruh pada tapak tangan kanan saya sementara berjalan kaki. Budai gundul, saya juga. Seolah kami kembaran.




Siapapun yang memandang Budai, mereka akan ikut tertawa riang.


Pesan saya jelas, bagi orang yang arif dan bijaksana: hentikan segala suara gaduh dan bising yang terus-menerus disengaja, di dalam komplek perumahan kami. Heninglah, seperti Budai, dalam kegembiraan. Tertawa riang namun hening. Jauhkan keributan, kegaduhan, kemarahan yang meluap-luap, dan kejumawaan. Cerdaskan emosi, jangan dibuat bodoh terus-menerus. Jangan tetap jadi kanak-kanak abadi.

Nah, saya sekarang mencukupkan waktu 1 jam saja untuk 3-4 putaran pendek jalan kaki. Meski begitu, gangguan dan bahaya yang bisa membunuh saya (karena saya sudah lansia) tetap muncul. Gabungan dan gerombolan Legion ada di mana-mana, bahkan sampai masuk ke alam Internet, yang mengharuskan saya bertempur sebagai seorang lansia dengan Mr. G. It is really, really mad, shocking and terrorizing. And yet, I never panic due to the mighty power of the Living Lord Jesus in me.

Dalam 1 jam jalan kaki pagi yang saya perpendek itu, keringat sehat yang keluar banyak, membuat T-shirt yang saya pakai basah di bagian belakang dan di dada.

Karena tetap mengalami gangguan dan bahaya yang berpindah tempat, akhirnya, sejak 2 atau 3 minggu lalu, saya memutuskan untuk mengajarkan hal-hal yang perlu kepada mereka lewat bahasa tubuh dan tindakan simbolik. Saya berikrar, tidak akan menyapa atau berbicara lisan kepada siapapun selama saya berjalan kaki, mengubah kebiasaan sebelumnya.

Keputusan dan ikrar saya itu, saya ambil dan tekadkan setelah Tuhan Yesus Kristus mendorong saya di dalam suatu doa intens saya. Bagaimana kondisi spiritual ini dapat (sering) saya alami, baik di saat berdoa maupun bisa tiba-tiba saja saya rasakan, tidaklah perlu saya kisahkan sekarang. Yang saya temukan, spiritualitas saya sedang tumbuh makin dalam lewat pertempuran spiritual melawan Satanic forces yang terus-menerus memburu dan menjepit saya, dari segala arah dan lini, selama bertahun-tahun hingga saat ini.

Nah, berbagai pesan sudah saya sampaikan kepada mereka. Pesan-pesan saya selama ini pasti dapat ditangkap oleh mereka, maupun oleh warga yang lain yang kebetulan berpapasan dengan saya (di saat mereka juga berjalan kaki, atau sedang berkendara).

Nah, tadi pagi, 16 Juni 2022, saya mengenakan benda-benda simbolik yang terlihat pada foto pertama di atas (klik fotonya untuk caption di bawahnya dapat terbaca dengan jelas) ketika saya berolahraga jalan kaki sebanyak 4 putaran, selama 1 jam penuh.

Pesan saya, ya sudah saya tuliskan pada caption foto di atas dalam bahasa Inggris.

Topi warna coklat yang saya pakai adalah topi gerakan teruna-teruna Pramuka. Terpasang sebuah bendera mini Merah-Putih pada salah satu sisi topi itu, pas di telinga kanan saya. Kalung Salib emas sepuhan melingkari leher saya.

Ya, betul, saya tadi pagi telah menyampaikan pesan yang jelas bagi mereka yang bisa melihat. Bukan cuma melihat dengan mata biasa, tetapi juga dengan mata akal dan mata hati, lalu mengerti.

Pesan saya: Bahwa saya ini seorang yang sudah beragama, seorang Kristen, kekasih Yesus. Jadi, janganlah ada gerombolan apapun yang terus-menerus mati-matian dengan segala cara memaksa saya ganti agama. Indonesia ini sebuah negara demokrasi republik, bukan suatu negara agama apapun. Bahwa saya sebagai seorang Kristen mencintai bangsa dan negara Republik Indonesia ini, membela dan menghormati bendera negara Republik Indonesia. Bahwa saya sejak usia muda, sebagai seorang teruna, sudah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia, hingga kini di usia lansia jalan 64 tahun, dan akan terus mengabdikan diri saya. Meski saya Kristen, rasa dan semangat keindonesiaan saya punyai.

Nah, di saat menjalani putaran kedua, saya memberi hormat pada bendera Merah-Putih yang berkibar tinggi di halaman depan kantor sekretariat Rukun Warga (RW 12) yang belum lama ini selesai dipugar sehingga kini tampak megah dan apik lahiriah. Penghormatan takzim sekian menit saya arahkan kepada sang Saka Merah-Putih.

Di akhir putaran keempat, ketika sudah sampai kembali di depan rumah kami, saya, sebagaimana lazimnya dalam 1 bulan terakhir ini, melakukan suatu ritual singkat, seperti pada setiap saat saya mau memulai olah raga jalan kaki pagi hari.

Saya berdiri di depan pintu masuk ke rumah, menghadap ke arah rumah. Lalu saya menengadah ke langit, menatap sang Matahari yang sudah berada tinggi di atas kepala saya. Kepada Sang Maha-Langit yang telah memberi Matahari dan cahayanya, saya berterimakasih dan memberi hormat, seraya mengingat Yesus Kristus sang Terang Dunia.

Setelah itu, saya ubah posisi berdiri saya, menghadap ke arah yang sebaliknya, ke arah jalan raya, dan menengadah ke atas langit sambil mengangkat tinggi dua belah tangan saya yang tertangkup.

Lalu ritual kecil saya jalankan dengan gerakan tubuh dan doa syukur dalam hati, kepada Tuhan Allah, sang Bapa, Tuhan Maha-Langit, kepada Yesus Kristus, sang Penerang dunia dan kehidupan, dan kepada Roh Kudus, sang Pembimbing, Penolong dan Pemberdaya kehidupan. Kuasa-kuasa sorgawi lainnya yang penuh cinta kasih, misalnya Bunda Shekinah, Bunda Maria, Bunda Hikmat, para malaikat pelindung, juga saya panggil. Saya yakin betul, bahwa Roh Tuhan Maha-Langit yang berdiam di dalam diri saya dan yang menyelubungi saya, lebih besar tanpa batas dibandingkan roh-roh lain apapun yang ada dalam jagat raya.

Sesungguhnya, kegiatan olah raga jalan kaki di pagi hari, sejak saya keluar rumah, kemudian kembali lagi, saya nikmati sebagai suatu ritual. Ya, ritual doa dan meditasi jalan. Pada momen-momen tertentu, di tempat-tempat tertentu, saya tambahkan dengan ritual penghormatan pada sang Matahari di angkasa yang selalu menemani saya berjalan kaki. Melihat Matahari saya imajinasikan sebagai melihat Yesus Kristus sebagai Sol Invictus atau Sang Matahari yang tak terkalahkan. Dampak ritual berjalan kaki ini bagi kesehatan tubuh dan mental saya, sangat signifikan. It does heal me!

Kate Southworthartis kota London, yang karya-karyanya diakarkan pada ritual, menyatakan bahwa ritual is a way of letting go of the everyday. A ritual is like a poem. There is no wrong or right way. Enjoying the deepness, stillness and quietness of darkness of the night, and then, having been ready, lighting a candle to welcome the return of light in the early morning, is one example of a ritual.

Baik, saya terjemahkan:

“Ritual adalah suatu jalan untuk melepaskan diri dari kerutinan kehidupan sehari-hari. Sebuah ritual itu seperti sebuah puisi. Jadi, tidak ada ritual yang benar atau ritual yang salah. Nah, di saat anda menikmati kedalaman, keheningan dan kesunyian kegelapan malam, lalu, setelah siap, anda menyalakan sebuah lilin untuk menyambut terang yang sudah datang kembali di saat fajar sudah tiba, anda sedang menjalankan satu contoh sebuah ritual.

Well, setelah selesai ritual pendek di depan pintu masuk rumah kami tersebut, saya membuka masker wajah yang sebagian sudah basah, lalu merobeknya dan melipatnya sehingga menjadi kecil. Setelah itu, saya mengikatnya dengan talinya, lalu saya buang ke dalam tempat sampah. 

Itu juga sebuah pesan saya ke kalangan Legion itu yang sengaja menyerakkan banyak masker wajah, bekas dan baru, di aspal jalan-jalan yang saya lewati. Jalan-jalan sampai saat ini banyak dikotori, dengan benda-benda dan zat-zat yang beraroma busuk, dan membuat jalan-jalan basah dan licin. Saya berisiko terpeleset, lalu jatuh, dan tulang-tulang lansia saya dapat patah. Legion memang keji, nurani mereka sudah mati.

Legion itu tahu bahwa sebagai insan lansia, saya memiliki tulang-tulang yang mulai merapuh. Maka, berbagai kondisi direkayasa untuk membuat saya terjungkal di jalan atau terperosok ke dalam lubang selokan yang penutup besinya sudah diangkat dengan sengaja, atau ditaruh pada posisi yang sangat membahayakan setiap pejalan kaki atau setiap mobil yang menikung tajam di situ. Saya tahu semua rekayasa Legion itu. Tidak ada cinta Tuhan dalam diri mereka. Yang ada cuma sifat-sifat roh-roh Legion yang dulu, di abad 1 M, sudah ditaklukkan Yesus.

Well, pintu rumah saya buka, lalu saya masuk. Beberapa saat kemudian, setelah merapihkan diri, saya bernyanyi, memuji dan memanggil Tuhan, di dalam rumah.

Jakarta, 16 Juni 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat

Diedit 17 Juni 2022