Wednesday, August 6, 2014

Dua belas kriteria kristologi yang autentik


Menyayangi, bukan mengkhianati, Yesus

☆ Editing mutakhir 6 Maret 2020

Tulisan ini adalah gabungan rangkaian kicauan saya di Twitter 5 Agustus 2014 yang sudah dikembangkan.

Rentetan kicauan saya ini merupakan sebuah tanggapan panjang terhadap sebuah komentar sangat pendek seorang Muslim sahabat saya terhadap gambar cover buku saya yang berjudul Memandang Wajah Yesus (2012) yang waktu itu saya kembali iklankan di Twitter untuk kesekian kalinya.

Ini bunyi komentarnya, “Tuhan kok wajahnya digambar...? beda-beda lagi...!” Komentarnya yang bagus ini saya jawab demikian, “Memang ada banyak kristologi, alhasil wajah Yesus juga beranekaragam. Ini kekuatan kristologi Kristen yang tidak ada di Islam.” Sahabat Muslim saya itu diam saja, tidak memberi reaksi apapun, entah kenapa. Setelah itu saya memberi uraian tentang kristologi Kristen. Selengkapnya berikut ini.



Dalam kekristenan, menggambar wajah Yesus itu sangat lumrah.

Ada sangat banyak gambar wajah Yesus, sejak era permulaan kekristenan hingga kini. Tidak cuma satu. Semua orang, Kristen atau bukan, boleh dengan bebas memikirkan siapa Yesus. Alhasil akan selalu ada banyak wajah Yesus dan kristologi yang muncul dari berbagai latarbelakang sosiobudaya, lingkungan hidup, ekonomi, politik, dan etnis.

Yesus dari Nazareth telah, sedang dan akan terus menjadi milik dunia; tidak bisa dia dimonopoli oleh kelompok apapun dan di manapun. Siapapun, dari latarbelakang agama, kebudayaan, kebangsaan dan orientasi seksual apapun, didorong untuk mau mengungkapkan pemahaman mereka masing-masing tentang sosok Yesus.

Orang ateis pun dipersilakan punya gambar wajah Yesus mereka sendiri. Yesus memang sosok yang luar biasa.

Kebebasan merumuskan kristologi ini adalah realitas, bukan fiksi, kendatipun tentu saja di dalam kekristenan sendiri ada banyak aliran doktrin yang satu sama lain kerap saling mengecam dengan keras sebatas wacana.

Saya sendiri adalah salah seorang yang kerap dikecam dengan pedas oleh banyak orang Kristen, khususnya saat saya memaparkan pikiran-pikiran saya tentang Yesus yang tidak sejalan dengan ortodoksi Kristen.

Perkenankan saya menyatakan hal berikut ini. Saya melihat diri saya dapat diandalkan jika berbicara tentang sosok Yesus sebagai sosok sejarah. Saya sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk meneliti sosok Yesus yang memuncak dalam penulisan sebuah disertasi doktor, yang sebelumnya didahului riset panjang hampir lima tahun di beberapa universitas ternama di negeri Belanda.

Bagaimanapun juga, masa-masa tegang yang berlumuran darah dalam memahami siapa Yesus sudah lama berlalu dalam kekristenan.

Kini kekristenan relatif sudah terbiasa dengan pluralisme dan multikulturalisme kristologi.

Di lingkungan Gereja Roma Katolik yang hierarkis dan sentralistik sekalipun, wajah Yesus juga banyak, anekaragam kristologi juga bermunculan dan terus disusun, sejak dulu hingga kini.

Gambaran-gambaran tentang sosok Yesus yang revolusioner yang muncul dalam anekaragam teologi pembebasan gaya Amerika Latin, yang sebelumnya secara resmi dikecam (oleh Paus Yohanes Paulus II dan Kardinal Ratzinger), kini sudah mulai diterima resmi oleh GRK (sejak Paus Fransiskus menjabat)./**/

Mulai dari kaum buruh sampai kalangan konglomerat hingga pemimpin negara, kristologi bebas dirumuskan masing-masing, sejalan dengan kepentingan masing-masing. Mulai dari rakyat, pemulung, buruh, sampai kalangan petinggi dan raja-raja, Yesus dengan bebas juga dibayangkan masing-masing, tentu sejalan dengan kepentingan masing-masing.

Tidak ada teologi atau kristologi yang netral atau murni datang dari sorga, tanpa kepentingan duniawi yang diperjuangkan di dalamnya. Ini fakta dalam semua agama.

Kalau dalam kekristenan kemajemukan kristologi adalah lumrah, apakah dalam Islam Muhamadologi yang majemuk dimungkinkan? Atau jangan-jangan, dalam dugaan saya, istilah “Muhamadologi” sendiri tidak diterima dalam dunia Islam.

Kristologi adalah suatu usaha ilmiah non-dogmatis untuk memikirkan dan mengungkapkan siapa sosok Yesus itu dan apa signifikansinya buat manusia dan dunia, dalam suatu konteks sosial dan konteks sejarah tertentu.

Yang merumuskan kristologi tentu saja para sarjana setelah mereka mendengarkan dan memperhatikan dengan serius dan empatetis bagaimana sosok Yesus dihayati dalam berbagai lapisan sosial dalam suatu masyarakat.

Begitu juga, Muhamadologi, jika ada, adalah suatu usaha ilmiah untuk memikirkan dan mengungkapkan siapa sosok Muhammad dan apa signifikansinya buat manusia dan dunia, dalam suatu konteks sosial dan konteks sejarah tertentu.

Teman-teman Muslim tentu bisa bantu menjawab, apakah Muhamadologi dimungkinkan dijalankan dengan bebas dan kreatif dalam dunia Islam. Saya menunggu jawabannya.

Kita perlu bekerjasama dalam rangka memotivasi setiap umat beragama untuk dapat mengembangkan atau mereformasi teologi masing-masing supaya bermunculan dengan meriah dan kreatif anekaragam teologi alternatif. Kita tentu menunggu munculnya Muhamadologi yang relaks, kreatif, cerdas, membahagiakan, dan bebas, dalam dunia Muslim dewasa ini, yang dapat menuntun umat Muslim untuk dapat hidup tanggap dalam dunia masa kini.

Hemat saya, membebaskan setiap orang Kristen untuk merumuskan sendiri kristologi mereka tanpa dikontrol lembaga apapun, membuat hidup beragama terasa relaks dan membangkitkan kreativitas, imajinasi dan karya-karya besar.

Relaks, gembira dan cerdas dalam beragama, akan lebih memungkinkan agama apapun memberi sumbangan positif bagi pembangunan peradaban saintifik apapun.

Setiap kristologi selalu kontekstual. Maksudnya: selalu dirumuskan dengan bertolak dari, dan sebagai jawaban atas persoalan, konteks sosio-historis tertentu. Selalu kontekstual tak berarti selalu relevan.

Ketika konteks berubah, dan zaman berganti, setiap kristologi akan dengan sendirinya bisa tidak relevan lagi sehingga harus dirumuskan kembali.

Reformulasi setiap teologi ketika zaman dan konteks berubah adalah suatu keniscayaan jika kita ingin dapat beragama dengan relevan dan fungsional, tidak bantut lalu binasa dan punah. Reformulasi diharuskan jika kita tidak ingin salah zaman (baca: anakronistik) dan tak mau salah budaya (baca: etnosentristik).

Karena selalu kontekstual, maka setiap usaha merumuskan kristologi juga melibatkan disiplin-disiplin keilmuan lain yang membantu orang mengenal lebih luas dan lebih dalam konteks kehidupan mereka sendiri dan konteks kehidupan umat zaman-zaman dahulu.

Antropologi budaya, anekaragam sosiologi, studi-studi kesenian dan kebudayaan, kajian-kajian gerakan-gerakan populer, ilmu sejarah, studi-studi linguistik, studi-studi sosiopolitik dan sosioekonomi, sains dan teknologi modern, dan seterusnya, terbukti sangat membantu para kristolog di semua bagian dunia di zaman modern ini dalam menyusun kristologi-kristologi baru yang tanggap dan kontekstual.

Ingat, supaya kontekstual dan relevan, setiap kristologi harus lahir dari dialektika dan interaksi kreatif antara teks kuno dan konteks zaman dulu dan teks sekarang dan konteks masa kini.

Tetapi tentu tetap muncul sebuah pertanyaan dalam benak banyak orang yang berpikir dan eling: Apakah tidak ada rambu-rambu pembatas yang membuat kristologi tidak dirumuskan dengan liar dan semau-maunya?

Atau pertanyaan lainnya: Apakah tidak ada kriteria yang membatasi segala usaha merumuskan kristologi supaya kristologinya tidak berbunyi sembarangan?

Dua belas kriteria

Kriteria tentu harus tetap ada, tapi bukan untuk membatasi, melainkan untuk membuat setiap usaha berkristologi usaha etis dan keilmuan yang bertanggungjawab, dan tak mengkhianati Yesus.

Saya memikirkan dua belas kriteria, berikut ini.

Kriteria 1: setiap usaha berkristologi haruslah usaha etis yang agung. Lewat kristologi, kehidupan Kristen menjadi kehidupan etis yang agung. Kristologi dan etika tidak dapat dipisahkan.

Jadi, jika suatu kristologi menyebabkan orang Kristen hidup sembarangan, tidak bermoral, aib dan memalukan, kristologi ini harus ditolak. Kriteria 1 ini diminta oleh Yesus saat dia meminta para pengikutnya untuk hidup “sempurna sama seperti Allah di surga sempurna adanya.”

Kriteria 2: setiap kristologi harus membela orang-orang yang tertindas dan tidak berdaya supaya mereka kembali menjadi manusia yang dihargai dan merdeka dalam menentukan jalan-jalan kehidupan mereka sendiri kini dan di masa depan.

Bergantung pada konteks sosialpolitis yang melahirkannya, setiap kristologi yang dibangun dengan landasan kriteria ini dapat menjadi kristologi politis, yang dapat mendorong umat ambil bagian dalam gerakan politik yang bertujuan membela rakyat jelata yang sedang tertindas.

Kriteria 2 ini menjadi ciri utama kehidupan Yesus dan pergerakan yang dibangun dan dijalankannya sampai akhir kehidupannya. Yesus tidak netral, tapi memihak rakyat yang sedang ditindas.

Pada masa kehidupannya di negeri Yahudi yang sedang dijajah imperium Romawi, tidak dikenal pemisahan agama dari politik atau sebaliknya. Tapi hemat saya, politik hanya berguna jika melaluinya manusia dipulihkan hakikatnya, bukan malah harkat dan martabatnya sebagai insan yang mulia dihancurkan.

Kriteria 3: setiap kristologi memulihkan hubungan manusia dengan sesamanya sebagai insan-insan yang dikasihi dan disayangi Allah sebagai sang Bapa semua insan di Bumi.

Kriteria 3 ini terlihat dalam diri Yesus yang memperlakukan setiap orang sebagai anak dari Allah yang dipanggilnya Bapa yang menyayangi semua orang. Karena semuanya anak-anak Allah, mereka bersahabat dan bersaudara, dari latarbelakang berbeda apapun mereka datang. Dalam gerakan Yesus tidak dikenal diskriminasi dalam wujud apapun.

Kriteria 4: setiap kristologi bertujuan untuk memberdayakan manusia supaya setiap manusia mampu membangun kehidupan mereka kembali dari keterpurukan dan keterasingan.

Kriteria 4 ini nyata dalam segala ucapan dan kiprah Yesus yang bertujuan untuk memberdayakan rakyat di tengah kekuatan kolonial dan kaki tangan mereka, yang melemahkan dan membuat sakit rakyat jelata.

Kriteria 5: setiap kristologi membangun kehidupan komunitas yang kuat, yang dicirikan keadilan, kesetaraan, persaudaraan, solidaritas dan cinta.

Kriteria 5 ini diwujudkan Yesus di berbagai tempat di Tanah Yahudi ketika dia membangun komunitas-komunitas persaudaraan yang anggota-anggotanya diperlakukan setara dan adil tanpa diskriminasi.

Kriteria 6: setiap kristologi mendorong rekonsiliasi antar manusia, dimulai dari komunitas-komunitas Kristen lalu meluas ke dunia luar, tidak terbendung.

Kriteria 6 ini menjadi hakikat gerakan Yesus sendiri, yakni gerakan rekonsiliasi antar manusia, di mana permusuhan diganti dengan persahabatan, kebencian diganti dengan cinta, kekerasan diganti dengan kelembutan, senjata diganti dengan cangkul dan sekop untuk menggarap lahan pertanian, cerca dan nista diganti dengan berkat dan pujian.

Kriteria 7: setiap kristologi mendorong orang untuk meninggalkan cara kekerasan dan menjalankan cara damai sebagai resolusi semua konflik dalam dunia ini.

Kriteria 7 nyata dalam cara yang dipakai Yesus saat dia menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi dalam masyarakatnya, cara non-kekerasan. Dalam Yesus, the non-violent God is present and working.

Yesus kerap memang keras, tapi dalam ucapan-ucapannya saja. Selain itu perlu diketahui bahwa polemik yang tajam dan keras antara kekristenan awal dengan sinagog Yahudi, antara kekristenan proto-ortodoks Perjanjian Baru dengan Yudaisme rabinik atau Farisaisme, terpadu dengan banyak ucapan Yesus.

Poinnya ini: Gerakan Yesus adalah gerakan non-kekerasan. Mahatma Gandhi, kita tahu, sangat dalam terinspirasi oleh Yesus sebagai sosok pejuang yang anti-kekerasan. Keduanya tragis sekali dibunuh oleh lawan-lawan mereka yang menghalalkan kekerasan.

Kriteria 8: setiap kristologi mendorong umat untuk memanfaatkan semua kemampuan mental-spiritual dan ragawi mereka demi kemaslahatan bagi banyak orang, dunia dan peradaban.

Kriteria 8 ini dijalankan Yesus saat dia menugaskan setiap orang untuk mengembangkan, bukan mematikan, berbagai kapasitas mental spiritual dan jasmaniah mereka. Kembangkan dan lipatgandakan semua talenta anda, kata Yesus dulu dan sekarang.

Jadi, jika sekarang anda berpofesi sebagai seorang seniman, hasilkanlah karya-karya seni yang agung, akbar dan bernilai abadi lewat ketekunan, kerja keras dan kerja cerdas anda.

Jika anda seorang saintis dan teknolog, abdikanlah seluruh kekehidupan anda, seluruh energi mental dan ragawi anda, bagi usaha-usaha membangun sains-sains baru dan berbagai teknologi baru demi masa depan peradaban dunia yang makin maju.

Temukanlah di bidang apa anda paling cerdas, dan buatlah kecerdasan unik anda ini makin berkembang sehingga memberi manfaat yang makin besar bagi dunia dan sesama manusia dan peradaban modern.

Kriteria 9: setiap kristologi mendorong setiap orang untuk dapat menjadi pemimpin yang melayani dan bukan dilayani, untuk menjadi abdi rakyat, bukan penguasa dan penghisap rakyat.

Kriteria 9 diterapkan Yesus sendiri saat dia memperlihatkan diri sebagai sang pemimpin yang melayani, bukan dilayani, dan rela berkorban demi kebaikan manusia. Gembala yang baik melayani domba-domba, bukan sebaliknya, bahkan rela mempertaruhkan nyawa sendiri demi kebaikan, keselamatan, kesehatan dan kehidupan domba-dombanya.

Setiap pemimpin yang baik pasti anti-KKN, sudah berhasil mengalahkan ketamakan dalam dirinya sendiri, dan konsisten dalam menerapkan dan mengembangkan hukum positif yang berlaku di dalam negaranya sendiri dan di dunia internasional.

Kriteria 10: setiap kristologi memikul tugas untuk menyembuhkan masyarakat dari berbagai penyakit dan azab sosial yang sistemik dan struktural. Komunitas yang berpusat pada Yesus dan Bapanya yang rahimi dan rahmani, haruslah menjadi komunitas penyembuh, the healing community.

Kriteria 10 adalah hakikat dari gerakan Yesus sendiri sebagai gerakan penyembuhan dan pemulihan manusia dan masyarakat, yang faktual dijalankannya tanpa kenal lelah. Yesus adalah sosok penyembuh dan pemberdaya.

Kriteria 11: setiap kristologi memberi tempat utama pada harkat dan martabat setiap orang, di atas segala akidah, ritual, syahadat, dan lembaga keagamaan apapun.

Kriteria 11 ini dijalankan Yesus dengan  serius dan konsisten sehingga dia kerap bentrok dengan para pemimpin agama yang biasa menempatkan akidah, ritual, syahadat, dan lembaga keagamaan di atas harkat dan martabat manusia.

Kriteria 11 dapat dirumuskan sebagai rehumanisasi manusia yang sebelumnya terdehumanisasi saat agama dan semua elemennya ditempatkan di atas manusia sehingga menjajah manusia.

Kriteria 12: setiap kristologi berpusat pada teologi yang memandang Allah sebagai Tuhan maha pengasih dan maha penyayang terhadap semua bentuk kehidupan.

Kriteria 12 adalah teologi Yesus sendiri: Allah itu sang Raja yang memerintah dunia dengan rahmani dan rahimi. Tidak ada kekerasan di dalam diri Allah ini.

Gambaran tentang Allah sebagai sang rahmani dan rahimi bukan gambaran khas Kristen tentu saja. Umumnya dalam setiap agama, gambaran teologis ini juga dikenal. Inilah salah satu faktor mengapa agama tetap penting di masa kini kendatipun banyak kekerasan dilakukan orang beragama.

Itulah dua belas kriteria yang musti terpenuhi oleh setiap kristologi jika kristologi ini mau autentik, kuat, dan setia pada Yesus dari Nazareth.

Perlakukan semua kriteria di atas bukan sebagai pembatas, tapi sebagai penuntun untuk menyusun sebuah kristologi yang autentik, kuat dan setia pada Yesus terus-menerus.

Konteks kehidupan setiap orang itu dinamis, berubah, bergeser, berganti; dengan demikian, kristologi juga selalu dinamis, berubah, bergeser, dan berganti. Tanpa perubahan dan dinamika, setiap kristologi berubah menjadi sekumpulan fosil kristologis.

Penutup

Dengan dua belas kriteria itu, anda dapat menyusun kristologi komunitas anda dengan bebas, kreatif dan akuntabel, bertolak dari konteks sosial anda sendiri di zaman anda, lalu masuk ke dalam dialektika dan interaksi dengan teks kuno dan konteks zaman dulu di bagian lain dunia.

Hanya jika anda bebas dan kreatif menyuarakan kristologi anda bersama komunitas anda, hidup keagamaan anda akan menjadi relaks dan membebaskan. Tidak menimbulkan stres dan tidak memenjara.

Jika anda sebagai orang Kristen hidup tertekan dan tidak bahagia, itu artinya ada yang salah dalam kristologi anda. Ubahlah itu dengan berani. Habis, apa lagi?

Kristologi yang bagus akan melahirkan psikologi yang juga bagus. Demikian juga, psikologi yang sehat dan bermutu akan melahirkan kristologi yang juga sehat dan bermutu.

Jangan sekali-sekali berpikir bahwa psikologi anda sama sekali tidak berpengaruh pada keyakinan-keyakinan keagamaan anda, dan juga sebaliknya.

Jika anda seorang kapitalis rakus yang tamak, maka di tangan anda Yesus pun akan sama dengan watak anda. Jika anda seorang dermawan yang mendapatkan kekayaan dengan cara yang legal dan bajik, maka sosok Yesus pun terjelma di dalam kedermawanan dan kejujuran dan kebajikan anda.

Elinglah selalu, psikologi anda menentukan dengan signifikan apa isi kepercayaan keagamaan anda; dan juga sebaliknya.

Selain itu, lokasi sosial anda dalam masyarakat, dan juga ekologi lingkungan hidup anda, serta tingkat dan jenis pendidikan anda, jalin-menjalin dengan psikologi dan kristologi anda. Tak ada kristologi lahir dalam kevakuman.

Catat pula satu hal ini. Jika isi kepercayaan kristologis anda sudah bagus dan keren dan etis, tetapi anda diam-diam menjalani suatu kehidupan yang jelek, najis dan tidak berakhlak, hal ini juga dimungkinkan terjadi, dan sudah banyak kali terjadi.

Jika aib itu yang terjadi, itu artinya jiwa anda sudah terbelah-belah. Anda menderita skizofrenia. Isi pikiran keagamaan anda dan isi pikiran dan kelakuan ekonomi dan politik anda berbenturan keras satu sama lain. Anda menjadi seorang hipokrit.

Dus, hidup anda kehilangan nilai dan martabat. Anda telah hidup sia-sia dan terus miskin dan kerdil meskipun harta dan kekayaan dan kekuasaan anda menumpuk setinggi gunung Gede.

Catatan-catatan

/**/ Tentang keterbukaan Vatikan di bawah Paus Fransiskus terhadap teologi pembebasan, lihat reportase Josephine McKenna, RNS, 4 Agustus 2014, “Pope Francis lifts 29-year suspension on liberation theology icon”, http://www.religionnews.com/2014/08/04/liberation-theology-miguel-descoto-pope-francis/.

Lihat juga reportase Alessandro Speciale, RNS, 9 September 2013, “Liberation theology finds new welcome in Pope Francis' Vatican”, http://www.religionnews.com/2013/09/09/liberation-theology-finds-new-welcome-in-pope-francis-vatican/.




Saturday, July 26, 2014

I love you, Pak Prabowo Subianto!




Saya awali dengan doa dalam nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang.

“Ya, Tuhan, yang pengasih dan penyayang, nyatakanlah hidayah dan kasih sayangmu kepada Pak Prabowo Subianto sehingga beliau tetap terjaga olehmu dan terlindung dalam kearifan-Mu.”

“Ya Tuhan yang pengasih dan penyayang, jagalah selalu Pak Prabowo Subianto sehingga dia tetap dan akan senantiasa menjadi orang yang benar di mata-Mu dan di mata rakyat. Orang baik, dan bukan orang jahat.”

“Ya Tuhan, yang pengasih dan penyayang, sertailah selalu Pak Prabowo Subianto dengan Roh-Mu, supaya dia dapat melewati masa-masa sulitnya ini dengan baik dan benar. Lalu muncul sebagai seorang ksatria yang dicintai segenap bangsa Indonesia.” 

Sementara kita terus dengan cerdas membicarakan dan mengkritik Pak PS, janganlah lupa, adakanlah kegiatan doa khusuk, mohon Tuhan memberi hidayah dan petunjuk kepadanya.

Kita ingin Pak PS dapat tetap terus bersama rakyat, bersama Pak JKW-JK, membangun negeri ini. Mohonlah pertolongan Tuhan supaya ini terjadi dalam doa-doa pribadi anda dan doa-doa komunitas anda di rumah-rumah ibadah anda. Mendoakan dengan cara ini adalah aktivitas spiritual, bukan aktivitas politis. Bukan didorong kepentingan politik partisan, tapi karena cinta kasih.

Komunitas-komunitas agama yang berbeda-beda sudah saatnya sekarang berdoa untuk rekonsiliasi bangsa, sendiri-sendiri maupun bersama-sama, dengan tujuan-tujuan spiritual.

Sekritis apapun kita analisis Pak PS dkk, tetap harus ada kemampuan dalam diri kita untuk tetap mencintainya. Cinta mampu mempersatukan. Cinta mampu meluluhkan hati.

Kalau kita bisa berempati terhadap Pak PS sekarang ini, kita akan bisa merasakan saat ini adalah saat pergumulan batin yang sangat berat buat dirinya. Tidak mungkin dia tidak bergumul. Hati nurani tetap ada padanya. Dia bukan orang jahat. 

Saya rasional, cenderung selalu bersikap ilmiah, tapi saya tetap berdoa di rumah, dan juga bermeditasi. Doa dan meditasi adalah media untuk meneruskan energi positif ke orang lain.

Kalau Tuhan itu kuasa kehidupan dan kuasa cinta kasih, lewat doa dan meditasi kuasa ini kita teruskan ke orang-orang lain yang sedang membutuhkan. 

Jadi, apapun agama anda, apapun aliran spiritual anda, apapun juga kepandaian akademik anda, marilah kita bersatu sekarang untuk mendoakan Pak PS supaya beliau mendapat hidayah ilahi.  

Jika kita sebagai bangsa bersatu mendoakan Pak PS, pasti Tuhan yang mahatahu dan maha penyayang akan menuntun Pak PS untuk mampu melewati masa-masa sulitnya ini.

Betapapun sulit tahap-tahap pergumulan psikis yang harus dilewati Pak PS, jika kita bersatu mendoakannya, niscaya dia akan melihat terang yang betul-betul terang. Dampingi dia, temani dia.

Walau banyak orang melihat Pak PS dengan negatif dan khawatir, tetaplah perlu kita berdoa bersama supaya terang dan hidayah ilahi datang kepadanya.

Kita juga sudah saatnya bersatu mendoakan Pak JKW-JK supaya Tuhan yang pengasih dan penyayang memberi hikmat dan pengetahuan pada mereka berdua sehingga berhasil memimpin kita, menuju Indonesia yang hebat.

Di tengah pertarungan politik yang keras, saya masih percaya pendekatan spiritual yang dinafasi cinta akan mampu membangun rekonsiliasi dan merobohkan tembok-tembok pemisah. Menghalau kebencian dan kemarahan. Mendatangkan kelembutan dan keramahan. Kebencian dan kekerasan hanya menimbulkan spiral kebencian dan kekerasan yang tidak pernah habis. 


Sekeras apapun sikap politis Pak PS, saya percaya masih ada nur ilahi dalam batinnya yang terus bercahaya, yang perlu dibuka sehingga bersinar keluar, menyejukkan dan memberi rasa damai yang sejati kepada seluruh rakyat negeri. 

Teruskan analisis kritis anda atas semua langkah Pak PS dan timnya sekarang ini. Tapi lakukan itu dengan rasa cinta yang besar terhadapnya, bukan dengan kebencian. Cinta menimbulkan cinta. Kebencian menyalakan kebencian dan api neraka.

Sebagai bangsa, kita memerlukan analisis kritis atas sikap-sikap politis Pak PS sekaligus cinta kasih yang tulus kepadanya, bukan kebencian. Analisis kritis akademik atas sikap-sikap politis Pak PS dan cinta yang tulus kepadanya akan membuat kita sebagai bangsa bisa melewati masa-masa genting ini.

Politik tanpa analisis kritis akademik akan berubah menjadi politik yang tidak terkendali. Ini berbahaya. Cinta kepada para politikus akan bisa memberi mereka hati nurani. Ini yang harus kita lakukan ramai-ramai, sekarang.

Demi Pak PS sendiri dan demi masa depan NKRI, kita perlu terus lakukan kajian akademik terhadap sikap-sikap politiknya, dan juga tetap terus mencintainya. Ilmu dan cinta harus dijalankan bersama. Saling memperkuat. 
  
Jangan ikut hanyut dalam arus besar kebencian terhadap Pak PS. Bangun arus tandingan: arus cinta kasih terhadapnya. Yakinlah, Pak PS adalah orang baik, bukan orang jahat.

Inilah pesan-pesan cinta saya kepadanya. Tolong diteruskan kepada Pak PS. Terima kasih. 

I love you, Pak Prabowo Subianto!

Marilah ramai-ramai kita katakan, We love you, Pak Prabowo Subianto!

26 Juli 2014



Thursday, June 26, 2014

Catatan-catatan kritis atas puisi esai “Konspirasi Suci” karya Burhan Shiddiq


Saya hadir dalam acara peluncuran enam buku puisi esai (semuanya ditulis tahun 2013) di Pisa Café Mahakam, Jl Mahakam no 11, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 24 Juni 2014, malam hari. Pidato kebudayaan dari Prof. Franz Magnis Suseno tidak jadi disampaikan pada kesempatan itu karena satu dan lain hal meskipun beliau sudah berada di tengah hadirin dan sudah menyiapkan sebuah makalah pidato yang berjudul “Tantangan bagi Pluralisme Indonesia.” Dengan memakai makalah beliau, sekian poin penting pandangan beliau telah sempat saya kicaukan di Twitter selama pembacaan beberapa puisi esai saat itu.

Dari jumlah mistik 888 puisi esai yang masuk selama 2013, pemenang pertama lomba puisi esai tahun 2013 yang diadakan oleh Yayasan Denny JA adalah cerpenis Burhan Shiddiq, dengan puisi esainya yang berjudul “Konspirasi Suci” (KS). Puisi esai KS mengangkat kasus kejahatan seksual di dalam lingkungan Gereja Roma Katolik (GRK) sedunia yang melibatkan banyak pastor dengan korban anak-anak. Ada sangat banyak kasus pedofili di GRK dalam konteks dunia Barat. Dalam puisi esai KS, kasus ini dibeberkan dalam bentuk tanya-jawab seorang anak altar saat si anak altar ini sedang mengaku dosa kepada sang pastor yang berada di bilik tertutup. Oleh si anak altar, sang pastor ini dipanggil “Bapa”, sedangkan sang Bapa ini menyapa si anak altar sebagai “Santu Petrus”. 

Saya sangat menghargai apa yang telah dicapai Yayasan Denny JA lewat perlombaan menulis puisi esai setiap tahunnya, sejak 2012. Gerakan menulis dan memperlombakan puisi esai adalah bagian dari gerakan besar YDJA untuk membangun NKRI yang bebas diskriminasi dalam bentuk apapun. Saya ikut serta dalam gerakan ini. Dalam semangat inilah saya ketengahkan beberapa catatan saya berikut ini tentang puisi esai KS. 

Pertama, Burhan Shiddiq sama sekali tidak memberi konteks sosiohistoris yang real bagi puisi esai KS.  Sejauh kita sudah ketahui, puisi esai (menurut Denny JA) adalah puisi sekaligus esai ilmiah yang mengharuskan adanya berbagai rujukan ke suatu konteks sosiohistoris yang menjadi latar kasus yang diangkat dan disorotnya. Satu-satunya referensi historis yang muncul adalah nama Vatikan, bersumber dari buku Yahya, Abu Salma Ibnu, Sex Crimes and Vatican (Yogyakarta: Alas, 2007). Dalam buku antologi puisi esai yang disunting Agus R. Sarjono, Konspirasi Suci: Antologi Puisi Esai (Depok: Jurnal Sajak Indonesia, April 2014), referensi ke buku Abu Salma Ibnu Yahya ini muncul di hlm. 33. Nama Vatikan juga muncul lagi di hlm. 46, fn. 5. Di luar rujukan ke Vatikan ini, sama sekali tidak ada rujukan latar lain yang menjadi landasan faktual kisah yang diangkat dalam KS. Referensi ke Vatikan ini sangat umum. Jadi sebetulnya puisi esai KS adalah sebuah generalisasi dari sangat banyak kasus pedofili dalam GRK sedunia, generalisasi yang dibayang-bayangkan saja oleh penulisnya. Sayangnya, generalisasi yang dibuat Burhan Shiddiq ini memuat keterangan-keterangan yang tidak tepat, berikut ini.

Kedua, mengejutkan sekali Burhan Shiddiq dalam puisi esai KS juga mencampuraduk kasus homoseksual antar lelaki dewasa dengan kasus pedofili yang dilakukan lelaki dewasa terhadap anak-anak. Dalam puisi esai KS, dia menyamakan keduanya begitu saja. Pada satu sisi, dia dengan jelas menyebut kasus pedofili dalam GRK sebagai kasus “pemerkosaan” (hlm. 47, 49 buku Konspirasi Suci), tapi di pihak lain dia menyamakannya dengan “cinta sesama pria” (hlm. 39, 43, 52, 53, 54, 55). Orang boleh terus berdebat pro dan kontra apakah perilaku homoseksual (antar gay) itu dapat dibenarkan. Tetapi hal yang sudah jelas dan tidak perlu diperdebatkan adalah bahwa pedofili itu kejahatan seksual yang para pelaku dewasanya harus dijatuhi hukuman, sama sekali bukan hubungan seksual antara dua lelaki dewasa. PBB bahkan menyatakan kejahatan pedofili dalam GRK sebagai penganiayaan terhadap anak-anak.

Ketiga, berkaitan dengan semua kasus kejahatan seksual yang berbentuk pedofili dalam GRK sedunia, semua orang sepakat bahwa anak-anak yang terlibat di dalamnya adalah para korban, dan sama sekali bukan pelaku aktif pedofili. Sebagai para korban, dalam semua kasus kejahatan seks pedofili, anak-anak harus dibela dan dilindungi. Hubungan anak-anak korban pedofili dan lelaki dewasa pelaku pedofili adalah hubungan korban dan penjahat, bukan hubungan antara dua orang pria dewasa yang saling jatuh cinta seperti dalam kasus-kasus pasangan homoseksual dewasa.

Nah, mengagetkan sekali, dalam puisi esai KS, penulisnya menggambarkan “anak altar” (yang berulangkali disebutnya sebagai “bocah-bocah”) juga sebagai para pelaku aktif dalam kasus pedofili di lingkungan GRK. Dalam bayangan Burhan Shiddiq, “bocah-bocah altar” ini, meskipun masih bocah, sama perannya dengan lelaki dewasa yang mensodomi mereka, yakni sama-sama dikuasai syahwat yang bergelora satu sama lain. Dia menulis di sana-sini tentang sang bocah altar yang dilanda syahwat yang bergelora terhadap lelaki dewasa. Antara lain:  

“Kami punya sepasang ular kencana
Yang saling jatuh cinta
Dan senang bersenggama”

“Sungguh, ya Bapa,
Di tubuhku ada seekor ular kencana
Yang selalu menjadi raksasa
Saat melihat pria-pria dewasa”

“Aku hanyalah bocah dungu
Yang mengharapkan cinta
Dari pendeta serupamu”

“Aku ingin menjadi kekasih
Yang senantiasa menemani kesepianmu”

“Atas kesanggupanku menjadi kekasih rahasiamu
Atas kesanggupanku menjadi kuda tungganganmu”

“Apakah cinta kita selalu menjadi dosa?” 

Nah, siapakah di dunia ini yang sanggup membayangkan bahwa anak-anak korban pedofili justru dibuat menjadi pelaku aktif yang rela dalam kasus-kasus pedofili? Ini pemutarbalikan kenyataan. Kasusnya serupa dengan kasus yang sudah terjadi di Jakarta International School (JIS) yang kini sedang diselidiki pihak berwajib: anak-anak di sana adalah korban pedofili, bukan pelaku aktif yang bersama lelaki dewasa berpacu melampiaskan syahwat masing-masing! Ngeri saya membayangkan apa yang dibayangkan dalam puisi esai KS. Anak-anak dibuat ikut menjadi para penjahat pedofili.

Keempat, dalam beberapa hal lain menurut saya Burhan Shiddiq kelihatan berlebihan dan juga menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui pemahaman gereja. Pada hlm 38 Konspirasi Suci, dia menyebut pedofili itu sebagai “bercinta di bawah mimbar gereja”, sesuatu yang sangat mustahil bisa terjadi dalam realitas, dan hanya ada dalam fantasinya sendiri.

Dia juga dengan keliru bertanya, mengapa umat pria boleh mencintai Yesus Kristus (yang disebutnya sebagai “lelaki penebus dosa”) sementara cinta manusia pria dengan manusia pria dipandang sebagai dosa (Konspirasi Suci, hlm. 37). Pertanyaan ini sangat keliru, sebab cinta umat kepada Yesus Kristus sama sekali bukanlah cinta berahi kepada seorang pria, melainkan cinta seorang manusia kepada Tuhan yang mereka sembah, cinta dengan aura ilahi. Selain itu, menyebut sang anak altar sebagai “Santu Petrus” saat terjadi tanya-jawab (dalam rangka ritual pengakuan dosa pribadi) antara sang anak altar ini dengan sang pastor pelaku pedofili, membuat pedofili diperluas ke atas, melibatkan para paus sendiri (sebagai pewaris jabatan rasuli dari Rasul Petrus) sebagai pelaku pedofili. Ini, bisa jadi, sebuah langkah yang kejauhan yang sudah diayunkan Burhan Shiddiq. Lepas dari ihwal apakah nantinya akan efektif atau tidak, satu hal sudah pasti: Paus Francis kini sedang melakukan hal-hal yang diperlukan dalam menangani kasus-kasus pedofili dalam GRK.    

Terakhir, kelima. Saya menemukan dalam puisi esai KS kata “pendeta” (ada sebanyak 13 kata) dicampuraduk dengan kata “pastor” (ada sebanyak 8 kata), dan dipakai dalam arti yang sama, yakni mengacu ke rohaniwan dalam GRK. Ini menunjukkan penulis KS tidak mengenal gereja dengan benar. Dia sebaiknya tahu, “pendeta” adalah sebutan untuk rohaniwan dalam gereja Protestan, sedangkan “pastor” dalam GRK. Kalaupun dia tahu dua kata ini berbeda secara semantik dan fungsional dalam masing-masing gereja, saya sukar menduga apa motif Burhan Shiddiq mencampuraduk dua jabatan yang berbeda ini dalam puisi esai KS yang menyoroti GRK. Apakah mungkin dia ingin menyamakan begitu saja gereja Protestan dengan GRK? 

Itulah catatan-catatan saya tentang puisi esai KS yang menjadi juara pertama. Tentu tim juri telah bekerja maksimal, karena bisa mendapatkan puisi esai KS dari antara dedaunan hutan rimba 888 puisi esai yang telah diseleksi. Mereka tentu telah berpengalaman. Tetapi mungkin saja peribahasa “sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali jatuh juga” berlaku buat mereka kali ini. Apa penyebab jatuhnya mereka, adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih jauh.

Saya juga percaya bahwa Denny JA sendiri, setelah memahami catatan-catatan saya ini, tidak akan sependapat dalam segala segi dengan Burhan Shiddiq. KS potensial sekali menimbulkan sikap diskriminatif masyarakat terhadap GRK di Indonesia yang jelas tidak bisa disamakan begitu saja dengan GRK sedunia, khususnya menyangkut kejahatan pedofili.    

Supaya jelas di mana posisi saya, ingin saya tegaskan bahwa saya hingga saat ini adalah seorang pengkritik gereja yang tajam. Tetapi semua kritik saya terhadap gereja-gereja selama ini adalah kritik-kritik yang dibangun dengan landasan kajian-kajian saintifik. Tidak asal tulis atau asal ucap. Saya sangat berharap Burhan Shiddiq juga dapat melakukan hal yang serupa. Semangatnya untuk mengkritik, saya hargai. Puisi esainya KS kurang atau malah saya tidak hargai. Dia menulis puisi ini dari ketidaktahuan, dan kebanyakan dari fantasi-fantasinya yang liar.

Baca juga:


Monday, June 23, 2014

Teori psikologi Dissonansi Kognitif dan kegalauan kubu Prabowo

BREAKING NEWS!
Mungkin sekali dissonansi kognitif Prabowo sudah mulai berakhir pagi ini, Jumat, 17 Oktober 2014, di saat hari ulang tahunnya, berhubung pada kesempatan perayaan HUT-nya ini dia mengundang Pak Jokowi dan dengan hangat menyambutnya, tanda keduanya telah berdamai. Pada kesempatan HUT-nya ini, Prabowo menyatakan akan mendukung pemerintahan Jokowi yang akan mulai berlangsung 20 Oktober 2014, tapi juga akan terus mengkritiknya jika terlihat Pak Jokowi tidak berkomitmen lagi pada Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, ekonomi kerakyatan, dan NKRI. Semoga Prabowo dan segenap parpol koalisi Gerindra tidak lagi plintat-plintut di depan ini. Besok-besok, kita mungkin akan juga mendengar Amien Rais bertobat, mengakui dosa-dosanya kepada NKRI dan rakyat Indonesia, setelah sekian lama dia oleh masyarakat dipandang sebagai titisan tritunggal jahat Sengkuni-Banaspati-Tarkasur. Entah Pak Amien ini akan jadi titisan siapa lagi. Yang pasti, saya masih percaya dalam diri Pak Amien Rais masih bisa ditemukan nur ilahi yang akan kembali membuatnya hidup sebagai seorang ksatria dengan watak yang agung. Tunggu dan lihat saja.


--------------------------------------------

Kalau kita pakai teori “dissonansi kognitif”, people movement JKW yang dahsyat dan semakin meluas dapat diprediksi akan membuat berbagai kampanye hitam kubu Prabowo menggila! Wait and see! Dissonansi Kognitif sedang melanda kubu Prabowo, karena itu kampanye hitam makin menggila. Apa itu dissonansi kognitif?

Dissonansi Kognitif (DK) itu teori psikologi yang menjelaskan akibat dari kenyataan yang tidak diharapkan pada mental seseorang dan komunitasnya. Menurut teori DK, setiap orang atau setiap komunitas punya kepercayaan yang sangat kuat dipegang, dan tidak diragukan sedikitpun, dan memotivasi semua aktivitas kehidupan mereka. Kepercayaan ini sangat kuat dipegang, dan tidak pernah terpikirkan akan tidak terpenuhi atau gagal. Kepercayaan ini menjadi elan vital, daya kehidupan, life force. Kita semua hidup dalam suatu belief system tertentu, juga kaum ateis, bukan hanya kaum religius.

Friday, June 20, 2014

Para perempuan PSK Dolly, siapakah mereka?
Sebuah Pesan untuk Bu Risma!


Jelas, mereka sebetulnya tidak mau jadi PSK! Mereka merasa malu!


Apa titik tolak pemberantasan prostitusi, supaya efektif? Saya kira penyediaan lapangan pekerjaan pengganti dulu, bukan deklarasi yang menggaung dan tindakan represif. 

Supaya efektif, kita juga tetap harus eling bahwa yang kita hadapi adalah manusia perempuan yang real, yang punya pikiran dan perasaan, bukan benda mati yang tidak bergerak. Serendah apapun masyarakat yang mengaku beradab memandang para PSK, mereka tetap para perempuan yang punya pendapat sendiri tentang kehidupan dan masa depan. Dengarkanlah mereka dengan serius!  

Menyangkut kompleks prostitusi terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly di Surabaya, tidak bisa ujuk-ujuk kompleks ini ditutup ketika kepala daerahnya seorang pejabat baru. Adakanlah dulu riset di Dolly, dan temukan pekerjaan pengganti yang wajar apakah yang mereka masing-masing inginkan. Dengarkan mereka. Di antara kita pasti banyak orang yang sudah lama mengkaji seluk-beluk kehidupan dan “mind-set” para PSK. Libatkanlah mereka! Dan bekerjalah dengan sabar!