Thursday, January 15, 2015

Islamofilia versus Islamofobia

Dear Dade Sobarna,

Saya punya agama, namanya agama Kebaikan Hati. Dengan menghayati agama saya ini, saya tertantang terus-menerus untuk selalu berbuat baik hati, tidak boleh membenci, tidak boleh memaki, tidak boleh menghina, dan, apalagi, tidak boleh kejam kepada sesama makhluk, manusia, tetumbuhan dan hewan-hewan. Bahkan orang yang memusuhi dan membenci saya pun sebisa mungkin harus saya balas dengan cinta kasih, dengan empati, bukan dengan permusuhan dan kebencian lagi. Agama saya ini sangat sulit dijalani, tetapi saya percaya agama saya ini agama yang benar. Penjahatpun akan tunduk kepada kita, jika kita perlihatkan kebaikan hati kepadanya.

Sebelum saya masuk ke persoalan utama tulisan saya ini, baiklah, Dear Dade, saya perkenalkan dulu ke anda agama saya, agama Kebaikan Hati, yang sudah saya beberkan dalam wujud sebuah puisi yang saya beri judul Inilah Agamaku . Berikut ini. Hayatilah sepenuh hati.

Agamaku sungguh sangat sederhana
Tidak rumit, tidak ribet, namun sakti
Namanya pun sangat melapangkan dada:
Agama kebaikan hati

Tanpa doktrin, akidah atau dogma
Tidak ada hierarki dari kepala hingga kaki
Hati nurani jadi pemandu utama
Ilmu pengetahuan menerangi setiap hati

Rumah ibadahku dunia luas terbentang
Tanpa atap, dinding dan tiang-tiang
Ke dalamnya siapapun boleh bertandang
Bahkan boleh tinggal sampai ajal datang

Kitab suciku langit malam luas terbentang
Penuh bintang bercahaya gilang-gemilang
Dikagumi dan dibaca semua insan rupawan
Penuh misteri yang membuat hati tertawan

Ritualku membaca dan menulis buku-buku
Untuk mencerahkan dunia dengan ilmu pengetahuan
Manusia menjadi cerdas dan tinggi berilmu
Serangga, rumput dan burung pun ikut tercerahkan

Syahadatku, “Aku cinta umat manusia dan kehidupan.”
Sederhana, pendek, tidak ribet dan tidak rumit
Namun sangatlah sulit kalau mau dilaksanakan
Tak cukup diikrarkan lewat mulut komat-kamit

Tuhanku sang Cinta Kasih Tanpa Batas
Bukan sebuah nama yang indah-indah dirancang
Atau yang diperebutkan insan-insan terbatas
Tapi sebuah kata kerja yang memacu kerja cemerlang

Nabiku diriku sendiri untuk diriku sendiri
Berdiam tenang dan agung dalam sanubari
Dia perintahkanku, “Kenalilah dirimu sendiri!”
Mengenal diri tanda keagungan diri sendiri

Doaku seluruh gerak kehidupanku hingga mati
Tidak diucapkan keras-keras ke angkasa raya
Tapi dilakoni diam-diam setiap hari dalam sunyi
Menghidupkan diriku sendiri dan seluruh semesta

Nyanyian rohaniku “Imagine” karya John Lennon
Tidak dilantunkan riuh dengan musik bergempita
Tapi ampuh menggerakkan hadirin dan penonton
Untuk menjadikan kedamaian isi jagat semesta

Komunitas keimananku umat manusia sejagat
Tanpa segregasi, alienasi, separasi dan diskriminasi
Hidup bersaudara dan saling mengasihi kuat-kuat
Tidak ada ideologi yang memecah dan menguasai

Ikrarku: mengabdi demi kebaikan dan kasih sayang
Demi kemanusiaan dan persaudaraan
Demi kesehatan dan umur panjang
Demi kecerdasan dan ilmu pengetahuan

Tulis di kolom agama KTP-mu
Agama: Kebaikan Hati
Tak ada yang bisa menolak kebaikan hatimu
Penjahat pun tunduk pada kebaikan hati

Marilah bersamaku bersatu ramai-ramai
Mengubah diri sendiri dan dunia luas tanpa tepi
Lewat agamaku yang sederhana namun membuai:
Agama kebaikan hati

Mari kita lanjutkan. Di banyak media sosial, di banyak kesempatan dan tempat, saya menemukan sangat banyak orang, dari berbagai agama, makin benci pada Islam. Ini fakta yang jauh lebih keras dan lebih mengerikan dibandingkan terorisme yang di mana-mana dilakukan dengan keliru atas nama Islam. Masa depan Islam sangat ditentukan oleh seberapa dalam tingkat kebencian dunia terhadap Islam. Saya risau memikirkan fakta ini. Akankah Islam nanti lenyap dari panggung dunia? Saya sangat berharap, tidak. Islam adalah sebuah agama besar yang, hemat saya, harus juga menjadi salah satu kekayaan kultural dunia! Kita bersama harus berjuang untuk membuat Islam tetap jaya sebagai salah satu kekayaan kultural dunia.

Jika dunia tetap membenci Islam, mungkin nanti Islam masih bisa bertahan, tetapi hanya segelintir, itupun bertahan di pinggiran-pinggiran dunia modern, disfungsional, irelevan dan tanpa peran. Sains evolusi membuat kita paham, organisme apapun yang tidak bisa adaptif dengan ekologi mereka yang terus berubah, akan menjadi organisme yang kalah, binasa dan punah. Sebaliknya, jika suatu organisme mampu beradaptasi, organisme inilah yang akan bertahan hidup, menang dan menjadi berlipat ganda, untuk siap memasuki tahap-tahap evolusi selanjutnya. Fakta sejarah sudah berbicara, bahwa bertahan atau tidaknya sebuah agama dalam pentas dunia tidak ditentukan oleh langit, tetapi oleh manajemen terhadap agama itu di Bumi oleh umat yang menganutnya. Manajemen diri yang buruk menghancurkan semua organisme, dan juga perusahaan-perusahaan besar sekalipun, termasuk agama sebagai tubuh sosial. Bagaimanapun juga, kita bersama harus berjuang supaya Islam tetap bertahan dan jaya sepanjang zaman sebagai sebuah agama yang agung.

Orang ateis di berbagai media sosial bahkan sudah sangat kuat dirasuk Islamofobia, kebencian kuat pada segala sesuatu yang terkait dengan Islam. Kata-kata mereka, tutur sapa mereka, tulisan-tulisan mereka, sarat dengan kebencian pada dunia Islam. Di suatu group Facebook, ada sebuah permintaan dari admin group Facebook itu untuk setiap anggota menulis hanya dua kata tentang Islam. Banyak sekali yang sudah menjawab. Mengerikan. Anda tentu sudah bisa duga, semua dua kata itu cacian keras kepada dunia Islam. Saya kebetulan membaca permintaan si admin itu. Saya merasa, saya harus ikut juga isi di kolom komentar dua kata yang diminta. Anda tahu, apa yang saya telah tulis dalam dua kata? Saya tulis pendek saja: Gus Dur.


Saya percaya, selain para radikal Muslim yang jumlahnya banyak, dunia Muslim masih memiliki juga sosok-sosok besar seperti Gus Dur, dan kini juga KH Ahmad Mustofa Bisri yang lebih dikenal sebagai Gus Mus. Sudah lama saya memutuskan untuk tidak mengikuti orang ateis dan semua pembenci Islam lainnya. Sebagai ganti Islamofobia, saya mencoba mengintrodusir lawan katanya, Islamofile, orang yang mencintai Islam, sahabat Islam. Dus, saya sedang membuat sebuah “cultural war” baru, Islamofilia melawan Islamofobia; tentu perlawanannya memakai cara-cara yang cerdas, agung, bermartabat dan terhormat. Sudah banyak kali saya melibatkan diri dalam debat cerdas dan santun dengan banyak pengikut Richard Dawkins. Mereka rata-rata Islamofobia; dan saya tandingi dengan Islamofilia, apapun risikonya (misalnya saya pernah dicap pengecut, dikata-katai bullshit, dan sebagainya).

Itulah yang saya sedang coba lakukan, membangun rasa cinta kepada Islam, meskipun Islam sekarang ini, very sadly, nyaris identik sepenuhnya dengan kekerasan. Mengapa saya mau bersikap lain, tidak Islamofobik, tetapi Islamofilik? Terus-terang, saya sedang melanjutkan semangat Yesus dari Nazareth, meskipun sudah lama saya, very sadly, memutuskan diri dari komunitas gereja. Yesus dari Nazareth pastilah akan membuat orang anti-kekerasan. Yesus dari Nazareth bukan sosok pembela kekerasan; malah dia telah menjadi korban kekerasan imperium Romawi yang mendikte para pemuka negeri Israel yang sedang mereka jajah. Penyaliban Yesus, adalah fakta yang mengharuskan setiap pengikut Yesus dari Nazareth menolak dan melawan kekerasan, lewat cara-cara non-kekerasan. Tidak heran, jika Mahatma Gandhi, menerima sebagian ilhamnya dari Yesus dari Nazareth. Sebagai seorang pendeta gereja yang memperjuangkan kesamaan hak bagi orang kulit hitam Amerika, Martin Luther King Jr. menegaskan bahwa non-kekerasan berarti bukan hanya menghindari kekerasan lahiriah, tapi juga kekerasan batiniah. Anda bukan saja menolak untuk menembak seseorang, tetapi juga menolak untuk membencinya.

 Domba yang hilang. Mari, bersama saya, kita cari dan temukan kembali!

Kata Yesus, jika dari antara 100 ekor dombamu, satu ekor tersesat, jatuh ke dalam jurang, berdarah, hampir binasa, apa yang akan kamu lakukan? Semua orang Kristen sudah tahu jawabannya: si gembala domba itu meninggalkan 99 ekor domba yang sehat, aman, terjaga, untuk berlelah-lelah mencari satu ekor domba yang tersesat dan terjatuh ke dalam jurang itu. Si gembala turun dan naik jurang, lembah dan semua tempat berbahaya, dalam rangka mencari dan menemukan satu ekor domba yang hilang itu, sampai akhirnya sang gembala itu menemukan lagi satu ekor yang terhilang dan terluka itu. Si gembala tidak pakai hitung-hitungan bisnis, tetapi memakai bela rasa, compassion, yang menyebabkannya mau ambil risiko kehilangan 99 ekor dombanya yang sehat hanya demi mencari satu ekor yang telah hilang.

Nah, taruh kata, Islam sekarang ibarat sang domba yang terhilang itu, saya tidak boleh ikut membencinya; saya tidak boleh ikut meninggalkannya. Meninggalkan Islam, berarti saya meninggalkan sangat banyak teman saya yang Muslim, meninggalkan negeri saya sendiri, Indonesia, yang penduduknya 85 % Muslim. Jadi, bersama teman-teman Muslim saya lainnya saya harus mau mencari dan menemukan Islam kembali, menemukan kembali Islam sebagai agama rakhmat bagi seluruh alam. Saya merasa, ini tugas titipan dari Yang Mahatinggi, Tuhan yang Al-Rahman dan Al-Rahim. Mungkin anda akan berubah pikiran, mau bergabung dengan saya.

Mari kita gencarkan gerakan Islamofilia, gerakan mencintai Islam, gerakan menjadi sahabat Islam, ke dalam dan ke luar. Ke dalam, berarti mengupayakan sungguh-sungguh berbagai perubahan penting dan mendasar dalam dunia Muslim internal sendiri. Ke luar, berarti memperlihatkan dan membuktikan bahwa Islam betul-betul agama rakhmat bagi seluruh alam. Rakhmat ilahi adalah kasih sayang ilahi, kemurahan ilahi, cinta ilahi, kebaikan ilahi, kelembutan ilahi. Jadikan rakhmat ini fakta, SEKARANG! Keluar, juga berarti kita dengan rendah hati, jujur dan bermartabat perlu memperlihatkan ada sangat banyak hal yang agung dalam dunia Islam, kepada para Islamofobik.


Jakarta, 15 Januari 2015
by ioanes rakhmat