Thursday, January 3, 2008

Bahasa Keagamaan sebagai Metafora

Kiri: fakta. Kanan: metafora

Editing mutakhir 8 Mei 2018

Baca juga Agama Butuh Fiksi dan Imajinasi Yang Bebas.

Metafora atau bahasa figuratif simbolik dipakai dalam banyak bidang kehidupan, termasuk dalam bidang sains.

Descartes, misalnya, pernah berkata, “Saya telah menggambarkan Bumi ini beserta seluruh alam semesta yang kelihatan seolah-olah ini adalah sebuah mesin.” Kata “mesin” di sini adalah sebuah metafora; dan metafora ini telah membantu perkembangan fisika klasik yang membayangkan alam semesta sebagai sebuah mesin.

Begitu juga, ketika alam semesta ini dibayangkan terbentuk, memuai dan mengembang dengan diawali oleh sebuah “dentuman besar” (big bang), “dentuman besar” ini, yang tidak pernah didengar oleh manusia manapun dan kapanpun, adalah sebuah metafora. Di sini, metafora membantu mengonseptualisasi realitas jagat raya.

Dengan memakai metafora kosmologis “balon yang terus mengembang” dengan permukaan yang makin luas, kita lebih mudah memahami dan membayangkan pemuaian jagat raya yang kini sedang berlangsung dengan makin cepat karena bekerjanya forsa antigravitasi dari energi gelap. 

Dalam bidang keagamaan, metafora banyak dipakai. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bahasa keagamaan terutama adalah bahasa metaforis. Apa tujuan dikonstruksinya sebuah metafora untuk kepentingan keagamaan kita temukan dalam makna kata metafora sendiri.

Sebagai sebuah kata Yunani, metafora dibentuk dari kata depan meta (artinya “melampaui” atau “mentransendir”, Inggris “beyond”) dan kata kerja ferein (artinya “menyeberang” atau “memindahkan”). Dengan demikian, metafora adalah wahana sastrawi atau nonsastrawi yang berfungsi untuk membawa atau memindahkan si pembaca atau si pendengar atau si pemandangnya dari dunia kodrati sehari-hari, dunia nilai-nilai biasa sehari-hari, masuk atau melintas ke dunia adikodrati atau kawasan nilai-nilai yang agung, kawasan adinilai.

Tanpa lewat metafora, kawasan yang lebih tinggi ini, kawasan yang melampaui atau yang mentransendir kawasan dunia kodrati rutin sehari-hari, mustahil dimasuki, sulit atau mustahil dibayangkan, dipahami dan dibawa masuk ke dalam kehidupan insan-insan kodrati dalam dunia alamiah sehari-hari. Metafora menghubungkan langit dan Bumi, sorga dan dunia, dunia atas dan dunia bawah, Tuhan dan manusia, para malaikat dan anak-anak manusia, keabadian dan kefanaan.

Alkitab, misalnya, luar biasa kaya dengan metafora yang mampu menggerakkan hati, kalbu, perasaan dan pikiran para pembacanya.

Ada metafora alkitabiah yang pesannya jelas dan gamblang, satu arah, misalnya ketika dikatakan “Yesus adalah terang dunia.” Jelas maksud metafora ini bukanlah Yesus itu faktual Matahari atau lampu neon atau lampu petromaks, melainkan ajaran-ajarannya sebagai firman Allah memang dapat menjadi pembimbing untuk orang dapat dengan terang menjalani kehidupannya, atau bahwa ajaran-ajarannya sebagai firman Allah sangat diperlukan untuk pencerahan dunia ini.

Atau, ketika dikatakan “Yesus anak domba Allah”, maksudnya jelas, Yesus itu bukan anak domba sungguhan yang mau disembelih tanpa bisa melawan, melainkan suatu kurban yang Allah sediakan untuk memikul dosa dunia.

“Memikul dosa dunia” juga adalah suatu ungkapan metaforis, sebab bola Bumi ini, dunia ini, tidak bisa berbuat dosa karena merupakan benda mati, dan Yesus tidak terbungkuk-bungkuk memikul bola dunia sungguhan yang teramat berat.

Yang terlihat dengan gamblang adalah tiga metafora kristologis tersebut menghubungkan sorga dan dunia, kawasan terang dan kawasan gelap, Allah dan manusia, cinta ilahi dan kemalangan manusia.

Pada tingkatan yang lebih rumit dan kaya nuansa, metafora religius, terutama yang berbentuk narasi-narasi metaforis, berfungsi sebagai sebuah “jendela” atau sebuah “pintu gerbang” (juga sebuah metafora) untuk melihat dan masuk ke realitas lain yang transenden, realitas lain yang diyakini ada dan berlangsung di luar sejarah, transhistoris, dan di luar dunia kehidupan kodrati sehari-hari. Lewat kisah-kisah metaforis ini, kita berkendara perahu melaju menuju dunia transenden lewat, tentu saja, aktivitas kognitif.

Tetapi itu tidak berarti bahwa metafora keagamaan selalu tidak berpijak pada sejarah. Ada metafora keagamaan yang diciptakan dengan memakai memori historis sebagai titik pijaknya; dengan kata lain memiliki historical core, inti sejarah. Membungkus inti sejarah ini, ada banyak dedaunan dan kembang-kembangnya. Inilah yang disebut memory metaphorized, memori sejarah yang dimetaforakan (lihat Marcus J. Borg, Jesus [2006], 51-76).

Lewat memori yang dimetaforakan, suatu kejadian atau pengalaman partikular di masa lalu diubah atau bermetamorfosa menjadi suatu kejadian atau pengalaman yang universal, terabadikan, melintasi zaman-zaman dan tempat-tempat, dengan daun-daun dan kembang-kembang yang makin banyak karena berlangsung aktivitas cerdas adaptasi dan kontekstualisasi.

Tetapi, kebanyakan metafora keagamaan menunjuk pada suatu realitas yang faktualitasnya tidak ditemukan dalam dunia sehari-hari. Namun, ketika metafora disusun dan dipakai, manusia, tidak bisa lain, harus memakai bahasa yang sudah dihasilkan dan dipakai manusia di dalam kebudayaan mereka. Kita tak sedang berada di kahyangan, tapi di muka Bumi.

Manusia bisa berkata-kata dengan efektif dan komunikatif hanya dengan bahasa (sebagai sistem tanda-tanda dan simbol-simbol) yang sudah diciptakan, diterima dan terus dikembangkan mereka dalam kebudayaan. Di sinilah juga terletak keterbatasan sebuah metafora: metafora mau menyibak realitas adikodrati yang bukan bagian dari pengalaman sehari-hari dengan memakai bahasa sehari-hari. Tapi ya tak ada wahana lain selain wahana metaforis yang terbatas.

Ketika ekspresi bahasa telah menjadi bagian dari sebuah metafora, bahasa ini tidak bisa lagi dibaca dan dipahami secara literalistik atau harfiah, atau sebagai bahasa yang mau menyampaikan faktualitas dalam dunia kodrati. Sebab yang menjadi acuan pokok dari bahasa metaforis religius bukanlah sejarah dan dunia sehari-hari, melainkan hal-hal di luar sejarah, hal-hal transhistoris, realitas transenden adikodrati, yang hanya bisa dibayangkan dan diimajinasikan dengan kreatif. Tak ada jalan lain, dari manapun imajinasi ini diyakini berasal.

Semua metafora memang dibuat bukan untuk dipahami secara literalistik, harfiah atau faktual, melainkan harus secara simbolik, figuratif atau alegoris. Jika suatu metafora dipahami secara literalistik atau sebagai faktualitas objektif, metafora itu dipermiskin, maksud dan pesannya salah ditangkap atau malah menghilang, dan orang karenanya akan menemukan ketidakbenaran. Lewat cara ini, si pembaca jadi terfiksasi, terpatri, pada konten literalnya sehingga pesan historis nonliteralnya luput ditemukan. Alhasil, si pembaca literalis jadi tersesat.

Ketika sebuah metafora religius berhasil dipahami secara simbolik, figuratif atau alegoris, hal-hal transhistoris dan adikodrati yang disampaikannya akan dapat dengan ampuh dan kuat mengubah emosi dan kehidupan si pembaca atau pendengar metafora itu di masa kini dalam dunia ini. Camkanlah bahwa setiap metafora adalah bahasa imajinatif, evokatif dan emotif yang bisa sangat powerful menggugah hati dan pikiran (lihat Zoltán Kövecses, Metaphor and Emotion, 2003).

Keadaannya memang demikian, karena sebuah metafora religius memang memiliki kemampuan dan daya imajinatif, emotif, evokatif untuk mengarahkan dan menggerakkan kehidupan masa kini ke arah masa depan yang penuh dengan pengharapan pembebasan dan pembaruan, masa depan yang lebih baik, lebih bernilai dan berkwalitas, dan lebih tercerahkan. 

Lewat metafora, semangat yang patah dibangunkan kembali. Harapan yang putus disambung kembali. Mata yang redup berubah jadi mata yang terbuka lebar bercahaya-cahaya. Gerbang yang tertutup menjadi gerbang yang terbuka. Perasaan yang tumpul dan mati, diasah dan dihidupkan lagi.

Daya emotif evokatif dari sebuah metafora akan menghilang jika metafora itu dipahami secara literalistik faktual. Menemukan dan merenungi visi tentang masa depan yang lebih baik dan kehidupan masa kini yang lebih berkwalitas inilah, yang seharusnya dilakukan jika orang sedang membaca dan mencoba memahami sebuah narasi metaforis religius.

Sebuah metafora keagamaan sama sekali tidak perlu membuat orang terlibat dalam debat mengenai apakah realitas yang disebut-sebut dalam suatu narasi metaforis betul-betul secara harfiah ada atau faktual terjadi di dalam dunia ini. Sebab sudahlah jelas, sebuah metafora religius memuat realitas lain yang tidak bisa diungkapkan dalam bahasa biasa yang sehari-hari.

Itu tidak berarti bahwa suatu metafora religius, karena harus dipahami secara simbolik, figuratif atau alegoris, bisa ditafsir sembarang saja, di mana setiap orang bisa dengan bebas memberi tafsirannya sendiri-sendiri secara subjektif.

Langkah bertanggungjawab terpenting dalam menemukan dan memahami dengan tepat pesan dan makna suatu metafora religius adalah menempatkan metafora itu di dalam konteks sosial, kultural, politis dan historis di dalam mana metafora itu diciptakan. Sebab situasi-situasi sosial, kultural, politis dan kesejarahan yang sedang dialami oleh suatu komunitas keagamaanlah yang membuat mereka mencipta metafora-metafora religius. Di sinilah terjadi apa yang disebut history metaphorized

Setiap metafora adalah suatu konstruksi sosial-kultural historis, dibangun oleh masyarakat dan kebudayaan; sekaligus juga berefek balik merancangbangun masyarakat dan kebudayaan (Kövecses, Metaphor and Emotion, 13-18, 115). Melalui sebuah metafora religius, pengharapan dan visi tentang masa depan yang seluruhnya lebih baik dibuat berdampak kuat pada kehidupan masa kini dari komunitas keagamaan penghasil metafora itu.

Ada metafora religius yang sangat politis, misalnya narasi-narasi metaforis yang terdapat di dalam Kitab Wahyu Yohanes yang sama sekali tidak bisa dipahami secara literalistik dan faktual. Melalui metafora religius-politis ini, kekuatan-kekuatan penghancur dan pembinasa real yang faktual ada dalam sejarah dan di sekitar komunitas keagamaan dalam dunia masa kini diekspresikan dalam bentuk gambaran-gambaran dan wujud-wujud simbolik dan figuratif yang diproyeksikan ke kawasan adikodrati sebagai kekuatan-kekuatan langit transhistoris yang najis dan anti-Allah.

Kekuatan-kekuatan ini dilukiskan, dalam Kitab Wahyu itu, sedang mengguncang kosmos dan sedang berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan suci dari para bala tentara Allah. Pada gilirannya, metafora religius politis semacam ini membentuk masyarakat dan kebudayaan yang di dalamnya si pembuat metafora hidup; masyarakatnya menjadi diberdayakan untuk melawan kekuatan-kekuatan penghancur itu sekaligus untuk merancang masa depan yang telah dibebaskan. Memakai metafora dalam kitab Wahyu, langit dan Bumi lama diganti dengan langit dan Bumi baru.

Ada metafora yang bagus, edukatif, membangun mental dan moral manusia, dan mengangkat derajat manusia ke peringkat yang lebih agung dan lebih tinggi. Perumpamaan-perumpamaan yang disusun Yesus dengan kreatif dan imajinatif, yang terdapat dalam injil-injil Perjanjian Baru, termasuk metafora yang bagus dan edukatif.

Tapi ada juga metafora yang jelek, yang merusak hati dan pikiran, memadamkan wawasan, menghancurkan mental dan moral insani, merendahkan serta mengerdilkan martabat manusia, mematikan karsa dan inisiatif untuk mengubah dan membangun kehidupan dan peradaban ke arah yang lebih maju, lebih mulia dan lebih bernilai. Metafora tentang Allah yang memimpin perang suci untuk membela dan memenangkan bangsa Israel, dengan membinasakan tanpa ampun musuh-musuh Israel, tergolong metafora yang buruk.

Jadi, kita memang perlu memilah-milah dengan cerdas, waras, luas dan tangkas metafora mana yang kita mau gunakan dan metafora mana yang harus kita tinggalkan. Ihwal patut atau tidak patut, relevan atau tidak relevan, konstruktif atau destruktif, mendewasakan atau mengerdilkan, mencerdaskan atau menutup akal, memang harus kita pertimbangkan dengan cermat ketika kita sedang berhadapan dengan metafora-metafora, baik metafora yang religius maupun metafora yang nonreligius.

Di zaman sekarang di mana konservatisme dan fundamentalisme religius muncul di mana-mana, dalam setiap agama dunia, kesadaran bahwa bahasa keagamaan terutama adalah bahasa metaforis cenderung menghilang.

Umat-umat beragama terlibat persaingan dan pertarungan sengit, internal maupun eksternal, untuk masing-masing mempertahankan dan membela narasi-narasi besar keagamaan yang mereka miliki sebagai narasi-narasi faktual objektif yang sungguh-sungguh pernah terjadi dalam sejarah dunia, padahal sebetulnya narasi-narasi itu semula disusun dan ditulis terutama sebagai narasi-narasi metaforis. Akibatnya, teks-teks metaforis membangkitkan agresi dan pertikaian, alih-alih mendatangkan pembaruan dan pemberdayaan kehidupan manusia dan alam seperti yang semula diinginkan para penyusun metafora.

Memperlakukan metafora keagamaan sebagai sejarah faktual bisa jadi adalah sebuah kecelakaan terbesar dalam dunia kehidupan agama-agama dalam era modern ini, era yang ironisnya mempertanyakan keabsahan klaim-klaim keagamaan berdasarkan perspektif-perspektif sains dan teknologi modern.

Dengan memahami metafora-metafora religius secara literalistik sebagai fakta-fakta real empiris, mereka, tanpa sadar, telah mengubah teks-teks keagamaan menjadi teks-teks ilmu pengetahuanMereka perlu diingatkan, teks-teks ilmu pengetahuan itu bergerak dalam dunia fakta-fakta empiris, teori-teori dan model-model keilmuan, yang harus terus-menerus diuji kembali, diverifikasi atau difalsifikasi. Ironisnya, pada sisi lain, para literalis religius terang-terangan memperlihatkan perlawanan dan kebencian terhadap ilmu pengetahuan yang mereka nilai sedang merongrong kebenaran-kebenaran agama mereka. 

Pasti mereka tidak akan pernah siap jika teks-teks metaforis keagamaan mereka, lantaran dipandang oleh mereka sebagai teks-teks fakta-fakta empiris, mau diverifikasi atau difalsifikasi lewat metode ilmu pengetahuan.

Pada satu sisi, mereka melawan dan membenci ilmu pengetahuan, tapi, pada sisi lain, mereka juga memperlakukan teks-teks metaforis keagamaan sebagai teks-teks ilmu pengetahuan. Mereka terjebak dalam suatu labirin oxymoron.


Stay blessed.