Monday, September 15, 2014

Diam, sunyi dan kosong



Ini kata-kata Lao Tzu, yang diterima menjadi ucapan-ucapan Zen: “Semakin anda berdiam diri, semakin anda mampu mendengar”, dan “Kami membentuk sebuah periuk dari tanah liat, tetapi kekosongan yang ada di dalamnya yang memuat apa yang kami inginkan.”

Diam dan kosong, dua hal yang bermakna dan berguna. Mengapa banyak orang tak suka diam dan tak suka kosong, lebih-lebih kalau berkaitan dengan agama? Bukankah Tuhan itu bagian esensial dari hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah sorga itu bagian mendasar dari dunia-dunia transenden yang melampaui dunia manapun yang sekarang kita kenal? Mengapa kita terbiasa rewel dan suka sesumbar tentang hal-hal besar ini?

Bukankah kesunyian, kebisuan dan kekosongan mendekatkan kita kepada hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah jika kita bertemu dengan hal-hal yang tak terkatakan, kita akan mengambil sikap diam, sunyi dan kosong? Dalam diam, bukankah kita bertemu dengan kata yang tenang? Dalam sunyi, bukankah kita berjumpa keramaian yang teduh? Dalam kosong, bukankah kita bersua dengan isi yang senyap?

Dalam kita diam, sunyi, hening dan kosong, kita menemukan kata-kata, keramaian, dan isi, semuanya dari perspektif yang berbeda, perspektif yang baru, yang lebih menyegarkan, menakjubkan, mengherankan, menggugah, dan yang tidak terduga sebelumnya. Dalam diam, sunyi dan kosong, kita mendengar dan bertemu suara-suara sunyi dan sepi yang menggelegar, membahana, yang riak-riaknya bergelombang sampai ke tepi-tepi alam semesta. Dewa-dewi pun menari gembira. Ruang-ruang kosmik yang kosong pun bergetar, menghasilkan energi dahsyat yang terus menjalar abadi, gelombang demi gelombang, mencari rumah-rumah hati yang mau didiami, yang kosong, senyap, dan hening.

Kata Lao Tzu juga, “Kepada pikiran yang diam dan hening, seluruh jagat raya menundukkan diri.” Sufi yang termasyhur, Jalaluddin Rumi, dengan sangat bagus berkata, “Mengapa anda sangat takut terhadap keheningan? Keheningan adalah akar dari segala sesuatu. Jika anda masuk ke dalam pusaran keheningan, seratus suara akan menggelegarkan pesan-pesan yang sudah lama anda rindukan.”

Mari, mari, mari, kita berlatih diam, sunyi, hening, bisu, dan kosong. Mari, mari, mari, kita terjunkan diri ke dalam pusaran-pusarannya yang dahsyat. 

Content requires emptiness.
Voice needs silence.
Crowd requires loneliness.
Speech needs quiet.

Mengambil sikap diam, sunyi dan kosong sangat sulit. Untuk mencapainya, kita perlu berlatih sangat keras dan tekun. Juga, dalam diam, sunyi dan kosong. Kesulitannya jadi berlipat ganda. Sekaligus, rasa takjub dan rasa herannya juga meningkat.

Manusia rata-rata dapat diibaratkan sebagai air terjun yang gemuruh, ruuuuuuuuuuuuhhh, selalu ingin berkata keras sebanyak-banyaknya, menggemuruh, rrrruuuuuhhhhh, memuntahkan jutaan kata setiap hari tanpa bisa direm, jutaan kata yang bisa sembarangan tanpa isi, kosong melompong bak tahu poooooonnnng.

Sebaliknya, hanya segelintir manusia yang bisa menjadi gunung tinggi, tingggiiiiiiiiiiiii, menjulang mencapai awan-awan tempat para dewa, berdiri tegak, diam, bisu dan sunyi abadi, meskipun magma bergolak dan bermusik rock di dalam perutnya. Penuh misteri, tak terkatakan dan tak terucapkan. Kosong nan agung. Agung yang melambung, dalam kesendirian dan kesunyian. Menggetarkan kalbu dan akal. Menggoncangkan Bumi dan langit. Memanggil halilintar dan menjadikannya diam.

Untuk bisa diam, sunyi dan kosong, pandanglah gunung-gunung tinggi dunia ini. Temani Mahameru. Pergilah ke Nepal. Jelajahi dan tundukan Himalaya. Dekap Mount Everest siang dan malam. Cumbui dia. Daki gunung Mauna Kea di Hawaii. Di Venezuela, gunung Pico Bolivar tengah rindu menunggu anda. Mount Rainier di Seattle lama sudah berahi kepada anda. Mount Savage di perbatasan Pakistan dan China menunggu anda jinakkan lewat ciuman dan pelukan anda. Ras Dashen di Ethiopia sudah lama kepanasan, menunggu anda dalam gelora untuk bercumburayu. Minta Everest dan Mahameru dan Bolivar mendaki anda. Peluklah mereka semua. Kuat dan erat. Energetik. Lantunkan madah-madah erotik yang hening. Berdansalah bersama mereka. Berpelukkanlah. Bersetubuhlah. Lahirkan anak-anak besar, generasi masa depan, anak-anak gunung akbar, kawasan para dewata.

Masuk ke dalam diam dan sunyi relatif lebih mudah ketimbang masuk ke dalam tahap kosong. Untuk kosong, sunyi dan diam harus ada lebih dulu. Tanpa sunyi dan diam, kosong tidak ada.

Tahap kosong sangat sulit dicapai, yakni saat kita sudah menemukan diri kita menyatu dengan segala yang ada, tidak ada lagi ego dan individualitas, kita adalah jagat raya sendiri, kita adalah langit, kita adalah dunia, kita adalah orang-orang lain, kita adalah hewan-hewan dan tetumbuhan, kita adalah rerumputan, padi dan gandum, kita adalah belalang, semut, kunang-kunang dan kupu-kupu, kita adalah ruang dan waktu, kita adalah sungai dan lelautan, kita adalah masa kini dan masa depan. Tidak ada lagi aku, Ioanes, Ulil, Selvy, Cindar, Swift Taylor, Rihana, Saidiman, Sahal, Sarasdewi, Ahok, Lince, Suzanna, Nathan, Jeanne, Jessy, Elizabeth, Denny, Elza, Dalai Lama, Nelson Mandela, Teresa, Areta, Owena, Munir, Rendra, Gandhi, Celine Dion, Donald, Diana, Novri, Minion, Casper, dan alien-alien. Yang ada adalah Entitas Universal. Kita menjadi tidak ada, kosong. Kosong.

Ketika tahap kosong ini dicapai, kita menjadi penuh, kita menjadi isi. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Itulah paradoksnya, dan tentu saja paradoks yang menakjubkan, mengherankan, dan membuat kita terperosok ke dalam sunyi, hening dan diam.

Sayang seribu kali sayang, hanya sedikit orang yang telah mencapai tahap kosong ini. Kebanyakan orang berjuang keras, dengan segala cara, untuk menjadi isi yang penuh sepenuh-penuhnya, padahal, celakanya, mereka kosong sekosong-kosongnya.

Saya gembira karena dalam tulisan pendek ini saya berhasil mengungkapkan makna kata “sunyata” dalam Buddhisme dengan gamblang dan menyentuh. “Sunyata” biasanya diterjemahkan sebagai “kosong”, empty. Sunyata sama sekali bukan nihilisme. Hemat saya, kondisi “sunyata” paling jelas diungkap oleh kehidupan kita sendiri: terlepas dari ego individual, lalu menyatu dengan jagat raya, alhasil diri kita lenyap, hilang, empty, kosong. Tetapi karena ego individual kita lenyap dengan menyatu atau terlebur ke dalam jagat raya, ke dalam langit dan dunia, kekosongan kita sekaligus isi sepenuh-penuhnya diri kita. Dus, kosong tapi isi, isi tapi kosong. Ini paradoks, tetapi memang demikianlah seharusnya kita memahami setiap ide dalam Buddhisme, selalu berada dalam bingkai “non-dualis”, advaita. 

Saat kita mencapai kondisi kosong, kita akan menjadi seorang manusia yang penuh kebajikan dan cinta terhadap semua yang ada, organisme dan non-organisme, terhadap Bumi dan dunia yang penuh dipadati bertrilyun-trilyun kunang-kunang, gemerlap.

Saat kita mencapai sunyi, hening dan diam, kita menjadi bagian dari keramaian, hiruk-pikuk dan suara-suara dunia, yang diam-diam berada di antara manusia, meskipun kita datang dari jagat-jagat raya lain, ribuan tahun cahaya jauhnya, dan dari masa-masa yang akan datang, jauh di depan. Kita bak para malaikat, para Boddhisattva, dewa-dewi yang menjadi manusia, diam di antara insan-insan, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tentu saya mengakui akan bisa ada interpretasi lain dari kata “sunyata” dalam Buddhisme, karena kata ini memang sulit dipahami dan sering salah dipahami. Guru Buddhisme Lewis Richmond telah menjelaskan dengan cukup bagus makna kata “sunyata”, terpasang di http://www.huffingtonpost.com/lewis-richmond/emptiness-most-misunderstood-word-in-buddhism_b_2769189.html.