Showing posts with label Sam Harris. Show all posts
Showing posts with label Sam Harris. Show all posts

Friday, February 20, 2015

A short letter to Sam Harris



This is my first open letter to the neuroscientist Mr. Sam Harris./1/
(Updated March 3, 2015, and May 2, 2015)

Thank you Mr. Sam Harris for your interesting apology for atheism as you at least imagine about./2/ I am neither theist nor atheist, but agnostic. My religion, if any, is the religion of Loving Kindness, and my religious holy song is IMAGINE of John Lennon, and my Holy Book is the Open Night Sky filled with trillions of beautiful stars to be read and interpreted by all the intelligent organisms inhabiting the Earth and the universe. 

Tuesday, October 1, 2013

Benarkah para saintis mempertuhan pikiran mereka?




Kekuatan akal dan pikiran adalah wahana menuju kebenaran, bukan untuk disembah. 


Sabda Yesus Kristus, "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budimu." Ketika akal dan pikiran dikerahkan semaksimal mungkin untuk mengonstruksi ilmu pengetahuan, di saat itulah para ilmuwan juga menjadi kekasih-kekasih Allah YMTahu, sumber segala pengetahuan. Keren banget, bukan? --- ioanes rakhmat


N.B. Diperluas 25 Agustus 2021


Banyak orang yang cuma bisa "melihat ke satu arah", yang biasa dijuluki orang yang “berkacamata kuda”, dalam semua agama teistik, sering menuduh para saintis mempertuhan pikiran mereka, menggantikan Tuhan Allah yang sebenarnya. Kata mereka, Tuhan para saintis itu otak mereka. Is that true? 

Ketimbang membangun debat bermartabat dan terbuka, mereka memang lebih memilih memakai argumentum ad hominem, yakni menyerang diri pribadi para saintis dengan membabi-buta, dan bukan mendiskusikan dengan cermat seluk-beluk dunia sains.

Berikut ini perkenankan saya mengajukan sejumlah alasan yang memperlihatkan bahwa tuduhan mereka yang berkacamata kuda itu tidak benar sama sekali. 

Delapanbelas alasan

Pertama, dalam dunia sains tak ada objek apapun (benda, organisme bernyawa, atau hakikat-hakikat imajiner adikodrati) yang dipertuhan yang tak boleh digugat atau dikritik. 

Sebaliknya, menggugat atau mengkritik sains adalah salah satu prasyarat untuk sains dapat terus berkembang. Tentu saja gugatan atau kritik di sini bukanlah gugatan atau kritik asal-asalan, melainkan gugatan atau kritik yang bernalar, argumentatif dan memakai dasar bukti-bukti. 

Kedua, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa kendatipun daya jelajah pikiran itu tak ada batasnya, selalu mampu membuka cakrawala-cakrawala baru, pikiran kita, sehebat dan serapih apapun dibangun, sehebat dan seapik apapun telah mengonstruksi sains, tetap bisa salah, fallible. Karena fallibilisme ini, maka pikiran saintifik kita apapun harus selalu kita kontrol dan uji terus-menerus lewat metode-metode saintifik. 

Fallibilisme dalam dunia sains ini digarisbawahi mula-mula oleh filsuf pragmatisisme Charles Sanders Peirce (1839-1914)./1/

Ketiga, semua saintis dengan jelas mengakui bahwa pikiran memang mulia, karena mampu mengonstruksi sains dan melahirkan hal-hal besar bagi pembangunan peradaban, tapi pikiran kita bisa juga, di bawah kondisi-kondisi tertentu, membuahkan banyak kejahatan yang akan menyengsarakan umat manusia. 

Dengan lebih kongkret lagi, Jacob Bronowski menegaskan bahwa “Tidak ada sains yang kebal terhadap infeksi politik dan korupsi kekuasaan.” 

Charles Darwin juga menyuarakan pandangan yang serupa, bahwa “tahap tertinggi yang mungkin dicapai dalam kebudayaan moral adalah ketika kita mengakui bahwa kita harus mengontrol pikiran-pikiran kita.” 

Dalam terminologi masa kini, apa yang dikatakan Darwin itu adalah bahwa kita harus mempunyai salah satu "soft skill" yang dinamakan "metacognitive skill", yakni kecakapan kita untuk dengan kritis dan sadar sepenuhnya "memikirkan pikiran kita sendiri" atau "thinking about our own thinking"--- inilah yang dimaksud dengan metakognisi (pertama kali diperkenalkan oleh psikolog Amerika John H. Flavel, 1976). 

Lewat aktivitas metakognitif, kita memantau dan mengevaluasi pikiran kita sendiri, lalu tiba pada pikiran lain yang "melampaui" (Yunani: meta, "beyond") pikiran atau "cognition" (dari kata infinitif Latin cognoscere, "to know" atau "to learn about", "mengetahui", "memahami") kita sebelumnya. 

Setelah proses metakognitif ini berjalan, kita perlu melakukan penyesuaian dan adaptasi pikiran-pikiran kita sebelumnya dengan kreatif ketika konteks luas, persoalan dan tantangan kehidupan kita berubah dengan dinamis./2/

Ketika kecakapan metakognitif terus kita gunakan, fungsikan, berdayakan dan latih, maka "mindset" kita atau "ruang pikiran kita dan perabot-perabot yang ada di dalamnya" akan terus bertambah luas, apik terkoordinasi dan terkonsolidasi, dan bercahaya mengkilat.

Selain itu, semua pikiran kita harus terus-menerus kita kontrol lewat nilai-nilai moral yang kita pandang sebagai nilai-nilai yang agung dan lewat kemauan membaja untuk menghasilkan kebajikan buat umat manusia dan dunia ini. Nilai-nilai moral juga dinamis, tak boleh dibuat statis, dan harus juga kita pikirkan kembali dan pantau dengan tanggap dalam suatu dunia yang terus berubah.

Menurut astronom Amerika yang beken Carl Sagan, semakin tinggi peringkat peradaban suatu spesies cerdas, semakin agung akhlak spesies cerdas ini, bukan sebaliknya. 

Pernyataan Sagan ini diajukan olehnya dalam suatu konteks diskusi pada masanya tentang apakah berbahaya ataukah tidak berbahaya jika spesies Homo sapiens suatu saat nanti bertemu dengan alien-alien cerdas dari angkasa luar yang sudah memiliki peradaban sangat tinggi, jauh di atas peradaban kita sekarang. Sagan ingin menenangkan dan meyakinkan masyarakat pada masanya. Semoga Sagan benar. 

Jika anda skeptik dan bertanya apakah alien-alien cerdas itu sungguh ada, saya sudah menggumuli pertanyaan ini, dan sudah menulis topik ini dengan luas. Sedikitnya ada dua tulisan saya yang perlu anda baca, yang pertama berjudul "Adakah alien cerdas di angkasa luar?",/3/ dan yang kedua "Paradoks Fermi atau Silentium Universi"./4/

Ya, gratefully, saya diperkenan Tuhan untuk menjadi penjelajah luas lintasilmu dan terus-menerus menulis. This is my path.

Keempat, meskipun sains dibangun oleh pikiran yang bekerja dengan tertib di jalur metode-metode saintifik, yang menentukan kebenaran sebuah posisi saintifik bukan pikiran itu sendiri, tapi bukti-bukti empiris. Inilah epistemologi evidensialis (Latin: evidentia, bukti) sebagai epistemologi sains: suatu posisi pengetahuan (Yunani: epistēmē) itu benar dan sahih sejauh ada bukti-bukti empiris (empirical evidence) yang mendukungnya. 

Seperti sebuah rumah berdiri kokoh di atas fondasi-fondasi beton yang kuat, sains juga berdiri kokoh di atas fondasi bukti-bukti empiris. Jules Henri Poincare menyatakan bahwa “sains dibangun di atas fakta-fakta, seperti sebuah wisma dibangun di atas fondasi bebatuan”.

Kelima, sebagai fondamen sains, bukti-bukti empiris terdahulu akan dinyatakan kurang memadai, cacat atau tidak valid jika ditemukan bukti-bukti lain yang lebih kuat dan lebih memadai. Kemanapun bukti-bukti membawa, ke sanalah para saintis akan mengarahkan pikiran saintifik mereka. 

Itu sama halnya dengan para saintis menelusuri tanah planet Mars (lewat sebuah rover yang dikendalikan dari Bumi) untuk menemukan air ketika mereka mencari petunjuk-petunjuk adakah kehidupan di sana. Follow the water to find life! Follow the empirical evidence to find scientific truths!

Keenam, dalam dunia sains teori-teori besar dan model-model standard selalu bersifat tentatif, suatu saat akan diganti dengan teori-teori dan model-model lain yang lebih akurat dan lebih inklusif dan sejalan dengan realitas empiris yang makin luas dikuak lewat penyelidikan-penyelidikan saintifik yang tak pernah berhenti dijalankan. 

Kesementaraan, bukan kemutlakan, malah membuat kita makin dekat pada kebenaran-kebenaran. Riset-riset ilmiah tidak akan pernah selesai, dan harus didukung untuk berjalan terus. Charles Sanders Peirce menyatakan, “Jangan blokir jalur perjalanan riset!” Jalur-jalur semua riset ilmiah haruslah bebas macet dan bebas hambatan. Para ilmuwan berusaha sangat keras ke tujuan ini.

Ketujuh, dalam dunia sains tak ada sains final dan absolut, sebab sains memiliki watak terus berubah dan berkembang, impermanen sekaligus progresif, terus berubah dan maju menuju kebenaran-kebenaran yang makin penuh, lewat dialektika tesis vs. antitesis, yang melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru. Dialektika ini akan dan selalu terus berjalan. 

Sebutan “sains final” atau “sains absolut” adalah sebuah oxymoron, atau sebuah contradictio in terminis, sebuah istilah yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Contoh lain oxymoron: kekalahan adalah kemenangan yang tertunda; atau lagi: profesor muda cerdas yang linglung. Dalam dunia sains, oxymoron tidak ada; dan hanya ada sebagai retorika politis dan dalam dunia seni. 

Kedelapan, kalaupun ada yang tetap dan kekal dalam sains, ini adalah kesementaraan dan perubahan. Kesementaraan dan perubahan, atau impermanensi, adalah hukum alam yang abadi. Orang umumnya akan gelisah dan tak tenteram di batin jika mereka menghadapi ketidakpastian-ketidakpastian dalam kehidupan mereka. 

Tetapi para saintis menikmati dengan asyik kesementaraan dan ketidakpastian yang berjenjang (sangat pasti, pasti, agak pasti, kurang pasti, sangat kurang pasti, sepenuhnya tidak pasti, dan paling bawah: salah) di dalam sains, sebab keadaan ini mendorong mereka untuk terus berkarya, mengkaji posisi-posisi saintifik lama untuk tiba pada posisi-posisi saintifik baru. Jadi, setiap saintis perlu memiliki keuletan dan semangat penjelajah.

Mereka berkarya ibarat para pelaut yang tertantang menjelajah dan memasuki kawasan-kawasan pelayaran yang asing dan tak dikenalDalam pelayaran ini, mereka akan menemukan pulau-pulau baru yang sebelumnya tak terdapat dalam peta dunia, ada di kawasan terra incognita

Jacob Bronowski menulis, “penemuan yang paling menakjubkan yang dibuat para saintis adalah sains itu sendiri.” 

Ya, sains memang menakjubkan karena sains adalah suatu perjalanan dan pelayaran ke kawasan-kawasan yang belum dikenal, "a voyage to the unknown", yang serba penuh dengan kemungkinan-kemungkinan dan misteri-misteri baru yang mengejutkan dan memukau.

Kesembilan, sebagaimana ditekankan oleh Charles Sanders Peirce, pada dirinya sendiri sains itu memiliki sifat dan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri (self-corrective), tanpa perlu dipaksa oleh siapapun atau oleh lembaga apapun. 

Dengan demikian, sudah menjadi watak inheren sains itu sendiri untuk mengoreksi diri sendiri dan dengan demikian berkembang terus, menuju kebenaran-kebenaran yang makin lengkap dan sahih. Menurut Peirce, kemampuan “self-correction” dalam sains ini lebih penting ketimbang mencari kepastian-kepastian dalam sains.

Kesepuluh, dalam dunia sains tak ada otoritas tunggal apapun (lembaga atau manusia) yang diberi hak dan wewenang untuk memapankan atau meruntuhkan sebuah posisi saintifik. Thomas Huxley menyatakan bahwa “setiap kemajuan besar dalam pengetahuan natural melibatkan penolakan mutlak atas otoritas.” 

Sains itu berkembang kumulatif, dialektis dan progresif lewat kerjasama para saintis dari zaman ke zaman, dari satu tempat ke tempat lainnya, dalam berbagai komunitas saintifik sedunia yang selalu aktif untuk mendiskusikan dan memperdebatkan sains dari waktu ke waktu secara interdisipliner dan bernalar. Aktivitas keilmuan inilah yang dinamakan peer review

Alexander Graham Bell menyatakan bahwa “penemuan-penemuan dan kemajuan-kemajuan besar selalu melibatkan kerjasama banyak pikiran.”

Setiap posisi saintifik dihasilkan lewat kerjasama para ilmuwan lintaswaktu dan lintasruang yang membentuk komunitas-komunitas saintifik dunia. 

Sains itu tidak ada yang menjadi milik pribadi, tetapi selalu milik jagat raya. Patent atas suatu temuan iptek baru, dan Nobel Prize yang diberikan, adalah cara-cara sah untuk menghargai dengan patut prestasi-prestasi besar insan-insan cerdas yang bergulat di dunia iptek, bukan untuk memprivatisasi mutlak dan abadi suatu temuan sainstek.

Kesebelas, sains akan terus berkembang maju dan akan makin memberi banyak manfaat positif buat umat manusia hanya dalam suatu kehidupan masyarakat yang dikelola secara demokratis sekular, dan akan terpasung dan terberangus di dalam suatu masyarakat atau negara yang dikelola secara teokratis dan menolak sekularisasi. 

Sekularisasi bukan penolakan absolut pada agama, tetapi menempatkan agama sebagai suatu pranata dalam kawasan privat dan kesalehan individual dan kolektif dalam batas-batas wilayah komunitas-komunitas religius saja, bukan dalam wilayah politik dan iptek modern./5/

Jika pengembangan iptek dicampuri dan digerecoki agama-agama totalitarian yang mau merambah ke semua bidang kehidupan, iptek pun pasti amblas.

Di dalam suatu negara teokratis, hukum-hukum Allah (baca: hukum-hukum agama) dipandang superior dari semua hukum lain, hukum positif, misalnya, termasuk hukum-hukum alam yang abadi dan hukum-hukum sains. 

Dalam negara yang konsekwen teokratis, sains boleh dikembangkan sejauh memperkokoh hukum-hukum agama, bukan merongrongnya. Hal inilah yang justru tidak bisa dilakukan sains apapun. Coba tengok, sejauh mana iptek dapat berkembang tanpa batas di dalam negara-negara teokratis murni apapun.

Oh ya, China kini maju pesat dalam pengembangan iptek dalam banyak bidang meskipun negara berpenduduk besar ini bukan suatu negara demokratis. Ya, karena di China sama sekali tidak dimungkinkan untuk agama-agama apapun menggerecoki pengembangan iptek yang direncanakan dan dijalankan negara bersama mitra-mitra kerja mereka.

Keduabelas, sains tak mengenal dunia supernatural, tapi memandang seluruh kosmos sebagai dunia natural yang berfondasi hukum-hukum sains yang penuh dengan "scientific wonders" atau pesona-pesona keilmuan. Kosmologi dan mekanika quantum, juga evolusi biologis spesies-spesies, misalnya, penuh dengan hal-hal yang mengherankan, mempesona, dan menawan hati.

Richard Dawkins menyebut pesona-pesona itu sebagai "poetic magic", yang berbeda dari "supernatural magic" (magic dalam kisah-kisah dan dongeng-dongeng mitologis) dan "stage magic" (magic yang kita persepsi sedang diperagakan di panggung oleh seorang mentalis atau ilusionis, yang biasanya disebut tukang sulap).

Tulis Dawkins, "Sederhana saja, magic puitis berarti menggerakkan hati dengan mendalam, menawan hati,...membuat kita merasa hidup lebih penuh. Kita terdorong untuk menangis di saat mendengar suatu musik yang indah.... Di saat kita menatap bintang-bintang dalam kegelapan malam tanpa Bulan dan tanpa cahaya penerang kota, maka, dengan menahan nafas dan bersukacita, kita menyatakan pemandangan yang kita sedang lihat itu benar-benar magis."/6/

Kalau pun bersikap positif, paling jauh sains hanya menghipotesiskan adanya dunia supernatural, sebuah hipotesis yang hingga kini, setelah ribuan tahun sejarah agama-agama,/7/ tak pernah terverifikasi lewat bukti-bukti empiris. 

Jika berbagai pengalaman spiritual, yang diklaim telah dialami banyak orang, betul-betul pengalaman masuk ke, atau bersentuhan dengan, dunia supernatural, yang dirasakan dialami orang di dunia real indrawi kita sehari-hari, maka mustinya pengalaman-pengalaman spiritual yang diobservasi dan diverifikasi oleh para ilmuwan akan membawa para ilmuwan ke temuan empiris dunia supernatural. Nyatanya tidak. Mengapa?

Ya mungkin karena kawasan "the otherworld" itu limitless, infinite, sehingga tak terdefinisikan, "undefined". Tapi bukankah "the otherworld" itu dirasakan dialami dalam dunia indrawi kita yang real dan terbatas, finite? Silakan cari jawabannya sendiri.

Para neurosaintis, yang bekerja dengan memakai berbagai instrumen pemindai otak untuk menginvestigasi apa yang berlangsung di dalam otak ketika manusia merasakan sedang "berjumpa" Tuhan atau merasakan suatu "presence" atau suatu "kehadiran yang tak kasat mata", umumnya menyimpulkan bahwa pengalaman-pengalaman spiritual berlangsung di dalam otak, sebagai kejadian-kejadian aksi-reaksi fisika-kimiawi neurologis, tidak mengacu ke "dunia lain" yang non-indrawi. Melalui proses evolusi biologis otak insani, otak kita terkonstruksi untuk dapat membangkitkan pengalaman-pengalaman spiritual./8/

Meski begitu, agama-agama tetap memiliki peran yang dinamis dan proaktif dalam kawasan nilai-nilai moral. Fakta-fakta ilmiah dan nilai-nilai agung (moral, estetik, artistik, spiritual, kognitif, afektif, saintifik, eksistensial sapiensial) sama-sama kita butuhkan. Sains dan nilai-nilai tidak dapat dipisahkan, bahkan sains sendiri memiliki dan melahirkan nilai-nilai. Ini sudah saya eksplorasi dalam tulisan saya "Sciences and Values"./9/

Ketigabelas, sains tak mengenal wahyu supernatural yang diasumsikan tak bisa salah karena dipandang datang dari Allah yang mahasempuna dan mahatahu, tapi betul-betul konstruksi pikiran manusia yang natural. Dengan begitu, sains bisa salah, dan tidak mampu untuk seketika menjelaskan segala sesuatu. Namun, hal-hal yang ditemukan manusia lewat akalnya lebih efektif dan lebih realistik serta lebih prospektif dalam menuntun manusia untuk memasuki masa depan dunia. 

Lompatan iman

Karena sains itu berdasar pada naturalisme, bukan pada supernaturalisme, maka di dalam dunia sains tidak dikenal apa yang dalam agama-agama kerap disebut sebagai “lompatan iman”: mempercayai begitu saja, tanpa perlu dibuktikan dan dinalar, adanya dunia supernatural dan hal-hal yang diklaim sebagai paranormalitas.

Frasa “leap of faith” dikaitkan pada Søren Kierkegaard (1813-1855) kendatipun dia tidak menyebutnya demikian, melainkan “leap to faith”, “lompatan ke iman”. 

Dalam karyanya Concluding Unscientific Postscript, Kierkegaard menyebut lompatan iman sebagai “suatu transisi dari ketidakpercayaan ke kepercayaan”. 

Tulisnya juga, “Ketika seseorang harus melompat dia tentu saja harus melakukannya sendirian dan juga sendirian saat dia memahami dengan benar bahwa lompatannya ini suatu ketidakmungkinan... Lompatan adalah suatu keputusan... Dan aku mengharuskan si individu yang melakukan lompatan ini untuk tidak berhenti melakukan perenungan tanpa akhir.”/10/ 

Frasa "perenungan tanpa akhir" ini sering diabaikan oleh para pelaku "lompatan iman". Kierkegaard tidak pernah memikirkan suatu leap of faith yang naif dan semberono untuk kepentingan ideologis atau doktrinal.

Yang umumnya terjadi, dengan lompatan iman yang dilakukan orang yang beragama untuk masuk ke ranah supernatural, semua debat ada atau tidak adanya ranah ini ditutup selamanya dan tidak boleh dibuka lagi. Iman, dus, menjadi sebuah senjata pamungkas pertahanan diri, bukan untuk pengembangan dan pematangan diri serta perluasan horison kearifan dan pengetahuan. Iman semacam ini tidak membangun. Jika iman dimaksudkan sebagai doktrin, maka ini doktrin yang buruk.

Jika situasinya seperti itu, anda nilailah sendiri apakah lompatan iman itu, seberani apapun, membebaskan manusia, atau malah memenjara manusia dalam kurungan ketidaktahuan dan kemalasan berpikir dan ketidakberanian menghadapi fakta-fakta. "The need of achievement" (NAch) atau "kebutuhan untuk berprestasi", khususnya di bidang iptek, tidak ada dalam iman jenis ini.

Apakah lompatan iman semacam itu bukan suatu pelarian, suatu eskapisme, karena orang mau menghindar dari fakta-fakta yang tidak berani diterima dengan terbuka, dan dari pengetahuan-pengetahuan baru?




Lompatan iman, suatu eskapisme yang terburu-buru


Jangan khawatir, ada iman jenis lain yang membangun, yakni iman yang dijalankankan dengan terus "mencari untuk mendapatkan" dan terus "mengetuk pintu untuk dibukakan", iman yang terekspresi dalam pemakaian "segenap akal budi untuk mengasihi Tuhan". Ini spiritualitas rangkap lima: kasih, iman, rasa ingin tahu atau kuriositas, akal dan nalar, pengetahuan.

Terkait lompatan iman, ada baiknya pada kesempatan ini saya memperkenalkan anda pada tiga kaidah penting yang berlaku dalam dunia sains, yang dinamakan kaidah Occam’s Razor atau Lex parsimoniae (Latin; artinya "kaidah paling hemat kata")./11/

Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit.

Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit. 

Ketiga, jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan iman. 

Makin sedikit asumsi atau pengandaian dipakai dalam bangunan suatu posisi keilmuan, semakin kuat bangunan ini. Sebaliknya, semakin banyak asumsi dimasukkan ke dalam sebuah teori keilmuan, semakin lemah teori ini, sebelum akhirnya ambruk. 

Occam's Razor dikenal sebagai penalaran abduktif, di samping dua penalaran yang lainnya: deduktif dan induktif.




Atas: "simple", sederhana, gamblang, hemat kata. Bawah: "complicated", rumit, berbelit, kusut. "The preferential option for the simple" berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan. Sumber gambar: VectorStock.com


Kesederhanaan atau kesimpelan dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa 

“Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.” 

Fideisme

Dalam ranah filosofis, lompatan iman melahirkan apa yang dinamakan fideisme. Sebagai sebuah mazhab filosofis keagamaan, fideisme menegaskan bahwa iman (Latin: fides) berdiri independen dari akal, bahkan bermusuhan penuh dengan akal. 

Bagi para penganut fideisme, nalar tidak diperlukan dan tidak patut dipakai di saat seorang yang beragama mengamalkan dan menjustifikasi kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka. Bagi mereka, yurisdiksi iman berbenturan dengan yurisdiksi nalar. 

Yang diketahui sebagai orang pertama yang memberi landasan fideisme adalah seorang Bapak gereja yang bernama Tertullianus (c. 160-230 M). Bapak gereja ini bertanya retoris, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara Athena [baca: nalar] dan Yerusalem [baca: iman]?” 

Jauh belakangan, Alvin Plantinga mendefinisikan fideisme sebagai “suatu ketergantungan yang eksklusif dan dasariah pada iman saja, yang disertai oleh suatu peremehan dan cemooh terhadap nalar, dan digunakan khususnya dalam pengejaran kebenaran filosofis dan keagamaan.” 

Kata Plantinga, seorang fideis adalah seseorang yang “mengharuskan orang bergantung hanya pada iman alih-alih pada akal, dalam hal-hal filosofis dan keagamaan” dan yang “akan terus-menerus meremehkan dan mencemooh dan merendahkan akal.”/12/

Karena sains juga dibangun dengan landasan-landasan filosofis keilmuan,/13/ maka tak heran jika para fideis sangat meremehkan dan mencerca sains, bahkan menuduh akal dan pikiran adalah Tuhan para ilmuwan.

Science connects

Keempatbelas, tujuan sains sangat jelas, bukan untuk menyembah apapun, tapi untuk menjelaskan seluruh realitas kosmik dan realitas mikrokosmik lewat metodologi saintifik, tahap demi tahap, dengan makin luas dan makin inklusif dan integratif dari saat ke saat. 

Karena realitas kosmik itu sangat luas dan mencakup banyak dimensi, dan realitas mikrokosmik ("dunia" quantum) berisi hal-hal yang "asing" atau "sukar dipahami" atau "weird", maka dengan sendirinya muncullah beranekaragam sains yang perlu bekerjasama dan saling mendukung dalam rangka memahami dan menjelaskan sebanyak-banyaknya fenomena alam dan fenomena sosial. 

Semakin dalam anda memasuki dunia berbagai sains, dan memandang realitas sosial dan realitas kosmik dan mikrokosmik dari banyak sudut pandang saintifik, semakin dalam anda akan melihat fakta-fakta bahwa segala sesuatu dalam jagat ini berhubungan satu sama lain, terikat satu sama lain. Science connects, does not disconnect!

"The infinite unknown"

Tentu saja saya mengakui bahwa kendatipun sains modern sudah sangat maju, dan lewat kerjasama antar berbagai disiplin sains banyak hal dalam dunia bisa dijelaskan secara natural, tetap saja akan selalu ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan seluruhnya atau sebagian darinya oleh sains modern. Tetap saja akan ada wilayah-wilayah yang belum bisa dimasuki dan dijelaskan oleh sains dengan sempurna. Saat sebuah misteri tersingkap, misteri baru muncul tak terhindar. Begitu seterusnya. 

Science is a voyage to the unknown. "The unknown" ini infinite, tak berhingga.

Kendatipun demikian keadaannya, para saintis tentu saja tidak akan melakukan lompatan iman sebagaimana sudah dikemukakan di atas, dengan menyatakan hal-hal yang masih sebagai misteri, yang masih "unknown", sebagai mukjizat atau peristiwa atau fakta atau fenomena yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah. 

Jika menghadapi situasi-situasi semacam itu, para saintis memiliki keyakinan bahwa kajian-kajian saintifik lebih jauh nantinya akan bisa menjelaskan hal-hal yang kini masih belum bisa dijelaskan.

Hal-hal yang "masih belum bisa dijelaskan", sebut saja "celah-celah" atau "gaps", tidak akan pernah diisi dengan sosok Allah oleh para saintis. Praktek mengisi "gaps" dengan figur Allah atau "God" lazim cepat-cepat dilakukan orang yang beragama. Inilah praktek yang dinamakan solusi "God of the gaps" yang sudah banyak dilakukan orang yang beragama. Praktek ini selalu berakhir dengan kekecewaan mereka karena lambat-laun para ilmuwan dapat mengisi "gaps" tersebut dengan konten-konten ilmiah.

Kalau para agamawan menyebut hal-hal yang tidak/belum bisa dijelaskan ini sebagai mukjizat atau kejadian supernatural, para saintis akan menyatakan hal-hal itu sebagai hal-hal natural yang belum bisa dijelaskan sekarang, tapi suatu saat di masa depan, tahap demi tahap, sains akan bisa menjelaskannya dengan sempurna. 

Ada baiknya saya mengutip seorang pakar Perjanjian Baru, Rudolf Bultmann, pada kesempatan ini:

“Adalah mustahil untuk kita memakai cahaya listrik dan alat-alat komunikasi nirkabel, dan menyediakan bagi kita temuan-temuan dalam dunia medis dan ilmu bedah modern, namun pada saat yang sama kita mempercayai dunia roh-roh dan mukjizat-mukjizat seperti yang digambarkan Perjanjian Baru.”/14/

Sejalan dengan Bultmann, teolog yang bernama John Macquarrie dengan bagus menyatakan hal berikut ini, terkait dengan hukum sebab-akibat atau "causal laws":

“Cara memahami mukjizat sebagai pelanggaran terhadap tatanan alam dan sebagai intervensi dunia supernatural masuk ke dalam pandangan dunia mitologis, dan tidak berlaku lagi di dalam dunia pemikiran pasca-mitologis.... 

Konsepsi tradisional mengenai mukjizat tidak dapat didamaikan dengan pemahaman modern kita yang datang dari sains dan sejarah. Sains bekerja berdasarkan asumsi bahwa peristiwa-peristiwa apapun yang terjadi di dalam dunia dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa lain yang juga berlangsung di dalam dunia. 

Dan jika pada saat-saat tertentu kita tidak dapat menjelaskan dengan lengkap beberapa kejadian... keyakinan saintifik kita adalah bahwa lewat riset-riset yang lebih jauh kita akan, dalam situasi ini, dapat menemukan faktor-faktor yang lebih jauh, faktor-faktor yang akan terbukti sebagai faktor-faktor imanen dan natural, sama seperti faktor-faktor lain yang sudah diketahui.”/15/

Kelimabelas, sejalan dengan agama-agama dan dengan dunia kesenian, sains memiliki nilai-nilai agung yang para saintis mau wujudkan supaya kehidupan manusia menjadi lebih baik. 

Pemisahan sains dan nilai-nilai sebetulnya adalah sebuah ilusi yang sudah lama dipertahankan, dan sekarang harus dilepaskan sama sekali. Neurosaintis Sam Harris menegaskan bahwa “pemisahan antara fakta-fakta dan nilai-nilai, dengan demikian antara sains dan moralitas, sesungguhnya adalah sebuah ilusi.”/16/ 

Bahwa sains juga melahirkan nilai-nilai agung, sudah saya uraikan dalam tulisan saya yang berjudul "Sciences and Values" yang sudah saya rujuk di atas.

Nah, jikalau estetika yang diberi oleh seni itu sebuah nilai, seni dan sains juga seiring dan sejalan, sebagaimana diungkap oleh Jacob Bronowski, bahwa 

“Manusia itu unik bukan karena dia menemukan sains dan juga bukan karena dia membangun seni, tetapi karena sains dan seni itu sama-sama merupakan ungkapan-ungkapan plastisitas pikirannya yang menakjubkan.” 

Bahwa sains dan nilai-nilai tak terpisahkan, kelihatan jelas misalnya dalam sains evolusi. Lewat sains ini kita menemukan bahwa semua organisme dalam alam ini, yang dimulai dari organisme bersel tunggal prokariota dan eukariota, terhubung satu sama lain oleh mata rantai evolusi biologis. Dari fakta ini, sebuah nilai muncul: semua organisme dalam alam ini tak terpisah satu sama lain, alias semuanya bersaudara. 

Pesan persaudaraan universal dari sains evolusi ini ironisnya bertolakbelakang dengan praktek-praktek diskriminasi, segregasi dan permusuhan antar-manusia yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran keagamaan dan ideologis tertentu, seperti kita sedang lihat sekarang ini di mana-mana.

Keenambelas, berbeda dari dunia agama di mana para agamawan dari semua agama dapat kuat terdorong untuk memuliakan dan mengkultuskan diri mereka sendiri setinggi-tingginya, para saintis dengan rendah hati mengabdikan diri hanya pada sains untuk terus mengembangkannya. 

Hingga saat ini, tidak ada satupun saintis dunia yang disembah atau dikultuskan kendatipun sumbangan-sumbangan keilmuan mereka sangat esensial bagi peradaban manusia dan bertahan langgeng. Mereka dipandang sebagai para saintis agung, great scientists, atau sebagai "giants in science", tapi tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang menyembah mereka. 

Ketujuhbelas, berbeda dari dunia agama yang dapat menjadikan orang fundamentalis, para saintis tak akan pernah menjadi fundamentalis-sains. 

Sebutan “saintis fundamentalis” juga sebuah oxymoron. Sebutan ini kerap dipakai oleh sejumlah orang, terutama dari kalangan para agamawan, untuk menyerang secara ad hominem saintis-saintis tertentu (misalnya Richard Dawkins) yang cakap memperlihatkan berbagai kelemahan dan kesalahan fatal dalam pandangan-pandangan kaum agamawan mengenai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan evolusi. 

Sayangnya Dawkins kerap tak santun dalam menilai dunia agama-agama. Berat sebelah. Sebab tidak segala sesuatu di dalam setiap bangunan agama itu menumpulkan akal, menimbulkan teror dan anti-modernitas. Ada metafora-metafora dalam agama-agama yang dapat membangun kehidupan. Ini kritik tajam saya ke Dawkins yang mengidap "Dawkins delusion"./17/

Kedelapanbelas, sains sama sekali bukan agama, dan agama juga bukan sains, meskipun keduanya bergerak dalam dunia kebenaran-kebenaran dan dunia nilai-nilai. 

Bedanya, sementara sains terus mencari dan mempertanyakan kebenaran berdasarkan bukti-bukti empiris, agama mengabsolutkan bahkan mendewakan sebuah kebenaran atau sebuah doktrin yang diterima begitu saja dengan iman tanpa bukti apapun sebagai wahyu ilahi yang diasumsikan tidak bisa salah, infallible, dan diyakini berlaku mutlak untuk segala zaman dan di segala tempat. 

Jadi, ya perlu diingatkan bahwa para agamawanlah, bukan para saintis, yang sebetulnya mempertuhan iman mereka pada sesuatu yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak. Mereka beriman kepada iman mereka yang mereka sendiri absolutkan.

Lebih jauh, perlu diingatkan terus-menerus bahwa hampir dalam semua agama, bahkan termasuk yang monoteistik, juga dalam kekristenan yang memiliki doktrin Tritunggal, para agamawan ada yang mempertuhan kitab suci, dogma-dogma dan iman mereka sendiri, karena semuanya ini mereka beri sifat dan aura ilahi: sudah sempurna seperti Allah dan tak bisa salah dalam segala hal dan berlaku abadi di mana pun, dan, karena itu, tidak boleh digugat sama sekali. Dalam suatu aliran Kekristenan, doktrin "inerrancy of the Bible" membuka pintu bagi masuknya pemberhalaan Alkitab atau bibliolatri.

Itulah delapanbelas butir alasan mengapa para saintis tak akan pernah mempertuhan pikiran mereka. Tuduhan kalangan beragama yang cuma bisa melihat ke satu arah itu salah total, tuduhan yang sepatutnya ditujukan kepada diri mereka sendiri.

Tuhan itu "undefined"

Selain itu, ada sebuah problem besar dalam dunia agama-agama yang perlu disadari para agamawan: ada sangat banyak definisi tentang siapa atau bagaimana atau apa itu “Allah”, yang berbeda satu sama lain. 

Sebetulnya, bagi saya, karena Tuhan itu mahatakterbatas, infinite, maka tak ada satu pun definisi teologis yang bisa menangkap dan mengurung Tuhan. The infinite God itu "undefined", tak bisa dibatasi dalam definisi apapun. Let God be God! Heninglah, berdiam dirilah, pejamkan mata, tundukkan kepala. Be silentGod is the holy silent.

Jadi, jika banyak definisi tetap dibangun dan dikompetisikan, muncullah sebuah pertanyaan: Allah yang manakah yang harus dipandang sebagai Allah yang sebenarnya yang harus disembah? 

Nah, berebut definisi tentang kebenaran tak akan ditemukan dalam dunia sains, sebab para saintis bekerjasama lintas-zaman dan lintas-tempat untuk mencari kebenaran-kebenaran saintifik yang objektif, berdasarkan analisis-analisis mereka atas bukti-bukti empiris yang tersedia dan diobservasi.

Prestasi sains itu real

Meskipun sains tak pernah mencapai titik final, selalu sementara, bisa salah, dan tidak mampu menjelaskan segala sesuatu dalam sekejap, namun sains ternyata efektif bekerja dan membuahkan hasil-hasil yang real, yang kita semua bisa lihat dan sedang nikmati. Lihatlah ke dalam kehidupan anda dan ke dunia luas, ternyata sains dan teknologi modern sedang masuk ke dalam segala sesuatu. 

Meskipun sains bisa salah, faktanya kita (baca: negara-negara Barat yang modern, Russia, China, dll) sekarang sudah berhasil mengirim sejumlah wahana antariksa tanpa awak atau dengan berawak ke planet-planet lain dan bulan-bulan lain dalam tata surya kita. 

Kendatipun sains bisa salah, nyatanya ilmu kedokteran dan pengobatan modern kita makin maju, dan lewat kemampuan-kemampuan teknologi pengobatan banyak penyakit dapat disembuhkan. 

Kendatipun sains bisa salah, kita semua sekarang ini tak bisa lagi melepaskan diri dari Internet yang dihasilkan oleh sains dan teknologi informasi dan komunikasi modern, yang membuat seluruh dunia terhubung dan komunikasi nirkabel berjalan sangat cepat dan akan terus makin cepat.

Kekuatan terbesar apakah yang sedang menbentuk dunia kita sekarang? Sains-tek modern, bukan agama apapun! Tak ada kekuatan lain selain sains modern, yang kini sedang membentuk kehidupan kita secara mendasar dan menyeluruh. 

Anda bisa mencoba tinggalkan semua agama, dan anda masih akan bisa hidup dengan baik. Orang ateis melakukan itu. Coba tinggalkan sains-tek modern sama sekali, lalu lihat apakah anda masih bisa hidup dengan sehat, baik, fungsional dan berprestasi maju? 

Tentu anda bisa hidup sekarang ini di goa-goa sama seperti ketika dulu manusia-manusia purba hidup di zaman batu, sama sekali terisolasi dari modernitas. Tetapi siapkah anda dengan kehidupan semacam ini? Dan menurut anda apakah kehidupan semacam ini manusiawi, dan apakah kehidupan semacam ini bisa memberi sumbangan signifikan bagi dunia luas? 

Bayangkanlah suatu masyarakat yang terisolasi, yang mengobati diare dengan jampi-jampi, tanpa antibiotik, tanpa vaksin untuk imunisasi tubuh, dan di sana angka kematian bayi dan ibu yang hamil tinggi, anak-anak tak sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan tapi hanya bermain dan kadang berkelahi. Tak ada listrik, tak ada mobil, tak ada mall, tak ada tempat hiburan. Tak ada sekolahan. Tak ada komputer. Tak ada Internet. Tak ada dokter. Tak ada rumah sakit. Tak ada kemajuan dan tak ada perubahan! 

Jika anda memiliki kesadaran nurani yang matang dan rasa kemanusiaan anda tinggi, dan sudah tahu apa itu modernitas, anda pasti menolak kondisi-kondisi kehidupan semacam itu. Kearifan-kearifan lokal baik untuk dirawat, tapi jangan dijadikan "agama" fundamentalis yang anti-modernitas, dus berubah menjadi ketidakarifan.

Jadi, adalah suatu imperatif etis untuk anda datang ke sana untuk membawa hal-hal yang telah diberikan sains dan teknologi modern yang menjadikan kehidupan manusia lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih imun, lebih berbahagia, lebih manusiawi, lebih toleran, dan lebih maju.

"Back to nature"?

Mungkin sekali anda juga mau menegaskan bahwa hidup kembali sepenuhnya ke alam (back to nature), tanpa memakai sains dan teknologi modern, adalah mungkin dilakukan oleh anda, dan mungkin anda segera juga mengacu ke suku bangsa Badui (juga Kubu dan Semang) yang kata anda hidup hanya bergantung pada dan bersama alam, tanpa bersentuhan dengan modernitas./18/ 

Well, dalam tradisi filosofis Barat, gerakan “back to nature” dihubungkan banyak orang ke filsuf Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) yang hidup pada era Pencerahan Eropa, kendatipun Rousseau sendiri sebetulnya tidak menganjurkannya. 

Tetapi Rousseau memang membangun sebuah pemikiran filosofis tentang kodrat alamiah manusia dalam dua karya perdananya, A Discourse on the Sciences and Arts (1750) dan The Discourse on the Origin of Inequality (1753). 

Menurut Rousseau, dalam kondisi alamiahnya manusia minimal adalah makhluk yang amoral, artinya tidak baik dan juga tidak jahat, atau maksimal makhluk yang “ganas tetapi ksatria”. Berbeda dari hewan-hewan lain manusia memiliki kemampuan bernalar yang membuat mereka dapat membangun peradaban dan hidup dalam masyarakat. 

Kata Rousseau, justru ketika peradaban dan masyarakat dibangun, akhlak manusia menjadi rusak. Ilmu pengetahuan dan kesenian tak sedikit perannya dalam kemerosotan moral manusia. 

Alih-alih menganjurkan manusia kembali ke alam, “back to nature”, Rousseau dalam bukunya Social Contract (1762) dengan eksplisit menyatakan bahwa ketika manusia meninggalkan kondisi alamiahnya, mereka dapat membangun kehidupan masyarakat berdasarkan kontrak sosial, yang dengannya kebajikan moral yang lebih tinggi dapat dicapai. 

OK-lah, kalau anda yakin bahwa anda bisa hidup sepenuhnya hanya dengan alam, dan melepaskan sains dan teknologi modern sama sekali, seperti sedang dijalani suku-suku terasing yang anda sebut itu. 

Tapi, bukankah setiap warga dewasa Badui wajib mempunyai selembar e-KTP, dan KTP adalah sebuah kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah dalam sistem administrasi kependudukan modern? Lewat kepemilikan sebuah KTP, setiap orang Badui dewasa ikut serta dalam pengelolaan administratif sebuah komunitas secara modern. Jadi, tak tersentuhkah mereka dengan modernitas? Ini hanya sebuah contoh saja.

Juga, tahukah anda, alam juga bisa dan kerap berubah menjadi sangat tidak bersahabat lagi dengan manusia walaupun anda sangat sayang kepada alam, yakni ketika berbagai bencana alam dahsyat menerjang anda dan masyarakat anda yang hidup menjauh dari modernitas. 

Dalam kondisi-kondisi terpajan pada bencana-bencana alam yang sangat mematikan, hanya sains dan teknologi modern yang bisa membantu anda mengelakkannya atau mengurangi penderitaan yang ditimbulkan olehnya. 

Kalau kata anda orang yang menyatu dengan alam akan ikhlas jika diterjang suatu bencana alam sampai seluruh komunitas mereka musnah, hemat saya, ini bukan sebuah keikhlasan, tetapi sebuah tindakan bunuh diri massal lewat pembunuhan menyeluruh akal budi mereka, yang kalau dipakai sebetulnya akan bisa menyelamatkan mereka.



Ilustrasi penyebab kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu. Sumber gambar: beloji.com


Tentu anda tahu apa yang terjadi pada reptil-reptil besar 66 juta tahun lalu, yang dinamakan dinosaurus dalam berbagai jenis. Nyaris semuanya (bersama 47% subfamili organisme laut, dan 18% famili organisme vertebrata darat) punah karena sebuah meteor besar jatuh menimpa planet Bumi kita lalu merusak seluruh ekosistem yang ada. Mengapakah mereka punah meski banyak yang bertubuh sangat kuat, tangguh dan besar?/19/

Ya, karena mereka tidak memiliki organ otak yang mempunyai bagian terdepan yang dinamakan neokorteks seperti yang ada pada mamalia Homo sapiens atau manusia cerdas dan berakal. Neokorteks inilah yang memampukan manusia berpikir cerdas, berakal, bernalar, dan membangun iptek, yang ditemani dengan kearifan.

Di masa depan, kejadian serupa juga akan sewaktu-waktu terulang kembali pada planet Bumi sekalipun anda sangat bersahabat dan ramah pada Bumi. Siapa atau apakah yang dapat menyelamatkan planet Bumi dan semua spesies yang hidup di Bumi jika sebuah meteor raksasa menghantam planet kita lagi di masa depan?/20/

Atau jika bintang Matahari kita, karena aktivitas fusi nuklir di dalam intinya, membengkak menjadi sebuah bola api raksasa yang siap menelan dan memanggang planet Bumi dan seluruh penghuninya? 

Sains dan teknologi modern-lah yang menjadi andalan kita untuk survival kita di masa depan. Caranya? 

Ya lewat pemantuan benda-benda langit yang jauh-jauh hari sudah terlihat sedang bergerak menuju Bumi oleh instrumen-instrumen teknologis dan lewat metode-metode penyelamatan yang kini sedang dicari, dibuat simulasinya, dan ada yang sedang diujicoba. 

Ya lewat pembangunan pemukiman-pemukiman baru Homo sapiens di planet-planet lain, misalnya planet Mars, sebelum bintang Matahari mengembung dan siap melahap dan memanggang kita bersama planet kita, atau lewat teknologi maju "pendongkelan" planet Bumi menjauh dari bintang Matahari./21/ 

Masih jauh di masa depan, Homo sapiens yang nanti akan menjadi organisme "transhuman"--- yakni organisme hibrid biologi dan teknologi--- akan tidak lagi menjadi organisme cerdas penghuni Bumi atau sistem Matahari saja, tetapi juga akan menjadi organisme cerdas jagat raya. 

Ilmuwan yang beragama

Saya tentu saja harus menegaskan bahwa dalam setiap zaman dan di banyak tempat tentu selalu ada orang-orang beragama yang telah memberi sumbangan penting dan mendasar bagi dunia sains. Banyak kepercayaan keagamaan yang mampu menjadikan manusia organisme yang mulia, agung, bajik dan haus ilmu pengetahuan. Tapi, ada juga yang sebaliknya. Pilihlah dengan cerdas dan gembira.

Tetapi mereka menjadi saintis bukan karena agama mereka langsung, tetapi karena metode-metode saintifik universal yang mereka gunakan (eksperimentasi, observasi, instrumentalisme, empirisisme, dan verifikasi) dan langkah-langkah penalaran yang mereka pakai (deduksi, induksi, dan abduksi) dalam penyelidikan-penyelidikan mereka. 

Jika metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik ini dipakai oleh siapapun, yang beragama apapun, di zaman kapanpun, dan di manapun, hasil-hasilnya atau temuan-temuannya akan selalu sama. Bukan agamanya, tetapi metode-metode dan penalaran saintifik yang dipakainya, yang menjadikan seorang yang beragama saintis. 

Tidak ada sains skriptural, tidak ada sains agama, tidak ada sains Hindu, tidak ada sains Buddhis, tidak ada sains Yahudi, sains Kristen, sains Islam, dst. Tidak ada sains sektarian. Tidak ada sains esoterik. Semua sains yang janggal ini adalah oxymoron. Yang ada hanya sains, science proper, atau bona fide science, yang berlaku universal, tak pernah absolut, dan dimiliki jagat raya.

Penutup

Akhir kata, saya ingin ingatkan sesuatu kepada anda, teman-teman agamawan. 

Karena dalam dunia agama anda perlu dan harus memuja dan menyembah sesuatu, kehidupan keagamaan anda hemat saya perlu diimbangi dan didampingi oleh suatu dunia yang lain, yang di dalamnya orang tidak menyembah sesuatu apapun, tetapi juga terdorong untuk mewujudkan kebahagiaan, kebajikan dan ketahanan kehidupan manusia. 

Dunia lain ini, yang di dalamnya tidak ada pengkultusan individu dan penyembahan kepada apapun, adalah dunia ilmu pengetahuan. 

Karena Tuhan itu mahatahu, maka Dia adalah sumber segala pengetahuan. Dus, Tuhan, YMHadir dan YMBerada, juga ada dan berkarya dalam dunia ilmu pengetahuan. Jadi, setiap ilmuwan adalah kawan sekerja Tuhan, hamba-hamba Tuhan, petarung-petarung rendah hati dalam ladang kemahatahuan Tuhan. Mereka sedang berjalan menuju kemahatahuan Tuhan lewat jalan mulia dan agung ilmu pengetahuan yang tanpa ujung. Inilah yang saya namakan spiritualitas saintifik.

Dengan ditemani dan dibantu oleh ilmu pengetahuan, anda akan tertolong untuk bisa mengetahui kapan anda perlu beriman dan kapan anda perlu bernalar, kapan anda perlu mengarahkan wajah anda ke dunia supernatural dan kapan ke dunia natural. Anda tidak perlu lagi memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi peringkatnya dibandingkan nalar dan dunia natural. 

Anda mulai sekarang perlu menempatkan dua wilayah ini sebagai dua wilayah yang satu sama lain paralel, dan anda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran yang kuat kapan anda harus masuk ke dunia yang satu, "the otherworld", dan kapan ke dunia yang lainnya, "this world"./22/ 

Jika anda masih saja memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi, maka, sebagai para fideis, bukankah, sejauh anda konsekwen dan konsisten, anda sudah seharusnya hanya perlu beriman dan hanya perlu memandang ke dunia supernatural saja, dan mengabaikan sama sekali nalar dan dunia natural? Bukankah, sejauh anda konsisten dan konsekwen fideis, iman saja sudah cukup bagi semua segi kehidupan anda? 

Tapi saya tahu, anda selamanya tidak akan pernah bisa konsekwen dan konsisten, jika anda memutuskan menjadi seorang fideis absolut. 

Malah, saya yakin, sekarang ini anda lebih sering hidup dengan dipandu akal dan mementingkan dunia natural, ketimbang dipandu iman dan mementingkan dunia supernatural, kendatipun secara lisan anda menyatakan diri keras-keras sebagai seorang fideis. 

Fideisme akan selalu membuat batin dan pikiran anda terbelah-belah, lalu anda mengambil sikap tidak jujur baik kepada diri anda sendiri, kepada masyarakat, maupun kepada Tuhan anda. 

Karena itu, demi menjaga integritas anda, lebih baik anda juga merangkul dunia sains, merangkul saintisme (maksudnya: sikap mental yang terbuka penuh pada sains, dan konsisten bersikap ilmiah), karena anda memang pada masa kini sudah tidak bisa hidup lagi tanpa sains dan teknologi modern. 

Saintisme bukan pemberhalaan sains (karena sains tidak bisa diberhalakan), tapi, sekali lagi, suatu sikap dan pola pikir yang konsisten saintifik ketika orang menjelaskan dan memahami semua fenomena alam dan fenomena sosial. 

Menempatkan fideisme dan saintisme dalam posisi yang bersahabat, jelas akan jauh lebih baik bagi anda, meskipun untuk bisa menyeimbangkan keduanya anda harus mengeluarkan dan memakai energi mental yang sangat besar. Anda akan lebih lelah, tentu saja, tapi tidak ada jalan lain jika anda ingin cerdas beragama dalam kehidupan anda.


Catatan-catatan

/1/ Charles Sanders Peirce (selain John Dewey dan William James) adalah salah seorang terpenting dalam aliran filsafat empirisisme dan pragmatisisme yang memberi landasan-landasan filosofis bagi sains modern. Fallibilisme Peirce tak dapat dilepaskan dari dua posisi lainnya yang diajukannya: evolusionisme dan indeterminisme. Untuk uraian bagus tentang fallibilisme Peirce, lihat Elizabeth F. Cooke, Peirce’s Pragmatic Theory of Inquiry: Fallibilism and Indeterminacy (London/New York: Continuum, 2007). 

Fallibilisme diajukan Peirce sebetulnya juga sebagai penolakannya terhadap doktrin infallibilitas Paus yang dipegang Gereja Roma Katolik; Peirce menyebut fallibilisme-nya sebagai “fallibilisme dengan rasa sesal” (“contrite fallibilism”), bahwa kesalahan-kesalahan adalah suatu bagian yang perlu dan niscaya dari pencarian kebenaran. 

Peirce maunya masuk ke GRK, tapi dia tidak bisa karena logika sains melarangnya. Lihat biografi Peirce yang ditulis Joseph Brent, Charles Sanders Peirce: A Life. edisi perbaikan yang diperluas (Bloomington dan Indiana Polis: Indiana University Press, 1993, 1998), hlm. 237.   

/2/ Tentang "metacognitive skill", lihat
Nancy Chick, "Metacognition", Center for Teaching, Vanderbilt, 2013,
https://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/metacognition/. Juga John D. Bransford, Ann L. Brown, Rodney R. Cocking, eds, How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School (expanded edition, Washington DC, The National Academic Press, 2000), p. 12, https://www.nap.edu/read/9853/chapter/1; dan https://www.nap.edu/catalog/9853/how-people-learn-brain-mind-experience-and-school-expanded-edition.

/3/ Ioanes Rakhmat, "Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar?", Freidenk Blog, 9 Juni 2014, dimutakhirkan 17 Februari 2020,
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/06/apakah-aliens-cerdas-ada-di-angkasa.html?m=0.

/4/ Ioanes Rakhmat, "Paradoks Fermi atau Silentium Universi", Freidenk Blog, 2 Januari 2014, dimutakhirkan 15 Februari 2020, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/01/paradoks-fermi-atau-great-silence-atau.html?m=0.

/5/ Untuk uraian panjang lebar, lihat Ioanes Rakhmat, "Sekularisasi dan Desekularisasi", Freidenk Blog, 3 Desember 2010, diperiksa kembali 13 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/12/sekularisasi-dan-desekularisasi.html?m=0.

/6/ Richard Dawkins, The Magic of Reality: How We Know What's Really True (illustrated by Dave McKean) (New York etc.: Free Press, 2011), hlm. 18 ff.

/7/ Sejauh sudah ditemukan oleh para arkeolog, agama natural tertua dipraktekkan oleh orang Basarwa di Ngamiland, Botswana, Afrika Selatan, 70.000 tahun lalu. Lihat reportase “World’s oldest religion discovered in Botswana” pada http://www.afrol.com/articles/23093.

/8/ Tentang hubungan otak dan pengalaman spiritual, saya sudah beberkan panjang lebar. Lihat Ioanes Rakhmat, "Pengalaman-pengalaman Spiritual Ditinjau dari Neurosains", Freidenk Blog, 8 November 2011, update mutakhir 17 Mei 2019, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html?m=0.

/9/ Lihat Ioanes Rakhmat, "Sciences and Values", Freidenk Blog, 17 November 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/11/sciences-and-values.html?m=0.

/10/ Lihat Howard V. Hong dan Edna H. Hong, eds., Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. Søren Kierkegaard. Vol. I. Dengan Introduksi dan Catatan-catatan (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1992), hlm. 11-12, 102, 113.

/11/ Lebih lanjut tentang Occam's Razor, lihat Ioanes Rakhmat, "Occam's Razor atau Lex Parsimoniae", Freidenk Blog, 27 Maret 2017, penambahan ilustrasi 27 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2017/03/occams-razor-atau-lex-parsimoniae.html?m=0.

/12/ Alvin Plantinga, “Reason and Belief in God,” dalam Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff, eds., Faith and Rationality: Reason and Belief in God (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1983), hlm. 87.

/13/ Tentang landasan-landasan filosofis sains modern, lihat Ioanes Rakhmat, "Landasan-landasan Filosofis bagi Sains Modern", Freidenk Blog, 21 Januari 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/01/landasan-landasan-filosofis-bagi-sains.html?m=0.

/14/ Rudolf Bultmann, New Testament and Mythology and Other Basic Writings. Diseleksi, diedit dan diterjemahkan oleh Schubert Ogden (Philadelphia: Fortress Press, 1984), hlm. 4. 

/15/ John Macquarrie, Principles of Sacred Theology. Edisi kedua. (New York: Charles Scribner’s Sons, 1977), hlm. 248. 

/16/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Humn Values (New York, N.Y.: Free Press, 2010), hlm. 179. Ulasan panjang lebar tentang hubungan sains dan nilai-nilai juga telah saya berikan dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 219-257.

/17/ Uraian rinci panjang lebar tentang New Atheism dan peran Richard Dawkins dkk di dalamnya, lihat Ioanes Rakhmat, "Apakah Tuhan itu ada? Sebuah jawaban ilmiah kepada para ateis", Freidenk Blog, 12 Agustus 2014, update mutakhir 20 Mei 2018, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/08/apakah-tuhan-itu-ada.html?m=0.

/18/ Komunitas Amish yang terhubung dengan Gereja Menonit juga menolak banyak kemudahan dan kesenangan yang diberikan oleh teknologi modern. Info tentang komunitas Kristen tradisional ini, lihat Wikipedia: “Amish”, pada http://en.wikipedia.org/wiki/Amish.

/19/ Ulasan cermat, lihat Ioanes Rakhmat, "Kapan dinosaurus lenyap dan mengapa?", Freidenk Blog, 25 Oktober 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/10/kapan-dinosaurus-lenyap-dan-mengapa.html?m=0.

/20/ Lebih terinci, lihat Ioanes Rakhmat, "'METEOR DOOMSDAY' atau 'APOKALIPSIS METEOR' suatu saat akan terjadi", Freidenk Blog, 29 Maret 2021, diedit 3 April 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/03/meteor-doomsday-atau-apokalipsis-meteor.html?m=0.

/21/ Isi alinea ini telah dibeberkan dengan luas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 8 (hlm. 259-298) dan bab 10 (hlm. 325-341).

/22/ Uraian luas tentang paralelisme "this world" dan "the otherworld" yang untuk menghubungkan keduanya diperlukan wahana sastra metafora, lihat Ioanes Rakhmat, "Teologi Adalah Metafora. Apa itu METAFORA?", Freidenk Blog, 11 Agustus 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/08/teologi-adalah-metafora-apa-itu-metafora.html?m=0.

Baca juga



Thursday, July 12, 2012

Meditasi Sederhana dengan Hasil Very Powerful !!


Jika kasih karunia ilahi gerbang menuju sorga, dan kedurjanaan gerbang ke alam neraka, maka meditasi adalah gerbang menuju kehidupan yang berkualitas di Bumi ini. • ioanes rakhmat


Updated 01 Juli 2018
Editing mutakhir 29 April 2022


Saya buka dengan sebuah pertanyaan pendek. Anda mau bermeditasi? 

Ya! Tapi, sulitkah? 

Jangan khawatir, semua orang bisa bermeditasi. Tanpa ikatan dengan agama atau ideologi apapun.

Jika anda dengan berdisiplin berlatih meditasi dengan dua teknik yang segera diuraikan di bawah ini, anda akhirnya akan tumbuh menjadi seorang manusia yang selfless, tidak egoistik, dan universalis. 

Selain itu, otak anda akan makin sehat, daya kerjanya makin kuat, dan ini akhirnya akan berdampak positif pada keseluruhan tubuh anda. Kualitas kehidupan anda akan meningkat.

Sungguhkah? 

Ya, sungguh. Awali dan tutup setiap hari dalam kehidupan anda dengan meditasi.

Sekarang, mari kita mulai.



Lewat meditasi, anda menyatu dengan alam, dan alam dengan anda


Pertama-tama, carilah sebuah ruang atau sebuah tempat yang tenang, yang menjauhkan anda dari semua gangguan yang mungkin timbul, dan aliran udara di ruangan lancar dan menyegarkan tubuh. 

Meditasi di alam terbuka yang tenang dan asri, sangat membantu dan mempermudah konsentrasi. 

Ambillah posisi duduk yang paling nyaman bagi anda untuk bermeditasi. Umumnya orang yang bermeditasi mengambil posisi duduk bersila (posisi teratai, padma asana), dengan batang tubuh tegak lurus, mulai dari pinggang, ke punggung, sampai ke leher dan kepala. 

Anda dapat menggunakan sebuah bantal untuk tempat duduk anda supaya anda nyaman, enak, santai dan rileks ketika bermeditasi. Atau anda duduk langsung di atas sebuah lantai tanpa alas apapun.

Setelah anda mengambil posisi yang rileks dan nyaman, mulailah pejamkan kedua mata anda. Tenangkan nafas anda, seperti tenangnya permukaan air di danau yang asri, tanpa gangguan. 

Pertama-tama, rasakan sungguh-sungguh persentuhan bagian tubuh anda dengan bantal atau lantai yang anda duduki. 

Lalu, bangunlah kesadaran bahwa anda memiliki tubuh, dengan memulai memindai tubuh anda lewat kesadaran, pikiran dan perasaan anda. 

Pindailah (dengan merasakan) seluruh tubuh anda, mulai dari ujung-ujung jari-jemari kedua belah kaki anda, lalu terus bergerak ke betis-betis anda, terus naik, sampai ke perut, pinggang, punggung, kedua belah tangan, terus ke atas sampai ke ujung-ujung kepala anda. 

Selanjutnya lakukan hal yang sama dari arah yang sebaliknya: mulai dari ujung-ujung kepala terus ke bawah sampai ke ujung-ujung jari-jemari kedua kaki anda. Lakukanlah pemindaian seluruh tubuh anda ini sampai lima kali bolak-balik, dengan tenang dan teratur. 

Setelah memindai bagian demi bagian tubuh anda, lakukanlah tiga kali pemindaian serentak atas keseluruhan tubuh anda. Pemindaian ini bertujuan untuk membangun kesadaran anda yang lebih dalam bahwa anda memiliki tubuh, atau bahwa anda dan tubuh anda satu adanya.

Sesudah kesadaran kesatuan anda dan tubuh anda terbangun, arahkanlah konsentrasi anda sekarang pada nafas anda, pada tarikan dan hembusan nafas anda. 

Jadikan tarikan dan hembusan nafas anda lewat kedua lubang hidung sebagai fokus pikiran anda terus-menerus. Anda memantau, mengamati dan mengikuti gerak nafas masuk dan nafas keluar anda, dalam kurun yang cukup (30 menit per 1 latihan meditasi).

Fokus: pernafasan

Tarikan dan hembusan nafas yang anda perhatikan secara terkonsentrir bisa tarikan dan hembusan yang biasa atau yang alamiah, sebagaimana tubuh anda jalankan sehari-hari. Ketahuilah, dalam sehari kita bernafas lebih dari 25.000 kali. 

Bisa juga tarikan dan hembusan yang tidak alamiah: anda menarik nafas dalam-dalam dengan tenang lewat kedua lubang hidung dan memasukkan udara (lewat jalan pernafasan) ke dalam rongga perut anda sampai rongga ini kembung. Lalu tahan beberapa detik, kemudian hembuskan dengan tenang dan perlahan dengan mengempiskan rongga perut anda perlahan-lahan sehingga udara di dalamnya habis keluar lewat jalur pernafasan. 

Lalu tarik kembali nafas anda dalam-dalam, penuhi rongga perut anda dengan oksigen, kemudian hembuskan kembali untuk mengosongkannya lewat kedua lubang hidung anda. 

Ulangi terus-menerus kegiatan menarik dan menghembuskan nafas ini, dengan konsentrasi penuh. Beri jarak waktu 2-3 detik tahan nafas antara setiap tarikan dan setiap hembusan. 

Menyadari pernafasan itu sangat penting. Rahib Buddhist Thich Nhat Hanh menyatakan,

“Perasaan-perasaan kita datang dan pergi seperti awan-awan di langit. Pernafasan yang disadari adalah jangkarku.” 

Maksudnya jelas: dengan menyadari pernafasan, anda akan tahu di lautan perasaan mana anda perlu melabuhkan diri anda, dan di lautan perasaan mana anda perlu terus berlayar untuk meninggalkannya.

Menyadari pernafasan saja, lalu sudah? Ya, tekniknya begitu saja, sederhana, tetapi sulit sekali dilakukan, dan hasilnya akan luar biasa. 

Ah, bagaimana mungkin?

Sangat mungkin!

Teknik meditasi sederhana itu sulit dilakukan, karena anda akan menemukan fakta bahwa sulit sekali menjaga pikiran anda terfokus pada masuk dan keluarnya nafas anda lewat kedua lubang hidung. 

Pikiran anda itu bak seekor monyet yang suka meloncat dan melompat ke sana ke mari, tidak terkendali. Atau bak sebuah layangan putus yang terbang ke sana ke mari ditiup angin kencang. Atau bak sebongkah kelapa tua yang diombang-ambingkan ombat laut ke sana dan ke mari, tidak bertujuan. 

Tapi lewat kesungguhan hati dan latihan yang kontinyu, lama kelamaan anda akan mulai bisa mengonsentrasikan pikiran anda pada nafas anda. 

Perlahan tapi pasti, lewat latihan terus-menerus, anda akan mencapai keadaan terkonsentrasi penuh ke nafas anda sebagai titik pusatnya, bak sebutir peluru atau sebilah anak panah melesat dengan terkonsentrasi menuju titik pusat sasaran yang ada di depan, tanpa halangan apapun. Ada metode-metode bernafas yang bisa membantu anda berkonsentrasi./1/ 

Dan, jika konsentrasi penuh pada pernafasan ini sudah mulai dicapai, akibatnya pada diri anda akan luar biasa. Bagaimana bisa? Ya, bisa. Yakinlah!  



Pikiran kita itu kerap tak terkendali, bergerak ke sana dan ke sini bak layangan putus


Apa akibat meditasi dengan teknik di atas bagi diri anda? 

Ketika anda perlahan menarik udara dari luar ke dalam hidung anda, sebetulnya anda menarik oksigen yang tersedia dalam alam untuk masuk ke dalam diri anda. Nah, ketika anda melakukan ini, bangunkanlah kesadaran dalam diri anda terus-menerus bahwa alam raya, lewat oksigen yang anda hirup, berada dalam diri anda. Alam menyatu dengan anda. Ya, jagat gede manunggal dengan jagat cilik.

Dan ketika anda menghembuskan kembali udara dalam rongga dada atau dalam rongga perut anda ke luar diri anda, anda memasukkan diri anda ke dalam alam. Anda masuk dan berada di dalam alam raya. Anda menyatu dengan alam. Jagat cilik manunggal dengan jagat gede.

Jadi, lewat meditasi dengan teknik pengamatan pernafasan, anda sebetulnya sedang membangun dan mempertahankan kesadaran bahwa anda dan alam raya tidak terpisah, tetapi menyatu dalam momen-momen meditatif yang sedang anda jalankan dan terus mengalir. 

Anda menyatu dengan alam, dengan biosfir, dengan Bumi, dan dengan semua benda langit lain dalam jagat raya, dan dengan jagat raya itu sendiri. 

Ketika kesadaran ini muncul dan menetap dalam meditasi anda, anda akan mengalami rasa damai luar biasa, dan tubuh anda terasa tidak ada lagi karena kesadaran spasial anda yang terbatas mulai lenyap, dan anda mulai merasakan kesatuan diri anda dengan jagat raya dari momen ke momen sementara anda sedang bermeditasi. Anda mengalami keheningan. Bahkan anda adalah keheningan, kahaningan.

Pengalaman mental semacam itu dapat dinamakan pengalaman menyatu dengan dimensi-dimensi transenden jagat raya ini.

Kalau dalam kegiatan memindai seluruh tubuh anda di awal tadi membuat anda merasakan kesatuan diri anda dan tubuh anda, maka lewat konsentrasi pada keluar dan masuknya nafas lewat kedua lubang hidung anda, anda akan merasakan dengan makin dalam kesatuan anda dengan alam, dengan Bumi, dan dengan jagat raya. 

Lewat latihan meditasi yang terus-menerus dengan teknik ini, anda dibiasakan untuk terus-menerus menyadari dari saat ke saat, dari momen ke momen meditatif anda, bahwa anda adalah alam raya dan alam raya adalah anda. Manunggal dengan alam.

Kesadaran semacam itu, jika terus-menerus dibangun dan diperkuat dalam diri anda, lewat latihan meditasi yang kontinyu dan berdisiplin, akan membuat anda menjadi seorang manusia yang universalis: Anda mulai melihat diri anda milik semua makhluk hidup, milik semua manusia, milik semua agama, milik seluruh Bumi, milik seluruh jagat raya. 

Ego anda, keakuan anda, egotisme anda, mulai lenyap, dan anda mulai masuk ke dalam alam shunyata, kekosongan, emptiness, alam yang di dalamnya anda self-less, tidak memiliki ego yang introvert lagi, melainkan anda menyatu dengan sang ego universal: cinta kasih, kepedulian, bela rasa, empati, kebajikan, solidaritas, keterhubungan, interkonektivitas, kehidupan dan kebahagiaan. 

Anda mulai memasuki gerbang pembebasan dan pencerahan, gerbang nibbana, sekarang ini dalam kehidupan anda. Shunyata atau emptiness atau kekosongan adalah kondisi tanpa ego, dan inilah jalan masuk ke nibbana, kondisi kehidupan sejati.

Dunia akan bisa diubah, jika anda masing-masing mulai mau bermeditasi dengan teknik memantau dan menyadari pernafasan anda. Yakinlah! Bekerjalah!

Jika anda sudah masuk ke tahap yang makin tenang dan rileks sementara anda menarik dan menghembuskan nafas anda lewat hidung anda, frekuensi gelombang otak anda perlahan-lahan masuk ke kategori theta (4-8 Hz), dan anda mengalami relaksasi yang dalam, deep relaxation. Anda menjadi keheningan. Kini anda bernama Andaning.

Kondisi ini diperlukan setiap orang khususnya setelah seharian bekerja keras dalam suasana yang serba kompetitif dan menekan, atau saat sedang berada dalam suatu situasi dan kondisi yang menekan perasaan dan mengganggu pikiran. 

Untuk mencapai kondisi relaksasi yang dalam, metode bernafas yang dinamakan Pernafasan Lautan akan sangat menolong./2/ 

Langkah-langkahnya berikut ini. Mula-mula tenangkan seluruh pikiran, perasaan dan gerak pernafasan anda, dan pejamkan kedua mata anda. 

Fokuskan seluruh energi dan usaha anda pada tarikan nafas yang panjang dan perlahan dan penuh melalui kedua lubang hidung anda, sampai rongga dada anda penuh sepenuh-penuhnya dengan oksigen. Tahan dua sampai tiga detik. 

Selanjutnya, biarkan secara alamiah dan perlahan seluruh udara dalam rongga dada anda keluar lewat mulut. Bersikaplah pasif saat udara meninggalkan rongga dada melalui mulut dengan mengeluarkan bunyi seperti deru pasang surut ombak laut.

Fokus: gerak-gerik pikiran

Tentu dalam berkonsentrasi pada keluar masuknya nafas anda, anda akan menemukan juga konsentrasi anda ini kerap buyar, pikiran anda bergerak ke mana-mana tanpa anda bisa kontrol sebelumnya. Ya, itu memang kerap terjadi. 

Tapi jangan khawatir. 

Saat itu terjadi, dan anda menyadarinya bahwa itu terjadi, anda siap masuk ke meditasi dengan teknik yang kedua: yakni teknik tidak melawan semua gerak-gerik pikiran dan gerak-gerik perasaan anda, tetapi memantaunya saja, mengamatinya saja, mengikutinya saja, menemukan dan memahaminya saja, tanpa melawannya, tanpa melekatkan diri anda kepadanya, tetapi selaras dengannya. 

Lewat teknik ini, yang dinamakan meditasi keterjagaan (Pali/Sanskrit: vipassana), anda dilatih untuk selalu sepenuhnya terbuka, eling dan sadar pada semua isi pikiran dan perasaan anda yang mengalir dari momen ke momen meditasi anda. Terus terbuka, sama seperti langit selalu terbuka, tidak pernah tertutup, sejauh-jauhnya dan sedalam-dalamnya anda memandang. Awan mendung tidak bisa menutup seluruh kubah langit, apalagi merobohkannya.

Ke manapun pikiran dan perasaan anda bergerak, pantaulah saja, jaga saja bak seorang bunda sedang menjaga dari jauh anaknya yang sedang bermain. Amati saja, jangan melekat kepada keduanya, sampai akhirnya anda sendiri tiba pada kesadaran bahwa anda adalah pikiran anda, bahwa anda adalah perasaan anda, bahwa ada harmoni yang kokoh antara anda dan pikiran dan perasaan anda. Anda menjadi tunggal.

Anda menyatu dan harmonis dengan pikiran dan perasaan anda. Anda adalah pikiran dan perasaan anda. Pikiran dan perasaan anda adalah diri anda sendiri. Tidak ada konflik dan perang. Kedamaian dan keheningan menyelimuti anda.

Pahamilah, kesatuan dan harmoni itu bukan peleburan dan disharmoni. Yin dan Yang itu kesatuan dan harmoni, bukan peleburan dan konflik. Pelangi atau spektrum warna itu kesatuan dan keselarasan, bukan peleburan dan pecampuradukan, silang sengketa dan benturan.

Saat kesatuan dan harmoni ini tercapai, semua impuls destruktif dalam jiwa anda akan bertahap makin berkurang lalu akan lenyap sama sekali secara alamiah. Keheningan datang. Bagaimana bisa?

Ya, bisa, sebab setelah sekian waktu dalam meditasi anda mempertahankan harmoni antara kesadaran-diri anda dan berbagai pikiran dan perasaan anda, dan frekuensi gelombang otak anda makin mendekati gelombang theta (4-8 Hz) menuju ke gelombang delta (1-3 Hz), pikiran dan perasaan anda makin tenang, makin kalem, makin santai, makin rileks, makin jernih, makin bersih, menuju kemurnian yang senantiasa masih harus terus dicapai dan diperoleh./3/ 

Relaksasi yang dalam mulai anda masuki saat gelombang otak anda mencapai gelombang theta. Para rahib Buddhis Tibet bahkan dalam meditasi bisa mencapai kondisi gelombang delta, yang pada orang kebanyakan hanya dicapai saat tidur sangat nyenyak tanpa mimpi. 

Dalam kondisinya yang murni, bersih, kalem, rileks, alamiah, hening dan tenang, pikiran dan perasaan anda sebenarnya ingin membahagiakan anda, bukan ingin menyengsarakan anda, bukan ingin mendukakan anda. 

Saat kondisi ini anda capai, duka anda berhasil taklukkan. Kedamaian mengisi seluruh diri anda. Kondisi ini sungguh-sungguh real, dan anda perlu mengalaminya sendiri dalam kesadaran anda. 

Power untuk mencapai kondisi terbebaskan ini ada dalam diri anda sendiri, dikembangkan dan dipertahankan lewat meditasi yang kontinyu dan berdisiplin. The power is within you, not without!  



Grafik empat kategori gelombang otak 


Karena terfokus atau terjaga pada isi pikiran dan perasaan serta pencerapan seluruh indra anda pada momen-momen kekinian anda dalam meditasi vipassana, maka anda menyadari bahwa semua isi pikiran, perasaan dan persepsi indrawi adalah kondisi-kondisi mental yang sementara saja, karena semuanya terus bergerak, mengalir dari momen ke momen meditatif anda, tidak menetap, terus berubah dan berganti, impermanen. The flowing eternal now.

Tentang aspek impermanensi yang disadari dalam meditasi vipassana ini, Esther K. Papies dkk menyatakan bahwa

“Perhatian yang terjaga (‘mindful attention’), sebagai suatu komponen sentral dari meditasi ‘mindfulness’ atau meditasi keterjagaan, dapat dibayangkan sebagai keadaan di mana orang menyadari pikiran-pikiran dan pengalaman-pengalaman mereka dan dapat mengamati semuanya sebagai kejadian-kejadian mental yang sementara saja, tidak permanen.”/4/

Kesadaran yang terus-menerus diperkuat lewat latihan-latihan meditasi keterjagaan bahwa semua “peristiwa mental” anda adalah hal-hal yang sementara saja, terus mengalir dan berubah, akan membuat anda masuk ke tahap kesadaran yang lebih tinggi bahwa anda haruslah tidak melekatkan diri anda pada hal apapun dalam dunia ini yang anda pahami lewat akal anda dan lewat semua persepsi indrawi anda, yang melibatkan berbagai aktivitas neural kognitif dalam otak anda.

“Pengambilan jarak” atau “ketidakmelekatan” (Pali/Sanskrit: nekkhamma) adalah sebuah metode psikoterapis dalam Buddhisme untuk membuat anda tetap dapat hidup stabil secara emosional sementara berbagai hal dalam dunia ini terus-menerus berubah dan berganti. 

Suka berubah jadi duka dan duka berubah jadi suka, sukses berubah jadi kegagalan dan kegagalan berubah jadi sukses, sehat berubah jadi sakit dan sakit berubah jadi sehat, tawa berubah jadi tangis dan tangis berganti jadi tawa, kaya berubah jadi miskin dan miskin berubah jadi kaya, cinta berubah jadi benci dan benci berubah jadi cinta, dan sebagainya. 

Segala sesuatu itu impermanen. Tunduk pada hukum impermanensi akan dapat berdampak negatif pada emosi anda, khususnya ketika hukum impermanensi ini mengubah kehidupan anda, dari suka menjadi duka, dari kaya menjadi miskin, dari hidup menjadi mati, dari sukses menjadi gagal, dari senyum menjadi tangisan. 

Ketika orang menyadari impermanensi ini lalu mampu mengambil jarak terhadap semua peristiwa dalam kehidupan mereka, mereka ternyata dapat hidup dengan lebih baik, lebih bermoral, dan lebih sehat, mulai dari soal pemilihan pacar, pengendalian berbagai syahwat, hingga ke pemilihan menu makanan, dan seterusnya. Hal ini telah ditemukan dalam penelitian lab dan lapangan yang dilakukan Esther K. Papies dkk yang sudah dirujuk di atas. 

Ada satu poin lagi yang sangat penting. Yang tidak permanen itu bukan hanya semua kejadian di luar diri anda, dunia eskternal, tetapi juga diri anda sendiri, dunia internal mental anda, yakni pikiran, kecerdasan, nalar, kesadaran, memori, perasaan, emosi, serta semua persepsi indrawi anda tentang semua fenomena dalam dunia ini.

Secara keseluruhan, semua fakultas mental ini dapat dimasukkan ke dalam satu kata saja, “mind” atau “dunia mental” atau dunia “benak” anda. Semua fakultas mental anda ini pun impermanen, tidak statis, tetapi dinamis, dapat terus-menerus disusun dan dibentuk ulang, “malleable”, selalu berubah, fleksibel, impermanen. 

Anda bisa jadi bertambah bodoh dan kehilangan akal dan nalar lewat pembodohan oleh diri sendiri atau oleh orang lain dengan memakai berbagai cara. Anda bisa berubah jadi lembut hati dan sabar atau malah keras hati dan agresif oleh kemauan diri anda sendiri atau lewat pemaksaan sistematis oleh orang lain. Anda memiliki mental yang impermanen.

Sebagai salah satu fakultas mental manusia yang sangat penting, kecerdasan (“intelligence”) juga bersifat “malleable”, dinamis, fleksibel, dan terdiri atas banyak jenis, majemuk. Tentang kecerdasan yang majemuk ini, saya sudah membeberkannya panjang lebar di tempat lain./5/ 

Perhatikan apa yang dikatakan Ray Kurzweil, seorang inventor dan futuris terkemuka saat ini, dalam buku barunya How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed (2012), tentang kekuatan kecerdasan. Dia menulis, 

“Sebagai fenomena terpenting dalam jagat raya, kecerdasan mampu mengatasi pembatasan-pembatasan yang ditimbulkan oleh alam, dan mampu mentransformasi dunia di dalam gambarnya sendiri. 

Di tangan manusia, kecerdasan kita telah memampukan kita untuk menaklukkan keterbatasan-keterbatasan peninggalan biologis kita dan untuk mengubah diri kita sendiri di dalam prosesnya. Kitalah satu-satunya spesies yang dapat melakukan hal itu.”/6/

Kecerdasan yang ada pada kita mampu untuk terus-menerus melipatgandakan kekuatannya sendiri dalam waktu yang sangat cepat. Tentang ini, perhatikan apa yang juga dikatakan Kurzweil:

“Melalui suatu proses yang pada dirinya sendiri terus berulang dan tidak pernah berakhir (“recursive process”), kita mampu untuk membangun ide-ide yang dari saat ke saat selalu makin kompleks. Sejumlah sangat besar ide yang terhubung satu sama lain lewat proses yang rekursif ini kita namakan pengetahuan (“knowledge”). 

Hanya manusia, Homo sapiens, yang memiliki suatu basis pengetahuan yang pada dirinya sendiri terus berevolusi, bertumbuh dan berkembang secara eksponensial, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.”/7/

Jika begitu keadaannya, maka meditasi vipassana atau meditasi keterjagaan adalah suatu sarana dan medium penting untuk anda dapat bertumbuh menjadi orang yang memiliki pikiran yang terbuka terus-menerus, mengalir, tidak dogmatis, membuka diri sepenuhnya pada berbagai pembaruan pemikiran dan berbagai perspektif dalam memandang dan mengubah dunia ini; alhasil kecerdasan dan wawasan anda akan terus-menerus tumbuh, makin meningkat dan meluas. 

Metode “mindfulness” oleh Ellen J. Langer sudah diterapkan dalam dunia pendidikan sejak 1997. Dalam bukunya The Power of Mindful Learning, dia membedakan pendekatan pembelajaran yang “mindful”, yang senantiasa “terjaga”, dan pendekatan pembelajaran yang “mindless”, yang (saya parafrasiskan) terus-menerus “tertidur”. 

Pendekatan yang “mindful” mendorong semua peserta pembelajaran untuk mencapai tiga karakteristik mental: pertama, mampu terus-menerus menciptakan kategori-kategori baru; kedua, selalu membuka diri pada informasi-informasi baru; ketiga, menyadari lebih dari satu perspektif. 

Sebaliknya, pendekatan yang “mindless”, “tertidur”, membuat orang terperangkap pada kategori-kategori lama, dan kemacetan; berkelakuan serba otomatis sehingga gagal memperhatikan sinyal-sinyal baru; dan bertindak berdasarkan hanya satu perspektif tunggal./8/

Langer juga menyebut pembelajaran “mindfulness” yang ditawarkannya sebagai “sideways learning” (“pembelajaran yang tidak konvensional atau dengan perspektif baru”), yang mencakup ciri-ciri: keterbukaan pada hal-hal yang baru; siaga terhadap pembedaan-pembedaan; kepekaan terhadap konteks-konteks yang berlainan; kesadaran (implisit atau pun eksplisit) terhadap perspektif-perspektif yang majemuk; memusatkan diri pada masa kini./9/ 

Jadi, sudah kita ketahui bahwa meditasi keterjagaan, yang dilandaskan pada filosofi impermanensi segala sesuatu, mampu menjadikan anda seorang yang kreatif dan inovatif dalam berpikir dan menafsirkan dan mentransformasi dunia dan kehidupan ini. 

Kemampuan-kemampuan untuk selalu terjaga kelihatan dan menjadi nyata dalam kehidupan sehari-sehari di luar meditasi; dus, kehidupan real sehari-hari anda menjadi meditasi “mindful” itu sendiri. 

Inilah yang Langer namakan “post-meditative mindfulness”, yang dicapai lewat latihan-latihan meditasi atau pun lebih langsung lewat perhatian anda kepada segala hal yang baru dan lewat kemampuan untuk mempertanyakan segala asumsi lama. Alhasil, tulisnya,

“Menjadi ‘mindful’ berarti anda berada di masa kini, dengan kemampuan untuk memperhatikan semua hal yang menakjubkan yang semula anda tidak sadari kalau hal-hal itu sudah ada di depan anda.”/10/

Pada suatu kesempatan di tahun 2000, Ellen J. Langer mengajukan sebuah permintaan supaya setiap orang di setiap saat dan di setiap situasi mampu mencapai kondisi “mindful” dalam semua fakultas mental mereka dan mempertahankan sikap dan perilaku yang selalu “terjaga”./11/ 

Tidak mustahil anda akan dapat memenuhi permintaannya ini jika anda berdisiplin menjalankan latihan meditasi keterjagaan. 

Ada banyak manfaat lainnya yang diberikan meditasi vipassana. Nanti di bawah akan saya daftarkan. 

Sudah anda ketahui, dalam meditasi ini, anda bisa melihat dan merasakan sendiri, tanpa mengintervensi, mana pikiran dan perasaan yang potensial akan merusak diri anda dan mana pikiran dan perasaan yang potensial akan membangun diri anda. 

Anda menjadi pengamat yang aktif, bukan yang pasif; anda responsif, tapi tidak reaktif. Lihat, pantau, dan rasakan saja semuanya, tanpa melawan atau menolak atau memberi reaksi emosional atau melekatkan diri anda, dalam momen-momen kekinian meditatif anda.

Anda akan menemukan dan mengalami fakta ini: kemampuan yang makin kuat dan mantap dalam mengenali dan mengamati gerak-gerik dan perilaku semua pikiran dan perasaan anda dalam meditasi, akan juga menjadi kemampuan sehari-hari anda sementara anda aktif bekerja di dunia yang real, dunia yang menurut kebanyakan orang kejam, keras dan membuyarkan konsentrasi. 

Jika anda, sekali lagi saya tekankan, sudah tiba pada kemampuan ini, kehidupan sehari-hari anda, di manapun juga anda berada, berubah menjadi meditasi itu sendiri. 

Kemampuan untuk melihat dan menemukan mana pikiran dan perasaan yang membangun dan mana pikiran dan perasaan yang merusak, akan menjadikan anda seorang individu yang berkualitas dalam masyarakat. 

Kualitas kehidupan anda akan makin meningkat karena kesadaran nurani dan elastisitas pikiran anda makin dipertajam dan diperkuat dari saat ke saat, lewat latihan meditasi jangka panjang.

Jika anda berhasil dengan tenang mengamati dan mengikuti gerak-gerik pikiran dan perasaan anda, tanpa melekat pada keduanya, kembalilah lagi ke meditasi teknik yang pertama di atas, yakni berkonsentrasi kembali pada keluar dan masuknya nafas anda lewat kedua lubang hidung anda. 

Jika meditasi dengan teknik pertama ini buyar lagi, saat pikiran dan perasaan anda muncul kembali, bergerak ke sana ke mari tidak terkendali, maka dengan sadar anda perlu masuk kembali ke meditasi teknik kedua: mengamati dan mengikuti ke manapun pikiran dan perasaan anda bergerak. 

Apa yang sebetulnya terjadi? 

Tampaknya, pada satu sisi, anda tidak bisa mengendalikan gerak-gerik pikiran dan perasaan anda karena anda membiarkan keduanya bergerak bebas menurut kemauan masing-masing. 

Tetapi, pada sisi lain, anda sebetulnya tetap menjadi sang master atas pikiran dan perasaan anda sendiri, karena anda dapat mengikuti keduanya ke manapun keduanya bergerak. 

Pikiran dan perasaan anda bebas bergerak sendiri, tetapi tidak pernah keduanya berada di luar pemantauan dan pengamatan anda. Anda sang master atas pikiran dan perasaan anda sendiri. 

Anda bunda yang atentif terhadap anak anda, yakni pikiran dan perasaan anda, yang sedang bermain sendirian atau bersama teman-temannya dengan bebas.

Sang master yang baik dan unggul membiarkan murid-muridnya bebas mengembangkan pikiran mereka sendiri, tetapi selalu dapat mengikuti dan mengamati dan memahami ke mana pikiran-pikiran mereka sedang bergerak. 

Anda sungguh seperti sebuah mesin radar yang peka dan tajam, yang bisa memantau dan mengikuti semua pesawat terbang yang bergerak dengan bebas menurut kemauan mereka sendiri. 

Hubungan anda dengan pikiran dan perasaan anda kerap saya analogikan juga dengan hubungan mata, pendengaran, pikiran, hati dan pengindraan anda dengan adegan demi adegan, action by action, fragmen demi fragmen, dalam sebuah film yang sedang anda saksikan di layar putih lebar atau di monitor LCD TV atau PC notebook atau smartphone anda.

Anda mengamati dan mengikuti semua adegan film itu dari awal sampai tamat. Pada kesempatan itu, vipassana dapat anda alami: meski sedang duduk, anda sebetulnya mengalir, mengamati dan mengikuti saja ke mana dan bagaimana adegan demi adegan, fragmen demi fragmen dalam film itu bergerak mengalir sampai selesai. 

Pemeditasi yang terlatih tidak melekat pada semua adegan dan kisah-kisah yang mengalir dan tersaji di depannya, yang dipahami dan diikuti lewat pikiran dan perasaan serta pengindraannya. Jadi, saat menonton film, anda memiliki kesempatan yang tepat dan bagus untuk berlatih vipassana.

Tapi, mampukah anda mengambil jarak mental dari film yang sedang mengalir ini, berpindah dan berubah dari satu adegan ke adegan lainnya selama kurang lebih dua jam, dari titik awal, menanjak ke klimaks lalu turun ke antiklimaks? 

Umumnya setiap penonton film mau tak mau ikut terlibat secara emosional, afektif dan kognitif dalam setiap adegan dalam film yang sedang mengalir di depan mata mereka. 

Bahkan kata banyak pakar sinematografi, film yang bagus justru film yang mampu melibatkan, membenamkan, melekatkan dan menawan hati dan pikiran serta pengindraan anda dalam dan pada seluruh adegan film. Kata mereka, sebuah film drama tragis sukses jika mampu membuat penontonnya nenangis pilu semuanya atau kejang dan pegal pada seluruh tubuh.

Tapi vipassana memiliki filosofi yang lain dan berbeda terkait ihwal menonton sebuah film.

Dalam meditasi keterjagaan, pikiran besar anda memantau berbagai pikiran kecil anda lainnya. Inilah kemampuan yang dalam psikologi dinamakan metakognisi, yakni pikiran kita tentang pikiran kita sendiri, atau pikiran besar anda yang "melampaui" (Yunani: meta) pikiran-pikiran kecil. Lewat metakognisi, pikiran anda akan makin luas, makin besar dan makin tinggi, beyond pikiran-pikiran kecil anda sebelumnya.

Metakognisi

Nancy Chick menjelaskan metakognisi sebagai pikiran tentang pikiran kita sendiri, yang mengacu ke proses-proses yang digunakan dalam merencanakan dan memahami pemahaman, pengertian dan kinerja, yang ada dalam pikiran, dan mencakup suatu kesadaran kritis tentang pikiran-pikiran sendiri dan diri sendiri sebagai orang yang belajar dan berpikir./12/ 

Dr. Steve Flaming menyatakan bahwa aktivitas metakognitif berlangsung setiap saat dalam kehidupan kita sehari-hari, saat kita memikirkan dalam-dalam pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, penilaian-penilaian, dan keputusan-keputusan kita sendiri, dengan menafsirkan akurasi dan validitas semuanya di sepanjang hari. Dia menegaskan bahwa metakognisi adalah suatu kapasitas neural yang fundamental bagi pengenalan atas diri sendiri lewat pengenalan atas isi pikiran-pikiran kita sendiri. Kita memikirkan pikiran kita sendiri. Eling, terjaga, reflektif, waspada.

Dengan kata lain, metakognisi adalah suatu kemampuan kognitif kita untuk bermawas diri lewat perenungan-perenungan dan pengenalan terus-menerus atas pikiran-pikiran kita sendiri, lalu melangkah dan melampaui pikiran-pikiran lama, masuk ke pikiran-pikiran dan nilai-nilai yang lebih tinggi.

Kemampuan neural metakognisi berpusat pada korteks anterior prefrontalis (yang merupakan korteks unik Homo sapiens, yang tidak dimiliki spesies kera-kera besar)./13/ 

Lewat metakognisi yang dilatih dalam meditasi dan diteruskan dalam kehidupan real sehari-hari, anda mampu membedakan dengan tajam mana hal yang baik dan mana hal yang buruk, yang muncul dalam semua pikiran dan perasaan anda, baik saat anda bermeditasi maupun saat anda sedang sibuk bekerja sehari-hari di dunia real. Nurani anda dipertajam. Pikiran anda meluas dan makin agung.

Lewat metakognisi, anda mampu mengenali dan menyadari semua isi pikiran dan isi perasaan anda. Anda menjadi orang yang makin kenal-diri, makin sadar-diri, makin eling, makin introspektif. Makin hening.

Guru spiritual India, alm. Osho (dikenal juga sebagai Bhagwan Shree Rajneesh) menyatakan bahwa lewat meditasi, semua topeng anda akan terlepas, dan anda dibawa ke pencarian dan penemuan bagaimana sebenarnya wajah asli anda. Dasamuka membenci meditasi dan ketenangan dan keheningan.

Lewat metakognisi, anda membangun harmoni dan kesatuan dengan semua isi pikiran dan isi perasaan anda. Anda menjadi seorang yang berjiwa utuh, penuh kepercayaan diri, hening, tenang dan teduh, tidak pernah meledak-ledak, kata-kata dan perbuatan-perbuatan menyatu. 

Lewat metakognisi, anda bukan saja dapat mengenali semua isi pikiran dan isi perasaan anda, tapi juga mampu berpikir mentransendir ruang dan waktu anda sendiri. Anda menjadi seorang yang visioner dan berpikiran dalam dan luas. 

Jika semua kemampuan yang ditimbulkan oleh metakognisi yang terus dilatih ini disatukan, disinergikan, anda dari saat ke saat akan berubah menjadi manusia sejati, insan kamil, orang yang tercerahkan, menjadi buddha sendiri, orang yang eling, celik, bercahaya dan bermawasdiri. Tidak ada satu pun buddha yang tidak bermeditasi.

Dengan menyatu dengan jagat raya (lewat latihan meditasi teknik pertama), dan dengan menjadi radar atas semua pikiran dan perasaan anda, dengan menjadi sang master yang baik dan unggul atas semua isi pikiran dan perasaan anda (lewat latihan meditasi teknik kedua), anda perlahan-lahan akan berubah menjadi suatu personalitas yang mengagumkan, yang dapat membawa perubahan-perubahan penting bagi lingkungan kehidupan anda, lewat pikiran-pikiran anda yang mencerahkan dan lewat karya-karya besar anda.

Sesungguhnya, meditasi akan membuat anda bisa hidup dengan berkualitas. Bermeditasilah dengan berdisiplin dalam kehidupan anda; dan jangan lupa kehidupan itu sendiri seharusnya sebuah meditasi aktif. 

Saat anda dengan relaks duduk bermeditasi, entah di alam terbuka atau di dalam sebuah ruangan, anda ibaratnya sedang belajar berenang di sebuah kolam renang atau di sebuah danau indah yang airnya tenang, tanpa ombak. 

Setelah sekian waktu anda menjadi mahir berenang dan menyelam dengan berbagai gaya di danau yang asri tanpa ombak atau di kolam renang yang airnya tenang, anda masih harus mendemonstrasikan kemampuan renang dan menyelam anda di lautan-lautan dalam yang bergelombang besar, yakni di dalam lautan-lautan kehidupan nyata sehari-hari dalam dunia luas ini. 

Jika anda sedang menyelam betulan sampai ke dasar suatu lautan dalam, nikmati kegiatan anda ini sebagai meditasi. Sebaliknya juga, bermeditasilah dengan menyelam. Ada banyak aliran dan pemandangan di dasar-dasar lelautan. Pantaulah, ikutilah semua gerak dan aliran, menyatulah dengan anda tetap sadar dan terus bergerak maju. Jika anda belum memiliki insang sendiri, pastikan isi tabung oksigen anda masih lebih dari cukup.

Jadi, hiduplah dalam dunia ini dengan meditatif, selalu. Berdiam dirilah tetapi juga sibuklah. Buatlah diri anda sangat sibuk sekaligus juga tidak melakukan apa-apa. Silent but voiced. Action via non-action. Wu-wei.



Terjaga dan bermawasdiri... gerbang ke pengenalan diri sendiri!


Apa kata neurosains?

Sekarang saya perlu sampaikan kepada anda apa kesimpulan sains mengenai meditasi. 

Sudah dikaji oleh neurosains, meditasi dengan teknik-teknik di atas, jika intensif dan kontinyu dilakukan dalam jangka panjang, akan berpengaruh pada struktur-struktur neural dalam otak kita: lobus frontalis dan hippokampus ternyata membesar, dan keadaan ini membuat si praktisi mengalami penajaman rasionalitas dan penalaran, makin imajinatif, kreatif dan penuh cinta, dan mencegah kepikunan dini. Selain itu, thalamus dalam otak diaktifkan terus dan keadaan ini membuat si praktisi terus-menerus merasa satu dengan alam dan isi pikirannya sejalan dengan realitas atau menghasilkan realitas seperti yang dipikirkan./14/

Selain itu, meditasi dengan teknik-teknik di atas ditemukan bermanfaat untuk mengendalikan rasa sakit yang kronis dan mencegah kambuhnya depresi. Manfaat ini didapat karena lewat meditasi terjadi peningkatan kontrol terhadap ritme-ritme alfa kortikol dalam otak, alhasil proses-proses pengelolaan informasi dalam otak seperti rasa sakit dan kondisi-kondisi emosi yang negatif saat orang terkena depresi menjadi terkendali. Selain itu, meditasi membantu si praktisi dalam mengorganisasi aliran-aliran informasi pada umumnya dalam otak./15/

Studi-studi di Universitas Harvard terhadap meditasi pemantauan pikiran dan kemawasdirian atau keterjagaan (“mindfulness meditation”) dengan menggunakan mesin MRI tiba pada sejumlah temuan. 

Meditasi teknik ini mempertebal kawasan korteks serebral yang terhubung dengan perhatian dan keutuhan emosional, merangsang peningkatan materi abu-abu (gray matter) otak dalam struktur hippokampus, yakni bagian otak yang berkaitan dengan kesadaran diri, belarasa dan sikap mawas diri. Sebaliknya, meditasi teknik ini menurunkan kepekatan materi abu-abu dalam amygdala yang diketahui sebagai bagian otak yang berperan penting dalam menimbulkan stres dan rasa cemas./16/ 

Jadi, berlatihlah meditasi. Jangan diabaikan. 

Tidak berlebihan jika saya menyatakan bahwa meditasi adalah sebuah jalan cerdas untuk mencapai pertumbuhan spiritual yang makin penuh dari saat ke saat. 

Meditasi akan membuat anda cerdas sekaligus bajik dalam beragama, jika anda menjalankannya dengan tekad kuat dan berdisiplin. 

Jika anda tidak beragama, meditasi membawa anda ke kehidupan yang makin bermakna, bertujuan dan penuh kebajikan dan ketenangan dan keheningan.

Lewat meditasi, anda akan tahu bagaimana membangun watak dan kecerdasan anda, akhlak dan ilmu pengetahuan anda, supaya semuanya bermanfaat buat orang banyak, buat dunia ini, sekarang. 

Dan lewat meditasi juga anda akan dapat hidup lebih sehat dari hari ke hari, dalam tubuh dan dalam mental anda. 

Konon di suatu kesempatan sang Buddha ditanya seseorang, “Wahai sang Arif, apa yang anda telah peroleh dari meditasi?” 

Sang Buddha menjawab, 

“Tidak ada! Tapi, baiklah aku katakan kepadamu, lewat meditasi aku telah kehilangan amarah, rasa cemas, depresi, rasa tidak aman, dan rasa takut terhadap usia tua dan kematian!”

Meditasi itu, sekali lagi, terbukti secara klinis menyehatkan kehidupan kita. Tidak ada neurosaintis satupun yang menilai meditasi negatif.

Bahkan neurosaintis Sam Harris yang ateis memuji manfaat meditasi “mindfulness” (Pali: vipassana, atau sati), cuma dia wanti-wanti meminta supaya meditasi ini jangan direcoki oleh agama atau supernaturalisme apapun. 

Hemat saya, karena vipassana berasal dari Buddhisme pada era India kuno, tentu saja filosofi Buddhis dan pandangan sains India kuno tentang otak tidak bisa dilepas dari meditasi teknik ini. Jangan khawatir, filosofi Buddhis ini bukan sangkar besi yang bernama agama. Gautama Buddha telah menjebol pintu sangkar istana kerajaan ayahnya.

Bagi Harris, teknik ini menguntungkan karena dapat diajarkan dan dilatih dengan cara-cara yang sepenuhnya sekular, dan dapat juga dibawa ke konteks keilmuan./17/ 

Mengenai manfaat meditasi ini, Harris menyatakan hal berikut ini:

“Saya umumnya merekomendasikan sebuah metode meditasi yang dinamakan vipassana. Lewat metode ini, orang mengembangkan suatu bentuk konsentrasi pikiran yang dengan luas dikenal sebagai ‘mindfulness’ (‘keterjagaan” atau ‘kemawasdirian’). 

Tidak ada sesuatupun yang menakutkan atau irasional menyangkut metode meditasi ini. Literatur mengenai manfaat psikologis metode ini kini sangat banyak. 

Keterjagaan sesungguhnya adalah suatu konsentrasi dan perhatian yang jernih, tanpa prasangka, dan tidak terombang-ambing terhadap isi kesadaran, entah kesadaran ini menyenangkan atau malah menyakitkan. 

Jika kualitas pikiran yang semacam ini dikembangkan, telah terbukti ini akan mengurangi rasa sakit, kecemasan, dan depresi; juga meningkatkan berbagai fungsi kognitif; dan bahkan menghasilkan perubahan-perubahan di dalam kepekatan materi abu-abu di bagian-bagian otak yang berhubungan dengan pembelajaran dan memori, regulasi emosi, dan kesadaran-diri.”/18/

Meskipun demikian, saya ingin tekankan, meditasi bukanlah tujuan pada dirinya sendiri, tetapi sarana dan wahana untuk tiba pada wellness, wellbeing, serenity, health, kindness, selflessness, progress and longevity. Tetapi meditasi saja tidak cukup. Efektivitas sarana dan wahana apapun selalu bergantung pada si pemakainya. Tidak ada yang ajaib, magis atau paranormal pada meditasi. 

Untuk anda menjadi seorang manusia yang penuh kebajikan dan cinta kepada segala yang hidup, selain meditasi diperlukan komitmen penuh dari anda untuk anda mengabdikan diri anda bagi umat manusia dan dunia tanpa pamrih. Tanpa komitmen ini, sekalipun anda rajin bermeditasi, anda masih bisa terjebak dalam kebencian dan perilaku kekerasan.  

Tidur nyenyak, meditasi terbaik

Saya ingin memberitahu anda apa kata Dalai Lama ke-14 tentang meditasi. Katanya, meditasi terbaik yang manusia bisa capai adalah tidur nyenyak

Ya, kita semua tahu, tidur nyenyak sangat perlu dengan teratur kita alami setiap malam, karena berdampak positif pada kesehatan jiwa dan raga kita. 

Tanpa tidur nyenyak yang teratur, khususnya jika anda menderita insomnia (baik primer maupun sekunder), anda akan mengalami banyak masalah kesehatan raga dan mental, yang akhirnya akan berpengaruh buruk pada perilaku dan segala aktivitas anda di siang hari, dan akan dapat memperpendek usia anda. 




Tetapi menurut pengalaman saya sendiri, jika dua teknik meditasi yang sudah diuraikan di atas dapat dengan baik dan teratur kita lakukan, keberhasilan kita dalam bermeditasi ini akan juga berdampak positif pada kualitas tidur kita. Tentu saya juga dalam sikon-sikon fisik dan mental tertentu ya rentan terhadap stres dan depresi. Dalam sikon ini, meditasi saya tingkatkan frekuensi dan intensitasnya. 

Suatu riset yang besar yang melibatkan 32.470 partisipan perempuan lansia dengan usia rata-rata 55 tahun, dengan memakai data prospektif longitudinal mulai 2009, kemudian 2011 dan 2013, menemukan bahwa kronotipe ikut berkontribusi signifikan pada tingkat daya tahan atau tingkat kerentanan anda terhadap serangan depresi./19/ 

Kronotipe adalah kebiasaan waktu tidur dan bangun seseorang; dibagi dalam tiga golongan: tidur/bangun awal, tidur/bangun menengah, tidur/bangut telat. Daya tahan terhadap depresi pada orang kronotipe satu (tipe burung nuri) ternyata lebih kuat dibandingkan orang kronotipe tiga (tipe burung hantu).

Tentu, kerentanan terhadap serangan depresi dipengaruhi juga oleh faktor genetik dan faktor environmental (seperti gaya hidup, cara merawat kesehatan fisik, nutrisi, sikon pekerjaan harian, tingkat terpapar harian pada cahaya Matahari, dll). Sudah diketahui, varian genetik RORA dan PER2 terkait dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh kita dan dengan risiko terkena depresi.


Nah, meditasi membantu anda untuk menjadi burung nuri yang bangun pagi dengan bugar lalu riang bernyanyi. Tentu, setiap burung nuri rentan juga pada serangan stres dan depresi ketika mereka diberi rumah tinggal berupa sangkar burung, entah di rumah anda, atau di pasar burung.

Sebaiknya anda juga tahu, sebuah riset mutakhir atas prasangka-prasangka rasial dan sexis dan prasangka-prasangka primordial lain, lewat metode Implicit Association Test (IAT) yang dilengkapi dengan tidur nyenyak subjek-subjek yang sedang diteliti, berhasil menemukan fakta ini: tidur nyenyak yang di dalamnya semua memori yang terbentuk selama segala aktivitas yang baru kita lakukan terkonsolidasi, ternyata mampu mengurangi perilaku rasis dan sexis. Artinya, tidur nyenyak juga akan ikut memampukan anda untuk menjadi warga dunia./20/ 

Dari situ, apakah pertanyaannya bisa dibalik: Apakah orang beragama yang sangat sering marah-marah dan histeris dalam masyarakat, yang berkelakuan sangat intoleran dan serba mau menang sendiri, sebetulnya orang-orang yang susah tidur nyenyak di malam hari? 

Jadi, berlatihlah dengan tekun dua teknik meditasi yang sudah dibeberkan di atas, dan tidurlah dengan nyenyak setiap malam. Dengan tiga hal ini, anda akan hidup jauh lebih sehat, jauh lebih sukses, jauh lebih berbahagia, jauh lebih cerdas, jauh lebih arif, jauh lebih berwawasan, dan jauh lebih manusiawi. Lambat-laun anda akan menjadi seorang insan mahatma.  

Nah, masih ada satu soal yang perlu saya ulas dengan objektif, yakni soal bisakah dalam meditasi orang mengosongkan pikiran mereka total, dan apakah pengosongan pikiran itu perlu dan bermanfaat. 

Bisakah pikiran dibuat kosong?

Ada orang yang menyatakan bahwa pada puncak tertinggi suatu teknik meditasi, orang akan berada pada keadaan “tanpa kondisi”, yakni saat pikiran sama sekali berhenti, sama sekali “blank”. 

Yang mereka maksudkan bukan hanya terbendungnya persepsi indrawi (yang lazimnya dinamakan “sensory deprivation”), tetapi berhentinya kognisi manusia sepenuhnya. 

Dalam sains, kognisi (Latin: cognoscere; artinya "belajar" atau "mengetahui") adalah satu grup proses-proses mental yang mencakup penalaran, memori, pembelajaran, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, perhatian, penciptaan dan pemahaman bahasa. 

Mistikus dan guru spiritual asal Bangladesh yang bernama Chinmoy Kumar Ghose (lebih dikenal sebagai Sri Chinmoy) dalam tulisan pendeknya yang berjudul “Emptying the Mind” memahami “pikiran yang kosong” betul-betul dalam arti harfiah. Dia menyatakan hal berikut ini:

“Pikiran tidak diperlukan dalam meditasi, karena pikiran dan meditasi adalah dua hal yang berbeda mutlak. 

Ketika kita bermeditasi, kita tidak berpikir sama sekali. 

Tujuan meditasi adalah membebaskan diri kita dari semua pikiran. 

Pikiran itu seperti sebuah titik pada sebuah papan tulis. Entah titik ini baik atau buruk, titik ini sudah ada di situ. 

Hanya jika pikiran apapun tidak ada, maka kita dapat bertumbuh dan masuk ke realitas yang tertinggi. 

Di dalam meditasi yang dalam sekalipun, pikiran-pikiran dapat masuk, tetapi hal ini tidak akan terjadi dalam meditasi terdalam dan tertinggi. 

Dalam meditasi yang tertinggi, hanya akan ada cahaya. 

Anda harus tidak berpikir bahwa ketika pikiran anda kosong sepenuhnya, anda akan menjadi seorang yang tolol atau akan bertindak seperti seorang idiot. Itu tidak benar. 

Pada saat anda tidak mempunyai pikiran apapun dalam benak anda, harap anda jangan merasa telah tersesat sama sekali. 

Sebaliknya, rasakanlah bahwa sesuatu yang ilahi sedang disiapkan bagi kodrat anda yang murni dan terarah ke masa depan.”/21/

Pertanyaannya adalah: Bisakah pikiran kita kosong sama sekali, blanko sepenuhnya, kognisi berhenti? 

Pertanyaan pendek ini saya akan jawab dengan cukup panjang di bawah ini. Sebelum ke situ baiklah kita ketahui dulu beberapa pendapat lain tentang “pikiran yang kosong” dari beberapa praktisi meditasi orang Indonesia.

Tentang “mengosongkan pikiran”, Darmayasa yang mengaku guru meditasi menyatakan, lewat metafora, bahwa “hanya ketika anda telah mengosongkan gelas yang diisi penuh oleh air busuk, maka anda akan bisa mengisi gelas itu dengan isi lain, dengan air bersih, dengan susu murni, atau dengan amerta.”/22/

Ada dua hal yang mau saya kemukakan. Pertama, jika “mengosongkan pikiran” dipahami secara neurologis sebagai menghapus semua memori lama yang sudah terekam dalam organ otak, hal ini tidak dimungkinkan. Minimal, bekas-bekas memori dari masa lampau akan selalu dapat ditemukan pada area-area tertentu otak. 

Sebuah studi menunjukkan bahwa aktivitas berbahasa pada waktu masih kanak-kanak, baik kanak-kanak monolingual maupun kanak-kanak bilingual, selamanya meninggalkan “jejak-jejak neural” yang terus bertahan hingga usia dewasa, tidak hilang sama sekali, dan mendatangkan dampak tertentu hingga usia tua (antara lain, mencegah kepikunan dini pada orang dewasa bilingual). 

Susan Perry menyatakan bahwa kemampuan bilingual sejak usia dini mengubah dengan signifikan struktur otak (volume materi abu-abu meningkat pada korteks parietal inferior kiri). Orang dewasa yang sejak kanak-kanak sudah fasih berbicara dalam dua bahasa memiliki kemampuan berkonsentrasi lebih tinggi dibandingkan orang yang monolingual; hal ini menandakan memori aktif mereka berfungsi dengan baik./23/ 

“Tandatangan neural” yang membedakan orang monolingual dan orang bilingual terlihat khususnya pada area yang dinamakan korteks frontalis inferior kiri,/24/ dan juga di area yang dinamakan korteks prefrontalis dorso-lateralis pada bagian otak kanan./25/

Tetapi, jika “mengosongkan pikiran” dipahami sebagai pertumbuhan dan perkembangan kognitif manusia dengan mengubah cara berpikir lama, hal ini dapat dicapai, juga lewat latihan meditasi Vipassana. Tetapi itu pun tidak bisa berlangsung dalam sekejap, melainkan membutuhkan waktu yang lama dan proses kognitif yang tidak sederhana. Jelas, ini adalah pemahaman yang tidak harfiah atas frasa “pikiran yang kosong”. 

Seorang yang menamakan dirinya Ki Bayu Sejati, dalam blognya, menulis bahwa tingkat lanjut dari meditasi adalah mencapai kondisi di mana si praktisi “sama sekali tidak lagi mempergunakan panca indera, termasuk pikiran dan perasaan” untuk mencapai “kenyataan yang asli”. Katanya lagi, kondisi terberat dalam bermeditasi adalah mencapai kondisi “pikiran tidak ada”, keadaan di mana “anda tidak berpikir lagi.”/26/ 

Tampaknya dia, pada satu sisi, memahami kondisi “pikiran tidak ada” tidak secara harfiah jika seluruh tulisannya itu dipahami. 

Dia menjelaskan bahwa kondisi “pikiran yang kosong” dicapai dengan cara memusatkan pikiran anda pada “suatu cita-cita, umpamanya cita-cita ingin menolong manusia-manusia lain, atau cita-cita ingin manunggal dengan Tuhan”. 

Cita-cita sejenis itulah yang tampaknya dimaksudkan olehnya sebagai “kenyataan yang asli”, yang juga dapat berupa “cahaya Tuhan yang hadir dalam hati” atau “kebesaran ilahi” atau “kesadaran yang lebih tinggi”. 

Dengan kata lain, pernyataan “anda tidak berpikir lagi” atau “pikiran tidak ada” atau “pikiran kosong” adalah pernyataan yang menyesatkan jika dipahami harfiah. 

Namun, pada sisi lain, kalau kondisi “pikiran tidak ada” atau kondisi “anda tidak berpikir lagi” atau kondisi “pancaindra dan pikiran dan perasaan tidak digunakan lagi” dimaksudkan olehnya dalam pengertian yang harfiah, saya akan argumentasikan di bawah ini bahwa kondisi ini tidak mungkin bisa dicapai. 

Mari kita cari jawabannya, apakah pikiran manusia bisa kosong dalam pengertian harfiah, sama halnya dengan sebuah gelas bisa kosong, dalam arti tidak berisi air atau udara sama sekali. 

Jika pikiran dapat betul-betul dikosongkan dalam meditasi, maka siapakah atau apakah sosok yang sedang bermeditasi itu? Tubuh duduk yang dinginkah, tanpa kehidupan lagi? Mayat duduk? Pasti bukan.

Otak kita tak pernah rehat

Otak kita tidak pernah berhenti bekerja selama 24 jam sehari, termasuk ketika kita tidur sangat lelap dan tanpa mimpi (dengan gelombang otak delta, 1-3 Hz). By default atau automatically, organ otak kita selalu giat dan aktif, dengan frekuensi gelombangnya dinamis.

Sejak moyang kita di zaman-zaman kuno, ratusan ribu tahun lalu, kondisi otak yang tetap aktif selamanya telah menjadi suatu faktor penting dalam mempertahankan kelangsungan kehidupan spesies kita, Homo sapiens. Kita hidup, karena itu otak kita aktif terus-menerus.

Juga di zaman modern ini, otak kita yang terus aktif membuat kita bisa menavigasi respons-respons proaktif kita terhadap semua persoalan dan tantangan dunia modern, sejak bangun tidur, kerja di kantor, aktif ini dan itu, hingga pulang kembali lalu tidur lagi di malam hari. 

Beruntunglah kita punya pikiran yang terus aktif dan tidak pernah blanko. Tanpa kemampuan pikiran yang terus waspada dan aktif ini, kita sebagai suatu spesies sudah lama punah. 

Guru besar neurologi dan sains kognitif dari Universitas John Hopkins, School of Medicine, Prof. Barry Gordon, menyatakan, 

“Otak manusia modern hanya 2% beratnya dari keseluruhan berat tubuh kita, tetapi menggunakan 20% dari seluruh energi yang tersedia dalam tubuh kita. 

Otak yang ‘lapar energi’ semacam ini, yang terus-menerus mencari petunjuk-petunjuk, hubungan-hubungan dan mekanisme-mekanisme, hanya mungkin bekerja jika metabolisme mamalia dalam tubuh disetel pada peringkat yang konstan tinggi. 

Kondisi berpikir terus-menerus inilah yang telah membuat kita tidak menjadi makanan kesukaan binatang-binatang buas di savana-savana, dan mencegah kita menjadi suatu spesies yang nyaris punah. 

Dari situ, kita berkembang menjadi suatu bentuk kehidupan yang paling berprestasi di planet Bumi. 

Dalam dunia modern pun, pikiran kita selalu mendorong kita dengan kuat untuk menemukan bahaya-bahaya dan peluang-peluang dari lingkungan sekitar kita, agak serupa dengan yang dikerjakan server mesin pencari. 

Namun, otak kita lebih maju setindak, dengan kemampuannya untuk juga berpikir proaktif, suatu tugas yang memerlukan lebih banyak proses mental…. 

Peninggalan yang kita terima dari moyang primata kita memberi kita sebuah keuntungan lain, yakni kemampuan untuk menavigasi suatu sistem sosial.”/27/    

Sewaktu bermeditasi paling rileks sekalipun, dengan gelombang otak 1-3 Hz, pikiran kita tetap aktif, tidak pernah berhenti. Jika berhenti, maka tidak ada lagi motor penggerak bagi kehidupan semua organ tubuh kita. Artinya, kita terancam mati, karena organ-organ tubuh tidak diperintah lagi oleh pikiran kita untuk bekerja, sekalipun perintah ini berjalan otomatis, tanpa perlu kita atur dengan sadar. 

Semua sistem saraf dalam tubuh kita digerakkan oleh proses-proses kognitif dalam arti yang luas. Fungsi-fungsi metabolik dan fisiologis dan organik tubuh lumpuh total, jika pikiran kita seluruhnya tidak bekerja lagi. 

Graham E. Ewing (dari Montague Healthcare, Inggris) dan S.H. Parvez telah mengargumentasikan bahwa otak berfungsi hierarkis dan sistemik, dan fitur utama fungsi otak adalah mengatur fungsi-fungsi tubuh. Mereka memperlihatkan ada hubungan yang dinamis antara kognisi, sistem-sistem fisiologis, dan sistem saraf otonom, dan juga antara gelombang-gelombang otak dan fungsi tubuh yang berlangsung multilevel./28/ 

Hanya otak yang sudah mati, tidak memproduksi pikiran lagi. Begitu otak mati, si pemilik otak juga mati. 

Sebaliknya, semua organ tubuh kita, termasuk yang paling vital, pada dirinya sendiri bisa berkurang kemampuan kerjanya, secara bertahap, entah karena terserang berbagai jenis penyakit, kecenderungan-kecenderungan genetik, ataupun karena mengalami degenerasi saat kita perlahan menjadi tua. 

Penuaan juga, sebetulnya, adalah suatu penyakit, yang kini sedang dicari cara-cara untuk menyembuhkannya oleh para pakar gerontologi, genetika dan fisiologi.

Juga bukan rahasia lagi, bahwa pikiran yang terus-menerus sehat, cerah, tanpa stres, berdampak signifikan pada kesehatan semua organ tubuh kita. 



Saat pikiran kita buntu pun, kita sedang berpikir, mencari-cari alternatif!


Telah kita ketahui, otak manusia itu ringan, cuma 1,5 kg beratnya, 2% dari seluruh berat tubuh kita. Tetapi meskipun ringan dan kecil, otak kita setiap hari memerlukan energi yang tersedia dalam tubuh kita sebesar 20 %. Otak kita sangat “energy-consuming”, perlu memakai energi besar. 

Kenapa? Karena otak kita adalah suatu organ sentral super yang membuat kita menjadi suatu organisme hidup yang terus berpikir. 

Kalau mengambil analogi dari dunia komputer, otak kita adalah CPU-nya, persisnya superCPU. 

Dan sesungguhnya otak kita memang sebuah komputer organik yang bisa diuraikan mekanisme kerjanya, paralel dengan kerja sebuah komputer. Neuron-neuron dalam otak kita, yang berjumlah 100 milyar sel, bekerja dengan tunduk pada, atau dengan dikondisikan oleh, hukum-hukum fisika dan kimia. Bedanya, sebagai sebuah komputer, mesin organik otak kita tidak bisa di-“switch-off” total.  

Dalam meditasi paling tenang sekalipun, pikiran tetap bekerja, tidak ada kondisi pikiran “blank” dalam meditasi apapun. 

Uji saja dengan cara sederhana: jika seorang praktisi meditasi yakin dia bisa membuat pikirannya blank 100 %, mintalah dia bermeditasi di sebuah ruang sampai mencapai kondisi yang katanya “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran berhenti sama sekali, alias blank. Lalu mulailah anda matikan AC di ruang tempat dia bermeditasi, lalu buatlah oksigen di ruang itu hampa. Atau, anda bakar ruang itu dengan cepat. Nah, apakah dia tidak akan memberi reaksi? 

Jelas, otaknya yang katanya sedang blank akan memberi reaksi, pikirannya langsung memerintahkannya melakukan sesuatu. Tidak mungkin dia bisa memberi reaksi jika pikirannya sedang blank. Pikiran yang blank, jika ada, sangat berbahaya buat kelangsungan kehidupan kita. 

Lagipula, adalah suatu fakta yang tidak bisa dibantah bahwa si pemeditasi bisa tahu pikirannya sedang blank, ya karena dia berpikir pikirannya sedang blank. Karena dia berpikir pikirannya sedang blank, maka dia temukan pikirannya sedang betul-betul blank. 

Tanpa pikiran yang aktif, tak ada seorang pun yang bisa meyakini pikirannya kosong. Dengan pikiran kita menyadari sesuatu, bahwa pikiran kita sedang kosong. Kosong yang berisi, tentu saja.

Dengan kata lain, dia dikondisikan oleh pikirannya sendiri, atau dia ditipu, oleh pikirannya sendiri sehingga dia berpikir bahwa pikirannya sedang kosong total.  

Ya betul, pikiran kita bisa kosong total, tetapi hanya jika kita sudah mati, otak kita sudah membusuk dan tidak bekerja lagi, dan tubuh kita sebagian besar berubah menjadi kimia kembali, kimia carbon yang akan terus terdaur ulang dalam alam di Bumi ini, dan aktif lagi di dalam bentuk-bentuk kehidupan jenis lain yang tak terprediksi. 

Saat kita sudah mati, personalitas kita lenyap, semua memori juga sirna, kognisi tak ada lagi, maka kondisi tanpa kondisi terjadi. 

Selama kita masih hidup dalam dunia, di dalam suatu sistem sosial dan sistem kultural, kita semua terkondisi. 

Bahkan pada level paling fundamental, level subatomik, sel-sel seluruh tubuh kita juga terkondisi oleh hukum-hukum fisika dan kimia yang berlaku dalam empat dimensi ruangwaktu kita dan di dalam jaga raya kita. 

Sel-sel tubuh kita, karena terkondisi oleh hukum-hukum itu, mengambil bentuk bulatan-bulatan, atau bahkan dawai-dawai, bukan kubus atau elips. 

Di luar empat dimensi ini, yakni dalam dimensi ke-5 hingga dimensi ke-26 atau bahkan ke-41, dan dalam jagat-jagat raya lain, dengan hukum-hukum fisika dan kimia yang berbeda, struktur dan morfologi sel-sel tubuh organisme akan berbeda. 

Jadi, dari dunia subatomik sampai dunia mahabesar jagat-jagat raya, tidak ada kondisi tanpa kondisi. 

Jika anda berpikir bahwa anda bisa masuk ke kondisi “tanpa kondisi”, itu adalah pikiran anda yang dikondisikan oleh komunitas anda. Lewat sesepuh-sesepuh komunitas anda ini, anda diajarkan dan diyakinkan demikian. 

Saat saya menyatakan hal yang berbeda, saya juga dikondisikan oleh sesuatu yang lain, yakni ilmu pengetahuan modern.

Jadi, adalah sebuah kesalahan besar jika ada orang yang mengklaim “pikiran bisa dihentikan” dalam sebuah meditasi. Tidak ada landasan ilmiahnya, cuma dipropagandakan saja. 



Kata orang beragama, jika pikiran kita blank, si setan akan masuk merebutnya!


Pikiran atau pemikiran, mind and thought, melibatkan proses-proses kognitif, tidak akan bisa dihentikan, hard wired atau bagian esensial dan terpadu dengan fungsi otak kita, tetapi bisa dipantau, diamati. Lalu akan membuat kita makin kenal diri dan kecenderungan-kecenderungan mental kita. 

Dari situ, kita makin bertambah kenal dunia real, dan tempat kita di dalamnya; alhasil, kita bisa memperbaiki diri dan menyempurnakan diri terus-menerus. Dan karena kehidupan kita sendiri adalah meditasi aktif yang real, maka sangat penting pikiran kita terus-menerus kita pantau, ya lewat pikiran kita sendiri: kita melakukan apa yang dalam psikologi dinamakan metakognisi, sebagaimana sudah dibeberkan di atas.

Metakognisi ini membuat kita berpikir tentang pikiran kita sendiri, memikirkan isi pemikiran kita sendiri. Pikiran atas pikiran. 

Alhasil, kita bisa makin bijaksana dan makin cerdas dan makin berwawasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, selama 24 jam, diselingi 8-10 jam tidur malam setiap hari. Inilah yang perlu kita latih, meditasi keterjagaan (vipassana), meditasi memantau dan mengenali isi pikiran kita sendiri sampai detail, bukan menganggap pikiran kita bisa dibuat blank lewat meditasi. 

Menjadi insan yang makin baik, makin cerdas, makin visioner, makin bajik, makin bijak, lewat vipassana dan metakognisi, jauh lebih penting ketimbang mengejar kondisi yang dinamakan “tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran yang diklaim “kosong”, yang dalam kenyataannya tidak ada sama sekali. Tidak ada landasan ilmiahnya. 

Lagipula, seandainya pikiran bisa kosong sama sekali, kekosongan pikiran ini berguna untuk apa? Tak ada manfaatnya. 

Daripada sia-sia mengejar kondisi “tanpa kondisi”, yakni kondisi “pikiran blank”, lebih bermanfaat jika kita mengenali dan memantau isi pikiran-pikiran kita, alhasil kita bisa bermawas diri, mewaspadai diri, selalu celik dan eling, yang akan membuat kita akhirnya, setelah melewati usaha-usaha keras dan penuh disiplin, menjelma sebagai insan yang agung, insan eirenik. 

Dunia dan peradaban dibangun dan dibentuk oleh otak yang penuh, yang konstan bekerja, bukan oleh otak yang kosong dan berhenti bekerja. 

Intermezo saja menjelang akhir tulisan ini: kondisi yang diklaim sebagai “kondisi tanpa kondisi”, yakni kondisi pikiran blank, kosong penuh, yang diklaim dicapai lewat teknik meditasi tertentu, oleh orang beragama yang pernah berdiskusi dengan saya dianggap sebagai kesempatan masuknya setan ke dalam otak yang tidak terjaga! Nah loh. 

Tentu saja, orang yang beragama yang berpendapat demikian juga dikondisikan oleh agama mereka saat mereka menyatakan hal yang mengagetkan itu dalam bahasa mitologis. Nothing in the universe is unconditioned! 

Tentu saja, di dalam zaman modern ini, kekuatan-kekuatan perusak yang dulu dipersonifikasi dalam sosok setan (dan berbagai nama lain), kini dijelaskan dari sudut pandang ilmu pengetahuan. 

Kalau dulu di era mitologis penyakit perut dibayangkan ditimbulkan oleh masuknya setan-setan atau roh-roh jahat ke dalam perut, kini sang setannya atau sang roh jahatnya, lewat iptek, sudah ditemukan sebagai virus dan bakteri atau jamur dan parasit (cacing, misalnya), atau sel-sel organ-organ dalam perut yang berubah liar atau tidak normal, atau perubahan-perubahan hormonal. 

Kalau pun seorang yang baru mulai latihan meditasi vipassana tiba-tiba “kerasukan setan”, dia bukan kerasukan setan dalam arti harfiah, tetapi karena penyakit mentalnya yang dinamakan Multiple Personality Disorder atau Dissociative Identity Disorder tiba-tiba kambuh.

Sekali lagi, saat saya menyatakan demikian, saya juga dikondisikan, ya oleh ilmu pengetahuan. 

Pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang segala hal dalam alam ini juga dikondisikan oleh bukti-bukti, metode-metode, teori-teori, model-model atau paradigma-paradigma. 

Karena terkondisi, ilmu pengetahuan tidak pernah tiba di ujung terjauh. Tidak pernah final, tidak pernah absolut, tetapi terus berubah dan berkembang, sangat dinamis. 

Karena terkondisi, maka ilmu pengetahuan pun bisa berfungsi kreatif dan konstruktif bagi peradaban manusia selama dunia masih ada. 

Karena terkondisi juga, pandangan-pandangan ilmu pengetahuan tentang banyak hal akan suatu saat tidak relevan lagi, terbukti keliru, lalu akan digantikan dengan pandangan-pandangan yang lebih baru. 

Karena kehidupan setiap orang di planet Bumi ini sekarang ini membutuhkan sains dan teknologi modern jika mereka ingin hidup baik dan sehat, maka kehidupan kita semua niscaya terus terkondisi.

Jangan lupa, banyak praktisi meditasi dengan tepat melihat bahwa pikiran sama sekali tidak bisa dikosongkan; kita semua hidup terkondisi oleh banyak hal, termasuk juga ketika kita sedang bermeditasi. 

Dalam meditasi yang diklaim sebagai meditasi tingkat tertinggi sekalipun, pikiran sama sekali tidak pernah bisa dikosongkan, dan, seandainya bisa, memang tidak perlu dikosongkan. 

Jika seorang praktisi meditasi mengklaim telah “manunggal dengan Tuhan” di dalam puncak meditasinya, klaim ini juga terkondisi, terkondisi oleh teologi mistik yang dipercayainya dan dipercayai komunitasnya. 

Begitu juga, jika seorang pemeditasi mengklaim bahwa dia mengalami hanya kebanjiran cahaya, tanpa pikiran apapun, dalam puncak meditasinya, kondisi kebanjiran cahaya ini pun dia rasakan atau dia alami karena pikirannya mengatakan hal itu. 

Tidak ada teologi “in vacuum”, yang murni, tidak terkondisi. Setiap klaim teologis atau paranormalis ya selalu memiliki akar dalam psikologi, sosiologi, neurobiologi, status sosial-ekonomi, dan ekologi si pengklaim. 

Metafora “pikiran yang kosong”

Tetapi, kendatipun pikiran diakui tidak bisa dikosongkan, ada yang tetap mempertahankan frasa “pikiran yang kosong”, tetapi dengan diberi arti bukan harfiah, melainkan metaforis.  

Seorang guru meditasi vipassana, dan pendiri Vipassana Support International, yang bernama Shinzen Young, mengawali tulisannya yang berjudul “Meditation and Emptying the Mind” dengan kata-kata ini: 

“Apakah tujuan meditasi adalah untuk mematikan pikiran dan mendapatkan suatu kesenyapan batin atau suatu keadaan tanpa pikiran? Beberapa guru akan menjawab ya dan beberapa lagi akan menjawab pasti bukan itu! Sangat membingungkan...!” 

Selanjutnya dia menjelaskan berpanjang lebar apa artinya “emptying the mind”, “mengosongkan pikiran”. Menurutnya, “mengosongkan pikiran” adalah sebuah metafora tentang ihwal “menghancurkan kecanduan orang untuk berpikir atau untuk terpaksa berpikir”. 

Sesudah kecanduan dan keterpaksaan ini dilenyapkan, “mengosongkan pikiran” berarti menjalankan “proses berpikir yang tidak lagi diserak-serak oleh kekuatan-kekuatan pembuyar”, melainkan terfokus kuat pada satu titik bak “seberkas sinar laser yang koheren dan menembus”. 

Di saat konsentrasi ini sudah dicapai, maka “mengosongkan pikiran” berarti “berpikir dengan suatu cara yang baru”, yang “spontan dan intuitif”, dan “menjadi bagian dari arus alam yang lembut dan gemulai”, yang akan bermuara pada “suatu keadaan kalem yang siaga”./29/ Pendek kata, berpikir dengan cerdas, tidak rutin, luar biasa, kreatif, tenang, kalem, terfokus, hening, dan riang.  

Lagi, kita temukan, Shinzen Young juga memahami “pikiran yang kosong” tidak secara harfiah, melainkan sebagai sebuah metafora tentang perombakan isi pikiran dan cara berpikir yang lama, diganti dengan isi pikiran dan cara berpikir yang baru: yang terkonsentrasi, yang dicapai dengan spontan, tanpa dipaksa oleh apapun, yang memuat perspektif-perspektif baru, yang akhirnya menimbulkan dampak ketenangan dan kesiagaan batin. 

Hemat saya, lebih baik berpendirian seperti Shinzen Young: mengakui bahwa “pikiran yang kosong” adalah kondisi yang tidak mungkin ada, sebagaimana sudah saya argumentasikan di atas; dan, jika frasa “pikiran yang kosong” masih tetap mau dipertahankan, ya frasa ini diberi arti metaforis, bukan arti harfiah.

Jadi, berlatihlah meditasi dengan dua teknik yang sudah dibentangkan di atas, dan tinggalkan sama sekali keinginan untuk mencapai kondisi-tanpa-kondisi atau kondisi pikiran kosong dalam meditasi anda. 

Pikiran yang kosong hanya menghasilkan kebodohan. Pikiran yang penuh, yang dibuat rileks dan terpantau dengan tenang dari momen ke momen, akan menghasilkan banyak kebajikan, kreativitas, kekayaan sudut pandang, kecerdasan yang makin berlipatganda, dan keheningan.  

Deep Touch Therapy (DTT)

DTT atau Terapi Sentuhan Dalam (TSD) juga berkhasiat untuk meredakan berbagai tekanan mental dan alhasil menyembuhkan banyak penyakit psikosomatis yang juga menjadi salah satu tujuan penting dari meditasi. 

Berikut ini saya mau gambarkan ringkas saja apa itu TSD dan bagaimana bekerjanya dan sarana dan alat apa yang diperlukan.

Pelukan erat, hangat dan lama, selimut dan jaket tebal yang berat, bantal yang dihimpitkan, pijat dan urut seluruh tubuh, vibrasi pada tubuh, tidur ditindih anjing kesayangan, dan berbagai bentuk tekanan lembut pada tubuh, tulang, sendi dan otot lewat instrumen-instrumen, terbukti berefek mengurangi dan meredakan berbagai macam gangguan emosional dari yang ringan hingga yang berat, seperti cemas, stres, depresi, rasa putus asa, panik, insomnia, PTSD atau gangguan stres pasca-trauma, bahkan juga autisme, dementia, dan masih banyak lagi.

Jika gangguan-gangguan mental anda mereda dan teratasi, lazimnya berbagai penyakit yang dapat tergolong penyakit psikosomatik seperti alergi, eksim, gastritis, gangguan sistem pencernaan, tekanan darah tinggi, dll, akan bertahap mereda.




Kolase foto persis di atas ini menunjukkan beberapa cara menjalankan terapi gangguan mental lewat TSD yang berupa tekanan atau pressure, sentuhan, rangkulan, genggaman lembut, hangat, dalam dan intens, pada tubuh manusia. Cobalah./30/

Alat Thync Vibes

Kini sudah dihasilkan sebuah alat berbentuk segi tiga yang dirancang untuk merangsang otak anda sehingga anda masuk ke kondisi relaksasi yang dalam. Selama ini kondisi relaksasi yang dalam, dengan gelombang otak mendekati nol, dapat dialami lewat latihan meditasi Zen yang memakan waktu tahunan.


Alat yang berbentuk segi tiga ini dinamakan Thync Vibes, dengan harga USD 299 per unit (duuh, mahal). Kalau mau digunakan, cukup dilekatkan pada kening anda. 

"Vibes" artinya pulsa-pulsa listrik level rendah. Alat ini memancarkan pulsa-pulsa listrik level rendah yang akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatetik (sistem "rehat dan cerna") anda, atau sistem saraf simpatetik (yang bertanggungjawab bagi respons "tempur atau kabur") anda, bergantung apakah anda memilih setelan "calm" atau setelan "energy" pada alat itu.

Juga ada tambahan elektroda-elektroda lain untuk lebih meningkatkan rasa rileks dan damai luar biasa dalam diri anda, yang bisa dipasang pada belakang leher atau pada lokasi-lokasi lain pada kulit kepala anda, dan bekerja lewat teknik yang dinamakan Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS).

Ada yang pro dan ada yang kontra terhadap pengembangan teknologi neural semacam ini, karena efek-efek jangka panjangnya pada jejaring sel saraf dalam otak belum dipelajari dan diketahui betul. 

Tetapi alat-alat semacam ini juga diakui manfaatnya, dan bisa dipakai dalam terapi stres dan depresi ketimbang harus minum berbagai obat penenang yang mahal harganya. Atau dipakai sehari-hari di rumah saja, menjelang tidur malam, atau ketika lelah di kantor. Orang yang suka marah-marah dan histeris karena agama-agama mereka, juga bisa ditolong dengan alat ini. Mudah dan cepat.

Menurut orang yang sudah menggunakan alat ini, efek neurologisnya memang terasa betul. Tidak tampak bahayanya. Kecuali mungkin kulit kening anda akan kena iritasi sedikit jika sudah keseringan memakainya. Tetapi ini bukan soal besar. Oleskan saja vaseline muka atau minyak telon bayi pada bagian kening anda sebelum alat ini ditempelkan di situ./31/

Apakah para rahib Buddhis melihat kemajuan teknologi neural sejenis ini sebagai sebuah kabar baik, ataukah sebagai sebuah kabar buruk? Saya menunggu reaksi mereka. Sebaiknya mereka melihat, teknologi membantu peningkatan mutu meditasi, bukan menghalangi. Pemeditasi unggul pasti tidak anti-iptek. Saya jamin.

Stay blessed and delighted.

Updated 01 Juli 2018

ioanes rakhmat
Penikmat meditasi sementara sibuk


Catatan-catatan

/1/ Tentang metode-metode bernafas, lihat Ari Meisel, “How to Master the Art of Breathing”, The Daily Beast, 14 April 2014, http://www.thedailybeast.com/articles/2014/04/14/how-to-master-the-art-of-breathing.html.

/2/ Tentang metode Pernafasan Lautan, lihat Ari Meisel, “How to Master the Art of Breathing”. 

/3/ Tentang gelombang otak, lihat Berit Brogaard dan Kristian Marlow, “Brain Waves as Neural Correlates of Consciousness”, Psychology Today, 23 November 2012, http://www.psychologytoday.com/blog/the-superhuman-mind/201211/brain-waves-neural-correlates-consciousness

Tentang hubungan berbagai frekuensi gelombang otak dan meditasi, lihat tulisan guru meditasi-yoga, Ashley Turner, “Meditation 101: The Neuroscience of Why Meditation Works”, Huffiingtonpost.com, 5 February 2014, http://www.huffingtonpost.com/ashley-turner/how-meditation-works_b_4702629.html

/4/ Esther K. Papies, Tila M. Pronk, Mike Keesman, Tila M. Pronk, dan Lawrence W. Barsalou, “The benefits of simply observing: Mindful attention modulates the link between motivation and behavior”, Journal of Personality and Social Psychology, 108 (1), January 2015, hlm. 148-170. Tersedia online di http://dx.doi.org/10.1037/a0038032.

/5/ Ioanes Rakhmat,“Teori ‘Multiple Intelligences’ Howard Gardner”, The Freethinker Blog, 20 Oktober 2014, http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/10/teori-multiple-intelligences-howard.html.

/6/ Ray Kurzweil, How to Create a Mind: The Secret of Human Thought Revealed (New York, N.Y.: Penguin Books, 2012), hlm. 1.

/7/ Ray Kurzweil, How to Create a Mind, hlm. 2-3.

/8/ Ellen J. Langer, The Power of Mindful Learning (Cambridge, MA: Perseus Books, 1997), hlm. 4.

/9/ Ellen J. Langer, The Power of Mindful Learning, hlm. 23.

/10/ Ellen J. Langer, Mindfulness: 25th Anniversary Edition (Philadelphia, PA: Da Capo Press, 1989, 2014), hlm. xxv. 

/11/ Lihat laporan Steven E. Stockdale, “On Mindfulness”, Stevestockdale.com, 15 January 2000, http://stevestockdale.com/portfolio/2000/on-mindfulness/

/12/ Nancy Chick, “Metacognition: Thinking about one’s thinking”, Center for Teaching, http://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/metacognition/

/13/ Lihat reportase Penny Bailey, “Metacognition― I Know (or Don’t Know) that I Know”, BrainFacts.org, 27 February 2012, http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/awareness-and-attention/articles/2012/metacognition/

/14/ Tentang manfaat meditasi ditinjau dari neurosains, sudah saya beberkan dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 5, hlm. 164-167 [149-182].

/15/ Lihat reportase Adam Hoffman, “Study reveals benefits of meditation: Researchers found mindfulness meditation can positively affect brain activity”, The Brown Daily Herald, 22 February 2013, http://www.browndailyherald.com/2013/02/22/study-reveals-benefits-of-meditation/

/16/ Lihat Feelguide, “Harvard Unveils MRI Study Proving Meditation Literally Rebuilds the Brain’s Gray Matter in 8 Weeks”, Feelguide, 19 November 2014, http://www.feelguide.com/2014/11/19/harvard-unveils-mri-study-proving-meditation-literally-rebuilds-the-brains-gray-matter-in-8-weeks/.

/17/ Sam Harris, “How to Meditate”, Sam Harris Blog, 10 May 2011, http://www.samharris.org/blog/item/how-to-meditate.

/18/ Sam Harris, “The Mirror of Mindfulness”, Sam Harris Blog, 26 September 2013, http://www.samharris.org/blog/item/mindfulness-meditation.

/19/ Maria Cohut, Early risers have lower risk of depression, study finds”, MedicalNewsToday, 17 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/amp/322159Artikel risetnya disusun oleh
Céline Vetter, Shun-Chiao Chang,..., Eva S. Schernhammer, Prospective Study of Chronotype and Incident depression among middle- and older-aged women in the Nurses Health Study II”, Journal of Psychiatric Research, vol. 103, May 25, 2018, hlm. 156-160,
https://www.journalofpsychiatricresearch.com/article/S0022-3956(17)31165-2/pdf#/article/S0022-3956(17)31165-2/fulltext.

/20/ Lihat reportase riset mutakhir ini yang ditulis oleh Gareth Gaskell, “Sleep study raises hope for clinical treatment of racism, sexism and other biases”, Phys.org, 29 May 2015, http://phys.org/news/2015-05-clinical-treatment-racism-sexism-biases.html.

/21/ Sri Chinmoy, “Emptying the Mind”, http://www.srichinmoy.org/spirituality/concentration_meditation_contemplation/meditation/the_silent_mind/emptying_the_mind.

/22/ Darmayasa, “Mengosongkan Pikiran”, Divine Love Society, http://www.divine-love-society.org/mengosongkan-pikiran/.

/23/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/. Lihat juga Viorica Marian dan Anthony Shook, “The Cognitive Benefit of Being Bilingual”, Cerebrum, 31 October 2012, http://dana.org/Cerebrum/2012/The_Cognitive_Benefits_of_Being_Bilingual/.

/24/ Lihat misalnya Ioulia Kovelman, Stephanie A. Baker, Laura-Ann Pettito, “Bilingual and Monolingual Brains Compared: A Functional Magnetic Resonance Imaging Investigation of Syntactic Processing and a Possible ‘Neural Signature’ of Bilingualism”, Journal of Cognitive Neuroscience, January 2008, Vol. 20, No. 1, hlm. 153-169, http://www.mitpressjournals.org/doi/abs/10.1162/jocn.2008.20011?#.Vb7NjmC5I8I.

/25/ Susan Perry, “The Bilingual Brain”, Brain Facts, 15 January 2013, http://www.brainfacts.org/sensing-thinking-behaving/language/articles/2008/the-bilingual-brain/.

/26/ Ki Bayu Sejati, “Olah Batin dengan Meditasi”, Blog Ki Bayu Sejati, https://kibayu.wordpress.com/olah-batin-dengan-meditasi/.

/27/ Barry Gordon, “Why Is It Impossible to Stop Thinking, to Render the Mind a Complete Blank?”, Scientific American, 18 October 2012, http://www.scientificamerican.com/article/ask-the-brains-why-impossible-to-stop-thinking/.

/28/ Graham E. Ewing dan S.H. Parvez, “The Dynamic Relationship between Cognition, the Physiological Systems, and Cellular and Molecular Biochemistry: A Systems-based Perspective on the Process of Pathology", Rediviva, 20 April 2010, http://www.rediviva.sav.sk/52i1/31.pdf.

/29/ Shinzen Yang, “Emptying the Mind”, Shinzen.org., Meditation in Action, http://www.shinzen.org/Articles/artEmptyMind.htm.

/30/ Alescia Ford-Lanza, “The Ultimate Guide to Deep Pressure Therapy”, Harkla, 25 May 2017, https://harkla.co/blogs/special-needs/deep-pressure-therapy.

/31/ Carolyn Gregoire, “This Device Can Zap Your Brain Into A State of Zen. Is That A Good Thing?”, Huffpost Science, 30 July 2015, updated 04 August  2015, http://www.huffingtonpost.com/entry/brainb-stimulation-thync_55b15ed7e4b0224d88319a6d.