Monday, April 11, 2022

Hikmat jalan kaki pagi hari



Duduk bersila, melamun dalam, sampai tersenyum. Patung ini ditaruh di depan sebuah rumah, dan saya mengambil gambarnya di saat olah raga jalan kaki di suatu pagi hari. Sayang, topinya somplak di bagian depan.



Sejak dua atau tiga minggu lalu, saya kini berolah raga jalan kaki santai di pagi hari, mulai pukul 9 pagi. Selesai sampai di rumah kembali kurang lebih pukul 11 pagi. Jadi, total bisa sampai dua jam, mencakup 4 putaran terjauh di dalam komplek perumahan tempat kami tinggal. 

Mengapa saya mengambil waktu olah raga jalan kaki santai di pagi hari jam 9 hingga jam 11 pagi? Karena pada jam-jam ini Matahari memancarkan sinar UV yang terbaik untuk kesehatan tubuh kita, termasuk kesehatan tulang-tulang dan sendi-sendi kita.

Saya berjuang untuk sehat. Ya, literally saya berjuang untuk healthful. Sehat pikiran, dan sehat tubuh, sekaligus, tak dapat dipisah. 

Tapi, yang terpenting adalah sehat pikiran, sebab lewat pikiranlah kita pertama-tama membentuk diri dan kehidupan kita. Lewat pikiran kita jugalah, kita membentuk dunia ini.

Jika pikiran seseorang tidak sehat, atau rusak, maka, meski tubuh orang itu lahiriah sehat dan kuat, tetaplah orangnya rusak. Pikiran yang rusak melahirkan orang yang rusak. Dunia menjadi rusak karena pikiran orang-orang yang menghuninya rusak.

Karena itu, olah raga jalan kaki di pagi hari adalah kesempatan yang saya pakai untuk menyehatkan dan membangun pikiran saya. Caranya?

Ya, olah raga jalan kaki di pagi hari saya lakukan santai, rileks, tidak ngebut atau terburu-buru atau berlari-lari kencang. Ini bisa saya lakukan karena saya tidak bekerja formal lagi. Saya sudah tergolong lansia, dan sudah lama pensiun. 

Selain santai, jalan kaki pagi yang berdurasi total 2 jam itu saya jadikan suatu kegiatan rekreasi. Ya, betul-betul rekreasi.

Di sepanjang perjalanan 4 putaran, saya menikmati berbagai pemandangan, seperti melihat-lihat pepohonan dan buah-buahan yang menggantung. Saya mensyukuri adanya pepohonan di mana-mana yang mengeluarkan buah-buah beranekaragam. Saya juga mengagumi pepohonan kecil dan pepohonan besar, tinggi dan rimbun, yang berbuah dan yang tidak berbuah. 

Akar-akar yang rimbun berderet-deret panjang menggantung ke bawah, dari sebuah pohon beringin besar di sisi suatu jalan, kerap saya datangi dan pandang dengan menengadah. Bagian-bagian terbawah akar-akar gantung ini saya sentuh, usap-usap, dan jepit longgar di antara telunjuk dan jempol tangan-tangan saya yang selanjutnya saya gerakan ke bawah. Lalu saya merenungi apa yang sedang saya lihat dan lakukan. 

Setiap pagi hari, selalu muncul suatu perspektif baru tentang makna dan pesan alam yang disampaikan oleh pohon beringin itu, khususnya oleh akar-akar gantungnya yang terjulur ke bawah. Terjulur bak untaian rambut panjang yang diikat di belakang kepala seorang dewi yang sedang duduk di sebuah dahan besar pohon beringin itu. Tak sungkan, akar-akar gantung itu selalu saya ajak bicara dalam hati.

Acapkali memandang buah-buah pohon mangga atau pohon jambu bol, ingin saya memetiknya langsung dengan tangan. Tapi, sayangnya, lengan saya tak sampai. Nanti, beberapa tahun lagi, ketika saya sudah lebih gede, saya bayangkan lengan-lengan saya akan dapat memetik buah-buahan yang saya sekarang cuma bisa lihat.

Banyak lahan kosong di komplek perumahan tempat saya berdiam. Luas-luas. Ditumbuhi tanaman sayur-mayur yang pada waktunya dicabut-cabuti untuk dijual. Diurus oleh para tani yang selalu saya sapa jika saya sedang memandang lahan-lahan itu. Ngobrol sebentar dengan mereka.

Saya sempatkan diri juga untuk ngobrol pendek dengan satu atau dua pria penghuni rumah yang sedang mengurus burung-burung bersuara indah dalam sangkar masing-masing. Burung-burung itu sedang dijemur di bawah Mentari pagi.

Ketika saya bertanya kepada seorang pria, mengapa tidak olah raga jalan kaki di pagi hari, sambil membawa burung yang dipelihara, tanpa sangkar, tapi ditaruh di atas bahu, dibiarkan bertengger bebas di situ.

Pemeliharanya menjawab otomatis, Ya burungnya akan terbang lepas lalu hilang.

Saya berkata lagi. Jika hati si burung sudah menyatu dengan hati si pemeliharanya, sehingga ada bukan dua hati, tapi satu hati, maka burung itu akan mau diajak jalan kaki pagi dengan bertengger di bahunya, tidak akan terbang dan kabur menghilang. 

Tetapi jika masih ada dua hati yang terpisah, si burung pasti terbang menghilang jauh. Jika ini terjadi, biarkanlah si burung terbang bebas di luar sangkar, karena si burung tidak mencintai si pemeliharanya. Lepaskanlah si burung itu, meski harganya mahal. 

Nah, ketika saya sedang berjalan kaki di sisi kiri suatu jalan, di seberang kanan, sejauh 3 atau 4 meter dari saya, saya melihat seekor kucing sedang tiduran di bawah sebuah mobil yang sedang diparkir. Dekat pintu kanan mobil itu, sang supir duduk di sebuah bangku. 

Saya menyapa sang supir. Selamat pagi, Pak. Bekerja sebagai supir mobil itu ya? Dia menjawab. Ya, di depan saya rumah pemilik mobil ini. 

Lalu saya jongkok di sisi kiri jalan, tempat saya tadi berdiri. Lalu saya panggil kucing itu beberapa kali. Tangan saya melambai-lambai meminta si kucing mendatangi saya. Puss. Puss. Puss. Meong. Meong. Mari ke sini. Datangi aku. 

Sesaat kemudian, si kucing bangun, menatap ke saya. Lalu melangkah pelan sejauh 4 meter, menyeberang jalan, mendatangi saya. Lalu saya elus-elus dan belai kepala dan leher si kucing yang tampak kesenangan. Sang supir tertegun, tampak tak yakin, atas apa yang dilihatnya. Saya berkata lagi ke sang supir. Ajaib ya.

Lalu saya melanjutkan jalan kaki. Saya amati langkah kaki yang saya ayunkan, sambil menyadari keadaan di depan. Pikiran saya konsentrasikan pada hal-hal yang Tuhan telah karuniakan, dan segala kebaikan dan kasih sayang-Nya. Jalan kaki adalah doa juga.

Lazimnya, di akhir putaran keempat, saya mampir ke tempat mangkal para penjual buah-buahan dan sayur-mayur, tak jauh dari rumah kami. Saya ngobrol dengan mereka sejenak, lalu berbelanja, seperlunya saja.


11 April 2022