Saturday, April 30, 2022

Mengalami Yesus

 



EXPERIENCING JESUS

Pertama-tama, perhatikan gambar di atas. Zoom-in jika diperlukan. Itu gambar Paulus sedang mengalami Yesus. Ketika sudah dekat kota Damsyik, dalam penglihatan mental mistikalnya, Paulus tiba-tiba melihat cahaya yang memancar dari langit dan menyelubunginya, lalu dia mendengar Yesus berfirman kepadanya (KPR 9:3-8). Inilah pengalaman mistikal fotisme yang banyak terjadi dan dikisahkan lintasbudaya dan lintaszaman. Fotisme dibentuk dari kata Yunani phōtos (kasus genetif) atau phōs (kasus nominatif), yang artinya cahaya. Sumber gambar askabibleprof.com, 15 November 2018. 

Selanjutnya, saya buka tulisan reflektif ini dengan sebuah kutipan dari Injil Yohanes 4:42,

“Dan mereka [orang Samaria] berkata kepada perempuan [Samaria] itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia [Yesus] dan kami tahu (Yunani: oidamen) bahwa Dialah benar-benar (Yunani: alēthōs) Juruselamat (Yunani: sōtēr) dunia.’

Untuk seluruh kisah injil tentang perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub, di kota Sikhar, Samaria, bacalah Yohanes 4:1-42.

Orang-orang Samaria itu percaya kepada Yesus bukan lagi karena apa kata orang lain, melainkan karena mereka telah mengalami Yesus.

Pernyataan bahwa “kami tahu” atau oidamen mengungkapkan suatu pengenalan yang intim, atau berada dalam suatu hubungan yang erat, dengan seseorang.” (lihat F. William Danker, W. Bauer, GELNT-ECL, 2000, hlm. 693). Jadi, mereka telah mengalami siapa dan bagaimana Yesus itu.

Keterangan benar-benar Juruselamat dunia” menegaskan sekali lagi bahwa mereka, orang-orang Samaria itu, telah dengan mendalam mengalami Yesus, tidak cuma di kulit luar. 

Berjumpa dengan Yesus, harus dilanjutkan dengan mengalami Yesus dengan makin dalam dan makin luas, jika iman dan pengenalan terhadap Yesus mau sungguh-sungguh otentik.

Selanjutnya, bacalah kisah Injil Matius 16:13-20.

Di kawasan Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (ay. 13). Sebutan Anak Manusia (Yunani: ho huios tou anthrōpou) menunjuk kepada diri Yesus sendiri. Jadi, Yesus bertanya, “Kata orang, siapakah Aku?

Murid-murid Yesus menjawab: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (ay. 14).

Pengetahuan tentang Yesus yang berdasarkan apa kata orang (atau berdasarkan doktrin-doktrin gereja), tidak memuaskan Yesus. Ada sesuatu yang jauh lebih dari itu, yang diinginkan Yesus. Maka, Yesus pun bertanya lagi langsung kepada murid-murid-Nya: “Tetapi apa kata kalian, siapakah Aku ini?” (ay. 15).

Jadi, pengenalan dan pengakuan siapa dan bagaimana Yesus itu, haruslah timbul dari pengalaman pribadi (dan komunal) tentang Yesus. Pengenalan dan pengakuan yang benar, haruslah berdasar pada pengalaman hidup yang otentik bersama Yesus. Ingat, Yesus itu Tuhan yang hidup, dus kita selalu dapat mengalami-Nya. Atau lebih tepat, Yesus mengalami kita, dan kita mengalami-Nya. Dua hati telah menyatu. Dua bintang bercahaya manunggal.



Dua hati telah menyatu....

Karena telah mengalami Yesus sekian lama, Rasul Simon Petrus langsung menjawab, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (Yunani: su ei ho Khristos ho huios tou Theou tou zōntos).” (ay. 16).

Di saat Simon Petrus menyebut Yesus sebagai sang Kristus, Anak Allah yang hidup, Petrus sesungguhnya menyatakan bahwa dia telah mengalami kehidupan Allah dan Yesus dalam kehidupannya sendiri, sebagai suatu karunia dari sang Bapa, Allah yang ada di sorga. Atas keadaan ini, Yesus menyatakan “Berbahagialah engkau (Yunani: makarios ei), Simon putera Yunus....” (ay. 17).

Bahkan Yesus menegaskan bahwa gereja-Nya dibangun di atas hē petra (kata benda Yunani, artinya batu karang). Maksudnya, di atas Rasul Petrus yang telah mengungkapkan suatu pengakuan bahwa Yesus adalah sang Messias, sang Kristus. Yakni, sosok agung Putera Allah yang telah dilantik sang Bapa, telah diurapi, untuk memikul tugas ilahi membangun suatu komunitas kerajaan sorga. Komunitas ini semula adalah komunitas gereja (Yunani: hē ekklēsiapenulis Injil Matius, yang jauh kemudian menjelma menjadi gereja sedunia, atau gereja-gereja global, yang tidak dapat dikalahkan gerbang maut (Yunani: pulē hadēs. TB LAI: alam maut).

Pengalaman Petrus tentang Yesus sang Kristus, pastilah pengalaman yang mendalam, otentik, dan bernilai. Alhasil, oleh Yesus, Petrus diberi tempat, kedudukan dan status yang istimewa, yang tidak diberikan kepada murid-murid lainnya (ay. 17-19). Tetapi teks selanjutnya (ay. 21-23) memuat apa yang dinamakan paradoks Petrus.

Sekarang kita tengok sejenak Rasul Paulus.

Sudah jelas, haluan kehidupan Paulus berubah drastis, menjadi rasul Yesus Kristus, karena rasul besar kekristenan proto-ortodoks ini telah mengalami siapa dan bagaimana Yesus itu.

Padahal, sebelum menjadi rasul lewat pengalaman visionernya, Paulus adalah seorang penganiaya yang gigih para pengikut Yesus (antara lain lihat KPR 8:3; 9:1-2; juga Filipi 3:6a).

Tentang pengalaman Paulus sendiri yang dengan mata batin mistikalnya “melihat” Yesus dalam wujud cahaya, bacalah KPR 9:3-9. Inilah pengalaman fotisme, suatu fenomena lintasbudaya, lintasgeografis dan lintaszaman. 

Memang mengherankan, pengalaman fotisme Paulus yang dikisahkan oleh penulis Injil Lukas dalam karya jilid keduanya KPR (9:3-9), sama sekali tidak diceritakan Paulus sendiri dalam surat-surat aslinya. Silakan anda menduga-duga apa penyebabnya.

Dalam suatu bagian dari sebuah surat aslinya, 2 Kor. 12:1-4, Paulus, dengan tidak langsung, menyebut dirinya sendiri telah masuk ke suatu pengalaman mistikal yang berbeda, yakni menerima penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu di saat dia “diangkat ke tingkat tiga sorga, “diangkat ke Firdaus”.

Ihwal mengalami Yesus dengan makin dalam dan penuh, diungkap dengan kuat dan menyeluruh oleh Paulus dalam Filipi 3:10-11. Saya kutipkan.

“Hal yang kukehendaki adalah mengenal (Yunani: ginōskō) Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan (Yunani: koinōnia) dalam penderitaan-Nya (Yunani: pathēma autou), di mana aku menjadi serupa (summorfisō) dengan Dia dalam kematian-Nya (Yunani: thanatos autou), supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (Yunani: eksanastasis) dari antara orang mati.”

Ketika Paulus mengatakan bahwa dia hendak mengenal (Yunani: ginōskō) Yesus, kata kerja Yunani ginōskō kerap menyiratkan suatu hubungan personal yang dalam antara orang yang mengenal dan orang yang dikenal, dan orang yang dikenal berpengaruh kuat pada orang yang mengenalnya. (Lihat Fritz Rieneker dan Cleon L. Rogers, A Linguistic Key to the Greek New Testament, 1980, hlm. 557).

Well, ketika orang bertanya pada saya mengapa saya tetap berpaut dan setia pada Yesus selamanya, dengan mantap saya selalu menjawab berikut ini.

Ya, karena saya sudah banyak kali mengalami Yesus sebagai Tuhan yang hidup, yang bertindak dan berkarya. Dia mahaberada. Mahahadir. Tak terbatas, baik temporal maupun spasial. Dia abadi dan menyelubungi segala sesuatu. Transenden atau selalu melampaui kapasitas mental insani untuk memahami dan menjangkau diri-Nya. Imanen atau selalu mahaberada, menyelubungi dan menyelimuti segala sesuatu. Dia penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tidak ada kejahatan dan kekerasan dalam diri Yesus. Sebaliknya, Yesus menjadi korban kekerasan yang bengis yang dilakukan para penguasa Yahudi dan Romawi di zaman-Nya. Korban kekerasan dan kebengisan cukup satu saja, Yesus Kristus, dan selanjutnya jangan ada korban-korban lainnya. 

The peaceful Jesus Christ always gives birth to eirenic human beings and the world.

Yesus Kristus yang teduh dan damai selalu melahirkan insan-insan dan dunia yang juga teduh dan damai. 

Kita langsung ingat sabda Yesus yang relevan. 

Kata Yesus, Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya. Jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal (Yunani: ek gar tou karpou to dendron ginōsketai). (Matius 12:33; paralel Matius 7:17-20). 

Jadi, jika orang berada di dalam Yesus, dan tumbuh dari akar pohon Yesus Kristus, mustahil mereka membuahkan kejahatan dan kedurjanaan. Ya, karena pohonnya dan akarnya, yaitu Tuhan Yesus yang mahasuci, bukan sumber kebiadaban dan kejahatan, tapi sumber cinta kasih, kebaikan, dan kebenaran.

Selain itu, bagi saya, Yesus bukan hanya subjek kajian-kajian kristologis (yang sangat menarik dan saya kuasai) atau kajian-kajian dogmatis gereja, tetapi --- ini yang utama --- Yesus adalah sosok mulia ilahi-insani yang telah dan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari semua pengalaman kehidupan saya, sejak saya remaja, hingga kini.

Bahkan, saya dapat dengan yakin menyatakan (dalam bahasa iman) bahwa sejak dikandung sang bunda saya (64 tahun lalu), Yesus, sang Tuhan yang hidup, telah mengenal, menyentuh dan memanggil saya.

Kata pemazmur, Engkaulah, ya Yahweh, yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan bundaku.” (Mazmur 139:13)

Nabi (Deutero-) Yesaya menegaskan, “Yahweh sekarang berfirman, Yahweh yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya.” (Yesaya 49:5; juga 44:2)

Rasul Paulus juga menegaskan hal yang sama. Dalam Galatia 1:15 dia menulis dengan jelas bahwa Allah, sang Bapa, “telah memilih aku sejak aku dikandung ibuku (Yunani: ek kolias mētros mou) dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya.

Ya, Yesus sudah dengan lembut menyentuh dan memanggil saya juga ketika saya masih dalam rahim ibu saya untuk menjadi hamba-Nya, pengikut-Nya, murid-Nya, kekasih-Nya, sahabat-Nya, dan sang domba kesayangan-Nya. 

Hingga kini, suara Yesus yang lembut dan meneduhkan, dan sentuhan tangan-Nya yang hangat dan memberdayakan, tetap saya kenal, tetap dapat saya dengar dan rasakan, khususnya ketika saya berada pada momen-momen yang memerlukan kehadiran-Nya.

Saya sudah berikrar/diikrar dan bersumpah/disumpah di depan jemaat-Nya untuk menjadi hamba Yesus Kristus sekali untuk selamanya. 

Menghamba kepada Tuhan Yesus Kristus bukan urusan kelembagaan organisasi apapun, tapi suatu keputusan dan komitmen eksistensial personal yang dibuat antara saya dan Yesus Kristus.

Siapapun juga yang melaksanakan dengan setia dan benar amanat kultural Yahweh Elohim yang ditulis dalam Kejadian 2:15, yakni mengusahakan dan memelihara (Ibrani: lə‘āḇəḏāh ūləšāmərāh) (teks NRSV, to till/cultivate and keep/guard) dunia tempat kita hidup, Bumi yang kita diami, mereka adalah hamba-hamba Tuhan. Ebed Yahweh.

Amanat kultural untuk membudidayakan sekaligus menjaga dan melestarikan daya dukung lingkungan alam bagi kehidupan, adalah amanat ilahi untuk Adam (di lingkungan alam taman Eden), yang harus ditafsir sebagai representasi simbolik umat manusia universal yang memiliki nafas hidup dari Yahweh. Semua insan di Bumi, dengan demikian, adalah hamba Tuhan, ya hamba Tuhan sang Pencipta dan Pemelihara alam dan kehidupan, yang mahapengasih dan mahapenyayang.

Jika seseorang itu menghancurkan, merusak dan membinasakan kehidupan dan lingkungan alam, dan nafsu kebiadaban dan kedurjanaan bernyala-nyala dalam dirinya, orang itu bukan hamba Tuhan. Dia bukan menyembah Tuhan, tapi menyembah sesuatu yang sama sekali lain, yang memusuhi Tuhan.

Saya, sebagai hamba dan kekasih Yesus, betul-betul telah dan selalu mengalami Yesus. I am experiencing Jesus, my living Lord. How about you, my friends?

Jakarta, 30 April 2022
ioanes rakhmat


N.B. Hari Eid ul-Fitr 1443 H segera kita masuki, 2 dan 3 Mei 2022. Saya ucapkan selamat lebaran kepada teman-teman yang merayakannya. Kembalilah ke hakikat semula kita sebagai insan-insan mulia ciptaan Tuhan. Jauhkan dosa, kejahatan, kekerasan, intimidasi, kejumawaan, aib dan cela dari kehidupan harian kita.