Tuesday, December 8, 2020

Antara Kehidupan dan Kematian, Gereja Kristen Pilih Yang Mana?



"Aku menghadapkan kepadamu jalan kehidupan dan jalan kematian." (Yeremia 21:8; Ulangan 30:15)

Hidup itu sungguh berat, bertahun-tahun, sejak dilahirkan, dengan segala suka dan duka, hingga 70 tahun, atau hingga 80, 90, 100 tahun sebagai lansia uzur. Mati itu ringan, berlangsung singkat, cuma beberapa detik atau menit, lalu nyawa pun putus.

Orang yang berani hidup, jadinya, adalah orang yang luar biasa berani, petarung, tak kenal menyerah, berhati baja. Orang yang mencari kematian, jadinya, telah kalah dengan kehidupan, pengecut, pecundang, tak punya nyali.

Anda pilih mana? Ada banyak faktor yang berperan ketika anda mau mengambil pilihan penting apapun, apalagi pilihan antara kehidupan dan kematian. Salah satu faktor yang krusial, di saat orang harus memilih antara kehidupan dan kematian, adalah ideologi, dus juga teologi.

Jika teologi yang dipegang adalah teologi dalam banyak bagian Perjanjian Lama tentang Allah yang berperang, Allah yang membunuh orang asing atau musuh dalam berbagai "perang suci" atau "holy wars", dan meminta umat (lewat mulut manusia) untuk berperang dan mati untuk sang Allah, maka umat juga akan memilih mati bagi Allah.

Allah sebagai panglima perang melahirkan umat yang membenarkan pembunuhan, dipenuhi dorongan berperang, hidup berdarah-darah, dan mau mati bagi Tuhan sebagai pilihan satu-satunya. Tidak ada pilihan lain yang lebih berwawasan jauh ke depan, wawasan kehidupan yang berdayatahan dan bermutu.

Jika teologi yang dianut adalah teologi Allah yang mencintai dan memelihara kehidupan, Allah yang membela kehidupan, maka orang yang mengikut Allah ini akan juga mencintai, memelihara dan membela kehidupan. Mereka menolak pembunuhan. Menolak kematian, kematian diri sendiri dan kematian orang lain.

Bagi mereka yang menghayati teologi Allah pencinta dan pemelihara kehidupan, hidup menjadi mulia dan berharga, betapapun kehidupan ini berat, tidak mudah, sangat menekan, sulit, harus diperjuangkan seumur hidup, kerap tertatih-tatih, jalinan kesakitan dan kelegaan, anyaman suka dan duka, campuran air mata, keringat dan derai tawa ria dan rehat.

Anda memegang teologi yang mana?

Dalam kesaksian bulat kekristenan Perjanjian Baru, ya Yesus mati, terbunuh di kayu salib. Apakah, dengan demikian, Allah dalam teologi Kristen awal adalah Allah pembunuh?

Tentu saja tidak. Yesus terbunuh, bukan membunuh. Yesus mencintai kehidupan. Tidak pernah Yesus menghancurkan dan membinasakan kehidupan. Bagaimana dengan Allah, yang Yesus sapa dengan sangat akrab sebagai Bapa, Abba?



Oleh Yesus, Allah dalam Perjanjian Baru digambarkan sebagai sang Bapa yang mencintai dan memelihara kehidupan. Ya, kehidupan bunga-bunga di padang dan kehidupan burung-burung di udara. Tentu saja, juga kehidupan manusia yang dipelihara sang Allah ini dengan memberi mereka roti yang cukup setiap hari, dan melepaskan mereka dari segala yang jahat. Sebagai sang Bapa bagi manusia, Allah yang diberitakan dan diwujudkan oleh Yesus adalah Allah yang memberi cahaya terang dan enerji panas Matahari baik kepada orang yang baik maupun kepada orang jahat, ya.... supaya mereka semua hidup sehat dan sadar bahwa Allah itu memelihara, bukan membinasakan, kehidupan.

Ketika gereja-gereja Kristen awal menggumuli dengan sangat serius, dengan melibatkan segenap kehidupan mereka, apa makna eksistensial kematian Yesus, mereka tiba pada keyakinan dan pemberitaan kuat tentang dua hal.


Ketika kedamaian datang, pasukan melepaskan dan meninggalkan perlengkapan perang mereka. Pekik perang diganti nyanyian perdamaian. Burung merpati menggantikan burung pemakan bangkai


Pertama, bahwa kematian Yesus tidak boleh menimbulkan kematian lain kapan pun juga, sebab kematian Yesus adalah kematian "satu kali untuk selamanya", kematian yang berdampak pendamaian dan perdamaian universal; dus tak boleh lagi ada kematian-kematian lain kapan pun dan di mana pun juga, atas kepentingan apa pun. Tidak boleh ada korban lain. Cukup satu, satu-satunya, yaitu Yesus sebagai korban. Tidak boleh ada perang. Cukup ada kedamaian dan perdamaian abadi. Sekali pun di antara pengikut-Nya ada yang memiliki satu pedang, Yesus sama sekali bukan panglima petempur di medan perang.

Kedua, kekristenan awal Perjanjian Baru mempercayai bahwa Allah itu pencinta, pemulih dan pemelihara kehidupan. Karena itu, berkumandanglah berita atau kerugma di saat fajar merekah tentang kebangkitan Yesus. Dia yang telah dibunuh di kayu salib, yakni Yesus dari Nazareth, adalah Dia yang juga telah mengalahkan kematian lewat kebangkitan-Nya, atau lewat Allah yang telah membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Tidak boleh kematian menjadi pemenang di dunia ini sekarang di dalam waktu manusia.

Yang nyatanya menang, dalam peristiwa yang dialami Yesus, adalah kehidupan. Kehidupan, lewat Yesus, berada di atas kematian, bahkan mengalahkan kematian. Bukan sebaliknya.

Jadi, setiap orang Kristen yang setia pada berita atau kerugma Perjanjian Baru adalah orang yang mencintai, memilih, memulihkan dan memelihara kehidupan di masa kini dan selamanya. Inilah amanat hidup kekal, dulu, sekarang dan di masa depan selamanya, dalam dunia ini. Amanat tentang zoê aiônia, tentang "eternal life", tentang kehidupan kekal, adalah nafas kehidupan orang Kristen sekarang dalam dunia ini, here and now.

Dengan demikian, kita semua sebagai gereja mencintai dan memelihara kehidupan, kini dan selamanya, dan tidak akan pernah memangkas atau membinasakan kehidupan.

Karena itu, sebagai bukti kita mencintai kehidupan, kita terdorong kuat untuk hidup berharga, agung, mulia, berbahagia dan membahagiakan orang lain, selagi kita masih hidup tentunya, hidup dalam kondisi sehat jasmani dan mental, sekarang ini dan dalam dunia ini.

Tidak heran jika berbagai peradaban Barat yang, sekuat apapun sudah tersekularisasi, sangat kuat dinafasi kekristenan, terus saja bergerak ke depan, makin maju dalam membangun kehidupan, dengan menolak kematian. Mereka berkomitmen memilih kehidupan.

☆ ioanes rakhmat

08 Desember 2020