Monday, May 16, 2022

Belajar dari Gautama Buddha di Hari Waisak 16 Mei 2022

 

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566, yang jatuh pada hari ini, Senin, 16 Mei 2022.

Disebut trisuci, karena pada setiap hari Waisak umat Buddhis memperingati dan merayakan tiga kejadian penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni:

• Hari kelahirannya sebagai seorang pangeran (sekitar tahun 563 SM di Taman Lumbini, sekarang Nepal Utara)

• Hari mendapatkan penerangan atau pencerahan budi (Sanskrit/Pali: bodhi) selama dan setelah 49 hari (7 minggu) menjalankan meditasi yang kontinyu dengan duduk bersila (posisi lotus) di bawah sebuah pohon banyan (yang berlokasi di Bodh Gaya, Bihar, India), yang tumbuh di tepi Sungai Phalgu. Pohon banyan yang dipilih Siddhartha Gautama ini lebih dikenal sebagai Pohon Bodhi. Seseorang yang telah mendapatkan bodhi dinamakan Buddha.

Gautama menyadari bahwa untuk mendapatkan bodhi, dia harus bermeditasi dan melepaskan semua kesenangan dan kenikmatan dunia.

Kesadarannya ini timbul setelah dia melihat kehidupan real di luar istana, dengan didampingi seorang pengawal setianya. 

Dia berpapasan dengan seorang miskin peminta-minta, seorang tua yang ringkih, seorang yang sedang sakit, dan seorang mati yang diusung dalam sebuah keranda. Apa yang dilihat Gautama ini membuat dia terpekur, lalu menginsafi bahwa kehidupan ini penderitaan (Pali: dukkha).

Bagaimana melepaskan manusia dari penderitaan? Itulah pertanyaan terbesar Gautama.

Kemudian Gautama berpapasan dengan seorang asket, yang wajahnya menampakkan keteduhan dan kedamaian. Gautama termenung, bertanya, jika kehidupan ini suatu penderitaan, bagaimana sang asket itu dapat berwajah teduh, damai, dan hening. Maka, Gautama pun mempertimbangkan dirinya untuk menempuh kehidupan asketik.

• Hari Gautama Buddha memasuki “kawasan Diri Sejati yang Abadi” (penamaan dalam Buddhisme Mahayana) lewat kematiannya. Kejadian ini dinamakan parinirvana, saat Gautama Buddha memasuki nirvana yang sepenuh-penuhnya, nirvana tanpa sisa, dan dia tidak akan mengalami kelahiran kembali.

Sebetulnya, dalam meditasinya selama 7 minggu, di saat Gautama berusia 35 tahun, dengan cepat dia mendapatkan bodhi, bahkan sudah mulai diperolehnya di malam pertama meditasinya.

Meditasinya yang dijalankan selama 49 hari sinambung makin memperluas dan memperdalam horison-horison pencerahannya, sampai tiba di pencerahan paripurna.

Mendapatkan pencerahan berarti mendapatkan nirvana (Sanskrit) atau nibbana (Pali), yang memiliki arti “lenyap tertiup” atau “padam”. Yakni, Gautama berhasil memadamkan atau meniup lenyap dari dirinya nafsu keinginan, kebencian, ketidaktahuan, dan, pada dasarnya, berhasil melepaskan dirinya dari penderitaan (dukkha) dan siklus kelahiran kembali.

Pada esensinya, nirvana adalah keadaan berakhirnya penderitaan (yang mencakup kelahiran, usia menua, penyakit, dan kematian) dan semua penyebabnya.

Tanpa mendapatkan bodhi yang sempurna, penderitaan dan segala penyebabnya akan terus-menerus dialami manusia dalam banyak masa kehidupan mereka, membentuk siklus kelahiran kembali yang dinamakan “samsara” (artinya, “mengembara” atau “berkelana”).

Untuk memutus siklus samsara, orang harus dapat melenyapkan emosi-emosi yang negatif, yang melahirkan tindakan-tindakan yang negatif. Selain itu, pikiran-pikiran yang salah, jahat dan destruktif, juga harus ditransformasi menjadi pikiran-pikiran yang benar, baik, dan konstruktif. Sebab, lewat pikiranlah kita membentuk diri kita sendiri dan dunia ini.

Jika penyebab-penyebab akar berlangsungnya siklus samsara, yang ada pada ego dan mental manusia, dapat dicabut dan dihilangkan, maka penyebab-penyebab ini kehilangan kekuatan, alhasil penderitaan diakhiri, dus nirvana dicapai selama masih hidup dalam dunia ini. Ketika nirvana dicapai, pikiran akan damai sepenuhnya, teduh dan hening, dan diri melebur dengan jagat raya, menjadi kosong sekaligus penuh.

Bagi orang yang sudah mencapai nirvana di masa kehidupannya di Bumi, nirvana yang sepenuhnya, nirvana tanpa sisa, akan dimasuki setelah kematian. Inilah nirvana tahap lanjut, atau parinirvana, yang dicapai Gautama Buddha pada usia 80 tahun (yakni, 45 tahun setelah dia mendapatkan bodhi).

Parinirvana Gautama Buddha disebut juga sebagai “apratis thitanirvana”, artinya nirvana tanpa lokasi, dan bukan samsara, juga bukan nirvana. Ini dapat ditafsirkan bahwa pasca-parinirvana, Gautama Buddha menjadi mahahadir, mahaberada, dan abadi, tidak takluk lagi pada kedagingan dan dimensi-dimensi ruangwaktu. Diri Sejati Gautama Buddha menjadi transenden sekaligus imanen. Jasadnya dikremasi, dan debu-debu tulangnya dibagi-bagi ke para pengikutnya.

Nah, baiklah pada Hari Trisuci Waisak 16 Mei 2022 ini, kita perhatikan satu relief (gambar pahatan timbul) di bawah ini. Relief ini dipahat di suatu lokasi di Pakistan utara dan Afghanistan selatan masa kini, berasal antara abad ke-2 dan abad ke-3 M.



Image credit: The Norton Simon Foundation (Norton Simon Museum). Sumber image nortonsimon.org.


Relief ini menampilkan Siddhartha Gautama sedang mendatangi sebuah pohon bodhi untuk di bawahnya dia akan bermeditasi, dengan duduk bersila, dan akhirnya mendapatkan pencerahan hingga final.

Di saat Gautama menghampiri pohon bodhi itu, dia berikrar, demikian:

“Aku tidak akan beranjak dari posisi ini di Bumi, sampai aku mencapai tujuan terbesarku.”

Versi lebih panjang dari ikrar Gautama berbunyi berikut ini.

“Aku akan duduk bersila di bawah pohon ini dan bermeditasi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku tidak akan bangun sampai jawaban-jawaban kuperoleh. Sekalipun kulit-kulitku mengelupas dan tubuhku menjadi lemah, aku tidak akan beranjak sedikitpun sampai aku melihat terang.”

Pada tangan kirinya, Gautama menggenggam rerumputan untuk diletakkannya pada tempat duduk yang sudah tersedia di bawah pohon bodhi itu, yang pernah digunakan oleh para pencari terang lainnya sebelum dia. Tapak tangan kanannya terbuka penuh, mengisyaratkan bahwa dia memiliki keyakinan yang kuat, tidak ragu sama sekali.

Lazimnya, relief-relief dipenuhi deretan sosok-sosok lain. Pada relief di atas hanya beberapa saja dari mereka yang terlihat dan dapat diidentifikasi, termasuk sosok Vajrapani, sahabat dan pelindung Gautama yang berdiri di sebelah kiri, dengan tangannya memegang sebuah senjata petir dalam bentuk sebuah tulang.

Di sebelah kanan Gautama, terlihat sepasang figur ningrat laki-laki dan perempuan. Mereka menunjuk ke tempat duduk yang ada di bawah pohon bodhi. Ditafsir, sepasang sosok ini adalah Mara, dewa atau demon nafsu keinginan, dan isterinya.

Dalam kosmologi Buddhis, Mara dihubungkan dengan kematian, kelahiran kembali dan nafsu keinginan. Menurut penafsir Nyanaponika Thera, Mara adalah “personifikasi kekuatan-kekuatan antagonistik terhadap pencerahan.” Kata Mara sendiri berarti kematian.

Dalam kisah-kisah Buddhis, Mara adalah demon yang bertekad untuk menghalangi dan mencegah Gautama dalam usahanya untuk mendapatkan pencerahan.

Bersama isterinya dan tiga puterinya (masing-masing bernama Tanha, artinya rasa haus; Arati, artinya penyimpangan, rasa tidak puas; dan Rāga, artinya kelekatan, nafsu keinginan, ketamakan, berahi), dan demon-demon pengikutnya yang lain (pada relief, terlihat hanya sebagian, termasuk yang berada di samping kolom beton), Mara yakin akan dapat memadamkan niat Gautama untuk mencari bodhi dan mendapatkannya, lalu mencapai nirvana, lewat meditasinya selama 7 minggu. Menurut tradisi, godaan-godaan ini, termasuk yang sensual dari tiga puteri Mara, dialami Gautama pada minggu kelima meditasinya. Semua godaan dipatahkan Gautama.

Di awal Gautama mendapatkan pencerahan, demon Mara berupaya sangat keras untuk membuyarkan konsentrasi meditatif Gautama. Mara menantang Gautama untuk menunjukkan bahwa dia telah mendapatkan pencerahan. Sebagai jawaban, tangan kanan Gautama diarahkan ke Bumi dan jari-jemarinya menyentuh tanah, memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi bagi pencerahan yang sudah didapatnya. Posisi ini (lihat image di bawah ini) dinamakan Bhūmisparsa mudra.



Dewi Bumi dipanggil untuk menjadi saksi Gautama telah mendapatkan pencerahan. Abad ke-9, Bihar, India. Image credit: Cleveland Museum of Art. Sumber image khanacademy.org.


Setelah memperoleh pencerahan di tahap awal, di minggu kedua meditasinya Gautama bangkit berdiri dan menatap tanpa berkedip pohon bodhi yang menudungi dan melindunginya, lalu dia mengucap terima kasih kepada pohon itu, dan melanjutkan meditasinya sambil berdiri selama sekian waktu, konon selama sembilan hari.

Pohon banyan menjadi pohon bodhi, membantu Gautama mendapatkan pencerahan.

Hanya demon yang membenci pencerahan, dan menghalangi para pencari terang untuk mendapatkan penerangan dan pencerahan budi.

Gautama Buddha tahu apa yang dia cari, dan percaya dia akan mendapatkan jawaban-jawaban. Dengan memeriksa dan mengikuti serta mengamati dan memikirkan aliran perasaan dan gerak-gerik pikirannya selama 7 minggu, Gautama memperoleh bodhi.

Carilah, maka kamu akan mendapatkan. Ketuklah gerbang-gerbang pintu, maka pintu akan dibukakan bagi kamu. Biarkan Terang Sejati masuk ke dalam dirimu. Lalu pancarkan ke dunia sekitarmu. Jadilah terang dunia. Beri rehat pada orang yang menderita, yang letih lesu dan berbeban berat. Taklukkan kematian. Jalani kehidupan sorgawi sekarang dalam dunia ini. 


Jakarta, 16 Mei 2022


References:

NortonsimonSundaytimesHistoryKhanacademyIndiatoday