Thursday, June 16, 2022

AKU KEKASIH YESUS, AKU WARGANEGARA INDONESIA

 



Pada 4 April 2022, saya mulai berolahraga jalan kaki di pagi hari di komplek perumahan kami di Jakarta Utara. Semula saya mengambil 3-4 putaran terjauh, yang menghabiskan waktu 1,5 jam lebih, malah, karena menikmati dan menghormati alam sekitar, bisa sampai 2 atau 3 jam, di bawah sorotan cahaya Mentari yang memberi sangat banyak manfaat bagi kesehatan kita. 


Tetapi, karena pertimbangan keamanan dan keselamatan diri saya sewaktu berjalan kaki, dalam kurang lebih satu bulan terakhir ini saya jadinya mengambil putaran separuh putaran terjauh sebelumnya, dekat-dekat rumah saja.




BTW, perhatikan foto diri saya persis di atas ini. Saya membotakkan sendiri kepala saya dengan gunting dan pisau silet bertangkai pada 15 Juni 2022. 

Di pagi hari kemarin ini, saya yang berkepala gundul berolahraga jalan kaki dengan membawa sebuah patung kecil plastik Budai, atau sang Buddha periang, the Laughing Buddha, yang mengambil posisi duduk bersila, bermeditasi hening, dengan hati dan wajah yang selalu riang. Patung indah warna kuning jingga ukuran segenggam ini, dengan kepalanya gundul, saya taruh pada tapak tangan kanan saya sementara berjalan kaki. Budai gundul, saya juga. Seolah kami kembaran.




Siapapun yang memandang Budai, mereka akan ikut tertawa riang.


Pesan saya jelas, bagi orang yang arif dan bijaksana: hentikan segala suara gaduh dan bising yang terus-menerus disengaja, di dalam komplek perumahan kami. Heninglah, seperti Budai, dalam kegembiraan. Tertawa riang namun hening. Jauhkan keributan, kegaduhan, kemarahan yang meluap-luap, dan kejumawaan. Cerdaskan emosi, jangan dibuat bodoh terus-menerus. Jangan tetap jadi kanak-kanak abadi.

Nah, saya sekarang mencukupkan waktu 1 jam saja untuk 3-4 putaran pendek jalan kaki. Meski begitu, gangguan dan bahaya yang bisa membunuh saya (karena saya sudah lansia) tetap muncul. Gabungan dan gerombolan Legion ada di mana-mana, bahkan sampai masuk ke alam Internet, yang mengharuskan saya bertempur sebagai seorang lansia dengan Mr. G. It is really, really mad, shocking and terrorizing. And yet, I never panic due to the mighty power of the Living Lord Jesus in me.

Dalam 1 jam jalan kaki pagi yang saya perpendek itu, keringat sehat yang keluar banyak, membuat T-shirt yang saya pakai basah di bagian belakang dan di dada.

Karena tetap mengalami gangguan dan bahaya yang berpindah tempat, akhirnya, sejak 2 atau 3 minggu lalu, saya memutuskan untuk mengajarkan hal-hal yang perlu kepada mereka lewat bahasa tubuh dan tindakan simbolik. Saya berikrar, tidak akan menyapa atau berbicara lisan kepada siapapun selama saya berjalan kaki, mengubah kebiasaan sebelumnya.

Keputusan dan ikrar saya itu, saya ambil dan tekadkan setelah Tuhan Yesus Kristus mendorong saya di dalam suatu doa intens saya. Bagaimana kondisi spiritual ini dapat (sering) saya alami, baik di saat berdoa maupun bisa tiba-tiba saja saya rasakan, tidaklah perlu saya kisahkan sekarang. Yang saya temukan, spiritualitas saya sedang tumbuh makin dalam lewat pertempuran spiritual melawan Satanic forces yang terus-menerus memburu dan menjepit saya, dari segala arah dan lini, selama bertahun-tahun hingga saat ini.

Nah, berbagai pesan sudah saya sampaikan kepada mereka. Pesan-pesan saya selama ini pasti dapat ditangkap oleh mereka, maupun oleh warga yang lain yang kebetulan berpapasan dengan saya (di saat mereka juga berjalan kaki, atau sedang berkendara).

Nah, tadi pagi, 16 Juni 2022, saya mengenakan benda-benda simbolik yang terlihat pada foto pertama di atas (klik fotonya untuk caption di bawahnya dapat terbaca dengan jelas) ketika saya berolahraga jalan kaki sebanyak 4 putaran, selama 1 jam penuh.

Pesan saya, ya sudah saya tuliskan pada caption foto di atas dalam bahasa Inggris.

Topi warna coklat yang saya pakai adalah topi gerakan teruna-teruna Pramuka. Terpasang sebuah bendera mini Merah-Putih pada salah satu sisi topi itu, pas di telinga kanan saya. Kalung Salib emas sepuhan melingkari leher saya.

Ya, betul, saya tadi pagi telah menyampaikan pesan yang jelas bagi mereka yang bisa melihat. Bukan cuma melihat dengan mata biasa, tetapi juga dengan mata akal dan mata hati, lalu mengerti.

Pesan saya: Bahwa saya ini seorang yang sudah beragama, seorang Kristen, kekasih Yesus. Jadi, janganlah ada gerombolan apapun yang terus-menerus mati-matian dengan segala cara memaksa saya ganti agama. Indonesia ini sebuah negara demokrasi republik, bukan suatu negara agama apapun. Bahwa saya sebagai seorang Kristen mencintai bangsa dan negara Republik Indonesia ini, membela dan menghormati bendera negara Republik Indonesia. Bahwa saya sejak usia muda, sebagai seorang teruna, sudah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara Indonesia, hingga kini di usia lansia jalan 64 tahun, dan akan terus mengabdikan diri saya. Meski saya Kristen, rasa dan semangat keindonesiaan saya punyai.

Nah, di saat menjalani putaran kedua, saya memberi hormat pada bendera Merah-Putih yang berkibar tinggi di halaman depan kantor sekretariat Rukun Warga (RW 12) yang belum lama ini selesai dipugar sehingga kini tampak megah dan apik lahiriah. Penghormatan takzim sekian menit saya arahkan kepada sang Saka Merah-Putih.

Di akhir putaran keempat, ketika sudah sampai kembali di depan rumah kami, saya, sebagaimana lazimnya dalam 1 bulan terakhir ini, melakukan suatu ritual singkat, seperti pada setiap saat saya mau memulai olah raga jalan kaki pagi hari.

Saya berdiri di depan pintu masuk ke rumah, menghadap ke arah rumah. Lalu saya menengadah ke langit, menatap sang Matahari yang sudah berada tinggi di atas kepala saya. Kepada Sang Maha-Langit yang telah memberi Matahari dan cahayanya, saya berterimakasih dan memberi hormat, seraya mengingat Yesus Kristus sang Terang Dunia.

Setelah itu, saya ubah posisi berdiri saya, menghadap ke arah yang sebaliknya, ke arah jalan raya, dan menengadah ke atas langit sambil mengangkat tinggi dua belah tangan saya yang tertangkup.

Lalu ritual kecil saya jalankan dengan gerakan tubuh dan doa syukur dalam hati, kepada Tuhan Allah, sang Bapa, Tuhan Maha-Langit, kepada Yesus Kristus, sang Penerang dunia dan kehidupan, dan kepada Roh Kudus, sang Pembimbing, Penolong dan Pemberdaya kehidupan. Kuasa-kuasa sorgawi lainnya yang penuh cinta kasih, misalnya Bunda Shekinah, Bunda Maria, Bunda Hikmat, para malaikat pelindung, juga saya panggil. Saya yakin betul, bahwa Roh Tuhan Maha-Langit yang berdiam di dalam diri saya dan yang menyelubungi saya, lebih besar tanpa batas dibandingkan roh-roh lain apapun yang ada dalam jagat raya.

Sesungguhnya, kegiatan olah raga jalan kaki di pagi hari, sejak saya keluar rumah, kemudian kembali lagi, saya nikmati sebagai suatu ritual. Ya, ritual doa dan meditasi jalan. Pada momen-momen tertentu, di tempat-tempat tertentu, saya tambahkan dengan ritual penghormatan pada sang Matahari di angkasa yang selalu menemani saya berjalan kaki. Melihat Matahari saya imajinasikan sebagai melihat Yesus Kristus sebagai Sol Invictus atau Sang Matahari yang tak terkalahkan. Dampak ritual berjalan kaki ini bagi kesehatan tubuh dan mental saya, sangat signifikan. It does heal me!

Kate Southworthartis kota London, yang karya-karyanya diakarkan pada ritual, menyatakan bahwa ritual is a way of letting go of the everyday. A ritual is like a poem. There is no wrong or right way. Enjoying the deepness, stillness and quietness of darkness of the night, and then, having been ready, lighting a candle to welcome the return of light in the early morning, is one example of a ritual.

Baik, saya terjemahkan:

“Ritual adalah suatu jalan untuk melepaskan diri dari kerutinan kehidupan sehari-hari. Sebuah ritual itu seperti sebuah puisi. Jadi, tidak ada ritual yang benar atau ritual yang salah. Nah, di saat anda menikmati kedalaman, keheningan dan kesunyian kegelapan malam, lalu, setelah siap, anda menyalakan sebuah lilin untuk menyambut terang yang sudah datang kembali di saat fajar sudah tiba, anda sedang menjalankan satu contoh sebuah ritual.

Well, setelah selesai ritual pendek di depan pintu masuk rumah kami tersebut, saya membuka masker wajah yang sebagian sudah basah, lalu merobeknya dan melipatnya sehingga menjadi kecil. Setelah itu, saya mengikatnya dengan talinya, lalu saya buang ke dalam tempat sampah. 

Itu juga sebuah pesan saya ke kalangan Legion itu yang sengaja menyerakkan banyak masker wajah, bekas dan baru, di aspal jalan-jalan yang saya lewati. Jalan-jalan sampai saat ini banyak dikotori, dengan benda-benda dan zat-zat yang beraroma busuk, dan membuat jalan-jalan basah dan licin. Saya berisiko terpeleset, lalu jatuh, dan tulang-tulang lansia saya dapat patah. Legion memang keji, nurani mereka sudah mati.

Legion itu tahu bahwa sebagai insan lansia, saya memiliki tulang-tulang yang mulai merapuh. Maka, berbagai kondisi direkayasa untuk membuat saya terjungkal di jalan atau terperosok ke dalam lubang selokan yang penutup besinya sudah diangkat dengan sengaja, atau ditaruh pada posisi yang sangat membahayakan setiap pejalan kaki atau setiap mobil yang menikung tajam di situ. Saya tahu semua rekayasa Legion itu. Tidak ada cinta Tuhan dalam diri mereka. Yang ada cuma sifat-sifat roh-roh Legion yang dulu, di abad 1 M, sudah ditaklukkan Yesus.

Well, pintu rumah saya buka, lalu saya masuk. Beberapa saat kemudian, setelah merapihkan diri, saya bernyanyi, memuji dan memanggil Tuhan, di dalam rumah.

Jakarta, 16 Juni 2022

En tō endoksō onomati Iēsou
ioanes rakhmat

Diedit 17 Juni 2022