Friday, November 2, 2012

Mana yang lebih terbatas: Ilmu pengetahuan atau agama?

Mempertahankan misteri-misteri jagat raya hanya akan menghasilkan orang-orang beragama yang malas mencari, malas meneliti, dan malas berpikir, atau malah takut berpikir dan takut mengetahui hal-hal baru.
─ ioanes rakhmat


Umumnya kalau para agamawan, dari semua agama, diperhadapkan pada sains (ilmu pengetahuan), mereka akan serta-merta menyatakan: Jangan berpegang pada sains, berpegang saja pada agama, pada iman.

Loh, kenapa? Sebab sains selalu terbatas, bisa salah, tak menawarkan hal-hal yang mutlak dan pasti, selalu berubah. Sebaliknya, agama menawarkan kepada anda hal-hal yang pasti benar, mutlak, tak bisa salah, tidak berubah, terjamin (oleh Allah sendiri), sehingga menenteramkan batin dan pikiran anda. Jadi, peluklah agama dan jangan percaya sains!

Betulkah demikian? Mari kita cari jawabannya dengan kalem.



Semua agama menawarkan iklan yang sama: Kecap Bango kami kecap nomor satu di dunia, tak ada tandingannya! Pilihlah kecap Bango keluaran pabrik kami! Dijamin halal dan lezat! 

Jadi, ada banyak sekali agama kecap Bango nomor satu di dunia. Dari antara banyak agama kecap Bango ini, mana agama kecap Bango yang benar-benar nomor satu di dunia, yang benar-benar paling lezat, benar-benar paling halal dan benar-benar paling higienis? Sangat susah dan ruwet menjawabnya, bukan? 

Lalu, semua klaim tentang kebenaran (supernatural) yang diajukan agama-agama adalah klaim iman (Latin: fidem), klaim yang diterima benar hanya karena diimani atau dipercaya benar sebagai wahyu (Latin: revelationem) ilahi, tanpa dilandaskan bukti-bukti objektif autentik. Ini dinamakan epistemologi revelatif fideis. Tak perlu ada pembuktian atas semua kepercayaan keagamaan, kata para agamawan dengan yakin, sebab kebenarannya sudah dijamin oleh Allah sendiri yang memberi wahyu. 

Tahukah mereka, bahwa keyakinan mereka ini adalah keyakinan pada keyakinan yang mereka sendiri bangun tentang wahyu ilahi, keyakinan yang tanpa bukti? You believe in your beliefs. 

Sesuatu yang tak ada buktinya, apakah sudah pasti benar? Ya, bisa pasti benar tapi hanya dalam keyakinan.

Apakah kepercayaan itu, sekuat apapun, adalah fakta, atau hanya harapan dan angan-angan dan kemudah-mudahan? 

Watak kepercayaan atau watak iman itu bisa dicontohkan berikut ini. “Semoga besok kamu jadi sarjana”, kata seorang ayah kepada putra tunggalnya. Apakah si anak sudah pasti akan menjadi sarjana nantinya? Belum tentu tokh. Masih diharapkan. Masih mudah-mudahan. Si anak masih harus membuktikan dirinya dulu sudah jadi sarjana, barulah harapan atau iman si ayah terbukti benar. 

“Besok mudah-mudahan tidak turun hujan, supaya pesta kawinmu lancar”, kata seorang ibu kepada putrinya yang semata wayang. Apakah sudah terjamin pasti bahwa besok tidak akan turun hujan? Tidak tokh. Masih mudah-mudahan. Besoklah baru akan ada buktinya, apakah hujan turun, ataukah tidak. 

Bahasa iman, atau bahasa keagamaan, adalah bahasa mudah-mudahan, bahasa semoga, bahasa cita-cita, bahasa angan-angan, bahasa impian dan harapan, bahasa keinginan, bukan bahasa fakta. 

Bagaimana halnya dengan sains? Sains bekerja dalam kerangka epistemologi evidensialis (Latin: evidentia, bukti). Semua klaim tentang kebenaran yang diajukan sains, diajukan berdasarkan bukti-bukti objektif autentik. Tentu juga ditopang oleh pemikiran yang logis kausatif yang runtut, teori-teori besar yang sudah diterima, koherensi argumen-argumen yang diajukan, dan metodologi keilmuan yang sahih.

Ketika sebuah klaim kebenaran saintifik sudah dilandaskan bukti-bukti, klaim ini sudah sangat pasti, tak akan bisa salah lagi. Jika ada bukti-bukti baru penopang ditemukan, pandangan saintifik yang sudah relatif established akan makin lebih solid, lebih unifying, lebih integratif, lewat reformulasi.

Dalam dunia sains, tak ada bahasa “mudah-mudahan”, tak ada bahasa “semoga benar”, sebab bahasa sains bermodus indikatif, bukan bermodus subjungtif. Bahasa sains "It is", bukan "It might be", kendati ada hierarki kepastian dalam dunia ilmu pengetahuan.

Jadi, mana yang lebih pasti, sains yang bekerja dalam koridor epistemologi evidensialis, atau agama yang berdiri di atas epistemologi revelatif fideis? Ya jelas, sains jauh lebih pasti dibandingkan agama. 

Sesuatu yang belum terbukti benar, lewat pengajuan bukti-bukti, jika dipandang probable benar, dalam dunia sains disebut sebagai hipotesis. Dan, sekali lagi, ada hierarki kepastian dalam dunia sains. Kepastian yang berada di bagian-bagian teratas hierarki ini, itulah yang menjadi opsi utama.

Dalam sains, banyak hipotesis diajukan yang menunggu verifikasi (hipotesisnya terbukti positif/benar), atau falsifikasi (hipotesisnya terbukti negatif/salah). Dalam dunia sains, sebuah hipotesis tetap akan diperlakukan sebagai sebuah hipotesis, menunggu falsifikasi atau verifikasi, lewat bukti-bukti autentik objektif yang berhasil dikumpulkan.

Nah, karena semua klaim tentang kebenaran (supernatural) dalam dunia agama tidak dilandaskan bukti-bukti, atau belum dilandaskan bukti-bukti, maka semua klaim ini paling banter bisa diterima hanya sebagai hipotesis-hipotesis. Dunia agama, adalah dunia hipotesis-hipotesis. 

Sayangnya, fakta ini sering tidak mau diterima kalangan agamawan. Mereka suka melakukan “lompatan iman” dengan memperlakukan hipotesis-hipotesis keagamaan sebagai kepastian-kepastian mutlak meskipun tak didukung bukti-bukti objektif autentik. 

Lompatan iman yang kejauhan, bisa membuat anda terperosok ke dalam kubangan yang airnya hitam dan berbau amis. 

Nah, apakah ilmu pengetahuan terbatas dan bisa salah? Ya, ilmu pengetahuan, juga para saintis, memang terbatas, dan bisa salah, bisa keliru. 

Keterbatasan dan kemungkinan salah, sama sekali bukanlah hal-hal yang menakutkan para saintis. Sama sekali bukan momok.

Justru karena dalam dunia sains keterbatasan dan kemungkinan salah diakui, hal ini memicu para saintis untuk menyelidiki segala fenomena alam lebih jauh, mengadakan eksperimen dan observasi lebih banyak, berpikir lebih keras, merumuskan teori-teori dan model-model baru yang lebih kuat, menyusun prediksi-prediksi ke depan yang lebih akurat dan mengujinya berdasarkan bukti-bukti, dan mencari dan mengumpulkan bukti-bukti lebih banyak. 

Semua langkah itu akan menghasilkan pandangan-pandangan saintifik yang lebih unifying, lebih overarching, lebih integratif, lebih kokoh, dan lebih bisa menjelaskan berbagai hal, dari waktu ke waktu.

Nah, jika sains yang berpijak pada bukti-bukti terbatas sifatnya dan bisa salah, apalagi agama, yang semua klaim supernaturalnya tidak dilandaskan bukti-bukti objektif dan autentik apapun! 

Kalau kaum agamawan mengajukan teks-teks kitab suci sebagai bukti, ketahuilah teks-teks kitab suci adalah teks-teks iman, bukan teks-teks fakta; bahwa ihwalnya demikian, dapat diperlihatkan lewat berbagai analisis kritis atas teks-teks suci apapun. Tentu saja, tetap ada fakta dalam bangunan setiap agama, tapi juga ada banyak hal yang bukan fakta. Ada yang bisa dibedakan dengan jelas; tapi ada pula yang sukar karena sudah bercampur.

Semakin kaum agamawan suka berkhayal mengembangkan imajinasi mereka tentang hal-hal gaib adikodrati, semakin sedikit fakta-fakta yang bisa dibela dan dipertahankan agama. 

Padahal, semakin luar biasa klaim-klaim keagamaan yang mereka ajukan, semakin harus mereka memberi bukti-bukti yang juga luar biasa. Extraordinary claims demand extraordinary evidence. 

Jadi, mana yang lebih terbatas: agama atau sains? Jelas, agama lebih terbatas dibandingkan sains. 

Para rohaniwan umumnya merasa ditugaskan oleh Yang Ilahi untuk menjaga dan melindungi misteri-misteri jagat raya, karena mereka berkeyakinan bahwa misteri-misteri ini hanya Allah yang tahu, dan tak boleh dipecahkan. 

Dalam kekristenan, pernah Santo Agustinus (354-430 M) melarang umatnya mengikuti rasa ingin tahu (kuriositas), karena katanya, rasa ingin tahu ini hanya membuat orang masuk ke wilayah-wilayah yang hanya boleh dimasuki Allah, dan tak akan menghasilkan apa-apa jika dicoba disingkap. Persisnya kata sang Santo, begini: 

“Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari.”/1/

Pada pihak lain, hanya dengan mempertahankan misteri-misteri jagat raya, kaum rohaniwan jadi tetap mempunyai tugas dan kewajiban yang dapat mereka pikul: menjaga misteri-misteri ilahi. 

Sebagai para penjaga misteri ilahi, mereka merasa makin berwibawa. Itulah sesungguhnya pekerjaan utama mereka! 

Mereka seharusnya tahu, mempertahankan misteri-misteri jagat raya hanya akan menghasilkan orang-orang beragama yang malas mencari, malas meneliti, dan malas berpikir, atau malah takut berpikir dan takut mengetahui hal-hal baru. Alhasil, sains dan teknologi tidak akan berkembang di tangan mereka! Peradaban tak akan maju. Ketertinggalan akan menjadi pemandangan sehari-hari. Kebodohan akan menjadi mahkota. Ujung-ujungnya: kekalahan total!

Bagaimana dengan para saintis, dengan watak sains? 

Sains dan para saintis justru menghendaki semua misteri jagat raya diungkap, tentu tak bisa sekaligus, tapi bertahap, progresif, dialektis dan kumulatif, dan makin integratif. Tak boleh ada misteri yang tetap tinggal misteri, di hadapan sains. 

Dengan demikian, pengetahuan manusia terus berkembang, bertahap, tambah maju, makin unifying, makin overarching, makin integratif, makin menjawab banyak pertanyaan, terus ke depan, tanpa titik akhir, tanpa batas. Maka, peradaban akan terus melesat.

Jadi, mana yang lebih terbatas: sains atau agama? Jelas, agama sangat jauh lebih terbatas dibandingkan sains.

Poin terakhir. Para agamawan juga kerap menyatakan bahwa sains tidak bisa dipercaya, karena salah satu watak sains yang kuat adalah skeptisisme, bukan absolutisme.

Kata mereka, skeptisisme, yakni sikap meragukan dan mempertanyakan segala sesuatu, pasti membuat anda tidak akan pernah tiba pada kebenaran mutlak yang justru dijamin oleh absolutisme dalam dunia agama-agama. Pasti akan membuat anda gelisah, terombang-ambing.

Ya, benar, skeptisisme adalah watak sains yang sangat mendasar, tetapi watak ini sangat membangun, bukan menghancurkan. Skeptisisme, itulah bahan bakar penggerak mesin perkembangan sains. Skeptisisme membuat orang bertanya, lalu mencari jawaban, alhasil otak terlatih cerdas dan horison pengetahuan terus mengembang.

Hanya dengan meragukan dan mempertanyakan posisi-posisi sains yang sudah mapan, yang sudah relatif established, posisi-posisi saintifik baru akan dicapai, dengan makin kaya dan makin unifying, bukan makin miskin, bukan makin disintegrating dan bukan makin divisive

Ketahuilah, temuan-temuan terobosan baru dalam dunia sains kerap dihasilkan di ujung kegelisahan dan kebimbangan besar para saintis besar. Albert Einstein salah satunya. 

Ketika mereka menemukan masih ada celah dan missing link dalam suatu konstruksi teori besar keilmuan, maka pasti mereka menjadi gelisah, dan bimbang terhadap kebenaran pengetahuan yang sudah ada.

Apakah mereka lalu memutuskan untuk tidur saja dengan berselimut tebal karena stres psikologis sedang melanda mereka? Ya tentu tidak. Para saintis adalah para pejuang dan petempur, bukan pecundang.

Kegelisahan dan kebimbangan malah mendorong mereka untuk mengadakan riset lebih jauh dan lebih dalam lagi, mencari bukti-bukti baru, meninjau posisi-posisi keilmuan yang sudah ada, mengajukan hipotesis-hipotesis baru lalu menguji senuanya. Alhasil, mesin sains akan berputar dan berjalan lebih enerjik lagi, lebih powerful lagi.

Tanpa skeptisisme, sains jelas tidak akan ada, dan, jika sudah ada, tidak akan berkembang; dan lewat skeptisisme kebenaran-kebenaran akan makin lebih banyak didapat. 

Tentu saja, para saintis tahu, kapan harus bersikap skeptik, dan kapan tidak perlu, tidak hantam kromo meragukan segala hal. 

Skeptisisme diajukan, jika ada bukti-bukti yang mendukungnya, dan jika pandangan-pandangan lama terbukti tidak sejalan lagi dengan bukti-bukti baru, atau jika pandangan-pandangan lama tampak terbatas dalam menjelaskan fenomenon-fenomenon yang baru dipantau dan ditemukan lewat observasi dan eksperimentasi yang tak pernah selesai, atau jika orang mengajukan klaim-klaim yang luar biasa tanpa didukung bukti-bukti yang juga luar biasa apapun. 

Semua orang, bukan hanya para saintis, pasti pernah berada dalam sikon skeptik, bahkan dalam hal-hal lain yang bukan menjadi subjek kajian keilmuan. Kita semua pernah skeptik, sejak TK hingga lansia.

Kalau ada orang yang menyatakan bahwa mereka sejak lahir tak pernah merasa ragu, tak pernah skeptik dalam urusan apapun, aahhh... mereka cuma para pembual, hidup dengan penuh penyangkalan atas fakta-fakta, hidup in denial.

Kemampuan bersikap skeptik adalah karunia alam, bagian terpadu dari sistem dan mekanisme neurologis dalam otak kita. Dan tak sedikit perannya dalam survival spesies Homo sapiens.

Keraguan memicu kita bersikap hati-hati, memikirkan kemungkinan-kemungkinan, mencari pilihan-pilihan lain, melakukan analisis dan evaluasi, mengaktifkan fungsi kesiagaan dan kewaspadaan dalam bagian-bagian otak kita.

Pendek kata, seorang saintis sejati pada hakikatnya adalah seorang skeptik.

Nah, bagaimana dengan absolutisme yang didesakkan para agamawan kepada anda? 

Hemat saya, absolutisme hanya mempermiskin dan mengerdilkan horison pengetahuan manusia, dan pada wilayah politik hanya akan menghasilkan para diktator dan tiran religio-politik. 

Ditinjau dari sudut teologi, absolutisme bukan saja tidak bisa sejalan dengan pluralisme keagamaan yang menawarkan banyak kebenaran, tetapi juga mengerangkeng dan mematikan kebenaran. 

Pada dasarnya absolutisme juga memenjarakan sosok Allah yang dipercaya agama-agama sebagai sosok yang mahatahu, yang pengetahuannya yang mahaluas tidak bisa dikuasai satu agama saja atau satu doktrin saja atau oleh satu lembaga keagamaan saja, apalagi oleh satu orang suci saja dari zaman kuno. 

Alih-alih memberi kepastian mutlak, absolutisme, ironisnya, malah memporakporandakan kepercayaan pada adanya Allah yang mahatahu, dan memusnahkan kebenaran-kebenaran. 

Jika ini faktanya, masihkah anda percaya bahwa absolutisme itu menjamin kepastian mutlak tentang Allah, kepastian pada iman keagamaan anda? 

Jika seseorang mengabsolutkan sesuatu, maka dia telah mengerangkeng sesuatu yang diabsolutkannya itu dalam kandang keyakinannya sendiri. Allah yang mahaakbar tak mungkin bisa dikandangkan. Tak mungkin!

Harus ditegaskan sekuatnya, absolutisme membuat agama dan iman anda menjadi kurus kering dan ringkih. Tanpa skeptisisme, agama anda akhirnya hanya pantas ditempatkan dalam sebuah museum fosil agama, atau dimakamkan di dalam tanah sedalam-dalamnya dan selamanya. Dan ketahuilah, para agamawan sesungguhnya adalah para absolutis! Positifkah ini?

Sekali lagi, jika skeptisisme diperhadapkan pada absolutisme, kelihatan bahwa agama jauh lebih terbatas jika dibandingkan sains. Mana yang anda mau rangkul, agama yang mandek karena diabsolutkan, atau sains yang terus maju dan merangkul makin banyak kebenaran karena selalu diragukan?      

Ketika sains makin maju, makin solid, makin bisa menjelaskan semua fenomena alam, maka sumbangan sains bagi kehidupan manusia yang makin baik, akan makin banyak. 

Fakta anda bisa berdiskusi lewat Internet di Facebook atau di Twitter atau lewat WA dll juga adalah prestasi sains, bukan prestasi agama, bukan prestasi iman keagamaan. 

Anda, kaum agamawan, mengklaim akan dapat mengirim umat anda ke sorga setelah kematian. OK-lah, kalau memang iman anda menyatakan begitu. 

Tapi, yang saya ingin lihat adalah, apakah agama dan iman keagamaan anda bisa mengirim para astronot ke Bulan, atau ke planet Mars, sekarang, sementara dunia masih ada, sementara anda masih hidup? 

Yang sudah terbukti adalah, sains dan teknologi modern-lah yang telah mengirim para astronot ke Bulan, dan tak lama lagi ke planet Mars! 

Lalu akan dilanjutkan dengan kolonisasi planet-planet lain dalam sistem Matahari kita demi keabadian organisme cerdas Homo sapiens dalam jagat raya, apalagi seandainya Homo sapiens adalah satu-satunya spesies cerdas pembangun peradaban di seluruh jagat raya! Kita sudah tahu, semakin langka suatu spesies, semakin spesies ini harus dilindungi dan dijaga supaya tetap lestari bertahan hidup.

Oh ya, anda benar, iman keagamaan juga telah berhasil mengirim para martir, terbang menuju dua gedung pencakar langit di New York, dan merobohkan keduanya lewat tabrakan dengan pesawat-pesawat jet yang mereka kendalikan! Peristiwa 11 September yang tak pernah terlupakan bagi orang Amerika dan dunia yang beradab.

Realistis saja, sekarang, tanpa sains dan teknologi modern, sangat mungkin anda tidak akan bisa hidup lagi, atau anda akan lebih cepat mati. Ujilah! Ketahuilah, bentuk dan struktur tubuh kita mengharuskan kita memakai teknologi untuk bisa hidup sehat dan baik. 

Karena itu, janganlah lagi menjauhkan umat anda dari ilmu pengetahuan. Kasihan mereka jika anda berbuat begitu.

Saya himbau, sebarkanlah ajaran-ajaran agama yang makin membuat umat anda haus ilmu pengetahuan. Beragamalah, tapi dengan cerdas! Dan juga dengan riang dan kalem.

Usahakanlah, komunitas keagamaan anda tahu dan terbuka untuk menerima sains sekalipun banyak pandangan saintifik yang tak klop dengan dunia ide dan dunia simbolik keagamaan anda. 

Tahukah anda, Tuhan itu bekerja dialektis dalam menyingkap kebenaran-kebenaran untuk kebaikan dan kemajuan semua insan yang diciptakan-Nya. Beragama, seperti sejarah sudah perlihatkan, berarti hidup dalam dialektika tesis-antitesis-sintesis, yang dijalani dengan hepi dan penuh semangat seperti halnya para ilmuwan.

Sudah saatnya, mabuk kepayang agama di negeri anda ini diakhiri, jika negeri anda mau maju dan terpandang di dunia dan mampu berkompetisi kecerdasan dan kejeniusan di aras global. 

Cerdaskan bangsa anda lewat ilmu pengetahuan, dan jangan lagi memperbodoh dan meninabobokan mereka lewat ajaran-ajaran agama yang anti-sains atau lewat ajaran-ajaran agama yang penuh takhayul.

Jika anda mencintai Tuhan YMTahu dan MTakterbatas, maka anda akan seharusnya cinta juga pada ilmu pengetahuan yang memberi anda pengetahuan-pengetahuan yang terus berkembang tanpa batas tentang segala hal dalam jagat raya ini, sejalan dengan ketakterbatasan Tuhan. 

Kemahatahuan Tuhan yang tanpa batas itulah sumber segala ilmu pengetahuan. Menyangkal ilmu pengetahuan, ya berarti menyangkal kemahatahuan Tuhan. Apakah anda mau begitu? Saya yakin, tidak.

Dus, ilmu pengetahuan adalah jalan agung dan mulia tanpa ujung menuju Tuhan YMTahu dan MTakterbatas. 

Makin dekat Tuhan, makin cinta dan makin haus ilmu pengetahuan. 

Tak ada benturan antara beribadah kepada Tuhan dan berilmu tinggi. Ini kabar baik buat kita semua setelah kita dihadapkan pada benturan-benturan antara skeptisisme dunia sains dan absolutisme dunia agama.

Setiap ilmuwan niscaya adalah hamba Tuhan, kawan seperjalanan Tuhan YMTahu menuju kawasan-kawasan baru ilmu pengetahuan yang tak memiliki batas akhir.

Ucapkanlah: Karena saya mencintai Tuhan YMTahu, saya juga mencintai ilmu pengetahuan dan kecerdasan.

Salam,
ioanes rakhmat

Editing mutakhir 7 Maret 2020

---------------------

/1/ Pernyataan Agustinus ini dikutip dalam Charles Freeman, The Closing of the Western Mind: The Rise of Faith and the Fall of Reason (London: Heinemann, 2002), hlm. vii.