Lompatan iman, suatu eskapisme yang terburu-buru
Jangan khawatir, ada iman jenis lain yang membangun, yakni iman yang dijalankankan dengan terus "mencari untuk mendapatkan" dan terus "mengetuk pintu untuk dibukakan", iman yang terekspresi dalam pemakaian "segenap akal budi untuk mengasihi Tuhan". Ini spiritualitas rangkap lima: kasih, iman, rasa ingin tahu atau kuriositas, akal dan nalar, pengetahuan.
Terkait lompatan iman, ada baiknya pada kesempatan ini saya memperkenalkan anda pada tiga kaidah penting yang berlaku dalam dunia sains, yang dinamakan kaidah Occam’s Razor atau Lex parsimoniae (Latin; artinya "kaidah paling hemat kata")./11/
Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit.
Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit.
Ketiga, jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan iman.
Makin sedikit asumsi atau pengandaian dipakai dalam bangunan suatu posisi keilmuan, semakin kuat bangunan ini. Sebaliknya, semakin banyak asumsi dimasukkan ke dalam sebuah teori keilmuan, semakin lemah teori ini, sebelum akhirnya ambruk.
Occam's Razor dikenal sebagai penalaran abduktif, di samping dua penalaran yang lainnya: deduktif dan induktif.
Atas: "simple", sederhana, gamblang, hemat kata. Bawah: "complicated", rumit, berbelit, kusut. "The preferential option for the simple" berlaku dalam dunia ilmu pengetahuan. Sumber gambar: VectorStock.com
Kesederhanaan atau kesimpelan dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa
“Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.”
Fideisme
Dalam ranah filosofis, lompatan iman melahirkan apa yang dinamakan fideisme. Sebagai sebuah mazhab filosofis keagamaan, fideisme menegaskan bahwa iman (Latin: fides) berdiri independen dari akal, bahkan bermusuhan penuh dengan akal.
Bagi para penganut fideisme, nalar tidak diperlukan dan tidak patut dipakai di saat seorang yang beragama mengamalkan dan menjustifikasi kepercayaan-kepercayaan keagamaan mereka. Bagi mereka, yurisdiksi iman berbenturan dengan yurisdiksi nalar.
Yang diketahui sebagai orang pertama yang memberi landasan fideisme adalah seorang Bapak gereja yang bernama Tertullianus (c. 160-230 M). Bapak gereja ini bertanya retoris, “Sesungguhnya ada hubungan apa antara Athena [baca: nalar] dan Yerusalem [baca: iman]?”
Jauh belakangan, Alvin Plantinga mendefinisikan fideisme sebagai “suatu ketergantungan yang eksklusif dan dasariah pada iman saja, yang disertai oleh suatu peremehan dan cemooh terhadap nalar, dan digunakan khususnya dalam pengejaran kebenaran filosofis dan keagamaan.”
Kata Plantinga, seorang fideis adalah seseorang yang “mengharuskan orang bergantung hanya pada iman alih-alih pada akal, dalam hal-hal filosofis dan keagamaan” dan yang “akan terus-menerus meremehkan dan mencemooh dan merendahkan akal.”/12/
Karena sains juga dibangun dengan landasan-landasan filosofis keilmuan,/13/ maka tak heran jika para fideis sangat meremehkan dan mencerca sains, bahkan menuduh akal dan pikiran adalah Tuhan para ilmuwan.
Science connects
Keempatbelas, tujuan sains sangat jelas, bukan untuk menyembah apapun, tapi untuk menjelaskan seluruh realitas kosmik dan realitas mikrokosmik lewat metodologi saintifik, tahap demi tahap, dengan makin luas dan makin inklusif dan integratif dari saat ke saat.
Karena realitas kosmik itu sangat luas dan mencakup banyak dimensi, dan realitas mikrokosmik ("dunia" quantum) berisi hal-hal yang "asing" atau "sukar dipahami" atau "weird", maka dengan sendirinya muncullah beranekaragam sains yang perlu bekerjasama dan saling mendukung dalam rangka memahami dan menjelaskan sebanyak-banyaknya fenomena alam dan fenomena sosial.
Semakin dalam anda memasuki dunia berbagai sains, dan memandang realitas sosial dan realitas kosmik dan mikrokosmik dari banyak sudut pandang saintifik, semakin dalam anda akan melihat fakta-fakta bahwa segala sesuatu dalam jagat ini berhubungan satu sama lain, terikat satu sama lain. Science connects, does not disconnect!
"The infinite unknown"
Tentu saja saya mengakui bahwa kendatipun sains modern sudah sangat maju, dan lewat kerjasama antar berbagai disiplin sains banyak hal dalam dunia bisa dijelaskan secara natural, tetap saja akan selalu ada hal-hal yang belum bisa dijelaskan seluruhnya atau sebagian darinya oleh sains modern. Tetap saja akan ada wilayah-wilayah yang belum bisa dimasuki dan dijelaskan oleh sains dengan sempurna. Saat sebuah misteri tersingkap, misteri baru muncul tak terhindar. Begitu seterusnya.
Science is a voyage to the unknown. "The unknown" ini infinite, tak berhingga.
Kendatipun demikian keadaannya, para saintis tentu saja tidak akan melakukan lompatan iman sebagaimana sudah dikemukakan di atas, dengan menyatakan hal-hal yang masih sebagai misteri, yang masih "unknown", sebagai mukjizat atau peristiwa atau fakta atau fenomena yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah.
Jika menghadapi situasi-situasi semacam itu, para saintis memiliki keyakinan bahwa kajian-kajian saintifik lebih jauh nantinya akan bisa menjelaskan hal-hal yang kini masih belum bisa dijelaskan.
Hal-hal yang "masih belum bisa dijelaskan", sebut saja "celah-celah" atau "gaps", tidak akan pernah diisi dengan sosok Allah oleh para saintis. Praktek mengisi "gaps" dengan figur Allah atau "God" lazim cepat-cepat dilakukan orang yang beragama. Inilah praktek yang dinamakan solusi "God of the gaps" yang sudah banyak dilakukan orang yang beragama. Praktek ini selalu berakhir dengan kekecewaan mereka karena lambat-laun para ilmuwan dapat mengisi "gaps" tersebut dengan konten-konten ilmiah.
Kalau para agamawan menyebut hal-hal yang tidak/belum bisa dijelaskan ini sebagai mukjizat atau kejadian supernatural, para saintis akan menyatakan hal-hal itu sebagai hal-hal natural yang belum bisa dijelaskan sekarang, tapi suatu saat di masa depan, tahap demi tahap, sains akan bisa menjelaskannya dengan sempurna.
Ada baiknya saya mengutip seorang pakar Perjanjian Baru, Rudolf Bultmann, pada kesempatan ini:
“Adalah mustahil untuk kita memakai cahaya listrik dan alat-alat komunikasi nirkabel, dan menyediakan bagi kita temuan-temuan dalam dunia medis dan ilmu bedah modern, namun pada saat yang sama kita mempercayai dunia roh-roh dan mukjizat-mukjizat seperti yang digambarkan Perjanjian Baru.”/14/
Sejalan dengan Bultmann, teolog yang bernama John Macquarrie dengan bagus menyatakan hal berikut ini, terkait dengan hukum sebab-akibat atau "causal laws":
“Cara memahami mukjizat sebagai pelanggaran terhadap tatanan alam dan sebagai intervensi dunia supernatural masuk ke dalam pandangan dunia mitologis, dan tidak berlaku lagi di dalam dunia pemikiran pasca-mitologis....
Konsepsi tradisional mengenai mukjizat tidak dapat didamaikan dengan pemahaman modern kita yang datang dari sains dan sejarah. Sains bekerja berdasarkan asumsi bahwa peristiwa-peristiwa apapun yang terjadi di dalam dunia dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan peristiwa-peristiwa lain yang juga berlangsung di dalam dunia.
Dan jika pada saat-saat tertentu kita tidak dapat menjelaskan dengan lengkap beberapa kejadian... keyakinan saintifik kita adalah bahwa lewat riset-riset yang lebih jauh kita akan, dalam situasi ini, dapat menemukan faktor-faktor yang lebih jauh, faktor-faktor yang akan terbukti sebagai faktor-faktor imanen dan natural, sama seperti faktor-faktor lain yang sudah diketahui.”/15/
Kelimabelas, sejalan dengan agama-agama dan dengan dunia kesenian, sains memiliki nilai-nilai agung yang para saintis mau wujudkan supaya kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Pemisahan sains dan nilai-nilai sebetulnya adalah sebuah ilusi yang sudah lama dipertahankan, dan sekarang harus dilepaskan sama sekali. Neurosaintis Sam Harris menegaskan bahwa “pemisahan antara fakta-fakta dan nilai-nilai, dengan demikian antara sains dan moralitas, sesungguhnya adalah sebuah ilusi.”/16/
Bahwa sains juga melahirkan nilai-nilai agung, sudah saya uraikan dalam tulisan saya yang berjudul "Sciences and Values" yang sudah saya rujuk di atas.
Nah, jikalau estetika yang diberi oleh seni itu sebuah nilai, seni dan sains juga seiring dan sejalan, sebagaimana diungkap oleh Jacob Bronowski, bahwa
“Manusia itu unik bukan karena dia menemukan sains dan juga bukan karena dia membangun seni, tetapi karena sains dan seni itu sama-sama merupakan ungkapan-ungkapan plastisitas pikirannya yang menakjubkan.”
Bahwa sains dan nilai-nilai tak terpisahkan, kelihatan jelas misalnya dalam sains evolusi. Lewat sains ini kita menemukan bahwa semua organisme dalam alam ini, yang dimulai dari organisme bersel tunggal prokariota dan eukariota, terhubung satu sama lain oleh mata rantai evolusi biologis. Dari fakta ini, sebuah nilai muncul: semua organisme dalam alam ini tak terpisah satu sama lain, alias semuanya bersaudara.
Pesan persaudaraan universal dari sains evolusi ini ironisnya bertolakbelakang dengan praktek-praktek diskriminasi, segregasi dan permusuhan antar-manusia yang ditimbulkan oleh ajaran-ajaran keagamaan dan ideologis tertentu, seperti kita sedang lihat sekarang ini di mana-mana.
Keenambelas, berbeda dari dunia agama di mana para agamawan dari semua agama dapat kuat terdorong untuk memuliakan dan mengkultuskan diri mereka sendiri setinggi-tingginya, para saintis dengan rendah hati mengabdikan diri hanya pada sains untuk terus mengembangkannya.
Hingga saat ini, tidak ada satupun saintis dunia yang disembah atau dikultuskan kendatipun sumbangan-sumbangan keilmuan mereka sangat esensial bagi peradaban manusia dan bertahan langgeng. Mereka dipandang sebagai para saintis agung, great scientists, atau sebagai "giants in science", tapi tidak ada seorangpun dalam dunia ini yang menyembah mereka.
Ketujuhbelas, berbeda dari dunia agama yang dapat menjadikan orang fundamentalis, para saintis tak akan pernah menjadi fundamentalis-sains.
Sebutan “saintis fundamentalis” juga sebuah oxymoron. Sebutan ini kerap dipakai oleh sejumlah orang, terutama dari kalangan para agamawan, untuk menyerang secara ad hominem saintis-saintis tertentu (misalnya Richard Dawkins) yang cakap memperlihatkan berbagai kelemahan dan kesalahan fatal dalam pandangan-pandangan kaum agamawan mengenai ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan evolusi.
Sayangnya Dawkins kerap tak santun dalam menilai dunia agama-agama. Berat sebelah. Sebab tidak segala sesuatu di dalam setiap bangunan agama itu menumpulkan akal, menimbulkan teror dan anti-modernitas. Ada metafora-metafora dalam agama-agama yang dapat membangun kehidupan. Ini kritik tajam saya ke Dawkins yang mengidap "Dawkins delusion"./17/
Kedelapanbelas, sains sama sekali bukan agama, dan agama juga bukan sains, meskipun keduanya bergerak dalam dunia kebenaran-kebenaran dan dunia nilai-nilai.
Bedanya, sementara sains terus mencari dan mempertanyakan kebenaran berdasarkan bukti-bukti empiris, agama mengabsolutkan bahkan mendewakan sebuah kebenaran atau sebuah doktrin yang diterima begitu saja dengan iman tanpa bukti apapun sebagai wahyu ilahi yang diasumsikan tidak bisa salah, infallible, dan diyakini berlaku mutlak untuk segala zaman dan di segala tempat.
Jadi, ya perlu diingatkan bahwa para agamawanlah, bukan para saintis, yang sebetulnya mempertuhan iman mereka pada sesuatu yang mereka klaim sebagai kebenaran mutlak. Mereka beriman kepada iman mereka yang mereka sendiri absolutkan.
Lebih jauh, perlu diingatkan terus-menerus bahwa hampir dalam semua agama, bahkan termasuk yang monoteistik, juga dalam kekristenan yang memiliki doktrin Tritunggal, para agamawan ada yang mempertuhan kitab suci, dogma-dogma dan iman mereka sendiri, karena semuanya ini mereka beri sifat dan aura ilahi: sudah sempurna seperti Allah dan tak bisa salah dalam segala hal dan berlaku abadi di mana pun, dan, karena itu, tidak boleh digugat sama sekali. Dalam suatu aliran Kekristenan, doktrin "inerrancy of the Bible" membuka pintu bagi masuknya pemberhalaan Alkitab atau bibliolatri.
Itulah delapanbelas butir alasan mengapa para saintis tak akan pernah mempertuhan pikiran mereka. Tuduhan kalangan beragama yang cuma bisa melihat ke satu arah itu salah total, tuduhan yang sepatutnya ditujukan kepada diri mereka sendiri.
Tuhan itu "undefined"
Selain itu, ada sebuah problem besar dalam dunia agama-agama yang perlu disadari para agamawan: ada sangat banyak definisi tentang siapa atau bagaimana atau apa itu “Allah”, yang berbeda satu sama lain.
Sebetulnya, bagi saya, karena Tuhan itu mahatakterbatas, infinite, maka tak ada satu pun definisi teologis yang bisa menangkap dan mengurung Tuhan. The infinite God itu "undefined", tak bisa dibatasi dalam definisi apapun. Let God be God! Heninglah, berdiam dirilah, pejamkan mata, tundukkan kepala. Be silent. God is the holy silent.
Jadi, jika banyak definisi tetap dibangun dan dikompetisikan, muncullah sebuah pertanyaan: Allah yang manakah yang harus dipandang sebagai Allah yang sebenarnya yang harus disembah?
Nah, berebut definisi tentang kebenaran tak akan ditemukan dalam dunia sains, sebab para saintis bekerjasama lintas-zaman dan lintas-tempat untuk mencari kebenaran-kebenaran saintifik yang objektif, berdasarkan analisis-analisis mereka atas bukti-bukti empiris yang tersedia dan diobservasi.
Prestasi sains itu real
Meskipun sains tak pernah mencapai titik final, selalu sementara, bisa salah, dan tidak mampu menjelaskan segala sesuatu dalam sekejap, namun sains ternyata efektif bekerja dan membuahkan hasil-hasil yang real, yang kita semua bisa lihat dan sedang nikmati. Lihatlah ke dalam kehidupan anda dan ke dunia luas, ternyata sains dan teknologi modern sedang masuk ke dalam segala sesuatu.
Meskipun sains bisa salah, faktanya kita (baca: negara-negara Barat yang modern, Russia, China, dll) sekarang sudah berhasil mengirim sejumlah wahana antariksa tanpa awak atau dengan berawak ke planet-planet lain dan bulan-bulan lain dalam tata surya kita.
Kendatipun sains bisa salah, nyatanya ilmu kedokteran dan pengobatan modern kita makin maju, dan lewat kemampuan-kemampuan teknologi pengobatan banyak penyakit dapat disembuhkan.
Kendatipun sains bisa salah, kita semua sekarang ini tak bisa lagi melepaskan diri dari Internet yang dihasilkan oleh sains dan teknologi informasi dan komunikasi modern, yang membuat seluruh dunia terhubung dan komunikasi nirkabel berjalan sangat cepat dan akan terus makin cepat.
Kekuatan terbesar apakah yang sedang menbentuk dunia kita sekarang? Sains-tek modern, bukan agama apapun! Tak ada kekuatan lain selain sains modern, yang kini sedang membentuk kehidupan kita secara mendasar dan menyeluruh.
Anda bisa mencoba tinggalkan semua agama, dan anda masih akan bisa hidup dengan baik. Orang ateis melakukan itu. Coba tinggalkan sains-tek modern sama sekali, lalu lihat apakah anda masih bisa hidup dengan sehat, baik, fungsional dan berprestasi maju?
Tentu anda bisa hidup sekarang ini di goa-goa sama seperti ketika dulu manusia-manusia purba hidup di zaman batu, sama sekali terisolasi dari modernitas. Tetapi siapkah anda dengan kehidupan semacam ini? Dan menurut anda apakah kehidupan semacam ini manusiawi, dan apakah kehidupan semacam ini bisa memberi sumbangan signifikan bagi dunia luas?
Bayangkanlah suatu masyarakat yang terisolasi, yang mengobati diare dengan jampi-jampi, tanpa antibiotik, tanpa vaksin untuk imunisasi tubuh, dan di sana angka kematian bayi dan ibu yang hamil tinggi, anak-anak tak sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan tapi hanya bermain dan kadang berkelahi. Tak ada listrik, tak ada mobil, tak ada mall, tak ada tempat hiburan. Tak ada sekolahan. Tak ada komputer. Tak ada Internet. Tak ada dokter. Tak ada rumah sakit. Tak ada kemajuan dan tak ada perubahan!
Jika anda memiliki kesadaran nurani yang matang dan rasa kemanusiaan anda tinggi, dan sudah tahu apa itu modernitas, anda pasti menolak kondisi-kondisi kehidupan semacam itu. Kearifan-kearifan lokal baik untuk dirawat, tapi jangan dijadikan "agama" fundamentalis yang anti-modernitas, dus berubah menjadi ketidakarifan.
Jadi, adalah suatu imperatif etis untuk anda datang ke sana untuk membawa hal-hal yang telah diberikan sains dan teknologi modern yang menjadikan kehidupan manusia lebih baik, lebih sehat, lebih tangguh, lebih imun, lebih berbahagia, lebih manusiawi, lebih toleran, dan lebih maju.
"Back to nature"?
Mungkin sekali anda juga mau menegaskan bahwa hidup kembali sepenuhnya ke alam (back to nature), tanpa memakai sains dan teknologi modern, adalah mungkin dilakukan oleh anda, dan mungkin anda segera juga mengacu ke suku bangsa Badui (juga Kubu dan Semang) yang kata anda hidup hanya bergantung pada dan bersama alam, tanpa bersentuhan dengan modernitas./18/
Well, dalam tradisi filosofis Barat, gerakan “back to nature” dihubungkan banyak orang ke filsuf Jean-Jacques Rousseau (1712-1778) yang hidup pada era Pencerahan Eropa, kendatipun Rousseau sendiri sebetulnya tidak menganjurkannya.
Tetapi Rousseau memang membangun sebuah pemikiran filosofis tentang kodrat alamiah manusia dalam dua karya perdananya, A Discourse on the Sciences and Arts (1750) dan The Discourse on the Origin of Inequality (1753).
Menurut Rousseau, dalam kondisi alamiahnya manusia minimal adalah makhluk yang amoral, artinya tidak baik dan juga tidak jahat, atau maksimal makhluk yang “ganas tetapi ksatria”. Berbeda dari hewan-hewan lain manusia memiliki kemampuan bernalar yang membuat mereka dapat membangun peradaban dan hidup dalam masyarakat.
Kata Rousseau, justru ketika peradaban dan masyarakat dibangun, akhlak manusia menjadi rusak. Ilmu pengetahuan dan kesenian tak sedikit perannya dalam kemerosotan moral manusia.
Alih-alih menganjurkan manusia kembali ke alam, “back to nature”, Rousseau dalam bukunya Social Contract (1762) dengan eksplisit menyatakan bahwa ketika manusia meninggalkan kondisi alamiahnya, mereka dapat membangun kehidupan masyarakat berdasarkan kontrak sosial, yang dengannya kebajikan moral yang lebih tinggi dapat dicapai.
OK-lah, kalau anda yakin bahwa anda bisa hidup sepenuhnya hanya dengan alam, dan melepaskan sains dan teknologi modern sama sekali, seperti sedang dijalani suku-suku terasing yang anda sebut itu.
Tapi, bukankah setiap warga dewasa Badui wajib mempunyai selembar e-KTP, dan KTP adalah sebuah kartu identitas yang dikeluarkan pemerintah dalam sistem administrasi kependudukan modern? Lewat kepemilikan sebuah KTP, setiap orang Badui dewasa ikut serta dalam pengelolaan administratif sebuah komunitas secara modern. Jadi, tak tersentuhkah mereka dengan modernitas? Ini hanya sebuah contoh saja.
Juga, tahukah anda, alam juga bisa dan kerap berubah menjadi sangat tidak bersahabat lagi dengan manusia walaupun anda sangat sayang kepada alam, yakni ketika berbagai bencana alam dahsyat menerjang anda dan masyarakat anda yang hidup menjauh dari modernitas.
Dalam kondisi-kondisi terpajan pada bencana-bencana alam yang sangat mematikan, hanya sains dan teknologi modern yang bisa membantu anda mengelakkannya atau mengurangi penderitaan yang ditimbulkan olehnya.
Kalau kata anda orang yang menyatu dengan alam akan ikhlas jika diterjang suatu bencana alam sampai seluruh komunitas mereka musnah, hemat saya, ini bukan sebuah keikhlasan, tetapi sebuah tindakan bunuh diri massal lewat pembunuhan menyeluruh akal budi mereka, yang kalau dipakai sebetulnya akan bisa menyelamatkan mereka.
Ilustrasi penyebab kepunahan dinosaurus 66 juta tahun lalu. Sumber gambar: beloji.com
Tentu anda tahu apa yang terjadi pada reptil-reptil besar 66 juta tahun lalu, yang dinamakan dinosaurus dalam berbagai jenis. Nyaris semuanya (bersama 47% subfamili organisme laut, dan 18% famili organisme vertebrata darat) punah karena sebuah meteor besar jatuh menimpa planet Bumi kita lalu merusak seluruh ekosistem yang ada. Mengapakah mereka punah meski banyak yang bertubuh sangat kuat, tangguh dan besar?/19/
Ya, karena mereka tidak memiliki organ otak yang mempunyai bagian terdepan yang dinamakan neokorteks seperti yang ada pada mamalia Homo sapiens atau manusia cerdas dan berakal. Neokorteks inilah yang memampukan manusia berpikir cerdas, berakal, bernalar, dan membangun iptek, yang ditemani dengan kearifan.
Di masa depan, kejadian serupa juga akan sewaktu-waktu terulang kembali pada planet Bumi sekalipun anda sangat bersahabat dan ramah pada Bumi. Siapa atau apakah yang dapat menyelamatkan planet Bumi dan semua spesies yang hidup di Bumi jika sebuah meteor raksasa menghantam planet kita lagi di masa depan?/20/
Atau jika bintang Matahari kita, karena aktivitas fusi nuklir di dalam intinya, membengkak menjadi sebuah bola api raksasa yang siap menelan dan memanggang planet Bumi dan seluruh penghuninya?
Sains dan teknologi modern-lah yang menjadi andalan kita untuk survival kita di masa depan. Caranya?
Ya lewat pemantuan benda-benda langit yang jauh-jauh hari sudah terlihat sedang bergerak menuju Bumi oleh instrumen-instrumen teknologis dan lewat metode-metode penyelamatan yang kini sedang dicari, dibuat simulasinya, dan ada yang sedang diujicoba.
Ya lewat pembangunan pemukiman-pemukiman baru Homo sapiens di planet-planet lain, misalnya planet Mars, sebelum bintang Matahari mengembung dan siap melahap dan memanggang kita bersama planet kita, atau lewat teknologi maju "pendongkelan" planet Bumi menjauh dari bintang Matahari./21/
Masih jauh di masa depan, Homo sapiens yang nanti akan menjadi organisme "transhuman"--- yakni organisme hibrid biologi dan teknologi--- akan tidak lagi menjadi organisme cerdas penghuni Bumi atau sistem Matahari saja, tetapi juga akan menjadi organisme cerdas jagat raya.
Ilmuwan yang beragama
Saya tentu saja harus menegaskan bahwa dalam setiap zaman dan di banyak tempat tentu selalu ada orang-orang beragama yang telah memberi sumbangan penting dan mendasar bagi dunia sains. Banyak kepercayaan keagamaan yang mampu menjadikan manusia organisme yang mulia, agung, bajik dan haus ilmu pengetahuan. Tapi, ada juga yang sebaliknya. Pilihlah dengan cerdas dan gembira.
Tetapi mereka menjadi saintis bukan karena agama mereka langsung, tetapi karena metode-metode saintifik universal yang mereka gunakan (eksperimentasi, observasi, instrumentalisme, empirisisme, dan verifikasi) dan langkah-langkah penalaran yang mereka pakai (deduksi, induksi, dan abduksi) dalam penyelidikan-penyelidikan mereka.
Jika metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik ini dipakai oleh siapapun, yang beragama apapun, di zaman kapanpun, dan di manapun, hasil-hasilnya atau temuan-temuannya akan selalu sama. Bukan agamanya, tetapi metode-metode dan penalaran saintifik yang dipakainya, yang menjadikan seorang yang beragama saintis.
Tidak ada sains skriptural, tidak ada sains agama, tidak ada sains Hindu, tidak ada sains Buddhis, tidak ada sains Yahudi, sains Kristen, sains Islam, dst. Tidak ada sains sektarian. Tidak ada sains esoterik. Semua sains yang janggal ini adalah oxymoron. Yang ada hanya sains, science proper, atau bona fide science, yang berlaku universal, tak pernah absolut, dan dimiliki jagat raya.
Penutup
Akhir kata, saya ingin ingatkan sesuatu kepada anda, teman-teman agamawan.
Karena dalam dunia agama anda perlu dan harus memuja dan menyembah sesuatu, kehidupan keagamaan anda hemat saya perlu diimbangi dan didampingi oleh suatu dunia yang lain, yang di dalamnya orang tidak menyembah sesuatu apapun, tetapi juga terdorong untuk mewujudkan kebahagiaan, kebajikan dan ketahanan kehidupan manusia.
Dunia lain ini, yang di dalamnya tidak ada pengkultusan individu dan penyembahan kepada apapun, adalah dunia ilmu pengetahuan.
Karena Tuhan itu mahatahu, maka Dia adalah sumber segala pengetahuan. Dus, Tuhan, YMHadir dan YMBerada, juga ada dan berkarya dalam dunia ilmu pengetahuan. Jadi, setiap ilmuwan adalah kawan sekerja Tuhan, hamba-hamba Tuhan, petarung-petarung rendah hati dalam ladang kemahatahuan Tuhan. Mereka sedang berjalan menuju kemahatahuan Tuhan lewat jalan mulia dan agung ilmu pengetahuan yang tanpa ujung. Inilah yang saya namakan spiritualitas saintifik.
Dengan ditemani dan dibantu oleh ilmu pengetahuan, anda akan tertolong untuk bisa mengetahui kapan anda perlu beriman dan kapan anda perlu bernalar, kapan anda perlu mengarahkan wajah anda ke dunia supernatural dan kapan ke dunia natural. Anda tidak perlu lagi memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi peringkatnya dibandingkan nalar dan dunia natural.
Anda mulai sekarang perlu menempatkan dua wilayah ini sebagai dua wilayah yang satu sama lain paralel, dan anda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran yang kuat kapan anda harus masuk ke dunia yang satu, "the otherworld", dan kapan ke dunia yang lainnya, "this world"./22/
Jika anda masih saja memandang iman dan dunia supernatural lebih tinggi, maka, sebagai para fideis, bukankah, sejauh anda konsekwen dan konsisten, anda sudah seharusnya hanya perlu beriman dan hanya perlu memandang ke dunia supernatural saja, dan mengabaikan sama sekali nalar dan dunia natural? Bukankah, sejauh anda konsisten dan konsekwen fideis, iman saja sudah cukup bagi semua segi kehidupan anda?
Tapi saya tahu, anda selamanya tidak akan pernah bisa konsekwen dan konsisten, jika anda memutuskan menjadi seorang fideis absolut.
Malah, saya yakin, sekarang ini anda lebih sering hidup dengan dipandu akal dan mementingkan dunia natural, ketimbang dipandu iman dan mementingkan dunia supernatural, kendatipun secara lisan anda menyatakan diri keras-keras sebagai seorang fideis.
Fideisme akan selalu membuat batin dan pikiran anda terbelah-belah, lalu anda mengambil sikap tidak jujur baik kepada diri anda sendiri, kepada masyarakat, maupun kepada Tuhan anda.
Karena itu, demi menjaga integritas anda, lebih baik anda juga merangkul dunia sains, merangkul saintisme (maksudnya: sikap mental yang terbuka penuh pada sains, dan konsisten bersikap ilmiah), karena anda memang pada masa kini sudah tidak bisa hidup lagi tanpa sains dan teknologi modern.
Saintisme bukan pemberhalaan sains (karena sains tidak bisa diberhalakan), tapi, sekali lagi, suatu sikap dan pola pikir yang konsisten saintifik ketika orang menjelaskan dan memahami semua fenomena alam dan fenomena sosial.
Menempatkan fideisme dan saintisme dalam posisi yang bersahabat, jelas akan jauh lebih baik bagi anda, meskipun untuk bisa menyeimbangkan keduanya anda harus mengeluarkan dan memakai energi mental yang sangat besar. Anda akan lebih lelah, tentu saja, tapi tidak ada jalan lain jika anda ingin cerdas beragama dalam kehidupan anda.
Catatan-catatan
/1/ Charles Sanders Peirce (selain John Dewey dan William James) adalah salah seorang terpenting dalam aliran filsafat empirisisme dan pragmatisisme yang memberi landasan-landasan filosofis bagi sains modern. Fallibilisme Peirce tak dapat dilepaskan dari dua posisi lainnya yang diajukannya: evolusionisme dan indeterminisme. Untuk uraian bagus tentang fallibilisme Peirce, lihat Elizabeth F. Cooke, Peirce’s Pragmatic Theory of Inquiry: Fallibilism and Indeterminacy (London/New York: Continuum, 2007).
Fallibilisme diajukan Peirce sebetulnya juga sebagai penolakannya terhadap doktrin infallibilitas Paus yang dipegang Gereja Roma Katolik; Peirce menyebut fallibilisme-nya sebagai “fallibilisme dengan rasa sesal” (“contrite fallibilism”), bahwa kesalahan-kesalahan adalah suatu bagian yang perlu dan niscaya dari pencarian kebenaran.
Peirce maunya masuk ke GRK, tapi dia tidak bisa karena logika sains melarangnya. Lihat biografi Peirce yang ditulis Joseph Brent, Charles Sanders Peirce: A Life. edisi perbaikan yang diperluas (Bloomington dan Indiana Polis: Indiana University Press, 1993, 1998), hlm. 237.
/2/ Tentang "metacognitive skill", lihatNancy Chick, "Metacognition", Center for Teaching, Vanderbilt, 2013,https://cft.vanderbilt.edu/guides-sub-pages/metacognition/. Juga John D. Bransford, Ann L. Brown, Rodney R. Cocking, eds, How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School (expanded edition, Washington DC, The National Academic Press, 2000), p. 12, https://www.nap.edu/read/9853/chapter/1; dan https://www.nap.edu/catalog/9853/how-people-learn-brain-mind-experience-and-school-expanded-edition.
/3/ Ioanes Rakhmat, "Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar?", Freidenk Blog, 9 Juni 2014, dimutakhirkan 17 Februari 2020,
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/06/apakah-aliens-cerdas-ada-di-angkasa.html?m=0.
/4/ Ioanes Rakhmat, "Paradoks Fermi atau Silentium Universi", Freidenk Blog, 2 Januari 2014, dimutakhirkan 15 Februari 2020, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/01/paradoks-fermi-atau-great-silence-atau.html?m=0.
/6/ Richard Dawkins, The Magic of Reality: How We Know What's Really True (illustrated by Dave McKean) (New York etc.: Free Press, 2011), hlm. 18 ff.
/7/ Sejauh sudah ditemukan oleh para arkeolog, agama natural tertua dipraktekkan oleh orang Basarwa di Ngamiland, Botswana, Afrika Selatan, 70.000 tahun lalu. Lihat reportase “World’s oldest religion discovered in Botswana” pada http://www.afrol.com/articles/23093.
/8/ Tentang hubungan otak dan pengalaman spiritual, saya sudah beberkan panjang lebar. Lihat Ioanes Rakhmat, "Pengalaman-pengalaman Spiritual Ditinjau dari Neurosains", Freidenk Blog, 8 November 2011, update mutakhir 17 Mei 2019, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html?m=0.
/9/ Lihat Ioanes Rakhmat, "Sciences and Values", Freidenk Blog, 17 November 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/11/sciences-and-values.html?m=0.
/10/ Lihat Howard V. Hong dan Edna H. Hong, eds., Concluding Unscientific Postscript to Philosophical Fragments. Søren Kierkegaard. Vol. I. Dengan Introduksi dan Catatan-catatan (Princeton, N.J.: Princeton University Press, 1992), hlm. 11-12, 102, 113.
/12/ Alvin Plantinga, “Reason and Belief in God,” dalam Alvin Plantinga dan Nicholas Wolterstorff, eds., Faith and Rationality: Reason and Belief in God (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 1983), hlm. 87.
/13/ Tentang landasan-landasan filosofis sains modern, lihat Ioanes Rakhmat, "Landasan-landasan Filosofis bagi Sains Modern", Freidenk Blog, 21 Januari 2014, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2014/01/landasan-landasan-filosofis-bagi-sains.html?m=0./14/ Rudolf Bultmann, New Testament and Mythology and Other Basic Writings. Diseleksi, diedit dan diterjemahkan oleh Schubert Ogden (Philadelphia: Fortress Press, 1984), hlm. 4.
/15/ John Macquarrie, Principles of Sacred Theology. Edisi kedua. (New York: Charles Scribner’s Sons, 1977), hlm. 248.
/16/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Humn Values (New York, N.Y.: Free Press, 2010), hlm. 179. Ulasan panjang lebar tentang hubungan sains dan nilai-nilai juga telah saya berikan dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 219-257.
/18/ Komunitas Amish yang terhubung dengan Gereja Menonit juga menolak banyak kemudahan dan kesenangan yang diberikan oleh teknologi modern. Info tentang komunitas Kristen tradisional ini, lihat Wikipedia: “Amish”, pada http://en.wikipedia.org/wiki/Amish.
/21/ Isi alinea ini telah dibeberkan dengan luas dalam Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), bab 8 (hlm. 259-298) dan bab 10 (hlm. 325-341).
Baca juga