Showing posts with label Akal dan iman. Show all posts
Showing posts with label Akal dan iman. Show all posts

Saturday, September 14, 2013

Apa arti “mencintai Tuhan dengan segenap akal budi”?




Lewat olah akal, masuk ke dalam pengalaman mistik, masuk ke, dan berdiam di dalam, Tuhan yang mahatahu, erat saling mencintai.


GOD EXISTS, THEREFORE I THINK

Sungguh tak paham saya apa itu agama, baik atau buruk, berguna atau malah menyusahkan, bajik atau jahat, jika untuk beragama dengan saleh si penganut harus membunuh akalnya sendiri.

Saya lama hidup dalam kepercayaan pada sebuah agama yang memerintahkan saya untuk mencintai Tuhan dengan segenap akal budi saya. Tapi hal yang memprihatinkan adalah banyak sekali orang di dalamnya yang mengabaikan perintah yang bagus ini.

Mungkin mereka bersikap demikian karena mereka tidak tahu atau bingung bagaimana bentuk menjalankan perintah ini. Mereka biasa beriman, tak pernah berpikir, atau bahkan mereka takut berpikir, karena mereka beranggapan: berpikir akan membawa mereka ke dalam kesesatan. Tak terpikir oleh mereka bahwa justru dengan tanpa berpikir, mereka akan pasti tersesat.

Karena itu, saya dengan bebas ingin menyebut sekian poin apa artinya hidup dengan mencintai Tuhan dengan segenap akal budi. 

Harapan saya, setelah membaca poin-poin berikut ini, banyak orang akan tercerahkan, lalu memasuki kehidupan beragama dalam suatu perspektif yang baru, yang di dalamnya akal budi mendapat tempat yang terhormat sebagaimana patutnya.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti sangatlah tidak cukup jika orang hanya beriman dalam beragama, apalagi beriman tanpa diterangi akal budi, beriman dengan membuta yang kerap menimbulkan bencana, azab, penderitaan dan malapetaka, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan masyarakat dan dunia.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi haruslah berarti membangun suatu hubungan dialektis terus-menerus antara hidup beriman dan hidup berpikir, antara perasaan dan nalar, antara cita-cita atau angan-angan dan realitas faktual, antara mitos-mitos dan kisah-kisah teologis skriptural dan kenyataan-kenyataan objektif.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti mencapai kedamaian yang langgeng antara kemauan hati dan kemauan akal, dan hidup bersumber serentak dari hati dan akal. Hati memberi kita puisi dan madah, akal memberi kita matematika dan aljabar, dan kita jadi hidup sehat berkat keduanya.

Pernah diteorikan bahwa otak kiri kita memberi logika dan kemampuan bernalar, otak kanan kita memberi rasa, cinta, empati dan belarasa. Otak kiri dan otak kanan membentuk otak kita yang utuh. Meski pemisahan fungsi mental otak kanan dan otak kiri sudah dinyatakan keliru, tapi tetaplah benar otak kita seutuhnya, kiri dan kanan sekaligus, memang memberi kita semua kemampuan itu. Kemampuan atau kecakapan hard skills dan soft skills sekaligus.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti mensyukuri dengan tanpa batas adanya akal budi dalam diri kita yang memampukan kita bernalar, menjalankan scientific reasoning

Tanpa akal budi yang memandu bisa jadi kita sebagai suatu spesies sudah lama punah, karena tak mampu menahan, menanggulangi, menghindari, dan mencegah lewat iptek berbagai bencana alam yang datang menerjang dalam planet Bumi sendiri, atau dari angkasa luar seperti yang telah terjadi pada dinosaurus non-avian 66 juta tahun yang lalu.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi mengharuskan saya memakai semua kemampuan dan daya jelajah akal budi saya tanpa batas, sebagai sebuah bentuk ibadah yang mulia, dalam segala aspek kehidupan.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi mengharuskan saya juga merangkul erat semua pandangan ilmu pengetahuan tentang semua realitas, semua fenomena kosmik dan fenomena mikrokosmik, dengan pikiran terbuka, hati yang senang dan penuh syukur.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti kita harus bebas, leluasa dan bertanggungjawab menggunakan akal budi kita untuk menghasilkan banyak kebaikan bagi semua organisme, kehidupan, planet Bumi dan jagat raya. Akal budi membuat kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Akal budi melahirkan etika.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti juga mengembangkan sains tanpa batas sebagai sebuah bentuk ibadah mulia yang diterima dengan sangat senang oleh Tuhan.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi mendorong kita, lewat aktivasi akal budi dengan sistimatis metodologis, untuk masuk ke dalam dunia ilmu pengetahuan yang bersumber dari kemahatahuan Tuhan yang tanpa batas. Cinta kepada Tuhan bergandengtangan dengan kecerdasan dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti menggunakan akal dan sains untuk mendatangkan kebajikan dan kebahagiaan sebesar-besarnya bagi umat manusia dan untuk mempertahankan kelestarian organisme cerdas ini dalam jagat raya.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti pantang berpikir jahat tentang orang lain, tentang Tuhan sendiri, tentang kehidupan, tentang alam, tentang masa depan, dan pantang memakai akal budi untuk tujuan-tujuan yang jahat. 

Selain itu, jika kita tahu ada orang yang jahat dan durjana, karena kita mengasihi Tuhan dengan akal, maka kita perlu berpikir cerdas bagaimana membantu orang-orang semacam itu, dalam batas kemampuan kita, berubah bertahap menjadi baik dan bajik.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti juga berani dan bergairah memikirkan terus-menerus dengan kritis hakikat sang Tuhan. Masuk ke pengalaman mistikal lewat olah akal budi.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti membiarkan akal budi saya memikirkan segala seluk-beluk sang Tuhan dengan tanpa batas, dengan riang, bergairah dan penuh syukur. Karena Tuhan itu ada, maka aku berpikir. God exists, therefore I think.

Allah ada, karena itu aku berpikir, atau, karena itu aku berani berpikir leluasa. Ini yang benar. 

Sangat salah dan bodoh jika orang berpendapat, Tuhan ada, karena itu aku tidak boleh berpikir, atau, karena itu aku takut berpikir, atau karena itu aku harus memusuhi dan menumpas akalku.

Mencintai Tuhan dengan segenap akal budi berarti menempatkan akal budi dalam status semulia-mulianya sebagai jalan agung menuju Tuhan, lewat ilmu pengetahuan yang dibangun akal ilmiah insani. 

Akal budi datang dari Tuhan, karena itu dengan akal budi kita datang kembali ke Tuhan. Akal budi insani dan Tuhan berinteraksi, membuat sebuah gerak siklikal yang abadi.

Karena itu, tak ada yang perlu dicurigai atau ditakuti kalau akal budi bekerja, dengan dilandasi moral yang agung dan kebajikan yang mulia. 

Galileo Galilei menegaskan, “Aku tidak merasa wajib untuk percaya bahwa Allah yang sama yang telah memberi kita indra, nalar, dan intelek, juga menginginkan kita untuk tidak menggunakan semuanya itu.”

Semakin dalam dan jauh anda berpikir, sampai ke batas-batas terujung pikiran anda di suatu momen, semakin dekat anda ke sang Tuhan sebagai sang Pikiran Teragung yang tanpa batas, yang mahatahu. Saat anda tidak berpikir, Tuhan menjauh dari anda, dan anda terasing dari-Nya.

Kita, manusia, dibuat secitra dengan sang Tuhan ini lewat akal budi yang diberi oleh-Nya lewat evolusi spesies, yang memampukan kita berpikir dan bernalar. Tentu lumba-lumba, ikan paus, oktopus dan gajah adalah hewan-hewan yang cerdas. Tapi tak ada organisme lain yang memiliki tingkat kecerdasan seperti yang ada pada manusia. Akal menjadikan kita organisme yang istimewa, yang mampu membangun persahabatan dengan semua bentuk kehidupan lain yang memiliki kesadaran dan pengenalan diri.

Mahafisikawan Stephen Hawking menulis, “Kita hanyalah suatu keturunan kera-kera yang lebih maju, yang mendiami sebuah planet kecil yang mengorbit pada sebuah bintang yang sangat biasa. Tetapi kita dapat memahami jagat raya. Itu menjadikan kita sesuatu yang sangat spesial.”

Akhirnya yang satu ini: Aku mencintai Tuhan, karena itu aku berpikir, dan aku berpikir, karena itu aku mencintai Tuhan. Aku berpikir, dan mencintai Tuhan, karena itulah aku ada.

I love God, therefore I think. I think, therefore I love God. I think, and I love God, therefore I am.

Ucapan filsuf rasionalis RenĂ© Descartes cogito, ergo sum,  “aku berpikir, maka aku ada”, tentu sangat bagus, dan dalam banyak segi benar adanya, tapi tidak cukup. Kok?

Ya, soalnya, orang dari berbagai agama yang tak mau berpikir, atau membenci pemikiran yang maju dan berbeda, juga mengklaim diri mereka ada lantaran, kata mereka, Allah sudah menciptakan mereka untuk hanya menaati segala hal yang telah tercantum dalam kitab-kitab suci mereka yang ditulis di zaman-zaman sangat lampau dan di dunia-dunia yang berbeda.

Aku beda. Bagiku, lewat cinta dan kecerdasan pikiranku tentang sang Tuhan, aku menyatu dengan-Nya, dengan Dia yang mahapecinta dan mahatahu, dan Dia diam di dalam aku, erat, sejuk dan memberi kedamaian. Cinta, kecerdasan, dan Tuhan, adalah tiga serangkai yang tak terpisahkan, tritunggal yang real bekerja dalam dunia ini.

Pikiran kecil menyatu kembali dengan sang Pikiran Besar yang tak terbatas.

Bak seorang bayi masuk kembali ke dalam rahim bundanya. 

Bak lahar menyatu kembali dengan perut gunung.

Bak air sungai menyatu kembali dengan samudera raya. 

Bak curahan hujan lebat tersedot habis oleh akar-akar pepohonan dalam hutan-hutan rimba yang perawan. 

Bak bilah keris menyatu dengan sarung keris, atau bak sarung keris masuk ke dalam bilah keris. 

Bak bintang-bintang dan planet-planet dan cahaya tersedot ke dalam black hole sebuah galaksi. 

Bak sebuah lubang jarum masuk ke sehelai benang.

Oh Tuhan yang mahatahu, Engkau membuatku bergelora untuk berpikir supaya aku juga, tahap demi tahap, makin tahu lebih banyak dan lebih banyak lagi, lewat kerja akal budiku, dan makin dekat, makin dekat kepada-Mu.

Cintaku kepada-Mu dan pikiranku tentang-Mu saling merangkul, dan dengan keduanya aku memeluk-Mu ya Tuhan dalam suatu dekapan yang hangat dan sejuk abadi. Aku kangen Engkau, dan Engkau juga kangen aku.

Itulah semua yang saya namakan spiritualitas saintifik.

Stay blessed. 
Ioanes Rakhmat 

Baca juga
Oh akal, mengapa kau selalu dicurigai?

 

Saturday, July 13, 2013

Oh akal, mengapa kau selalu dicurigai?



Oh akal, mengapa dikau selalu dicurigai?


Umumnya para pemuka keagamaan menegaskan kepada umat mereka agar dalam membangun kesalehan, umat jangan memakai akal, tetapi memakai iman. Mereka diharuskan hanya beriman atau yakin mutlak pada semua yang tertulis dalam kitab suci sebagai kebenaran-kebenaran mutlak yang hanya perlu dipercaya benar dan harus dibela mati-matian, dan tak perlu akal dibawa masuk untuk mencampuri. 

Lalu tegas mereka juga, iman mendekatkan umat kepada Allah sedangkan akal menjauhkan mereka dari Allah dan semua kebenaran-Nya yang sudah ditulis dalam kitab suci. 

Juga kata mereka, berimanlah dulu sekuat-kuatnya kepada semua hal yang sudah tertulis dalam kitab suci. Jika iman sudah sangat kuat, tak bisa digoyahkan, barulah umat boleh melakukan penyelidikan kitab suci dengan akal demi dan hanya demi memperkokoh hal-hal yang sudah diterima iman sebagai kebenaran-kebenaran.

Pertanyaan saya: Apakah sikap dan pandangan negatif terhadap akal dari banyak pemuka keagamaan itu memang benar dan membangun kehidupan, ataukah salah dan meruntuhkan kehidupan?

Saya persilakan para pemuka keagamaan menjawab pertanyaan saya di atas, dengan sebelumnya saya mengajak mereka untuk memikirkan dalam-dalam sembilan hal yang saya kemukakan berikut ini.

(1) Adalah suatu fakta sejarah bahwa jauh sebelum agama-agama disusun dan kitab-kitab suci ditulis, manusia sudah punya akal, dan lewat akal ini mereka mempertahankan kehidupan mereka dan membangun masyarakat dan kebudayaan mereka. 

Tanpa akal, manusia pada zaman yang sangat lampau akan tak bisa bertahan dan tak mungkin berkembang, atau malah akan musnah karena tak bisa menghadapi bencana-bencana alam dahsyat, seperti musnahnya reptil-reptil besar yang dinamakan dinosaurus 66 juta tahun lalu karena sebuah meteor besar menumbuk Bumi yang berakibat rusaknya nyaris seluruh ekosistem di planet ini.

(2) Jika manusia tidak memiliki akal, apakah agama-agama bisa dibangun dan kitab-kitab suci bisa ditulis, dibaca dan dimengerti, dan lembaga-lembaga keagamaan bisa dikelola dan dikembangkan?

Kalaupun para agamawan mengklaim bahwa kitab-kitab suci mereka adalah wahyu-wahyu Allah, apakah wahyu-wahyu Allah bisa diterima dan ditulis dan dipahami jika para penerima dan pemakai wahyu itu tidak memiliki akal dan tidak menggunakan akal mereka? 

(3) Jika semua kitab suci disingkirkan dari kehidupan manusia, manusia jelas masih akan bisa hidup dengan baik. Tetapi jika akal, yang memunculkan ilmu pengetahuan dan teknologi, ditiadakan dari diri manusia, semua manusia jelas tidak akan bisa bertahan hidup lagi, dan peradaban pun akan hancur dan binasa. 

(4) Cobalah kita hitung, dalam zaman modern sekarang ini berapa persen dari gerak-gerik kehidupan kita setiap hari ditentukan oleh agama, dan berapa persen oleh sains dan teknologi yang bisa dibangun dan dikembangkan manusia karena manusia memiliki akal. 

Cobalah bayangkan, apa jadinya dengan kita semua jika kita sama sekali tidak memiliki ilmu dan teknologi kedokteran dan pengobatan, ilmu dan teknologi pertanian, perkebunan, persawahan, perikanan, kelautan, pertambangan, dlsb, ilmu dan teknologi pendidikan, perekonomian, perdagangan, industri, dlsb, ilmu dan teknologi informasi, komunikasi dan cyber. Dan seterusnya. 

Tanpa akal, bisakah sekarang kita hidup dengan semakin hari semakin sehat dan semakin dipermudah dalam banyak bidang kehidupan? Bisakah anda hidup dengan baik dalam satu hari jika akal anda, dalam satu hari ini, tidak anda pakai sama sekali?

(5) Apakah tanpa organ otak dan sistem-sistem saraf, iman bisa muncul, sementara kita sudah tahu bahwa lewat aktivitas organ lembut putih keabuan dengan berat 1,5 kg dalam tempurung kepala dan sistem-sistem neurologis, kita mampu ber-akal?

Dilihat dari sudut neurologis, iman dan akal, atau akal dan iman, keduanya berproses dan aktif dalam satu organ yang sama: otak manusia. Tanpa otak, tak ada akal dan tak ada iman. Jika iman dan akal adalah produk-produk aktivitas otak, mengapa hanya iman yang diutamakan sementara akal ditenggelamkan?

(6) Bukankah dengan meminta umat hanya mengimani isi kitab-kitab suci dan tak boleh memikirkan dengan kritis isi kitab-kitab ini dengan akal, maka banyak pengetahuan sejarah, pengetahuan sosial-politik, pengetahuan bahasa, pengetahuan budaya, pengetahuan umum, pengetahuan ilmiah kontemporer, dlsb, yang melatarbelakangi teks-teks semua kitab suci tidak akan mereka ketahui?

Bukankah perintah untuk hanya mengimani isi kitab-kitab suci sesungguhnya membuahkan pembodohan umat, membuat mereka tak bisa memahami dengan akal kitab suci mereka sendiri?

Jika hanya iman terhadap huruf-huruf teks-teks kitab suci yang diandalkan, siapa yang bisa menjamin bahwa isi iman ini sudah benar?

Bukankah penjaminnya sebetulnya adalah doktrin-doktrin agama tentang kitab suci itu sendiri yang dipertahankan dan diimani umat (bahwa kitab suci mereka wahyu Allah sepenuhnya, jadi tidak mungkin salah dalam segala hal yang sudah tertulis) dan bukan isi kitab sucinya sendiri yang sangat mungkin sebagian besar darinya, jika ditafsirkan dengan benar lewat akal, sebenarnya bertentangan dengan isi iman mereka?

Jadi, yang terjadi adalah iman menjamin iman, kepercayaan menjamin kepercayaan. Atau, anda percaya pada kepercayaan anda, pada suatu belief system yang anda bangun sendiri, bukan pada Tuhan YMTahu. Jika demikian, apakah iman atau kepercayaan yang semacam ini memiliki dasar yang valid?

(7) Bukankah perintah untuk hanya memakai iman, dan menolak akal, dalam pengembangan kesalehan keagamaan hanya akan menimbulkan akibat-akibat lebih luas berupa dihasilkannya masyarakat yang sangat religius tetapi bodoh dan ketinggalan ilmu pengetahuan. Dihasilkannya banyak malaikat yang taat kepada Tuhan tetapi dungu dalam dunia ilmu pengetahuan. Dihasilkannya orang beragama yang sangat rajin membaca kitab-kitab suci tetapi sangat malas membaca buku-buku sains yang terus berkembang. Dihasilkannya masyarakat religius yang berani beriman tetapi takut berpikir dan membenci ilmu pengetahuan?

Jika itu yang terjadi, hancur dan lenyaplah sebuah masyarakat, sebuah negara, sebuah peradaban.

(8) Menurut anda, akal itu datangnya dari mana, kalau anda percaya bahwa Tuhan anda adalah sang pencipta jagat raya, sang pencipta manusia?

Kalau menurut anda, akal adalah pemberian Tuhan, apakah Tuhan anda ini membenci dan mencurigai akal, menganaktirikannya, dan menganakemaskan iman?


Bayangkan, Tuhan macam apakah jika Dia membenci akal manusia yang sudah diciptakan-Nya?

Apakah Tuhan anda sangat takut pada akal, sama seperti anda? Atau jangan-jangan, anda melawan Tuhan anda ketika anda memerintahkan umat anda untuk membenci dan mencurigai akal, dus juga membenci dan mencurigai sains yang dihasilkannya?

Jadi, jika Tuhan itu sang pemberi akal kepada manusia, adalah logis jika Tuhan juga ingin anda menggunakan akal anda semaksimal mungkin, pun saat akal anda mempertanyakan Tuhan sendiri. Tuhan YMTahu tak akan pernah takut untuk diselidiki lewat nalar manusia.

Orang yang memahami iman dengan keliru, yang beriman dengan membuta dan antiakal, merekalah yang takut memakai nalar mereka, atau tidak tahu bagaimana berakal dan bernalar. Kondisi semacam ini tentu sangat mendukakan Tuhan YMTahu yang memberi anda akal.

(9) Akhirnya, jika bagi anda Tuhan itu mahatahu, maka sesungguhnya semua pengetahuan yang anda peroleh ketika anda memakai akal anda, adalah pengetahuan yang tidak berada di luar pengetahuan-Nya. 

Karena Tuhan itu mahatahu, tak ada ilmu pengetahuan yang tak dikehendaki-Nya ada dalam dunia ini. Kemahatahuan Tuhan sudah seharusnya mendorong anda untuk terus mencari ilmu pengetahuan setinggi-tingginya dan seluas-luasnya tanpa pernah berhenti.

Semakin anda yakin bahwa Tuhan itu mahatahu, semakin bebas, ringan dan riang anda dalam mencari dan membangun ilmu pengetahuan tanpa habis lewat akal anda dan lewat akal banyak orang lain lintas zaman dan lintas ruang. 

Semakin anda yakin bahwa Tuhan itu mahatahu, semakin anda cinta pada akal dan pada ilmu pengetahuan yang dihasilkannya.

Jadi, sudah seharusnya cintailah dan utamakanlah akal anda, wahai para pemuka keagamaan!

Ajarkanlah demikian juga kepada umat anda. 

Jika anda takut akan ditanyai banyak pertanyaan oleh umat anda jika mereka piawai memakai akal mereka, usaha mengatasi rasa takut anda ini bukanlah memperbodoh mereka, melainkan andalah yang harus mengembangkan diri anda sendiri dengan memakai, melatih dan mengasah akal anda sendiri.

Jika umat anda berpengetahuan luas karena mereka membaca banyak buku ilmu pengetahuan, maka anda juga perlu membaca buku-buku ilmu pengetahuan jauh lebih banyak lagi. Rajin membaca kitab suci tentu bagus, tetapi tidak cukup. Sebab Tuhan bekerja lewat kitab-kitab suci dan juga lewat akal dan ilmu pengetahuan.

Dengan memakai akal dan berbagai ilmu pengetahuan dalam memahami teks-teks kitab-kitab suci, anda akan menjadi cerdas dalam beragama. 

Stay blessed.


ioanes rakhmat


Baca juga:
Aku mencintai Tuhan, karena itu aku berpikir
Benarkah para saintis mempertuhan pikiran mereka?