Sunday, April 15, 2012

Mempertahankan dogma, atau membarui dogma?

Gereja, museum fosil, atau laboratorium riset? Sekilas tentang GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, Jawa Tengah



Pasar tradisional Jawa menginspirasi lahirnya TEOLOGI ALUN-ALUN



Pendahuluan

Sehabis membaca tuntas buku baru saya, Memandang Wajah Yesus (terbit 2012),/1/ seorang pendeta di Jambi mengirim sebuah SMS kepada saya, tulisnya: “Saya benar-benar puas dengan buku Pak Ioanes ini, sebuah buku tentang Yesus yang sudah lama saya tunggu, yang perlu dibaca semua orang yang berkepentingan dengan Yesus.”

Tapi itu komentar seorang pendeta yang masih mau berkembang, berubah, dinamis, yang gairah intelektualnya masih hidup dan kuat.

Komentar semacam itu hanya bisa ditulis oleh seorang pendeta yang melihat ihwal mencari dan mendapatkan ilmu sebagai sebuah panggilan dan sebuah kebajikan.

Tuhan itu mahatahu. Jadi, sumber segala ilmu pengetahuan ya Tuhan. Maka, siapapun yang haus ilmu pengetahuan, mereka rindu dan mau minum dari air pengetahuan Tuhan yang mahatahu. Barangsiapa mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan, mereka berjalan di jalan Tuhan yang tanpa ujung. Mereka adalah para hamba Tuhan.

Komentar sejenis terhadap buku saya itu hanya bisa diungkap oleh seorang pendeta yang tak mau tunduk pada rutinitas dan kebiasaan pekerjaan pendeta sebagai pekerja gereja.

Komentar semacam itu hanya bisa diekspresikan oleh seorang pendeta yang tak tak takut keamanan posisinya dan ketenteraman jiwanya akan terganggu. Zona aman sudah ditinggalkannya, lalu masuk ke zona tantangan, perubahan dan risiko.

Tapi bagi para pendeta yang melihat diri harus mempertahankan, melindungi dan mensakralisasi dogma-dogma kuno yang disusun belasan abad lalu, halnya tak demikian.

Akidah jumud

Bagi para rohaniwan yang melihat diri sebagai para penjaga dan pelindung akidah-akidah yang sudah jumud alias usang, mengeras, sudah ketinggalan zaman, menjadi fosil, buku MWY saya itu menyesatkan, karena itu harus dijauhi dan dibatasi persebarannya.

Banyak rohaniwan studi lama di luar negeri untuk meraih gelar doktor dengan biaya sangat mahal tapi dengan satu tujuan saja: untuk makin piawai menjaga dogma.

Motif mereka meraih gelar doktor hanya satu: menjadi pakar yang ahli membela dan mempertahankan akidah-akidah gereja yang sudah membatu, sudah jumud, yang mereka lihat sedang terancam oleh kritik-kritik para pembaru gereja atau kritik-kritik para ikonoklas.

Bagi kalangan mereka, semakin ahli mereka mempertahankan dogma-dogma jumud, semakin besar pahala mereka di sorga, dan semakin hebat nama mereka dalam dunia ini.

Filsafat pendidikan

Filsafat pendidikan yang mereka anut sangat aneh: semakin terpelajar mereka, semakin pakar mereka, maka semakin tak bisa diubah pikiran mereka, dan semakin tak bisa digoyang posisi mapan mereka.

Padahal filsafat pendidikan yang benar adalah: semakin seseorang banyak belajar, semakin cair dan mengalir dia, semakin berubah dirinya, pandangannya dan sikapnya, dan semakin jauh dia memasuki masa-masa depan yang menantang, menggairahkan, dan penuh kemungkinan-kemungkinan baru yang menakjubkan sekaligus penuh risiko.

Ketika bertemu dengan orang-orang yang berbeda, mereka yang membela kejumudan bukan berdialog dengan kesediaan berubah dan mengalami pertumbuhan intelektual, malah berapologetik, membela diri dan dogma-dogma jumud mereka dengan segala cara yang dihalalkan.

Bagi kalangan mereka, berubah doktrin, berubah pandangan, adalah tanda kelemahan watak dan iman. Bagi mereka sebutan “konservatif” adalah sebutan yang menimbulkan kebanggaan dan rasa percaya diri.

Kalau bagi saya dan bagi sangat banyak orang lain sebutan “liberal” adalah sebutan yang agung dan membanggakan, bagi mereka sebutan ini hanya pantas diberikan kepada setan-setan. Kalau bagi saya gereja yang berubah adalah gereja yang hidup, bagi mereka kalau gereja berubah, gereja ini pasti akan sesat, binasa, dan dikhianati.

Batu karang, simbol kekokohan sekaligus kejumudan gereja!


Semangat Reformasi yang aneh

Kalau perubahan menandakan adanya kehidupan dan gerak maju, bagi mereka suatu pengkhianatan dan kontaminasi terhadap kemurnian masa lampau yang tak bisa dimaafkan. Kata “perubahan” adalah kata yang sangat menakutkan mereka, dan harus dijaga tak terjadi pada kaum mereka. Anehnya ada banyak dari antara mereka yang dengan bangga memegang semboyan Gereja Reformasi sebagai cerminan identitas gereja mereka.

Tahukah anda bunyi semboyan Gerakan Reformasi Gereja abad ke-16 yang dimulai di Jerman oleh Martin Luther? Bunyi semboyan itu, “ecclesia reformata semper reformanda”./2/ Dengan bebas semboyan ini dapat diartikan, gereja Protestan adalah gereja yang terus-menerus membarui diri.

Walaupun itu bunyi semboyan identitas mereka, ironisnya gereja Protestan masa kini pada umumnya berwatak dogmatis kuat, anti-pembaruan dan konservatif. Kalaupun mereka menyatakan diri melakukan pembaharuan, ini dilakukan supaya kemurnian doktrin dapat kokoh dipertahankan. Memang aneh: membaharui gereja supaya gereja tak berubah, tetap lama, tetap puritan, dus tetap usang. Semboyan yang bertopeng kepalsuan, ya?!

Maka dapat dimaklumi, ketika ada pendeta-pendeta gereja-gereja Protestan yang mulai melakukan pembaruan internal gereja mereka dalam arti sebenarnya kata “pembaharuan”, mereka akan pasti dihadang oleh pimpinan tertinggi organisasi gereja mereka.

Seorang sahabat

Saya mempunyai seorang teman dekat yang kini bekerja sebagai pendeta di GKJ (Gereja Kristen Jawa) Dagen-Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Teman saya ini, Pdt. Novembri Choeldahono, selama lebih dari sepuluh tahun terakhir ini berusaha keras membarui GKJ-nya dalam banyak segi. Pembaruan yang sedang dijalankan teman saya ini dkk-nya di GKJ-nya mencakup pembaruan akidah, ritual, sumber daya, sumber dana, moral dan keterlibatan sosial.

Teman saya ini, sejak bersama-sama saya kuliah di tahun 1980-an di sebuah perguruan tinggi teologi di Jakarta, sudah menampakkan diri sebagai seorang yang kreatif. Menurutnya, seorang yang kreatif itu adalah “seorang yang berjiwa petualang, yang tidak suka hidup hanya pada jalur dogmatis yang dirasakannya sebagai belenggu, dan berani untuk bergerak beyond, bergerak melampaui atau melompati, rumusan-rumusan akidah-akidah yang konvensional untuk mencari sesuatu yang baru, berani mengambil risiko dan selalu berperan sebagai pelopor.”/3/

GKJ Dagen-Palur

Gedung gereja Cempaka, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar

Saya ingin memberi beberapa gambaran saja mengenai pembaruan besar yang sedang dia dkk-nya lakukan di gerejanya. Pembaruan yang paling kelihatan secara fisik adalah pembaruan di bidang ritual (liturgi) di GKJ-nya.

Pagelaran wayang dia dkk bawa masuk ke dalam acara-acara ritual gereja. Sebagai contoh, dalam acara penahbisan Pdt. Indri Jatmoko pada 1 Januari 2014 di GKJ Dagen-Palur, para punakawan dalam kisah pewayangan Jawa, yang dikenal dengan nama Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, tampil dalam liturgi sebagai sosok-sosok pemberi wejangan-wejangan./4/

Kita tahu, pada 21 April 2004 di Paris, Prancis, UNESCO lewat Direktur Jendralnya Koichiro Matsuura mengukuhkan wayang Indonesia sebagai sebuah Karya Agung Budaya Dunia (sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity)./5/

Menurut Pdt. Jatmoko, wayang sebagai warisan budaya leluhur perlu dilestarikan dan dikembangkan sebagai suatu karya seni adiluhung yang mampu mengembangkan nilai-nilai universal dan pendidikan agama yang humanis dalam rangka mewujudkan kehidupan yang penuh kedamaian./6/

Bukan hanya wayang, tapi juga unsur-unsur ritual dari agama-agama lain, termasuk dari agama-agama suku, dibawa masuk ke dalam gerejanya. Membakar dupa lidi dan kemenyan dalam ibadah (sesuatu yang lumrah di gereja Katolik) menjadi salah satu unsur ritual gereja GKJ-nya. Menabur bunga warna-warni dari baskom berair, dilakukan dalam ritual ibadah di GKJ-nya, sesuatu yang orang bisa hubungkan dengan ritual kultik paranormal.

Ketika ada penahbisan pendeta, para sesepuh dan pemimpin dari agama-agama lain, termasuk agama-agama suku dan aliran-aliran kepercayaan, ikut menumpangkan tangan mereka di atas kepala pelayan yang sedang ditahbis. Mereka semua dipandang sebagai orang-orang yang berhati kudus, yang berkomitmen untuk menegakkan harkat dan martabat manusia. Dalam setiap acara penahbisan pendeta, mereka menaikkan doa-doa dan menyampaikan restu mereka.

Simbol salib yang umum tak bisa disingkirkan dari bangunan gereja manapun, disingkirkannya dengan alasan salib adalah lambang kutuk ilahi. Meskipun demikian, makna-makna positif simbolik lainnya dari salib, misalnya sebagai simbol komitmen perjuangan sampai titik darah terakhir, atau sebagai simbol ketegaran dalam menghadapi kelaliman, tetap dipertahankan.

Sudah saya tulis di atas, teologi, moral, sumber daya, sumber dana, dan keterlibatan sosial juga mengalami pembaruan hampir menyeluruh di GKJ-nya.

Syahadat atau pengakuan iman yang dipegang GKJ Dagen-Palur juga unik, sudah meninggalkan syahadat-syahadat kuno gereja yang disusun belasan abad lampau di Eropa. Dalam syahadat gereja ini, tema-tema modern seperti multikulturalisme, kesetaraan gender, pemeliharaan ekologi, penentangan terhadap kekerasan, dan penegakan HAM, diberi tekanan khusus./7/

Kebebasan finansial

Dari keseluruhan tujuh pendeta yang kini bekerja di GKJ Dagen-Palur, teman saya ini, bersama tiga rekannya di gereja yang sama, tidak menerima gaji dari GKJ-nya.

Sebagai gantinya, mereka aktif menjalankan peternakan ayam sendiri atau usaha-usaha kecil lainnya. Selain itu, dia juga menghidupkan beberapa LSM yang ikut menopang pekerjaan-pekerjaan pembaruannya dalam gereja-gereja dan masyarakat Jawa Tengah. Mereka sudah berkomitmen untuk bukan saja membangun kemandirian teologi dan ritual, tetapi juga meraih dan mempertahankan kemandirian dan kebebasan finansial. Hal kemandirian finansial ini nyaris tak ditemukan dalam gereja seperti GKI; para pendeta di situ semuanya menerima jaminan finansial dan jaminan-jaminan lain dari gereja yang sudah mapan ini.

Teman-temannya yang juga pendeta, yang juga tak takut melakukan pembaruan, bersama gereja mereka masing-masing bergabung masuk ke GKJ-nya, membentuk korps kependetaan yang makin tangguh dan gereja lokal yang makin besar dan luas. Dari tahun ke tahun, para pendeta GKJ lain yang pindah dan masuk serta bergabung ke GKJ Dagen-Palur bersama gereja mereka masing-masing, makin banyak, bukan makin sedikit.

Budaya lokal

Nama GKJ Dagen-Palur makin dikenal sebagai gereja tempat berkumpulnya para pendeta pembaharu, yang tanpa takut terus melangkah maju. Tujuan pembaruan yang mereka sedang jalankan antara lain adalah membuat gereja-gereja berakar pada dan tumbuh dari kebudayaan asli mereka sendiri, kebudayaan Jawa, dan menjadikan gereja-gereja sebagai komunitas-komunitas rekonsiliatif dan liberatif yang terbuka bagi siapapun yang mau masuk ke dalamnya untuk mencari, menemukan dan menyebarkan persaudaraan, perdamaian, pembebasan dan keadilan.

Dalam komunitas-komunitas keagamaan semacam itu, penganut agama-agama lain, seperti dikatakan Pdt. Ratna Prajati yang bekerja di GKJ Dagen-Palur, tidak dilihat sebagai musuh, lawan atau saingan. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai kawan-kawan sekerja, saudara, sesama, yang memiliki tujuan yang sama, yakni mendatangkan kesejahteraan bagi manusia dan semua makhluk lainnya dalam alam ciptaan Allah./8/

Seperti diungkap oleh Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi yang juga bekerja di GKJ Dagen-Palur, masyarakat Jawa (termasuk di dalamnya wong Ngayogyakarta dan wong Sala) dikenal sebagai masyarakat yang memiliki watak semedulur, yakni watak senang bersaudara dengan semua orang, ramah satu sama lain, dan suka menolong berdasarkan prinsip gotong-royong. Di dalam diri mereka terkandung jiwa suka damai dan menjauhi permusuhan. Inilah budaya damai orang Jawa, yang membentuk kapribaden Jawa. Dengan budaya damai dan kepribadian Jawa ini, arus budaya kekerasan yang kini melanda di banyak tempat di Indonesia, juga di Jawa Tengah, dapat bersama-sama dilawan./9/

Budaya damai

Tepat sekali jika perjuangan real menegakkan budaya damai oleh gereja-gereja di Indonesia dilihat sebagai bagian dari gerakan global untuk menegakkan budaya damai di planet Bumi, sebagaimana telah dicanangkan oleh lembaga PBB UNESCO dalam Declaration on a Culture of Peace./10/ Menurut Pdt. Jatmoko, pendidikan agama yang humanis, yang sedang dirintisnya, memerlukan antara lain para pendidik yang berjiwa damai yang mampu membangkitkan semangat perdamaian secara luas kepada setiap orang lain./11/

Tetapi, para pemimpin tertinggi (disebut pimpinan sinode) GKJ memberi reaksi sangat negatif pada semua usaha pembaruan teman saya ini dkk-nya. Teman saya ini dkk-nya ditetapkan sesat, terkena tindakan pendisiplinan gereja (disebut “siasat”), oleh pemimpin sinodenya, sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi para sesepuh di kantor sinodenya tak bisa berbuat apa-apa terhadap teman saya ini dkk dan terhadap GKJ-nya.

Meskipun sudah dinyatakan sesat dan terkena “siasat”, teman saya dkk tetap tenang saja dan terus melakukan gerak pembaruannya dengan percaya diri, tanpa takut.

Sistem bergereja

Kok bisa demikian? Ya, karena sistem pengaturan GKJ bersifat presbiterial, artinya: majelis jemaat sebuah gereja setempat memiliki otoritas penuh, lebih tinggi dari otoritas pimpinan sinodenya. Setiap jemaat/gereja lokal GKJ adalah gereja penuh, tak tunduk pada kemauan para birokrat tertinggi sinode GKJ secara keseluruhan.

Selama tak ada persoalan dengan jemaat/gereja lokal, dhi dengan GKJ Dagen-Palur, teman saya dkk dapat terus bekerja di situ dan membarui. Faktanya memang demikian: GKJ Dagen-Palur dengan otoritasnya sendiri mendukung penuh pembaruan mereka, kendatipun mereka sedang terkena “siasat” sinode.

Seorang profesor dari Vrije Universiteit di Belanda baru-baru ini melakukan penelitian panjang di GKJ Dagen-Palur itu. Kata teman saya itu, profesor dari VU ini menyimpulkan bahwa jika dalam sepuluh tahun ke depan GKJ Dagen-Palur bertahan, maka pengaruhnya akan meluas ke seluruh GKJ di seantero Indonesia dan akan menjadi pusat besar reformasi gereja.

Tapi, adakah sistem manajemen gereja yang berbeda? Ada, misalnya sistem manajerial GKI, tempat saya dulu bekerja. Kalau teman saya itu pendeta di GKI, dia pasti sudah lama harus menanggalkan kependetaannya! Dalam GKI yang menganut sistem manajerial presbiterial sinodal, otoritas sinode berada di atas otoritas jemaat-jemaat lokalnya. Keputusan-keputusan Majelis Sinode harus ditaati oleh setiap Majelis Jemaat lokal.

Sesatkah?

Pertanyaannya: Sesatkah teman saya dkk-nya itu?

Kata “sesat” hanya dipakai para birokrat konservatif gereja yang sudah tak mampu belajar dan berkembang lagi, dan dikenakan kepada orang-orang yang berbeda dari mereka, yang mereka lihat sebagai ancaman serius terhadap konservatisme yang mereka bela, agung-agungkan, dan pertahankan mati-matian. Seolah konservatisme itu adalah Allah mereka sendiri.

Tapi bagi sesama peziarah, dan bagi kalangan akademisi, tak ada kata “sesat”; yang ada adalah kata “berbeda”, “teori baru”, “perspektif baru”, “model baru”. Sesat dalam arti ini tidaklah mudah dijalani. Harganya mahal sekali! Mengklaim diri sesat, tapi tetap hidup aman dalam gereja, bahkan makmur dan serba terjamin, hanyalah isapan jempol.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa Tengah, teman saya itu bersama sahabat-sahabatnya sedang memperkenalkan dan memantapkan sebuah model baru bergereja, model yang membutuhkan partisipasi sebanyak mungkin kebudayaan-kebudayaan asli orang-orang Jawa dalam merayakan kepercayaan Kristen yang dibarui dan makin berakar.

Teologi alun-alun

Dalam setiap perayaan hari Pentakosta, di GKJ Dagen-Palur teman saya itu memperagakan apa yang dinamakannya teologi alun-alun: siapapun, tak harus Kristen, boleh datang ke acara ini yang dipandang sebagai acara pasar, tempat orang menjual dan membeli, dengan semuanya berposisi sama tinggi dan sama rendah.

Di pasar teologi ini, orang bebas untuk membentangkan dan menawarkan tafsiran-tafsiran masing-masing tentang kebenaran, yang berbeda dari tafsiran-tafsiran resmi yang diterima di kalangan arus utama atau di kalangan ortodoks. Orang bebas untuk membeli atau tidak mau membeli berbagai tafsiran tentang kebenaran ini. Tidak ada monopoli atas barang yang diperdagangkan, dan tidak ada eksploitasi terhadap para pembeli. Inilah hakikat pasar dalam kebudayaan Jawa asli, dengan karakter yang ramah, manusiawi, kooperatif, bergotong-royong, tidak tamak, yang berkonfrontasi dengan sistem pasar kapitalisme modern.

Menurut teman saya itu, kebenaran itu tidak satu, tapi ada banyak, dan masing-masing boleh dihayati dengan bebas, bahkan boleh juga bersaing dengan ramah, terbuka, simpatik, dan sehat, lewat marketing ide-ide di pasar-pasar tradisional yang berpindah-pindah lokasi secara berkala.

Tanpa ada perspektif baru, teori baru, model baru, yang berbeda dari yang lama, gereja manapun akhirnya akan terbenam tanpa daya dalam rutinitas harian yang makin dirasakan tak bermakna lagi.

Gereja yang tak bisa memberi makna yang signifikan kepada umatnya, akhirnya akan ditinggalkan. Hanya para pemimpin gereja yang cerdas, visioner dan berani, yang akan dapat membarui gereja. Tanpa para pemimpin keagamaan jenis ini di garis depan, agama-agama apapun akan pada akhirnya tak fungsional dan tak signifikan lagi, baik bagi umat sendiri, maupun, dan apalagi, bagi masyarakat dan dunia yang lebih luas.

Museum atau laboratorium?

Tanpa pembaruan yang menyeluruh yang harus selalu dilakukan, gereja-gereja dan juga semua komunitas keagamaan lain hanya akan menjadi museum-museum tempat menaruh benda-benda purbakala, misalnya fosil-fosil. Tak terpikir oleh mereka untuk menjadikan gereja laboratorium riset.

Ada pada kita fosil-fosil beranekaragam dinosaurus, yang tertua adalah fosil dinosaurus yang diberi nama Nyasasaurus parringtoni yang dipastikan hidup 243 juta tahun lalu./12/

Selain itu, ya tentu saja ada pada kita juga fosil-fosil dogma, yang kini dimuseumkan dalam bangunan-bangunan gereja yang tampak aktif. Menurut anda, dilihat dari sudut ilmu pengetahuan, mana yang lebih berharga, fosil-fosil dinosaurus ataukah fosil-fosil dogma?

Fakta bahwa komunitas-komunitas keagamaan hanya menyimpan dan memelihara fosil-fosil dogma sebetulnya mengungkapkan sebuah masalah besar yang lebih mendasar. Di mana akar-akar masalah besarnya tertanam?

Sekolah, akarnya!

Tak lain, akar-akar masalahnya tertanam di lembaga-lembaga pendidikan teologi yang mencetak para sarjana agama. Lembaga-lembaga pendidikan ini memelihara, merawat dan meneruskan hanya fosil-fosil dogma ke dalam komunitas-komunitas itu lewat para sarjana agama yang mereka telah luluskan.

Itu adalah sebuah fenomena yang ganjil, sebab bukankah sudah seharusnya semua lembaga pendidikan teologi hanya menghasilkan para sarjana pembaharu yang memiliki kemampuan untuk menjadi agents of social change, agen-agen perubahan sosial. Jika hal yang sangat mendasar ini tidak terjadi, berarti ada problem besar dalam dunia pendidikan teologi di Indonesia.

Satu masalah besar yang mendasar lainnya adalah banyak sarjana agama, karena pendidikan teologi yang salah yang mereka telah terima, berpikir keliru tentang apa yang dimaksudkan dengan dogma.

Dalam pandangan mereka, dogma itu adalah keseluruhan pemahaman manusia tentang Allah yang sudah selesai, sudah tuntas, dan sudah jadi, begitu selesai dirancangbangun pada masa-masa silam di tempat-tempat lain, sehingga tak boleh diubah lagi atau diganti. Bagi mereka, misalnya, dogma Tritunggal Kristen adalah dogma harga mati, dogma yang sudah sempurna; sekali telah dirumuskan dulu di Eropa, belasan abad lalu, berlaku selamanya di segala tempat di muka Bumi. Kekeliruan berpikir semacam ini tentu saja harus diperbaiki.

Yang bisa tuntas dipahami adalah agama-agama atau teologi agama-agama atau dogma-dogma. Banyak orang sudah tiba di tahap ini.

Tak pernah tuntas dipahami

Tetapi tak ada seorangpun yang telah selesai dan tuntas menemukan dan memahami Hakikat Adikodrati yang diberitakan agama-agama, yang diberi banyak nama dan sifat. Kalau akidah-akidah atau dogma-dogma keagamaan ditulis untuk menyingkapkan siapa sang Hakikat Adikodrati ini, banyak orang telah selesai memahami akidah-akidah atau dogma-dogma ini, tapi mereka tidak akan pernah mencapai garis finish dalam mengenal dan memahami sang Hakikat Adikodrati itu sendiri.

Teologi atau dogma selalu tak pernah sama dengan ontologi. Doktrin-doktrin tentang Allah apapun, sesuci apapun, setua apapun, tak akan pernah sama dengan diri Allah itu sendiri.

Sang Hakikat Adikodrati sesungguhnya selalu menjauh ketika didekati, dan selalu mengelak, elusif, ketika mau digenggam dan dikurung. Usaha menangkap dan menggenggam sang Hakikat ini bak usaha menjaring angin! Dia mahabesar, tapi agama-agama begitu kecil.

Sistem-sistem kepercayaan yang dibangun manusia, kapanpun dan di manapun juga, tak pernah sanggup menyerap tuntas diri sang Hakikat Adikodrati ini. Tak ada satupun agama yang telah mencapai dan meraup kebenaran mutlak dan final. Jika sebuah agama mengklaim telah tuntas mengantongi sang Hakikat Adikodrati atau sang Kebenaran Mutlak ini, maka tamatlah sudah riwayat Dia yang mahabesar ini. Tamatlah teologi. Tamatlah juga agama.

Karena ruang-dan-waktu adalah dimensi-dimensi yang terus berada dalam gerak dan perubahan, selalu impermanen, selalu dinamis, maka pemahaman orang atas realitas ruang-dan-waktu juga terus berubah dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat.

Bebas nilai?

Setiap dogma disusun selalu dari sudut-sudut pandang tertentu para penyusunnya dalam mereka memandang realitas yang terus berubah. Dengan demikian, tak ada dogma yang bebas nilai. Dogma-dogma keagamaan yang disusun belasan atau puluhan abad lalu juga secara alamiah akan menjadi usang, atau pada masa kini dipersepsi jauh berbeda dari yang dipersepsi orang-orang zaman kuno di tempat lain yang dulu menyusun dan menguduskannya.

Dengan demikian, tak ada dogma yang berlaku abadi. Jika ilmu pengetahuan yang dibangun berdasarkan bukti-bukti tidak pernah berlaku abadi, tidak pernah final, apalagi dogma-dogma yang dibangun hanya berdasarkan iman atau kepercayaan atau angan-angan.

Kalau anda mau mengabadikan sebuah dogma, anda melawan hukum alam yang menghendaki segala sesuatu dalam jagat raya ini bergerak dan berubah, lewat evolusi atau lewat revolusi, secara alamiah atau lewat intervensi manusia.

Ketahuilah, jagat raya kita yang terbentuk 14 milyar tahun lalu lewat big bang hingga kini dan bermilyar-milyar tahun ke depan terus aktif bergerak mengembang dengan makin cepat, tak pernah statis. Jagat raya kita sedang mengalami evolusi. Evolusi adalah suatu fakta kosmik, yang menyelubungi segala sesuatu.

Apa yang abadi?

Kalaupun dalam jagat raya ini ada yang tetap dan abadi, yang tetap dan abadi itu adalah perubahan itu sendiri, baik perubahan menuju keusangan dan kematian maupun perubahan menuju pembaruan dan kelahiran kembali.

Dan ketahuilah juga, dogma yang benar dan fungsional adalah dogma yang terus berubah, karena dogma adalah respons kognitif manusia terhadap Allah yang dipercaya bekerja dalam pentas kehidupan insani yang terus berubah. Jadi, sudah kodratnya dogma itu selalu kontekstual, maksudnya: selalu terikat pada ruang dan waktu yang di dalamnya dogma ini disusun, dan karena itu selalu terbatas, dan tak boleh diabadikan.

Karena itu juga, setiap dogma haruslah cerdas karena merupakan tanggapan kreatif dan inovatif manusia pada tindakan-tindakan Allah dalam pentas kehidupan manusia, yang berbeda dari satu zaman ke zaman lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya. Ketika zaman berubah dan tempat-tempat berganti, dogma-dogma juga berubah dan berganti.

Tidak ada dogma apapun yang berlaku di segala zaman dan di segala tempat; tak ada dogma apapun yang berlaku abadi dan universal.

Ketika anda mau mengabadikan dan menguniversalkan sebuah dogma, tentu biasanya dengan memakai nama Allah, maka dogma ini menjadi sebuah ideologi penindas kebebasan berpikir dan berpendapat orang-orang lain yang hidup di zaman lain dan di tempat lain, yang tidak sama dengan zaman dan tempat kelahiran dogma itu dulu.

Padahal, dogma yang benar seharusnya adalah dogma yang membebaskan, bukan menindas, manusia. Dogma ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani dogma. Manusia adalah tuan atas dogma, bukan dogma tuan atas manusia.

Dengan demikian, tak ada pilihan lain, selain semua orang beragama harus terus-menerus membaharui akidah-akidah dan dogma-dogma keagamaan mereka, atau menyusun akidah-akidah dan dogma-dogma baru jika yang lama ditemukan sudah tak relevan lagi atau malah keliru dan menyesatkan.

Tugas membaharui adalah tugas yang abadi. Terus mengalir. Selama sungai-sungai bermuara di samudera, segala sesuatu akan terus mengalami perubahan dan pembaruan.

Hanya jika semua samudera di muka Bumi mengalir masuk ke sungai-sungai lalu bermuara di kawah-kawah gunung-gunung, hanya jika jagat raya kita berhenti mengembang lalu menciut lagi karena tarikan kuat gravitasi materi gelap (dark matter) atau tarikan kuat gravitasi sebuah lubang hitam (black hole) supermasif dan bertenaga besar, berakhirlah semua era, semua gerak, semua nafas, semua kehidupan, semua perubahan, dan semua pembaruan.

Penutup

Jika pembaruan terus dilakukan, hidup beragama menjadi hidup yang menantang, menggairahkan dan mencerahkan, tak lagi rutin dan membosankan. Dan orang-orang yang cerdas pun akan dengan bersemangat mau ambil bagian di dalamnya, tak lagi menjauh dari dunia agama-agama. Suasana dan semangat yang seperti inilah yang kini dapat anda temukan dan rasakan di GKJ Dagen-Palur.

Saya sendiri pernah bertandang ke gereja ini, selain untuk berjumpa dengan teman saya itu, juga untuk melakukan pengamatan-pengamatan atas beberapa bagian dari kehidupannya yang dinamis. Mudah-mudahan anda punya waktu untuk meninjau gereja hebat ini supaya bisa menemukan dan merasakan sendiri semangat pembaruan yang sedang dan akan terus berlangsung di sana./13/

---------------------

/1/ Ioanes Rakhmat, Memandang Wajah Yesus: Sebuah Eksplorasi Kritis (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2012).

/2/ Frasa “Ecclesia reformata semper reformanda (est)” harfiah berarti “gereja haruslah selalu dibaharui”. Ide ini semula datang dari gerakan Nadere Reformatie abad ke-17 di dalam Gereja Reformasi Belanda (Dutch Reformed Church). Istilah ini mula-mula muncul dalam buku Jodocus van Lodenstein, Beschouwinge van Zion (artinya “Perenungan tentang Zion”) (Amsterdam, 1674). Dalam Reformasi Protestan abad ke-16, ide yang terkandung dalam frasa ini menjadi salah satu ide pokok teolog Jerman Martin Luther (1483-1546). Pada masa kini, istilah ini dipakai dengan meluas sebagai semboyan tak resmi Gereja Reformed dan Gereja Presbiterian. Ide mendasar dalam semboyan ini adalah bahwa gereja Prostestan harus terus-menerus memeriksa diri kembali supaya dapat mempertahankan kemurnian doktrin dan praktek bergereja mereka.

/3/ Novembri Choeldahono, “Menegakkan Keadilan dan Kebenaran: Mendidik Umat sebagai Subjek yang Kreatif dalam Menyelesaikan Permasalahan di Gereja yang Berorientasi pada Nilai Keadilan dan Kebenaran” dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 5 [1-6].

/4/ Lihat buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis, Rabu, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 4-6, 13-25.

/5/ Tentang ini, lihat http://senawangi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=81&Itemid=210&lang=id.

/6/ Lihat Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, 1 Januari 2014, GKJ Dagen-Palur, dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 39 [26-42].

/7/ Lihat Liturgi Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko dalam buku Peneguhan Pdt. Indri Jatmoko, hlm. 23-24.

/8/ Ratna Prajati, “Berbangsa dan Bernegara (Amsal 29:17)” dalam buku Peneguhan Pdt. Indrianto Adiatmo Sawaldi dan Pdt. Ratna Prajati: Membangkitkan Budaya Damai dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, Jumat 20 Mei 2011, GKJ Dagen-Palur, Karanganyar, hlm. 22 [20-22].

/9/ Indrianto Adiatmo Sawaldi, “Ikhtiar Membangun Budaya Damai di tengah Arus Budaya Kekerasan”, dalam Buku Pedoman Rapat Jemaat Tahun 2013 GKJ Dagen-Palur, hlm. 14-15.

/10/ Lihat UNESCO, “A Declaration on a Culture of Peace”, http://www.unesco.org/cpp/uk/declarations/2000.htm.

/11/ Indri Jatmoko, “Khotbah Sulung: Membangun Budaya Damai Melalui Pendidikan Agama yang Humanis”, hlm. 32.

/12/Tentang Nyasasaurus parringtoni, lihat Jeanna Bryner, “Earliest Dinosaur? Nyasasaurus Parringtoni Roamed Pangea 240 Million Years Ago, Fossils Suggest”, Huffington Post Science 05 December 2012, http://www.huffingtonpost.com/2012/12/05/earths-earliest-dinosaur-nyasasaurus-parringtoni_n_2243479.html.

/13/Alamat GKJ Dagen-Palur: Jalan Timur Stasiun KA Palur, no. 4, RT 02/RW X1, Dagen, Jaten, Karanganyar 57772, Jawa Tengah, Indonesia.



Tuesday, March 20, 2012

Buku Baru Ioanes Rakhmat: Memandang Wajah Yesus

 

Judul: Memandang Wajah Yesus: Sebuah Eksplorasi Kritis

Penulis: Ioanes Rakhmat
Penerbit: Pustaka Surya Daun
Waktu terbit: Maret 2012; cetakan pertama
ISBN: 978-602-19983-0-4
Tebal: xxiv + 260 hlm; ukuran: 14,8 cm x 21 cm

Harga: Rp. 67.000,- per eks.
Tempat pemesanan: Ioanes Rakhmat (HP 082 1220 15570)
Dengan SMS, kirim ke saya nama lengkap dan alamat lengkap anda
Pengiriman: dengan jasa pengiriman (ekonomis) tiki JNE; ongkos ditanggung pembeli

Dengan membeli buku ini, anda ikut menopang kelanjutan penyebaran gagasan-gagasan progresif! Dengan ikut menyebarkan gagasan-gagasan progresif, anda ikut membentuk masa depan dunia yang lebih baik dan mencerahkan.

4 endorsements untuk buku ini:

Tentu saja, kata “wajah” pada judul buku ini harus diartikan sebagai kiasan, karena kini tak seorangpun tahu wajah Yesus yang sebenarnya. Jelas, yang dimaksud adalah “pengetahuan” tentang apa yang Yesus sungguh-sungguh katakan dan lakukan semasa kehidupannya, pengetahuan mengenai “Yesus sejarah”. Usaha mendapatkan pengetahuan semacam ini bukan hal baru, tapi sudah muncul sejak lebih dari tiga ratus tahun lalu. Sejauh saya tahu, belum ada buku lain dalam bahasa Indonesia yang menyodorkan begitu banyak informasi mengenai upaya ini serta hasilnya seperti buku ini, yang ditulis oleh seorang pakar yang sudah lama mengasyikkan diri di bidang ini.
―Richard W. Haskin, Ph.D., mahaguru emeritus bidang kajian Perjanjian Baru

Di samping dialog antar-agama, kita juga memerlukan dialog intra-agama yang dapat memperkaya kita dengan berbagai pandangan dari sesama umat yang berbeda visi dan penghayatan. Karena itu buku ini penting dibaca oleh setiap orang yang ingin dengan kritis mengembangkan pandangannya tentang Yesus. Kendatipun ada hal-hal  yang mungkin tak dapat diterima sepenuhnya, namun dalam buku seperti ini kita justru menemukan juga data, interpretasi, dan visi baru yang jarang diungkap dalam buku-buku kajian teologi yang sehaluan, padahal usaha membantu memperluas horizon kita sangat penting dilakukan pada masa kini.
―Martin Harun OFM, mahaguru ilmu tafsir Alkitab di STF Driyarkara, Jakarta

Salah satu persoalan krusial dalam kajian agama Kristen adalah biografi Yesus. Tentu saja, yang dimaksud dengan kajian di sini bukan sekadar ulasan saleh tentang siapa Yesus seperti lazim  kini ditemukan dalam berbagai komunitas Kristen, tapi suatu disiplin akademis ketat yang menyoroti kehidupan Yesus sebagai manusia yang lahir, tumbuh, dan mati, tanpa melibatkan hal-hal supernatural. Buku ini merupakan sebuah karya penting yang mengulas tema krusial ini dari berbagai sudut, dan menunjukkan jalan bagi kita untuk memasuki wilayah yang menantang iman Kristen dan juga iman siapa pun terhadap Yesus.
― Luthfi Assyaukanie, pengajar filsafat agama di Universitas Paramadina, Jakarta

Dalam setiap agama, selalu kita jumpai hubungan yang kerap penuh ketegangan antara ortodoksi yang diikuti sebagian besar umat dan heterodoksi yang membangkang. Pihak ortodoksi biasanya berusaha keras untuk membatasi pengaruh pandangan yang membangkang itu. Bagi saya, hubungan yang tegang semacam ini selalu menarik, sebab di sanalah biasanya suasana dinamis dan kreatif akan lahir dalam masyarakat agama apapun. Jika agama hanya diisi dan dikuasai oleh pandangan ortodoks saja, jelas agama apapun akan sangat membosankan. Dalam buku ini, anda akan menemukan pandangan dan interpretasi yang berbeda dari pandangan ortodoks Kristen mengenai figur Yesus. Karena alasan itulah, buku ini betul-betul menarik untuk dibaca.
―Ulil Abshar-Abdalla, cendekiawan Muslim Indonesia


Kata Pengantar buku ini:

Dengan terbitnya buku ini, keinginan saya yang sudah lama muncul untuk menulis sebuah buku yang menyoroti banyak segi kehidupan Yesus dari Nazareth akhirnya terpenuhi. Ada rasa suka cita dalam hati saya, karena dengan terbitnya buku ini sebuah sumbangan penting dari dalam dunia kajian akademik atas figur Yesus dapat saya berikan baik kepada lembaga-lembaga pendidikan teologi di Indonesia, kepada para mahasiswa yang serius ingin mengenal Yesus lebih dalam dan lebih matang lewat pendekatan akademik, maupun kepada setiap orang yang mendambakan dapat melihat sisi-sisi lain dari kehidupan Yesus dari Nazareth yang tak bisa mereka dapatkan dari kegiatan pembelajaran dalam gereja-gereja Kristen umumnya.

Buku ini sungguh-sungguh sebuah buku tentang banyak segi kehidupan Yesus dari Nazareth yang ditulis dengan memakai pendekatan akademik. Karena itu, untuk bisa memahami dan menerima berbagai pandangan dan penafsiran yang ditawarkan dalam buku ini, diperlukan baik kecerdasan dan kemampuan bernalar yang tinggi dan konsisten maupun keterbukaan luas terhadap metodologi dan perspektif-perspektif saintifik akademik yang dipakai dalam setiap kajian saintifik atas sosok Yesus dari Nazareth dan kekristenan perdana.

Tanpa kemampuan-kemampuan dan keterbukaan semacam itu, para pembaca buku saya ini akan tidak (atau kurang) berhasil mendapatkan begitu banyak mutiara yang tak ternilai harganya, yang disebar dalam halaman-halaman buku ini sejak awal hingga akhir. Supaya mutiara-mutiara berharga ini pembaca dapat temukan, saya yakin setiap bab buku ini perlu dibaca berkali-kali, khususnya oleh orang-orang yang baru mau mengenal Yesus dari Nazareth bukan saja dari perspektif keimanan, tetapi terutama dari perspektif saintifik akademik. 

Barangkali banyak orang akan bertanya, mengapa sosok Yesus dari Nazareth harus (atau perlu) dikaji secara saintifik akademik, tidak cukup hanya diimani, dipercaya dan diikuti saja dengan taat tanpa bertanya apapun. Jawab atas pertanyaan ini saya batasi tiga saja pada kesempatan ini.

Pertama, banyak segi dari kehidupan Yesus dari Nazareth tak tersentuh atau belum dimasuki (atau memang tidak mau dimasuki) oleh berbagai pengakuan iman ortodoks gereja Kristen sepanjang masa, sejak abad  ke-4 dan abad ke-5 di Eropa hingga abad ke-21 ini di Indonesia. Kondisi ini jelas bisa dipahami, sebab setiap pengakuan iman atau syahadat dalam setiap agama memang tidak dimaksudkan untuk menampung dan menampilkan semua segi dari kehidupan tokoh pendirinya. Setiap syahadat keagamaan apapun selalu selektif dan terbatas sifatnya, karena hanya memuat segi-segi tertentu saja dari kehidupan tokoh pendirinya dulu yang dipandang paling utama dan paling esensial oleh para murid perdananya atau jauh kemudian oleh para penerus gerakan yang telah dibangun dan dikembangkan sang tokoh pendiri ini. Dengan demikian, kajian-kajian akademik apapun atas sosok sang pendiri agama apapun sebetulnya memperkaya pengenalan umat terhadap dirinya, ajaran-ajaran dan tindakan-tindakannya, sehingga niscaya harus dilakukan dan didukung oleh komunitas umat yang sehat dan dinamis.

Kedua, seluruh isi kitab suci PerjanjianBaru (ditulis pada abad pertama dan permulaan abad kedua Masehi) yang terdiri atas dua puluh tujuh kitab, di antaranya empat kitab injil yang mengisahkan bagian-bagian tertentu kehidupan sosok Yesus dari Nazareth yang dianggap paling penting, ditulis pertama-tama dari sudut pandang kepercayaan atau keimanan para penulisnya terhadap figur Yesus, bukan dari sudut pandang sejarah objektif. Alhasil, banyak segi kesejarahan Yesus tidak muncul dalam semua dokumen dalam kitab suci ini, bisa karena bagi mereka sejarah kehidupan Yesus tidak penting jika dibandingkan dengan signifikansi spiritual sosok Yesus, atau karena para penulis Perjanjian Baru kekurangan data dan informasi historis mengenai Yesus dari Nazareth, atau bisa juga karena ada segi-segi kesejarahan Yesus yang sengaja mereka tutup-tutupi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang muncul dari kepercayaan dan pemujaan terhadap sosok Yesus.

Jelas, kepercayaan kepada Yesus, atau teologi mengenai Yesus, atau bahasa  pemujaan terhadapnya, sama sekali bukan sejarah, meskipun tentu saja bisa mengandung elemen-elemen sejarah di dalamnya. Tentu kita sepakat bahwa fakta-fakta sejarah yang menyangkut sosok pendiri suatu agama sangat penting, karena fakta-fakta ini menjamin faktualitas kehidupan sosok agung ini sebagai suatu sosok yang betul-betul ada dalam sejarah, bukan suatu sosok mitologis yang fiktif. Jika demikian halnya, maka kajian-kajian sejarah atas sosok ini, yang dijalankan dengan memakai metode-metode pengkajian saintifik, betul-betul akan memperlengkapi, bahkan dalam beberapa segi dapat mengoreksi, gambaran-gambaran kitab suci mengenai sosok agung pendiri agama apapun. Begitulah halnya dengan pengkajian saintifik atas sosok Yesus dari Nazareth sebagai sosok yang hidup dalam sejarah insani.     

Ketiga, kajian saintifik atas sosok Yesus bisa dan harus dilakukan karena Yesus dari Nazareth betul-betul ada sebagai seorang manusia seperti kita, insan yang real, yang memiliki tubuh lengkap yang normal dan real, yang lahir dalam konteks sejarah dan lokalitas tertentu yang juga real, lalu tampil dan aktif di muka umum ketika sudah dewasa, sampai akhirnya mati disalibkan juga dengan real. Karena sosok Yesus dari Nazareth ada sebagai sosok yang real dan historis, maka sosok ini terbuka untuk didekati dan dikaji dengan memakai pendekatan sejarah kritis. Saya percaya, tidak ada seorang Kristen pun, yang sehat akalnya dan jujur batinnya, akan menyangkali fakta keberdagingan dan kebersejarahan Yesus, sekalipun dia percaya juga bahwa Yesus itu Allah yang maha tinggi!

Nah, kajian-kajian modern atas sosok Yesus dari Nazareth, yang kini mencakup kajian-kajian sejarah kritis, tekstual kritis, arkeologis, antropologis kultural, sosiologis, sudah terbukti dapat menghasilkan berbagai potret tentang Yesus dari Nazareth yang tajam fokusnya, yang pada satu segi memperlengkapi, namun pada segi lainnya dapat juga mengoreksi, potret-potret dirinya yang disajikan dalam Perjanjian Baru.

Jika dibandingkan dengan para penulis Perjanjian Baru yang terpisah hanya sekitar dua atau tiga dekade sampai satu abad dari masa kehidupan Yesus, tentu saja jurang waktu antara para peneliti modern (mulai dari abad ke-19 hingga abad ke-21 sekarang ini) dan masa kehidupan Yesus jauh lebih lebar, yakni kurang lebih dua ribu tahun. Tetapi dengan berbagai metode pengkajian modern lintas ilmu, jurang waktu yang jauh lebih lebar ini tidak menghalangi para pengkaji modern untuk menemukan kembali potret-potret sosok historis Yesus dari Nazareth, yang malah bisa lebih tajam fokusnya ketimbang yang ditemukan dalam dokumen-dokumen Perjanjian Baru. Aneka ragam potret wajah sosok historis Yesus, yang dihasilkan dari kamera para pengkaji modern, justru makin memperkaya pandangan dan penghayatan seorang pengikutnya terhadap dirinya di zaman modern ini, yang di dalamnya pluralisme dan toleransi merupakan nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh kebanyakan orang.

Jadi, janganlah anda ragu untuk mendekati Yesus dari Nazareth dan menemukan beranekaragam wajahnya, lewat pengkajian saintifik. Karena itu, dengan tanpa keraguan dan prasangka negatif apapun, bacalah buku ini, sebaiknya berulang-ulang, dan temukan wajah-wajah Yesus di dalamnya, pandanglah wajah-wajah ini dalam-dalam, dan putuskanlah wajah mana yang anda akan ambil dan pajang di dinding ruang tamu rumah anda atau di kamar belajar anda.   


Kelapa Gading, Jakarta Utara
18 Februari 2012

Dr. Ioanes Rakhmat

Sunday, March 18, 2012

Homo Homini Lupus


Dalam diri kita, siapapun kita, ada sebuah faculty atau kemampuan neurologis kognitif yang dinamakan “trust”, atau kemampuan untuk mempercayai seseorang, yang biasanya timbul setelah kita bisa ber-empati dengan seseorang di dalam suatu kasus tertentu.

Apakah trust bisa berkembang dengan baik atau tidak, bergantung pada kultur keluarga yang membesarkan seseorang, atau kultur komunitas pembelajaran yang di dalamnya seseorang mengalami perkembangan kejiwaan. Trust itu ibarat seekor merpati putih, sang pembawa damai dan berita gembira, sang utusan yang turun dari angkasa.

Ada keluarga atau komunitas pembelajaran di mana orang-orangtua selalu mendidik anak-anak untuk selalu berpikiran positif terhadap orang lain atau untuk selalu percaya pada orang lain, siapapun orang lain itu.

Orangtua yang mendidik anak-anaknya untuk selalu “trust” pada orang lain ini mempertahankan sebuah pandangan ideal bahwa dalam diri manusia selalu ada benih kebaikan atau bahkan benih ilahi yang bila dipupuk akan menjadikan mereka orang baik, sahabat sesama, rekan sekerja yang dapat dipercaya sepenuhnya.

Filsafat moral sosial yang ditanamkan dalam kultur pembelajaran yang humanistik semacam ini adalah “pandanglah sesamamu sebagai rekan-rekanmu yang siap berkorban bagi kebaikanmu”, filsafat “homo homini socius”. 

Tetapi ada juga keluarga atau komunitas pembelajaran yang kepada generasi muda selalu menanamkan keharusan mencurigai siapapun orang yang dengannya mereka membangun suatu hubungan, keharusan jangan mempercayai siapapun orang yang mendatangi mereka untuk keperluan apapun. Dalam kultur pembelajaran semacam ini ditanamkan suatu pandangan teologis bahwa siapapun manusia itu, mereka adalah manifestasi pekerjaan setan dalam dunia ini.

Keluarga-keluarga yang bergerak dalam bisnis-bisnis besar yang berhasil (dengan menghalalkan segala cara) banyak yang menanamkan dalam diri generasi muda mereka pandangan untuk selalu mencurigai orang lain manapun ketika mereka sedang membangun hubungan bisnis, atau hubungan apapun.

Yang ditekankan dalam kultur pembelajaran semacam ini ini adalah profesionalisme loba, bukan filantropisme atau altruisme. Anak-anak dididik untuk hanya membangun hubungan profesional tamak dengan siapapun dalam mereka membangun hubungan bisnis, dan sama sekali harus menutup pintu terhadap segala bentuk sifat kedermawanan atau sifat ingin berkorban bagi sesama.


Dalam bentuk yang ekstrim, dalam kultur pembelajaran semacam ini filsafat sosial yang ditanamkan adalah “pandanglah sesamamu manusia sebagai seekor serigala jahat yang mau menyantap dirimu”, atau filsafat “homo homini lupus” (Hobbes)./*/

Dalam suatu negara yang sedang terlibat peperangan dengan negara tetangga, pemerintahnya menjalankan politik pembelajaran “homo homini lupus” kepada setiap warganegaranya. 

Mereka dididik untuk selalu mencurigai siapapun orang asing di antara mereka sebagai seekor serigala yang mau menerkam mereka, dan untuk harus selalu siap menerkam lebih dulu sebelum diterkam. 

Xenofobia adalah kultur yang mutlak dijalankan dalam suatu negara yang sedang berperang. Tapi bagi suatu negara yang sedang hidup damai dengan semua negara lainnya, xenofobia, jika tumbuh, adalah suatu penyakit mental dan politik massal yang bisa membinasakan negara ini.  

Jika anda berkembang dalam kultur pembelajaran yang pertama, yang menanamkan filsafat moral sosial “homo homini socius”, anda akan menjadi orang yang mudah tertipu, anda akan lebih banyak mengeluarkan uang ketimbang menerima uang, pengeluaran yang bahkan bisa sangat useless.

Kalau anda berbisnis kemungkinan besar bisnis anda akan merugi terus dan akhirnya bangkrut.  Kalau pun dapat untung, ya dalam batas yang wajar. Ingatlah, ada hukum pasar yang berlaku: untuk barang A yang kualitasnya sama, konsumen akan membeli di toko yang menjualnya termurah, dibandingkan toko yang menjualnya kemahalan jauh.

Namun jika anda dididik dan berkembang dalam kultur pembelajaran yang kedua, yang dengan konsisten menanamkan filsafat moral sosial “homo homini lupus”, anda bisa jadi akan cepat kaya raya, sukses bisnis, tetapi tidak memiliki empati, kasih sayang, sifat dermawan atau kemampuan berkorban buat orang lain apapun alasannya. Kerakusan adalah watak bisnis anda. Demi kerakusan dan haus harta anda terpenuhi, anda tak akan segan memakai jubah bulu domba, meskipun watak asli diri anda adalah serigala buas.

Umumnya yang kerap ditemukan adalah perpaduan kreatif dua kultur pembelajaran yang satu sama lain bertolak belakang itu. Selain itu, dalam dunia bisnis dewasa ini setiap perusahaan pun oleh negara telah diharuskan mengalokasikan keuntungan perusahaan sebagian (2 persen) untuk keperluan sosial, apa yang dinamakan “corporate social responsibility”, CSR.

Lebih jauh, kalau dulu dunia bisnis dipandu oleh sebuah semboyan “Matikanlah pesaing-pesaing anda dengan sekejam mungkin dan dengan bersimbah darah” (red ocean strategy), maka kini semboyan yang berlaku sudah berbeda, sejalan dengan kesadaran global yang sudah tumbuh di seantero planet Bumi, yakni “Bangunlah hubungan kerekanan yang setaraf dengan semua pesaing bisnis anda”, strategi yang dinamakan “blue ocean strategy”. 

Jadi, periksalah diri anda, anda besar dalam kultur pembelajaran yang mana. Bebaskan diri anda, bak seekor merpati putih yang terbang riang di angkasa./**/

------------------------

/*/ Saya terpaksa masih memakai ucapan Hobbes ini kendatipun saya tentu saja menyadari penuh serigala adalah juga binatang yang patut kita sayangi, sama halnya dengan ular yang menjadi simbol manifestasi Yang Ilahi dalam kebudayaan Yunani-Romawi kuno dan kebudayaan India masa kini. Sejauh terdokumentasi, pernyataan “homo homini lupus est” (Indonesia: “Manusia adalah serigala bagi sesamanya”) muncul pertama kali dalam karya Plautus, Asinaria (495). Melawan Plautus, Seneca menulis bahwa “manusia adalah suci bagi sesamanya”. Thomas Hobbes di tahun 1651 (dalam karyanya De Cive) merujuk baik kepada Plautus maupun kepada Seneca.

/**/ Tulisan ini lahir sebagai sebuah perenungan atas tertipunya saya oleh toko HP online www.niagashop.com sehingga uang saya sebesar Rp. 2 juta melayang lenyap pada 17 Maret 2012 pagi hari sekitar jam 10. Kawan-kawan, jangan mau berhubungan apapun dengan toko tersebut dan sebarkanlah informasi ini!




Thursday, March 8, 2012

Beragamalah dengan modern!

Ada yang berkata kepada saya bahwa saya anti-agama. Saya jawab, "Anda salah besar!" Saya juga seorang beragama, cuma keberagamaan saya tak tradisional, tapi modern.

Bagi saya hidup beragama itu hidup dalam suatu ziarah intelektual yang tak pernah selesai. Masih dalam perjalanan panjang, belum tiba di finish.
Salah satu ciri modernitas adalah keterbukaan pada masa depan, progresivitas, menolak finalitas. Jadi kalau saya beragama secara modern, ya saya melihat Allah sebagai sebuah pertanyaan yang belum ada jawaban finalnya sekarang ini. Harus dicari terus.


Kitab suci adalah sebuah titik start, bukan titik finish!

Kalau kaum agamawan tradisional bilang Allah itu misteri, saya setuju betul, one hundred percent! Tapi saya berbeda dari kaum agamawan tradisional dalam perlakuan saya terhadap Allah sebagai misteri.

Kalau bagi kaum agamawan tradisional misteri Allah harus dijaga dan dilindungi, saya bersikap sebaliknya. Bagi saya yang beragama secara modern, justru misteri Allah harus terus-menerus ditemukan dan dipecahkan, dibuka terang-benderang. Allah sebagai misteri justru menantang saya untuk memecahkan misteri ilahi ini lewat berbagai cara, termasuk lewat sains.

Sains tak pernah berhenti, tak pernah mencapai finalitas, terus bergerak ke depan dengan dinamis. Meskipun dalam sains modern kita sudah memiliki hukum-hukum besi sains, keadaan ini tak menghentikan gerak maju sains.

Beragama secara modern menyebabkan konsep apapun yang ada tentang Allah sekarang ini, dipandang sebagai konsep yang belum final, konsep yang masih sementara.
Monoteisme, dengan demikian, bukan bentuk final agama, dan masih akan berganti di masa depan yang belum dicapai. Sebagai seorang modern, saya bersiap-siap mendapatkan ide-ide lain tentang Allah yang belum ada sekarang, ide-ide baru yang menakjubkan.

Bagi saya, agama-agama di masa depan akan dirumuskan secara baru totally dengan memakai parameter-parameter sains. Agama-agama yang ada sekarang akan bermetamorfosa, masuk ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi dan lebih menakjubkan.

Jadi, dilihat dari sudut pandang yang saya baru kemukakan, mengeksplorasi sains sebagai sains adalah tugas kaum agamawan juga. Sayangnya, banyak kaum agamawan telah memenjarakan diri mereka dalam tradisionalisme keagamaan, sehingga mereka bantut.

Nah, kalaupun saya menolak agama, agama yang saya tolak adalah agama yang sudah diubah menjadi kumpulan dogma yang membatu, fossilized religions. Agama-agama yang sudah difosilkan sebenarnya adalah pemberontakan dan penyangkalan terhadap Allah sendiri sebagai misteri besar.

Nah, kalau saya dibilang anti-agama, ya betul juga, dalam arti saya menolak agama yang sudah difosilkan, tapi memperjuangkan agama yang modern. Visi seperti yang saya ungkapkan ini tidak banyak dimiliki kaum agamawan di Indonesia.

Kaum agamawan tradisional banyak yang berpendapat bahwa  sejarah telah berakhir di dalam kitab suci. Kitab suci adalah akhir sejarah, itu kata kaum agamawan tradisional. Maksud mereka adalah bahwa awal dan akhir sejarah insani sudah ditulis dalam kitab suci mereka.

Tapi bagi saya yang berpikir modern, kitab suci adalah garis start untuk para atlit melesat ke masa depan yang tanpa akhir, bukan titik finish. Atau, kitab suci itu, bagi saya, ibarat sebuah tangga untuk naik ke atas atap sebuah rumah. Sesudah sampai di atap, tangga dilepaskan, lalu berjalan sendiri ke depan dengan tenang, ke masa depan yang penuh tanda tanya.

Orang beragama yang berkomitmen untuk berjalan terus ke depan, akhirnya akan merangkul sains dengan happy. Jadi, sikap saintifik adalah juga sikap religius!

Itulah garis besar pemahaman saya mengenai hidup beragama. Tak tradisional, tapi modern. Mungkin anda terpesona. Semoga!