Showing posts with label Max Weber. Show all posts
Showing posts with label Max Weber. Show all posts

Sunday, September 15, 2013

Stroke kebudayaan

Pernah pada abad-abad lampau (sekitar abad ke-10), Islam jaya sebagai sebuah peradaban dunia karena Islam pada masa itu dengan kreatif tanggap pada panggilan zaman. 

Kata seseorang, bahkan Nurcholis Madjid sendiri, dengan mengutip seorang sejarawan Amerika, pernah menyatakan bahwa jika pada abad ke-10 Hadiah Nobel sudah ada, maka mungkin sekali dalam setiap tahun akan ada seorang Muslim yang mendapatkannya, karena pada era ini sains mengalami kemajuan pesat dalam dunia Islam./1/ 

Tentang apa yang dikatakan Cak Nur ini, hanya perlu diberi sedikit catatan saja. Seandainya pengandaiannya itu benar, yang membuat seorang saintis beragama Islam menerima Hadiah Nobel bukanlah agama Islamnya, tetapi karena sains yang dikembangkannya lewat metode-metode saintifik yang dipakai universal (observasi, eksperimentasi, empirisisme, instrumentalisme, verifikasionisme) dan penalaran yang digunakan (induksi, deduksi, dan abduksi). 

Sains yang betul-betul sains (bukan agama yang disains-sainskan) tak berafiliasi apapun dengan agama apapun. 

Adalah fakta bahwa pada masa lampau dunia Islam juga menyumbang banyak hal penting bagi dunia sains. Tidak ada yang akan menyangkal fakta ini. Peradaban modern berhutang juga pada dunia Islam. Dunia inilah yang dulu berabad-abad lamanya pernah membawa obor-obor kecerdasan dan pengetahuan, yang kemudian membuka jalan bagi Renesans dan Pencerahan Eropa di abad ke-18. 

Ilmu aljabar berkembang di dalam komunitas-komunitas Muslim yang kaya dengan inovasi. Lewat mereka juga, kita memperoleh kompas magnetik dan sarana-sarana navigasi. Dari dunia mereka juga kita memahami bagaimana penyakit menyebar dan bagaimana menyembuhkan orang dari berbagai penyakit. 

Lewat mereka juga kita tahu bagaimana memakai pena dan membuat percetakan. Kebudayaan Islam memberi kita struktur-struktur melengkung dan kubah-kubah yang indah dan menara-menara yang menjulang tinggi. 

Dari para pujangga mereka kita memperoleh puisi-puisi dan syair-syair indah nan abadi dan juga musik-musik yang patut dihargai tinggi. Kaligrafi yang menakjubkan muncul dari seniman-seniman mereka yang tekun membaca Al-Qur’an. 

Tempat-tempat kontemplasi tak kurang dibangun oleh mereka. Sejumlah sufi besar dan begawan kearifan dilahirkan dari berbagai sudut kebudayaan Islam, dari masa ke masa.      

Itulah fakta dunia Islam abad-abad lampau. Mengagumkan. Tetapi banyak orang sepakat kalau Islam pada zaman modern ini mundur besar karena Islam sekarang tidak tanggap pada modernitas, dan malah dalam banyak hal, sadly, digilas olehnya. 

Yang saya maksudkan dengan “Islam” di sini bukan para intelektual Muslim yang tentu saja banyak yang mampu berpikir modern, melainkan dunia Islam umumnya. 



Semua agama tradisional, kalau melawan modernitas, akan digilas oleh modernitas, sehingga lumpuh total terserang stroke kebudayaan (culture stroke), bukan hanya kaget terkena kejut kebudayaan (culture shock) saat bersentuhan dengan kebudayaan modern. 

Benturan antarperadaban yang dipaparkan Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations pada level dasariahnya adalah benturan peradaban-peradaban yang dibangun oleh agama-agama (hemat saya, termasuk kekristenan) dengan modernitas yang dibangun di atas fondasi-fondasi pemikiran pagan Yunani kuno dan Pencerahan abad ke-18 di Eropa. 

Sebagaimana ditulis Huntington, dalam rangka hubungan-hubungan antarperadaban yang diwarnai benturan, pada level makronya “perpecahan dan pemisahan yang dominan terjadi antara ‘Barat dan bagian-bagian lain dunia’, dengan konflik-konflik yang paling sengit dan dalam berlangsung antara masyarakat-masyarakat Muslim dan masyarakat-masyarakat Asia pada satu pihak, dan Barat pada pihak lain.” Huntington menegaskan bahwa benturan antarperadaban itu berlangsung justru “ketika Barat, satu-satunya di antara peradaban-peradaban, menimbulkan dampak yang besar dan kerap menghancurkan peradaban-peradaban lain”./2/

Saya ingin menegaskan, jika agama apapun ingin berperan signifikan dalam zaman modern ini, dan tidak menjadi hancur dan binasa, jalannya hanya satu: berdialog empatetis dengan modernitas, bukan melawannya, dan juga bukan tunduk di hadapannya tanpa harga diri. Dialog, sekali lagi dialog!

Adakah peradaban Islam modern global sekarang ini? Tidak ada! Adakah peradaban Kristen modern universal sekarang ini? Tidak ada! Adakah peradaban Buddhis modern mondial sekarang ini? Tidak ada! Adakah peradaban Hindu modern mendunia dewasa ini? Tidak ada.

Eropa, Amerika, Australia, dan negeri-negeri lain yang bisa secara kultural paradigmatik disebut “Barat”, bukan peradaban Kristen, tapi peradaban modern. Ada banyak nilai-nilai Barat modern, dan juga landasan-landasan sains modern sendiri, yang ditemukan tidak sejalan dengan kekristenan. 

Seperti sudah ditegaskan di atas, modernitas dan landasan-landasan sains berpangkal bukan pada kekristenan, tetapi pada paganisme kuno dan Pencerahan Eropa. Fakta ini sudah dibeberkan dengan bagus oleh pakar pengkaji sains di dunia kuno, Richard Carrier./3/  

Betul, sekularisasi dan modernitas tidak melenyapkan agama-agama dari dunia modern, sebab ada juga arus balik desekularisasi./4/ Tapi, ketika dilawan habis-habisan, sekularisasi dan modernitas akan pasti melumpuhkan agama-agama tradisional sehingga agama-agama ini ada hanya terduduk di kursi-kursi roda, karena terserang stroke. 

Dari kursi-kursi roda, agama-agama garis keras menghujat habis-habisan modernitas, tapi juga memakai banyak fasilitas kehidupan modern dalam gerakan mereka, termasuk dalam merencanakan dan melaksanakan aksi-aksi teror. Semakin keras dan garang sebuah agama, semakin terrorizing sebuah agama, semakin lumpuh agama ini dalam usaha-usaha mempengaruhi dunia ini dengan positif. 

Kekerasan bukanlah masa depan peradaban umat manusia. Semakin tinggi peringkat peradaban suatu spesies cerdas, semakin agung akhlak spesies ini; itulah yang dikatakan oleh Carl Sagan. Ya Sagan tentu benar. Tanpa moral yang agung, dan sifat agresif besar, sebelum sebuah peradaban berkembang, peradaban ini akan hancur oleh perang yang timbul dari dorongan agresif manusia. 

Sebagaimana dianjurkan Robert Johnson, untuk menangkal terorisme yang dilakukan atas nama agama-agama, langkah yang terbaik adalah meningkatkan dan memperluas sekularisasi pada aras global, alih-alih mengindoktrinasi umat-umat beragama dengan doktrin-doktrin keagamaan lain yang moderat dan yang menganjurkan perdamaian dan toleransi. 

Indoktrinasi semacam ini hanya menggeser kepercayaan keagamaan yang pada kodratnya berwatak absolut, dari yang keras ke yang moderat. Absolutisme inilah yang dilihatnya sebagai problem besar dalam semua agama. 

Selanjutnya, tulis Johnson, “Sekularisme dan pemikiran rasional syukur sekali telah membuat kekristenan sebagai agama nasional di Barat berubah menjadi moderat.... Dan beruntung sekali, karena sekularisme, terorisme Kristen sebagian besar telah lenyap sebelum peradaban modern menemukan teknologi yang memiliki kemampuan merusak yang sangat kuat.”/5/ 

Dengan kata lain, modernitas memiliki kemampuan untuk membuat agama-agama garis keras melunak, lewat nilai-nilai sekular yang ditawarkannya.  

Tapi hemat saya, usaha mengajak umat-umat beragama meninggalkan doktrin-doktrin keagamaan yang mendorong mereka untuk melakukan kekerasan, lalu merangkul dan mengamalkan doktrin-doktrin yang memacu mereka berbuat bajik, adalah usaha yang juga perlu dilaksanakan, karena memang selalu ada segi-segi positif dalam setiap agama yang bisa akomodatif dengan modernitas. 

Selain itu Robert Johnson juga perlu diingatkan bahwa meskipun terorisme atas nama kekristenan makin jarang atau nyaris tak pernah terjadi lagi, kekristenan evangelikal dewasa ini nyaris tidak punya peran positif apapun dalam usaha-usaha memajukan ilmu pengetahuan modern yang memerlukan pemikiran rasional untuk bisa berkembang. Saya akan segera balik lagi ke soal ini. 

Saya selanjutnya ingin tekankan, bahwa selain terduduk lumpuh di kursi-kursi roda, agama-agama yang melawan modernitas juga terpaksa mengambil watak oportunis, dan jiwa-jiwa mereka juga terpecah, disadari atau tanpa disadari. 

Salah seorang petinggi MUI bidang seni dan budaya, KH Cholil Ridwan, menolak demokrasi sebagai sebuah metode modern mengelola negara, tapi juga memakai demokrasi dan Pancasila untuk tujuan jangka panjang islamisasi NKRI. Katanya di tahun 2011, 

“Untuk sementara ini, umat Islam bisa memanfaatkan perahu demokrasi dan Pancasila untuk menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memberlakukan syariat Islam. Jika sudah sampai ke tempat yang dituju, Pancasila dan Demokrasi dapat kita tanggalkan dan menggantinya dengan hukum Islam.”/6/ 

Yang saya maksudkan dengan “islamisasi” di sini adalah “Alquranisasi dan Arabisasi” Indonesia, memundurkannya ke abad ke-7 konteks Jazirah Arabia. 

Apa logikanya, selain logika oportunisme, jika sang petinggi MUI itu memakai demokrasi modern dan Pancasila untuk islamisasi NKRI? Dan kata siapa, bahwa maksud sang petinggi MUI ini hanya relevan untuk umat Islam Indonesia, sementara NKRI ini milik bangsa Indonesia yang menganut agama-agama lain juga yang non-Islam? 

Saya heran mengapa sebagai seorang petinggi MUI, KH Cholil Ridwan tidak mau melihat dan tidak mau memahami bahwa multikulturalisme dan pluralisme adalah fakta-fakta real di dalam negerinya sendiri, yang harus disikapi dengan toleran, cerdas dan terpelajar. Kita lihat dan tunggu saja di masa depan, apakah visi dan misi sang petinggi Muslim ini akan menggilas modernitas, ataukah sebaliknya: digilas modernitas. 

Sebagaimana telah diungkap oleh Wahid Institute, di sepanjang tahun 2013 (Januari-Desember) MUI adalah lembaga keagamaan di Indonesia yang paling banyak melakukan intoleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia lewat fatwa-fatwa yang dikeluarkannya./7/ Kita jadi bertanya, apakah ke depannya, di tahun-tahun selanjutnya, MUI akan makin banyak mempraktekkan intoleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia.

Bukankah intoleransi itu sebuah bentuk ketidakadilan dan kezaliman? Saya teringat pada sebuah pernyataan hebat Ibnu Taimiyah, bahwa 

Allah akan menegakkan negara yang adil walau negara kafir, tapi akan meruntuhkan negara yang zalim walau negara Muslim. 

Jadi, menurut Taimiyah, di pandangan mata Tuhan, benar atau tidaknya sebuah negara, ortodoks atau tidaknya sebuah negara, bukan bergantung pada agamanya atau pada keislaman, tetapi pada ihwal apakah para pemimpin negara ini berhasil menjadikan negara mereka negara yang di dalamnya keadilan dialami seluruh rakyatnya, yang di dalamnya tidak ada kezaliman bagi semua orang. 

Mustinya semua alim-ulama di dalam MUI membenarkan, mendukung dan menjalankan visi agung kenegarawanan Ibnu Taimiyah ini. Memaksa menegakkan negara Islam sementara rakyat negara ini menganut agama-agama yang berbeda, jelas sebuah bentuk ketidakadilan dan kezaliman yang dilawan Ibnu Taimiyah.  

Bagaimana dengan kekristenan? Kalangan Kristen evangelikal juga mengecam habis modernitas dari kursi roda mereka, tapi juga menikmati banyak fasilitas kehidupan modern, setidaknya menikmati kursi roda buatan negeri mereka yang modern. 

Kalangan Kristen evangelikal ini ingin kembali ke abad pertama zaman para rasul Yesus Kristus, tapi dengan memanfaatkan semua teknologi modern dalam berbagai aktivitas ibadah dan penyebaran keyakinan-keyakinan mereka ke seluruh dunia. 

Kalangan Kristen evangelikal ini ingin hidup dalam semangat “Injil zaman kuno” sepenuhnya, tapi juga tanpa sungkan menikmati semua fasilitas modern. 

Kalangan Kristen evangelikal ini ingin menjadikan “Sepuluh Perintah Musa” sebagai UUD negara mereka sendiri, Amerika Serikat, menggantikan UUD sekuler yang disusun para Bapak Pendiri tersohor negeri besar ini. 

Dalam ideologi, kekristenan sayap kanan Amerika Serikat ini menolak modernitas dengan keras, tapi dalam praktek kehidupan mereka, mereka menikmati modernitas tanpa malu-malu. Skizofrenia! 

Punya dampak sosio-kultural globalkah keberadaan kekristenan evangelikal ini? Sama sekali tidak. Mereka garang tapi sambil duduk lumpuh di sebuah kursi roda, di suatu sudut gelap planet Bumi. 

Alih-alih mendorong perkembangan sains modern, kalangan Kristen evangelikal malah membangun “sains Alkitab” yang diberi nama kreasionisme dan intelligent design (ID), dan dengan keras kepala menolak semua sains modern, khususnya sains evolusi dengan memakai sebuah argumen yang selalu mereka ulang-ulang, argumen yang mereka sebut irreducible complexity atau kompleksitas yang tidak dapat disederhanakan./8/

Baiklah saya gambarkan ringkas apa yang dimaksud dengan “irreducible complexity”. Ini adalah adalah sebuah argumen yang dipakai kalangan pembela dogma ID yang pada hakikatnya menolak evolusi biologis. 

Argumen ini menyatakan bahwa sistem-sistem biologis tertentu terlalu kompleks untuk dapat berasal dari evolusi sistem-sistem sebelumnya yang lebih sederhana atau yang kurang kompleks, lewat seleksi alam yang menghasilkan serangkaian mutasi yang terjadi secara alamiah dan kebetulan dan mendatangkan manfaat bagi sistem-sistem yang berevolusi ini. Argumen ini mula-mula diajukan oleh Prof. Michael Behe, pakar biokimia. 

Menurutnya, sistem yang kompleks yang tidak bisa disederhanakan adalah sebuah sistem “yang terdiri atas beberapa bagian yang berinteraksi dan terpadu dengan baik, yang membuat sistem ini dapat menjalankan fungsi dasariahnya, sehingga kalau salah satu bagiannya ditiadakan, keseluruhan sistem akan sama sekali tidak berfungsi.”/8/ 

Tetapi para pakar biologi evolusioner telah menunjukkan bahwa sistem-sistem yang semacam itu juga dihasilkan lewat evolusi, dari yang tidak kompleks atau kurang kompleks menuju yang kompleks atau yang lebih kompleks. 

Kembali ke evangelikalisme. Anehnya, kalangan Kristen ini anteng-anteng dan betah-betah saja hidup setiap hari dalam negeri-negeri besar mereka yang sebetulnya dikendalikan sains dan teknologi modern, bahkan mereka dengan freely mengambil keuntungan-keuntungan besar dari gaya hidup modern. 

Jadi, Kekristenan tradisional juga sudah lumpuh total di kursi roda terkena stroke kebudayaan, diperparah juga oleh penyakit skizofrenia dan gaya hidup oportunis. 

Jadi, sekali lagi: setiap agama yang melawan modernitas, akan terkena stroke kebudayaan sehingga lumpuh total duduk di kursi roda, dan hanya mampu berteriak dari situ menghujat modernitas. 

Dunia masa kini sedang dipersatukan bukan oleh agama apapun, tapi oleh modernitas sebagai sebuah peradaban yang dari saat ke saat makin mengglobal. 

Sementara saya menyatakan hal ini, saya juga melihat kebenaran dalam apa yang dinyatakan Huntington, bahwa nilai-nilai Barat seperti demokrasi, toleransi, pasar bebas, pemerintahan yang terbatas, HAM, keutamaan individu, budaya saintifik, dan kedaulatan hukum (the Rule of Law) memang dirangkul dan dikedepankan oleh minoritas-minoritas di dalam peradaban-peradaban lain. 

Tetapi sikap dominan terhadap nilai-nilai Barat ini beranekaragam, mulai dari skeptisisme yang luas sampai ke perlawanan yang kuat. Apa yang oleh Barat dipandang sebagai universalisme, bagi bagian-bagian lain dunia adalah imperialisme./9/ 

Jika agama-agama tradisional melihat Barat, dengan demikian juga modernitas dan semua nilainya, semata-mata sebagai imperialis, dan tidak bisa melihat peran modernitas sebagai pembebas dan pencerah dunia, maka agama-agama ini akan pasti tergilas oleh modernitas, cepat atau lambat.

Ada satu lagi nilai modern yang perlu diadopsi oleh setiap agama jika mereka ingin berperan signifikan dalam dunia modern: humanisme. 

Setiap orang yang hidup dalam semangat humanisme, akan mengutamakan kemanusiaan, humanitas, bukan agama, sebagai pengikat semua insan di muka planet Bumi sebagai saudara. 

Kini sudah ada sebuah istilah legal baku, crime against humanity, yang dikenakan bagi setiap tindak kejahatan dan kekerasan yang ditujukan kepada sejumlah besar manusia di belahan manapun dari planet Bumi. 

Semakin dalam seorang beragama jatuh ke dalam ego primordialisme, semakin benci dia pada humanisme global, dus semakin terasing dia dari dunia ini dan dari hati sesamanya yang berbeda agama darinya. 

Jadi, kebalikannya, semakin kuat perhatian sebuah agama pada isu-isu kemanusiaan global, semakin signifikan dan fungsional perannya dalam dunia modern yang dihuni umat manusia yang menghayati bersama satu kemanusiaan global. 

Ke depan, peradaban global yang dilandasi sains-teks modern dan humanisme, akan makin kuat, bukan makin lemah, dan siapapun yang melawannya, akan tergilas. 

Oh ya, ada satu lagi global concern yang juga mempersatukan semua insan di muka Bumi ini pada masa kini dan seterusnya ke depan, yakni usaha melestarikan planet biru kita ini dan mencegah berbagai bahaya (buatan manusia sendiri atau ancaman bencana alam/kosmik) yang dapat merusak dan melenyapkannya.   

Usaha-usaha pelestarian planet ini tentu saja pertama-tama sedang dan akan terus dijalankan para saintis dan teknolog; tetapi partisipasi kita semua sebagai penghuni planet ini sangat diperlukan. 

Dalam tata-kelola atas planet Bumi dan atas seluruh kosmos, kini sudah juga dimunculkan sebuah istilah legal, crime against creation, tindak kejahatan terhadap planet Bumi dan kosmos. Sudah muncul kesadaran yang makin meluas bahwa Bumi dan juga jagat raya dan semua organisme tidak terpisahkan, tetapi berhubungan satu sama lain, dan saling bergantung. 

Tentu saja, saya ingin tekankan, peradaban modern bukanlah malaikat suci tanpa dosa, tapi sebuah model kehidupan global yang masih memiliki banyak cacat cela dan kekurangan. Lewat pendekatan saintifik, dan lewat banyak nilai modern yang agung dan lewat manusia-manusia agung, segala cacat dan kekurangan modernitas yang masih ada, akan kita atasi bersama-sama, tahap demi tahap dengan percepatan yang makin meningkat. Kearifan-kearifan lokal dari banyak suku bangsa di dunia, yang memiliki cita-cita yang sejalan dengan ideal-ideal modernitas, juga akan berperan penting. 

Modernitas akan makin kuat, bukan makin lemah, dan akan makin kaya dengan ideal-ideal tentang bagaimana hidup lebih baik, lebih maju, lebih saintifik, lebih sehat, lebih berbahagia, lebih bersaudara, dan lebih berbelarasa. 

Jika anda ingin agama anda punya peran penting di masa depan dunia, janganlah melawan modernitas, tapi berdialoglah dengannya secara empatetis dan cerdas. 

Sekali lagi, agama apapun yang melawan modernitas akan terkena stroke kebudayaan lalu duduk lumpuh di kursi roda di sebuah sudut ruangan global, dan paling banter akan dapat dari situ dengan rasa frustrasi berteriak-teriak garang memaki dan menghujat modernitas. 

Daripada anda lumpuh terduduk di kursi roda sambil dengan powerless teriak-teriak menghujat modernitas, lebih baik anda berkawan dengannya, lalu memainkan peran fungsional di dalamnya.   

Jika anda memilih menjadi seorang agamawan radikal, anda sedang melawan modernitas dan akhirnya akan mengalami stroke kebudayaan. Jika anda berpikir modern, anda akan dengan sadar menjauh dari radikalisme keagamaan apapun, sebab radikalisme keagamaan sama sekali bukan sebuah produk modernitas, melainkan reaksi defensif dan ofensif, reaksi orang kalap, terhadap nilai-nilai kehidupan yang ditawarkan modernitas. 

Sudah merupakan tugas ilahi bagi anda sekarang: menjadi para agamawan modern. Tak ada pilihan lain yang responsif, layak, relevan, signifikan, masuk akal, dan langgeng.

Sebagai penutup, saya ingin menegaskan hal penting ini untuk anda tidak lupakan selamanya: Menjadi modern tanpa beragama, itu mungkin, tapi tetap beragama tanpa menjadi modern akan menimbulkan penderitaan dalam diri anda dan anda akan pasti terkena skizofrenia yang tidak membahagiakan, dan akhirnya anda akan pasti kehilangan fungsi signifikan dari kehidupan anda dalam dunia ini. 

Tentu anda dapat memilih untuk menempuh jalan kehidupan sebagai seorang mistikus atau seorang sufi yang hidup asketis di gurun-gurun pasir apa adanya, atau di tempat-tempat terpencil lainnya, yang terisolasi dari dunia luar, tak bersentuhan dengan modernitas. Tetapi saya bertanya pada anda: Apa signifikansi kehidupan seorang suci, sesuci apapun, jika dia tak memberi dampak apapun pada dunia luas di luar dunianya yang terpencil? Tidak ada! 

Hemat saya, jika anda mau hidup suci, hidup asketis, jalanilah kehidupan semacam ini di dalam dunia modern sekarang ini, untuk mempengaruhinya secara substansial. Jika anda mau hidup beraskese, jalanilah askese anda di dalam dunia luas yang real, jalanilah, memakai istilah Max Weber, worldly asceticism, asketisisme duniawi. Terminologi yang dipakai Weber ini (dalam bahasa Jerman: weltliche Askese) perlu dijelaskan./10/

Dalam bukunya Sociology of Religion, bab x (berjudul “The Different Roads to Salvation”), Weber mendefinisikan “keselamatan” (“salvation”) sebagai “perilaku etis yang aktif yang diberikan kepada seseorang sebagai suatu karunia yang khas, yang dijalankannya dalam kesadaran bahwa allah memandu perilakunya, maksudnya: sang aktor menjadi suatu instrumen allah. Kita dapat menyebut sikap dan perilaku jenis ini terhadap keselamatan sebagai ‘asketis’, yang dicirikan oleh suatu prosedur metodis untuk mendapatkan keselamatan keagamaan.”/11/

Bab xi bukunya itu berjudul “Asceticism, Mysticism and Salvation Religion”. Pada bagian awal bab ini, Weber menulis, 

“Jika seseorang berkonsentrasi pada pengejaran keselamatan dengan nyata, orang ini akan dapat menarik diri secara formal dari ‘dunia’”. Tindakan menarik diri dari dunia inilah yang membuat seorang yang religius disebut “asketis”. 

Tetapi bagi Weber, tidak harus setiap asket menarik diri dari dunia dan semua persoalan di dalamnya. Seorang asket bisa “berpartisipasi di dalam lembaga-lembaga dunia ini, sekaligus juga melawan lembaga-lembaga ini” berdasarkan pola-pola sikap dan kelakuan serta sifat-sifatnya yang sakral “sebagai instrumen yang dipilih allah.” 

Si asket yang semacam ini melihat diri “dapat memiliki kewajiban untuk mengtransformasi dunia ini sejalan dengan ideal-ideal asketisnya sendiri.” Dengan demikian, si asket ini menjadi seorang pembaharu masyarakat atau seorang yang revolusioner. 

Tipe askese yang semacam inilah yang Weber istilahkan weltliche Askese, worldly asceticism, atau asketisisme duniawi./12/ Mereka, para asket ini, ada di dalam dunia, dan membaharui dunia, tetapi bukan bagian dari dunia ini. Aura kesucian mereka bercahaya-cahaya di dalam keramaian dan kesibukan dunia, yang di dalamnya mereka ambil bagian dengan proaktif dan kreatif.

Jika seorang sufi itu seorang asket, maka jika si sufi menjalankan apa yang Weber istilahkan askese duniawi, si sufi ini pantas disebut sufi modern. Menjadi sufi modern, adalah sebuah perspektif cerdas yang akan mampu merelevansikan mistisisme dengan modernitas.

-----------------------

/1/ Denny JA, Democracy Project: Denny JA tentang Cak Nurhttps://www.youtube.com/watch?v=xGIPajhyULY.

/2/ Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (New York, N.Y.: Touchstone, 1996, 1997), hlm. 183. Sejak buku ini diterbitkan, muncul banyak perdebatan. Tentang perdebatan ini, lihat Gideon Rose, ed., The Clash of Civilizations? The Debate: Twentieth Anniversary Edition (New York: N.Y.: Council on Foreign Relations, 2013). Bab terakhir buku ini berjudul menarik: Sam’s Club: Samuel P. Huntington, R.I.P.

/3/  Richard Carrier, Christianity Was Not Responsible for Modern Sciencedalam John W. Loftus, ed., The Christian Delusion: Why Faith Fails. Kata pengantar oleh Dan Barker. (Armherst, New York: Prometheus Books, 2010), hlm. 396-419.

/4/ Tentang sekularisasi dan desekularisasi, lihat Ioanes Rakhmat, Beragama dalam Era Sains Modern (Jakarta: Pustaka Surya Daun, 2013), hlm. 1-32.

/5/ Robert Johnson, “Year in Review. 2013 Reminds Us Why Secularism Matters”, Richard Dawkins.Net, 21 January 2014, http://www.richarddawkins.net/foundation_articles/2014/1/20/year-in-review-2013-reminds-us-why-secularism-matters#.

/6/ Lihat “KH. Cholil Ridwan: Demokrasi dan Pancasila sebagai Tumpangan Sementara”  dalam Voice of Al Islam, 6 Juni 2011, http://m.voa-islam.com//news/indonesiana/2011/06/06/15146/kh-cholil-ridwan-demokrasi-pancasila-sebagai-tumpangan-sementara/

/7/ Lihat reportase Adinu, “MUI dianggap urutan teratas pelanggaran toleransi beragama”, Islam Indonesia, 22 Januari 2014, http://islamindonesia.co.id/detail/1200-MUI-Dianggap-Urutan-Teratas-Pelanggaran-Toleransi-Beragama#.UuC7FPvZHIX.

/8/ Lihat Wikipedia: “Irreducible Complexity”, http://en.wikipedia.org/wiki/Irreducible_complexity.   

/9/ Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations, hlm. 184.  

/10/ Pembahasan bagus mengenai maksud Weber dengan weltliche Askese diberikan oleh Paul Trafford dalam blog-nya, dengan judul “Webers Sociology of Religion: Asceticism and Mysticism”, 19 September 2008, http://paultrafford.blogspot.com/2008/09/webers-sociology-of-religion-asceticism.html

/11/  Max Weber, The Sociology of Religion. Pengantar oleh Talcott Parsons; kata pengantar baru oleh Ann Swidler. E.T. by Ephraim Fischoff (Boston, Massachusetts, 1963, 1991, 1993), hlm. 163 ff.

/12/ Max Weber, The Sociology of Religion, hlm. 166.


Friday, January 9, 2009

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial

Tiga Model Otoritas dan Relasi Sosial
dalam Gereja Perdana

Oleh Ioanes Rakhmat


Tulisan in
i tidak berisi kupasan teks Perjanjian Baru yang dapat memberikan gambaran-gambaran tentang pola dan fungsi jabatan gerejawi di dalam kehidupan gereja perdana. Yang akan disajikan dalam tulisan ini adalah model-model sosiologis tentang otoritas dan relasi sosial yang telah banyak dipakai dalam usaha-usaha untuk memahami relasi sosial dan kepemimpinan dalam kehidupan gereja perdana, zaman Perjanjian Baru.

memimpin... dan mengekor

Dengan mengenali model-model, kita dapat membayangkan bagaimana realitas yang sesungguhnya, yang sebetulnya jauh lebih kompleks, dapat berlangsung. Pada kesempatan ini, akan diketengahkan tiga model: model otoritas karismatik; model kepemimpinan pengelana, dan model relasi “patron-klien”. Uraian panjang lebar tentang pemakaian model-model ini bagi gereja perdana dapat dilihat dalam buku-buku yang dirujuk dalam tulisan ini.


Model Otoritas Karismatik


Dalam tipologinya tentang otoritas, Max Weber membagi otoritas dalam 3 jenis klasifikasi analitis:
1) Otoritas rasional-legal yang dilegitimasi oleh “suatu kepercayaan pada legalitas peraturan-peraturan yang diundangkan dan pada hak orang-orang yang diberi otoritas memimpin di bawah peraturan-peraturan tersebut untuk mengeluarkan perintah-perintah”;
2) Otoritas tradisional dengan legitimasinya diperoleh dari “suatu kepercayaan mapan pada kesucian tradisi-tradisi yang sudah sangat lama ada dan pada legitimasi dari orang-orang yang mempraktekkan otoritas kepemimpinan yang dilandaskan pada tradisi-tradisi itu”;
3) Otoritas karismatik dengan legitimasinya terletak pada “ketaatan dan kesetiaan terhadap seorang individu yang dipandang memiliki karakter yang patut diteladani, heroik dan memiliki kesucian luar biasa, yang juga terdapat pada pola-pola atau tatanan normatif yang disingkapkan atau ditahbiskan olehnya.”[1] Menurut Weber, karisma dan otoritas karismatik menunjuk pada “suatu sifat tertentu dari seorang individu pribadi, yang karena sifatnya ini dia dipandang luar biasa dan diperlakukan sebagai seorang yang dikarunia kemampuan-kemampuan adikodrati dan adi-insani, atau setidaknya dikaruniai kuasa atau sifat yang khas dan luar biasa. Kuasa dan sifat ini sangat luar biasa sehingga tidak dapat diperoleh orang biasa, tetapi dipandang sebagai teladan yang berasal dari Yang Ilahi, dan berdasarkan kuasa dan sifat ini pribadi yang bersangkutan diperlakukan sebagai seorang ‘pemimpin’”.[2]

Untuk memahami dengan lebih jelas bagaimana otoritas kepemimpinan dipraktikkan dalam kehidupan kekristenan perdana, jenis ketiga dari tipologi Weber di atas, yakni otoritas karismatik, perlu dijadikan sebuah model analitis. Bengt Holmberg telah membuat sebuah model analitis kepemimpinan karismatik dalam konteks keagamaan, berdasarkan pandangan Weber, dan menerapkannya pada kehidupan Yesus dan gereja perdana.[3] Menurut Holmberg, otoritas karismatik murni dicirikan oleh hal-hal berikut:

a) Pribadi dan pandangan hidup sang pemimpin
Sang pemimpin dipandang oleh dirinya sendiri dan oleh orang-orang yang dipimpinnya dalam komunitas yang dibangunnya sebagai seorang yang: (1) memiliki suatu panggilan pribadi langsung dari Allah sendiri; (2) memiliki kuasa-kuasa magis atau kuasa-kuasa adi-insani, dan menjadi (3) “Juru selamat” pribadi bagi komunitas yang dibangunnya; dan dia (4) menjalani suatu kehidupan yang “luar biasa”, bekerja tanpa bayaran dan tanpa organisasi, tidak memiliki kehidupan keluarga, tidak mempunyai harta milik, dan menganut pandangan-pandangan yang tidak sejalan dengan kepercayaan dan adat-istiadat tradisional.

b) Misi sang pemimpin
Misi yang diterima sang pemimpin dari Allah bersifat radikal, destruktif (terhadap tatanan lama) dan inovatif; dia memberitakan sebuah amanat baru mengenai keselamatan, menyerang tatanan lama (“kamu telah mendengar …, tetapi aku berkata kepadamu ….”), dan merumuskan peraturan-peraturan untuk suatu kehidupan baru. Pada dasarnya, misinya bertujuan untuk membangun kembali seluruh tatanan sosial secara baru.

c) Hubungan sang pemimpin dengan para pengikutnya
Para pengikutnya memandang dia sebagai seorang “hero” atau seorang yang memiliki kuasa-kuasa adi-insani, dan mengambil bagian di dalam realitas ilahi melalui penglihatan-penglihatannya yang superior, kekuatan dan kebaikannya. Hubungan mereka dengannya ditandai oleh kesetiaan, ketaatan, pengabdian, keterpesonaan dan kepercayaan mutlak; dan mereka memprioritaskan ucapan-ucapannya dibandingkan ucapan-ucapan orang-orang lain. Ketaatan dan dukungan adalah manifestasi alamiah dari sikap mereka terhadap sang pemimpin.

d) Perilaku komunitas karismatik

(1) Semua anggota komunitas memercayai, menaati dan mendukung sang pemimpin (seperti dinyatakan di atas);

(2) Semua anggota komunitas telah mengalami suatu revolusi batiniah dan telah dipindahkan dari kehidupan biasa masuk ke dalam “kehidupan baru”, yang diwujudkan dalam banyak cara yang kongkret;

(3) Semuanya sama-sama memiliki kesadaran sebagai komunitas elitis, kudus dan terpilih, yang telah memiliki “keselamatan” dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.

e) Diferensiasi di dalam komunitas karismatik

(1) Kelompok luar, terdiri dari para pengikut yang tetap melanjutkan cara hidup mereka yang biasa (bekerja, berkeluarga, memiliki harta benda, memelihara kehidupan tradisional lokal);

(2) Kelompok dalam, yakni para “staf”, yaitu mereka yang ambil-bagian di dalam kehidupan “luar biasa” dari sang pemimpin: (a) Mereka secara pribadi telah dipanggil oleh sang pemimpin untuk menjadi murid-murid dan rekan-rekan sekerjanya berdasarkan kualifikasi-kualifikasi karismatik mereka; (b) Mereka telah meninggalkan keluarga, pekerjaan, harta milik, dan tradisi, untuk hidup di dalam suatu hubungan komunistik dengan sang pemimpin; (c) Mereka mendapatkan tugas-tugas langsung dari sang pemimpin; tidak ada seorang pun dari antara mereka memiliki otoritas, peringkat dan wilayah kompetensi apapun kepunyaan mereka sendiri terlepas dari sang pemimpin; (d) Sebagai suatu konsekwensi dari (a) sampai (c), staf memiliki suatu kesadaran yang lebih diperkuat sebagai suatu kelompok elitis: mereka adalah elit dari elit, di dalam semua segi yang terhubung sangat erat dengan sang pemimpin.[4]

Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya ketika sang pemimpin telah meninggal dunia, komunitas karismatik, dengan karisma-karisma yang dilekatkan pada sang pemimpin dan staf-nya, mengalami apa yang oleh Weber disebut “the routinization of charisma” (Veralltäglichung des Charismas). “Rutinisasi karisma” ini dialami kelompok di sekitar Yesus ketika kelompok ini, setelah ditinggal mati oleh Yesus, berkembang menjadi sebuah lembaga gereja yang dilengkapi dengan sebuah korpus doktrin yang disistematisasi, kultus dan organisasi.[5] Menurut Weber, rutinisasi karisma ini timbul dari “keinginan untuk mentransformasi karisma dan berkat-berkat karismatik dari suatu karunia yang diberikan yang ilahi, yang sifatnya unik dan sementara, yang diterima pada waktu-waktu yang luar biasa, menjadi suatu kepemilikan permanen dalam kehidupan sehari-hari.”[6] Ketika karisma ini telah diadaptasikan pada kehidupan sehari-hari, telah dirutinisasikan, tak pelak lagi karisma ini dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja dalam masyarakat, khususnya kepentingan-kepentingan ekonomi. Sebetulnya, kekuatan riil yang mendorong proses rutinisasi karisma adalah staf sang pemimpin beserta ideal-ideal kuat mereka dan kepentingan material di dalam usaha melanjutkan kehidupan komunitas.


Model Kepemimpinan Pengelana


Model ini (diambil dari model sosiologi literatur) melihat kepemimpinan dalam komunitas-komunitas Kristen perdana dipikul oleh orang-orang berkarisma yang menjalani kehidupan mengelana (wandering/itinerant charismatics atau itinerant leaders), berpindah-pindah tempat, untuk memberitakan injil dan menyembuhkan orang sakit. Kebutuhan-kebutuhan hidup mereka ditopang dan dipenuhi oleh orang-orang yang bersimpati terhadap pergerakan mereka (supporters atau sympathizers), yakni penduduk kota-kota yang mereka kunjungi, atau para pemimpin yang menetap yang mengorganisir orang-orang Kristen lokal (resident leaders). Terbangun pelayanan dan perhatian timbal-balik antar-kedua jenis kepemimpinan ini. Kajian terhadap dua pola kepemimpinan ini dalam kekristenan perdana telah dengan meluas dilakukan antara lain oleh Gerd Theissen.[7]


Model Relasi “Patron-Klien”


Dunia Yunani-Romawi di dalam mana kekristenan perdana lahir dan bertumbuh adalah dunia yang di dalamnya relasi-relasi antar-personal, dan antar-individu dengan masyarakat dan dengan keseluruhan imperium Romawi, berlangsung dalam pola hubungan patron-klien. Halvor Moxnes mendefinisikan relasi patron-klien sebagai “hubungan-hubungan sosial di antara individu-individu yang didasarkan pada suatu elemen kuat ketidaksetaraan dan perbedaan dalam kekuasaan. Struktur dasariah dari hubungan semacam itu adalah suatu pertukaran dari sumber-sumber yang berbeda dan tidak setara. Seorang patron memiliki sumber-sumber sosial, ekonomis, dan politis yang diperlukan oleh seorang klien. Sebagai balasannya, seorang klien dapat menyatakan kesetiaan dan penghormatan yang berguna bagi sang patron.”[8] Moxnes memakai model relasi “patron-klien” untuk menggambarkan relasi-relasi sosial dan kepemimpinan yang tercermin dalam Lukas-Kisah.

Unsur-unsur yang terdapat di dalam model relasi “patron-klien” dapat dijabarkan berikut ini: (a) Interaksi di antara patron-klien didasarkan pada pertukaran serentak jenis-jenis sumber-sumber yang berlainan. Seorang patron memiliki sumber-sumber instrumental, ekonomis, dan politis, dan karenanya dapat memberikan dukungan dan perlindungan; seorang klien, sebagai balasannya, dapat memberikan janji-janji dan pernyataan-pernyataan solidaritas dan kesetiaan; (b) Terdapat suatu unsur kuat solidaritas di dalam hubungan-hubungan ini, yang dikaitkan dengan kehormatan personal dan kewajiban-kewajiban; (c) Dapat terbangun suatu ikatan spiritual, betapa pun ambivalen, antara para patron dan para klien; (d) Relasi-relasi patron-klien tampak mengikat dan memiliki kisaran waktu yang panjang, idealnya bisa berlangsung seumur hidup. Tetapi, relasi-relasi semacam ini di antara individu-individu pada prinsipnya berlangsung secara sukarela, dan dapat dilepaskan juga dengan sukarela; (e) Relasi-relasi patron-klien didasarkan pada suatu elemen ketidaksetaraan yang sangat kuat dan pada perbedaan di dalam kekuasaan. Seorang patron memiliki suatu monopoli atas posisi-posisi dan sumber-sumber tertentu yang penting dan vital bagi kliennya; (f) Relasi-relasi patron-klien juga dapat mengambil bentuk peran pengantara (brokerage) yang dimainkan sang patron, ketika dia berfungsi sebagai sorang mediator/pengantara yang memberikan kepada kliennya akses kepada sumber-sumber yang dimiliki oleh seorang patron yang lebih berkuasa.[9]


Penutup


Tiga model sosiologis yang telah dengan singkat digambarkan di atas dapat membantu kita untuk lebih mengenali pola-pola kepemimpinan yang dapat muncul dalam kehidupan gereja perdana. Untuk ini, tentu saja perlu dilakukan pengujian apakah model-model ini dapat dengan pas diterapkan pada kekristenan perdana, dengan cara mencari dan menganalisis bukti-bukti tekstual di dalam Perjanjian Baru. Pengujian ini telah dilakukan oleh para penafsir Kitab Suci dengan hasil yang memuaskan. Terbukti masalah kepemimpinan dalam gereja-gereja perdana bukan hanya masalah teologis, tetapi juga masalah sosiologis. Hal yang sama juga seharusnya ditemukan di dalam usaha-usaha gereja-gereja masa kini untuk memilih bentuk-bentuk kepemimpinan gerejawi yang pas. Studi atas teks-teks Kitab Suci harus dilengkapi juga dengan studi-studi sosiologis.


Catatan-catatan

[1] Max Weber, Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology, vol. 1-3, Ed. by Guenther Roth and Claus Wittich (New York: 1968) 215.

[2] Weber, Economy and Society, 241.

[3] Bengt Holmberg, Paul and Power: The Structure of Authority in the Primitive Church as Reflected in the Pauline Epistles (Philadelphia: Fortress Press, 1978) 137-160.

[4] Bengt Holmberg, Paul and Power, 149f.

[5] Pembahasan tentang rutinisasi karisma dalam kehidupan gereja perdana, lihat Bengt Holmberg, Paul and Power, 161ff.

[6] Weber, Economy and Society, 1121. Lihat juga Weber, The Sociology of Religion (Boston: Beacon Press, 1963) 60f.; idem, The Theory of Economic and Social Organization (New York: Free Press, 1964) 358-92.

[7] Gerd Theissen, The First Followers of Jesus (London: SCM Press, 1978); judul terbitan USA: Sociology of Early Palestinian Christianity (Philadelphia: Fortress Press, 1978). Lihat juga David G. Horrell, “Leadership Patterns and the Development of Ideology in Early Christianity”, dalam David G. Horrell, ed., Social-scientific Approaches to New Testament Interpretation (Edinburgh: T & T Clark, 1999) 309-337.

[8]Halvor Moxnes, “Patron-Client Relations and the New Community in Luke-Acts”, dalam Jerome H. Neyrey, ed., The Social World of Luke-Acts: Models for Interpretation (Peabody, Massachusetts: Hendrickson, 1991) 242 [241-268].

[9]Moxnes, “Patron-Client Relations”, 248.