Monday, February 1, 2021

Bolehkah penderita diabetes memakan buah pisang matang?


Sudah diketahui, bahwa pisang berisi banyak nutrien, mineral, gula alamiah, serat/fiber, dan vitamin. Khasiat pisang lumayan banyak untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan tubuh. Ikuti video di bawah ini yang membeberkan khasiat-khasiat buah pisang. Mungkin anda akan takjub saat mendengarkannya, lalu tahu betapa banyak khasiat pisang.



Pisang yang makin matang akan memunculkan pada kulitnya bercak-bercak coklat. Kulit pisang muda/setengah matang tidak berbercak coklat, tetapi berwarna hijau atau kuning segar. Ada juga jenis pisang yang berkulit hijau dengan berbercak coklat tanda sudah matang. Makin matang sebuah pisang, makin dianjurkan untuk dikonsumsi karena khasiatnya lebih banyak dibandingkan pisang hijau yang belum matang. 

Biasakan diri untuk memakan dua buah pisang setiap hari untuk menjaga kesehatan tubuh. Di Amerika, orang lebih banyak makan pisang dibandingkan makan apel dan jeruk bersamaan.

Karena pisang yang matang terasa makin manis, artinya kandungan fruktosa glukosanya lebih tinggi, para penderita diabetes jadi bertanya-tanya, bolehkah mereka memakan pisang matang. Baiklah, kita cari jawabnya.

Indeks Glikemik (atau GI, "Glycemic Index") menunjukkan efek yang ditimbulkan oleh suatu jenis makanan pada kadar gula darah, apakah membuat indeks ini tinggi atau rendah lewat karbohidrat yang ada dalam makanan tersebut. 

Pisang memiliki GI yang rendah. Menurut database internasional GI, pisang matang memiliki GI 51, sementara makanan yang GI-nya rendah menunjukkan angka 55 atau lebih rendah. Jadi, pisang matang kurang lebih sama indeks GI-nya dengan makanan lain yang memiliki GI rendah.

Dengan demikian, para penderita diabetes dapat dengan aman memakan pisang matang, satu atau dua buah per hari ukuran kecil.

Ditemukan, kadar gula darah puasa turun jika orang teratur memakan pisang. Buah-buahan dengan GI rendah mengurangi risiko timbulnya diabetes.

Orang tentu saja lebih suka memilih pisang hijau (menuju kuning) atau pisang kuning cerah, karena pisang matang menampilkan kulit yang tak enak dipandang. Bertotol-totol coklat jelek. Ok-lah, jika pilihan anda begitu.

Ya, pisang hijau atau pisang yang belum matang mengandung lebih banyak amilum. Apa itu amilum? Baiklah saya jelaskan pendek saja.

Amilum, selain glikogen dan selulosa, adalah karbohidrat polimerik yang terdiri atas unit-unit glukosa yang diikat oleh polimer-polimer. Amilum ada berlimpah, dalam makanan sebagai sumber tenaga, juga tanaman hijau atau buah-buahan hijau sebagai polikarbohidrat atau polisakarid. Lebih lanjut, lihat di bawah.(*) 

Nah, amilum terdapat lebih banyak dalam pisang hijau, tapi sedikit dalam pisang matang, dan memberi efek lebih rendah pada gula darah ketimbang pisang matang. Amilum tidak dapat dipecah dengan mudah oleh tubuh seperti memecah gula yang kurang kompleks (monosakarid); alhasil memudahkan kontrol terhadap gula darah, dan memperlambat peningkatan kadar gula darah. 

Jadi, terkait efeknya pada kadar gula darah, pisang hijau sedikit memberi efek, dibandingkan pisang matang yang kulitnya berbercak coklat dengan kandungan polikarbohidrat amilum yang rendah.

Tetapi, mengingat pisang matang memberi khasiat lebih banyak dibandingkan pisang hijau pada kesehatan tubuh, dan mengingat IG pisang matang berada pada angka yang tergolong rendah (51), para penderita diabetes yang perlu mengontrol asupan karbohidrat mereka (di bawah pengawasan dieticians mereka) dapat dengan aman memakan pisang matang. Dengan catatan, ukuran pisang matang yang mereka makan perlu diperhatikan. 

Sebab ukuran pisang juga menentukan kandungan karbohidratnya. Makin sedikit karbohidratnya, makin dibutuhkan jika terkait dengan efek terhadap gula darah.

Pisang ukuran kecil (panjang 6-7 inch) mengandung karbohidrat lebih sedikit, yakni 23,07 gram sekali makan. Pisang ukuran sedang (7-8 inch) mengandung kurang lebih 26 gram karbohidrat. Pisang ukuran besar (di atas 8 inch) berisi 35 gram karbohidrat.

Jadi, para penderita diabetes dapat dengan santai memakan pisang matang, yang berukuran kecil saja, satu atau dua buah per hari, tetapi dengan khasiat yang lebih banyak ketimbang memakan pisang hijau yang belum matang. 

Sumber:

https://www.medicalnewstoday.com/articles/319992#diet-and-safety-tips 

https://www.ndtv.com/health/banana-a-fruit-loaded-with-carbs-and-sugar-can-diabetics-eat-banana-know-how-it-can-affect-your-bloo-2182564

(*) Polikarbohidrat atau polisakarid adalah karbohidrat polimerik rantai panjang yang terdiri atas unit-unit monosakarid yang diikat oleh pengikat glikosid. Polisakarid tidak terasa manis, tidak mengalami mutarotasi, dan tidak memiliki kelompok aldehid bebas atau kelompok keton bebas (disebut sebagai "non-reducing agent"). Karbohidrat dapat bereaksi dengan air dengan munggunakan enzim amilase sebagai katalisator lalu menghasilkan unsur gula. 

Semoga bermanfaat.

31 Jan 2021

ioanes rakhmat 

Saturday, January 30, 2021

Kini Diperlukan "Vaksin-vaksin Antisipatif" Multilinier Covid-19


MUTAN-MUTAN varian virus corona baru (mutan-mutan Inggris, Afrika Selatan, Brazil, plus Columbus Ohio, dan yang masih akan muncul) yang telah menyebar ke seluruh dunia, kini ditemukan RESISTEN dalam tingkat yang variatif terhadap vaksin-vaksin yang sudah ada.

Ya, terhadap semua vaksin. Termasuk vaksin Pfizer dan vaksin Moderna, menyusul segera vaksin Novavax dan vaksin Johnson & Johnson. Juga, masih ditunggu, vaksin Arcturus dan vaksin Vaxart (tablet dan sirup). Tentu juga vaksin-vaksin Tiongkok dan negeri-negeri lain.

Kini setiap kasus positif memerlukan sekuensing genetik virus! Tidak cukup test PCR dan penelusuran kontak saja! Jadi, problem dunia makin berat dan rumit terkait penanggulangan pandemi Covid-19.

Apakah Indonesia mampu melakukan langkah penanggulangan yang makin berat dan rumit ini? Kita berharap ya.

Terkait vaksin, kini langkah-langkah penting diperlukan:

1. Melakukan "adjustment" atau "penyetelan ulang" vaksin-vaksin yang sudah ada. Setelah itu, perlu uji klinis dan otorisasi penggunaan darurat lagi.

2. "Adjustment" atas vaksin yang sudah ada atau atas vaksin yang sedang dikembangkan harus bisa menghasilkan vaksin-vaksin yang mampu jauh mengantisipasi mutasi-mutasi besar virus corona.

Dus, dibutuhkan vaksin-vaksin yang semua komponen kimiawi dalam vaksin-vaksin ini memiliki kapasitas untuk melampaui banyak mutasi besar genetik yang sedang dan akan terjadi secara multilinier pada strain semula virus corona baru (yaitu strain Wuhan, Desember 2019).

"Vaksin antisipatif" ini mengharuskan usaha keilmuan yang lebih cerdas, yang dijalankan interaktif bersama dunia real yang liar, yang berada di luar dunia uji klinis ilmiah yang terkontrol.

Lewat vaksin antisipatif ini, replikasi diri virus-virus corona baru harus dapat dihentikan jika pandemi ingin dapat ditanggulangi "penuh". Mutasi genetik viral berlangsung saat replikasi diri. Kita butuh vaksin-vaksin unggulan yang mampu sepenuhnya mencegah replikasi diri mutan-mutan virus corona baru. Dus, vaksin-vaksin antisipatif masa depan ini akan menjadi vaksin-vaksin editor DNA/RNA virus yang hidup (virion) yang telah menginfeksi tubuh manusia.

Jadi, tampaknya itu akan menjadi suatu usaha sains-tek vaksinologis yang besar, ruwet, dan membutuhkan waktu sangat panjang dan daya tahan mental dan raga dan ketabahan kita semua sebagai individu dan populasi.

3. Vaksin-vaksin yang sudah ada--- yang tentu tidak akan dibuang ke laut karena "sudah basi", maksudnya: tidak efektif lagi dalam membangun antibodi-antibodi lengkap terhadap mutan-mutan virus--- tetap dapat disuntikkan sebagai dosis pertama untuk menangkal virus corona strain lama.

Sesudah jeda waktu yang variatif antar-vaksin, harus segera disusul dengan suntikan vaksin booster/penguat yang mampu menangkal mutan-mutan virus corona baru.

Dus, penyakit Covid-19 pasti akan menjadi penyakit endemik yang akan terus ada bersama kita, dan harus dilawan dengan vaksinasi vaksin-vaksin booster secara berkala (mungkin 6 bulan sekali atau 12 bulan sekali). Serupa dengan penanganan wabah influenza yang muncul musiman di kawasan-kawasan non-tropis.

Vaksin-vaksin booster ini tentu memerlukan "adjustment" atau penyesuaian ulang terus-menerus sejalan dengan mutasi-mutasi virus corona yang terus berlangsung di saat mereka mereplikasi diri.

Sudah ditulis di atas, sangat diperlukan vaksin-vaksin booster atau vaksin-vaksin baru yang mampu jauh mengantisipasi sangat banyak mutasi genetik besar virus corona baru yang berlangsung dalam trajektori tidak unilinier, tapi multilinier.

Para ilmuwan global perlu bekerjasama dan bergabung dalam meneropong ke depan trajektori mutasi-mutasi genetik viral yang multilinier ini. Perlu ada "fusion of horizons" (terma Gadamer) antar para ilmuwan peneliti dan perusahaan-perusahaan farmasi pengembang vaksin-vaksin yang antisipatif.

Jadi, ya masa pandemi dan masa endemi Covid-19 akan dan sedang menjadi masa kesukaran besar umat manusia. Suatu kesengsaraan global. Suatu azab alamiah, bukan azab buatan manusia, dan juga bukan azab dari Langit.

Pandemi yang lalu berubah menjadi endemi Covid-19 akan berlangsung satu generasi atau lebih manusia. Kecuali untuk negeri-negeri maju kecil seperti Singapura dan New Zealand. Dampak-dampak global akan pasti terjadi pada kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, daya tahan tubuh, dan gaya kehidupan kita semua, serta hubungan internasional.

Semoga sains-tek maju vaksinologis, dalam interaksi dengan dunia nyata yang berjalan dalam hukum-hukumnya sendiri, akhirnya, dengan perkenan dan bantuan besar Tuhan YMPengasih, dapat menghentikan replikasi diri semua mutan virus corona dalam sel-sel tubuh manusia. Ini suatu target sains-tek yang luar biasa besar yang sangat sulit dicapai, tetapi tidak mustahil dapat diraih.

Temukanlah makna kehidupan anda di masa kesusahan besar pandemi Covid-19 yang sedang dan akan berlangsung jangka sangat panjang. Peran bermakna apa yang dapat anda jalankan, kecil sekalipun?

Kata almarhum psikoterapis beken Viktor E. Frankl asal Austria, kesengsaraan adalah bagian dari kehidupan, sukar sekalipun. Sebagaimana kita ingin kehidupan kita bermakna, maka kita sendirilah yang harus menemukan dan menciptakan makna dalam penderitaan berat sekalipun di era pandemi ini.

Jakarta, 30 Januari 2021
ioanes rakhmat

Sumber rujukan yang diperhatikan

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-30/covid-mutations-undercut-optimism-even-as-more-vaccines-get-near

https://ta6b7wzz5qeeqta24rhs3hppna-adwhj77lcyoafdy-www-bbc-com.translate.goog/news/amp/uk-55850352

https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-01-29/j-j-single-dose-vaccine-provides-strong-shield-against-covid-19

https://www.channelnewsasia.com/news/singapore/covid19-4-5-years-prolong-pandemic-risks-virus-mutate-14050198

https://www.channelnewsasia.com/news/world/covid19-moderna-vaccine-booster-south-africa-uk-strain-14039612

Friday, January 15, 2021

Puisiku: EL COMPASIVO



EL COMPASIVO

Saat Yesus disalibkan
Paku tak bisa menahan
Bebaslah kedua tangan
Merangkul insan kelaparan

Bebas jugalah kaki
Melangkah mencari
Insan lemah lunglai
Tak mampu tegak berdiri

Dalam empati
Dia sendiri mati
Kawan sejati
Insan duka hati

Tangan-Nya melambai
Aku datangi
Sendiri 
Sunyi

Jakarta, 15 Januari 2021


Thursday, January 14, 2021

Testimoni Seorang Pengelana Sunyi


IOANES RAKHMAT'S TESTIMONY



"Sang Sunyi dan keheningan, kecerdasan dan kebaikan, adalah arah jalan yang sedang saya tempuh." (ioanes rakhmat)

N.B. Dipublikasi 24 Desember 2011
Diedit mutakhir 22 Desember 2021



Sekian teman baru saja mengontak saya lewat beberapa media, bertanya, Mengapa saya bertobat (converted) ke Zen Buddhisme. Bukankah anda seorang pemikir mandiri, a freethinker? Berikut ini saya mau klarifikasi.

Zen Buddhisme itu, kendatipun di Indonesia digolongkan sebagai agama, sebetulnya bukan agama dalam pengertian konvensional teistik.

Dalam bentuk aslinya, Zen Buddhisme adalah filsafat asah otak, lewat meditasi intensif yang dipandu koan (kisah-kisah dialog atau kisah-kisah debat). Cara meditatif seperti ini dinamakan zazen. Beberapa teman bertanya, bagaimana/apa itu zazen. Nah, untuk tahu, simak saja tulisan saya ZAZEN.

Dalam Zen, tak ada teologi (doktrin tentang Allah), apalagi teologi yang antropomorfik, yang menggambarkan Allah dalam sifat dan bentuk manusia. Tak ada penyembahan kepada Allah dalam Zen; kalaupun ada sesuatu yang diagungkan, itu adalah the laws of nature, hukum-hukum alam.

Kalaupun mau disebut sebagai “Allah”, Allah dalam Zen adalah Allah Baruch de Spinoza, yang pernah menyatakan Deus sive Natura. Bagi Spinoza, hukum-hukum alam (natura) dan Allah (Deus) tidak bisa dipertentangkan, dengan menerima yang satu dan membuang yang lainnya.

Zen Buddhisme dan meditasi zazen adalah “filsafat” dan praktik spiritual yang tua. Nah, jika dibandingkan dengan monoteisme, jelas Zen bukanlah agama dalam pengertian yang sama.



Siapa saja, tanpa perlu meninggalkan agama lamanya, bisa berlatih zazen dalam biara-biara Zen, yang ada di Indonesia. Atau bisa juga berlatih secara otodidak dengan panduan buku-buku standard Zen; seperti anda juga bisa otodidak dalam memahami semua agama lain.

Nah, saya tidak menyatakan converted to Zen Buddhism; sebab di dalam rumah Zen saya bisa berkelana ke mana saja dalam suatu zazen. Rumah Zen adalah rumah yang luas, tanpa sekat-sekat.

Semua agama punya koan, yakni kisah-kisah yang umumnya berbentuk dialog atau debat. Sebetulnya, koan-koan adalah metafora-metafora. Nah, dalam zazen, koan dari agama manapun bisa dipakai untuk mencapai pencerahan budi dan perubahan perilaku.

Ada banyak aliran dalam Buddhisme, dari yang mayoritas sampai varian-varian minornya. Nah, Zen yang saya sekarang tekuni, saya ambil Zen yang tidak mengenal figur penyelamat atau penebus dosa.

Saya risau dengan doktrin Kristen tentang Yesus Kristus yang sudah mati sebagai sang penyelamat untuk menebus dosa manusia. 

Bagaimana mungkin, diimani dengan sekuat-kuatnya sekalipun, bahwa kematian Yesus dari Nazareth di kayu salib di abad pertama bisa menyelamatkan delapan milyar lebih manusia di abad ke-21 ini? Meskipun begitu, bagi saya, kematian Yesus yang terjadi "satu kali untuk selamanya" itu, punya makna lain yang sangat esensial. Di bawah, makna lain ini akan saya beberkan.

Mari kita bertanya dulu. “Diselamatkan” dalam arti apa? Apakah dalam arti dimasukkan ke dalam sorga setelah kematian karena percaya pada Yesus Kristus? Jika ini yang dimaksudkan, bagi saya keyakinan ini sama sekali tidak signifikan, sebab tidak ada sesuatu apapun yang bisa kita perbuat setelah kematian, yang punya makna untuk dunia dan kehidupan kita sekarang ini.

Boleh saja anda seribu kali masuk sorga setelah kematian; tapi jika selama kehidupan anda dalam dunia sekarang ini anda tidak berguna sama sekali untuk umat manusia dan dunia, anda tetaplah seorang yang telah sia-sia ada dalam dunia. Sorga tanpa dunia, kosong makna! Dunia tanpa sorga, kesempatan berkarya cerdas dan welas!

Apa gunanya hukuman bengis di neraka abadi, dan apa gunanya kenikmatan kekal di sorga, jika para penghuni keduanya sudah tidak bisa lagi memberi sumbangan-sumbangan penting untuk kehidupan di permukaan Bumi: untuk masa depan anak-anak dan cucu-cucu manusia, untuk membangun peradaban dunia, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk berkarya besar dalam masyarakat dan dunia, untuk menolong orang-orang sakit, bodoh dan miskin, untuk menjadi manusia yang manusiawi?

Saya sudah menulis cukup panjang dan mendalam tentang doktrin sorga dan neraka, lalu saya menyimpulkan bahwa doktrin ini tidak signifikan sama sekali bahkan bisa menjadi sumber ideologis berbagai bentuk kejahatan yang dilakukan atas nama suatu agama, juga oleh orang Kristen. Bacalah DOKTRIN SORGA DAN NERAKA.

Yang sangat dalam menimbulkan penderitaan dan azab, hemat saya, adalah neraka-neraka sungguhan yang ada di muka Bumi ini: perang, konflik-konflik keagamaan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, penindasan, sakit-penyakit, berbagai bentuk diskriminasi, dan masih banyak lagi!

Yang dapat membahagiakan dengan real adalah ketika anda ikut terlibat membangun kehidupan sorga di muka Bumi dengan real. Kata Yesus, Datangkanlah kerajaan sorga ke dalam dunia ini. Jadikan kehendak Allah di sorga terwujud dan terlaksana di Bumi. Fokus Yesus adalah dunia ini, Bumi ini!

Caranya? Banyak. Antara lain, dengan melenyapkan kemiskinan, azab dan kebodohan. Dengan memperjuangkan dan menegakkan perdamaian dan persaudaraan antar-manusia di dunia ini. Dengan mengembangkan sains dan teknologi yang membuat kehidupan menjadi lebih baik dan lebih sehat dan lebih bertahan. Dengan menjaga alam dan lingkungan kehidupan untuk tetap bersahabat dengan semua bentuk kehidupan! Dengan ikut serta mengusahakan spesies kita, Homo sapiens, dalam evolusi lanjutannya yang kita rancang sendiri, bertahan kekal dalam jagat raya.

Atau, apakah “diselamatkan” dalam arti mengubah watak dan kelakuan manusia, dari jahat menjadi baik, secara magis?

Faktanya, kematian Yesus di kayu salib tidak punya kekuatan magis apapun untuk mengubah karakter manusia, tidak mujarab, sejauh si manusianya tidak punya komitmen pribadi untuk mengubah watak dan kepribadiannya sendiri, sesuatu yang jelas diminta Yesus dari murid-murid-Nya.

Faktanya, kapan pun dan di manapun juga selalu ada sangat banyak orang Kristen yang tetap saja berwatak buruk, jahat dan keji. Ketahuilah, para kapitalis Kristen, yang bekerja sebagai para pengusaha atau sebagai para rohaniwan, sangat banyak dalam dunia kita masa kini, dan Tuhan mereka yang sebenarnya adalah uang atau kapital. Ketamakan adalah watak mereka yang asli.

Dan ingatlah, sangatlah logis (kendatipun egoistik dan hedonistik) jika banyak orang Kristen berpikir bahwa berbuat dosa sebanyak-banyaknya setiap hari tidak masalah, sebab setiap kali habis berbuat dosa, cukup datang dan berdoa kepada Yesus untuk mohon pengampunan, dan pasti akan diampuni oleh Yesus sebab dia mahapemurah dan sudah menanggung dosa mereka sekali untuk selamanya di kayu salib.

Bahkan banyak juga yang berpendapat, meminta pengampunan dosa cukup saat mau meninggal saja, dan pasti akan diampuni Yesus kendatipun seluruh kehidupan sebelumnya berlumuran dosa dan kekejian. Kepercayaan terhadap “anugerah murah” ini jelas dipegang dengan senang oleh banyak orang Kristen.

Penolakan kuat saya terhadap doktrin keselamatan (soteriologi) Kristen ini sudah saya tuangkan dalam buku saya. Buku itu berjudul Membedah Soteriologi Salib (cetakan 2, 2010). Sekarang sudah tak ada stok-nya lagi. 

Dalam buku itu, alasan saya lainnya yang kuat saya ungkapkan untuk menolak soteriologi salib adalah bahwa soteriologi ini berdasar pada kekerasan dan kekejian yang dialami Yesus dengan real, yang diubah begitu saja oleh para penulis Perjanjian Baru (mula-mula oleh Paulus) sebagai jalan keselamatan lewat anugerah Allah. 

Kita katakan, dalam rangka tafsir ulang peristiwa biadab penyaliban Yesus, rasul Paulus telah mengallegorisasi (= memberi makna lain yang bukan makna harfiahnya) penyaliban menjadi "jalan pendamaian" antara Allah dan umat manusia, dengan berpijak pada ritual tradisional penyucian dosa Yahudi.

Saya mencintai Yesus, jadi saya menolak dan melawan kekejian yang dialami-Nya dulu yang mengakhiri kehidupan-Nya di kayu salib dengan penuh penderitaan.

Bagi saya, kekerasan dan kekejian ya harus dilihat sebagai kekerasan dan kekejian, dan harus dihindari oleh semua orang yang punya kebaikan hati dan sifat-sifat kemanusiaan. Bukan dirasionalisasi untuk membangun sebuah agama baru, yang lepas dari Yudaisme.

Tetapi, ya sah-sah saja jika rasul Paulus dan orang lain di era kekristenan perdana mengallegorisasi dan merasionalisasi peristiwa keras eksekusi di kayu salib menjadi peristiwa pendamaian dan penyucian dosa dalam pandangan Kristen. Namanya juga usaha memberi positive meaning pada suatu kejadian yang biadab dan barbar. Namanya juga usaha mencari jalan keluar dan kompensasi dari kegalauan berat batin dan pikiran yang ditimbulkan oleh peristiwa penyaliban Yesus. Jalan keluar dari masalah mental yang timbul dari dissonansi kognitif.

Pendek kata, murid-murid perdana Yesus, dan komunitas-komunitas Kristen awal dulu, bukanlah pemuja kekerasan yang dialami Yesus. Mereka bukan orang-orang yang sadis atau machosistik. 

Tetapi, lantaran kekerasan dan kebiadaban telah dialami Yesus dengan real, maka, sebagai respons proaktif, mereka membangun ajaran tentang keselamatan lewat kematian Yesus di kayu salib. Mereka mencari lalu menemukan hikmah kematian Yesus. Mereka merasionalisasi kematian keras Yesus sebagai kejadian Allah mendamaikan diri-Nya dengan dunia yang berdosa.

Ada satu hal lagi. Semakin seseorang itu matang dan tangguh jiwa dan mentalnya lewat berbagai gemblengan, maka, sebagai seorang mahatma, semakin dia ingin bertanggungjawab sendiri atas semua jalan kehidupannya, entah benar atau salah, entah baik atau buruk. Dia tak membutuhkan satu ekor kambing hitam apapun yang akan dijadikan sasaran tumpahan semua kelemahan dan kesalahannya.

Yang perlu disadari adalah fakta bahwa doktrin penebusan lewat kematian Yesus sangat membuka peluang besar untuk berubah jadi doktrin tentang anugerah murah, yang melahirkan mentalitas pecundang, bukan pejuang, dalam diri para pemeluk doktrin ini.

Buku MSS itu sudah ditanggapi oleh sebuah buku lain, pesanan sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI), oleh seorang rohaniwan ortodoks Kristen pro-dogma, sementara saya sendiri critical of dogmas. Saya katakan hal ini, karena beberapa orang telah bertanya ihwal buku ini dan tujuan penulisannya.

Saya tak melihat keperluan orang untuk membaca buku tanggapan ini, sebab sama sekali tidak match dengan buku MSS saya itu. Buku Membedah Soteriologi Salib memakai pendekatan sains, analisis sejarah dan analisis teks, sedangkan buku tanggapannya memakai dogma-dogma. Sejarah dan sains masak dilawan dengan dogma Tritunggal Kristen. Absurd, bukan?

Nah, karena bagi saya doktrin penyelamatan lewat figur besar yang mati disiksa adalah doktrin yang absurd dan memakai bahasa kekerasan, saya memilih rumah Zen yang pas.

Zen Buddhisme yang saya sedang tekuni menekankan, sekali lagi, pelatihan diri sendiri untuk mencapai pencerahan akal lewat zazen. Tak ada figur penyelamat ilahi apapun di dalam Zen. Untuk tahu zazen, sekali lagi, simak tulisan saya yang tautannya sudah saya beri di atas.

Jadi, sejak meninggalkan kekristenan ortodoks, dan sejak tak lagi berkunjung ke gereja untuk beberapa waktu, saya tak akan pernah pindah ke agama konvensional teistik lain manapun. Bagi saya, pindah ke agama-agama lain apapun, apalagi yang monoteistik, hanyalah keluar dari mulut ikan, lalu masuk ke mulut ubur-ubur. Atau keluar dari jalan berlubang dan berkerikil lalu masuk ke jalan penuh kubangan dan batu-batu besar.

Agama terfosilisasi adalah my past, neither my present nor my future. Agama dan komunitas keagamaan sebagai selebrasi atau perayaan kehidupan, yang dinamis, sehat dan membahagiakan dan mencerdaskan adalah masa kini saya. Komunitas Kristen tak pernah saya lupakan, apalagi saya tinggalkan. Saya bagian dari gereja. Saya juga gereja.

Saya tetap suatu bagian kecil dari komunitas sosial Kristen, meski lebih banyak waktu saya gunakan di luar komunitas ini untuk membaca, mengobservasi gerak-gerak kehidupan, dan untuk menulis. Sendirian. AloneBut never lonely. Alone, but with many friends above. 

Tentu saja, saya tetap berkomitmen penuh untuk terus-menerus mendalami dan makin mengenal Yesus orang Nazareth yang telah mendapat sebuah ruang khusus dalam batin dan pikiran saya. Jesus lives in me for ever and ever. None will replace and remove Jesus from my lifeKnow this affirmatively.

Saya sangat tertawan oleh perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang apa dan bagaimana serta siapa itu Allah sang Abba yang rahmani dan rahimi.

Bagi saya, sosok Yesus Kristus adalah satu titik sosok cahaya, sosok terang dunia, titisan dari sang Cinta Kasih tanpa batas yang memberi hidup dan gerak pada jagat-jagat raya yang tanpa batas. Tuhan itu cinta kasih. Sebuah kalimat yang pendek, simpel, dan sangat jelas maknanya. Herannya, orang yang beragama kerap sulit sekali membaca dan memahami kalimat empat kata ini.

Bertolak dari Gautama Buddha yang tetap saya cintai hingga kini, dulu saya masuk ke hati Yesus dari Nazareth karena saya betul-betul terpesona dengan perumpamaan-perumpamaannya yang kreatif, imajinatif, puitis dan menggerakkan hati, dengan metafora-metafora-Nya yang disusun oleh-Nya dengan serba warna-warni dan penuh imajinasi. Bertolak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus, lalu masuk ke rumah koan-koan Zen, adalah satu perjalanan yang sinambung.

Bagi saya, jalan kehidupan Yesus semasa Dia aktif singkat di kala dewasa adalah jalan kehidupan yang menakjubkan. The road less traveled. 

Lewat kehidupan-Nya, Yesus mengerahkan seluruh potensi diri-Nya untuk menguatkan, menghibur, menopang, membangun semangat dan memberdayakan rakyat jelata Yahudi di Galilea yang setiap hari hidup susah, miskin dan menanggung azab. Kematian-Nya adalah kematian seorang aktivis atau pejuang sosial, atau kematian seorang nabi sosial. The death worth remembering! Kematian yang patut dikenang! Lebih penting dari itu adalah kehidupan mendahului kematian. The life of a great human being worth imitating! 

Nah, di atas saya telah katakan, kematian Yesus yang terjadi "once for all", sekali untuk selamanya, tetap memiliki makna esensial bagi saya. 

Ya, esensial, sebab dengan kematian Yesus yang telah terjadi, tidak boleh ada lagi kematian-kematian manusia lain kapan pun dan di mana pun juga, atas nama apapun juga.

Cukup sudah satu-satunya kematian, yaitu kematian Yesus. Setelah Yesus, manusia dan gereja-Nya terpanggil untuk memelihara dan merawat serta menjaga, membela dan mempertahankan kehidupan. No more deaths. No more wars. No more killings. Kehidupan harus menang. Life should prevail. 

Karena itulah, muncul berita injil-injil Perjanjian Baru: di saat fajar merekah, Yesus menaklukkan kematian lewat suatu kejadian "beyond death", yang dinamakan kebangkitan atau pemuliaan. Lewat kematian Yesus, kematian akhirnya dikalahkan. Sesudah mati, beyond death, Yesus tetap hidup, tidak lagi dalam daging yang fana, tapi dalam kemuliaan, sebagai Shekinah, yang bercahaya menembus segala ruang dan waktu. Ini sungguh suatu perspektif kristologis yang segar yang menawan hati saya. Inilah suatu positive meaning yang saya berikan pada peristiwa Yesus orang Nazareth mati disalibkan.





Well, untuk keperluan mengenal lebih objektif sosok agung Yesus ini, saya harus habiskan waktu bertahun-tahun mencari-carinya di perpustakaan-perpustakaan besar di sejumlah universitas di negeri Belanda. Disertasi doktor yang telah saya tulis dan telah diterbitkan dengan judul The Trial of Jesus in John Dominic Crossan's Theory: A Critical and Comprehensive Evaluation (2005) adalah sebuah karya tentang dunia luas Laut Tengah kuno yang menjadi konteks historis dan sosiobudaya luas gerakan Yesus, the Jesus movement. Disertasi saya ini menunjukkan cinta saya pada Yesus. Cinta yang tak mengenal ketakutan dan pengkhianatan. Cinta yang penuh dengan keberanian, keikhlasan, kesetiaan dan kecerdasan, dan keheningan. 

Karena saya mencintai Yesus, Dia bagi saya ada bukan hanya untuk diimani dengan membuta, tetapi juga untuk dikaji secara ilmiah, dengan cerdas. Cinta dan kajian ilmiah tidak terpisah.  

Cinta mengikat saya dengan Yesus dalam keabadian. Kajian-kajian ilmiah terhadap sosok besar ini memperluas pengenalan saya kepada-Nya terus-menerus, tanpa akhir. Karena saya mencintai Yesus, saya menyelidiki-Nya secara ilmiah terus-menerus; dan karena saya mengkaji-Nya tanpa akhir, saya makin mencintai-Nya. Tak ada benturan antara cinta Tuhan dan cinta ilmu pengetahuan.  

Karena saya mencintai Yesus, segala hal yang baik yang diajarkan dan diperagakan Yesus, saya berusaha sungguh-sungguh aktualisasikan lewat kehidupan saya sekarang. Yesus sungguh bukan sebuah dogma, tapi satu sosok real insani yang memancarkan kasih sayang dan kepedulian Allah yang memukau, yang layak untuk diikuti, dan patut dirayakan dengan hati yang riang, hening, sunyi, meriah dan damai. 

Karena Yesus sungguh mencintai orang-orang yang berkesusahan, saya juga berusaha untuk menyayangi, dan menolong, setiap orang yang hidup dalam azab dan penderitaan, yang saya jumpai.  

Mengikut dan mencintai Yesus bukanlah mengikut dan mencintai sebuah agama atau sebuah doktrin, tapi mengikut dan mencintai Jalan Kehidupan satu sosok agung insani yang mengejawantahkan kerahiman dan kerahmanian ilahi dalam dunia sehari-hari di muka Bumi. Jalan Kehidupan yang tak pernah berakhir. 

Selain itu, saya juga akan terus melanjutkan kajian-kajian kritis saya terhadap dunia agama-agama hanya dengan satu tujuan: memberi berbagai sumbangan pemikiran untuk umat beragama apapun menjadi cerdas dalam beragama 

Begitu juga, kemampuan akademik saya dalam bidang kajian Yesus sejarah, akan terus saya kembangkan supaya bisa bermanfaat buat gereja-gereja di Indonesia. Harapan saya adalah gereja-gereja tidak hanya mampu mengindoktrinasi umat mereka dengan dogma-dogma tentang Yesus, tetapi juga mampu memberikan kepada umat mereka hasil-hasil kajian ilmiah tentang siapa sebenarnya Yesus orang Nazareth sebagai sosok besar yang real hidup di negeri Palestina pada abad pertama Masehi.  

Tentu saja banyak pekerja gereja-gereja, khususnya para pendeta, yang terus-menerus menegaskan bahwa jika kajian-kajian ilmiah terhadap sosok Yesus disampaikan ke warga gereja umumnya, maka yang akan terjadi adalah: iman dan kepercayaan mereka terhadap Yesus menjadi goyah, alhasil kajian-kajian ilmiah ini merusak, bukan membangun iman dan kepercayaan Kristen.  

Saya biasanya menanggapi keberatan mereka ini dengan menyatakan bahwa beriman tanpa disertai keraguan dan pertanyaan, bukan lagi iman dan kepercayaan yang hidup dan terus tumbuh lewat perubahan-perubahan, melainkan delusi.  

Iman itu, kalau hidup, akan terus berubah, bertumbuh, dinamis, seperti sebatang pohon yang tumbuh subur. Jika iman itu mati, bukan lagi iman namanya, tetapi delusi.  

Jika delusi semakin akut, delusi ini menjadi patologis, dan delusi yang patologis sangat merusak agama-agama apapun.  

Anda seyogianya tahu, delusi kini telah membuat gaya hidup dan sepak terjang banyak orang beragama tidak lagi membangun dunia dan perdamaian, tetapi merusak kehidupan dan melenyapkan perdamaian. 

Jadi, hal yang dirusak oleh kajian-kajian ilmiah tentang sosok Yesus atau tentang Alkitab, bukanlah kekristenan yang banyak coraknya, tetapi delusi kalangan Kristen evangelikal konservatif. 

Di samping kajian-kajian ilmiah dalam kehidupan keagamaan saya perlukan, saya juga tetap butuh spiritualitas, bukan religiositas terlembaga. Kenapa saya memerlukan spiritualitas?  

Karena saya tahu pasti, ada neuron-neuron dalam otak kita yang memerlukan makanan spiritual. Ada atau tidak ada Tuhan, alam lewat proses yang panjang telah membentuk otak Homo sapiens yang membutuhkan input dan output dimensi-dimensi spiritual. Spiritualitas sudah terpatri dan built-in dalam otak kita sekarang ini; sudah hard-wired, artinya: menjadi bagian fungsi neural otak manusia.  

Bahwa otak kita sudah disetel oleh alam untuk butuh input dan output spiritual, sudah saya tulis dengan luas dan dalam. Bacalah PENGALAMAN-PENGALAMAN SPIRITUAL. 

Saya yakin, otak kita berkondisi seperti itu hanya pada masa kini tahap evolusi organ otak kita; di masa depan, karena evolusi (alamiah dan artifisial/buatan), belum tentu otak kita butuh spiritualitas, ketika sains mampu menjelaskan nyaris segalanya dan kebudayaan teknologis yang humanis sudah mengglobal. Meski begitu, tetap akan ada spiritualitas dalam dimensi-dimensi yang baru, sejauh apapun iptek telah berkembang. Ini hal yang saya lihat di depan. 

Nah, karena saya perlu memberi makanan spiritual ke otak saya, saya memilih aktif dalam rumah Zen, tanpa perlu menganut agama tradisional teistik lain.  Saya tetap berada dalam gereja, sekaligus menjadi praktisi meditasi.

Dengan demikian, ideologi ateisme juga sama sekali bukan pilihan saya.  

Saya telah menemukan, akal dan batin saya tidak bisa ateis, meskipun saya tetap menghormati kawan-kawan yang memilih jadi ateis.  

Saya sudah menjadi seorang bebas, a freethinker, jadi mustahil saya mau memenjarakan diri saya lagi dalam ideologi ateisme.  

Sejauh yang saya sudah ketahui, ada sedikit ide dalam ateisme yang bagus; tetapi kebanyakan, hemat saya, tidak bagus, buruk, dan tidak menarik. Ini terbukti dengan makin banyaknya orang ateis radikal, militan dan fundamentalis belakangan ini.  

Hal bagaimana saya sudah mendekonstruksi ateisme, khususnya New Atheism, habis-habisan, bacalah tulisan saya ATEISME BARU DIBONGKAR.

Meskipun saya ada dalam rumah Zen, ingin saya tegaskan sekuatnya, saya tetap seorang pemikir otonom, bebas, a freethinker 

Zen justru menghendaki orang-orang bebas berkelana dalam pikiran, lewat olah otak yang dinamakan zazen dengan dipandu oleh metafora koan-koan.  

Beragama, dalam Zen Buddhisme, bukanlah menyembah suatu Allah, melainkan mengontrol dan mendewasakan pikiran, dan lewat pikiran yang benar, hening dan berani, orang disanggupkan melakukan kebajikan.  

Jadi, masuknya saya ke rumah Zen tak lain karena saya ingin hidup utuh dan tetap bebas melakukan ziarah pemikiran. I am a Zenist but at the same time a freethinker. Sebuah pepatah Zen berbunyi demikian, “Seluruh jagat raya tunduk pada suatu pikiran yang tenang.” Tenanglah. Heninglah. Makin tinggi, makin hening. Hening yang tak terukur.

Saya bisa berada dalam ketenangan pikiran selama satu hingga dua jam, bahkan kadangkala lebih, dalam meditasi rutin saya setiap hari. Keheningan yang tidak sendirian. Keteduhan di bawah sorotan cahaya rembulan. Keramaian dalam kesunyian. Stephen Hawking menyatakan bahwa "Orang yang hening memiliki pikiran-pikiran yang paling nyaring."

Tetapi, saya mau ingatkan bahwa meditasi yang real itu adalah kehidupan kita sehari-hari, yang kita jalani dengan tenang, berkonsentrasi, berpikir dengan serius tetapi juga dinamis dan dalam banyak perspektif, dan juga disertai dengan sikap yang rileks, riang, happy, dan hati dipenuhi kebaikan. Menyadari hal ini, I am really, really happy. Kata Dalai Lama XIV, meditasi terbaik adalah tidur nyenyak setiap malam!  

Alhasil, dengan pikiran yang tenang dan segar, saya juga mengembara masuk ke dalam dunia sains yang sangat mempesona. Dalam lima hingga sepuluh tahun terakhir ini, pengetahuan saya tentang sains semakin luas dan dalam, dan keadaan ini sangat mempesona saya. Ternyata saya lebih berbakat menjadi seorang pemikir dan pengamat sains, ketimbang menjadi seorang pendeta. 

Saya sekarang ini sangat berbahagia dalam dunia sains, jauh lebih berbahagia dibanding ketika bekerja sebagai seorang pendeta. Malah jabatan pendeta dulu kerap menyiksa batin dan akal saya! 

Bisa jadi saya dulu telah salah memilih jurusan teologi ketika studi S-1, dan sudah pasti saya telah salah memilih pekerjaan sebagai seorang pendeta! Berbuat salah satu dua kali adalah hal yang insani. Kata Albert Einstein, “Siapapun yang tak pernah membuat kesalahan, tak pernah mencoba sesuatu yang baru.” Ucap Stephen Hawking, "Tidak ada yang salah jika orang membuat kesalahan. Tidak ada hal yang sempurna, lantaran jika kesempurnaan dikejar, mungkin kita tidak pernah ada."




Sewaktu belajar di SMP lalu di SMA dulu, minat terbesar saya adalah fisika, matematika dan kimia.  

Tapi, saat mau melanjutkan studi ke perguruan tinggi, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil bidang ilmu arsitektur. Tapi pilihan ini akhirnya saya batalkan karena saya waktu itu berhasil diyakinkan sejumlah orang di gereja bahwa jauh lebih baik memilih ilmu teologi.  

Kata mereka, bersama dengan filsafat, teologi atau ilmu tentang ketuhanan adalah ibu dari semua cabang ilmu pengetahuan. Waktu itu saya berpikir, hebat juga jika saya bisa menguasai ilmu segala ilmu atau ibu semua ilmu, yakni teologi. Akhirnya saya sekolah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta selama lima tahun penuh dan lulus dari sekolah ini dengan judisium cum laude, “dengan pujian”.  

Oleh sekolah ini, saya ditempa menjadi seorang pemikir teologi yang liberal. Tapi pada sisi lain, ada tekanan kuat dari gereja-gereja pengelola STT Jakarta untuk hanya mencetak para sarjana teologi yang setia dan taat pada dogma-dogma gereja. Dualisme ini sangat tidak menenteramkan saya. 

Lama kelamaan saya makin menyadari dan menemukan fakta-fakta bahwa teologi itu bukan ilmu dari segala ilmu atau ibu dari semua ilmu pengetahuan.  

Saya waktu itu, karena berpikir liberal, akhirnya menemukan, nyaris semua klaim dalam ilmu teologi tidak dilandaskan pada bukti-bukti yang real, melainkan dibangun hanya dengan landasan otoritas ilahi kitab suci yang tidak boleh diragukan, kepercayaan tanpa bukti, segudang asumsi, angan-angan, cita-cita, harapan-harapan, keinginan-keinginan, impian-impian. Semuanya kini tampak oleh saya sedang digugurkan oleh berbagai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan tentang agama-agama. 

Tentu ada klaim-klaim dalam teologi yang dilandaskan pada fakta-fakta, tapi jumlahnya sangat sedikit. Kondisi ini membuat saya tidak tenteram. Saya waktu itu, akhirnya, terdorong kuat untuk kembali mendalami ilmu-ilmu empiris, seperti yang pernah saya lakukan saat di SMP dan SMA.

Sekarang ini, saya bersyukur kepada alam atas kesempatan untuk saya boleh mendalami berbagai cabang sains; dan, hopefully, dalam dua puluh tahun ke depan pengetahuan saya mengenai sains-sains empiris akan makin meningkat.

Thanks, Mother Nature! Tak ada rasa sakit hati dalam bentuk apapun dan kepada siapapun dalam diri saya sekarang ini. I am a free gentleman and also a lover of humanity! 

Sekian pendeta GKI kini, di hadapan saya pribadi, menyesalkan sikap para petinggi GKI yang dulu tidak merangkul saya, karena kini saya malah semakin “liar” berpikir. Out of the box! 

Ketimbang bisa membungkam saya, kini malah saya, kata mereka, makin membuat banyak pendeta “susah hati” atau “dipaksa berpikir lagi dan lagi” karena tulisan-tulisan saya yang semakin meluas dan merambah ke banyak bidang ilmu. Kini saya bebas berpikir dan menulis apapun dalam bingkai sains, tanpa kontrol apapun dari gereja manapun.  

Tetapi, Pikiran Semesta yang tanpa batas, itulah yang mengontrol dan mendidik saya. Jadi, saya bebas sekaligus terikat. 

Sungguh saya tidak bisa mengerti jika dalam zaman modern ini ada orang, beragama ataupun tidak, sampai bisa membenci dan menolak keras sains modern.  

Kini tanpa sains dan teknologi modern tidak seorang pun akan dapat hidup dengan baik dan sehat!  

Tanpa kitab-kitab suci agama-agama, anda tentu saja masih bisa hidup dengan sangat baik. Tetapi anda akan sangat menderita bahkan akan cepat mati jika anda menolak semua sains modern dan semua teknologi yang dihasilkannya. Kalau anda tidak percaya, anda cobalah sendiri. 

Ketika saya telah terbitkan buku MSS saya, tanpa didahului dialog dan bedah buku ini dengan saya, mereka, para pemuka GKI itu, menyatakan saya sesat, dan hal ini diumumkan di seluruh gereja GKI di Indonesia! 

Karena saya secara sepihak sudah dinyatakan sesat, mereka menyatakan saya berada dalam penggembalaan khusus untuk membuat saya di ujungnya menarik kembali buku MSS itu! Inilah skenario mereka.




Tapi, demi kejujuran ilmiah dan integritas pribadi, saya tak mengambil pusing atas penetapan status saya sebagai seorang sesat oleh GKI! Bagi saya sendiri, pikiran saya lurus dan jujur. Saya pikir, Yesus dari Nazareth pun, kalau Dia masih hidup, akan membenarkan saya! Oh ya, kini pun Yesus membenarkan saya, sebab Dia mau tinggal di dalam diri dan kehidupan saya sekarang ini. He lives in me for ever and ever. Does Jesus live in you? 

Oh ya, apa itu "sesat"? Sesat adalah mengambil jalan setapak yang belum pernah dimasuki orang ketika semua orang lainnya mengambil jalan utama yang lazim untuk mencapai puncak suatu gunung. 

Ketika si pemberani itu mulai melangkah di jalan setapak yang menyimpang, lalu terus maju makin jauh dan makin dalam, dia menjadi takjub dan terpukau karena melihat banyak sekali pemandangan baru, suasana baru, cahaya-cahaya baru, hutan-hutan baru, danau-danau bening dan hening, air terjun yang baru, kicauan burung-burung yang berbeda, spesies-spesies baru, keceriaan dan kegembiraan baru, pengalaman baru, dan hidup terasa lebih bermakna dan menantang.




Nah, sekalipun saya menjadi seorang diri dalam GKI yang saya tidak pernah tinggalkan dengan formal, biarlah. Sunyi dan sendiri itu indah. 

Elang yang perkasa terbang sendirian sunyi dan hening di angkasa, menembus awan-awan, berkawan dengan ruang angkasa dan dengan sosok-sosok suci yang tak terlihat. Kawanan bebek melenggak-lenggok bergerombol berjalan ke depan, sambil berkowek-kowek riuh ramai, hiruk-pikuk, mengikuti satu pemimpin mereka yang juga mahir melenggak-lenggok.  

Hampir dua tahun saya tak pernah menggubris panggilan pimpinan sinode GKI sampai empat kali untuk saya digembalakan khusus! Saya sudah bersikap, Silakan kalian lepaskan jabatan pendeta saya, karena saya tidak akan pernah memusingkannya! 

Sesungguhnya, GKI telah memakai pendekatan kekuasaan dalam menghadapi buku MSS saya itu. Saya tahu, mereka takut kalau mendiskusikan dulu buku MSS itu dengan saya di forum publik tanpa saya dinyatakan sesat lebih dulu! 

Sekarang di mana-mana sekian pendeta ketua GKI dengan munafik menyatakan, bahwa penggembalaan khusus atas orang sesat itu adalah kesempatan berdialog dengan pimpinan sinode GKI! Sungguh sebuah perbuatan yang sangat pengecut dari kaum rohaniwan ortodoks pro-dogma. Mulut mereka memuji-muji Yesus, tetapi hati mereka penuh caci-maki dan hasutan, dan pikiran mereka sarat dengan tipu-daya. 

Tapi saya maklum, memang sejak awal gereja berdiri, gereja selalu memakai kekuasaan represif, hasutan dan tipu-daya, ketimbang membuka dialog bermartabat dengan kesiapan berubah pandangan. Filsuf perempuan pemberani Hypatia telah mengalaminya di Aleksandria, Mesir. Juga Arius di tempat lain. Galileo Galilei sama juga. Michael Servetus dibakar hidup-hidup atas perintah Yohannes Kalvin lantaran si korban ini mengkritik habis buku Kalvin, Institutio 

Di zaman kita, Leonardo Boff juga dipaksa bungkam. Gustavo Gutierrez sama. Jhon Shelby Spong termasuk bahkan sempat diancam. Dan masih banyak lagi. 

Saya bangga bisa melawan dogma-dogma kolot gereja yang bagi saya sudah usang dan memperbodoh manusia! Tanpa pembaruan, ya semua teologi kolot itu berubah dengan sendirinya menjadi fosil-fosil teologi. Dalam buku MSS itu, saya bukan hanya mengkritik dogma gereja, tapi juga memberi jalan-jalan alternatif yang tak terlihat selama ini. Terpalang dan tertutup oleh semak-semak rimbun dogma-dogma. 

Saya bangga menjadi seorang liberal. 

I am proud of being a liberal! 

Guru-guru saya sendiri mendidik saya jadi liberal ketika studi S-1 dulu di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta! Saya meneruskan dan memperdalam pemikiran liberal yang mereka telah wariskan kepada saya. 

Dulu saya sangat membanggakan STT Jakarta karena keliberalan pemikiran di dalamnya. Tapi kini STT Jakarta sudah jauh dari pemikiran liberal, karena sudah terperosok ke dalam kubangan gelap konservatisme, dogmatisme dan fideisme. 

Sayalah pewaris satu-satunya yang masih hidup dan committed, dari para founding fathers STT Jakarta yang liberal! Saya bangga dan bahagia dengan kenyataan ini!




Tetapi saya sudah bisa melihat, ke depannya, saya tidak mau lagi digolongkan ke dalam kubu liberal dalam pemikiran teologi; dan saya juga yakin bahwa label freethinker tidak ingin saya lekatkan atau dilekatkan orang lain lagi kepada saya dalam ziarah sunyi saya yang tak berujung. Sebagai label, freethinker juga sebuah kurungan. Watak mental saya adalah watak seorang musafir, seorang peziarah, yang terus berjalan ke depan, tidak pernah berdiam panjang dan lama di suatu stasiun atau di sebuah pemondokan. 

Tujuan akhir perjalanan saya terletak di tempat yang sangat jauh, suatu pelabuhan yang selalu samar-samar kelihatan, tetapi tidak pernah saya bisa singgahi. Saya adalah seorang peziarah dan penjelajah dalam lelautan jagat raya yang luas, tanpa batas, tanpa dasar, dan tanpa tepi. Terus saja saya berlayar, berenang, menjelajah. Hening. Senyap. Sendirian. Ditemani trilyunan kartika yang bercahaya. 

Planet demi planet, sistem matahari demi sistem matahari, galaksi demi galaksi, jagat raya demi jagat raya, saya lewati terus. Terus, terus dan terus. Ke masa depan yang juga tanpa batas.  

Menembus wormholes, berpindah dari satu ruangwaktu ke ruangwaktu lainnya, masuk ke dunia-dunia dan dimensi-dimensi lain, tanpa habis.  

Mungkin saya akan bisa melompat jauh ke masa depan, dan mungkin juga bisa kembali jauh ke masa lampau. Silih berganti akan saya lakukan.  

Menguak banyak misteri, hanya untuk menemukan misteri-misteri baru lagi. Berenang maju semeter, tapi jarak di depan selalu bertambah satu kilometer. 

Faktanya adalah saya akan selanjutnya memilih untuk menjadi seorang yang berpikir ilmiah, a scientific-minded man! Artinya, semua pandangan, pendapat dan sikap saya tentang banyak hal dalam dunia ini akan saya selalu usahakan punya landasan-landasan ilmiah. Liberalisme pun kini tidak luput dari berbagai kritik saya, tentu dari sudut pandang ilmiah. 

Ilmu pengetahuan itu, walaupun terbatas, selalu maju ke depan, tanpa berhenti, tanpa ada batasnya. Ilmu pengetahuan itu adalah perziarahan, suatu perjalanan sangat panjang, a voyage to the endless unknown. Dus, semua ilmuwan dan semua orang yang memilih berpikir ilmiah selalu berada dalam perjalanan dan ziarah yang tidak pernah berakhir. Suatu jalan agung menuju ketakberhinggaan yang tak ada ujungnya, tak ada batasnya, tak ada akhirnya. 

Saya selalu yakin bahwa Tuhan itu mahatahu; itu berarti Tuhan adalah sumber dari segala pengetahuan. Dengan demikian, setiap orang yang mencari pengetahuan dan membangun ilmu pengetahuan sedang berjalan dari Tuhan dan menuju Tuhan. Mereka, para ilmuwan, dengan begitu adalah hamba-hamba Tuhan, sahabat-sahabat Tuhan. Perziarahan mereka dalam dunia ilmu pengetahuan adalah perjalanan agung menuju Tuhan yang mahatahu. Perjalanan tanpa akhir. Jalan tanpa garis finish. 

Well, nyata bukan, tak ada benturan antara menjadi hamba Tuhan dan menjadi ilmuwan, antara spiritualitas dan ilmu pengetahuan. Inilah yang menjadi spiritualitas saya, yakni spiritualitas saintifik.  

Sebaliknya, agama itu, walaupun diklaim tanpa batas, sebetulnya sangat terbatas, sebab semua klaim keagamaan hanya didasarkan pada segudang asumsi dan kepercayaan, tanpa pernah bisa dibuktikan kebenarannya, akibatnya tidak bisa ada koreksi dan antitesis berdasarkan bukti-bukti baru.  

Sejak ribuan tahun lalu, dan terus ke depan, tentang asal-usul dunia, manusia, dan kehidupan yang rumit dan terus berkembang dan berubah, agama hanya memegang satu penjelasan saja, yang itu itu saja sejak dulu, sangat terbatas, yang mereka klaim datang dari sorga.  

Padahal, berbagai ilmu pengetahuan modern telah berhasil memberi kita banyak pengetahuan baru yang menakjubkan tentang asal-usul jagat raya, manusia, kehidupan dan sangat banyak hal lain yang sama sekali tidak pernah disebutkan satu kalipun dalam semua kitab suci dari dunia kuno.   

Iman keagamaan, dengan demikian, bukan membebaskan manusia, tetapi memenjara, sejauh agama apapun menjadi sebuah museum fosil-fosil kepercayaan purba, bukan sebuah laboratorium teologi-teologi baru. 

Sang sufi dari Persia yang beken, Jalaluddin Rumi (1207-1273), mengajukan sebuah pertanyaan yang selalu saya ingat, “Mengapa anda terus berdiam dalam penjara sementara pintu-pintunya terbuka lebar?” Rumi juga memerintahkan, “Jadilah langit! Ambil sebuah kapak lalu runtuhkan dinding penjara itu! Lepaskan dirimu!” 

Saya sudah runtuhkan dinding-dinding penjara itu, Rumi! Saya sudah bebas, dan kini terus terbang, dan terus berenang di lelautan Bumi dan kosmos yang tanpa pantai, tanpa dasar, dan tanpa pelabuhan. 

Saya mau menjadi langit! Juga menjadi lelautan luas! Juga menjadi seekor lumba-lumba! Saya senang bisa berenang-renang terus sepanjang umur saya di lelautan ilmu pengetahuan. 

Saya bertekad, meskipun tidak lagi mengikatkan diri pada satu agama terlembaga apapun, even though I am walking alone, saya tidak akan meninggalkan dunia agama-agama, tetapi berperan lebih luas dan lebih dalam dari sudut-sudut lain. 

Satu hal sudah sangat jelas terkait posisi saya. Rumah saya atau hati saya ada dalam diri Yesus, dan Yesus hadir dalam gereja, dan berkarya juga lewat gereja. Jadi, saya tetap bagian dari gereja, dan saya juga adalah gereja. 

Tetapi tentu saja, Yesus selalu lebih besar dari gereja, tak bisa dikuasai gereja, dan karena itu Yesus juga bekerja lewat banyak cara, jalan, wahana, instrumen dan orang-orang agung di luar komunitas gereja. Jangan sekali-kali mengerdilkan Yesus dengan mengurung-Nya dalam sebuah kotak besi doktrin. 

Begitulah, karena saya mengikut Yesus, berjalan di Jalan Yesus, saya juga bagian dari dunia yang luas, berada dalam rumah-rumah agung yang luas, seluas dunia ini, seluas jagat raya.  

Nah, jadinya, untuk mengubah dunia dalam skala kecil, tetapi dengan mengabaikan kurang lebih 4 milyar orang dewasa yang beragama dalam dunia di abad ke-21 ini, hemat saya adalah suatu langkah yang tidak strategis. Orang ateis tidak melihat hal strategis ini. Saya melihatnya. Tapi uuupss... bagaimana saya bisa mengubah dunia sementara mengubah diri sendiri saja sulit luar biasa? 

Semoga juga, dengan bekal ilmu pengetahuan yang makin dalam dan luas, saya bisa membantu banyak orang beragama untuk menjadi cerdas beragama, tidak lagi bodoh. Beragama dengan cerdas itu beragama bukan dalam sebuah museum fosil, tetapi dalam sebuah laboratorium. 

Maaf, kini waktu saya mau masuk ke saat teduh, untuk berada berdua saja dengan Sang Sunyi. Dalam kesunyian berdua, kami menjadi ramai, tetapi sunyi. Sunyi yang mahasunyi. Sunyi nan sendiri. Sunyi nan ramai. Sunyi yang bersuara, dan bersuara yang sunyi. Sebuah teka-teki. 

Sang Sunyi dan keheningan, kecerdasan dan kebaikan, adalah arah jalan yang sedang saya tempuh.

Politik praktis, bukan dunia saya, tapi dunia keributan, kebisingan, kerakusan, kehinaan, tipu-daya dan kehilangan jatidiri dan martabat. Nyaris semua politikus saya lihat bertabiat begitu. Hanya segelintir yang berhasil menjadi para politikus agung, politikus mahatma. 

Ada kalangan yang dengan segala cara hendak menarik dan melibatkan saya dalam kegiatan politik religius partisan, politik identitas, politik kotor, dan politik gorengan. Pada kesempatan ini, saya ingin menegaskan kepada mereka bahwa usaha mereka itu akan selamanya sia-sia. 

Saya sudah berbahagia sekarang ini hidup bersama Yesus dan menjadi bagian dari gereja Yesus Kristus. Jangan usik dan ganggu saya terus-menerus. Jangan mengintimidasi saya. Jangan melakukan tindak kekerasan kepada saya. Jangan menteror saya.

Jaga harga diri anda. Jaga kehormatan diri anda. Pertahankan martabat anda. Tunjukkan kepada dunia bahwa agama anda, yang bukan agama saya, berhasil menjadikan diri anda seorang yang agung dan memiliki kehormatan dan kepercayaan diri. Perbuatan dan isi pikiran anda, mencerminkan apa isi agama anda.

Tak terhitung jumlah sosok-sosok cahaya yang mengayomi dan membungkus saya. Dulu, sekarang dan selamanya. Ingat hal ini. Saya tidak sendirian. Saya diselubungi.

Jakarta, 24 Desember 2011

ioanes rakhmat


Wednesday, January 6, 2021

Mencari Musim Semi di Musim Pandemi




MENCARI MUSIM SEMI DI MUSIM PANDEMI 

Hai, sekarang ini musim pandemi
Sama sekali bukan musim semi
Ketimbang melihat pohon hijau bersemi
Anda temukan orang mati pucat pasi 

Musim dingin demam menggigil
Akan terus menjadi musim abadi
Musim semi tak lagi datang memanggil
Selama si Covid-19 menjadi raja abadi 

Banyak orang berduit jalan-jalan terus
Ingin melihat pohon-pohon bersemi
Kesenangan berpiknik telah membius
Bagi mereka, pandemi itu musim semi 

Akal manusia jadi terbolak-balik
Akibat dikuasai panik dan hasrat berpiknik
Padahal sistem imun diperkuat saat pandemi
Jika hati dan pikiran kalem dan damai 

Mereka tentu tahu pasti
Angka penularan kini melesat tinggi
Akibat prokes 3M dijalankan setengah hati
Dua ratus lebih dokter sudah mati 

Banyak uang, ya cukup bagus
Tapi jangan dibuang untuk plesiran terus
Gunakan untuk anak-anak yang tak terurus
Lindungi mereka di saat Covid-19 menggerus 

Jika anda mau umur lebih panjang
Lebih baik isi waktu luang
Diam di rumah dengan pikiran lapang
Telpon sanak saudara untuk segera pulang 

Kata anda, lihat tuh anak-anak jalanan
Mereka tampak kebal tak pernah sakit
Jadi, mengapa kami tak boleh jalan-jalan?
Mengapa hak hidup bebas kami dijepit? 

Oh oh oh jangan anda salah berpendapat
Anak jalanan bukan kebal serangan virus
Mereka hidup di ruang outdoor tanpa sekat
Rumah mereka beratap langit tanpa batas 

Tak ada suspensi virus mengapung di udara
Ya, rumah mereka luas beratap langit terbuka
Angin, hujan dan cahaya mentari di luar
Membasmi suspensi virus di udara liar 

Anda hidup di ruang indoor ber-AC sejuk
Bukan di pinggir jalan yang banyak nyamuk
Karena uang anda banyak meluap-luap
Jangan lupa pasang ventilasi lengkap 

Hai, jangan Covid-19 dianggap enteng
Meski tak terlihat oleh mata semata
Si virus kuat bagai seratus ribu banteng
Bagi mereka anda enteng dan renta 

Tubuh kekar anda bukan jaminan
Organ paru anda sangatlah rentan
Saat si virus masuk ke paru segerombolan
Paru anda diam-diam dirusak tak ketahuan 

Anda pun akan tiba-tiba megap-megap
Sesak nafas sungguh tak terlawan
Seolah anda habis jauh berlarian
Padahal sebentar lagi nyawa menguap 

Bruk gedubrak! 

Anda jatuh ke tanah mendadak
Kematian datang melabrak
Oksigen tak sampai ke otak
Mayat anda dibiarkan tergeletak 

Orang takut mendekat
Ngeri tertular virus yang dahsyat
Sampai petugas ber-APD datang melihat
Tubuh anda pun diangkat mangkat 

Manusia dewasa mustahil bermutasi
Mereka tak berubah sampai mati
Proses penuaan bukan mutasi
Peyot, letoi dan keriput lalu akhirnya mati 

Demi bertahan hidup abadi
Si virus terus-menerus bermutasi
Mutasi genetik besar sedang terjadi
Teknologi maju dapat mendeteksi 

Si Mutant Covid Inggris
Belum lama ini telah unjuk gigi
Angka penularan pun meninggi drastis
Orang Inggris lantas merasa jeri dan grogi 

Eeeh.... tak lama kemudian
Si Mutant Covid Afrika Selatan
Muncul melancarkan serangan
Manusia di mana pun makin rentan 

Masihkah orang bermimpi ngalor-ngidul?
Si virus corona baru tak pernah muncul?
Kata mereka, negara-negara sedang mengibul
Demi New World Order nyembul bak sanggul 

Buang segala teori konspirasi
Jangan sebarkan sensasi tanpa isi
Hanya demi tiga puluh periuk nasi
Merekalah pengibul asli tanpa basa-basi 

Musim semi daun-daun dan bunga-bunga
Akan mengganti musim dingin pucat pasi
Jika vaksin-vaksin Covid-19 telah tersedia
Vaksin yang aman, manjur dan tak basi 

Tak satu pun vaksin telah disetel ulang
Agar si mutant virus lari tunggang-langgang
Vaksinasi sedang berjalan di sejumlah negara
Belum terbukti manfaatnya buat warga negara 

Kata para ahli, vaksin baru mRNA pasti manjur
Meski pengalaman belum ada seumur-umur
Padahal pengalaman itu guru yang luhur
Sulit memisahkan manjur dan terlanjur 

Jutaan dosis vaksin mRNA sudah diproduksi
Tak mungkin dibuang ke laut begitu saja
Tak boleh uang jutaan USD raib tanpa guna
Vaksinasi pun bagiku seolah sebuah ilusi 

Bisakah orang imun lewat vaksin basi?
Virus mutant telah berada di km sepuluh ribu
Vaksin-vaksin ya baru sampai di km seribu
Semoga aku sedang berilusi 

Jangan berilusi! Bangun, bangun!
Vaksinasi Covid-19 itu suatu pertaruhan
Dalam melawan habis musuh penuh setahun
Dunia sudah lelah limbung terayun-ayun 

Sekarang ini masa darurat
Perlu otorisasi penggunaan darurat
Bagi vaksin-vaksin yang belum tentu tepat
Susah pertemukan darurat dan tepat! 

Coba dulu dengan vaksin yang telah ada
Serahkan hal lain ke Tuhan Mahapengada!
Pasti pemulihan akan terjadi di mayapada
Wujudkan segera, jangan ditunda! 

Akupun termenung sangat dalam
Apakah perusahaan farmasi penghasil vaksin
Santa Klaus yang datang tengah malam?
Diutus untuk ubah kelam hari kemarin 

Hembusan sejuk angin malam
Membelaiku adem dan kalem
Ajaib, hatiku pun tenteram dan ringan
Meski tubuhku menggigil kedinginan 

Gigil musim dingin masih menemani
Musim semi hijau masih lama dinanti 

Aku hening menemani gundukan salju putih
Mereka menggigil demam kedinginan
Dedaunan hijau belum juga bermunculan
Kepiting sembunyi di gundukan pasir putih 

Badai salju musim dingin
Akankah dikalahkan
Oleh semilir angin sejuk musim semi
dan nyanyian merdu dewa-dewi? 

Kebengisan dikalahkan ketenangan? 

Dari sorga maha tinggi
Sebuah jawaban turun
Suara abadi keheningan
Yang mengalun riang dan sunyi 

"Cari, carilah musim semi
Di saat musim dingin pandemi
Harapan perlu bersemi
Dalam hati sunyi sendiri."

Datanglah, wahai musim semi
Selimuti seantero muka Bumi
Dengan selimut dedaunan wangi
Dan bebungaan warna-warni 

Hai siarkan dari gunung tinggi
Bumi akan bersemarak lagi!
Tapi aku melihat segalanya sunyi
Awan-awan tak ikut bernyanyi

Jakarta, 6 Januari 2020
☆ ioanes rakhmat