Monday, May 16, 2022

Belajar dari Gautama Buddha di Hari Waisak 16 Mei 2022

 

Selamat Hari Trisuci Waisak 2566, yang jatuh pada hari ini, Senin, 16 Mei 2022.

Disebut trisuci, karena pada setiap hari Waisak umat Buddhis memperingati dan merayakan tiga kejadian penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni:

• Hari kelahirannya sebagai seorang pangeran (sekitar tahun 563 SM di Taman Lumbini, sekarang Nepal Utara)

• Hari mendapatkan penerangan atau pencerahan budi (Sanskrit/Pali: bodhi) selama dan setelah 49 hari (7 minggu) menjalankan meditasi yang kontinyu dengan duduk bersila (posisi lotus) di bawah sebuah pohon banyan (yang berlokasi di Bodh Gaya, Bihar, India), yang tumbuh di tepi Sungai Phalgu. Pohon banyan yang dipilih Siddhartha Gautama ini lebih dikenal sebagai Pohon Bodhi. Seseorang yang telah mendapatkan bodhi dinamakan Buddha.

Gautama menyadari bahwa untuk mendapatkan bodhi, dia harus bermeditasi dan melepaskan semua kesenangan dan kenikmatan dunia.

Kesadarannya ini timbul setelah dia melihat kehidupan real di luar istana, dengan didampingi seorang pengawal setianya. 

Dia berpapasan dengan seorang miskin peminta-minta, seorang tua yang ringkih, seorang yang sedang sakit, dan seorang mati yang diusung dalam sebuah keranda. Apa yang dilihat Gautama ini membuat dia terpekur, lalu menginsafi bahwa kehidupan ini penderitaan (Pali: dukkha).

Bagaimana melepaskan manusia dari penderitaan? Itulah pertanyaan terbesar Gautama.

Kemudian Gautama berpapasan dengan seorang asket, yang wajahnya menampakkan keteduhan dan kedamaian. Gautama termenung, bertanya, jika kehidupan ini suatu penderitaan, bagaimana sang asket itu dapat berwajah teduh, damai, dan hening. Maka, Gautama pun mempertimbangkan dirinya untuk menempuh kehidupan asketik.

• Hari Gautama Buddha memasuki “kawasan Diri Sejati yang Abadi” (penamaan dalam Buddhisme Mahayana) lewat kematiannya. Kejadian ini dinamakan parinirvana, saat Gautama Buddha memasuki nirvana yang sepenuh-penuhnya, nirvana tanpa sisa, dan dia tidak akan mengalami kelahiran kembali.

Sebetulnya, dalam meditasinya selama 7 minggu, di saat Gautama berusia 35 tahun, dengan cepat dia mendapatkan bodhi, bahkan sudah mulai diperolehnya di malam pertama meditasinya.

Meditasinya yang dijalankan selama 49 hari sinambung makin memperluas dan memperdalam horison-horison pencerahannya, sampai tiba di pencerahan paripurna.

Mendapatkan pencerahan berarti mendapatkan nirvana (Sanskrit) atau nibbana (Pali), yang memiliki arti “lenyap tertiup” atau “padam”. Yakni, Gautama berhasil memadamkan atau meniup lenyap dari dirinya nafsu keinginan, kebencian, ketidaktahuan, dan, pada dasarnya, berhasil melepaskan dirinya dari penderitaan (dukkha) dan siklus kelahiran kembali.

Pada esensinya, nirvana adalah keadaan berakhirnya penderitaan (yang mencakup kelahiran, usia menua, penyakit, dan kematian) dan semua penyebabnya.

Tanpa mendapatkan bodhi yang sempurna, penderitaan dan segala penyebabnya akan terus-menerus dialami manusia dalam banyak masa kehidupan mereka, membentuk siklus kelahiran kembali yang dinamakan “samsara” (artinya, “mengembara” atau “berkelana”).

Untuk memutus siklus samsara, orang harus dapat melenyapkan emosi-emosi yang negatif, yang melahirkan tindakan-tindakan yang negatif. Selain itu, pikiran-pikiran yang salah, jahat dan destruktif, juga harus ditransformasi menjadi pikiran-pikiran yang benar, baik, dan konstruktif. Sebab, lewat pikiranlah kita membentuk diri kita sendiri dan dunia ini.

Jika penyebab-penyebab akar berlangsungnya siklus samsara, yang ada pada ego dan mental manusia, dapat dicabut dan dihilangkan, maka penyebab-penyebab ini kehilangan kekuatan, alhasil penderitaan diakhiri, dus nirvana dicapai selama masih hidup dalam dunia ini. Ketika nirvana dicapai, pikiran akan damai sepenuhnya, teduh dan hening, dan diri melebur dengan jagat raya, menjadi kosong sekaligus penuh.

Bagi orang yang sudah mencapai nirvana di masa kehidupannya di Bumi, nirvana yang sepenuhnya, nirvana tanpa sisa, akan dimasuki setelah kematian. Inilah nirvana tahap lanjut, atau parinirvana, yang dicapai Gautama Buddha pada usia 80 tahun (yakni, 45 tahun setelah dia mendapatkan bodhi).

Parinirvana Gautama Buddha disebut juga sebagai “apratis thitanirvana”, artinya nirvana tanpa lokasi, dan bukan samsara, juga bukan nirvana. Ini dapat ditafsirkan bahwa pasca-parinirvana, Gautama Buddha menjadi mahahadir, mahaberada, dan abadi, tidak takluk lagi pada kedagingan dan dimensi-dimensi ruangwaktu. Diri Sejati Gautama Buddha menjadi transenden sekaligus imanen. Jasadnya dikremasi, dan debu-debu tulangnya dibagi-bagi ke para pengikutnya.

Nah, baiklah pada Hari Trisuci Waisak 16 Mei 2022 ini, kita perhatikan satu relief (gambar pahatan timbul) di bawah ini. Relief ini dipahat di suatu lokasi di Pakistan utara dan Afghanistan selatan masa kini, berasal antara abad ke-2 dan abad ke-3 M.



Image credit: The Norton Simon Foundation (Norton Simon Museum). Sumber image nortonsimon.org.


Relief ini menampilkan Siddhartha Gautama sedang mendatangi sebuah pohon bodhi untuk di bawahnya dia akan bermeditasi, dengan duduk bersila, dan akhirnya mendapatkan pencerahan hingga final.

Di saat Gautama menghampiri pohon bodhi itu, dia berikrar, demikian:

“Aku tidak akan beranjak dari posisi ini di Bumi, sampai aku mencapai tujuan terbesarku.”

Versi lebih panjang dari ikrar Gautama berbunyi berikut ini.

“Aku akan duduk bersila di bawah pohon ini dan bermeditasi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaanku. Aku tidak akan bangun sampai jawaban-jawaban kuperoleh. Sekalipun kulit-kulitku mengelupas dan tubuhku menjadi lemah, aku tidak akan beranjak sedikitpun sampai aku melihat terang.”

Pada tangan kirinya, Gautama menggenggam rerumputan untuk diletakkannya pada tempat duduk yang sudah tersedia di bawah pohon bodhi itu, yang pernah digunakan oleh para pencari terang lainnya sebelum dia. Tapak tangan kanannya terbuka penuh, mengisyaratkan bahwa dia memiliki keyakinan yang kuat, tidak ragu sama sekali.

Lazimnya, relief-relief dipenuhi deretan sosok-sosok lain. Pada relief di atas hanya beberapa saja dari mereka yang terlihat dan dapat diidentifikasi, termasuk sosok Vajrapani, sahabat dan pelindung Gautama yang berdiri di sebelah kiri, dengan tangannya memegang sebuah senjata petir dalam bentuk sebuah tulang.

Di sebelah kanan Gautama, terlihat sepasang figur ningrat laki-laki dan perempuan. Mereka menunjuk ke tempat duduk yang ada di bawah pohon bodhi. Ditafsir, sepasang sosok ini adalah Mara, dewa atau demon nafsu keinginan, dan isterinya.

Dalam kosmologi Buddhis, Mara dihubungkan dengan kematian, kelahiran kembali dan nafsu keinginan. Menurut penafsir Nyanaponika Thera, Mara adalah “personifikasi kekuatan-kekuatan antagonistik terhadap pencerahan.” Kata Mara sendiri berarti kematian.

Dalam kisah-kisah Buddhis, Mara adalah demon yang bertekad untuk menghalangi dan mencegah Gautama dalam usahanya untuk mendapatkan pencerahan.

Bersama isterinya dan tiga puterinya (masing-masing bernama Tanha, artinya rasa haus; Arati, artinya penyimpangan, rasa tidak puas; dan Rāga, artinya kelekatan, nafsu keinginan, ketamakan, berahi), dan demon-demon pengikutnya yang lain (pada relief, terlihat hanya sebagian, termasuk yang berada di samping kolom beton), Mara yakin akan dapat memadamkan niat Gautama untuk mencari bodhi dan mendapatkannya, lalu mencapai nirvana, lewat meditasinya selama 7 minggu. Menurut tradisi, godaan-godaan ini, termasuk yang sensual dari tiga puteri Mara, dialami Gautama pada minggu kelima meditasinya. Semua godaan dipatahkan Gautama.

Di awal Gautama mendapatkan pencerahan, demon Mara berupaya sangat keras untuk membuyarkan konsentrasi meditatif Gautama. Mara menantang Gautama untuk menunjukkan bahwa dia telah mendapatkan pencerahan. Sebagai jawaban, tangan kanan Gautama diarahkan ke Bumi dan jari-jemarinya menyentuh tanah, memanggil Dewi Bumi untuk menjadi saksi bagi pencerahan yang sudah didapatnya. Posisi ini (lihat image di bawah ini) dinamakan Bhūmisparsa mudra.



Dewi Bumi dipanggil untuk menjadi saksi Gautama telah mendapatkan pencerahan. Abad ke-9, Bihar, India. Image credit: Cleveland Museum of Art. Sumber image khanacademy.org.


Setelah memperoleh pencerahan di tahap awal, di minggu kedua meditasinya Gautama bangkit berdiri dan menatap tanpa berkedip pohon bodhi yang menudungi dan melindunginya, lalu dia mengucap terima kasih kepada pohon itu, dan melanjutkan meditasinya sambil berdiri selama sekian waktu, konon selama sembilan hari.

Pohon banyan menjadi pohon bodhi, membantu Gautama mendapatkan pencerahan.

Hanya demon yang membenci pencerahan, dan menghalangi para pencari terang untuk mendapatkan penerangan dan pencerahan budi.

Gautama Buddha tahu apa yang dia cari, dan percaya dia akan mendapatkan jawaban-jawaban. Dengan memeriksa dan mengikuti serta mengamati dan memikirkan aliran perasaan dan gerak-gerik pikirannya selama 7 minggu, Gautama memperoleh bodhi.

Carilah, maka kamu akan mendapatkan. Ketuklah gerbang-gerbang pintu, maka pintu akan dibukakan bagi kamu. Biarkan Terang Sejati masuk ke dalam dirimu. Lalu pancarkan ke dunia sekitarmu. Jadilah terang dunia. Beri rehat pada orang yang menderita, yang letih lesu dan berbeban berat. Taklukkan kematian. Jalani kehidupan sorgawi sekarang dalam dunia ini. 


Jakarta, 16 Mei 2022


References:

NortonsimonSundaytimesHistoryKhanacademyIndiatoday



Saturday, April 30, 2022

Mengalami Yesus

 



EXPERIENCING JESUS

Pertama-tama, perhatikan gambar di atas. Zoom-in jika diperlukan. Itu gambar Paulus sedang mengalami Yesus. Ketika sudah dekat kota Damsyik, dalam penglihatan mental mistikalnya, Paulus tiba-tiba melihat cahaya yang memancar dari langit dan menyelubunginya, lalu dia mendengar Yesus berfirman kepadanya (KPR 9:3-8). Inilah pengalaman mistikal fotisme yang banyak terjadi dan dikisahkan lintasbudaya dan lintaszaman. Fotisme dibentuk dari kata Yunani phōtos (kasus genetif) atau phōs (kasus nominatif), yang artinya cahaya. Sumber gambar askabibleprof.com, 15 November 2018. 

Selanjutnya, saya buka tulisan reflektif ini dengan sebuah kutipan dari Injil Yohanes 4:42,

“Dan mereka [orang Samaria] berkata kepada perempuan [Samaria] itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia [Yesus] dan kami tahu (Yunani: oidamen) bahwa Dialah benar-benar (Yunani: alēthōs) Juruselamat (Yunani: sōtēr) dunia.’

Untuk seluruh kisah injil tentang perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di pinggir sumur Yakub, di kota Sikhar, Samaria, bacalah Yohanes 4:1-42.

Orang-orang Samaria itu percaya kepada Yesus bukan lagi karena apa kata orang lain, melainkan karena mereka telah mengalami Yesus.

Pernyataan bahwa “kami tahu” atau oidamen mengungkapkan suatu pengenalan yang intim, atau berada dalam suatu hubungan yang erat, dengan seseorang.” (lihat F. William Danker, W. Bauer, GELNT-ECL, 2000, hlm. 693). Jadi, mereka telah mengalami siapa dan bagaimana Yesus itu.

Keterangan benar-benar Juruselamat dunia” menegaskan sekali lagi bahwa mereka, orang-orang Samaria itu, telah dengan mendalam mengalami Yesus, tidak cuma di kulit luar. 

Berjumpa dengan Yesus, harus dilanjutkan dengan mengalami Yesus dengan makin dalam dan makin luas, jika iman dan pengenalan terhadap Yesus mau sungguh-sungguh otentik.

Selanjutnya, bacalah kisah Injil Matius 16:13-20.

Di kawasan Kaisarea Filipi, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (ay. 13). Sebutan Anak Manusia (Yunani: ho huios tou anthrōpou) menunjuk kepada diri Yesus sendiri. Jadi, Yesus bertanya, “Kata orang, siapakah Aku?

Murid-murid Yesus menjawab: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” (ay. 14).

Pengetahuan tentang Yesus yang berdasarkan apa kata orang (atau berdasarkan doktrin-doktrin gereja), tidak memuaskan Yesus. Ada sesuatu yang jauh lebih dari itu, yang diinginkan Yesus. Maka, Yesus pun bertanya lagi langsung kepada murid-murid-Nya: “Tetapi apa kata kalian, siapakah Aku ini?” (ay. 15).

Jadi, pengenalan dan pengakuan siapa dan bagaimana Yesus itu, haruslah timbul dari pengalaman pribadi (dan komunal) tentang Yesus. Pengenalan dan pengakuan yang benar, haruslah berdasar pada pengalaman hidup yang otentik bersama Yesus. Ingat, Yesus itu Tuhan yang hidup, dus kita selalu dapat mengalami-Nya. Atau lebih tepat, Yesus mengalami kita, dan kita mengalami-Nya. Dua hati telah menyatu. Dua bintang bercahaya manunggal.



Dua hati telah menyatu....

Karena telah mengalami Yesus sekian lama, Rasul Simon Petrus langsung menjawab, “Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup (Yunani: su ei ho Khristos ho huios tou Theou tou zōntos).” (ay. 16).

Di saat Simon Petrus menyebut Yesus sebagai sang Kristus, Anak Allah yang hidup, Petrus sesungguhnya menyatakan bahwa dia telah mengalami kehidupan Allah dan Yesus dalam kehidupannya sendiri, sebagai suatu karunia dari sang Bapa, Allah yang ada di sorga. Atas keadaan ini, Yesus menyatakan “Berbahagialah engkau (Yunani: makarios ei), Simon putera Yunus....” (ay. 17).

Bahkan Yesus menegaskan bahwa gereja-Nya dibangun di atas hē petra (kata benda Yunani, artinya batu karang). Maksudnya, di atas Rasul Petrus yang telah mengungkapkan suatu pengakuan bahwa Yesus adalah sang Messias, sang Kristus. Yakni, sosok agung Putera Allah yang telah dilantik sang Bapa, telah diurapi, untuk memikul tugas ilahi membangun suatu komunitas kerajaan sorga. Komunitas ini semula adalah komunitas gereja (Yunani: hē ekklēsiapenulis Injil Matius, yang jauh kemudian menjelma menjadi gereja sedunia, atau gereja-gereja global, yang tidak dapat dikalahkan gerbang maut (Yunani: pulē hadēs. TB LAI: alam maut).

Pengalaman Petrus tentang Yesus sang Kristus, pastilah pengalaman yang mendalam, otentik, dan bernilai. Alhasil, oleh Yesus, Petrus diberi tempat, kedudukan dan status yang istimewa, yang tidak diberikan kepada murid-murid lainnya (ay. 17-19). Tetapi teks selanjutnya (ay. 21-23) memuat apa yang dinamakan paradoks Petrus.

Sekarang kita tengok sejenak Rasul Paulus.

Sudah jelas, haluan kehidupan Paulus berubah drastis, menjadi rasul Yesus Kristus, karena rasul besar kekristenan proto-ortodoks ini telah mengalami siapa dan bagaimana Yesus itu.

Padahal, sebelum menjadi rasul lewat pengalaman visionernya, Paulus adalah seorang penganiaya yang gigih para pengikut Yesus (antara lain lihat KPR 8:3; 9:1-2; juga Filipi 3:6a).

Tentang pengalaman Paulus sendiri yang dengan mata batin mistikalnya “melihat” Yesus dalam wujud cahaya, bacalah KPR 9:3-9. Inilah pengalaman fotisme, suatu fenomena lintasbudaya, lintasgeografis dan lintaszaman. 

Memang mengherankan, pengalaman fotisme Paulus yang dikisahkan oleh penulis Injil Lukas dalam karya jilid keduanya KPR (9:3-9), sama sekali tidak diceritakan Paulus sendiri dalam surat-surat aslinya. Silakan anda menduga-duga apa penyebabnya.

Dalam suatu bagian dari sebuah surat aslinya, 2 Kor. 12:1-4, Paulus, dengan tidak langsung, menyebut dirinya sendiri telah masuk ke suatu pengalaman mistikal yang berbeda, yakni menerima penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu di saat dia “diangkat ke tingkat tiga sorga, “diangkat ke Firdaus”.

Ihwal mengalami Yesus dengan makin dalam dan penuh, diungkap dengan kuat dan menyeluruh oleh Paulus dalam Filipi 3:10-11. Saya kutipkan.

“Hal yang kukehendaki adalah mengenal (Yunani: ginōskō) Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan (Yunani: koinōnia) dalam penderitaan-Nya (Yunani: pathēma autou), di mana aku menjadi serupa (summorfisō) dengan Dia dalam kematian-Nya (Yunani: thanatos autou), supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan (Yunani: eksanastasis) dari antara orang mati.”

Ketika Paulus mengatakan bahwa dia hendak mengenal (Yunani: ginōskō) Yesus, kata kerja Yunani ginōskō kerap menyiratkan suatu hubungan personal yang dalam antara orang yang mengenal dan orang yang dikenal, dan orang yang dikenal berpengaruh kuat pada orang yang mengenalnya. (Lihat Fritz Rieneker dan Cleon L. Rogers, A Linguistic Key to the Greek New Testament, 1980, hlm. 557).

Well, ketika orang bertanya pada saya mengapa saya tetap berpaut dan setia pada Yesus selamanya, dengan mantap saya selalu menjawab berikut ini.

Ya, karena saya sudah banyak kali mengalami Yesus sebagai Tuhan yang hidup, yang bertindak dan berkarya. Dia mahaberada. Mahahadir. Tak terbatas, baik temporal maupun spasial. Dia abadi dan menyelubungi segala sesuatu. Transenden atau selalu melampaui kapasitas mental insani untuk memahami dan menjangkau diri-Nya. Imanen atau selalu mahaberada, menyelubungi dan menyelimuti segala sesuatu. Dia penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tidak ada kejahatan dan kekerasan dalam diri Yesus. Sebaliknya, Yesus menjadi korban kekerasan yang bengis yang dilakukan para penguasa Yahudi dan Romawi di zaman-Nya. Korban kekerasan dan kebengisan cukup satu saja, Yesus Kristus, dan selanjutnya jangan ada korban-korban lainnya. 

The peaceful Jesus Christ always gives birth to eirenic human beings and the world.

Yesus Kristus yang teduh dan damai selalu melahirkan insan-insan dan dunia yang juga teduh dan damai. 

Kita langsung ingat sabda Yesus yang relevan. 

Kata Yesus, Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya. Jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal (Yunani: ek gar tou karpou to dendron ginōsketai). (Matius 12:33; paralel Matius 7:17-20). 

Jadi, jika orang berada di dalam Yesus, dan tumbuh dari akar pohon Yesus Kristus, mustahil mereka membuahkan kejahatan dan kedurjanaan. Ya, karena pohonnya dan akarnya, yaitu Tuhan Yesus yang mahasuci, bukan sumber kebiadaban dan kejahatan, tapi sumber cinta kasih, kebaikan, dan kebenaran.

Selain itu, bagi saya, Yesus bukan hanya subjek kajian-kajian kristologis (yang sangat menarik dan saya kuasai) atau kajian-kajian dogmatis gereja, tetapi --- ini yang utama --- Yesus adalah sosok mulia ilahi-insani yang telah dan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari semua pengalaman kehidupan saya, sejak saya remaja, hingga kini.

Bahkan, saya dapat dengan yakin menyatakan (dalam bahasa iman) bahwa sejak dikandung sang bunda saya (64 tahun lalu), Yesus, sang Tuhan yang hidup, telah mengenal, menyentuh dan memanggil saya.

Kata pemazmur, Engkaulah, ya Yahweh, yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan bundaku.” (Mazmur 139:13)

Nabi (Deutero-) Yesaya menegaskan, “Yahweh sekarang berfirman, Yahweh yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya.” (Yesaya 49:5; juga 44:2)

Rasul Paulus juga menegaskan hal yang sama. Dalam Galatia 1:15 dia menulis dengan jelas bahwa Allah, sang Bapa, “telah memilih aku sejak aku dikandung ibuku (Yunani: ek kolias mētros mou) dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya.

Ya, Yesus sudah dengan lembut menyentuh dan memanggil saya juga ketika saya masih dalam rahim ibu saya untuk menjadi hamba-Nya, pengikut-Nya, murid-Nya, kekasih-Nya, sahabat-Nya, dan sang domba kesayangan-Nya. 

Hingga kini, suara Yesus yang lembut dan meneduhkan, dan sentuhan tangan-Nya yang hangat dan memberdayakan, tetap saya kenal, tetap dapat saya dengar dan rasakan, khususnya ketika saya berada pada momen-momen yang memerlukan kehadiran-Nya.

Saya sudah berikrar/diikrar dan bersumpah/disumpah di depan jemaat-Nya untuk menjadi hamba Yesus Kristus sekali untuk selamanya. 

Menghamba kepada Tuhan Yesus Kristus bukan urusan kelembagaan organisasi apapun, tapi suatu keputusan dan komitmen eksistensial personal yang dibuat antara saya dan Yesus Kristus.

Siapapun juga yang melaksanakan dengan setia dan benar amanat kultural Yahweh Elohim yang ditulis dalam Kejadian 2:15, yakni mengusahakan dan memelihara (Ibrani: lə‘āḇəḏāh ūləšāmərāh) (teks NRSV, to till/cultivate and keep/guard) dunia tempat kita hidup, Bumi yang kita diami, mereka adalah hamba-hamba Tuhan. Ebed Yahweh.

Amanat kultural untuk membudidayakan sekaligus menjaga dan melestarikan daya dukung lingkungan alam bagi kehidupan, adalah amanat ilahi untuk Adam (di lingkungan alam taman Eden), yang harus ditafsir sebagai representasi simbolik umat manusia universal yang memiliki nafas hidup dari Yahweh. Semua insan di Bumi, dengan demikian, adalah hamba Tuhan, ya hamba Tuhan sang Pencipta dan Pemelihara alam dan kehidupan, yang mahapengasih dan mahapenyayang.

Jika seseorang itu menghancurkan, merusak dan membinasakan kehidupan dan lingkungan alam, dan nafsu kebiadaban dan kedurjanaan bernyala-nyala dalam dirinya, orang itu bukan hamba Tuhan. Dia bukan menyembah Tuhan, tapi menyembah sesuatu yang sama sekali lain, yang memusuhi Tuhan.

Saya, sebagai hamba dan kekasih Yesus, betul-betul telah dan selalu mengalami Yesus. I am experiencing Jesus, my living Lord. How about you, my friends?

Jakarta, 30 April 2022
ioanes rakhmat


N.B. Hari Eid ul-Fitr 1443 H segera kita masuki, 2 dan 3 Mei 2022. Saya ucapkan selamat lebaran kepada teman-teman yang merayakannya. Kembalilah ke hakikat semula kita sebagai insan-insan mulia ciptaan Tuhan. Jauhkan dosa, kejahatan, kekerasan, intimidasi, kejumawaan, aib dan cela dari kehidupan harian kita.



Sunday, April 17, 2022

Puisiku: Jumat Agung-Paskah 2022

 


Kosong...!



Orang besar atau orang kecil

Gajah besar atau kancil kecil

Konglomerat atau kere kerdil

Orang kota atau orang terpencil


Semua tak bisa luput

Dari penderitaan dan maut

Sejak lahir hingga usia larut

Dari kulit kencang hingga lunglai mengerut


Kala hidup dirasakan berat

Jiwa pun merana hebat

Hati hancur luluh lumat

Hidup pun dirasa tamat


Daya hidup hilang sirna 

Daya juang lenyap entah ke mana

Daya tempur nihil tiada

Langit kosong tanpa suara


Saat maut menunggu

Ketakutan hebat menyerbu

Rasa ngeri datang menggebu

Ketenangan jauh pergi berlalu


Apakah hidup memang harus demikian? 

Penderitaan menjadi penentu

Kematian musuh nomor satu

Jika begitu, siapakah yang mau dilahirkan?


Jika hidup hanya kekalahan

Jika penderitaan tak dapat dilawan

Jika kematian tak dapat ditaklukkan

Memang celaka jika kita dilahirkan


Dilahirkan hanya untuk menderita

Dilahirkan hanya untuk menangis lara

Dilahirkan hanya untuk mati merana

Dilahirkan tanpa tujuan yang bermakna


Duuh, jika betul begitu 

Semua yang ada di bawah langit

Hanyalah kesia-siaan yang sangat pahit!

Sesuatu yang membuat hati luarbiasa pilu!


Tapi, syukurlah, kehidupan tidak begitu

Sama sekali tak begitu

Tentu jika kita tahu jalan ke situ

Katamu, tunjukkanku jalan ke situ


Hai kawan, ke situ aku berjalan

Ke bukit Kalvari yang berbatu

Bukit yang membangkitkan rasa haru

Di situ, Yesus Tuhanku disalibkan


Di saat Yesus pedih disalibkan 

Merasakan sakit tak terkatakan 

Sekarat tak tertahankan

Dia memanggil Allah untuk mengulurkan tangan


Sang Putera Allah yang agung lestari

Telah masuk ke puncak derita insani

Direndahkan oleh penguasa dunia ini

Diaibkan lewat penyaliban sampai mati


Tetapi kekasih-kekasih Yesus Tuhanku

Memandang berbeda penyaliban Tuhanku

Di kayu salib Dia tidak diaibkan

Tetapi dari muka Bumi Dia ditinggikan 


Pada kayu salib di Golgota

Yesus mengalami derita manusia

Derita Yesus derita kita

Derita kita derita-Nya


Di saat kita sengsara

Kita tidak sendirian semata

Yesus ikut menderita

Bahkan Dia memikul derita kita

Kematian kita pun ditanggung-Nya


Orang-orang yang dikasihi Tuhan

Dan yang mengasihi-Nya

Tak pernah sendirian

Dalam menjalani kehidupan di dunia


Yesuslah sang Immanuel mahakudus

Allah yang selalu bersama orang-orang kudus

Allah dalam wujud insani kudus

Tirai Bait Allah sudah koyak ditembus


Lihatlah, Allah kini berada di tengah manusia!

Penuh kebenaran dan kasih karunia

Memandang Yesus yang mulia

Adalah memandang Allah dalam rupa manusia


Kasih karunia demi kasih karunia

Dicurahkan-Nya kepada kita

Tak pernah terhenti selamanya

Kita hidup dalam kasih karunia-Nya


Hidup kita menjadi bermakna

Bukan sesuatu yang sia-sia

Menjadi suatu kesempatan tiada tara

Untuk meneruskan kasih karunia dari sorga


Di hari Jumat Agung

Pada kayu salib yang menjulang

Wafatlah Tuhanku yang agung

Demi dosa-dosa kekasih-kekasih-Nya Dia tanggung


Kematian-Nya membebaskan kita

Kematian yang agung

Kematian yang selalu kita kenang

Kematian yang memberi hidup bagi kita


Kematian yang menghidupkan

Sekali untuk selamanya!


Tetapi kematian bukanlah akhir!


Di hari Paskah yang cemerlang menyentak

Allah sang Bapa bertindak

Yesus dibangkitkan

Kematian dikalahkan


Dalam tubuh kemuliaan

Tubuh yang tak dapat binasa lagi

Yesus sangat ditinggikan

Diangkat ke sorga mahatinggi


Kita memanggil-Nya,

"Oh, Yesus, Tuhan yang hidup, datanglah, berdiamlah bersama kami, sekarang, sampai selamanya."


Wahai orang-orang yang mengasihi

Dan dikasihi Yesus

Di dalam-Nya kehidupan ini bermakna dan suci

Jalanilah bersama Yesus!


Tak selamanya kita menderita

Sebab oleh Yesus, Tuhan kita

Penderitaan, kematian dan sengatnya, 

Sudah dibuat tak berdaya


Derita dan kematian bukanlah kata akhir

Akan selalu ada kebangkitan

Dalam kehidupan kita yang terus mengalir

"Jangan takut! Ini Aku, bersamamu berjalan!"


Hari Paskah, 17 April 2022


Happy Easter.

Selamat Paskah.



Monday, April 11, 2022

Hikmat jalan kaki pagi hari



Duduk bersila, melamun dalam, sampai tersenyum. Patung ini ditaruh di depan sebuah rumah, dan saya mengambil gambarnya di saat olah raga jalan kaki di suatu pagi hari. Sayang, topinya somplak di bagian depan.



Sejak dua atau tiga minggu lalu, saya kini berolah raga jalan kaki santai di pagi hari, mulai pukul 9 pagi. Selesai sampai di rumah kembali kurang lebih pukul 11 pagi. Jadi, total bisa sampai dua jam, mencakup 4 putaran terjauh di dalam komplek perumahan tempat kami tinggal. 

Mengapa saya mengambil waktu olah raga jalan kaki santai di pagi hari jam 9 hingga jam 11 pagi? Karena pada jam-jam ini Matahari memancarkan sinar UV yang terbaik untuk kesehatan tubuh kita, termasuk kesehatan tulang-tulang dan sendi-sendi kita.

Saya berjuang untuk sehat. Ya, literally saya berjuang untuk healthful. Sehat pikiran, dan sehat tubuh, sekaligus, tak dapat dipisah. 

Tapi, yang terpenting adalah sehat pikiran, sebab lewat pikiranlah kita pertama-tama membentuk diri dan kehidupan kita. Lewat pikiran kita jugalah, kita membentuk dunia ini.

Jika pikiran seseorang tidak sehat, atau rusak, maka, meski tubuh orang itu lahiriah sehat dan kuat, tetaplah orangnya rusak. Pikiran yang rusak melahirkan orang yang rusak. Dunia menjadi rusak karena pikiran orang-orang yang menghuninya rusak.

Karena itu, olah raga jalan kaki di pagi hari adalah kesempatan yang saya pakai untuk menyehatkan dan membangun pikiran saya. Caranya?

Ya, olah raga jalan kaki di pagi hari saya lakukan santai, rileks, tidak ngebut atau terburu-buru atau berlari-lari kencang. Ini bisa saya lakukan karena saya tidak bekerja formal lagi. Saya sudah tergolong lansia, dan sudah lama pensiun. 

Selain santai, jalan kaki pagi yang berdurasi total 2 jam itu saya jadikan suatu kegiatan rekreasi. Ya, betul-betul rekreasi.

Di sepanjang perjalanan 4 putaran, saya menikmati berbagai pemandangan, seperti melihat-lihat pepohonan dan buah-buahan yang menggantung. Saya mensyukuri adanya pepohonan di mana-mana yang mengeluarkan buah-buah beranekaragam. Saya juga mengagumi pepohonan kecil dan pepohonan besar, tinggi dan rimbun, yang berbuah dan yang tidak berbuah. 

Akar-akar yang rimbun berderet-deret panjang menggantung ke bawah, dari sebuah pohon beringin besar di sisi suatu jalan, kerap saya datangi dan pandang dengan menengadah. Bagian-bagian terbawah akar-akar gantung ini saya sentuh, usap-usap, dan jepit longgar di antara telunjuk dan jempol tangan-tangan saya yang selanjutnya saya gerakan ke bawah. Lalu saya merenungi apa yang sedang saya lihat dan lakukan. 

Setiap pagi hari, selalu muncul suatu perspektif baru tentang makna dan pesan alam yang disampaikan oleh pohon beringin itu, khususnya oleh akar-akar gantungnya yang terjulur ke bawah. Terjulur bak untaian rambut panjang yang diikat di belakang kepala seorang dewi yang sedang duduk di sebuah dahan besar pohon beringin itu. Tak sungkan, akar-akar gantung itu selalu saya ajak bicara dalam hati.

Acapkali memandang buah-buah pohon mangga atau pohon jambu bol, ingin saya memetiknya langsung dengan tangan. Tapi, sayangnya, lengan saya tak sampai. Nanti, beberapa tahun lagi, ketika saya sudah lebih gede, saya bayangkan lengan-lengan saya akan dapat memetik buah-buahan yang saya sekarang cuma bisa lihat.

Banyak lahan kosong di komplek perumahan tempat saya berdiam. Luas-luas. Ditumbuhi tanaman sayur-mayur yang pada waktunya dicabut-cabuti untuk dijual. Diurus oleh para tani yang selalu saya sapa jika saya sedang memandang lahan-lahan itu. Ngobrol sebentar dengan mereka.

Saya sempatkan diri juga untuk ngobrol pendek dengan satu atau dua pria penghuni rumah yang sedang mengurus burung-burung bersuara indah dalam sangkar masing-masing. Burung-burung itu sedang dijemur di bawah Mentari pagi.

Ketika saya bertanya kepada seorang pria, mengapa tidak olah raga jalan kaki di pagi hari, sambil membawa burung yang dipelihara, tanpa sangkar, tapi ditaruh di atas bahu, dibiarkan bertengger bebas di situ.

Pemeliharanya menjawab otomatis, Ya burungnya akan terbang lepas lalu hilang.

Saya berkata lagi. Jika hati si burung sudah menyatu dengan hati si pemeliharanya, sehingga ada bukan dua hati, tapi satu hati, maka burung itu akan mau diajak jalan kaki pagi dengan bertengger di bahunya, tidak akan terbang dan kabur menghilang. 

Tetapi jika masih ada dua hati yang terpisah, si burung pasti terbang menghilang jauh. Jika ini terjadi, biarkanlah si burung terbang bebas di luar sangkar, karena si burung tidak mencintai si pemeliharanya. Lepaskanlah si burung itu, meski harganya mahal. 

Nah, ketika saya sedang berjalan kaki di sisi kiri suatu jalan, di seberang kanan, sejauh 3 atau 4 meter dari saya, saya melihat seekor kucing sedang tiduran di bawah sebuah mobil yang sedang diparkir. Dekat pintu kanan mobil itu, sang supir duduk di sebuah bangku. 

Saya menyapa sang supir. Selamat pagi, Pak. Bekerja sebagai supir mobil itu ya? Dia menjawab. Ya, di depan saya rumah pemilik mobil ini. 

Lalu saya jongkok di sisi kiri jalan, tempat saya tadi berdiri. Lalu saya panggil kucing itu beberapa kali. Tangan saya melambai-lambai meminta si kucing mendatangi saya. Puss. Puss. Puss. Meong. Meong. Mari ke sini. Datangi aku. 

Sesaat kemudian, si kucing bangun, menatap ke saya. Lalu melangkah pelan sejauh 4 meter, menyeberang jalan, mendatangi saya. Lalu saya elus-elus dan belai kepala dan leher si kucing yang tampak kesenangan. Sang supir tertegun, tampak tak yakin, atas apa yang dilihatnya. Saya berkata lagi ke sang supir. Ajaib ya.

Lalu saya melanjutkan jalan kaki. Saya amati langkah kaki yang saya ayunkan, sambil menyadari keadaan di depan. Pikiran saya konsentrasikan pada hal-hal yang Tuhan telah karuniakan, dan segala kebaikan dan kasih sayang-Nya. Jalan kaki adalah doa juga.

Lazimnya, di akhir putaran keempat, saya mampir ke tempat mangkal para penjual buah-buahan dan sayur-mayur, tak jauh dari rumah kami. Saya ngobrol dengan mereka sejenak, lalu berbelanja, seperlunya saja.


11 April 2022



Thursday, March 3, 2022

Di Manakah Sepi Kujumpai?



Rangkullah aku, Yesus...!


DI MANAKAH SEPI KUJUMPAI?


Aku duduk bermeditasi
Pikiranku menerawang berlari
Aku mencari sepi
Di manakah sepi dapat kujumpai?

Aku terbang ke laut tanpa tepi
Pikirku, di laut, sepi berkenan kutemui
Tapi di sana ombak dan ikan ramai menari
Di sana tak ada sepi

Aku tiba di suatu gurun misteri
Di sanapun tak kusua sepi
Pasir gemuruh diterpa angin badai
Pandangan mata habis tertutupi

Dari gurun, aku lari ke hutan rimba
Hutan yang belum disentuh manusia
Aku yakin, di sana sepi akan kusua
Namun suara deru dedaunan kencang di sana

Tibalah aku di puncak gunung tertinggi dunia
Pikirku, pasti ada sepi di atas sana
Dugaanku salah ternyata
Para dewa ramai berbincang di atap dunia

Akhirnya, di suatu jalan setapak di Galilea
Berpapasan denganku tatap muka
Satu sosok berwajah bercahaya
Wajah Tuhan dalam wujud manusia

Nama-Nya Yesus, Tuhan penolong manusia
Tuhan yang telah mengosongkan diri-Nya
Tuhan yang telah menyepikan diri-Nya sendiri
Kosong sepi mahatinggi

Sang Sepi telah menjadi Hamba
Menanggung derita umat manusia
Lewat kematian-Nya, Dia sangat ditinggikan ke sorga
Menjadi Tuhan yang hidup mahaberada

Yesus, oh Yesus, Tuhanku
Aku menemukan sepi tiada tara di dalam-Mu
Sepi, ketenangan mahadalam
Di dunia yang riuh timbul-tenggelam

Di dalam rangkulan-Mu, Yesus, aku abadi terbenam
Hangat pelukan-Mu membuatku tenang tenteram
Beri aku bagian dalam sepi-Mu
Rindu aku menyatu penuh dengan-Mu

Ya, menyatu dengan sepi
Sepi yang tanpa tepi
Lautan keheningan mahaluas
Dan ketenangan tanpa batas

Tuhanku, Engkaulah segala wujud cinta 
Yang menenangkan jiwa sahaya
Engkaulah bagiku saudara, kakak, ayah, dan bunda
Yesus, rangkul dan peluk aku selamanya



Jakarta, 3 Maret 2022
ioanes rakhmat

☆ Hari Nyepi Bali,
Tahun Baru Saka 1944