RUU Pilkada telah disahkan DPR sebagai
UU, Jumat, 26 September 2014. Tapi keputusan mengesahkan RUU ini tidak
sejalan dengan kehendak rakyat. Artinya: UU ini tidak sah.
Di
Senayan, yang bercokol sebetulnya bukan wakil-wakil rakyat, tapi
oligarkhi yang antidemokrasi, oligarkhi yang memakai nama koalisi m-p. Mereka tidak akan pernah mau mendengarkan suara rakyat langsung. Yang mereka mau dengarkan dan jalankan hanya isi pikiran dan angan-angan mereka sendiri. Peduli amat dengan suara rakyat. Itu isi hati dan keyakinan mereka, kendatipun mereka sesumbar menyatakan diri para pendukung dan penjaga demokrasi, penjaga dan pendukung ekonomi rakyat, pendukung dan penjaga kedaulatan NKRI. Ketimbang mau menegakkan demokrasi, mereka sudah kelihatan terang benderang, mau mengembalikan NKRI ke sistem pemerintahan represif era Soeharto, bahkan lebih buruk dari itu, mereka ujung-ujungnya khilaf mau menjadikan negara RI sebuah khilafah.
Tuesday, September 30, 2014
Thursday, September 25, 2014
Samakah 4x6 dan 6x4?
Dengan caranya sendiri, matematika murni adalah puisi ide-ide logis.
• Albert Einstein
Tanpa matematika, tidak ada hal apapun yang anda dapat lakukan. Segala sesuatu di sekitar anda adalah matematika. Segala sesuatu di sekitar anda adalah angka-angka.
• Shakuntala Devi
Sederhana saja. Bagaimana menghitung 4x6? Mudah dan sudah pasti. Caranya: tambahkan
kata "dari" setelah tanda x. Jadi, 4x6=4x "dari" 6. Jadi, 4x6= 6+6+6+6=
24. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Selesai. Titik.
Bagaimana dengan 6x4? Sama caranya. Tambahkan kata "dari" setelah tanda x. Jadi, 6x4= 6x "dari" 4. Jadi, 6x4= 4+4+4+4+4+4= 24.
Jadi, walaupun 4x6 itu hasilnya sama dengan 6x4, tapi pengoperasiannya beda, karena keduanya memang beda. Dalam aritmetika, dua perkalian ini komutatif hanya sejauh menyangkut hasil; dan tidak komutatif sejauh menyangkut pengoperasian (atau Bu guru SD bilang "jalannya").
Penambahan kata "dari" setelah tanda x sama sekali tidak subjektif, sebab tanda x menyatakan "kelipatan/lipat dari", atau ringkas ditulis "x dari". No debate!
Supaya tidak abstrak, baiklah saya pakai ilustrasi buah apel dalam keranjang. Saya punya 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel. Nah, berapa jumlah keseluruhan apel yang saya miliki? Beri jawabannya lewat pengoperasian aritmetis. Jawabannya adalah 4x6 apel= 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel = 24 apel. Pengoperasian ini tidak komutatif. Anda tidak bisa menulis pengoperasiannya: 4x6 apel= 4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel = 24 apel. Walaupun hasilnya sama (24 apel), pengoperasian yang kedua salah, karena pengoperasian ini menyatakan bahwa saya memiliki 6 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 4 apel. Jelas sekali, bukan?
Bagaimana dengan 6x4? Sama caranya. Tambahkan kata "dari" setelah tanda x. Jadi, 6x4= 6x "dari" 4. Jadi, 6x4= 4+4+4+4+4+4= 24.
Jadi, walaupun 4x6 itu hasilnya sama dengan 6x4, tapi pengoperasiannya beda, karena keduanya memang beda. Dalam aritmetika, dua perkalian ini komutatif hanya sejauh menyangkut hasil; dan tidak komutatif sejauh menyangkut pengoperasian (atau Bu guru SD bilang "jalannya").
Penambahan kata "dari" setelah tanda x sama sekali tidak subjektif, sebab tanda x menyatakan "kelipatan/lipat dari", atau ringkas ditulis "x dari". No debate!
Supaya tidak abstrak, baiklah saya pakai ilustrasi buah apel dalam keranjang. Saya punya 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel. Nah, berapa jumlah keseluruhan apel yang saya miliki? Beri jawabannya lewat pengoperasian aritmetis. Jawabannya adalah 4x6 apel= 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel = 24 apel. Pengoperasian ini tidak komutatif. Anda tidak bisa menulis pengoperasiannya: 4x6 apel= 4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel = 24 apel. Walaupun hasilnya sama (24 apel), pengoperasian yang kedua salah, karena pengoperasian ini menyatakan bahwa saya memiliki 6 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 4 apel. Jelas sekali, bukan?
Nah, untuk membuat anda yakin
seyakin-yakinnya bahwa pengoperasian perkalian yang sudah saya
bentangkan ini benar, saya mau membalik soalnya. Di atas itu perkalian
diubah menjadi penjumlahan. Nah, bagaimana kalau penjumlahan diubah jadi
perkalian? Simaklah pengoperasian penjumlahan berikut ini.
Bagaimana mengubah 6+6+6+6 menjadi perkalian? Kalimat aritmetisnya: 6+6+6+6 = ..?.. x ..?.. Karena kita mau membuat perkalian, ya kita mulai cukup dengan bertanya, ada berapa kali angka 6 dalam kalimat aritmetis itu? Jawabnya: ada 4 kali. Dus, perkaliannya menjadi 4x6. Jadi, 6+6+6+6 = 4x6. Selesai! Titik. No debate!
Bagaimana mengubah 4+4+4+4+4+4 menjadi perkalian? Caranya sama. Tanyalah ada berapa kali angka 4 dalam kalimat aritmetis ini. Jawabnya: ada 6 kali. Dus, perkaliannya menjadi 6x4. Jadi, 4+4+4+4+4+4=6x4. Selesai. Titik. No debate!
Baiklah kita pakai juga ilustrasi buah apel dalam keranjang untuk aritmetis di atas. Saya punya 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel. Kalimat aritmetis penjumlahannya: 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel. Bagaimana cara mengubah penjumlahan ini menjadi perkalian? Anda tidak bisa menulis 6x4 apel (ini artinya saya memiliki 6 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 4 apel), tetapi hanya 4 x 6 apel (ini sesuai fakta bahwa saya memiliki 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel). Jelaslah, 6x4 apel tidak sama dengan 4x6 apel!
Penulisan yang benar adalah 4x6 apel. Penulisan 6 apel x 4 tidak benar atau tidak lazim; kalaupun anda mau memakainya, pengoperasiannya haruslah menghasilkan penjumlahan yang sama: 6 apel + 6 apel + 6 apel +6 apel = 24 apel, dan sama sekali tidak bisa 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel.
Karena mengikuti logika yang termuat dalam kalimat-kalimat aritmetisnya sendiri, tidak diintervensi oleh ide-ide dari luar, maka pengoperasian yang sudah saya beberkan di atas berlaku universal. Anda tidak bisa ajukan pengertian sendiri yang sembarangan, semau gua. Tidak ada aritmetika atau matematika Jawa atau Sunda atau Jerman atau Inggris, atau aritmetika si Butet atau matematika si Marpaung atau si Anick.
Seluruh paparan saya di atas teringkas hanya dalam beberapa baris berikut di bawah ini. Variabel-variabel yang saya pakai beda, tidak sama, yakni keranjang dan apel, untuk menunjukkan keunggulan logika yang saya temukan dalam setiap pengoperasian aritmetik. Kalau anda pakai (seolah-olah) 2 variabel (6 apel kali 4 apel, atau 6 kelereng kali 4 kelereng), tetapi senyata-nyatanya variabelnya sama (apel dan apel, atau kelereng dan kelereng), anda hanya jalan di tempat, tidak bisa menemukan pemecahan logika aritmetiknya, dan akhirnya tidak bisa menemukan logika internal aritmetisnya. Justru kalau anda pakai 2 variabel berbeda, seperti sudah saya perlihatkan, pengoperasian aritmetisnya tertantang serius lalu menunjukkan logika internalnya sendiri. Ini logika internal pengoperasian aritmetis:
4 keranjang @ 6 apel = 4x6 apel = 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel = 24 apel; dan sudah pasti bukan 4 keranjang + 4 keranjang + 4 keranjang+ 4 keranjang + 4 keranjang + 4 keranjang = 24 keranjang.
Lagi. 6 keranjang @ 4 apel = 6x4 apel = 4 apel + 4 apel + 4apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel = 24 apel; dan sudah pasti bukan 6 keranjang + 6 keranjang + 6 keranjang + 6 keranjang = 24 keranjang.
Jadi, dengan memakai keranjang dan apel sebagai dua variabel penjelas yang berbeda, berlakulah 4x6= 6+6+6+6; dan 6x4= 4+4+4+4+4+4. Itulah logika internal aritmetik. Tidak bisa lain. Jelas ya. No debate.
Matematika dan aritmetika termasuk bidang ilmu pengetahuan yang tidak bergantung konteks, dus tidak bisa fleksibel. Ada beberapa ilmu pengetahuan yang fleksibel atau bergantung pada konteks, misalnya sosiologi (dengan bermacam-macam bidang kajian), antropologi, linguistik, dan dalam batas-batas tertentu psikologi.
Persamaan matematis Einstein E=mc^2, misalnya, adalah persamaan yang berlaku universal dan sejauh ini abadi. Tidak bisa luwes dan tidak bisa bergantung konteks.
Hanya di Indonesia aritmetika kelas 2 SD ini masih diperdebatkan. Sangat aneh dan ketinggalan zaman. Memalukan, tidak?!
Mari kita tengok persamaan matematis di atas ini, salah satu rancangan cerdas untuk mencapai penemuan suatu Theory of Everything (ToE). Banyak usaha sedang dijalankan para fisikawan sedunia untuk melahirkan sebuah persamaan matematis baru yang bisa menggabung empat gaya dalam jagat raya, yakni gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, dan gaya gravitasi.
Bagaimana mengubah 6+6+6+6 menjadi perkalian? Kalimat aritmetisnya: 6+6+6+6 = ..?.. x ..?.. Karena kita mau membuat perkalian, ya kita mulai cukup dengan bertanya, ada berapa kali angka 6 dalam kalimat aritmetis itu? Jawabnya: ada 4 kali. Dus, perkaliannya menjadi 4x6. Jadi, 6+6+6+6 = 4x6. Selesai! Titik. No debate!
Bagaimana mengubah 4+4+4+4+4+4 menjadi perkalian? Caranya sama. Tanyalah ada berapa kali angka 4 dalam kalimat aritmetis ini. Jawabnya: ada 6 kali. Dus, perkaliannya menjadi 6x4. Jadi, 4+4+4+4+4+4=6x4. Selesai. Titik. No debate!
Baiklah kita pakai juga ilustrasi buah apel dalam keranjang untuk aritmetis di atas. Saya punya 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel. Kalimat aritmetis penjumlahannya: 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel. Bagaimana cara mengubah penjumlahan ini menjadi perkalian? Anda tidak bisa menulis 6x4 apel (ini artinya saya memiliki 6 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 4 apel), tetapi hanya 4 x 6 apel (ini sesuai fakta bahwa saya memiliki 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel). Jelaslah, 6x4 apel tidak sama dengan 4x6 apel!
Penulisan yang benar adalah 4x6 apel. Penulisan 6 apel x 4 tidak benar atau tidak lazim; kalaupun anda mau memakainya, pengoperasiannya haruslah menghasilkan penjumlahan yang sama: 6 apel + 6 apel + 6 apel +6 apel = 24 apel, dan sama sekali tidak bisa 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel.
Karena mengikuti logika yang termuat dalam kalimat-kalimat aritmetisnya sendiri, tidak diintervensi oleh ide-ide dari luar, maka pengoperasian yang sudah saya beberkan di atas berlaku universal. Anda tidak bisa ajukan pengertian sendiri yang sembarangan, semau gua. Tidak ada aritmetika atau matematika Jawa atau Sunda atau Jerman atau Inggris, atau aritmetika si Butet atau matematika si Marpaung atau si Anick.
Seluruh paparan saya di atas teringkas hanya dalam beberapa baris berikut di bawah ini. Variabel-variabel yang saya pakai beda, tidak sama, yakni keranjang dan apel, untuk menunjukkan keunggulan logika yang saya temukan dalam setiap pengoperasian aritmetik. Kalau anda pakai (seolah-olah) 2 variabel (6 apel kali 4 apel, atau 6 kelereng kali 4 kelereng), tetapi senyata-nyatanya variabelnya sama (apel dan apel, atau kelereng dan kelereng), anda hanya jalan di tempat, tidak bisa menemukan pemecahan logika aritmetiknya, dan akhirnya tidak bisa menemukan logika internal aritmetisnya. Justru kalau anda pakai 2 variabel berbeda, seperti sudah saya perlihatkan, pengoperasian aritmetisnya tertantang serius lalu menunjukkan logika internalnya sendiri. Ini logika internal pengoperasian aritmetis:
4 keranjang @ 6 apel = 4x6 apel = 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel = 24 apel; dan sudah pasti bukan 4 keranjang + 4 keranjang + 4 keranjang+ 4 keranjang + 4 keranjang + 4 keranjang = 24 keranjang.
Lagi. 6 keranjang @ 4 apel = 6x4 apel = 4 apel + 4 apel + 4apel + 4 apel + 4 apel + 4 apel = 24 apel; dan sudah pasti bukan 6 keranjang + 6 keranjang + 6 keranjang + 6 keranjang = 24 keranjang.
Jadi, dengan memakai keranjang dan apel sebagai dua variabel penjelas yang berbeda, berlakulah 4x6= 6+6+6+6; dan 6x4= 4+4+4+4+4+4. Itulah logika internal aritmetik. Tidak bisa lain. Jelas ya. No debate.
Matematika dan aritmetika termasuk bidang ilmu pengetahuan yang tidak bergantung konteks, dus tidak bisa fleksibel. Ada beberapa ilmu pengetahuan yang fleksibel atau bergantung pada konteks, misalnya sosiologi (dengan bermacam-macam bidang kajian), antropologi, linguistik, dan dalam batas-batas tertentu psikologi.
Persamaan matematis Einstein E=mc^2, misalnya, adalah persamaan yang berlaku universal dan sejauh ini abadi. Tidak bisa luwes dan tidak bisa bergantung konteks.
Hanya di Indonesia aritmetika kelas 2 SD ini masih diperdebatkan. Sangat aneh dan ketinggalan zaman. Memalukan, tidak?!
Mari kita tengok persamaan matematis di atas ini, salah satu rancangan cerdas untuk mencapai penemuan suatu Theory of Everything (ToE). Banyak usaha sedang dijalankan para fisikawan sedunia untuk melahirkan sebuah persamaan matematis baru yang bisa menggabung empat gaya dalam jagat raya, yakni gaya elektromagnetik, gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, dan gaya gravitasi.
Bagi para saintis, seperti dikatakan Stefan Banach, matematikus Polandia, “Matematika adalah ciptaan terindah dan terkuat roh manusia.” Apakah anda melihat keindahan persamaan matematis di atas? Mustinya ya.
Para ilmuwan mendambakan persamaan
matematis gabungan ToE, yang panjangnya hanya maksimal 2 cm (seperti
E=mc^2), bisa dilahirkan. M-theory tampaknya akan menjadi muara
pencarian ini. Jika persamaan gabungan ini sudah didapat, bisa jadi
itulah the theory of everything yang sudah lama dicari para saintis.
Itu mereka. Kita, di Indonesia, masak masih meributkan soal pengoperasian matematis kelas 2 SD???
• Diedit 30 Juni 2023
• Diedit 30 Juni 2023
Wednesday, September 24, 2014
Puisiku: Wahai Petani
Wahai petani
Di Hari Tani Nasional 24 September 2014 saat ini
Dari segala penjuru negeri kau terhimpun bersatu hati
Beribu-ribu kau datangi Istana Negeri ramai-ramai
Untuk sampaikan aspirasimu tolak mati berkali-kali
Wahai para tani luhur berbudi
Kaulah yang membuat Bumi hidupi anak-anak negeri
Patut kau dihargai tinggi-tinggi
Bukan diperas dilumat sampai mati berkali-kali
Tega nian yang membuat kau mati berlipat kali
Patut mereka diingatkan dan ditegur berkali-kali
Sampai hati dan mata mereka celik kembali
Eling bahwa kau sesungguhnya pahlawan negeri
Pahlawan negeri, pahlawan negeri, pahlawan negeri
Walau kepadamu tak pernah bintang jasa diberi
Kau pejuang dan pahlawan berteman sunyi sepi sendiri
Padi-padi berbulir yang menguning jadi saksimu abadi
Hidup, hidup, hidup para petani
Di negeri subur gemah ripa loh jinawi
Sekarang ini saat ini detik ini
Hingga di hari-hari abadi lestari nanti
Jakarta, 24 September 2014
Foto: ribuan petani datangi Istana Negara 24 September 2014 untuk berdemo sampaikan aspirasi mereka. Foto ini mendorong saya menulis puisi di atas.
Foto: ribuan petani datangi Istana Negara 24 September 2014 untuk berdemo sampaikan aspirasi mereka. Foto ini mendorong saya menulis puisi di atas.
Tuesday, September 23, 2014
Feminisme dan feminis
Feminisme itu sebuah ideologi dan gerakan untuk menempatkan
kedudukan perempuan setara dengan kedudukan pria, dan memperlihatkan
kaum perempuan mampu hidup mandiri tanpa pria pendamping manapun.
Feminisme dapat dikata menemukan kembali harga diri dan kehormatan diri serta martabat dan harkat perempuan yang dalam sejarah panjang perkembangan peradaban manusia pernah diperlakukan sebagai insan rendahan, kelas dua atau kelas tiga dalam masyarakat patriarkal.
Jadi, feminisme itu sebetulnya gerakan dan paham yang bagus. Sangat demokratis dan humanitarian, karena memperjuangkan manusia perempuan untuk diterima setara dengan manusia lelaki dalam kedudukan dan peran mereka. Sebagaimana dalam setiap ideologi dan gerakan, dalam feminisme juga ditemukan berbagai aliran yang masing-masing menekankan segi-segi khusus gerakan, dan setiap aliran ini membentuk perilaku dan watak yang spesifik dari setiap feminis.
Feminisme dapat dikata menemukan kembali harga diri dan kehormatan diri serta martabat dan harkat perempuan yang dalam sejarah panjang perkembangan peradaban manusia pernah diperlakukan sebagai insan rendahan, kelas dua atau kelas tiga dalam masyarakat patriarkal.
Jadi, feminisme itu sebetulnya gerakan dan paham yang bagus. Sangat demokratis dan humanitarian, karena memperjuangkan manusia perempuan untuk diterima setara dengan manusia lelaki dalam kedudukan dan peran mereka. Sebagaimana dalam setiap ideologi dan gerakan, dalam feminisme juga ditemukan berbagai aliran yang masing-masing menekankan segi-segi khusus gerakan, dan setiap aliran ini membentuk perilaku dan watak yang spesifik dari setiap feminis.
Monday, September 22, 2014
Pohon ini tua dan besar banget!
The Tree of Life, usia lebih dari 2.000 tahun
Pohon pada foto di atas sangat besar, dinamakan The Tree of Life, Pohon Kehidupan, oleh
penduduk setempat di suatu desa di Afrika Selatan. Lingkaran batangnya bergaris
tengah bermeter-meter. Sayang, kita tidak bisa melihatnya utuh sampai ke
puncaknya.
Anda tahu berapa usianya? Sudah 2000 tahun. Sekarang masih sehat dan kelihatan tumbuh terus. Mengherankan, bukan? Mustinya masuk ke salah satu keajaiban dunia ya. Tentu masih ada pohon-pohon lain yang mungkin lebih tua, lebih besar dan lebih tinggi./*/ Yang ini saja sudah luar biasa, bukan? (Klik fotonya untuk dapat ukuran lebih besar.)
Anda tahu berapa usianya? Sudah 2000 tahun. Sekarang masih sehat dan kelihatan tumbuh terus. Mengherankan, bukan? Mustinya masuk ke salah satu keajaiban dunia ya. Tentu masih ada pohon-pohon lain yang mungkin lebih tua, lebih besar dan lebih tinggi./*/ Yang ini saja sudah luar biasa, bukan? (Klik fotonya untuk dapat ukuran lebih besar.)
Pengalaman “mistik” pertama, saya alami saat saya melihat
dengan mata kepala sendiri pohon-pohon besar dan tinggi di hutan alam Redwood,
California, USA. Waktu itu, beberapa pohon saya dekati, lalu saya ajak bicara.
Kedua tangan saya terlalu pendek untuk bisa merangkul mereka. Sambil
menempelkan erat-erat tapak tangan-tangan saya kepada mereka, saya minta supaya
mereka menyalurkan energi kehidupan mereka ke tubuh saya.Tentu mereka tidak
bisa membalas kata-kata saya. Saya juga tidak tahu, apakah mereka bisa
mendengar dan memahami ucapan-ucapan saya. Saya juga tidak tahu apakah energi
mereka tersalur ke tubuh saya.
Yang saya tahu pasti, karena sudah banyak dikaji, setiap pohon itu sebagai organisme punya mekanisme biologis (mungkin bekerja secara refleks) untuk memberi reaksi terhadap berbagai rangsangan, entah rangsangan yang menyakitkan, atau rangsangan yang melegakan. Tetumbuhan jelas tidak punya organ otak, tapi sudah pasti mereka punya semacam “perasaan”.
Nah, bisa jadi perasaan mereka dapat kita sentuh lewat perasaaan kita juga. Mungkin saja di masa depan, kita bisa membangun sebuah sistem teknologis untuk membantu kita bisa bicara komunikatif dua arah dengan organisme-organisme lain non-manusia.
Note
/*/ Pohon “old Tjikko”, misalnya, yang tumbuh di Gunung Fulufjaellet, provinsi Dalarna, Swedia, berdasarkan metode Carbon-14 dating, ditemukan usia akarnya yang paling tua 9.550 tahun. Tinggi pohon ini 5 meter. Info tentang si pohon tua “old Tjikko” ini, lihat di http://en.m.wikipedia.org/wiki/Old_Tjikko.
Yang saya tahu pasti, karena sudah banyak dikaji, setiap pohon itu sebagai organisme punya mekanisme biologis (mungkin bekerja secara refleks) untuk memberi reaksi terhadap berbagai rangsangan, entah rangsangan yang menyakitkan, atau rangsangan yang melegakan. Tetumbuhan jelas tidak punya organ otak, tapi sudah pasti mereka punya semacam “perasaan”.
Nah, bisa jadi perasaan mereka dapat kita sentuh lewat perasaaan kita juga. Mungkin saja di masa depan, kita bisa membangun sebuah sistem teknologis untuk membantu kita bisa bicara komunikatif dua arah dengan organisme-organisme lain non-manusia.
Saya selalu terdorong untuk mengajak bicara pohon-pohon
besar yang sangat langka, kalau bertemu dengan mereka di manapun dan kapanpun.
Saya tahu, saya terikat mata rantai kehidupan dengan semua organisme, termasuk
dengan pepohonan, apalagi dengan hewan-hewan. Tumbuh-tumbuhan yang kecil ada
sangat banyak di sekitar kita, di mana-mana. Saya pikir, tetumbuhan kecil juga
perlu diajak bicara. Tetapi saya tidak mau melakukannya, karena kalau saya
melakukannya, saya akan sering dan tidak terputus melakukannya.
Nah, anda akan tahu sendiri, orang banyak bisa jadi akan menilai saya tidak waras kalau setiap detik, menit dan jam, saya bercakap-cakap dengan tetumbuhan kecil di banyak tempat. Berbicara dengan toge, misalnya, ini ‘kan silly bahkan mad?!
Nah, anda akan tahu sendiri, orang banyak bisa jadi akan menilai saya tidak waras kalau setiap detik, menit dan jam, saya bercakap-cakap dengan tetumbuhan kecil di banyak tempat. Berbicara dengan toge, misalnya, ini ‘kan silly bahkan mad?!
Suatu saat, jika sempat, saya akan datangi desa di Afsel
itu, untuk melihat langsung pohon besar pada foto ini. Dan... tentu mau saya
ajak dia bicara, dan merangkulnya sebisa mungkin. Energi sangat besar ada pada
pohon ini. Dari persamaan Einstein E=mc^2, tahulah kita bahwa makin besar bobot
(massa) suatu materi, semakin besar energi yang dihasilkannya. Oh ya, jika saya
jadi berwisata ke sana, anda mau ikut?
Yang menjadi pertanyaan buat saya sekarang adalah mengapa
penduduk desa di Afsel itu tidak menjadikan pohon ini pohon keramat dan
bertuah, padahal pola pikir mereka kebanyakan masih mitologis.
Misalnya, di sekelilingnya dibangun tembok rendah, ada pintu masuk ke pohon, dan ada tempat-tempat menaruh sesajen, juga dilengkapi beberapa tempat untuk sembahyang. Lalu wisatawan yang datang dimintai uang sumbangan. Mustinya ini yang terjadi. Ternyata tidak. Mungkin orang Afrika lebih tertarik untuk memuja hewan-hewan ketimbang tetumbuhan. Ihwal ini saya belum sempat teliti.
Misalnya, di sekelilingnya dibangun tembok rendah, ada pintu masuk ke pohon, dan ada tempat-tempat menaruh sesajen, juga dilengkapi beberapa tempat untuk sembahyang. Lalu wisatawan yang datang dimintai uang sumbangan. Mustinya ini yang terjadi. Ternyata tidak. Mungkin orang Afrika lebih tertarik untuk memuja hewan-hewan ketimbang tetumbuhan. Ihwal ini saya belum sempat teliti.
Note
/*/ Pohon “old Tjikko”, misalnya, yang tumbuh di Gunung Fulufjaellet, provinsi Dalarna, Swedia, berdasarkan metode Carbon-14 dating, ditemukan usia akarnya yang paling tua 9.550 tahun. Tinggi pohon ini 5 meter. Info tentang si pohon tua “old Tjikko” ini, lihat di http://en.m.wikipedia.org/wiki/Old_Tjikko.
Subscribe to:
Posts (Atom)



