Pada waktu
bangsa Yahudi dianiaya, diazab, dan dibantai oleh rezim Nazi Hitler yang berkuasa atas negeri
Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat
sangat, dan mereka bertanya di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban
diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka.
Ini adalah soal teodise: di mana Allah berada dan kepada siapa dia berpihak ketika orang-orang saleh dengan hati yang dipenuhi cinta dan rasa kemanusiaan tertimpa azab bertubi-tubi, tanpa penolong.
Kita kenal
Elie Wiesel, dilahirkan 30 September 1928 di Sighet, Transylvania (kini Romania).
Pada tahun 1986, Wiesel meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
Dia adalah seorang
Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah pada umur 15 tahun dimasukkan ke
kamp-kamp konsentrasi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz.
Wiesel kemudian
termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel memoar
pertamanya tentang Holokaus yang terbit pada tahun 1960 dengan judul Night (versi Prancisnya terbit dengan
judul La Nuit). Setelah Night, terbit dua novel lagi Dawn (1961) dan Day (1962), yang keseluruhannya membentuk sebuah trilogi yang
menyoroti dengan cermat kekejaman yang dilakukan manusia terhadap
sesamanya./1/
Eliezer Wiesel keluar selamat dari Holokaus untuk kemudian menjadi duta umat manusia
Apa kata
Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya,
disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi?
Dalam suatu bagian novel Night,
Wiesel menyatakan bahwa Allah bangsa Yahudi telah terbunuh. Tulisnya,
“Tak akan pernah aku melupakan malam itu, malam pertama dalam kamp, yang telah mengubah kehidupanku menjadi satu malam yang panjang, tujuh kali dikutuk dan tujuh kali disegel.... Tak akan kulupakan momen-momen
itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku, dan mengubah mimpi-mimpiku
menjadi debu.”/2/
Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, karena terbunuh, sehingga
bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong!
Bangsa Yahudi harus meratapi bukan saja azab yang sedang mereka tanggung, tapi juga Allah mereka karena sang Allah ini sudah mati terbunuh.
Itu sebuah gagasan yang
tentu membingungkan dan mengagetkan orang-orang yang terbiasa hanya dengan ide tentang Allah
yang mahahadir, mahakuasa dan mahapenolong.
kamp konsentrasi di Auschwitz I, Desember 1944. Pohon Natal untuk blok 15
Tapi bagi
Wiesel, dengan idenya tentang Allah yang telah terbunuh, Holokaus jadi dapat
dijelaskan sebagai suatu bencana sejarah yang sangat berat bagi bangsa Yahudi,
yang menimpa mereka bukan karena
Allah Yahudi tidak perduli pada mereka, atau karena Allah menimpakan bencana
ini kepada mereka.
Sebaliknya, bagi Wiesel, Allah bangsa Yahudi tidak berperan
sama sekali dalam Holokaus, malah sang Allah ini ikut terbunuh bersama enam
juta orang Yahudi. Allah ini solider dengan nasib bangsanya.
Di pihak Wiesel
pribadi, jiwa dan mimpi-mimpinya ikut terbunuh dan terkubur bersama Allah yang
terbunuh. Orang yang masih hidup pun melihat dirinya telah terbunuh bersama
Allah yang telah terbunuh.
Dalam Tanakh
Yahudi, ide tentang ketidakhadiran Allah diungkap dalam gambaran tentang Allah
yang menyembunyikan diri.
Allah menyembunyikan diri dari kehidupan
orang saleh. Ini juga sebuah gambaran yang membuat ide-ide biasa kita tentang
Tuhan terjungkal.
Selama Allah masih bersama kaum saleh, Allah berfungsi
sebagai sebuah benteng atau sebuah perisai yang melindungi mereka dari segala azab, nestapa, penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4;
Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a).
Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka
orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun
adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.
Dari kisah
fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa
penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari
kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6).
Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan Allah, Ayub sukses besar dan
makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menjauh dan menarik diri dari
Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupannya.
Penulis
Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam
penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya
terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau
berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu
kesesakan?”
Dalam suatu
momen kegiatannya selaku seorang hamba Allah, nabi Yesaya sampai menyatakan
bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15).
Pada masa
aktivitas sang nabi, dia bersama bangsa Israel sama sekali tidak bisa melihat
bagaimana Allah mereka bekerja untuk mereka, karena Allah yang mereka sembah
dan andalkan ternyata bertindak dengan cara yang tidak lazim lewat tangan
seorang raja asing, yakni Koresh, Raja Persia, yang ditetapkan-Nya sebagai
Mesias pilihannya sendiri (44:28; 45:1, 13), yang akan menyelamatkan umatnya.
Menurut
penulis Injil Markus dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus menanggung azab di
kayu salib, di manakah Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang
Abba, sang Bapa, berada?
Dalam ide penulis injil ini, ketika Yesus mengerang
kesakitan dan meregang nyawa di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya,
sehingga Yesus menderita sendirian saja.
Dalam kesakitannya, Yesus berteriak
keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, jika diterjemahkan
berarti “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34).
Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya, menelantarkannya.
Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di
sini, dalam tuturan Markus, terperangkap dalam sebuah problem teodise: Mengapa
Allah yang mahakuasa, mahakasih, mahaadil, dan mahahadir, sampai tega meninggalkan
orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga si saleh ini menderita amat
sangat, padahal si saleh sama sekali tidak bersalah?/3/
Dengan
menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah
bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, penderitaan yang menimpa orang-orang
saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini.
Penderitaan dialami
orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi
karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebas menyengsarakan umat, tanpa
bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat.
Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak
menimbulkan sejumlah problem lain? Jika anda cerdas, anda pasti akan menjawab tidak,
berdasarkan beberapa alasan berikut.
Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, maka hilanglah sifat mahahadir
dan mahapenolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam
teodise.
Kalau Allah bisa tidak hadir, atau bisa tidak ada karena terbunuh, dan
sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang
berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat mahakuasa Allah.
Kalau
Allah tidak hadir dan dengan demikian kesengsaraan menimpa si mukmin yang saleh
dan tak bersalah, maka hilanglah sifat mahaadil Allah yang sebetulnya juga
ingin dipertahankan dalam teodise.
Kedua, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan
terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan
sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang
lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang
jahat.
Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa
diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau
ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab, di mana setiap ayah
dan ibu dipandang sebagai sosok-sosok agung pelindung dan pengayom anak-anak
mereka.
Ketiga, jika
si saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan
dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dan menjaga dirinya,
maka bisa terjadi si saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan
pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern.
Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh)
menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah
mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual keagamaan mereka untuk kesembuhan
penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara
mereka atau dari antara sanak famili mereka banyak yang mati karena “iman” yang
bodoh dan tidak cerdas!
Keempat,
ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri
Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif
dalam teologi yang dikonsepnya sendiri.
Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat,
seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia merasa Allah ada di tengah
kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah
telah meninggalkan dirinya.
Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah
Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa
manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional
untuk mengatasi berbagai macam azab dan penderitaan yang sedang menimpa umat manusia
melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.
Kelima, jika
kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran,
kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya
buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana?
Bahayanya: orang bisa
berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya
bersumber dari tindak pidana korupsi atau berbagai perbuatan melanggar hukum
lainnya.
Lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta
kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang
mahabaik, mahapenolong dan mahahadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini
teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.
Keenam,
orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para
agamawan berpendapat Allah memang ada pada dirinya sendiri, orang ateis tidak
memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung mahakuasa mereka.
Menurut estimasi Biro Sensus Amerika Serikat, pada 12
Maret 2012 penduduk dunia mencapai 7 milyar kepala; sedangkan menurut estimasi
PBB jumlah ini tercapai pada 31 Oktober 2011.
Dalam tahun 2013, menurut estimasi
PBB jumlah penduduk dunia mencapai 7.116.744.393 kepala. Dari jumlah ini, diestimasi
18 % adalah orang ateis, setara dengan kurang lebih 1,3 milyar orang.
Pertanyaannya adalah: Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini
dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera
kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak
demikian!
Artinya: ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan
penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan
teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan.
Teologi tentang ketidakhadiran Allah malah bisa
membuat orang makin mandiri, makin cerdas, makin dewasa dan makin tegar dalam
menjalani kehidupan dalam dunia ini.
Umumnya orang beranggapan bahwa kepercayaan keagamaan yang
dipegang kuat-kuat akan membuat orang yang beragama lebih tahan stres dan tidak mudah
terkena depresi dibandingkan orang yang
sekuler atau orang yang tidak beragama.
Tetapi
sebuah studi mutakhir lintas-negara atas 8.318 orang yang berasal dari 7 negara
menunjukkan bahwa:
- dari
antara orang-orang yang menyatakan memegang keyakinan spiritual atas kehidupan
ini, 10,5 % mengalami episode depresi setahun setelah mengalami kejadian serius
dalam kehidupan mereka
- dari orang-orang yang beragama, angkanya 10,3 %
- dari kalangan sekuler (tak beragama), angkanya 7,0 %
Temuan di Inggris lebih
mencolok lagi: kalangan spiritualis tiga kali lipat lebih mudah terkena depresi
dibandingkan kalangan sekuler. Juga ditemukan bahwa makin kuat iman seseorang
kepada Tuhannya, orang ini berisiko dua kali lipat terkena depresi dibandingkan
orang yang beriman lemah.
Sebagai kesimpulan: Tidak ada bukti bahwa agama
bertindak sebagai bemper penahan depresi setelah orang mengalami goncangan
serius dalam kehidupan mereka./4/
Dengan
kata lain, tidak ada jaminan bahwa jika anda
sangat percaya Allah selalu hadir dalam kehidupan anda dan selalu
menjaga, melindungi dan menolong anda, khususnya saat anda
sedang mengalami banyak persoalan berat, anda akan selalu tegar dan akan
tampil
sebagai pemenang atas semua masalah anda.
Mungkin sekali terjadi, ketika
kepercayaan anda ini tidak kunjung terbukti, rasa stres anda akan
bertambah besar, yang akan secara bertahap membawa anda ke dalam
depresi. Dalam situasi inilah iman
anda sama sekali tak menolong anda, malah memperlemah daya tahan mental
anda.
Hal itu bisa terjadi karena anda terus-menerus memprotes Allah
anda, bahkan memarahi sosok adikodrati ini dan anda memberontak terhadapnya.
Jelas,
kondisi mental anda ini yang orang namakan “dissonansi kognitif”,/5/ yang muncul dari iman dan kepercayaan yang tak terwujud, akan pasti memperburuk kondisi kejiwaan anda secara keseluruhan.
Tentu saja, anda dan saya tidak perlu menjadi ateis untuk
dapat tegar dan kokoh ketika menjalani kehidupan kita yang kerap diterjang dan
dihadang ombak-ombak besar persoalan, azab dan kesulitan yang terus datang, meradang, menendang dan menghalang.
Untuk dapat meraih kondisi mental yang kokoh dan tegar, lepas dari dissonansi kognitif, yang
dibutuhkan dari kita adalah kecerdasan dan kreativitas dalam beragama. Bagaimana cara
memperoleh kecerdasan dan kreativitas ini?
Sementara pada satu pihak kita melihat dan mengakui ada
enam problem besar dan rumit yang ditimbulkan oleh teologi tentang ketidakhadiran atau
ketersembunyian Allah seperti sudah dibentangkan di atas, teologi semacam ini,
pada pihak lain, dapat membantu kita lebih cerdas dan kreatif dalam beragama. Mungkin anda tak percaya.
Kita umumnya sudah tahu, kalau kita bisa mengambil jarak
dari sesuatu yang sedang dan sudah lama kita amati, pengetahuan kita tentang
sesuatu yang kita sedang amati ini bisa lebih objektif, bisa lebih
multidimensional, dan bisa lebih mendalam dan meluas.
Begitu juga ihwalnya
dengan pengetahuan kita mengenai Allah, kehendak dan keterlibatannya dalam
dunia ini dan dalam kehidupan kita.
Kalau kita terlalu terbiasa dengan Allah, terlalu murah
mengobral kata-kata tentang diri yang serba lain ini, terlalu gampang mengklaim hal ini dan hal
itu tentang Allah, terlalu mudah mengait-ngaitkan diri Tuhan dengan diri kita dan
dengan persoalan-persoalan kehidupan kita, maka gambaran-gambaran kita tentang Allah
akan menjadi gambaran-gambaran yang datar, tawar, hambar, rutin, membosankan,
terlalu terbuka, terlalu telanjang. Tidak lagi menantang, tidak lagi
mengejutkan, tidak lagi tersembunyi, tidak lagi misterius, tidak lagi
progresif, tidak lagi mencerahkan, dan tidak lagi mencerdaskan kita.
Pendek kata: dogmatisme membuat kita bodoh, kehilangan kreativitas dan imajinasi.
Sesuatu
yang terus-menerus rutin kita pikirkan, tak akan mencerdaskan kita lagi.
Sebaliknya, kalau kita menghayati suatu teologi tentang
Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang misterius, yang bermain petak umpet dengan kita, bahkan, seperti
dilihat Elie Wiesel, yang terbunuh, kita akan merasa sangat tertantang untuk
terus-menerus mencari dan menemukan Tuhan kembali dalam perspektif-perspektif
yang baru dan mengejutkan.
Kreativitas dan imajinasi membuat Tuhan hidup kembali dalam berbagai penampilan,
dalam berbagai titisan, dalam berbagai paras dan wajah, dalam berbagai gerak, dan
dalam berbagai suara, yang semuanya berbeda dari sebelumnya.
Kepercayaan atau iman yang hidup, kreatif, inovatif, aktif, dinamis dan bergairah semacam ini, akan sangat membantu anda saat anda sedang menghadapi banyak persoalan berat yang menimbulkan stres.
Seseorang mudah sekali terkena stres dan akhirnya
terbenam dalam depresi berat ketika sedang menghadapi persoalan-persoalan berat
sekalipun dia sangat saleh beragama, seperti telah diungkap oleh kajian
psikologis mutakhir yang sudah dibeberkan di atas.
Hal itu bisa terjadi karena
si saleh ini hanya terpaku pada satu citra tentang Allah yang sudah dengan rutin
ada dalam pikirannya sendiri.
Allah yang rutin mengisi pikiran dan hatinya ini ditunggu-tunggunya untuk bertindak menolong dirinya. Tetapi karena Allahnya ini tak kunjung datang menolongnya, stresnya pun dari saat ke saaat makin bertambah berat.
Si saleh yang semacam itu tidak bisa kreatif
melihat Allah dalam penampilan, paras, wajah, dan suara yang berbeda, yang mengejutkannya,
yang ditemukannya sebagai Allah yang lain dari biasanya.
Jika si saleh ini mencoba untuk dengan cerdas, kreatif dan inovatif melihat
Allah dari sudut-sudut pandang yang lain, yang tidak biasa, yang tidak rutin,
yang tidak terduga, yang mengagetkan, misalnya sebagai Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir,
atau bahkan sebagai Allah yang terbunuh, yang sedang berpetakumpet, sangat mungkin dia juga akan memandang
semua persoalan beratnya dari sudut-sudut yang lain, yang tidak lazim.
Jika itu terjadi, ada harapan, teologinya yang baru tentang Allah, akan membuatnya lebih
kuat dan lebih kokoh dalam memikul semua persoalannya yang berat.
Ide tentang Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang
terbunuh, akan dengan mengherankan membuat anda lebih cerdas beragama dan lebih
tangguh dalam kehidupan ini, karena ide yang semacam ini akan bermuara pada
penemuan kembali diri Allah sebagai Allah yang lain, yang tidak rutin, yang akan
membangun semangat hidup anda kembali.
Ketidakhadiran Allah ternyata akan bisa sangat ampuh dan
kuat mengubah diri anda, dari seorang yang lemah berubah menjadi seorang yang
tangguh, dari situasi kegelapan malam masuk ke situasi fajar pengharapan, lalu bermuara di situasi pencerahan siang.
Ini sungguh sesuatu yang mengejutkan sekaligus menakjubkan, lain dari perkiraan orang pada umumnya.
Bisa jadi, inilah yang terjadi pada Elie Wiesel, yang setelah peristiwa Holokaus
dipandang dunia yang beradab sebagai duta umat manusia untuk mengingatkan bangsa-bangsa
manapun dalam dunia ini untuk tidak membantai bangsa lainnya atas alasan
apapun.
Perjalanannya dari Night, ke Dawn, lalu masuk ke Day, jelas bukan suatu perjalanan yang mudah, tapi suatu perjalanan yang sangat berat, yang akhirnya bermuara pada pencerahan di hari siang yang benderang dan gemilang.
Perjalanan yang gembira sekaligus menimbulkan rasa duka yang menusuk lantaran Tuhan tidak selalu hadir, tapi bisa juga begitu saja nongol lagi yang membuat kita gembira, lalu berlari ingin memeluknya.
Tapi Tuhan mengelak saat kita mau merangkulnya, hilang lagi, akibatnya duka dan azab menyerbu lagi, dalam banyak permainan petak umpet yang sambung-menyambung.
Tetapi tak ada pilihan lain. Hanya satu: kreatif dan rianglah dalam bermain petak umpet dengan Tuhan. Meski lelah, bermainlah terus. Setap kegiatan bermain itu menantang dan menyehatkan.
Stay blessed
Even when God is hidden
Catatan-catatan
/1/ Elie Wiesel, The Night Trilogy: Night, Dawn, Day (terjemahan Inggris oleh Marion Wiesel) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2008).
/2/ Elie Wiesel, Night (terjemahan baru Inggris oleh Marion Wiesel; dengan sebuah pengantar baru dari penulis) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2006), hlm. xix, 34; idem, The Night Trilogy, hlm. 17, 52.
/3/ Usaha
teologis menelusuri sebab-musabab adanya penderitaan, dan
pertanyaan-pertanyaan di mana Allah yang mahapengasih dan mahaadil
berada di tengah realitas penderitaan manusia, dan kepada siapa Allah
berpihak apakah kepada penyebab penderitaan atau kepada manusia yang
menderita, masuk ke dalam bidang perenungan teologis yang dinamakan teodise (dari kata Yunani theos = Allah, dan dikē = keadilan).
Dalam bukunya yang berjudul God’s Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question, Why We Suffer (New
York: HarperCollins Publishers, 2008), Bart D. Ehrman memperlihatkan
Alkitab gagal menjawab pertanyaan terpenting manusia apa sebabnya atau
mengapa manusia menderita.
/4/ Lihat Leurent , B.,
Nazareth, I., et al., “Spiritual and religious beliefs as risk factors for the
onset of major depression: an international cohort study”, Psychological
Medicine vol. 43/Issue 10/Oct 2013, hlm. 2109-2120. Tersedia online 29
Januari 2013, http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=8826658&fulltextType=RA&fileId=S0033291712003066.
Lihat ulasannya oleh Jennifer Dunning, “Religious believers more depressed than
atheists: study”, CBCNews, 20 September 2013, http://www.cbc.ca/newsblogs/yourcommunity/2013/09/religious-believers-more-depressed-than-atheists-study.html.
/5/
“Dissonansi kognitif” adalah kondisi mental yang tertekan (“kognitif”) karena tak terwujudnya atau melesetnya (“dissonansi”) hal-hal yang semula
sangat diyakini dan dipercaya sebagai kebenaran.
Untuk keluar dari kondisi mental yang menekan berat ini, berbagai cara dilakukan. Misalnya membangun sikap "pokoknya kami benar, cuma...", mengakal-akali alias merasionalisasi isi keyakinan ideologis sekular atau religius yang sudah terbukti salah supaya kelihatan tetap masuk akal, dan makin aktif mencari pendukung tambahan atas ideologi dan keyakinan yang sudah meleset dan salah itu. Jika pengikut baru bertambah, berarti keyakinan ideologis yang sudah salah itu menjadi benar lagi. Akal-akalan dan membohongi diri sendiri.
Sumber primer tentang teori
dissonansi kognitif, lihat Leon Festinger, H. W. Riecken dan S. Schachter, When
Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That
Predicted the Destruction of the World (New York: Harper and Row, 1956).
Pemaparan lebih jauh teori ini, lihat Leon Festinger, A Theory of Cognitive
Dissonance (Stanford, California: Stanford University Press, 1957).