Saturday, October 6, 2012

Apakah kitab suci sejalan dengan sains modern?


Galileo Galilei, sang bapak sains modern, lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564, meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642, pada umur 77 tahun


Ketika sains modern menguasai segala sesuatu, maka kaum agamawan pun terdorong untuk me-modern-kan kitab suci kuno mereka lewat apa yang dinamakan cocokologi. Cocokologi membuat seorang agamawan ortodoks berubah menjadi seorang agamawan liberal dan modern!
― ioanes rakhmat

Semua kitab suci agama-agama besar yang kita kenal ditulis pada era pramodern, pra-ilmiah, pra-saintifik. Jadi, akan sia-sia sama sekali jika anda mau mencari dan menemukan sains modern di dalam semua kitab suci, bahkan di dalam kitab suci yang anda yakini berasal dari wahyu ilahi sepenuhnya yang tak bisa salah.

Kalau memang kitab suci apapun memuat pandangan-pandangan sains modern, mustinya sejak dulu sekali kaum agamawan yang menekuni kitab suci mereka, lewat hidayah ilahi, sudah bisa menghasilkan sains modern. Nyatanya apa?

Nyatanya, tak ada para penekun teks-teks kitab suci apapun, sejak dulu hingga sekarang, yang mendadak berubah menjadi saintis sejati tingkat dunia, karena ilham-ilham dari kitab-kitab suci yang mereka baca. Hemat saya, Allah menugaskan manusia untuk menyelidiki alam raya ini, bukan teks-teks kitab suci, jika mereka ingin mendapatkan pengetahuan saintifik.

Sains modern muncul bukan dari pengkajian tekun atas kitab suci apapun, tetapi dari observasi atas segala fenomena alam (lewat mata telanjang, lewat lima indra, atau lewat bantuan instrumen dan aneka bentuk teknologi modern), dari eksperimentasi, dari konsistensi bernalar secara logis, dari teori-teori saintifik yang sudah ada sebelumnya, dan dari bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan.

Yang diakui dunia sebagai bapak sains modern bukan ahli kitab suci manapun, tetapi Galileo Galilei. Ketika mempublikasi pandangan-pandangan revolusioner saintifiknya Galileo ditolak oleh gereja Katolik (abad ke-16 dan ke-17) dengan keras, diancam akan dijatuhi hukuman, tetapi akhirnya hanya dikenakan tahanan rumah sampai akhir hayatnya.

Tetapi ada sangat banyak agamawan bekerja keras untuk menunjukkan bahwa kitab suci mereka berisi sains modern atau minimal sejalan dengan sains modern. Nah, hemat saya, usaha keras mereka ini sia-sia saja. Sebab, ketika mereka melakukan usaha ini, yang mereka lakukan sebenarnya hanyalah mencocok-cocokkan dengan paksa kitab suci dengan sains modern. Ini saya namakan cocok-o-logi.

Cocokologi sebenarnya sangat merugikan dunia agama, sebab kemana saja sains modern bergerak, ke sanalah kitab suci (demi kecocokan) dibawa dan diarahkan, atau bahkan dipaksa dibawa dan dipaksa diarahkan. Jadi, cocokologi sebenarnya menaklukkan kitab suci pada sains modern; jadi sangat merugikan integritas agama sendiri.

Selain itu, cocokologi sangat melelahkan kaum agamawan, sebab, begitu sains yang semula bisa dicocokkan dengan kitab suci berubah, mereka harus berlelah-lelah lagi mencari teks-teks kitab suci lainnya yang bisa dicocokkan dengan sains modern. Terus demikian. Sangat melelahkan, dan sia-sia!

Selain itu, hendaklah anda sadari, sains itu suatu bidang yang sangat kompleks, tidak sederhana, dan sama sekali tidak bisa disusutkan atau disederhanakan menjadi sebuah ayat kitab suci. Dunia sains modern sama sekali bukan dunia kitab suci dan para penulisnya.

Ayat-ayat skriptural bisa memuat wisdom atau ajaran dan wejangan kearifan untuk moral manusia. Namun, ayat-ayat kitab suci sama sekali bukan pandangan saintifik tentang hal apapun yang sesungguhnya kompleks, yang jika diuraikan akan menghasilkan berjilid-jilid buku.

Kitab-kitab suci tentu juga memuat catatan-catatan tentang pengalaman-pengalaman umum umat manusia, misalnya pengalaman kemandulan, persetubuhan, membesarnya janin dalam rahim, kelahiran, bayi yang cacat ketika dilahirkan, perkembangan tubuh, tidur dan istirahat, kecerdasan, kebodohan, kebahagiaan, depresi, sakit penyakit, kesembuhan, usia yang bertambah, tubuh yang menua dan makin lemah, tulang yang patah, pingsan, keadaan koma, kematian, rasa sedih dan duka, dan pembusukan mayat.

Tetapi tidak ada satupun penulis teks-teks kitab suci apapun yang pernah mengadakan penelitian mendalam, dengan menggunakan metode saintifik, atas pengalaman-pengalaman itu semua untuk mendapatkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah.

Para praktisi cocokologi sebetul-betulnya tidak menemukan sains modern apapun dalam ayat-ayat kitab suci mereka, tetapi mereka memakai poin-poin tertentu dari pandangan-pandangan saintifik yang sudah diketahui mereka sebagai pra-paham (presupposition) yang menjadi bingkai imajinatif dalam memahami teks-teks kitab suci mereka.

Jadi, imajinasi merekalah, yang bisa sangat liar, dan akal-akalan merekalah, yang dengan paksa menentukan makna teks-teks kitab suci.

Bukan teks-teks kitab suci sendiri yang berbicara, tetapi kemauan dan imajinasi serta akal-akalan mereka itulah yang mengendalikan dan menentukan apa makna isi teks-teks kitab suci yang mereka telah pilih-pilih. Teks-teks pilihan ini mereka mula-mula anggap paling dekat atau paling klop dengan pandangan-pandangan saintifik.

Pada sisi lainnya, mereka menyembunyikan dengan rapi atau menolak teks-teks lain yang tidak klop atau yang malah bertentangan.

Cara “cherry picking” teks-teks kitab suci semacam ini hanya bisa dijalankan jika teks-teks kitab suci dipahami secara literalistik, dengan sama sekali melepaskan teks-teks ini dari konteks sejarah dan konteks kebudayaan dan sistem sosial zaman lampau yang telah memunculkan teks-teks ini, dan dari konteks sastra teks-teks tersebut di dalam suatu kitab suci.

Padahal kita tahu, untuk memahami teks kuno apapun dengan benar, teks ini harus ditempatkan dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaannya di zaman lampau, dan dalam konteks sastranya dalam suatu dokumen sastra. Inilah cara akal dalam memahami kitab suci, bukan cara akal-akalan.

Jika sebuah teks kitab suci apapun dilepaskan dari konteks sejarah dan konteks kebudayaannya, dan dari sistem sosial masyarakat penulis teks di zaman lampau, dan dari konteks sastranya, teks ini bisa berbicara apapun sejalan dengan kehendak bebas penafsirnya. Ini bukan menafsir teks, tapi ngelantur semau-maunya, berakal-akalan sepuas-puasnya.

Selain itu, cocokologi dijalankan dengan tujuan untuk mengunggulkan sebuah agama di atas agama-agama lain. Juga untuk makin meyakinkan para penganut sebuah agama bahwa kitab suci mereka dan ajaran-ajaran agama mereka semuanya hebat dan menakjubkan karena bisa sesuai dengan sains modern yang muncul pada masa jauh sesudah kemunculan kitab suci mereka.

Dengan demikian, cocokologi adalah sebuah usaha akal-akalan untuk membela keagungan sebuah agama, untuk mempertahankan pamor sebuah konsep tentang kitab suci dan sebuah konsep tentang Allah. Tentu saja juga untuk menghibur hati suatu umat beragama ketika sains modern tampak makin menguasai seluruh kehidupan manusia yang di dalamnya klaim-klaim keagamaan terbukti makin tidak relevan lagi. Cocokologi sama sekali tidak memberi sumbangan apapun bagi dunia sains sejati, science proper.

Akal melahirkan ilmu pengetahuan. Akal-akalan tidak menghasilkan apa-apa selain akal-akalan lebih lanjut dan kepala yang keleyengan sepanjang masa.

Pendek kata, cocokologi adalah sebuah kegiatan akal-akalan untuk membuat kitab-kitab suci kuno menjadi kitab-kitab yang modern! Padahal, para praktisi cocokologi sebetulnya adalah orang-orang konservatif yang antimodernitas.

Selain dengan metode cocokologi, kaum agamawan, dalam rangka mengunggulkan agama mereka di atas sains modern, juga memakai strategi yang dinamakan “god of the gaps” strategy. Apa maksudnya?

Maksudnya: Allah kaum agamawan difungsikan sebagai Allah pengisi celah-celah (gaps) sains yang belum bisa diisi dengan data dan bukti saintifik. Sains umumnya akan selalu memiliki celah ketika baru tumbuh; tetapi makin tua usia suatu sains, makin sedikit celah di dalamnya yang masih kosong.

Strategi God of the gaps dijalankan ketika misalnya orang bertanya dari mana asal kehidupan, atau dari mana manusia berasal, atau dari mana jagat raya berasal. Semua pertanyaan ini dijawab dengan strategi god of the gaps: semuanya berasal dari Allah, karena dulu sains belum bisa menjawab dengan memakai bukti-bukti objektif dan autentik.

Tetapi, untuk semua pertanyaan itu, god of the gaps strategy kini sudah tidak bisa dipakai lagi, karena semua pertanyaan itu sudah bisa dijawab sains modern dengan tanpa melibatkan agama sama sekali.

Dus, god of the gaps kini menganggur, karena belum ditemukan celah baru yang ke dalamnya kaum agamawan akan menugaskan Allah mereka untuk mengisinya.

Masih ada satu hal lain yang perlu dikemukakan pada kesempatan ini. Banyak sarjana agama dewasa ini berusaha keras untuk melahirkan apa yang dapat dinamakan “sains skriptural”, yakni “sains” yang disusun dan dijalin dari teks-teks kitab suci yang dipahami literalistik, yang dianggap akan menandingi, atau bahkan menggantikan, berbagai cabang sains modern.

Di kalangan tertentu sarjana Muslim, ada usaha keras untuk melahirkan “sains Islami” atau “sains Al-Qur’an”, misalnya fisika Islam atau psikologi Islam atau matematika Islam atau astronomi Islam. Tentu saja, anda akan mengernyitkan kening dalam-dalam atau melototkan mata ketika membaca nama cabang-cabang ilmu yang janggal semacam ini!

Di kalangan Kristen Barat, sudah lama dibangun apa yang para pendirinya namakan “sains Alkitab”, misalnya apa yang dinamakan kreasionisme dan “Intelligent Design”. Keduanya disusun untuk melawan dan menggantikan sains evolusi dan kosmologi modern yang dinilai telah merongrong otoritas ilahi Alkitab.

Apakah setiap “sains skriptural” betul-betul sains sejati? Jawabnya: semua “sains skriptural” bukanlah sains sejati, melainkan doktrin keagamaan, berada pada wilayah teologi dan bukan pada wilayah sains.

Metodologi saintifik yang dipakai untuk menyusun sains modern sama sekali tidak dipakai para sarjana agama ketika mereka menyusun “sains skriptural”.

Semua “sains skriptural”, dari agama apapun, sebetulnya disusun kalangan keagamaan konservatif untuk mempertahankan otoritas kitab suci sebagai wahyu ilahi, yang dipandang telah dirongrong oleh sains modern, dan untuk mengunggulkan sebuah agama dan sebuah kitab suci di atas agama-agama dan kitab-kitab suci lain.

Kalangan konservatif ini adalah para pembela kitab suci dan agama, bukan para pembela sains.

Para saintis sejati, ketika bekerja keras untuk melahirkan pandangan-pandangan saintifik yang makin solid dan makin integratif, mereka bekerja bukan demi pamor sebuah agama atau sebuah kitab suci atau sebuah keyakinan ideologis, melainkan demi sains itu sendiri, demi pemahaman-pemahaman ilmiah yang makin integratif mengenai jagat raya dan seluruh isinya dan proses-proses yang berlangsung di dalamnya.

Serahkanlah peradaban insani ke tangan para agamawan yang menyusun “sains skriptural” untuk mereka kelola, maka lihatlah, dalam beberapa dasawarsa saja peradaban ini akan binasa!

Stay blessed.


Wednesday, October 3, 2012

The reclining Gus Dur....



Patung Gus Dur berbaring, sekaligus tertawa, dengan tangan kanannya menopang kepalanya, dan lengan kirinya membujur sepanjang badan dengan jari-jemarinya terangkat sedikit ke atas. Apa komentar anda atas inisiatif membuat patung Gus Dur semacam ini jika dibandingkan dengan patung-patung sang Buddha berbaring, seperti tersaji di bawah ini?




Patung sang Buddha berbaring, dengan tangan kanannya menopang kepalanya, tanda dia sedang beristirahat, dan lengan kirinya membujur sepanjang badannya.




Patung sang Buddha berbaring, dengan tangan kanannya tersilang mendekap dadanya, tanda dia sedang menyampaikan sabda-sabda terakhirnya kepada murid-muridnya khususnya kepada Subhadda (yang setelah mendengar sabda-sabda sang Buddha langsung percaya dan langsung juga diangkat menjadi murid terakhir sang Buddha). Lengan kiri sang Buddha membujur sepanjang badannya. 




Patung sang Buddha berbaring, dengan tangan kanannya tertekuk ke atas dan terletak membujur pada dipan, tanda dia sudah wafat, masuk ke dalam Nirwana menjadi sang Buddha Maha Sempurna (pada usia 80 tahun).




Sang Buddha sedang berbaring beristirahat, dengan tangan kanannya menopang kepalanya, dan separuh lengan kirinya membujur di sepanjang badannya dan separuh lagi bersama jari-jemarinya terangkat ke atas memegang sekuntum bunga padma (teratai), simbol orang yang sudah mengalami pencerahan sempurna. Postur tangan kiri terangkat ke atas serupa dengan postur patung Gus Dur.




Ini adalah Budai, atau sang Buddha tertawa, yang meskipun miskin, bisa hidup selalu riang dan penuh tawa, karena menghayati kehidupan berpuas diri atas segala kesederhanaan yang ada padanya. Budai juga dipersepsi sebagai sang Buddha pembawa sukacita dan kebahagiaan serta keberuntungan. Biasanya Budai dilukiskan dalam posisi duduk atau dalam posisi berjalan; Budai di atas sedang berbaring sambil tertawa, seperti patung Gus Dur di atas.

Anda tahu apa yang dinamakan apotheosis, atau deifikasi? Ini adalah suatu usaha untuk menjadikan sosok insani tertentu, atau suatu benda tertentu, sebagai sosok ilahi atau benda ilahi, yang kehadirannya di tengah suatu umat sangat diperlukan sebagai power pelindung yang melampaui power lain yang dirasa mengancam dan membahayakan. Salah satu contoh apotheosis adalah usaha kalangan Kristen awal untuk menjadikan seorang saleh Yahudi yang kuat memegang Tawhid Yahudi, yakni Yesus dari Nazareth, sebagai sosok yang setara dengan Allah (Kristen) sendiri. Apakah Gus Dur tanpa disadari sedang perlahan di-apotheosis-kan? Ha ha. Tentu saja tidak.


   

Friday, September 28, 2012

Akan majukah sains di Indonesia?

Jika negeri kita mau maju pesat, dan menjadi sebuah negara dan bangsa terhormat di dunia, jalannya jelas bukanlah lewat agama, tetapi lewat sains dan lewat ekonomi. 

Semula agama muncul untuk mengeluarkan manusia dari zaman kegelapan; tapi kini telah bermuncullan banyak indikasi bahwa agama justru sedang membawa manusia kembali ke zaman kegelapan. 

Ini sindiran Dr. Rocky Gerung, dosen Universitas Indonesia, beberapa waktu lampau: kalau di negeri kecil Taiwan teropong digunakan untuk meneropong angkasa, mencari planet-planet lain yang seperti Bumi, di Indonesia yang besar teropong malah dipakai untuk meneropong vagina remaja putri sekolah untuk tujuan-tujuan keagamaan mempertahankan akidah dan akhlak!

Di tengah situasi semacam ini, bisa jadi ilmu pengetahuan (sains) sudah dan sedang mengambil fungsi agama yang semula itu, yakni membawa manusia ke zaman pencerahan dan kehidupan yang lebih berbahagia dan lebih bermoral. Jadi, marilah kita datang ke dunia sains, dan merangkulnya.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Muhammad Nuh, pada 26 September 2012 yang baru lewat, dari 1 juta penduduk Indonesia hanya ada 98 orang bertitel doktor (stratum 3). Di seluruh negara kita, baru tersedia
23.000 doktor. Sangat, sangat kurang!

Malaysia, negeri yang jauh lebih kecil dari Indonesia, memiliki doktor sejumlah 14.000 orang. Dari 1 juta penduduk Malaysia, ada 300 orang doktor. Dilihat dari jumlah penduduk dan luas wilayah, jelas Malaysia unggul dari Indonesia dalam menyediakan doktor.

Bagaimana dengan Jepang, negeri berperadaban maju di Asia yg sedang berkembang? Di Jepang, tersedia total 819.000 doktor. Dari 1 juta penduduk Jepang, ada 6.418 doktor. Jadi, dibandingkan prestasi Jepang dalam menyediakan doktor, negeri kita, Indonesia, jauh ketinggalan!

Negeri kita ini kebanyakan selalu kalah dengan negara-negara lain yang bertetangga dekat dan bertetangga lebih jauh, dalam banyak bidang. Mungkin kita hanya menang dalam bidang kepiawaian bangsa kita, khususnya para penguasa negeri kita, untuk korupsi. Kemudian, kita mahir membenturkan agama dengan agama, sambil tertawa ngikik kesenangan. Seniman kita pun, khususnya yang mengaku diri tokoh agama, pandai memainkan isu SARA hanya untuk kepentingan sesaat kampanye pemenangan pemilihan pejabat kota.

Kita jauh lebih terangsang kalau mendiskusikan ngelmu santet, ketimbang mendiskusikan ilmu pengetahuan modern. Mungkin ada positifnya: Kalau santet berhasil dikaji dan dibuktikan secara saintifik, mungkin negeri kita akan beken di dunia sebagai penemu cabang fisika baru; dan sejumlah juru santet akan mendapat Hadiah Nobel. Lalu, lewat santet, kita bisa menjadi juara dunia sepak bola! Caranya? Ya, mudah: lewat santet, kirim saja paku dan jarum ke kaki semua pemain lawan, supaya mereka pengkor di lapangan sepak bola, sehingga kesebelasan kita akan pasti bisa mengalahkan mereka semua.

Ah, anda, ioanes, menyindir terus bangsamu!

OK, kembali serius: Menurut sang menteri kita di atas, masih ada harapan untuk negeri kita meningkatkan jumlah doktor. Karena, katanya, ada dana abadi tersedia untuk meningkatkan kemajuan dunia Litbang dan dunia HRD bangsa kita, besarnya Rp 15 Triliun. Dari bunganya, katanya, dia bisa menyediakan dana untuk merekrut sejumlah orang Indonesia (non-PNS dan non-dosen) menjadi doktor dalam 3 tahun ke depan, dalam jumlah cukup signifikan, sehingga total doktor di negeri kita tahun 2014/2015 akan ada 30.000 orang.

Nah, jika jumlah doktor yang tersedia mencerminkan keseriusan suatu bangsa untuk maju meraih dan menguasai sains, carilah orang-orang berkualitas di negeri kita yang mau disekolahkan menjadi doktor. Kalau anda mau dan yakin mampu, kontaklah sang menteri P dan K kita, sekarang. Habis, kapan lagi?

Monday, September 24, 2012

Agama itu bak UUD!

Agama itu bak konstitusi (UUD). UUD diatur, disusun dan dibuat manusia pada awalnya; manusia berkuasa menyusunnya menurut pandangan-pandangan manusia si pembuatnya; tetapi begitu UUD ini disahkan dan diberlakukan, manusia (pembuat UUD dan rakyat) harus tunduk kepada UUD ini, tak boleh melanggarnya, dan jadilah UUD ini menguasai dan mengatur bahkan memiliki nyawa manusia. 
Begitu juga halnya dengan agama. Agama semula dibuat manusia (lewat proses evolusi biologis dan evolusi kebudayaan), tetapi begitu agama ini sudah mapan dan disucikan dengan menghubungkannya dengan dunia adikodrati, maka agama berkuasa atas kehidupan manusia, mengendalikan seluruh gerak kehidupannya, berkuasa atas kehidupan dan kematian manusia.

Tapi, kita tahu, jika sebuah UUD dipandang sudah tak relevan oleh manusia pembuatnya untuk kurun yang sudah berbeda dari kurun ketika UUD ini dulu disusun, maka dibuatlah amandemen-amandemen (perubahan-perubahan) atas UUD yang sudah ada. Jadi, pada akhirnya, manusia merebut kembali kekuasaannya, dan berada kembali di atas UUD dan mengendalikan UUD ini.

Begitu juga seharusnya dengan agama: manusia yang membuat agama harus juga pada suatu waktu merebut kekuasaan agama dan mengubah agama; ketika ini terjadi, manusia berada di atas agama kembali seperti keadaan sebelum adanya agama yang dimapankan dan disucikan. Jika manusia bisa berkuasa kembali atas agama, itulah saat di mana manusia tidak mau dikuasai bulat-bulat oleh agama, dan sebaliknya, mau mengendalikan agama kembali.

Tetapi problemnya: ada saja manusia yang ingin terus dikuasai dan ditelan oleh agama yang sudah dimapankan, dan manusia semacam ini berwatak konservatif bahkan fundamentalis. Kalangan konservatif dan fundamentalis ini ingin dikuasai dan diatur oleh agamanya selamanya, apapun juga taruhannya: termasuk berperang di jalan Allah atau malah mempertuhan agama. Kalangan inilah yang terus diperbudak agama, dan memusuhi kalangan liberal yang mau mengubah agama karena mereka tahu betul agama lama mereka yang sudah mapan sudah tak relevan lagi, sudah tak menjawab tantangan zaman yang sudah jauh berbeda dari tantangan zaman ketika agama mereka dulu disusun oleh nenek moyang rohani mereka, di tempat yang lain.
Berbahagialah mereka yang tidak mau ditelan bulat-bulat oleh agama! Berbahagialah kalangan liberal! Karena tugas mereka mulia: menempatkan manusia kembali di atas agama, bukan sebaliknya. Agama ada untuk melayani manusia, bukan manusia ada untuk melayani agama. Manusialah tuhan atas agama, bukan agama tuhan atas manusia.



Saturday, September 22, 2012

Puisi: Kitab Suci


Ini bukan Alkitab, tetapi buku yang isinya perdebatan-perdebatan mengenai Alkitab


PERJALANAN SEORANG MUSAFIR

Di suatu malam temaram nan kelam
kulihat di sudut ruang sebuah gereja tua
diterangi sedikit cahaya sebuah dian
dengan siluet wajah yang terlihat timbul tenggelam
seorang lelaki tua sedang membuka-buka
kitab sucinya yang sudah lusuh nian  

Kataku dalam batinku yang luang dan lapang
mungkin dia sedang mencari bimbingan ilahi nan agung
yang dipercaya telah tertulis cemerlang
dalam lembar-lembar kitab- kitab suci para pejuang dan petarung 
tak ingin dia semangatnya kendor dalam berjuang
di usia senja kewajibannya masih satu: agung bertarung!

Seolah si lelaki tua itu lamat-lamat berpesan kepadaku
Janganlah sekali-kali engkau lupa dan abai
Hidup ini memang gumul, juang dan tarung
Jadikanlah kitab sucimu sang pandu, pandu, pandu  
Genggamlah erat, erat, erat kemanapun tanganmu menggapai
Sampai hayatmu tiba di ujung ujung terujung
Ujung yang tak pernah bisa digapai

Kitab-kitab suci sumber agung inspirasi
energi yang tak pernah habis tererosi
kebijaksanaan yang tak pernah mati dan basi
motivasi yang tak pernah kendor dan mati
kebajikan mulia yang kekal abadi
cita-cita yang menggantung tinggi




Orang-orang besar banyak dilahirkan kitab-kitab suci
suri teladan perbuatan-perbuatan mulia
berkata sedikit tapi banyak berbuat dan mengabdi
dari zaman ke zaman satu per satu muncul tak bercela
dalam pentas besar dan real sejarah insani
bukan sandiwara belaka tak bermakna   

Tapi, kawan, jangan abai dan lupa fakta pedih satu ini
Ingatlah selalu dan kalungkan di lehermu yang jenjang:
Umat-umat beragama karena kitab-kitab suci
saling menjelekkan, saling menyindir, saling menyerang,
saling bersaing, saling menghantam, saling memaki,
saling menekan, saling membunuh, saling memarang,
sehingga di mana-mana dunia dan kehidupan teracuni,
azab sengsara dan ratapan merajalela tak kepalang,
sehingga agama-agama tidak lagi membawa kehidupan dan damai,
tapi tangis, lara, kematian dan perang yang tak terbendung dan tak terhalang  

Karena kitab-kitab suci,
orang saleh salah berlomba
bukan untuk menjadikan dunia ini sorga, 
tapi nyala api perih neraka,
bersaing bukan untuk menjadikan manusia makhluk mulia nan ilahi,
tetapi binatang-binatang durjana petaka
berperang bukan melawan kemiskinan dan kebodohan dan tirani,
tetapi membuat dunia semakin papa, pandir, berduka dan terluka

Kenapa semua azab dan nestapa perih pedih itu bisa terjadi?
Dalam sejarah kelam dunia dan di masa kini?
Juga di masa depan yang masih dinanti?
Tak lain karena kitab-kitab suci salah diinterpretasi
Dipahami tanpa memakai ilmu-ilmu yang mumpuni
Dicopot dari berbagai konteks sejarah insani
Dilepas dari sistem sosiobudaya berbagai era yang sudah terlewati
Karena Tuhan Yang Mahapengasih-penyayang tak lagi berdiam dalam hati

Mari, kawan, bacalah sejenak kala, 
lalu tutuplah apik kitab-kitab suci anda
Jadikan bentangan langit penuh bintang ria ceria
sebagai sang Ayah sumber inspirasi mulia
Bumi sang Bunda Pertiwi 
tempat kita bersujud menumpahkan lara dan duka
Hati dan pikiran luas dan teduh tak terkata
rumah ibadah suci mulia tak terkira
Membaca buku-buku ilmu pengetahuan mulia 
ritual agung luhur berpahala
Cinta pada Kebenaran mulia semesta 
kaul suci ibadah kita tiada tara
Kebajikan, kemurahan hati dan cinta
wujud dan bukti kehadiran Tuhan dalam dunia

Mari, mari, kawan, ayunkan langkah ke depan tak mundur lagi
Tak kenal lelah masuk ke zaman-zaman mendatang
Di sana kita sedang ditunggu sang Mentari di pagi hari
Mari, mari, kita pulang ke masa-masa yang akan datang
sebab dari sanalah kita sesungguhnya telah datang kemarin hari

Ruangwaktu tak berkuasa atas diri
Jangan biarkan keduanya menawan diri
Engkau dan aku musafir sejati
Para perenang gesit di ombak semesta mahamisteri bahari
Pergi datang, riuh, bergulung, datang pergi
Hening, diam, semedi, sunyi menyelimuti Langit dan diri

Abadi baka misteri lestari
Teka-teki yang terus agung menari
Memanggil lembut semua untuk menghampiri
Jangan sepi berdiri lirih sendiri

Mari, mari, terbang mengangkasa tinggi
Jauh tiba di angkasa Langit mahatinggi
Di situ mari kita riang bernyanyi dan menari
Naikkan madah damai untuk Bumi

Jakarta, 22-09-2012
ioanes rakhmat

27 Agustus 2018