Sunday, March 18, 2012

Homo Homini Lupus


Dalam diri kita, siapapun kita, ada sebuah faculty atau kemampuan neurologis kognitif yang dinamakan “trust”, atau kemampuan untuk mempercayai seseorang, yang biasanya timbul setelah kita bisa ber-empati dengan seseorang di dalam suatu kasus tertentu.

Apakah trust bisa berkembang dengan baik atau tidak, bergantung pada kultur keluarga yang membesarkan seseorang, atau kultur komunitas pembelajaran yang di dalamnya seseorang mengalami perkembangan kejiwaan. Trust itu ibarat seekor merpati putih, sang pembawa damai dan berita gembira, sang utusan yang turun dari angkasa.

Ada keluarga atau komunitas pembelajaran di mana orang-orangtua selalu mendidik anak-anak untuk selalu berpikiran positif terhadap orang lain atau untuk selalu percaya pada orang lain, siapapun orang lain itu.

Orangtua yang mendidik anak-anaknya untuk selalu “trust” pada orang lain ini mempertahankan sebuah pandangan ideal bahwa dalam diri manusia selalu ada benih kebaikan atau bahkan benih ilahi yang bila dipupuk akan menjadikan mereka orang baik, sahabat sesama, rekan sekerja yang dapat dipercaya sepenuhnya.

Filsafat moral sosial yang ditanamkan dalam kultur pembelajaran yang humanistik semacam ini adalah “pandanglah sesamamu sebagai rekan-rekanmu yang siap berkorban bagi kebaikanmu”, filsafat “homo homini socius”. 

Tetapi ada juga keluarga atau komunitas pembelajaran yang kepada generasi muda selalu menanamkan keharusan mencurigai siapapun orang yang dengannya mereka membangun suatu hubungan, keharusan jangan mempercayai siapapun orang yang mendatangi mereka untuk keperluan apapun. Dalam kultur pembelajaran semacam ini ditanamkan suatu pandangan teologis bahwa siapapun manusia itu, mereka adalah manifestasi pekerjaan setan dalam dunia ini.

Keluarga-keluarga yang bergerak dalam bisnis-bisnis besar yang berhasil (dengan menghalalkan segala cara) banyak yang menanamkan dalam diri generasi muda mereka pandangan untuk selalu mencurigai orang lain manapun ketika mereka sedang membangun hubungan bisnis, atau hubungan apapun.

Yang ditekankan dalam kultur pembelajaran semacam ini ini adalah profesionalisme loba, bukan filantropisme atau altruisme. Anak-anak dididik untuk hanya membangun hubungan profesional tamak dengan siapapun dalam mereka membangun hubungan bisnis, dan sama sekali harus menutup pintu terhadap segala bentuk sifat kedermawanan atau sifat ingin berkorban bagi sesama.


Dalam bentuk yang ekstrim, dalam kultur pembelajaran semacam ini filsafat sosial yang ditanamkan adalah “pandanglah sesamamu manusia sebagai seekor serigala jahat yang mau menyantap dirimu”, atau filsafat “homo homini lupus” (Hobbes)./*/

Dalam suatu negara yang sedang terlibat peperangan dengan negara tetangga, pemerintahnya menjalankan politik pembelajaran “homo homini lupus” kepada setiap warganegaranya. 

Mereka dididik untuk selalu mencurigai siapapun orang asing di antara mereka sebagai seekor serigala yang mau menerkam mereka, dan untuk harus selalu siap menerkam lebih dulu sebelum diterkam. 

Xenofobia adalah kultur yang mutlak dijalankan dalam suatu negara yang sedang berperang. Tapi bagi suatu negara yang sedang hidup damai dengan semua negara lainnya, xenofobia, jika tumbuh, adalah suatu penyakit mental dan politik massal yang bisa membinasakan negara ini.  

Jika anda berkembang dalam kultur pembelajaran yang pertama, yang menanamkan filsafat moral sosial “homo homini socius”, anda akan menjadi orang yang mudah tertipu, anda akan lebih banyak mengeluarkan uang ketimbang menerima uang, pengeluaran yang bahkan bisa sangat useless.

Kalau anda berbisnis kemungkinan besar bisnis anda akan merugi terus dan akhirnya bangkrut.  Kalau pun dapat untung, ya dalam batas yang wajar. Ingatlah, ada hukum pasar yang berlaku: untuk barang A yang kualitasnya sama, konsumen akan membeli di toko yang menjualnya termurah, dibandingkan toko yang menjualnya kemahalan jauh.

Namun jika anda dididik dan berkembang dalam kultur pembelajaran yang kedua, yang dengan konsisten menanamkan filsafat moral sosial “homo homini lupus”, anda bisa jadi akan cepat kaya raya, sukses bisnis, tetapi tidak memiliki empati, kasih sayang, sifat dermawan atau kemampuan berkorban buat orang lain apapun alasannya. Kerakusan adalah watak bisnis anda. Demi kerakusan dan haus harta anda terpenuhi, anda tak akan segan memakai jubah bulu domba, meskipun watak asli diri anda adalah serigala buas.

Umumnya yang kerap ditemukan adalah perpaduan kreatif dua kultur pembelajaran yang satu sama lain bertolak belakang itu. Selain itu, dalam dunia bisnis dewasa ini setiap perusahaan pun oleh negara telah diharuskan mengalokasikan keuntungan perusahaan sebagian (2 persen) untuk keperluan sosial, apa yang dinamakan “corporate social responsibility”, CSR.

Lebih jauh, kalau dulu dunia bisnis dipandu oleh sebuah semboyan “Matikanlah pesaing-pesaing anda dengan sekejam mungkin dan dengan bersimbah darah” (red ocean strategy), maka kini semboyan yang berlaku sudah berbeda, sejalan dengan kesadaran global yang sudah tumbuh di seantero planet Bumi, yakni “Bangunlah hubungan kerekanan yang setaraf dengan semua pesaing bisnis anda”, strategi yang dinamakan “blue ocean strategy”. 

Jadi, periksalah diri anda, anda besar dalam kultur pembelajaran yang mana. Bebaskan diri anda, bak seekor merpati putih yang terbang riang di angkasa./**/

------------------------

/*/ Saya terpaksa masih memakai ucapan Hobbes ini kendatipun saya tentu saja menyadari penuh serigala adalah juga binatang yang patut kita sayangi, sama halnya dengan ular yang menjadi simbol manifestasi Yang Ilahi dalam kebudayaan Yunani-Romawi kuno dan kebudayaan India masa kini. Sejauh terdokumentasi, pernyataan “homo homini lupus est” (Indonesia: “Manusia adalah serigala bagi sesamanya”) muncul pertama kali dalam karya Plautus, Asinaria (495). Melawan Plautus, Seneca menulis bahwa “manusia adalah suci bagi sesamanya”. Thomas Hobbes di tahun 1651 (dalam karyanya De Cive) merujuk baik kepada Plautus maupun kepada Seneca.

/**/ Tulisan ini lahir sebagai sebuah perenungan atas tertipunya saya oleh toko HP online www.niagashop.com sehingga uang saya sebesar Rp. 2 juta melayang lenyap pada 17 Maret 2012 pagi hari sekitar jam 10. Kawan-kawan, jangan mau berhubungan apapun dengan toko tersebut dan sebarkanlah informasi ini!




Thursday, March 8, 2012

Beragamalah dengan modern!

Ada yang berkata kepada saya bahwa saya anti-agama. Saya jawab, "Anda salah besar!" Saya juga seorang beragama, cuma keberagamaan saya tak tradisional, tapi modern.

Bagi saya hidup beragama itu hidup dalam suatu ziarah intelektual yang tak pernah selesai. Masih dalam perjalanan panjang, belum tiba di finish.
Salah satu ciri modernitas adalah keterbukaan pada masa depan, progresivitas, menolak finalitas. Jadi kalau saya beragama secara modern, ya saya melihat Allah sebagai sebuah pertanyaan yang belum ada jawaban finalnya sekarang ini. Harus dicari terus.


Kitab suci adalah sebuah titik start, bukan titik finish!

Kalau kaum agamawan tradisional bilang Allah itu misteri, saya setuju betul, one hundred percent! Tapi saya berbeda dari kaum agamawan tradisional dalam perlakuan saya terhadap Allah sebagai misteri.

Kalau bagi kaum agamawan tradisional misteri Allah harus dijaga dan dilindungi, saya bersikap sebaliknya. Bagi saya yang beragama secara modern, justru misteri Allah harus terus-menerus ditemukan dan dipecahkan, dibuka terang-benderang. Allah sebagai misteri justru menantang saya untuk memecahkan misteri ilahi ini lewat berbagai cara, termasuk lewat sains.

Sains tak pernah berhenti, tak pernah mencapai finalitas, terus bergerak ke depan dengan dinamis. Meskipun dalam sains modern kita sudah memiliki hukum-hukum besi sains, keadaan ini tak menghentikan gerak maju sains.

Beragama secara modern menyebabkan konsep apapun yang ada tentang Allah sekarang ini, dipandang sebagai konsep yang belum final, konsep yang masih sementara.
Monoteisme, dengan demikian, bukan bentuk final agama, dan masih akan berganti di masa depan yang belum dicapai. Sebagai seorang modern, saya bersiap-siap mendapatkan ide-ide lain tentang Allah yang belum ada sekarang, ide-ide baru yang menakjubkan.

Bagi saya, agama-agama di masa depan akan dirumuskan secara baru totally dengan memakai parameter-parameter sains. Agama-agama yang ada sekarang akan bermetamorfosa, masuk ke dimensi-dimensi yang lebih tinggi dan lebih menakjubkan.

Jadi, dilihat dari sudut pandang yang saya baru kemukakan, mengeksplorasi sains sebagai sains adalah tugas kaum agamawan juga. Sayangnya, banyak kaum agamawan telah memenjarakan diri mereka dalam tradisionalisme keagamaan, sehingga mereka bantut.

Nah, kalaupun saya menolak agama, agama yang saya tolak adalah agama yang sudah diubah menjadi kumpulan dogma yang membatu, fossilized religions. Agama-agama yang sudah difosilkan sebenarnya adalah pemberontakan dan penyangkalan terhadap Allah sendiri sebagai misteri besar.

Nah, kalau saya dibilang anti-agama, ya betul juga, dalam arti saya menolak agama yang sudah difosilkan, tapi memperjuangkan agama yang modern. Visi seperti yang saya ungkapkan ini tidak banyak dimiliki kaum agamawan di Indonesia.

Kaum agamawan tradisional banyak yang berpendapat bahwa  sejarah telah berakhir di dalam kitab suci. Kitab suci adalah akhir sejarah, itu kata kaum agamawan tradisional. Maksud mereka adalah bahwa awal dan akhir sejarah insani sudah ditulis dalam kitab suci mereka.

Tapi bagi saya yang berpikir modern, kitab suci adalah garis start untuk para atlit melesat ke masa depan yang tanpa akhir, bukan titik finish. Atau, kitab suci itu, bagi saya, ibarat sebuah tangga untuk naik ke atas atap sebuah rumah. Sesudah sampai di atap, tangga dilepaskan, lalu berjalan sendiri ke depan dengan tenang, ke masa depan yang penuh tanda tanya.

Orang beragama yang berkomitmen untuk berjalan terus ke depan, akhirnya akan merangkul sains dengan happy. Jadi, sikap saintifik adalah juga sikap religius!

Itulah garis besar pemahaman saya mengenai hidup beragama. Tak tradisional, tapi modern. Mungkin anda terpesona. Semoga!

Tuesday, February 28, 2012

Kaget terhadap tindakan Mas Moqsith mengganti agama orang lain!

religion is power in the name of Heaven!

Seorang Muslim yang mengaku liberal semustinya sudah tak ingin lagi menghasilkan muallaf, apapun alasannya. 

Maka itu saya tak mengerti sekaligus sangat kaget mengetahui kalau Mas Abdul Moqsith, seorang pentolan gerakan Jaringan Islam Liberal, mengajak seseorang baca syahadat Islam karena orang itu mengaku mau masuk Islam. Hemat saya, semustinya Mas Moqsith menasihati orang itu untuk pulang kembali dan mendalami dengan lebih serius agamanya semula.

Apapun alasannya, membuat orang lain masuk ke agama sendiri sama dengan memandang enteng agama semula orang lain ini. Keliberalan seseorang justru seharusnya membuat dia tak akan lagi mengubah agama orang lain dengan menjadikannya muallaf.

Banyak orang yang mengaku liberal religius, tapi terus-menerus melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan kalangan konservatif. Tak salah kalau saya menyatakan, label liberal religius seringkali hanya sekadar pemanis bibir, atau label pura-pura mau tampil beda.

Apapun yang sudah saya katakan barusan, saya tetap menghormati keputusan Mas Moqsith untuk me-muallaf-kan seseorang, mengislamkannya. Tetapi menghormati tidak sama dengan membenarkan. Kalau calon muallaf itu dengan sadar berkeras tetap mau masuk Islam, lebih bermartabat jika Mas Moqsith menyuruhnya datang ke ustadz lain.

Wahai kalangan liberal religius, jangan kotori tangan kita dengan tindakan-tindakan yang melawan nilai agung liberalisme religius!

Apapun alasannya, me-muallaf-kan seorang baru, adalah suatu tindakan yang mengkhianati keagungan liberalisme religius.

Tak usahlah seorang liberal religius mengurusi pertambahan jumlah umat agamanya sendiri; masih banyak urusan lain yang dia musti tangani.

Seorang liberal religius yang suka mengkritik agamanya sendiri sangat aneh jika juga mau menggemukkan agamanya sendiri lewat kegiatan proselitisasi. Sangat aneh, seorang liberal yang menentang keras kristenisasi malah melakukan sendiri islamisasi!

Panggilan seorang liberal bukanlah menggemukkan agamanya sendiri, tapi mengkritiknya dan mendekonstruksinya. 

Panggilan seorang liberal bukanlah menjadikan orang lain muallaf, tetapi mencerahkan akal budinya.

Seorang liberal religius bukan lagi warga umat agamanya sendiri, tapi warga dunia kosmopolitan agama-agama! Seorang liberal religius tak mungkin lagi me-muallaf-kan orang baru, apalagi sampai mengikatnya dengan syahadat agamanya sendiri.

Tentu saja menjadi Muslim atau menjadi Kristen atau menjadi Buddhis, bukan masalah bagi seorang liberal religius. Seorang liberal religius tentu saja mengakui HAM seseorang untuk pindah agama.

Tapi yang sangat tak konsisten adalah apabila seorang liberal religius mau menjadi juru dakwah agama tradisionalnya untuk hasilkan muallaf.

Seorang liberal religius tentu sudah paham bahwa kwalitas sebuah agama tak dapat diukur dari jumlah penganutnya. Seorang liberal malah menilai, suatu agama yang digandrungi banyak orang adalah agama populis, yang anggota-anggotanya tak mampu berpikir kritis.

Tugas seorang liberal religius adalah menjadi bagian dari minoritas kreatif pembaharu agama dan dunia, bukan sibuk mengurusi ritual.

Maka itu saya masih kaget dengan tindakan Mas Moqsith: me-muallaf-kan orang baru, dan melakukan ritual proselitisme!

Selama ini, jika seseorang datang ke saya untuk cari tahu cara masuk Kristen, saya tanya padanya, apa agamanya semula. Kalau dia bilang sekarang dia masih Buddhis, tapi mau pindah ke Kristen, saya ajak dia berdialog tentang Buddhisme. Biasanya setelah sekian waktu berdialog, si calon Kristen itu malah berubah menjadi lebih paham Buddhisme, dan tak mau lagi pindah agama.

Sekian tahun lalu, ada seorang aktivis JIL meminta saya menerangkan agama Kristen sedalam-dalamnya karena dia mau masuk Kristen. Di hadapan aktivis JIL ini saya tertawa, lalu memperlihatkan kepadanya sangat banyak kekurangan dan keburukan dalam kekristenan. Akhirnya, aktivis JIL ini (inisial namanya AEP) tak mau lagi masuk Kristen, dan saya anjurkan dia dalami Islam dengan lebih serius.

Bagi saya, semakin seseorang mendalami agamanya sendiri dengan bebas, semakin dia menjadi warga dunia kosmopolitan agama-agama.

Sekali lagi, sebagai seorang liberal, saya mengakui HAM setiap orang untuk pindah agama, satu kali atau bahkan berkali-kali.

Sekali lagi, sebagai seorang liberal, saya bisa memahami kalau para agamawan tradisional berkomitmen menggemukkan agamanya sendiri lewat dakwah dan proselitisasi.

Sekali lagi, sebagai seorang liberal, saya mengerti kalau jumlah umat yang banyak dicita-citakan kaum agamawan tradisional. Saya bisa menegaskan, kuantitas umat yang besar adalah juga kekuatan politik!

Tetapi, hal yang sangat tidak konsisten adalah jika seorang liberal religius dengan tidak kritis mengikuti dengan lugu semua gerakan populis ini.

Di mana integritas seorang liberal religius jika dia juga setuju bahwa umat agamanya harus digemukkan lewat dakwah dan proselitisasi demi kemenangan politik!?

Mengapa sebagai seorang liberal, saya tak mendukung proselitisme, sekalipun saya mengakui HAM setiap orang untuk pindah agama?

Bagi saya dunia jauh lebih memerlukan orang yang bisa menjadi warga dunia agama-agama ketimbang warga satu agama saja. Kalau seseorang menjadi warga dunia agama-agama, dan tak diam mati dalam agamanya sendiri, orang ini lebih mungkin menjadi duta perdamaian. Dia bisa menjadi duta perdamaian ke dalam agamanya sendiri dan ke dalam dunia majemuk agama-agama.

Saya memilih memberi nilai plus pada keyakinan keagamaan seseorang dengan menambahkan informasi esensial tentang agama-agama lain kepadanya. Ketimbang membuat seorang Muslim jadi Buddhis, saya lebih memilih menjadikan dia Muslim plus, dengan meningkatkan pengetahuannya tentang Buddhisme. Seorang Muslim yang juga seorang Buddhis, bisa menjadi jembatan perdamaian bagi kedua agama ini.

Kalau anda melakukan proselitisme, dan tegas meminta si muallaf melupakan sama sekali agama lamanya, maka anda rugi besar! Kalau anda berdagang, maka anda tidak mau rugi, bukan? Begitulah juga seharusnya sikap anda terhadap praktek proselitisme!

Tolak proselitisme, apalagi sampai mengikat mati seseorang lewat ritual agama, tapi jadikan dia warga dunia agama-agama!

Kalau kegiatan dakwah Islamiah berhasil menjadikan seluruh dunia Islam, bagi saya ini sebuah kerugian maha besar! Dunia rugi besar jika Islam menang dengan biaya besar melenyapkan semua agama lain!

Mas Moqsith pasti menolak menjadikan seseorang muallaf Islam, jika mas ini cinta agama-agama lain dan ingin melanggengkan semua agama di bumi!

Bagi saya, dunia rugi besar dan bersalah jika kekristenan menang dengan menenggelamkan agama Islam!

Bagi saya, Islam dan Kristen sama-sama sederajat dan bersaudara, sehingga tak perlu terjadi perpindahan umat di antara keduanya.

Yang perlu seorang liberal bantu adalah bagaimana setiap individu yang beragama berbeda, dapat memperkaya satu sama lain, bukan malah berdakwah dan mengganti agama orang lain.

Mustahil Mas Moqsith tak tahu, bahwa praktek proselitisasi yang gencar dilakukan umat-umat yang berlainan agama di dalam masyarakat kerap berakhir dengan keributan dan huru-hara antar umat. 

Begitulah pandangan saya, sementara rasa kaget saya terhadap tindakan Mas Moqsith belum juga hilang.

Bagaimanapun juga, sekali lagi saya mau menyatakan bahwa saya sangat menghormati tindakan Mas Moqsith itu, dan dalam batas-batas tertentu sangat bisa juga memahaminya, tetapi saya sama sekali tidak dapat membenarkan tindakannya!  



Tom and Jerry


Inilah filsafat Tom and Jerry:

Kucing besar yang tak cerdas akan berlelah-lelah mengejar tikus-tikus kecil gesit yang muncul di ruang tamu dari lubang-lubang kecil di bawah dinding.

Kucing besar ini akan kalah, bahkan akan dipermainkan oleh tikus-tikus kecil itu.

Tikus-tikus kecil itu akan bisa ditangkap hanya oleh tikus-tikus yang lebih kecil tapi lebih gesit.

Begitu juga halnya kalau orang sedang mengejar enlightenment, pencerahan.

Enlightenment hanya bisa diperoleh jika tubuh anda ringkas, gerak anda gesit, tak ada beban yang menekan akal.

Semakin tubuh anda ringkas tanpa beban materi, semakin bebas dan ringan pikiran anda, tanpa beban akidah dan dogma apapun, bak tikus-tikus yang lebih kecil, maka semakin cepat pencerahan anda dapatkan.

Jadilah selalu tikus-tikus yang lebih kecil dan lebih gesit!

Jika anda bisa, ingatlah, jangan suka mencuri potongan keju di atas meja! 

Orang yang tercerahkan budinya, adalah orang yang bermoral, yang sanggup mengontrol diri dan kelakuan serta pikirannya, untuk sejalan dengan kebajikan dan nalar murni yang luhur.

Tuesday, February 21, 2012

Si Ibu Tua dan Dua Ekor Anjingnya


Di Taiwan, konon ada seorang ibu tua baik hati yang memelihara dua ekor anjing yang sangat setia kepada si ibu.

Suatu hari si ibu tua meninggal ketika sedang tidur, tak bangun-bangun lagi di kamarnya, sementara dua ekor anjingnya menemani di lantai.

Pada acara pemakaman, dua anjingnya ikut, lalu ketika peti mayat sudah diturunkan ke liang makam, dua anjing ini lompat ke dalamnya ingin ikut.

Tentu saja orang mengangkat kedua anjing itu keluar dari lubang makam. Tetapi sekali lagi, mereka melompat kembali ke dalamnya.

Setelah sampai tiga kali dikeluarkan dari lubang makam, dua ekor anjing ini akhirnya dimasukkan ke dalam sebuah mobil lalu mobilnya dikunci.

Sesampainya kembali di rumah si ibu tua yang sudah meninggal itu, dua ekor anjing ini berubah jadi sangat pendiam, beda dari sebelumnya.

Keesokan harinya, salah satu anjing itu berjalan ke jembatan tinggi di atas sebuah sungai besar, tempat dia biasa dibawa si ibu tua sebelumnya ketika berjalan-jalan.

Ketika sudah tiba di jembatan itu, anjing ini melompat ke bawah, menuju sungai deras di bawahnya, bunuh diri!

Si anjing yang bunuh diri terjun ke sungai ini rupanya patah semangat karena si ibu tua sudah meninggalkannya.

Anjing yang satunya lagi tetap ada di rumah, tapi memutuskan tidak mau makan sama sekali.

Setelah tujuh hari tidak mau makan, si anjing yang kedua ini akhirnya mati lemas dengan melolong panjang.

Anjing adalah organisme mamalia yang bisa merasa dan berpikir dalam level sederhana, kemampuan yang dimiliki manusia dalam level yang jauh lebih tinggi. Tetapi, sebagai sebuah intermezo, sebaiknya anda tahu satu hal ini: pada 7 Juli 2012 di Universitas Cambridge, Inggris, sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu mendeklarasikan The Cambridge Declaration on Consciousness./1/ Dalam deklarasi ini mereka menyatakan bahwa semua mamalia, yang insani dan yang non-insani, juga burung-burung, termasuk gurita dan sefalopoda, memiliki kesadaran dan kemampuan-kemampuan mental. 

Kembali ke kisah si ibu tua itu. Apa yang terjadi pada empat anak si ibu tua setelah si ibu ini mati tua dengan meninggalkan banyak warisan?

Keempat anak si ibu tua almarhum ini berkelahi memperebutkan harta warisan, sampai beritanya masuk ke koran-koran.

Keempat anak si ibu tua yang memperebutkan warisan ini sama sekali tidak menampakkan kedukaan, beda dari dua ekor anjing si ibu tua.

Tolong jawab pertanyaan saya: Dalam kasus si ibu tua ini, mana yang lebih mulia, dua ekor anjing, atau empat anak si ibu tua? Anda perlu menjawab pertanyaan ini dengan kreatif, jangan klise atau dogmatis, supaya anda bisa tiba pada pencerahan lebih jauh.

Kerap hewan berperilaku sangat insani, dan kerap juga manusia berperilaku hewani. Di mana batas-batasnya? Atau adakah batas-batasnya? Ataukah keduanya bertumpang tindih?

Memikirkan relasi-relasi yang ada dan terbangun antara manusia dan semua organisme hidup lainnya dalam alam ini, adalah bagian dari penyelidikan keagamaan juga. Seyogianya anda ambil bagian dalam penyelidikan ini, tentu dengan otak yang cerdas, yang akan memampukan anda membaca banyak buku ilmu pengetahuan yang ditulis para ilmuwan yang diakui dunia internasional. 

----------------  

/1/ File PDF deklarasi ini tersedia online di http://fcmconference.org/img/CambridgeDeclarationOnConsciousness.pdf.