Wednesday, November 3, 2010

Langkah-langkah Menafsirkan Sebuah Teks Alkitab


Hermes, putera Zeus, pembawa dan penafsir pikiran, keinginan, tindakan dan pesan para dewa-dewi di Gunung Olympus untuk manusia di Bumi, menjadi jembatan "dunia atas" dan "dunia bawah". Dari nama Hermes dibentuklah terma hermeneutika dalam bidang ilmu tafsir.



N.B. Berdoalah lebih dulu, minta kepada Tuhan Yang Maha Tahu, sumber segala pengetahuan, agar anda dapat dengan riang menerima, menggali dan menerapkan pengetahuan ilmu tafsir dari tulisan ini. Be blessed.

* Diperluas 29 Agustus 2021
* Diperluas lagi 22 November 2024


Pendahuluan

MEMAHAMI TEKS-TEKS KITAB SUCI sesungguhnya tidak mudah. Pertama, karena antara kita yang hidup dalam dunia modern dan kitab-kitab suci terbentang jurang sejarah yang lebar, dari ratusan tahun hingga ribuan tahun.

Dan kedua, karena ada jurang budaya yang membuat cara hidup, cara berbudaya dan cara berpikir pramodern dan prailmiah para penulis kitab-kitab suci dan masyarakat mereka berbeda tajam dari cara-cara hidup, berbudaya dan berpikir kita dan masyarakat kita dalam zaman modern ini.

Nabi Musa dan Yesus dari Nazareth serta Rasul Paulus, misalnya, tak mengenal berbagai jenis komputer, smartphones, Internet, Cloud Computing, IoT, kecerdasan buatan ("artificial intelligence"), Facebook, Instagram, Line dan Twitter, Tokopedia, Shopee, dll--- tidak seperti anda yang hidup di abad ke-21 ini.

Mereka tidak tahu persamaan matematis Einstein yang luarbiasa sederhana tetapi very powerful E=mc².

Juga mereka tak pernah dengar, apalagi memahami, mekanika quantum, big bang, black holes, worm holes, time travel, energi gelap, materi gelap, dan bergudang-gudang ilmu pengetahuan dan teknologi modern lainnya. Hal yang sederhana saja bagi kita bahwa di dalam setiap mall modern ada lift dan tangga jalan, tak pernah terpikir oleh mereka.

Dua jurang yang menganga ini, jurang sejarah dan jurang budaya, benar-benar ada dan tidak bisa begitu saja diabaikan.

Jika kita mengabaikan dua jurang ini, maka kita akan pasti terjatuh ke dalam parit anakronisme dan etnosentrisme.

Dua kubangan ini akan pasti membuat kita tidak bisa hidup fungsional lagi di dalam dunia kita sendiri pada masa kini sebagai orang-orang lain yang hidup dalam kebudayaan dan alam pemikiran yang berbeda dibandingkan orang-orang zaman kitab-kitab suci ditulis.

Anakronisme dan etnosentrisme itu, berturut-turut, berada di zaman yang salah, dan di dalam budaya yang salah, yang tidak sinkron dengan zaman dan budaya anda sendiri. Keadaannya seperti memindahkan Nabi Musa yang hidup kurang lebih 30 abad lalu dengan paksa untuk hidup modern di kota New York pada masa kini: dia akan pasti terkena kejut budaya (culture shock) yang akan dapat berdampak fatal pada mental dan raga.

Kenaifan kalangan literalis

Kalangan literalis skripturalis menerima begitu saja segala hal yang tertulis dalam kitab-kitab suci mereka sebagai kebenaran-kebenaran abadi yang tinggal diambil lalu dipakai dan diterapkan begitu saja, apa adanya (at face value), pada zaman modern sekarang ini.

Kata para literalis, teks-teks Alkitab tidak perlu ditafsir-tafsir, tetapi tinggal dibaca, diterima sebagai kebenaran, lalu diterapkan apa adanya dalam kehidupan masa kini, karena selalu relevan dan serba menjawab persoalan. Ya, mereka membenci dan memusuhi ilmu tafsir, dan tidak mengerti ilmu tafsir dan hermeneutika. Oleh mereka, teks-teks Alkitab tinggal dicomot saja lalu dijalankan atau digenggam kuat-kuat selamanya sebagai suatu kebenaran.

Mereka sungguh sangat naif dan tidak realistik. Teks-teks Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia (atau bahasa modern lain) yang mereka baca adalah teks-teks yang sudah diterjemahkan dari teks-teks asli PB yang ditulis dalam bahasa Yunani koine (bahasa Yunani yang umum dipakai pada abad ke-1 di kawasan Laut Tengah, konteks budaya kelahiran Kekristenan awal). Nah, setiap penerjemahan melibatkan penafsiran teks yang sedang diterjemahkan. Tanpa penafsiran, tidak akan dihasilkan suatu karya terjemahan.

Jenjang penafsiran menjadi dobel, jika teks PB yang sedang anda baca tidak langsung diterjemahkan dari teks asli Yunani koine, tetapi dari PB berbahasa Inggris, misalnya versi Alkitab The New Revised Standard Version atau NRSV (horison terjemahannya ekumenis), atau versi Inggris lainnya seperti NIV (horison terjemahannya evangelikal), dll.

Jenjang penafsiran menjadi tripel, atau tiga tingkat, ketika Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa daerah tidak langsung dari teks-teks asli Alkitab (Ibrani dan sedikit Aramaik untuk Perjanjian Lama, dan Yunani koine untuk PB), melainkan dari Alkitab berbahasa Indonesia, yang diterjemahkan dari Alkitab Inggris versi NRSV, misalnya.

Makin banyak jenjang penerjemahan, makin besar deviasi atau penyimpangan dari teks-teks dalam bahasa asli Alkitab. 

Nah, jika kalangan literalis mengklaim tidak menafsir teks-teks Alkitab, ya orang lain (para penerjemah Alkitab) telah menafsirkan teks-teks (dalam bahasa-bahasa asli) Alkitab untuk mereka. Ya, mereka hanya konsumen, bukan produsen.

Karena ada banyak sekali teks Alkitab yang paralel atau senada satu sama lain, tentu dengan perbedaan besar atau kecil di sana-sini, nah anda sebagai literalis sudah menafsir ketika anda menjatuhkan pilihan pada teks X untuk anda tinggal jalankan, dan melepaskan teks Y, meski kedua teks ini paralel.

Karena normalnya setiap orang ingin menjadi berbahagia lewat penerapan teks-teks Alkitab dalam kehidupan mereka, maka anda, sebagai literalis, sudah menafsir teks-teks Alkitab ketika anda memilih suatu teks, dan tidak memilih suatu teks lain, untuk anda jadikan "ayat emas" atau "firman hidup" untuk kehidupan anda hari ini yang anda harapkan memberi kebahagiaan bagi anda.

Mustahil hidup tanpa menafsir. Without interpretation, life is impossible to live.

Selain itu, di zaman modern abad ke-21 ini mustahil orang Kristen manapun bisa hidup dengan baik, berguna, sehat dan maju, jika setiap ayat dalam Alkitab (mulai dari awal kitab Kejadian hingga akhir kitab Wahyu Yohanes) mereka mau terapkan begitu saja, apa adanya seperti yang sudah tertulis, karena, mereka berasumsi, segala ayat selalu relevan. Silakan buktikan sendiri. Kenapa mustahil? Ya, karena ada dua jurang yang sudah disebut di atas, jurang sejarah dan jurang budaya yang lebar.

Saya masih perlu bertanya lagi kepada para literalis. Apakah anda sudah uji bahwa semua ayat dalam 66 kitab dalam Alkitab selalu serba menjawab persoalan masa kini? Pasti belum! Dan, bukankah sebelum ada jawaban, harus ada lebih dulu pertanyaannya? Jadi, apa pertanyaannya?




Jelas, literalisme hanya akan menghasilkan anakronisme dan etnosentrisme. Jadi, perlu ada suatu pendekatan tafsir yang dapat mencegah anda terjatuh ke dalam parit hitam salah zaman dan parit hitam salah budaya ini. Pendekatan semacam ini sudah ada, dinamakan pendekatan historis kritis (historical criticism). Berikut ini langkah-langkah menafsir teks-teks kitab-kitab suci secara historis kritis.


A. Menentukan batas-batas perikop teks 

1. Periksa apakah pembatasan perikop yang dibuat Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah benar;

2. Jika anda memandang batas-batas perikop harus disusun ulang, sebutkan alasan-alasan anda;

3. Perikop yang anda sudah batasi sendiri dapat lebih panjang atau dapat lebih pendek dari pembatasan yang dibuat oleh LAI.

B. Menentukan bentuk sastra (literary form) dan jenis sastra (literary genre) perikop

1. "Bentuk" teks adalah unit-unit kecil dalam unit besar "jenis" suatu teks. Artinya, keduanya tak terpisahkan. Perlu diketahui saja, secara teknis kata "bentuk" dipakai untuk studi penelusuran transmisi teks-teks dalam periode lisan, sebelum akhirnya tradisi lisan dibuat menjadi tulisan-tulisan. Studi di era kelisanan ini dinamakan "kritik bentuk" atau "form criticism". Fokus kita tidak ke era kelisanan, tapi pada tulisan-tulisan dalam Alkitab;

2. Nah, tentukan apakah perikop berbentuk atau berjenis sebuah kisah (nyata atau fiktif?), ataukah berbentuk sebuah pengakuan iman (kredo) atau syahadat, ataukah berjenis sebuah madah/nyanyian, ataukah berbentuk sebuah puisi, ataukah berbentuk sebuah argumen pemikiran (seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru), atau sebuah renungan filosofis, atau sebuah visi imajiner, dan lain sebagainya;

3. Tentukan langkah-langkah penafsiran yang perlu dilakukan, yang tepat untuk jenis sastra yang sudah anda tentukan (lihat lebih lanjut poin G di bawah):

• Apakah harus mengikuti plot/alur cerita jika teks berbentuk sebuah kisah atau berbentuk sebuah perumpamaan;

• ataukah harus mengikuti perkembangan pemikiran atau argumen yang runtut jika teks berbentuk sebuah argumentasi teologis seperti dalam surat-surat Perjanjian Baru;

• ataukah langkah-langkah lainnya yang harus ditemukan dengan tepat, misalnya ketika teks tergolong sebagai karya puisi atau kumpulan pepatah dan wejangan atau sebuah khotbah atau sebuah renungan filosofis, atau sebuah penglihatan imajiner, atau sebuah dialog panjang lebar, atau sebuah teks ritual liturgis;

Ingat, setiap jenis sastra (literary genre) mengharuskan suatu langkah penafsiran yang khas, yang berbeda untuk jenis sastra lainnya, berhubung jenis kebenaran dan berita setiap teks juga ditentukan oleh jenis sastranya. Kita tahu tokh bahwa rasa dan khasiat buah-buahan atau sayur-mayur berbeda-beda bergantung jenis buah-buahannya atau sayur-mayurnya.

Jadi, kebenaran dan berita sebuah teks puisi berbeda dari kebenaran dan berita sebuah teks kisah pertempuran atau sebuah teks syahadat. Dst.




Fragmen manuskrip papirus Injil Yohanes, berasal dari kurun 125-175 M (menurut Orsine-Clarysse). Kini disimpan di John Rylands Library, Deansgate, Manchester, Inggris, dan dinamakan P52. Naskah-naskah asli langsung dari para penulis asli (yang dinamakan autograf) semua kitab dalam Perjanjian Baru sudah kita tidak miliki. Yang ada pada kita adalah naskah-naskah salinan dari salinan dari salinan dst.


C. Menentukan konteks sejarah dan konteks sosio-budaya penulisan teks

1. Konteks luas sejarah (nasional dan internasional);

2. Konteks terbatas sejarah (lokal setempat);

3. Konteks sosio-budaya atau sistem sosial;

☆ Cari informasi tentang:

• dimana teks ditulis (“where”);

• dalam latar sosial, ekonomi, budaya, religius, politik dan militer apa teks ditulis (“life settings”);

• kapan teks ditulis (“when”);

• oleh siapa teks ditulis (“by whom”);

• alasan apa yang mendorong teks ditulis (“why”);

• kepada siapa teks ditujukan (“to whom”);

• dengan cara atau gaya tutur yang bagaimana teks disusun dan ditulis ("style of writing"); 

• apakah gaya ini dan bentuk penulisan mencerminkan konvensi dunia sastra dan budaya ("literary and cultural environment") si penulis teks;

• dalam sistem sosial ("social system") yang bagaimana si penulis teks hidup dan aktif. Makna teks tidak sedikit ditentukan dan dikondisikan oleh sistem sosial, selain oleh jenis sastra teks.

Setiap teks adalah "tenunan" atau "rajutan" atau "jejaring" (Latin: textūra) benang-benang pertanyaan-pertanyaan di atas. Tidak ada teks apapun yang muncul dari kevakuman atau "jatuh dari langit" begitu saja.

☆ Manfaatkanlah buku-buku sejarah kritis (sejarah sosial dan sejarah politis) yang relevan dengan dunia kuno zaman penulisan Alkitab. Ingat, karya sejarah kritis berbeda jauh dari karya sejarah apologetis. Banyak apologet agama mengklaim bahwa karya mereka adalah karya sejarah, padahal sebetulnya tulisan mereka itu tulisan tentang teologi atau doktrin yang sedang dibela mereka dengan memakai kamuflase sejarah sebagai pembenaran yang dipaksakan.

Disebut "sejarah sosial" atau "social history" jika sejarah ditulis dan ditafsir dari sudut pandang rakyat kebanyakan, atau dari sudut kalangan yang ditindas dan menjadi korban. Dinamakan "sejarah politik" atau "political history" jika sejarah ditulis dan ditafsir dari sudut pandang kalangan elitis para penguasa politik. Tidak ada historiografi yang netral, tanpa perspektif tertentu. "Mere/pure history" atau "sejarah murni" itu tidak ada. Karena itu, sejarah selalu membutuhkan penafsiran dan penulisan ulang, apalagi jika sumber-sumber primer data dan info dalam berbagai jenis dan bentuk telah bertambah banyak.

D. Menentukan konteks sastra (literary context) teks

1. Uraikan hubungan-hubungan tekstual perikop yang sedang ditafsir dengan teks-teks yang ada sebelum dan yang ada sesudahnya (sesuai dengan pembatasan perikop yang anda sudah berikan pada poin A di atas);

2. Ungkapkan dengan kata-kata anda sendiri isi perikop dalam hubungannya dengan teks-teks sebelum dan teks-teks sesudahnya;

3. Ringkas isi perikop yang sedang ditafsir dalam beberapa kata (3-5 kata) yang anda akan jadikan judul perikop yang sedang ditafsir (dalam hal ini judul perikop yang anda beri dapat dan sepatutnya berbeda dari judul yang diberikan LAI).

E. Menentukan sumber-sumber (literary sources) teks dan penyuntingan

1. Dengan mengetahui sumber-sumber sastra yang dipakai, anda dapat lebih pasti menentukan jenis sastra teks (lihat poin B di atas); 

2. Jika ada teks-teks di luar Alkitab atau lazim dinamakan "teks-teks ekstrakanonik" (extracanonical texts) yang sejajar dengan teks alkitabiah yang sedang ditafsir, dan bisa menjadi sumbernya, kutiplah teks-teks yang sejajar ini untuk membantu memahami teks yang sedang ditafsir; 

3. Jika ada teks-teks Perjanjian Lama yang paralel dengan teks-teks Perjanjian Baru yang sedang ditafsir, atau menjadi sumber sastra yang dipakai para penulis teks-teks Perjanjian Baru, temukan metode-metode tafsir apa (misalnya metode tafsir tipologis, atau metode tafsir pesher atau metode skematik janji-pemenuhan) yang dipakai para penulis teks-teks Perjanjian Baru yang sedang anda tafsir, dalam mereka mempertalikan atau menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru;

4. Perlihatkan bagaimana sumber yang dipakai sudah diedit/disunting/diolah oleh si penulis perikop yang sedang anda tafsirkan;

5. Penyuntingan atau editing dapat berupa penambahan teks lain, pengurangan teks yang sudah ada, atau perubahan atau penggantian atau penghilangan teks yang ada atau perubahan sudut pandang atau perspektif yang digunakan pada bagian teks yang disunting;

Penyuntingan dilakukan untuk kebutuhan merelevansikan teks warisan dengan sikon masa kini si penyunting, atau untuk menjawab persoalan berbeda di zaman dan tempat kehidupan si penyunting, atau karena berbagai kebutuhan lain (misalnya, karena si penyunting tidak menyukai bagian teks yang dipangkasnya);

6. Kalau anda menemukan bagian-bagian yang merupakan penyuntingan atas teks yang sedang anda tafsir, bagian ini adalah bagian dari teologi atau pemikiran langsung dari si penulis perikop di zaman dan tempatnya dalam bentuk yang anda temukan dalam kitab suci;

7. Rumuskanlah dengan kata-kata anda sendiri apa isi teologi atau pemikiran si penulis perikop yang sedang anda tafsir, dan tunjukkan di mana isi teologinya ini ditemukan dalam perikop; 

8. Jika perikop yang sedang ditafsir tidak memakai sumber sastrawi apapun, melainkan buah pemikiran murni si penulis teks, poin E ini dapat anda lewati.

Tapi ingat dan catat, nyaris tak ada penulis kapan dan di manapun yang tak memanfaatkan sumber-sumber sastra atau tuturan lisan atau pemikiran dan ide orang lain sebelumnya ketika mereka menulis karya-karya mereka sendiri. Karya-karya besar dibangun di atas fondasi karya-karya lain yang sudah ada sebelumnya. 

Setiap penulis yang cerdas dan kreatif serta inovatif pasti dengan cermat mencari dulu karya-karya lain yang sudah ada sebelumnya, mencerna semuanya, lalu mulai menulis dengan gembira dan dengan pikiran yang sudah diperkaya dan terbuka.

Terkait dengan kajian terhadap injil-injil Perjanjian Baru dan teks-teks ekstrakanonik yang dapat menjadi sumber-sumber yang digunakan para penulis kitab-kitab injil, enam buku berikut penting untuk diperiksa.

1. C.K. Barrett, ed., The New Testament Background: Writings from Ancient Greece and the Roman Empire That Illuminate Christian Origins (SanFrancisco: HarperCollins, 1989, edisi pertama SPCK 1956).

2. Robert J. Miller, ed., The Complete Gospels: Annotated Scholars Version. Kata pengantar oleh Robert W. Funk (revised and expanded edition: Sonoma, California: Polebridge Press, 1992, 1994).

3. David R. Cartlidge and David L. Dungan, eds., Documents for the Study of the Gospels (revised and enlarged edition; Minneapolis: Fortress Press, second edition, 1994).

4. Hans-Josef Klauck, The Religious Context of Early Christianity: A Guide to Graeco-Roman Religions (translated by Brian McNeil) (Edinburgh: T&T Clark, 2000).

5. Hans-Josef Klauck, Apocryphal Gospels: An Introduction (diterjemahkan oleh Brian McNeil) (London/New York: T & T Clark International, 2003). Buku asli dalam bahasa Jerman, Apokryphe Evangelien: Eine Einführung (Verlag Katholisches Bibelwerk, Stuttgart, 2002).

6. Marvin Meyer, The Gnostic Gospels of Jesus: The definitive Collection of Mystical Gospels and Secret Books about Jesus of Nazareth (New York: HarperSanFrancisco, 2005).


F. Memeriksa dan mengusulkan terjemahan teks yang sedang ditafsir 

1. Untuk mengerjakan bagian ini, anda perlu memiliki pengetahuan yang memadai mengenai tatabahasa Ibrani Alkitab dan tatabahasa Yunani koine;

2. Penguasaan tata bahasa dan kosa kata dalam bahasa-bahasa asli akan membuat anda mampu memberikan sebuah terjemahan alternatif, yang berbeda dari terjemahan LAI;

3. Perhatikan varian-varian teks yang tersedia (dapat diketahui dari aparatus kritik yang ada sebagai catatan-catatan kaki dalam setiap versi Alkitab edisi kritis atau "critical edition") dan periksalah apakah anda akan memilih varian teks lain yang tidak dipakai dalam terjemahan standard LAI (atau versi terjemahan Alkitab lainnya);

4. Sebutkan alasan-alasan anda mengapa anda memilih varian-varian teks lain, yang berbeda dari yang dipakai dalam terjemahan resmi LAI atau terjemahan lainnya (untuk Alkitab Perjanjian Baru, versi UBS atau versi Nestle-Aland, dll).

G. Menjelaskan teks ayat per ayat dan merangkumnya (content analysis)

1. Jelaskan apa maksud atau isi gagasan dari setiap ayat dalam perikop yang sedang anda tafsir, dan hubungannya dengan ayat-ayat berikutnya; 

2. Penjelasan atas ayat-ayat yang anda berikan harus berada dalam satu kesatuan atau koherensi logis dengan seluruh gagasan besar dari seluruh isi perikop;

3. Perhatian perlu lebih banyak ditujukan pada kata-kata penting/kunci (key words) yang muncul berulangkali dalam setiap ayat atau dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;

4. Jika ada kata-kata penting yang bermakna khusus dalam sistem kebudayaan atau sistem sosial si penulis teks yang anda sedang tafsir, uraikanlah makna khusus kata-kata ini dan bagaimana kata-kata ini dipakai dalam teks yang anda sedang tafsir;

5. Rangkumlah maksud atau isi gagasan dari seluruh perikop dalam beberapa kalimat yang anda rumuskan sendiri (ingat, anda dalam batas tertentu sudah melakukannya sebelumnya pada poin D di atas ketika anda memberi sebuah judul pada perikop yang sudah anda batasi);

6. Jika teks berbentuk sebuah argumen runtut yang mengungkapkan isi pemikiran teologis si penulisnya (seperti ditemukan dalam surat-surat dalam Perjanjian Baru atau dalam rumusan-rumusan pengakuan iman/kredo, atau dalam tulisan-tulisan filosofis), dalam menjelaskan isi perikop (ayat per ayat dan keseluruhan perikop sebagai satu kesatuan) anda harus memperhatikan:

• argumentasi logis runtut yang diajukan si penulis teks;

• dasar-dasar atau titik tolak argumentasi yang dipakai;

• perkembangan argumentasi dari satu ayat ke ayat lainnya: jelas dan lancar, tersendat, atau kacau;

• hubungan sintaksis antara satu kata dengan kata lainnya, satu kalimat dengan kalimat lainnya, dalam keseluruhan perikop yang sedang ditafsir;

• segi-segi ketatabahasaan (segi-segi gramatikal) yang penting dimengerti untuk bisa memahami sebuah argumen atau maksud si penulis teks;

• muara atau kesimpulan dari keseluruhan argumen yang biasanya dapat ditemukan pada bagian akhir perikop; 

• bagian khusus pada akhir perikop yang lazimnya berisi nasihat atau wejangan atau petunjuk praktis untuk dijalankan si penerima teks.

7. Jika jenis sastra perikop yang sedang anda tafsir adalah kisah (yakni sebuah cerita yang berplot atau laporan sebuah kejadian atau sebuah perumpamaan), dalam menjelaskan isi perikop anda harus memperhatikan:

• dalam konteks dunia kisah (story world) yang bagaimana kisah ini dimulai (perhatikan apa yang ditulis pada ayat-ayat pembuka perikop dan pada perikop sebelumnya). Ingat, dunia kisah tidak sama dengan dunia si penulis kisah (the writer's world);

• plot atau alur/aliran ceritanya, dan sub-sub plotnya;

• para tokoh yang terlibat di dalamnya (tokoh utama dan tokoh sampingan);

• peran masing-masing tokoh ini dalam keseluruhan cerita;

• gagasan naratif utama (“point of view”) yang mengatur dan mengendalikan keseluruhan cerita;

• klimaks cerita dan anti-klimaks cerita;

• biasanya maksud seluruh cerita dapat ditemukan pada ayat-ayat terakhir dari keseluruhan perikop yang merupakan rangkuman seluruh cerita;

• perlihatkan bahwa perikop yang sedang anda tafsir ini menjadi titik tolak perikop yang menyusul sesudahnya, atau malah sama sekali tak ada kaitannya dengan perikop yang menyusulnya.

H. Menentukan tempat dan fungsi perikop yang sedang ditafsir dalam keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya

1. Setelah anda dapat merumuskan maksud (intention/purpose) atau pesan (meaning/message) seluruh isi perikop yang sedang anda tafsir, kini anda harus menempatkan perikop ini dalam keseluruhan dokumen atau kitab yang memuatnya dan dalam seluruh isi Alkitab;

2. Rumuskan apa fungsi maksud dan pesan teologis perikop yang anda tafsir ini bagi keseluruhan dokumen/kitab yang memuatnya;

3. Rumuskan bagaimana keseluruhan dokumen/kitab yang memuat perikop ini ikut mempengaruhi isi pesan teologis perikop yang anda sedang tafsir;

4. Rumuskan bagaimana isi teologis perikop yang anda sedang tafsir dapat juga (jika ada) memberi pengaruh teologis kepada seluruh isi Alkitab (Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, atau keduanya).

I. Menyusun sebuah refleksi hermeneutis 

1. Sebagai langkah akhir, temukan apakah isi teologis atau pesan dan maksud perikop yang anda sudah tafsir relevan atau tidak relevan dengan kehidupan bergereja dan bermasyarakat pada masa kini, dan berikan alasan-alasan anda.

Jangan sekali-kali anda memaksa diri sendiri dan orang lain untuk berpikir dan berkeyakinan bahwa seluruh teks kitab suci anda pasti selalu relevan untuk segala tempat dan segala zaman hingga dunia ini berakhir (entah kapan). Pikiran dan keyakinan semacam ini adalah suatu asumsi yang sangat menyesatkan.

2. Temukan apakah ada jurang kebudayaan (cultural gap) yang besar antara teks yang anda sudah tafsir dan temukan isinya dan kehidupan masa kini di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya, sehingga teks tersebut samasekali tak bisa diterapkan untuk kehidupan masa kini.

Sedikitnya ada tujuh cara yang dapat dijalankan untuk merelevansikan kembali atau menafsir ulang suatu teks Alkitab yang sudah tidak relevan. Bacalah dengan teliti tulisan saya Cara-cara Tafsir Ulang Teks-teks Skriptural Yang Sudah Tak Relevan.

3. Jika menurut anda, teks yang anda sudah tafsir itu relevan, sebutkanlah dalam hal-hal apa saja relevansinya.

4. Buatlah sebuah khotbah singkat (1-2 halaman) untuk gereja anda berdasarkan tafsiran atas teks yang anda sudah buat dengan menjalankan semua langkah di atas.

5. Sebuah khotbah yang baik dan bertanggungjawab dihasilkan dari suatu usaha kritis dan kreatif untuk mempertemukan dan merelevansikan (lewat berbagai cara metodikal) pesan dan makna teks di zaman kuno dan di tempat lain (disebut horison satu) dengan kebutuhan-kebutuhan dan tantangan-tantangan zaman dan tempat si pengkhotbah (disebut horison dua) yang harus dijawabnya dengan kreatif dan konstruktif. 




Interseksi horison 1 dan horison 2, bagian biru muda, itulah wilayah ilmu dan seni hermeneutik


6. Langkah kritis dan kreatif yang melibatkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan untuk mempertemukan atau menjembatani atau mengkonvergensikan horison satu dengan horison dua inilah yang dinamakan hermeneutik. "The fusion of horizons" (Gadamer), atau "the intersection of horizons", itulah hermeneutik.

7. Dalam menjalankan hermeneutik, si pengkhotbah masa kini bukan saja harus mampu memasuki dan menyelami dunia dan zaman dulu dengan sebaik mungkin, tapi juga harus mampu memasuki, menyelami dan memahami dengan setepat mungkin dunia di zaman sekarang yang menjadi konteks sosial kehidupannya.

Penutup

Dengan banyak latihan, semoga anda akan makin memahami dan makin mampu menguasai langkah-langkah penafsiran teks-teks Alkitab yang sudah dibeberkan di atas. 

Keseluruhan langkah yang cermat itu dinamakan eksegese, dari kata benda Yunani eksēgēsis (artinya "tafsiran" atau "penjelasan"), dan kata kerjanya eksēgeomai yang artinya "menarik keluar" atau "membawa keluar" makna dari teks yang sedang ditafsir (Yunani: eks-hegeomai). Kebalikannya dinamakan "eisegese", dari kata kerja Yunani eis-hegeomai, artinya makna anda "masukkan ke dalam" (Yunani: eis) teks. 

Anda harus menjalankan eksegese cerdas yang memerlukan ilmu-ilmu pengetahuan. Biarlah para literalis saja yang menjalankan eisegese, yang tidak memerlukan ilmu apapun, alhasil teks bisa berbicara apapun sesuai kemauan mereka yang mereka masukkan ke dalam teks.

Nah, semoga khotbah-khotbah anda di gereja-gereja anda masing-masing akan makin berbobot, autoritatif dan terpelajar. 

Kuasai juga seni dan ilmu retorika, yang diperlukan para orator dan pengkhotbah untuk meyakinkan para pendengar terhadap isi pidato atau khotbah yang sedang disampaikan. 

Ingat, sebagai seorang orator atau seorang pengkhotbah, anda harus punya martabat dan integritas. Jadi, jangan memperdaya para pendengar anda, dan jangan memanipulasi pidato atau khotbah anda demi kepentingan sektarian anda atau demi kerakusan anda. Juga jangan pakai mimbar gereja untuk berpropaganda ideologis.

Seorang pengkhotbah yang bermoral, yang diutus Tuhan, akan selalu mencerdaskan dan mencerahkan serta membuka wawasan para pendengar mereka. Pantang memperbodoh dan mengerdilkan umat. 

Di mimbar, anda berdiri dan berbicara sebagai sang Mentari penerang dan pencerah, bukan sebagai gumpalan awan mendung yang gelap.


N.B. Wajib dibaca juga Metode-metode Ilmiah Tafsir Kitab Suci.

Jakarta,
22 November 2024
23 Agustus 2021
18 Mei 2021
10 Januari 2021
1 November 2017
4 November 2010

Ioanes Rakhmat



Saturday, October 9, 2010

DNA Sintetik dan Kehidupan Artifisial Telah Berhasil Diciptakan Ilmuwan!

Update 16 Juni 2015:

Baru-baru ini sejumlah ilmuwan biologi sintetik telah berhasil menciptakan DNA sintetik yang memiliki sepasang basa artifisial (diberi nama Z dan P) yang kemudian dikondisikan untuk berevolusi, sehingga akhirnya (dari milyaran untaian DNA sintetik) menghasilkan DNA sintetik yang memiliki molekul-molekul dengan properti khusus sehingga dapat distimulasi untuk mengenali, menemukan dan mengikat sel-sel kanker. Selanjutnya, sebagai langkah ke depan, metode ini akan dapat digunakan untuk membunuh sel-sel kanker, sebuah alternatif medik yang tentu saja ditunggu untuk dapat diterapkan dengan mudah dan dengan biaya murah. Tentang ini, lihat reportase “Artificial DNA can evolve to expertly pick out cancer cells”, New Scientist, 4 June 2015, pada http://www.newscientist.com/article/mg22630244.400-artificial-dna-can-evolve-to-expertly-pick-out-cancer-cells.html#.VYBP31K5I8I; untuk kajian ilmiahnya, lihat Liqin Zhang, Zunyi Yang, Steven A. Benner, et al., “Evolution of Functional Six-Nucleotide DNA”, Journal of the American Chemical Society 137 (21), 2015, pp. 6734-6737, pada http://pubs.acs.org/doi/abs/10.1021/jacs.5b02251. 

=================

Pada pertengahan tahun 2010, J. Craig Venter dkk, dari The J. Craig Venter Institute (JCVI) (Medical Center Drive, Rockville, USA; dan Science Center Drive, San Diego, USA), telah berhasil menciptakan sebuah genom/DNA sintetis yang dapat mereplikasi diri ketika sudah ditransplantasikan ke dalam suatu tempurung sel bakteri yang sudah dikosongkan dari DNA alamiahnya yang ada sebelumnya. 

Usaha yang berujung pada penciptaan DNA buatan ini sudah dimulai sejak tahun 1995 ketika JCVI mulai memetakan sekuen genetik dari genom Mycoplasma genitalium, sebuah bakteri dengan komplemen gen yang terkecil dari antara organisme yang dikenal, yang dapat tumbuh secara independen dalam sebuah laboratorium.


 J. Craig Venter
  
Tim ilmuwan dari JCVI ini pertama-tama menciptakan suatu genom bakterial melalui sintesis larutan-larutan kimiawi, yang percampurannya diatur oleh informasi sekuen genetik yang sudah dibuat sebagai file digital melalui sebuah komputer. Informasi genomik digital ini memberi instruksi genetik kepada campuran zat-zat kimiawi ini untuk berreaksi menghasilkan sebuah kehidupan, sungguh-sungguh suatu kehidupan buatan/artifisial, yang berasal dari zat-zat kimiawi yang mati.

Informasi digital genomik ini diperoleh dengan mengkopi informasi genetik yang terdapat dalam suatu genom alamiah yang sudah ada, dalam hal ini genom alamiah yang terdapat di dalam Mycoplasma mycoides. Untuk mencirikan bahwa yang dihasilkan adalah genom sintetis, dan untuk membedakannya dari genom alamiah, genom sintetis Mycoplasma mycoides diberi “tanda-tanda” (watermarks) yang non-fungsional, yang tak berpengaruh, sehingga genom sintetis ini dapat dibedakan dari genom alamiah yang liar.



Sebagai langkah kedua, tim ini menggunakan sebuah teknik transfer nuklir yang sudah dikenal (yang dipakai dalam IVF) untuk mentransplantasi genom sintetis Mycoplasma mycoides ini ke dalam suatu bakteri alamiah Mycoplasma capricolum yang sudah dibersihkan dari DNA alamiah yang ada semula di dalam selnya. Ketika sudah ditransplantasikan, genom Mycoplasma mycoides langsung membuat sel-sel bakterial penerimanya “bekerja” dan 14 gene di dalam genome sintetis Mycoplasma mycoides lenyap. 

Di dalam sel yang sudah menerima genom sintetis ini, tim ilmuwan JCVI tidak menemukan sekuen apapun di dalam genom sintetisnya yang dapat diidentifikasi sebagai sekuen Mycoplasma capricolum (sel penerima transplantasi); kenyataan ini memperlihatkan bahwa genom alamiah Mycoplasma capricolum sudah diganti seluruhnya oleh genom sintetis selama proses transplantasi berlangsung. Sel-sel yang hanya berisi genom sintetis ini ternyata mereplikasi diri, memperbanyak diri dalam bentuk dan sifat yang sama dengan sel semula, dan menunjukkan kemampuan bertumbuh secara algoritmis. 

Craig Venter menyatakan, “Ini adalah sel sintetis pertama yang telah dibuat, dan kami menyebutnya sintetis karena sel ini seluruhnya dihasilkan dari suatu kromosom sintetis, yang dibuat dari empat botol larutan kimiawi pada sebuah synthesizer kimiawi, yang diawali oleh informasi di dalam sebuah komputer.” Ketika ditransplantasikan, DNA sintetis ini memang memakai sitoplasma alamiah non-sintetis dari sel-sel penerima, sitoplasma yang sudah dikosongkan dari DNA alamiah aslinya. 

Penciptaan DNA sintetis, dan proses mentransplantasi DNA sintetis ini ke dalam suatu sel bakteri yang kemudian mampu tumbuh dan mereplikasi diri, yang telah dilakukan oleh tim JCVI, sesungguhnya adalah suatu langkah revolusioner dalam sains biologi molekuler dan teknik perekayasaan genetik. 

Tim ini menyatakan, “Pendekatan kami dalam menghasilkan genom sintetis berkontras tajam dengan berbagai macam pendekatan lain terhadap perekayasaan genetik yang memodifikasi genom alamiah melalui beranekaragam susupan, substitusi, atau penghilangan. Karya kami ini menyediakan sebuah bukti atas bekerjanya konsep kami dalam menghasilkan sel-sel yang didasarkan pada sekuen-sekuen genomik yang dirancang oleh komputer. Pemetaan sikuen DNA dari sebuah genom sel memungkinkan instruksi-instruksi genetik penghasil kehidupan disimpan sebagai sebuah data digital. Genome sintetis yang digambarkan di sini memiliki hanya modifikasi yang terbatas jika dibandingkan dengan genom alamiah Mycoplasma mycoides. Bagaimanapun juga, pendekatan yang kami telah kembangkan ini harus dapat diaplikasikan pada sintesis dan transplantasi lebih banyak genom baru sementara desain genom mengalami kemajuan.”

Tim JCVI menyatakan bahwa “jika metode yang digambarkan di sini dapat digeneralisasi, maka desain, sintesis, perpaduan, dan transplantasi kromosom sintetis tidak akan lagi menjadi suatu hambatan bagi kemajuan biologi sintetis.”  

Menyusul hasil karya revolusioner ini, tim JCVI memiliki rencana untuk menerapkan teknik rekayasa genetik yang serupa dalam menghasilkan sel-sel sintetis lainnya: sebuah ganggang yang akan bisa menyerap karbon dioksida dan mengeluarkan hidrokarbon untuk bahan bakar biologis; produksi vaksin dalam tempo yang lebih cepat; pembersihan air dan limbah air; dan pemakaian energi cahaya untuk menciptakan gas hidrogen dari air. 

Tentu langkah revolusioner tim JCVI ini dalam dunia sains biologi molekuler menimbulkan sejumlah masalah filosofis dan etis yang sangat serius. Craig Venter sendiri menyatakan, “Hemat kami, ini adalah sebuah langkah penting, baik secara saintifik maupun secara filosofis. Dengan pasti langkah kami ini telah mengubah pandangan-pandangan saya mengenai definisi tentang kehidupan dan tentang bagaimana kehidupan bekerja.” Tim ini mengantisipasi invensi mereka akan terus mengangkat isu-isu filosofis yang memiliki implikasi sosial dan etis yang luas, dan mereka mendorong wacana yang sinambung tentang ini. 

Pada situsweb JCVI, tertulis demikian, “Kemampuan untuk dengan rutin menulis perangkat lunak kehidupan, akan mendatangkan suatu era baru dalam sains, dan bersamaan dengan ini, akan dihasilkan produk-produk dan aplikasi-aplikasi baru seperti bahan bakar biologis, teknologi air bersih, dan vaksin-vaksin dan obat-obatan baru. Sains di bidang ini telah memberikan suatu dampak pada beberapa bidang tersebut dan akan terus demikian sejauh bidang sains baru ini yang memiliki kekuatan luar biasa digunakan dengan bijaksana. Tinjauan dan dialog yang intensif dan terus-menerus dengan semua segi kehidupan masyarakat, dari Kongres ke bioetikus sampai ke masyarakat awam, perlu dilakukan untuk membuat bidang kajian ini berkembang.”

Mark Bedau, professor filsafat dan humanitas, dari Reed College, Oregon, USA, menyatakan, “Kita kini memiliki sebuah kesempatan yang tak pernah ada sebelumnya untuk mempelajari kehidupan. Ketika kita sekarang telah memiliki suatu kendali penuh atas informasi dalam sebuah genom, tersedialah bagi kita suatu kesempatan fantastis untuk menyibak rahasia-rahasia yang masih tertinggal mengenai bagaimana informasi genetik ini bekerja.” Katanya juga, “Suatu genom buatan telah mempercepat jalannya hari untuk kita tiba pada saat di mana bentuk-bentuk kehidupan dapat seluruhnya dibuat dari bahan-bahan material yang mati. Pada dirinya sendiri, hal ini akan merevitalisasi pertanyaan-pertanyaan abadi tentang signifikansi kehidupan—apa kehidupan itu, mengapa kehidupan itu penting, dan peran apa yang harus dimainkan manusia di masa depan kehidupan?” 


Pendek kata, kehidupan dimulai oleh suatu reaksi kimiawi di dalam alam, bukan saja di Bumi tetapi juga di antariksa, yang berlangsung natural. Selanjutnya kehidupan yang sudah dihasilkan oleh larutan-larutan kimiawi yang berreaksi, harus berkembang, dan hukum selanjutnya yang mengatur perkembangan ini adalah hukum evolusi biologis alamiah, yang bekerja melalui seleksi alamiah. Kini, berkaitan dengan kehidupan dalam alam, ada dua nama besar: J. Craig Venter dan Charles Darwin.

Poin terpentingnya adalah: J. Craig Venter dkk telah berhasil menciptakan kehidupan, LIFE, lewat persenyawaan zat-zat kimiawi yang mati. Life begins not with soul, but with chemistry. Bahwa Venter menggunakan sitoplasma alamiah, sama sekali bukan persoalan, sebab DNA alamiah dalam sitoplasma alamiah ini sudah dikosongkan sama sekali, dan DNA artifisial yang hidup menggantikannya. Di mana tempat suatu allah sang pencipta dalam asal-muasal dan proses kehidupan dalam alam, kelihatan jelas akan makin sempit dan tersisih. 

(Tulisan ini, dalam versi pendek, telah terbit di Koran Tempo edisi 22 Oktober 2010 hlm. A11 dengan judul “Ketika Kehidupan Buatan Berhasil Diciptakan”; bisa juga dibaca di situs ini.)


Sumber-sumber
 
(1) http://www.sciencemag.org/cgi/content/abstract/science.1190719.
(2) http://io9.com/5543843/scientists-create-artificial-life-+-synthetic-dna-that-can-self+replicate.
(3) http://www.nature.com/nature/journal/v465/n7297/pdf/465422a.pdf.
(4) http://www.nature.com/nbt/journal/v28/n7/full/nbt0710-687.html.
(5) http://www.jcvi.org/cms/research/projects/first-self-replicating-synthetic-bacterial-cell/overview/
 

Monday, September 20, 2010

“Tubuh” Yesus Yang Bangkit menurut Rasul Paulus


Kebangkitan Yesus, suatu konvergensi warna-warni berbagai faktor


Orang yang berhak, dan pantas, menduduki posisi utama dan tertinggi dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja awal  yang berdiri tak lama sesudah kematian Yesus, haruslah orang yang diberi kesempatan istimewa dan khusus untuk berjumpa tatap muka dengan Yesus yang sudah dibangkitkan! Maka disusunlah kisah-kisah semacam ini!

N.B. diedit 8 April 2021
20 September 2010

Pendahuluan

Untuk mengkaji topik yang menjadi judul tulisan ini, secara metodologis orang haruslah tidak memulainya dari teks-teks injil-injil Perjanjian Baru, melainkan harus dari teks-teks Rasul Paulus yang ditulis beberapa dekade sebelum penulisan kitab-kitab injil. 

Akan ditelusuri dalam tulisan ini ihwal apa yang dimaksud Rasul Paulus pada masanya ketika dia menyebut “tubuh rohaniah” (Yunani: sōma pneumatikon) sebagai tubuh yang dimiliki Yesus setelah Dia dibangkitkan dari antara orang mati. 

Untuk menemukan apakah gagasan Paulus tentang “tubuh rohaniah” sebagai tubuh orang yang sudah dibangkitkan dari kematian tetap bertahan pada era sesudahnya, kisah-kisah injil Perjanjian Baru tentang penampakan-penampakan diri Yesus sesudah kebangkitan-Nya juga harus diperhatikan.

Orang Kristen umumnya cenderung mengelak ketika kepada mereka ditanyakan bagaimana atau apa wujud “tubuh rohaniah” yang digagas Rasul Paulus. Bagi mereka, wujud atau rupa atau hakikat tubuh semacam ini berada di luar pengetahuan manusia, tak dapat dijangkau oleh sains, sehingga tinggal hanya dipercaya keberadaannya dan juga tinggal diharapkan dimiliki nanti di akhir zaman ketika orang-orang Kristen yang sudah mati dibangkitkan, untuk dipersatukan dengan Yesus Kristus dan diberi tubuh yang sama dengan tubuh-Nya yang mulia. 

Tapi tak sedikit juga orang Kristen memgembangkan imajinasi mereka dengan liar sehingga jadilah “tubuh rohaniah” ini dipandang sebagai gabungan atau hibrid tubuh jasmaniah (tubuh protoplasmik) yang dimiliki selama kehidupan mereka di dunia dan “tubuh kemuliaan” yang, kata mereka, akan diberi hanya ketika mereka sudah dibangkitkan dan masuk sorga.

Penggabungan seperti itu pastilah didorong oleh suatu kesadaran bahwa jika Yesus yang telah dibangkitkan masih sepenuhnya memiliki tubuh organik biologis (tubuh protoplasmik) yang sama dengan tubuh sebelum Dia dibangkitkan, maka Yesus yang sudah dibangkitkan pastilah akan mati lagi (ini suatu hukum biologis yang tak terelakkan). Menurut Paulus, setelah dibangkitkan dan menerima tubuh kebangkitan, Yesus tidak mati lagi, maut tidak berkuasa lagi atas Yesus (Roma 6:9). Dengan kata lain, Paulus mau menegaskan bahwa tubuh Yesus yang sudah dibangkitkan bukan tubuh biologis protoplasmik.

Ya, jika Yesus yang sudah mati, dihidupkan atau dibangkitkan lagi dengan tubuh atau daging yang sama, atau mayat Yesus dihidupkan lagi, namanya bukan "resurrection", tapi "resuscitation". 

Betul sekali bahwa "bodily resurrection" hanya akan membuat Yesus mati lagi sesudah kebangkitan-Nya. Konsekuensi logis ini mereka mau atasi dengan berbagai cara imajinatif. Ya, baguslah. Setiap teologi memang memerlukan imajinasi yang kreatif.

Pada kesempatan ini sesungguhnya mau ditunjukkan bahwa wujud atau hakikat “tubuh rohaniah” yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus dapat ditemukan lewat kajian-kajian kritis lintasilmu atas teks-teks Perjanjian Baru yang relevan, sebagaimana akan diperlihatkan dalam uraian berikut. 

Juga akan diperlihatkan terjadinya pergeseran atau perubahan pandangan mengenai wujud “tubuh kebangkitan”: semula (oleh Paulus) dipercaya hanya “rohaniah”, tetapi kemudian dipandang bersifat “ragawi” atau “material” (seperti dipercaya para penulis injil-injil Perjanjian Baru). 

Pertanyaan yang menarik untuk dijawab adalah mengapa pergeseran pandangan ini terjadi. Faktor-faktor apa saja yang telah berperan? 

Tulisan ini bukan tulisan tentang iman pada kebangkitan Yesus, melainkan tentang mengapa dan bagaimana iman ini bisa muncul, dengan memakai pendekatan lintasilmu.

Dari mana Rasul Paulus memperoleh injilnya?

Baiklah kita mulai dengan sebuah pernyataan Rasul Paulus dalam surat Galatia 1:11-12 ihwal sumber injil yang diberitakannya.

“Sebab aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah Injil menurut manusia. Karena aku tidak menerima (Yunani: paralambanō) Injil ini dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui penyataan (Yunani: di’ apokalupseōs) Yesus Kristus.”

Kata kerja paralambanō (= menerima) dapat berarti menerima suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis dari orang lain sebelumnya tentang suatu kejadian historis. Tetapi dalam teks Galatia 1:11-12 ini Rasul Paulus dengan sangat jelas menyatakan bahwa dia menerima injil bukan dari manusia, melainkan dari “penyataan” (atau “wahyu”; Yunani: apokalipsis) yang disampaikan oleh Yesus Kristus kepadanya.

Bagaimana cara Rasul Paulus menerima penyataan dari Yesus Kristus? Paulus dalam 1 Korintus 9:1, melalui sebuah pertanyaan retoris, menyatakan bahwa dia telah melihat (horaō) Tuhan. Menurut lexikon BDAG/1/, kata kerja horaō selain berarti “melihat dengan mata”, juga berarti “melihat suatu penglihatan” atau “melihat secara mental atau secara spiritual.”

Dalam 2 Korintus 12:1-4 Rasul Paulus mengisahkan tentang seseorang, yang tidak lain adalah dirinya sendiri, yang telah menerima “penglihatan-penglihatan (optasias) dan penyataan-penyataan (apokalupseis)” “dari Tuhan” (kyriou) ketika dirinya, empat belas tahun sebelumnya, mengalami suatu perjalanan mistik masuk ke langit ketiga, ke Firdaus, dan di Firdaus ini dia “mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tak boleh diucapkan manusia.”

Tampaknya apa yang dimaksud Paulus tentang hal-hal “yang tak terkatakan dan yang tak boleh diucapkan manusia” itu adalah injil yang diterima dan diberitakan olehnya. Dalam Roma 16:25-26 kita baca,

“Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan penyataan (apokalupsis) rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan (fanerōthēnai) dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman.”

Jadi, kita dapat dengan pasti menyatakan bahwa injil yang Rasul Paulus beritakan adalah injil yang diterimanya melalui suatu penyataan atau penglihatan mistikal, bukan melalui suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis tentang suatu peristiwa sejarah, yang disampaikan kepadanya lewat orang lain. 

Selain itu, melalui penafsiran kitab-kitab para nabi, injil ini dapat ditemukan, karena sebelumnya, pada zaman lampau, injil ini telah diberitakan oleh para nabi dalam kitab-kitab mereka atas perintah Allah. 

Jadi, Rasul Paulus menemukan apa isi injilnya lewat pengalaman mistikal dan lewat penafsiran (midrash) teks-teks para nabi Perjanjian Lama. 

Dia menafsirkan pengalaman mistikalnya lewat metode midrash, sesuai dengan praktek-praktek kalangan terpelajar di "sekolah-sekolah" agama pada masanya yang mencari teks-teks dalam kitab suci Ibrani lalu mencocokkan teks-teks tersebut dengan hal-hal atau kejadian-kejadian tertentu yang dialami.

Selanjutnya, tentang injil yang diberitakannya, dalam 1 Korintus 15:1-9 Rasul Paulus menulis:

“(1) Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri…. (3) Sebab yang sangat penting telah kusampaikan (paredōka) kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima (parelabon) sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan kitab suci (kata tas grafas), (4) bahwa Dia telah dikuburkan, dan bahwa Dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci; (5) bahwa Dia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. (6) Sesudah itu Dia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. (7) Selanjutnya Dia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. (8) Dan yang paling akhir dari semuanya Dia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti anak yang lahir sebelum waktunya. (9) Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya jemaat Allah.”

Dalam 1 Korintus 15:3 yang sudah dikutip di atas, Paulus menyatakan bahwa dia “menyampaikan” (paradidōmi) apa yang dia telah “terima” (paralambanō). 

Tentu dua kata kerja ini, paradidōmi dan paralambanō, dapat berarti bahwa Paulus “menyampaikan” suatu tradisi lisan atau suatu tradisi tertulis tentang suatu kejadian historis, yang dia sebelumnya “telah terima” dari orang lain. 

Tetapi, seperti telah dicatat di atas, injil yang Paulus beritakan atau sampaikan bukanlah injil sebagai suatu tradisi yang dia telah terima dari orang lain (atau dari rasul-rasul sebelumnya), melainkan injil yang dia telah terima melalui suatu penyataan mistikal yang diberikan Yesus Kristus, dan yang maknanya dapat ditemukan melalui penafsiran kitab suci, khususnya kitab-kitab para nabi. 

Konsisten dengan ini, dalam 1 Korintus 11:23-26, ketika mengacu ke perjamuan malam Yesus Kristus, Rasul Paulus membuka ucapannya dengan perkataan: “Sebab apa yang telah kuteruskan (paredōka) kepadamu, telah aku terima (parelabon) dari Tuhan….”

Dan injil yang dia telah terima ini, dia juga telah sampaikan bukan sebagai sebuah tradisi atau sebuah ajaran dari orang lain, melainkan sebagai ajarannya sendiri, yang berasal "dari Tuhan" di Firdaus. 

Kata benda paradosis (dari kata kerja paradidōmi), yang menurut BDAG berarti “tradisi atau isi ajaran yang disampaikan kepada orang lain,” dalam 1 Korintus 11:2 dan 2 Tesalonika 3:6 menunjuk ke tradisi atau ajaran langsung dari Rasul Paulus sendiri. Dalam 1 Tesalonika 4:2 Paulus menyebut “petunjuk-petunjuk” (paraggelias) yang dia sendiri telah berikan kepada jemaat atas nama atau dalam kewibawaan Tuhan Yesus.

Dalam 1 Korintus 15:3-4 Rasul Paulus memperinci apa isi injil yang diberitakan olehnya, yakni:

• bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita sesuai dengan kitab suci,

• bahwa Dia telah dikuburkan, dan

• bahwa Dia telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci.

Dalam ayat-ayat ini dengan jelas Rasul Paulus menyatakan bahwa isi injilnya ini adalah “sesuai dengan kitab suci”, kata tas grafas, yang juga berarti “sebagaimana kita ketahui dari kitab suci”, yang ditafsirkan secara baru dan diinspirasi atau diilhami atau “dinafasi” atau “dibuat hidup” oleh Roh Kudus. 

Earl Doherty/2/ menyatakan bahwa teks-teks profetis dalam Perjanjian Lama yang mengilhami Rasul Paulus untuk memberi isi pada injilnya adalah Yesaya 53 (tentang kematian yang menebus dosa), Hosea 6:2 (tentang kebangkitan setelah tiga hari), Mazmur 119:120; Mazmur 22:16; dan Zakharia 12:10.

Dalam 1 Korintus 15:4b Rasul Paulus mengungkapkan isi salah satu bagian dari injilnya, yakni bahwa Yesus Kristus telah dibangkitkan pada hari yang ketiga, sesuai dengan kitab suci. Sudah ditegaskan di atas bahwa injil yang Paulus beritakan tidak diterima olehnya dari suatu tradisi historis (lisan atau pun tertulis), tetapi lewat suatu penglihatan mistikal yang diberikan oleh Yesus Kristus, dan melalui suatu pembacaan secara baru atas kitab-kitab para nabi. 

Jadi, ringkasnya, injil yang disampaikan Paulus bahwa Kristus telah dibangkitkan pada hari ketiga sama sekali bukan sebuah kabar baik yang disampaikan berdasarkan suatu kejadian sejarah yang dia saksikan sendiri, tetapi berdasarkan suatu visi atau penglihatan mistikal dan melalui pembacaan kristologis secara baru Hosea 6:2.

Peristiwa hanya dalam iman

Jika halnya demikian, seperti dilihat oleh Earl Doherty,/3/ pantaslah jika di beberapa tempat dalam surat-suratnya Rasul Paulus dengan sangat jelas mengindikasikan bahwa kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati adalah suatu perkara dalam dunia iman saja, bukan suatu kejadian sejarah dalam suatu dunia objektif material. Mari kita perhatikanlah teks-teks lainnya, sebagai berikut:

“Karena jika kita beriman bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita beriman juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4:14)

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9)

“Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sia juga kepercayaan kamu…. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu.” (1 Korintus 15:14, 17a)

Tubuh rohaniah etherial

Karena kebangkitan Yesus Kristus, sebagai salah satu isi injil Paulus, adalah sesuatu yang diketahuinya lewat pengalaman penglihatan atau lewat suatu visi mistikal yang diberikan Yesus Kristus, maka “tubuh” Yesus yang sudah dibangkitkan, yang diklaim “dilihat” Rasul Paulus (1 Korintus 9:1; 15:8), tentu bukanlah suatu tubuh material protoplasmik yang dimiliki oleh setiap manusia biasa. Sudah dicatat di atas, bahwa Rasul Paulus mengklaim dirinya “melihat” Tuhan (1 Korintus 9:1), “melihat” dalam arti spiritual dan mental, bukan dengan mata jasmaniah biasa. 

Maka tepatlah jika Rasul Paulus menyebut “tubuh” kebangkitan sebagai “tubuh rohaniah” (sōma pneumatikon) yang berbeda dari tubuh alamiah atau tubuh jasmaniah (sōma psukhikon) (1 Korintus 15:44), atau sebagai “tubuh sorgawi” (sōma epouranios) yang berbeda dari tubuh duniawi (sōma epigeios) (ayat 40). Di sini, Paulus tidak berbicara tentang biologi, tapi tentang teologi.

Dalam Filipi 3:20-21, Rasul Paulus juga menyebut “tubuh kebangkitan” Yesus sebagai tubuh non-material, “tubuh yang mulia” (to sōma tēs doksēs). 

Di luar surat-surat asli Paulus, rujukan kepada “tubuh rohaniah” atau “tubuh sorgawi” Yesus-yang-bangkit ditemukan antara lain dalam 1 Petrus 3:18-22 (“Dia [= Yesus Kristus], yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi telah dibangkitkan menurut roh [pneumati]), dalam Efesus 1:20 (“… dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga”), dan dalam Ibrani 10:12; 13:20 yang menunjukkan penulisnya tidak mengenal konsep tentang kebangkitan daging.

Kembali ke pertanyaan ini: Bagaimana wujud “tubuh rohaniah” yang dibayangkan Rasul Paulus ini, yang bukan “tubuh berdaging” atau “tubuh jasmaniah”, yang dapat “dilihat” olehnya lewat suatu visi atau penglihatan mistikal? Tentang ini, Richard Carrier membuat sebuah obervasi menarik berikut:

“Gagasan bahwa jiwa tidak memiliki massa, bahwa jiwa bukan ‘tubuh’ dengan lokasi, yang terbuat dari materi, tidaklah lazim di dunia kuno, tidak seperti pada zaman sekarang. 

Sebetulnya, gagasan umum tentang suatu jiwa yang tak memiliki massa, jiwa yang immaterial, pada dasarnya adalah suatu produk pemikiran Abad Pertengahan, meskipun gagasan ini telah memiliki suatu tempat embrionik di dalam Platonisme dan kultus-kultus pagan tertentu. 

Jadi, adalah mungkin bahwa Paulus dan orang-orang Kristen perdana lainnya percaya bahwa sang Kristus yang telah bangkit memiliki sebuah ‘tubuh’ baru, meskipun kini terbuat dari bahan yang tak bisa binasa…. 

Pada masa kehidupan Paulus, tubuh baru ini pastinya dipandang terbuat dari zat etherial murni dan homogen, zat-zat yang membentuk kawasan angkasa, yang umum dikenal oleh semua pemikir pada masa itu sebagai satu-satunya zat yang tidak dapat dihancurkan dan tidak dapat berubah, di dalam jagat raya.”/4/

Nah, “tubuh etherial” semacam ini, yakni “tubuh rohaniah” namun memiliki “substans” atau “zat”, dipercaya oleh orang Yunani-Romawi pada era kekristenan perdana sebagai tubuh para dewa atau para malaikat. 

Relevan dengan ini, perlu diingat, dalam Markus 9:2-8 ada sebuah kisah tentang Yesus berubah rupa, mengalami transfigurasi (Latin: transfiguratio; Yunani: metamorfē), di sebuah gunung yang tinggi, pada saat mana juga muncul Elia dan Musa yang bisa “dilihat” oleh murid-murid Yesus yang hadir (Petrus, Yakobus dan Yohanes) dan, karena penglihatan ini, mereka mengalami ketakutan luar biasa; tetapi kedua orang zaman lampau ini kemudian menghilang lagi begitu saja.

Walaupun sama sekali tidaklah jelas bagaimana ketiga murid Yesus ini bisa mengenali wajah Elia dan Musa yang mereka tidak pernah jumpai, namun kejadian ini dikisahkan sedemikian rupa, dan pengisahan yang semacam ini harus membuat pembaca menyimpulkan bahwa peristiwa yang dikisahkan ini adalah suatu peristiwa penglihatan atau suatu visi. 

Bisa jadi kisah ini semula adalah kisah tentang suatu penampakan Yesus sesudah kebangkitan-Nya (dalam tubuh-Nya yang sudah “berubah”, bertransfigurasi, mengalami metamorfē), yang dilihat para murid dalam suatu penglihatan mistikal. Kisah penampakan mustinya muncul di bagian-bagian akhir kitab-kitab injil; tetapi kisah yang satu ini ada di Markus 9. Salah penempatankah?

Yang sangat jelas dalam kisah ini, Elia dan Musa digambarkan masing-masing memiliki suatu “tubuh” yang tidak biasa, yang bisa dilihat namun sebentar kemudian lenyap begitu saja, yang kemunculannya juga tak diduga-duga sebelumnya oleh para murid penyaksi. Segera kita teringat pada kisah-kisah penampakan Yesus dalam bagian-bagian akhir kitab-kitab injil, yang paralel dengan kisah penampakan Elia dan Musa tersebut di atas.

Jadi, ada alasan untuk menyatakan bahwa konsep kuno tentang zat etherial alam semesta melatarbelakangi baik pemikiran Rasul Paulus tentang “tubuh rohaniah” yang dikatakannya sebagai tubuh Yesus yang sudah dibangkitkan, sebagai suatu prototipe “tubuh yang diubah” dari orang-orang lain yang nanti akan mengalami kebangkitan, maupun kisah transfigurasi Yesus dan penampakan Elia dan Musa dalam Markus 9:2-8. 

Tapi tentu saja harus dicatat, konsep kuno zat etherial semesta ini sudah usang, bahkan salah. Dalam zaman sekarang, kita tidak lagi berpikir bahwa alam semesta dipenuhi zat etherial,/5/ tetapi dipenuhi gelombang dan energi elektromagnetik dan partikel cahaya yang disebut foton, juga materi gelap, energi gelap, plasma, cahaya kosmik, dll. 

Dengan demikian, konsep Paulus tentang tubuh kebangkitan sebagai tubuh rohaniah ethereal juga sebuah konsep yang sudah usang, jika dilihat dari sudut fisika modern!

Tetapi jika kita harus percaya bahwa Rasul Paulus memang sungguh-sungguh “melihat” Yesus yang sudah bangkit dalam suatu penglihatan mistikal atau dalam suatu visi/6/, adakah alternatif lain untuk kita pikirkan sebagai “wujud” tubuh rohaniah ini, yang bukan tubuh etherial?

Antara “fantasma” dan “bodily resurrection”

Dalam hal ini, sebagaimana disarankan oleh James G. Crossley, teks Markus 6:49-50 patut dipertimbangkan./7/ 

Di perikop itu penulis Injil Markus menuturkan bahwa pada jam tiga malam murid-murid melihat Yesus berjalan di atas air, hendak melewati mereka yang sedang berperahu dengan susah payah karena angin sakal. Segera mereka mengira bahwa Yesus adalah fantasma (kata Yunani) atau "penampakan seperti kabut" atau "penampakan bayang-bayang". Sayangnya, oleh LAI fantasma diterjemahkan "hantu", yang sebetulnya bermakna lain, yakni roh jahat. Selanjutnya dikisahkan bahwa murid-murid Yesus berteriak-teriak karena kaget dan takut luar biasa. 

Teks ini menunjukkan bahwa pada era kekristenan perdana, ada kepercayaan bahwa fantasma itu terlihat, memiliki suatu wujud kongkret, dan melakukan gerakan-gerakan tanda hidup.

Tampaknya pada awalnya kepercayaan bahwa Yesus-yang-sudah-bangkit memiliki tubuh yang kasat mata sebagai fantasma, non-material tetapi berwujud (ghostly and bodily, atau apparition), sudah cukup meluas beredar. 

Tetapi penulis Injil Lukas (di tahun 85) merasa perlu untuk menangkis kepercayaan ini. 

Lukas menulis dalam pasal 24:36-43 bahwa untuk menepis sangkaan para murid-Nya bahwa Yesus sesudah kebangkitannya berubah menjadi “fantasma” atau “roh” (pneuma)/8/ yang kelihatan nyata, Yesus, dalam ayat 39, dibuat oleh Lukas berkata, “Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabahlah Aku dan lihatlah, karena fantasma tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” 

Dalam suratnya, Kepada Jemaat di Smyrna 3.2, Ignatius melaporkan perjumpaan Yesus yang sudah bangkit dengan murid-murid-Nya dalam suatu bentuk yang dekat dengan yang dikisahkan dalam Lukas 24:36-43, tetapi tidak menunjukkan ketergantungan:

“Dan ketika Dia datang kepada mereka bersama Petrus, Dia berkata kepada mereka: ‘Peganglah, sentuhlah Aku dan lihatlah bahwa Aku bukanlah fantasma tanpa tubuh.’ Maka mereka segera menyentuh-Nya dan percaya, bahwa Dia tampil utuh sebagai daging dan roh... Dan setelah kebangkitan-Nya, Dia makan dan minum bersama mereka sebagai suatu makhluk berjasad, meskipun Dia dipersatukan dalam roh dengan sang Bapa.”

Ringkas kata, pada era injil-injil Perjanjian Baru ditulis, beberapa dekade setelah masa aktif Rasul Paulus, “Yesus yang bangkit” tidak lagi dipahami dan dipandang sebagai Yesus yang memiliki “tubuh rohaniah”, yang hanya bisa dilihat lewat pengalaman visioner atau mistikal (seperti yang dialami Rasul Paulus), tapi sebagai Yesus yang memiliki tubuh kebangkitan yang nyata dan material.

Komunitas Yohanes dan komunitas Thomas 

Dalam injil-injil Perjanjian Baru, tubuh kebangkitan Yesus secara kronologis (mulai dari Injil Markus di tahun 70, sampai ke Injil Yohanes di tahun 95) digambarkan semakin material, dan paling nyata sifat materialnya dalam Injil Yohanes. 

Pengisahan yang makin material ini oleh para penulis injil, khususnya oleh penulis Injil Yohanes, tentu memiliki suatu maksud dan tujuan yang real.

Gregory J. Riley, dalam bukunya Resurrection Reconsidered,/9/ memperlihatkan bahwa perlawanan berbagai bentuk kekristenan gnostik terhadap gagasan kekristenan anti-gnostik (proto-ortodoks) tentang “kebangkitan ragawi” Yesus, telah mendorong ditulisnya kisah-kisah injil tentang penampakan Yesus secara ragawi dan material setelah kebangkitan-Nya. 

Kisah dalam Injil Yohanes tentang Rasul Thomas yang tidak mau percaya bahwa Yesus sudah bangkit secara ragawi kecuali kalau dia sudah bisa menyentuh daging dan bekas luka-luka Yesus, yang ditutup dengan sebuah pernyataan “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:24-29), menyingkapkan kontroversi yang timbul di sekitar ihwal tubuh kebangkitan Yesus antara komunitas (gnostik) Thomas dan komunitas Yohanes yang anti-gnostik atau anti-doketik. 

Dalam tahap belakangan perkembangannya, komunitas Kristen Thomas menjadi komunitas Kristen gnostik yang bermental “sarkofobik” atau “anti-raga” (menolak raga, dan memandangnya sebagai “penjara jiwa” yang harus dilepaskan jika orang ingin masuk ke dalam keselamatan). Pada tahap ini, komunitas Thomas tidak bisa menerima pandangan Kristen proto-ortodoks Perjanjian Baru bahwa Yesus dibangkitkan “secara ragawi”, bukan hanya secara rohaniah. Dalam Kitab Thomas 143.10f, termuat sebuah kutukan, “Celakalah kalian yang berharap pada daging, dan pada penjara yang akan binasa!”

Komunitas Thomas dan komunitas Yohanes tumbuh, tulis Riley, “dalam percakapan satu sama lain, yakni, dalam suatu kondisi perkembangan timbal-balik dan debat atas, antara lain, topik tentang kebangkitan ragawi.”/10/




Untuk memastikan bahwa Yesus sesudah kebangkitan-Nya memakai tubuh material, Rasul Thomas sampai harus mencucukkan jarinya ke bagian-bagian tubuh Yesus yang luka, yang sedang berdiri di antara sebelas rasul lainnya


Pertarungan kepemimpinan

Orang tak akan luput melihat bahwa pandangan Lukas bahwa Yesus bukan fantasma, tetapi bertubuh kongkret lengkap dengan daging dan tulang, malah juga bisa memakan sesuatu (Lukas 24:43; bdk. Yohanes 21:12-14), sudah jauh meninggalkan konsep Rasul Paulus yang tidak mengenal baik gagasan tentang “kubur kosong” maupun gagasan tentang “kebangkitan daging” dan “penampakan ragawi”. 

Gagasan-gagasan injil yang semacam ini, yang muncul belakangan, termasuk kisah-kisah penampakan Yesus yang sudah bangkit secara ragawi, sesungguhnya bisa dijelaskan kemunculannya secara sosiologis: gagasan-gagasan ini diajukan oleh para penulis injil-injil dalam Perjanjian Baru ketika para rasul utama dalam kekristenan perdana sedang terlibat dalam suatu pertarungan religiopolitis memperebutkan posisi utama dalam hierarki kepemimpinan gereja awal. 

Dalam pertarungan ini, orang yang berhak, dan pantas, menduduki posisi utama dan tertinggi dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja awal yang berdiri tak lama sesudah kematian Yesus, haruslah orang yang diberi kesempatan istimewa dan khusus untuk berjumpa tatap muka dengan Yesus yang sudah dibangkitkan! Maka disusunlah kisah-kisah semacam ini! 

Tafsiran sosiologis yang impresif ini dipertahankan banyak pakar Perjanjian Baru.

John Dominic Crossan berpendapat bahwa kisah-kisah injil dalam Perjanjian Baru tentang penampakan-penampakan Yesus dan tentang penyataan-penyataan yang diberikan-Nya, secara perlahan dan bertahap menggeser penekanan terhadap pemberian penyataan-penyataan ini secara konsisten dan hierarkis, mulai dari komunitas secara umum, lalu ke kelompok para pemimpin, sampai akhirnya ke hanya beberapa individu pemimpin khusus yang memegang otoritas apostolis./11/ 

Helmut Koester menyatakan, “kisah-kisah kesengsaraan yang ditulis, yang beredar, dan juga tulisan-tulisan yang menjadi injil-injil, menyingkapkan suatu kepentingan politis.”/12/ 

Werner Kelber juga menegaskan bahwa jenis kisah-kisah penampakan Yesus setelah kebangkitan-Nya, yang mengisi kitab-kitab injil Perjanjian Baru khususnya, cocok untuk menetapkan dan meningkatkan pengetahuan esoteris dan otoritas apostolis./13/

Dalam komunitas Yahudi-Kristen yang muncul dan berpusat di Yerusalem tak lama setelah kematian Yesus, figur yang dipandang sebagai saksi pertama dan utama atas kebangkitan Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam Injil Orang Ibrani 9 (bdk. 1 Korintus 15:7), adalah Yakobus si Adil, “saudara Yesus” (lihat Galatia 1:19; Markus 6:3; Flavius Yosefus, Antiquitates 20.200), yang menjadi pendiri dan soko guru utama komunitas Yahudi-Kristen ini. 

Logika di balik tuturan itu jelas: karena pemimpin utama komunitas Yahudi-Kristen ini adalah Rasul Yakobus si Adil, maka kesempatan istimewa untuk menjadi saksi mata kebangkitan Yesus dan menerima wahyu, tentunya diberikan lebih dulu kepadanya, bukan kepada Maria Magdalena (yang menjadi saksi kebangkitan Yesus menurut Matius 28:1-10; Markus 16:9; Lukas 24:10; Yohanes 20:11-18) dan juga bukan kepada Rasul Petrus (yang menjadi saksi kebangkitan Yesus menurut 1 Korintus 15:5; Yohanes 20:1-10)./14/

Lintaszaman

Di lain pihak, dalam banyak kebudayaan kepercayaan pada adanya fantasma atau "penampakan bayang-bayang" (dari orang yang sudah mati) yang berjalan-jalan lalu menampakkan diri kepada manusia pasti dapat ditemukan, bahkan juga pada zaman modern sekarang ini. Bagaimana fenomena ini dapat dijelaskan secara saintifik?

Dengan berdasar pada pengetahuan-pengetahuan yang dihasilkan oleh antropologi lintas-budaya, lintas-agama dan psikososial, dan juga yang diperoleh dari kajian-kajian psikiatris modern terhadap kondisi-kondisi mental manusia ketika mengalami kedukaan dan kehilangan, Crossan menyimpulkan bahwa suatu visi atau suatu penglihatan mengenai fantasma, yakni mengenai orang yang sudah mati tetapi tampak hidup lagi dan aktif, adalah suatu kemungkinan yang umum terjadi pada manusia, suatu kemungkinan yang terhubung kuat, hard-wired, dengan fungsi otak kita, yang faktual terjadi di abad pertama dan di zaman modern./15/

Selain itu, dengan memperhatikan tulisan Virgil, Aeneid Buku 2, tulisan Justinus Martyr, 1 Apology 21, dan juga suatu bagian dari tulisan Celsus, On the True Doctrine, Crossan menyimpulkan bahwa di dalam kebudayaan Laut Tengah kuno, pada awal mula berdirinya kekristenan, penampakan-penampakan diri orang-orang yang sudah mati, dan kenaikan ke sorga orang-orang yang sudah mati tetapi hidup lagi, diterima sebagai kemungkinan-kemungkinan yang nyata, dan bukan sebagai kejadian-kejadian yang abnormal dan sepenuhnya unik./16/

Setelah mengkaji kisah-kisah tentang penampakan fantasma orang-orang yang sudah mati dalam kebudayaan Yunani klasik, kebudayaan Romawi, dan dalam teks-teks Yahudi, Thomas S. Verenna menyimpulkan bahwa kisah-kisah tentang fantasma adalah “fenomena kebudayaan”, dan tradisi serta kepercayaan tentang fantasmata orang-orang mati yang gentayangan “berakar pada fenomena psikologis dan fisikal yang sangat nyata” yang “dapat terjadi dalam aneka ragam bentuk.”/17/

Visi mental individual dan massal

Tentu tidak semua orang akan begitu saja mengklaim telah melihat fantasma orang-orang mati. Ada prakondisi-prakondisi psikologis patologis tertentu yang harus dialami seseorang sebelum dia bisa menerima suatu penglihatan atau suatu visi melihat fantasma, "penampakan bayang-bayang orang yang sudah mati", misalnya prakondisi psikologis sedang berduka sangat dalam karena kehilangan orang yang sangat dikasihi. 

Atau prakondisi psikologis terbuka pada pengalaman-pengalaman paranormal atau spiritual, berhubung yang bersangkutan memang menjalani suatu pergaulan yang intensif dengan kelompok-kelompok paranormal atau kelompok-kelompok spiritual tertentu yang memiliki buku-buku bacaan, keyakinan-keyakinan dan ritual-ritual spesifik. 

Apa yang dinamakan penglihatan mental atau visi psikologis akan dengan mudah dialami oleh orang-orang yang memiliki prakondisi-prakondisi sosio-psikologis semacam itu. 

Penglihatan akan fantasma tentu saja tergolong penglihatan individual, sebab fantasma yang sama bisa tidak terlihat oleh orang lain yang ada bersama dengan orang yang sedang mengalami visi ini.

Dalam suatu kajian tentang fenomena visi psikologis dalam lingkungan kehidupan orang-orang Kristen perdana, Richard Carrier menyatakan bahwa orang-orang Kristen perdana kerap secara teratur mengalami visi-visi psikologis ini yang menyebabkan mereka juga menerima penyataan-penyataan yang serupa dengan yang diterima Rasul Paulus yang sebelumnya memang juga pernah mengalaminya./18/ 

Carrier menulis, “pengalaman-pengalaman penglihatan mental yang jelas, terdokumentasi dengan baik di sepanjang semua tradisi keagamaan, di sepanjang sejarah, dan tampaknya otak manusia secara khusus terhubung dengan pengalaman-pengalaman ini.”/19/ 

Menurut Slade dan Bentall, yang dirujuk oleh Carrier, “proses dan kondisi patologis… umumnya dikaitkan dengan pengalaman visi mental. Kondisi ini mencakup kerusakan sistem pengindraan, variasi-variasi fisiologis seperti naiknya suhu tubuh dan kekurangan air, gangguan sistem saraf pusat, dan kondisi-kondisi psikiatris seperti skizofrenia dan psikosis depresif yang berlebihan.”/20/

Karena zat ethereal itu tidak ada dalam jagat raya, sehingga tubuh ethereal Yesus yang bangkit juga tidak ada, maka alternatif “fantasma” atau "penampakan bayang-bayang" perlu menjadi jadi sebuah alternatif yang paling mungkin untuk memberi wujud pada “tubuh rohaniah” yang diklaim Paulus sebagai tubuh kebangkitan, yang bisa dilihat hanya lewat pengalaman penglihatan atau pengalaman visioner, yang pada dasarnya adalah pengalaman penglihatan psikologis. 

Jadi, pengalaman penglihatan Paulus ini atas “tubuh rohaniah” Yesus adalah suatu visi psikologis. Paulus lama menyimpan rasa bersalah karena dia pernah menganiaya komunitas-komunitas pengikut Yesus yang baru berdiri, diawali oleh gereja induk Yahudi-Kristen di Yerusalem.

Bukan hanya dialami Rasul Paulus, pengalaman visi mental ini juga dialami oleh rasul-rasul lain yang disebutnya: Kefas, dua belas murid, lima ratus saudara sekaligus, Yakobus, semua rasul. 

Seperti sudah ditulis di atas, penglihatan mental bisa dialami oleh siapa saja yang memiliki prakondisi-prakondisi psikologis dan neurologis yang pas, dan otak manusia memungkinkan pengalaman ini dialami sebagai sesuatu yang neurologis real dalam otak manusia.

Kalau para sejarawan modern telah merekam dengan benar dan tak ada unsur pembesar-besaran berita, tercatat bahwa di kawasan peziarahan Cova da Iria, di Fatima, Portugal, pada 13 Oktober 1917, tujuh puluh ribu (70.000) peziarah serentak melihat Matahari “merobek dirinya sendiri dari angkasa lalu menimpa kerumunan orang banyak yang ketakutan.”/21/ 

Tentu laporan itu bukanlah sebuah laporan tentang suatu kejadian astronomis betulan, melainkan sebuah laporan tentang terjadinya penglihatan psikologis massal, yang melibatkan bukan hanya lima ratus peziarah, tetapi tujuh puluh ribu.

Kapanpun juga, visi-visi mental adalah suatu pengalaman neurologis psikologis, yang berlangsung dalam organ otak, bukan suatu pengalaman mengenai suatu kejadian historis dalam suatu dunia objektif. Pengalaman penglihatan mental Rasul Paulus melihat Yesus dalam “tubuh rohaniah” dengan tepat disebutnya sebagai suatu pengalaman yang hanya ada dalam iman, bukan dalam realitas objektif empiris.

Penutup

Telah diperlihatkan di atas, pergeseran telah terjadi dalam pandangan mengenai wujud Yesus-yang-sudah-dibangkitkan. Mula-mula (setidaknya mulai dari Rasul Paulus) Yesus yang hadir setelah peristiwa Paskah dibayangkan memiliki “tubuh rohaniah ethereal”, tubuh non-material tapi memiliki substans. 

Tetapi belakangan (oleh para penulis injil-injil Perjanjian Baru) Yesus-setelah-kebangkitan-Nya dibayangkan sebagai Yesus yang tetap memiliki raga protoplasmik, Yesus yang berdaging dan bertulang bahkan membutuhkan makanan, tetapi sekaligus Yesus yang sudah mentransendir kodrat kedagingan dan keinsaniannya, dengan mengambilbagian dalam keadikodratian ilahi yang tak dapat dibatasi oleh dimensi ruang-waktu kosmologis. Jelas, para penulis injil-injil PB telah mengkombinasi antropologi atau, lebih tepat, biologi dan teologi.

Dengan dimasukkannya biologi ke dalam teologi, dan jika kombinasi ini dengan keliru dipahami literal, maka Yesus sesudah kebangkitan-Nya akan harus terus-menerus memakan makanan material yang tersedia di Bumi. Metabolisme dan sistem biologis pencernaan-Nya bekerja terus sekalipun Dia sudah naik ke sorga. Siapkah anda untuk menerima konsekwensi yang mengagetkan ini jika anda seorang literalis?

Pergeseran pandangan tentang bagaimana wujud Yesus-yang-dibangkitkan, mulai dari wujud “tubuh rohaniah” sampai ke wujud tubuh yang material fisikal, tak dapat dilepaskan dari variabel-variabel historis sosiologis, eklesiologis dan doktrinal, yakni kebutuhan memberi legitimasi ilahi terhadap individu-individu pemimpin utama rasuli dalam hierarki kepemimpinan gereja-gereja perdana, dan kebutuhan membangun dan memenangkan polemik doktrinal dalam melawan berbagai bentuk kekristenan gnostik yang bermental sarkofobik dan anti-raga.

Alternatif memandang Yesus-yang-sudah-dibangkitkan hadir kembali dalam dunia orang-orang hidup sebagai fantasma, sebagai "penampakan bayang-bayang", merupakan alternatif yang paling kuat ditopang baik oleh kajian-kajian sastra keagamaan lintaszaman dan lintaskebudayaan maupun oleh kajian berbagai disiplin sains yang relevan, khususnya disiplin sains psikiatri, psikologi dan neurologi atau neurosains. 

Disiplin-disiplin sains ini membuat kita bisa menyebut semua pengalaman melihat kehadiran kembali Yesus setelah kematian-Nya sebagai visi-visi mental (individual dan massal) yang dimunculkan oleh aktivitas neurologis dalam otak manusia.

Visi mental melihat kembali Yesus dalam kondisi hidup dan aktif setelah kematian-Nya, khususnya yang dialami oleh sejumlah murid terdekat Yesus, yang disebut sebagai para rasul, menunjukkan bahwa mereka sedang mengalami tekanan dan penderitaan psikologis yang sangat berat karena telah ditinggal oleh Yesus yang sangat mereka kasihi, yang membuat mereka merasa sangat kehilangan. 

Atau karena mereka merasa sangat bersalah karena pernah menyangkali dan berkhianat pada Yesus pada momen-momen genting ketika Yesus ditangkap dan dieksekusi, sehingga timbul kebutuhan psikologis yang sangat besar dalam jiwa mereka untuk mendapat kesempatan bertemu Yesus kembali supaya mereka dapat mengakui segala kesalahan mereka dan meminta ampun kepada Yesus, sekalipun mereka sadar bahwa kebutuhan ini sangat tidak realistik./22/

Pendek kata, berbagai macam pernyataan atau kisah dalam Perjanjian Baru yang mencatat atau menuturkan perjumpaan kembali para murid Yesus dengan “penampakan” atau “apparition” Yesus setelah kematian-Nya, ditulis karena Yesus sungguh-sungguh menempati posisi signifikan dan utama dalam kehidupan para rasul, dan khususnya karena Yesus adalah seorang yang mereka sangat sayangi.

Jika seseorang menjadi “the significant other” bagi kehidupan anda, dan orang ini sangat anda cintai, anda akan pasti berharap dapat bertemu tatap muka kembali dengannya sekalipun dia sudah meninggal, apalagi jika anda merasa telah berbuat salah sangat besar terhadapnya ketika dia masih hidup. 

Harapan anda yang sangat besar, keadaan batin anda yang sangat galau, dan kondisi tubuh anda yang tidak bugar, dapat membuat anda mengalami visi-visi neurologis, melihat fantasma dirinya, mengalami “penampakan” bahwa dia hidup kembali. 

Nah, jika saya sedang berada dalam sikon mental seperti itu, lalu saya bernyanyi dan berdoa, atau intensif menulis sebuah puisi, maka saya biasanya melihat citra tertentu sosok Yesus---yang saya kenal dan kasihi sejak usia remaja--- mendekati dan membelai saya. Tentu pengalaman internal personal ini menguatkan dan membahagiakan saya. Dan saya kerap mengalami hal ini, dan akan terus mengalaminya seumur kehidupan saya. I, therefore, certainly believe that Jesus is the risen Lord, hence the living Lord. 

Tetapi, saya lebih condong menyebut pengalaman visioner saya didatangi Yesus ini sebagai suatu pengalaman tentang hal-hal yang transenden, yang sanggup dihasilkan oleh otak kita.


ioanes rakhmat
20 September 2010

Catatan-catatan

/1/ A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature (edisi ketiga; Chicago and London: University of Chicago Press, 2000). Lexikon edisi ketiga ini dirujuk juga dengan singkatan BDAG (Bauer-Danker-Arndt-Gingrich).

/2/ Earl Doherty, Jesus Neither Man Nor God: The Case for A Mythical Jesus (edisi baru yang diperluas; Ottawa, Canada: Age of Reason Publication, 2009), 47, 85-86.

/3/ Earl Doherty, Jesus Neither Man Nor God, 79.

/4/ Richard Carrier, “Osiris and Pagan Resurrection Myths” (2000) dalam situs http://www.frontline-apologetics.com/Carrier_on_Osiris_.html.

/5/ Lihat Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010), 95-96, 100.

/6/ Bandingkan dengan tuturan tentang fotisme yang dialami Rasul Paulus dalam suatu perjalanannya ke Damsyik dalam Kisah Para Rasul 9:3-9; 22:6-11; 26:12-18. 

Menurut para antropolog, pengalaman melihat suatu “sosok cahaya” (= fotisme) adalah sebuah fenomen lintas-budaya, yang dapat ditemukan dalam banyak kehidupan suku-suku bangsa di dunia ini. Tentu saja, jika ditinjau dari neurosains, fotisme adalah fenomen neurologis, bukan realitas faktual di dunia natural objektif. Lihat tulisan saya yang berjudul “Pengalaman-pengalaman Spiritual Ditinjau dari Neurosains: Interkoneksi ‘Roh’ dan Otak”, tersedia online di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/ 2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.  

/7/ Michael F. Bird and James G. Crossley, How Did Christianity Begin? A Believer and Non-believer Examine the Evidence (London/Peabody: SPCK and Hendrickson Publisher, 2008), 54.

/8/ BDAG menerjemahkan pneuma dalam Lukas 24: 37, 39 sebagai “ghost”. TB LAI menerjemahkannya dengan "hantu" yang bagi orang Indonesia bermakna lain, beda dari makna kata Yunani fantasma, "penampakan bayang-bayang".

/9/ Gregory J. Riley, Resurrection Reconsidered: Thomas and John in Controversy (Minneapolis: Fortress Press, 1995).

/10/ Riley, Resurrection Reconsidered, 177.

/11/ John D. Crossan, The Historical Jesus: The Life of A Mediterranean Jewish Peasant (New York: HarperCollins, 1991), 395-416; idem, Jesus: A Revolutionary Biography (New York: HarperCollins, 1994), 165 dyb.; idem, Who Killed Jesus? Exposing the Roots of Anti-semitism in the Gospel Story of the Death of Jesus (New York: HarperCollins, 1995), 202 dyb.

/12/ Helmut Koester, “Writings and the Spirit: Authority and Politics in Ancient Christianity” dalam Harvard Theological Review 84:4 (1991), 369 [253-372].

/13/ Werner H. Kelber, “Narrative and Disclosure: Mechanisms of Concealing, Revealing, and Reveiling” dalam Semeia 43 (1988), 6 [1-20].

/14/ Lihat Ioanes Rakhmat, Menguak Kekristenan Yahudi Perdana: Sebuah Pengantar (Jakarta: JRC, 2009), 19.

/15/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord” dalam The Jesus Controversy: Perspectives in Conflict. Penyunting umum: Gerald P. McKenny (Harrisburg, Pennsylvania: Trinity Press International), 6-7 [1-47]; idem, Jesus: A Revolutionary Biography, 87-88; idem, “Why Is Historical Jesus Research Necessary?” dalam James H. Charlesworth and Walter P. Weaver (eds.), Jesus Two Thousand Years Later (Harrisburg, PA: Trinity Press International, 2000), 17-18 [7-37]. Bdk. Gerd Lüdemann dan Alf Özen, De Opstanding van Jezus: Een Historische Benadering (Baarn: Ten Have, 1996), 176-178 [114-178].

/16/ John D. Crossan, “Historical Jesus As Risen Lord”, 6 ff., 26-31.

/17/ Thomas S. Verenna, Of Men and Muses: Essays on History, Literature, and Religion (Lulu.com, 2009), 145.

/18/ Richard Carrier, “The Spiritual Body of Christ” dalam Robert M. Price dan Jeffery Jay Lowder, eds., The Empty Tomb: Jesus Beyond the Grave (2005), 184-188.

/19/ Richard Carrier, “The Spiritual Body of Christ”, 184.

/20/ Peter D. Slade dan Richard P. Bentall, Sensory Deception: A Scientific Analysis of Hallucination (1988), 28.

/21/ Laporan ini tersedia online di http://www.sofc.org/Spirituality/s-of-fatima.htm.

/22/ Untuk menebus kesalahannya yang pernah dibuatnya ketika dia melakukan berbagai bentuk kekerasan terhadap para pengikut Yesus, Rasul Paulus sampai perlu membangun sebuah pemikiran kristologis tentang pendamaian dosa yang didatangkan oleh Yesus lewat kematian-Nya di kayu salib. 

Doktrin ini, dengan meminjam tradisi ritual penyucian dosa Yahudi, dirancangbangun oleh Paulus tentu untuk pertama-tama membuat dirinya terbebas dari perasaan berdosa yang sangat merusak mentalnya, yang lalu diperluasnya untuk berlaku bagi semua orang yang mau mempercayai doktrinnya ini. Tuturan tentang percakapan Yesus dengan Simon Petrus dalam Yohanes 21:15-19 juga dapat dijelaskan dari perspektif yang sama.