Saturday, October 17, 2009

Kekristenan Yahudi Komunitas Elkesaites

Reincarnation and the Universe
“… bahwa Kristus bukanlah pertama kalinya dilahirkan di bumi ..., tetapi sebelumnya dan juga selanjutnya berulang kali dia telah dan akan dilahirkan. Dengan demikian, Kristus akan muncul dan hidup di antara kita dari waktu ke waktu, dan mengalami perubahan-perubahan kelahiran, dan jiwanya dipindahkan dari satu tubuh ke tubuh lainnya….”
(sebuah kutipan dalam apologi Hippolytus, Menolak Semua Bidah, Buku IX.9)
Komunitas Elkesaites (Yunani: Elkesaitai) adalah suatu komunitas Yahudi-Kristen awal yang dibangun oleh seorang nabi atau seorang penerima wahyu yang bernama Elkesai (Yunani: Ēlkhasai); dari nama orang inilah dikenal nama Elkesaites. Keberadaan dan pandangan teologis komunitas ini akan kita ketahui dengan cukup terang kalau laporan Hippolytus (dalam tulisannya Menolak Semua Bidah, Buku IX.8-12), laporan Epifanius (dalam karyanya Panarion, atau yang juga dikenal sebagai Adversus Haereses, dalam pasal 19 yang menempatkan komunitas ini di antara kelompok Essenis, dalam pasal 30 yang menempatkan komunitas ini di antara kalangan Yahudi-Kristen Ebionim, dan dalam pasal 53 yang menempatkannya di antara kalangan Sampsaean), dan juga laporan Origenes (sebagaimana dikutip oleh Eusebius, Historia Ecclesiastica [HE], atau Sejarah Gereja, Buku VI, pasal 38, dan juga Buku III, pasal 27.5) bersama-sama kita perhatikan.

Dalam suatu bagian dari tafsirannya atas Mazmur 82, Origenes menyatakan hal berikut (Eusebius, HE, Buku VI.38):
[Sumber http://www.ccel.org/ccel/schaff/npnf201.iii.xi.xxxviii.html]
“Seseorang yang bernama Alkiabades, menurut Hippolytus, baru saja datang dan dengan sangat congkak membesar-besarkan kemampuannya. Dialah orangnya yang memberitakan pendapatnya yang durhaka dan tidak saleh, yang telah beredar akhir-akhir ini di antara gereja-gereja, yaitu pendapat yang berasal dari kelompok Elkesaites. Aku akan tunjukkan kepadamu hal-hal buruk apa yang diajarkan dalam pendapatnya itu, supaya kamu tidak terpesona olehnya. Pendapatnya ini menolak bagian-bagian tertentu dari setiap kitab suci. Selain itu, kelompok ini memakai bagian-bagian dari Perjanjian Lama dan Injil, tetapi menolak sang Rasul sama sekali (ton apostolon teleon athetei). Menurut pandangan mereka, menyangkali Kristus adalah suatu hal yang biasa-biasa saja; dan orang yang mengerti hal ini akan, jika keadaan memaksa, menyangkalinya dengan mulutnya, tetapi tidak di dalam hatinya. Mereka menghasilkan sebuah kitab yang mereka katakan telah diturunkan dari surga. Menurut mereka barangsiapa yang mendengar dan memercayai kitab ini akan menerima penghapusan dosa, suatu penghapusan dosa yang berbeda dari yang Yesus Kristus telah berikan. Begitulah halnya dengan orang-orang ini.”
Yang perlu diperhatikan dari kutipan di atas adalah bagian-bagian yang diberi garis bawah. Nama Elkesaites muncul dalam laporan Origenes ini. Komunitas ini memiliki sebuah kitab, yang diklaim oleh mereka sebagai sebuah kitab yang diwahyukan dari surga. Tentu kitab ini dihubungkan dengan Elkesai sebagai orang yang diakui sebagai penerima wahyu yang tercatat dalam buku itu. Bagi komunitas ini, Elkesai tentu adalah nabi mereka. Berdasarkan kitab yang diklaim diwahyukan ini, mereka mempraktekkan suatu ritual penghapusan atau pengampunan dosa yang berbeda dari yang diberikan Yesus Kristus. Ritual pengampunan dosa yang seperti apa ini, sekarang ini kita belum dapat mengetahuinya dengan pasti. Komunitas ini menolak bagian-bagian tertentu dari Kitab Suci; bagian-bagian mana yang ditolak mereka, tidak dinyatakan dengan jelas oleh Origenes. Yang pasti, bagian-bagian Perjanjian Lama lainnya mereka pakai, dan juga kitab-kitab Injil. Tetapi dengan tegas dinyatakan bahwa mereka menolak sang Rasul—jelas rasul yang ditolak ini adalah Rasul Paulus, sesuatu yang memang sudah kita ketahui sebagai suatu ciri kuat kekristenan Yahudi awal.

Hal-hal yang belum jelas benar dalam kutipan dari Origenes di atas akan tampak jelas kalau rujukan-rujukan lain terhadap komunitas Elkesaites kita perhatikan. Selanjutnya, fokus kita arahkan pada laporan-laporan Hippolytus dalam karyanya Menolak Semua Bidah, Buku IX.8-12. [Sumber http://www.earlychristianwritings.com/text/hippolytus9.html]

Hippolytus melaporkan bahwa seorang yang bernama Alkibiades, yang berdiam di Apamea, sebuah kota di Syria, berangkat ke kota Roma dengan membawa sebuah kitab. Kitab ini, kata Alkibiades, telah diterima Elkesai dari penduduk kota Serae di Parthia, lalu dia memberikannya kepada seseorang yang bernama Sobiai. Selanjutnya Hippolytus menulis:
“Dan isi kitab itu, katanya, konon telah diwahyukan oleh seorang malaikat yang tingginya 24 skhoenoi, yang sama dengan 96 mile, dan yang lebarnya 4 skhoenoi [=16 mile], dan jarak kedua pundaknya 6 skhoenoi [=24 mile]; dan panjang jejak-jejak kakinya 3,5 skhoenoi, yang sama dengan 14 mile, sementara lebarnya 1,5 skhoenoi [=6 mile], dan tingginya setengah skhoenoi [=2 mile]. Lalu katanya ada juga seorang malaikat perempuan bersamanya, yang ukurannya, katanya, sama dengan ukuran yang sudah disebut. Dan dia menegaskan bahwa sang malaikat prianya adalah Anak Allah, tetapi sang malaikat perempuannya dinamakan Roh Kudus” [IX.8]
Tentu apa yang dilaporkan Hippolytus di atas mengenai dua malaikat dan ukuran postur tubuh mereka dapat merupakan suatu bagian pendahuluan imajinatif dari kitab yang diwahyukan, yang telah diterima Elkesai dari penduduk kota Serae. Tetapi, jangan diabaikan bahwa kutipan di atas menunjukkan bahwa komunitas Elkesaites yang memakai kitab ini adalah komunitas Kristen, sebagaimana diperlihatkan oleh pemakaian dua sebutan yang khas Kristen: “Anak Allah” dan “Roh Kudus” sebagai para pemberi wahyu.

Selanjutnya dilaporkan Hippolytus bahwa Alkibiades menyatakan:
“‘Bahwa telah dikhotbahkan di antara manusia perihal suatu penghapusan dosa secara baru dalam tahun ketiga pemerintahan Kaisar Trajanus.’ Dan Elkesailah yang menentukan sifat baptisannya, dan bahkan tentang hal ini aku akan menjelaskannya. Katanya, mengenai orang-orang yang telah melakukan berbagai macam perbuatan seksual yang tak tertahankan, percabulan, dan tindakan-tindakan yang keji, jika mereka adalah orang-orang yang percaya, maka dialah yang menetapkan bahwa orang-orang yang semacam itu, setelah bertobat dan menaati kitab itu dan memercayai isinya, harus melalui baptisan menerima penghapusan semua dosa mereka.” [IX.8]
Sekarang jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ritual baru penghapusan dosa yang tidak diajarkan Yesus Kristus adalah ritual baptisan yang dilakukan terhadap para pendosa berat yang telah bertobat dan memperlihatkan ketaatan dan kepercayaan mereka terhadap kitab yang diwahyukan itu. Sifat ritual baptisan ini ditentukan oleh Elkesai sebagai sang nabi komunitas Elkesaites. Apakah ritual ini suatu baptisan Kristen, akan menjadi jelas pada bagian-bagian selanjutnya dari laporan Hippolytus. Selanjutnya ditulis bahwa ritual penghapusan dosa secara baru itu diberitakan “dalam tahun ketiga pemerintahan Kaisar Trajanus.” Rujukan ke tahun ketiga masa pemerintahan Kaisar Trajanus menempatkan kemunculan komunitas Elkesaites pada tahun 100 M. Epifanius, dalam Panarion 19.1.4, juga menempatkan kemunculan komunitas ini secara umum pada masa pemerintahan Trajanus.

Dalam pasal 9, Buku IX, selanjutnya Hippolytus menulis:
“Sebagai sebuah perangkap, Elkesai ini membuat sebuah kebijakan pemerintahan atas komunitasnya yang katanya diundangkan oleh Taurat; dia menyatakan bahwa orang-orang yang percaya harus disunat dan hidup sepenuhnya sejalan dengan Taurat…. Dan dia menegaskan bahwa Kristus telah dilahirkan sebagai seorang manusia biasa, dengan cara yang sama seperti semua orang lainnya, dan bahwa Kristus bukanlah pertama kalinya dilahirkan di bumi ketika dia dilahirkan oleh seorang perawan, tetapi sebelumnya dan juga selanjutnya berulang kali dia telah dan akan dilahirkan. Dengan demikian, Kristus akan muncul dan hidup di antara kita dari waktu ke waktu, dan mengalami perubahan-perubahan kelahiran, dan jiwanya dipindahkan dari satu tubuh ke tubuh lainnya…. Dan mereka [komunitas Elkesaites] mengajarkan jampi-jampi dan formula-formula bagi orang-orang yang telah digigit anjing dan kerasukan setan serta dikuasai berbagai macam penyakit….”
Kutipan di atas dengan terang memperlihatkan bahwa komunitas Elkesaites ini adalah komunitas Yahudi-Kristen yang mempraktekkan sunat dan menjalankan Hukum Taurat sepenuhnya. Kristologi yang mereka anut jelas, pada satu pihak, adalah kristologi adopsionis bahwa Yesus Kristus adalah seorang manusia biasa yang dilahirkan dengan cara yang sama seperti kelahiran semua orang lainnya. Kita sudah tahu bahwa dalam pandangan kekristenan Yahudi Ebionim, Yesus Kristus yang adalah seorang manusia biasa diangkat atau diadopsi menjadi Anak Allah pada waktu dia dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis. Epifanius, dalam Panarion, Buku I, pasal 30.3.1, menyatakan bahwa nabi Elkesai adalah sumber pertama kristologi adopsionis, yang kemudian juga dipegang oleh komunitas Yahudi-Kristen Ebionim (lihat juga Eusebius, Historia Ecclesiastica,Buku III, pasal 27.2). Tetapi, luar biasanya, komunitas Elkesaites memasukkan kepercayaan pada reinkarnasi Yesus Kristus yang berlangsung terus-menerus ke dalam pemikiran kristologis mereka. Kepercayaan pada reinkarnasi Kristus yang berulang-ulang ini juga dinyatakan oleh Epifanius sebagai suatu doktrin kristologis komunitas Ebionim (lihat Epifanius, Panarion 30.12.5). Penyebutan “dilahirkan dari seorang perawan” dalam kutipan di atas tidak sejalan dengan kristologi adopsionis; karena itu penyebutan ini sudah seharusnya dipandang sebagai sisa-sisa tradisi khas Kristen yang tertinggal dalam pikiran komunitas ini dan tidak berperan penting dalam kristologi mereka.

Dalam pasal 10 buku yang sama, Hippolytus melanjutkan:
“Maka kepada orang-orang yang telah diajar secara lisan olehnya, dia menjalankan ritual baptisan dengan cara berikut ini. Dia menyampaikan kata-kata ini kepada orang-orang yang ditipunya: ‘Karena itu, wahai anak-anakku, jika seseorang telah berhubungan seksual dengan seekor binatang apapun, atau dengan seorang laki-laki, atau dengan saudara perempuannya, atau dengan anak gadisnya, atau telah melakukan perbuatan mesum, atau telah bersalah karena percabulan, dan orang itu ingin mendapatkan pengampunan dari semua dosanya, maka pada saat dia mendengar kitab ini hendaklah dia dibaptis untuk keduanya kalinya di dalam nama Allah Yang Maha Besar dan Maha Tinggi, dan di dalam nama Anaknya, sang Raja Perkasa. Dan dengan baptisan ini hendaklah dia dimurnikan dan ditahirkan, dan hendaklah dia meminta dengan sangat untuk dirinya sendiri tujuh saksi yang telah dijelaskan dalam kitab ini, yakni surga, air, roh-roh suci, malaikat-malaikat pendoa, minyak, garam dan tanah’”
Kutipan di atas membuat jelas ritual baptisan apa yang dilaksanakan di komunitas Elkesaites ini, yakni ritual baptisan yang diadakan dalam nama Allah dan dalam nama sang Anak, yaitu Yesus Kristus. Jelas ini adalah ritual baptisan Kristen yang dilaksanakan sebagai baptisan kedua, atau ritual baptis ulang yang harus dijalankan seseorang ketika dia menjadi bagian dari komunitas ini dan ketika mau menerima penghapusan dosa mereka. Sebelum ritual baptis ulang ini dijalankan, bagian-bagian tertentu isi kitab yang diwahyukan kepada Elkesai dibacakan di hadapan para calon baptis ulang ini, dan sesudah itu mereka harus menyebut dan memperlihatkan benda-benda tertentu yang sudah ditetapkan dalam kitab itu sebagai tujuh saksi ritual pembaptisan mereka. Tampaknya, komunitas Elkesaites ini mempraktekkan baptisan ulang berkali-kali sebanyak pengampunan dosa yang diinginkan anggota-anggotanya.

Pada Buku IX, pasal 11, Hippolytus mengutip ucapan Elkesai, demikian:
“…. Selain itu, hormatilah hari Sabat, sebab hari Sabat adalah salah satu hari dari sekian hari berkuasanya kekuatan bintang-bintang [=bintang-bintang yang berpengaruh jahat yang menimbulkan ketidaktaatan umat]. Akan tetapi, ingat dan perhatikanlah bahwa kamu jangan memulai pekerjaanmu pada hari ketiga sejak hari Sabat, sebab ketika tiga tahun masa pemerintahan Kaisar Trajanus dipenuhi lagi sejak dia menaklukkan bangsa Parthia ke dalam kekuasannya, ketika, kataku, tiga tahun telah dipenuhi, maka di antara malaikat-malaikat yang tidak taat dari gugusan bintang-bintang utara perang akan berkobar; dan karena hal ini, semua kerajaan kedurhakaan berada dalam suatu keadaan kebingungan.”
Komunitas Elkesaites memegang teguh penghormatan pada hari Sabat, berdasarkan suatu alasan yang tidak diambil dari Kitab Suci Yahudi, tetapi berdasarkan suatu perhitungan astrologis tertentu. Eusebius, dalam karyanya Historia Ecclesiastica, atau Sejarah Gereja, Buku II, pasal 27.5, menyatakan bahwa orang-orang Yahudi-Kristen, antara lain komunitas Ebionim, menghormati dan menguduskan hari Sabat, tetapi mereka juga merayakan hari Tuhan sebagai hari peringatan kebangkitan Yesus Kristus. Penyebutan “hari ketiga sejak Sabat” yang diparalelkan dengan penyebutan “tiga tahun masa pemerintahan Kaisar Trajanus . . . sejak dia menaklukkan bangsa Parthia” ditempatkan dalam suatu kerangka nubuat tentang kapan akan terjadi kekacauan di dunia bintang-bintang, dengan kata lain, ditempatkan dalam suatu nubuat tentang kapan dunia akan berakhir dalam suatu peperangan yang akan melibatkan kekaisaran Romawi. Penaklukan bangsa Parthia oleh Kaisar Trajanus terjadi pada tahun 115 M; dan tiga tahun sejak penaklukan ini jatuh pada tahun 117. Karena sang nabi Elkesai melihat tahun 117 sebagai saat dunia berakhir, tentu dia melihat dirinya sudah tidak akan ada lagi pada tahun 117 ini. Meskipun nubuatnya ini meleset, setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa nabi Elkesai aktif antara tahun 100 sampai tahun 117.

Selanjutnya, menurut Epifanius (Panarion 19.3.5), dalam kitab yang diwahyukan kepada nabi Elkesai ditentukan bahwa pada saat setiap anggota komunitasnya berdoa, kiblat mereka harus ke kota Yerusalem. Sudah kita ketahui dalam sebuah tulisan sebelumnya, Irenaeus (dalam bukunya Melawan Para Bidah, Buku I, pasal 26.2) menyatakan bahwa kaum Ebionim memperlakukan dan menguduskan kota Yerusalem sebagai “rumah Allah” dan mereka berdoa dengan berkiblat ke kota yang disucikan ini. [Tulisan Irenaeus, Against Heresies, atau Melawan Para Bidah, dapat dilihat pada http://www.ccel.org/ccel/schaff/anf01.ix.ii.xxvii.html]

Menurut Epifanius juga (Panarion, 19.3.6; bdk Pseudo-Klementin Rekognisi 1.37), komunitas Elkesaites dan komunitas Ebionim sama-sama menolak dan memusuhi ritual penyembelihan hewan kurban sebagai suatu ritual penebusan dosa. Nah, pertanyaan di atas tentang bagian-bagian mana dari Kitab Suci Yahudi yang tidak dipakai atau disingkirkan oleh komunitas Elkesaites sekarang dapat dijawab, yakni bagian-bagian Tenakh yang memuat uraian dan perintah untuk melaksanakan ritual penyembelihan hewan kurban sebagai kurban penebus dosa. [Untuk terjemahan Inggris karya Epifanius, Panarion, lihat Frank Williams, transl., The Panarion of Epihanius of Salamis (Leiden: E. J. Brill, 1987 & 1997 [Book I]; 1994 [Book II and Book III])]

Pada pasal 12, Buku IX, dari bukunya Menolak Semua Bidah, Hippolytus kembali mengutip sebuah ucapan peringatan yang disampaikan nabi Elkesai kepada komunitasnya, demikian:
“‘Janganlah kamu menceritakan hal-hal yang sudah kukatakan ini kepada semua orang, dan jagalah dengan hati-hati semua perintah yang telah kuberikan, karena semua orang laki-laki sudah tidak setia, dan semua perempuan juga tidak lurus hati.’”
Ucapan Elkesai ini menunjukkan bahwa komunitas Yahudi-Kristen yang dibangunnya dikehendakinya menjadi suatu komunitas eksklusif yang tidak memikul tugas memberitakan keyakinan-keyakinan mereka kepada dunia luar; dan dia sendiri memandang semua orang, laki-laki dan perempuan, yang ada di luar komunitasnya sebagai orang-orang yang sudah tidak setia dan tidak lurus hati, alias tidak dapat dipercaya untuk menerima wahyu yang dimilikinya. Mentalitas yang menutup diri semacam ini biasanya muncul di dalam diri suatu komunitas minoritas di tengah dunia yang luas, yang tidak bisa memercayai bahwa di luar komunitas mereka masih ada orang-orang yang bisa setia dan bisa lurus hati. Biasanya juga, komunitas yang semacam ini memandang dunia ini akan segera berakhir, sehingga yang lebih diperlukan oleh mereka adalah mempersiapkan dan memantapkan serta mengonsolidasi diri dengan taat dan kuat ketimbang mewartakan doktrin-doktrin kepercayaan mereka kepada dunia luar. Seperti sudah kita catat di atas, nabi Elkesai memang memandang dunia ini akan segera berakhir pada tahun 117, ketika pekerjaannya dan kehidupan komunitasnya baru berlangsung selama 17 tahun.

Rangkuman
Komunitas Elkesaites yang dipimpin nabi Elkesai, dari tahun 100 sampai tahun 117, yang bisa jadi berdiam di perbatasan Syria-Parthia, di bagian dataran tinggi Sungai Efrat, adalah suatu komunitas Yahudi-Kristen yang memegang kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik keagamaan berikut:
  1. Menolak bagian-bagian Tenakh yang memuat uraian dan perintah serta aturan ritual penyembelihan hewan kurban sebagai kurban penebus dosa menurut kepercayaan Yahudi;
  2. Menolak Rasul Paulus dengan tegas;
  3. Memegang kristologi adopsionis dan tidak memberi tempat penting pada doktrin Kristen tentang kelahiran Yesus dari perawan Maria;
  4. Memercayai reinkarnasi Yesus Kristus yang terus-menerus terjadi;
  5. Melaksanakan ritual baptis ulang berkali-kali yang dilakukan dalam nama Allah dan dalam nama Yesus Kristus sebagai ritual penghapusan dosa umat;
  6. Menghormati dan menguduskan hari Sabat berdasarkan suatu alasan astrologis;
  7. Menjalankan suatu kehidupan yang sepenuhnya sejalan dengan Taurat;
  8. Mewajibkan semua anggota komunitas untuk disunat;
  9. Mengambil kiblat ke kota Yerusalem ketika berdoa;
  10. Memiliki seorang nabi yang bernama Elkesai, yang dipercaya sebagai penerima sebuah kitab yang berisi wahyu ilahi yang isinya harus ditaati seluruh anggota komunitas;
  11. Sang nabi komunitas ini memercayai bahwa dunia akan segera berakhir dalam waktu singkat;
  12. Komunitas Elkesaites mengambil suatu bentuk kehidupan eksklusif yang menutup diri dari dunia luar karena keyakinan mereka bahwa dunia akan segera berakhir.

Friday, October 9, 2009

Kekristenan Yahudi Sejauh Tercermin dalam Surat 1, 2 Korintus dan Surat Filipi



Kata Rasul Paulus dengan sangat kasar, “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, ....” (Filipi 3:2) 

Melanjutkan hal-hal yang sudah kita teliti sebelumnya tentang kekristenan Yahudi, pada kesempatan ini kita mau memperhatikan bagian-bagian surat 1 dan 2 Korintus serta surat Filipi yang memuat polemik-polemik tajam dan pembelaan diri Rasul Paulus terhadap orang-orang yang menentang dan mengkritiknya di dalam kedua jemaat yang didirikannya ini.

Dengan melakukan analisis teks-teks yang semacam ini dalam kedua surat ini, kita berharap akan memperoleh gambaran-gambaran mengenai siapa para penentangnya ini dan apa pandangan-pandangan mereka sendiri yang membuat mereka tidak bisa menerima Rasul Paulus. 

Kita mau memeriksa apakah para penentang dan pengkritiknya ini berhubungan dengan Jemaat Induk Yerusalem yang dipimpin oleh tiga soko guru ternama (Yakobus, Petrus dan Yohanes). 

Dengan melakukan analisis dan investigasi semacam ini, kita berharap akan memperoleh pengetahuan lebih lanjut mengenai orang-orang Yahudi-Kristen yang menjadi penentang-penentang Rasul Paulus yang terus membuntuti sang rasul, dan apa pandangan mereka. 

1 Korintus 9:1-18

Pasal 9 surat 1 Korintus dibuka Rasul Paulus dengan empat pertanyaan retoris, “Bukankah aku rasul (apostolos)? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat (horaō) Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?” (9:1). 

Tentu empat pertanyaan retorisnya ini tidak muncul begitu saja, tanpa suatu sebab. 

Kalau kita membaca pernyataannya dalam 9:3, “Inilah pembelaanku (hē emē apologia) terhadap mereka yang mengkritik (anakrinein) aku”, jelas kita harus menyimpulkan bahwa empat pertanyaan retoris Rasul Paulus ini dimunculkannya sebagai suatu pembelaan dirinya karena di dalam jemaat Korintus ada kalangan yang mengkritik kerasulannya, kebebasannya sebagai seorang rasul (lihat 9:19-23) dan dasar-dasar klaimnya bahwa dia adalah seorang rasul Yesus Kristus. 

Ayat 2 memuat suatu pernyataan Rasul Paulus sendiri yang menegaskan bahwa memang ada kalangan yang mempersoalkan kerasulannya, tulisnya, “Sekalipun bagi orang lain (Yunani: allos) aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai kerasulanku.” 

Pada tiga ayat di atas (9:1-3), kita dapat menemukan isi pembelaan Rasul Paulus yang menegaskan bahwa dia sungguh-sungguh adalah seorang rasul Yesus Kristus. Dia memberi dua alasan mengapa dia memandang dirinya seorang rasul Yesus Kristus. 

Pertama, karena dia telah melihat Tuhan Yesus Kristus. Kata Yunani horaō (= “melihat”), bisa mengacu baik kepada suatu penglihatan secara jasmaniah maupun kepada suatu penglihatan secara rohaniah. 

Tentu, maksud Rasul Paulus bukanlah bahwa dia telah melihat Yesus secara jasmaniah, sebab dia bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus. Penglihatannya lebih merupakan suatu pengalaman rohaniah yang disebut penyataan (Yunani: apokalipsis; lihat Galatia 1:12 & 16). 

Kedua, karena dia telah berhasil mendirikan dan menghidupkan jemaat Kristen di Korintus. Berdirinya jemaat ini adalah suatu bukti atau “meterai” kerasulannya. Jemaat ini bukan hanya buah pekerjaannya, tetapi mereka juga mengakui bahwa Paulus adalah seorang rasul (“… tetapi bagi kamu aku adalah rasul”). 

Nah, yang menjadi suatu pertanyaan penting bagi kita adalah siapa “orang lain” yang menolak kerasulan Paulus di jemaat Korintus ini?

Analisis teks berikut ini akan membawa kita kepada suatu jawaban atas pertanyaan ini. 

Seperti telah beberapa kali dikemukakan dalam tulisan-tulisan terdahulu, alasan bahwa Paulus adalah seorang rasul karena dia telah melihat penyataan Yesus Kristus secara rohani, adalah suatu alasan yang bisa dipersoalkan berhubung tidak ada suatu bukti objektif apapun bahwa dia memang telah bertemu Yesus (secara fisik), tidak seperti halnya dengan rasul-rasul lain yang telah menjadi saksi-saksi mata kehidupan Yesus. 

Mungkin sekali, alasan ini memang dilihat oleh Rasul Paulus sebagai suatu alasan yang tidak bisa disederajatkan dengan sebuah alasan lain bahwa rasul-rasul lain sebelum dirinya adalah para rasul yang autentik karena mereka adalah para saksi mata kehidupan Yesus. 

Sejalan dengan kemungkinan ini adalah pernyataan Rasul Paulus sendiri dalam 1 Korintus 15:8-9 bahwa meskipun Yesus Kristus “telah dilihatnya” (ōfthē; bentuk pasif dari horaō), namun, dibandingkan para rasul lain yang menjadi saksi-saksi mata kehidupan Yesus (yakni Yakobus, Kefas, lima ratus saudara, dan keduabelas murid Yesus, yang semuanya terkait dengan Jemaat Induk Yerusalem), Paulus memandang dirinya sebagai “anak yang lahir sebelum waktunya” dan sebagai “yang paling hina dari semua rasul bahkan tidak layak disebut rasul.” 

Selain itu, Paulus juga mengetahui adanya sebuah tradisi yang menyatakan bahwa sebelum dia menjadi atau mengangkat diri sebagai seorang rasul Yesus Kristus, jabatan kerasulan sudah ditutup, sebagaimana dia sendiri tulis dalam 1 Korintus 15:7, “Selanjutnya Dia (= Yesus Kristus) menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul.” 

“Semua rasul” dalam tradisi ini tidak termasuk dirinya sendiri, tetapi Paulus berusaha memasukkan dirinya ke dalam kelompok “semua rasul” ini, kendatipun dia sendiri merasa dirinya tidak layak dimasukkan ke dalam lingkaran para rasul yang sebenarnya sudah ditutup sebelum dirinya tampil. 

Karena dia melihat kelemahan alasan pertamanya itu, dalam ayat-ayat selanjutnya (9:4-18) Rasul Paulus tidak lagi mengulang alasan ini. 

Untuk mempertahankan posisinya sebagai seorang rasul di hadapan orang-orang lain yang mengkritiknya, tampaknya Paulus lebih bergantung pada alasan kedua, bahwa kerasulannya terbukti oleh kenyataan bahwa dia telah berhasil membangun dan menghidupkan jemaat Kristen di Korintus. 

Tetapi, dari apa yang sangat ditekankan dan diulang-ulang Paulus dalam ayat-ayat 4-18, kita dapat menyimpulkan bahwa justru “orang-orang lain” yang mengkritiknya melihat ada suatu persoalan besar sehubungan dengan alasan keduanya ini. 

Dalam ayat-ayat tersebut (4-18), Paulus berulang kali menyatakan bahwa dia dan Barnabas sebetulnya memiliki “hak” atau “kewenangan” (hē eksousia) untuk “makan dan minum” dengan biaya jemaat, untuk “membawa seorang istri Kristen” juga atas tanggungan jemaat, untuk “dibebaskan dari pekerjaan tangan” lalu kehidupan mereka ditanggung jemaat yang telah didirikannya, untuk “menuai hasil duniawi” dari pekerjaannya mengabarkan injil, hasil yang berupa topangan finansal dari jemaat untuk kehidupan mereka berdua. 

Tetapi, Paulus menegaskan bahwa semua hak itu tidak digunakan oleh mereka berdua. Tulisnya, 

“Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus” (9:12b). 

Nah, di sinilah letak soal yang dikritik lawan-lawannya di jemaat Korintus. 

Bagi para pengkritiknya, kalau benar bukti kerasulan Paulus adalah berdiri dan hidupnya jemaat Kristen di Korintus, sudah sepatutnya dia dan Barnabas mau menerima segala topangan keuangan dari jemaat Korintus untuk kehidupan mereka. 

Paulus bukannya tidak tahu bahwa hukum Taurat juga telah mengatur hal itu (ayat-ayat 8-10); bahkan diapun menyatakan bahwa dia mengetahui suatu perkataan Yesus tentang hal ini, seperti ditulisnya pada ayat 14, 

“Demikian pula Tuhan telah menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” 

Memang dalam dua injil PB kita dapatkan suatu perintah Yesus semacam itu kepada para murid-Nya dalam kegiatan mereka mengabarkan injil; bunyinya demikian: “Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (Lukas 10:7; Matius 10:10). 

Ucapan Yesus ini terdapat dalam suatu sumber yang tua, dari tahun 40-an sampai awal 50-an, yakni sumber “Q” (= sumber ucapan-ucapan Yesus yang dipakai baik oleh Matius maupun oleh Lukas). 

Tampaknya Rasul Paulus tidak mengetahui bunyi yang tepat dari perkataan Yesus yang dikatakannya dia ketahui. Fakta ini membuat kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus bisa jadi telah mendengar perintah Yesus ini sering disebut-sebut oleh para pengkritiknya, dan dia hanya secara garis besar saja mengutip atau mengingat dari mereka. 

Bagi lawan-lawan mereka di jemaat Korintus, kemandirian finansial Paulus dan Barnabas ini justru menjadi suatu bukti bahwa mereka berdua bukan rasul Yesus Kristus, yang dulu telah memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk hidup seperti yang telah ditulis Paulus sebagai ucapan Yesus, yang bunyinya lebih persis terekam dalam Injil Matius dan Injil Lukas. 

Jadi, para pengkritik Paulus dan Barnabas pertama-tama mendasarkan kritik mereka terhadap Paulus dan Barnabas pada ajaran Yesus sendiri yang ternyata tidak dituruti Paulus dan Barnabas, padahal mereka berdua kurang lebih mengetahui ucapan Yesus seperti yang terdapat dalam dua injil ini. 

Nah, data teks ini membuat kita perlu menyimpulkan bahwa orang-orang lain yang mengkritik Paulus (dan Barnabas) di jemaat Korintus adalah orang-orang yang ingin tetap setia kepada perintah Yesus sendiri dalam tugas pekabaran injil yang mereka sedang lakukan. 

Ketika Paulus menyebut tentang hak-haknya yang sudah ditulis di atas, dia membandingkan dirinya dan diri Barnabas dengan “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” sebagai orang-orang yang memakai hak mereka untuk menerima topangan dari jemaat yang mereka bangun dan untuk membawa seorang istri Kristen (ayat 5).

Penempatan dirinya dan diri Barnabas sebagai orang-orang yang menjalani kehidupan yang berbeda dari kehidupan “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” ini sejajar dengan pengelompokan yang dibuat pada waktu Konsili Yerusalem diadakan, seperti kita dapat baca dalam surat Galatia (1:1-10) yang sudah dibahas dalam sebuah tulisan sebelumnya. 

Dalam konsili ini telah dicapai kesepakatan antara Paulus dan Barnabas dengan “Yakobus, Kefas dan Yohanes” bahwa mereka berdua pergi memberitakan injil kepada orang-orang tak bersunat (bangsa-bangsa bukan-Yahudi) sedangkan tiga soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini kepada orang-orang bersunat (bangsa Yahudi). Yakobus tentu termasuk dalam kategori “saudara-saudara Tuhan”; dan Rasul Yohanes termasuk dalam kategori “rasul-rasul lain.” 

Nah, tentu bukan suatu kebetulan kalau di jemaat Korintus ini, di hadapan para pengkritiknya, Paulus menyebut “rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas” sebagai orang-orang yang memakai hak-hak mereka untuk mendapat topangan dan dukungan finansial dari jemaat Kristen yang mereka layani, orang-orang yang tidak mandiri secara finansial, berbeda tajam dari dirinya dan Barnabas yang memilih untuk mandiri secara finansial. 

Penyebutan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, ketika dia melakukan suatu pembelaan diri, menunjukkan bahwa para pengkritiknya di jemaat ini mengontraskan Paulus dan Barnabas dengan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini.

Bagi para pengkritiknya, kalau memang Paulus adalah rasul Yesus Kristus, bukan saja dia harus menaati perintah Yesus seperti sudah dikutip di atas, tetapi dia dan Barnabas juga harus hidup sejalan dengan cara hidup para soko guru Jemaat Induk Yerusalem ini. 

Kenyataan bahwa dia dan Barnabas memilih kehidupan finansial yang mandiri menunjukkan bahwa mereka berdua telah menjalani suatu bentuk kehidupan yang bertentangan dengan kehidupan para soko guru ini. 

Jadi, dari suatu analisis teks 1 Korintus 9 di atas, dapat kita simpulkan bahwa di jemaat Korintus yang didirikannya, Rasul Paulus dan teman sepelayanannya, Barnabas, berhadapan dengan para pengkritik yang mempertahankan suatu bentuk kehidupan Kristen yang tetap setia kepada perintah Yesus dan yang berpadanan dengan kehidupan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem. 

Dengan kata lain, para pengkritiknya ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen. Mereka inilah yang menyebut diri sebagai “golongan Kefas” (1 Korintus 1:12). 

2 Korintus 10-12

Ternyata, sementara Rasul Paulus sedang menulis surat 2 Korintus, yang dikenal sebagai sebuah “surat air mata” (2 Korintus 2:4), yang akan dikirimkannya ke jemaat Korintus tak lama sesudah dia menulis surat 1 Korintus, para pengkritik Paulus yang datang ke jemaat Korintus tetap tidak mengendurkan serangan mereka kepadanya sehubungan dengan kemandirian finansial yang dipertahankan Paulus dan Barnabas terhadap jemaat Kristen ini. 

Dalam 2 Korintus 11:7-11 sekali lagi Paulus mempertahankan kemandirian finansialnya; katanya antara lain, “Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu” (ayat 9b; lihat juga 12:13; 2:17). 

Para pengkritiknya menyatakan bahwa Paulus salah kalau dia tidak mau menerima topangan finansial dari jemaat Korintus, sehingga secara retoris Paulus bertanya, “Apakah aku berbuat salah jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan injil Allah kepada kamu dengan cuma-Cuma” (11:7). 

Ternyata, lawan-lawan Paulus memperlebar serangan mereka kepada Rasul Paulus, dengan sekarang menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak memiliki kuasa spiritual yang seharusnya ada pada setiap rasul Yesus Kristus. 

Paulus mengutip sebuah perkataan para pengkritiknya, “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan keras, tetapi bila berhadapan muka sikapnya lemah dan perkataan-perkataannya tidak berarti” (10:10). 

Dalam 2 Kortintus 10:1, dengan tentu mengacu kepada penilaian lawan-lawannya terhadap dirinya, Paulus menulis, “Aku, Paulus, yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan.…” 

Terhadap tuduhan baru ini, Paulus tidak dapat menahan dirinya; dia menjawab dengan tegas, “Tetapi hendaklah orang-orang yang berkata demikian menginsafi, bahwa tindakan kami, bila berhadapan muka, sama seperti perkataan kami dalam surat-surat kami bila tidak berhadapan muka” (10:11). 

Paulus bahkan menulis bahwa dia akan dapat “bertindak keras (apotomōs)” jika dia berada di tengah-tengah jemaat karena padanya ada “kuasa” (hē eksousia) yang dianugerahkan Tuhan kepadanya (13:10). 

Selain itu, Paulus juga menyatakan dengan tegas bahwa dia memiliki kuasa spiritual karena dia memiliki “kuasa Allah” (hē dunamis theou) (13:4) atau “Roh Allah” (1 Korintus 7:40) atau “Roh Kudus” (2 Korintus 1:22; bdk 5:5), dan karena “Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku” (en emoi lalountas Khristou), maksudnya: Roh Yesus Kristus berkata-kata dalam dirinya (en emoi). 

Sebagai bukti bahwa dia memiliki kuasa Allah, Paulus menegaskan bahwa di tengah-tengah jemaat dia telah membuat berbagai “tanda (sēmeion), mukjizat (teras) dan kuasa (dunamis)” (2 Korintus 12:12). 

Bahkan sebagai sumber kuasa-kuasa rohani yang ada padanya, Paulus menyatakan bahwa dia telah menerima “penglihatan dan penyataan” (optasia kai apokalupsis) dari Tuhan ketika dia “diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga” atau “ke Firdaus” dan di sana dia “mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia”(12:1-6). 

Paulus menyatakan bahwa kalaupun dia “kurang paham dalam berkata-kata (idiōtēs tōi logōi)” seperti dicap oleh lawan-lawannya, tidaklah demikian dalam hal pengetahuan (hē gnōsis) (11:6). 

“Pengetahuan” yang dimaksudkan Paulus adalah “pengetahuan mengenai kemuliaan Allah yang tampak pada wajah Kristus” (4:6). 

Selain untuk membuktikan bahwa dia memiliki kuasa Allah, segala tanda, mukjizat dan kuasa yang didemonstrasikannya di hadapan jemaat baginya merupakan bukti-bukti kuat bahwa dia “adalah seorang rasul” (12:12). 

Kembali kita temukan di sini, bahwa keabsahan kerasulannya terus saja dipersoalkan oleh para penentangnya yang datang ke jemaat Korintus yang sebenarnya adalah jemaat buah karya pekabaran injilnya. 

Kalau sebelumnya dalam surat 1 Korintus Rasul Paulus mempertahankan keabsahan status kerasulannya dengan menunjuk pada pengalaman rohaninya “melihat” Tuhan dan pada keberhasilannya membangun dan menghidupkan jemaat Korintus (1 Korintus 9:1-3), maka dalam surat 2 Korintus ini dia menambah satu atau dua alasan lagi, yakni bahwa dia memiliki kuasa Allah untuk melakukan tanda-tanda, mukjizat-mukjizat dan kuasa-kuasa, dan bahwa Roh Yesus Kristus ada di dalam dirinya.

Karena dalam surat 2 Korintus, seperti sudah dicatat di atas, kemandirian finansial Paulus dipersoalkan oleh para penentangnya, sebagaimana juga dapat dibaca dalam surat 1 Korintus 9, maka jelaslah bahwa para penentangnya yang disebut-sebut dalam surat 2 Korintus ini adalah kalangan Yahudi-Kristen yang sama, golongan Kefas, atau kalangan yang terkait erat dengan Jemaat Induk Yerusalam. 

Bahwa mereka adalah kalangan Yahudi-Kristen, sangat jelas dari pertanyaan-pertanyaan retoris Paulus yang dijawabnya sendiri ketika dia menunjuk kepada lawan-lawannya ini dalam 2 Korintus 11:22-23, 

“Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel! Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! Apakah mereka pelayan Kristus, …, aku lebih lagi!” 

Sebutan-sebutan lain yang dibuat Paulus tentang para pengkritiknya yang tidak memberi kesan negatif mencakup sebutan-sebutan “rasul-rasul yang tak ada taranya” atau “rasul-rasul super” (hoi huperlian apostoloi) (11:5; 12:11) atau “orang-orang tertentu yang memujikan diri sendiri” (10:12a). 

Kalau kita perhatikan, di dalam 1 Korintus 15:8-9, ketika dia membandingkan dirinya dengan “para rasul lain, Yakobus dan Kefas”, Paulus jelas menyebutnya dirinya, seperti sudah dikatakan di atas, sebagai rasul “yang paling hina dari semua rasul bahkan tidak layak disebut rasul.” 

Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksudkannya dengan “rasul-rasul super” ini tidaklah lain dari pada para rasul yang berasal dari Gereja Induk Yerusalem. 

Tetapi Paulus, dengan tak mau kalah, menegaskan, bahwa dirinya “tidak kurang dari pada rasul-rasul yang tak ada taranya itu” (11:5), dan bahwa “dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu” (12:11b). 

Tetapi, Paulus juga dan terutama sangat merendahkan lawan-lawan Yahudi-Kristennya ini melalui sekian julukan atau label sangat negatif yang dikenakannya kepada mereka. 

Baginya, mereka adalah “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi) (11:26); “rasul-rasul palsu” (pseudapostoloi), “pekerja-pekerja curang” (ergataidolioi) yang “menyamar sebagai rasul-rasul Kristus” (11:13). 

Bahkan Paulus sampai begitu keras menyatakan bahwa mereka adalah “pelayan-pelayan setan” (11:14-15). 

Semua label negatif ini, yang dikenakan Paulus kepada para pengkritiknya yang mempersoalkan status kerasulannya, menempatkan mereka justru sebagai rasul-rasul yang tidak absah! 

Bagi Paulus, bukan dirinya yang bukan seorang rasul, tetapi mereka! Kalaupun mereka rasul, mereka adalah rasul-rasul yang melayani setan! 

Seolah belum cukup dengan pelabelan negatif dan keras semacam itu terhadap lawan-lawannya, Rasul Paulus lebih jauh menyatakan bahwa apa yang mereka beritakan dan sebarkan ke tengah jemaat adalah “Yesus yang lain” (allos Iēsous), “roh yang lain” (heteron pneuma), dan “injil yang lain” (heteron euaggelion) (11:4). 

Kita telah ketahui, sebutan “injil yang lain” juga dipakai Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia ketika dia menafsirkan isi injil (Yahudi-Kristen) yang diberitakan lawan-lawannya yang datang ke jemaat Galatia (lihat Galatia 1:6-7). 

Tidak seperti dalam surat Galatia yang memuat sedikit informasi tentang apa yang menjadi isi “injil lain” ini, dalam surat 2 Korintus informasi semacam ini tidak ditemukan. 

Tentang lawan-lawannya ini, Paulus hanya menyatakan bahwa mereka bermegah karena hal-hal lahiriah (tous en prosōpōi) dan bukan karena hal-hal batiniah (en kardiai) (5:12); tetapi dia tidak menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan “hal-hal lahiriah” ini. 

Bisa jadi, “hal-hal lahiriah” yang dimaksudkan Paulus adalah hukum-hukum yang dituliskan pada “loh-loh batu” (en plaksin lithinais), bukan “di dalam hati manusia” (en plaksin kardiais sarkinais) (3:3), hukum-hukum “yang mematikan” (3:6), “hal-hal yang kelihatan (ta blepomena), bukan hal-hal yang tidak kelihatan (ta mē blepomena)” (4:18). 

Atau “hal-hal lahiriah” ini bisa juga mengacu kepada “penilaian terhadap Kristus menurut ukuran daging (kata sarka)” (5:16), bukan menurut roh, seperti yang dilakukan para saudara Yesus terhadap diri-Nya semasa Dia masih hidup; atau mengacu kepada tindakan “menyucikan diri hanya dari semua pencemaran jasmaniah” (7:1). 

Di luar semua ini, Paulus, dalam surat 2 Korintus, tidak menulis apapun lainnya perihal “hal-hal lahiriah” ini. 

Tetapi, kalau kita perhatikan surat Filipi 3:4b, tahulah kita bahwa “hal-hal lahiriah” yang dimaksudkan Paulus adalah darah keyahudian yang mengalir dalam diri para pengkritiknya, bahwa mereka adalah orang Ibrani, orang Israel dan keturunan Abraham (par. 2 Korintus 11:22-23). 

Jadi, penyebutan tentang “hal-hal lahiriah” ini makin jelas memperlihatkan bahwa para pengkritik Paulus di jemaat Korintus adalah orang-orang Kristen asal Yahudi. 

Sebagai suatu kesimpulan, kita dapat menyatakan bahwa ketika Rasul Paulus menulis surat 2 Korintus, para pengkritiknya yang sudah dihadapinya dalam surat 1 Korintus tetap saja menentang dirinya. 

Para penentangnya ini adalah orang-orang yang menyebut diri “golongan Kefas”, yakni orang-orang Yahudi-Kristen, yang menuntut Paulus untuk membuktikan keabsahan kerasulannya dengan kesediaannya menerima topangan finansial dari jemaat Korintus yang dibangunnya, dan dengan kuasa-kuasa spiritual yang harus didemonstrasikannya dalam tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat. 

Tuntutan yang kedua ini menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi-Kristen ini mendasarkan keabsahan status kerasulan seseorang pada sebuah perintah Yesus sendiri, seperti dapat ditemukan dalam sebuah catatan dalam Injil Lukas yang menginformasikan bahwa setiap rasul Yesus Kristus yang diutus untuk memberitakan injil harus “menyembuhkan orang-orang sakit” yang ada di kota-kota yang mereka kunjungi (Lukas 10:9). 

Dalam pandangan mereka, tanda dan mukjizat serta kuasa Allah yang diperlihatkan seseorang adalah bukti-bukti keabsahan kerasulan orang itu. 

Filipi 3 

Tidak terlalu jauh dari jemaat Korintus, Paulus juga telah mendirikan sebuah jemaat Kristen non-Yahudi di Filipi. Ke dalam jemaat di Filipi ini, kalangan yang menentang Rasul Paulus di Korintus juga masuk. Ketika sang rasul ini sedang mendekam dalam sebuah penjara “karena Kristus” (1:13) (mungkin di Efesus, atau di Roma, atau di Kaesarea), dia menulis surat kepada jemaat di Filipi. 

Dalam Filipi 3 kita baca sebuah polemik tajam Rasul Paulus terhadap orang-orang yang dengan keras disebutnya sebagai “anjing-anjing”, “pekerja-pekerja jahat” dan “penyunat-penyunat (palsu)” (3:2). 

Jemaat dimintanya untuk “berhati-hati” terhadap mereka semua, yang disebutnya sebagai orang-orang yang menaruh kepercayaan terhadap “hal-hal lahiriah.” 

Pada ayat 4b-6, Paulus menjelaskan apa yang dimaksudkannya dengan “hal-hal lahirah”; maksudnya adalah asal-usul dirinya sebagai seorang Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, dan seorang Farisi, yang disunat pada hari kedelapan, dan pengamal Taurat yang tidak bercacat. Dan dia sangat menaruh kepercayaan pada statusnya sebagai seorang Yahudi (“Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi…”; 3:4b). 

Tetapi Paulus menegaskan bahwa kalau sebelum mengenal Yesus Kristus status keyahudiannya merupakan suatu keuntungan baginya, namun ketika dia sudah menjadi Kristen “apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus”, bahkan dia memandang semua masa lalunya sebagai “sampah” (ayat 7-8). 

Dengan demikian, para penentang sang Rasul di jemaat Filipi yang mempercayai “hal-hal lahiriah” adalah juga orang-orang Yahudi-Kristen, orang-orang yang sama, yang juga telah merepotkannya di jemaat Korintus (lihat 2 Korintus 11:21-22). 

Kalau dalam surat 1 dan 2 Korintus Rasul Paulus tidak menjelaskan apa yang dituntut para lawannya ini untuk dilakukan jemaat, dalam surat Filipi, seperti juga dalam surat Galatia (6:12), dengan eksplisit Paulus menyatakan bahwa mereka menghendaki jemaat Kristen di Filipi menyunatkan diri mereka, sebagai suatu kewajiban yang tak dapat ditawar lagi bagi orang-orang yang telah menerima injil Kristen. 

Rasul Paulus, meskipun dirinya sendiri sudah disunat, telah membebaskan jemaat Kristen yang dibangunnya dari satu tuntutan Taurat ini. Baginya, sunat yang lebih berharga adalah sunat yang dikerjakan oleh Roh Allah, sunat batiniah, bukan sunat lahiriah (3:3; bdk Kolose 2:10) yang disebutnya sebagai “sunat palsu”. 

Penutup 

Telah diperlihatkan di atas bahwa baik di jemaat Korintus maupun di jemaat Filipi, yang keduanya didirikan dan dipelihara oleh Rasul Paulus, orang-orang Yahudi-Kristen yang memiliki ikatan dengan Jemaat Induk Yerusalem terus menentang, mengkritik dan menolak keabsahan statusnya sebagai seorang rasul Yesus Kristus. Penentangan dan penolakan ini terjadi karena mereka berpandangan:
  • bahwa Paulus bukanlah seorang saksi mata kehidupan Yesus sehingga tidak patut disebut sebagai rasul;
  • bahwa dia hidup tidak sesuai dengan perintah-perintah Yesus, antara lain perintah untuk mau menerima topangan finansial dari jemaat yang dibangunnya;
  • bahwa dia tidak hidup sejalan dengan cara kehidupan para soko guru Jemaat Induk Yerusalem;
  • bahwa dia tidak memiliki kuasa spiritual sebagai kuasa untuk menyembuhkan dan membuat mukjizat, yang diberikan Yesus kepada murid-murid-Nya ketika mereka pergi memberitakan injil dari satu kota ke kota lainnya;
  • bahwa dia tidak mewajibkan orang Kristen non-Yahudi untuk menyunatkan diri mereka untuk memenuhi perintah Taurat;
  • bahwa dia tidak menaruh kepercayaan lagi pada “hal-hal lahiriah”, maksudnya pada statusnya yang superior sebagai seorang Yahudi dan pada hal-hal yang ditulis dalam Taurat Musa sebagai aturan-aturan keagamaan yang secara lahiriah harus ditaati.
Terhadap semua penilaian ini, Paulus dengan berbagai argumentasi membela dirinya bahwa dia adalah seorang rasul yang sah antara lain berdasarkan sejumlah fakta:
  • bahwa dia telah “melihat” Yesus;
  • bahwa dia telah berhasil membangun dan menghidupkan jemaat-jemaat Kristen;
  • bahwa dia memiliki kuasa dan Roh Allah yang memampukannya melakukan berbagai macam tanda dan mukjizat yang telah diperlihatkannya di tengah-tengah jemaat;
  • bahwa dia juga dapat berbangga hati dengan status darahnya sebagai seorang Yahudi, meskipun sekarang, ketika dia sudah mengenal Yesus Kristus, kebanggaannya ini tidaklah memiliki arti lagi bahkan merupakan “sampah” baginya.

Sunday, September 20, 2009

Kekristenan Yahudi Sejauh Tercermin dalam Surat Galatia dan Surat Yakobus



Tulisan ini berfokus pada dua surat dalam Perjanjian Baru yang berisi polemik yang tajam dan kentara antara kekristenan yang dibela Rasul Paulus (lihat gambar di atas) dan kekristenan yang dipertahankan orang-orang yang menentang sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini. 

Dua surat ini adalah salah satu surat asli Paulus, yakni surat Galatia, dan surat yang memakai nama Yakobus sebagai penulisnya. 

Bagian-bagian tertentu dari kedua surat ini akan dianalisis untuk menemukan gagasan-gagasan teologis apa yang dipertahankan oleh orang-orang yang menentang Rasul Paulus, yang dipertentangkan dengan gagasan-gagasan teologis Paulus sendiri. 

Yang mau ditemukan melalui analisis ini adalah apakah gagasan-gagasan lawan-lawan Rasul Paulus, sejauh tercermin dalam kedua surat ini, adalah gagasan-gagasan yang dapat dikategorikan sebagai gagasan-gagasan kalangan Yahudi-Kristen.


1. Surat Galatia


Telah kita bahas dalam sebuah tulisan yang lalu (klik di sini), bahwa di dalam surat Galatia, salah
satu surat asli Rasul Paulus, sang Rasul mengacu ke Konsili Yerusalem yang diadakan suatu waktu dalam kurun dua dekade pertama gerakan Kristen yang dimulai oleh Yesus di Galilea dan dilanjutkan oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, di Yerusalem, di Yudea, melalui pendirian Jemaat Induk (Yahudi-Kristen) Yerusalem, yang dikenal sebagai jemaat ebyonim, jemaat “orang-orang miskin.” 

Juga kita telah perhatikan bahwa dalam surat Galatia ini, Rasul Paulus menyebut-nyebut “saudara-saudara palsu” (pseudadelfoi; Galatia 2:4) yang dituduhnya mau merampas “kemerdekaan Kristen” yang sudah diterima jemaat ini dan mau membawa mereka kepada kehidupan yang terikat pada hukum Taurat Musa, khususnya kewajiban sunat. “Saudara-saudara palsu” ini, karena disebut sebagai “saudara” (adelfos), tentulah orang-orang Kristen; dan karena mereka mau memaksakan kehendak mereka agar orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen harus disunat, tentulah mereka adalah orang Yahudi. 




Jadi, orang-orang yang menentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Kristen-Yahudi. Sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya, “saudara-saudara palsu” ini sudah aktif bergerak menentang Rasul Paulus di jemaat campuran di Antiokhia, dengan mereka menuntut agar orang Kristen non-Yahudi disunat kalau mereka mau sepenuhnya menjadi orang Kristen. 

Untuk menyelesaikan persoalan ini, yakni persoalan apakah sunat masih harus dilakukan oleh orang Kristen non-Yahudi, Konsili Yerusalem digelar dan menghasilkan kesepakatan untuk membagi wilayah pelayanan Rasul Paulus dan wilayah pelayanan tiga soko guru jemaat Yerusalem (Rasul Yakobus Si Adil, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes) secara etnografis, bukan secara geografis: Rasul Paulus (dan Barnabas) pergi memberitakan injilnya kepada bangsa-bangsa bukan-Yahudi; sedangkan tiga soko guru ini kepada bangsa Yahudi.

Nah, setelah “saudara-saudara palsu” itu dikalahkan dalam Konsili Yerusalem ini dalam debat mengenai sejauh mana sunat masih atau sudah tidak mengikat orang Kristen non-Yahudi, mereka ternyata tidak mundur, melainkan tetap aktif menentang Rasul Paulus dan mengkhotbahkan di jemaat-jemaat yang telah didirikan Rasul Paulus perihal kewajiban sunat yang harus dilaksanakan oleh orang Kristen non-Yahudi. 

Mereka inilah yang juga menentang Paulus di jemaat Galatia dan meminta jemaat ini untuk memenuhi kewajiban sunat. Apa yang mereka beritakan di jemaat Galatia ini, dan apa yang mereka lakukan di sana?


1.1. Suatu “injil lain”


Langsung setelah Rasul Paulus menulis salamnya kepada jemaat di Galatia (1:1-5), dia mengungkapkan rasa kaget dan ketidaksenangannya terhadap keadaan yang sedang terjadi di jemaat ini. Tulisnya (tentu dengan nada emosional), “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu dan mengikuti suatu injil lain (heteron euaggelion), yang sebenarnya bukan injil” (1:6-7). 

Injil lain ini diberitakan oleh pseudadelfoi itu, yang dinyatakannya sebagai orang-orang yang sudah “mengacaukan” dan “menghasut” jemaat (5:10, 12), dan karena itu sudah pada tempatnya, dalam penilaian Rasul Paulus, mereka harus dikutuk, dan inilah yang dilakukan Paulus, yakni mengutuk mereka sampai dua kali (1:8-9).

Apa isi injil lain ini? Injil lain ini adalah bahwa orang non-Yahudi yang sudah menjadi Kristen melalui iman mereka pada Yesus Kristus (Galatia 2:16) tetap harus menyunatkan diri mereka. 

“Saudara-saudara palsu” itu, tulis Rasul Paulus, “berusaha memaksa kamu untuk bersunat” (6:12); dan bukan hanya itu, mereka juga berhasil mempengaruhi orang Kristen non-Yahudi di Galatia (bahwa mereka bukan-Yahudi, lihat Galatia 4:8) untuk “memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun” (4:10), yakni memelihara kalender hari-hari raya Yahudi.

Jelas, lawan-lawan Rasul Paulus di jemaat Galatia ini adalah orang-orang Yahudi Kristen yang tetap mengikatkan diri pada agama dan adat-istiadat Yahudi, yang sangat boleh jadi mendapat dukungan dari jemaat induk di Yerusalem dan dari tiga soko guru di sana, sebagaimana sudah dikatakan sebelumnya.

1.2. Menolak status kerasulan Paulus

Persis pada bagian pembuka surat Galatia, Rasul Paulus menekankan dengan kuat bahwa dia adalah “seorang rasul” yang ditetapkan bukan oleh “manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati” (1:1), dan bahwa injil yang diberitakannya diterimanya bukan dari manusia melainkan dari “penyataan Yesus Kristus” (2:12 [di’ apokalupseōs Iēsou Khristou]; bdk ayat 16). 

Bahkan Paulus sampai perlu menegaskan bahwa dia sudah dipilih dan dipanggil untuk menjadi seorang rasul bagi bangsa-bangsa bukan-Yahudi “sejak dalam kandungan ibunya” (1:15). 

Seperti dilihat oleh Lüdemann (1989: 98), sikap Paulus yang defensif seperti ini menunjukkan bahwa di jemaat Galatia ada kalangan yang mempertanyakan validitas kerasulan Paulus, sehingga untuk menangkis hal negatif ini dia perlu sampai dua kali menegaskan keabsahan status kerasulannya.

Kita dapat berasumsi bahwa validitas kerasulan Paulus bisa dipertanyakan tentu karena lawan-lawan Paulus mengetahui bahwa dia bukanlah salah seorang saksi mata kehidupan Yesus (bdk argumen yang diajukan dalam Pseudo-Klementin Homili Buku XVII, pasal 19,1-7), dan bahwa dia baru menjadi atau mengklaim diri sebagai rasul setelah rasul-rasul lain yang merupakan saksi mata kehidupan Yesus tampil di muka umum (1:17).

Tetapi, penolakan terhadap keabsahan status rasuli Paulus juga bisa ditimbulkan oleh ketergantungan Rasul Paulus kepada para pemimpin Gereja Induk Yerusalem. Memang Paulus secara eksplisit menegaskan lebih dari satu kali bahwa dia adalah seorang rasul yang independen, mandiri, yang tidak bergantung pada orang lain, bahkan pada tiga soko guru terpandang Gereja Induk Yerusalem sekalipun, sebab jabatan kerasulannya diklaimnya diterimanya langsung dari Yesus Kristus sendiri (Galatia 1:1; 1:16-18; 2:1-10). 

Tetapi, pernyataan-pernyataan tentang kemandiriannya sebagai seorang rasul justru dapat ditafsirkan sebaliknya bahwa Rasul Paulus memang bergantung pada para pemimpin utama jemaat Yahudi-Kristen di Yerusalam, dan ketergantungan ini terlalu kentara untuk tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Nah, persoalannya di sini: Jikalau Rasul Paulus memang bergantung pada, atau memelihara hubungan baik dengan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, dia mestinya memberitakan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para soko guru itu, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, yakni injil yang mewajibkan orang Kristen non-Yahudi untuk mengamalkan Hukum Taurat, injil yang nomistik

Tetapi, karena kenyataannya Rasul Paulus memberitakan injil yang anti-nomistik, maka ketergantungan dan hubungan dekatnya dengan Gereja Induk Yerusalem dan tiga soko guru di sana diragukan atau dipertanyakan.

Bagi lawan-lawan Rasul Paulus, kerasulan Paulus teruji dan tak dapat diragukan hanya jika dia sungguh-sungguh bergantung pada tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem, bersahabat dengan mereka, didukung penuh oleh mereka, dan memberitakan injil yang nomistik, yang tetap mengikat orang Kristen non-Yahudi pada hukum Taurat Musa. 

Argumen seperti itu juga diketengahkan dalam bagian dokumen Pseudo-Klementin yang baru dirujuk di atas. Tetapi, karena dalam kenyataannya Rasul Paulus mempertahankan dan menyebarluaskan suatu pandangan teologis yang tidak sejalan dengan konsepsi tentang injil yang dipegang para soko guru itu, maka muncullah “saudara-saudara palsu” yang mempersoalkan keabsahan status kerasulannya dan ajaran-ajarannya.

Selain itu, lawan-lawan Paulus ini juga mengetahui bahwa pada waktu Konsili Yerusalem diadakan, tiga soko guru Gereja Induk Yerusalem tidak sepatah katapun menyatakan pengakuan mereka terhadap status kerasulan Paulus; yang dicapai sebagai suatu kesepakatan pada waktu itu hanyalah pembagian wilayah kerja secara etnografis antara Paulus dan tiga pemimpin besar jemaat Yahudi-Kristen tertua di Yerusalem ini berdasarkan pertimbangan bahwa Paulus memang telah mendapatkan sukses besar dalam misi evangelisasinya terhadap bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Pengakuan terhadap keberhasilan kerja Paulus tidak otomatis berarti suatu pengakuan terhadap status kerasulannya.


2. Surat Yakobus


Surat Yakobus dibuka dengan salam dari “Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus.” Salam ini ditujukan “kepada kedua belas suku di perantauan” (Yakobus 1:1). 

Pembaca atau penerima surat ini tidak bisa memastikan, apakah Yakobus si penulis surat ini adalah Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau orang lain yang kita tidak ketahui identitasnya, yang memakai nama Yakobus sebagai nama samaran. 

Para penafsir modern terbagi dua. Ada lebih banyak pakar (misalnya Gerd Lüdemann) yang menyatakan surat Yakobus adalah sebuah surat pseudonimus, surat yang ditulis oleh orang lain yang memakai nama palsu atau nama samaran Yakobus.

Ada juga yang menyatakan bahwa surat Yakobus adalah surat asli yang ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus (misalnya Patrick J. Hartin 1991). Alasannya, antara lain, karena surat Yakobus memuat banyak pernyataan yang sejajar dengan ucapan-ucapan tua dan asli yang diucapkan Yesus, yang terdapat dalam sebuah dokumen yang dinamakan Injil “Q” (dokumen yang memuat hanya ucapan-ucapan Yesus yang dipakai oleh Matius dan Lukas sebagai sumber besar kedua selain Injil Markus sebagai sumber besar pertama) atau dalam sumber khusus yang dipakai hanya oleh Matius (sumber M) atau hanya oleh Lukas (sumber L). 

Hartin (hlm 141-142) mendaftarkan paralelisme antara keduanya, antara lain: Yakobus 1:2 //Lukas 6:22-23//Matius 5:11-12 (tentang hal bersuka cita ketika mengalami penganiayaan); Yakobus 1:4//Matius 5:48 (tentang panggilan menjadi sempurna); Yakobus 1:22,23//Matius 7:24, 26//Lukas 11:9, 13, 9-10 (tentang menjadi pelaku firman); Yakobus 2:5//Matius 5:3,5//Lukas 6:20 (tentang orang miskin); Yakobus 3:12//Matius 7:16-18//Lukas 6:43-44 (tentang buah dari pekerjaan yang baik); Yakobus 3:18//Matius 5:9 (tentang menjadi pembawa damai); Yakobus 4:4//Matius 12:39//Lukas 11:29 (tentang melayani dua tuan); Yakobus 4:8//Matius 5:8 (tentang hati yang murni/suci); Yakobus 4:9//Lukas 6:25 (tentang ihwal meratap dan menangis); Yakobus 5:2-3//Matius 6:19-21//Lukas 12:33-34 (tentang harta di surga); Yakobus 5:6//Lukas 6:37 (tentang jangan menghakimi); Yakobus 5:10//Matius 5:11-12//Lukas 6:23 (tentang nabi-nabi yang menderita); dan sebagainya. 

Selain itu, sebagaimana Yakobus si Adil adalah seorang monoteistik yang ketat, penulis surat Yakobus juga menekankan monoteisme (2:19). 

Dalam surat ini, “jemaat” atau “gereja” (ekklēsia; Yakobus 5:14) disebut juga sebagai rumah ibadat Yahudi, sinagoge (sunagōgē; Yakobus 2:2). 

Jadi, ada bukti-bukti teks yang kuat bahwa penulis surat Yakobus mengenal tradisi-tradisi tua ucapan-ucapan Yesus, saudara Yakobus, dan tidak asing dari lingkungan keagamaan Yahudi.

Tetapi, pada kesempatan ini kita tidak perlu ikut dalam debat yang belum selesai perihal apakah surat Yakobus ditulis oleh Rasul Yakobus Si Adil, saudara Yesus, atau sebagai sebuah surat pseudonimus, surat dengan penulisnya memakai nama samaran atau nama gadungan untuk memberi suatu wibawa rasuli pada surat yang ditulisnya dan meningkatkan kepercayaan para penerima surat ini dulu. 

Selain itu, kita juga tidak tahu sampai sejauh mana Rasul Yakobus Si Adil menguasai bahasa Yunani (Koine) sehingga dia bisa menulis sendiri dalam bahasa ini.

Yang perlu kita perhatikan saat ini adalah beberapa pernyataan dalam surat ini, khususnya dalam pasal 2, mengenai bagaimana manusia menerima “keselamatan” (sōtēria; Yakobus 2:14), bagaimana “manusia dapat dibenarkan” (dikaioutai anthrōpos; Yakobus 2:24-25 ), yang tampaknya ditulis untuk melawan pandangan-pandangan Rasul Paulus mengenal hal yang sama. 

Kita sudah mengetahui bahwa para pemimpin kekristenan Yahudi perdana, khususnya Rasul Yakobus Si Adil, sangat anti-Paulus. 

Kalau bisa diperlihatkan bahwa surat Yakobus pasal 2 memang berisi pernyataan-pernyataan yang sengaja ditulis untuk melawan pandangan Rasul Paulus, kita diperkaya lagi dengan pengetahuan mengenai pandangan kekristenan Yahudi sejauh tercermin dalam surat ini.


2.1. Membandingkan Yakobus 2:10 dengan Galatia 5:3


Yakobus 2:10 berbunyi “Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu (holon ton nomon), tetapi mengabaikan satu bagian daripadanya, dia bersalah terhadap seluruhnya.” Galatia 5:3, “Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa dia wajib melakukan seluruh hukum Taurat (holon ton nomon).” Kedua teks di atas memiliki kesamaan kosa kata hanya pada frasa “seluruh hukum Taurat”; selebihnya, keduanya memakai kata-kata yang berbeda.


Tetapi, sejauh menyangkut isi, kedua teks itu sebetulnya memperlihatkan bahwa si penulis surat Yakobus mengenal Galatia 5:3 (bdk juga Galatia 3:10b) dan melawannya dengan suatu pandangan yang berbeda. 

Pernyataan Paulus dalam teks Galatia ini dirumuskan dalam rangka untuk mengingatkan jemaatnya bahwa mereka harus tidak memilih jalan Taurat untuk mendapatkan pembenaran, sebagaimana ditulisnya pada ayat berikutnya, “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat” (Galatia 5:4). 

Sebaliknya, dengan menempatkan teks Yakobus 2:10 dalam konteks perikopnya (2:5-13), kita harus menyatakan bahwa si penulis surat Yakobus justru menulis bagian ini untuk menantang jemaatnya memenuhi seluruh hukum Taurat

Jalan pemikirannya demikian: Jemaat “berbuat baik” jika mereka menjalankan “hukum utama”, yakni “mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri” (2:8; Imamat 19:18). Tetapi jika jemaat “memandang muka”, yakni mengasihi hanya orang kaya dan “menghinakan orang-orang miskin” (ayat 9, 6), jemaat “berbuat dosa” dan jika mereka disorot oleh hukum utama ini, mereka nyata “melakukan pelanggaran” (ayat 9). 

Jadi, jika mereka mau menjalankan hukum utama itu, mereka harus menjalankan hukum ini tanpa memandang muka orang yang mereka harus kasihi. Hukum ini harus diberlakukan total kepada semua manusia tanpa pilih bulu, sebab, tulisnya, “Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (2:5b). 

Jika Allah memilih dan mempedulikan orang miskin, hal ini adalah juga suatu hukum yang wajib dijalankan oleh jemaat, yakni mengasihi orang miskin juga. 

Pada ayat 11, si penulis surat Yakobus memberi sebuah contoh lain, ketika dia menegaskan bahwa Allah yang memerintahkan “Jangan berzinah”, juga memerintahkan umat-Nya “Jangan membunuh” (Keluaran 20:13-14; Ulangan 5:17-18). Nah, barangsiapa yang mau melakukan hukum Allah, orang itu harus sekaligus tidak berzinah dan tidak membunuh; jadi, melakukan hukum Allah harus secara keseluruhan, tidak boleh sepenggal-sepenggal. Tulisnya, “Jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga” (ayat 11).

Jelas, kalau Rasul Paulus dalam Galatia 5:3 menghendaki jemaatnya membebaskan diri dari seluruh tuntutan hukum Taurat, penulis surat Yakobus justru menekankan hal yang sebaliknya, yakni jemaat harus “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” tanpa kecuali, jika mereka dalam kehidupan ibadah mereka mau “menjadi sempurna dan lengkap” (teleoi kai oloklēroi; Yakobus 1:4). Dalam Perjanjian Baru, sebagaimana dicatat oleh Lüdemann (1989:142), ungkapan “menjalankan atau menuruti seluruh hukum Taurat” hanya muncul dalam teks surat Yakobus ini (2:8, 10).

Jadi, kekristenan yang diamalkan oleh jemaat penerima surat Yakobus adalah kekristenan yang mengikatkan diri sepenuhnya pada hukum Taurat; ini adalah jemaat Yahudi-Kristen.


2.2. Membandingkan Yakobus 2:14-26 dengan Roma 4:2,3,
Galatia 2:16, Roma 3:28


Yakobus 2:21 memuat sebuah pertanyaan retorika, “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), ketika dia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” Paulus, di Roma 4:2, menulis, “Sebab jika Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn edikaiōthē), maka dia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.” 

Tentang Abraham, kedua teks ini memiliki kesamaan kata-kata pada frasa “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya”. Sebelum Paulus menulis surat-suratnya, khususnya menulis teks Roma 4:2 ini, tidak ada seorang Yahudi pun yang tidak memandang Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya. Hanya bagi Rasul Paulus, Abraham menerima “pembenaran” (dikaiosunē) dari Allah bukan karena perbuatan-perbuatannya, tetapi karena “iman”-nya (pistis) (Roma 4:3).

Tetapi si penulis surat Yakobus, melalui pertanyaan retorikanya ini, menyatakan hal sebaliknya, bahwa Abraham dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, khususnya ketika Bapak Leluhur Israel ini mempersembahkan Ishak, anaknya. Dengan demikian, si penulis surat Yakobus ini mengenal pandangan Rasul Paulus ini dan membantahnya; pandangannya yang diungkapkan secara retoris ini menunjukkan bahwa dia mengutip sekaligus membantah dan menyepelekan pandangan Rasul Paulus. 

Yakobus 2:23 berbunyi, “(Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan), Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Dengan memakai kata-kata (dalam bahasa Yunani) yang sama persis dengan yang dipakai dalam Yakobus 2:23, dalam Roma 4:3 kita temukan sebuah pernyataan yang sama, yang ditulis Rasul Paulus, “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” 

Kalau Rasul Paulus mengutip teks ini dari Kejadian 15:6 untuk mendukung pendapatnya bahwa Abraham dibenarkan Allah karena iman atau kepercayaannya (pistis), dan bukan karena perbuatannya (to ergon; Roma 4:2), maka si penulis surat Yakobus justru mau menegaskan peran perbuatan (to ergon) yang membuat “iman menjadi sempurna (atau lengkap)” (hē pistis eteleiōthē) (Yakobus 2:22; juga ayat 24). 

Jadi, si penulis surat Yakobus menerima Abraham sebagai contoh orang yang dibenarkan Allah, tetapi tidak untuk mempertentangkan iman dengan perbuatan, melainkan sebagai contoh tentang perbuatan yang membuat iman menjadi sempurna atau lengkap. Iman saja, bagi penulis surat Yakobus, tidak cukup untuk orang dibenarkan oleh Allah; tulisnya, “manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya (monon) karena iman” (Yakobus 2:24).

Yakobus 2:24 perlu dibandingkan dengan teks-teks Paulus yang bertolakbelakang dengannya, yakni Galatia 2:16, “Tidak seorang pun dibenarkan karena melakukan hukum Taurat, tetapi karena iman kepada Yesus Kristus”; dan juga Roma 3:28 yang berbunyi, “Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena dia melakukan hukum Taurat (khōris ergōn nomou).” 

Harus dicatat bahwa sebelum Rasul Paulus menulis surat-suratnya yang di dalamnya dia mempertentangkan iman dan perbuatan, tidak ada seorang Yahudi pun pernah menulis hal yang sama. Teks dalam 4 Ezra 13:23; 7:24; dan 8:31 ff., memang dekat dengan pandangan Paulus, tetapi penulisnya tidak memandang iman dan perbuatan sebagai dua hal yang bertentangan.

Rasul Paulus menekankan bahwa hanya oleh iman saja orang menerima pembenaran dari Allah; pengamalan atau “kerja hukum Taurat (ta erga to nomou) sama sekali tidak memberi tambahan apapun pada prestasi manusia untuk dia menerima pembenaran dari Allah. Bagi Rasul Paulus, hanya oleh iman manusia dibenarkan oleh Allah; dan baginya, pembenaran melalui iman tidak bisa ada bersama-sama dengan pembenaran melalui pelaksanaan hukum Taurat.

Penulis surat Yakobus menolak kedudukan eksklusif iman dalam orang menerima pembenaran Allah sebagaimana dipahami Paulus, ketika dia menulis teks Yakobus 2:24 yang di dalamnya dia menegaskan bahwa manusia dibenarkan bukan “hanya (monon) karena iman”. 

Dengan demikian jelaslah bahwa Yakobus 2:24 ditulis untuk menolak atau melawan Rasul Paulus yang menegaskan hanya iman yang bisa menyelamatkan manusia. Bagi si penulis surat Yakobus, manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya (eks ergōn), dan perbuatan-perbuatan menentukan kesempurnaan atau kelengkapan iman seseorang (Yakobus 2:22). Karena dia menolak fungsi eksklusif iman dalam pencapaian keselamatan (sebagaimana diajarkan Rasul Paulus), maka kalau dia menegaskan peran perbuatan yang dikontraskan dengan peran iman dalam orang menerima pembenaran Allah (seperti dalam Yakobus 2:24), maka tentu saja “perbuatan” (ergon) yang dimaksudkannya adalah “pengamalan Taurat” (ta erga tou nomou).

Tentu saja, kita dapat membantah si penulis surat Yakobus yang menyatakan bahwa Rasul Paulus tidak memberi tempat pada moralitas atau perilaku etis, atau perbuatan, dalam manusia mencapai keselamatan dan menerima pembenaran Allah. 

Khususnya kalau kita perhatikan teks seperti Roma 1:5 yang menempatkan iman sejalan dengan ketaatan, yang diungkapkan sebagai “ketaatan iman” (eis hupakoēn pisteōs); atau teks Galatia 5:6 yang mengenal konsep “iman yang bekerja oleh kasih” (pistis di’ agapēs energoumenē). Bahkan dalam Galatia 5:14, Rasul Paulus menulis dengan tegas bahwa “seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’”

Tetapi, penolakan si penulis surat Yakobus terhadap Rasul Paulus tentunya ditimbulkan oleh pandangan yang umum ditemukan dalam surat-surat Paulus, khususnya surat Galatia dan surat Roma, yang memang sangat menekankan fungsi eksklusif iman (pistis) dalam pencapaian keselamatan dan penerimaan pembenaran dari Allah. 

Selain itu, di kalangan orang Kristen Yahudi perdana, sebagaimana sudah kita ketahui, sudah tertanam suatu kesimpulan umum dalam diri mereka bahwa Rasul Paulus, sebagai Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi, telah menepis sama sekali peran hukum Taurat dalam orang mencapai keselamatan.

Nah, si penulis surat Yakobus ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari orang-orang Yahudi-Kristen lainnya, misalnya Yakobus si Adil atau si penulis dokumen Pseudo-Klementin, yang menolak Rasul Paulus dan menyerang doktrin keselamatan yang diajarkannya yang telah menggeser peran Taurat ke posisi yang sangat tidak signifikan dan sangat tidak menentukan dalam orang menerima keselamatan dan pembenaran Allah.


3. Penutup


Telah diperlihatkan di atas bahwa dalam jemaat Galatia, Rasul Paulus ditentang oleh kalangan yang disebutnya “saudara-saudara palsu” yang menuntut orang Kristen bukan-Yahudi menyunatkan diri mereka jika mereka mau menjadi bagian dari gereja Yesus Kristus. 

Para penentang Rasul Paulus ini adalah orang-orang Yahudi-Kristen yang berasal dari Gereja Induk Yerusalem, dan dengan demikian mereka menganut dan mempertahankan pandangan-pandangan teologi Yahudi-Kristen seperti yang dianut dan dipertahankan para soko guru jemaat induk ini, yakni Rasul Yakobus, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. 

Lawan-lawan Paulus ini bukan saja menolak injil yang diberitakan Paulus, tetapi juga mempersoalkan validitas status kerasulannya berhubung sang Rasul untuk bangsa-bangsa bukan-Yahudi ini tidak menyebarkan injil yang sejalan dengan injil yang diberitakan para pemimpin jemaat induk Yerusalem, dan juga karena dia bukan seorang saksi mata yang sama-sama bekerja dengan rasul-rasul semula Yesus Kristus.

Dalam surat Yakobus yang isinya memperlihatkan warna keyahudian, kita temukan suatu penolakan kuat si penulis surat ini terhadap ajaran Rasul Paulus yang menegaskan bahwa orang dibenarkan atau diselamatkan hanya karena iman (pistis), dan bukan karena “melakukan hukum Taurat” (ta erga tou nomou). 

Sebaliknya, si penulis surat Yakobus ini menekankan bahwa orang dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, atau karena mengamalkan Taurat, dan bukan “hanya karena iman”. Baginya, iman menjadi sempurna dan lengkap kalau disertai dengan perbuatan-perbuatan seperti diperintahkan Taurat Musa.

Jadi, surat Galatia dan surat Yakobus mencerminkan suatu bentuk kekristenan Yahudi yang dipertahankan para pembelanya yang sedang berhadapan dengan kekristenan yang dibangun Rasul Paulus. Ciri pokok injil yang dipertahankan kekristenan Yahudi ini adalah injil yang nomistik, kontras dengan injil Paulus yang anti-nomistik. 

Bagi para pembela kekristenan Yahudi, ikatan perjanjian (covenant) yang dibuat Allah dengan Musa melalui pemberian Hukum (nomos) Musa (di Gunung Sinai), tidak dibatalkan oleh ikatan perjanjian yang dibuat Allah dengan gereja melalui Yesus Kristus. Jadi, injil Yahudi-Kristen adalah suatu injil yang berbasis pada perjanjian Allah dengan Musa sekaligus pada perjanjian Allah dengan Yesus; inilah yang disebut injil nomisme kovenan (covenantal nomism).


Sumber rujukan:


(1) Gerd Lüdemann, Opposition to Paul in Jewish Christianity (ET by M. Eugene Boring; Minneapolis: Fortress Press, 1989) 97-103; 140-149.

(2) Patrick J. Hartin, James and the Q Sayings of Jesus (Sheffield: JSOT Press, 1991).

(3) Jouette M. Bassler, ed., Pauline Theology. Vol I: Thessalonians, Philippians, Galatians, Philemon (Minneapolis: Fortress Press, 1991) 125-179.