Saturday, June 2, 2012

"Kiamat" dan Nasib Planet Bumi Di Masa Depan




Ketika doomsday ideology atau ideologi kiamat mau mulai diwujudkan....


N.B. Diedit 
04 September 2021
6 Oktober 2021


Tulisan ini mengulas topik tentang “kiamat” yang khususnya dipercaya akan terjadi oleh umat-umat tiga agama monoteistik (Yahudi, Kristen, dan Islam). 

Pandangan agama-agama ini tentang kiamat akan diperhadapkan pada pandangan para saintis mengenai “nasib” planet Bumi dan Homo sapiens di masa depan yang jauh.

Terminologi “kiamat” berasal dari kata Arab “qiamat” atau “qayamat” yang menunjuk pada Hari Penghakiman Akhir yang akan digelar oleh Allah atau Oknum Adikodrati lainnya bersama para malaikat di Akhir Zaman, ketika sejarah dunia diakhiri dalam suatu bencana sejagatraya. 

Kaum Muslim memandang ada dua jenis kiamat, yakni kiamat kecil (sughra) berupa kematian yang pasti akan terjadi pada setiap orang karena berbagai macam sebab, dan kiamat besar (kubra) berupa kehancuran dan kebinasaan total jagat raya dan segenap isinya.

Eskatologi apokaliptik

Dalam kajian teologi Yahudi-Kristen, topik tentang kiamat masuk ke dalam bidang kajian khusus yang dinamakan “eskatologi apokaliptik”. 

Eskatologi (dari dua kata Yunani: eskhatos = “terakhir” atau "ujung", dan logos = “doktrin) adalah doktrin tentang “hal-hal yang akan terjadi pada hari-hari terakhir”. 

Sedangkan kata benda “apokalipsis” (Yunani: apokalypsis) berarti “wahyu ilahi” (divine revelation) atau “penyingkapan ilahi (divine disclosure)”./1/ 

Dari kata benda ini, dibuat kata sifat “apokaliptik” atau “apokaliptis”.

Jadi, terminologi “eskatologi apokaliptik” berarti doktrin tentang hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman atau di ujung waktu sebagaimana disingkapkan atau diwahyukan oleh Allah dengan perantaraan malaikat-malaikatnya kepada hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya.

Sebagai sebuah genre (= jenis sastra), sastra eskatologi apokaliptik umumnya disebut singkat saja sebagai genre apokalipsis

Sebuah definisi genre apokalipsis sudah dihasilkan oleh beberapa pakar Amerika di bidang ini yang telah melakukan kajian mendalam bersama-sama dari tahun 1975 sampai tahun 1978. 

Mereka mendefinisikan “apokalipsis” sebagai “suatu genre sastra yang menjadi media wahyu ilahi yang memakai narasi sebagai bingkainya. Wahyu ilahi ini disampaikan lewat perantaraan suatu sosok oknum adikodrati kepada manusia penerimanya, yang menyingkapkan suatu realitas adikodrati yang bersifat baik temporal sejauh wahyu ini menggambarkan keselamatan yang akan diterima di akhir zaman, maupun spasial sejauh wahyu ini mencakup suatu dunia lain yang adikodrati.”/2/

Kurang lebih serupa dengan definisi ini, Paul D. Hanson, yang melakukan banyak kajian genre apokalipsis Yahudi, memberikan batasan genre apokalipsis sebagai “suatu sastra yang digunakan sebagai wahana penyingkapan kejadian-kejadian di masa depan oleh Allah melalui perantara seorang malaikat kepada seorang manusia yang menjadi hamba Allah ini.”/3/

Di sebuah buku kecil yang ditulisnya, Hanson memberi definisi genre apokalipsis lebih luas, yakni: 

“sekelompok tulisan yang fokus pada pembaruan iman dan penataan kembali kehidupan berdasarkan suatu visi mengenai suatu prototipe tata sorgawi yang disingkapkan kepada suatu komunitas keagamaan lewat perantaraan seorang pelihat. 

Penulisnya cenderung merelativisir signifikansi kenyataan-kenyataan yang ada dengan menggambarkan bagaimana kenyataan-kenyataan ini akan dilampaui dan digantikan oleh pemerintahan universal Allah dalam suatu kejadian di akhir zaman yang tidak dapat dipercepat atau digagalkan oleh usaha-usaha manusia, tetapi akan terwujud sebagai akibat tindakan Allah sendiri berdasarkan suatu rencana yang kekal.”/4/ 

Allah dibayangkan sudah merancang dan membuat “cetakbiru” atau “blueprint semua rencana-Nya terkait umat pilihan-Nya, penderitaan mereka, umat manusia pada umumnya, dan keberadaan Bumi dan jagat raya. 

Cetakbiru skenario ilahi ini dipercaya tidak bisa diubah oleh siapapun, termasuk oleh Allah sendiri, meski hanya Allah sendiri yang tahu. Kepercayaan ini melahirkan doktrin yang berkaitan yang dinamakan pradestinasi global atau doktrin takdir jagat raya dan segenap isinya. 

Saya perlu memberi satu komentar. Kalau hanya Allah saja yang tahu takdir global, dan juga takdir individual, dan kita sama sekali tak mungkin tahu, bukankah mengubah takdir bisa juga menjadi takdir kita. Jadi, doktrin pradestinasi tersebut tak bisa membuat setiap orang pasif saja, tak mau memperbaiki dan mengubah jalan kehidupan mereka untuk makin baik dan makin maju. 

Dalam semua jenis apokaliptisisme, planet Bumi dan jagat raya yang kini dikenal, sejarah insani yang sedang berjalan, dan kehidupan yang sedang berlangsung, dan semua penderitaan, kelelahan dan pekerjaan berat dalam dunia sehari-hari sekarang ini, dipandang dalam waktu yang tidak lama lagi atau segera akan tiba pada titik ujungnya, titik akhirnya, “titik eskatologis”, untuk semuanya diganti dengan hal-hal lain yang bersifat adikodrati, suprahistoris dan adi-insani.

Penantian yang tak sabar akan tibanya dengan segera kehidupan lain di dunia yang adikodrati, suprahistoris dan adi-insani ini, yang akan menjadi pengganti semua hal yang kodrati, historis dan insani, adalah ciri pokok pemikiran apokaliptisisme. 

John J. Collins, misalnya, menyatakan bahwa kehidupan di dunia lain adikodrati ini merupakan ciri paling khas dari semua ciri pemikiran apokaliptik. 

Hal yang membedakan sastra-sastra apokaliptik dari kitab-kitab para nabi non-apokaliptik sebelumnya adalah bahwa apokaliptisisme dengan jelas menggambarkan adanya pahala dan ganjaran yang akan diterima di dunia lain adikodrati setelah kematian atau ketika sejarah dunia berakhir. 

Konsep-konsep sejarah/waktu

Dalam eskatologi apokaliptik Yahudi-Kristen, sejarah atau waktu dunia kodrati ini dipandang bergerak linier, ada awal, lalu akan tiba pada titik akhir, titik eskatologis. Tidak ada pengulangan. Pada titik akhir ini garis linier sejarah terpecah dua, memasuki kawasan adikodrati: ke atas, masuk ke sorga adikodrati; dan ke bawah, masuk ke neraka adikodrati. Ilustrasi di bawah ini silakan dengan cermat diperhatikan.



Klik gambarnya untuk memperbesar


Selain konsep sejarah linier Yahudi-Kristen, ada juga konsep sejarah siklikal dalam banyak agama Timur dan kebudayaan-kebudayaan kuno yang bukan Yahudi-Kristen. Di bawah ini saya pasang gambar ouroboros (kata majemuk Yunani kuno, artinya “memakan ekor”, maksudnya ular yang memakan ekornya sendiri). 

Ouroboros menyimbolkan siklus abadi sejarah: ada kelahiran, ada kematian, tetapi dilanjutkan dengan pengulangan-pengulangan yang dimulai dengan kelahiran kembali. Ouroboros juga menyimbolkan harmoni yang statis dan abadi. Ikonografi ouroboros tertua berasal dari Mesir kuno, pada teks keagamaan Mesir abad ke-14 SM di makam Raja Tutankhamen.





Nah, saya sudah lama berpikir untuk menggabung konsep sejarah linier dengan konsep sejarah siklikal. Hasilnya adalah konsep sejarah/waktu yang siklikal linier progresif. Perhatikan gambar di bawah ini.




Siklus atau pengulangan dalam alam, dalam batas-batas tertentu, adalah sesuatu yang niscaya. Contohnya: empat musim di kawasan-kawasan subtropis (musim semi, musim panas, musim gugur, musim dingin) selalu bersiklus di setiap tahun. 

Nah, kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan individual dan dalam kehidupan masyarakat dan dunia yang dalam batas-batas tertentu berulang memberi kita kesempatan-kesempatan untuk belajar dan melakukan evaluasi atas pikiran-pikiran, sikap, kelakuan dan tindakan kita. 

Untuk kepentingan evaluasi ini, kecakapan metakognitif sebagai salah satu soft skills yang penting, sangat kita butuhkan. Metakognisi adalah thinking about your own thinking, pikiran yang melampaui (Yunani: meta) pikiran anda sebelumnya,yang didapat lewat evaluasi kritis.

Hasilnya, kita akan dapat bergerak ke depan, menjalani kehidupan dengan perspektif-perspektif baru, bertumbuh ke atas, upward, makin tinggi, makin maju, tanpa titik akhir. 

Ada gerak siklikal, juga ada gerak linier, dan gabungan keduanya mengantar kita ke kemajuan, progress, yang makin tinggi, moving upward, tanpa titik akhir. Tidak ada gerak berputar-putar di tempat.

Konsep waktu yang ketiga ini terlihat berlaku dan diwujudkan dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Para saintis perlu mengulang observasi-observasi dan eksperimen-eksperimen atas banyak fenomena, untuk tiba pada ilmu pengetahuan yang makin maju dan makin tinggi. 

Jagat raya juga dipandang sebagai jagat raya yang siklikal (skenario satu): jagat raya yang muncul lewat big bang lalu mengembang makin cepat, suatu saat akan tiba pada titik jenuh pengembangannya, berakhir dan collapse sebagai big crunch, yang membuat jagat raya mengerucut sampai ke suatu titik zero singularitas, yang akan disusul dengan big bang lagi. 

Ada skenario dua: jagat raya tiga dimensi terus-menerus mengembang linier makin cepat tanpa akhir. 

Masih ada skenario tiga: jagat raya yang siklikal sekaligus linier progresif, yang membuat organisme-organisme cerdas akan berkembang makin cerdas tanpa batas, lewat aktivitas recursive self-improvement. Entropi melahirkan anti-entropi, keduanya bersiklus sekaligus bergerak linier.

Mari, kita lanjutkan ke eskatologi apokaliptik yang sudah kita tinggalkan sejenak tadi.

Dissonansi kognitif

Well, Collins pun menegaskan bahwa nilai abadi apokaliptisisme tidak terletak pada pseudoinformasi (“informasi gadungan) yang diberikannya mengenai kosmologi atau sejarah yang akan datang, melainkan pada suatu dunia adikodrati yang keberadaannya dibayang-bayangkan dan ditegaskan kuat-kuat./5/

Satu catatan perlu diberikan terkait pseudoinformasi dalam kitab-kitab apokaliptik. Para nabi apokaliptik (di zaman kuno dan di zaman modern) dapat semau mereka mengubah atau mengganti informasi apa pun yang mereka sampaikan atau indoktrinasikan ke umat mereka. Kita katakan, mereka piawai melakukan rasionalisasi.

Jika jadwal waktu kiamat gagal terpenuhi, mereka segera membuat jadwal baru. Jika ramalan atau nubuat tentang peristiwa-peristiwa yang akan mendahului kiamat tidak terpenuhi (semuanya memang gagal, sejak dulu hingga kini), mereka mengarang-ngarang peristiwa-peristiwa pengganti. 

Serentak dengan itu, nubuat-nubuat baru itu dipropagandakan dengan sangat gencar untuk mengatasi kegalauan kognitif besar akibat kegagalan atau melesetnya skenario kiamat yang sudah dibuat sebelumnya. Sindroma psikologis dissonansi kognitif memang dialami semua penganut apokaliptisisme. 

Sudah gagal, meleset, dan mengalami kegalauan kognitif, tapi masih saja mereka mempropagandakan hal yang itu-itu juga, yang sudah tampil dalam kemasan-kemasan baru tapi dengan isi ideologis yang sama./6/

Ciri-ciri pemikiran apokaliptik

Selain orientasi ke dunia adikodrati yang menjadi sebuah ciri pokok, ada sejumlah besar unsur lain yang membangun pemikiran apokaliptik./7/ 

Ciri-ciri berikut ini umumnya terdapat dalam tulisan-tulisan apokaliptik. Saya daftarkan 25 ciri. Tentu tidak semua ciri ini langsung muncul sekaligus dalam sebuah tulisan apokaliptik kanonik atau suatu tulisan apokaliptik ekstrakanonik. 

1. Dunia masa kini dan segala hal yang berlangsung di dalamnya dipandang tidak memihak, tapi melawan, umat-umat keagamaan yang dari dalamnya tulisan-tulisan apokaliptik muncul;

2. Pesimisme radikal, ketidakpercayaan, penolakan dan perlawanan keras terhadap segala sesuatu yang duniawi (manusia, lembaga-lembaga dan kekuatan-kekuatan lain) yang mengendalikan sejarah dan kehidupan masa kini yang sedang berlangsung;

3. Dunia masa kini dan semua hal yang masih sedang berjalan di dalamnya dipandang tidak lagi sepenuhnya berada langsung dalam kendali Allah yang dipercaya umat-umat keagamaan ini, tapi dipercaya berada dalam kendali kekuatan-kekuatan demonik (Setan atau Iblis dan semua kaki-tangannya) yang memusuhi dan melawan Allah yang dipercaya umat;

4. Dualisme etis: dalam jagat raya ini dipercaya ada dua kekuatan moral yang hidup, yang sedang bekerja, yang bertentangan satu sama lain dan berada dalam konflik, yakni kekuatan kebaikan (yakni Allah dan semua balatentaranya) dan kekuatan kejahatan (yakni Setan atau Iblis atau nama-nama lainnya, beserta dengan semua bala tentaranya);  

5. Dualisme kosmologis: dalam kosmos atau jagat raya dipandang ada kawasan-kawasan yang dikuasai oleh Allah sepenuhnya dan ada pula kawasan-kawasan lain yang sementara ini dikuasai oleh Setan atau Iblis dan semua pengikutnya;

Catatan: Umum diakui bahwa konsep-konsep Yahudi-Kristen tentang dualisme kosmologis dan dualisme etis dipinjam dari agama Zoroastrianisme yang sudah berkembang lebih dulu sebelumnya di Persia/Iran. Agama ini dibangun oleh nabi Zoroaster atau Zarathustra yang hidup antara abad ke-7 dan abad ke-6 SM.

Berdasarkan wahyu yang diterimanya ketika dia sedang mandi di sebuah sungai, bersamaan dengan pelaksanaan ritual purifikasi pagan di sungai itu, Zoroaster mengajarkan bahwa ada Tuhan yang esa yang berdiam di sorga, yang bernama Ahura Mazda (“Tuhan yang arif”), yang menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kehidupan. Tetapi ada juga lawan Ahura Mazda, yaitu Angra Manyu (“roh perusak”), yang tinggal di dasar-dasar kedalaman neraka, dan menjadi sumber kedurjanaan, kejahatan, kehancuran dan kematian./8/

6. Pertempuran-pertempuran dahsyat di kawasan adikodrati antara Alah dan Setan atau Iblis, yang melibatkan pasukan-pasukan adikodrati masing-masing, dan berbagai peristiwa besar lain adikodrati, dipandang memiliki manifestasi paralel dalam pertempuran-pertempuran yang sedang berlangsung di dunia dan sejarah insani, yang melibatkan dan menyengsarakan umat-umat keagamaan, dan juga dalam berbagai peristiwa besar lainnya di dunia kodrati;

7. Penderitaan, penganiayaan, penindasan, kesukaran-kesukaran besar dan berbagai macam persoalan sulit, sedang dengan sangat berat dan sukar dipikul dan dihadapi umat keagamaan, sampai ke titik-titik batas daya tahan mental dan fisikal normal mereka;

8. Dalam menghadapi semua persoalan berat yang menimbulkan berbagai bentuk penderitaan besar itu, umat keagamaan mencari kekuatan mental-spiritual pada Allah yang dipercaya umat, dan meminta dengan sangat kepada Allah mereka ini supaya penderitaan mereka segera diakhiri dan musuh-musuh dan orang-orang jahat yang menyengsarakan mereka segera dibalas oleh Allah mereka;

9. Tampil hamba-hamba Allah yang mengklaim menerima wahyu ilahi (Yunani: apokalypsis) tentang perjalanan sejarah insani ke depan dan tentang keadaan dunia adikodrati, lewat perantaraan malaikat-malaikat atau makhluk-makhluk adikodrati lain. Wahyu ilahi ini ditujukan kepada umat-umat keagamaan yang sedang disengsarakan oleh musuh-musuh mereka, dan sedang mencari kekuatan dan penghiburan dari Allah yang mereka percayai;

10. Wahyu ini diterima lewat pendiktean langsung secara lisan oleh seorang malaikat, umumnya lewat bahasa esoterik simbolik, metaforis atau karikaturis, yang lalu dicatat oleh si penerima wahyu atau oleh asistennya. 

Wahyu itu dipercaya memberi makna adikodrati dan abadi atas semua kejadian yang sedang berlangsung dalam sejarah dunia, yang melibatkan umat di dalamnya, yang semuanya ditempatkan dalam rancangan dan skenario maksud dan tujuan tindakan-tindakan abadi Allah yang agung, yang sudah digariskan dan ditentukan sebelumnya (atau “dipradestinasikan”), demi kebaikan umat yang mengasihi Allah ini;

11. Atau wahyu ilahi ini diterima dan dijelaskan oleh seorang malaikat sementara si hamba Allah yang menerima wahyu sedang berada dalam suatu “perjalanan mistikal” menembus ruang dan waktu insani, masuk ke dunia adikodrati yang dilihat bertingkat-tingkat, menuju kawasan takhta Allah di sorga, untuk di sana dia mendengar dan melihat berbagai hal luarbiasa yang tak terkatakan; atau si penerima wahyu ini digambarkan juga melakukan suatu “perjalanan spiritual” memasuki kawasan neraka;

12. Dalam wahyu itu juga diungkapkan berbagai “tanda dan peristiwa zaman” yang semuanya membentuk suatu jadwal waktu kronologis atau “timetable” dan kejadian-kejadian yang harus dipenuhi terlebih dulu sebelum “titik akhir” (“titik eskatogis”) semua kesengsaraan tiba dan dialami umat;

13. Konsep tentang Kiamat atau Akhir Zaman dimunculkan sebagai saat berakhirnya samasekali sejarah dunia dan sejarah insani dalam suatu bencana dahsyat jagat raya yang akan melenyapkan segalanya: planet Bumi dan segenap unsur jagat raya, dan semua kehidupan dan semua kebudayaan dan peradaban insani;

14. Kiamat dapat dilukiskan sebagai puncak dari berbagai perang dahsyat yang berlangsung di muka Bumi, yang diakhiri oleh suatu bencana kosmik yang Allah sendiri adakan untuk membawa umat yang saleh masuk ke dalam kehidupan di alam adikodrati; 

15. Diyakini, semakin saleh suatu umat menjalani kehidupan mereka di tengah penindasan yang mereka sedang alami, kiamat dapat semakin lebih dipercepat terjadinya oleh Allah sendiri;

16. Pengadilan Akhir digelar oleh Allah atau oleh Sosok Adikodrati lainnya yang menjadi Wakil Allah untuk bertindak sebagai Sang Hakim dunia yang akan mengadili dengan seadil-adilnya semua orang, baik orang yang sudah meninggal ketika kiamat terjadi maupun orang yang masih hidup;

17. Kebangkitan orang mati dialami oleh orang yang sudah meninggal sebelum kiamat terjadi, dan orang-orang yang masih hidup menerima “tubuh astral”, sehingga baik orang yang sudah mati maupun orang yang masih hidup, keduanya akan diadili dalam Pengadilan Akhir adikodrati ini berdasarkan perbuatan-perbuatan mereka selama kehidupan mereka di dunia kodrati yang telah diakhiri;

18. Semua perbuatan setiap orang selama kehidupan di muka Bumi dicatat oleh para malaikat petugas dalam sebuah Kitab Kehidupan, dan berdasarkan catatan-catatan dalam buku ini Pengadilan Akhir pamungkas yang seadil-adilnya akan segera dilangsungkan atas mereka;

19. Dalam beberapa kasus pengadilan adikodrati ini, jika diperlukan, saksi-saksi adikodrati dipanggil untuk memberi kesaksian-kesaksian mereka atas manusia-manusia yang sedang diadili dalam Pengadilan Akhir;

20. Dilakukan suatu tinjauan kronologis panoramik menyeluruh atas kehidupan masing-masing orang atau masing-masing bangsa yang sedang diadili di Pengadilan Akhir ini;

21. Orang-orang jahat yang telah menyengsarakan umat Allah dijatuhi vonis penghukuman abadi di api neraka; sedangkan umat Allah sendiri menerima pahala masuk sorga, hidup di kawasan Allah sendiri beserta semua malaikat dan balatentara ilahi selamanya;   

22. Setan atau Iblis dan semua pasukan dan anteknya, dalam suatu pertempuran kosmik adikodrati pamungkas, dikalahkan oleh Allah atau oleh Wakil Adikodratinya bersama balatentara sorgawi, dan selanjutnya Setan dan semua anteknya menjalani penghukuman abadi di tempat yang Allah telah sediakan sebelumnya buat mereka selamanya;

23. Karena janji-janji tentang kemenangan dan pahala yang sedang menunggu umat yang sedang disengsarakan dan yang tak lama lagi mereka akan alami ketika dunia kodrati berakhir, yang disampaikan oleh hamba-hamba Allah ini lewat wahyu-wahyu yang mereka telah terima, umat yang sedang sengsara dalam kenyataannya mengalami banyak penguatan mental sehingga mereka sanggup bertahan, tidak menyerah kalah terhadap musuh-musuh mereka, bahkan bisa mendapatkan kemenangan besar;   

24. Jadi, dalam apokaliptisisme, pesimisme terhadap dunia dan sejarah kodrati, pada satu sisi, memang menimbulkan suatu eskapisme “kalangan pecundang”, sikap melarikan diri dari kenyataan keras dunia kodrati lalu berharap dapat segera masuk ke dunia adikodrati yang dibayang-bayangkan dan diangan-angankan;

25. Tetapi pada sisi lainnya, bersamaan dengan eskapisme ini, semangat tempur dan semangat juang di dalam dunia ini bisa timbul dan bangkit oleh janji-janji kemenangan dan keberpihakan Allah kepada mereka. Dan juga oleh bayangan bahwa musuh-musuh mereka akan dikalahkan oleh bala tentara Allah, lalu dibuang ke dalam api neraka abadi. Dendam mereka, diyakini oleh para penganut teologi kiamat, akan tuntas dibalas di dunia lain. Kemarahan dan dendam abadi, sampai dibawa ke luar dunia.

Secara keseluruhan, 25 ciri di atas membentuk apa yang dinamakan apokaliptisisme. 

Dari daftar ciri-ciri di atas, terlihat bahwa apokaliptisisme pada akhirnya bisa juga memberi suatu manfaat dan memiliki nilai positif juga untuk membangun semangat kehidupan dan memupuk serta menumbuhkan daya juang manusia dalam suatu kehidupan yang keras dan sulit. Ya, mereka diperkuat dan termotivasi karena iming-iming pahala dan keyakinan bahwa Allah berpihak ke mereka.

Seperti ditulis Collins, sekian sastra apokaliptik kanonik maupun ekstrakanonik dapat bermanfaat positif, misalnya: 

• dapat memberikan dukungan mental dan sosial-politis kepada umat Yahudi di abad ke-2 SM yang sedang mengalami penganiayaan dari raja Syria Antiokhus IV Epifanes (Kitab Daniel), 

• memberi kepastian kembali pada komunitas keagamaan ketika mereka sedang menghadapi kejut budaya (Kitab Para Pengawas) atau ketidakberdayaan sosial (Perumpamaan-perumpamaan Henokh), 

• atau ketika sedang melakukan orientasi ulang atas kehidupan mereka setelah  mengalami trauma historis yang tragis (2 Barukh, 3 Barukh), 

• atau memberi mereka penghiburan ketika mereka sedang menghadapi nasib yang suram dan menyedihkan (4 Ezra), atau ketika sedang menghadapi fakta tragis kematian yang niscaya (Wasiat Abraham)./9/

Dalam zaman modern

Tapi dalam zaman sekarang ini, ketika kita hidup di abad ke-21, pesimisme dan eskapisme dalam apokaliptisisme ternyata lebih kuat berpengaruh pada kehidupan banyak komunitas keagamaan. 

Itu membuat mereka lebih menginginkan dunia yang ada sekarang secepatnya mengalami kiamat. Bumi, peradaban insani dan jagat raya lenyap, dan semua orang saleh dibawa masuk ke dalam dunia adikodrati untuk hidup di sorga bersama Allah. Sebaliknya, orang-orang yang dipersepsi mereka sebagai orang-orang jahat (katakanlah, mereka paling lama hidup rata-rata 70 tahun di Bumi) mereka inginkan dimasukkan ke dalam neraka sebagai bentuk penghukuman dan pembalasan yang setimpal selamanya, abadi, setidaknya selama milyaran tahun.

Mentalitas mengejar keselamatan abadi lewat suatu dunia yang kiamat boleh dikata diidap oleh kebanyakan kaum beragama radikal dewasa ini, di dalam suatu dunia yang mereka anggap sudah tak adil dan dikuasai oleh musuh-musuh umat dan musuh-musuh Allah. 

Dalam suatu bentuk yang ekstrim fundamentalis, mentalitas semacam ini telah melahirkan suatu gerakan Zionis Kristen yang menginginkan dunia segera diseret masuk ke dalam suatu perang nuklir habis-habisan, yang dimulai di Israel modern, yang akan berbuntut pada kehancuran planet Bumi dan kedatangan kembali Yesus Kristus dan “pengangkatan ke sorga” orang-orang pilihan-Nya./10/ 

Di antara berbagai tulisan apokaliptik dalam Alkitab, Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama dan Kitab Wahyu Yohanes dalam Perjanjian Baru banyak disalahtafsirkan dan di-“dehistorisasi” (dilepaskan dari konteks sejarah real penulisan dua kitab ini) hanya supaya dapat dijadikan landasan-landasan skriptural bagi agenda-agenda religio-politik gerakan radikal ini. 

Padahal, kalau ditafsir dengan memakai pendekatan sejarah dan pendekatan sosiologis, baik Kitab Daniel dan tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi lainnya/11/ maupun kitab Wahyu Yohanes/12/ sama sekali tidak mendukung agenda-agenda apapun dari gerakan-gerakan ekstrim semacam ini. 

Gerakan-gerakan ekstrim yang berlandaskan teologi kiamat bukan hanya ditemukan dalam kekristenan, tapi di dalam banyak ragam komunitas keagamaan, seperti telah diperlihatkan Mark Juergensmeyer dalam dua bukunya yang komprehensif: Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence dan Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militias to Al Qaeda./13/ Lihat juga buku sejenis yang banyak dibicarakan orang karya Robert Pape, Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism./14/

Ancaman-ancaman terhadap Planet Bumi dan Homo Sapiens

Nah, bertolakbelakang dari kaum agamawan yang bervisi apokaliptik yang menantikan dunia ini, khususnya planet Bumi ini, berakhir dan lenyap pada hari kiamat, para saintis dalam zaman modern ini malah memikirkan berbagai kemungkinan untuk menyelamatkan planet Bumi dan Homo sapiens di masa depan ketika sesuatu akan terjadi dan mengancam eksistensi planet ini dan kehidupan spesies ini. 

David R. Russell menulis bahwa para penulis sastra-sastra apokaliptik dan kaum saintis sama-sama menampakkan kepedulian terhadap orde ciptaan, nasib akhir jagat raya, dan kemungkinan adanya suatu ciptaan baru, meskipun kepedulian ini diungkap dengan cara-cara yang berbeda antara keduanya./15/ 

Tapi, menurut saya, ada suatu perbedaan mendasar di antara keduanya: para pembela apokaliptisisme mengharapkan suatu ciptaan baru yang immaterial adikodrati, sedangkan para saintis berpikir untuk mempertahankan suatu dunia yang material kodrati, yang akan tetap bisa ditinggali Homo sapiens selamanya dan di dalamnya mereka dapat membangun peradaban yang juga akan diusahakan bertahan kekal dalam jagat raya.

Pada satu pihak, planet Bumi terancam oleh berbagai tindakan buruk manusia terhadap planet ini sendiri, misalnya dengan meracuninya atau meningkatkan suhu global terus-menerus. Selain itu, suatu perang nuklir habis-habisan di seantero planet biru ini akan bisa juga melenyapkan kehidupan di dalamnya dan menanduskan semua permukaan planet ini selama ratusan hingga ribuan tahun ke depan. 

Tidaklah keliru jika saya menyatakan bahwa Perang Dunia III dapat terjadi karena dipicu oleh konflik-konflik regional dan global antar-agama-agama, jika pada kesempatan mana kelompok-kelompok keagamaan militan garis keras berhasil menguasai instalasi-instalasi yang menyimpan persenjataan nuklir di negara-negara tertentu, atau jika mereka memiliki weapons of mass destruction lainnya, WMD kimiawi dan biologis. 

Teologi kiamat, doomsday theology, yang dianut kalangan militan fundamentalis religiopolitik dari berbagai agama, seperti Al Qaeda dan figur semacam Osama bin Laden (alm.), dapat menjadi ideologi pendorong dan pembenar PD III. 

Kalau PD III pecah, perang ini tak konvensional lagi, tapi mengambil bentuk perang yang menggunakan WMD atau senjata pemusnah massal nuklir, biologis dan kimiawi. Akibat mematikan perang itu bukan lagi di kawasan lokal, tapi di seluruh kawasan global, mencakup seluruh penghuni Bumi dan planet Bumi sendiri, dan bertahan langgeng. 

Ketika bom-bom nuklir meledak di permukaan Bumi dalam suatu perang nuklir sedunia, gelombang ledakan, badai api, sinar-sinar gamma, dan neutron, akan memanggang nyaris setiap penghuni Bumi. 

Strontium radioaktif, cessium radioaktif dan iodine radioaktif dalam jangka waktu ratusan tahun mengisi seluruh permukaan Bumi dan terus mengancam tubuh manusia dan semua kelenjar di dalamnya, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker. 

Awan-awan radioaktif yang memenuhi angkasa, akan menutup masuknya cahaya Matahari ke Bumi sehingga musim dingin global akan melanda seluruh muka Bumi. 

Selain itu, ledakan-ledakan bom nuklir akan membakar nitrogen di atmosfir sehingga mengubahnya menjadi nitrogen dioksida yang kemudian akan melenyapkan ozone di bagian atmosfir yang lebih atas. 

Tanpa lapisan pelindung ozone, radiasi kuat sinar ultraviolet Matahari akan menerjang masuk ke permukaan Bumi, dan akan menimbulkan berbagai jenis kanker pada kulit semua makhluk hidup, melenyapkan hampir semua mikroorganisme, dan merusak ekologi dengan sangat dahsyat./16/ 

Bumi akan tandus, kering dan gersang serta dipenuhi radiasi nuklir selama ratusan bahkan ribuan tahun ke depan, dan nyaris semua bentuk kehidupan akan lenyap, kecuali bentuk-bentuk kehidupan yang dapat bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang sangat ekstrim. 

Karena PD III bisa terjadi dadakan dan, jika terjadi, akan melenyapkan Homo sapiens dan semua makhluk hidup lainnya yang menjadi penghuni planet Bumi, maka tak ada jalan lain, untuk manusia bisa survive dan bertahan abadi bersama peradabannya dalam jagat raya di masa depan, manusia harus membuka koloni-koloni kedua dan ketiga di jagat raya, di planet-planet lain, misalnya planet Mars dan bulan Titan. 

Orang umumnya sudah banyak tahu tentang planet Mars, tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui bulan Titan. Baiklah, keterangan pendek saya berikan.

Namun, sebelum memberi keterangan ringkas tentang bulan Titan, ada baiknya saya bagi ke anda sebuah berita mutakhir menarik terkait planet Mars, yang baru saya baca di Livescience.com./17/

Sebuah batu meteorit utuh asal planet Mars yang terbesar di dunia, yang diberi nama Toudenni 002, baru saja dipamerkan untuk umum 1 September 2021 di Maine Mineral & Gem Museum di Bethel, Maine, Amerika Serikat.

Berat batu meteorit Toudenni 14,5 kg, dan bagian terlebarnya mencapai 25 cm. Batu meteorit ini ditemukan dekat sebuah gurun penambangan garam di Mali. Lalu lewat seorang pedagang bebatuan meteorit yang mendapatkan batu meteorit Toudenni dalam bulan April 2021, batu meteorit ini sampai ke museum tersebut.

Bebatuan Mars dapat terlontar ke angkasa luar dari planet ini, menembus atmosfir tipis planet ini, ketika permukaan planet merah ini dengan sangat keras ditumbuk oleh asteroid atau komet besar yang datang dari angkasa luar. Dari antara bebatuan Mars yang terlontar ini, ada yang selanjutnya dapat jatuh ke Bumi.

Meteorit Toudenni diperkirakan jatuh ke gurun di Mali tersebut dalam kurun belakangan 100 tahun terakhir ini. Sangat mungkin batu meteorit ini, yang memuat tandatangan mineral kimiawi Mars, terbentuk dalam kurun vulkanik Mars lebih dari 100 juta tahun lalu.



Foto batu meteorit Toudenni 002. Sumber gambar livescience.com.


Nah, selanjutnya info singkat tentang bulan Titan.

Bulan Titan (usia 4,003 milyar tahun) ditemukan oleh Christiaan Huygens pada 25 Maret 1655. Titan adalah bulan terbesar planet Saturnus dan satelit terbesar kedua dalam sistem Matahari yang lebih besar dari planet Merkurius dan dari bulan planet Bumi. 

Titan adalah satu-satunya bulan yang diketahui memiliki suatu atmosfir padat, dan satu-satunya bulan atau planet selain Bumi yang sudah terbukti dengan jelas memiliki tempat-tempat pada permukaannya (sungai, danau dan laut) yang berisi cairan hidrokarbon seperti methane dan ethane, yang mungkin menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang belum kita ketahui. Awan-awan terbentuk di sana, lalu naik ke atas, dan selanjutnya menurunkan hujan, seperti di Bumi. 

Nitrogen dan methane di atmosfir Titan bereaksi, membentuk molekul-molekul organik yang kaya. Jauh di bawah permukaan bulan ini, terdapat lautan air luas yang sangat mungkin berisi bentuk-bentuk kehidupan yang sudah kita ketahui.




Dua foto bulan Titan yang diambil oleh wantariksa Cassini, NASA, 22 April 2017. Bawah: foto close-up. Sumber gambar businessinsider.com.


Setelah wantariksa Cassini yang menggunakan bahan bakar nuklir (plutonium-238) yang diluncurkan NASA dalam bulan Oktober 1997 (dan mencapai sistem Saturnus setelah tujuh tahun penerbangan), NASA berencana akan mendaratkan di Titan sebuah wantariksa yang diberi nama Dragonfly pada tahun 2034 dalam rangka misi astrobiologis, untuk mencari bentuk-bentuk kehidupan di bulan ini dan mempelajari seluk-beluk bulan ini. Saksikan video pendek NASA tentang bulan Titan yang diunggah 25 November 2020 di Youtube https://youtu.be/lr4r70DWShk.

Kembali ke ihwal planet Mars. Jika planet Mars berhasil di-“terraform”, yakni seluruh kondisinya dijadikan sama seperti kondisi planet Bumi yang didiami manusia, maka planet ini akan menjadi planet kedua yang didiami manusia. Tapi itu belum cukup. Homo sapiens perlu menjadi pengelola seluruh sistem Matahari, dan, jauh di depan, ketika sudah bertransformasi menjadi organisme “transhuman” --- perpaduan cerdas biologi dan teknologi--- Homo sapiens akan menyebar, menjadi penghuni jagat raya.

Para saintis terus memperingatkan kita bahwa kita sedang berlomba dengan waktu sampai tersedia planet kedua yang siap dihuni manusia di masa depan yang dekat. Menyiapkan sebuah planet kedua untuk menjadi rumah Homo sapiens adalah tugas dan pekerjaan mendesak yang perlu segera dilakukan. Sungguh, kita sedang berlomba dengan waktu!

Pada pihak lain, ancaman serius terhadap planet Bumi dan semua penghuninya datang dari luar Bumi, dari angkasa. Yang saya maksudkan bukanlah ancaman penyerbuan pasukan aliens ke planet Bumi untuk mereka duduki (walaupun hal ini mungkin saja bisa terjadi di masa depan!), tapi sesuatu yang lain. 

Tentu, ancaman yang datang dari angkasa luar dapat berupa meteor atau asteroid besar yang sedang meluncur menuju planet Bumi. Tentang ancaman ini saya sudah diskusikan di beberapa tulisan lain saya, yang terbaru berjudul Meteor Doomsday atau Apokalipsis Meteor Suatu Saat Akan Terjadi”./18/ Tidak mau saya ulang pada kesempatan ini. Saya ajak anda untuk fokus pada uraian berikut.

Planet Bumi dan semua makhluk hidup di dalamnya secara alamiah akan lenyap pada saatnya karena, menurut kajian astrofisika, sesuatu tengah terjadi pada bintang besar kita yang kita namakan Matahari, sang Surya. Matahari, sejak sekarang, secara evolusioner sedang mengalami peningkatan suhu.

Dalam jangka waktu 5 milyar tahun dari sekarang, Matahari akan berevolusi menjadi suatu bola raksasa merah (Red Giant) yang membengkak dan menggembung. Lalu, 7 milyar tahun dari sekarang, ketika bola Matahari sampai pada ukuran terbesarnya dan terang cahayanya mencapai puncaknya, kulit gas pada lapisan terluarnya (korona) akan menelan dan membakar lenyap planet Bumi (lihat dua ilustrasi di bawah ini).




Yaaahhhh, planet Bumi terlahap!




Sebuah ilustrasi Red Giant sedang menelan dan membakar musnah sebuah planet yang jalur orbitnya terlalu dekat dengan si raksasa merah. Sumber ilustrasi Kosmo.


Tapi, jauh sebelum hal itu terjadi, 1,1 milyar tahun dari sekarang, sang Matahari akan 11% bertambah terang dan panas, dan keadaan ini akan meningkatkan temperatur udara di seluruh muka Bumi rata-rata menjadi 50 °C (atau 120 °F). 

Suhu setinggi itu, meskipun belum mencapai titik didih air, akan membuat semua air dan semua lautan yang ada di muka Bumi perlahan menguap. Tanaman dan binatang (termasuk manusia di dalamnya) akan menghadapi masa sangat sulit untuk hidup dalam rumah panas ini, dan tentu mereka semua tidak akan bertahan lama, kecuali organisme sel tunggal yang disebut Arkhaea. Tetapi ketahanan hidup semacam ini akan berlangsung sebentar saja. 

Ketika uap air sampai di atmosfir, cahaya ultraviolet sang Surya akan memecah molekul-molekul air, dan gas hidrogen yang diperlukan untuk membangun sel-sel makhluk hidup perlahan akan bocor, keluar ke angkasa, lalu persediaannya di planet Bumi habis.

Nah, ini poin yang sangat penting: 

Jika keturunan kita---organisme cerdas yang dinamakan Homo sapiens, atau organisme cerdas keturunan kita yang sudah berubah fisik (menjadi organisme hibrid biologi dan teknologi) dan memiliki struktur molekuler DNA yang sudah lain karena diubah oleh kekuatan evolusi alamiah selama jutaan hingga milyaran tahun, atau oleh evolusi teknologis artifisial lewat teknologi DNA-editing--- ingin tetap bertahan hidup, mereka harus pindah ke planet-planet lain di dalam sistem Matahari. Misalnya ke sebuah planet merah yang tidak terlalu jauh dari Bumi dan masih dalam kawasan sistem Matahari kita, yakni planet Mars.

Jika setiap hari kita meluncurkan 1.000 wahana antariksa untuk mengungsikan 7 milyar manusia ke suatu atau beberapa planet lain yang aman, dibutuhkan semilyar wahana antariksa dan waktu selama 2.700-3.000 tahun ke depan untuk seluruh peluncurannya. 

Selain masalah itu, planet-planet lain yang jadi tujuan pengungsian juga perlu disiapkan secara besar-besaran untuk menghasilkan biosfir dan atmosfir yang cocok untuk kehidupan manusia, biosfir dan atmosfir yang sama dengan yang terdapat di planet Bumi sekarang ini, setidaknya memiliki air dan oksigen untuk kehidupan. 

Tambahan pula, manusia yang sudah diungsikan itu perlu diberi makan, dirawat secara medis dan psikologis, dan disiapkan di rumah-rumah baru mereka di luar planet Bumi.

Terraforming Planet Mars

Mengubah suatu planet lain koloni menjadi sebuah planet yang sama dengan planet Bumi untuk siap dihuni manusia disebut “terraforming.” 




Image credit: D. Mitriy|wikimedia.org


Terraforming ini membutuhkan sains dan teknologi yang sangat advanced, dan juga tentunya membutuhkan sumber daya manusia, sumber daya alam dan biaya yang besarnya tidak terbayangkan sekarang ini! 

Bisa jadi, jika terraforming berhasil dilakukan, yang akan bisa mengungsi ke planet-planet lain, misalnya ke Mars atau ke planet-planet lain yang lebih jauh di luar sistem Matahari kita, hanyalah segelintir manusia yang unggul secara finansial, atau unggul secara genetis di masa depan yang jauh. 

Tapi, semakin banyak dan beranekaragam suku-suku bangsa dan bangsa-bangsa yang pindah ke planet-planet lain, semakin besar peluang Homo sapiens para pengungsi antarplanet itu dapat bertahan hidup, misalnya ketika mereka terpapar penyakit-penyakit baru yang tidak ada di planet Bumi. Kenapa begitu? Ya, karena bawaan-bawaan genetik mereka berbeda-beda, dus daya tahan dan kekebalan mereka terhadap penyakit-penyakit asing juga akan variatif.

Sejumlah fisikawan menyatakan bahwa dalam melakukan terraforming terhadap planet Mars, kita perlu mengarahkan banyak asteroid, meteor dan komet, untuk menumbuk permukaan planet ini guna memanaskan planet ini untuk menghasilkan atmosfir yang cocok dengan kehidupan manusia. 

Tentang terraforming planet Mars dengan cara ini, wawancara pendek dengan kosmolog Michio Kaku berikut ini menarik untuk diperhatikan. Berikut ini saya sajikan untuk anda./19/

Tanya: Jika anda melakukan terraforming terhadap planet Mars, dan membuatnya menjadi sebuah Taman Eden, bukankah keadaan ini hanya akan berlangsung sementara, sebab planet Mars tidak cukup besar untuk secara permanen memegang suatu atmosfir?

Jawab: Anda benar sekali. Mars adalah sebuah planet kecil, dan karenanya medan gravitasinya tidak cukup kuat untuk secara permanen memegang suatu atmosfir yang tebal dan padat; tetapi cukup untuk memegang suatu atmosfir selama ribuan hingga jutaan tahun, suatu jangka waktu yang cukup untuk kita. 

Sekali kita berhasil melakukan terraforming terhadap Mars, akan tersedia atmosfir yang cukup bagi kebutuhan banyak generasi di masa depan. 

Tetapi ini tidak berarti bahwa generasi-generasi di masa depan, ribuan tahun dari sekarang, akan harus mengisi atmosfir sekali lagi. Bagaimanapun juga, untuk tujuan-tujuan kita, atmosfir yang akan terbentuk tidak merupakan suatu masalah.

Tanya: Bukankah menumbukkan komet dan asteroid ke planet Mars akan menimbulkan banyak kerusakan pada permukaannya

Jawab: Dalam program yang kami telah ajukan, kami menyatakan adalah mungkin untuk memanaskan Mars dengan menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir; tetapi ini akan berlangsung sangat lambat, mahal, dan mungkin suatu rencana yang berbahaya. 

Suatu rencana yang jauh lebih cepat adalah mengarahkan komet-komet dan meteor-meteor ke Mars. Kami juga menyatakan bahwa, jika anda mengarahkan komet atau meteor dengan berhati-hati, anda dapat mengontrol orbitnya. 

Itu berarti anda dapat dengan lembut menempatkan komet atau meteor itu dalam orbit Mars. Perlahan-lahan komet atau meteor itu akan turun ke permukaannya ketika orbitnya perlahan-lahan melemah. Ini berarti banyak komet atau meteor akan terbakar di atmosfir lalu melepaskan uap air. 

Poinnya di sini adalah bahwa kita dapat dengan akurat mengarahkan komet atau meteor sehingga kita dapat meminimalisir kerusakan permukaan planet tetapi memaksimalisir transfer energi, yang kita perlukan untuk memanaskan planet Mars.

Tanya: Adakah tabel waktu untuk terraforming planet Mars?

Jawab: Tidak segera. Tebakan yang bagus adalah bahwa kita akan mengirim astronot ke Mars pada pertengahan abad ini (dikarenakan adanya hambatan-hambatan pada masa kini dalam misi mengirim manusia ke angkasa luar). 

Jadi koloni-koloni pertama akan dibangun lebih belakangan dalam abad ke-21. Terraforming baru akan dimulai sekian dasawarsa sesudahnya. 

Kira-kira pada pertengahan abad ke-22 terraforming planet Mars baru dapat dipertimbangkan dengan serius. 

Tetapi seperti Carl Sagan suka tunjukkan, kita harus menjadi suatu spesies dua planet, sebab betul-betul sangat berbahaya jika kita menempatkan masa depan umat manusia hanya pada satu planet.

Itulah tanya-jawab dengan Michio Kaku. Impresif, gak?




Ilustrasi terraforming planet Mars. Credit: NASA|JSC|Pat Rawlings, SAIC. Sumber image Fraser Cain


Nah, tentang terraforming planet Mars, apa yang dikatakan fisikawan dan kosmolog besar Universitas Cambridge, Inggris, Stephen Hawking (lahir 8 Januari 1942, wafat 14 Maret 2018) patut juga kita simak. 

Pada tahun 2007, sebelum masuk ke penerbangan gravitasi-nol, dengan nada sedikit futuristik Stephen Hawking berkata, 

“Banyak orang telah bertanya kepada saya mengapa saya mengambil penerbangan ini. Saya melakukannya karena banyak alasan. Pertama-tama, saya percaya bahwa kehidupan di muka Bumi sedang berada pada suatu risiko yang makin besar untuk punah samasekali oleh suatu bencana seperti perang nuklir yang terjadi dadakan, suatu virus yang direkayasa secara genetik, atau bahaya-bahaya lain. Saya pikir umat manusia tidak memiliki masa depan jika mereka tidak memasuki angkasa luar. Saya karena itu ingin mendorong minat masyarakat pada angkasa luar.” 

Dalam suatu wawancara dengan The Daily Telegraph (2001), Hawking menyarankan bahwa angkasa luar adalah harapan jangka panjang untuk planet Bumi. “Koloni-koloni di angkasa luar bisa jadi harapan satu-satunya,” kata Hawking. 

Sehari sebelum NASA mengonfirmasi keberadaan air di Planet Mars, di hadapan U.S. House Committee on Science and Technology, pada 30 Juli 2008, Hawking membuat sebuah pernyataan, 

“Menemukan air di planet Mars dapat berarti bahwa suatu koloni planet Mars di masa depan dapat menggunakan air ini sebagai suatu sumber oksigen. Ini adalah suatu langkah pertama untuk menyebarluaskan umat manusia masuk ke angkasa luar, yang menurut saya harus merupakan tujuan jangka panjang kita.” 

Kini, di tahun 2011, sekian situs di planet merah Mars sudah dipastikan berisi air yang melimpah, bahkan disimpulkan bahwa planet Mars memiliki air yang aktif, dulu maupun sekarang./20/

Sejalan dengan pandangan Hawking, Prof. J. Richard Gott, astrofisikawan dari Princeton University, USA, menyatakan, 

“Kita harus membangun suatu koloni di Mars yang dapat menopang dirinya sendiri. Hal itu akan membuat kita suatu spesies dua planet dan akan membuat lebih baik prospek survival jangka panjang kita dengan memberi kita dua kesempatan ketimbang hanya satu kesempatan.” 

Memindahkan Planet Bumi

Selain terraforming, ada sebuah jalan lain yang tersedia, yang jauh lebih sulit untuk menyelamatkan planet Bumi, yakni memindahkan planet Bumi beserta semua sumber yang tersedia di dalamnya ke suatu lokasi orbit yang lebih jauh dari Matahari. Para ilmuwan sudah menghitung-hitung dan membuat simulasinya dengan menggunakan komputer.

Jika pada 6,3 milyar tahun dari sekarang sang Mentari berubah menjadi sebuah bola api raksasa merah yang menggelembung dan cahayanya menjadi 2,2 kali lebih terang dari cahayanya sekarang, maka untuk keselamatan penghuni planet Bumi dan planet ini sendiri, planet Bumi harus dipindahkan, “didongkel”, dari orbitnya yang sekarang, menjauh dari Matahari, ke jarak 1,5 kali dari orbitnya yang sekarang pada Matahari. Orbit planet Bumi yang baru ini sama dengan orbit planet Mars sekarang ini. 

Dengan jarak orbit yang ditambah ini, planet Bumi akan menerima panas dari Matahari yang sudah menggelembung dengan intensitas dan volume yang sama dengan intensitas dan volume yang sekarang ini kita semua terima.

Ihwal kapan usaha pemindahan planet Bumi ini sudah harus dijalankan, bergantung pada kapan kita mau mencapai orbit planet Bumi 1,5 kali lebih jauh dari orbitnya yang sekarang, untuk menghindari penguapan semua air di muka Bumi dan untuk menjauh dari bola merah raksasa sang Matahari yang makin memanas dan menggelembung! 

Kalau penggeseran orbit Bumi mau dilakukan perlahan dan bertahap, usaha ini mungkin sudah bisa dimulai sekarang! Ya, pergeserannya tentu akan berlangsung sedikit demi sedikit, dengan laju kecepatan seekor semut ketika semut ini berjalan dan berlari. Saya berguyon loh.

Masalahnya: kita sekarang ini belum memiliki teknologi yang aman dan applicable untuk memindahkan Bumi. Lagipula, apa alasannya jika dilakukan sekarang?

Selain itu, kita masih harus tahu, apakah orbit planet Bumi yang diubah akan berpengaruh juga pada orbit benda-benda langit lainnya dalam sistem Matahari. Juga apakah tidak akan mengganggu keseimbangan gravitasional yang sekarang sudah stabil antarplanet. Juga bulan planet Bumi yang sudah berada pada orbit tidal lock dengan Bumi akan berubah? Tapi, tampaknya ini semua bukan suatu persoalan besar.

Sepertinya, usaha menyelamatkan dan memindahkan planet Bumi sekarang ini terpikirkan hanya sebagai suatu fiksi ilmiah, yang dapat dijadikan kisah film-film Hollywood. Tetapi, pemindahan planet Bumi adalah sebuah tugas di masa depan yang jauh dan yang sangat serius! 

Kelihatannya sekarang ini, “kiamat”, dalam arti: lenyapnya planet Bumi dan matinya semua makhluk hidup di dalamnya, tidak akan bisa dihindari. Tapi katastrofi ini akan terjadi masih sangat lama jika dihitung dari rata-rata umur manusia sekarang ini (katakanlah rata-rata sampai 80 tahun); kita masih harus menunggu 1,1 milyar sampai 7 milyar tahun dari sekarang. Walah!

Well, makhluk yang nanti akan mengalami “kiamat” ini adalah keturunan manusia yang telah mengalami evolusi genetik dan evolusi inteligensi, secara alamiah atau lewat evolusi teknologis artifisial. Mereka akan sudah menjadi organisme transhuman yang telah melampaui dan mengatasi berbagai kelemahan dan keterbatasan tubuh biologis mereka. Ya, dengan cara menggabung biologi dan teknologi, menjadi sosok cybernetic organism atau cyborg.

Bisa jadi, mereka pada zaman mereka nanti akan dapat menemukan suatu solusi tepat, aman dan efisien untuk menghindari lenyapnya air dari planet Bumi dan terpanggangnya planet ini oleh panas cahaya sang Matahari yang sudah membengkak menjadi bola api raksasa maut./21/

Penutup

Saya mau bertanya kepada anda. Boleh ya? 

Manakah yang lebih dekat ke hati Tuhan yang maha pemelihara dan maha pengasih, para saintis (banyak yang ateis) yang ingin mempertahankan kehidupan spesies Homo sapiens dan peradabannya serta planet Bumi, ataukah para agamawan radikal dari berbagai agama yang dengan teologi kiamat mereka menghendaki planet Bumi ini dan jagat raya serta Homo sapiens lenyap dari dunia nyata?/22/

Dan untuk membuat anda tambah gelisah lagi, di beberapa alinea terakhir ini saya mau mengemukakan sesuatu. 

Apakah anda sudah menonton film yang berjudul Knowing

Jika sudah, anda pasti tersadarkan bahwa bintang Matahari kita juga bisa menjadi penyebab kiamat yang terjadi mendadak, pada masa kehidupan anda sendiri, tanpa terprediksi oleh kita di Bumi. 




“Solar promince” pada korona Matahari


Ada yang dinamakan solar prominence atau “tonggos” Matahari, yakni lidah-lidah api dahsyat yang sewaktu-waktu begitu saja menyembur dan menyambar ke angkasa luar dari permukaan korona Matahari, yaitu lapisan luar atmosfir bola bintang Matahari. Lidah-lidah api ini (dinamakan juga filamen) adalah plasma atau gas panas terionisasi yang terdiri atas hidrogen dan helium yang bermuatan listrik. 




Foto di atas adalah semburan plasma raksasa tonggos Matahari, direkam oleh NASA pada 24 Februari 2011. Mengerikan, gak? Saksikan videonya di NASA News./23/

Semburan api plasma yang stabil dapat bertahan selama beberapa bulan, dan sejauh ini dapat terjulur ke angkasa luar sampai ratusan ribu mil dari korona Matahari, lalu surut kembali atau seluruh massanya lepas ke angkasa luar. Tentu saja, akan bisa menyembur lebih jauh dan lebih jauh lagi. Mungkin juga lidah plasma Matahari---sebagai bagian dari struktur massif magnetik yang lebih besar yang dinamakan Corona Mass Ejections atau CMEs---dapat mencapai planet Bumi tempat anda hidup sekarang ini, dengan menembus medan magnetik perisai Bumi. 

Seandainya tonggos Matahari suatu saat tiba-tiba menyembur jauh sampai ke planet Bumi, seperti ditayangkan oleh film itu, itulah the end of the world in the literal sense of the word

Saya belum pelajari, apakah kejadian imajiner dalam film tersebut dapat menjadi suatu fakta ilmiah. 

Izinkan saya berimajinasi: bagaimanakah kejadiannya dan akibatnya jika plasma Matahari menyembur terus-menerus, jangka panjang, dengan massa plasma yang terus makin besar dan dengan kecepatan yang terus makin tinggi, lalu keseluruhan massa plasma ini terlepas dari korona Matahari? 

Apakah massa plasma yang sangat panas dan luarbiasa besar, yang terlepas dengan kecepatan tinggi itu bisa sampai ke Bumi, atau lenyap menjadi debu dalam sistem Matahari? Lihat ilustrasi di bawah ini (NASA, ESA, E. Wheatley [STSCI]), yang diambil dari Insane Curiosity.




Anda jangan hanya jadi gelisah, tapi yakinkanlah semua orang, termasuk diri anda sendiri, bahwa manusia di Bumi harus mempelajari bintang Matahari kita dengan sangat intensif supaya kita di masa depan, lewat teknologi kita yang sudah sangat advanced, bisa mengendalikan bahkan menjinakkan tonggos Matahari yang berukuran supergiant, bahkan segala sesuatu di dalam bintang ini yang bisa membahayakan planet Bumi dan seluruh isinya!  

ioanes rakhmat


Catatan-catatan

/1/ Kata Yunani “apokalypsis” muncul dalam kitab terakhir Perjanjian Baru yang diberi nama Kitab Wahyu, yakni pada Wahyu 1:1 dalam frasa “apokalypsis Iēsou Khristou” ( = wahyu Yesus Kristus).

/2/ Para pakar yang bekerjasama itu adalah Harold W. Attridge, Francis T. Fallon, Anthony J. Saldarini, Adela Yarbro Collins, dan John J. Collins (chair). Mereka disebut the Apocalypse Group of the Society of Biblical Literature’s Genres Project. 

Hasil kerjasama mereka dipublikasi dalam Semeia 14 (1979); kutipan dari hlm. 9. Definisi ini diambil-alih oleh David S. Russell, Divine Disclosure: An Introduction to Jewish Apocalyptic (Minneapolis: Fortress Press, 1992) hlm. 12. Lihat juga terjemahan Indonesia buku Russell ini oleh Ioanes Rakhmat, dengan judul Penyingkapan Ilahi: Pengantar ke dalam Apokaliptik Yahudi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993).

/3/ Paul D. Hanson, The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989) hlm. 428.

/4/ Paul D. Hanson, Old Testament Apocalyptic (Nashville: Abingdon Press, 1987) hlm. 27-28.

/5/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination: An Introduction to Jewish Apocalyptic Literature (Grand Rapids, Michigan/Cambridge, U.K.: William B. Eerdmans Publishing Co., 1984, 1998), hlm. 6, 281-82. 

/6/ Tentang teori dissonansi kognitif dan penerapannya pada kekristenan perdana, lihat Ioanes Rakhmat, Teori Cognitive Dissonance dan Kekristenan Perdana”, Freidenk Blog, 17 Januari 2009, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/01/teori-cognitive-dissonance-dan.html?m=0.

/7/ Lihat antara lain John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, hlm. 6; David S. Russell, Divine Disclosure, hlm. 8-13. 

Ciri-ciri pemikiran apokaliptisisme yang disajikan ini diupayakan lengkap dan menyeluruh; tapi tidak selalu semuanya sekaligus muncul dalam setiap tulisan apokaliptik Yahudi ataupun tulisan apokaliptik Kristen, yang ada di dalam kitab suci maupun di luarnya.

/8/ Lebih lanjut tentang Zoroastrianisme, lihat misalnya BBC, “Dualism in Zoroastrianism”, update mutakhir 02 Oktober 2009, https://www.bbc.co.uk/religion/religions/zoroastrian/beliefs/dualism.shtml.

/9/ John J. Collins, The Apocalyptic Imagination, hlm. 280.

/10/ Lihat http://www.ioanesrakhmat.blogspot.com/2009/03/dispensasionalisme-pra-millennial.html dan juga http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2008/11/fundamentalisme-zionis-yahudi-kristen.html.

/11/ Lihat penanganan yang benar atas sastra-sastra apokaliptik Yahudi oleh Paul D. Hanson dalam bukunya The Dawn of Apocalyptic: The Historical and Sociological Roots of Jewish Apocalyptic Eschatology (Fortress Press; edisi revisi 1979; cetakan ketiga 1989); juga John J. Collins, The Apocalyptic Imagination.

/12/ Kitab Wahyu Yohanes dalam kanon Perjanjian Baru juga bukan sebuah kitab yang “diturunkan” dari sorga. 

Kitab ini ditulis sebagai sebuah respons yang real dalam bentuk sastra apokaliptik terhadap situasi teraniaya dan tertindas secara sosial, politis dan ekonomi,  yang real dialami suatu komunitas Kristen yang juga real di dalam konteks sejarahnya yang khas di Asia Kecil, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus (memerintah 81-96) yang mengharuskan penyembahan dan pemujaan kepada Kaisar sebagai “Tuhan dan Allah” (dikenal sebagai kultus pemujaan Kaisar) diadakan di semua provinsi kekaisaran. 

Elisabeth Schüssler Fiorenza, misalnya, telah menelaah Kitab Wahyu ini dari sudut pandang sejarah sosial-politis komunitas yang sedang mengalami penganiayaan. Lihat Elisabeth Schüssler Fiorenza, The Book of Revelation: Justice and Judgment (Minneapolis, MN: Augsburg Fortress, 1998, edisi kedua); idem, “The Followers of the Lamb: Visionary Rhetoric and Social-Political Situation” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 123-146; lihat juga Leonard Thompson, “A Sociological Analysis of Tribulation in the Apocalypse of John” dalam Semeia 36 (1986) hlm. 147-174.

/13/ Teologi kiamat juga membuahkan berbagai gerakan militan dan terorisme dalam berbagai komunitas keagamaan yang ada di dunia dewasa ini. Penjabaran yang luas dan analisis yang tajam tentang keadaan ini, lihat Mark Juergensmeyer, Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (updated edition with a new preface) (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2000; first paperback printing 2001); juga idem, Global Rebellion: Religious Challenges to the Secular State, From Christian Militias to Al Qaeda (Berkeley, Los Angeles and London: University of California Press, 2008).

/14/ Robert Pape, Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism (New York: Random House, 2005).

/15/ David S. Russell, Prophecy and the Apocalyptic Dream: Protest and Promise (Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994) hlm. 115.

/16/ Untuk gambaran lebih lengkap tentang akibat-akibat yang akan ditimbulkan oleh suatu perang nuklir sedunia, lihat Carl Sagan, Cosmos (New York: Random House, 1980) bab 13 (hlm. 317 ff.).

/17/ Lihat berita Harry Baker, World's largest Martian meteorite goes on display”, Livescience, 3 September 2021, https://www.livescience.com/worlds-largest-martian-meteorite.html.

/18/ Ioanes Rakhmat, “Meteor Doomsday atau Apokalipsis Meteor Suatu Saat Akan Terjadi, Freidenk Blog, 29 Maret 2021, diedit 3 April 2021, https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2021/03/meteor-doomsday-atau-apokalipsis-meteor.html?m=0.

/19/ Wawancara pendek dengan Michio Kaku, 13 September 2010, “Should We Use Comets and Asteroids to Terraform Mars?”; tersedia online di http://bigthink.com/ideas/24011.


/21/ Lebih jauh tentang ihwal pemindahan planet Bumi, lihat http://www.newscientist.com/article/dn14983-moving-the-earth-a-planetary-survival-guide.html

/22/
Kalau anda mau tahu ide-ide saintifik tentang bagaimana planet Bumi bisa dilenyapkan, ide-ide ini terpasang online di http://www.livescience.com/17875-destroy-earth-doomsday.html. Mungkin ide-ide yang dibeberkan di situs itu suatu saat akan dijalankan oleh para radikalis keagamaan dari berbagai agama.

/23/ Lihat NASA NEWS by Susan Hendrix and Holly Zell, “Monster Prominence Erupts from the Sun”, NASA NEWShttps://www.nasa.gov/mission_pages/sunearth/news/News022411-monsterprom.html.