Sunday, May 19, 2019

Firman hidup versus apologetika

Hidup itu bertumbuh, bergerak, berbuah dan bertambah tinggi. Berubah makin maju karena proses belajar...

N.B. Baca juga pasangan tulisan ini Menjadi Seorang Ilmuwan Ph.D. di https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2013/09/menjadi-seorang-ilmuwan-phd.html?m=0.


FIRMAN TUHAN YANG HIDUP selalu dinamis, kreatif, aktif, progresif, kontekstual, relevan, membangun martabat mulia manusia, menumbuhkan wawasan baru dan tindakan baru, memajukan peradaban dan kesejahteraan umum, dan tak pernah bantut.

Jika tidak demikian, itu bukan firman Tuhan, tetapi firman para dogmatikus yang sudah bantut dan tak hidup lagi. Mereka bekerja di museum teologi fosil, bukan di laboratorium penelitian dan pengkajian kehidupan dan beranekaragam teologi yang baru dan tanggap.

Sesuatu yang hidup itu selalu bergerak, tumbuh, berbuah, dan berubah tahap demi tahap. Selalu belajar. Learning as an ongoing and endless process. 

Bukti bahwa si B telah belajar dengan efektif adalah dia berubah dalam banyak dimensi pemikiran dan tindakan. Tanda tidak belajar adalah tidak ada perubahan mental dan kognisi untuk menuju kemajuan tanpa akhir.

Ada banyak orang cerdas lebih dari lima tahun telah belajar teologi tingkat doktoral di perguruan-perguruan tinggi teologi di dalam negeri atau di luar negeri. Mereka lulus dengan judicium sangat memuaskan atau malah "cum laude", artinya "dengan pujian". Tetapi ada yang aneh pada mereka itu. Apa?

Mereka telah menjadi purnasarjana dengan menyandang gelar doktor (ada lebih dari satu jenis gelar doktor). Hasil belajar bertahun-tahun, tetapi dengan memiliki satu kecakapan atau kemahiran saja. Yakni membela mati-matian salah satu dogma-dogma kuno yang dirumuskan di zaman lampau, ratusan hingga ribuan tahun lalu.

Kata mereka dengan yakin, bahwa suatu dogma yang mereka telah pelajari, harus dibela dan dilindungi serta dijagai dari segala kritikan dan dekonstruksi akademik yang telah dilakukan kalangan lain yang berpikiran maju dan progresif.

Merekalah yang dikenal sebagai para apologet agama-agama. Dengan keahlian satu-satunya membela dan menjaga apa adanya dogma-dogma jumud dalam agama-agama mereka.

Bagi saya, mereka, para ahli apologetika itu, telah belajar tahunan untuk tidak belajar apa-apa. Bisanya hanya menjaga mati-matian dogma-dogma kuno. Tak boleh diubah sedikitpun. Tak boleh digeser-geser sejengkalpun.

Dus, mereka hidup, tapi tanpa pertumbuhan dan perubahan. Mereka bak suatu tanaman hidup, tapi bantut, tetap cebol dan kerdil, meskipun tetap mendapat pupuk dan air.

May God help enlighten them kindly.

ioanes rakhmat
19 Mei 2019