Sunday, December 2, 2018

Soal yang dilematis dan tricky: di Jerman, ribuan Muslim masuk Kristen

ISU HANGAT DILEMATIS DAN TRICKY DI JERMAN KINI: RIBUAN IMIGRAN MUSLIM MASUK KRISTEN

N.B.
Silakan share jika ingin lewat link ulasan ini. Video dipasang juga.

Mengapa masuk Kristen? Jawabnya, karena Injil Kristen membuatku bahagia.

Iniiiiii loh berita yang sedang menggemparkan dunia Muslim, berita tanpa kepastian data statistik. Tapi ada banyak alasan untuk percaya berita ini benar.

Ribuan bahkan belasan ribu imigran Muslim di Jerman (asal Timteng dan negara-negara lain yang akan menghukum berat setiap Muslim yang pindah agama) yang sedang menunggu proses (atau yang sudah mendapatkan info resmi negatif atas) penentuan nasib permintaan suaka politik mereka, akhirnya mengambil keputusan pindah agama.

Mereka melepaskan Islam, lalu menjadi Kristen lewat kegiatan belajar kepercayaan Kristen (sekian bulan lamanya) dan menerima baptisan. Dalam acara ritual pembaptisan ini mereka menyatakan dengan terang telah menolak Islam. Umumnya konversi massal ini berlangsung dalam gereja-gereja misioner evangelikal Jerman.

Banyak orang Jerman bahkan pihak pemerintah Jerman yang meragukan bahwa para petobat Kristen baru asal Islam ini betul-betul Kristen sejati, genuine Christians. Mereka dianggap mau menjadi Kristen resmi agar permintaan suaka politik mereka dikabulkan (atau ditinjau ulang jika sebelumnya sudah ditolak), selanjutnya menerima status resmi residen negeri Jerman, lalu menerima banyak tunjangan (berupa uang dan fasilitas lain untuk hidup baik dan sehat).

Selain itu, setelah menjadi Kristen resmi, kalaupun mereka tak mendapat suaka politik, kemungkinan mereka akan dideportasi paksa, dipulangkan ke negeri asal mereka, dalam anggapan mereka akan sangat kecil. Mungkin mereka berpikir, mana mungkin pemerintah Jerman tega mendeportasi mereka yang sudah menjadi warga resmi gereja-gereja Jerman.

Tapi pemerintah Jerman tak mau dikecoh oleh status mereka yang sudah menjadi Kristen. Screening dan riset ketat tetap dijalankan terhadap para petobat Kristen baru itu.

Ihwal telah menjadi Kristen resmi tidak meniadakan proses screening dan investigasi yang ketat dan cermat. Di ujung proses, terbuka kemungkinan luas mereka yang sudah menjadi Kristen itu akan tetap dideportasi.

Nah, pada video terlampir, ditampilkan seorang pendeta Jerman yang akan tetap membela mereka sampai titik darah penghabisan.


Apa reaksi anda?

Bagi saya, persoalannya memang tricky dan dilematis.

Apa itu "Kristen murni"? Adakah? Bisakah? Kriterianya apa? Bukankah orang mau memeluk suatu agama karena mereka umumnya berharap bahwa lewat agama (baru) mereka, kehidupan mereka akan bahagia, kepastian hidup diperoleh, masa depan akan lebih baik, dan kehidupan rumahtangga serta anak cucu mereka juga akan berjalan dengan damai, bahagia, tenteram, berkecukupan bahkan sukses dalam berbagai bidang, dan, jika ada jalan, menjadi kaya raya?

Adalah suatu keganjilan luar biasa jika orang memilih menganut suatu agama supaya kehidupan mereka penuh kesusahan dan azab dan mati muda. Elingkah mereka yang semacam itu, atau mereka yang membuat orang lain mengalami itu semua?

Nah, doakanlah mereka yang baru menjadi Kristen itu dan semua pihak yang terlibat. Dengan tetap mendukung sikap cermat dan hati-hati pemerintah Jerman.

Salam sejahtera
ioanes rakhmat
2 Des 2018


Thursday, November 29, 2018

Era eugenik telah tiba, dimulai di China...

ERA MANUSIA UNGGUL atau EUGENIK BARU SAJA DIMULAI....

Di CHINA loh, BUKAN di USA! Ini sudah diprediksi banyak orang.

Genetikus China dari Southern University of Science and Technology in China, He Jiankui  Ph.D., telah mengumumkan bahwa dia (dkk) telah berhasil MENGEDIT DNA kembaran bayi perempuan NANA dan LULU sewaktu keduanya masih sebagai janin dalam rahim bunda mereka.


Yang diedit He Jiankui lewat teknik Genome Editing CRISPR Cas9 adalah gen-gen "linibibit" yang terdiri atas sel-sel reproduktif Nana dan Lulu yang membuat bayi perempuan kembar ini kebal terhadap HIV (lewat HIV juga) (meski saat berada pada tahap embrio mereka sehat) dan juga keturunan mereka seterusnya nanti. Sidik jari tangan iptek He Jiankui tentu saja tertanam abadi dalam linibibit NANA dan LULU.

Cara kerja DNA-editing CRISPR Cas9. Usap atau klik image agar kata-kata terbaca jelas.

Langkah He Jiankui yang telah dimulai 8 bulan lalu ini membuat dunia kedokteran dan bioetika geger minggu ini. Keberhasilannya melahirkan PERTAMA KALI DALAM DUNIA kembaran bayi manusia yang telah mengalami pengeditan atau modifikasi gen menandakan era penciptaan EUGENIK, yakni insan-insan yang diberi gen-gen unggulan, telah dimulai.

Gen-gen unggulan yang mana yang harus dipilih, dan gen-gen yang mana yang harus diedit, ya bergantung keputusan politik dan militer suatu negara dan tentu juga keputusan para genetikus, dan keputusan masyarakat. Ini bidang bioetika. Kontroversi setiap terobosan real iptek ya merebak di wilayah bioetika.

Dalam sikon itu, ada etikus yang terlelap tak siap, yang malah jadi kalap dan gelap mata. Syukurlah, juga ada tak sedikit etikus yang mampu dengan cerdas memberi tanggapan yang positif, mencerahkan, dan mendorong iptek untuk maju terus.

Yang dibutuhkan sekarang adalah pendekatan etis "responsibly contextual" yang mempertimbangkan banyak faktor lintasilmu sebelum suatu keputusan etis diambil.

Etika normatif yang kaku dan ketinggalan zaman, yang lazim disebut etika legalis nomis atau etika deontologis, tidak banyak manfaatnya.

Selain itu, masih ada etika teleologis, yang mendasarkan suatu pengambilan keputusan etis pada mulia atau tidaknya tujuan suatu tindakan.

Nah, era eugenik bisa menjadi era yang di dalamnya semua manusia lahir sehat dan hidup dewasa juga sehat, fisik dan mental, bahkan juga semua cerdas.

Tapi sebaliknya juga dapat terjadi: sekelompok manusia dengan linibibit unggul dan memiliki kecerdasan dan kekuatan dan daya tahan fisik luar biasa, AKAN MENDOMINASI DAN MEMPERBUDAK insan-insan yang lebih inferior secara genetik. Gen superior versus gen inferior, pada level makromolekul.

Bersiaplah dengan era eugenik.
Tak mungkin gerak jarum jam diputar balik.

Orang cerdas bergegas bergerak ke depan.
Hanya undur-undur yang memilih berlari mundur jauh ke masa silam sambil tidur dan ngelindur.

Oh ya, teknik pengeditan gen CRISPR sebetulnya sudah sejak sekian tahun lalu dipakai tapi bukan pada janin manusia, melainkan pada janin hewan-hewan lain non-insani. Hasilnya antara lain babi-babi mungil alias micropigs, dan juga khimera. Lebih lanjut baca di sini
https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2015/10/hewan-babi-antara-ajaran-agama-dan.html?m=0 dan juga di sini https://ioanesrakhmat.blogspot.com/2017/02/era-organisme-hibrid-manusia-babi-sudah.html?m=0.

ioanes rakhmat
29 Nov 2018

Read more https://www.inverse.com/article/51191-designer-babies-born-in-china-ethics

Lihat juga http://www.newscientist.com/article/2186504-worlds-first-gene-edited-babies-announced-by-a-scientist-in-china/


Thursday, November 22, 2018

Kita ini seperti gunung

KITA INI SEPERTI GUNUNG

PERTANYAAN DARI SALATIGA

Tanya:
Boleh saya bertanya? Apakah jadinya kekristenan secara lembaga apabila sains meruntuhkan dogma sebab mitologi yang ada yang sempat mampu menjadi opium bagi masyarakat, akan berangsur hilang dengan menguatnya kesadaran kognitif yang mulai dirasakan dan dijalani banyak orang?

Jawab:
Mitos itu bukan sains, melainkan METAFORA seperti juga perumpamaan Yesus dan banyak kepercayaan kuno dalam dunia agama-agama umumnya.

Ada metafora yang bagus, artinya: membangun kehidupan dan peradaban. Ada metafora yang buruk, yakni yang merusak dan membinasakan kehidupan dan peradaban.

Dengan cerdas, pilihlah metafora yang bagus, dan buang yang jelek. Metafora yang bagus memikul pesan etis moral yang agung dan memperkuat daya tahan kehidupan dan semangat membangun peradaban.

Jika mau berbicara dalam dunia iptek modern melebihi wilayah etis moral, tak ada jalan lain, teologi modern juga perlu lahir dari basis iptek modern.

Kecanduan pada mitos kuno apalagi mitos yang buruk, harus dihentikan, diganti dengan keingintahuan tanpa batas tentang jagat raya dan kehidupan dan segala misteri keduanya.


Kita ini seperti gunung-gunung tinggi, yang puncak masing-masing menunjuk ke langit tanpa batas, cermin keinginan, gairah dan kerinduan gunung-gunung untuk memeluk dan mengecup hangat sang langit tanpa tepi dan tanpa ujung. Bayangkanlah, sang gunung terbang menembus atmosfir dan melayang terbang dalam kevakuman kosmik tanpa batas yang penuh misteri yang menawan akal dan hati.

Nah, keingintahuan insani ini tidak lagi dijawab dengan mitos-mitos kuno, tetapi dengan ilmu pengetahuan modern sebagai jalan agung menuju Tuhan YMTahu dan MTakterbatas.

Tak ada penghalang untuk memuaskan kerinduan pada Tuhan YMTahu dan MTakterbatas dengan mencari, menemukan, memahami dan mendalami ilmu pengetahuan yang berkembang terus tanpa batas.

Dalam dan lewat ilmu pengetahuan, Tuhan YMTahu dan MTakterbatas makin didekati, dikenali dan dicintai, tanpa pernah habis.

Spiritualitas semacam itu saya namakan spiritualitas saintifik. Diperlukan kelembutan dan keberanian dan kecerdasan untuk dapat masuk ke dalam spiritualitas ini dan merayakannya dengan hepi. Spiritualitas ini akrab dengan kesendirian, kesunyian, keheningan, kebeningan, bahkan kekosongan tanpa batas.

22 November 2018

ioanes rakhmat


Monday, August 27, 2018

Akal itu pelita iman dan kehidupan

Akal itu pelita iman (tap atau klik gambarnya untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan terbaca jelas)


"Akal itu adalah kognisi yang aktif, bernalar, bergerak koheren dan logis, mencari kebenaran yang teruji, kreatif, inovatif, inventif, enerjik, dinamis, kuat, progresif, problem-solving, membuka jalan-jalan baru, mencerahkan. Jika tidak demikian, itu bukan akal, tapi bantal." (Ioanes Rakhmat)

Pagi tadi, saya dikirimi via WA sebuah renungan harian dari seorang teman gereja. Isi renungannya tentang sosok Ayub dan sosok Naomi yang dikisahkan konon dihajar Tuhan habis-habisan, tapi mereka tetap harus teguh beriman dan percaya.

Ada sebuah ide teologis di belakang dua kisah Alkitab tersebut, bahwa Tuhan mendidik orang yang beriman kepada-Nya dengan hajaran dan gebukan maut, habis-habisan, dan keras serta mengancam nyawa.

Dalam dunia pendidikan modern, kita tahu bahwa aneka psikologi, ilmu kognisi, neurosains, dan ilmu kesehatan mental dan kesehatan lingkungan, menyadarkan kita semua, termasuk orang-orang yang bekerja profesional di dunia pendidikan anak dan selanjutnya, tentang satu hal yang sangat penting.

Yakni: semua aktivitas sehat belajar dan mengajar, aktivitas sehat pendidikan, haruslah dijalankan dalam suasana yang relaks, ceria, segar, bersahabat, terbuka, tanpa kekerasan, persuasif, dialogis, edukatif, dan tidak boleh berlangsung dalam suasana sanger, mencekam, keras, satu arah, indoktrinatif dan punitif atau menghukum dan menghajar.

Kembali ke sosok Ayub dan sosok Naomi. Sikon terlanda azab dan sekarat padahal mereka saleh dan beriman, menimbulkan sebuah problem teologis yang dinamakan TEODISE (bentukan dari dua kata Yunani "theos", artinya Tuhan, dan kata "dikē" artinya keadilan). Ringkasnya, problem teodise begini: Apakah Tuhan itu tetap adil dan penyayang meski si saleh menanggung azab tak tertahankan yang dibuat Tuhan? Para apologet berusaha keras untuk menjawab pertanyaan ini dengan positif; tapi kelihatan apologetika mereka sia-sia.

Saya tak mau mengulang menyoroti teodise saat ini. Ada hal lain yang akan saya kemukakan ringkas saja. Tapi jika anda mau mengetahui lebih jauh tentang teodise, sedikitnya ada dua tulisan saya di blog ini yang dapat anda baca, di sini dan di sini.

Satu hal sudah pasti, Tuhan Ayub dan Naomi yang semacam itu mustahil untuk saya imani.

Tuhan saya Alrahman Alrahim. Panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Mahapengampun dan mahapemaaf. 

Tuhan saya memelihara burung-burung yang terbang ke sana dan ke sini di udara, tidak membunuh mereka. Tuhan yang saya percaya adalah Tuhan yang merawat dan mendandani bunga-bunga di padang, tidak menelantarkan dan mencoreng-coreng bunga-bunga itu. 

Tuhan yang bengis dan tega mendera dan menghajar habis-habisan manusia, lewat cara apapun, sama sekali bukan Tuhan yang saya percayai. Teologi yang keras ini tidak bisa harmonis dengan psikologi saya.

Catatlah bahwa teodise dikonstruksi manusia, bukan disusun Tuhan sendiri; dan bahwa apa corak pilihan teologi anda ditentukan juga oleh psikologi diri anda pribadi, selain juga oleh lokasi dan kondisi sosiologis kultural anda, oleh posisi ekonomi anda, politik anda dan ekologi anda. Tidak ada teologi yang muncul begitu saja dari ruang vakum.

Hal yang saya tulis selanjutnya ini juga pikiran saya, tidak muncul dari langit atau dari ruang vakum kosmik. Saya usahakan bisa membebaskan dan mencerahkan akal dan perilaku serta sikap dan tindakan siapapun yang mau menerima pesan-pesannya. Tidak mau juga tak apa-apa. Feel free saja.

Iman itu bagian dari berbagai aspek mental seperti pikiran, emosi, kehendak, perasaan, kesadaran, kepekaan moral, empati. Semuanya dinamis, tak statis, karena mood mental dan pikiran kita dll adalah respons otak terhadap berbagai input dari luar yang tak pernah habis. Input dan output berinterkoneksi. Interaktif.

Karena dinamis, maka pikiran kita bergerak; kadang salah, lalu kita sadari dan koreksi. Begitulah, pikiran, dus ilmu pengetahuan, bergerak maju, berkembang, lewat uji coba, verifikasi, falsifikasi, eksperimen, dialektika tesis versus antitesis yang melahirkan sintesis sebagai sebuah tesis baru, dll.

"Trust" atau "belief in a god" juga dinamis, "up and down". Ada saatnya menolong, ada saatnya tidak menolong seperti saat kita pasrah, terima nasib yang kita klaim sudah ditetapkan Tuhan. Atau saat iman menutup pintu akal dan nurani. Saat pelita akal ditiup mati. Hasilnya: kegelapan.

Ada saatnya iman merusak segalanya, saat iman yang menggebu melahirkan kepicikan beragama dan radikalisme. Ini umumnya bermuara pada anarki dan destruksi. Akal ditutup, dibunuh; nurani dan kasih dimatikan, ditewaskan, dengan sengaja atau lewat pemaksaan seperti yang terjadi saat cuci otak atau indoktrinasi yang gencar dan koersif.

Itulah realitas pedih yang sedang terjadi dalam dunia luas ketika lampu pijar akal dicopot lalu dibanting pecah berantakan. Sebagai gantinya, fanatisme dan kepicikan ideologis (religius dan sekular) dijadikan watak, isi kepribadian, dan gaya hidup sehari-hari.

Jalan masih sangat panjang di depan. Untuk dapat dengan baik dan benar menempuhnya, kita semua memerlukan kemampuan menimbang-nimbang dan melihat dari berbagai sudut dan arah.

Itulah kemampuan kognitif multilinier dan multisirkular. Kemampuan ini memungkinkan kita bisa melihat seluruh sisi bulatan bulan purnama, baik yang menghadap ke Bumi maupun yang membelakangi Bumi.

Iman salah satu bahan pertimbangan, tidak boleh satu-satunya. Lagi, ingat dan lakukanlah, bahwa akal itu pelita iman dan kehidupan.

Silakan akal sebagai lampu pijar yang bercahaya terang, yang membuat anda tercerahkan dan makin banyak tahu dari waktu ke waktu dan ilmu pengetahuan berkembang tanpa akhir, anda lumpuhkan, bunuh dan pecahkan. Itu kebebasan anda. Kebebasan dalam kebodohan tanpa batas.

Tapi sadarilah satu hal ini: di saat itulah Tuhan YMTahu, sumber segala kearifan dan ilmu pengetahuan, yang telah memberi anda akal, telah pergi jauh dari diri anda dan tak lagi bercahaya bagi anda.

Tuhan telah pindah, entah ke mana. Carilah. Semoga anda masih beruntung, bisa jumpa Tuhan lagi, Tuhan yang mahacerdas, mahatahu dan mahapengasih dan mahapenyayang.

Stay blessed.

Jakarta, 27.8.2018


Tuesday, August 14, 2018

Koh Ahok Konsisten Ikut Yesus

Meditasi Sore

KOH AHOK KONSISTEN IKUT YESUS

1. Koh Ahok konsisten Kristiani. Setia pada Yesus, his Lord, dan ajaran-ajarannya. Yesus bersabda: "Kasihi musuhmu."

Jadi, tak mungkin Koh Ahok membenci siapapun yang telah bersalah atau yang telah memusuhinya. Tak mungkin Koh Ahok dendam kepada siapapun.

Koh Ahok, karena Yesus, pasti baik hati dan cinta kehidupan.


2. ORANG CERDAS juga beretika, baik hati, berkemanusiaan, empatetis, cinta kehidupan, karena mereka tahu kecerdasan adalah ciri khas Homo sapiens, sebagai hasil teratas evolusi spesies yang sudah berlangsung  kurang lebih 3,7 milyar tahun lalu di planet Bumi. Kalau pakai ungkapan teologis Kristen, Homo sapiens adalah "gambar dan rupa Tuhan."

Semakin agung suatu organisme, semakin beretika dan cerdas mereka, serta arif bijaksana.

3. ORANG BIJAK pasti cerdas, karena kebijakan atau kearifan (wisdom) hasil dari pengerahan kapasitas kognitif, afektif, artistik, kultural, metakognitif, visi futuris, dalam mempertimbangkan kejadian-kejadian, pengalaman, dalam konteks ruang dan waktu tertentu.

☆ "Kasihi musuhmu. Berkati orang yang mengutukmu. Tetaplah berbuat baik pada orang yang membencimu. Doakan mereka yang berbuat durjana padamu dan yang menganiaya kamu." - Yesus dari Nazareth

☆ "Ketika engkau berhadapan dengan seorang lawan, taklukkan dia dengan cinta kasih." - Mahatma Gandhi

Selamat bermeditasi.
14 Agustus 2018

It's me,
The Milky Why


Friday, July 20, 2018

RIP Pdt. em. Dr. Chris Hartono

Pdt. em. Dr. Chris Hartono
Utusan GKI di Fakultas Teologi
Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta, Jawa Tengah
Pengajar sejarah gereja
RIP Kamis, 19 Juli 2018, pk. 11:45

Sumber berita: FB Hehanussa Jo

Ketuk atau klik image untuk dapat ukuran lebih besar dan tulisan terbaca jelas

MEMORI

Ku ikut berduka lara
Chris Hartono telah tiada
Dulu diutus GKI untuk bekerja
Di Universitas Kristen Duta Wacana

Puluhan tahun telah lewat sang kala
Setiap sejarawan sahabat sang kala
Konon sang kala bergerak ke muka 
Tapi berputar balik juga untuk disua

Ruangwaktu dapat dilekuk ditata
Alfa dan omega jadi berjumpa
Kutub Selatan dan Kutub Utara
Menempel jadi satu raga

Yang hidup dan yang telah tiada
Tidak ke mana-mana
Hanya sedang berlarian gembira

Berlarian dalam lingkaran mega
Bersiklus apik ria
Lari menari melingkar suka

Yang wafat dan yang ada
Tetap menarikan siklus sang kala
Sejarah itu garis lurus rata
Tapi gerak melingkar jua 

Tak ada yang telah tiada

Cuma mereka lari lebih kencang tiada tara
Yang hidup berlari santai saja
Semua berlarian gembira
Sambil bernyanyi lagu lara

Yang wafat kembali disua
Oleh mereka yang bening mata
Latihlah mata untuk peka
Melihat yang tiada tetap ada

Ooh ada di mana? 

Dalam diri yang masih bernyawa
Kitalah reinkarnasi yang sudah tiada
Wafat dan hidup ada bersama

Tidak ke mana-mana
Bersatu dalam memori baka
Memori itulah kita


ioanes rakhmat
20 Juli 2018


Thursday, July 5, 2018

Crohn dan Ulcerative Colitis


Sistem cerna insani (ketuk atau klik gambar untuk dapat ukuran lebih besar dan huruf yang jelas terbaca)

Sebuah artikel medik mutakhir yang penting baru dipublikasi di MedicalNewsToday 28 Juni 2018 tentang kajian penyakit otoimun IBD ("Inflammatory Bowel Disease", atau penyakit radang perut) dengan fokus populasi spesifik dari "sel-sel CD4T efektor"./1/

Laporan ringkas riset ilmiahnya terbit di Journal of Experimental Medicine yang dipublikasi online 18 Juni 2018./2/ Tim yang melakukan riset ini berasal dari Universitas Alabama, Birmingham.

Sistem cerna insani

IBD yang umum minimal ada dua: Crohn yang menyerang usus-usus, membentuk timbunan massa yang berbentuk bebatuan bulat dan menumbuhkan banyak pseudopolip pada dinding sebelah dalam usus-usus (usus besar dan usus kecil)/3/ dan "ulcerative colitis" atau radang usus besar yang kerap disertai borok dan bisul yang bernanah./4/


Dua gambar di atas: Crohn dan Ulcerative colitis

IBD, khususnya Crohn, dapat menyerang saluran cerna ("gut" or "gastrointestinal tract") mulai dari mulut hingga anus./5/


Ada banyak faktor yang dapat menimbulkan IBD. Mulai dari gaya hidup dan jenis makanan sebagai faktor pemicu, warisan genetik, hingga otoimunitas (kondisi sistem imunitas tubuh yang berubah fungsi menjadi penyerang sel-sel tubuh sendiri yang semula sehat dan normal).

Riset tersebut di atas fokus pada peran "sel-sel CD4T efektor" dalam sistem imunitas tubuh yang ditunjuk sebagai penyebab otoimunitas (seperti penyakit Crohn dan "ulcerative colitis") dan penyakit-penyakit inflamasi kronis lain seperti artritis rheumatoid, dan juga tipe 1 diabetes.

Tentu termasuk juga penyakit gastritis tipe A yang dinamakan gastritis atrofis otoimun. Pada gastritis jenis ini sel-sel otoimun membinasakan sel-sel parietal dalam seluruh lambung yang memproduksi asam lambung dan zat penyerap vitamin B12. Jika sel-sel parietal makin kurang, si penderita akan mengalami kekurangan zat besi, folat, dan akhirnya vitamin B12./6/

Yang paling umum adalah gastritis tipe B yang berupa radang, iritasi dan kadang borok pada selaput mukosa dinding sebelah dalam lambung bagian bawah. Penyakit gastritis ini timbul karena infeksi virus, dan khususnya infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. pylori) yang jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan borok dan bahkan kanker lambung./7/

Gastritis tipe B ini juga timbul sebagai akibat stres kronik, rasa mual yang tak kunjung hilang, efek negatif obat-obatan seperti aspirin atau obat-obatan antiradang nonsteroidal (NSAIDs), kebanyakan minum alkohol, anemia, luka bekas operasi, dan makanan tertentu yang menimbulkan iritasi lambung seperti laktosa dan gluten. Selain itu, juga karena refluks (aliran balik) cairan empedu (yang berfungsi membantu mencerna lemak) ke dalam lambung dari saluran empedu (yang menghubungkan organ hati dan kandung empedu)./8/

Kembali ke sel-sel CD4T. Sel-sel ini yang bersifat patogenik merupakan sel-sel imun yang belum matang yang berasal dari "stem cell" (atau sel master), yang dalam perkembangannya berhenti pada tahap "progenitor" atau "cikal bakal" atau "pendahulu" sel-sel imun lain. Diketahui, enzim glycosyltransferase ST6Gal-I mengaktifkan fitur-fitur stem cell pada "effector CD4T cells".

Sel-sel CD4T yang patogenik ini memiliki "tandatangan genetik" yang konsisten dengan sel-sel T yang mampu membarui diri dan dengan sel-sel progenitor hematopoietik.

Sel-sel CD4T  memproduksi:

☆ molekul interferon gamma dalam level tinggi dalam sistem saluran cerna yang terserang radang kronis;

☆ Sel-sel CD4T yang masih memiliki fitur-fitur stem cell dan tetap bertahan dalam tahap "progenitor" kemudian mendiferensiasi diri dengan membentuk sel-sel imun lain yang aktif, di antaranya "T helper cell" yang dikaitkan dengan IBD yang membuat penyakit radang ini tak kunjung sembuh.

Ke depan ini, upaya pencegahan dan terapi IBD kronis difokuskan pada peran sel-sel CD4T patogenik ini. Ini sebuah fokus terapi medik baru.

Salah seorang anggota tim peneliti, Prof. Laurie E. Harrington, menyatakan bahwa jika sel-sel CD4T yang menjadi penyebab IBD tidak kunjung sembuh dapat ditangani, hal ini akan memberi efek kuratif pada IBD.

5 Juli 2018
ioanes rakhmat

N.B. Tolong isi tulisan ini jangan di-copypaste berhubung akan mengalami editing atau updating sewaktu-waktu. Cukup copy link-nya saja. 

/1/ Lihat Catherine Paddock, "Could treating these immune cells cure IBD?", MedicalNewsToday, 28 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/322299.php.

/2/ Boyoung Shin, Robert L. Kress,.., Susan L. Bellis, Laurie E. Harrington, "Effector CD4T cells with progenitor potential mediate chronic intestinal inflammation", Journal of Experimental Medicine, 2 July 2018, no. 215 (7): 1803. Terbit online 18 Juni 2018, http://jem.rupress.org/content/215/7/1803.

/3/ Tentang Crohn lihat misalnya "Crohn's Disease", John Hopkins Medicinehttps://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/conditions/digestive_disorders/Crohns_Disease_22,CrohnsDisease.

/4/ Tentang "ulcerative colitis" lihat misalnya panduan lewat 25 slideshow, "Slideshow: A Visual Guide to Ulcerative Colitis", WebMD, medically reviewed 14 August 2017, https://www.webmd.com/ibd-crohns-disease/ulcerative-colitis/ss/slideshow-uc-overview.

/5/ Tentang sistem saluran cerna dan gangguan-gangguan yang dapat terjadi padanya, dan bagaimana mengobatinya, lihat antara lain Modi Ramos, "8 Warning Signs of An Unhealthy Gut", Gut Health Projecthttps://www.guthealthproject.com/8-common-health-issues-caused-by-an-unhealthy-gut/.

/6/ Tentang gastritis atrofis otoimun, lihat misalnya "Autoimmune atrophic gastritis", NIH-GARD, last updated 28 November 2016, https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/10310/autoimmune-atrophic-gastritis.

/7/ Tentang gastritis, lihat Jennifer Robinson, "What Is Gastritis", WebMD, 11 September 2016, https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-gastritis. Lihat juga Stanley J. Swierzewski, "Gastritis Overview", Health Communities, 28 Feb 2008, last modified 17 September 2015, http://www.healthcommunities.com/gastritis/gastritis-overview.shtml.

/8/ Tentang kandung empedu dan refluks cairan empedu, lihat misalnya Matthew Hoffman, "Human Anatomy: Picture of the Gallbladder", WebMD, 11 March 2017, lihat https://www.webmd.com/digestive-disorders/picture-of-the-gallbladder.



Wednesday, July 4, 2018

POST-TRUTH vs. SCIENTIFIC TRUTH

POST-TRUTH DALAM LIMA ALINEA


KEBENARAN dipatahkan, ditumbangkan, dibunuh, berdarah-darah. Diganti dengan dusta, fitnah, kelancungan, tipu daya, sensasi kosong dan kerapuhan. Semua pengganti ini diyakini dengan gegap-gempita sebagai kebenaran alternatif yang diterima benar oleh orang yang tak bisa lagi berpikir. Itulah POST-TRUTH. 

POST-TRUTH itu suatu penyakit kognitif pada para filsuf dan ilmuwan pelacur ("junk philosophers and junk scientists") yang sangat haus, dan mengejar, kekuasaan politik dan ekonomi dan kepentingan-kepentingan lain mereka, lewat penyebaran klaim-klaim pseudoilmiah atau klaim-klain ilmiah palsu yang mereka bangun sendiri.

Sebaliknya, "proper or bona fide scientists" tidak kenal post-truth, tapi mereka terus-menerus mencari, menyelidiki, menemukan, menguji dan membagikan SCIENTIFIC TRUTHS.

Kebenaran-kebenaran ilmiah dibangun dengan berdasar pada EMPIRICAL EVIDENCE, bukti-bukti empiris, koherensi logis dan teori-teori besar ilmu pengetahuan, bukan pada syahwat politik dan kerakusan ekonomi dan kekuasaan.

"Proper scientists" terus-menerus mengkaji, mengembangkan dan memajukan ilmu pengetahuan yang dinamis, tak bisa dipalsukan, tak bisa diabsolutkan dan tak bisa difinalkan. Para saintis tulen memiliki etika keilmuan.

4 Juli 2018
ioanes rakhmat



Sunday, June 24, 2018

Kita terpapar pada 2 juta virus yang dapat membunuh. Ngeri!


Setelah terjadi pandemik global penyakit pada manusia yang ditimbulkan oleh virus-virus (seperti AIDS, Ebola, Zika dan Sars) yang berdiam pada hewan liar yang menyebar ke manusia, kini metode penanggulangannya diperluas. Tidak lagi hanya KURATIF (suatu penyakit sudah melanda lebih dulu, lalu dipelajari dan dibuat obat atau vaksin penyembuhannya), tapi juga PREVENTIF, mempersiapkan pencegahan.

Inisiatif penggunaan pendekatan PREVENTIF kini sedang dijalankan oleh GVP (Global Virome Project) internasional yang didukung banyak lembaga kesehatan dunia lainnya.

GVP menjalankan riset global bertahap di sejumlah negara untuk mengidentifikasi fitur genetik virus-virus yang berdiam pada hewan-hewan liar (seperti kampret, binatang pengerat, primata dan burung-burung air, selain pada hewan-hewan liar lain dan hewan-hewan jinak yang sudah diketahui).

Sudah diketahui ada lebih dari 1.000 virus pada hewan-hewan liar yang dapat menginfeksi manusia. Tapi, diyakini spesies virus pada hewan liar yang potensial menginfeksi manusia ada JAUH LEBIH BANYAK, mencapai kurang lebih 1,6 juta spesies virus pada banyak hewan liar.

Risikonya besar bahwa virus yang berjumlah luar biasa besar ini dapat menewaskan manusia lewat infeksi. Semuanya masih harus ditemukan dan karakter genetik masing-masing diidentifikasi dengan akurat.

Jika karakter genetik puluhan ribu virus ini sudah dapat diidentifikasi, maka dengan penggunaan Artificial Intelligence akan dapat ditemukan dengan akurat fitur-fitur genetik umum kelompok-kelompok besar virus-virus. Selanjutnya, akan dibuat vaksin-vaksin antivirus untuk melawan semua kategori virus yang sudah diidentifikasi, yang siap digunakan dalam skala global jika muncul penyakit-penyakit baru karena infeksi virus-virus sebelum terjadi pandemik.

Anggaran riset global GVP lumayan besar, tapi jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ongkos yang sudah dikeluarkan ketika dunia harus memerangi pandemik penyakit-penyakit seperti AIDS, Ebola, Zika dll.

Apa reaksi anda ketika sekarang mengetahui bahwa kita semua mendiami sebuah planet yang berisi hampir 2 juta virus mematikan yang berdiam pada hewan-hewan liar yang sudah dan akan terus menyebar dan menginfeksi kita, lalu membunuh kita?

Ngerikah? Atau biasa saja? Atau anda mulai merasa takut berdekatan dengan hewan-hewan liar? Atau, aneh bin heran, anda bertepuk tangan kegirangan?

Bagaimana pun juga, Bumi memang sebuah "Animal Planet", dan kita Homo sapiens adalah salah satu hewan cerdas yang mendiami planet ini.

Stay friendly with animals, anyway.

Sumber info:
Robin McKie, "Scientists aim to stop the devastation of Zika-like pandemics", The Guardian, 24 June 2018, https://www.theguardian.com/science/2018/jun/24/global-pandemic-prevented-map-animal-virus-ebola-sars-zika.

Jakarta, 24 Juni 2018

ioanes rakhmat
Sang sahabat semut


Friday, June 8, 2018

Mencegah kepikunan lewat aktivitas sosial

BERGAUL dan TERLIBAT AKTIVITAS SOSIAL SAAT LANSIA MENCEGAH KEPIKUNAN


Friends,

Ini saya share temuan sebuah riset mutakhir tentang kesehatan otak para manula. Kalau anda belum manula, tapi baru pemula, ya pengetahuan ini tetap penting dimiliki.

LUMRAH jika usia bertambah dan kita mulai memasuki masa lansia, kemampuan kognitif otak kita untuk MENGINGAT dll makin MENURUN yang akan bermuara pada KEPIKUNAN.

Tentu ada yang tidak bisa terima dan jalani dengan ikhlas hal yang lumrah ini. Bagi mereka, menjadi lansia, apalagi disertai kondisi sakit-sakitan, adalah suatu azab, suatu penderitaan yang harus diratapi.

Tetapi ada banyak orang yang hepi-hepi dan ikhlas saja menjalani masa lansia mereka. Masa manula mereka pandang sebagai bukti hidup mereka sudah fulfilled, terpenuhi, teraktualisasi, memberi makna, tak ada hal yang perlu disesali atau ditangisi.

Nah, terkait kehidupan manula, ada hasil riset mutakhir yang perlu kita ketahui, di samping ada banyak riset lain sejenis sebelumnya.

Penelitian yang inovatif terhadap tikus (usia lansia) yang dibagi dalam dua bagian (yang hidup dalam kelompok lebih besar, dan yang hidup hanya berdua), menunjukkan bahwa PERGAULAN SOSIAL YANG LUAS membuat kemampuan mengingat otak organisme lansia yang seharusnya makin lemah, ternyata tidak terjadi, dibandingkan organisme yang hidup kesepian atau menyendiri.

TENTU juga terjadi, lantaran otak melemah (khususnya bagian hipokampus), seorang lansia tidak mau bergaul dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ya bagaimana mau bergaul dan aktif di berbagai kegiatan sosial, sementara kemampuan mengingat apapun nyaris sudah lumpuh semuanya.

TAPI KEBALIKANNYA JUGA FAKTUAL: karena aktif bergaul dan terlibat banyak kegiatan sosial, otak para manula yang sudah mulai pikun dan menanggung masalah-masalah kognitif lain ternyata mengalami peremajaan kembali, terlindungi, dan kemampuan mengingat mereka meningkat lebih baik lagi, tidak menyusut.

Pendek kata, sosiabilitas atau kemampuan untuk aktif dalam pergaulan sosial, dan sering bertemu dengan banyak teman dan bercengkerama di saat mulai lansia, sangat bermanfaat dalam mempertahankan kesehatan otak lansia, khususnya kesehatan kognitif mereka.

Sosiabilitas membuat kepikunan tidak cepat datang, proses degeneratif otak diperlambat, kemampuan mengingat jauh lebih baik, jika dibandingkan manula penyendiri.

Jadi, para lansia perlu sekali bergaul, terlibat interaksi sosial, dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial yang positif, meneduhkan pikiran dan hati, dan membangkitkan kegembiraan dan relaksasi, jika menginginkan otak mereka tetap sehat.

Ingat ya, BERGAUL, bukan GYMN ANGKAT BESI 150 KG. Juga ingat ya, bergaul, bukan berolahraga mendaki gunung sampai ke puncak Mount Everest. Dua olah raga jenis ini bukan untuk orang yang sudah berusia akhir 40-an dan 50-an tahun ke atas. Kenali dan batasi diri. Uang boleh bertimbun. Tetapi kondisi tulang yang mulai rapuh dan rentan patah dan kekuatan otot yang terus berkurang tak bisa dibatalkan oleh uang.

Saya ingin tambahkan. Sering berjalan kaki pelan-pelan di kebun atau di kawasan-kawasan asri yang aman bersama anjing kesayangan atau bersama hewan jinak peliharaan lain, dalam acara rekreasi rutin dengan banyak lansia lain, juga memberi efek positif pada para lansia. Tidur jadi cepat pulas. Sistem imunitas tubuh diperkuat. Wajah jadi berseri. Kebahagiaan bertambah. Tubuh tidak cepat bongkok. Alhasil, meski sudah lansia, hidup tetap bisa mandiri dalam banyak segi.

Sayangnya, dalam kenyataan hidup, ada banyak kendala yang membuat para lansia tidak mungkin memperluas pergaulan mereka sehari-hari seperti yang sudah digambarkan di atas.

Ya karena faktor-faktor ekonomi, kultur keluarga, kesehatan tubuh, dan tempat tinggal di usia lansia yang terisolasi, mereka terpaksa hidup kesepian dan sebatangkara dan merana. Mereka yang berada dalam sikon seperti ini cepat sekali pikun, terserang banyak penyakit lain, lalu terbaring lumpuh bertahun-tahun sebelum wafat dengan tubuh kurus kering dan dalam keadaan vegetatif.

Duuh sedihnya. Sedihnya duuuuhh gak kepalang. For them, life is suffering, really.

Tetapi, sesusah-susahnya hidup, kalau kita melakukan kontemplasi kilas balik, tentu selagi otak masih mampu, tokh kita akan temukan tetap ada sangat banyak hal yang baik dan membahagiakan yang pernah kita alami.

Kalau hidup ini memang duka, ya marilah kita bernyanyi setiap hari. Baik lagu suka maupun lagu duka.

Tanyalah burung-burung nuri, mengapa mereka selalu berkicau dan bernyanyi merdu setiap hari, baik di saat hari hujan maupun di saat hari yang hangat karena cahaya Mentari. Belajarlah kearifan hidup dari mereka.

Silakan share jika ingin.
Tq.

Sumber-sumber:

Maria Cohut, "Research confirms that social interaction protects memory", MedicalNewsToday, 1 June 2018, https://www.medicalnewstoday.com/articles/321976.php.

Riset artikel:
Bryon S. Smith, Xinyue Yao, Kelly C. Chen, Elizabeth D. Kirby, "A Larger Social Network Enhances Novel Object Location Memory and Reduces Hippocampal Microgliosis in Aged Mice", Frontiers in Aging Neuroscience, 31 May 2018, https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnagi.2018.00142/full.

8 Juni 2018
9:06 PM

Stay blessed.
ioanes rakhmat

Sunday, June 3, 2018

Pejihad sejati menyelamatkan kehidupan

"SYUKUR KEPADA ALLOH. AKU TELAH MENYELAMATKAN NYAWANYA!"

Itulah ucapan Mamoudou Gassama, pria muda imigran berkulit hitam dari Republik Mali, Afrika Barat. Negara ini 90% Muslim. Bahasa resmi Prancis. Memiliki kurang lebih 13 bahasa nasional.

Apa soalnya?

Gassama telah bertindak berani dan tangguh ketika dia entah bagaimana bisa bertindak sebagai sosok spiderman betulan dengan dalam waktu 30 detik telah memanjat sampai balkon lantai 4 sebuah apartemen di Paris, Prancis.

Loh dia sedang acting dalam pembuatan sebuah film?

Oh bukan. Gassama saat itu sedang ada dalam sebuah restoran untuk menonton pertandingan sepak bola. Tapi dia mendengar suara ribut orang dan bunyi klakson mobil tak henti-hentinya di jalan raya. Ada apa? Secepat kilat, Gassama keluar.


Gassama melihat di balkon lantai 4 sebuah apartemen di dekatnya tergantung-gantung seorang bocah cilik laki-laki, usia 4 tahun, sambil memegang lantai balkon. Genting! Sebentar lagi si bocah akan jatuh ke jalan dan akan langsung mati.

Ke mana orangtua si bocah? Sedang belanja di toko. Si bocah ditinggal sendirian. Waduh.

Tanpa pikir panjang, Gassama langsung seperti spiderman memanjat naik tanpa bantuan peralatan apapun ke balkon lantai 4 itu dari muka gedung.

Dia hanya menggunakan kaki dan tangan serta tenaga fisik untuk mengangkat tubuhnya lantai demi lantai.

Dalam setengah menit dia sudah sampai di balkon lantai 4 itu dan langsung menarik si bocah ke atas. Pria tetangga si bocah tak bisa berbuat banyak karena ada sebuah penyekat yang memisahkan ruang kapling apartemen mereka.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menerima Gassama di Istana Elysee. Gassama diberi sebuah medali dan sertifikat KEBERANIAN dan KETANGGUHAN oleh Presiden Macron. Kewarganegaraan Prancis juga dianugerahkan kepada pria hitam luar biasa ini.

Walkot Paris, Ms. Anne Hidalgo, sangat menghargai Gassama dan akan membantu Gassama untuk bisa hidup baik dan betah di Paris. Gassama langsung mendapat tawaran pekerjaan sebagai bagian dari satuan pemadam kebakaran kota Paris.

Di FB-nya, Gassama menulis, "Aku selalu siap untuk menyelamatkan nyawa siapapun."

Ya, mempertahankan dan menyelamatkan kehidupan, bukan membunuh. Itulah jihad Gassama, jihad di jalan Tuhan yang menyayangi dan memelihara kehidupan. He is a true warrior of God.

Bagaimana dengan ayah si bocah itu? Atas kesemberonoannya, sang ayah ini terancam hukuman penjara 2 tahun. Duuuh.

Jika anda ingin melihat video liputan tindakan Gassama yang luar biasa itu, masuklah ke FB saya lewat link ini.

Here is the wisdom of life:

Hidup itu berat, banyak azab, harus dipelihara, dirawat, dipertahankan dan diperjuangkan puluhan tahun. Katakanlah, 70 tahun atau bisa 100 tahun lebih. Mati itu ringan dan singkat, membutuhkan waktu cuma 7 detik atau 70 detik.

Karena itu, yang kita perlukan adalah BERANI HIDUP, bukan BERANI MATI.

Hanya para pemberani dan pemenanglah yang ulet dan tangguh menjalani kehidupan. Cuma para penakut dan pecundang dan orang letoi yang ingin segera mati, apalagi mati dengan membawa paksa orang-orang lain ke dalam kematian juga.

3 Juni 2018
ioanes rakhmat

Sunday, May 13, 2018

Basis Biologi Aneka Ragam Ras Menunjukkan Umat Manusia Itu Bersaudara


Ide tentang ras-ras manusia yang berlainan semula diinvensi oleh para antropolog seperti Johann Friedrich Blumenbach pada abad ke-18. Istilah "ras" diciptakannya dalam usahanya untuk mengkategorisasi grup-grup populasi manusia yang baru, yang dijumpai lalu dieksploitasi sebagai bagian dari kolonialisme Eropa yang makin meluas.

Di tahun 1775, Blumenbach menyusun klasifikasi lima ras manusia. Minat membuat klasifikasi atas hal-hal yang ada dalam dunia ini sudah muncul setidaknya sejak Aristoteles.

Ketika diinvensi pada awalnya, kategori-kategori ras ini dibangun dengan landasan yang acak, sembarangan dan subjektif, yakni hanya pada perbedaan-perbedaan kebudayaan dan bahasa di antara grup-grup manusia, bukan pada biologi manusia yang memang belum mungkin dikaji waktu itu.

Kini para antropolog umumnya, dan biolog, tentu tidak semua, tidak lagi berpendapat bahwa ras atau warna kulit adalah suatu kategori ilmiah yang absah yang perlu dipakai untuk memisah-misahkan manusia./1/

Telah diketahui, riset-riset genetik yang telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa varian-varian warna kulit manusia tidak dapat diklasifikasi ke dalam kategori-kategori yang dinamakan ras.

Klasifikasi ras-ras ini selanjutnya, sejauh ini, telah memunculkan prasangka-prasangka rasial yang tidak adil dan merendahkan, dan mendehumanisasi. Kondisi ini kerap bermuara pada segregasi dan pertikaian rasial atas nama ideologi rasisme.

Menurut biolog dari Universitas Stanford, yang ikut mempelopori riset-riset perbedaan-perbedaan di antara populasi-populasi manusia, keanekaragaman ras manusia dihasilkan oleh 40 gen (sedangkan untuk tinggi tubuh, beberapa ratus gen terlibat). Dari keseluruhan genom, menurut biolog Richard Lewontin di tahun 1972, hanya 10% hingga 15% saja yang berhubungan dengan ras.

Di luar faktor genetik, ada faktor-faktor environmental yang ikut memberi andil pada keanekaragaman ras manusia. Yakni faktor-faktor budaya, penyakit genetik, kendala-kendala sosiologis (seperti kemiskinan atau pilihan-pilihan makanan yang tersedia), ukuran populasi awal, ekologi dan seleksi alamiah (misalnya toleransi pada tekanan oksigen yang rendah di antara populasi orang Tibet dan orang pegunungan Andes).

Menurut Feldman, sebutan "ras" cenderung pejoratif dan tidak relevan lagi, tapi ideologi rasisme tetap hidup dan tidak menurun kekuatannya.

Menurutnya, sekarang ini banyak biolog sudah mengganti sebutan ras dengan "moyang kontinental" atau "moyang benua". Maksudnya, setiap orang memiliki moyang-moyang yang berasal lebih dari satu benua, dengan gen-gen masing-masing terkombinasi. Feldman menandaskan, "Moyang setiap orang lebih mungkin mencakup wakil-wakil dari satu set benua-benua yang ada."/2/

Baiklah, pada kesempatan ini kita berpaling pada suatu studi genetik mutakhir yang berhasil menyingkap pengetahuan-pengetahuan baru tentang relasi beranekaragam warna kulit manusia dengan varian-varian genetik insani yang berkaitan dengan pigmentasi kulit tubuh manusia.

Genetikus dari Penn University, Sarah Tishkoff, dkk, belum lama ini telah melakukan riset genetik atas sejumlah 1.570 relawan Afrika yang berasal dari populasi-populasi yang berbeda genetik dan etnis di Ethiopia, Tanzania, dan Bostwana.

Sarah Tishkoff dan instrumen yang digunakannya dalam riset genetik di Afrika

Para relawan Afrika itu mencakup orang yang berkulit terang seperti beberapa bangsa Asia hingga yang berkulit terhitam di dunia, dan yang berada di antara dua jenis warna kulit ini.

Riset Sarah Tishkoff dkk ini dijalankan lewat kajian pigmen kulit melanin (via pantulan atau refleksi cahaya yang terpancar dari kulit partisipan) dan sampel DNA mereka.

Sarah Tishkoff dkk menemukan sedikitnya ada 6 varian genetik ("penanda biologis") yang terkait signifikan dengan pigmentasi kulit, dan keseluruhannya bertanggungjawab atas 29% varian-varian warna kulit di antara orang-orang di Ethiopia, Tanzania, dan Botswana. Enam varian genetik itu dikenal sebagai SLC24A5, MFSD12, DDB1, TMEM138, OCA2, dan HERC2.

Suatu kajian sebelumnya atas pigmentasi kulit telah berhasil mengidentifikasi varian-varian genetik yang sama, yakni HERC2 dan OCA2, yang ada di balik orang-orang Eropa dan Asia yang umumnya berkulit lebih terang.

Meskipun masih harus dilakukan penelitian lanjutan atas keseluruhan varian genetik yang berhubungan dengan warna kulit, varian-varian genetik yang sudah diidentifikasi itu, yang menghasilkan warna kulit terhitam hingga warna kulit yang lebih terang, menurut Sarah Tishkoff, dipastikan telah ada lebih dari 300.000 tahun yang lalu (saat kemunculan Homo sapiens di Afrika), dan beberapa di antaranya telah berusia hampir 1 juta tahun.

Artinya, varian-varian genetik ini ada lebih dulu dari manusia berpostur modern (Homo sapiens) dan telah membantu mengontrol pigmentasi pada moyang-moyang kita yang primitif.

Selain itu, sangat mungkin varian-varian genetik HERC2 dan OCA2 yang menghasilkan pigmentasi yang lebih terang, telah muncul di Afrika hampir 1 juta tahun lalu, sebelum menyebar ke Eropa dan ke Asia.

Dengan demikian, moyang-moyang purba kita tidak memiliki warna kulit yang gelap atau hitam, tetapi warna kulit yang lebih terang sebelum mereka beradaptasi dengan kondisi-kondisi alam dan kehidupan yang baru. Dulu sekali, di saat kita kehilangan bulu-bulu lebat penutup tubuh dan pindah ke savana-savana yang terbuka, meninggalkan hutan-hutan rimba, tubuh kita beradaptasi dengan menghasilkan kulit yang berwarna lebih gelap dan makin gelap.

Bukti genetik juga menunjukkan bahwa varian pigmentasi yang terang pada SLC24A5 masuk ke Afrika Timur lewat aliran gen dari orang bukan-Afrika. Artinya, lewat kawin silang dengan populasi dari pigmen kulit yang berbeda, warna-warna kulit yang bervariasi dihasilkan lewat kombinasi gen-gen.

Pada sejumlah lokasi genetik itu varian-varian genetik yang terkait dengan pigmentasi gelap orang Afrika identik dengan varian-varian genetik populasi orang Asia Selatan dan populasi orang Australo-Melanesia.


Sarah Tishkoff menyimpulkan bahwa "studi kami ini sungguh-sungguh membuat kita tidak bisa lagi mempercayai ide tentang suatu konstruk biologis bagi setiap ras manusia. Kami temukan, tidak ada batas-batas yang khas dan tersendiri, yang unik, di antara grup-grup ras manusia, yang konsisten dengan varian-varian genetik."

Artinya, varian-varian genetik itu terkombinasi, tercampur, dalam memunculkan anekaragam warna kulit manusia. Bukan eksklusi, tapi inklusi varian-varian genetik-lah yang berlangsung di saat beranekaragam ras manusia muncul di zaman-zaman yang sangat lampau.

Lalu Sarah Tishkoff menandaskan bahwa "ada lebih banyak hal dalam warna kulit kita yang mempersatukan kita alih-alih memisahkan kita. Jadi, pandangan-pandangan rasis dan dugaan-dugaan yang tak berpijak pada sejarah tentang ciri-ciri [fenotipik] yang terkait warna kulit bukan saja tidak bermoral, tapi juga salah sama sekali jika dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan."

Statistikus biologis dari Universitas Michigan, Jedidiah Carlson, menyatakan bahwa "pigmentasi yang berwarna terang, dan mungkin juga ciri-ciri fenotipik lainnya orang Eropa, tidak unik bagi orang Eropa. Populasi-populasi manusia telah dan terus berkawinsilang sepanjang keberadaan kita sebagai suatu spesies."/3/

Dengan kata lain, warna-warna kulit yang berlainan muncul sebagai hasil membangun relasi-relasi kekerabatan yang luas antaretnis dan antarras yang tidak bisa dibatasi, dan lintasbenua.

Jadi, ras-ras manusia yang dikenal sekarang berpangkal pada persaudaraan dan kekerabatan yang luas yang melibatkan lebih dari satu benua, bukan pada permusuhan dan perpecahan yang menyakitkan dan menimbulkan azab antarras
dan antaretnis moyang-moyang manusia dulu.

Akhirnya, satu poin penting perlu jelas dipahami. Ras atau warna kulit tidak sama dengan etnisitas meski keduanya dapat bertumpangtindih.

Ada banyak usaha untuk mendefinisikan etnisitas supaya orang tidak menyamakan begitu saja etnisitas dengan ras.

Etnisitas (dari kata Yunani "ethnos", artinya "bangsa") didefinisikan, misalnya, sebagai "suatu grup manusia yang satu sama lain mengidentifikasi diri berdasarkan pengalaman-pengalaman dan tradisi-tradisi yang sama di bidang-bidang sosial, kultural, bahasa, politik, dan kebangsaan (lewat kelahiran atau naturalisasi atau asal kedatangan), dan juga memiliki moyang yang sama dan pengalaman sejarah yang sama."

Ada juga yang dengan ringkas menyatakan bahwa "ras terkait dengan biologi, sedangkan etnisitas terkait dengan kebudayaan."

Sedikit lebih rinci, etnisitas dipandang sebagai "suatu istilah untuk kebudayaan manusia dalam suatu wilayah geografis tertentu, termasuk di dalamnya pranata-pranata bahasa, peninggalan sejarah, agama, politik kebangsaan, dan adat-istiadat mereka." Menjadi anggota suatu kelompok etnis, dengan demikian, mengharuskan orang untuk hidup selaras dengan beberapa atau seluruh hal yang dipraktekkan lewat dan dalam pranata-pranata kebudayaan itu.

Tetapi sama seperti etnisitas atau kebangsaan seseorang dapat berubah (lewat proses hukum yang dinamakan naturalisasi, misalnya), ras juga secara biologis tidak langgeng selamanya. Kajian-kajian genetik belakangan ini menunjukkan bahwa warna kulit dapat berubah drastis dalam minimal 100 generasi dalam kurun 2.500 tahun, akibat pengaruh-pengaruh environmental.

Dalam keperluan di bidang sosial dan administrasi kependudukan, jika acuan ke ras dipakai, acuan ini adalah suatu konstruk sosial yang harus bebas dari ideologi rasisme yang, kita tahu, memisah-misahkan manusia berdasarkan warna kulit demi kepentingan-kepentingan segregasi politik dan perlakuan sosial dan ekonomi yang tidak adil.

Biro Sensus Amerika Serikat, misalnya, menegaskan bahwa jika ras dipakai sebagai bagian dari identitas diri, dalam hal ini ras dipandang sebagai "suatu definisi sosial atas setiap ras yang diakui, dan bukan suatu upaya untuk mendefinisikan ras secara biologis, antropologis atau genetik."/4/

Jakarta, 13 Mei 2018
The day of my nativity

ioanes rakhmat

Sumber-sumber

/1/ Baca lebih lanjut Darren Curnoe, "Opinion: Classification of humans into races 'the biggest mistake in the history of science'", Phys.org, 20 Dec 2016, https://m.phys.org/news/2016-12-opinion-classification-humans-biggest-history.html. Semula, artikel ini terbit di https://theconversation.com/the-biggest-mistake-in-the-history-of-science-70575.

/2/ Lebih jauh, lihat David Freeman, "The Science of Race, Revisited", HuffPost Science, update mutakhir 6 Dec 2017, https://m.huffpost.com/us/entry/7699490.

/3/ Lebih lanjut, baca artikel riset Nicholas G. Crawford, Derek E. Kelly, Matthew E.B. Hansen,...., Sarah Tishkoff, "Loci associated with skin pigmentation identified in African Populations", Science, 12 Oct 2017: eaan8433, http://science.sciencemag.org/content/early/2017/10/11/science.aan8433.full.

Lihat juga artikel populernya yang ditulis oleh Peter Dockrill, "Gene Variants That Affect Skin Colour Suggest The Concept of Race Is Deeply Flawed", Science Alert, 16 October 2017, https://www.sciencealert.com/gene-variants-that-affect-skin-colour-suggest-the-concept-of-race-is-deeply-flawed.

/4/ Penjelasan tentang perbedaan antara etnisitas dan ras yang diajukan di atas memakai dua sumber. Lihat Neta Bomani, "Understanding the Difference between Race and Ethnicity", The Daily Dot, 30 Maret 2018, update mutakhir 8 Mei 2018, https://www.dailydot.com/irl/what-is-ethnicity/. Lihat juga Live Science Staff, "What is the Difference between Race and Ethnicity?", Live Science, 9 May 2012, https://www.livescience.com/33903-difference-race-ethnicity.html.


Sunday, April 22, 2018

Sang Sunyi


my mystical poem

SANG SUNYI

Sang Sunyi
Melampaui bahasa insani
Tak dapat diungkap itu ini
Semua kata berhenti
Segala bunyi hilang sepi

Cuma bisa dimasuki
Diselami direnangi
Bak seekor ikan kecil lari-lari
Kiri kanan, kanan kiri 
Belok sana belok sini  
Laju ke depan berlari

Tak bisa sang ikan ini memahami
Tak pernah juga dia habis menyelami
Samudera luas tanpa tepi
Segala sesuatu diselubungi
Tanpa sisi tanpa pantai
Di dalamnya dia berenang kian kemari

Kedalamannya tanpa dasar
Luasnya tanpa pinggir
Geraknya abadi berpusar berputar
Berdentum riuh hingar
Keras debar menggelegar
Mengembang melebar
Bergelombang tersiar
Gaungnya terhantar
Abadi terlontar
Tak makin samar

Menutupi muka planet Bumi
Lautan besar tak terperi 
Bergelombang jauh lari
Jauh jauh jauh lestari
Meninggalkan semua bahari
Masuk ke samudera abadi
Maha dalam maha misteri

Bergelombang menjauh meluas
Memenuhi vakum jagat raya
Lelautan raya tanpa batas
Bergerak jauh tak terkira
Memenuhi ruang maha luas

Tak terbatas tak terkata
Tak tertulis oleh tinta
Tak terjangkau semua indra
Ilmu pengetahuan tak setara
Agama hanya sehasta
Seberkas kilatan cahya semesta
Di hadapan jagat-jagat semesta
Mahabesar tak terkira
Namanya tak tertera

Tak terbatas
Kreativitas
Progresivitas
Infinitas

Sang Sunyi ya sunyi saja
Misteri abadi baka
Tanpa rupa
Tanpa citra
Tanpa suara 
Tanpa kata
Tanpa nama
Tanpa angka
Tanpa bahasa
Senyap saja
Diam saja
Hening saja
Bisu saja

Tapi ramai tak terkira
Bersama trilyunan kartika
Tak terbilang oleh angka
Semua bermandi cahaya
Cahaya megabuana raya
Energi yang tak pernah sirna
Pengembang alam semesta

Di dalam selubungnya
Indra tumpul terasa
Mulut tak bisa dibuka
Hanya terkatup baka!
Sunyi tak terkata
Senyap tak terutara
Hanya hening disua
Kosong tanpa udara
Hanya ada:
AAA….!

Alpha Alpha Alpha
Tanpa omega
Tak terhingga 
Alpha Alpha Alpha

AAA ada yang datang!
Buat perahumu kosong!
Segera! Sekarang!
Jagat raya melolong!


Jakarta
22 April 2018


Tuesday, April 3, 2018

CINTA kepada Tuhan itu akar kecerdasan

ILMU PENGETAHUAN,
JALAN AGUNG MENUJU TUHAN


AJAIB BIN HERAN. Orang yang beragama percaya betul bahwa Allah (mereka) mahatahu. Tapi selama ini mereka umumnya takut untuk mengetahui hal-hal yang disingkap oleh ilmu pengetahuan. Mereka jadi antisains.

Padahal, kalau Allah itu mahatahu, maka Allah sebagai sumber kemahatahuan, pasti juga menghendaki semua penyembah Allah ini makin tahu lebih banyak dari saat ke saat tanpa batas. Kuriositas mereka seharusnya menjadi tak terbendung.

Makin dekat ke Allah, makin dekat ke sumber kemahatahuan. Makin tahu lebih banyak. Lebih luas. Lebih dalam.

Makin tahu lebih banyak, lebih luas dan lebih dalam, makin dekat ke Tuhan sumber kemahatahuan

Nah, untuk makin tahu lebih luas, lebih dalam, dan lebih banyak hal dari waktu ke waktu, ilmu pengetahuan adalah jalannya, metodenya.

Jadi, ilmu pengetahuan adalah jalan agung dan mulia menuju Tuhan yang mahatahu. Jalan agung tanpa ujung.

Lurus. Juga berliku. Belok kiri atau belok kanan. Menanjak dan menurun. Kadang berkabut. Kerap cerah. Kadang sunyi dan hening. Kadang juga ramai dan gembira. Kadang di depan buram dan gelap. Kerap terang dan jelas.

Ditempuh jalan kaki, kerap juga berlari kencang. Kadang tersendat. Kadang macet beberapa waktu. Lalu lancar lagi. Tanpa titik ujung. Jalan panjang yang abadi. Cakrawala tak pernah habis terhampiri.

Mengasyikkan saat ditempuh. Banyak keajaiban dan wonder dijumpai, berpapasan tak disengaja, atau ditemukan di tengah pencarian. Menggairahkan. Membangun harapan.

Menolak ilmu pengetahuan berarti menutup jalan menuju Tuhan. Alhasil, siapapun tidak akan bisa tiba ke Tuhan jika ilmu pengetahuan ditampik, ditolak dan dibenci.

Berbahagialah mereka yang haus ilmu pengetahuan, yang dengan akal dan nalar terus-menerus mencari kebenaran dan pengetahuan. Kepada orang yang seperti inilah Tuhan memberi minum dari mata air dan danau ilmu pengetahuan yang tak pernah kering, tak pernah kotor dan tak pernah tersumbat.


Betapa dekatnya para ilmuwan besar ke pikiran Tuhan. Betapa jauhnya orang bodoh dan tak berakal dari wajah Tuhan.

Sayangnya, kebanyakan orang yang beragama memilih orang jenis yang kedua. Maka sendulah hati Tuhan bak seorang bunda berduka ketika melihat anak-anaknya tidak mau sekolah, tapi hanya bertengkar dan bikin ribut dan onar dalam rumah atau tidur terus sepanjang hari, tak mau bekerja keras dan bekerja cerdas.

Tuhan itu mahapecinta, mahapengasih dan mahapenyayang. God is love.

Tuhan yang mahapecinta ini juga mahatahu. Maka, niscaya, setiap orang yang hidup dalam cinta kepada Tuhan yang mencintainya, akan juga cinta ilmu pengetahuan.

Tidak ada benturan dan konflik antara cinta Tuhan dan cinta ilmu pengetahuan. Antara hati dan akal.

Orang yang membenturkan keduanya terus-menerus, hanya membuat Tuhan mereka jadi tidak mahatahu dan tidak mahapenyayang. Adakah Tuhan yang seperti ini, tak mahatahu dan tak mahapecinta?

Jika anda mencintai seseorang, maka sudah kodratnya anda akan berusaha serius untuk makin mengenal, memahami dan mengetahui kekasih anda itu.

Begitulah, makin besar sayang anda kepada Tuhan, makin besar juga keinginan anda untuk makin kenal, makin memahami, dan makin mengetahui Tuhan. Jalannya?

Ya lewat ilmu pengetahuan sebagai sarana dan wahana yang paling dapat diandalkan untuk tiba makin dekat dan makin dekat pada kebenaran, pada Tuhan yang tak terbatas, yang mahatahu, yang mahapenyayang.

Cintailah Tuhan dengan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Jika anda benar begitu, maka cinta anda kepada ilmu pengetahuan akan pasti makin dalam dan makin luas. Anda akan makin cerdas dan makin berwawasan, dan makin cekatan dan jitu dalam berakal dan bernalar.

Mencintai Tuhan YMTahu mustahil membuat anda jadi bodoh atau menutup dan membuang akal dan nalar anda.

Jika anda beragama, bertuhan, tapi anda jadi terlihat makin bodoh, makin kehilangan akal, makin picik, makin tertutup, terus-menerus menyangkal fakta-fakta yang dikuak berbagai ilmu pengetahuan, atau yang sudah sangat jelas terlihat objektif, maka pasti, pasti dan pasti ada yang salah pada keberagamaan atau kebertuhanan anda.

Pasti anda memperbodoh diri sendiri dengan sadar atau tanpa anda sadari. Atau anda diperbodoh oleh orang lain, dan, celakanya, anda senang diperbodoh, dan anda menikmati betul kebodohan anda.

Bukan saja Tuhan itu sang bunda yang telaten membimbing dan menyekolahkan anda, Tuhan juga sang guru atau sang dosen yang ingin anda dari waktu ke waktu bertambah ilmu, bertambah cerdas, bertambah visioner, dan bertambah penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Cinta kepada Tuhan itu akar dan sumber mata air kecerdasan, akal sehat, akal ilmiah dan ilmu pengetahuan, dan wawasan luas tanpa batas.

Seperti seekor rusa rindu air yang memberi hidup, marilah kita juga rindu ilmu pengetahuan sebagai aliran yang membawa kita ke samudera luas mahadalam tanpa pantai, Tuhan yang mahatahu, tanpa batas.

3 April 2018
Ioanes Rakhmat

Saturday, March 24, 2018

Novel GHOST FLEET: Indonesia akan BUBAR 2030?


Update
26 Maret 2018
4 April 2018

NOVEL YANG KONON DISEBUT "KAJIAN ILMIAH" OLEH PAK PRABOWO SUBIANTO

Novel GHOST FLEET: A NOVEL OF THE NEXT WORLD WAR (tebal 416 hlm, terbit 30 Juni 2015, penerbit: Houghton Miffin Harcourt) bersahibulhikayat tentang MODERN CYBERWARS, SPACEWARS dan DRONES antara USA dan China yang didukung Rusia, dan keberhasilan China menguasai Hawaii.

Novel GHOST FLEET (artinya " ARMADA HANTU") ini sekian waktu lalu dipakai "seorang capres 2019 RI" sebagai (katanya) suatu "kajian ilmiah" untuk MENUBUATKAN NKRI akan BUBAR 2030. Supaya tidak bubar, maka, katanya, Indonesia memerlukan seorang yang kuat sebagai pemimpinnya.

Saya temukan satu review yang singkat namun informatif bagi yang belum atau tidak tergerak untuk membaca novel ARMADA HANTU ini.

Reviewer-nya (Michael Burnam-Fink, Juli 2015) skeptik banget atas prediksi novel ini yang ditulis dua orang yang dikenal sebagai "ahli strategi militer" USA, yaitu Peter Warren Singer dan August Cole.


Saya belum beli dan tentu belum baca sendiri novel ini. Mungkin juga tak perlu baca sama sekali. Lebih perlu bagi saya untuk mengikuti kajian-kajian berbagai iptek mutakhir, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan dan gangguan mental manusia.

Kita umumnya sudah tahu lewat berbagai sarana dan wahana tentang cyberwar, spacewar dan war drones. Tidak asing bagi kita. Anda tinggal menuangkan semua pengetahuan anda itu ke dalam novel-novel atau karya-karya fiksi lainnya untuk melayani kepentingan-kepentingan ideologis, politis, militer dan ekonomi anda. Tentukan saja kapan, di mana dan bagaimana perang-perang modern itu harus terjadi dan berlangsung, dan akibat-akibat global semuanya. Oh ya, tingkat kesehatan mental anda juga akan berpengaruh besar pada karya-karya fiktif ciptaan anda itu.

Nah, di paragraf pertama, si reviewer GHOST FLEET tersebut menulis demikian:

"Ghost Fleet is a kind of modern update to Red Storm Rising, where a couple of strategic types write up their vision of a future war. In this case, it's China and the US in the Pacific, with cyberwar, spacewar, and drones against good old fashioned American military professionalism. Unfortunately, it fails to live up to its vision, and the workman-like writing isn't enough to compensate."

"GHOST FLEET adalah semacam update modern atas [buku lama] Red Storm Rising. Dalam novel GF ini, dua orang 'pakar strategi militer' menuangkan visi mereka tentang suatu perang di masa depan antara China dan USA di Pasifik. Ini perang siber, perang di angkasa luar, dan drone-drone, yang digelar [China] terhadap profesionalisme militer USA yang sudah ketinggalan zaman. Celakanya, novel ini gagal menggenapkan visinya, dan kegagalan ini tak cukup dikompensasi oleh gaya penulisannya yang terlihat seperti ditulis oleh pakar yang kompeten."

Seorang penanggap tinjauan Michael Burnam-Fink atas novel tersebut menulis, "Salah satu segi yang paling mengecewakan dari buku ini adalah pendekatannya yang sangat simplistik terhadap geopolitik."

Kenapa novel ARMADA HANTU (jika frasa ini bukan kiasan, tentu ini bidang paranormal) dipakai jadi suatu "dasar ilmiah" untuk memproklamirkan NKRI BUBAR 2030, memang sebuah pertanyaan yang bikin kepala keleyengan juga. Bagi yang tidak ingin keleyengan, ya diskusi saja langsung dengan Pak PS. Semoga sesudah diskusi, keleyengan anda tidak bertambah berat.

Andaikata betul akan ada negara yang akan bubar menurut novel ini, ya negeri Uncle Sam, US, bukan negeri Raden Intan, RI. Mustinya gitu kan "logika" novelnya.

Jika perang modern yang mematikan itu betulan terjadi dengan menimbulkan dampak maut global, maka bukankah yang akan lenyap, bukan cuma bubar, bisa nyaris seluruh bangsa dan negara di muka Bumi ini, bukan hanya negara Raden Intan? Tak mungkin Raden Intan saja yang wafat.

Oh ya satu hal ini saya yakini: Indonesia lama yang serba kedodoran dan ketinggalan kereta peluru modernitas akan pasti berakhir, dalam tahun 2030 dst, karena akan diganti dengan Indonesia supermodern yang masuk 10 besar dunia, dengan very likely RRC menempati peringkat teratas.

Tentu hal itu akan pasti terjadi hanya jika Indonesia dipimpin oleh orang yang kuat, yakni kuat bukan ototnya tentu, tapi kinerjanya, visi dan misinya, kecerdasannya, strateginya, empatinya terhadap bangsa dan negaranya, belarasanya, integritasnya, keberaniannya, keteguhannya, dan kepribadiannya.

Begitu optimisme daku.

Baca selengkapnya reviews novel GF di sini
https://www.goodreads.com/review/show/1330492236.

Jika mau langsung dan cepat dapat gambaran umum isi novel ini, masuk saja ke Wiki https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ghost_Fleet_(novel).

Update 26 Maret 2018:

Seorang sahabat di FB, Ratih Dewi, telah membuat saya terdorong untuk memeriksa sejenak ebook Pdf novel GF, dan untuk mencari-cari, mendapatkan, lalu membaca cepat sebuah wawancara dengan salah seorang penulisnya. Baiklah. Berikut ini tambahan info dari saya.


Pada santapan kecil pembuka novel GHOST FLEET, hlm. 19 ebook (Pdf), terdapat fiksi berikut: Indonesia disebut "bekas Republik Indonesia". Kenapa? Karena "sudah tenggelam dalam KEKACAUAN/ANARKHI yang timbul SETELAH PERANG TIMOR KEDUA".

Jelas, dua "pakar strategi militer" USA itu TIDAK TAHU (wuiihh!) bahwa Timor (Leste) sudah merdeka 16 tahun lalu (persisnya 20 Mei 2002, dengan pengakuan internasional) saat RI dipimpin Presiden Megawati. Ini sebuah petunjuk GHOST FLEET itu sebuah fiksi, bukan prediksi (ditulis pada hlm. 7), yang memakai data dan info tentang Indonesia yang amburadul, tidak up-to-date.

Dalam seluruh novel ini, hanya ada 7 kata "Indonesia". Jadi isu tentang Indonesia sangat sangat marjinal dalam novel ini--- dus mana mungkin novel reka-rekaan ini dijadikan "dasar ilmiah" untuk menubuatkan RI BUBAR 2030. Sudahlah!

Selain itu, dalam suatu wawancara, Peter W. Singer, salah satu penulis GF, saat menyebut tahun 2030, penyebutan ini sama sekali tak ada kaitannya dengan tahun Indonesia BUBAR, tapi sebagai tahun AL China menargetkan akan memiliki 415 kapal laut, mulai dari empat kapal pembawa pesawat tempur hingga 99 kapal selam. Baca selengkapnya di sini https://www.google.co.id/amp/s/www.popsci.com/amp/talking-ghost-fleet-qa-author-peter-w-singer.


Oh ya, saya perlu tambahkan sebuah info lagi. Dalam artikel Wiki tentang novel GF yang sudah saya cantumkan link-nya di atas, baru saja ditambahkan satu paragraf tentang novel GF ini yang dipakai PS sebagai "pemimpin oposisi" dalam suatu pidato kampanyenya. Salah seorang penulis novel ini, Singer, lewat akun Twitter-nya, menyebut hal itu sebagai "pemelintiran" ("twists and turns") novelnya.

Anda perlu terjemahan cuitan Singer di akun Twitter-nya itu? Baiklah. Ini saya usahakan:

"Pemimpin oposisi [di] Indonesia mengutip #GhostFleet dalam pidato-pidato kampanyenya yang berapi-api.... Selama ini telah terjadi banyak pemelintiran yang tak diharapkan terhadap buku ini. Tetapi yang satu ini [pemelintiran oleh pemimpin oposisi itu] bisa jadi yang paling buruk/bodoh."

Memprihatinkan memang. Sudahlah.

Update 4 April 2018:

MASIH ADAKAH DI ANTARA KITA YANG BELUM TAHU?

ATAU YANG TERUS SEBARKAN DUSTA KEBANGKRUTAN EKONOMI INDONESIA?

FAKTA: PDB Indonesia telah tembus 1 trilyun USD per tahun. Ini menempatkan Indonesia dalam grup negara-negara Trillion Dollar Club. Sekarang, Indonesia termasuk 15 negara dengan ekonomi terbesar dunia. Sekarang loh. Bagaimana ke depannya? Di tahun 2030?

Jika kinerja dan prestasi pemerintah sinambung dan makin meningkat terus, di 2030 RI akan bisa masuk 10 negara ekonomi terkuat dunia.

Baca selengkapnya di http://bisnis.liputan6.com/read/3326754/sudah-tembus-us-1-triliun-ekonomi-ri-jadi-raksasa-ke-15-dunia.

Oleh The Economist Intelligence Unit, di 2050 Indonesia diprediksi akan menempati peringkat ke-4 di bawah China, USA dan India, dari 10 besar negara dengan ekonomi termaju. Lihat tabel terlampir di bawah ini.


Tentu lewat akselerasi pembangunan ekonomi dan bidang-bidang lain yang menopang, di tahun 2030 Indonesia diharapkan akan sudah bisa masuk 10 besar.

In 2018, 2030, and 2050, WHERE IS INDONESIA? She is growing, going up, improving, progressing, advancing--- becoming better and better, stronger and stronger, wealthier and wealthier, and... hopefully happier and happier.

Silakan share jika ingin.
Tq.

24 Maret 2018

Salam, 
ioanes rakhmat


Tuesday, March 13, 2018

TKA Yang "Qualified" Makin Dibutuhkan Indonesia Sekarang Ini

 CRANE iptek yang makin tinggi Indonesia perlukan

Apakah judul tulisan ini membuat anda kaget? Mudah-mudahan tidak. Tapi jika anda terkejut, ya tidak apa-apa juga.

Hingga Maret 2018 ini TKA di Indonesia meningkat hingga total mencapai 126 ribu orang, atau naik 69,85 % dibandingkan di 2016. Data ini diungkap dalam berita di sini https://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20180306201957-92-280945/jumlah-tenaga-kerja-asing-membludak-mayoritas-dari-china.

Sebagian besar TKA ini datang dari China, tentu, pikir saya, karena menyewa mereka diasumsikan jauh lebih murah dibandingkan jika menyewa experts dari Barat.

Dan jika ada kerjasama ekonomi antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China yang menjadi koridor masuknya banyak TKA China, itu berarti China telah menanam investasi besar di Indonesia yang turut menggerakkan ke depan roda perekonomian Indonesia.

Selain itu, jangan dilupakan, China sekarang sudah sangat maju luar biasa di banyak sekali bidang iptek yang membuat USA ketar-ketir dan jerih juga. Mengapa ambil TKA ahli jauh-jauh dari USA atau UK dll, kalau di China sudah tersedia?

Banyak orang tanpa perenungan dulu, langsung marah atas isi berita tentang TKA itu, lalu mereka sebut banyak hal negatif dari sana-sini yang tidak didukung bukti data faktual objektif. Yang menonjol adalah kemarahan, bahkan kebencian, tanpa perenungan mendalam.

Kalau saya baca dan pahami dengan cermat, poin-poin penting berita itu banyak, antara lain TKA tidak bisa selonongan masuk dan kerja di negeri kita. Pengawasan dan kontrol sangat ketat. Izin tinggal terbatas.

Selain itu, yang dibutuhkan adalah TKA yang qualified, cakap, kompeten dan berilmu, di bidang-bidang strategis yang tidak bisa ditangani TKI sendiri karena orang kita sendiri tidak memiliki kecakapan, kompetensi dan ilmu yang mutlak diperlukan.

Dan jangan lupa fakta ini, jumlah penduduk Indonesia besar banget, sekitar 250 jutaan, seperempat milyar orang. Jumlah 126 ribu itu berapa persennya?

Penduduk NKRI berjibun, tapi kenapa kita kekurangan SDM yang cakap dan kompeten untuk mengerjakan proyek-proyek strategis?

Jika ada segelintir WNI jenius dan cakap, kompeten dan berilmu tinggi, umumnya mereka memilih kerja di Barat atau di negara-negara maju non-Barat.

Kenapa? Ya karena "scientific culture" (budaya keilmuan) dan "science literacy" (melek iptek) belum menjadi bagian dari gaya hidup sebagian besaaaaar WNI.

Dus, mereka yang cerdas itu tak betah, lalu pilih hidup dan bekerja di negeri-negeri asing yang sudah melek iptek dan budaya keilmuan di sana sudah berakar dan menjadi etos hidup sehari-hari. Lagian, gaji di sana jauh lebih tinggi kendati biaya hidup juga tinggi.

Bukan cuma gaji yang memuaskan. Keterbukaan di sana juga begitu besar pada eksperimen-eksperimen dan temuan-temuan iptek terobosan. Untuk dapat berprestasi dan kreatif serta produktif, semua ilmuwan memerlukan kondisi ini.

Tengok negeri kita sendiri, terlihat nyata, kita jauuuuuh ketinggalan dalam sangat banyak hal. Kita takut iptek. Kita takut temuan-temuan baru. Kita takut laboratorium iptek. Kita takut menjadi bangsa dan negara yang maju dan modern. Kita takut menjadi cerdas. Kita takut berpikir beda dan baru. Kita takut memasuki kawasan-kawasan yang belum dikenal untuk menyibak berbagai misteri jagat raya. Serba takut. Why?

Kita tampak melalaikan bidang riset dan pengembangan iptek modern dan pendidikan tinggi yang kompetitif dengan pendidikan tinggi di Barat dan negara-negara maju lain yang non-Barat seperti China yang kini sedang memepet USA di bidang iptek anekaragam dan ekonomi nasional dan global.

Kenapa kita lalai di bidang kemajuan iptek? Ya mungkin karena kita terlalu banyak habiskan (99 persen) waktu dan energi otak dan tubuh untuk soal-soal agama-agama melulu.

Saya usulkan jalan keluar sementara ini: pakailah 75 persen waktu kita, energi kita, dan otak kita untuk belajar iptek, untuk melakukan riset dan pengembangan iptek dan membangun keunggulan ekonomi. Ini utama, mendesak, terpenting dan tugas yang tak pernah selesai.

Meraih dan memajukan ilmu pengetahuan adalah jalan agung tanpa ujung menuju kemahatahuan Tuhan YMTahu yang diberi Tuhan tahap demi tahap, kumulatif, dinamis, dialektis dan progresif, kepada manusia lintas zaman dan lintas lokasi geografis.

Semakin anda panjang dan lebar dan dalam mencintai Tuhan anda YMTahu, maka semakin kuat anda terdorong untuk dekat pada ilmu pengetahuan, untuk terus-menerus bersama banyak orang lain membangun dan menyusun serta menguji iptek-iptek terobosan baru yang tak akan pernah habis dihasilkan.

Jika agama anda (apapun) membuat anda tak berakal lagi, tak mampu bernalar lagi, tak cerdas lagi, dan benci iptek, maka pastilah ada yang salah dalam ajaran agama yang anda telah terima.

Lalu, 25 persennya untuk urusan agama-agama. Tujuan utama dan terpenting dari kita beragama adalah untuk membuat kita berbudipekerti luhur, memiliki kebajikan, dan mampu menyayangi sesama manusia yang berasal dari anekaragam latarbelakang, dan mencintai semua bentuk kehidupan lain.

Jika itu tujuan utama kita beragama, maka planet Bumi dan kehidupan kita menjadi indah, tenteram, damai, sejuk, semarak, beranekawarna, terpelihara dan tertopang oleh kesalingbergantungan yang seimbang dan sehat antarsemua organisme.

Jika ada ajaran-ajaran agama anda (apa pun agama yang anda anut) yang membuat anda tidak bisa menyayangi sesama manusia yang berbeda latarbelakang, tidak bisa memaafkan dengan tulus orang-orang yang (anda nilai) telah berbuat salah pada anda, dan terus-menerus makin membenci mereka, tidak bisa merawat planet Bumi ini, dan tak mampu bersahabat dengan bentuk-bentuk kehidupan lain yang memiliki kesadaran, pastilah ada yang salah dalam ajaran-ajaran agama yang telah ditanamkan ke dalam hati dan pikiran anda.

Nah, jika perubahan alokasi waktu ini kita jalankan mulai sekarang, mulai di usia dini anak-anak Indonesia, tak lama lagi NKRI akan jadi salah satu dari sepuluh besar negara termaju dunia di bidang iptek dan ekonomi. Saya optimis tentang ini.

Jika setuju, tinggal action. Jika tak setuju, ya tak apa-apa. Berdoa saja.

Cukuplah segitu.

Ioanes Rakhmat

13 Maret 2018
pk. 1:00 AM


Saturday, February 24, 2018

Kegagalan Model Kekuasaan Machiavellianisme


Empati dan belarasa lewat sentuhan 

Saya baru saja membaca sebuah tulisan pendek yang bagus yang perlu saya bagi ke anda setelah memperluasnya di sana-sini.

Judul tulisan itu "Power Can Corrupt Leaders. Compassion Can Save Them", ditulis oleh Rasmus Hougaard dkk, dan terbit di Harvard Business Review, 15 Februari 2018. Selengkapnya baca di sini https://hbr.org/2018/02/power-can-corrupt-leaders-compassion-can-save-them.

Menurut Rasmus Hougaard dkk, kekuasaan besar yang dipikul para pemimpin cenderung membuat mereka "corrupt", mengalami kerusakan mental. Alhasil, mereka mudah menindas dan mengeksploitasi orang lain yang berposisi lebih lemah, tanpa mereka sendiri merasa gamang, terluka atau bersalah. Kita katakan, mereka telah kehilangan empati.

Akibat akhirnya lazimnya buruk buat para pemimpin yang sudah tak mampu berempati, dan juga buat sangat banyak orang lain dalam masyarakat manapun dan kapanpun.

Perilaku tanpa empati ini terkait dengan gangguan dalam aktivitas "neuron cermin" dalam sistem saraf otak. Sistem neuron cermin bekerja terkoordinasi dan terinterkoneksi di lebih dari satu bagian otak, yakni korteks frontalis, lobus parietal, lobus temporalis, anterior insula (dalam area olfaktori), korteks somatosensori dan korteks pra-motorik

Sistem neuron cermin dalam otak, yang bekerja otomatik, memampukan kita untuk meniru, atau seolah melakukan juga, apa yang kita lihat sedang dilakukan orang lain, dan untuk mampu menangkap dan merasakan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain, yakni mampu berempati.

Ibaratnya, ketika kita melihat ke sebuah cermin, yang kita lihat dalam cermin adalah orang lain, alih-alih diri kita sendiri. Kita berada pada posisi orang lain, dan orang lain menempati posisi kita. Kita mengalami orang lain dengan segala persoalan mereka sebagai diri kita sendiri. Inilah "empati", yakni kemampuan mental kita untuk ikut merasakan dan berada  "di dalam penderitaan orang lain".

Dalam suatu artikel, empati didefinisikan sebagai suatu "kemampuan atau kecakapan untuk menyamakan diri dengan orang lain yang sedang menderita". Kecakapan ini digolongkan sebagai salah satu "soft skill" yang dibutuhkan dalam orang membangun kehidupan sosial insani yang ramah dan bersahabat serta ditandai oleh kepedulian dan kebaikan hati.

Empati sebagai "soft skill" dibagi oleh mereka dalam 3 jenis yang dapat muncul serentak dan interaktif atau sebagian-sebagian saja, yang melibatkan seluruh bagian otak manusia. Yakni:

• Empati refleksif, yaitu kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain sebagai respons neurologis dari bagian otak yang mengontrol rasa sakit saat seseorang melihat langsung penderitaan orang lain;
• Empati emosional, yakni kemampuan ikut merasakan azab dan nestapa dalam emosi dan perasaan orang lain hanya dengan mengetahui atau mendengar beritanya saja, tanpa melihat langsung; dan
• Empati kognitif, yaitu kemampuan untuk memahami dan mengerti sesuatu dari sudut pandang orang lain, dan dapat dengan akurat membayangkan pengalaman orang lain itu. Empati kognitif menimbulkan keinginan kuat untuk menolong, berbaik hati, peduli dan berperilaku prososial tinggi.

Lebih rinci, tentang empati sebagai "soft skill" lihat artikel "Empathy Is Essential: The 'Soft Skill' that Engages the Whole Brain", Nebraska Children, 15 January 2014, https://blog.nebraskachildren.org/2014/01/15/empathy-is-essential-the-soft-skill-that-engages-the-whole-brain. Dalam tulisan ini, terdapat sejumlah petunjuk praktis bagaimana menumbuhkan empati pada kanak-kanak.


Kemampuan berempati muncul di saat sistem neuron cermin teraktivasi. Lebih jauh tentang sistem neuron cermin, bacalah artikel Lea Winnerman yang diberi judul "The Mind's Mirror", di sini http://www.apa.org/monitor/oct05/mirror.aspx.

Tentang asal-usul empati, ada temuan yang menarik yang memungkinkan kita menyimpulkan bahwa bayi di usia dini memiliki kapasitas empati ontogenetik fondasional, maksudnya: kapasitas yang sudah terbentuk sejak pembuahan sel telur, menjadi janin lalu tumbuh makin lengkap dan matang dalam rahim sebagai suatu organisme hingga saat dilahirkan. Kapasitas ini menjadi fondasi bagi pertumbuhan moralitas yang lebih tinggi dan perilaku sosial ketika bayi-bayi sudah dilahirkan, lalu tumbuh tahap demi tahap menjadi individu-individu dewasa dalam interaksi dan adaptasi mereka dengan lingkungan kehidupan lewat berbagai aktivitas mereka.

Kapasitas mental fondasional bawaan lahir ini membuat bayi-bayi, yang belum bisa berkomunikasi lisan, memilih untuk menyukai orang dewasa yang memiliki sifat suka menolong dan menghibur bayi lain yang sedang menangis, dan tidak membenarkan dan tidak suka pada individu dewasa lain yang bersikap cuek terhadap bayi lain yang sedang mewek. Hal ini ditemukan Kiley Hamlin dkk dari Yale University di tahun 2007 lewat observasi mereka.

Bayi-bayi usia 4 bulan dan 12 bulan diperlihatkan video-video yang menayangkan adegan seorang perempuan sedang melipat pakaian sementara di dekatnya ada seorang bayi yang terdengar sedang menangis. Bayi-bayi itu lebih lama menatap layar ketika perempuan itu mengabaikan si bayi yang sedang mewek itu. Sikap bayi-bayi ini menunjukkan bahwa mereka sangat berharap si perempuan itu segera mendatangi si bayi itu dan menghiburnya.


Temuan Kiley Hamlin dkk ini dan temuan-temuan yang sejenis memberitahu kita bahwa kita dilahirkan ke dalam dunia ini dengan membawa harapan-harapan untuk kesejahteraan orang lain kita pedulikan, atau kemampuan berempati ini begitu cepat kita kembangkan sejak kita dilahirkan dengan berpijak pada fondasi moralitas bawaan kelahiran.

Selengkapnya tentang empati pada bayi, bacalah laporan penelitian J. Kiley Hamlin, Karen Wynn dan Paul Bloom, "Social Evaluation by Preverbal Infants", Nature, vol. 450, 22 November 2007, hlm. 557-560. Berkas Pdf-nya tersedia https://www.nature.com/articles/nature06288.epdf. Lihat juga Anil Ananthaswamy, "Young babies disapprove when they see adults acting immorally", Daily News, 9 March 2018, https://www.newscientist.com/article/2163313-young-babies-disapprove-when-they-see-adults-acting-immorally.

Temuan terbaru tentang hubungan gen dan empati baru saja dipublikasi online 12 Maret 2018. Adakah peran genetik dalam empati?

Riset yang dilakukan kooperatif antara para peneliti dari Universitas Cambridge, UK, Institute Pasteur, Universitas Paris Diderot di Paris, dan perusahaan analisis genetik personal 23andMe, mengavaluasi empati berdasarkan nilai-nilai Empathy Quotient (EQ) para partisipan yang mengisi kuesioner (60 pertanyaan) dan analisis genetik lewat saliva (liur) masing-masing. EQ yang diukur mencakup empati kognitif (kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain) dan empati afektif (kapasitas mental untuk merespons emosi orang lain dengan emosi yang tepat).

Riset tersebut dilakukan terhadap 46.861 orang (laki dan perempuan) lewat analisis DNA mereka dengan memakai metode analisis statistik yang dinamakan "Genome-Wide Association" (GWA). Inilah riset GWA terbesar sejauh ini. Mereka berhasil menunjukkan ada hubungan antara variasi-variasi genetik (yang tak berhubungan dengan seksualitas) dan perubahan-perubahan empati (juga dengan autisme, anorexia nervosa, skizofrenia, dan extraversi).

Dengan menganalisis 10 juta varian genetik, Varun Warrier dkk menemukan fakta bahwa varian-varian kecil genetik ini (tidak disebut secara spesifik gen-gen yang dimaksud) secara kolektif berkontribusi 10 (atau 11) persen terhadap perbedaan-perbedaan tingkat empati, sementara genetik berperan lumayan dalam membentuk keseluruhan perilaku manusia, yakni 30 persen hingga 50 persen menurut temuan kajian-kajian terhadap orang kembar dan orang satu keluarga seperti yang dilakukan Peter K. Hatemi dkk (lihat antara lain Peter K. Hatemi, Smith K, Alford JR, Martin NG, Hibbing JR, "The Genetic and Environmental Foundations of Political, Psychological, Social, and Economic Behaviors: A Panel Study of Twins and Families", Twin Research and Human Genetics, June 2015, vol. 18 (3), pp. 243-255. Diterbitkan online 21 Mei 2015, https://www.cambridge.org/core/journals/twin-research-and-human-genetics/article/genetic-and-environmental-foundations-of-political-psychological-social-and-economic-behaviors-a-panel-study-of-twins-and-families/FFF68ECB6FD69384D94C1FEB1E1B466C/core-reader).

Tentang studi GWA yang sudah disebut di atas, selengkapnya lihat laporan Pdf hasil riset Varun Warrier, Roberto Toro, Simon Baron-Cohen et al., "Genome-Wide Analyses of self-reported empathy: Correlations with autism, schizophrenia, and anorexia nervosa", Translational Psychiatry 8:35 (2018), diterbitkan online 12 Maret 2018, https://www.nature.com/articles/s41398-017-0082-6. Lihat juga Olivia Goldhill, "Your ability to empathise is determined by your genes", World Economic Forum and Quarts, 15 March 2018, https://www.weforum.org/agenda/2018/03/the-ability-to-feel-empathy-or-not-is-shaped-by-your-genes.

Ditemukan juga dalam penelitian itu, kaum perempuan (50,4 dari 80) lebih empatetis dibandingkan pria (41,9), tapi bukan karena faktor genetik, tapi lantaran perbedaan cara anak laki-laki dan anak perempuan diasuh dan dibesarkan, pengalaman hidup dan gaya pergaulan sosial (dan mungkin juga karena faktor-faktor hormonal dalam rahim saat seorang perempuan sedang hamil). Selanjutnya lihat Victoria Allen, "Women AREN'T genetically-wired to be more empathetic than men but are more caring 'due to how they are brought-up", DailyMail, 11 Maret 2018 (updated 12 Maret 2018), http://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-5488705/Cambridge-uni-study-women-arent-biologically-empathetic.html.

Perlu diingat bahwa kendati empati dipengaruhi gen sampai 10 persen, ini tidak berarti bahwa empati tidak dapat dikontrol. Ada faktor lingkungan hidup dan faktor budaya juga (misalnya cara dan suasana seseorang diasuh dan dididik sejak usia dini) yang memberi andil dominan dalam menentukan ada atau tidak adanya empati dalam diri seseorang, dan dalam meningkatkannya.

Ya, sejalan dengan peningkatan kematangan emosional dan kognitif manusia, empati berkembang, dari yang semula hanya tertuju kepada sesama anggota "in-group" menjadi empati kepada kalangan "out-group". Selanjutnya, berkembang menjadi "empati universal" yang ditujukan dengan ikhlas kepada beranekaragam sesama manusia dan sesama organisme yang memiliki kesadaran yang bersama-sama menghuni satu planet Bumi.

Nah, sekarang fokus kita alihkan ke kekuasaan Machiavellian yang tanpa empati. Kita umumnya sudah mengetahui sejarawan dan politikus Inggris John Emerich Edward Dalberg-Acton, yang lebih dikenal sebagai Lord Acton (1834-1902). Beliau termashyur lewat sebuah pernyataan pendeknya bahwa "kekuasaan cenderung korup. Kekuasaan yang absolut, korup dalam segala hal."

Ya, apa yang dikatakan Acton tetap benar hingga saat ini sejauh anda menjalankan kekuasaan model Machiavellian yang membenarkan setiap penguasa, demi tetap berkuasa, untuk bertindak impulsif dan sewenang-wenang dan mematikan kemampuan mental mereka untuk memahami perasaan dan keinginan serta sikon kehidupan orang lain.


Niccolò Machiavelli (3 Mei 1469 – 21 Juni 1527) dalam karyanya yang terbit di abad ke-16, The Prince, menulis bahwa "jauh lebih aman dan terjamin jika anda ditakuti alih-alih dicintai." Lima ratus tahun setelahnya, Robert Greene menjabarkan perspektif kekuasaan Machivellian dalam bukunya yang laku keras yang berjudul 48 Laws of Power. Kedua orang ini membuat banyak orang percaya bahwa untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan, orang perlu menggunakan kekuatan pemaksa, tipudaya, pemelintiran fakta, manipulasi dan tekanan-tekanan fisik dan psikis dalam segala cara.

Namun, menurut Dacher Keltner dalam artikelnya "The Power Paradox" (baca di sini https://greatergood.berkeley.edu/article/item/power_paradox), kekuasaan yang dibangun menurut model Machiavellian kini makin terdesak oleh suatu model lain kekuasaan yang "berakar pada kecerdasan sosial, tanggungjawab dan kerjasama."

Sesungguhnya, kajian-kajian mutakhir tentang kekuasaan menunjukkan bahwa pendapat dan keyakinan Machiavellian keliru total. Di sisi lain, para neurosaintis juga sudah menemukan fakta bahwa kerusakan pada bagian otak yang dinamakan lobus orbitofrontalis menimbulkan sikap dan kelakuan yang sangat impulsif dan mati rasa pada manusia. Sangat mungkin, kondisi gangguan dan kerusakan bagian otak ini dialami banyak penguasa Machiavellian.

Lobus orbitofrontalis, yang biasa juga disebut korteks orbital (terletak di bagian pusat otak yang mencakup sistim limbik, dan dasar lobus frontalis dan lobus temporalis), terlibat dalam pengaturan emosi, impuls, moralitas dan agresi. Tingkat kemampuan berempati ditentukan juga oleh level aktivitas di korteks ini.

Lewat pemindaian dengan instrumen fMRI, ditemukan fakta bahwa jika korteks orbital kurang aktif, empati berkurang. Jika seseorang tidak mampu berempati sama sekali, dan kerap agresif, jelaslah ada gangguan fungsional dan kelainan struktural yang serius pada korteks orbitalnya. Para psikopat memiliki masalah atau kelainan serius pada korteks orbital mereka. Tentang hal ini, bacalah lebih lanjut di https://www.businessinsider.com.au/psychopath-who-studies-psychopaths-2015-7.

Psikopati (disebut juga sosiopati, atau lebih luas sebagai "antisocial personality disorder" atau APD, atau "dissocial personality disorder" atau DPD) adalah suatu gangguan kepribadian yang serius, yang membuat seseorang tidak memiliki kewarasan moral dan kemampuan berempati dan bergaul dengan sesama manusia dalam batas-batas etika sosial yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak bisa mengakui dan memberikan hak-hak orang lain.

Psikopati memiliki banyak ciri. Prof. William Hirstein, Ph.D., seorang peneliti pikiran manusia (ilmuwan kognisi), mendaftarkan 9 ciri orang psikopat yang ditemukan para neurosaintis dan psikolog. Berikut ini (uraian rincinya lihat di https://www.psychologytoday.com/blog/mindmelding/201706/9-signs-you-re-dealing-psychopath):

1. Tidak memiliki kepedulian pada perasaan orang lain ("berhatidingin");
2. Emosi sosial (seperti rasa malu, rasa bersalah, rasa menyesal) dangkal;
3. Tidak dapat dipercaya, tidak memiliki tanggungjawab setelah tahu mereka bersalah kepada orang lain;
4. Suka berdusta, tidak jujur, demi meraih tujuan-tujuan yang tamak, hanya mencari kesenangan dan keuntungan buat diri sendiri, sebagai predator;
5. Terdelusi bahwa diri mereka besar dan hebat;
6. Tidak mampu mengalihkan perhatian pada hal-hal lain di saat kondisi-kondisi telah berubah, alhasil mereka tampak impulsif, kaku, keras kepala, dan picik;
7. Loba, egosentrik, dan tidak bisa mengasihi orang lain;
8. Tidak mampu berpikir dan membangun rencana jauh ke depan;
9. Tidak toleran, mudah tersinggung, agresif dan biasa melakukan kekerasan tanpa beban rasa bersalah.

Alih-alih Machiavellianisme para psikopat bertahan langgeng dan sukses, malah kini terlihat, sebagaimana ditulis Keltner, bahwa "kekuasaan bekerja paling efektif ketika digunakan dengan bertanggungjawab oleh orang yang terbuka dan aktif terlibat dan peduli pada kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan orang lain." Dengan kata lain, oleh orang yang memiliki empati.

Selanjutnya Keltner menegaskan bahwa "empati dan kecerdasan sosial jauh lebih penting dalam ihwal mendapatkan dan menjalankan kekuasaan, ketimbang penggunaan bermacam-macam kekuatan pemaksa, tipudaya, kebohongan, atau teror." Tulis Keltner, "Jika untuk tetap bisa diakui sebagai penguasa seseorang harus dengan segala cara mengendalikan orang lain, kondisi ini menandakan bahwa kekuasaan orang itu tidak stabil, sedang tergelincir."

Kecerdasan sosial yang memampukan anda bergaul dan membangun hubungan-hubungan sosial yang empatetis adalah sesuatu yang esensial bukan hanya dalam mendapatkan kekuasaan, tapi juga dalam merawat dan mempertahankannya.

Sudah banyak diperlihatkan oleh kajian-kajian empiris bahwa para pemimpin yang memperlakukan bawahan-bawahan mereka dengan respek, membagi kekuasaan mereka dan membangun semangat persahabatan dan kepercayaan terhadap mereka, dipandang sebagai para pemimpin yang lebih adil, lebih fair dan lebih mampu menyelami batin dan pikiran mereka.

Jika empati dan kecerdasan sosial anda sebagai seorang pemimpin meningkat, maka bawahan-bawahan anda dapat membangun aliansi yang kuat dan mendukung tindakan-tindakan anda sebagai seorang yang berkuasa. Seperti dikatakan filsuf Lao-Tzu, "Untuk memimpin orang, anda perlu berjalan berdampingan di samping mereka", bukan mengontrol dan menekan mereka. Filsafsat Timur Lao-Tzu ini berbeda tajam dari filsafat kekuasaan Machiavellian, dan sejalan dengan temuan-temuan banyak kajian empiris mutakhir tentang kekuasaan.

Jalan keluar dari cengkeraman hitam dan kebuasan kekuasaan Machiavellian bukan membuang kekuasaan, tapi mengontrol dan menjalankannya bersama dengan belarasa, "compassion", yang anda harus latih dan praktekkan sebagai seorang pemimpin.

"Compassion" berarti bersama-sama atau ikut menanggung ("co") penderitaan ("passion")  orang lain; bukan cuma mampu secara mental memahami penderitaan orang lain dari suatu jarak tertentu, tanpa ikut menanggungnya. Kata Indonesia untuk "compassion" adalah "belarasa".

Oleh Dacher Keltner dalam artikelnya yang berjudul "The Compassionate Instinct", "compassion" atau belarasa diartikan sebagai "kepedulian yang kita rasakan untuk membuat orang lain berbahagia dan sejahtera." Selengkapnya baca di sini https://greatergood.berkeley.edu/article/item/the_compassionate_instinct.

Dari mana belarasa berasal? Keltner menyatakan bahwa "belarasa berakar dalam dan kuat pada kodrat manusia, memiliki suatu basis biologis dalam tubuh dan otak. Manusia dapat mengkomunikasikan belarasa lewat mimik dan isyarat wajah dan sentuhan. Cara-cara memperlihatkan belarasa ini memainkan fungsi sosial yang vital. Ini semua menunjukkan dengan kuat bahwa belarasa memiliki suatu basis evolusi biologis. Ketika diungkap, belarasa mengalahkan kepentingan-kepentingan yang tamak dan memotivasi perilaku altruistik."

Jadi, belarasa merupakan salah satu bagian terpenting dari kemampuan kodrati kita untuk membuat keputusan moral dan memenuhi kontrak sosial dan berperilaku manusiawi.

Jika dilatih, dipraktekkan dan diungkap serta dikembangkan dalam suatu konteks kehidupan yang tepat, di dalam kehidupan perkawinan, keluarga, pengasuhan oleh orangtua, pendidikan, pergaulan dan pekerjaan, dan berbagai pranata sosial, belarasa akan menjadi suatu kecakapan dan kebajikan yang berbasis pada biologi kita.

Jika kita mempraktekkan belarasa, tubuh kita memberi reaksi neurokimiawi dengan memproduksi hormon sosial dan kebahagiaan yang dinamakan oksitosin (oxytocin) (yang diproduksi oleh nukleus paraventrikular hypothalamus dan dialirkan oleh kelenjar pituitari posterior dalam otak).

Selanjutnya hormon sosial ini, karena menimbulkan rasa bahagia, makin mendorong kita untuk bertindak dengan makin penuh belarasa lagi. Dengan cara ini, kebaikan yang lebih besar bagi kehidupan komunal umat manusia akan dibudidayakan.

Jangan tanya mana jalan menuju belarasa, atau cara mencapai belarasa. Sebab belarasa itu adalah jalan. Jalan untuk mengembalikan empati ke dalam diri anda sementara anda berada pada suatu posisi puncak yang memberi anda kekuasaan besar dalam hierarki suatu kepemimpinan.

Belarasa dapat dilatih untuk timbul, dan jika sudah terbiasa anda praktekkan, maka kekuasaan yang anda punya akan mendatangkan banyak kebaikan untuk orang lain. Untuk masyarakat dan dunia ini. Anda akan mampu merasakan dan ikut berada di dalam penderitaan orang lain, situasi kehidupan orang lain, duka dan kemalangan yang sedang dipikul orang lain. Seorang pemimpin yang baik harus mampu menjadi sahabat dan penolong yang ikhlas bagi orang yang dipimpinnya.

Melatih dan mengembangkan mental belarasa dapat berlangsung sederhana, membutuhkan waktu sekitar 45 menit per hari. Jangan anda enggan melakukannya, karena kepemimpinan yang dilengkapi dan dijiwai belarasa akan berpeluang jauh lebih besar untuk berhasil.

Anda duduk bersila, berkonsentrasi pada tarikan dan hembusan nafas anda. Saat anda sedang menarik nafas dalam-dalam dan setelah itu menahannya beberapa detik, lalu menghembuskannya kembali perlahan, bayangkanlah dalam benak anda orang-orang yang anda kenal dan ketahui sedang menderita karena masalah-masalah berat tertentu.

Rasakan azab mereka. Dengarkan seruan dan erangan mereka. Ratapan ketidakberdayaan mereka. Jika anda percaya Tuhan, doakan mereka, dan mohon kepada Tuhan anda supaya bagi anda dibukakan jalan, entah jalan apapun, untuk anda dapat mendatangi dan memberi pertolongan kepada mereka sehingga harapan dan daya juang mereka timbul lagi dengan kuat.

Jika anda sedang berada di sebuah perusahaan yang anda pimpin, mintalah info dari manajer personalia anda tentang siapa saja dari antara semua bawahan anda dan semua pekerja di perusahaan yang anda kelola, di manapun mereka berada, yang sedang menanggung persoalan, kemalangan dan duka berat. Lalu hubungi mereka. Berbicaralah dengan mereka dan hiburlah mereka. Atau kirim sebuah pesan singkat digital kepada mereka untuk menguatkan dan memberi asa kepada mereka.

Jika mereka tinggal di suatu lokasi yang ada dalam jangkauan anda, entah dengan berjalan kaki atau dengan mengendarai sebuah sepeda atau mobil anda, sempatkan diri untuk melawat mereka, sesuai dengan waktu yang anda bisa berikan untuk mereka. Jika anda sanggup membantu untuk dengan signifikan meringankan penderitaan mereka, atau untuk melepaskan mereka dari azab mereka sepenuhnya, lakukanlah tanpa ragu-ragu dan tanpa pamrih.

Ingatlah, anda dibutuhkan bukan hanya untuk ikut merasakan duka orang lain, bukan hanya mampu berempati, tapi untuk juga mampu bersama-sama menderita dengan orang lain. Dengan kata lain, untuk anda mampu  ber-"compassion", berbelarasa.

Dan karena anda mempunyai kekuasaan yang besar, anda mampu mengeluarkan dan membebaskan mereka dari azab dan kesusahan mereka yang anda sendiri dapat rasakan juga.

Pemimpin masa kini memerlukan bukan hanya "skill of management and leadership", kecakapan memimpin dan mengelola suatu kegiatan (bisnis dan politik, atau kegiatan lain apapun), tapi juga empati dan belarasa. To perform a good leadership and a successful management is to require empathy and compassion.

Jika sebagai seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan yang besar, anda juga memiliki dan mempraktekkan empati dan belarasa, maka masyarakat anda dan dunia ini, tentu juga perusahaan anda, bangsa dan negara anda, akan makin sehat, sejahtera, berbahagia, kuat dan kohesif, dan siap untuk berkembang dan maju makin jauh ke depan.

Jika itu yang menjadi visi anda, maka sebagai seorang pemimpin, anda akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang penguasa atau seorang pemimpin yang baik, yang bercahaya di tengah para begundal yang berperilaku buruk, durjana, gelap, dan tidak pantas.

Jika kehidupan anda berisi penuh belarasa, pastilah tidak berlaku bagi anda apa yang ditulis Machiavelli dalam The Prince bahwa "siapapun yang mencoba menjadi orang yang selalu baik setiap saat, niscaya akan menjadi reruntuhan di tengah-tengah sejumlah besar orang yang buruk. Karena itu, seorang pangeran yang ingin tetap berkuasa haruslah belajar tentang bagaimana caranya untuk tidak menjadi orang baik, lalu memakai pengetahuan itu, atau, jika diperlukan, tidak menggunakannya."

Empati dan belarasa yang otentik tidak dapat direkayasa. Jika ada orang yang jahat dan tamak kekuasaan dan uang berpura-pura memiliki empati dan belarasa demi kepentingan politik mereka, kepura-puraan mereka ini tidak akan bertahan lama karena memang sangat menyiksa batin dan pikiran mereka sendiri.

Sekarang ini dan seterusnya, negeri Indonesia memerlukan pemimpin-pemimpin puncak yang bukan saja harus cerdas akal, tapi juga harus cerdas sosial, yakni memiliki empati dan belarasa yang otentik, bukan yang bermental Machiavellian.

24 Februari 2018
ioanes rakhmat

☆ Update mutakhir 14 Maret 2018