Monday, January 25, 2016

Ideologi Ekstrimisme Religius

Have the courage to live. Anyone can die.
― Robert Cody

Orang muda kini menjadi radikal atas nama agama untuk menebar kekacauan dan ketakutan, dan untuk mencabik-cabik tenunan masyarakat kita.
― Paus Fransiskus

Update mutakhir: 
31 Januari 2016
25 Januari 2016

Kemiskinan dan pendidikan yang rendah (atau kebodohan) dapat menjadi sumber ekstrimisme religius, tapi bukan penyebab yang utama dan mendasar. Faktanya, orang kaya (seperti mendiang Osama bin Laden) dan yang sudah mengecap pendidikan tinggi (seperti mendiang Dr. Azahari Husin) juga banyak yang menjadi pentolan gerakan-gerakan religius ekstrimis. Juga adalah fakta, banyak agamawan agung lahir dan dibesarkan dalam keluarga-keluarga miskin, yang tidak mau menjual harga diri mereka hanya demi meraup kekuasaan dan kekayaan yang tidak halal.

Kehidupan itu sangat berharga! Pertahankanlah!

Faktor yang paling mendasar bagi tumbuhnya gerakan ekstrimis religius adalah indoktrinasi yang masif dan efektif dalam komunitas-komunitas religius, yang diteruskan dengan bergelombang ke komunitas-komunitas religius sejenis di berbagai tempat lain. Selain itu kita juga sudah tahu bahwa sel-sel dalam penjara (Lembaga Pemasyarakatan Khusus) telah menjadi ruang-ruang yang efektif untuk radikalisme religius diindoktrinasikan dalam waktu yang relatif cepat. Kata para pengamat, umumnya teroris yang telah keluar dari penjara malah makin menjadi lebih sungguh-sungguh menyerahkan kehidupan mereka untuk organisasi-organisasi radikal keagamaan yang ada banyak di luar penjara. Usaha deradikalisasi yang sudah dijalankan kepada mereka ternyata tidak mempan


Radikalisme

Doktrin utama yang melahirkan ekstrimisme religius adalah bahwa tatanan dunia yang ada sekarang dibangun bukan oleh Tuhan tapi oleh setan. Kata otak gerakan ekstrimis, tatanan yang setanik ini tidak dikehendaki Tuhan yang sebaliknya ingin merobohkannya sampai ke akar-akarnya. Kata otak gerakan ekstrimis juga, tatanan setanik ini hanya mendatangkan penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan dan kematian bagi umat Tuhan. Jadi, katanya, tatanan setanik ini harus dirobohkan sampai ke akar-akarnya jika umat ingin lepas dari kuasa setan dan tatanannya. Tatanan dunia setanik ini harus diganti dengan tatanan dunia ilahi yang di dalamnya umat akan hidup bebas, berbahagia dan luput dari penderitaan dan kuasa kematian. Tatanan baru ini akan diatur oleh Tuhan sendiri lewat hukum-hukum-Nya, yang akan menghancurkan dan mengganti semua hukum lain buatan manusia dan semua struktur yang membentuk suatu sistem politis suatu negara hingga ke akar-akarnya. Ideologi inilah yang dinamakan radikalisme, yang berasal dari kata Latin radix, yang artinya akar.

Karena keterbatasan sumber-sumber daya, dan keyakinan “waktu Tuhan” sudah tiba, usaha menegakkan tatanan ilahi ini dipercaya tidak bisa dijalankan evolusioner tapi harus revolusioner. Dalam kasus apapun, saat revolusi jadi pilihan, pertumpahan darah tidak bisa dihindari. Kekerasan dan teror menjadi niscaya.

Dalam kajian ilmiah ekstrimisme religius, visi revolusioner penegakan tatanan ilahi ini dinamakan apokaliptisisme (atau millenialisme). Kapan dan di manapun juga, gerakan apokaliptis revolusioner selalu menampakkan diri sebagai gerakan ideologis militeristik keras.

Karena yang mau digerakkan dalam revolusi membangun tatanan ilahi adalah umat Tuhan, teks-teks kitab suci pun digunakan. Dalam setiap gerakan apokaliptis, ideologi dan kepentingan politis pemimpin gerakan dan teks-teks kitab suci dibuat saling terjalin. Penggunaan teks-teks kitab suci membuat ideologi dan kepentingan pribadi sang pemimpin mendapatkan semacam legitimasi ilahi.


Cuci otak

Indoktrinasi yang masif membuat ideologi dan kepentingan sang pemimpin gerakan yang dilegitimasi dengan teks-teks suci tertanam kuat dalam benak umat dan mengendalikan akal dan kesadaran mereka. Janji-janji perubahan radikal yang segera atas tatanan sospol yang ada, yang dipersepsi sebagai tatanan setanik, dan ideologi dan metode-metode perjuangan, gencar diinjeksi ke dalam otak umat. Cuci otak terjadi. Perhatikan hal yang ditulis oleh neurosaintis Kathleen Taylor tentang cuci otak, berikut ini.
“Pada intinya cuci otak adalah suatu ide yang sangat jahat, yang didasarkan pada impian untuk sepenuh-penuhnya mengontrol pikiran manusia, yang mempengaruhi kita semua dengan cara-cara tertentu. Cuci otak pada dasarnya adalah penyerbuan terhadap privasi, yang berusaha mengendalikan bukan hanya bagaimana orang bertindak, tetapi juga apa yang mereka pikirkan. Cuci otak menimbulkan ketakutan-ketakutan kita yang terdalam karena mengancam akan menghilangkan kebebasan dan bahkan identitas manusia. Kami menemukan bahwa cuci otak adalah suatu bentuk ekstrim pengaruh sosial yang menggunakan mekanisme-mekanisme yang makin banyak dikaji dan dipahami para psikolog sosial. Pengaruh sosial tersebut dapat sangat bervariasi dalam intensitasnya. Dan kami mengeksplorasi sejumlah situasi yang melibatkan individu-individu, kelompok-kelompok kecil, dan keseluruhan masyarakat-masyarakat. Dalam semua segmen ini, tipe-tipe pengaruh yang kami sebut cuci otak dicirikan oleh penggunaan kekuatan pemaksa atau tipu daya atau keduanya sekaligus.”/1/
Kalau otak anda telah berhasil dicuci oleh para pentolan gerakan keagamaan radikal, maka bagian-bagian otak yang menjadi pusat saraf terbangunnya agresivitas, kemarahan, kebencian, kekerasan, intoleransi, nafsu permusuhan, gelora untuk membunuh dan memusnahkan, dan irasionalitas (yakni sistim limbik, khususnya struktur yang dinamakan amygdala) akan mengendalikan seluruh isi pikiran, watak, kelakuan dan tindakan anda. Sebaliknya, jika dalam pendidikan dan pengasuhan yang anda jalani, anda menerima dengan teratur ajaran-ajaran dan teladan-teladan tentang cinta kasih, kemampuan untuk memaafkan, toleransi, empati, bela rasa, respek pada sesama dan pada kehidupan, dan juga dilatih untuk berpikir rasional, maka bagian lobus frontalis dan struktur anterior cingulate dalam otak anda akan aktif dan memegang kendali atas isi pikiran, watak, kelakuan dan tindakan anda. Nah, dilihat dari sudut neurosains, deradikalisasi adalah suatu usaha mental (yang harus dijalankan dengan ilmiah) untuk mengembalikan otak manusia untuk dikendalikan kembali oleh lobus frontalis dan anterior cingulate yang sebelumnya disetir dan dikomando oleh sistem limbik dan amygdala.  

Apa penyebab orang memilih visi radikal apokaliptis lalu memulai sebuah gerakan keagamaan ekstrimis yang menjanjikan perubahan radikal? Banyak faktor yang mendorong munculnya gerakan ekstrimis apokaliptis, jalinan dari politik, sosiologi, agama, neurosains dan psikologi.

Dari banyak hal yang dialaminya pribadi, dan juga oleh komunitasnya, otak gerakan ekstrimis apokaliptis menjadi murka besar atas tatanan sosial yang ada, lalu terdorong untuk melawan, memerangi dan menumbangkannya. Otak gerakan ekstrimis apokaliptis menghendaki tatanan sospol yang ada diganti dan pemerintahan yang ada ditumbangkan dengan radikal, sampai ke akar-akarnya.

Dewasa ini semua otak gerakan ekstrimis religius yang berbasis di kawasan Islam Timur Tengah nyaris seragam dalam melihat Barat sebagai setan. Segala masalah buruk dalam negeri mereka selalu diproyeksikan ke Barat, dilihat sebagai akibat intervensi Barat atas negeri mereka. Karena Barat dan sekutunya dijadikan kambing hitam tunggal semua keburukan negeri mereka, mereka gagal melihat keburukan internal negeri sendiri. Bahwa negeri sendiri buruk karena para penguasanya korup, memperjuangkan kepentingan sendiri, tak punya visi besar kenegaraan, bermental paranoid, terdisintegrasi oleh gerakan-gerakan separatis, tidak mereka mau lihat.


Ideologi martyrdom

Sebagai manusia, kita semua ingin hidup kita punya tujuan, nilai dan makna. Orang jahat dan orang bodoh pun demikian. Otak semua gerakan ekstrimis religius juga ingin hidup punya makna, nilai dan tujuan, dan mencari jalan untuk memperolehnya. Dalam berbagai gerakan keagamaan ekstrimis di segala zaman, makna, nilai dan tujuan hidup diyakini didapat lewat martyrdom. Mati syahid didambakan oleh semua aktivis suatu gerakan keagamaan apokaliptis sebagai nilai, makna dan tujuan puncak kehidupan mereka.

Martyrdom diyakini sebagai jalan termulia untuk langsung bisa menemui Tuhan dan menerima banyak hadiah sorgawi, ya lewat kematian. Kesyahidan dipandang mereka sebagai suatu keperkasaan, watak satria dan keberanian luar biasa meskipun untuk itu mereka sebelumnya telah meminum sekian tablet obat penenang saraf. Tidak bisa masuk dalam keyakinan para pembela ideologi martyrdom, bahwa berjuang lewat usaha membela kehidupan jauh lebih mulia dan jauh lebih berani dan jauh lebih ksatria. Mati itu mudah, perlu waktu pendek, tidak sampai lima menit. Tapi hidup itu sulit, harus dijalani puluhan tahun dengan perjuangan dan ketabahan, jatuh bangun, sukses dan gagal silih berganti.

Perlu diketahui, di saat genting yang akan berakhir dengan martyrdom semua anggota komunitas, sang pemimpin gerakan umumnya menyelinap pergi. Kasus semacam ini sudah banyak terjadi, bukan rahasia lagi.

Di era Internet dan teknologi informasi dan komunikasi modern, sebuah gerakan ekstrimis religius yang semula lokal/nasional dapat dengan cepat berkembang menjadi sebuah gerakan global. ISIS bermula sebagai sebuah gerakan ekstrimis religius yang melawan pemerintah Suriah yang berpangkalan di kawasan timur negara ini dan juga berbasis di timur laut Irak. Kini ISIS sudah menjadi sebuah fenomena global antara lain karena jasa Internet, entah Internet membuat ISIS makin mendapat lebih banyak pendukung atau malah, sebaliknya, makin ditentang jauh lebih banyak orang di dunia. ISIS kini sedang mengoperasikan doktrin kilafah/daulah islamiah global sebagai sebuah tatanan (yang diklaim) Islami global versus tatanan Barat. Teologi perang yang sudah dibangun sejak Islam berdiri di abad ke-7 di Jazirah Arab kini dioperasikan oleh ISIS. Ini betul-betul benturan antara dua peradaban, betapapun sebagian negara Barat dan orang-orang kaya di sana pernah ikut berperan dalam pendanaan dan pelatihan militer grup ISIS yang kelahirannya, setahu saya, dibidani oleh Qatar, Turki dan Arab Saudi dengan tujuan awal menjadikan kawasan Timteng dan Asia Kecil sebagai Negara Islam atau Daulah Islamiah.

Kalifah utama ISIS yang bermarkas di Suriah, kota Raqqa, Abu Bakr al-Baghdadi, dapat anda tanya, apakah dia saat ini juga siap mati syahid. Ringleader serangan teror di Prancis 13 Nov 2015, Abdelhamid Abaaoud (warganegara Belgia, asal Maroko), bersama sepupunya Hasna Ait Boulahcen, tewas demi keyakinan religiusnya ketika apartemen yang ditinggalinya bersama para teroris lainnya yang berlokasi di Saint-Denis, utara Paris, diserbu polisi dan terjadi tembak-menembak pada 18 November 2015. Selain Abaaoud, masih ada tujuh Muslim ISIS yang tewas dalam aksi teror di Prancis itu, dan satu berhasil lolos lalu kabur ke Belgia. Menurut informasi terbaru, kawanan teroris ISIS yang diotaki Abaaoud ini berencana untuk juga menyerang tempat-tempat Yahudi, menghancurkan sistem transportasi Paris dan mengacaukan sekolah-sekolah./2/ Lalu, bagaimana dengan Abu Bakr al-Baghdadi? Sang kalifah utama ISIS ini tentu ingin hidup lama karena dia punya berbagai ambisi pribadi.


Aksi teror di Prancis

Nah, apakah aksi teror di Prancis itu membahagiakan?

Aksi teror di Prancis itu (129 orang tewas, dan 352 orang terluka) menimbulkan stres panjang dan rasa takut dalam diri rakyat Prancis. Kondisi psikologis inilah yang jadi salah satu tujuan aksi tersebut. Setiap aksi teror ingin menyebar rasa takut dan panik dalam masyarakat. Aksi ini gagal total jika masyarakat tetap tenang dan rasional.

Masyarakat Prancis cepat menguasai diri kembali, berhasil mengalahkan rasa takut. Bahkan Prancis sudah dan sedang menyerang balik ISIS di Suriah lewat pemboman dari udara ke pangkalan-pangkalan militer mereka. Pemerintah Prancis sudah menyatakan perang terhadap ISIS sebagai respon cepat negara menara Eifel ini atas tantangan ISIS sendiri. Pemerintah Prancis sudah memutuskan untuk mengontrol dan membatasi kebebasan sipil (civil liberty) di dalam negara mereka./3/ Dalam kebebasan sipil ini termasuk kebebasan untuk berkumpul di rumah-rumah ibadah, apapun juga hal yang dipercakapkan dalam rumah-rumah ibadah itu. Kini pemerintah Prancis mulai menutup-nutupi masjid-masjid di sana yang sudah terlihat digunakan sebagai tempat-tempat menyebarkan kebencian dan ideologi-ideologi keagamaan radikal lewat indoktrinasi./4/

Perempuan politikus Front Nasional Prancis yang berhaluan kanan dan nasionalis populis, yang anti-imigran Muslim dan menolak kawasan Eropa Barat yang terbuka, Ms. Marine Le Pen, kini sedang naik daun dan mulai mendapatkan dukungan makin banyak dari saat ke saat./5/ Jelas, Ms. Le Pen harus siap sedia jatuh bangun dan jatuh lagi sebelum dia bisa menjadi sosok politikus penting yang paling berpengaruh di Prancis. Sebab lawan-lawan politiknya yang kini sedang berkuasa masih sangat kuat. Paling tidak, Le Pen sedang memberi visi-visi politik strategis alternatif yang harus diperhitungkan oleh pemerintah yang sekarang sedang berkuasa./6/

Tampaknya Dalai Lama XIV lebih menampilkan diri sebagai seorang nabi akal sehat, ketika dia baru-baru ini, berkaitan dengan serangan teror di Paris, berkata:
“Stop berdoa kepada Tuhan untuk Paris. Manusia yang sudah membuat masalahnya, manusia jugalah yang harus mencari solusinya.”
Maksud Dalai Lama jelas: karena kasus serangan teror ini dimotivasi kuat oleh agama, maka agama tidak bisa dilibatkan lagi dalam mencari jalan keluar dari masalah global terorisme yang telah dan akan dilancarkan terus oleh gerakan-gerakan ekstrimis religius.

Suatu grup hacktivists yang memberi nama diri Anonymous bahkan sedang menyerang ISIS di dunia cyber dan terlihat mereka berhasil menghancurkan banyak jaringan cyber ISIS. Dalam dua hari, 5.500 akun ISIS berhasil dihancurkan oleh mereka./7/

Para peneliti dari Social Media and Political Participation Lab Universitas New York telah menganalisis lebih dari 4 juta twit yang dikirim dalam 24 jam setelah serangan teror di Paris. Dalam sampel yang mereka perhatikan, twit-twit yang dengan eksplisit menggunakan ungkapan-ungkapan anti-ISIS muncul dua puluh kali lebih banyak (total 8.000 twit) dibandingkan yang pro-ISIS (hanya 400 twit). Media sosial yang menggunakan Internet, Twitter misalnya, melibatkan kita semua, yang dekat maupun yang jauh dari Paris, dengan serangan teror itu. Seperti ditulis kolumnis John Cassidy dari The New Yorker, “teknologi informasi masa kini memediasi kesadaran kita tentang kejadian-kejadian yang mengerikan seperti serangan-serangan teroris dengan suatu cara yang membuat kejadian-kejadian itu terasa lebih dekat dan lebih menekan mental. Kecuali kita sedang sial dan naas betul, bom-bom dan peluru-peluru yang sebenarnya tidak secara langsung kita alami; tetapi lewat media sosial, kita menjadi bagian dari segala hal yang berlangsung sesudah kejadian-kejadian itu.”/8/ 


Barat makin kompak

Negara-negara Eropa bahkan sudah terkoordinasi untuk menyingkap dan membinasakan gerakan-gerakan teror di sana dengan cepat dan efektif. Kewaspadaan terhadap ancaman ekstrimisme Islam sekarang ini makin tinggi. Sebetulnya, sebelum serangan teror di Paris 13 November 2015 di sejumlah negara, khususnya Prancis dan Spanyol, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim, kekhawatiran terhadap aksi-aksi teror yang terkait ISIS meningkat tajam sebagaimana ditemukan dalam survai PEW atas 21 negara sejak 5 April hingga 21 Mei 2015./9/

Sekarang ini Presiden Prancis, Hollande, sedang sibuk menggalang dukungan negara-negara Barat, juga Rusia, untuk bersama-sama menggempur ISIS di Suriah, lewat serangan udara, dan tak lama lagi juga lewat serangan darat./10/ Dalam pertemuan di Amerika, 24 November 2015, Presiden Barack Obama dan Presiden Hollande bersama-sama mendesak semua sekutu mereka untuk mengerahkan lebih banyak aset mereka dalam menggempur ISIS. Antara lain dengan lebih banyak melakukan serangan udara, saling membagi informasi intelejen, melatih dan melengkapi para pejuang lokal, dan mengerahkan pasukan-pasukan operasi khusus masing-masing. Obama sendiri sudah memerintahkan pengerahan 50 satuan pasukan Operasi Khusus Amerika yang membantu orang Arab Suriah dan Kurdi dalam mengorganisasi dan mengoordinasi diri dalam memerangi para militan di bagian utara-tengah dan timur Suriah./11/

Ketimbang berhasil membuat negara-negara Eropa Barat kocar-kacir karena serangan teror ISIS (yang pasti masih akan berlanjut di mana-mana), sebaliknyalah yang sedang dan akan terjadi. Seperti diprediksi kolumnis Hans-Werner Sinn dalam berita online World Economic Forum, serangan teror oleh ISIS akan membuat negara-negara Eropa bukan hanya memantapkan kesatuan fiskal mereka, tapi juga kesatuan politik dan militer yang lebih erat, kokoh dan kuat dibandingkan kesatuan yang sekarang yang masih longgar betul./12/

Pada sisi lain, penderitaan kini bukan berkurang dari dunia Muslim: keresahan dan ketakutan kini sedang melanda banyak Muslim yang diam di Barat. Banyak cara sedang dicoba oleh mereka untuk menunjukkan bahwa para Muslim dan Muslimah di sana adalah manusia-manusia pencinta kedamaian dan sama patriotiknya dengan warganegara kulit putih. Ms. Saba Ahmed, ketua dan pendiri Koalisi Muslim Republik, misalnya, sampai harus mengenakan sebuah hijab bermotif bendera Amerika untuk menunjukkan dirinya Muslimah patriotik, bukan seorang teroris. Tentu saja banyak juga yang melihat cara Saba Ahmed ini sebagai pelecehan terhadap bendera Amerika. Muslim Amerika kini berada dalam situasi serba salah. 

Ms. Saba Ahmed berjilbab bendera Amerika.... 

Keluarga Abaaoud yang sudah tewas pun ikut sangat tertekan, fisik dan mental. Ayahnya sudah menyatakan dia psikopath.

Kita sudah tahu, gerakan ekstrimis ISIS pun menimbulkan banyak penderitaan dan kematian di antara sesama Muslim di Timteng, termasuk khususnya kaum perempuan dan anak-anak Muslim.

Bahkan Amerika dan negeri Barat lain di luar Eropa makin mewaspadai gerak-gerik para Muslim dalam negara masing-masing. Logis jika arus masuk para imigran Suriah dll ke negeri-negeri Barat akan makin terbendung, sebagian sudah ditutup, sebagian masih dibuka. Meningkat dari sebelumnya, kini 54% orang Amerika menolak menerima 10.000 imigran Suriah baru./13/ 


Serangan teror lagi di Amerika

Serangan teror, ya ampun, terjadi juga di San Bernardino County, California, Amerika Serikat, 2 Desember 2015, kali ini oleh suami-istri Muslim, Syed Farook dan Tashfeen Malik, yang berkiblat ke ISIS dan sudah pernah dilatih di Timteng. Dalam serangan yang oleh FBI dikategorikan sebagai aksi teror ini, 14 tewas dan 21 luka-luka./14/ Segera setelah serangan teror ini, calon presiden Amerika dari Partai Republik yang kontroversial, Donald Trump, menyatakan bahwa Amerika harus segera menutup pintu bagi semua imigran baru Muslim dan para wisatawan Muslim yang mau berkunjung ke AS. Katanya juga, masjid-masjid di AS harus diawasi mengingat, katanya, seperempat Muslim di AS membenci Amerika dan orang kulit putih. Ini semua harus dilakukan sebagai suatu kewaspadaan nasional sampai segalanya sudah bisa dengan jelas dipahami dan Amerika memegang kendali penuh./15/ Posisi Trump ini ternyata didukung kuat oleh para simpatisannya. Kata mereka, yang sedang mereka lawan adalah para Muslim ISIS./16/

Tempatkan diri anda sebagai orang Barat, sebagai orang Amerika, lalu uji akal sehat dan nurani anda, apakah Trump bersikap realistik, ataukah dia itu rasis dan Islamofobik. Menyebut Trump rasis adalah suatu kesalahan besar, sebab Islam itu sebuah agama, bukan suatu ras, kecuali anda menyamakan Islam begitu saja dengan bangsa Arab. Hemat saya, terhadap Islam versi ISIS dan yang sejenis, orang memang harus tidak suka, harus menolak dan melawannya. Islamofobia kepada ISIS dkk adalah sebuah kewarasan moral dan politik. Sebaliknya, Islamofilia, yakni cinta, dukungan dan persahabatan dengan Islam adalah juga suatu kewarasan moral dan politik sejauh Islam yang dicintai, dirangkul dan didukung ini adalah Islam sejenis Islam Nusantara yang damai, ramah, bersahabat, toleran dan inklusif seperti yang di Indonesia diperjuangkan oleh Gus Dur dkk, dan juga oleh Presiden Joko Widodo. Juga ada Islamofilia yang buruk, salah sasaran, tidak waras, yakni cinta, dukungan dan pengabdian kepada Islam radikal yang memakai cara-cara teroristik dalam usaha mencapai ideal-ideal mereka sendiri.

Lalu, jika anda mempersalahkan dan mengutuk Trump sebagai sosok anti-demokrasi, dunia sudah tahu apa yang dinamakan Paradoks Demokrasi: Jika ada sesuatu yang sedang mengancam dan akan mematikan demokrasi, maka atas nama demokrasi sesuatu yang mengancam dan akan mematikan demokrasi itu harus ditentang, dilawan dan tidak dibiarkan bebas semau-maunya. Terorisme jelas bertentangan frontal dengan demokrasi. Tentu saja saya dapat mengantisipasi bahwa para pendukung Trump di lapangan dapat bertindak berlebihan juga, di luar batas-batas keadaban yang justru melawan demokrasi sendiri. Mereka bisa terpancing untuk melampiaskan kemarahan mereka, tetapi jelas tindakan mereka bukan aksi teror yang telah direncanakan dengan sistimatis dan militeristik, gaya para teroris ISIS.

Sebagai ilustrasi, ucapan yang konon tidak autentik dari Presiden Rusia Vladimir Putin ini menggambarkan dengan jelas sikap tanpa kompromi terhadap aksi-aksi teror, sama seperti sikap Densus 88 di negeri kita sendiri. Kata Putin:
“Apakah para teroris itu akan dimaafkan atau tidak, itu tugas Tuhan. Tugas saya adalah mengirim mereka ke Tuhan!”

Di mana persaudaraan global Muslim?

Ada satu hal serius yang hingga saat ini tidak bisa saya pahami dengan nalar sehat saya. Arab Saudi itu negara superkaya karena minyak. Juga relatif aman. Di sana tersedia 100.000 tenda ber-AC yang cukup untuk menampung 3 juta orang, misalnya 3 juta imigran Muslim asal Suriah dll sebagai negara-negara yang sedang gagal. Tetapi Arab Saudi tidak menerima satu pun pengungsi Muslim dan umumnya tak ada imigran Muslim di luar Arab Saudi yang mau cari suaka politik ke Arab Saudi./17/ Mereka memilih negeri-negeri kafir Barat sebagai the dream lands atau negeri-negeri impian mereka. Aneh ya? Menurut sebuah sumber, lima negara Muslim Teluk terkaya di Jazirah Arab sekarang ini menolak menampung para pengungsi dari Suriah dll karena alasan di antara para pengungsi pasti para teroris sudah menyusup./18/

Di mana the Muslim Global Brotherhood terkait negara Arab Saudi? Jika tidak 100 persen Muslim luar Arab Saudi yang mau cari suaka ke Arab Saudi, ya katakanlah 50 persen saja, atau malah 5 persen saja. Kok tidak ada yang mau ya? Kenapa ya? Di mana the Muslim Global Brotherhood? Di mana Persaudaraan Muslim Sedunia yang selama ini disanjung-sanjung? Kenapa Tanah Arab tidak menjadi the dream lands Muslim sedunia? Kenapa malah Amerika? Kenapa malah Eropa Barat? Kenapa malah Australia? Saya butuh jawaban yang cerdas dan jujur, bukan jawaban berkelit atau bersikap “in denial”. Jika anda belum tahu apa itu denialisme, saya sudah menulisnya. Bacalah dan resapi./19/

Adam, money, and the invisible hand!


Wahabisme diekspor Arab Saudi

Selain itu, kita semua tahu, ketimbang menampung para imigran Muslim, Arab Saudi sudah lama diketahui sebagai sebuah negara kaya raya yang menyebarkan Wahabisme ke seluruh dunia dan membiayai gerakan radikal ini dengan dana yang besar. Saya berharap anda sudah tahu hal ini. Partai Hijau Jerman (Bündis 90 atau Die Grünen), lewat Kepala Parlemennya Mr. Anton Hoferenz, pada Senin, 7 Desember 2015, kepada surat kabar Jerman Saarbruecker Zeitung, menegaskan bahwa “Saudi bukan hanya diktator yang berkedok wajah ‘Islam’, dan siapapun yang berani menentangnya akan ditindas dan bahkan mungkin dibunuh. Saudi juga si kaya raya yang mendukung ideologi radikal di seluruh dunia.” Lebih lanjut Hoferenz menandaskan bahwa untuk membuat Riyadh bertobat, Barat harus segera siap menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Arab Saudi. Pernyataan Hoferenz ini dimuat dalam koran online berbahasa Indonesia Arrahmah News edisi 9 Desember 2015./20/

Ihwal kaitan antara pemerintah Arab Saudi, penyebaran Wahabisme ke seluruh dunia, kucuran dana dari negara yang kaya karena minyak ini, dan kekerasan yang dilakukan atas nama Islam, oleh peneliti dari LIPI, Ahmad Najib Burhani, diungkap demikian:
“Pemerintah Saudi itu menggelontorkan dana untuk pembangunan masjid-masjid dan pembentukan yayasan-yayasan pendidikan. Nah, kemudian mereka menetapkan persyaratan yang ketat agar dana besar itu bisa dicairkan. Dalam konteks masjid, misalnya, nama-nama khatib dan materi khutbah Jumat dan pengajian mingguan harus sesuai dengan doktrin Wahabi. Begitu juga dengan yayasan pendidikan. Yang diajarkan kepada para murid haruslah buku-buku yang berisi doktrin-doktrin Wahabi. Jadi, penggelontoran dana itu bukan untuk aksi kekerasan. Strategi mereka untuk menyebarkan pandangan Wahabi dan bukan aksi kekerasan yang bersifat langsung. Saya tidak punya data yang mengungkap bahwa dana itu digunakan untuk aksi kekerasan yang bersifat langsung. Tapi saya punya banyak data yang menyatakan bahwa dana itu digunakan untuk penyebaran pandangan Wahabisme melalui kamuflase pembangunan masjid, selebaran, pendidikan, dan lain sebagainya…. Ada faktor lain yang memungkinkan mengapa kekerasan agama itu massif terjadi, yaitu kesempatan aktor lokal untuk mengekspresikan pandangannya.”/21/
Senada dengan Najib Burhani yang pernah menerima penghargaan The Professor Charles Wendell Memorial Award 2012-2013 dari Universitas California Santa Barbara, Amerika Serikat, salah seorang pemikir utama dari Jaringan Islam Liberal (JIL) di Indonesia dan politikus Partai Demokrat, Ulil Abshar-Abdalla, menyatakan hal berikut:
“Salah satu sebab kenapa mutu perdebatan di dunia Islam sekarang ini merosot secara keseluruhan, menurut saya karena pengaruh Saudi Arabia melalui ekspor ideologi Wahabi. Saya berani memastikan bahwa salah satu [sebab] kenapa atmosfir kehidupan keagamaan di dunia Islam sekarang ini semakin terpolarisasi antara Sunni-Syiah, ini semua gara-gara persaingan antara Saudi dan Iran dalam memperebutkan pengaruh di dunia Islam. Karena Wahabi dijadikan ideologi resmi di negara-negara Arab teluk yang kebetulan kaya minyak, mereka lalu mendanai kegiatan propaganda pemikiran semacam ini ke seluruh dunia Islam termasuk Indonesia. Lihat saja di Indonesia sekarang ini, televisi dan radio Wahabi itu cukup banyak. Dari mana mereka dapat dana untuk mendanai itu semua kalau tidak ada dukungan dana dari luar. Nah, yang saya heran adalah pemerintah Indonesia sekarang ini menyensor uang-uang asing yang masuk ke Indonesia. Yang disensor bukan uang yang datang dari Timur Tengah yang mendanai kegiatan-kegiatan penyebaran propaganda ideologi Wahabisme dan Salafisme ini, tapi uang yang datang dari Barat untuk mendanai LSM-LSM yang memperjuangkan isu-isu yang terkait dengan demokrasi. Saya menyesalkan pemerintah Indonesia melakukan hal ini.”/22/
Bagaimana halnya dengan dana asing untuk gerakan gereja-gereja yang ekspansif di Indonesia sekarang ini? Adakah? Dan mengalir ke mana?

Ini poin saya: Sebagai sebuah negara, NKRI kita adalah negara yang berdaulat penuh. Sebagai bangsa, kita punya kebudayaan dan kepribadian Indonesia, kebudayaan dan kepribadian nusantara. Sebagai masyarakat, kita hidup dalam kemajemukan multidimensional. Jadi, jangan biarkan bangsa dan negara serta masyarakat dan kepribadian kita, dan juga cara berpikir, cara hidup, cara berbudaya, cara beragama dan cara bermartabat kita, ditentukan dan dikendalikan pihak asing dengan semena-mena, baik asing Barat maupun asing Timur Tengah, kendatipun kita hidup dalam era globalisasi.

Di suatu kesempatan wawancara lain, Ulil Abshar-Abdalla menunjuk dengan lebih terang tempat-tempat gagasan-gagasan radikal diajarkan. Katanya, 
Pemerintah ini harus memberikan perhatian kepada beberapa masjid yang sudah jelas-jelas dipakai untuk menyebarkan gagasan [radikal] seperti ini. Saya yakin BIN itu sudah punya data mengenai ini. Ada beberapa masjid di Bekasi di tengarai menjadi pusat dakwah kelompok-kelompok ini. Saya tidak mengerti kok Polisi tidak melakukan koordinasi untuk mendisiplinkan masjid-masjid seperti ini. Ini masjid besar lho di Bekasi. Menjadi tempat penyebaran gagasan khilafah seperti ini. Saya tidak mengerti, masjid besar. Nah sekolah-sekolah Islam di Jakarta yang sudah ditengarai mengajarkan radikal kepada muridnya itu juga perlu diatasi. Itu jumlahnya tidak banyak dan mudah diidentifikasi. Saya yakin BIN sudah punya data soal itu. Sekarang sikap berikutnya adalah bagaimana mengawasi itu. Jadi kita tidak perlu mengawasi masjid secara keseluruhan seperti pada zaman Orde Baru, tetapi mengawasi yang relevan saja. Itu tidak apa-apa. Jadi yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah penangkalan penyebaran terorisme atau jihadisme. Kalau yang sudah tercuci otaknya sudahlah, mereka diawasi jangan sampai berbuat sesuatu yang membahayakan. Melakukan kekerasan. Itu juga tidak banyak yang telah direkrut oleh mereka. Tetapi simpatisannya itu banyak di masyarakat. Itu yang saya cemaskan. Saya tidak mau menyebut [nama] sekolahnya. Saya dapat informasi sering kali sekolah Islam besar punya tendensi fundamentalis, simpati kepada jihad dan mengajarkan murid-muridnya [gagasan tentang jihad] yang biasa dipakai oleh kelompok-kelompok radikal. Ada yang mengajarkan untuk tidak hormat bendera, tidak boleh menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu tidak banyak sebetulnya. Tetapi yang seperti itu seharusnya diawasi.”/23/
H. Nurson Wahid dari PBNU baru-baru ini menyatakan bahwa ustad-ustad Wahabi berkeliaran di dunia maya tanpa henti. Anak muda yang aktif di dunia maya menjadi target utama mereka. Selain itu, di sekolah-sekolah negeri, Rohis berfungsi sebagai corong Wahabi di kalangan siswa. Guru-guru di sana berasal dari kampus-kampus. Keadaan ini harus diatasi dengan serius lewat pendampingan yang menyeluruh. Nurson antara lain juga nenemukan fakta bahwa karena satu orang anggota keluarga NU kebetulan kuliah di luar kota, belakangan satu keluarga ini secara keseluruhan menjadi Wahabi, lalu mereka mengharamkan tradisi-tradisi NU seperti Mauludan dan lain-lain. Dia juga mengingatkan bahwa 1.600 penerima beasiswa LPDP disinyalir sedang disiapkan bagi antek Wahabi./24/   


Diikat satu kemanusiaan

Terkait dengan persaudaraan insani transnasional, hemat saya, Barat jauh lebih maju, karena mereka memandang seluruh insan di muka Bumi sebagai sesama saudara bukan karena alasan keagamaan apapun, tetapi karena alasan bahwa semua manusia diikat dan disatukan oleh hakikat yang sama, yakni kemanusiaan kita. Bukan religious brotherhood, tetapi human brotherhood, itulah yang menjadi filsafat Barat tentang umat manusia. Tentu anda sudah tahu, menurut kisah-kisah dan teks-teks skriptural tiga agama teistik Yahudi, Kristen dan Islam, kita semua, umat manusia, diikat oleh satu tali persaudaraan dan kemanusiaan yang tidak bisa dihilangkan, karena kita semua keturunan pasangan manusia pertama di Bumi, Adam dan Hawa, keduanya manusia, ketika agama terlembaga apapun belum ada di planet ini. Sejak dulu hingga kini, ketika agama-agama terlembaga sudah lahir dan masing-masing giat berpropaganda, umat manusia oleh agama-agama ini diceraiberaikan dan dibuat berperang satu sama lain.

Anda boleh membela Arab Saudi sebagai sebuah negara teokratis Islami yang baik hati kepada para pengungsi Muslim yang sekarang ini sedang membanjiri negeri-negeri Barat, dan mungkin, kata anda, Saudi juga sudah menawarkan suaka politik kepada mereka. Tidak ada yang istimewa, malah sudah seharusnya, jika Arab Saudi ikhlas khlas khlas khlas menerima para pengungsi Muslim dari seluruh dunia; tokh, setahu saya, umat Muslim sangat menyanjung doktrin persaudaraan global seluruh Muslim yang ada di muka Bumi. Doktrin ini perlu dilaksanakan, bukan hanya disanjung. Tetapi berapa gelintir pengungsi Muslim yang mau masuk ke Arab Saudi?

Harapan bahwa manusia bisa akur dan saling menerima dan saling menghargai masih bisa dipertahankan sejauh kita semua melihat dan mengakui bahwa kita semua diikat oleh satu hakikat dasar kita, bahwa kita semua adalah manusia. Meskipun manusia memiliki ciri fisik dan watak mental yang tidak seragam, kita semua adalah satu umat manusia. Kemanusiaan, bukan agama, itulah faktor paling mendasar yang membuat kita semua bersaudara. Jika seseorang menyangkal orang lain sebagai sesama manusia, maka pada dirinya ada tiga kemungkinan: pertama, dia memandang dirinya sudah berada di atas manusia lain, sudah superhuman, adi-insani; kedua, dia melihat dirinya bukan manusia, mungkin suatu alien dari angkasa luar; dan ketiga, dia memandang dirinya lebih rendah dari manusia. Tentu saja, orang jenis pertama ini tidak ada, dan hanya diklaim oleh para pengidap penyakit mental megalomania atau paranoia.

Kalau Barat membuka diri untuk menerima ribuan, ratusan ribu hingga jutaan pengungsi Muslim, dulu dan kini, itu dilakukan hanya atas dasar pertimbangan kemanusiaan saja: para pengungsi adalah manusia-manusia yang sedang susah dan menderita, dan karena itu mereka, Barat, harus menolong mereka sebisa mungkin, dengan harapan mereka tidak akan kelak menimbulkan masalah keamanan serius buat kehidupan dalam negeri negara-negara yang menerima mereka dengan baik hati dan terbuka. Selain itu, ada UU atau kesepakatan internasional yang mengikat banyak negara di dunia (setahu saya, negara-negara Arab Teluk tidak ikut serta dalam menandatangani kesepakatan internasional ini) dalam kewajiban untuk menerima dan menolong para pengungsi, siapapun mereka dan apapun agama mereka, sebagai manusia yang sedang ditimpa kemalangan.

Baru saja, 15 Desember 2015, CNN memberitakan bahwa pemerintah Arab Saudi kini sedang mengajak semua negara Islam di dunia (34 negara) bersatu padu untuk memerangi terorisme dengan Riyadh menjadi basis militernya. Saudi menyebut ekstrimis Muslim sebagai penyakit. Berita ini tentu saja diberi banyak komentar sumbang yang mengungkapkan kemunafikan Saudi Arabia yang dilihat sedang melakukan perang propaganda untuk menutupi diri dari fakta sebenarnya keterlibatan besar Arab Saudi dalam kelahiran dan perkembangan gerakan-gerakan Islam radikal di seluruh dunia./25/ Bagaimanapun juga, menyatukan seluruh negara Islam dunia dalam koalisi ini, pragmatis sekalipun sifatnya, akan bisa menyusutkan jumlah negara dan orang yang dapat direkrut ISIS. Masih harus dilihat, apakah koalisi ini betul-betul kompak, atau hanya kepura-puraan dan taktik kamuflatif saja. Indonesia sendiri sudah menyatakan sikap politiknya dengan jelas, yakni menolak bergabung dalam koalisi bentukan Arab Saudi ini, dan hanya mau bergabung di bawah koordinasi PBB. Menurut jubir Kementerian Luar Negeri RI, negara-negara Islam yang bergabung dalam koalisi itu adalah negara-negara Islam di luar arus utama, selain itu bergabung dengan koalisi militer di luar koordinasi PBB tidak sejalan dengan UU RI./26


Kondisi di Kanada

Bagaimana dengan Kanada? Sebuah artikel analitis investigatif tentang multikulturalisme di Kanada yang link-nya saya berikan di bawah ini merisaukan hati saya kendatipun saya bukan seorang penduduk Kanada./27/

Betapa tidak! Dalam negara yang pernah terkenal karena multikulturalismenya ini, gerakan Islam radikal di sana dinilai sedang terus menjalar bagai kanker. Saya mengibaratkannya sebagai bom-bom waktu ekstrimisme religius yang akan segera meledak dengan dahsyat.

PM Kanada yang baru, Justin Trudeau, 43, sedang hangat dibicarakan sebagai seorang multikulturalis sejati yang baru saja dengan sangat hangat menerima keluarga Muslim pengungsi pertama yang datang dari Suriah. Mulai sekarang hingga Maret 2016, Kanada berencana akan menampung 25.000 pengungsi Suriah.

Artikel yang saya telah sebut di atas membeberkan bahwa sikap dan tindakan PM Trudeau yang sangat simpatik terhadap para Muslim pengungsi dari Suriah dan terhadap Muslim di Kanada adalah bagian dari politik balas jasanya atas kemenangan politiknya. Duuuhh. Saya masih berharap, kenegarawanan Trudeau nantinya tetap unggul sehingga dia berhasil membuang pendekatan politik transaksionalnya, politik dagang untung rugi.

Kini para Muslim sekular, moderat dan liberal Kanada sedang bangkit dan bersuara mengingatkan pemerintah Kanada bahwa kanker jihadis Islam radikal sedang menjalar di sana. Negara Arab Saudi ditunjuk sebagai penggerak dan pendana gerakan-gerakan Islamis radikal di sana yang menolak untuk setia kepada negara Kanada.

Semoga Kanada mampu bermawasdiri dan mampu juga menjalankan operasi intelejen dan aksi preventif anti-terorisme, tidak tertidur lelap dalam selimut tebal multikulturalisme mereka yang dipersonifikasi dalam diri Justin Trudeau sekarang ini.

Tindakan belas kasih kemanusiaan terhadap semua pengungsi harus dijaga untuk tidak disusupi dan dikhianati oleh para teroris yang membenci apa yang dunia modern agungkan sebagai kemanusiaan dan multikulturalisme. Tetapi dalam realitas kehidupan ini di mana-mana, sejak dulu, selalu ada risiko ini: kebaikan dibalas dengan kejahatan. Air susu dibalas dengan air tuba. Bagaimana pun juga, hukum evolusi tetap bekerja: siapapun yang tidak bisa adaptif dengan dunia modern, pada akhirnya akan lenyap. Tetapi, hukum alamiah evolusi saja tidak cukup, dan baru menampakkan hasilnya setelah melewati kurun yang sangat panjang. Hukum positif domestik dan internasional buatan manusia harus ditegakkan sekokoh-kokohnya dan diberlakukan sepenuh-penuhnya demi menangkal dan mengalahkan aksi-aksi teror yang dilakukan atas nama agama atau ideologi apapun. 

Baru saja, 27 Januari 2016, Mendagri Swedia, Anders Ygeman, menyatakan bahwa Swedia akan segera mengusir kurang lebih 80.000 migran yang telah datang dari negeri-negeri Muslim yang penuh konflik (Suriah, Irak dan Afghanistan) dan telah tiba di negeri itu tahun 2015 dan yang aplikasi suakanya telah ditolak. Sebagai suatu negeri kecil berpenduduk 9,8 juta orang, Swedia di tahun 2015 telah menerima 160.000 Muslim pencari suaka./28  


Narasi kosong  

Jelas sudah, aksi setiap gerakan ekstrimis religius bukan meniadakan penderitaan, kemiskinan, ketidakadilan dan kematian seperti yang konon diinginkan gerakan ini. Sebaliknya, aksi teroristik gerakan ekstrimis hanya melipatgandakan penderitaan dan kematian di antara umat yang konon mau dibela. Narasi para pentolan gerakan ekstrimis apokaliptik bahwa mereka mau membebaskan umat dari penderitaan, kematian, kemiskinan dan ketidakadilan nyatanya adalah narasi yang kosong.

Seandainya gerakan ekstrimis religius apapun dapat menguasai instalasi persenjataan nuklir, mereka akan menggunakan ini untuk melenyapkan dunia. Teologi kiamat membuat mereka memuja kematian dan kepunahan dunia dan peradaban, bukan membela kehidupan dan kelestarian peradaban. Mata mereka rabun sehingga tidak bisa melihat nilai luhur dan mulia adanya planet Bumi, kehidupan di dalamnya dan peradaban insani yang sudah dan terus dibangun di planet ini; sebaliknya, tatapan mereka nanar, begitu jauh, merindukan sebuah dunia lain di luar sejarah, suatu dunia gaib, yang di dalamnya peradaban insani tidak pernah ada dan bahkan tubuh mereka sendiri juga sudah punah. Teologi kiamat dan senjata nuklir yang digunakan untuk memusnahkan dunia, inilah dua hal yang diwaspadai Barat saat mereka mengevaluasi setiap gerakan ekstrimis religius dan negara-negara yang diduga mendukung gerakan ini.

Saat ini bahan-bahan dan teknologi untuk membangun persenjataan nuklir mudah didapat, juga oleh gerakan ekstrimis apokaliptik. Keterbukaan negara-negara Eropa Barat sehingga siapapun yang sudah ada di dalamnya dapat berpindah-pindah dengan bebas dari satu negara ke negara lain, makin memperbesar kemungkinan jatuhnya bahan-bahan persenjataan nuklir ke tangan para teroris. Yang juga sangat mematikan adalah persenjataan kimia dan biologis, selain nuklir.

Sudah ditemukan bukti bahwa pada 14 Maret 2015 ISIS menggunakan senjata kimia gas klorin ketika sedang menghadapi pasukan Kurdi. Korban yang menghirup gas ini terserang pusing kepala, muntah, lemas lalu tewas. Di bulan Oktober 2014, ISIS juga menggunakan gas kimia yang sama di kota Balad dan Duluiya. Jubir pemerintah Irak menyatakan bahwa penggunaan persenjataan kimia menunjukkan bahwa ISIS sudah kehabisan taktik dan merasa putus asa./29/  

Jadi, bukan hanya umat yang katanya mau dibebaskan dan dibela, tapi seluruh dunia dan peradaban insani pun dibawa ke dalam bahaya oleh mereka. Jadi, narasi yang sebetulnya disusun para pentolan setiap gerakan radikal religius adalah narasi kematian umat dan kepunahan dunia.

Kalau Tuhan yang anda percayai adalah Tuhan sang pencipta dan pemelihara kehidupan, Tuhan anda ini tidak akan membenarkan teologi kiamat yang dibangun para ekstrimis religius. Kalau Tuhan yang anda percayai itu al-rahman dan al-rahim, Tuhan anda ini tidak akan pernah membenarkan kekejaman dan teror.

Jadi, gerakan ekstrimis religius bukan gerakan pembebasan dan kehidupan, tapi gerakan perbudakan nafsu manusia untuk berkuasa dan kematian. Para ekstrimis religius yang memilih mati dengan bom bunuh diri dan lewat aksi teror bukan sahabat tapi musuh kehidupan dan kebahagiaan.

Mereka bukan “freedom fighters”, sebab mereka mau membawa anda dan negara anda ke dalam lebih banyak penderitaan, perbudakan dan kemusnahan. Kebebasan yang mereka janjikan adalah kebebasan menggunakan cara-cara teroristik dalam mencapai tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan mereka sendiri, bukan tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan anda sendiri.

Tentu semua negara di dunia ini, termasuk yang paling maju, paling adil, dan paling demokratis, tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang di dalamnya. Jika anda tak puas dengan pemerintah negara anda dan dengan kehidupan sospol dan ekonominya, usahakanlah memperbaikinya dengan cara-cara yang konstitusional.

Jika anda didatangi orang yang menjanjikan sorga yang segera untuk anda lewat aksi teroristik, mintalah dia dulu untuk segera masuk sorga. Katakan kepadanya bahwa anda memilih cinta kehidupan dalam dunia ini selama dimungkinkan, dan menolak kematian yang segera. Mati itu sangat mudah dan cepat; tetapi hidup itu berjalan panjang dan memerlukan keteguhan, ketabahan dan perjuangan tak kenal lelah. Berani mati itu sangat gampang. Berani hidup itu sangat sulit. Mati lewat bom bunuh diri dengan ikut menewaskan sangat banyak orang lain yang tidak bersalah, adalah suatu kekalahan telak. Hidup puluhan tahun dengan jatuh dan bangun, dengan tabah dan tegar, apalagi dengan menabur cinta kasih, adalah kemenangan dan pahala.

Hendaknya pendapat sufi perempuan Rabiah al-Adawiyyah (717-801 M) juga pendapat anda: Aku memilih memberi cinta. Hadiah sorga tak kuminati. Neraka tak kutakuti.

Ya, berjuang di jalan cinta jauh lebih berat, memerlukan kesabaran, ketekunan, ketabahan dan pengorbanan diri sendiri dengan cara yang agung. Ambil contoh sosok agung politikus perempuan Asia.


Perjuangan Aung San Suu Kyi

Aung San Suu Kyi tidak bisa mendukung pemerintahan militer di negaranya. Dia berjuang untuk membawa negerinya ke demokrasi. Sekian dekade Daw Suu berjuang lewat cara konstitusional, lama dan harus sabar, dangan cara damai dan tanpa kekerasan, di Myanmar. Daw Suu, sosok politikus Asia, diakui dunia sebagai sosok besar yang menempuh jalan non-kekerasan. Dia menerima Nobel perdamaian. Baru saja partainya NLD menang besar dalam Pemilu yang membuka jalan bagi demokrasi Myanmar. Tapi banyak problem raksasa masih akan menghadangnya./30/

Sebaliknya, kekerasan dan teror hanya akan menimbulkan penderitaan lebih berat bagi umat yang katanya mau dibela, dan kematian lebih banyak dalam masyarakat.

Jika anda rindu sorga dan berbagai hadiah di dalamnya, ya mari bersama-sama kita jadikan dunia ini sorga secara bertahap via kebajikan dan cinta. Selain itu, lewat kecerdasan, ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dilandasi akhlak yang agung, mari kita ubah dunia ini ke arah yang lebih baik lagi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi modern berkembang di Barat. Bukan di Asia. Bukan di Timteng umumnya. Juga bukan di Afrika. Belakangan China maju pesat dalam sains dan teknologi modern, juga India, Jepang dan Korsel, dan konon juga Iran, dan jangan diabaikan juga Israel. Tapi jelas pusatnya kini masih di Barat.


Melawan Barat dengan bermartabat

Anda mau melawan Barat? Saya juga. Tapi hanya lewat penguasaan sains-tek modern kita dapat membangun NKRI lebih besar dari Barat. Ini adalah sebuah visi jangka panjang. Sebuah perlawanan cerdas dan bermartabat.

Tanpa kita bisa menguasai dan mengembangkan sains-tek dengan mandiri, negara dan bangsa kita hanya akan menjadi negara dan bangsa yang terus dimata-matai oleh berbagai satelit Barat. Atau hanya menjadi kawasan pemasaran produk-produk teknologi Barat yang dijual dengan harga mahal oleh mereka demi keuntungan besar banyak perusahaan multinasional yang berbasis di Barat atau berbasis di negara-negara Asia yang sudah mengalami kemajuan pesat di dunia sains-tek, jauh meninggalkan kita.

Kita hanya bisa mengembangkan sains-tek modern dengan pertama-tama menguasainya dulu. Kita harus sekolah di Barat. Sains-tek modern hanya bisa kita kembangkan lebih jauh jika kita punya sentra-sentra RD dan banyak laboratorium untuk eksperimen berbagai disiplin sains dan teknologi.

Hanya dengan dana yang besar kita bisa menjadi bangsa penguasa sains-tek yang mampu membuat terobosan-terobosan baru di dunia sains-tek. Dana besar hanya bisa tersedia jika bangsa dan negeri kita bebas korupsi dan semua anak bangsa bermental pejuang yang cerdas, tekun dan tangguh. Mari kita lawan Barat dengan menjadikan negeri kita bebas korupsi dan dipimpin para politikus setangguh dan seagung Aung San Suu Kyi.

Jangan anda terpedaya oleh orang yang mengatakan bahwa Daw Suu tidak agung, sebab dia mengabaikan Muslim Rohingya di Burma. Daw Suu punya komitmen tinggi terhadap semua kelompok minoritas di dalam negaranya; dia membela mereka tetapi dengan sangat hati-hati supaya dia tidak mengalami kembali masa gelap yang pernah dialaminya, yang akan membuat perjuangan jangka panjangnya kandas kembali./31/

Kita harus bangun masyarakat sipil yang luas dan tangguh sebagai barisan warganegara yang tercerahkan, terdidik dan berakhlak agung. Masyarakat sipil inilah yang terus-menerus mengontrol dengan cerdas dan berani segala kiprah dan isi pikiran para politikus kita. Membangun masyarakat sipil yang tangguh juga bagian dari perjuangan jangka panjang kita untuk mengalahkan Barat.

Jika para politikus kita menjadi tangguh lewat kontrol masyarakat sipil dan melalui berbagai lembaga pengkaderan politik yang dapat diunggulkan, mereka akan mampu menyaingi dan mengalahkan para politikus Barat, sehebat apapun para politikus Barat ini dan seluas apapun pengaruh global mereka. Jangan datangi mereka dengan rendah diri. Biarkan mereka mendatangi kita dengan penuh hormat.

Selain kita harus punya lembaga RD yang hebat, kita juga perlu punya sumber daya manusia (HR) yang mampu lewat sains-tek mengalahkan Barat. Lembaga RD dan HRD yang banyak masih harus kita siapkan, dan ini membutuhkan dana yang besar, waktu yang panjang dan kerja keras dan kerja cerdas semua elemen bangsa. Kekayaan sumber-sumber alam kita yang luar biasa banyak dan besar tentu saja seharusnya membuat kita mampu membangun ekonomi sendiri yang kuat, kokoh, tangguh dan kompetitif di arena global. Jika ekonomi kita ternyata kacau, morat-marit, lemah dan menyedihkan, ini adalah sebuah problem raksasa yang kita buat sendiri, bukan buatan setan Barat manapun.

Jadi ada banyak urusan internal negara dan bangsa yang kita perlu bereskan, perbaiki dan ubah jika kita mau maju dan dapat kalahkan Barat. Mengkambinghitamkan Barat dan sekutunya apalagi menyerang mereka dengan aksi teror, hanya akan membuat si penyerang makin histeris, tersudut dan dimusuhi dunia, lalu hidupnya akan berakhir selamanya tanpa makna, nilai, harga dan martabat apapun buat kemanusiaan sejagat dan kemajuan peradaban yang agung.

Dengan memperbaiki kekurangan dan kebobrokan internal negara sendiri, lewat cara yang agung, masa depan setiap bangsa akan lebih baik. Sebaliknya, terorisme hanya akan menimbulkan penderitaan, ketidakadilan, kemiskinan dan kematian lebih banyak di antara umat yang konon mau dibela para teroris dan di dalam dunia. 


Aksi teror di Indonesia

Di Indonesia sendiri, ancaman teror grup ISIS sangat real. BIN dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sudah merilis berita bahwa sekarang ini 145 WNI yang sudah dilatih ISIS di Suriah sudah kembali ke Indonesia. BIN meminta semua warga masyarakat untuk siaga dan mewaspadai setiap gerak-gerik para teroris ISIS ini di lingkungan RT/RW masing-masing./32/ Ketenangan dan kewaspadaan dibutuhkan dari kita semua, untuk bisa menangkal bau kematian.

Itulah perspektif yang saya tawarkan, yang tidak klise, yang menebarkan keharuman kehidupan, sementara ekstrimisme religius menebarkan bau kematian.

Bau kematian baru saja tersebar lewat aksi teror di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, yang mencakup kawasan Starbucks Coffee Shop, gedung Djakarta Theater, dan pusat perbelanjaan Lotus, 14 Januari 2016, mulai pukul 10.40 WIB. Dalam tempo 3 hingga 4 jam aparat kepolisian berhasil merebut kendali dan mengembalikan keadaan menjadi normal kembali. Suatu prestasi yang patut dipuji.

Menurut berita terawal setelah kejadian, ada tujuh pelaku aksi teror ini, dengan dua diantaranya meledakkan diri dengan bom, dan satu tewas ditembak di tempat, sedangkan empat orang teroris lainnya dilumpuhkan dengan timah panas lalu ditangkap. Belakangan diberitakan, Polri berhasil menembak lima orang teroris Jalan Thamrin itu, dan dua diantaranya teridentifikasi sebagai teroris. Korban sipil yang tewas ada dua orang dan belasan lainnya luka-luka. Para teroris berhasil meledakkan sebuah pos polisi di sekitar kawasan kejadian; melemparkan sebuah bom lempar ke dalam ruang warung kopi transnasional itu dan bom itu meledak. Satu bom lagi meledak di jalan raya depan warung kopi ini.

Tak lama sesudah aksi teror Jalan Thamrin itu, ISIS menyatakan sebagai pihak yang merencanakan dan melaksanakan aksi teror itu (tentu saja klaim ISIS ini tidak mungkin diverifikasi). Seorang WNI yang bernama Bahrun Naim (nama lengkap: Muhammad Bahrun Naim Anggih Tamtomo) lewat blognya belakangan menyatakan menjadi sang dalang aksi teror tersebut, yang ilhamnya, katanya, didapat dari aksi teror Paris 13 November 2015. Menurut Polri sendiri, Bahrun Naim telah berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS sejak 2014. Dalam suatu wawancara live di Tempo TV Primetime News, 15 Januari 2016, mulai pukul 18.00 WIB, Jenderal Polisi Badrodin Haiti menyatakan bahwa kini sudah ada 308 WNI yang telah berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.

Sebagai tanggapan cepat terhadap situasi ancaman aksi teror dan radikalisme keagamaan, pemerintah RI kini sedang mempersiapkan sebuah RUU untuk menjadi sebuah landasan hukum yang komprehensif dan berlaku jangka panjang untuk mencegah, menanggulangi dan memberantas radikalisme dan ekstrimisme keagamaan dan aksi teror. Tetapi karena proses membuat suatu RUU butuh waktu lama sampai disahkan, Perppu tentang hal yang sama akan segera didahulukan. Sudah diingatkan juga oleh pemerintah RI bahwa kewarganegaraan setiap WNI yang terbukti telah bergabung dengan ISIS dan menjadi tentara ISIS akan dicabut.

Akhirnya, ini doa saya: Ya Tuhan yang mahapengasih, bantulah kami semua menjadikan Indonesia sebuah negeri besar yang damai, maju, sejahtera dan modern!

by Ioanes Rakhmat
Jakarta, 21 November 2015
 

Sumber-sumber

/1/ Kathleen Taylor, Brainwashing: The Science of Thought Control (New York, N.Y.: Oxford University Press, 2004; edisi paperback 2006), hlm. ix-x.

/2/ Lihat reportase Chine Labbé dan John Irish, “Ringleader of Paris attacks planned more strikes, mocked open borders―sources”, Reuters, 27 November 2015, pada http://uk.reuters.com/article/2015/11/27/uk-france-shooting-report-abbaoud-idUKKBN0TG22L20151127.

/3/ Lihat reportase Ryu Spaeth, “France is already moving to curb civil liberties”, New Republic, 18 November 2015, pada https://newrepublic.com/minutes/123985/france-is-already-moving-to-curb-civil-liberties.

/4/ Lihat antara lain reportase Willa Frej, “France Shuts Three Mosques Suspected of Radicalization”, TheWorldPost, 2 December 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/entry/france-closes-three-mosques-suspected-of-radicalization_565ee8e7e4b08e945fed6f47.

/5/ Lihat reportase Timekeeper “Terror in France Has Marine Le Pen on the Verge of a Big Victory”, The Economist, 4 December 2015, pada http://www.economist.com/news/europe/21679566-successive-crises-europe-have-played-straight-hands-frances-far-right-terror.

/6/ Helena Fouquet dan Mark Deen, “Le Pen’s National Front Shut Out of French Regional Governments’’, Bloomberg Institute, 14 December 2015, pada http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-12-13/le-pen-s-national-front-shut-out-of-french-regional-governments.

/7/ Lihat reportase Jay Syrmopoulos, “Anonymous Takes Down 5,500 ISIS Accounts―24 Hours After ISIS Called Them ‘Idiots’’’, The Free Thought Project, 17 November 2015, pada http://thefreethoughtproject.com/opparis-anonymous-takes-5500-isis-twitter-accounts-24-hours/.

/8/ John Cassidy, “Terrorism in the Age of Twitter”, The New Yorker, 23 November 2015, pada http://www.newyorker.com/news/john-cassidy/terrorism-in-the-age-of-twitter.

/9/ Lihat reportase Jacob Poushter, “Extremism Concerns Growing in West and Predominantly Muslim Countries”, Pew Research Center, 16 July 2015, pada http://www.pewglobal.org/2015/07/16/extremism-concerns-growing-in-west-and-predominantly-muslim-countries/.

/10/ Lihat “In search of allies: Hollande’s travels”, The Economist. Espresso, 24 November 2015, pada https://espresso.economist.com/42b4513ab3b7345808adc98d138c5354.

/11/ Karen de Young, “U.S., France to press allies for more assets in fighting against the Islamic State”, The Washington Post, 24 November 2015, pada https://www.washingtonpost.com/world/national-security/us-france-to-press-allies-for-more-assets-in-fight-against-the-islamic-state/2015/11/24/34d02346-92e0-11e5-8aa0-5d0946560a97_story.html.

/12/ Lihat analisis Hans-Werner Sinn, “Can ISIS bring Europe closer together?”, World Economic Forum, 27 November 2015, pada https://agenda.weforum.org/2015/11/can-isis-bring-europe-closer-together/.

/13/ Amber Philips, “Americans are increasingly skeptical of Muslims. But most Americans don’t talk to Muslims”, TheWashington Post, 24 November 2015, pada https://www.washingtonpost.com/news/the-fix/wp/2015/11/24/americans-are-increasingly-skeptical-of-muslims-but-most-americans-dont-talk-to-muslims/.

/14/ Lihat reportase Michael Schmidt dan Richard Pérez-Peña, “F.B.I. Treating San Bernardino Attack as Terrorism Case”, The New York Times, 4 December 2015, pada http://www.nytimes.com/2015/12/05/us/tashfeen-malik-islamic-state.html.

/15/ Jeremy Diamond, “Trump: Ban all Muslim Travel to U.S.”, CNN Politics, 8 December 2015, pada http://edition.cnn.com/2015/12/07/politics/donald-trump-muslim-ban-immigration/index.html.

/16/ Jeremy Diamond, “Trump Supporters Embrace Muslim Travel Ban Plan”, CNN Politics, 8 December 2015, pada http://edition.cnn.com/2015/12/07/politics/donald-trump-muslim-travel-ban-rally/index.html.

/17/ Lihat observasi yang menarik tentang fakta Arab Saudi ini oleh Paul Joseph Watson, “Saudi Arabia Has 100,000 Empty Tents with AC for 3 Million People―They’ve Taken Zero Refugees”, The Free Thought Project, 10 September 2015, pada http://thefreethoughtproject.com/saudi-arabia-100000-empty-tents-ac-3-million-people-refugees/.

/18/ Lihat juga berita Donna Rachel Edmunds, “Muslim Countries Refuse to Take a Single Syrian Refugee, Cite Risk of Exposure to Terrorism”, Breitbart, 5 September 2015, pada http://www.breitbart.com/london/2015/09/05/gulf-states-refuse-to-take-a-single-syrian-refugee-say-doing-so-exposes-them-to-risk-of-terrorism/.

/19/ Ioanes Rakhmat, “Denial: Apa Penyebabnya?”, The Freethinker Blog, 31 Juli 2012, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2012/07/denial-apa-penyebabnya.html.

/20/ Lihat berita “Jerman Sebut Saudi sebagai Bapak Radikalisme”, Arrahmah News, 9 Desember 2015, pada http://arrahmahnews.com/2015/12/09/jerman-sebut-saudi-sebagai-bapak-radikalisme/.

/21/ Lihat reportase wawancara oleh Madina, “Ahmad Najib Burhani: Peran Kerajaan Saudi dalam Kekerasan Keagamaan Bersifat Tak Langsung”, Madina Online, 22 Juli 2015, pada http://www.madinaonline.id/sosok/wawancara/ahmad-najib-burhani-peran-kerajaan-saudi-dalam-kekerasan-keagamaan-bersifat-tak-langsung/#2.

/22/ Lihat reportase wawancara oleh Madina, “Ulil Abshar-Abdalla: Dana Asing untuk Perjuangan HAM Dihambat, tapi Dana Asing Wahabi Dibiarkan”, Madina Online, 24 Januari 2016, pada http://www.madinaonline.id/sosok/ulil-abshar-abdalla-dana-asing-untuk-perjuangan-ham-dihambat-tapi-dana-asing-wahabi-dibiarkan/.

/23/ Lihat wawancara dengan Ulil Abshar-Abdalla oleh Arbi Sumandoyo, Ada Sekolah Islam di Jakarta Mengajarkan Ideologi Terorisme, Merdeka.com, 22 Januari 2016, pada http://www.merdeka.com/khas/ada-sekolah-islam-di-jakarta-mengajarkan-ideologi-terorisme-wawancara-ulil-abshar-2.html.

/24/ Syaiful Mustaqim, Nurson Wahid: Wahabi Gentayangan di Dunia Maya dan Pendidikan, Suara Nahdlatul Ulama, 28 Januari 2016, pada http://nu.or.id/post/read/65331/nusron-wahid-wahabi-gentayangan-di-dunia-maya-dan-pendidikan.

/25/ Ed Payne, “Islamic nations form coalition to fight teror, call Muslim extrimism ‘disease’”, CNN, 15 December 2015, pada http://edition.cnn.com/2015/12/14/middleeast/islamic-coalition-isis-saudi-arabia/index.html.

/26/ Lida Puspaningtyas, “Tolak Aliansi Militer Islam, Indonesia Hanya Mau Gabung di bawah PBB”, News Republika, 15 Desember 2015, pada http://www.republika.co.id/berita/internasional/timur-tengah/15/12/15/nzeamk377-tolak-aliansi-militer-islam-indonesia-hanya-mau-gabung-di-bawah-pbb.

/27/ Dana Kennedy, “Canada’s Growing Jihadi Cancer”, The Daily Beast, 14 December 2015, pada http://www.thedailybeast.com/articles/2015/12/14/canada-s-growing-jihadist-cancer.html.

/28/ Lihat berita Egidius Patnistik, Swedia Akan Usir 80.000 Pencari Suaka, Kompas.com Internasional, 28 Januari 2016, pada http://internasional.kompas.com/read/2016/01/28/10301181/Swedia.Akan.Usir.80.000.Pencari.Suaka.

/29/ Lihat berita ISIS Gunakan Senjata Kimia Hadapi Tentara Kurdi,Tempo.co. Dunia, 16 Maret 2015, pada http://dunia.tempo.co/read/news/2015/03/16/115650182/isis-gunakan-senjata-kimia-hadapi-tentara-kurdi.

/30/ Lihat analisis Joseph Allchin, “Challenges lie ahead after Aung San Suu Kyi’s victory in Burma”, New Statesman, 14 November 2015, pada http://www.newstatesman.com/culture/2015/11/challenges-lie-ahead-after-aung-san-suu-kyis-victory-burma.

/31/ Lihat tulisan saya tentang Muslim Rohingya dan apa isi pikiran Aung San Suu Kyi tentang kelompok-kelompok minoritas di Myanmar: Ioanes Rakhmat, “Isu Puluhan Ribu Muslim Rohingya di Burma Sedang Dibantai: Di mana Posisi Saya?”, The Freethinker Blog, 22 Juli 2012, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.co.id/2012/07/isu-puluhan-ribu-muslim-rohingya-di.html.

/32/ Lihat reportase “100 WNI pulang dari Suriah”, Duta.co, 25 November 2015, pada http://duta.co/?p=9233.