Tuesday, June 23, 2015

Hewan-hewan non-manusia juga punya kesadaran!

Amboooiiii, damai sekali sang kanak-kanak simpanse ini bobo di pangkuan dan pelukan mamanya. Sang kanak-kanak ini percaya mamanya sayang padanya dan selalu menjaganya. Sadarkah keduanya bahwa mereka saling mencintai, saling memerlukan, saling terikat, dan bahwa keduanya menyatu, tidak bisa dipisahkan? Bahwa sekalipun seutas tali pusat sudah diputus, sang anak dan sang bunda tetap terhubung abadi? Tentu saja mereka sadar. Semua hewan punya kesadaran!  


Anakku sayang.... mama selalu di sisimu!

Kasih sayang dan pengayoman yang diberi sang induk simpanse ini kepada anaknya yang ada di pangkuannya dan dalam genggaman kedua belah tangannya tidak berbeda dari kasih sayang dan pengayoman yang diberi induk manusia kepada anak-anak mereka, atau yang diberi seekor induk bonobo kepada anaknya. Dalam suatu studi genetik mutakhir telah ditemukan bahwa 99,6% sekuen genomik bonobo (Pan paniscus) identik dengan sekuen genomik simpanse (Pan troglodytes); dan 98,7% sekuen genomik bonobo identik dengan sekuen genomik manusia (Homo sapiens)./1/ Simpanse, bonobo, dan manusia, adalah saudara-saudara sepupu. 

Sekuen genomik Gorilla 98% identik dengan sekuen genomik manusia. Martin Krzywinski dan Portia Sloan Rollings di koran online Scientific American edisi 19 Agustus 2014 memberikan grafik dan ilustrasi pembandingan sekuen-sekuen genomik genus gorilla, spesies simpanse (genus Pan), spesies bonobo (genus Pan), dan spesies Homo denisovan (genus Homo), dalam kaitannya dengan spesies Homo sapiens (genus Homo), berikut ini./2/

Gorilla
Secara keseluruhan, sekuen genomik Homo sapiens berbeda lebih banyak dari sekuen genomik gorilla ketimbang dari sekuen-sekuen genomik simpanse dan bonobo. Data ini menunjukkan fakta bahwa manusia telah menempuh jalur trajektori evolusi dalam suatu kurun yang lebih panjang, yang terpisah dari jalur trajektori evolusi gorilla. Tetapi kira-kira 15% genom manusia kelihatan lebih menyerupai genom gorilla ketimbang genom simpanse atau genom bonobo.   

Simpanse
Para peneliti telah terbiasa memandang simpanse (yang hidup dalam masyarakat-masyarakat mereka yang ditata secara patriarkhal) sebagai saudara terdekat yang masih hidup dari manusia; dan dengan demikian simpanse menjadi model terbaik dalam merekonstruksi kehidupan moyang-moyang manusia purba. Tetapi hasil-hasil sekuensing genomik mutakhir membuat pandangan tradisional ini dipertanyakan. 

Bonobo
Hasil sekuensing genom bonobo (yang hidup dalam masyarakat-masyarakat mereka yang terpusat pada bonobo betinamasyarakat matriarkhal) menunjukkan bahwa primata ini sama dekat dengan kita, seperti halnya simpanse. Kendatipun demikian, manusia juga memiliki sejumlah perbedaan yang sangat jelas dibandingkan keduanya. Temuan-temuan ini mendorong para ilmuwan untuk meninjau kembali perihal sudah berapa lama di zaman purba moyang-moyang manusia telah hidup sebelum Homo sapiens muncul.

Denisovan
Ini adalah suatu spesies dari genus Homo yang membangun kehidupan sebagai manusia-manusia purba yang sangat erat terhubung dengan spesies Homo neandertal. Sekuen genomik denisovan jauh lebih sedikit berbeda dari sekuen genomik manusia dibandingkan sekuen-sekuen genomik kera-kera besar Afrika (simpanse dan bonobo). Homo denisovan memiliki moyang yang sama dengan moyang Homo sapiens, yang hidup jauh lebih belakangan, kira-kira 400.000 tahun yang lalu.

Dua induk bonobo dengan anak masing-masing. Cinta itu tidak mengenal batas!

Berdasarkan analisis-analisis atas mtDNA kuno, kita kini tahu bahwa spesies homo dengan anatomi tubuh modern (yang diberi nama Latin Homo sapiens sapiens) muncul di Afrika Selatan sekitar 300.000 tahun lalu./3/ Temuan mutakhir mtDNA hominin di Spanyol bahkan menempatkan kurun asal-usul moyang manusia lebih jauh lagi, yakni 400.000 tahun lalu./4/ Sekitar 45.000 hingga 60.000 tahun lalu barulah Homo sapiens dengan cepat bergerak, menyebar, keluar dari Afrika, lalu masuk ke segala penjuru benua-benua Eurasia, dan akhirnya memenuhi seluruh dunia./5/ Tetapi menurut kajian-kajian mutakhir, moyang manusia sudah bermigrasi keluar Afrika jauh lebih awal lagi, 130.000 tahun lalu, lewat rute utara, yakni lewat Mesir dan Sinai, lalu masuk ke segala penjuru Eurasia./6/

Berikut ini hasil kajian mutakhir yang menarik yang belum lama ini dilakukan di Universitas Kyoto, Jepang, yang menunjukkan primata simpanse dan bonobo memiliki organ otak yang mampu menyimpan memori jangka panjang. Para pengkajinya Fumihiro Kano dan Satoshi Hirata./7/

Enam simpanse dan dua bonobo menonton dua film pendek yang nyaris sepenuhnya sama, dengan selisih waktu 1 hari. Dalam tayangan film yang pertama, ditampilkan seorang yang diberi pakaian dan didandani persis seperti simpanse (sebut namanya SIM) dan seorang lagi berpakaian biasa (sebut namanya MAN). Ketika film pertama ditayangkan, delapan primata itu sangat terpikat sehingga sebagian dari mereka sampai lupa meminum jus buah yang sudah disediakan untuk mereka.

Dalam film pertama itu, SIM keluar dari salah satu pintu kerangkeng, lalu SIM (yang ada di luar) dan MAN (yang ada di dalam) saling menunjuk-nunjuk dengan kedua tangan masing-masing. Kemudian, SIM masuk ke dalam dan dengan agresif memukuli MAN yang diam saja dan tertunduk. Kemudan MAN mengeluarkan tangannya lewat sebuah lubang untuk mengambil palu pemukul plastik (PAL) yang terletak di sebelah kiri. Sesudah PAL digenggamnya, MAN balas memukuli SIM dengan palu itu berkali-kali. SIM hanya bisa menggerak-gerakkan kedua tangannya ke atas, meronta-ronta, lalu lari keluar. 

Sehari kemudian, film kedua yang nyaris seluruhnya sama diputar di hadapan delapan primata yang sama. Ternyata, dari semua adegan dalam film pertama yang sudah diputar sehari sebelumnya, mereka bisa mengantisipasi adegan-adegan apa yang akan terjadi dalam film kedua. Lewat alat pendeteksi jejak gerak mata, diketahui bahwa mereka memusatkan perhatian mereka pada pintu yang dari dalamnya akan keluar SIM yang kemudian akan memukuli MAN. Ketika MAN akan mengambil alat pemukul yang ada di luar, mereka fokus pada PAL yang tempatnya sudah diubah, ada di sebelah kanan.

Kesimpulan: Hewan-hewan primata itu memiliki organ otak yang mampu menyimpan memori jangka panjang online sehingga mereka mampu mengantisipasi adegan-adegan apa yang akan terjadi dalam film kedua, berdasarkan film pertama yang mereka telah lihat sehari sebelumnya.

Menarik, bukan? Mereka memang sepupu kita, dan bersama mereka kita memiliki moyang-moyang yang sama dalam pohon evolusi yang sangat rimbun dan memiliki sangat banyak cabang dan ranting. Mereka bisa mengingat film juga ya. Luar biasa. Mari, kita ajak mereka ke bioskop XXI. Lebih menarik lagi, kalau anda juga ikut menyaksikan dua film pendek yang telah memukau para primata itu. Ini link ke Youtube-nya https://youtu.be/IztjAbmFu20.


Oh ya, saksikan juga tayangan video singkat ini, bagaimana gorilla Koko berkomunikasi dengan cerdas lewat bahasa tanda dengan manusia. Menakjubkan di https://youtu.be/SNuZ4OE6vCk

Lalu, bagaimana dengan hewan-hewan lain? Apakah mereka juga punya kesadaran?


The Cambridge Declaration on Consciousness”

Di bulan Juli 2012 sejumlah pakar neurosains dan pakar bidang-bidang kajian mamalia laut, burung-burung, dan cephalopoda (misalnya oktopus dll) telah mengadakan sebuah konferensi yang diberi nama The Francis Crick Memorial Gathering, yang mengambil tema “Consciousness in Human and Nonhuman Animals” (Kesadaran dalam Hewan-hewan Manusia dan Non-manusia). Konferensi ini diselenggarakan di Churchill College, University of Cambridge, Inggris.

Kesimpulan konferensi ini, yang diberi judul The Cambridge Declaration on Consciousness, dibacakan oleh Philip Low, David Edelman dan Christof Koch, pada 7 Juli 2012, di akhir konferensi. Penandatanganan kesimpulan konferensi oleh para peserta dilakukan di Balfour Room, Hotel du Vin, Cambridge, Inggris, dengan dihadiri fisikawan akbar Stephen Hawking./8/ Kesimpulan yang dibacakan cukup panjang. Tetapi bagian terpentingnya ini:
“Tidak adanya neo-korteks tidak tampak menafikan suatu organisme untuk mengalami kondisi-kondisi afektif. Bukti-bukti yang berkonvergensi menunjukkan bahwa hewan-hewan non-manusia memiliki substrat-substrat (lapisan-lapisan saraf) neuroanatomis, neurokimiawi, dan neurofisiologis, yang membuat mereka juga punya kesadaran (consciousness) dan juga kemampuan untuk memperlihatkan perilaku-perilaku yang berkesadaran-diri. Alhasil, bukti-bukti kuat yang ada menyatakan bahwa manusia bukanlah satu-satunya organisme yang memiliki substrat-substrat neurologis yang memunculkan kesadaran. Hewan-hewan non-manusia, termasuk semua mamalia dan burung-burung, dan banyak organisme lain, juga oktopus dan ikan-ikan, juga punya substrat-substrat neurologis ini.”/9/

Aku sedang happy loh!

Beberapa tahun sebelumnya, persisnya di tahun 2009, Negara-negara Anggota Uni Eropa (UE) telah mengesahkan Treaty of Lisbon (TL) yang diberlakukan mulai 1 Desember 2009. Dalam pasal 13 TL termuat sebuah pernyataan yang terkait dengan kesejahteraan hewan-hewan. Demikian:
“Dalam merumuskan dan mengimplementasikan agrikultur UE, perikanan, transportasi, riset dan pengembangan teknologi dan kebijakan-kebijakan angkasa luar, UE dan Negara-negara Anggotanya akan, berhubung hewan-hewan adalah organisme sentien, mempertimbangkan sepenuh-penuhnya persyaratan-persyaratan untuk kesejahteraan hewan-hewan, sementara juga menghargai ketentuan-ketentuan hukum administratif dan legislatif dan adat-istiadat Negara-negara Anggota yang terkait khususnya dengan ritus-ritus keagamaan, tradisi-tradisi budaya dan peninggalan-peninggalan regional.”/10/
Untuk kajian-kajian ilmiah yang mengeksplorasi kehidupan emosional hewan-hewan, antara lain sukacita hewan-hewan, duka cita mereka, empati mereka, kejengkelan dan kemarahan mereka, anda harus perhatikan dengan serius buku Marc Bekoff yang terbit tahun 2007 yang berjudul The Emotional Lives of Animals. Bab 2 buku ini menguraikan ethologi kognitif sebagai sebuah disiplin keilmuwan yang mengkaji pikiran dan hati pada hewan-hewan. Bab 3 mengeksplorasi bagaimana binatang-binatang merasa dan apa yang mereka rasakan.


Aku sedang BT nih! Temenin dong!

Dalam pengantar buku ini yang ditulis Jane Goodall, dinyatakan antara lain bahwa
The Emotional Lives of Animals makin memperkuat suara yang terus berulang dari orang-orang yang sedang berupaya untuk mengubah perilaku manusia terhadap hewan-hewan non-manusia yang bersama kita hidup di planet Bumi. Dengan menggabung metodologi ilmiah yang cermat dengan intuisi dan akal sehat, buku ini menjadi sebuah sarana yang hebat bagi mereka yang sedang berjuang dan bergumul untuk memperbaiki kehidupan hewan-hewan di dalam banyak lingkungan kehidupan yang, sangat sering, nyaris tidak terdapat pemahaman yang benar tentang hewan-hewan. Aku hanya berharap buku ini akan meyakinkan banyak orang untuk mempertimbangkan kembali cara-cara mereka dalam memperlakukan hewan-hewan di masa depan./11/
Dalam pendahuluan buku ini, penulisnya Marc Bekoff menegaskan bahwa
“adalah suatu biologi yang buruk jika orang berpendapat bahwa hewan-hewan tidak memiliki emosi. Riset ilmiah, biologi evolusioner dan ethologi kognitif, dan neurosains sosial, mendukung pandangan bahwa banyak dan beranekaragam hewan memiliki kehidupan emosional yang kaya dan dalam. Emosi telah berevolusi sementara beranekaragam spesies beradaptasi, dan emosi pada hewan-hewan berfungsi sebagai suatu perekat sosial yang mempersatukan hewan-hewan satu sama lain. Emosi mereka mengkatalisasi dan mengatur banyak dan beranekaragam perjumpaan sosial di antara teman-teman, kekasih-kekasih, dan pesaing-pesaing. Emosi mereka juga memungkinkan mereka sendiri untuk melindungi diri mereka sendiri, sementara secara adapatif dan luwes mereka memakai berbagai pola kelakuan mereka dalam berbagai jalan dan cara.”/12/
Selanjutnya, Bekoff menyatakan bahwa
“bagaimanapun juga tidaklah diragukan bahwa, ketika menyangkut apa yang dapat dan yang tidak dapat kita lakukan kepada binatang-binatang lain, emosi merekalah yang harus mengarahkan diskusi-diskusi dan tindakan-tindakan kita demi mereka. Kita selalu akan dapat melakukan lebih dan lebih lagi kepada mereka. Ini adalah sebuah buku yang berwawasan ke depan, yang menekankan bahwa kita harus imajinatif dalam berinteraksi dengan hewan-hewan lain. Emosi adalah pemberian moyang-moyang kita. Kita, manusia, memiliki emosi, begitu juga halnya dengan hewan-hewan lain. Kita harus tidak boleh lupa tentang ini!” /13/
Oh ya, ada info mutakhir menarik lainnya, kali ini tentang hubungan babi dengan manusia. Saya beberkan berikut ini. 


Babi biasa dan babi mungil  

Ada agama-agama yang memandang babi sebagai hewan haram yang harus dijauhi, bahkan juga kerap dibenci. Kata “babi” sudah menjadi sebuah kata pejoratif di kalangan umat beragama tertentu. Mungkin anda pernah dicaci orang dengan kata-kata Babi loeee! Tetapi, tentang babi, para saintis malah menemukan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Dibandingkan tikus atau binatang pengerat lainnya, ternyata babi adalah hewan yang paling dekat dengan fisiologi manusia, dan genetika babi juga lumayan dekat dengan genetika manusia (walaupun bukan yang terdekat!).

Telah ditemukan bahwa elemen-elemen genetik yang dinamakan SINEs (Short Interspersed Elements) pada babi (yang dinamakan PRE-1, Porcine Repeat Element-1) berasal dari sitoplasma kecil yang dinamakan 7SL RNA yang juga menjadi sumber SINEs pada manusia (sumber genetik SINEs pada manusia ini dinamakan Alu Transposable Element atau ATE). Jadi, ada suatu bukti yang mendukung ide bahwa dalam evolusi babi dan primata terdapat unsur-unsur paralel yang dimiliki kedua spesies ini, yang sebelumnya tersembunyi ketika analisis-analisis genetik masih menggunakan metode yang konvensional./14/ 

Alhasil, babi potensial lebih bermanfaat sebagai sebuah model organisme dalam usaha-usaha menyembuhkan manusia dari banyak penyakit. Termasuk penyembuhan lewat transplantasi organ babi (paru-paru, ginjal, hati, jantung, kornea mata, dll.) ke dalam tubuh manusia. Transplantasi organ hewan lain (dalam hal ini, babi) ke dalam tubuh manusia dinamakan xenotransplantasi. Tetapi masih ada sebuah masalah.

Pada 62 situs dalam genom sel-sel babi terdapat sekuen-sekuen DNA yang merupakan sisa-sisa virus yang masih dapat menimbulkan partikel-partikel virus yang menginfeksi ke dalam sel-sel tubuh manusia, dan ini akan mengakibatkan sistem-sistem kekebalan tubuh manusia diperlemah. Sisa-sisa virus dalam sel-sel babi ini dinamakan “Porcine Endogenous Retrovirus” atau PERV, yang keseluruhannya memiliki sebuah gen umum. Gen umum yang bekerja sebagai virus ini dinamakan galactose-alpha 1,3 atau galactotransferase gene (GTG), yang jika dimasukkan ke dalam tubuh manusia akan bekerja sebagai antigen yang akan ditolak sistem kekebalan tubuh manusia (dan juga tubuh kera-kera besar).

Jika virus PERV atau GTG dalam organ ginjal babi ini dapat dibuat tidak berdaya dan berhasil dihancurkan, dengan mengedit gen umum ini, organ ginjal babi ini dapat dengan aman ditransplantasi ke dalam tubuh manusia.

Dengan menggunakan teknik pengeditan gen yang dinamakan teknik CRISPR-Cas9, sekuen-sekuen DNA yang berbahaya yang ada di dalam sel-sel organ ginjal babi pada 62 situs di dalam genom hewan ini dimusnahkan; lalu selanjutnya organ ginjal babi ini dapat dengan aman ditransplantasi ke dalam tubuh manusia. CRISPR-Cas9 adalah sebuah metode yang dibangun berdasarkan mekanisme pertahanan diri purba yang dengannya sebuah bakteri membinasakan DNA dalam virus-virus penyerbu./15/

Sebetulnya, yang sudah dilakukan para pakar DNA-editing dalam kaitan dengan transplantasi organ-organ babi ke dalam tubuh manusia adalah usaha dua arah. Seperti dikatakan genetikus Chris Moran dari Universitas Sydney, Pada satu sisi, kita mengubah babi secara genetik dengan membuang GTG. Pada sisi lain, kita juga menambahkan sedikit gen manusia ke dalam babi untuk membuat jaringan organ babi pun dapat lebih mudah diterima sistem kekebalan tubuh manusia.”/16/

Saya tidak tahu bagaimana orang yang mengharamkan hewan babi bisa menerima manfaat xenotransplantasi dari organ babi ke dalam tubuh manusia. Agama mereka menilai babi dengan huruf E (artinya: gagal), sains malah memberi nilai A plus pada hewan ini (artinya: dengan pujian). Sangat mungkin, orang yang karena alasan keagamaan yang habis-habisan dipertahankannya, akan memilih mati muda karena gagal ginjal, ketimbang bisa tambah usia ke depan hingga 20 tahun lewat tranplantasi organ ginjal babi untuk menggantikan ginjal asli insani yang sudah rusak dalam tubuhnya. Ini soal pilihan pribadi. Tapi yang sudah jelas dalam kasus ini adalah: kelenturan dan fleksibilitas dalam hubungan seseorang dengan sebuah keyakinan akan bisa memperpanjang umurnya.

Berkaitan dengan eksperimen obat-obatan untuk manusia dengan menggunakan babi biasa yang bertubuh besar, ada masalah. Karena ukuran normal tubuh babi dewasa besar, ada masalah ekonomi yang muncul jika babi bertubuh besar dijadikan model hewan dalam rangka menguji coba obat-obatan yang selanjutnya akan diberikan kepada manusia. Biayanya jadi lebih tinggi ketika obat-obatan yang berdosis besar digunakan pada babi dewasa untuk mengujicoba obat-obatan.

Selama ini babi dewasa jenis Bama yang beratnya sekitar 35-50 kg digunakan dalam eksperimen-eksperimen laboratorium. Perlu diketahui, babi dewasa yang diternak beratnya melebihi 100 kg per ekor, sehingga tidak ideal untuk digunakan. Para saintis menginginkan babi yang bobot per ekornya jauh lebih ringan ketimbang babi Bama.

 Micropigs merah muda dan tutul-tutul hitam. Warna bisa anda pesan!

Institut Genomik Beijing (IGB) baru-baru ini telah meng-klon babi-babi tetapi tidak dengan cara yang tradisional. Klon babi-babi ini diambil dari sel-sel janin seekor babi Bama. Tetapi sebelum para saintis IGB memulai proses kloning ini, mereka menggunakan enzim yang dikenal dengan nama TALENs (“Transcription Activator-Like Effector Nucleases”) untuk me-nonaktifkan salah satu dari dua copy gen reseptor hormon pertumbuhan (“Growth Hormone Receptor Gene”, atau gen GHR) di dalam sel-sel janin. Tanpa gen GHR ini, sel-sel tidak menerima sinyal-sinyal “pertumbuhan” selama kurun perkembangan janin-janin; dan ini menghasilkan babi-babi yang bantut, tidak bisa besar. Artinya, klon dihasilkan dengan melewati teknik mengedit gen, atau teknik “gene-editing”./17/

Selanjutnya para saintis di IGB menciptakan babi-babi mungil (“micropigs”) dengan mengawinkan klon-klon babi mungil jantan dengan babi-babi Bama betina yang normal. Dari pengembangbiakan ini, hanya separuh yang berhasil dikandung dan dilahirkan normal sebagai babi-babi mungil. Meskipun demikian, teknik baru ini jauh lebih efisien ketimbang mengulangi sepenuhnya prosedur kloning yang biasa. Selain itu, masalah-masalah kesehatan yang mungkin muncul terkait dengan kloning, dapat dihindari. Di antara generasi keduapuluh babi-babi yang mengalami pengeditan gen (“gene-editing”), IGB tidak menemukan adanya efek-efek kesehatan yang merugikan babi-babi mungil yang sudah dihasilkan.

Para saintis di IGB menemukan bahwa babi-babi mungil ternyata telah terbukti bermanfaat dalam kajian-kajian tentang sel-sel stem dan mikrobiota yang hidup dalam usus, berhubung ukuran tubuh mereka yang lebih kecil membuat lebih mudah untuk mengganti bakteri-bakteri dalam usus-usus mereka. Sudah dipastikan juga bahwa babi-babi yang sudah dihasilkan dari teknik mengedit gen ini tetap bertubuh kecil bahkan hingga dewasa, tidak tumbuh menjadi besar.

Pada 23 September 2015, para pakar biotech berkumpul di Shenzhen, China, dalam suatu acara konferensi internasional. Pada kesempatan itu, IGB mengungkapkan bahwa mereka akan menjual babi-babi mungil hasil teknik pengeditan gen sebagai hewan-hewan peliharaan dalam rumah. Ketika sudah dewasa, babi-babi mungil ini akan memiliki berat tubuh maksimal 10-15 kg. Selama acara konferensi, babi-babi mungil ini menarik perhatian banyak orang.

Jika anda tertarik untuk memiliki seekor mikropig sebagai pet dalam rumah anda, bersama pet lain, siapkanlah uang untuk membeli, per ekor dipatok 1.600 USD oleh IGB. Yang anda perlu ingat adalah bahwa babi-babi mungil ini tetap memerlukan tempat-tempat untuk mereka gali-gali atau untuk menyungkur, layaknya babi biasa. Jika kebutuhan naluriah mereka ini tidak anda penuhi, bisa jadi mereka akan merusak barang-barang lain dalam rumah anda. Tapi jangan takut, tubuh mereka hanya sebesar sebuah boneka yang dipunyai anak-anak. Anda tinggal menggendongnya dan mengelus-elusnya dengan kasih sayang. Lagipula, bukan suatu soal yang sulit bagi para pakar pengeditan DNA untuk menghilangkan sifat-sifat bawaan babi-bagi mungil yang cukup merusak ini.

Jika anda berpikir akan menjadikan seekor babi mungil sebagai seekor babi panggang guling, anda terlalu boros dengan uang 1.600 USD per ekor. Anda bodoh. Lagipula, babi mungil diciptakan untuk menjadi babi peliharaan dalam rumah, bukan untuk memuaskan rasa lapar anda.

Selain itu, kalau sekarang ada orang lain mencerca anda dengan mengatakan “Babi looee!”, anda perlu tenang saja, sebab babi mungil memang lucu, ngegemesin, mempesona dan mengesankan. Kata “babi” di Indonesia akan berubah arti, tidak lagi pejoratif, tetapi sebuah pujian. Benar gak?! 


Bagaimana dengan anjing? 

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa anjing adalah hewan yang bisa sangat setia pada pemelihara hewan ini, khususnya jika sudah terbangun hubungan batin antara seekor anjing dan si pemeliharanya yang telaten dan penuh kasih sayang. Tetapi ternyata anjing juga punya kelebihan lain terkait dengan sistem kekebalan tubuh manusia. 

Air liur anjing ternyata mengandung banyak bakteri probiotik yang menyehatkan tubuh anda!

Suatu tim pakar dari beberapa universitas di Amerika Serikat, antara lain Universitas Arizona dan Universitas Colorado, telah menemukan bukti-bukti bahwa saliva atau air liur seekor anjing menambah jumlah mikrobiota probiotik dalam tubuh pemeliharanya. Hal ini bisa terjadi karena saliva anjing menyimpan banyak kandungan bakteri probiotik yang tersalur ke tubuh manusia ketika seekor anjing menjilat mulut pemeliharanya. Jilatan anjing pada mulut anda sama efeknya dengan anda meminum satu cangkir yoghurt atau meminum satu tablet suplemen probiotik dengan teratur setiap hari.  

Ditemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam suatu keluarga yang memelihara berapa ekor anjing ternyata memiliki kekebalan tubuh yang lebih tangguh dibandingkan dengan anak-anak yang tidak pernah bergaul dengan anjing dalam rumah. Karena saliva anjing yang masuk ke tubuh mereka, anak-anak menjadi lebih kebal terhadap asma dan alergi. Temuan ini mendorong para ilmuwan untuk juga mendekatkan para lansia dengan anjing-anjing peliharaan untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka dari serangan berbagai penyakit, juga untuk memperkuat otot dan tulang, memperbaiki kualitas tidur, meningkatkan kemampuan untuk bergerak dengan leluasa. Jika ini tercapai, diharapkan para lansia akan hidup dengan lebih berbahagia dan lebih berkualitas./18

Foto ini memperlihatkan para Muslim pendatang tidak berani melewati perbatasan negara Hongaria karena polisi negeri ini menempatkan di situ beberapa ekor induk babi yang sedang meneteki anak-anak mereka. Foto ini membuat saya merenung lama tentang sikap manusia terhadap hewan yang bernama babi. 


Penutup 

Beberapa kata akhir dari saya: Selanjutnya, sayangilah semua hewan! Mereka merasakan, memikirkan dan mengingat semua perlakuan anda kepada mereka, meskipun, umumnya, anda dengan sangat mudah melupakan perlakuan dan sikap kejam anda kepada hewan-hewan lain non-manusia! Dan, terimalah semua hewan apapun dalam alam ini sebagai hewan-hewan yang patut manusia sayangi, pelihara dan lestarikan, sebagai pemberian Ibunda Alam kita bersama.  

Ajaran-ajaran keagamaan dalam agama apapun yang menghambat anda untuk bisa bergaul dan menyayangi hewan-hewan lain non-manusia perlu anda pertimbangkan ulang, khususnya ketika ilmu pengetahuan modern telah menemukan hal-hal yang berbeda dari apa yang diajarkan dalam agama-agama kuno mengenai hewan-hewan, misalnya ular, babi, atau anjing./19

Jakarta, 23 Juni 2015
Update mutakhir 23 Maret 2016 

Salam,
Ioanes rakhmat  


Sumber-sumber

/1/ Kay Prüfer, Kasper Munch, Evan E. Eichler, et al., “The bonobo genome compared with the chimpanzee and human genomes”, Nature 486, 28 June 2012, hlm. 527-531. Terbit online 13 June 2012, pada http://www.nature.com/nature/journal/v486/n7404/full/nature11128.html.

/2/ Lihat reportase Kate Wong, “Tiny Genetic Differences between Humans and Other Primates Pervade the Genome”, Scientific American, 19 August 2014, pada http://www.scientificamerican.com/article/tiny-genetic-differences-between-humans-and-other-primates-pervade-the-genome/

/3/ Lihat L. Vigilant, M. Stoneking, H. Harpending, K. Hawkes, AC. Wilson, “African populations and the evolution of human mitochondrial DNA”, Science Vol. 253 no. 5027 (27 September 1991), hlm. 1503-1507, doi:10.1126/science.1840702. Oleh L. Vigilant dkk, usia moyang umum mtDNA manusia ditempatkan antara 166.000 hingga 249.000 tahun. Lihat juga Max Ingman, Henrik Kaessmann, Svante Paabo, dan Ulf Gyllensten, “Mitochondrial genome variation and the origin of modern humans”, Nature 408 (7 December 2000), hlm. 708-713, doi:10.1038/35047064, pada http://www.nature.com/nature/journal/v408/n6813/full/408708a0.html. Teori bahwa Afrika Selatan adalah tempat asal-usul homo dengan anatomi tubuh modern, kembali dikonfirmasi oleh kajian mutakhir oleh Brenna M. Henn, Marcus W. Feldman et al., “Hunter-gatherer genomic diversity suggests a Southern African origin for modern humans”, Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), Vol. 108, no. 13 (29 March 2011), hlm. 5154-5162, doi:10.1073/pnas.1017511108; tersedia online pada http://www.pnas.org/content/108/13/5154.full.  

/4/ Berlandaskan temuan DNA mitokondrial hominin (moyang Homo sapiens) yang diekstrasi dari sebuah fosil tulang paha yang berumur 400.000 tahun yang ditemukan di Spanyol dalam sebuah goa yang dinamakan Sima de los Huesos (dalam bahasa Spanyol, artinya Lubang Tulang-tulang). Lihat laporan temuan ini oleh Matthias Meyer, Qiaomei Fu, et al., “A Mitochondrial genome sequence of hominin from Sima de los Huesos”, Nature 505 (16 January 2014), hlm. 403-406, doi:10.1038/nature 12788, diterbitkan online 04 Desember 2013, pada http://www.nature.com/nature/journal/vaop/ncurrent/full/nature12788.html. Temuan mutakhir ini menimbulkan misteri-misteri baru mengenai asal-usul manusia. Lihat tinjauan hasil kajian ini oleh Carl Zimmer, “Baffling 400.000-Year-Old Clue to Human Origins”, The New York Times Science, December 4, 2013, di http://www.nytimes.com/2013/12/05/science/at-400000-years-oldest-human-dna-yet-found-raises-new-mysteries.html?_r=0

/5/ Lihat Brenna M. Henn, L.L. Cavalli-Sforza, dan Marcus W. Feldman, “The great human expansion”, Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America (PNAS), Vol. 109, no. 44 (30 October 2012), hlm. 17758-17764, doi:10.1073/pnas.1212380109, pada http://www.pnas.org/content/109/44/17758.full

/6/ Lihat Charles Q. Choi, “Humans Trekked Out of Africa Via Egypt, Study Suggests”, Live Science, 28 May 2015, pada http://www.livescience.com/51005-humans-migrated-out-of-egypt.html. Lihat kajian ilmiahnya, Luca Pagani, Stephan Schiffels, Chris Tyler-Smith, et al., “Tracing the Route of Modern Humans out of Africa by Using 225 Human Genome Sequences from Ethiopians and Egyptians”, American Journal of Human Genetics, Vol. 96, Issue 6, 4 June 2015, pp. 986-991, pada http://www.cell.com/ajhg/abstract/S0002-9297%2815%2900156-1; Doi: http://dx.doi.org/10.1016/j.ajhg.2015.04.019.

/7/ Fumihiro Kano dan Satoshi Hirata, “Great Apes Make Anticipatory Looks Based on Long-Term Memory of Single Events”, Current Biology, terbit online 17 September 2015, pada http://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822%2815%2900946-X. Lihat reportase populernya oleh Helena Morton, “Chimpanzees get excited by TV shows featuring humans dressed up as apes, The Telegraph, 21 September 2015, pada http://www.telegraph.co.uk/news/earth/wildlife/11879346/Chimpanzees-get-excited-by-TV-shows-featuring-humans-dressed-up-as-apes.html.

/8/ Untuk risalah konferensi, lihat Michael Mountain, “Scientists Declare: Nonhuman Animals Are Conscious”, Earth in Transition, 30 July 2012, pada http://www.earthintransition.org/2012/07/scientists-declare-nonhuman-animals-are-conscious/.

/9/ Naskah lengkap Pdf “Deklarasi Cambridge tentang Kesadaran” tersedia online di sini http://fcmconference.org/img/CambridgeDeclarationOnConsciousness.pdf.

/10/ Tentang Treaty of Lisbon, lihat “The EU and Animal Welfare: Policy Objectives”, European Union, pada http://ec.europa.eu/food/animal/welfare/policy/index_en.htm.

/11/ Marc Bekoff, The Emotional Lives of Animals: A Leading Scientist Explores Animal Joy, Sorrow and Empathy―And Why They Matter (Novato, California: New World Library, 2007), hlm. xv.


/12/ Marc Bekoff, The Emotional Lives of Animals, hlm. xviii.

/13/ Marc Bekoff, The Emotional Lives of Animals, hlm. xxi. 

/14/ Lihat antara lain Bryan Nelson, Pigs and Humans Share More Genetic Similarities than Previously Believed", Mother Nature Network, 28 September 2015, pada http://www.mnn.com/earth-matters/animals/stories/pigs-and-humans-more-closely-related-thought-according-genetic-analysis. Lihat juga makalah ilmiah kajian ini yang ditulis John Hewitt, The Hidden Evolutionary Relationship Between Pigs and Primates Revealed by Genome-Wide Study of Transposable Elements, Phys.Org., 23 September 2015, pada http://phys.org/news/2015-09-hidden-evolutionary-relationship-pigs-primates.html. 

/15/ Kelly Servick, “Gene-editing method revives hopes for transplanting pig organs into people”, Science, 11 October 2015, pada http://news.sciencemag.org/biology/2015/10/gene-editing-method-revives-hopes-transplanting-pig-organs-people.

/16/ Lihat wawancara Chris Moran oleh Genelle Weule, Do Pigs Share 98 Per Cent of Human Genes?, ABC Science, 03 May 2010, pada http://www.abc.net.au/science/articles/2010/05/03/2887206.htm. 

/17/ David Cyranoski, “Gene-edited ‘micropigs’ to be sold as pets at Chinese institute”, Nature 526, 18 (01 October 2015), pada http://www.nature.com/news/gene-edited-micropigs-to-be-sold-as-pets-at-chinese-institute-1.18448.

/18/ Lihat Heather Tooley, Dog Kisses on the Mouth Healthy? Probiotics for Humans Discovered in Dog Germs, Inquisitr, 23 March 2015, pada http://www.inquisitr.com/1950360/dog-kisses-on-the-mouth-healthy-probiotics-for-humans-discovered-in-dog-germs/. 

/19/ Sebagai sebuah ulasan pelengkap, ada baiknya telaah pakar Muslim Dr. Khaled Abou El Fadl tentang tempat anjing dalam tradisi Islam dibaca. Judulnya Dogs in the Islamic Tradition and Nature, Encyclopedia of Religion and Nature (New York: Continuum International, 2004), terpasang online pada http://www.scholarofthehouse.org/dinistrandna.html.