Monday, January 19, 2015

Patung Siwa Nataraja di halaman gedung CERN


CERN (Prancis: “Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire) adalah organisasi pusat riset nuklir di Eropa, yang didirikan 29 September 1954, dan kini beralamat di Route de Meyrin 385, 1217 Meyrin, Switzerland. Di halaman depan gedung CERN pada 18 Juni 2004 dipasang patung indah dewa Hindu Siwa yang sedang berdansa, atau biasa dikenal dengan nama Siwa Nataraja, artinya Siwa sang Raja Pedansa. Patung ini disumbangkan ke CERN oleh pemerintah India.

Dalam mitologi kuno India, Siwa Nataraja, atau sang dewa Siwa Pedansa, menyimbolkan dansa atau gerak-gerik alam semesta saat terjadi penciptaan dan kebinasaan kembali. Dengan dipasangnya Siwa Nataraja di CERN, patung ini menjadi sebuah representasi simbolik dansa atau tari-tarian partikel-partikel subatomik yang diamati dan dianalisis oleh para fisikawan CERN.

Paralelisme antara dansa Siwa dan dansa partikel-partikel subatomik didiskusikan pertama kali oleh Fritjof Capra dalam sebuah artikel yang berjudul “The Dance of Shiva: The Hindu View of Matter in the Light of Modern Physics, yang terbit di Main Currents in Modern Thought edisi tahun 1972. Dansa Siwa kemudian menjadi sebuah metafora esensial dalam buku Capra yang berjudul The Tao of Physics, yang terbit tahun 1975. Lewat metafora Siwa Pedansa ini, Capra menggabung mitologi kuno India, seni patung keagamaan, dan fisika modern.



Tentu saja siapapun bisa melihat ada usaha mencocok-cocokkan (cocokologi) mitologi kuno India Siwa Pedansa dan fisika partikel modern. Sudah jelas juga, mitologi Siwa Nataraja tidak memberi sumbangan keilmuan baru apapun dalam fisika partikel. Sudah jelas juga bahwa tanpa lahirnya fisika partikel dalam dunia modern, Siwa sang Raja Pedansa tidak akan pernah terpikirkan untuk dipakai sebagai sebuah metafora tari-tarian partikel-partikel. Dengan kata lain, yang terjadi adalah fisika partikel oleh Capra dibawa masuk ke dalam mitologi kuno India, dan bukan mitologi kuno ini yang melahirkan atau meramalkan fisika partikel. Tentang masalah-masalah serius yang muncul dalam cocokologi, saya sudah pernah membeberkannya. Bacalah di sini.

Bagaimanapun juga, patung Siwa Nataraja atau Siwa Raja Pedansa sudah ditafsir sebagai sebuah metafora dansa atau gerak-gerik partikel-partikel subatomik, yang dulu tentu saja belum teramati oleh para pujangga, para pemahat patung, dan ahli keagamaan India kuno. Tentu saja Capra kreatif ketika dia berimajinasi bahwa dansa sang Siwa paralel dengan tari-tarian partikel-partikel dalam dunia mekanika quantum. Kreativitasnya ini minimal telah membuat Siwa Nataraja dikenal para fisikawan dunia, meskipun tentu saja sang patung ini tidak memberi sumbangan ilmiah apapun bagi fisika modern. Selain itu, tentu saja Capra telah menambah satu lagi metafora ke dalam dunia ilmu pengetahuan.

Jangan sepelekan patung-patung, sebab benda-benda mati ini, dan juga semua hasil kesenian lainnya, sanggup menghidupkan imajinasi yang dalam dan luas dalam otak manusia. Mentalitas antipatung tidak membantu otak berkembang, malah membuat mesin otak panas terus. Friedrich Nietzsche berkata, “Tanpa musik, kehidupan menjadi suatu kesalahan, suatu kerjaberat, suatu pembuangan. Pablo Picasso melihat “tujuan seni adalah mencuci bersih debu-debu dari kehidupan jiwa kita sehari-hari. Dus, bayangkanlah, dunia tanpa seni akan menjadi apa? Mungkin akan bisa menjadi sebuah padang gurun luas yang sangat gersang. 

Tetapi saya sangat mengharapkan, seni muncul dari mana-mana, termasuk dari gurun-gurun yang gersang, bahkan dari lubang-lubang kepundan gunung-gunung tinggi berapi. Alam semesta sebetulnya adalah puisi yang dipancarkan lewat big bang, 13,8 milyar tahun lalu, yang dilantunkan lewat butir-butir atom yang bergetar dan menari-nari sebagai dawai-dawai.