Tuesday, December 2, 2014

Bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya?
Bule atau berkulit coklat hitam?

Menurut anda bagaimana rupa wajah Yesus yang sebenarnya? Berkulit putih, berambut panjang pirang dan berombak serta berbiji mata biru, seperti yang mungkin dipajang pada dinding kamar belajar anda? Aah, itu adalah wajah Yesus dari para pelukis Zaman Barok (Renaissance) di Eropa (abad 14 sampai abad 16), yang mula-mula merupakan salah satu dari sekian lukisan wajah Ceasare Borgia, seorang putera berkepribadian buruk dari Paus Aleksander VI (dikenal juga sebagai Rodrigo Borgia) (1431-1503). 

Ceasare Borgia yang wajahnya dijadikan model wajah Yesus Zaman Barok

Wajah Ceasare Borgia ini dilukis oleh Michelangelo Buonarroti dan Leonardo da Vinci atas permintaan ayahnya pada tahun 1492 (menurut sebuah catatan Aleksandre Dumes, Celebrated Crimes, jilid I). Loh, jika memang begitu, lantas wajah Yesus yang sebenarnya bagaimana? Ya, tentu anda penasaran, dan juga saya.  

Tidak sedikit peneliti yang menarik suatu kesimpulan bahwa wajah Yesus model Zaman Barok sebetulnya diambil dari wajah suatu dewa Mesir, yang bernama Serapis, yang dipandang mempunyai fitur-fitur gabungan dewa-dewa Mesir dan dewa-dewa Yunani. Pemodelan wajah Serapis sebagai wajah Yesus Kristus sudah terjadi jauh sebelum Zaman Barok, yakni ketika Kaisar Konstantinus Agung berkuasa (abad ke-4 M) dan menetapkan wajah Dewa Serapis sebagai wajah Yesus sang Kristus. Tentu, dalam hal ini, motif sang Kaisar adalah gabungan motif politik dan motif keagamaan lewat sinkretisme simbol-simbol religiopolitik.

 Wajah Dewa Serapis yang menjadi model wajah Yesus Kristus sejak abad ke-4 M

Sekarang kita masuk ke suatu usaha merekonstruksi wajah Yesus dengan memakai sains dan teknologi modern. Patung 3-Dimensi kepala dan wajah seorang laki-laki di bawah ini tentu tidak anda kenal, bukan? Perhatikanlah: dia berkulit gelap sawo matang dan sedikit hitam, berambut tebal, lurus, pendek, berkeriting kusut dan berwarna hitam, serta kedua biji matanya berwarna coklat. 

Anda perlu tahu, patung ini adalah sebuah patung kepala Yesus dari Nazareth yang dirancangbangun dengan suatu metode ilmiah oleh sebuah tim yang ditugaskan oleh TV BBC London dengan memakai bukti-bukti medis forensik, arkeologis, geografis dan artistik yang diperoleh dari abad pertama Masehi, masa kehidupan Yesus sendiri. Potret patung ini dipublikasi pertama kali secara khusus pada suatu acara tayangan TV BBC selama musim Paskah 2001, tayangan yang diberi judul Son of God. 

Gambar 1: Wajah Yesus menurut tim ilmuwan BBC. Ganteng!

Bentuk dan volume tengkorak patung ini dirancang dengan memakai sebuah model dari sebuah tengkorak laki-laki yang ditemukan di Israel, yang berasal dari abad pertama. Hal ini harus dilakukan sebab, seperti dijelaskan oleh tim BBC itu, “Kepala orang-orang Yahudi pada masa kini berbeda dari kepala mereka pada 2000 tahun lalu; karena itulah tim kami mencari sebuah tengkorak seorang laki-laki Yahudi dari masa kehidupan Yesus.”

Pengonstruksian patung kepala Yesus dari Nazareth ini sendiri ditangani oleh seorang seniman medis forensik Richard Neave dari Universitas Manchester. Salah seorang anggota tim BBC itu, Joe Zias, seorang arkeolog Israel, menyatakan, “Dalam merekonstruksi kepala ini, kami tidak mengklaim bahwa inilah persisnya wajah Yesus; tetapi kami mencoba untuk menyingkirkan semua citra buruk sekian banyak figur Yesus yang bukan-bukan, yang dilukiskan berambut pirang, bermata biru, yang menjadi ciri produk-produk Hollywood.” Jeremy Brown, presenter tayangan Son of God ini, berkomentar, “Yesus bukanlah seorang yang berambut pirang dan bermata biru, seperti yang sangat sering digambarkan dalam kartu-kartu Paskah. Citra yang kami telah bangun jauh lebih realistik.”

Kalau ditelusuri ke belakang, ternyata gambar-gambar wajah Yesus yang bukan gambar-gambar dari Zaman Barok cukup banyak tersedia, yang memperlihatkan Yesus bukan seorang kulit putih, berambut pirang dan bermata biru. Perhatikanlah beberapa gambar dan patung di bawah ini, yang lebih mirip dengan gambar patung Yesus dari Nazareth yang dihasilkan tim BBC di atas.

Gambar 2

Wajah Yesus berkulit gelap kehitaman dengan sepasang mata hitam di atas ini berasal dari sebuah gereja di Roma, dari kurun tahun 530 M. Gambar ini sama sekali tidak mirip dengan gambar wajah Yesus Zaman Barok manapun yang dilukis jauh lebih kemudian.

Gambar 3

Patung seorang perempuan di atas ini terkenal sebagai Black Madonna, Bunda Maria Hitam, yang sedang memangku kanak-kanak Yesus yang tentu saja juga berkulit hitam. Patung ini bukanlah patung-patung yang dibangun di zaman modern untuk mempropagandakan Teologi Hitam sebagaimana dihayati banyak orang Kristen kulit hitam di Afrika maupun di Amerika Utara oleh orang-orang Amerika kulit hitam modern. Patung-patung Madonna Hitam semacam ini, ada yang dibuat dari kayu dan ada juga yang dari batu, jumlahnya sampai lima atau enam ratusan lebih dan dibuat pra-zaman Barok, pada zaman Abad Pertengahan (abad ke-11 sampai abad ke-15), dan sekarang ini tersebar di banyak gereja, kuil, tempat suci dan museum di banyak kota di Eropa Barat, mula-mula dibuat di Italia pada abad ke-13 atau abad ke-14. Mengapa keduanya berkulit hitam? Salah satu penjelasan yang paling masuk akal, sebagaimana dipertahankan banyak peneliti, adalah bahwa Black Madonna menampilkan warna kulit yang sebenarnya dari Bunda Maria dan puteranya, Yesus.

Gambar 4

Perhatikan raut wajah Yesus dari Ethiopia abad ke-17 atau abad ke-18 pada gambar di atas ini. Kulit wajahnya berwarna sawo matang, dengan rambutnya hitam kelam tebal dan sepasang biji matanya berwarna hitam. Wajah Yesus Ethiopia abad ke-17 ini sama sekali tidak mirip dengan wajah bule Yesus Zaman Barok.

Gambar 5

Di atas ini adalah sebuah lukisan wajah Yesus berkulit gelap, berambut hitam tebal kusut dan bermata hitam, dari tahun 1960. Wajahnya hampir serupa dengan wajah Yesus yang dibangun oleh tim BBC di atas. 

Apa kesimpulan yang bisa ditarik? Ya, tidak lain, bahwa wajah Yesus berkulit putih, berambut pirang panjang dan bermata biru, Yesus Zaman Barok, bukanlah wajah asli Yesus dari Nazareth. Dan, tentu saja, orang Kristen yang sudah terbiasa berpaling ke Eropa untuk mencari sumber-sumber kekayaan dogmatis dan spiritual mereka akan sangat tidak menyukai sang Yesus yang berkulit gelap sawo matang, berambut hitam pekat, pendek dan agak kusut, serta berbijimata coklat, seperti yang telah berhasil direkonstruksi oleh tim BBC. 

Bagi orang-orang Kristen ortodoks Eropa, termasuk orang-orang Kristen ortodoks Indonesia, Yesus dari tim BBC ini sungguh tidak membahagiakan, sungguh suatu ajaran yang heterodoks dan karenanya patut ditolak. Yesus heterodoks dari tim BBC ini sangat membuat mereka merasa diserang dan dilukai, persis sama dengan perasaan orang-orang Farisi ketika mereka melihat Yesus dari Nazareth sedang duduk dan makan semeja dengan para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, padahal sang rabi informal ini boleh dikata sama pekerjaannya dengan mereka sebagai guru-guru masyarakat. Tetapi, orang harus tidak boleh lupa, di dalam heterodoksi kebenaran malah sering lebih kentara ada, ketimbang di dalam ortodoksi. 

Pujangga yang juga dikenal sebagai penulis dan filsuf kebangsaan Inggris, G. K. Chesterton (1874-1936), berkata, “Filsuf modern mengatakan kepadaku berulang-ulang bahwa aku berada di tempat yang benar, namun aku tetap merasa sangat tertekan sekalipun diam-diam aku setuju. Tapi ketika sebelumnya aku mendengar bahwa aku berada di tempat yang salah, malah jiwaku bernyanyi gembira bak seekor burung di musim semi.” Jadi, berbahagialah dan bergembiralah mereka yang berani heterodoks dengan terpelajar!

Lalu, apa makna rekonstruksi ilmiah wajah asli Yesus itu bagi saya, dan bagi anda juga? Bagi saya, temuan ini membuat saya berbahagia sebab telah ditunjukkan kepada kita bahwa Yesus dari Nazareth ternyata adalah bagian dari umat manusia yang memiliki kulit berwarna, seperti kulit saya, bukan bagian dari mereka yang berkulit putih. Kenyataan ini bisa meningkatkan penghayatan persekutuan kita masing-masing dengan sang Tuhan gereja ini. Yesus ternyata bukan orang Barat, tapi orang berkulit sawo matang, dengan wajah non-Barat. 

Anda yang menjadi kecewa dengan wajah sebenarnya Yesus (keluh anda, Kok wajah Yesus begitu ya!) mungkin sekali akan menghibur diri; kata anda, Wajah tidak penting. Yang penting adalah ajaran-ajaran Yesus! 

OK, ajaran-ajaran Yesus tentu penting. Tapi bagi saya, mengetahui wajah Yesus dan ajaran-ajaran Yesus, sama-sama menarik dan signifikan. Ini hanya bisa dialami dalam gereja-gereja Kristen, yang sama sekali tidak melarang warga mereka untuk menggambar wajah-wajah Yesus yang beranekaragam, sejalan dengan kemajemukan watak, ciri dan sistem sosiokultural and sosioantropologis yang di dalamnya perenungan-perenungan tentang siapa dan bagaimana sosok Yesus itu dilakukan dengan serius

Wajah Yesus yang sebenarnya kini, lewat rekonstruksi ilmiah, berhasil diketahui, sampai kita nanti mendapatkan sebuah rekonstruksi lain hasil kajian tim-tim yang lain. Mengenal dan menjumpai Yesus, sesungguhnya tidak pernah selesai. Dia tidak bisa dikuasai siapapun.  

Tapi, hemat saya, sejauh yang dipakai adalah ilmu pengetahuan dan metode ilmiah, hasil-hasil rekonstruksi wajah asli Yesus oleh siapapun tidak akan berbeda jauh satu sama lain. Hanya ada satu wajah asli sosok Yesus dari Nazareth, tetapi ada banyak dan beranekaragam perenungan tentang siapa dan bagaimana sosok Yesus sang Kristus, yang dengan dinamis terus dilakukan dari zaman ke zaman, dan dari tempat ke tempat

Hanya ada satu sosok Yesus sejarah, tetapi ada banyak perenungan dan kepercayaan tentang siapa dan bagaimana Yesus itu bagi orang yang hidup di zaman-zaman lain dan di tempat-tempat yang berbeda. Perenungan dan kepercayaan ini kita namakan kristologi atau doktrin atau ajaran atau dogma tentang siapa dan bagaimana Yesus ketika sosok historis ini sudah tidak ada dalam dunia, tetapi tetap disembah dalam gereja-gereja sebagai sang Kristus dan Tuhan. Fakta ini biasa diungkap begini: There is only one historical Jesus, but there are so many Christs of faith!

Kristologi-kristologi tidak akan berakhir dicari dan diartikulasikan, lewat banyak tulisan, banyak syahadat, dan lewat gambar-gambar dan patung-patung yang terus diciptakan! Ingatlah, kristologi bukan sejarah meskipun berfondasi pada sosok faktual Yesus dari Nazareth yang pernah hidup dalam sejarah, di abad pertama Masehi di Tanah Yahudi yang sedang dijajah Imperium Romawi.  

Semua orang Kristen diberi kebebasan untuk merumuskan sendiri kristologi masing-masing. Dalam hal ini, kekristenan sudah dewasa. Supaya kristologi yang dihasilkan sehat dan bertanggungjawab, tidak serampangan dan hanya untuk melayani kepentingan dan ketamakan diri sendiri, tentu ada sejumlah kriteria yang perlu dipenuhi. Tentang kriteria kristologis ini, sudah pernah saya tulis juga. Saya mendaftarkan dua belas poin kriteria yang perlu dijadikan pemandu dalam usaha-usaha merumuskan kristologi-kristologi yang setia pada sosok Yesus dari Nazareth sekaligus relevan dengan zaman dan dunia yang terus berubah. Bacalah di sini. 

by Ioanes Rakhmat
02 Desember 2014