Tuesday, September 30, 2014

Politik balas dendam oligarkhi merah-putih

RUU Pilkada telah disahkan DPR sebagai UU, Jumat, 26 September 2014. Tapi keputusan mengesahkan RUU ini tidak sejalan dengan kehendak rakyat. Artinya: UU ini tidak sah.

Di Senayan, yang bercokol sebetulnya bukan wakil-wakil rakyat, tapi oligarkhi yang antidemokrasi, oligarkhi yang memakai nama koalisi m-p. Mereka tidak akan pernah mau mendengarkan suara rakyat langsung. Yang mereka mau dengarkan dan jalankan hanya isi pikiran dan angan-angan mereka sendiri. Peduli amat dengan suara rakyat. Itu isi hati dan keyakinan mereka, kendatipun mereka sesumbar menyatakan diri para pendukung dan penjaga demokrasi, penjaga dan pendukung ekonomi rakyat, pendukung dan penjaga kedaulatan NKRI. Ketimbang mau menegakkan demokrasi, mereka sudah kelihatan terang benderang, mau mengembalikan NKRI ke sistem pemerintahan represif era Soeharto, bahkan lebih buruk dari itu, mereka ujung-ujungnya khilaf mau menjadikan negara RI sebuah khilafah. 

Thursday, September 25, 2014

Bagaimana mengoperasikan 4x6 dan 6x4?

Bagaimana menghitung 4x6? Mudah dan sudah pasti. Caranya: tambahkan kata "dari" setelah tanda x. Jadi, 4x6=4x "dari" 6. Jadi, 4x6= 6+6+6+6= 24. Tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Selesai. Titik.

Bagaimana dengan 6x4? Sama caranya. Tambahkan kata "dari" setelah tanda x. Jadi, 6x4= 6x "dari" 4. Jadi, 6x4= 4+4+4+4+4+4= 24.

Jadi, walaupun 4x6 itu hasilnya sama dengan 6x4, tapi pengoperasiannya beda, karena keduanya memang beda. Dalam aritmetika, dua perkalian ini komutatif hanya sejauh menyangkut hasil; dan tidak komutatif sejauh menyangkut pengoperasian (atau Bu guru SD bilang "jalannya").

Penambahan kata "dari" setelah tanda x sama sekali tidak subjektif, sebab tanda x menyatakan "kelipatan/lipat dari", atau ringkas ditulis "x dari". No debate!

Supaya tidak abstrak, baiklah saya pakai ilustrasi buah apel dalam keranjang. Saya punya 4 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 6 apel. Nah, berapa jumlah keseluruhan apel yang saya miliki? Beri jawabannya lewat pengoperasian aritmetis. Jawabannya adalah 4x6 apel= 6 apel+6 apel+6 apel+6 apel = 24 apel. Pengoperasian ini tidak komutatif. Anda tidak bisa menulis pengoperasiannya: 4x6 apel= 4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel+4 apel = 24 apel. Walaupun hasilnya sama (24 apel), pengoperasian yang kedua salah, karena pengoperasian ini menyatakan bahwa saya memiliki 6 keranjang dengan masing-masing keranjang berisi 4 apel. Jelas sekali, bukan? 

Wednesday, September 24, 2014

Puisiku: Wahai Petani



Wahai petani
Di Hari Tani Nasional 24 September 2014 saat ini
Dari segala penjuru negeri kau terhimpun bersatu hati
Beribu-ribu kau datangi Istana Negeri ramai-ramai
Untuk sampaikan aspirasimu tolak mati berkali-kali
 


Wahai para tani luhur berbudi
Kaulah yang membuat Bumi hidupi anak-anak negeri
Patut kau dihargai tinggi-tinggi
Bukan diperas dilumat sampai mati berkali-kali


Tega nian yang membuat kau mati berlipat kali
Patut mereka diingatkan dan ditegur berkali-kali
Sampai hati dan mata mereka celik kembali
Eling bahwa kau sesungguhnya pahlawan negeri


Pahlawan negeri, pahlawan negeri, pahlawan negeri
Walau kepadamu tak pernah bintang jasa diberi
Kau pejuang dan pahlawan berteman sunyi sepi sendiri
Padi-padi berbulir yang menguning jadi saksimu abadi


Hidup, hidup, hidup para petani
Di negeri subur gemah ripa loh jinawi
Sekarang ini saat ini detik ini
Hingga di hari-hari abadi lestari nanti



Jakarta, 24 September 2014

Foto: ribuan petani datangi Istana Negara 24 September 2014 untuk berdemo sampaikan aspirasi mereka. Foto ini mendorong saya menulis puisi di atas.

Tuesday, September 23, 2014

Feminisme dan feminis

Feminisme itu sebuah ideologi dan gerakan untuk menempatkan kedudukan perempuan setara dengan kedudukan pria, dan memperlihatkan kaum perempuan mampu hidup mandiri tanpa pria pendamping manapun.

Feminisme dapat dikata menemukan kembali harga diri dan kehormatan diri serta martabat dan harkat perempuan yang dalam sejarah panjang perkembangan peradaban manusia pernah diperlakukan sebagai insan rendahan, kelas dua atau kelas tiga dalam masyarakat patriarkal.

Jadi, feminisme itu sebetulnya gerakan dan paham yang bagus. Sangat demokratis dan humanitarian, karena memperjuangkan manusia perempuan untuk diterima setara dengan manusia lelaki dalam kedudukan dan peran mereka. Sebagaimana dalam setiap ideologi dan gerakan, dalam feminisme juga ditemukan berbagai aliran yang masing-masing menekankan segi-segi khusus gerakan, dan setiap aliran ini membentuk perilaku dan watak yang spesifik dari setiap feminis.

Monday, September 22, 2014

Pohon ini tua dan besar banget!



Ini pohon sangat besar, dinamakan The Tree of Life, Pohon Kehidupan, oleh penduduk setempat di suatu desa di Afrika Selatan. Lingkaran batangnya bergaris tengah bermeter-meter. Sayang, kita tidak bisa melihatnya utuh sampai ke puncaknya. 

Anda tahu berapa usianya? Sudah 2000 tahun. Sekarang masih sehat dan kelihatan tumbuh terus. Mengherankan, bukan? Mustinya masuk ke salah satu keajaiban dunia ya. Tentu masih ada pohon-pohon lain yang mungkin lebih tua, lebih besar dan lebih tinggi./*/ Yang ini saja sudah luar biasa, bukan? (Klik fotonya untuk dapat ukuran lebih besar.)

Sunday, September 21, 2014

Berkayuh ke langit



Aku datang dari langit dan lautan biru
Aku putra langit dan lautan teduh biru
Kubah besar biru lengkung memayungiku
Permadani luas biru terhampar bagiku

Lautan habis harap kuserap
Tak sanggup dia menelan diriku
Aku besar dan tegap
Lautan kecil cukup kupangku

Langit kecil bak payung
Aku besar bak tenda tentara
Aku memayungi sang langit agung
Rebah dia padaku hangat di dada

Saturday, September 20, 2014

Kita semua anak-anak langit!



Pandanglah ke atas, ke langit pagi yang biru menawan. Atau ke langit malam yang hitam, dihiasi bintang-bintang yang terang gemerlap menyapa. Kagumilah. Jangan hanya terpesona, tapi juga pahami pengetahuan yang menakjubkan berikut ini.

Asal-usul kita paling awal adalah langit. Atom-atom tubuh kita berasal dari zat-zat kimia yang disebar bintang-bintang yang meledak (supernovae) ke ruang-ruang hampa di seantero jagat raya tanpa tepi./1/ Unsur-unsur kimia organik pembentuk DNA, atau malah DNA-DNA antariksa sendiri, menyebar di seantero kevakuman jagat raya. Oleh forsa gravitasi planet-planet, kimia organik dan DNA-DNA antariksa lewat bebatuan meteorit menerjang masuk ke planet-planet, salah satunya planet Bumi. Sudah diukur, tubuh kita terdiri atas 53 % air (asal-usul air sendiri adalah angkasa luar) dan 38 % debu-debu bintang (oksigen, carbon, nitrogen, dan calcium). 

Kita adalah putra-putri langit. Hebat, bukan?

Saat kimia organik dari langit mau membentuk DNA, ekologi yang diperlukan pertama-tama adalah laut. Tanpa air tidak akan ada kehidupan, sejauh kita ketahui dari ilmu pengetahuan hingga saat ini. Sangat mungkin, di planet-planet lain di luar tata surya kita dalam berbagai galaksi, syarat-syarat terbentuknya kehidupan tidak sama dengan syarat-syarat yang diperlukan di planet Bumi. Sudah teramati, kimia inorganik (dalam bentuk materi plasma) di angkasa luar mampu membentuk DNA-DNA antariksa./2/

Monday, September 15, 2014

Diam, sunyi dan kosong



Ini kata-kata Lao Tzu, yang diterima menjadi ucapan-ucapan Zen: “Semakin anda berdiam diri, semakin anda mampu mendengar”, dan “Kami membentuk sebuah periuk dari tanah liat, tetapi kekosongan yang ada di dalamnya yang memuat apa yang kami inginkan.”

Diam dan kosong, dua hal yang bermakna dan berguna. Mengapa banyak orang tak suka diam dan tak suka kosong, lebih-lebih kalau berkaitan dengan agama? Bukankah Tuhan itu bagian esensial dari hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah sorga itu bagian mendasar dari dunia-dunia transenden yang melampaui dunia manapun yang sekarang kita kenal? Mengapa kita terbiasa rewel dan suka sesumbar tentang hal-hal besar ini?

Bukankah kesunyian, kebisuan dan kekosongan mendekatkan kita kepada hal-hal yang tak terkatakan? Bukankah jika kita bertemu dengan hal-hal yang tak terkatakan, kita akan mengambil sikap diam, sunyi dan kosong? Dalam diam, bukankah kita bertemu dengan kata yang tenang? Dalam sunyi, bukankah kita berjumpa keramaian yang teduh? Dalam kosong, bukankah kita bersua dengan isi yang senyap?

Dalam kita diam, sunyi, hening dan kosong, kita menemukan kata-kata, keramaian, dan isi, semuanya dari perspektif yang berbeda, perspektif yang baru, yang lebih menyegarkan, menakjubkan, mengherankan, menggugah, dan yang tidak terduga sebelumnya. Dalam diam, sunyi dan kosong, kita mendengar dan bertemu suara-suara sunyi dan sepi yang menggelegar, membahana, yang riak-riaknya bergelombang sampai ke tepi-tepi alam semesta. Dewa-dewi pun menari gembira. Ruang-ruang kosmik yang kosong pun bergetar, menghasilkan energi dahsyat yang terus menjalar abadi, gelombang demi gelombang, mencari rumah-rumah hati yang mau didiami, yang kosong, senyap, dan hening.

Kata Lao Tzu juga, “Kepada pikiran yang diam dan hening, seluruh jagat raya menundukkan diri.” Sufi yang termasyhur, Jalaluddin Rumi, dengan sangat bagus berkata, “Mengapa anda sangat takut terhadap keheningan? Keheningan adalah akar dari segala sesuatu. Jika anda masuk ke dalam pusaran keheningan, seratus suara akan menggelegarkan pesan-pesan yang sudah lama anda rindukan.”

Mari, mari, mari, kita berlatih diam, sunyi, hening, bisu, dan kosong. Mari, mari, mari, kita terjunkan diri ke dalam pusaran-pusarannya yang dahsyat. 

Content requires emptiness.
Voice needs silence.
Crowd requires loneliness.
Speech needs quiet.

Mengambil sikap diam, sunyi dan kosong sangat sulit. Untuk mencapainya, kita perlu berlatih sangat keras dan tekun. Juga, dalam diam, sunyi dan kosong. Kesulitannya jadi berlipat ganda. Sekaligus, rasa takjub dan rasa herannya juga meningkat.

Manusia rata-rata dapat diibaratkan sebagai air terjun yang gemuruh, ruuuuuuuuuuuuhhh, selalu ingin berkata keras sebanyak-banyaknya, menggemuruh, rrrruuuuuhhhhh, memuntahkan jutaan kata setiap hari tanpa bisa direm, jutaan kata yang bisa sembarangan tanpa isi, kosong melompong bak tahu poooooonnnng.

Sebaliknya, hanya segelintir manusia yang bisa menjadi gunung tinggi, tingggiiiiiiiiiiiii, menjulang mencapai awan-awan tempat para dewa, berdiri tegak, diam, bisu dan sunyi abadi, meskipun magma bergolak dan bermusik rock di dalam perutnya. Penuh misteri, tak terkatakan dan tak terucapkan. Kosong nan agung. Agung yang melambung, dalam kesendirian dan kesunyian. Menggetarkan kalbu dan akal. Menggoncangkan Bumi dan langit. Memanggil halilintar dan menjadikannya diam.

Untuk bisa diam, sunyi dan kosong, pandanglah gunung-gunung tinggi dunia ini. Temani Mahameru. Pergilah ke Nepal. Jelajahi dan tundukan Himalaya. Dekap Mount Everest siang dan malam. Cumbui dia. Daki gunung Mauna Kea di Hawaii. Di Venezuela, gunung Pico Bolivar tengah rindu menunggu anda. Mount Rainier di Seattle lama sudah berahi kepada anda. Mount Savage di perbatasan Pakistan dan China menunggu anda jinakkan lewat ciuman dan pelukan anda. Ras Dashen di Ethiopia sudah lama kepanasan, menunggu anda dalam gelora untuk bercumburayu. Minta Everest dan Mahameru dan Bolivar mendaki anda. Peluklah mereka semua. Kuat dan erat. Energetik. Lantunkan madah-madah erotik yang hening. Berdansalah bersama mereka. Berpelukkanlah. Bersetubuhlah. Lahirkan anak-anak besar, generasi masa depan, anak-anak gunung akbar, kawasan para dewata.

Masuk ke dalam diam dan sunyi relatif lebih mudah ketimbang masuk ke dalam tahap kosong. Untuk kosong, sunyi dan diam harus ada lebih dulu. Tanpa sunyi dan diam, kosong tidak ada.

Tahap kosong sangat sulit dicapai, yakni saat kita sudah menemukan diri kita menyatu dengan segala yang ada, tidak ada lagi ego dan individualitas, kita adalah jagat raya sendiri, kita adalah langit, kita adalah dunia, kita adalah orang-orang lain, kita adalah hewan-hewan dan tetumbuhan, kita adalah rerumputan, padi dan gandum, kita adalah belalang, semut, kunang-kunang dan kupu-kupu, kita adalah ruang dan waktu, kita adalah sungai dan lelautan, kita adalah masa kini dan masa depan. Tidak ada lagi aku, Ioanes, Ulil, Selvy, Cindar, Swift Taylor, Rihana, Saidiman, Sahal, Sarasdewi, Ahok, Lince, Suzanna, Nathan, Jeanne, Jessy, Elizabeth, Denny, Elza, Dalai Lama, Nelson Mandela, Teresa, Areta, Owena, Munir, Rendra, Gandhi, Celine Dion, Donald, Diana, Novri, Minion, Casper, dan alien-alien. Yang ada adalah Entitas Universal. Kita menjadi tidak ada, kosong. Kosong.

Ketika tahap kosong ini dicapai, kita menjadi penuh, kita menjadi isi. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Itulah paradoksnya, dan tentu saja paradoks yang menakjubkan, mengherankan, dan membuat kita terperosok ke dalam sunyi, hening dan diam.

Sayang seribu kali sayang, hanya sedikit orang yang telah mencapai tahap kosong ini. Kebanyakan orang berjuang keras, dengan segala cara, untuk menjadi isi yang penuh sepenuh-penuhnya, padahal, celakanya, mereka kosong sekosong-kosongnya.

Saya gembira karena dalam tulisan pendek ini saya berhasil mengungkapkan makna kata “sunyata” dalam Buddhisme dengan gamblang dan menyentuh. “Sunyata” biasanya diterjemahkan sebagai “kosong”, empty. Sunyata sama sekali bukan nihilisme. Hemat saya, kondisi “sunyata” paling jelas diungkap oleh kehidupan kita sendiri: terlepas dari ego individual, lalu menyatu dengan jagat raya, alhasil diri kita lenyap, hilang, empty, kosong. Tetapi karena ego individual kita lenyap dengan menyatu atau terlebur ke dalam jagat raya, ke dalam langit dan dunia, kekosongan kita sekaligus isi sepenuh-penuhnya diri kita. Dus, kosong tapi isi, isi tapi kosong. Ini paradoks, tetapi memang demikianlah seharusnya kita memahami setiap ide dalam Buddhisme, selalu berada dalam bingkai “non-dualis”, advaita. 

Saat kita mencapai kondisi kosong, kita akan menjadi seorang manusia yang penuh kebajikan dan cinta terhadap semua yang ada, organisme dan non-organisme, terhadap Bumi dan dunia yang penuh dipadati bertrilyun-trilyun kunang-kunang, gemerlap.

Saat kita mencapai sunyi, hening dan diam, kita menjadi bagian dari keramaian, hiruk-pikuk dan suara-suara dunia, yang diam-diam berada di antara manusia, meskipun kita datang dari jagat-jagat raya lain, ribuan tahun cahaya jauhnya, dan dari masa-masa yang akan datang, jauh di depan. Kita bak para malaikat, para Boddhisattva, dewa-dewi yang menjadi manusia, diam di antara insan-insan, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Tentu saya mengakui akan bisa ada interpretasi lain dari kata “sunyata” dalam Buddhisme, karena kata ini memang sulit dipahami dan sering salah dipahami. Guru Buddhisme Lewis Richmond telah menjelaskan dengan cukup bagus makna kata “sunyata”, terpasang di http://www.huffingtonpost.com/lewis-richmond/emptiness-most-misunderstood-word-in-buddhism_b_2769189.html.
   
     

Tuesday, September 9, 2014

Sang Musafir



Dalam malam kelam yang terus tenggelam
Dalam kesendirian yang dalam dan kelam
Aku merasa dengan kau aku berdua
Meskipun aku tetap sendiri jua

Engkau dekat tapi juga jauh
Engkau jauh tapi juga dekat
Rindu dan tak rindu bertarung dalam jiwaku luruh
Kapankah aku betul-betul akan rehat?

Sebetulnya aku sudah tak tahan ingin pergi mendekatimu
Tapi engkau yang dekat selalu menjauh ketika kudatangi
Tak pernah terpuaskan rasa rinduku padamu
Akibatnya kumerasa sunyi sendiri dan rindu sendiri

Friday, September 5, 2014

Pertama kali ditemukan: dinosaurus raksasa Dreadnoughtus Schrani




Dreadnoughtus Schrani, bertubuh lebih berat dari jet Boeing 737-900!


Dalam Journal of Scientific Reports 4, no. artikel 6196 doi:10.1038/srep06196, hlm. 1-9, terbit 4 September 2014, dilaporkan telah ditemukan di Argentina fosil dua pertiga bagian tubuh dinosaurus raksasa yang termasuk keluarga Titanosaurus, yang diberi nama Dreadnoughtus Schrani. Nama ini diambil dari nama kapal-kapal perang baja yang sangat besar dan memukau yang dibuat awal abad keduapuluh sebagai bagian dari armada tempur laut Amerika Serikat. Kata ini sendiri berarti “tidak ada yang ditakuti” (dread nought).

Panjang dari ujung kepala sampai ke ujung ekor Dreadnoughtus 26 meter, dengan berat tubuh 60 ton, dan ketinggiannya mencapai ketinggian rumah tiga tingkat. Setelah dianalisis, ukuran panjang dan tinggi dan berat tubuh yang luar biasa ini dipastikan belum mencapai batas maksimal pertumbuhannya ketika dino raksasa ini mati pada usia masih muda. Bebatuan Patagonian yang menyimpan fosil dino ini menunjukkan bahwa dino ini mati karena bencana banjir yang besar. Postur gigantis dino ini tentu saja menakutkan sekaligus menakjubkan ─ karena itulah nama Dreadnoughtus dipilih untuknya oleh Kenneth Lacovara (dari Universitas Drexel, Philadelphia, AS) yang memimpin tim yang mengkaji fosil dino ini yang sudah terkubur selama 77 juta tahun.