Monday, June 9, 2014

Apakah aliens cerdas ada di angkasa luar, dan dari mana manusia berasal?

“Kita harus menyadari bahwa ada dunia-dunia lain di bagian-bagian lain jagat raya, yang dihuni oleh ras-ras manusia yang berbeda dan binatang-binatang yang juga berbeda.(Titus Lukretius, 99-55 SM)

“Kita tidak pernah dikunjungi para alien mungkin karena mereka pernah dulu memantau Bumi lalu berkesimpulan bahwa di planet ini tidak ada tanda-tanda kehidupan organisme cerdas.” (Neil deGrasse Tyson)

Apakah ada alien cerdas di angkasa luar yang sudah memiliki peradaban-peradaban sangat maju? David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein menyatakan bahwa “Jelaslah, pertanyaan apakah ada peradaban-peradaban lain dalam jagat raya adalah salah satu pertanyaan terpenting dari sains modern. Dan suatu penemuan kehidupan yang semacam ini, katakanlah lewat analisis data gelombang mikro, tentu termasuk peringkat semua perkembangan keilmuwan yang paling signifikan dan berdampak sangat jauh.”/1/  

Pujangga dan filsuf Romawi Titus Lukretius di abad pertama SM dengan mengherankan telah menjawab pertanyaan itu dengan positif (juga sebelumnya di abad ke-5 dan ke-4 SM oleh Leusippus, Demokritus, dan Epikurus). Yang tidak bisa diberi oleh para filsuf ini adalah bukti-bukti empiris. Di zaman kita, mari kita bersama-sama pikirkan jawaban-jawaban yang mungkin, dengan berani dan kreatif, namun tetap terkendali oleh ilmu pengetahuan. Harap dicatat ada sangat banyak jawaban telah dan akan terus diberikan terhadap pertanyaan ini. Yang saya akan beberkan di bawah ini hanyalah salah satu perspektif saja.

Dalam batas tata surya kita, alien ada, tapi mungkin sekali bukan dalam bentuk organisme cerdas, melainkan hanya dalam bentuk berbagai mikroorganisme. Saintis terkemuka NASA, Ellen Stofan, dalam minggu pertama April 2015 memprediksi bahwa pada 2025 kita akan sudah bisa menemukan mikroba-mikroba di luar Bumi dalam tata surya kita, dan dalam kurun 20 sampai 30 tahun ke depan bukti-bukti definitifnya akan kita sudah bisa temukan. Dia menyatakan, “Kita tahu di mana dan bagaimana kita harus mencarinya. Dalam kebanyakan kasus, kita sudah punya teknologinya, dan kita sudah berada pada jalan untuk menerapkannya. Jadi, menurut saya, kita dengan pasti sedang menuju ke sana.”/2/   

Pada pertengahan September 2014, NASA dan Library of Congress menyelenggarakan sebuah simposium selama dua hari yang bertema “Preparing for the Discovery”. Subjek yang dibicarakan adalah usaha-usaha untuk mengeksplorasi ihwal bagaimana kita perlu mempersiapkan diri bagi penemuan yang niscaya terhadap kehidupan di luar Bumi, baik yang berupa mikroba-mikroba yang sederhana maupun yang berupa organisme-organisme cerdas. Terkait dengan hal itu, astronom dan mantan sejarawan utama NASA yang mengorganisir simposium itu menyatakan hal berikut ini:/3/ 
“Kita sedang mempertimbangkan semua skenario tentang menemukan kehidupan. Jika anda menemukan mikroba, itu adalah satu hal. Jika anda menemukan kecerdasan, itu adalah suatu hal lain. Dan jika mereka berkomunikasi, ini adalah sesuatu yang lain lagi, dan bahwa respons kita akan bergantung pada apa yang mereka akan katakan, adalah sesuatu yang lain lagi. Idenya bukanlah kita menunggu sampai kita membuat sebuah penemuan, tetapi kita mencoba banyak hal dan mempersiapkan masyarakat umum untuk dapat memahami akibat-akibat yang akan dapat muncul jika suatu penemuan semacam itu telah diperoleh. Menurutku, alasan mengapa NASA mendukung hal ini adalah berkaitan dengan semua aktivitas belakangan ini yang berhasil menemukan eksoplanet-eksoplanet dan dengan perkembangan pesat dalam astrobiologi pada umumnya. Orang sesungguhnya memandang adalah jauh lebih mungkin sekarang ini untuk kita akan menemukan sesuatu, mungkin sekali pertama-tama mikroba-mikroba lalu mungkin belakangan organisme-organisme cerdas. Kekuatan pendorong di balik ini semua datang dari sudut pandang ilmu pengetahuan bahwa kini tampaknya jauh lebih mungkin kita akan menemukan kehidupan pada suatu saat di masa depan.”    
NASA mempunyai program jangka panjang dan jangka pendek untuk mencari kehidupan di antariksa, bukan terutama berupa alien-alien hijau bertubuh besar dan cerdas, tetapi berupa DNA lewat sebuah proyek yang dinamakan The Search for Extra-terrestrial Genomes (SETG) yang sekarang ini difokuskan dulu pada planet Mars./4/ Proyek SETG ini dikhususkan untuk menguji hipotesis bahwa kehidupan di planet Mars, jika ada, memiliki nenek moyang yang sama dengan kehidupan di planet Bumi. Bukti-bukti makin bertambah yang menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat ditransfer di antara dua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor. Logis, jika kita berharap, proyek ini akan nantinya diperluas oleh NASA ke planet-planet lain manapun yang terjangkau, yang diduga berisi bentuk-bentuk kehidupan jenis apapun, misalnya bulan Europa dari planet Jupiter, yang kawasannya sangat asam.

Tetapi, berkaitan dengan alien-alien cerdas, bagaimana halnya di dunia-dunia lain di luar tata surya kita, dalam galaksi Bima Sakti, dan dalam galaksi-galaksi lain di seluruh jagat raya kita?

Wantariksa Voyager 1 setelah 35 tahun melanglang tata surya akhirnya pada Nov 2012 dipastikan telah keluar tata surya dan masuk ke dunia antarbintang. Jika ada organisme cerdas lain yang sudah maju di kawasan tata surya kita, mustinya berbagai wantariksa buatan manusia akan mengalami gangguan, berhubung mungkin saja ada semangat berperang antar berbagai organisme cerdas yang menghuni satu tata surya yang sama. Nyatanya, Voyager 1 aman-aman saja setelah selama 35 tahun menjelajahi seluruh kawasan tata surya.


 Wantariksa Voyager 1

Sudah ada tiga rover yang didaratkan Amerika Serikat di planet Mars: Spirit, Opportunity, dan yang mutakhir rover Curiosity. Misi utama tiga rover ini adalah menemukan mikroba di planet ini. Lebih dari itu, Amerika Serikat kini sudah menetapkan sebuah kebijakan antariksa resmi untuk paling lambat di pertengahan tahun 2030-an akan sudah ada wantariksa berawak manusia yang akan diterbangkan ke planet Mars. Sebetulnya, sesudah Amerika Serikat berhasil mendaratkan 12 astronot di Bulan (seluruhnya ada 6 misi yang sukses, dari 1969 hingga 1972), saat itu oleh NASA dan para pengambil kebijakan antariksa Amerika diantisipasi bahwa di tahun1980-an sudah akan ada astronot-astronot yang akan didaratkan di planet Mars. Tetapi karena sejak waktu itu terjadi perubahan kebijakan politik Amerika, dan karena kini ada anggapan-anggapan yang salah tentang anggaran keuangan NASA, misi mengirim astronot-astronot ke planet Mars masih tertunda. 

Sebetulnya di tahun 2015 ini sudah diperhitungkan bahwa misi mengirim manusia ke planet Mars akan jauh lebih murah biayanya dan lebih mudah dilaksanakan secara teknis jika kita sudah berhasil membangun koloni-koloni di Bulan kita. Selain itu, sudah dihitung bahwa kini untuk mengkolonisasi Bulan biayanya 90 persen lebih murah ketimbang yang dipikirkan sebelumnya. Bukan tanpa alasan jika Tom Moser, insinyur kepala dan manajer program Apollo dan International Space Station, menyatakan bahwa Kembali ke Bulan itu mudah, masuk akal dan anggarannya dapat dipikul, dan dapat menjadi jalan menuju planet Mars.... Tetapi, untuk ke situ, harus ada kemauan untuk melakukannya. Hoyt Davidson, yang bekerja di Near Earth LCC, berpendapat bahwa “Jika Bulan sudah dapat kita huni dengan permanen, kemajuan ini menjadi bagian paling mendasar bagi usaha-usaha selanjutnya untuk menghuni tempat-tempat lain di dalam sistem Matahari kita.”/5/

Tentang misi ke Mars, Chris Carberry dan Rick Zucker (keduanya dari Explore Mars Inc.) menyatakan bahwa kebanyakan oposisi terhadap eksplorasi planet Mars didasarkan pada informasi-informasi yang salah dan pada taktik-taktik pengalih perhatian, yang secara tersirat menyatakan atau bahkan mengklaim terang-terangan bahwa planet Mars akan membengkakkan anggaran keuangan NASA atau membahayakan anggaran Jaminan Sosial secara gila-gilaan jika fakta-fakta dan berbagai konteks anggaran yang sebenarnya diperhitungkan. Tetapi, Carberry dan Zucker juga, di lain pihak, menegaskan bahwa banyak pakar penerbangan antariksa percaya bahwa penerbangan manusia ke planet Mars dapat dicapai tanpa meningkatkan secara besar-besaran anggaran NASA; malah sebetulnya peningkatan anggaran Amerika dapat terjadi berkaitan dengan usaha-usaha menurunkan tingkat inflasi. Dengan demikian, orang dapat berpendapat bahwa secara fiskal NASA bertanggungjawab untuk mengirim manusia ke Mars alih-alih menghabiskan anggaran dalam jumlah yang sama untuk membiayai tujuan-tujuan yang kurang ambisius atau yang terus berubah. Mereka berdua pada akhirnya menegaskan bahwa “manusia tidak akan mengunjungi sebuah bintang terdekat atau bahkan bulan-bulan planet Jupiter kapanpun dalam waktu dekat; tetapi akhirnya kita akan dapat memiliki sebuah kesempatan untuk bergerak ke luar Bumi lalu memasuki angkasa luar dan mendarat di planet Mars, untuk mengeksplorasi, untuk menemukan sesuatu, dan untuk berkembang.”/6/   

Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk sebuah wisata ke planet Mars? Woow, besar sekali! Menurut perhitungan astronom National Institute of Aerospace, Sten Odenwald, sudah pasti akan diperlukan biaya lebih dari 100 milyar USD untuk mengirim sebuah wantariksa berawak pertama ke planet Mars. Odenwald juga menegaskan bahwa “menanam investasi sebesar 100 milyar USD untuk berwisata ke planet Mars― sebuah planet yang memberi risiko kecil, yang sudah kita kenal betul dengan menyeluruh semua detailnya ―masih dipandang sebagai sebuah angan-angan politis sekalipun dengan menggunakan teknologi yang ada.”/7/ 

Sangat banyak orang bertanya, mengapa para saintis harus mengeksplorasi planet-planet lain, Mars khususnya, sementara dana besar yang digunakan sebetulnya dapat digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan penderitaan yang dialami masih banyak manusia di planet Bumi. Penelitian terhadap planet-planet lain dilakukan bukanlah terutama karena para saintis umumnya memang berjiwa peneliti dan penjelajah, dan juga bukan karena orang-orang miskin diabaikan negara-negara besar seperti Amerika Serikat, tetapi karena masa depan umat manusia dan ketahanan kehidupan spesies ini seribu tahun ke muka memang sangat bergantung pada kolonisasi planet-planet lain oleh manusia sebagai rumah kedua, ketiga, dan seterusnya, di masa depan. Manusia sangat rentan musnah jika hanya mendiami planet Bumi, baik karena ancaman kemusnahan sebagai akibat terjangan sebuah meteor besar ke planet Bumi, maupun karena ancaman perang nuklir dan bencana-bencana yang dibuat manusia sendiri. Kondisi-kondisi semacam ini sudah kerap diingatkan oleh sejumlah saintis, antara lain untuk kesekian kalinya oleh Stephen Hawking baru-baru ini, 26 April 2015, dalam kuliahnya di Opera House, Sydney, Australia, lewat tubuh hologramnya./8/   

Selain planet Mars, ada enam tempat lain dalam tata surya yang diyakini memiliki kehidupan mikrobial. Enam tempat itu: 3 bulan planet Jupiter (Europa, Callisto, Ganymede); 2 bulan planet Saturnus (Enceladus, Titan); dan atmosfir planet Venus. Dari tujuh tempat ini, yang sekarang banyak diperhatikan manusia adalah planet Mars dan tentu saja bulan terbesar dan berkabut paling tebal planet Saturnus yang diberi nama Titan. Selain Bumi, bulan Titan adalah satu-satunya tempat di dalam tata surya yang memiliki sungai-sungai, hujan, lelautan, dan permukaannya juga dipenuhi bebatuan karang. Lewat pemantauan oleh wantariksa NASA yang mengorbit planet Saturnus, yang diberi nama CAPS (Cassini Plasma Spectrometer), kini diketahui Titan juga, seperti Bumi, mempunyai angin-angin kutub yang terus-menerus mendesak gas keluar dari atmosfir Titan lalu masuk ke angkasa luar. Juga sudah diketahui bahwa atmosfir Titan terdiri terutama atas nitrogen dan methana, dan tekanan pada permukaannya 50 persen lebih tinggi dibandingkan tekanan pada permukaan atmosfir Bumi./9/ Oleh Robert Zubrin, bulan Titan disebut sebagai “dunia di luar Bumi yang paling ramah di dalam sistem Matahari kita untuk dijadikan tempat tinggal baru manusia”. Arthur C. Clarke melihat Titan akan menjadi “pusat industrial masa depan sistem Matahari”. Adrian Berry dari The Telegraph menyebut Titan sebagai “rumah masa depan umat manusia.”/10/

Kalau dalam tata surya kita di luar planet Bumi hanya ada mikroba, mungkin sekali tidak demikian halnya dalam bagian-bagian lain galaksi kita, Bima Sakti, yang memiliki diameter 100.000 tahun cahaya/11/ atau bahkan, menurut estimasi mutakhir, 150.000 tahun cahaya./12/ Carl Sagan memperkirakan dalam Bima Sakti ada 400 milyar bintang. Sebanyak 50 % di antaranya diorbiti minimal 1 planet seukuran Bumi atau lebih besar. Lewat Teleskop Antariksa Kepler (diluncurkan oleh NASA pada Maret 2009) ditemukan dalam Bima Sakti minimal ada 17 milyar planet seukuran Bumi. Selama 22 bulan beroperasi, Teleskop Kepler telah memindai 2.740 planet dalam Bima Sakti, termasuk empat planet “super-Bumi” (besarnya 1,25 kali sampai 2 kali ukuran Bumi). Empat planet “super-Bumi” ini mengorbit masing-masing bintangnya dalam jarak yang memungkinkan adanya air pada permukaan masing-masing. Kepler-186f adalah planet seukuran Bumi yang pertama kali ditemukan para astronom lewat teleskop yang sama. Planet Kepler-186f mengorbit pada bintangnya dalam zona yang dapat dihuni yang memungkinkan adanya air pada permukaannya, berada dalam sistem yang dinamakan sistem Kepler-186, berlokasi kira-kira 500 tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Cygnus. Planet ini, yang mengorbit bintangnya sekali dalam setiap 130 hari, memakai sepertiga energi bintangnya, dan memiliki banyak karakteristik yang serupa dengan Bumi./13/   

Menurut kalkulasi mutakhir para saintis dengan menggunakan data NASA, terdapat 200 milyar bintang di galaksi Bima Sakti, dengan 50 milyar di antaranya serupa dengan Matahari kita dan sebanyak 22 persen di antaranya mempunyai planet-planet seperti Bumi. Ini berarti minimal ada 11 milyar planet yang seperti Bumi di galaksi Bima Sakti saja. Dari jumlah ini, terdapat 8,8 milyar planet yang seukuran Bumi yang berlokasi di zona temperatur yang dapat dihuni, tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas, berada dalam jarak yang pas dari bintang-bintang masing-masing sehingga memungkinkan kehidupan tercipta (ini disebut Goldilocks zone)./14/ Ini kondisi yang ditemukan baru dalam galaksi kita saja, Bima Sakti, sementara dalam jagat raya kita sendiri terdapat bermilyar-milyar galaksi lain. Sudah diestimasi, dalam seluruh jagat raya kita yang hingga saat ini dapat diobservasi terdapat 70 sekstillion (= 7 x 1022) bintang.


Busur pusat galaksi kita, Bima Sakti. Bima Sakti sangat luas, berbentuk spiral, tapi hanya inilah yang bisa kita lihat. Entah kapan homo sapiens bisa memotret sendiri seutuhnya galaksinya yang sangat luas ini?

Jika Bumi dijadikan model pembentukan kehidupan, di angkasa luar akan terbentuk kehidupan jika ada air, energi, kimia organik (hidrokarbon, dan molekul yang dapat mereplikasi diri seperti DNA), oksigen, dan tentu saja dimensi ruangwaktu (atau dimensi-dimensi lain yang lebih tinggi). Di angkasa luar tersedia melimpah air, energi, kimia organik, oksigen, setidaknya sejak dua milyar tahun setelah big bang. Jadi, terbentuknya kehidupan di sana adalah hal yang pasti. Menurut Stephen Hawking, kondisi-kondisi yang diperlukan untuk planet-planet bisa membentuk kehidupan cerdas seperti yang kita kenal mulai tersedia sejak kurang lebih empat milyar tahun setelah big bang, jadi kurang lebih sepuluh milyar tahun lalu./15/ 

Seperti sudah diperlihatkan di tahun 1953 lewat eskperimen abiogenesis termashyur yang dilakukan Stanley L. Miller dan Harold C. Urey, terbentuknya kehidupan dengan spontan adalah suatu produk sampingan dari kimia carbon./16/ Sudah menjadi suatu pengetahuan umum kita, bahwa semua bentuk kehidupan yang dikenal di Bumi memiliki enam unsur kimiawi dalam struktur dasar yang membangun kehidupan mereka, yakni carbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fosfor dan sulfur. Tetapi lima tahun lalu (2010), tim peneliti NASA yang dipimpin saintis Felisa Wolfe-Simon berhasil menemukan suatu bakteri yang diberi nama GFAJ-1 (yang diambil dari dasar danau terisolasi Mono Lake, di California, Amerika Serikat, yang memiliki kandungan garam, alkalin dan arsenik yang sangat tinggi) yang ternyata mengubah dengan mendasar pandangan kita selama ini tentang unsur-unsur kimiawi pembentuk kehidupan. Bakteri ini ternyata mampu menyerap unsur arsenik (yang sangat beracun bagi nyaris semua bentuk kehidupan lainnya di Bumi) untuk menjadi salah satu komponen mendasar dari mesin biokimiawinya yang vital, yakni DNA, protein dan membran sel-selnya. Berkaitan dengan temuan penting ini, staf NASA lainnya, Ed Weiler, menegaskan bahwa “definisi tentang kehidupan kini baru saja bertambah luas. Sementara kami menjalankan usaha-usaha kami untuk mencari tanda-tanda kehidupan dalam sistem matahari, kami harus berpikir lebih luas lagi, lebih beranekaragam lagi, dan memandang kehidupan dari sudut yang selama ini kami belum mengetahuinya.” Tetapi temuan Felisa Wolfe-Simon dkk ini segera saja menimbulkan banyak penentangnya begitu laporannya terbit di jurnal Science,/17/ dan belakangan malah difalsifikasi;/18/ tetapi diskusi-diskusi tentang temuan ini tidak bisa dihentikan hingga saat ini.

Sebagaimana telah didaftarkan oleh Anna Davison, memang ada sekian bentuk kehidupan mikrobial di planet Bumi yang ditemukan dapat bertahan hidup dalam lingkungan alam yang sangat ekstrim, seperti sangat dingin, sangat panas, sangat dalam, sangat kering, sangat beracun, sangat asin, sangat asam, sangat kostik, radiasi tinggi, dan juga memiliki umur yang sangat panjang, ribuan hingga jutaan tahun./19/ Dengan fakta-fakta ini, kita jadinya harus terbuka pada kemungkinan bahwa sekalipun kondisi-kondisi alam di planet-planet lain sangat ekstrim, bentuk-bentuk kehidupan sederhana dapat ada di sana.

Jadi, bagaimanapun juga, sangat terbuka kemungkinannya bahwa berbagai bentuk kehidupan bisa terbentuk di angkasa luar di luar model dari planet Bumi. Telah ditemukan, materi plasma kimia inorganik di angkasa luar juga mampu melahirkan bentuk-bentuk dan pola-pola yang menyerupai kehidupan. Kondisi ini tidak sama dengan kondisi di Bumi./20/ Kita harus siap menerima kemungkinan bahwa di angkasa luar kehidupan dapat terbentuk di luar cara-cara yang kita kenal di Bumi. Dus, kemungkinan ini memperbesar peluang adanya sangat banyak dan beranekaragam organisme di dunia-dunia lain di luar Bumi.

Seandainya proses terbentuknya kehidupan di Bumi dijadikan model, model ini dengan mudah terpenuhi di angkasa luar. Istilah “panspermia” pertama kali diciptakan oleh pakar fisika dan kimia Swedia yang bernama Svante August Arrhenius (1859-1927) untuk menyatakan bahwa dalam seluruh jagat raya, benih-benih kehidupan (spermia) tersebar di dan ke mana-mana (pan) dan bereproduksi dengan cara-cara aseksual (lewat unit-unit yang dinamakan “spore”)./21/ “Panspermia” adalah fakta karena zat-zat kimia yang diperlukan bagi kehidupan berasal dari debu-debu bintang yang meledak (supernova). Atom-atom dalam tubuh anda berasal dari angkasa luar, persisnya dari debu-debu supernovae. Bintang-bintang memenuhi jagat raya kita, dan menjadi sumber kimia organik yang dapat memunculkan kehidupan (lewat pembentukan DNA) jika kondisi-kondisi yang diperlukan terpenuhi. Supernovae adalah kejadian yang lumrah dalam lingkup jagat raya kita yang mahaluas, dan darinya kimia organik terbentuk dan menyebar ke seluruh ruang vakum jagat raya, dan darinya alam akan membangun DNA yang kemudian lewat bebatuan meteorit tersebar, memasuki sangat banyak planet, satu di antaranya planet biru kesayangan kita, Bumi. Baiklah kita tahu bahwa tubuh kita terdiri atas 53 % air dan 38 % dari debu-debu bintang (oksigen, carbon, nitrogen, dan calcium). Sudah lama diketahui bahwa air di planet Bumi berasal dari bebatuan meteorit, komet dan asteroid yang berisi kandungan air (hidrogen dan oksigen) yang melimpah, yang jatuh ke planet Bumi. Diyakini bahwa lewat cara yang sama, air juga tersedia di planet-planet lain dalam tata surya kita bahkan dalam jagat raya./22/ 

Belum lama ini teori panspermia terkonfirmasi lagi oleh sejumlah astronom yang dengan menggunakan teleskop canggih dan sangat peka yang dinamakan ALMA (Atacama Large Milimeter/submilimeter Array) telah berhasil untuk pertama kalinya mendeteksi molekul-molekul organik yang kompleks, yang menjadi bagian-bagian dasariah struktur kehidupan, di kawasan-kawasan pinggir sebelah luar sebuah piringan (disk) protoplanetari yang mengelilingi sebuah bintang muda (baru berusia satu juta tahun, diberi nama bintang MWC 480, berlokasi di kawasan yang membentuk bintang Taurus, 455 tahun cahaya jauhnya). 

Bintang muda MWC 480 di pusat disk yang berwarna putih, dan di kawasan pinggir sebelah luar disk ditemukan molekul-molekul organik yang kompleks

Molekul-molekul yang ditemukan itu adalah methil sianida (CH3CN), suatu molekul berbasis carbon yang kompleks; dan bersama sepupunya yang lebih sederhana hidrogen sianida (HCN) terdapat pada tepian-tepian sebelah luar piringan protoplanetari yang baru terbentuk itu, berjarak 4,5 milyar hingga 15 milyar kilometer dari bintang pusatnya, yakni di kawasan-kawasan terbentuknya komet-komet dan bebatuan es lainnya. Methil sianida penting karena berisi senyawan-senyawa carbon-nitrogen yang menjadi unsur-unsur esensial pembentuk asam-asam amino, basis bagi protein. Molekul-molekul organik ini ditemukan dalam konsentrasi yang sama dengan yang ditemukan dalam komet-komet yang terdapat dalam sistem matahari kita. Molekul-molekul organik ini dengan mudah dan amanterkunci di dalam komet-komet dan bebatuan es lainnya yang akan membawanya ke kawasan-kawasan yang lebih memungkinkan kehidupan dihasilkan dan terawat. Astronom Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, Cambridge, Massachusetts, Karin I. Öberg, menegaskan bahwa kita kini punya bukti bahwa kimia yang sama ada di tempat-tempat lain dalam jagat raya, di kawasan-kawasan yang dapat membentuk sistem-sistem matahari yang sama dengan sistem matahari kita. Dari kajian-kajian terhadap banyak eksoplanet, kita tahu bahwa sistem matahari kita tidak unik dalam memiliki planet-planet bebatuan dan air yang berlimpah. Kini kita tahu bahwa kimia organik kita bukanlah satu-satunya di dalam jagat raya. Sekali lagi, kita telah belajar bahwa kita bukanlah organisme yang spesial. Dilihat dari perspektif kehidupan dalam alam semesta, ini adalah sebuah berita yang besar.”/23/ 

Baru-baru ini satu tim peneliti Inggris dari Universitas Sheffield dan Pusat Astrobiologi dari Universitas Buckingham, Inggris, menemukan sebuah bola mikroskopik yang terbuat dari logam titanium dan vanadium ketika mereka mengirim balon-balon udara ke ketinggian 27 km memasuki atmosfir Bumi untuk mengumpulkan debu-debu dan partikel-partikel dari angkasa luar. Bola mikroskopik yang berukuran selebar rambut manusia ini terlihat memuntahkan cairan biologis yang dipercaya sebagai material genetik. Tim peneliti ini berpendapat adalah mungkin bahwa bola-bola mikroskopik ini dulu sekali telah dikirim oleh alien-alien cerdas dari angkasa luar untuk dengan terencana dan terkendali membenihkan kehidupan di planet Bumi; teori ini dikenal sebagai “panspermia terkendali” (directed panspermia). Ketua tim tersebut, Prof. Milton Wainwright, menyatakan bahwa “tentu saja selama kita belum bisa menemukan detail-detail peradaban alien cerdas yang diduga telah mengirim bola-bola mikroskopik semacam itu untuk membenihkan kehidupan di Bumi, maka, dalam hal ini, teori tersebut mungkin sekali tidak akan dapat dibuktikan”./24/ Bagaimanapun juga, penemuan bola mikroskopik ini memungkinkan kita berpikir bahwa adalah mungkin bahwa kita semua, homo sapiens, berasal-usul pada awalnya dari organisme-organisme hasil rekayasa genetik alien-alien cerdas di angkasa luar.  


  Bola logam mikroskopik selebar rambut manusia, menyemburkan materi genetik

Di Bumi kehidupan tentu saja dimulai dalam wujud mikrobial yang sudah muncul 3,5 milyar tahun lalu, lalu berevolusi dan melahirkan bentuk-bentuk kehidupan bersel majemuk. Tata surya kita sendiri sudah berusia 4,5 milyar tahun; sedangkan jagat raya kita sudah berusia 13,8 milyar tahun sejak big bang. Organisme cerdas yang dinamakan homo sapiens, manusia, baru muncul 300 ribu hingga 400 ribu tahun lalu di benua Afrika. Peradaban modern teknologis kita masih sangat muda, baru berusia 300-400 tahun, di kawasan tata surya kita yang terbentuk 4,5 milyar tahun lalu.


Nah, saya mau ajak anda membayangkan: Apa yang telah dan sedang terjadi dalam tata-tata surya lain di jagat raya yang usianya sudah sangat tua, misalnya 10 milyar tahun, dan evolusi biologis spesies di sana sudah berlangsung minimal 10 milyar tahun, berawal dari mikroba-mikroba? Alien-alien cerdas sudah pasti ada di sana, dengan tingkat kemampuan kecerdasan yang tidak terbayangkan oleh kita. Jika di sana sudah terbangun peradaban-peradaban teknologis yang usianya ribuan, jutaan hingga milyaran tahun, maka peradaban modern kita bak mainan kanak-kanak jadinya. Mobil-mobil termaju yang kita punya bak mobil-mobilan dari kotak korek api jadinya! Begitu juga halnya dengan pesawat-pesawat terbang modern kita: dibandingkan dengan wantariksa yang dimiliki alien-alien cerdas, pesawat-pesawat jet kita bak kapal-kapal terbang kertas buatan anak-anak TK. Atau bahkan hubungan antara kita dan mereka dapat dilihat sebagai hubungan antara semut-semut dan manusia, atau antara lumba-lumba dan manusia. 

Eksistensi kita sekarang masih sangat bergantung pada kondisi ragawi kita. Bagaimana dengan berbagai peradaban lain dalam jagat raya yang usianya sudah ribuan, jutaan hingga milyaran tahun? Alien-alien cerdas di angkasa luar mustinya ada. Perhatikan apa yang dikatakan biolog evolusioner Richard Dawkins di koran Spanyol El Mundo, bahwa 
“bukti-bukti astronomis menunjukkan sangatlah mungkin jagat raya ini memiliki banyak bentuk kehidupan, kendatipun bentuk-bentuk kehidupan ini berada di pulau-pulau yang satu sama lain terpisah sangat jauh. Jadi, ide bahwa kita ada sendirian dalam jagat raya tampak bagiku sepenuh-penuhnya tidak masuk akal dan arogan. Jika kita pertimbangkan jumlah planet-planet dan bintang-bintang yang kita ketahui ada, maka sangatlah tidak mungkin bahwa kita adalah satu-satunya bentuk kehidupan yang berevolusi.”/25/ 
Alien-alien cerdas sudah pasti ada. Tetapi eksistensi mereka sudah melampaui batas-batas ragawi yang kini masih mengurung kita. Alien-alien cerdas pastilah sudah bisa menyatukan raga mereka dengan mesin-mesin, bahkan bisa mengubahnya menjadi energi, cahaya, atau informasi, atau bahkan kesadaran atau pikiran yang bebas (yang berada dalam dunia virtual), lepas dari ikatan dengan materi. Wujud-wujud non-material yang semacam ini membuat alien-alien cerdas sudah bisa mengatasi kendala dimensi ruang-waktu yang kini masih memenjara kita. Mereka adalah organisme-organisme cerdas dari dimensi-dimensi yang lebih tinggi, dimensi kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya.

Kita di planet Bumi masih belum bisa menemukan dasar-dasar fisika yang melandasi transformasi tubuh material kita menjadi wujud-wujud nonmaterial seperti itu. Yang sudah kita ketahui dari fisika partikel (fisika yang mengkaji dunia subatomik, atau yang lazim disebut mekanika quantum) adalah bahwa setiap partikel itu punya dua properti yang tidak terpisah, yakni properti sebagai materi, dan properti sebagai gelombang. Aspek gelombang partikel ini diamati tampak memiliki kesadaran atau “free will”, yang dapat dinamakan “proto-kesadaran”. Aspek ini tampak menunjukkan bahwa setiap partikel (khususnya apa yang dinamakan partikel virtual) punya kesadaran yang mandiri, tidak kausalistik, tidak deterministik, datang dan perginya tidak terprediksi, tidak terkendali, bebas, dan tampak tidak punya asal-usul, ada dari ketiadaan, begitu saja. Jadi, dalam setiap materi, mulai dari partikel-partikel subatomik, ada dimensi nonmateri yang tidak perlu dihubungkan dengan agama atau dengan dunia supernatural atau dunia gaib.

Selain itu, dari persamaan Einstein E=mc2 kita ketahui bahwa energi itu ekuivalen atau berbanding lurus dengan massa. Semakin besar massa, semakin besar juga energi. Sebaliknya juga kita ketahui bahwa massa (M) adalah energi (E) dibagi kecepatan cahaya pangkat dua (c2). Tapi, bagaimana kita secara teknis bisa ubah tubuh kita (massa) menjadi energi atau cahaya atau informasi atau pikiran yang abadi dan memiliki kesadaran dan kemandirian, tidak lenyap, caranya kita belum ketahui betul. Kita masih meraba-raba dalam kegelapan, dan syukurlah kini mulai kelihatan titik-titik cahaya di sana dan di sini. Pada sisi lain, para pakar neurosains malah dengan yakin menyatakan, pikiran atau kesadaran dan organ otak tidak terpisah. Jika otak binasa, pikiran juga lenyap, tidak pergi ke mana-mana, dan juga tidak berubah menjadi apapun. Mereka punya banyak bukti klinis mengenai ini. Tetapi jelas, tidak ada sains apapun yang sudah final.

Dengan kondisi yang sudah “beyond matter” ini, maka menembus “lubang-lubang cacing” (worm holes) sebagai jalan-jalan pintas untuk sampai di jagat-jagat raya lain yang paralel bisa jadi adalah sesuatu yang rutin dilakukan alien-alien cerdas, sementara, di pihak kita, kita sekarang belum mampu untuk menemukan lokasi lubang-lubang cacing ini (ukurannya alamiahnya hanya sebesar atom), apalagi melewatinya. Untuk memperbesar lubang-lubang cacing dari ukuran alamiahnya yang sebesar atom sampai mencapai ukuran yang bisa dilewati wantariksa-wantariksa raksasa, dan untuk melipat atau melengkungkan dimensi ruangwaktu untuk mempertemukan atau menempelkan dua lubang cacing yang semula terpisah sangat jauh satu sama lain, kita memerlukan energi yang luar biasa besar dan teknologi yang luar biasa maju, yang semuanya belum kita miliki sekarang ini. Jadi, kita harus siap kaget karena mengalami faktor “Wow” jika memikirkan eksistensi alien-alien cerdas dan tingkat kemajuan peradaban-peradaban mereka.

Ini alien hijau khayalan manusia, dibuat dengan postur manusia, tapi jelek banget 

Alien-alien yang sudah membangun peradaban ribuan, jutaan hingga milyaran tahun jangan kita bayangkan akan tampilkan diri sebagai sosok-sosok ragawi hijau dengan dua mata yang besar. Juga jangan kita bayangkan wantariksa mereka akan sebesar benua yang melanglang jagat raya (seperti ditampilkan dalam film The Independence Day).

Nanoteknologi adalah sebuah kunci penting untuk membuka tabir eksistensi alien-alien cerdas di angkasa luar. Dengan nanoteknologi yang mencakup logam dan daging, alien-alien cerdas bisa mengubah tubuh mereka jadi atom-atom yang bisa berubah ke wujud apapun yang mereka kehendaki. Dengan menggunakan nanoteknologi molekuler yang sangat advanced, semua wantariksa mereka juga dibangun dengan ukuran hanya sebesar molekul, sehingga tidak tampak oleh mata biasa kita. Begitu juga, alat-alat pemantau Bumi dan berbagai organisme yang hidup di planet ini yang sudah mereka bisa hasilkan pastilah berukuran sangat kecil, sebesar molekul, sehingga tidak teramati oleh kita. 

Apakah nanoteknologi mereka yang sudah sangat maju dengan fantastik, memungkinkan mereka mengubah raga mereka menjadi partikel-partikel cahaya yang dinamakan foton, alhasil sebagai organisme-organisme cahaya mereka melanglang jagat raya dengan sangat bebas? Mungkin sekali! Pertanyaan saya ini saja sudah membuat saya sendiri terpesona luar biasa, sekalipun jawaban positifnya saya belum bisa tahu dengan pasti. Saya tentu saja terbuka untuk mengakui bahwa pertanyaan saya ini bisa saja pertanyaan yang muncul hanya dalam dunia fiksi sains. Tetapi imajinasi yang kuat juga diperlukan dalam dunia sains demi kemajuan sains itu sendiri. Albert Einstein menyatakan, “kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tetapi imajinasi.”/26/ Sang fisikawan paling jenius pada masanya ini juga menegaskan bahwa “imajinasi lebih penting dari pengetahuan, sebab pengetahuan itu terbatas, sedangkan imajinasi merangkumi seluruh dunia, mendorong kemajuan dan melahirkan evolusi. Imajinasi persisnya adalah suatu faktor yang real di dalam penelitian ilmiah.”/27/ Filsuf Amerika mazhab pragmatisme, John Dewey, menyatakan hal yang serupa bahwa “suatu kemajuan besar dalam sains muncul dari suatu keberanian baru untuk berimajinasi.... Tidak ada batas yang bisa ditetapkan bagi jangkauan dan kedalaman hipotesis-hipotesis.”/28/

Saya adalah orang yang selalu bertanya, meskipun banyak pertanyaan saya belum dapat dijawab. Ini pertanyaan saya selanjutnya. Kenapa kita hingga sekarang belum pernah bertemu dengan alien-alien cerdas dan armada wantariksa mereka, atau berhasil memantau eksistensi mereka di angkasa luar yang jauh lewat instrumen-instrumen canggih yang sekarang ini kita sudah miliki, jika mereka ada dan sudah memiliki peradaban yang sangat maju, dan sudah mengunjungi Bumi? Pembaca yang budiman tentu segera saja melihat ada paradoks dalam pertanyaan saya ini, yang dalam dunia keilmuwan dinamakan Paradoks Fermi. Dengan ringkas Paradoks Fermi dapat diungkap begini: Ukuran yang kelihatan dari jagat raya kita, dan usianya yang sudah 13,8 milyar tahun, menyarankan bahwa banyak peradaban yang secara teknologis sudah sangat maju harus ada dalam jagat raya kita. Namun hipotesis ini kelihatan tidak konsisten (atau paradoksal) dengan fakta bahwa hingga saat ini kita belum mendapatkan bukti-bukti empiris yang dapat diamati apapun untuk mendukungnya.

Argumen-argumen Paradoks Fermi, yang juga dikenal sebagai Pertanyaan Fermi (Fermi Question) atau Kebisuan Besar (the Great Silence) atau Silentium Universi (Latin; artinya Kebisuan Jagat Raya), disusun bersama-sama oleh fisikawan Enrico Fermi dan fisikawan Michael H. Hart, sebagai berikut: 
  • Pertama, Matahari kita adalah sebuah bintang yang tipikal (umum) dan relatif muda. Ada bermilyar-milyar bintang dalam galaksi kita (Bima Sakti) yang usianya bermilyar-milyar tahun lebih tua.  
  • Kedua, nyaris pasti beberapa dari bintang-bintang ini memiliki planet-planet yang seperti Bumi. Dengan anggapan bahwa Bumi itu sebuah planet yang tipikal, maka beberapa dari planet-planet ini bisa menghasilkan dan mengembangkan bentuk-bentuk kehidupan cerdas yang sudah membangun peradaban-peradaban.  
  • Ketiga, beberapa dari peradaban-peradaban ini dapat membangun suatu sistem perjalanan lintasbintang, suatu teknologi yang kita di Bumi sedang kaji sekarang ini.  
  • Keempat, sekalipun kecepatan perjalanan lintasbintang yang sekarang ini didambakan oleh kita masih rendah, galaksi Bima Sakti, dengan kecepatan rendah ini, dapat seluruhnya dikolonisasi dalam beberapa puluh juta tahun saja (5 sampai 50 juta tahun), suatu kurun yang tidak besar jika diukur dari jam kosmologis. 
Nah, dengan empat dasar pemikiran ini, mustinya Bumi sudah dikolonisasi atau dikunjungi oleh alien-alien cerdas. Tapi paradoksnya, hingga saat ini tidak tersedia bukti apapun yang meyakinkan bahwa mereka ada dan sudah mengunjungi Bumi. Selain itu, belum ada tanda-tanda yang terkonfirmasi yang menunjukkan alien-alien cerdas itu ada di tempat-tempat lain dalam galaksi kita atau di tempat-tempat lain (sejauh dapat dideteksi) dalam jagat raya kita yang dapat diobservasi oleh kita. Dus, Fermi bertanya, Di manakah Mereka?   

Berbeda dari pendapat Neil deGrasse Tyson yang sudah saya kutipkan pada epigraf di atas, menurut saya mungkin sekali sebetulnya alien-alien cerdas dari galaksi-galaksi lain yang jauh, sudah berada di antara kita di planet Bumi. Bagaimana mungkin? Ya, mungkin mereka ada di sekitar kita tidak dalam eksistensi ragawi, tapi berupa energi, cahaya, informasi, pikiran yang melayang bebas, dan wujud-wujud lain yang serba asing bagi kita. Begitu juga, armada wantariksa mereka mungkin juga ada di Bumi, tapi tidak kasat mata karena masing-masing wantariksa mereka hanya sebesar molekul atau paling banter sebesar tapak tangan kita. Mungkin juga mereka telah membangun koloni di Bulan kita, dan dari situ mereka aktif mengikuti perkembangan peradaban kita dengan setia dari abad ke abad, dari milenium ke milenium. They are watching us attentively!

Kembali ke epigraf Tyson di atas. Tentu sangat mungkin kalau banyak alien cerdas di angkasa luar dulu sekali pernah meneropong Bumi atau mengirim sejumlah wantariksa tanpa awak untuk mempelajari biologi Bumi, persis seperti kita sekarang mengirim rover-rover ke planet Mars dan beberapa wantariksa tanpa awak lain ke planet-planet dan bulan-bulan lain dalam tata surya untuk menemukan kehidupan. Mungkin saja mereka waktu itu hanya menemukan kehidupan bersel tunggal (bakteri, misalnya) di planet Bumi. Nah, mustinya mereka yang sudah sangat maju itu mampu menghitung kapan, lewat evolusi, bakteri-bakteri di Bumi akan berubah menjadi organisme cerdas, homo sapiens misalnya. Jadi, sangat mungkin juga alien-alien cerdas itu dulu pernah mendatangi Bumi (kondisi yang dinamakan paleokontak), ketika mereka lihat di Bumi sudah muncul kehidupan cerdas yang sudah lama mereka tunggu-tunggu, dan sangat mungkin kini mereka malah sedang berada di antara kita (neokontak). Saya percaya Tyson tentu juga berpikir ke arah ini. 

Tetapi pertanyaan yang sangat penting adalah: Kenapa alien-alien cerdas itu tidak langsung saja menjajah dan menjarah planet Bumi kita lalu memusnahkan kita dan peradaban kita? Nah saya percaya satu hal ini: Semakin maju suatu peradaban, semakin etis perilaku organisme yang membangunnya. Begitulah dengan alien-alien cerdas.


Jika alien-alien yang ada di sekitar kita memiliki peradaban yang sudah sangat maju, jauh meninggalkan kita, begitu juga halnya dengan moralitas mereka. Mereka tidak akan menjajah dan menjarah planet Bumi, karena etika yang mereka hayati sudah sangat agung, seagung tingkat peradaban mereka. Itu juga yang dipercaya Carl Sagan: alien-alien cerdas memiliki etika sangat agung tidak terbayangkan, sejalan dengan tingkat kemajuan peradaban mereka. Leo Tolstoy juga melihat hubungan antara keagungan dan akhlak yang tinggi saat dia menyatakan, “Tidak ada keagungan jika tidak disertai keterbukaan, kejelasan, kebajikan dan kebenaran.” Saya melihat, mustinya ini menjadi sebuah hukum (moral) dalam dunia sains, jika sains ingin terus berkembang maju dan peradaban yang dibangun di atasnya mau terus berkembang dan yang terpenting mau bertahan abadi dalam jagat raya, tidak mati karena sebab-sebab internal. Saya juga berpendapat, hukum moral ini harus juga diberlakukan dalam politik pemerintahan negara-negara di seluruh dunia kita. Tanpa politik yang agung, sains juga tidak akan menghasilkan hal-hal yang agung untuk peradaban.

Tanpa hukum moral ini, sains bisa menghasilkan banyak kejahatan yang akhirnya akan memusnahkan peradaban apapun dalam jagat raya. Saya percaya, hukum ini juga dipegang dan dijaga oleh alien-alien cerdas di angkasa luar karena mereka ingin peradaban mereka kekal bertahan dan terus berkembang dalam jagat raya. Apa yang dinamakan peradaban (civilization) tidak pernah statis. Arnold J. Toynbee menyatakan bahwa “peradaban adalah suatu gerakan, bukan sebuah keadaan yang statis, sebuah pelayaran dan bukan sebuah pelabuhan.”/29/ Dalam pandangan Toynbee juga, peradaban-peradaban dapat mati bukan karena sebab-sebab alamiah, melainkan nyaris selalu karena bunuh diri, bukan karena dibunuh./30/

Anda semua mungkin setuju kalau saya menyatakan bahwa jauh lebih murah biayanya, jauh lebih efisien dan jauh lebih relaks jika kita memakai politik kasih sayang, kebajikan dan persaudaraan dalam memelihara perdamaian abadi sejagat, ketimbang memakai kekuatan senjata, kekerasan, kejahatan, permusuhan, intimidasi, terorisme, politik devide et impera, imperialisme dan kolonialisme. Bisa jadi, dalam hal ini saya hanyalah seorang pemimpi. Margaret Thatcher di tahun 1987 pernah menyatakan bahwa “Suatu dunia tanpa persenjataan nuklir bisa jadi hanya suatu mimpi; tetapi anda tidak bisa mendasarkan suatu pertahanan yang pasti pada mimpi-mimpi. Tanpa kepercayaan dan keyakinan timbal-balik yang lebih besar antara Timur dan Barat ketimbang yang ada sekarang, maka suatu dunia tanpa persenjataan nuklir bisa jadi akan kurang stabil dan lebih berbahaya bagi kita semua.”/31/ Saya merasa sejiwa dengan Thomas Jefferson (1743-1826) ketika sosok besar presiden ke-3 Amerika ini, dalam suratnya kepada John Adams (Monticello, 1 Agustus 1816), menyatakan “Aku menyukai mimpi-mimpi tentang masa depan, lebih baik ketimbang sejarah masa lampau.” Thatcher, yang pernah dijuluki si perempuan Inggris tangan besi, mungkin tidak tahu kalau Albert Einstein di tahun 1946 pernah berpesan bahwa “anda tidak dapat mencegah sekaligus mempersiapkan perang. Untuk mencegah perang, diperlukan lebih banyak iman, keberanian dan tekad ketimbang yang dibutuhkan untuk mempersiapkan perang.”/32/

Bagaimanapun juga, sudah seharusnya suatu peradaban yang berkembang makin maju, akan disertai juga dengan pertumbuhan moralitas yang makin agung dan mulia dari semua organisme cerdas yang membangun peradaban itu. Syukurlah, fakta ini juga yang ditemukan Steven Pinker dalam kehidupan homo sapiens dalam sepuluh ribu tahun terakhir perkembangan peradaban spesies ini. Dalam bukunya yang berjudul The Better Angels of Our Nature (terbit 2011), Pinker mengajukan banyak bukti dari berbagai sektor kehidupan yang menunjukkan di planet Bumi ini kekerasan makin berkurang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan peradaban manusia. Penglihatan Carl Sagan benar! Pinker menyatakan, antara lain, bahwa
“Kodrat manusia, dalam arti khazanah emosional dan kognitif spesies kita, terlihat konstan selama sepuluh ribu tahun terakhir. Dalam kurun ini terlihat kekerasan makin menurun. Semua perbedaan kelakuan di antara masyarakat-masyarakat muncul betul-betul karena sebab-sebab lingkungan kehidupan.”/33/
Pada paragraf terakhir bukunya yang tebal itu, Pinker menulis:
“Namun sementara planet ini telah bersiklus menurut hukum gravitasi yang tidak dapat diubah, spesies homo sapiens juga telah menemukan cara-cara untuk menurunkan jumlah orang yang menderita, dan untuk memungkinkan makin lebih banyak manusia hidup dalam kedamaian dan menemui kematian karena sebab-sebab yang alamiah. Lewat semua penderitaan yang kita telah alami dalam kehidupan kita, lewat semua persoalan yang tetap ada dalam dunia ini, kekerasan telah berkurang. Ini adalah sebuah prestasi yang kita dapat nikmati, yang menjadi pendorong untuk kita menghidupkan dan mengembangkan kekuatan-kekuatan peradaban dan pencerahan yang memungkinan prestasi itu dicapai.”/34/
Jadi, jika alien-alien cerdas punya etika yang agung, konsekwensinya adalah bahwa malah mungkin sekali mereka sedang mengawal homo sapiens untuk bisa melewati setiap krisis peradaban yang membahayakan ketahanan kehidupan kita, bahkan mungkin mereka juga, entah bagaimana caranya, sedang ikut membantu kita dalam mengembangkan sains dan peradaban kita. Bukan itu saja. Mungkin sekali dulu, di zaman sangat lampau para moyang kita, DNA kita juga diciptakan semula oleh mereka, yang lalu mereka budidayakan di planet Bumi sebagai bagian dari eksperimen sains perekayasaan genetik mereka. Sejumlah pakar biologi molekuler dan genetika malah berpendapat bahwa sangat mungkin alien-alien cerdas (mereka menamakannya “higher intelligent beings”) telah melakukan berbagai mutasi genetik pada DNA makhluk-makhluk homo era pra-homo sapiens (yakni, berbagai jenis hominin) di kurun prasejarah, lalu menghasilkan DNA yang jauh lebih kompleks dan lebih maju yang mereka tanamkan ke dalam gen homo sapiens. Sekarang teknik ini dinamakan “DNA-editing” atau “DNA-modification” yang sudah bisa dijalankan para saintis kita, dan hak paten teknik ini diberikan ke saintis keturuan China, Dr. Feng Zhang, dari Broad Institute dan M.I.T. 

Teknik gene-editing CRISPR menggunakan suatu enzim (warna putih) dan RNA pemandu (biru) untuk memotong DNA pada titik yang ditandai oleh suatu fragmen DNA (merah) 

Teknik mengedit DNA dilakukan dengan menginjeksikan ke dalam gen-gen suatu kompleks enzim yang diperlukan dalam mengikat dan menggunting sekuen-sekuen spesifik DNA. Enzim ini dinamakan CRISPR/Cas9. Belum lama ini teknik ini sudah diterapkan dengan menginjeksikan CRISPR/Cas9 ke dalam embrio-embrio manusia oleh para saintis China. Percobaan ini ternyata kemudian menyulut berbagai reaksi pro dan kon di antara para pakar terkait dengan isu-isu etika. Banyak yang tidak setuju jika teknik ini diterapkan pada janin-janin manusia, dan mereka meminta semua riset di bidang ini dihentikan, karena jika diterapkan pada manusia, di masa depan akan muncul ras-ras manusia eugenik unggulan yang akan menenggelamkan ras-ras lainnya. Tetapi para saintis lain berbeda pendapat. Meskipun ada kebutuhan untuk mengadakan percakapan yang luas mengenai keamanan dan etika pengeditan embrio-embrio dan sel-sel reproduktif, mereka berpendapat bahwa potensi untuk mengeliminasi penyakit-penyakit lewat teknik ini mengharuskan para saintis meneruskan riset di bidang ini. Kehati-hatian dan pertimbangan yang seksama tentu saja menjadi hal-hal yang penting. 

Genetikus Dana Carroll dari Universitas Utah di Salt Lake City menegaskan, “Jika genom pada tahap embrio diubah, perubahan yang sudah terjadi akan bersifat permanen dan akan diwariskan. Jadi perlu ada pertimbangan yang sangat cermat sebelum teknik-teknik DNA-editing diterapkan.” Ahli biokimia dari Universitas California, Berkeley, Jennifer Doudna, menyatakan bahwa setiap penggunaan teknologi pengeditan gen untuk pengobatan harus divalidasi secara independen sebagai pengobatan yang aman dan efektif. Kata Doudna, “Untuk setiap aplikasi potensial teknik pengeditan gen, perlu diputuskan apakah risiko-risikonya akan lebih besar ketimbang manfaatnya yang mungkin bagi seorang pasien. Aku pikir penilaian ini harus dibuat kasus demi kasus.”/35/ Meskipun Jennifer Doudna adalah salah seorang perintis awal yang telah membantu menyederhanakan pengeditan DNA organisme apapun sehingga teknik ini menjadi sangat mudah dilakukan, sama mudahnya dengan seorang pengguna komputer mengedit sebuah kata dalam sebuah dokumen, sang saintis ini kini meminta komunitas saintifik dunia untuk memberi batasan-batasan etika pada penggunaan teknik mengedit DNA ini./36/

Jadi, kita semua sangat mungkin adalah anak-anak alien-alien sendiri, yang dihasilkan lewat teknologi perekayasaan genetik. Bisa jadi, dalam DNA kita alien-alien cerdas telah menulis pesan-pesan digital matematis mereka sendiri untuk kita singkap sendiri, pesan-pesan yang bukan saja penting untuk umat manusia, tapi juga untuk dunia sains dan peradaban kita kini dan mendatang./37/ Fantastis ya terdengarnya!

Tapi Stephen Hawking punya pendapat lain. Baginya, alien-alien cerdas bisa sangat jahat seperti jahatnya homo sapiens. Kata Hawking: Jika alien-alien cerdas menemukan planet Bumi, perilaku mereka akan sama dengan saat Columbus menemukan benua Amerika, yakni menjajah dan menyingkirkan penduduk asli Amerika! Kata Hawking juga, jika pada masa kini dengan tingkat peradaban yang kita punya para alien cerdas di luar Bumi membuka kontak dengan kita lewat sinyal-sinyal, maka kita harus tidak menjawab mereka karena kita jauh berada di bawah mereka dan akan tidak bisa mengalahkan mereka yang sudah pasti punya maksud jahat./38/

Tapi di planet ini, kita sudah hidup selama 400 ribu tahun, dan alien-alien cerdas, jika sudah ada di sekitar kita, tidak kunjung membunuh kita semua. Mungkin Carl Sagan benar, dan Hawking salah. Jika begitu, tenang sajalah kita seandainya banyak alien cerdas memang sudah ada di antara kita. Mereka akan membantu kita, bukan menjajah kita. Mereka akan mengajarkan kebijaksanaan kepada kita, bukan ajaran-ajaran buruk dan jahat. Sebaiknya anda tahu, belakangan Hawking juga berubah pandangan. Kalaupun alien-alien cerdas pernah berencana untuk menyerbu planet Bumi, akhirnya mereka, kata Hawking, tidak tertarik lagi pada kita! Rencana penyerbuan dibatalkan, karena ongkosnya jauh lebih besar dibandingkan apa yang akan mereka peroleh dari Bumi. Kata Hawking, mereka tidak mau menghabiskan biaya besar untuk bahan bakar roket-roket hanya untuk menyerbu sebuah lubang kakus./39/ 

Banyak keberatan memang telah diajukan terhadap usaha-usaha untuk memprakarsai kontak dengan peradaban-peradaban cerdas di angkasa luar, karena ketakutan besar terhadap invasi alien-alien cerdas ke planet Bumi, ketakutan yang makin diperkuat oleh banyak flm fiksi sains yang menggambarkan kebrutalan alien-alien cerdas. Setelah memperhatikan keberatan-keberatan ini, direktur Seti Institute, Seth Shostak, berpendapat bahwa jika usaha-usaha untuk mengirim sinyal-sinyal kuat ke planet-planet terdekat di luar tata surya yang dalam orbit masing-masing berada dalam zona yang dapat menunjang kehidupan, dilarang, maka semua sistem radar dari pangkalan-pangkalan militer dan dari pelabuhan-pelabuhan udara, juga harus dilarang, karena sinyal-sinyal radar ini juga masuk ke angkasa luar. Begitu juga, cahaya yang terpancar ke angkasa dari kota-kota besar di dunia pada malam hari harus dipadamkan, karena cahaya ini juga dapat ditangkap oleh alien-alien cerdas di angkasa luar. Dalam sebuah pertemuan American Association for Advancement of Science di San Jose baru-baru ini, Shostak menegaskan bahwa “tindakan-tindakan paranoid semacam itu hanya akan melumpuhkan kegiatan-kegiatan generasi-generasi mendatang umat manusia!”/40/   

Bagaimanapun juga, satu hal sudah pasti, alien cerdas ada. Para fisikawan, astronom, astrobiolog, dan pakar-pakar lain, kini tidak meragukan eksistensi mereka walaupun kita tidak pernah bertemu mereka hingga saat ini. Alien-alien cerdas tahu kita, tapi kita tidak tahu keberadaan mereka hingga saat ini, mungkin hingga peradaban kita berusia jutaan tahun. Jika kita mau segera bisa melihat dan bertemu mereka, paculah sains dan teknologi kita supaya tumbuh dan berkembang dengan tingkat percepatan yang fantastis. Kita mampu! 

Langkah terpenting dalam dunia sains dan teknologi perekayasaan yang perlu kita capai dengan segera adalah menguasai nanoteknologi. Seperti dikatakan fisikawan Amerika, Neal Francis Lane, “Seandainya saya ditanya bidang apa dalam sains dan teknologi perekayasaan yang paling mungkin menghasilkan terobosan-terobosan masa depan, saya dapat menunjuk ke sains dan teknologi perekayasaan yang berskala nano.” Tentu anda sudah tahu, 1 nano sama dengan 10-9 (baca: 10 pangkat minus 9, atau 1 per 1000.000.000). Lewat nanoteknologi, kita menciptakan material, peralatan dan sistem-sistem dengan cara mengontrol materi dalam skala nanometer dan memanfaatkan fenomena dan berbagai properti yang baru (fisikal, kimiawi dan biologis) pada skala itu.

Terus terang, saya sangat khawatir apa yang telah saya kemukakan di atas akan dipahami lain oleh para pembacanya. Jadi saya ingin ingatkan, jangan anda berpikir atau berkhayal atau berasumsi bahwa anda telah pernah berjumpa dengan alien-alien cerdas dari angkasa luar atau dengan berbagai UFO di langit. Lalu, pikiran atau khayalan atau asumsi anda ini membuat anda merasa berbeda dari semua orang lain yang menjadi kenalan anda. Jangan kena delusi sampai begitu ya, supaya anda tidak dianggap sudah tidak waras.  

Oh ya, jangan juga anda meyakini bahwa jin-jin atau makhluk-makhluk gaib yang dikisahkan dalam teks-teks kuno adalah alien-alien cerdas. Ada banyak jin dikisahkan dalam teks-teks kuno. Salah satunya yang paling terkenal adalah jin yang memilih tidur lama-lama dalam Lampu Aladin yang dikisahkan dalam teks-teks Seribu Satu Malam dari kawasan Timur Tengah kuno. Baiklah saya beri dia nama jin Pebobo. Jika lampunya anda gosok, si jin Pebobo ini akan langsung keluar lalu akan dengan taat melakukan apapun yang anda minta. Ini dongeng seratus persen. Kalau si jin Pebobo ini alien, jelas dia bukan alien cerdas yang saya beberkan di atas. Dia jin yang bodoh walau sakti, tukang molor, dan bermental budak.  

Juga jika anda mengklaim pernah lihat berbagai UFO di angkasa, sangat mungkin yang anda lihat itu adalah awan-awan yang lewat proses alamiah mengambil wujud benda-benda fantastis yang kerap orang bayangkan sebagai UFO. Hingga saat ini, semua klaim adanya UFO terbatas hanya sebagai spekulasi, tanpa landasan bukti-bukti saintifik, atau hanya sebagai kesalahan penglihatan mata, atau hanya sebagai foto-foto atau video-video bohong hasil rekayasa. Tepat jika pada kesempatan ini saya mengutip apa yang ditulis Lee Speigel, “Banyak video telah dipasang pada Youtube yang diklaim menampilkan sebuah UFO atau sekumpulan UFO yang sedang terbang melintasi Bulan. Tapi apa yang sebetulnya sedang kita lihat? Tentu, objek apapun di langit yang tidak dapat diidentifikasi dapat dipandang sebagai sebuah UFO. Tetapi sesuatu yang tampak seperti sebuah wahana antariksa sebetulnya dapat merupakan suatu anomali cuaca saja, atau semata-mata sebuah kebohongan saja. Kemungkinannya tidak terbatas.”/41/     

Perhatikan dua foto berikut ini. Anda boleh terpesona pada kedua foto ini. Tapi bacalah dengan seksama apa yang saya tulis di bawah masing-masing foto ini.



Foto di atas bukan foto penampakan sebuah UFO besar di atas puncak sebuah gunung, tapi foto awan lentikular yang terbentuknya bergantung pada kecepatan angin dan bentuk gunung. Ada banyak bentuk awan jenis ini, semuanya mempesona. Awan jenis ini bisa bertahan utuh sampai berhari-hari.



Foto ini juga bukan foto penampakan UFO alien, tetapi foto gumpalan awan yang besar dan memang bisa kelihatan menakutkan dan terkesan gaib, dinamakan awan anvil. Terbentuk di area atas badai halilintar dan kilat yang sedang terjadi. Alhasil, saat awan ini terbentuk kita akan mendengar suara-suara ledakan dahsyat yang sangat menakutkan. Awan ini memuat partikel-partikel es sehingga sangat lama bisa bertahan utuh, tidak buyar mencair. Terbentuknya begini: saat badai guntur dan kilat terjadi, udara naik ke atas, menyebar dan mengembang membentuk semacam kubah ketika bertabrakan dengan lapisan bawah stratosfir. 

Masih ada banyak foto sejenis, yang semuanya mempesona./42/ Orang yang berharap-harap bisa bertemu UFO di angkasa akan dengan sendirinya mudah menganggap semua foto awan-awan yang berbentuk istimewa ini sebagai foto-foto yang terkait dengan UFO. Apalagi jika mereka melihat sendiri langsung awan-awan itu di angkasa secara kebetulan. Apa yang sudah saya tulis di atas mudah-mudahan akan membuat mereka tetap eling bahwa yang mereka lihat itu sungguh-sungguh awan-awan yang mengambil berbagai bentuk istimewa karena peristiwa-peristiwa alamiah biasa. Saya berharap anda juga tetap eling. 

Ingatlah apa yang dikatakan Carl Sagan ketika dia membicarakan ihwal perjumpaan manusia dengan UFO, bahwa klaim-klaim yang luar biasa, memerlukan bukti-bukti yang juga luar biasa. Sejauh ini, kita belum pernah mendapatkan bukti-bukti yang luar biasa tentang UFO, misalnya, sebagaimana disebut Carl Sagan sendiri, foto detail wantariksa UFO itu sendiri, sebuah instrumen yang dibuat dan dipakai para alien dalam wantariksa mereka, atau bahkan sebuah buku yang ditulis oleh para alien dalam aksara yang mereka pakai sehari-hari./43/   



Close encounter. Jumpa UFO dan alien jarak dekat! Anda pernah?

Jika betul para alien telah memutuskan untuk menampakkan diri mereka dan wantariksa mereka (yang kita sebut UFOs, unidentified flying objects, artinya: benda-benda terbang yang tidak dapat diidentifikasi) kepada manusia, maka yang akan melihat mereka adalah orang dalam jumlah yang sangat besar di berbagai lapangan luas yang terbuka, di banyak tempat di seluruh dunia. Tetapi tentu saja, yang mereka akan temui lebih dulu adalah orang-orang besar dunia ini, yang dengan kekuasaan mereka yang besar (politik, militer, ekonomi, sains, seni dan kebudayaan) sedang mengendalikan arah dunia ini. Barack Obama tentu adalah salah seorang dari mereka, dan mungkin juga Stephen Hawking atau Michio Kaku atau Ray Kurzweil atau J. Craig Venter atau Fabiola Gianotti atau Christiane Amanpour, atau juga Dalai Lama, dan mungkin juga Paus Francis, Celine Dion, Robyn Rihanna Fenty, Angelina Jolie, dan masih banyak lagi sosok yang berpengaruh luas dalam dunia masa kini. 

Tidak mungkin, atau malah dungu, jika para alien yang datang dari galaksi-galaksi yang jauh, setibanya di Bumi, hanya merusak tanaman-tanaman di berbagai area perkebunan yang luas hanya untuk membuat info-info geometrik, atau hanya menculik ibu-ibu rumah tangga yang lugu lalu membawa mereka masuk ke dalam wantariksa-wantariksa mereka dalam keadaan terhipnosis, dan beberapa waktu kemudian melepaskan mereka lagi juga dalam kondisi terhipnosis, atau hanya mengikuti sepanjang puluhan kilometer mobil-mobil tertentu yang sedang melintasi kawasan padang atau gurun yang luas dan sepi, atau hanya berparade di angkasa lalu ramai-ramai lenyap lagi. 

Berita yang paling memukul dan mungkin sekali mematahkan semangat para pemburu UFO atau para aktivis dalam UFO Cult telah disampaikan oleh CIA pada 29 Desember 2014 lewat Twitter (@CIA). Bunyi kicauan CIA ini: #1 most read on our #Bestof2014 list: Reports of unusual activity in the skies in the '50s? It was us. http://1.usa.gov/1lU3oIU  (PDF 9.26MB). 2:11 AM - 30 Dec 2014.

CIA telah membuka rahasia bahwa berbagai kegiatan di angkasa sekitar tahun 1950-an dan 1960-an yang oleh masyarakat umum dianggap sebagai penampakan-penampakan UFO, sebetulnya adalah kegiatan-kegiatan CIA sendiri yang sedang mengujicoba pesawat-pesawat mata-mata U-2 yang mampu terbang di atas ketinggian 60.000 kaki dan melakukan misi-misi pengintaian. Berhubung pada masa-masa itu pesawat-pesawat terbang komersial hanya mampu terbang dengan ketinggian 10.000 sampai 20.000 kaki, adanya benda-benda terbang di ketinggian lebih dari 60.000 kaki tentu saja menimbulkan banyak laporan tentang berbagai aktivitas benda-benda terbang yang tidak dikenal alias UFOs. Kebanyakan laporan itu dibuat pada jam-jam awal sore hari dari para pilot pesawat-pesawat terbang yang terbang dari timur ke barat.” Setelah Matahari terbenam di bawah cakrawala, pesawat-pesawat pengintai U-2 kelihatan sebagai benda-benda berapi. Di darat, orang-orang yang mengira mereka sedang melihat UFO menulis surat-surat ke Angkatan Udara AS. Lalu, sebagai respons, AU menjalankan Operasi Blue Book yang mengumpulkan semua laporan tentang penglihatan-penglihatan adanya UFO dan “... mencoba untuk menjelaskan penglihatan-penglihatan tersebut dengan mengaitkannya ke fenomena alam.” Lebih dari separuh laporan-laporan tentang penampakan UFO selama tahun 1950-an dan 1960-an berasal dari pilot-pilot pesawat-pesawat terbang./44/  

Begitu juga, slide yang memuat foto yang pernah diklaim sebagai foto alien yang bersama wantariksanya jatuh ke Bumi, dekat Roswell, New Mexico, di tahun 1947, ternyata kini sudah dibuktikan sebagai hoax. Slide itu (yang dibuat oleh Bernerd Ray dan Hilda Ray) tidak menampilkan gambar sosok alien, melainkan jasad kanak-kanak laki-laki Indian yang berusia dua tahun, yang sudah dimumi. Keterangan pada slide itu yang telah dibuat kabur, setelah dapat dibaca kembali, memuat identitas yang sebenarnya dari mumi itu./45/ Slide ini telah dipamerkan untuk umum (harus bayar, sekali berkunjung USD 200 per orang) di Mexico City pada 5 Mei 2015, dengan total pengunjung 6.000 orang. Bayangkan betapa gemuk jadinya kocek-kocek pihak penyelenggara pameran ini! 

Berkaitan dengan slide aspal ini, Seth Shostak mengingatkan bahwa lain kali anda harus selalu skeptik jika ada orang menawarkan kepada anda gambar-gambar alien, yang samar-samar serupa dengan gambar saudari sepupu anda. Selanjutnya Shostak menegaskan bahwa mengingat teknologi alien-alien cerdas di luar Bumi sudah sangat maju, maka kalaupun mereka sungguh-sungguh berkunjung ke Bumi, tentunya alien-alien cerdas ini adalah para Artificial Intelligence yang dapat terus-menerus memperbaiki dan menyempurnakan diri sendiri sehingga mereka dapat menempuh perjalanan antarbintang selama ribuan tahun. Keuntungannya adalah, kalau para alien AI ini berjumpa dengan anda, mereka tidak berminat untuk merebus anda. Kalaupun mereka dipamerkan di museum-museum, pastilah mereka tidak punya tulang-tulang rusuk./46/ 

 Ini bukan sosok alien, tapi mumi kanak-kanak laki-laki Indian usia 2 tahun 

Saya musti juga pada kesempatan ini membagi ke anda informasi mutakhir yang terkait dengan klaim-klaim yang bermunculan belakangan ini tentang adanya alien cerdas di planet Mars. Perhatikan foto di bawah ini dengan seksama.   



Ini adalah sebuah foto di salah satu bagian permukaan planet Mars yang diambil langsung pada 7 Mei 2015 (Sol 987 kalender Mars) oleh kamera rover Curiosity milik NASA. Tampak pada foto ini (sesudah diperbesar), sebuah bangunan yang berbentuk piramida sempurna. Anda tentu tahu, rover Curiosity adalah sebuah wahana beroda enam yang dapat bergerak bebas di permukaan planet Mars untuk menyelidiki planet ini lewat kameranya yang canggih. Di planet ini rover ini berfungsi sebagai laboratorium sains dengan salah satu kemampuannya yang luar biasa, yakni menganalisis susunan kimiawi serbuk-serbuk yang diperoleh lewat pengeboran permukaan-permukaan Mars yang dipilih. Rover ini (bobot 1 ton) dibawa oleh sebuah wahana antariksa NASA yang berbentuk piringan cembung, yang diluncurkan 26 November 2011, dan berhasil didaratkan di salah satu permukaan planet Mars pada 6 Agustus 2012. Sebelumnya sudah ada dua rover lain yang sudah didaratkan di planet ini (rover Spirit dan rover Opportunity).

Inilah rover Curiosity

Segera saja muncul berbagai pendapat kalangan pengamat amatiran, umumnya dari kalangan paranormal dan UFOlogis, bahwa foto itu betul-betul foto sebuah piramida di planet Mars, yang membuktikan di sana ada (atau pernah ada) alien-alien cerdas yang telah memiliki peradaban maju. Sebelumnya berbagai kalangan bukan-ilmuwan juga telah mengajukan klaim-klaim sensasional, berdasarkan foto-foto dari Curiosity dan rover-rover lainnya juga, bahwa di Mars ternyata telah ditemukan sebuah tengkorak, seekor gorilla, sosok perempuan, sebatang jari, seekor tikus, sepotong donat, sebuah helm, sebuah tuas pintu, sekuntum bunga, sebuah tulang paha, seekor iguana, bahkan sebuah pangkalan militer./47/ Belum ada klaim dari para amatiran hingga saat ini bahwa Curiosity telah menemukan alien hijau di planet merah Mars.

Mengapa mereka bisa melihat bentuk-bentuk luar biasa yang tertangkap kamera rover-rover yang ada di planet Mars? Menurut para psikolog, otak manusia terprogram secara neurologis untuk melihat dan menemukan bentuk-bentuk, pola-pola, makna-makna bahkan berbagai wajah dalam anekaragam foto dan gambar dan benda-benda acak lainnya―suatu fenomena yang dinamakan pareidolia. Ketimbang mengakui bahwa semua bentuk itu adalah bebatuan karang, para amatiran itu membiarkan pareidolia mengendalikan rasionalitas mereka.

Mari kita jenguk sejenak beberapa orang amatiran yang telah berkomentar tentang foto piramida Mars itu. Pengguna Youtube Paranormal Crucible, yang pertama kali menggali foto tersebut dan mengangkatnya ke permukaan, menyatakan bahwa “sebuah artefak luar biasa telah ditemukan di planet merah Mars oleh rover Curiosity. Karena ukuran objek ini mencapai ukuran sebuah mobil kecil, aku boleh berteori bahwa artefak ini bisa jadi adalah sebuah bebatuan bagian puncak sebuah piramida yang lebih besar, yang telah terkubur jauh di bawah permukaan Mars, atau bisa juga sebuah bentuk bebatuan pemberi tanda.”/48/

Para pengasuh Ecopolitics.org, tanpa menarik nafas menegaskan dengan yakin bahwa “geometri garis lurus dan simetri piramida ini menunjukkan bahwa piramida ini dibuat bukan oleh alam, bukan terbentuk cuma secara alamiah lewat kejadian-kejadian geologis. Piramida ini adalah salah satu bukti fotografis yang paling jelas yang sejauh ini sudah berhasil ditemukan dan dikumpulkan, yang menunjukkan bahwa bangunan-bangunan buatan memang ada di planet Mars, yang didirikan oleh peradaban-peradaban cerdas yang sudah berdiri sebelumnya.”/49/  

Tetapi apa pendapat para ilmuwan yang sedang menyelidiki planet Mars? NASA kini berpendapat bahwa bagian-bagian permukaan planet Mars dulu pernah ditutupi lelautan. Dulu, 4,3 milyar tahun lalu, ada lelautan di seluruh permukaan Mars, dengan kedalaman 137 meter hingga 1,6 km, yang memuat air lebih banyak dibandingkan di Laut-laut Arktik planet Bumi. Kini, 87 persen dari semua kandungan air ini telah hilang, menguap, memasuki angkasa luar, alhasil yang terlihat sekarang adalah gurun-gurun yang menyelimuti planet merah ini. Estimasi volume air dan sejarahnya di planet Mars ini dibuat berdasarkan data yang diperoleh NASA lewat teleskop sangat besar dan canggih yang diberi nama Observatorium Selatan Eropa di Chile, dan lewat Observatorium W.M. Keck, dan NASA Fasilitas Teleskop Infrared di Hawai./50/ Meskipun Mars pernah berisi sangat banyak air yang esensial bagi terbentuknya berbagai bentuk kehidupan, NASA hingga kini belum memperoleh bukti-bukti bahwa di planet ini pernah hidup organisme-organisme cerdas. Namun, NASA memprediksi, tidak akan lama lagi di planet ini akan diperoleh bukti-bukti adanya kehidupan mikrobial, jasad-jasad renik, bukan kehidupan alien-alien cerdas. Prediksi ini tampaknya akan terpenuhi karena sudah dikonfirmasi oleh NASA baru-baru ini, September 2015, bahwa di planet Mars yang sekarang terdapat air aktif yang mengalir dalam bentuk mineral-mineral yang terhidrasi. Penemuan ini diperoleh lewat spektrometer yang dipasang pada Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) yang sudah mengorbit planet Mars selama satu dekade sejak diluncurkan 12 Agustus 2005./51/

Kembali ke foto piramida Mars itu. Dr. Jim Bell, wakil ketua tim investigasi Mastcam NASA dan profesor astonomi di Arizona State University, Tempe, AS, menyatakan, “Mungkin sekali foto itu adalah foto sebuah kepingan batu karang volkanik, seperti nyaris semua bebatuan karang yang telah kita lihat dengan rover Curiosity di Mars. Persis seperti banyak bebatuan karang volkanik di planet Bumi, banyak bebatuan volkanik di Mars terpecah-pecah dan terpotong-potong yang akhirnya menghasilkan bentuk-bentuk bersudut sangat tajam. Batu karang volkanik pada foto sangat jelas telah terpotong-potong secara natural, membentuk sebuah piramida, di antara bebatuan volkanik padat. Kondisi ini sebetulnya tidak terlalu luar biasa, sama halnya dengan kondisi di Bumi juga.” Tim Mastcam juga menyatakan bahwa tinggi piramida pada foto tidak lebih dari 4 inchi (kurang lebih 10 cm), atau setinggi sebuah kaleng soda 8 ons. Jim Bell berkata, “foto itu memang menyenangkan untuk dipandang, tetapi sama sekali tidak membuat geger penduduk Bumi!”/52/

Adakah bebatuan karang di planet Bumi yang berbentuk piramida, seperti yang telah ditemukan di planet Mars? Dengan memanfaatkan jasa mesin cerdas Google, anda akan mendapatkan minimal tiga foto di bawah ini. Dan juga ingatlah bahwa jangankan bentuk-bentuk piramida, bentuk-bentuk bulat sempurna, lonjong sempurna, cakram sempurna, bulat pipih sempurna, dll, dapat dibuat alam pada bebatuan. Alam itu sangat hebat. Alam itu jugalah yang dengan sangat menakjubkan telah menciptakan kehidupan, lewat makromolekul DNA sebagai elemen-elemen esensial bangunan kehidupan, yang kemudian dibuatnya berevolusi hingga muncul organisme cerdas yang dinamakan homo sapiens di planet Bumi. Jangan sepelekan alam hanya karena anda mau berpendapat bahwa alien-alien cerdas itu ada meskipun bukti-bukti ilmiahnya tentang keberadaan mereka belum atau tidak ada.








Jadi, Internet memang membantu anda dengan sangat cepat dan efisien dalam mendapatkan info-info dan berita-berita ilmu pengetahuan dan teknologi, dan banyak temuan baru, serta hal-hal lain yang anda sedang cari-cari dan perlukan. Tetapi, hati-hati, tidak semua hal yang anda baca dan temukan via Internet adalah hal-hal yang benar dan mencerdaskan anda. Ada banyak hal bodoh dan tidak terpelajar yang juga terpasang di Internet. Berita-berita bodoh itu termasuk berita tentang piramida Mars itu yang mempropagandakan kepercayaan-kepercayaan paranormalis dan kalangan ufologis; dan juga, sudah lama terpasang, berita-berita bodoh bahwa NASA tidak pernah mendaratkan sejumlah astronot di permukaan bulan kita. Atau berita bodoh bahwa Holokaus itu tidak pernah terjadi. Atau bahwa serangan teror terhadap menara kembar WTC 11 September 2001, tidak pernah ada, dan yang ada adalah kejadian-kejadian yang sudah direkayasa pemerintah Amerika Serikat. Dan masih banyak lagi, dan semuanya terpusat pada teori-teori konspirasi. Faktanya ini: teknologi Internet yang sebetulnya diciptakan untuk mencerdaskan dunia lewat cara-cara demokratis, malah juga bisa memperbodoh banyak orang yang menggunakannya. Pendek kata, teknologi IT modern dapat mencerdaskan anda, tapi juga dapat membuat anda semakin dungu. Hendaklah anda bijak, cerdas dan jujur dalam memanfaatkan kemudahan yang diberikan oleh Internet.

Tetapi, terus terang, saya juga tergairahkan oleh sebuah kejadian hebat di bulan Januari 2014, ketika teleskop radio Parkes di New South Wales, Australia, menangkap sinyal ledakan-ledakan serangkaian gelombang radio yang sangat cepat (dinamakan Fast Radio Bursts atau FRBs) dalam real time (artinya: hanya ada selang waktu yang sangat pendek antara saat gelombang-gelombang radio ini diterima dan saat sinyal gelombang-gelombang ini diproses). Ada lima rangkaian sinyal radio yang ditangkap dengan masing-masing berselisih 187.5 cm-3, yang tampaknya memang disengaja dikirim dengan selisih antara sebesar itu (yakni 375, 562, 750, 937, 1125 cm-3). Peluang untuk kejadian ini terjadi secara kebetulan adalah 5:10.000. Selain itu, juga sudah diukur bahwa energi yang terpancar dari ledakan-ledakan gelombang radio ini setara dengan energi yang dikeluarkan Matahari selama satu bulan. Menurut Prof. John Learned dari Universitas Hawaii di Manoa dan Michael Hippke dari Institute for Data Analysis di Neukirchen-Vluyn, Jerman, yang bersama-sama mengkaji FRBs yang ditangkap teleskop radio Parkes ini, jika tidak didapat penjelasan alamiah atas asal-usul kejadian ini, maka suatu sumber artifisial (entah dari sumber buatan manusia, atau dari sumber lain yang dibuat bukan oleh manusia) harus dipertimbangkan. Jika manusia ditemukan bukan pengirimnya, maka ledakan-ledakan gelombang radio ini harus dipandang berasal dari alien cerdas di luar galaksi Bima Sakti./53/

Akhir kata, sangat diperlukan kewarasan dan rasionalitas dalam kita menyikapi berbagai berita tentang penampakan diri para alien dan UFO serta pesan-pesan mereka. Gerakan yang dinamakan UFO Cult atau kondisi UFO-Addicted harus kita hindari, karena keduanya sudah tidak berada di wilayah sains lagi. Obsesi dalam bentuk apapun tidak baik karena dapat merusak mental anda; begitu juga halnya dengan kondisi terobsesi pada alien-alien dan UFOs mereka.


Baca juga: 
Paradoks Fermi atau Silentium Universi
Tubuh diubah jadi cahaya, Mungkinkah?   

Catatan-catatan
 
/1/ David H. Bailey dan Jonathan M. Borwein, “Where Is ET? Fermi’s Paradox Turns 65”, Huffington Post Science. The Blog, 10 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/david-h-bailey/where-is-et-fermis-parado_b_7014044.html.


/2/ Lihat Ed Mazza, NASA Chief Scientist Ellen Stofan Predicts We'll Find Signs of Alien Life Within 10 Years, Huffington Post Science, 8 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/04/08/nasa-alien-life_n_7023134.html.

/3/ Lihat Lee Speigel, “Will ET Be Here Soon? NASA Brings Scientists, Theologians Together to Prepare”, Huffington Post, 22 September 2014 (updated 25 September 2014), pada http://www.huffingtonpost.com/2014/09/22/nasa-astrobiology-alien-search_n_5860714.html

/4/ Tentang proyek SETG NASA ini, lihat NASA, Astrobiology: Life in the Universe, “A Search for Extra-Terrestrial Genomes (SETG): An In-Situ Detector for Life on Mars Ancestrally Related to Life on Earth, pada https://astrobiology.nasa.gov/astep/projects/nra/nnh07zda001n-astid/a-search-for-extra-terrestrial-genomes-setg-an-in/.

/5/ Lihat artikel Sarah Fecht, Colonizing the Moon May Be 90 Percent Cheaper Than We Thought, Popular Science, 21 July 2015, pada http://www.popsci.com/colonizing-moon-may-be-90-percent-cheaper-we-thought.

/6/ Lihat analisis Chris Carberry dan Rick Zucker, “We Were Supposed to Be on Mars by Now. Why Arent We?”, Huffington Post Science The Blog, 20 March 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/chris-carberry/why-we-havent-gotten-to-mars_b_6965042.html.

/7/ Sten Odenwald, “Interstellar Travel: So Where Should We Go?”, Huffington Post Science The Blog, 2 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/dr-sten-odenwald/interstellar-travel-so-where-should-we-go_b_6971584.html.

/8/ Lihat video Youtube kuliah Stephen Hawking yang hadir dalam tubuh hologram-nya di Opera House, Sydney, Australia, 26 April 2015, pada https://youtu.be/wjeLMGFx7a0. Lihat juga reportase James Gerken, “Stephen Hawking Predicts Humans Wont Last Another 1,000 Years on Earth”, Huffingtonpost Science, 28 April 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/04/28/stephen-hawking-humanity-1000-years_n_7160870.html.

/9/ Lihat reportase Jacqueline Howard, Polar Wind on Saturns Moon Titan Makes It More Earth-Like Than Previously Thought, Huffington Post, 21 June 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/06/21/polar-wind-titan-earth-like_n_7622606.html. Untuk makalah ilmiah kajian ini, lihat Andrew J. Coates, Anne Wellbrock, et al., A new upper limit to the field-aligned potential near Titan, Geophysical Research Letter, 18 June 2015, pada http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/2015GL064474/full.

/10/ Adrian Berry, The Night Sky in January 2015: Titan, Future Home of Mankind, The Telegraph, 1 January 2015, pada http://www.telegraph.co.uk/news/science/space/nightsky/11318889/The-Night-Sky-in-January-2015-Titan-future-home-of-mankind.html.

/11/ Bandingkan luas galaksi Bima Sakti kita dengan galaksi tetangga kita, Andromeda, yang berdiameter 200.000 tahun cahaya; galaksi spiral M106 (NGC 425x) yang bergaristengah 60.000 tahun cahaya (berjarak 23,5 juta tahun cahaya dari Bumi). Galaksi terbesar dalam jagat raya kita adalah galaksi IC 1101 yang memiliki diameter 6.000.000 tahun cahaya. 


/12/ Lihat Irene Klotz, The Milky Way May Be 50 Percent Bigger Than Thought, DNews, 10 March 2015, pada http://news.discovery.com/space/galaxies/the-milky-way-may-be-50-percent-bigger-than-thought-150310.htm.

/13/ Lihat reportase Jessica Culler (editor), NASAs Kepler Discovers First Earth-Size Planet in the Habitable Zone of Another Star, NASA, 17 April 2014 (last updated 30 June 2015), pada http://www.nasa.gov/ames/kepler/nasas-kepler-discovers-first-earth-size-planet-in-the-habitable-zone-of-another-star.

/14/ Lihat reportase Seth Borenstein, 8.8 billion habitable Earth-size planets exist in Milky Way alone, NBCNews, 5 November 2013, pada http://www.nbcnews.com/science/space/8-8-billion-habitable-earth-size-planets-exist-milky-way-f8C11529186.

/15/ Lihat kuliah Stephen Hawking, “Life in the Universe, terpasang online pada http://www.hawking.org.uk/life-in-the-universe.html.


/16/ Stanley L. Miller, “A Production of Amino Acids Under Possible Primitive Earth Conditions, Science 117, Issue 3046 (15 May 1953), hlm. 528-529, format Pdf, pada http://www.abenteuer-universum.de/pdf/miller_1953.pdf. Lihat juga Stanley L. Miller dan Harold C. Urey, “Organic Compound Synthesis on the Primitive Earth, Science 130, Issue 3370 (31 July 1959), hlm. 245-251, pada http://www.sciencemag.org/content/130/3370/245; Antonio Lazcano dan Jeffry L. Bada, “The 1953 Stanley L. Miller Experiment: Fifty Years of Prebiotic Organic Chemistry, Springer Link. Origins of Life and Evolution of Biosphere Volume 33 (Issue 3) (June 2003), hlm. 235-242, pada http://link.springer.com/article/10.1023%2FA%3A1024807125069 dan juga http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/14515862.

/17/ Lihat Dwayne Brown dan Cathy Wesselby, “NASA-funded Research Discovers Life Built with Toxic Chemical, NASA, December 2, 2010, pada http://www.nasa.gov/topics/universe/features/astrobiology_toxic_chemical.html. Berita audiovisual tentang penemuan ini dapat diikuti dalam video Youtube https://youtu.be/JVSJLUIQrA0 (diunggah 2 Desember 2010). Lihat makalah tentang penelitian ini yang disusun oleh Felisa Wolfe-Simon, Jodi Switzer Blum, Ronald S. Oremland, et al., “A Bacterium That Can Grow by Using Arsenic Instead of Phosphorus, Science, 3 June 2011, Vol. 332, No. 6034, hlm. 1163-1166, doi: 10.1126/science.1197258 (published online December 2, 2010). Teks lengkap makalah ini tersedia di sini http://www.sciencemag.org/content/332/6034/1163.full.

/18/ Untuk falsifikasi temuan Felisa Wolfe-Simon, lihat Tobias J. Erb, Patrick Kiefer, Bodo Hattendorf, Detlef Guenther, Julia A. Vorholt, “GFAJ-1 Is an Arsenate-Resistant, Phosphate-Dependent Organism, Science, 27 July 2012, Vol. 337, No. 6093, hlm. 467–470, doi: 10.1126/science.1218455, pada http://www.sciencemag.org/content/337/6093/467. Juga Marshall Louis Reaves, Sunita Sinha, Joshua D. Rabinowitz, Leonid Kruglyak, Rosemary J. Redfield,  “Absence of Detectable Arsenate in DNA from Arsenate-Grown GFAJ-1 Cells, Science, 27 July 2012, Vol. 337, No. 6093, hlm. 470–473, doi: 10.1126/science.1219861, pada http://www.sciencemag.org/content/337/6093/470. 

/19/ Lihat Anna Davison, “The most extreme life-forms in the universe”, part 1 and part 2, Newscientist Space, June 26, 2008, pada http://www.newscientist.com/article/dn14208-the-most-extreme-lifeforms-in-the-universe.html#.VUdM8PB6DxI; dan pada http://www.newscientist.com/article/dn14209-the-most-extreme-lifeforms-in-the-universe-part-ii.html?full=true#.VUdLPPB6DxI.

/20/ Lihat reportase Institute of Physics, “Physicists Discover Inorganic Dust With Lifelike Qualities”, Science Daily, Aug 15, 2007, pada http://www.sciencedaily.com/releases/2007/08/070814150630.htm.

/21/ Teori panspermia dijabarkan oleh Svante August Arrhenius dalam bukunya Worlds in the Making: The Evolution of the Universe (New York: Harper and Row, 1908).

/22/ Lihat kajian terbaru tentang asteroid sebagai sumber air di planet Bumi oleh tim peneliti R. Raddi, B.T. Gaesicke, D. Koester, J. Girven, et al., “Likely detection of water-rich asteroid debris in a metal-polluted white dwarf”, Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, June 21, 2015, Vol. 450, Issue 2, hlm. 2083-2093, doi: 10.1093/mnras/stv701, terbit online pertama kali 6 May 2015, pada http://mnras.oxfordjournals.org/content/450/2/2083. Lihat juga reportase mutakhir Universitas Warwick tentang temuan asal-usul air di planet Bumi dengan judul “Fresh evidence for how water reached Earth found in asteroid debris”, Phys.org., 07 May 2015, pada http://phys.org/news/2015-05-fresh-evidence-earth-asteroid-debris.html. Artikel Preston Dyches juga informatif, “The solar system and beyond is awash in water”, Phys.org., 8 April 2015, pada http://phys.org/news/2015-04-solar-awash.html.

/23/ Lihat reportase Valeria Foncea, Charles E. Blue, et al., “Complex Organic Molecules Discovered in Infant Star System: Hints that Prebiotic Chemistry Is Universal”, ALMA, 8 April 2015, pada http://www.almaobservatory.org/en/press-room/press-releases/824-complex-organic-molecules-discovered-in-infant-star-system-hints-that-prebiotic-chemistry-is-universal. Makalah ilmiah kajian disk protoplanetari bintang MWC 480 dalam format Pdf, lihat Karin I. Öberg, Viviana V. Guzmán, Kenji Furuya, et al., “The cometary composition of a planetary disk as revealed by complex cyanides”, Almaobservatory.org., pada http://www.almaobservatory.org/images/newsreleases/ALMA_nature_oberg012415.pdf.

/24/ Lihat reportase “Space invaders? Metal ball containing bio matter could be alien seed, say British scientists”, RT Com, 18 February 2015, pada http://rt.com/uk/233507-metal-ball-alien-seed/.

/25/ Ucapan Dawkins ini dikutip dalam kolom Alan Boyle, ‘I’m an Atheist: Stephen Hawking on God and Space Travel”, NBCNews, 24 September 2014, pada http://www.nbcnews.com/science/space/im-atheist-stephen-hawking-god-space-travel-n210076. Untuk teks lebih lengkap, lihat Pablo Jáuregui, “Dawkins: ‘Es arrogante pensar que estamos solos en el Universo, El Mundo, 23 September 2014, pada http://www.elmundo.es/ciencia/2014/09/23/54208055268e3e505b8b456b.html.

/26/ Kutipan ini sering diasalkan pada Albert Einstein di awal tahun 2000-an; tapi hingga kini belum ditemukan sumber autentik untuk kutipan ini. Sumber paling awal yang memuat kutipan ini adalah The Gramaphone Volume 83, Issues 998-1000 (2005), oleh Sir Compton MacKenzie dan Christopher Stone, hlm. 87.


/27/ Albert Einstein, Cosmic Religion: With Other Opinions and Aphorisms (1931), hlm. 97; juga dalam Harry Holtzman, Transformation: Arts, Communication, Environment (1950), hlm. 138. Kelihatannya ini adalah pernyataan yang sudah diedit dari kutipan-kutipan lain yang nyaris sama, yang diucapkan saat Einstein diwawancarai oleh Viereck tahun 1929; lihat “What Life Means to Einstein: An Interview by George Sylvester Viereck”, The Saturday Evening Post (26 October 1929), hlm. 17. Naskah Pdf wawancara ini tersedia online pada http://www.saturdayeveningpost.com/wp-content/uploads/satevepost/what_life_means_to_einstein.pdf.

/28/ Jo Ann Boydston, ed., John Dewey. The Later Works, 1925-1953. Volume 4: 1929, The Quest for Certainty: A Study of the Relation of Knowledge and Action. Introduksi oleh Simon Toulmin (Illinois: Southern Illinois University, 1984, 2008), hlm. 247.

/29/ Pernyataan Arnold Toynbee ini termuat dalam Readers Digest edisi Oktober 1958; juga dikutip oleh National Conference on Social Welfare dalam The Social Welfare Forum (1968).

/30/ Arnold Toynbee, A Study of History: Abridgement of Volumes I to VI (by D. C. Somervell, ed.) (New York/Oxford: Oxford University Press, 1947), hlm. 273 (editors note).

/31/ Dikatakan Margaret Thatcher pada perjamuan makan para pejabat negara Sovyet 30 Maret 1987. Sumber: Maya Shwayder, The Twelve Best Margaret Thatcher Quotes, International Business Times, 8 April 2013, pada http://www.ibtimes.com/twelve-best-margaret-thatcher-quotes-1177601.  

/32/ Pesan ini dibuat Albert Einstein untuk anggota Kongres Robert Hale dari Portland, Maine (4 Desember 1946) yang selanjutnya akan disampaikan pada pertemuan para pemimpin dunia di Portland pada 11 Desember 1946. Dikutip dalam Otto Nathan dan Heinz Norden, eds., Einstein on Peace (Random House Value Publishing, Avenel 1981 edition), hlm. 397.

/33/ Steven Pinker, The Better Angels of Our Nature: Why Violence Has Declined (New York, N.Y.: Penguin Books, 2012; cetakan pertama 2011), hlm. 612.

/34/ Steven Pinker, The Better Angels of Our Nature, hlm. 696.   

/35/ Lihat David Cyranoski, “Scientists sound alarm over DNA editing of human embryos”, Nature, 12 March 2015, di http://www.nature.com/news/scientists-sound-alarm-over-dna-editing-of-human-embryos-1.17110.

/36/ Lihat reportase Andrew Pollack, Jennifer Doudna, a Pioneer Who Helped Simplify Genome Editing, The New York Times, 11 May 2015, pada http://www.nytimes.com/2015/05/12/science/jennifer-doudna-crispr-cas9-genetic-engineering.html.   

/37/ Selain saya, banyak orang yang juga berpikir ke arah ini, misalnya Ray Villard, “Is an alien message embedded in our genetic code?”, News Discovery, 1 April 2013, pada http://news.discovery.com/space/alien-life-exoplanets/could-an-alien-message-be-embedded-in-our-genetic-code-130401.htm#mkcpgn=emnws1 

/38/ Lihat reportase “Stephen Hawking: Humans Should Fear Aliens”, Huffington Post Tech, 25 June 2010, pada http://www.huffingtonpost.com/2010/04/25/stephen-hawking-aliens_n_551035.html; juga Casey Kazan, “Stephen Hawking: Why Isn’t the Milky Way ‘Crawling With Self-Designing Mechanical or Biological Life?’”, The Daily Galaxy, 10 July 2009, pada http://www.dailygalaxy.com/my_weblog/2009/07/-stephen-hawking-why-is-the-milky-way-not-crawling-with-selfdesigning-mechanical-or-biological-life.html.


/39/ Lihat Andy Borowitz, “Stephen Hawking: Aliens ‘No Longer Interested’ In Invading Earth”, Huffington Post. The Blog, 21 June 2010, pada http://www.huffingtonpost.com/andy-borowitz/stephen-hawking-aliens-no_b_619337.html.

/40/  Lihat reportase Ian Sample, “Alien search won’t doom planet Earth, say scientists who want to contact ET”, The Guardian, 12 February 2015, pada http://www.theguardian.com/science/2015/feb/12/alien-search-wont-doom-planet-earth-say-scientists-who-want-to-contact-et.

/41/ Lee Speigel, UFO Sighting: Strange Objects Zipping Across the Moon, HuffingtonPost Weird News, 16 October 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/10/16/ufo-flies-across-moon_n_5966592.html. Dengarkan juga pendapat-pendapat Carl Sagan tentang UFO dan insiden Roswell 1947 yang diungkapnya dalam wawancara radio 3 Mei 1996, terpasang di youtube http://youtu.be/_t5K3mW1PjE.

/42/ Jika anda mau melihat 15 foto awan-awan yang berbentuk luar biasa, sangat menakjubkan dan juga mengherankan, silakan masuk ke sini http://likes.com/misc/you-wont-believe-these-clouds-are-real?

/43/ Carl Sagan, Cosmos. Encyclopaedia Galactica. 14 December 1980. Episode 12. Lihat penggalan Cosmos yang diunggah 4 Februari 2008 pada youtube http://youtu.be/nAUCr9OorXU.

/44/ Lihat reportase Lindsay Deutsch, UFO or CIA? Agency takes credit for ’50s and ’60s sightings”, USA Today, 30 December 2014, pada http://www.usatoday.com/story/news/nation-now/2014/12/30/cia-spies-ufo-sightings/21058321/. Lihat juga laporan CIA tahun 1998 yang berjudul The CIA and the U-2 Program, 1954-1974, disusun oleh Gregory W. Pedlow and Donald E. Welzenbach, format Pdf, pada https://www.cia.gov/library/center-for-the-study-of-intelligence/csi-publications/books-and-monographs/the-cia-and-the-u-2-program-1954-1974/u2.pdf.

/45/ Lihat Jasper Hamill, The Roswell Slides: UFO researcher apologises after admitting dead ‘alien picture actually showed the mummified body of a child, Miror, 11 May 2015, pada http://www.mirror.co.uk/news/technology-science/science/roswell-slides-ufo-researcher-apologises-5680059.

/46/ Seth Shostak, Roswell Aliens Not So Alien, Huffington Post. The Blog, 25 May 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/seth-shostak/roswell-aliens-not-so-ali_b_7438830.html?.

/47/ Tentang 11 bentuk ilusif yang diklaim para amatiran sebagai petunjuk adanya kehidupan cerdas dan peradaban di planet Mars, lihat Macrina-Cooper-White, “These 11 Mysterious Objects Spotted on Mars Simply Aren’t What They Look Like”, Huffington Post Science, 9 January 2014, pada http://www.huffingtonpost.com/2014/09/02/11-rocks-on-mars-illusions_n_5697695.html.

/48/ Lihat video Youtube “Pyramid Found on Mars?”, Paranormal Crucible, 20 June 2015, pada https://youtu.be/szw9OvJzsp8.

/49/ Lihat Michael Salla, “NASA Curiosity Rover Photographs Pyramid on Mars”, Exopolitics.org, 20 June 2015, pada http://exopolitics.org/nasa-curiosity-rover-photographs-pyramid-on-mars/.

/50/ Lihat Dawyne Brown, Nancy Neal Jones dan Elizabeth Zubritsky, “NASA Research Suggests Mars Once Had More Water Than Earth’s Arctic Ocean”, NASA, 5 March 2015, pada https://www.nasa.gov/press/2015/march/nasa-research-suggests-mars-once-had-more-water-than-earth-s-arctic-ocean.

/51/ Lihat reportase Gina Anderson, ed., NASA Confirms Evidence That Liquid Water Flows on Todays Mars, NASA, 28 September 2015, pada https://www.nasa.gov/press-release/nasa-confirms-evidence-that-liquid-water-flows-on-today-s-mars. Editing mutakhir 29 September 2015.

/52/ Lihat David Freeman, “Mars ‘Pyramid’ Seen by NASA Rover Isn’t Quite What It Seems”, Huffington Post Science, 26 June 2015, pada http://www.huffingtonpost.com/2015/06/26/mars-pyramid-nasa-curiosity-rover-video_n_7665080.html. Perhatikan juga Brad Reed, “Morons Believe This Pyramid-Shaped Rock Proves There’s Life on Mars”, BGR, 24 June 2015, pada http://bgr.com/2015/06/24/life-on-mars-pyramid-rock/.

/53/ Lihat Paul Rodgers, Message from the Aliens: ‘187.5, Forbes, 2 April 2015, pada http://www.forbes.com/sites/paulrodgers/2015/04/02/message-from-the-aliens-187-5/. Lihat juga Michael Hippke, Wilfried F. Domainko, John G. Learned, Discrete steps in dispersion measures of Fast Radio Bursts, Cornel University Library. arXiv.org., 30 March 2015, pada http://arxiv.org/abs/1503.05245; Sarah Scoles, Is this ET? Mystery of strange radio bursts from space, New Scientist Space, 31 March 2015, pada http://www.newscientist.com/article/mg22630153.600-is-this-et-mystery-of-strange-radio-bursts-from-space.html#.VS_-f_C5K8g.