Friday, May 30, 2014

No neutrality in politics!




When you see a kid being hit by a physically big boxer, you can’t stand passively, just seeing, pretending to be taking a neutral position. In so far as you are a normal human being physically and mentally, you should take the side of the kid, you must help the kid by opposing and fighting against the boxer at the risk of your own life. If you just stand in neutrality, merely seeing the brutality, that means you take the side of the cruel boxer and support him to murder the kid. It essentially means that you are the same as the killer. 

Ponder on this saying of Martin Luther King, Jr. (1929-1968): “The ultimate tragedy is not the oppression and cruelty of the bad people, but the silence over that by the good people.”

That applies too in the political world. In politics you as a good person must take side, can’t be neutral. I take the side of honesty, truth, justice, integrity and dignity. My politics is politics of love. Love in the political world is critical love, not uncontrollable animal lust. 

When you see and feel that the politics of hatred and dishonesty is powerfully being implemented in this country to such an extent that the defenders of the politics of love and honesty are being innocently victimized and forcefully being pushed to the margins, you can’t stand in a neutral position. You must side with and defend and support the defenders of the politics of love and honesty. 

Consider deeply what the German poet and dramatist Bertolt Brecht (1898-1956) has said that “the worst illiterate is the political illiterate. He hears nothing, sees nothing, speaks nothing, and takes no part in the political life. He doesn’t seem to know that the cost of living, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depend on political decisions. He is even proud of his political ignorance and swells his chest saying that he hates politics. The imbecile doesn’t know that, from his political non-participation is born the prostitute, the abandoned child, and the worst thieves of all: the bad and corrupt politicians, the lackeys of exploitative multinational corporations.” 

Let’s us therefore move forward together, take part in the political life of our nation, even though we should go up very hard. 


Politik itu memihak!

Saat anda melihat seorang petinju berbadan besar sedang memukuli seorang anak kecil, anda tidak bisa berdiri pasif menonton saja, dengan dalih anda ingin netral. Sejauh anda seorang yang sehat jasmaniah dan rohaniah, anda harus memihak ke si anak, harus menolongnya, dan melawan si petinju, dengan mempertaruhkan nyawa anda sendiri. Jika anda bersikap netral, dan hanya melihat saja kebrutalan ini, itu berarti anda memihak si petinju keji itu dan mendukungnya untuk membunuh si anak. Pada dasarnya hal ini berarti anda sama dengan si pembunuh.

Renungkan ucapan ini, “Tragedi terburuk bukanlah penindasan dan kekejian orang jahat, tetapi didiamkannya hal itu oleh orang baik” (Marthin Luther King, Jr. [1929-1968]).

Begitu juga dalam dunia politik. Dalam politik anda sebagai orang yang baik harus memihak, tidak bisa netral. Saya memihak kejujuran, kebenaran, keadilan, integritas dan martabat. Politik saya politik cinta kasih. Cinta dalam konteks dunia politik adalah cinta yang kritis, bukan syahwat hewani yang tak terkontrol.


Saat anda melihat dan merasakan begitu kuatnya politik kebencian dan kebohongan dijalankan di negeri ini sampai-sampai para pembela politik cinta kasih dan kejujuran terdesak dan menjadi korban-korban tak bersalah, anda tidak bisa berdiri netral. Anda harus memihak, membela dan mendukung para pembela politik cinta kasih dan kejujuran.
 


Renungkanlah dalam-dalam apa yang dikatakan pujangga dan dramawan Jerman yang terkenal Bertolt Brecht (1898-1956) bahwa “buta terburuk adalah buta politik. Orang yang semacam ini tidak mendengar apapun, tidak melihat apapun, tidak mengatakan apapun, dan tidak berpartisipasi dalam kehidupan politik. Tampaknya dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang-kacangan, harga ikan, harga terigu, besarnya biaya sewa, harga sepatu dan obat-obatan, semuanya bergantung pada keputusan-keputusan politik. Dia bahkan membanggakan kebodohan politisnya dan dengan membusungkan dada berkoar bahwa dia membenci politik. Si pandir ini tidak tahu bahwa dari keengganannya berpolitik lahir para pelacur, anak terlantar, dan para perampok yang terburuk: para politikus busuk dan korup, dan antek-antek perusahaan-perusahaan multinasional yang mengeruk habis kekayaan negara.”

Karena itu, mari kita maju bersama, ambil bagian dalam kehidupan politik bangsa kita,  kendatipun kita harus berat mendaki.