Tuesday, January 21, 2014

Landasan-landasan filosofis bagi sains modern

Untuk memahami bagaimana sains modern berkeja, anda perlu kenal pikiran-pikiran Charles Sanders Peirce (1839-1914). Dia adalah pemikir yang dengan brilian memberi landasan-landasan filosofis pada sains modern. Darinya kita paham bahwa sains modern juga berpijak pada filsafat. Dia meletakkan landasan filosofis bagi metode saintifik empiris dalam dunia sains modern masa kini. 



Peirce menerima ide-ide rasionalisme Cartesian, tapi juga mengintegrasikannya dalam suatu keseluruhan yang melampaui rasionalisme. Menurut Peirce, konsep-konsep rasional dapat bermakna dan bisa mengabstraksi kesimpulan-kesimpulan empiris. Hal ini sudah jelas, sebab sains yang tidak rasional tentu bukanlah sains.

Peirce menyatukan penalaran induktif dan penalaran deduktif sebagai dua jenis reasoning yang saling melengkapi, bukan saling menyingkirkan. Tapi Peirce dengan kreatif menambah satu jenis reasoning lagi yang dinamakannya penalaran abduktif (“abduction reasoning”).

Penalaran abduktif: Jika ada banyak teori tentang suatu pengetahuan, teori yang paling superior adalah teori yang sangat mungkin lebih benar jika dibandingkan teori-teori lainnya yang inferior. Penalaran abduktif dipakai untuk tiba pada teori-teori yang lebih benar dibandingkan teori-teori lainnya. Ini berkaitan dengan kaidah Occam’s Razor yang akan dibeberkan nanti.

Tiga penalaran yang diajukan Peirce (induksi, deduksi, dan abduksi) kini menjadi fondasi konseptual utama dalam metode-metode saintifik modern yang bernalar.

Terhadap pertanyaan objek-objek apa saja yang menjadi fokus sains modern, Peirce menjawab demikian: objek-objek sains adalah hal-hal yang REAL, yang propertinya tidak bergantung pada persepsi manusia atas hal-hal ini. Hal-hal real ini ada secara objektif, terlepas dari persepsi si pengamat. Kata Peirce, setiap orang yang punya pengalaman yang cukup tentang hal-hal yang real akan sepakat mengenai kebenaran hal-hal yang real itu. Yang disebut REAL oleh Peirce dalam dunia sains sekarang disebut sebagai hal-hal yang empiris, yakni segala hal yang dapat ditangkap lima indra kita atau dengan bantuan instrumen-instrumen teknologis.

Hal yang sangat penting, kata Peirce, adalah bahwa semua kesimpulan sains selalu tentatif (sementara, tidak final, tidak absolut, dapat berubah sewaktu-waktu). Kata Peirce, rasionalitas metode sains tidak bergantung pada kepastian kesimpulan-kesimpulannya tapi pada wataknya yang selalu “self-corrective”, selalu mampu memperbaiki diri sendiri. Kekuatan sains terletak di situ, selalu mampu memperbaiki diri dan selalu tahu kapan harus memperbaiki diri. Kapan?

Kata Peirce, sains akan memperbaiki diri jika bukti-bukti yang real sudah tak sejalan lagi dengan pandangan-pandangan saintifik sebelumnya. Menyangkut metode-metode sains, Peirce menegaskan bahwa dengan terus-menerus dipakai, setiap metode saintifik akan membuat sains dapat mendeteksi dan mengoreksi kesalahan-kesalahannya sendiri. Tak usah diperintah siapapun. Peirce, dengan demikian, menegaskan bahwa semua pandangan saintifik bisa salah, fallible. Inilah yang dikenal sebagai fallibilisme Peirce. Peirce lebih jauh menyatakan bahwa lewat ujicoba terus-menerus, metode-metode saintifik akhirnya akan bermuara pada kebenaran yang makin integratif dan makin unifying.

Oh ya, jangan anda meremehkan sains karena wataknya yang bisa salah. Kendatipun semua pandangan sains bisa salah, ternyata sains efektif bekerja: anda setiap hari memakai berbagai teknologi produk sains, dan karena sains yang bisa salah ini kita sekarang sudah bisa menerbangkan wantariksa-wantariksa tanpa awak ke berbagai planet dalam tata surya kita. Sains itu real, dan menghasilkan hal-hal yang objektif. Kalau anda kekeh menyepelekan sains (mungkin karena kesalehan keagamaan anda), baiklah saya ajak anda untuk tidak munafik: tinggalkanlah semua produk sains, jangan memakainya sama sekali, lalu kita lihat apakah anda masih akan bisa hidup dalam zaman sekarang ini.

Penangkapan oleh lima indra manusia (atau dibantu berbagai instrumen) atas hal-hal yang real, kata Peirce, berhubungan dengan konsepsi rasional atas hal-hal real itu. Penangkapan realitas oleh lima indra kita yang dibantu oleh berbagai instrumen teknologis akan selalu sejalan dengan penjelasan-penjelasan rasional tentang realitas ini. Bahwa berbagai instrumen harus dipakai untuk membantu lima indra juga ditekankan oleh John Dewey (1859-1952), Bapak pragmatisme. 

Selain itu, kata Dewey, ide-ide baru akan dihasilkan oleh pemakaian instrumen-instrumen, lalu ide-ide baru ini juga akan berfungsi sebagai instrumen bagi eksperimen-eksperimen lain. Gagasan Dewey ini dinamakan instrumentalisme. Verifikasi, bagi Dewey dan para filsuf pragmatisme, haruslah dilakukan bagi setiap pernyataan saintifik yang belum dibuktikan. Inilah yang dinamakan verifikasionisme. Dalam empirisisme logis, prinsip verifikasi diberlakukan: setiap proposisi yang sepenuhnya tidak logis, atau yang tidak dapat diverifikasi, adalah proposisi yang kosong makna. 

Masih dari John Dewey: empirisisme ilmu pengetahuan akan terus berguna tanpa perlu melibatkan hal-hal yang tidak empiris atau yang supernatural. Masih menurut John Dewey, penjelasan-penjelasan supernatural tidak memberi nilai tambah apapun bagi pemahaman saintifik atas hal-hal yang real.

Nah, sekarang apa itu Occam’s Razor yang sudah dimunculkan di atas? Occam’s Razor atau Ockham’s Razor (Latin: lex parsimoniae, artinya “kaidah yang paling hemat kata”) adalah sebuah kaidah filosofis saintifik yang diajukan oleh teolog dan filsuf skolastik Inggris William dari Ockham (c. 1287-1347). Kaidah ini mencakup tiga kaidah elementer dalam dunia sains. 
  • Pertama, jangan membuat rumit hal-hal yang sebenarnya tidak rumit. 
  • Kedua, teori yang paling mungkin benar adalah teori yang paling ringkas dan paling sederhana dari antara teori-teori yang ada yang lebih berbelit dan rumit. 
  • Ketiga: Jika anda mau menjelaskan apapun, mulailah selalu dengan memakai hal-hal yang secara empiris sudah diketahui, jangan membuat lompatan-lompatan iman yang tidak memerlukan bukti-bukti dan teori-teori besar saintifik, tetapi penuh dengan asumsi-asumsi. Makin sedikit asumsi-asumsi dipakai dalam sebuah penjelasan atas suatu fenomena, penjelasan yang hemat dan sederhana ini menjadi sebuah pilihan ilmiah yang didahulukan.   
Itulah keseluruhan isi terminologi Occam’s Razor yang melahirkan penalaran abduktif yang diajukan Peirce, seperti sudah disebut di atas. Jika anda memakai penalaran abduktif, anda akan memilih kesimpulan yang paling sederhana dan paling ekonomis, dan melepaskan kesimpulan yang rumit dan tidak ekonomis. Kesederhanaan konsep-konsep dalam dunia sains ditekankan oleh Jacob Bronowski ketika dia menulis bahwa “Einstein adalah seorang yang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang luar biasa sederhana. Dan apa yang diperlihatkan oleh karya-karyanya adalah bahwa ketika jawaban-jawabannya juga sederhana, maka anda dapat mendengar Allah yang sedang berpikir.”  

Itulah landasan-landasan filosofis bagi sains yang diajukan Peirce, dan juga oleh John Dewey. Tentu saja, tulisan saya ini jauh dari lengkap; saya tulis hanya untuk menyediakan ancang-ancang bagi anda untuk menelusuri sendiri lebih jauh dua tokoh besar ini, selain juga William James (1842-1910). 

Anda musti tahu, para filsuf pragmatisme berkonsensus bahwa filsafat apapun harus memperhitungkan metode-metode dan wawasan-wawasan saintifik dalam uraian-uraian filosofis mereka jika mereka ingin filsafat mereka mempunyai kewibawaan berbicara tentang kebenaran. 

Semoga anda ke depannya tidak kacau lagi dengan mencampur aduk sains dan agama. Agama beroperasi di atas landasan-landasan yang sama sekali berbeda.