Sunday, November 3, 2013

Alegori kereta perang filsuf Plato



sang kusir sangat disusahkan oleh kuda hitamnya yang binal

Saya mau mengemukakan pandangan filsuf Plato (427 SM-347 SM) tentang fungsi akal atau nalar manusia. Dalam karya dialog-nya yang berjudul Phaedrus (246a-254e) (ditulis 360 SM), Plato mengajukan sebuah alegori (metafora) tentang kereta perang yang ditarik dua ekor kuda bersayap, yang dikendalikan oleh seorang kusir sebagai petarung./1/

Satu ekor kudanya berwarna hitam, berada di sebelah kiri, dan seekor lagi putih di sebelah kanan. Untuk bisa naik ke dunia ilahi (dalam filsafat Plato dinamakan dunia Forma) sang kusir dalam medan tempur harus bisa mengendalikan kedua ekor kuda itu.

Kuda putih di sebelah kanan melambangkan keberanian, heroisme, semangat dan moralitas. Kuda ini cukup diperintah lewat kata-kata sang kusir. Kuda hitam di sebelah kiri melambangkan emosi dan perasaan manusia yang binal. Kuda ini binal, harus dipecut terus-menerus untuk mengendalikannya. Kuda hitam ini terus-menerus mendatangkan masalah kepada sang kusir.
Sang kusir kereta perang itu menggambarkan akal atau nalar manusia, yang harus mengendalikan kedua ekor kudanya, khususnya kuda hitamnya. Jika sang kusir gagal mengendalikan kuda hitamnya, kereta perangnya tak akan naik ke kawasan ilahi untuk mendapatkan pencerahan, tapi akan terjungkal ke dalam kawasan kegelapan.

Bagi Plato, hanya orang yang dengan akal dan nalarnya bisa mengendalikan emosi dan perasaannya, yang akan mengalami pencerahan. Bagi Plato, emosi dan perasaan manusia sangat buruk, selalu akan menghalangi aktivitas nalar, lalu menutup pintu masuk ke dunia pencerahan. Emosi dan perasaan anda, menurut Plato, hanyalah seekor kuda binal yang akan menghambat laju kereta perang, karena itu harus ditaklukkan dengan sekuat tenaga. Emosi dan perasaan anda hanya akan memerosotkan kemanusiaan anda, menjadikan anda manusia budak dengan pikiran yang dangkal dan tak berkembang. Jadi, semakin anda rasional dan bernalar, semakin agung diri anda, dan pintu gerbang pencerahan terbuka lebar untuk anda.

Semakin piawai sang kusir mengendalikan kuda hitamnya yang binal, semakin besar peluang kereta perang masuk ke kawasan pencerahan. Semakin piawai anda memakai akal dan nalar anda untuk mengendalikan emosi dan perasaan anda, semakin besar peluang anda untuk mengalami pencerahan.

Begitulah pandangan Plato tentang kedudukan dan fungsi akal, nalar, dan emosi anda. Pandangan Plato atas supremasi akal di atas emosi melatarbelakangi semangat Pencerahan Eropa abad ke-18, dan peradaban Barat modern. Bapak filsafat modern René Descartes (1596-1650), yang ikut meletakkan landasan-landasan rasionalisme bagi peradaban Barat modern, sangat dikenal lewat sebuah pernyataan pendeknya Cogito ergo sum, artinya Aku berpikir, karena itu aku ada. Baginya, pikiran anda membentuk eksistensi dan jati diri anda. Tak salah lagi, jika intelligence atau persisnya kecerdasan logis matematis menjadi ciri manusia Barat modern yang diutamakan, sebagai sebuah kebajikan. Dalam peradaban Barat modern, semakin tinggi nilai IQ (Intelligence Quotient) anda, semakin terhormat diri anda.

Tentu saja anda tak harus setuju dengan Plato. Dalam sejumlah tradisi filosofis Timur, tempat penting juga diberikan kepada emosi dan perasaan manusia. Dalam tradisi-tradisi filosofis ini bukan hanya olah akal, tetapi olah rasa dan olah kalbu juga dipandang sangat penting bagi pertumbuhan jiwa manusia. Meskipun Buddhisme sangat menonjolkan keutamaan pikiran sebagai pembentuk jatidiri setiap manusia, dalam meditasi Buddhis para praktisi juga dilatih untuk, lewat meditasi, dapat mengembangkan rasa cinta kepada segenap bentuk kehidupan dalam alam ini (disebut meditasi metta bhavana). Bahkan sensation juga menjadi fokus utama dalam teknik-teknik meditasi yang dikembangkan, misalnya, oleh guru agung kelahiran Burma, Satya Narayan Goenka (30 Januari 1924-29 September 2013), yang dikenal sebagai meditasi Vipassana atau meditasi “mindfulness”./2/

Kita semua tentu sangat menjunjung rasionalitas dan nalar manusia, yang memungkinkan sains dibangun dan dikembangkan terus-menerus. Seorang yang rasional dan selalu bernalar itu tentu sangat bagus, tapi sama sekali belum cukup. Dia masih harus dilengkapi dengan rasa cinta jika ingin menjadi manusia yang utuh. Untuk menjadi ada, dibutuhkan dari anda bukan hanya pikiran, tapi juga cinta. Jadi, ketika anda berpikir dan mencintai, di saat itulah anda ada. Saat anda tak bisa lagi mencintai sesama, saat itu juga anda telah kehilangan kemanusiaan anda; anda tidak exist lagi. Cogito ergo sum masih belum lengkap, harus ditambah dengan ego diligentes ergo sum (Aku mencintai, karena itu aku ada).

Bayangkan jika manusia hanya punya akal, tapi tak punya perasaan cinta. Jika begitu, apa jadinya dengan dunia ini? Tanpa cinta, seseorang yang rasional akan bisa sama dengan seekor binatang buas yang haus darah. Perang antar-manusia yang membuat kehidupan sangat tak enak dijalani tidak sedikit lahir dari pikiran-pikiran manusia, yang paling rasional sekalipun. Korupsi yang dilakukan para pejabat negara yang saleh beragama juga dimulai di dalam pikiran-pikiran mereka yang rasional, sebelum akhirnya diwujudkan dalam tindakan-tindakan mereka yang melawan hukum dan menghancurkan rumahtangga mereka sendiri.

Masih jauh lebih baik seseorang itu bodoh tapi hidupnya penuh cinta ketimbang seseorang itu cerdas tapi hati dan pikirannya penuh kelancungan, kebencian dan kedurjanaan. Namun jauh lebih baik lagi jika seseorang itu cerdas dan rasional, sekaligus hidupnya penuh cinta dan kebajikan. Untuk anda menjadi cerdas, rasional sekaligus bajik dan penuh cinta kasih, tanggungjawab terletak di pundak anda sendiri: anda perlu membangun semangat dan kemauan membaja untuk mencapainya, lewat banyak gemblengan diri dan latihan-latihan. Kekuatannya ada di dalam diri anda sendiri, bukan di luar diri anda. The power is within you, not without.

Sama seperti akal harus dilatih supaya berkembang, begitu juga cinta: berlatih mencintai akan membuat cinta kita kepada sesama lebih matang dan berkembang. Akal dan cinta itu bukan sesuatu yang dalam kondisi ready made jatuh dari langit begitu saja ke pangkuan anda. Keduanya akan tumbuh dan berkembang makin matang jika ditanam, lalu dipupuk dengan rajin, kemudian dilatih sangat keras dan digunakan dengan tekun, mulai dari sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon yang rimbun dan berbuah banyak. Akal itu kerap salah dan kerap juga melahirkan kebencian; karena itu akal juga harus dikontrol oleh akal yang lebih tinggi dan rasa cinta. Mustahil akal dan nalar akan melahirkan kebajikan dan keadilan jika tidak dinafasi oleh cinta kasih.

Kita juga perlu tahu apa pandangan neurosains tentang fungsi emosi dan perasaan manusia ketika manusia harus mengambil keputusan-keputusan. Apakah tanpa emosi dan perasaannya terlibat, seseorang yang rasional akan bisa mengambil keputusan-keputusan dengan mantap dan dalam waktu yang relatif cepat? Neurosaintis Jonah Lehrer di dalam bukunya How We Decide/3/ menegaskan bahwa tanpa keterlibatan emosi dan perasaan, seorang manusia yang paling rasionalpun tak bisa mengambil keputusan-keputusan apapun dalam kehidupannya, bahkan yang paling bersahaja. Mengapa demikian?

Dalam organ otak kita ada suatu sirkuit jaringan neural yang diberi nama orbitofrontal cortex (OFC), yang terletak persis di belakang mata, di bagian bawah korteks frontalis (pusat kecerdasan, logika, nalar dan moralitas dalam otak). Kendatipun berbagai emosi diproduksi dalam sistim limbik otak, sirkuit OFC berfungsi untuk mengintegrasikan emosi-emosi yang intens ke dalam proses rasional pengambilan keputusan yang menjadi fungsi dari korteks frontalis. Pada sisi lain, ada bagian-bagian korteks frontalis yang baru berfungsi normal jika emosi-emosi terlibat. Sirkuit OFC ini menghubungkan perasaan dan emosi kita yang dimunculkan oleh otak “primitif” (area batang otak dan amygdala, yang membentuk sistem limbik) dengan arus pikiran-pikiran sadar kita. Hanya jika hubungan ini terbangun, barulah kita dapat mengambil keputusan-keputusan rasional penting dalam waktu yang relatif cepat. Jika OFC rusak atau tidak berfungsi normal (karena tumor otak atau perdarahan pembuluh darah, atau sehabis operasi, dan berbagai penyebab lain), kita tak dapat lagi mengambil keputusan-keputusan, yang paling bersahaja sekalipun, kendatipun korteks frontalis kita sehat. OFC yang rusak akan melenyapkan kepribadian yang semula ada pada seseorang, menjadikannya seorang lain yang dirasakan asing oleh orang-orang terdekatnya.

Jadi, untuk korteks frontalis yang menjadi pusat rasionalitas dan kemampuan nalar berfungsi dengan baik, emosi dan perasaan manusia harus terlibat. Kondisi neural yang semacam ini yang diperlukan untuk suatu aktivitas rasional berjalan dengan baik tidak sejalan dengan pandangan Plato yang menempatkan emosi dan perasaan manusia pada tempat yang sangat rendah, hanya sebagai impuls-impuls destruktif yang menghambat pencerahan manusia.

Maka, marilah kita menjadi manusia yang utuh, yang berpikir, mengambil keputusan dan bertindak secara utuh, sebagai organisme rasional sekaligus emosional, yang memiliki dimensi kognitif sekaligus dimensi afektif. Akal dan nalar membutuhkan perasaan cinta untuk menghasilkan berbagai kebajikan dalam dunia ini. Akal dan nalar akan lumpuh, atau malah menjadi berbahaya, jika tak diberi tenaga kehidupan oleh perasaan cinta. Sebaliknya, cinta kita juga akan dimatangkan dan tumbuh menjadi cinta yang cerdas jika akal dan nalar ikut memberi arah kepadanya. Hanya jika terjadi sinkroni yang dinamis antara sang kusir dan gerak-gerik kedua ekor kudanya, kereta perangnya akan bisa terbang ke atas, masuk ke kawasan ilahi dan di sana sang kusir akan mendapatkan pencerahan-pencerahan yang diperlukan dunia.

Akhir kata, temuan-temuan kita di atas tentu dapat memberi sumbangan berharga bagi kehidupan keagamaan setiap orang. Jika kita menginginkan kehidupan keagamaan kita utuh, maka akal budi dan cinta dalam diri kita harus saling mengisi dan saling memperkuat. Tidak mungkin kita dapat beragama dengan benar, jika akal budi tidak kita pakai. Tidak mungkin kita dapat beragama dengan baik, jika cinta tidak mengisi batin kita. Untuk dapat beragama dengan sehat, kita memerlukan akal budi sekaligus cinta. Hanya jika terjadi sinkroni yang dinamis dan mantap antara akal dan cinta kita, keberagamaan kita akan menjadi keberagamaan yang utuh, menyehatkan, membahagiakan, dan menyembuhkan. 

-----------------

/1/ Teks lengkap Phaedrus tersedia online di http://classics.mit.edu/Plato/phaedrus.html.

/2/ Rahib Buddhis kelahiran Jerman, Nyanaponika Thera, mendeskripsikan “mindfulness” sebagai keterpusatan pikiran kita hanya pada fakta-fakta nyata yang terdapat di dalam persepsi-persepsi kita yang terbentuk entah lewat lima indra jasmaniah atau lewat pikiran... tanpa memberi reaksi terhadap semua fakta ini, baik reaksi lewat tindakan, ucapan maupun lewat komentar dalam benak.” Lihat bukunya yang berjudul The Heart of Buddhist Meditation (York Beach, ME: Samuel Weiser, 1954, 1962, 1996), hlm. 30. 

/3/ Jonah Lehrer, How We Decide (New York, N.Y.: Mariner Books/Houghton Mifflin Harcourt, 2009, 2010). hlm. 15 ff.