Friday, October 11, 2013

Akal dan wahyu: bersahabat atau bermusuhan?



menimbang-nimbang iman dan akal....

Dalam agama-agama teistik (Yudaisme, Kristen, dan Islam), ketika orang berbicara tentang wahyu (Yunani: apokalipsis), yang mereka maksudkan adalah hal-hal yang diungkap dan disingkapkan oleh Allah di dunia adikodrati kepada manusia di dunia kodrati lewat berbagai perantara-Nya, dan bukan hal-hal yang dihasilkan oleh akal budi dan kemampuan-kemampuan mental lainnya yang dimiliki manusia.

Konsep teologis tentang wahyu ini ditopang juga oleh konsep-konsep teologis lain tentang watak dan sifat Allah, yakni Allah yang memberi wahyu itu adalah Allah yang mahatahu, mahamelihat, mahabisa, mahakekal, mahahadir, mahamenjawab, mahamenuntun, tak pernah berubah, tetap selamanya, kekal abadi, dulu, sekarang maupun di masa yang akan datang. Allah selalu permanen kendatipun dunia manusia dan kehidupan mereka selalu impermanen. Dengan demikian, wahyu Allah yang sudah dituliskan juga dipercaya sudah sempurna, selalu relevan, berlaku mutlak untuk segala zaman dan segala tempat, tak pernah usang, selalu permanen, tak pernah salah, selalu mengikat.

Karena Allah juga dipercaya selalu jelas berbicara dan berkomunikasi dengan manusia lewat wahyu-Nya yang sudah dituliskan, maka wahyu Allah juga dipandang sudah jelas secara harfiah, tak bisa ambigu, sehingga hanya harus diterima apa adanya, dan dijalankan apa adanya, tak perlu lagi ditafsirkan atau ditafsir ulang oleh manusia kapanpun dan di manapun. Pandangan seperti ini tentu saja mengabaikan fakta bahwa di dalam kitab suci apapun selalu terdapat ketidakjelasan-ketidakjelasan, mulai dari kata-kata yang bermakna majemuk, kalimat-kalimat yang sukar dipahami karena sintaksisnya tidak apik, sampai pada tersedianya banyak versi teks yang satu sama lain berbeda, yang dengan susah-payah harus dipilih salah satunya untuk dijadikan versi standard.

Selain itu, untuk mempertahankan bahwa wahyu yang sudah diterima dan sudah dituliskan itu wahyu yang sepenuhnya murni dari Allah, disusun sebuah akidah bahwa si penerima dan pencatat wahyu dijaga betul-betul oleh Allah sehingga segala hal yang didengar, dilihat dan dicatat benar-benar sama dengan apa yang Allah telah perdengarkan dan perlihatkan, tanpa bias dan penyimpangan sekecil apapun. Untuk memperkokoh akidah tentang kemurnian wahyu yang sudah diterima dan dicatat, ada tradisi-tradisi keagamaan yang menggambarkan si penerima wahyu sebagai orang yang buta huruf, tak terdidik, atau berada dalam kondisi ekstatis ketika mendengar dan menerima wahyu. Dalam datang dan diterimanya wahyu, dipandang hanya Allah yang berperan dan berinisiatif; peran si manusia penerima wahyu nol, sama sekali tak ada.  

Pemahaman dan keyakinan tentang wahyu semacam itu sudah merata dipegang dan dipertahankan oleh umat kebanyakan di dalam setiap agama. Akibatnya, ketika memakai kitab suci mereka yang dipercaya sebagai wahyu Allah, mereka hanya tinggal mengutip ayat-ayat dan memberlakukannya kepada orang lain dan kepada diri mereka sendiri. Bahkan para pemuka keagamaan yang telah lama belajar agama juga melakukan praktek yang sama: mengutip ayat-ayat kitab suci begitu saja, merapalnya berulang-ulang, dan menerapkannya apa adanya, at face value.

Itulah konsep tentang wahyu yang seasli-aslinya, yang dipertahankan dengan sangat yakin oleh umat kebanyakan dalam setiap agama. Di hadapan wahyu yang mereka pandang autoritatif, mereka mematikan akal mereka. Mereka tak kenal apa yang sekarang dinamakan hermeneutik, dan juga tak berniat mempelajarinya.

Kalau memakai hermeneutik, mereka tak bisa lagi memahami teks-teks kitab suci secara harfiah dan juga tak mungkin lagi memberlakukan banyak pesan teks-teks kitab suci secara harfiah begitu saja di zaman dan tempat mereka. Hermeneutik hanya mungkin diperkenalkan kepada, dan dipelajari dan dijalankan oleh, orang beragama yang sudah mau memakai akal budi mereka untuk memahami wahyu ilahi. Ketika akal budi dipakai untuk memahami teks-teks kitab suci, maka hermeneutik baru mungkin dijalankan, dan teks-teks mulai tampak memerlukan interpretasi dan re-interpretasi terus-menerus sejalan dengan tempat-tempat yang berganti dan zaman yang terus berubah.

Jika anda memakai hermeneutik dalam memahami teks-teks kitab suci, anda pertama-tama akan memahami teks-teks itu dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaan para penulis kitab suci di zaman dulu di tempat lain, dan dalam konteks sastra-nya dalam kitab suci. Untuk keperluan ini, anda memerlukan ilmu sejarah, antropologi budaya, arkeologi, ilmu bahasa, beranekaragam kritik sastra, yang anda gunakan secara interdisipliner. Ketika anda sudah menemukan pesan-pesan teks-teks suci dalam konteks zaman dulu di dunia yang lain dari dunia anda, anda selanjutnya masuk ke tahap hermeneutik kedua, yakni mengevaluasi dengan kritis apakah pesan-pesan teks kitab suci yang sedang anda pahami relevan atau tidak relevan lagi untuk dunia anda di zaman sekarang. Inilah dua langkah hermeneutik yang kalau anda jalankan, anda tak akan menjadi literalis. Kalau anda menemukan sebuah pesan teks suci tak relevan lagi dalam dunia masa kini di tempat anda, tetapi anda masih ingin memakai teks ini, anda perlu melakukan re-interpretasi cerdas dan bertanggungjawab atas teks ini. 

Konsekwensi lainnya dari pemakaian hermeneutik dalam memahami kitab suci adalah pemahaman atas wahyu murni tak bisa lagi dipertahankan. Ketika akal budi bekerja dalam proses hermeneutik, pemahaman atas wahyu mengalami banyak perubahan. Wahyu mulai dipandang tak terpisahkan dari kebudayaan, alam pemikiran dan konteks kehidupan si penerima wahyu. Wahyu mulai dipandang datang dan sampai ke si penerimanya yang tidak pasif, tidak buta huruf, tetapi berperan aktif lewat akal, pengalaman dan kebudayaannya, ketika menerima dan menuliskan wahyu. Bahkan si penerima wahyu di zaman kuno pun dipandang sudah menafsirkan dan membentuk ulang wahyu yang diterimanya, ketika dia memahami wahyu dari perspektif-perspektif dan kepentingan-kepentingan tertentu. Penafsiran ulang terus berlanjut ketika teks-teks kitab suci memasuki tempat-tempat dan zaman-zaman lain yang berbeda radikal dari tempat dan zaman ketika wahyu semula diterima. Interpretasi dan re-interpretasi juga tak terelakkan ketika wahyu diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain supaya dengan cepat dapat dibaca dan dipahami oleh orang-orang yang tidak memahami bahasa-bahasa asli kitab-kitab suci. Setiap penerjemahan selalu sebuah penafsiran, dan penerjemahan sendiri adalah sebuah langkah hermeneutis kultural yang cerdas.

Pengakuan bahwa ketika wahyu-wahyu dituliskan pertama kali di zaman kuno, para penerima dan penulis wahyu juga memakai akal budi mereka, mencapai puncaknya ketika diyakini bahwa wahyu Allah bukan hanya terdapat di dalam kitab-kitab suci, tetapi juga ditemukan di luar kitab-kitab suci, yakni di dalam pikiran-pikiran manusia, yang muncul dan berkembang tanpa kontrol apapun dari wahyu skriptural atau dari lembaga-lembaga keagamaan. Konsep tentang akal budi sebagai wahyu dipertahankan dalam teologi naturalis. Di dalam ruang teologi naturalis, ilmu pengetahuan pun, sebagai produk akal budi yang bekerja secara sistematis metodikal, dipandang sebagai wahyu Allah. Di dalam ruang kerja teologi naturalis, Allah dan alam jalin-menjalin, tak terpisah, dunia adikodrati dan dunia kodrati berinteraksi dan saling mengisi. 

Di kalangan gereja Roma Katolik, dikenal pepatah-pepatah bagus yang cocok dipasang dalam ruang teologi naturalis, antara lain gratia non destruit, sed supponit et perficit naturam (rakhmat tidak membinasakan tetapi mengandaikan adanya dunia kodrati dan menyempurnakannya) atau gratia praesupponit naturam (rakhmat mengasumsikan adanya dunia kodrati) atau gratia elevat naturam (rakhmat meninggikan dunia kodrati). Jadi, berkaitan dengan wahyu (sebagai rakhmat) dan akal budi (sebagai bagian dunia kodrati), akal budi tidak antagonistik terhadap wahyu, malah oleh rakhmat ilahi akal budi yang bisa salah disempurnakan dan diangkat ke status yang tinggi, dan rakhmat baru bisa bekerja jika sebelumnya sudah ada akal budi. 

Jika perspektif teologi naturalis dipakai, maka wahyu pun dipandang tak pernah mencapai titik akhir atau garis finish, tetapi progresif, terus-menerus muncul dan datang, sejalan dengan aktivitas-aktivitas rasional manusia yang tak pernah berhenti, yang melahirkan sains yang tak pernah mencapai titik final, tapi terus berkembang dari saat ke saat, dari zaman ke zaman, semakin maju dan semakin inklusif dan integratif. Di dalam dunia teologi naturalis, beragama adalah berpikir dan bertindak rasional dan saintifik. Di dalam rumah teologi naturalis, tak ada ortodoksi atau heterodoksi, tak ada finalitas dan absolutisme; yang ada adalah kemajemukan perspektif dan relativisme, sejalan dengan kemampuan akal dan sains untuk terus-menerus melahirkan pandangan-pandangan baru yang tak akan pernah diabsolutkan. Dengan demikian, Allah di dalam teologi naturalis adalah Allah yang selalu ada di depan, yang terus dinanti dan diharapkan, yang terus berubah, yang tak hadir di kekinian, yang terus dikejar tetapi selalu luput ketika mau ditangkap dan dikuasai, the elusive God.

Tentu saja, hermeneutik dan teologi naturalis yang sudah digambarkan ringkas di atas, hanya akan diterima oleh orang-orang modern yang masih mau beragama, dan akan ditolak dan ditentang dan dihujat habis-habisan oleh para religius puritan fundamentalis. Selama konsep asli wahyu dipertahankan, akal budi akan selalu dimusuhi oleh mereka. Sebagai seorang penganut fideisme (“hanya iman yang benar”) tokoh besar reformasi gereja Martin Luther pernah menulis, Semua pasal pengakuan iman Kristen kita yang Allah telah wahyukan di dalam Firman-Nya, jika diperhadapkan pada akal, akan sungguh-sungguh mustahil, absurd, dan salah, dan lagi, Akal sama sekali tak menyumbang apapun kepada iman.... Sebab akal adalah musuh terbesar iman; akal tak pernah membantu hal-hal spiritual.

Jika wahyu ilahi dipandang tak memerlukan akal budi manusia, wahyu sebagai wahyu dan akal sebagai akal memang keduanya akan selalu bertentangan. Mari sekarang kita bandingkan keduanya sebagai dua hal yang berdiri sendiri-sendiri.
  • Akal itu hasil kerja neuron-neuron dalam otak kita, bagian dari biologi manusia, sedangkan wahyu itu diklaim datang dari langit di luar otak manusia, tak ada hubungannya dengan biologi manusia.
  • Subjek akal adalah manusia natural yang memiliki otak. Subjek wahyu adalah Allah yang tak memiliki raga dan dipercaya diam di dunia supernatural. Dengan demikian, akal dipertanggungjawabkan oleh manusia, sedangkan wahyu oleh Allah yang tak boleh digugat.
  • Wahyu diklaim harus diterima begitu saja, tak boleh diragukan, selalu benar. Akal itu bisa salah, selalu bertanya, dan harus didebat dengan cerdas dalam ruang publik.
  • Saat akal melahirkan sains, akal bekerja dengan landasan bukti-bukti empiris. Wahyu diklaim benar begitu saja, tak memerlukan bukti-bukti empiris, dan setiap orang yang meminta bukti-bukti kebenaran wahyu Allah akan dihardik dan dibungkam dan dilabelkan sesat.
  • Akal bisa melahirkan kejahatan. Wahyu diklaim datang untuk memberi kebaikan buat manusia dan mendorong manusia berbuat bajik, kendatipun banyak sekali orang yang percaya pada wahyu Allah melakukan berbagai tindak kejahatan dan kekerasan atas nama Allah atau dengan berlindung di dalam nama Allah. 
  • Akal terbatas kendatipun oleh kerja akal sains terus berkembang tanpa batas. Wahyu diklaim tak terbatas, berlaku kekal sekali sudah datang. 
  • Semua hal yang dihasilkan akal tak bisa diabsolutkan, selalu relatif, harus dikaji ulang. Wahyu dipandang absolut dan tak boleh dikaji ulang.
  • Akal mempunyai kemampuan mengoreksi diri, dan kerap dikoreksi. Wahyu dipandang berlaku mutlak, tak bisa salah, tak memerlukan koreksi, dan tak memiliki kemampuan mengoreksi diri.
  • Akal manusia modern muncul dari evolusi panjang otak manusia. Wahyu tak mengenal evolusi, dipercaya datang langsung dari dunia adikodrati, langsung ada dalam kondisi sempurna dan final.
  • Akal melahirkan sains dan teknologi yang kini sedang mengendalikan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Wahyu memunculkan agama-agama dengan segala akidah dan ritualnya yang dipandang mengikat masing-masing komunitas keagamaan.
  • Akal dipandang berwibawa karena memberi kemampuan bernalar pada manusia yang memampukannya berpikir logis dan rasional. Wahyu berwibawa karena dipercaya datang dari Allah, kendatipun karena wahyu orang sering berpikir dan bertindak tidak logis dan irasional.
  • Akal tidak mau begitu saja ditundukkan oleh iman, sekuat apapun iman ini, dan terus mencari bukti-bukti untuk tiba pada kebenaran-kebenaran. Wahyu harus diterima benar hanya dengan iman saja, dan akal harus tunduk pada kemauan iman.
  • Wahyu diberi wewenang menggugat akal karena wahyu dipandang berada di atas otoritas akal budi. Akal tidak diberi wewenang menggugat wahyu, karena akal dipandang lebih rendah dari wahyu.
  • Akal mendorong manusia berjuang keras untuk bertahan hidup dan membangun kepercayaan diri anda yang besar. Wahyu meminta anda berserah diri penuh pada Allah, dan mendorong anda untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk celaka yang tak ada artinya dan serba lemah dalam segala hal, yang seluruh jalan kehidupannya sudah ditetapkan sebelumnya oleh Allah.
  • Akal membuat anda terus belajar dan menjadi makin cerdas dan berpikiran kritis. Wahyu kerap memusuhi, menindas dan mematikan pemikiran kritis dan akal sehat.
  • Akal membawa anda ke masa depan tanpa akhir, yang memberi anda tugas-tugas baru untuk anda selesaikan dan teruskan ke generasi-generasi selanjutnya. Wahyu umumnya menambatkan anda di zaman lampau, yang harus anda bawa dan pindahkan ke zaman anda sendiri sekalipun zaman anda sudah berubah radikal dibandingkan zaman ketika wahyu diklaim datang.
  • Wahyu dibatasi umumnya dalam satu kitab suci dalam setiap agama. Akal melahirkan banyak buku tanpa henti, yang ditulis oleh banyak pemikir agung dunia ini, yang melahirkan banyak pemikiran besar yang dapat dikata bertahan abadi dalam dunia ini.
  • Akal tak pernah mati, terus hidup dan berkembang dari zaman ke zaman, melahirkan peradaban-peradaban besar. Agama-agama yang bersumber dari wahyu banyak yang sudah punah, misalnya agama-agama Yunani-Romawi kuno, agama-agama Mesir kuno (misalnya monoteisme yang menyembah Dewi Isis sebagai Tuhan yang mahaesa), kekristenan Yahudi asli (yang dibangun Rasul Yakobus, saudara Yesus), agama-agama gnostik, dan seterusnya.
  • Akal mendorong kita menguak misteri-misteri alam tanpa henti. Wahyu menjaga misteri-misteri alam yang dipercaya dan dijaga sebagai misteri-misteri ilahi. Karena tunduk pada wahyu, orang mematikan rasa ingin tahunya, yang sebetulnya menjadi salah satu pendorong kuat lahirnya sains.
  • Akal tak dipandang sakral dan ilahi sehingga tak disembah. Wahyu dipandang sakral, kerap disamakan dengan Allah sendiri dan, karenanya, tak jarang juga disembah. Bahkan para penganut monoteisme yang menjunjung tinggi tawhid, sadar atau tidak sadar, telah terjatuh ke dalam dosa syirik ketika mempertuhan agama mereka atau wahyu agama mereka. 
  • Akal tak diklaim serba tahu dan serba menjawab. Wahyu diklaim serba tahu dan serba menjawab, kendatipun dalam realitanya agama-agama dunia sekarang ini makin tidak fungsional dan makin tidak signifikan dalam kehidupan masyarakat modern. 
  • Wahyu mendorong orang jadi fanatik dan beriman membuta. Akal yang panjang membuat orang terbuka dan berpandangan luas.
  • Wahyu tak boleh dimodernisasi, harus dipertahankan apa adanya ketika datang ke dalam dunia manusia pada zaman-zaman kuno. Akal membawa kita masuk ke zaman modern dan di situ kita berpikir modern.
Jadi, in the final analysis, akal sebagai akal dan wahyu sebagai wahyu memang tidak bisa sejalan, yakni jika keduanya saling menganulir, kecuali jika akal juga dipandang sebagai wahyu, dan wahyu dipandang memerlukan akal dan juga sebaliknya, sebagaimana dipahami dalam teologi naturalis. Pertanyaannya sekarang: Apakah anda menerima teologi naturalis? Sebaiknya ya, sebab teologi naturalis akan mendorong anda untuk cerdas beragama.