Friday, October 11, 2013

Akal dan wahyu: bersahabat atau bermusuhan?



Menimbang-nimbang wahyu, iman dan akal. Sebuah kebajikan agung di era modern.


AKAL dan WAHYU: BERSAHABAT atau BERMUSUHAN?

Sebuah penjelajahan menuju sang Mentari

Ioanes Rakhmat

N.B.
Editing mutakhir 24 April 2018

Dalam tulisan ini, saya menyajikan dan menawarkan suatu posisi yang tidak klise, yang bukan itu itu juga sejak dulu, tentang hubungan antara akal dan wahyu. Perlu keberanian untuk melangkah maju dan keterbukaan pikiran jika orang mau mendapatkan cahaya Mentari lewat tulisan ini. Jendela-jendela hati dan pikiran perlu dibuka supaya sinar sang Surya di pagi hari dapat masuk ke rumah akal dan hati.

Konsep tradisional wahyu

Dalam agama-agama (mono)teistik, ketika orang berbicara tentang wahyu (Yunani: apokalipsis), yang mereka maksudkan adalah hal-hal yang diungkap dan disingkapkan oleh Allah di dunia adikodrati kepada manusia di dunia kodrati lewat berbagai perantara-Nya, dan bukan hal-hal yang dihasilkan oleh akal budi dan kemampuan-kemampuan mental lainnya yang dimiliki manusia.

Konsep teologis tentang wahyu ini ditopang juga oleh konsep-konsep teologis lain tentang watak dan sifat Allah, yakni Allah yang memberi wahyu itu adalah Allah yang mahatahu, mahamelihat, mahabisa, mahakekal, mahahadir, mahamenjawab, mahamenuntun, tak pernah berubah, tetap selamanya, kekal abadi, dulu, sekarang maupun di masa yang akan datang. 

Dalam konsep itu, Allah selalu permanen kendatipun dunia manusia dan kehidupan mereka selalu impermanen. Allah itu satu entitas agung yang sudah selesai. Tidak ada proses pengembangan dan kemajuan lagi dalam diri Allah meski jagat raya belum berakhir, masih akan ada untuk kurun yang sangat panjang ke depan, belum atau tak akan pernah lenyap dan tak pernah selesai mengembang.

Dengan demikian, wahyu Allah yang sudah dituliskan juga dipercaya telah sempurna, sudah selesai, abadi, selalu relevan, berlaku mutlak untuk segala zaman dan segala tempat, tak pernah usang, selalu permanen, tak pernah salah, selalu benar, selalu mengikat.

Selain itu, untuk mempertahankan bahwa wahyu yang sudah diterima dan sudah dituliskan itu wahyu yang sepenuhnya murni dari Allah, disusun sebuah akidah lain. Yakni bahwa si penerima dan pencatat wahyu dijaga betul-betul oleh Allah atau dinafasi oleh Allah atau diilhamkan oleh Allah sehingga segala hal yang didengar, dilihat dan dicatat benar-benar sama dengan apa yang Allah telah perdengarkan dan perlihatkan, tanpa bias dan penyimpangan sekecil apapun. 

Untuk memperkokoh akidah tentang kemurnian wahyu yang sudah diterima dan dicatat, ada tradisi-tradisi keagamaan dalam banyak agama yang menggambarkan si penerima wahyu sebagai orang yang buta huruf, tak terdidik, atau berada dalam kondisi ekstatis ketika mendengar dan menerima wahyu. 

Menurut pendapat itu, dalam datang dan diterimanya wahyu, hanya Allah yang berperan dan berinisiatif; peran si manusia penerima wahyu nol, sama sekali tak ada. Dengan asumsi ini, dibangunlah asumsi kedua bahwa wahyu ilahi itu murni. Jika tidak murni, bukan wahyu.

Mata panah hanya satu, dari langit menukik tajam ke Bumi; tak ada respon yang sadar dari si insan Bumi penerima wahyu dengan dia melesatkan anak panah juga yang matanya terarah ke langit dari Bumi. Hanya satu arah. Tak ada interkomunikasi. Tak ada dialektika. Tak ada dialog. Tak ada penafsiran atas wahyu ilahi saat wahyu ini diterima.

Pemahaman dan keyakinan tentang wahyu semacam itu sudah merata dipegang dan dipertahankan oleh umat dan bahkan oleh kalangan terdidik dalam kebanyakan komunitas keagamaan. 

Akibatnya, ketika memakai kitab suci yang dipercaya sebagai wahyu Allah, mereka hanya tinggal mengutip ayat-ayat dan memberlakukannya kepada orang lain dan kepada diri mereka sendiri. Bagi mereka, apa yang ditulis pada ayat-ayat, itulah harfiah yang mereka harus lakukan. 

Ingatlah, cara tinggal pakai ini, tinggal comot teks lalu terapkan apa adanya, mendatangkan banyak risiko, bahkan bisa membahayakan siapapun yang melakukannya, dan tak jarang membuat manusia masa kini terasing jauh dari zaman sekarang dan dari kebudayaan sendiri.

Bahkan ada juga para pemuka keagamaan yang telah lama belajar agama juga melakukan praktek yang sama: mengutip ayat-ayat kitab suci begitu saja, merapalnya berulang-ulang, dan menerapkannya apa adanya, at face value.

Di kalangan Kristen umum diajarkan bahwa bukan ilmu pengetahuan, tapi hanya bimbingan Roh Kudus yang dikirim Allah yang dapat menyingkapkan makna dan pesan teks-teks Alkitab sebagai wahyu kepada setiap orang Kristen yang sedang mencari kehendak Tuhan dan membaca Alkitab. Tentu saja bimbingan Roh Kudus dalam kenyataannya akan diyakini secara subjektif, berbeda-beda dari satu orang Kristen ke orang Kristen lainnya. Tidak ada kriteria objektifnya. Dan membuat orang Kristen tidak tahu ilmu pengetahuan. 

Itulah konsep yang seasli-aslinya tentang wahyu ilahi, yang dipertahankan dengan sangat yakin oleh kebanyakan orang dalam setiap agama. 

Selalu ada ketidakjelasan, kenapa?

Karena Allah juga dipercaya selalu jelas berbicara dan berkomunikasi dengan manusia lewat wahyu-Nya yang sudah dituliskan, maka wahyu Allah juga dipandang sudah jelas secara harfiah atau secara literal, tak bisa ambigu. Alhasil, wahyu hanya harus diterima apa adanya, sebagai wahyu murni, dan dijalankan apa adanya, tak perlu lagi ditafsirkan atau ditafsir ulang oleh manusia kapan pun dan di mana pun. 

Pandangan seperti itu tentu saja mengabaikan fakta bahwa di dalam kitab suci apapun selalu terdapat ketidakjelasan-ketidakjelasan, kecil atau besar, mulai dari kata-kata yang bermakna majemuk, kalimat-kalimat yang sukar dipahami karena sintaksisnya tidak apik, sampai pada tersedianya banyak versi teks yang satu sama lain berbeda, yang dengan susah-payah harus dipilih salah satunya untuk dijadikan versi standard. 

Tambahan lagi, zaman terus bergerak maju, kebudayaan berubah, tempat berpindah. Akibatnya, tercipta kesenjangan sejarah dan kesenjangan budaya antara zaman, dunia dan budaya yang menjadi dipan kelahiran kitab-kitab yang dipercaya diwahyukan dan zaman, dunia dan budaya pembaca kitab-kitab keagamaan tersebut di masa kini dan di berbagai tempat. 

Dua kesenjangan ini ada yang sangat lebar dan dalam, yang membuat pihak sana dan pihak sini terasing satu sama lain. 

Sekaligus juga, dua kesenjangan ini membuat makna kata-kata selalu bergeser atau berubah. Banyak kata yang jadi tak bermakna lagi dan perlu diganti kata-kata lain yang sudah atau masih harus diciptakan. Juga kebudayaan-kebudayaan berganti.

Alhasil, akan selalu ada problem tekstual, problem kesejarahan dan problem kebudayaan, di setiap saat orang zaman sekarang mau memahami teks-teks keagamaan yang berasal dari zaman-zaman yang sangat lampau dan tempat-tempat yang jauh. 

Ilmu hermeneutik

Nah, jika wahyu dipandang otoritatif, maka orang akan mematikan akal mereka ketika sedang berhadapan dengan teks-teks keagamaan. Mereka tak kenal apa yang sekarang dinamakan hermeneutik, dan juga tak berniat mempelajarinya.

Kalau memakai hermeneutik, mereka tak bisa lagi memahami teks-teks kitab suci secara literal dan juga tak mungkin lagi memberlakukan banyak pesan teks-teks kitab suci secara literal begitu saja di zaman dan tempat mereka. 

Hermeneutik hanya mungkin diperkenalkan kepada, dan dipelajari dan dijalankan oleh, orang beragama yang sudah mau memakai akal budi mereka untuk memahami wahyu ilahi. 

Ketika akal budi dipakai untuk memahami teks-teks kitab suci, maka hermeneutik baru mungkin dijalankan, dan teks-teks mulai tampak memerlukan interpretasi dan re-interpretasi terus-menerus sejalan dengan tempat-tempat yang berganti dan zaman yang terus berubah.

Jika anda memakai hermeneutik dalam memahami teks-teks kitab suci, anda pertama-tama akan memahami teks-teks itu dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaan para penulis kitab suci di zaman dulu di tempat lain, dan dalam konteks sastra-nya dalam kitab suci. 

Untuk keperluan itu, anda memerlukan ilmu sejarah, antropologi budaya, arkeologi, ilmu bahasa, beranekaragam kritik sastra, kajian-kajian sosiologis, dan lain-lain, yang anda gunakan secara interdisipliner dan dukung-mendukung.

Ketika anda sudah menemukan pesan-pesan teks-teks suci dalam konteks zaman dulu di dunia yang lain dari dunia anda, anda selanjutnya masuk ke tahap hermeneutik kedua. Yakni mengevaluasi dengan kritis apakah pesan-pesan teks kitab suci yang sedang anda pahami relevan atau tidak relevan lagi untuk dunia anda di zaman sekarang. 

Langkah kedua ini juga langka keilmuan. Anda memerlukan sekian ilmu pengetahuan yang berinteraksi untuk dapat mengenali dan memahami serta mendeskripsikan konteks zaman dan tempat anda hidup sehari-hari di abad ke-21 ini. Anda perlu tahu betul hal-hal apa yang sedang berlangsung di dalamnya dan ke mana akan bergerak, dan apa pandangan-pandangan dunia serta kesenian dan kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang menyelimuti kita semua sekarang. Ini juga bukan hal yang mudah. 

Itulah dua langkah hermeneutik yang kalau anda jalankan, anda tak akan menjadi literalis. 

Kalau anda menemukan sebuah pesan teks suci sudah tak relevan lagi dalam dunia masa kini di tempat anda, tetapi anda masih ingin memakai teks ini, anda perlu melakukan re-interpretasi cerdas dan bertanggungjawab atas teks ini. 

Ada lebih dari satu pendekatan dalam melakukan reinterpretasi teks-teks keagamaan yang berasal dari era pramodern dan prailmiah. Tidak bisa sembarangan dan asal kena. Hal ini tidak dibahas pada kesempatan ini.

Faktanya, adakah wahyu murni?

Konsekwensi lainnya dari pemakaian hermeneutik dalam memahami kitab suci adalah pemahaman atas wahyu murni tak bisa lagi dipertahankan

Ketika akal budi bekerja dalam proses hermeneutik, pemahaman atas wahyu mengalami banyak perubahan. Wahyu mulai dipandang tak terpisahkan dari kebudayaan, sistem sosial, alam pemikiran dan konteks kehidupan si penerima wahyu. 

Wahyu mulai dipandang datang dan sampai ke si penerimanya yang tidak pasif, tidak buta huruf, tetapi berperan aktif lewat akal, pengalaman dan kebudayaannya, sistem sosial dan sistem nilai masyarakatnya, ketika menerima dan menuliskan wahyu yang tentu saja harus dipahami si penerima wahyu.

Bahkan si penerima wahyu di zaman kuno pun dipandang sudah menafsirkan dan membentuk ulang wahyu yang diterimanya, ketika dia memahami wahyu dari perspektif-perspektif dan kepentingan-kepentingan tertentu.

Begitu juga, membaca teks-teks asli kitab suci apapun yang ditulis di zaman dulu, memerlukan interpretasi dari si pembaca di masa selanjutnya yang berpikir dan bergaul dengan menggunakan bahasa ibu mereka, bukan bahasa asli teks-teks keagamaan. 

Penafsiran ulang terus berlanjut ketika teks-teks kitab suci memasuki tempat-tempat dan zaman-zaman lain yang berbeda radikal dari tempat dan zaman ketika wahyu semula diterima. 

Interpretasi dan re-interpretasi juga tak terelakkan ketika wahyu diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain supaya dengan cepat dapat dibaca dan dipahami oleh orang-orang yang tidak memahami bahasa-bahasa asli kitab-kitab suci. 

Setiap penerjemahan selalu sebuah penafsiran, dan penerjemahan sendiri adalah sebuah langkah hermeneutis kultural yang cerdas. Setiap penerjemah bahasa harus orang yang terdidik, terlatih dan berpengalaman luas, dan kenal banyak kebudayaan. Kenapa? Karena menerjemahkan teks-teks dari zaman yang sangat lampau dan dari kebudayaan dan sistem sosial yang berbeda, menimbulkan banyak kesulitan dan persoalan pelik.

Menerjemahkan itu bukan sekadar mengganti kata suatu teks kuno dengan kata lain dari bahasa lain yang dianggap sepadan, tetapi membuat makna dasariah teks yang ditangkap pendengar atau pembaca zaman dulu juga dapat kita tangkap di masa kini dalam kebudayaan keseharian kita yang berbeda. Ini hal yang sulit. Dapat menangkap tidak otomatis sama dengan relevan. Selain itu, makna dasariah yang kita dapat tangkap sekarang tidak pernah bisa sepenuhnya sama dengan makna teks seutuhnya dalam tangkapan mental orang zaman dulu.

Teologi naturalis

Pengakuan bahwa ketika wahyu-wahyu dituliskan pertama kali di zaman kuno, para penerima dan penulis wahyu juga memakai akal budi mereka, mencapai puncaknya ketika diyakini bahwa wahyu Allah bukan hanya terdapat di dalam kitab-kitab suci, tetapi juga ditemukan di luar kitab-kitab suci, yakni di dalam pikiran-pikiran manusia, yang muncul dan berkembang tanpa kontrol apapun dari wahyu skriptural atau dari lembaga-lembaga keagamaan. 

Tentu akal budi bisa dan tak jarang salah. Tapi ketika akal budi bekerja dan yang dihasilkannya ilmu pengetahuan, maka setiap ilmu pengetahuan, by definition, selalu memiliki kemampuan untuk mengoreksi diri. Dalam sikon inilah, skeptisisme menjadi suatu kebajikan besar dalam dunia ilmu pengetahuan. 

Konsep tentang akal budi sebagai wahyu dipertahankan dalam teologi naturalis

Di dalam ruang teologi naturalis, ilmu pengetahuan pun, sebagai produk akal budi yang bekerja secara sistematis metodikal, dipandang sebagai wahyu Allah. 

Di dalam ruang kerja teologi naturalis, Allah dan alam jalin-menjalin, tak terpisah. Dunia adikodrati dan dunia kodrati berinteraksi dan saling mengisi, tapi dalam pengertian non-mitologis karena interaksi tersebut memerlukan rasionalitas insani. 

Di kalangan gereja Roma Katolik, dikenal pepatah-pepatah bagus yang cocok dipasang dalam ruang teologi naturalis, antara lain:

Gratia non destruit, sed supponit et perficit naturam (karunia ilahi tidak membinasakan tetapi mengandaikan adanya dunia kodrati dan menyempurnakannya) 

Gratia praesupponit naturam (karunia mengasumsikan adanya dunia kodrati)

Gratia elevat naturam (karunia meninggikan dunia kodrati)

Jadi, wahyu (sebagai gratia, karunia, anugerah) tidak antagonistik dengan akal budi atau rasionalitas (sebagai bagian dunia kodrati, naturam).

Malah oleh karunia ilahi akal budi yang bisa salah disempurnakan dan diangkat ke status yang tinggi. 

Pada pihak lain, karunia baru bisa bekerja jika sebelumnya sudah ada akal budi. Tanpa akal budi, karunia jadi tak bisa dipahami atau tanpa makna.

Jika perspektif teologi naturalis dipakai, maka wahyu pun dipandang tak pernah mencapai titik akhir atau garis finish, tetapi progresif, berproses dialektis, terus-menerus muncul dan datang, sejalan dengan aktivitas-aktivitas rasional manusia yang tak pernah berhenti. 

Aktvitas rasional ini melahirkan sains yang tak pernah mencapai titik final, tapi terus berkembang dari saat ke saat, dari zaman ke zaman, semakin maju dan semakin inklusif dan integratif. 

Di dalam dunia teologi naturalis, beragama adalah berpikir dan bertindak rasional dan saintifik, dalam proses yang tak pernah selesai. 

Di dalam rumah teologi naturalis, tak ada ortodoksi atau heterodoksi, tak ada finalitas dan absolutisme. Yang ada adalah kemajemukan perspektif dan relativisme, sejalan dengan kemampuan akal dan sains untuk terus-menerus melahirkan pandangan-pandangan baru yang tak akan pernah diabsolutkan. 

Dengan demikian, Allah di dalam teologi naturalis adalah Allah yang selalu ada di depan, yang terus dinanti dan diharapkan, yang terus berubah, berproses. Jika tampak hadir di kekinian, Allah terus dikejar, dan selalu luput ketika mau ditangkap dan dikuasai, the elusive God.

Tentu saja, hermeneutik dan teologi naturalis yang sudah digambarkan ringkas di atas, hanya akan diterima oleh orang-orang modern yang masih mau beragama, dan akan ditolak dan ditentang dan dihujat habis-habisan oleh para religius puritan fundamentalis. 

Selama konsep asli wahyu murni dipertahankan, akal budi akan selalu dimusuhi oleh mereka, dan mereka mengambil sikap mental antisains.

Kenapa akal ditakuti?

Sebagai seorang penganut fideisme (“hanya iman yang benar”) tokoh besar reformasi gereja di Jerman abad ke-16, Martin Luther, pernah menulis, “Semua pasal pengakuan iman Kristen kita yang Allah telah wahyukan di dalam Firman-Nya, jika diperhadapkan pada akal, akan sungguh-sungguh mustahil, absurd, dan salah”, dan lagi, “Akal sama sekali tak menyumbang apapun kepada iman.... Sebab akal adalah musuh terbesar iman; akal tak pernah membantu hal-hal spiritual.”

Pendapat Luther yang ekstrim itu, jika diperhadapkan pada ilmu pengetahuan kognisi dan neurosains, jelas salah total. 

Kemampuan beriman, kemampuan mempercayai sesuatu, kemampuan emosional, kebutuhan spiritual yang timbul, bersumber dari otak yang sama yang menghasilkan kapasitas neural insani untuk berpikir logis dan bernalar dan membangun ilmu pengetahuan. Semua bagian otak dengan fungsi-fungsi yang berbeda bekerja secara interkonektif dan dalam jejaring neural yang tidak terkoyak.

Jauh sebelum Martin Luther, Santo Augustinus (354-430 M), yang dipuja dalam gereja dari abad ke abad, dengan terbuka mengutuki rasa ingin tahu (kuriositas) yang mendorong manusia untuk berpikir logis linier dalam kerangka relasi sebab dan akibat, cara berpikir ilmiah. Tulis Augustinus:

“Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari.”

Ya, ada konflik!

Jika wahyu ilahi dipandang tak memerlukan akal budi manusia, wahyu sebagai wahyu dan akal sebagai akal, maka memang keduanya akan selalu bertentangan. 

Mari sekarang kita bandingkan keduanya sebagai dua hal yang berdiri sendiri-sendiri.

• Akal itu hasil kerja neuron-neuron dalam otak kita, bagian dari biologi manusia, sedangkan wahyu itu diklaim datang dari langit di luar otak manusia, tak ada hubungannya dengan biologi manusia.

• Subjek akal adalah manusia natural yang memiliki otak. Subjek wahyu adalah Allah yang tak memiliki raga dan dipercaya diam di dunia supernatural. Dengan demikian, akal dipertanggungjawabkan oleh manusia, sedangkan wahyu oleh Allah yang tak boleh digugat.

• Wahyu diklaim harus diterima begitu saja, tak boleh diragukan, selalu benar. Akal itu bisa salah, selalu bertanya, butuh koreksi, dan harus didebat dengan cerdas dalam ruang publik.

• Saat akal melahirkan sains, akal bekerja dengan landasan bukti-bukti empiris. Wahyu diklaim benar begitu saja, tak memerlukan bukti-bukti empiris, dan setiap orang yang meminta bukti-bukti kebenaran wahyu Allah akan dihardik dan dibungkam dan dilabelkan sesat.

• Akal bisa melahirkan kejahatan. Wahyu diklaim datang untuk memberi kebaikan buat manusia dan mendorong manusia berbuat bajik, kendatipun banyak sekali orang yang percaya pada wahyu Allah tak malu-malu untuk melakukan berbagai tindak kejahatan dan kekerasan atas nama Allah atau dengan berlindung di dalam nama Allah. 

• Akal terbatas kendatipun oleh kerja kumulatif akal sains terus berkembang tanpa batas. Wahyu diklaim tak terbatas, berlaku kekal sekali sudah datang. Timbul pertanyaan: Bukankah pernyataan "Berlaku kekal sekali sudah datang" adalah juga suatu pembatasan?

• Semua hal yang dihasilkan akal tak bisa diabsolutkan, selalu relatif, harus dikaji ulang. Wahyu dipandang absolut dan tak boleh dikaji ulang.

• Akal mempunyai kemampuan mengoreksi diri, dan kerap dikoreksi. Wahyu dipandang berlaku mutlak, tak bisa salah, tak memerlukan koreksi, dan tak memiliki kemampuan mengoreksi diri.

• Akal manusia modern muncul dari evolusi panjang organ otak manusia yang memunculkan neokorteks. Wahyu tak mengenal evolusi, dipercaya datang langsung dari dunia adikodrati, langsung ada dalam kondisi sempurna dan final, bisa dalam waktu relatif singkat, atau bisa juga dalam kurun yang panjang bertahap-tahap.

• Akal melahirkan sains dan teknologi yang kini sedang mengendalikan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Wahyu memunculkan agama-agama dengan segala akidah dan ritualnya yang dipandang mengikat masing-masing komunitas keagamaan. Tak ada agama apapun yang melahirkan terobosan-terobosan keilmuan dan teknologis baru, meski banyak orang yang beragama, karena cerdas, berpendidikan tinggi dan berilmu dan kreatif, berhasil menjadi ilmuwan-ilmuwan besar. 

• Akal dipandang berwibawa karena memberi kemampuan bernalar pada manusia yang memampukannya berpikir logis dan rasional. Wahyu berwibawa karena dipercaya datang dari Allah, kendatipun karena wahyu orang sering berpikir dan bertindak tidak logis dan irasional.

• Akal tidak mau begitu saja ditundukkan oleh iman, sekuat apapun iman ini, dan terus mencari bukti-bukti untuk tiba pada kebenaran-kebenaran. Wahyu harus diterima benar hanya dengan iman saja, dan akal harus tunduk pada kemauan iman.

• Wahyu diberi wewenang menggugat akal karena wahyu dipandang berada di atas otoritas akal budi. Akal tidak diberi wewenang menggugat wahyu, karena akal dipandang lebih rendah dari wahyu. Padahal, bagaimana wahyu bisa dibaca, didengar, dimengerti dan dicerna, jika akal tidak bekerja?

• Akal mendorong manusia berjuang keras untuk bertahan hidup dan membangun kepercayaan diri yang besar dan menciptakan serta mengembangkan peradaban. Wahyu meminta orang berserah diri penuh pada Allah, dan mendorong mereka untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk celaka yang tak ada artinya dan serba lemah dan tak boleh punya kemauan sendiri dalam segala hal, dan seluruh jalan kehidupan mereka dipandang sudah ditetapkan atau digariskan sebelumnya oleh Allah.

• Akal membuat anda terus belajar dan menjadi makin cerdas dan berpikiran kritis. Wahyu kerap memusuhi, menindas dan mematikan pemikiran kritis dan akal sehat dan, apalagi, akal ilmiah yang lebih tinggi.

• Akal membawa anda ke masa depan tanpa akhir, yang memberi anda tugas-tugas baru untuk anda selesaikan dan teruskan ke generasi-generasi selanjutnya. Wahyu umumnya menambatkan anda di zaman lampau, yang harus anda bawa dan pindahkan ke zaman anda sendiri sekalipun zaman anda sudah berubah radikal dibandingkan zaman ketika wahyu diklaim datang.

• Wahyu dibatasi umumnya dalam satu kitab suci dalam setiap agama. Akal melahirkan banyak buku tanpa henti, yang ditulis oleh banyak pemikir dan ilmuwan agung dunia ini, yang melahirkan banyak pemikiran dan teori-teori ilmiah besar yang dapat dikata bertahan abadi dalam dunia ini.

• Akal tak pernah mati, terus hidup dan berkembang dari zaman ke zaman, melahirkan ilmu-ilmu pengetahuan baru dan peradaban-peradaban besar silih berganti. Agama-agama yang bersumber dari wahyu banyak yang sudah punah, misalnya agama-agama Yunani-Romawi kuno, agama-agama Mesir kuno (misalnya monoteisme yang menyembah Dewi Isis sebagai Tuhan yang mahaesa), kekristenan Yahudi asli (yang dibangun Rasul Yakobus, saudara Yesus), agama-agama gnostik, dan seterusnya.

• Akal mendorong kita menguak misteri-misteri alam tanpa henti dan tanpa takut. Wahyu menjaga misteri-misteri alam yang dipercaya dan dipertahankan sebagai misteri-misteri ilahi yang abadi dan terlarang untuk dicoba dikuak. 

• Karena tunduk pada wahyu, orang mematikan rasa ingin tahunya, yang sebetulnya menjadi salah satu pendorong kuat lahirnya sains. Kalau Tuhan itu MTahu, kenapa orang takut pada keingintahuan akal?

• Akal tak dipandang sakral dan ilahi sehingga tak disembah. Wahyu dipandang sakral, kerap disamakan dengan Allah sendiri dan, karenanya, tak jarang juga disembah. Bahkan para penganut agama-agama monoteis yang menjunjung tinggi tawhid, sadar atau tidak sadar, telah terjatuh ke dalam dosa syirik ketika mempertuhan agama mereka atau wahyu agama mereka. 

• Akal tak diklaim serba tahu dan serba menjawab, tapi selalu mencari jawaban-jawaban yang real, yang potensial bisa keliru. Wahyu diklaim serba tahu dan serba menjawab, kendatipun dalam realitanya agama-agama dunia sekarang ini makin tidak fungsional dan makin tidak signifikan dalam kehidupan masyarakat modern. 

• Wahyu mendorong orang jadi fanatik dan beriman membuta. Akal yang panjang membuat orang terbuka dan berpandangan luas.

• Wahyu tak boleh dimodernisasi, harus dipertahankan apa adanya ketika datang ke dalam dunia manusia pada zaman-zaman kuno. Akal membawa kita masuk ke zaman modern dan di situ kita berpikir modern. Dengan pikiran modern kita, peradaban-peradaban kita majukan dan kembangkan, tanpa batas. 

Jadi, in the final analysis, akal sebagai akal dan wahyu sebagai wahyu, memang tidak bisa sejalan. Yakni jika keduanya saling menganulir. Kecuali jika akal juga dipandang sebagai wahyu, dan wahyu dipandang memerlukan akal dan juga sebaliknya, sebagaimana dipahami dalam teologi naturalis. 

Pertanyaannya sekarang: Apakah anda menerima teologi naturalis? Sebaiknya ya, sebab teologi naturalis akan mendorong anda untuk cerdas beragama.

Empat pintu masuk

Tapi jika anda membutuhkan bingkai atau koridor atau konstruksi pemikiran lain yang bukan berasal dari Gereja Katolik, yang universal, baiklah, saya ajukan sekarang. Cukup dalam empat poin konstruksi pemikiran dasariah berikut ini.

Pertama, dalam semua agama teistik umum diyakini dan didoktrinkan bahwa Tuhan itu adalah Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Hadir. 

Jadi, Tuhan itu memiliki kemahatahuan yang tak terbatas, infinite, tak ada garis finish-nya, tak ada titik ujungnya, tak pernah habis, tak pernah selesai, selalu bergerak maju, progresif, dalam gerak, dinamis, tak pernah berhenti, selalu masih ada ruang yang luas tersedia, terus mengembang dan terus bertambah. 

Kedua, kemahatahuan Tuhan ini ada di mana-mana, tak bisa dibatasi atau dikerangkeng dalam suatu ruang dan suatu waktu, atau dalam dimensi-dimensi yang sudah diketahui dan yang akan diketahui. 

Kemahatahuan Tuhan itu ada di dalam partikel-partikel subatomik hingga di dalam jagat-jagat raya yang tanpa batas, juga di masa-masa lalu hingga ke masa-masa depan tanpa akhir, dan di semua dimensi dan ekstradimensi. 

Ya, itulah hakikat kemahatahuan Tuhan karena Tuhan YMTahu juga Tuhan YMHadir. 

Ketiga, dengan demikian, ilmu pengetahuan sebagai metode dan sarana serta wahana yang teruji untuk kita memperoleh pengetahuan-pengetahuan yang tak pernah habis, adalah jalan agung menuju kemahatahuan Tuhan. 

Tahap demi tahap dan lewat dialektika, kemahatahuan Tuhan ini disingkap dan diberikan kepada manusia yang terus aktif mencari dan menyelidiki berbagai fenomena dalam jagat-jagat raya yang dapat diobservasi dan dipersepsi oleh lima indra atau lewat bantuan instrumen-instrumen teknologis, dan dapat dianalisis dan dideskripsikan dengan sistematik.

Keempat, karena Tuhan YMTahu itu juga MHadir, maka seluruh jagat raya dengan segala isinya, dan seluruh dimensi yang telah dan akan dikenal, dan semua fenomena yang ada di dalam seluruh jagat mikro dan seluruh jagat makro yang tak ada batasnya, adalah kawasan-kawasan mahaluas tanpa batas di mana kemahatahuan Tuhan dapat ditemukan satu demi satu, tentu lewat ilmu pengetahuan.

Ya bak menemukan butir-butir mutiara yang bercahaya, tahap demi tahap, terus diselidiki, dikaji, dipahami dan dideskripsikan dengan analitis dan sistematik. 

Nah, jika empat konstruksi pemikiran dasariah tersebut di atas kita jadikan koridor atau matriks untuk kita masuki dan jalani, kita tidak akan menjumpai konflik atau benturan apapun antara cinta dan ibadah kepada Tuhan YMTahu dan MHadir dan semua ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan dan bertambah maju dan makin integratif lewat dialektika dan koreksi serta partisipasi sangat banyak orang tanpa akhir.

Pendek kata, kita akan menjadi cerdas beragama. Kecerdasan keberagamaan yang tak pernah diam stagnan, tapi terus meningkat tanpa batas. As the sky is limitless, our intelligence is too.

Congrats! Wahyu dan akal ternyata bersahabat, berpelukan, tidak bermusuhan. Jika posisi ini diterima, maka peradaban akan bangkit dan maju.

Orang yang membuat keduanya bermusuhan dan berkelahi pasti tidak kenal baik wahyu maupun akal. Mereka membantutkan peradaban, bahkan bisa melenyapkannya.

Nah, akhirnya harus saya ingatkan bahwa pendekatan yang saya tawarkan ini tidak boleh membawa anda pada suatu kesimpulan bahwa anda boleh menyelaraskan dengan serampangan atau mencocok-cocokkan temuan-temuan akal lewat banyak ilmu pengetahuan dengan teks-teks kitab suci apapun. 

Hal itu tidak bisa dilakukan sebab bagaimana pun juga tetap ada wilayah sendiri-sendiri bagi akal dan wahyu. Keduanya bertemu dan bersumber pada kemahatahuan dan kemahahadiran Tuhan yang kreatif. Akal dan wahyu berdialektika lewat ilmu hermeneutik, bukan lewat mistik.

Keep thinking forward.
The future is limitless.


ioanes rakhmat