Tuesday, September 17, 2013

Menjadi seorang ilmuwan Ph.D.




Apa syarat untuk seseorang bisa diakui dengan formal sebagai seorang ilmuwan, apalagi ilmuwan terbaik level internasional?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3 (2005), ilmuwan adalah orang yang ahli atau banyak pengetahuannya mengenai suatu ilmu; orang yang berkecimpung di dunia ilmu pengetahuan. Menurut Merriam Webster's Collegiate Dictionary (edisi 10, 1993), ilmuwan  adalah seorang yang terpelajar dalam sains, khususnya sains IPA, seorang peneliti saintifik. Jadi, ilmuwan itu orang yang memiliki banyak pengetahuan dalam suatu bidang ilmu, ahli di bidangnya, bekerja di dunia sains, aktif meneliti.

Pertanyaannya: Dari mana kita tahu seseorang itu ilmuwan atau bukan? Ya dari karya-karya ilmiahnya yang diterbitkan dan bisa diakses umum untuk dibicarakan dan diperdebatkan sebagai wacana publik dengan terbuka.

Tetapi tentu saja tidak semua tulisan dapat disebut tulisan ilmiah, tulisan seorang ilmuwan. Karya-karya ilmiah seorang ilmuwan itu diakui ilmiah jika ditulis dengan memakai metode penulisan karya-karya ilmiah, tidak asal ditulis. 

Sebuah karya ilmiah memiliki banyak ciri, antara lain: 
  • dengan jelas memuat hipotesis-hipotesis yang mau diuji kebenaran atau kesalahannya;
  • dengan jelas memuat keterangan-keterangan mengapa subjek yang sedang dikaji dipandang penting;
  • dengan terang merumuskan kerangka teoretis apa yang digunakan dalam argumen-argumen yang dibangun dan dikembangkan secara koheren dan tak bercacat; 
  • dengan tajam memuat informasi tentang argumen-argumen pokok yang sedang dibangun, yang didukung oleh argumen-argumen penunjang dan argumen-argumen tambahan lain; 
  • dengan jelas menyebutkan metode penelitian yang digunakan (apakah penelitian lapangan secara khusus, ataukah penelitian kepustakaan secara umum, apakah gabungan keduanya, dan lain-lain); 
  • dengan padat memuat keterangan ringkas untuk isi setiap bagian karya yang diajukan; 
  • dengan jujur menyebutkan sumber-sumber otoritatif dari data dan informasi yang dipakai sebagai rujukan;
  • dengan jelas menyebutkan di mana kekuatan dan di mana kelemahan karya yang sedang digarap;
  • dengan terang menunjukkan segi-segi apa yang masih harus diteliti lebih lanjut di masa depan. 

Semua unsur dari sebuah karya ilmiah ini dibeberkan dengan sistematis dan koheren sejak awal hingga akhir karya, lalu ditutup dengan sebuah kesimpulan umum untuk keseluruhan karya.

Seseorang bisa produktif menulis ratusan buku, tapi jika penulisannya tak memenuhi standard metode penulisan ilmiah, dia bukan ilmuwan. Seseorang bisa menulis ratusan novel, tapi dia tak akan disebut ilmuwan, melainkan novelis. Seseorang bisa menulis ratusan artikel di koran-koran, tapi dia tak disebut ilmuwan, melainkan kolumnis.

Karya ilmiah besar pertama untuk seseorang disebut ilmuwan adalah disertasi doktor yang lulus pengujian dan memberinya hak menyandang gelar doktor (Ph.D., atau gelar-gelar lain yang diakui ekuivalen). 

Bahwa seseorang memang pantas bergelar doktor, akan diperlihatkannya terus lewat karya-karya ilmiahnya yang lain selain disertasinya. Tapi ada banyak orang yang bergelar doktor (Ph.D., atau gelar-gelar lain yang ekuivalen) stop menulis karya-karya ilmiah lain setelah dia menyelesaikan disertasi dan mempertahankannya. Untuk doktor semacam itu, yang tak pernah menulis lagi setelah menulis disertasi, kita boleh sebut sebagai ilmuwan yang sudah lelah. Ilmuwan yang sudah lelah tentu saja tak akan pernah berkontes di dunia internasional untuk mendapatkan sebutan ilmuwan terbaik dunia.

Untuk dunia bisa tahu seseorang itu ilmuwan, orang ini harus sudah menghasilkan banyak karya ilmiah yang berbentuk buku atau berbentuk artikel ilmiah yang terbit di jurnal-jurnal internasional. Tapi tidak selalu tulisan seorang doktor itu, sekalipun diterbitkan, tulisan ilmiah yang memenuhi standard akademik internasional.

Ada kalanya seorang ilmuwan yang bergelar Ph.D. menghasilkan karya yang bermutu rendah jika dilihat dari standard akademik internasional. Karena itu setiap karya ilmiah yang mau diterbitkan di sebuah jurnal internasional bergengsi, harus lewat pengujian tim penguji jurnal ini dulu (misalnya editorial board sebuah jurnal). Setelah itu sebuah karya ilmiah yang telah terbit di sebuah jurnal internasional akan diuji lagi oleh para pakar lain yang minimum selevel dengan si penulisnya. Pengujian oleh para pakar lain yang minimal selevel ini, disebut peer review. Lewat apa pendapat para pakar internasional lain atas sebuah karya ilmiah yang telah terbit, karya ini menempati posisi keilmuwan tertentu.

Nah lewat proses pengujian berlapis inilah karya-karya seorang ilmuwan akhirnya mendapatkan reputasi internasional, dipandang otoritatif. Hanya dengan lewat prosedur pengujian berlapis atas karya-karya seorang ilmuwan, si ilmuwan ini akan bisa digolongkan sebagai ilmuwan terbaik. Jadi sangat, sangatlah sulit jalannya untuk seorang ilmuwan dapat menyandang sebutan ilmuwan terbaik dunia. Jadi sangat mustahil, tak masuk akal, seseorang disebut ilmuwan terbaik dunia jika dia tak pernah menerbitkan banyak karyanya di jurnal-jurnal internasional.

Tapi ingat: ada banyak perguruan tinggi murahan di luar negeri, yang dengan mudah memberi gelar doktor pada orang yang studi hanya 6-9 bulan di luar negeri, atau studi sekian bulan lewat Internet. Orang yang mendapatkan gelar doktor dengan cara-cara semacam ini, dan juga seorang Doktor Kehormatan, bukanlah ilmuwan. Mereka hanya pengejar gelar doktor (non-Ph.D.) untuk mendongkrak reputasinya sendiri di tempat kerjanya di negerinya sendiri. Umumnya untuk mendapatkan gelar tertinggi akademik (Ph.D.) dari sebuah universitas ternama di luar negeri, dibutuhkan kerja keras 5 tahun studi, yang di dalamnya biasanya akan ada periode kesepian yang mendalam. Lima tahun studi ini termasuk periode penelitian dan penulisan disertasi untuk dipertahankan.

Salah satu ciri seseorang itu mampu berpikir ilmiah adalah orang itu mampu berpikir lintas-ilmu dan mampu mengkritik subjek yang sedang dikajinya, dan telah menulis minimal sebuah disertasi doktor yang telah berhasil dipertahankannya. Seorang yang sedang menulis disertasi untuk meraih gelar Ph.D. dikehendaki dapat membuka pandangan-pandangan baru berkaitan dengan subjek kajiannya, menghasilkan breakthrough.

Tapi jangan lupa ada banyak universitas di luar negeri yang fakultas teologinya memberi gelar Ph.D. kepada orang yang justru bisa berapologetik. Di sana, semakin piawai seseorang membela bulat-bulat sebuah doktrin agama, semakin pantas orang itu menyandang gelar Ph.D. 

Ph.D. ahli apologetika itu jelas suatu keanehan, sebab seorang Ph.D. mustinya adalah seorang yang mampu membuka pandangan-pandangan baru, bukan mampu berapologetik.

Di lingkungan gereja, ada banyak orang yang bergelar Ph.D., dengan keahlian satu-satunya mempertahankan secara apologetik bahwa, misalnya, Yesus itu Allah, atau Tritunggal itu wahyu ilahi, atau agama Kristen itu agama terunggul dan paling benar satu-satunya di dunia, atau kitab Yunus itu memuat kisah sejarah. Jadi, saya anjurkan, jangan mudah terkecoh dengan gelar Ph.D. yang tertulis di belakang nama siapapun. Gelar Ph.D. (dan gelar lain yang ekuivalen) tak selalu menjamin mutu keilmuwan si penyandangnya. Kita harus selektif memberi bobot pada gelar doktor yang tertulis di belakang nama siapapun. Pertama-tama, ujilah bagaimana cara berpikir si penyandang gelar doktor itu.

Ph.D. di bidang agama sangat mudah mengecoh: kita semula berpikir orangnya berwawasan luas, nyatanya cuma mampu berapologetik sampai mati, wawasannya sangat sempit dan sangat fanatik beragama. Dan kerap juga memperalat dan memain-mainkan agama untuk menggolkan tujuan-tujuan politisnya yang sektarian dan tak bermoral.

Dalam ujian disertasi, biasanya promotor anda akan mengawali dengan bertanya: Lewat disertasi ini apa sumbangan orisinal anda bagi dunia sains? Jadi, seorang Ph.D. memang dikehendaki berhasil menyumbang pemikiran dan temuan baru bagi dunia sains, bukan berapologetik.

Terlalu berat jika seorang sarjana S-1 dan sarjana S-2 diharapkan menyumbang sesuatu yang orisinal bagi dunia sains, tapi itu wajib bagi seorang Ph.D.

Jika anda seorang Ph.D, jadilah Ph.D. yang mampu berpikir orisinal dan mampu menyumbang hal baru bagi dunia sains. Negeri anda memerlukan banyak Ph.D. semacam ini. Jika anda Ph.D. bidang kajian agama, pikirkan ulang apakah tugas anda berapologetik atau justru melahirkan pemikiran-pemikiran baru buat agama anda.  

Ph.D. konservatif apologetik adalah sebuah oxymoron, sebuah contradictio in terminis, istilah yang berkontradiksi pada dirinya sendiri. Di dalam negeri semacam Indonesia yang sedang dijajah budaya agama, orang-orang yang bergelar doktor semacam ini sangat banyak. Padahal sudah mustinya seorang Ph.D. itu seorang yang mampu berpikir bebas dan bertanggungjawab, bukan seorang akademisi yang dikerangkeng seumur hidup oleh agamanya sendiri. Seorang Ph.D. tulen seyogianya adalah seorang ilmuwan milik dunia, pemikiran-pemikirannya melampaui sekat-sekat agamanya sendiri, dan mampu berpikir dan menganalisis lintas-ilmu.