Saturday, May 25, 2013

Mengenang Gautama Buddha di Hari Trisuci Waisak 25 Mei 2013

Gautama Buddha bersemedi di bawah sebuah pohon boddhi

Konon pertanyaan yang paling mengganggu pangeran Siddhartha Gautama adalah mengapa ada dukkha dan bagaimana keluar dari dukkha. Kata “dukkha” (Pali/Sanskrit) harfiah berarti rasa sakit luar biasa yang dirasakan ketika tulang yang patah di dalam daging mencucuk.  Kata ini dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai duka, azab, kesengsaraan, penderitaan, kesakitan, kepedihan, dan kemalangan. 

Konon Siddhartha Gautama terganggu oleh pertanyaan kenapa ada dukkha, karena dia melihat orang dapat sakit, dapat tua, lalu akhirnya mati. Sakit, uzur, dan mati, adalah tiga hal eksistensial yang harus dialami oleh semua makhluk, dan sangat mengganggu semua makhluk yang berkesadaran.

Pada umur 29 tahun, Siddhartha meninggalkan istana, dengan tujuan mencari jawab atas penyebab dukkha dan menemukan cara-cara membebaskan diri dari dukkha. Pada masanya, pertanyaan-pertanyaan yang kurang lebih serupa juga mengganggu para asket yang mendorong mereka bertapa mencari pencerahan. Semula, Siddhartha juga menempuh cara asketis yang sama, bertapa dan menyiksa diri, untuk mencapai pencerahan budi. 

Konon, ketika sedang menempuh kehidupan asketis yang keras, dia, pada suatu kesempatan, mendengar seorang pemain kecapi bersenandung. Kata pemain kecapi itu: Jangan setel dawai-dawai kecapi terlalu kencang, karena dawai-dawai ini akan putus. Juga jangan setel dawai-dawainya kendur karena dawai-dawai ini akan mengeluarkan suara yang sember.

Senandung si pemain kecapi memberi sebuah inspirasi pada Siddhartha: untuk orang menemukan pencerahan, jalannya haruslah Jalan Tengah. 

Pada masanya, ada dua jalan kehidupan yang keduanya sama-sama ekstrim: memanjakan diri (di istana) atau menyiksa diri (di hutan-hutan). Sidhartha menolak dua jalan esktrim ini, lalu menempuh Jalan Tengah: tidak memanjakan diri dan juga tidak menyiksa diri.

Sejak itu, Siddhartha mulai meninggalkan cara-cara meditatifnya yang semula, sehingga dia dianggap rekan-rekannya telah kehilangan komitmen terhadap asketisisme yang keras. 

Dengan prinsip Jalan Tengah, Siddhartha meneruskan pencariannya, dan konon pada umur 35 tahun di bawah sebuah pohon Boddhi, dia mendapatkan pencerahan.

Pada usia 35 tahun, setelah 6 tahun mencari, Siddhartha mencapai kebuddhaan, yakni pencerahan budi dengan sempurna. Sebutan “Buddha” berarti orang yang telah tercerahkan atau “orang yang telah memiliki kesadaran sempurna”. 

Dia menghabiskan 49 hari bersemedi di bawah sebuah pohon Boddhi, di Both Gaya, India, sampai akhirnya dia mendapatkan pencerahan budi. Di ujung hari ke-49 itu, Siddhartha menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaannya mengapa ada dukkha dan bagaimana mengatasi dukkha.

Konon, setelah tercerahkan, Siddhartha bangun dari semedinya, lalu berdiri di depan pohon Boddhi itu, memandangnya dengan rasa terima kasih dan tanpa berkedip selama 7 hari 7 malam. 

Isi kebijaksanaan yang telah mencerahkannya disebut Empat Kebenaran Agung tentang penyebab dukkha dan cara-cara membebaskan diri dari dukkha. Siddhartha Gautama, yang digelari Sang Buddha, membeberkan Jalan Mulia Delapan Rangkap untuk orang mengatasi dukkha dan mengalami pembebasan.

Kondisi kehidupan ketika orang berhasil memahami Empat Kebenaran Mulia dan berhasil menjalankan Jalan Mulia Delapan Rangkap, disebut Nirwana. Kata Nirwana juga menunjuk suatu kondisi adikodrati ketika orang telah terbebaskan dari siklus kematian dan reinkarnasi. 

Pertanyaan mengapa ada dukkha dan bagaimana membebaskan diri dari dukkha adalah sebuah pertanyaan eksistensial yang universal dan tampaknya akan abadi.

Kalau Gautama di India bergumul dengan pertanyaan itu di abad ke-4/ke-5 SM, para sastrawan Yahwis di istana Raja Daud/Salomon di Timur Tengah kuno pada abad 10 SM juga bergumul dengan pertanyaan yang sama. 

Untuk menjawab pertanyaan mengapa ada sakit-penyakit, dukkha, azab, dan kematian, para sastrawan Yahwis itu menyusun kisah etiologis Taman Eden. Dibandingkan jawaban yang diberikan Siddhartha Gautama, para sastrawan Yahwis itu memberi jawaban yang bagi saya sangat tak memuaskan.

Bagi para pujangga penulis kisah skriptural Taman Eden (Kejadian 2-3), penyebab semua bentuk dukkha adalah ketidaktaatan Adam dan Hawa terhadap larangan Allah. Bagaimana mungkin, penderitaan 7 milyar manusia di abad 21 disebabkan oleh pelanggaran Adam dan Hawa yang kisahnya ditulis pada abad ke-10 SM di sebuah negara di Timur Tengah kuno? 

Selain itu, para pujangga Yahwis itu di abad 10 SM sama sekali tidak memberi jalan keluar untuk manusia bisa luput dari dukkha. Para pujangga kerajaan itu dengan nada sangat sendu dan submisif hanya menegaskan bahwa Allah menghukum Adam dan Hawa (dan semua manusia), dengan hukuman terberat berupa kematian, karena ketidaktaatan mereka pada larangan Allah.

Para penulis kisah Taman Eden di abad 10 SM hanya memberi etiologi (kisah asal-usul) yang simplistik atas adanya fakta dukkha, dan juga teleologi yang suram: di ujung kehidupan manusia hanya tersedia kematian. Tetapi para penulis kisah Taman Eden itu tidak memberi soteriologi, doktrin tentang bagaimana manusia bisa mengatasi dukkha. 

Hemat saya, Siddhartha Buddha Gautama jauh lebih realistik dan jauh lebih bijak dibandingkan para sastrawan penulis kisah skriptural Taman Eden.

Hemat saya, pada hakikatnya dukkha itu memang menjadi bagian tak terpisah dari bangunan jagat raya kita sendiri yang terus berevolusi. 

Dalam jagat raya, yang memiliki kemampuan mendatangkan kehidupan lewat debu-debu bintang, keberadaan selalu diikuti kemusnahan, something selalu diikuti nothing, dan kepunahan selalu disusul keberadaan, nothing selalu disusul oleh something. Dalam jagat raya kita, galaksi-galaksi tua lenyap, diganti galaksi-galaksi baru. Segala sesuatu ada, tapi juga tak permanen. Dalam jagat raya, kehidupan tercipta secara alamiah (jika tersedia energi, kimia organik, air, dan oksigen), tapi kematian juga menyusul. Kemunculan dan kepunahan, eksistensi dan non-eksistensi, kehidupan dan kebinasaan, sudah berlangsung sejak jagat raya terbentuk dan berevolusi, hingga kini dan seterusnya dalam waktu yang masih sangat panjang ke depan, bermilyar-milyar tahun dari sekarang.

Jadi, kelahiran dan kematian, permanensi dan impermanensi, adalah unsur-unsur integratif dari struktur keseluruhan jagat raya kita. 

Bukan hanya manusia, tapi juga hewan-hewan lain non-manusia, dan tetumbuhan, datang dan pergi, muncul dan lenyap, secara natural. Hanya organisme yang memiliki pancaindera dan kesadaran dan kemampuan mental, melihat sakit-penyakit, dukkha dan kematian sebagai suatu problem besar. Bagi ikan, singa dan harimau, misalnya, rasa sakit dan kematian dan pembunuhan, adalah hal-hal natural tanpa nilai-nilai moral apapun di dalamnya. Bagi primata atau kera-kera besar, juga bagi lumba-lumba dan ikan paus, yang juga dalam batas-batas tertentu memiliki kemampuan moral bahkan kesadaran, dukkha dan kematian, juga menyedihkan mereka.

Jadi, pada satu pihak, kelahiran dan kematian, kedukaan dan penderitaan, adalah natural, bagian esensial dari struktur jagat raya sendiri. Tapi, pada lain pihak, kematian dan semua bentuk kedukaan, adalah problem besar bagi sentient beings seperti manusia. 

Sebagai organisme yang berkesadaran dan memiliki berbagai kapasitas mental, yang mampu membangun peradaban, manusia merasa tidak berbahagia dengan adanya dukkha, dan manusia berjuang untuk mengatasinya. Dulu teknologi untuk menolak bala dan menangkal bencana masih belum berkembang, kalaupun ada masih sangat primitif. Karena itu juga, manusia berpaling ke penjelasan-penjelasan lain untuk menjelaskan adanya dukkha dan mengalahkannya, dan agama-agama disusun untuk memenuhi kebutuhan ini. Ada agama yang memberi penjelasan supernatural, dan ada juga yang mengajukan penjelasan natural, terhadap pertanyaan-pertanyaan mengapa ada dukkha dalam kehidupan manusia. Buddhisme tampil memberi penjelasan natural atas sebab-sebab dukkha dan jalan-jalan mengalahkan dukkha.

Pada masa kini, berbagai disiplin sains sangat membantu manusia mencari tahu akar-akar dari dukkha, dan juga menolong mereka mengatasinya dalam banyak jalan dan cara. Sains tampak memberi jawaban-jawaban yang lebih memuaskan ketika orang bergumul di sekitar masalah-masalah kedukaan dan kesengsaraan manusia, baik sains yang mengkaji dunia fisik maupun sains yang mengkaji dunia mental manusia. 

Kendatipun demikian, manusia pada umumnya masih juga memerlukan penjelasan-penjelasan yang tidak hanya fisikal dan mental mengenai asal-usul dukkha; mereka juga mencari penjelasan-penjelasan yang metafisikal atau yang supernatural, karena otak manusia memiliki struktur-struktur neural yang terhubung erat dengan hal-hal yang spiritual. Jadi, masih dibutuhkan kerjasama agama dan sains ketika manusia berusaha menjelaskan asal-usul segala dukkha dan mencari jalan-jalan pembebasan dari dukkha. Dengan menerima berbagai penjelasan dan petunjuk sains mengenai sebab-musabab dukkha dan jalan-jalan mengatasinya, setiap orang akan dapat lebih cerdas beragama.