Tuesday, December 31, 2013

Merenungi objektivitas historiografi bertolak dari kontroversi film Soekarno

Berkaitan dengan film Soekarno, dalam minggu kedua Desember 2013 terjadi perselisihan tajam yang sampai naik ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat antara Hanung Bramantyo (sutradara film ini) dan Rachmawati Soekarnoputri (adik Megawati Soekarnoputri)./1/ Meskipun demikian, film ini sejak 11 Desember 2013 sudah diputar di sejumlah bioskop tanpa kendala. Bersama isteri, saya sudah menonton film ini di bioskop XXI Mal Artha Gading, Jakarta, pada 17 Desember 2013, mulai pukul 21.15 WIB.

Saat acara jumpa pers di Universitas Bung Karno, Cikini, Jakarta, 12 Desember 2013, Rachmawati, yang kecewa karena film ini sedang diputar di bioskop-bioskop, menyatakan bahwa “film tentang Soekarno yang digarap Multivision Plus dan disutradarai Hanung Bramantyo tidak sesuai dengan sosok Soekarno asli. Film Soekarno memalukan.” Pertikaian ini menyangkut juga hak cipta film Soekarno. Menurut Rachmawati, karena dia adalah pengusul pembuatan film ini, dia telah disepakati sebagai pemegang hak ciptanya. 

Ada tiga adegan dalam film ini yang kata Rachmawati tidak pernah terjadi pada ayahnya, Soekarno, semasa hidupnya. Yakni: Adegan Soekarno ditampari oleh seorang polisi militer dan kepalanya dihantam popor senjata sampai dia terjatuh di lantai (kata Rachmawati adegan ini merendahkan ayahnya); adegan Soekarno merayu seorang perempuan yang berpakaian seronok di dalam sebuah kamar (adegan ini kata Rachmawati sangat melecehkan Soekarno); dan adegan Soekarno mendiktekan teks Naskah Proklamasi kepada Hatta yang menjadi penulis naskah, padahal naskah itu dibuat oleh Bung Hatta sendiri, bukan oleh ayahnya (dus, adegan ini menurut Rachmawati telah memutarbalik fakta sejarah)./2/

Friday, November 29, 2013

Seekor keledai dungu yang ternyata cerdas


Suatu hari seekor keledai seorang petani jatuh ke dalam sebuah sumur di halaman belakang rumahnya. Binatang ini berteriak-teriak memilukan minta dikasihani selama berjam-jam sementara si petani berpikir-pikir apa yang dia harus lakukan.

Akhirnya dia sampai pada sebuah keputusan. Karena keledai ini sudah tua maka tak patut diselamatkan, lagi pula sumur itu memang mau dia uruk. Lalu dia memanggil semua tetangganya untuk datang ke rumahnya dan membantunya.

Setiap tetangganya datang membawa sebuah sekop dan mulai menyendok tanah lalu melemparkannya ke dalam lubang sumur.

Ketika si keledai yang malang itu menyadari apa yang sedang terjadi, ketakutanlah dia dan berteriak-teriaklah dia dengan sangat kencang dan memilukan hati.

Mengherankan sekali, tiba-tiba saja si keledai yang ketakutan mati itu membungkam seribu basa.

Sunday, November 17, 2013

Elie Wiesel: Allah bangsa Yahudi telah terbunuh!

Pada waktu bangsa Yahudi dianiaya, diazab, dan dibantai oleh rezim Nazi Hitler yang berkuasa atas negeri Jerman dari 1933 sampai 1945 selama Perang Dunia II, orang Yahudi bergumul amat sangat, dan mereka bertanya di mana Allah mereka berada. Sekian jawaban diberikan oleh bangsa Yahudi, oleh para ahli teologi mereka. 

Ini adalah soal teodise: di mana Allah berada dan kepada siapa dia berpihak ketika orang-orang saleh dengan hati yang dipenuhi cinta dan rasa kemanusiaan tertimpa azab bertubi-tubi, tanpa penolong.

Kita kenal Elie Wiesel, dilahirkan 30 September 1928 di Sighet, Transylvania (kini Romania). Pada tahun 1986, Wiesel meraih Hadiah Nobel Perdamaian. 

Dia adalah seorang Yahudi yang selamat dari Holokaus setelah pada umur 15 tahun dimasukkan ke kamp-kamp konsentrasi di Auschwitz, Buna, Buchenwald dan Gleiwitz. 

Wiesel kemudian termashyur di dunia melalui novel-novelnya, khususnya melalui satu novel memoar pertamanya tentang Holokaus yang terbit pada tahun 1960 dengan judul Night (versi Prancisnya terbit dengan judul La Nuit). Setelah Night, terbit dua novel lagi Dawn (1961) dan Day (1962), yang keseluruhannya membentuk sebuah trilogi yang menyoroti dengan cermat kekejaman yang dilakukan manusia terhadap sesamanya./1/  

Eliezer Wiesel keluar selamat dari Holokaus untuk kemudian menjadi duta umat manusia

Apa kata Wiesel tentang di mana Allah berada ketika jutaan orang Yahudi dianiaya, disengsarakan dan dibunuh oleh Nazi? 

Dalam suatu bagian novel Night, Wiesel menyatakan bahwa Allah bangsa Yahudi telah terbunuh. Tulisnya, 

“Tak akan pernah aku melupakan malam itu, malam pertama dalam kamp, yang telah mengubah kehidupanku menjadi satu malam yang panjang, tujuh kali dikutuk dan tujuh kali disegel.... Tak akan kulupakan momen-momen itu yang telah membunuh Allahku dan jiwaku, dan mengubah mimpi-mimpiku menjadi debu.”/2/ 

Ya, bagi Wiesel, Allah telah tiada, karena terbunuh, sehingga bangsa Yahudi menderita azab besar tanpa penolong! 

Bangsa Yahudi harus meratapi bukan saja azab yang sedang mereka tanggung, tapi juga Allah mereka karena sang Allah ini sudah mati terbunuh. 

Itu sebuah gagasan yang tentu membingungkan dan mengagetkan orang-orang yang terbiasa hanya dengan ide tentang Allah yang mahahadir, mahakuasa dan mahapenolong. 

kamp konsentrasi di Auschwitz I, Desember 1944. Pohon Natal untuk blok 15

Tapi bagi Wiesel, dengan idenya tentang Allah yang telah terbunuh, Holokaus jadi dapat dijelaskan sebagai suatu bencana sejarah yang sangat berat bagi bangsa Yahudi, yang menimpa mereka bukan karena Allah Yahudi tidak perduli pada mereka, atau karena Allah menimpakan bencana ini kepada mereka. 

Sebaliknya, bagi Wiesel, Allah bangsa Yahudi tidak berperan sama sekali dalam Holokaus, malah sang Allah ini ikut terbunuh bersama enam juta orang Yahudi. Allah ini solider dengan nasib bangsanya. 

Di pihak Wiesel pribadi, jiwa dan mimpi-mimpinya ikut terbunuh dan terkubur bersama Allah yang terbunuh. Orang yang masih hidup pun melihat dirinya telah terbunuh bersama Allah yang telah terbunuh.

Dalam Tanakh Yahudi, ide tentang ketidakhadiran Allah diungkap dalam gambaran tentang Allah yang menyembunyikan diri. 

Allah menyembunyikan diri dari kehidupan orang saleh. Ini juga sebuah gambaran yang membuat ide-ide biasa kita tentang Tuhan terjungkal. 

Selama Allah masih bersama kaum saleh, Allah berfungsi sebagai sebuah benteng atau sebuah perisai yang melindungi mereka dari segala azab, nestapa, penderitaan, penganiayaan dan semua musuh (lihat antara lain 2 Samuel 22:2-4; Mazmur 18:3-4; Yeremia 16:19a). 

Jika Allah menyingkir dari orang saleh, maka orang saleh ini rentan diserang oleh kekuatan-kekuatan jahat kodrati maupun adikodrati, yang membuat mereka tersiksa dan teraniaya.

Dari kisah fiktif dalam Perjanjian Lama tentang Ayub yang sangat saleh, kita tahu bahwa penderitaan menerpa Ayub tak habis-habisnya ketika Allah menyingkir dari kehidupan Ayub dan Setan dibiarkan Allah berkuasa atas dirinya (Ayub 1:12; 2:6). 

Selama Ayub masih dalam penjagaan dan perlindungan Allah, Ayub sukses besar dan makmur dalam segala segi kehidupannya. Ketika Allah menjauh dan menarik diri dari Ayub, sekian azab menghancurkan seluruh kehidupannya.

Penulis Mazmur 89:47-52 dengan berat mengeluh bahwa dia menerima berbagai macam penghinaan dari segala bangsa ketika Allah bersembunyi dari dirinya terus-menerus. Penulis Mazmur 10:1 bertanya kepada Allah, “Mengapa Engkau berdiri jauh-jauh, Ya TUHAN, dan menyembunyikan diri-Mu dalam waktu-waktu kesesakan?”

Dalam suatu momen kegiatannya selaku seorang hamba Allah, nabi Yesaya sampai menyatakan bahwa Allah telah menyembunyikan diri-Nya (Yesaya 45:15). 

Pada masa aktivitas sang nabi, dia bersama bangsa Israel sama sekali tidak bisa melihat bagaimana Allah mereka bekerja untuk mereka, karena Allah yang mereka sembah dan andalkan ternyata bertindak dengan cara yang tidak lazim lewat tangan seorang raja asing, yakni Koresh, Raja Persia, yang ditetapkan-Nya sebagai Mesias pilihannya sendiri (44:28; 45:1, 13), yang akan menyelamatkan umatnya.

Menurut penulis Injil Markus dalam Perjanjian Baru, ketika Yesus menanggung azab di kayu salib, di manakah Allah yang Yesus biasa panggil dengan akrab sebagai sang Abba, sang Bapa, berada? 

Dalam ide penulis injil ini, ketika Yesus mengerang kesakitan dan meregang nyawa di kayu salib, Allah telah meninggalkan dirinya, sehingga Yesus menderita sendirian saja. 

Dalam kesakitannya, Yesus berteriak keras kepada Allahnya ini, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, jika diterjemahkan berarti “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” (Markus 15:34). 

Yesus sengsara di kayu salib karena Allah telah menyingkir darinya, menelantarkannya. Seandainya Allah masih bersama Yesus, dia tidak akan mati disalibkan. Yesus di sini, dalam tuturan Markus, terperangkap dalam sebuah problem teodise: Mengapa Allah yang mahakuasa, mahakasih, mahaadil, dan mahahadir, sampai tega meninggalkan orang yang saleh seperti dirinya ini sehingga si saleh ini menderita amat sangat, padahal si saleh sama sekali tidak bersalah?/3/

Dengan menyatakan bahwa Allah tidak hadir, bahwa Allah menjauh, bahwa Allah bersembunyi, bahwa Allah telah terbunuh, penderitaan yang menimpa orang-orang saleh jelas tidak dapat diasalkan pada diri Allah ini. 

Penderitaan dialami orang saleh bukan karena Allah yang menimpakannya kepada mereka. Bukan! Tetapi karena ada kekuatan-kekuatan lain yang dengan bebas menyengsarakan umat, tanpa bisa dihentikan oleh Allah karena Allah memang sedang tidak hadir di tempat. 

Apakah argumen semacam ini berhasil mengatasi problem teodise, dan tidak menimbulkan sejumlah problem lain? Jika anda cerdas, anda pasti akan menjawab tidak, berdasarkan beberapa alasan berikut.  

Pertama, kalau Allah bisa tersembunyi, bisa tidak hadir, maka hilanglah sifat mahahadir dan mahapenolong Allah yang sebetulnya ingin dipertahankan dengan kuat dalam teodise. 

Kalau Allah bisa tidak hadir, atau bisa tidak ada karena terbunuh, dan sebagai ganti diri-Nya ada kekuatan-kekuatan lain yang jahat, yang sedang berkuasa atas diri umat Allah, maka hilanglah juga sifat mahakuasa Allah. 

Kalau Allah tidak hadir dan dengan demikian kesengsaraan menimpa si mukmin yang saleh dan tak bersalah, maka hilanglah sifat mahaadil Allah yang sebetulnya juga ingin dipertahankan dalam teodise.  

Kedua, kalau karena Allah bersembunyi umat menjadi sengsara atau rentan terhadap serangan penderitaan, maka Allah yang semacam ini dapat diibaratkan sebagai seorang ayah yang tidak bertanggungjawab, tega hati dan pengecut, yang lari bersembunyi ketika anak-anaknya sedang atau akan dianiaya orang-orang jahat. 

Konsep tentang Allah yang semacam ini sama sekali tidak bisa diperdamaikan dengan nilai-nilai moral dan nilai-nilai sosial yang mau ditegakkan dalam suatu masyarakat yang bertanggungjawab, di mana setiap ayah dan ibu dipandang sebagai sosok-sosok agung pelindung dan pengayom anak-anak mereka.

Ketiga, jika si saleh menginginkan kehidupannya terbebas dari segala bentuk penderitaan dengan terus-menerus meminta Allah tetap hadir untuk melindungi dan menjaga dirinya, maka bisa terjadi si saleh ini akan menolak semua bentuk perlindungan dan pertolongan yang dapat diupayakan manusia melalui sains dan teknologi modern. 

Banyak sekali orang saleh di dunia ini dengan fanatik (baca: dengan bodoh) menolak pertolongan medis apapun karena mereka hanya bergantung pada Allah mereka melalui doa-doa dan ritual-ritual keagamaan mereka untuk kesembuhan penyakit mereka atau penyakit sanak famili mereka. Akibatnya, ya dari antara mereka atau dari antara sanak famili mereka banyak yang mati karena “iman” yang bodoh dan tidak cerdas!

Keempat, ihwal hadir atau tidak hadirnya Allah sebetulnya bukan ditentukan oleh diri Allah itu sendiri, tetapi ditentukan sendiri oleh manusia secara subjektif dalam teologi yang dikonsepnya sendiri. 

Bisa terjadi dalam suatu bencana dahsyat, seorang mukmin akan mengklaim bahwa dia merasa Allah ada di tengah kehidupannya, sementara seorang mukmin lainnya akan menyatakan bahwa Allah telah meninggalkan dirinya. 

Jadi, hemat saya, daripada memperdebatkan apakah Allah hadir atau Allah absen di dalam suatu kesulitan yang sedang menimpa manusia, jauh lebih konstruktif jika kita semua mau bertindak secara rasional untuk mengatasi berbagai macam azab dan penderitaan yang sedang menimpa umat manusia melalui berbagai macam kerja nyata kita di dalam masyarakat.

Kelima, jika kehadiran dan penyertaan Allah dipercaya sebagai sumber semua kemakmuran, kesenangan dan keberhasilan, maka konsep teologis semacam ini bisa berbahaya buat kehidupan etis manusia. Bahayanya di mana? 

Bahayanya: orang bisa berpura-pura melupakan bahwa harta kekayaan yang mereka miliki sebenarnya bersumber dari tindak pidana korupsi atau berbagai perbuatan melanggar hukum lainnya. 

Lalu, sebagai gantinya, mereka akan mengklaim bahwa semua harta kekayaan dan sukses mereka itu diperoleh sebagai berkat-berkat Allah yang mahabaik, mahapenolong dan mahahadir dalam kehidupan mereka. Jadi, di sini teologi dibuat untuk melegitimasi perbuatan tidak bermoral.

Keenam, orang ateis adalah orang yang menyatakan bahwa Allah tidak ada. Kalaupun para agamawan berpendapat Allah memang ada pada dirinya sendiri, orang ateis tidak memerlukan Allah ini sebagai sang pelindung mahakuasa mereka. 

Menurut estimasi Biro Sensus Amerika Serikat, pada 12 Maret 2012 penduduk dunia mencapai 7 milyar kepala; sedangkan menurut estimasi PBB jumlah ini tercapai pada 31 Oktober 2011. 

Dalam tahun 2013, menurut estimasi PBB jumlah penduduk dunia mencapai 7.116.744.393 kepala. Dari jumlah ini, diestimasi 18 % adalah orang ateis, setara dengan kurang lebih 1,3 milyar orang. 

Pertanyaannya adalah: Apakah semua orang ateis dalam jumlah sangat besar ini dengan demikian tidak terlindung dan karenanya akan selalu didera kekuatan-kekuatan jahat sehingga mereka sengsara? Kenyataannya tokh tidak demikian! 

Artinya: ketidakhadiran Allah tidak otomatis akan menimbulkan penderitaan bagi manusia. Manusia pada dirinya sendiri dan melalui sains dan teknologi dapat melindungi diri dari banyak bentuk penderitaan. 

Teologi tentang ketidakhadiran Allah malah bisa membuat orang makin mandiri, makin cerdas, makin dewasa dan makin tegar dalam menjalani kehidupan dalam dunia ini. 

Umumnya orang beranggapan bahwa kepercayaan keagamaan yang dipegang kuat-kuat akan membuat orang yang beragama lebih tahan stres dan tidak mudah terkena depresi dibandingkan orang yang sekuler atau orang yang tidak beragama. 

Tetapi sebuah studi mutakhir lintas-negara atas 8.318 orang yang berasal dari 7 negara menunjukkan bahwa:
  • dari antara orang-orang yang menyatakan memegang keyakinan spiritual atas kehidupan ini, 10,5 % mengalami episode depresi setahun setelah mengalami kejadian serius dalam kehidupan mereka
  • dari orang-orang yang beragama, angkanya 10,3 % 
  • dari kalangan sekuler (tak beragama), angkanya 7,0 %
Temuan di Inggris lebih mencolok lagi: kalangan spiritualis tiga kali lipat lebih mudah terkena depresi dibandingkan kalangan sekuler. Juga ditemukan bahwa makin kuat iman seseorang kepada Tuhannya, orang ini berisiko dua kali lipat terkena depresi dibandingkan orang yang beriman lemah. 

Sebagai kesimpulan: Tidak ada bukti bahwa agama bertindak sebagai bemper penahan depresi setelah orang mengalami goncangan serius dalam kehidupan mereka./4/ 

Dengan kata lain, tidak ada jaminan bahwa jika anda sangat percaya Allah selalu hadir dalam kehidupan anda dan selalu menjaga, melindungi dan menolong anda, khususnya saat anda sedang mengalami banyak persoalan berat, anda akan selalu tegar dan akan tampil sebagai pemenang atas semua masalah anda. 

Mungkin sekali terjadi, ketika kepercayaan anda ini tidak kunjung terbukti, rasa stres anda akan bertambah besar, yang akan secara bertahap membawa anda ke dalam depresi. Dalam situasi inilah iman anda sama sekali tak menolong anda, malah memperlemah daya tahan mental anda. 

Hal itu bisa terjadi karena anda terus-menerus memprotes Allah anda, bahkan memarahi sosok adikodrati ini dan anda memberontak terhadapnya. 

Jelas, kondisi mental anda ini yang orang namakan “dissonansi kognitif”,/5/ yang muncul dari iman dan kepercayaan yang tak terwujud, akan pasti memperburuk kondisi kejiwaan anda secara keseluruhan.

Tentu saja, anda dan saya tidak perlu menjadi ateis untuk dapat tegar dan kokoh ketika menjalani kehidupan kita yang kerap diterjang dan dihadang ombak-ombak besar persoalan, azab dan kesulitan yang terus datang, meradang, menendang dan menghalang. 

Untuk dapat meraih kondisi mental yang kokoh dan tegar, lepas dari dissonansi kognitif, yang dibutuhkan dari kita adalah kecerdasan dan kreativitas dalam beragama. Bagaimana cara memperoleh kecerdasan dan kreativitas ini?

Sementara pada satu pihak kita melihat dan mengakui ada enam problem besar dan rumit yang ditimbulkan oleh teologi tentang ketidakhadiran atau ketersembunyian Allah seperti sudah dibentangkan di atas, teologi semacam ini, pada pihak lain, dapat membantu kita lebih cerdas dan kreatif dalam beragama. Mungkin anda tak percaya. 

Kita umumnya sudah tahu, kalau kita bisa mengambil jarak dari sesuatu yang sedang dan sudah lama kita amati, pengetahuan kita tentang sesuatu yang kita sedang amati ini bisa lebih objektif, bisa lebih multidimensional, dan bisa lebih mendalam dan meluas. 

Begitu juga ihwalnya dengan pengetahuan kita mengenai Allah, kehendak dan keterlibatannya dalam dunia ini dan dalam kehidupan kita.

Kalau kita terlalu terbiasa dengan Allah, terlalu murah mengobral kata-kata tentang diri yang serba lain ini, terlalu gampang mengklaim hal ini dan hal itu tentang Allah, terlalu mudah mengait-ngaitkan diri Tuhan dengan diri kita dan dengan persoalan-persoalan kehidupan kita, maka gambaran-gambaran kita tentang Allah akan menjadi gambaran-gambaran yang datar, tawar, hambar, rutin, membosankan, terlalu terbuka, terlalu telanjang. Tidak lagi menantang, tidak lagi mengejutkan, tidak lagi tersembunyi, tidak lagi misterius, tidak lagi progresif, tidak lagi mencerahkan, dan tidak lagi mencerdaskan kita. 

Pendek kata: dogmatisme membuat kita bodoh, kehilangan kreativitas dan imajinasi.

Sesuatu yang terus-menerus rutin kita pikirkan, tak akan mencerdaskan kita lagi.

Sebaliknya, kalau kita menghayati suatu teologi tentang Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang misterius, yang bermain petak umpet dengan kita, bahkan, seperti dilihat Elie Wiesel, yang terbunuh, kita akan merasa sangat tertantang untuk terus-menerus mencari dan menemukan Tuhan kembali dalam perspektif-perspektif yang baru dan mengejutkan. 

Kreativitas dan imajinasi membuat Tuhan hidup kembali dalam berbagai penampilan, dalam berbagai titisan, dalam berbagai paras dan wajah, dalam berbagai gerak, dan dalam berbagai suara, yang semuanya berbeda dari sebelumnya. 

Kepercayaan atau iman yang hidup, kreatif, inovatif, aktif, dinamis dan bergairah semacam ini, akan sangat membantu anda saat anda sedang menghadapi banyak persoalan berat yang menimbulkan stres.

Seseorang mudah sekali terkena stres dan akhirnya terbenam dalam depresi berat ketika sedang menghadapi persoalan-persoalan berat sekalipun dia sangat saleh beragama, seperti telah diungkap oleh kajian psikologis mutakhir yang sudah dibeberkan di atas. 

Hal itu bisa terjadi karena si saleh ini hanya terpaku pada satu citra tentang Allah yang sudah dengan rutin ada dalam pikirannya sendiri. 

Allah yang rutin mengisi pikiran dan hatinya ini ditunggu-tunggunya untuk bertindak menolong dirinya. Tetapi karena Allahnya ini tak kunjung datang menolongnya, stresnya pun dari saat ke saaat makin bertambah berat. 

Si saleh yang semacam itu tidak bisa kreatif melihat Allah dalam penampilan, paras, wajah, dan suara yang berbeda, yang mengejutkannya, yang ditemukannya sebagai Allah yang lain dari biasanya.

Jika si saleh ini mencoba untuk dengan cerdas, kreatif dan inovatif melihat Allah dari sudut-sudut pandang yang lain, yang tidak biasa, yang tidak rutin, yang tidak terduga, yang mengagetkan, misalnya sebagai Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, atau bahkan sebagai Allah yang terbunuh, yang sedang berpetakumpet, sangat mungkin dia juga akan memandang semua persoalan beratnya dari sudut-sudut yang lain, yang tidak lazim. 

Jika itu terjadi, ada harapan, teologinya yang baru tentang Allah, akan membuatnya lebih kuat dan lebih kokoh dalam memikul semua persoalannya yang berat.

Ide tentang Allah yang tersembunyi, yang tidak hadir, yang terbunuh, akan dengan mengherankan membuat anda lebih cerdas beragama dan lebih tangguh dalam kehidupan ini, karena ide yang semacam ini akan bermuara pada penemuan kembali diri Allah sebagai Allah yang lain, yang tidak rutin, yang akan membangun semangat hidup anda kembali.

Ketidakhadiran Allah ternyata akan bisa sangat ampuh dan kuat mengubah diri anda, dari seorang yang lemah berubah menjadi seorang yang tangguh, dari situasi kegelapan malam masuk ke situasi fajar pengharapan, lalu bermuara di situasi pencerahan siang. 

Ini sungguh sesuatu yang mengejutkan sekaligus menakjubkan, lain dari perkiraan orang pada umumnya. Bisa jadi, inilah yang terjadi pada Elie Wiesel, yang setelah peristiwa Holokaus dipandang dunia yang beradab sebagai duta umat manusia untuk mengingatkan bangsa-bangsa manapun dalam dunia ini untuk tidak membantai bangsa lainnya atas alasan apapun. 

Perjalanannya dari Night, ke Dawn, lalu masuk ke Day, jelas bukan suatu perjalanan yang mudah, tapi suatu perjalanan yang sangat berat, yang akhirnya bermuara pada pencerahan di hari siang yang benderang dan gemilang. 

Perjalanan yang gembira sekaligus menimbulkan rasa duka yang menusuk lantaran Tuhan tidak selalu hadir, tapi bisa juga begitu saja nongol lagi yang membuat kita gembira, lalu berlari ingin memeluknya. 

Tapi Tuhan mengelak saat kita mau merangkulnya, hilang lagi, akibatnya duka dan azab menyerbu lagi, dalam banyak permainan petak umpet yang sambung-menyambung.

Tetapi tak ada pilihan lain. Hanya satu: kreatif dan rianglah dalam bermain petak umpet dengan Tuhan. Meski lelah, bermainlah terus. Setap kegiatan bermain itu menantang dan menyehatkan.

Stay blessed 
Even when God is hidden

Catatan-catatan

/1/ Elie Wiesel, The Night Trilogy: Night, Dawn, Day (terjemahan Inggris oleh Marion Wiesel) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2008).

 /2/ Elie Wiesel, Night (terjemahan baru Inggris oleh Marion Wiesel; dengan sebuah pengantar baru dari penulis) (New York, N.Y.: Hill and Wang, 1972, 1985, 2006), hlm. xix, 34; idem, The Night Trilogy, hlm. 17, 52.


/3/ Usaha teologis menelusuri sebab-musabab adanya penderitaan, dan pertanyaan-pertanyaan di mana Allah yang mahapengasih dan mahaadil berada di tengah realitas penderitaan manusia, dan kepada siapa Allah berpihak apakah kepada penyebab penderitaan atau kepada manusia yang menderita, masuk ke dalam bidang perenungan teologis yang dinamakan teodise (dari kata Yunani theos = Allah, dan dikē = keadilan). 

Dalam bukunya yang berjudul Gods Problem: How the Bible Fails to Answer Our Most Important Question, Why We Suffer (New York: HarperCollins Publishers, 2008), Bart D. Ehrman memperlihatkan Alkitab gagal menjawab pertanyaan terpenting manusia apa sebabnya atau mengapa manusia menderita. 

/4/ Lihat Leurent , B., Nazareth, I., et al., “Spiritual and religious beliefs as risk factors for the onset of major depression: an international cohort study”, Psychological Medicine vol. 43/Issue 10/Oct 2013, hlm. 2109-2120. Tersedia online 29 Januari 2013, http://journals.cambridge.org/action/displayAbstract?fromPage=online&aid=8826658&fulltextType=RA&fileId=S0033291712003066

Lihat ulasannya oleh Jennifer Dunning, “Religious believers more depressed than atheists: study”, CBCNews, 20 September 2013, http://www.cbc.ca/newsblogs/yourcommunity/2013/09/religious-believers-more-depressed-than-atheists-study.html.

/5/ “Dissonansi kognitif” adalah kondisi mental yang tertekan (“kognitif”) karena tak terwujudnya atau melesetnya (“dissonansi”) hal-hal yang semula sangat diyakini dan dipercaya sebagai kebenaran. 

Untuk keluar dari kondisi mental yang menekan berat ini, berbagai cara dilakukan. Misalnya membangun sikap "pokoknya kami benar, cuma...", mengakal-akali alias merasionalisasi isi keyakinan ideologis sekular atau religius yang sudah terbukti salah supaya kelihatan tetap masuk akal, dan makin aktif mencari pendukung tambahan atas ideologi dan keyakinan yang sudah meleset dan salah itu. Jika pengikut baru bertambah, berarti keyakinan ideologis yang sudah salah itu menjadi benar lagi. Akal-akalan dan membohongi diri sendiri.

Sumber primer tentang teori dissonansi kognitif, lihat Leon Festinger, H. W. Riecken dan S. Schachter, When Prophecy Fails: A Social and Psychological Study of a Modern Group That Predicted the Destruction of the World (New York: Harper and Row, 1956). Pemaparan lebih jauh teori ini, lihat Leon Festinger, A Theory of Cognitive Dissonance (Stanford, California: Stanford University Press, 1957). 
 

Sunday, November 10, 2013

Twelve lessons from the wonderful nature


rivers teach us to make our life flow eternally...


Sangat banyak hal kita bisa pelajari dari alam, baik untuk menambah ilmu pengetahuan kita dari saat ke saat, maupun untuk membuat kita lebih bijaksana dalam melakoni kehidupan kita masing-masing. Semua kitab suci agama-agama kuno juga berbicara banyak tentang manfaat alam sebagai media untuk menambah pengetahuan dan kearifan kita, bahkan sebagai media untuk manusia berjumpa dengan sang Tuhan sendiri.

Bahkan dalam natural religions yang lahir pada era mitologis dalam perkembangan evolusioner peradaban manusia, nature dan segala kekuatannya dipersonifikasi dalam berbagai sosok adikodrati dewa-dewi atau setan-setan atau makhluk-makhluk angkasa lainnya. Pada era mitologis, gerhana di angkasa, misalnya, dipandang bukan hanya sebagai suatu kejadian alam, tapi ditafsirkan sebagai pertarungan sosok-sosok adikodrati yang hidup di kawasan angkasa. Dalam mitologi bangsa Viking, berkaitan dengan gerhana, dua ekor serigala supernatural yang bernama Skoll dan Hati digambarkan memburu Matahari dan bulan. Ketika keduanya berhasil menangkap Matahari dan bulan, terjadilah gerhana-gerhana. Saat itulah manusia di Bumi bergerak cepat untuk menyelamatkan dua benda langit ini dengan membuat berbagai suara dan bunyi-bunyian yang keras, dengan harapan mereka dapat menakut-nakuti serigala-serigala itu sehingga dua binatang angkasa ini akan melepaskan kembali Matahari dan bulan agar keduanya dapat bersinar terang lagi.

Saturday, November 9, 2013

Saat teks-teks kitab suci merenggut akal sehat


Pada tahun 2008, pasangan suami-isteri Kristen, Larry dan Carri Williams, dengan baik hati mengadopsi seorang gadis cilik dari Ethiopia yang bernama Hana pada usianya yang ketigabelas. Di negara bagian Washington, AS, tempat tinggal mereka, mereka tidak mengirim Hana ke sekolah untuk belajar. Sebagai gantinya, mereka menyelenggarakan sendiri pendidikan dalam rumah (homeschooling), dengan mereka bertindak sebagai guru-guru gadis cilik ini./1/

Sebagai panduan kegiatan pendidikan anak dalam rumah ini, mereka memakai sebuah buku yang diterbitkan dan dipakai oleh banyak keluarga Kristen fundamentalis ekstrim yang berjudul To Train Up A Child yang ditulis oleh Michael and Debi Pearl./2/

Buku ini memuat petunjuk-petunjuk teknis mendidik anak, yang disusun berdasarkan teks-teks Alkitab. Dalam buku ini, para guru homeschooling diminta untuk antara lain memakai berbagai peralatan dan barang keperluan tukang ledeng untuk memukul bagian-bagian tubuh anak-anak sejak mereka berusia satu tahun. Di antaranya, selang plastik diharuskan dipakai untuk memukul tubuh anak-anak yang sedang dididik jika mereka bandel atau tak bisa menangkap pelajaran. Jika makin bandel, buku ini mengharuskan anak-anak direndam dalam bak berisi air dingin, atau ditempatkan di luar rumah ketika udara dingin dan tidak diberi makan seraya digebuki berulangkali. 

Wednesday, November 6, 2013

Mencari sang rembulan purnama dalam dunia agama-agama

Saya mau mengulas ihwal bagaimana umat beragama yang satu memandang agama umat yang lain. Ulasan ini penting berhubung kita setiap hari bertemu dengan orang-orang yang menganut agama-agama yang berbeda dari agama yang kita anut, dan kita perlu tahu posisi apa yang harus kita ambil sebagai posisi yang paling tepat.



Adakah lebih dari satu bulan purnama untuk planet Bumi?


Ketika berhadapan dengan agama-agama lain, posisi umum yang diambil umat beragama adalah posisi eksklusivis. Perspektif eksklusivis menempatkan agama sendiri sebagai agama yang benar satu-satunya. Di luar agama sendiri tak ada wahyu ilahi apapun. Jika anda berposisi eksklusivis, bagi anda kebenaran mutlak dan final hanya ada dalam agama anda sendiri. Dengan posisi eksklusivis, anda meng-eksklusi agama-agama lain dari dunia kebenaran dan wahyu. Hanya agama anda sendiri yang mendiami dunia kebenaran dan wahyu.

Dalam eksklusivisme, Tuhan dan kebenaran hanya ada dalam agama anda sendiri. Di luarnya hanya ada setan dan kesesatan. Dengan posisi eksklusivis, anda menjadi seorang beragama yang triumfalis: memandang diri sebagai sang pemenang, sang viktor, dan lawan-lawan anda para pecundang.

Sunday, November 3, 2013

Alegori kereta perang filsuf Plato



sang kusir sangat disusahkan oleh kuda hitamnya yang binal

Saya mau mengemukakan pandangan filsuf Plato (427 SM-347 SM) tentang fungsi akal atau nalar manusia. Dalam karya dialog-nya yang berjudul Phaedrus (246a-254e) (ditulis 360 SM), Plato mengajukan sebuah alegori (metafora) tentang kereta perang yang ditarik dua ekor kuda bersayap, yang dikendalikan oleh seorang kusir sebagai petarung./1/

Satu ekor kudanya berwarna hitam, berada di sebelah kiri, dan seekor lagi putih di sebelah kanan. Untuk bisa naik ke dunia ilahi (dalam filsafat Plato dinamakan dunia Forma) sang kusir dalam medan tempur harus bisa mengendalikan kedua ekor kuda itu.

Kuda putih di sebelah kanan melambangkan keberanian, heroisme, semangat dan moralitas. Kuda ini cukup diperintah lewat kata-kata sang kusir. Kuda hitam di sebelah kiri melambangkan emosi dan perasaan manusia yang binal. Kuda ini binal, harus dipecut terus-menerus untuk mengendalikannya. Kuda hitam ini terus-menerus mendatangkan masalah kepada sang kusir.

Saturday, October 12, 2013

Teks-teks kitab suci, apakah selalu relevan?

Banyak penganut agama-agama memandang bahwa semua hal yang ditulis dalam kitab-kitab suci mereka pasti akan selalu relevan di zaman kapanpun dan di tempat apapun. Ini pandangan yang salah, karena faktanya akan selalu ada teks-teks kitab suci yang tak relevan lagi di dunia masa kini di tempat kita. Kenapa? Lalu, apa yang harus kita lakukan saat kita menemukan teks-teks kitab suci yang menurut kita tidak relevan lagi? Uraian berikut akan menjawab dua pertanyaan ini. Bersiaplah mengarungi jeram-jeram. 

Semua kitab suci agama-agama besar yang kita kenal ditulis pada zaman dulu dan bukan di tempat kita, di suatu dunia dan zaman yang lain, yang jauh terpisah dari zaman dan tempat kita sekarang di Indonesia abad ke-21.

Ada dua jurang yang memisahkan kita dari para penulis kitab-kitab suci: jurang sejarah (historical gap) dan jurang budaya (cultural gap). Dua jurang ini lebar dan dalam, sukar bahkan ada yang mustahil untuk diseberangi.

Jurang sejarah adalah jurang waktu, yang memisahkan kita dari para penulis kitab-kitab suci, sepanjang ratusan tahun hingga ribuan tahun. Jurang sejarah menciptakan juga jurang budaya yang membuat hidup berbudaya para penulis kitab-kitab suci secara radikal tak sama lagi dengan hidup berbudaya yang sedang kita jalani.

Sebagai contoh: antara kita yang hidup di abad ke-21 dan Tanakh Yahudi (Perjanjian Lama orang Kristen) terbentang jurang sejarah sepanjang 23 abad hingga 33 abad. Antara Perjanjian Baru dan kita terbentang jurang sejarah sepanjang 20 abad. Antara kita dengan Al-Qur’an terbentang jurang sejarah minimal 14 abad, maksimal 33 abad jika dihitung dari saat penulisan kisah-kisah nabi-nabi agung Yahudi seperti Abraham/Ibrahim dan Musa, yang masuk ke dalam Al-Qur’an di abad ke-7 di Tanah Arab.

Jurang sejarah beberapa abad hingga puluhan abad itu harus dipandang sangat serius, tidak boleh kita menutup mata terhadapnya, karena jurang ini menimbulkan akibat-akibat serius dalam usaha kita memahami teks-teks skriptural kuno. 

 Hallo saudaraku dari dunia lain, apa kabarmu?

Indonesia 100 tahun lalu sudah sangat ketinggalan dalam segala segi jika dibandingkan Indonesia abad ke-21. Apalagi Indonesia puluhan abad lalu. Cobalah anda baca beberapa surat kabar di Indonesia yang terbit sekitar awal masa-masa kemerdekaan Indonesia. Anda akan heran ketika mengetahui betapa berbedanya Indonesia pada masa-masa itu jika dibandingkan Indonesia di abad ke-21, dalam banyak segi kehidupan.

Semua penulis kitab-kitab suci dan masyarakat mereka hidup dalam era pra-modern dan pra-ilmiah, dalam suatu dunia agraris kuno, yang belum mengalami modernisasi, yang dipenuhi banyak takhayul dan pemikiran-pemikiran mitologis. Kita sekarang hidup dalam era modern dan era ilmiah, dalam suatu masyarakat industrial dan pasca-industrial. Kalaupun kita masih juga hidup dalam zaman agraris, sistem manajemen pertanian dan perkebunan kita sudah dimodernisasi.

Saat kitab-kitab suci kuno ditulis, para penulis dan masyarakat mereka tentu belum tahu komputer, Internet, smartphone, Facebook, Twitter, dan Instagram. Ada seseorang di Twitter pernah menyatakan kepada saya bahwa dalam kitab sucinya semua sains dan teknologi modern sudah ada infonya, sebab kitab sucinya memuat semua info tentang segala sesuatu dalam dunia ini sejak awal diciptakan sampai jagat raya ini binasa nanti dalam suatu kiamat besar. Bagi saya, pernyataannya ini menunjukkan ada yang tidak beres dalam cara berpikirnya, mungkin dia korban indoktrinasi yang berlangsung panjang dan intensif.

Orang-orang dalam zaman kitab-kitab suci ditulis tentu saja sering melihat berbagai jenis burung terbang di udara, tapi mereka belum pernah melihat pesawat-pesawat jet melintasi langit. Dalam zaman modern, ketika saya dulu berdiam di sebuah negara di Eropa, nyaris setiap hari saya melihat sekian pesawat jet Concorde melintas di ketinggian angkasa, bergerak terbang dengan kecepatan beberapa kali di atas kecepatan suara, dengan meninggalkan garis-garis panjang lurus asap putih di belakang ekornya masing-masing, membentuk suatu pemandangan yang menakjubkan.

Orang-orang zaman kitab-kitab suci disusun tentu bisa berpergian jauh hanya lewat darat dan laut, tapi tak pernah lewat angkasa dengan menumpang pesawat-pesawat jet. Lewat darat mereka berpergian jauh tentu saja tidak dengan mengendarai Jeep Land Rover untuk membelah padang pasir yang tandus, tapi dengan menunggang hewan-hewan tunggangan seperti onta, atau keledai, kuda, dan juga gajah di kawasan-kawasan lain. Lewat laut mereka dapat berpergian jauh dengan naik kapal-kapal layar atau yang didayung dengan kekuatan tangan, tanpa memakai mesin-mesin penggerak.

Mereka juga tidak tahu sama sekali kalau jagat raya ini sudah berusia 14 milyar tahun, dan tata surya sudah berusia 5 milyar tahun. Pengetahuan-pengetahuan ini adalah pengetahuan-pengetahuan yang diberikan sains modern, khususnya kosmologi dan astrofisika, yang belum lahir pada zaman-zaman kuno ketika kitab-kitab suci ditulis.

Sains dan teknologi kesehatan dan pengobatan modern tentu saja mereka tidak ketahui. Pada masa kitab-kitab suci ditulis, angka kematian bayi sangat tinggi, begitu juga ibu-ibu yang mandul jumlahnya sangat banyak sehingga kaum pria harus beristeri lebih dari satu agar kemungkinan mendapatkan keturunan lebih besar lagi. Para perempuan pada masa-masa itu lebih dilihat sebagai tempat “bercocoktanam” kaum pria, ketimbang sebagai insan-insan mulia yang setara yang patut disayangi dan dihormati sepenuh-penuhnya.

Pemerintahan demokratis modern seperti yang dijalankan sekarang di negara-negara maju belum mereka kenal. Mereka mengelola masyarakat dan negara mereka secara teokratis atau nomokratis, berdasarkan hukum-hukum Allah, tidak demokratis yang membagi pemerintahan dalam tiga lembaga tinggi negara yang dikenal sebagai “trias politica”. Pada era Yunani klasik yang pagan sistem demokrasi langsung sudah diterapkan, misalnya di negara kota Athena. Tapi di negara-negara yang dari dalamnya muncul kitab-kitab suci agama-agama teistik sistem demokrasi langsung ala Yunani kuno tidak diterapkan.

Alam pemikiran mereka bercorak mitologis: dewa-dewi dari dunia adikodrati dipercaya berinteraksi dengan manusia di dunia kodrati dan mempengaruhi kehidupan mereka. Mereka melihat sejarah dibentuk bukan oleh para insan besar pembuat sejarah, tapi oleh makhluk-makhluk gaib adikodrati yang telah menentukan sebelumnya perjalanan sejarah manusia dalam skenario ilahi mereka.

Sakit penyakit dicari penyebabnya pada tindakan makhluk-makhluk gaib seperti setan dan iblis serta makhluk-makhluk gaib lainnya dalam diri manusia. Diare dilihat penyebabnya pada setan-setan yang merasuk perut manusia, bukan pada bakteri-bakteri jahat yang masuk ke dalamnya dan menyerangnya. Mereka memberi jampi-jampi kepada para penderita diare, bukan memberi antibiotika, untuk menyembuhkan mereka. Orang yang menderita sakit gangguan mental seperti depresi dan skizofrenia dilihat penyebabnya juga pada setan-setan yang harus diusir lewat ritual-ritual keagamaan.

Masyarakat mereka dikuasai dan diperintah kaum pria sehingga melahirkan patriarki yang melegitimasi misogini dan diskriminasi terhadap perempuan atas nama agama-agama mereka. Mereka mengabsahkan budaya patriarki dan misogini dengan memakai nama Tuhan dan Allah mereka, dan memasukkannya ke dalam kitab-kitab suci mereka. 

Di dalam Perjanjian Baru, diskriminasi terhadap kaum perempuan muncul dalam sebuah teks yang bunyinya demikian: “Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. Aku tak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah dia berdiam diri. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak,...” (1 Timotius 2:11-14). Teks yang penulisnya tidak kita ketahui ini dengan jelas menyatakan bahwa insan perempuan hanya punya nilai karena mereka melahirkan anak. Selebihnya, kaum perempuan adalah insan yang lemah, inferior, tak punya pendirian, pendosa, tak ada harga dan nilainya. Sungguh menyakitkan hati siapapun yang punya nurani yang membacanya. Lalu, menurut Rasul Paulus, “Hawa diperdayakan oleh ular dengan kelicikannya” (2 Korintus 11:3); jadi, Hawa, bagi Paulus, adalah makhluk bodoh yang kalah lihai dibandingkan seekor ular.  

Itulah teks-teks tipikal Kristen dalam suatu patriarki di zaman kuno yang merendahkan, membenci dan mendiskriminasi kaum perempuan. Teks-teks ini perlu dilawan, bukan dibiarkan untuk mendukung superioritas kaum pria./1/ Sesungguhnya tidak perlu Hawa mitologis dipandang sebagai sumber dosa asal, atau insan lemah yang kalah cerdik dibandingkan seekor ular. Hawa harus dipandang sebagai seorang perempuan pemberani, seorang yang heroik, karena berani mengambil langkah sendiri dalam mencari dan mendapatkan pengetahuan moral. Orang pertama yang tercerahkan adalah Hawa, kendatipun dia hanya sosok mitologis.  

Ada juga teks-teks Kristen misoginis di luar Perjanjian Baru. Seorang pemimpin gereja dari abad ke-2, Tertullianus, dengan memakai Kejadian 3 sebagai titik pijaknya, menegur keras dan kejam kaum perempuan Kristen zamannya, lagi-lagi dengan mengacu ke sosok Hawa, demikian:
“Kalian adalah pintu gerbang masuknya setan ke dalam dunia... kalian adalah Hawa yang membujuk Adam, yang setan tidak berani serang.... Tahukah kalian bahwa setiap orang dari antara kalian adalah seorang Hawa? Hukuman Allah terhadap gender kalian tetap berlaku dalam zaman ini; begitu juga, kesalahan yang dibuat Hawa bagaimanapun juga tetap ada” (Tertullianus, De Cultu Feminarum I, 12).
Di dalam sebuah dokumen yang dibeli British Museum tahun 1785, yang berjudul Pistis Sofia (ditulis tahun 250 M), misogini digambarkan juga terdapat dalam diri Rasul Petrus, yang menurut Gereja Roma Katolik adalah bapak moyang semua Paus. Teks Pistis Sofia 72 memuat ucapan Maria Magdalena tentang Rasul Petrus kepada Yesus, demikian: “Guruku, aku memahami dalam pikiranku bahwa aku dapat maju ke muka kapan saja untuk menafsirkan apa yang Pistis Sofia telah katakan, tetapi aku takut kepada Petrus, karena dia telah mengancam aku dan membenci gender kami.” Teks Pistis Sofia yang semacam ini tentu dilatarbelakangi suatu persaingan tajam antara rasul-rasul perempuan dan rasul-rasul pria dalam gereja awal dulu.

Anda segera saja dapat melihat dan merasakan betapa berbedanya cara kehidupan dan cara berbudaya mereka di zaman yang sangat lampau dan di tempat yang berbeda, jika dibandingkan dengan manusia yang hidup dalam zaman modern di tempat anda. Jadi, jurang sejarah dan jurang budaya antara kita dan para penulis kitab-kitab suci sangat real, sehingga tak bisa diabaikan dengan alasan apapun.

Banyak orang beragama menyatakan dengan keyakinan yang berlebihan bahwa kitab suci agama mereka tak terikat ruang dan waktu, tapi berlaku kekal abadi di manapun. Ini suatu kesalahan besar. Sekuat apapun klaim orang bahwa kitab suci mereka berlaku kekal di segala tempat, fakta menunjukkan semua kitab suci terikat ruang dan waktu. Semua kitab suci, karena ditulis dalam dunia ini dalam suatu kurun tertentu di tempat tertentu, selalu terikat ruang dan waktu. 

Kalau kita telaah lewat kajian-kajian ilmiah, misalnya lewat telaah antropologis kultural, dalam setiap kitab suci akan terlihat banyak unsur budaya insani kuno yang terjalin dalam teks-teksnya. Setiap teks, menurut kajian-kajian ini, memiliki makna yang berasal dari sistem-sistem sosial, bukan dari dunia ilahi./2/ Unsur-unsur budaya insani lokal tempat para penulis kitab-kitab suci hidup, terlihat dengan jelas di mana-mana dalam setiap lembaran kitab-kitab suci. Begitu juga, kalau kajian-kajian sosiosaintifik dilakukan atas teks-teks kitab suci apapun, akan terlihat dengan jelas unsur-unsur sosiopolitik insani kontemporer yang terjalin di dalam serat-serat teks-teksnya./3/ Semua kitab suci, dengan demikian, terikat pada zaman dan tempat kelahiran masing-masing. 

Menyangkali fakta ini, akan membuat kita memandang kebudayaan insani yang terdapat di dalam setiap kitab suci sebagai wahyu ilahi, alhasil kita memberhalakannya, dengan demikian kita jatuh ke dalam dosa syirik. Selain itu, karena para penganut agama-agama umumnya akan pasti menyebarkan berita-berita dalam kitab-kitab suci mereka ke mana-mana sejauh mereka dapat jangkau, maka bersamaan dengan kegiatan misioner ini kebudayaan insani kuno para penulis kitab-kitab suci mereka akan juga dibawa mereka ke tempat-tempat lain dalam zaman mereka untuk menggantikan kebudayaan-kebudayaan asli tempat-tempat lain itu. Alhasil, terjadilah penjajahan kultural atas kebudayaan-kebudayaan lain yang dipandang inferior jika dibandingkan dengan kebudayaan insani para penulis kitab-kitab suci mereka. Menjajah dan menggantikan suatu kebudayaan dengan kebudayaan lain yang dipandang superior (misalnya kebudayaan Yahudi kuno, Eropa abad-abad pertama, dan Arab), saya percaya bukan kehendak Allah agama apapun. Sekali lagi, memperlakukan suatu kebudayaan insani sebagai kebudayaan ilahi yang normatif untuk seluruh dunia, sebenar-benarnya adalah suatu dosa syirik yang membuahkan penindasan dan penjajahan kultural.

Pada pihak lain, orang boleh saja mengklaim bahwa kitab suci mereka adalah wahyu dari sorga sepenuhnya sehingga tak berisi unsur-unsur budaya insani. Klaim ini sesungguhnya berbahaya dan melarikan diri dari fakta-fakta. Mengapa? Pertama, pandangan semacam itu sesungguhnya mengabaikan kebudayaan insani yang sifatnya relatif yang begitu kuat mengisi lembaran-lembaran setiap kitab suci dan menjadikannya kebudayaan ilahi yang diwahyukan, yang dipandang harus dengan segala cara menggantikan semua kebudayaan lain dalam dunia ini. Penjajahan kultural ini berbahaya, karena akan bisa melenyapkan sebuah kebudayaan yang semustinya dilindungi. Kedua, andaikata wahyu dari dunia adikodrati itu ada, untuk bisa dipahami manusia di Bumi wahyu ini memerlukan kebudayaan manusia sebagai wadah dan medianya, sebagai tubuhnya. Wahyu 100 persen dari dunia gaib yang sama sekali tak memakai unsur-unsur kebudayaan manusia, tak pernah akan dapat dipahami manusia real di Bumi, dus kita tak membutuhkannya.

Jika sebuah kitab suci dapat berguna untuk kehidupan manusia, itu artinya wahyu ilahi sampai kepada manusia lewat kebudayaan-kebudayaan insani dan berbagai pengalaman manusia. Wahyu ilahi dan kebudayaan insani jalin-menjalin, dan kerap sukar sekali bahkan mustahil dipisahkan, alhasil wahyu ilahi murni itu sebenarnya tak ada sama sekali. Tanpa kebudayaan insani sebagai tubuhnya, sebagai wadahnya, wahyu ilahi akan menjadi roh gentayangan tanpa raga, yang melayang bebas tanpa arah dan tanpa tujuan, dan tanpa pesan-pesan yang real dan aktual.

Dalam kekristenan pernah diyakini dengan sangat kuat bahwa Perjanjian Baru gereja adalah wahyu dari sorga yang turun langsung karena bahasa Yunani yang dipakainya diyakini tak ada paralelnya. Dus, bahasa Yunani Perjanjian Baru pada masa-masa itu dipandang sebagai bahasa sorgawi, bukan bahasa duniawi. Keyakinan bahwa Perjanjian Baru wahyu langsung dari sorga bertahan lama sampai akhirnya sains, sekali lagi sains, membuktikannya tak benar. Sains sudah menemukan dan membuktikan bahwa di luar Perjanjian Baru bahasa Yunani yang dipakainya ternyata juga dipakai dalam banyak dokumen lain yang sezaman dari kawasan-kawasan yang berdekatan. Kini orang menyebut bahasa Yunani Perjanjian Baru bahasa Yunani koine, artinya bahasa Yunani yang umum dipakai di kawasan Laut Tengah kuno, konteks budaya Perjanjian Baru, pada abad pertama M. Sama sekali bukan bahasa sorgawi. Hal yang sama tentu akan terjadi juga dengan kitab-kitab suci lain, hanya menunggu waktu saja.

Dalam zaman modern, sains bagaimanapun juga akan bisa menjelaskan asal-usul semua kitab suci tanpa perlu merujuk ke alam gaib. Metode yang dinamakan historical criticism telah terbukti mampu menjelaskan teks-teks kitab suci sebagai teks-teks yang terikat ruang dan waktu, dikondisikan oleh sejarah dan kebudayaan insani. Seberapa siap setiap umat beragama menerapkan metode ilmiah ini dalam usaha memahami kitab suci mereka, bergantung pada pertumbuhan kesadaran ilmiah mereka. Susahnya, agama-agama umumnya juga berfungsi untuk mematikan kesadaran ilmiah manusia, dengan mengharuskan para penganut masing-masing hidup hanya dengan iman, tanpa ilmu.

Meskipun terikat pada konteks sejarah dan konteks budaya tertentu, tak berarti tak ada pesan-pesan yang langgeng dalam setiap kitab suci. Tentu ada pesan-pesan yang langgeng dalam setiap kitab suci, khususnya yang disampaikan lewat teks-teks kebijaksanaan universal. Selain itu dalam setiap kitab suci ditemukan juga pergumulan-pergumulan eksistensial manusia yang terus berulang secara universal dari satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya, melintasi zaman-zaman dan tempat-tempat. Dalam sebuah lagu mereka yang berjudul Ebony and Ivory, penyanyi Paul McCartney dan Stevie Wonder bersenandung, People are the same wherever you go. Teks-teks kitab-kitab suci yang mendorong anda mencintai sesama anda (dari latarbelakang apapun) dan berkorban untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka tentu selalu relevan, kendatipun bagaimana wujud cinta kasih kepada sesama itu dapat berbeda dari satu situasi ke situasi lain.

Tapi sejauh menyangkut modernitas dan sains-tek modern, semua kitab suci terputus dari dunia dan zaman kita di abad ke-21. Kita tak perlu melakukan praktek “cocokologi” untuk membela apa yang kita yakini sebagai kehebatan kitab-kitab suci kita masing-masing. Mencocok-cocokkan kitab suci kita dengan pandangan-pandangan sains modern hanya membuat kitab-kitab suci kita mengekor sains yang terus berubah sehingga kitab-kitab suci kita kehilangan fungsinya sebagai kitab-kitab pemandu moralitas manusia supaya manusia menjadi makhluk-makhluk yang memiliki moral agung.

Dengan cocokologi yang kerap dilakukan para agamawan konservatif yang umumnya anti-modernitas, para agamawan ini tanpa mereka sadari telah menjadi agamawan-agamawan modern lewat kegiatan-kegiatan mereka memodernisasi teks-teks kitab suci mereka di luar kemauan teks-teksnya sendiri. Kalau memang benar kitab-kitab suci memuat segala info tentang sains dan teknologi modern, mustinya sejak zaman-zaman kitab-kitab suci ditulis belasan hingga puluhan abad lampau, sains dan teknologi modern sudah dibangun oleh orang-orang zaman kitab-kitab suci ditulis. Faktanya tokh tidak demikian sama sekali. Yang membuat sesuatu itu disebut sains bukan agama apapun, tetapi metode-metode saintifik universal (observasi, eskperimentasi, empirisisme, instrumentalisme, verifikasi) dan penalaran-penalaran (induksi, deduksi, dan abduksi) yang digunakan./4/ Siapapun yang memakai metode-metode dan penalaran-penalaran saintifik ini, apapun agamanya dan di zaman dan tempat apapun dia hidup, akan menghasilkan temuan-temuan saintifik yang sama, sebab sains itu universal dan tidak berserikat dengan agama apapun.

Cikal-bakal dan beberapa fondasi penting sains modern justru ditemukan mula-mula di dunia pagan Yunani kuno pada era SM dan di Eropa era Pencerahan abad ke-18 M, bukan di dalam agama-agama teistik Yahudi, Kristen dan Islam. Tetapi sains modern sendiri dimulai oleh penyelidikan-penyelidikan astronomis yang dilakukan Galileo Galilei di abad ke-16/17 M di Italia. Galileo Galilei adalah ilmuwan yang kini diakui sebagai bapak sains modern, khususnya untuk natural sciences.

Terlihat sudah ada jurang sejarah dan jurang budaya yang lebar antara dunia kita di abad ke-21 dan dunia kitab-kitab suci kuno. Dengan demikian, sudah pasti akan ada banyak pesan dan info dalam kitab-kitab suci yang tak relevan lagi di zaman dan tempat kita sekarang. Beberapa saja perlu disebut pada kesempatan ini; yang lain-lainnya silakan anda tambah sendiri.

Bentuk negara teokratis yang muncul dalam kitab-kitab suci agama-agama teistik, tak relevan lagi di suatu dunia yang sekarang diatur secara demokratis. Jika kita ingin negara kita maju dan modern, hanya tersedia satu pilihan bentuk negara, yakni negara demokratis. Ada pemuka-pemuka keagamaan yang menyatakan bahwa sekalipun kitab-kitab suci mereka disusun di zaman kuno, di dalam masing-masing kitab suci mereka sudah ada prinsip-prinsip demokrasi modern. Hemat saya, ini adalah suatu anakronisme: memindahkan kebudayaan modern yang mempraktekkan demokrasi ke zaman-zaman kuno pra-modern yang di dalamnya teokrasi dijalankan. Bagaimana mungkin teokrasi dan demokrasi duduk sepelaminan? Bagaimana mungkin penunjukan seseorang sebagai pemimpin bangsa lewat wahyu dan wangsit sejalan dengan pemilihan seorang kepala negara lewat pemilu?  

Kepercayaan bahwa setan sebagai penyebab diare dan depresi, jelas tak relevan lagi dalam zaman modern, zaman ketika sains kedokteran, medikasi dan psikiatri sudah sangat maju dan terbukti bermanfaat. Faktanya adalah, ketika kepercayaan ini tetap dipertahankan, orang-orang yang sakit tidak disembuhkan, tapi penyakit-penyakit mereka makin bertambah parah dan akhirnya mereka meninggal dunia.

Lex talionis yang diberlakukan di dunia kuno atas nama agama jelas tak relevan lagi dalam dunia masa kini yang umumnya diatur oleh hukum positif (ius positum), yaitu hukum-hukum yang didalilkan oleh manusia lewat mekanisme demokratis, bukan oleh Tuhan. Salah satu bentuk lex talionis zaman kuno, yakni hukum potong tangan, jelas sekarang ini dinilai sangat jahat dan karenanya tak relevan lagi di zaman modern.

Alam pemikiran mitologis jelas berbenturan tajam dengan alam pemikiran modern di mana sains menjelaskan hampir segala sesuatu dengan objektif. Keingintahuan yang dihambat, dan pelakunya dihukum berat, seperti terjadi pada Hawa sebagaimana dikisahkan dalam mitos Taman Eden, jelas tak sejalan dengan semangat ilmiah masa kini, yang membuat orang dengan bergairah mengikuti rasa ingin tahunya terhadap berbagai misteri kehidupan, yang membuatnya merangkul sains.

Genosida yang diperintahkan oleh Tuhan Allah kepada umat-Nya, yang ikut berperang bersama umat-Nya, seperti dikisahkan dalam banyak bagian Perjanjian Lama, jelas dinilai sebagai fiksi yang destruktif pada masa kini.

Ancaman hukuman mati kepada penganjur dialog antaragama dan kepada orang yang pindah agama seperti diperintahkan dalam Tanakh Yahudi (Ulangan 13) jelas tak relevan lagi di dalam suatu dunia di mana pluralisme dan multikulturalisme dan HAM dihayati sebagai nilai-nilai modern.

Misogini, dan diskriminasi terhadap kaum perempuan, dan juga kepada kaum homoseksual (atau yang lebih dikenal sebagai kaum LGBT), yang umumnya mengisi lembaran-lembaran kitab-kitab suci kuno, jelas sudah tak bisa dipraktekkan lagi dalam zaman modern ketika semua gender dan orientasi seksual diperlakukan sederajat, ketika kaum perempuan telah membuktikan diri mereka sebagai insan-insan yang sama hebat, sama kreatif dan sama mandirinya dengan insan lelaki./5/

Masih banyak contoh yang bisa diangkat dari kitab-kitab suci kuno yang sudah tak bisa ditiru dalam zaman modern. Apa yang harus kita lakukan terhadap teks-teks skriptural yang sudah tak relevan lagi dalam zaman sekarang? Tentu kita tak perlu membuangnya. Yang paling mudah adalah tak memakai lagi teks-teks skriptural yang sudah tak relevan. Usul ini sering ditanggapi dengan negatif oleh umat-umat beragama yang sangat mencintai kitab-kitab suci mereka. Tetapi sebetulnya, diam-diam banyak bagian kitab-kitab suci yang sudah tak disentuh lagi oleh umat-umat beragama, karena mereka diam-diam sudah menilai sendiri bahwa teks-teks ini sudah tak cocok lagi untuk dijalankan dalam zaman modern sekarang ini. Praktek diam-diam ini disebut sebagai kanon di dalam kanon: hanya sebagian isi kitab suci yang dipandang masih berwibawa sebagai norma-norma dan karena itu terus digunakan, dan bagian-bagian lainnya dinilai sudah tidak berwibawa, lalu tidak dipakai, meskipun ada dalam satu kitab suci yang sama.

Atau, teks-teks yang tak relevan lagi kita interpretasi ulang supaya masih dapat digunakan dengan konstruktif. Salah satu langkah reinterpretasi teks-teks skriptural yang sudah tak relevan adalah mengubahnya jadi metafora, kiasan, bukan teks-teks tentang fakta-fakta yang harus kita jalankan. Misalnya, lex talionis potong tangan dalam agama Islam perlu ditafsir ulang sebagai metafora hukuman terberat pada zaman kini terhadap para kriminal berat. Meskipun demikian, saya masih bertanya-tanya, hukuman potong tangan yang semustinya dikenakan pada seorang pencuri kelas teri (misalnya seorang pencuri kambing), harus diganti dengan hukuman penjara terberat berapa tahun? Tapi tak semua teks skriptural yang sudah tak relevan bisa ditafsir ulang sebagai metafora, sehingga memang dengan berat hati harus tak dipakai lagi. 

Selain itu, dalam rangka reinterpretasi, supaya teks-teks skriptural yang sudah tak relevan masih bisa dipakai, kita mencari bukan huruf-hurufnya tetapi semangatnya, spirit-nya. Atau, idiom-idiom mitologis teks-teks skriptural yang sudah tak relevan kita cari titisan jiwanya, kita jelmakan dalam idiom-idiom modern. Perang melawan setan-setan, misalnya, kita ubah idiom-nya menjadi perang melawan bakteri-bakteri dan semua sumber asali penyakit, tentu saja dengan memakai sains dan teknologi pengobatan sebagai senjata pamungkasnya. 

Sebetulnya, semua kitab suci masih bisa berguna dan signifikan di zaman modern, asal anda tak memahaminya harfiah, melainkan lewat sains hermeneutik. Hermeneutik bekerja saat anda pertama-tama memahami sebuah teks kuno dalam konteks sistem-sistem sosiobudaya zaman lampau yang di dalamnya teks-teks ini ditulis (ini dinamakan Horison 1). Lalu, anda kenali dan pahami betul sistem-sistem sosiobudaya sekarang, yang di dalamnya anda hidup, berkarya dan berpikir dan membangun peradaban (ini dinamakan Horison 2). Nah, ketika anda dengan kreatif mempertemukan dan mendialogkan Horison 1 dan Horison 2 secara berimbang, dan darinya anda mendapatkan sebuah pemahaman baru atas teks kuno itu yang tidak lazim tetapi mampu menjawab tantangan Horison 2, anda telah menjalankan sebuah hermeneutik yang bagus. Dengan demikian, dimensi-dimensi teks kuno yang berada dalam wilayah interseksi Horison 1 dan Horison 2 adalah dimensi-dimensi teks yang bisa menjawab panggilan zaman dan tempat anda hidup sekarang. Oleh Hans-Georg Gadamer, interseksi yang saya sebut ini dinamakannya suatu fusi horison-horison (Jerman: Horizontverschmelzung). Gadamer menyatakan bahwa “pemahaman [atas sebuah teks] selalu merupakan fusi horison-horison ini yang dianggap ada pada dirinya sendiri.”/6/ Hemat saya, lebih tepat jika kita menyebutnya interseksi, bukan fusi, sebab tidak seluruh wilayah Horison 1 dan wilayah Horison 2 dapat digabung atau dipertemukan atau bertumpangtindih dengan sempurna.

Berkaitan dengan ini, dalam konteks hermeneutik fiqih Islam di Indonesia, saya kagum pada alm. KH Sahal Mahfudz (wafat 24 Januari 2014), penulis buku bagus Kritik Nalar Fiqih NU. Beliau menyatakan bahwa Karena [merupakan] produk ijtihad, maka keputusan fiqih bukan barang sakral yang tidak boleh diubah meskipun situasi sosial budayanya sudah melaju kencang. Pemahaman yang mensakralkan fiqih jelas keliru.”/7/ Jelas, pandangan KH Sahal Mahfudz ini melawan arus, bahkan di dalam tubuh NU sendiri, dan karena itu menjadikannya seorang jurutafsir fiqih masa kini yang hebat. Jika demikian halnya dengan hermeneutik fiqih, hermeneutik Al-Quran juga dengan sendirinya mengikuti.

Menurut Ulil Abshar-Abdalla, KH Sahal Mahfudz “mengembangkan corak berpikir fiqih yang kontekstual. Maksudnya: berpikir dengan mempertimbangkan konteks dan keadaan sosial di suatu masa. Karena cara berpikir inilah, Kiai Sahal dikenal dengan gagasannya mengenai Fiqih Sosial (al-fiqh al-ijtima’i). Ciri-ciri fiqih kontekstual adalah: terlibat dengan persoalan-persoalan nyata yang dihadapi rakyat; teks dalam kitab-kitab fiqih dipahami dalam terang konteks sosial yang ada pada suatu waktu; dinamis dan progresif, dalam pengertian berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan zaman; tidak hitam-putih; fleksibel, tanpa kehilangan komitmen pada suatu prinsip pokok.”/8/Dengan bagus Mas Ulil telah membeberkan dengan singkat bagaimana hermeneutik dijalankan oleh KH Sahal Mahfudz. Kita memerlukan lebih banyak lagi sosok seperti beliau.  

Dengan hermeneutik, jurang sejarah dan jurang budaya yang lebar dapat kita persempit supaya kita dapat menyeberanginya dengan aman, untuk mempertemukan orang-orang zaman lampau dengan orang-orang zaman modern. Lewat hermeneutik, firman Allah dalam kitab-kitab suci kuno yang sampai ke zaman modern akan menjadi firman yang membangun kehidupan dan peradaban manusia, bukan yang menghancurkan dan membinasakan. Anda tentu mau agama anda menjadi agama yang membangun kehidupan dan peradaban, bukan? Jika ya, tak ada jalan lain, selain anda cerdas beragama.  

----------------------

/1/ Tentang perlawanan terhadap kisah Hawa skriptural, lihat Ioanes Rakhmat, Menerapkan 'Hermeneutik Resistensi' terhadap Kisah Skriptural Taman Eden Demi Merehabilitasi Hawa, Sang Perempuan, Jurnal Perempuan, no. 64, thn 2009, hlm. 141-149.

/2/ Kajian-kajian antropologis kutural telah lama dilakukan terhadap Alkitab, dan sudah banyak buku tentang ini yang sudah ditulis. Antara lain, lihat Bruce J. Malina, Christian Origins and Cultural Anthropology: Practical Models for Biblical Interpretation (Louisville, Kentucky: Westminter John Knox Press, 1986); idem, The New Testament World: Insights from Cultural Anthropology (Louisville, Kentucky: Westminter John Knox Press, edisi ketiga, 2001). 

/3/ Pendekatan tafsir sosiosaintifik juga sudah lama dipakai dalam orang menafsir Alkitab; sudah banyak buku tentangnya yang sudah ditulis. Antara lain, lihat John H. Elliott, What Is Social Scientific Criticism? (Minneapolis, MN: Fortress Press, 1993); John J. Pilch, ed., Social Scientific Models for Interpreting the Bible: Essays by the Context Group in Honor of Bruce J. Malina (Atlanta, GA: SBL, 2000).  

/4/ Metode dan penalaran saintifik modern ini diberi landasan-landasan filosofisnya terutama oleh seorang filsuf pragmatisisme dan empirisisme Charles S. Peirce (1839-1952), disamping juga oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952). Tentang pemikiran Peirce, sudah banyak buku ditulis; lihat khususnya Karl-Otto Apel, Charles S. Peirce: From Pragmatism to Pragmaticism. E.T. by John Michael Krois (Atlantic Highlands, N.J.: Humanities Press International, 1995); Nathan Houser, Don D. Roberts, dan James van Evra, eds., Studies in the Logic of Charles Sanders Peirce (Bloomington and Indiana Polis: Indiana University Press, 1997).

/5/ Usaha menafsirkan kembali teks-teks tentang homoseksual di dalam Alkitab telah saya lakukan; lihat Ioanes Rakhmat, Benturan Tafsir: Homoseksualitas dalam Alkitab, dalam majalah Bhinneka: Agama dan Kepercayaan, edisi Juni 2012, hlm. 22-31. Lihat juga Ioanes Rakhmat, Benturan Tafsir Konservatif dan Tafsir Liberal atas Teks-teks Homoseksualitas dalam Alkitab, 4 Januari 2012, pada http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/01/benturan-tafsir-konservatif-dan-tafsir.html. 

/6/ Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (London dan New York: Continuum International Publishing Group, 1975, 2006, 2011), hlm. 305.   

/7/ Lihat tulisan MI MH Keling dalam blog-nya, “KH. Sahal Mahfudz; Ketidaksyakralan Fiqih dan Perlunya Bermazhab secara Metodologis”, 18 April 2011, pada http://mimatholiulhudakeling.blogspot.com/2011/08/kh-sahal-mahfudz-ketidak-syakralan.html. 

/8/ Ulil Abshar-Abdalla, “Opini: Mengenang Kiai Sahal”, Satu Harapan.Com, 27 Januari 2014, pada http://satuharapan.com/index.php?id=109&tx_ttnews[tt_news]=11367&cHash=1.