Featured Articles

Thursday, November 29, 2012

Timeline sekitar “fine tuning”


Banyak agamawan berpendapat bahwa jagat raya telah disetel dengan pas (fine tuned) supaya manusia, sebagai makhluk yang diistimewakan, bisa muncul dan hidup di dalamnya dengan pas, dan yang telah menyetel jagat raya dengan pas tak lain adalah Allah sendiri. Tetapi saya mengajukan banyak pertanyaan terhadap “fine-tuning” jagat raya.

Bagaimana mungkin the big bang yang terjadi sangat jauh di masa lampau, 13,72 milyar tahun lalu, telah disetel pas hanya untuk mempersiapkan manusia yang baru muncul 300.000 tahun lalu di Afrika?

Bagaimana mungkin sistem Matahari (solar system) terbentuk kurang lebih 5 milyar tahun lalu, dan telah disetel dengan pas, hanya untuk mempersiapkan kelahiran manusia 300.000 tahun lalu di benua Afrika, tempat asal yang sama mamalia simpanse, bonobo dan orangutan?

Bagaimana mungkin organisme monoselular/bakteri muncul di muka Bumi 3,5 milyar tahun lalu hanya untuk mempersiapkan kemunculan manusia 300.000 tahun lalu?

Angka-angka di atas sangat tidak sejalan dengan apa yang dituturkan dalam kitab Kejadian dalam Tanakh Yahudi mengenai penciptaan langit dan Bumi dan penciptaan manusia, padahal kaum agamawan umumnya berpegang kuat pada teks-teks bagian kitab suci ini kalau mereka mau bersoal-jawab mengenai penciptaan alam semesta dan bentuk-bentuk kehidupan. Dengan kesetiaan kuat pada teks-teks suci ini, para agamawan akan dengan mantap menyatakan bahwa jagat raya dan manusia tercipta dalam kurun 6 x 24 jam waktu manusia, atau, kata mereka pula, dalam jangka waktu 6 x 1000 tahun waktu Allah.  

Kalau para agamawan meyakini bahwa sang arsitek dari “fine tuning” adalah Allah, maka Allah ini tampak tidak cerdas dan tidak efisien dalam mengatur jadwal waktu kemunculan manusia. Maksud saya tentu bukan waktu kosmik, yang membuat the big bang seolah baru sebuah kejadian kemarin saja, melainkan waktu real insani di muka Bumi yang dibutuhkan sehubungan dengan kemunculan manusia, sejumlah 13,72 milyar tahun sejak the big bang, dan 3,5 milyar tahun sejak munculnya bakteri di muka Bumi, sampai lahirnya manusia.

Jika hal-hal di atas mengungkapkan hal-hal yang tidak mungkin, apakah ada hal-hal yang mungkin?

Yang mungkin justru kebalikannya: lewat kekuatan-kekuatan alam yang buta dan tak mengenal moral, lewat evolusi, manusia telah disetel dengan pas untuk bisa hidup dalam solar system dan jagat raya kita. Ada atau tidak adanya manusia, sistem Matahari dan jagat raya kita akan tampil sebagaimana adanya sekarang, tak terpengaruh oleh organisme yang namanya manusia. 

Bayangkanlah, ada suatu bencana alam dahsyat menimpa Bumi, misalnya sebuah asteroid raksasa sebesar seperempat planet Bumi menerjang planet ini, lalu akibatnya semua kehidupan di planet ini, termasuk manusia, punah tak bersisa. Atau, bayangkanlah tiba-tiba saja, pada masa kehidupan anda, karena kekerdilan akal dan moral manusia Perang Dunia III pecah di muka Bumi, dan lewat senjata pemusnah massal nuklir, kimiawi dan biologis, semua bentuk kehidupan, termasuk spesies manusia, musnah tanpa bekas karena perang ini. Apakah dengan punahnya spesies homo sapiens di muka planet Bumi, segala bentuk fine tuning dalam sistem Matahari dan dalam jagat raya serta-merta lenyap dari jagat raya, dan karenanya jagat raya sendiri menjadi kacau-balau lalu ikut lenyap? Tentu tidak, bukan? Tanpa homo sapiens dalam jagat raya, tanpa sedikit pun kenangan tentang spesies ini, jagat raya masih akan ada bermilyar-milyar tahun ke depan dengan hukum-hukumnya sendiri yang terus bekerja, dingin tanpa cinta, bisu tanpa persahabatan. Jika demikian, di mana posisi istimewa homo sapiens, manusia, dalam jagat raya, jika dalam kenyataannya spesies ini hanya sebutir debu tak signifikan dalam jagat raya mahabesar, sama seperti butir-butir debu bintang yang terdiri atas partikel-partikel subatomik elektron dan quark?   

Dengan landasan saintifik teori dawai, kini dikenal konsep multiverse, ada banyak jagat raya, jumlahnya 10500 (10 pangkat 500), bukan hanya satu. Jika ada sangat banyak jagat raya, maka apa yang di dalam jagat raya kita tampak fine-tuned, di luarnya bisa tidak fine-tuned. Sebaliknya, apa yang fine tuned dalam jagat-jagat raya lain dan dalam sistem-sistem Matahari lain, bisa tidak fine tuned dalam jagat raya kita dan dalam sistem Matahari kita.

Jangan dilupakan, dalam jagat raya kita saja, atau di muka Bumi saja, ada sangat banyak kejadian alam dahsyat yang tidak fine-tuned dengan kehidupan. Tsunami dahsyat yang dimulai dengan patahan-patahan lempeng-lempeng tektonik di dasar laut, apakah fine-tuned dengan kehidupan organisme multiselular, dengan kehidupan manusia? Kalau lidah-lidah api raksasa di permukaan bintang Matahari (solar prominence) menyembur sampai ke planet Bumi suatu saat, apakah ini fine-tuned dengan kehidupan? Kalau pemanasan global tak terkendali lagi, apakah ini fine-tuned dengan kehidupan homo sapiens? Kejadian orang mati tersambar petir, atau sebuah kampung dan penduduknya lenyap diterjang badai dahsyat, apakah ini fine-tuned dengan kehidupan? Tanah-tanah gersang dan panas seluas benua, yang menimbulkan kelaparan dahsyat di mana-mana, apakah ini fine-tuned dengan kehidupan? Kalau sewaktu-waktu (seperti 65,5  juta tahun yang lampau) sebuah asteroid raksasa menerjang permukaan planet Bumi, dan alhasil semua kehidupan punah, apakah ini fine tuned dengan kehidupan? Dalam jagat raya kita, galaksi-galaksi yang bertabrakan dan memusnahkan galaksi-galaksi yang ada sebelumnya, apakah fine tuned dengan bentuk-bentuk kehidupan yang mungkin ada di sana, sekalipun dari tabrakan ini akan dihasilkan galaksi-galaksi baru?

Hal-hal yang tidak fine-tuned di atas, dan masih sangat banyak hal lain yang tidak fine-tuned di muka Bumi maupun di antariksa, tentu saja sebagian darinya oleh teknologi insani yang sudah sangat advanced akan, hopefully, bisa diatasi, bukan oleh alam sendiri atau pun oleh para dewa supernatural yang dibayangkan kaum agamawan mengisi kosmos kita. 

Untuk mengatasi berbagai kejadian alam yang tidak fine-tuned, misalnya terjangan meteor-meteor besar ke permukaan planet Bumi di masa depan, tidak ada jalan lain, selain manusia masuk ke angkasa luar dan di sana, dengan teknologi, kita menjinakkan dan menyetir kembali meteor-meteor itu sebelum menerjang Bumi, atau meledakkannya di angkasa luar, jauh di atas Bumi, dengan nuklir. Seperti ditulis Arthur C. Clarke, “Bahaya tumbukan asteroid atau komet adalah salah satu alasan terbaik manusia masuk ke angkasa luar”; atau seperti ditulis Larry Niven, “Dinosaurus-dinosaurus menjadi punah karena hewan-hewan besar ini tidak memiliki sebuah program antariksa. Dan jika kita dapat punah karena kita tidak memiliki sebuah program angkasa luar, program ini akan melayani kepentingan kita dengan baik.”/1/ Di masa depan, alam membutuhkan teknologi manusia untuk menghasilkan fine tuning dalam jagat raya; dan tampaknya Allah apapun tak akan diikutsertakan, karena memang tidak bisa diikutsertakan. 

Dengan mempertahankan fine-tuning jagat raya, kaum agamawan sebenarnya ingin menyatakan ada Allah yang mahatahu sebagai sang desainer jagat raya. Tapi saya baru saja memperlihatkan, fine-tuning tidak mutlak, dan kalaupun terjadi, semuanya alamiah belaka, dan lagi ada sangat banyak hal yang berlangsung tidak fine-tuned di planet kita dan dalam jagat raya kita.

Agenda terpenting yang diperjuangkan para agamawan pembela fine-tuning adalah keyakinan bahwa manusia itu makhluk termulia yang kemunculannya telah dipersiapkan oleh Allah dengan matang. Dengan matang? Ataukah dengan sangat tidak efisien dan berleha-leha, tak serius, jika dalam jagat raya kita yang mahatakterbatas hanya ada, seperti dipercaya kaum agamawan, satu organisme cerdas, manusia, yang hidup di sebuah planet biru yang namanya planet Bumi?

Jika kita perhitungkan dengan serius usia jagat raya kita yang sudah 13,72 milyar tahun, dan juga ruang jagat raya kita yang tanpa batas, ada kemungkinan yang sangat besar bahwa kehidupan, dari yang berbentuk mikroorganisme monoselular sampai yang berbentuk organisme multiselular yang memiliki kecerdasan, sudah bermunculan di banyak tempat dalam jagat raya kita, meskipun hingga kini kita belum dapat menemukan bentuk-bentuk kehidupan apapun di jagat raya kita di luar Bumi, berhubung ruang jagat raya kita besarnya tak terbayangkan dan kita tak akan pernah sanggup memeriksa setiap jengkal ruang jagat raya ini untuk menemukan kehidupan cerdas dalam wujud apapun. Jika usia jagat raya anda perhitungkan, maka anda harus bisa siap menerima kemungkinan yang sangat besar bahwa ada banyak peradaban cerdas di angkasa luar, yang usianya sudah jutaan hingga milyaran tahun, sementara usia peradaban saintifik teknologis modern kita baru 300-400 tahun saja. Jika organisme-organisme cerdas dari peradaban antariksa supermaju ini memandang kita, situasinya bisa jadi analog dengan kita memandang dan mengkaji bakteri-bakteri. Di mata mereka, kita ini cuma bakteri-bakteri

Jika hal-hal yang baru dikemukan di alinea atas, dipertimbangkan dengan sangat serius, maka makin mustahil lagi untuk kita percaya bahwa the big bang diciptakan suatu Allah untuk mempersiapkan kemunculan hanya satu organisme cerdas yang kita beri nama (dalam kata-kata Latin) homo sapiens, makhkluk cerdas, yaitu anda dan saya dan mereka dan nenek moyang kita, sebagai organisme yang diklaim paling mulia. Lagi dikatakan oleh Arthur C. Clarke, ... dan jika hierarki jagat raya tersingkap untuk kita, kita bisa jadi harus mengakui kebenaran yang menakutkan ini: jika ada allah-allah apapun yang perhatian utama mereka hanya organisme manusia, allah-allah semacam ini bukanlah allah-allah yang sangat penting. 

Tapi pertanyaan yang juga serius adalah ini: Apakah benar manusia itu makhluk termulia? Bagaimana mungkin manusia itu makhluk termulia, sementara dari pikiran dan tindakannya muncul berbagai azab dan kejahatan di muka Bumi.  Bagaimana mungkin manusia makhluk termulia sementara “homo homini lupus est” adalah sebuah fakta keras dalam segala zaman.  Bagaimana  mungkin manusia makhluk termulia sementara partikel-partikel dalam tubuhnya (elektron dan quark) sama dengan partikel-partikel abu gosok? Bagaimana mungkin manusia makhluk termulia jika DNA-nya sangat menyerupai dan sangat dekat dengan DNA simpanse dan bonobo dan orangutan? Bagaimana mungkin manusia makhluk termulia, jika moralitas juga dimiliki berbagai hewan primata dan mamalia lain?

Kalau manusia disebut makhluk cerdas, homo sapiens, ya benar, tapi kecerdasan tak sama dengan kemuliaan atau keagungan. Apakah para koruptor itu mulia dan agung? Jelas tidak, meskipun mereka cerdas dalam menipu dan memakan uang tak sah. Apakah para teroris itu agung dan mulia? Jelas tidak, kendatipun mereka cerdas dalam merencanakan aksi–aksi teror. Apakah para penjahat perang itu agung dan terhormat? Jelas tidak, meskipun mereka sangat cerdas dalam merencanakan aksi-aski genosida yang sistematis dan efektif.

Untuk bisa menjadi makhluk cerdas dan mulia sekaligus, prosesnya tidak otomatis turun dari langit, tetapi perlu usaha keras dan disiplin diri yang kokoh, tak bisa hanya dengan kesalehan keagamaan. Untuk menjadi makhluk mulia dan cerdas sekaligus, diperlukan proses pembelajaran dan pendisiplinan diri yang keras dan memakan waktu sangat lama. Jika lewat proses ini, anda berhasil menjadi manusia yang cerdas dan mulia sekaligus, itulah makna kehidupan anda sebagai individu dalam dunia ini, di jagat raya kita ini, sekalipun anda, pada level partikel sub-atomik, hanyalah elektron dan quark, sama seperti butiran debu-debu bintang.  

Jika anda begitu saja percaya bahwa manusia adalah makhluk paling mulia, buanglah kepercayaan anda ini, karena tidak sesuai dengan fakta-fakta.

Anda perlu sekali-sekali menemukan fakta bahwa seekor anjing ternyata bisa lebih mulia dari seorang manusia. Anda perlu sekali-sekali menemukan fakta bahwa ternyata seekor orangutan bisa lebih agung dari seorang manusia. Anda juga perlu banyak kali menemukan fakta bahwa ternyata seorang manusia bisa lebih aib, lebih biadab dan lebih menakutkan dibandingkan seekor serigala yang bertaring tajam.

Sekian saja dulu TL runtut tentang fine-tuning. Selamat pagi, everycell.

Catatan-catatan: