Saturday, September 8, 2012

Sains, Agama dan Filsafat

Saya berniat menulis nisbah-nisbah yang ada antara sains, agama dan filsafat, yang akan dituang ke dalam tiga tulisan terpisah yang sinambung. Tulisan yang pertama, yang kini anda sedang membacanya, menyoroti titik-titik konflik antara agama dan sains. Tulisan yang kedua, akan fokus pada titik-titik temu atau paralelisme antara sains dan agama. Kemudian, dalam tulisan yang ketiga, saya akan membuat suatu tinjauan filosofis menyeluruh atas hubungan-hubungan yang ada antara sains dan agama.   

Gautama Buddha dan Einstein:
Suatu konvergensi agama dan sains?

Saya melihat minimal ada tiga titik konflik antara agama dan sains.  Konflik pertama muncul dalam wilayah moral; konflik kedua, dalam wilayah otoritas sains dan otoritas wahyu; dan titik konflik ketiga berpusat pada pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai eksistensi Allah dan hakikat manusia.

Moralitas

Nilai-nilai altruistik yang umum ditawarkan agama-agama kuno, yang mendorong manusia mau berkorban demi kebaikan manusia lainnya, tentu saja tetap relevan untuk kehidupan zaman sekarang. Tetapi ada banyak nilai moral yang ditawarkan kitab-kitab suci kuno, yang tak kena lagi untuk zaman sekarang.

Semua kitab suci agama kuno ditulis dalam suatu kebudayaan patriarkal yang merendahkan kaum perempuan. Patriarkalisme ini berbenturan dengan moralitas modern yang membela kemitraan sejajar perempuan dan lelaki dalam semua aspek kehidupan. Begitu juga, sementara orang modern menerima kesetaraan kalangan LGBT di semua bidang kehidupan, kalangan skripturalis kebanyakan agama membenci mereka. Agama-agama teistik kuno membela teokrasi, yang kalau diterapkan sekarang akan berbenturan dengan banyak nilai moral yang dibela sistem demokrasi modern. Dalam dunia kuno, genosida dipraktekkan atas nama suatu allah, sementara kini dipandang sebagai satu musuh umat manusia. Dalam zaman modern, pemikiran bebas didorong dan dijamin oleh UUD suatu negara, tapi para agamawan berbagai agama memakai kitab suci untuk memberangus pemikiran kritis yang tak sejalan dengan isi kitab suci. Moralitas yang ditarik dari teks-teks legal dalam kitab-kitab suci kuno banyak bertabrakan dengan moralitas yang manusia modern susun dengan memperhitungkan konteks sosio-historis suatu tindakan.

Jika ada banyak nilai moral yang ditawarkan agama-agama kuno tak bisa lagi dijalankan pada masa kini, maka, sebagai akibatnya, fungsi agama sebagai satu sumber terpenting ajaran moral bagi kehidupan modern dipertanyakan. Adakah pengganti agama untuk manusia dapat membangun suatu sistem moralitas? Ada!

Sebelum landasan-landasan saintifik teoretis dan klinis diberikan terhadap jawaban positif ini, baiklah kita berpaling sejenak ke kalangan saintis yang terus melangkah maju untuk mengembangkan sains sebagai sains (pure science), tanpa mau dikendala oleh moralitas apapun yang dibebankan agama-agama.

Kalangan saintis semacam ini jelas akan jauh lebih banyak jumlahnya sebagai para saintis ateis (atau agnostik), ketimbang sebagai para “saintis beragama” (yang kerap malah terpaksa hidup dalam dua dunia yang terus  tegang, atau malah “mempelintir” sains supaya sejalan dengan agama, dus kehilangan kredibilitas sebagai saintis) . Kita bertanya, jikalau para saintis ateis ini tak mau dipengaruhi atau diatur oleh nilai-nilai moral keagamaan, apakah dengan demikian mereka menjadi orang-orang yang tidak bermoral, yakni jahat, buruk, bersalah dan tak memiliki tanggungjawab dalam kehidupan mereka dan khususnya dalam karir profesional mereka sebagai para saintis? Faktanya sama sekali tak demikian!

Ambil satu atau dua fakta saja dari karir profesional mereka sebagai contoh, lalu kita bandingkan fakta-fakta ini dengan apa yang menjadi pandangan agama-agama.

Agama-agama monoteistik (Yudaisme, Kristen, dan Islam), yang mempertahankan suatu pandangan sejarah yang linier, mengarahkan semua penganut mereka ke ujung sejarah, ke ujung waktu, ke zaman yang disebut “akhir zaman”, di saat mana dunia yang mereka sekarang kenal dipercaya akan lenyap dalam suatu bencana kosmik dan seluruh umat manusia akan mengalami nasib akhir mereka, dengan sebagian dimasukkan ke surga abadi dan sebagian lagi ke neraka abadi, yang keduanya dipercaya ada dalam dunia adikodrati. Jalannya sejarah yang linier ini, yang membentuk suatu garis lurus, yang memiliki awal dan akhir, tak dapat dibatalkan atau diputar ulang, sehingga dalam pengertian ini kita dapat menyebutnya sebagai suatu pandangan sejarah yang berujung fatalistik.

Dalam agama-agama yang nonteistik seperti Buddhisme, dan juga dalam Hinduisme yang politeistik, yang dipertahankan bukanlah pandangan sejarah yang linier, melainkan sejarah yang siklikal, bersiklus.

Dalam kosmologi mereka (yang dibangun berdasarkan Veda), dunia kita ini dipandang senantiasa mengalami zaman-zaman evolusioner yang menanjak maju, yang lalu niscaya diikuti zaman-zaman lain yang devolusioner, yang membawa umat manusia dan peradaban mereka ke dalam kemunduran yang bertambah-tambah sampai tiba kembali ke zaman-zaman yang mulai menanjak, dalam suatu siklus zaman-zaman yang abadi. Mereka menyebut zaman-zaman ini Zaman Besi (Kali), Zaman Perunggu (Dvapara), Zaman Perak (Treta), dan Zaman Emas (Krita), yang terus datang dan pergi silih berganti dalam suatu siklus abadi. Manusia dan peradaban mereka sama sekali tak bisa menghindari keharusan untuk masuk ke dalam siklus zaman-zaman yang abadi ini, yang terus berputar bak roda pedati, sementara radiasi dan gelombang elektromagnetik dari pusat galaksi terus terpancar memasuki sistem Matahari kita dan dipercaya mempengaruhi otak manusia.

Jadi, kalau manusia yang menjadi penganut agama-agama monoteistik bersikap fatalistik, menunggu akhir zaman yang tak bisa mereka hindari, yang konon akan terjadi ketika kosmos mengalami bencana menyeluruh, begitu juga halnya dengan orang-orang yang menganut agama-agama yang mempertahankan pandangan sejarah yang siklikal. Golongan yang kedua ini bahkan tak bisa mengharapkan peradaban mereka sungguh-sungguh mengalami kemajuan tanpa akhir dan tanpa batas, sebab setelah zaman kemajuan (Zaman Emas) menyusullah zaman-zaman kemunduran bertahap yang dimulai dengan Zaman Besi. Kalaupun orang monoteis bisa membayangkan suatu kemajuan yang terus menanjak, pada akhirnya mereka harus berhadapan dengan titik ujung, titik akhir waktu dan titik akhir peradaban mereka.

Bagaimana sikap, perilaku dan pandangan kalangan saintis yang ateis, terhadap kemajuan peradaban dan nasib akhir manusia dan planet Bumi? Sangat jelas, mereka menolak sikap fatalistik, berperilaku progresif dan terus mengejar kemajuan yang diyakini tak mengenal akhir dan batas, dan terus memikirkan secara profesional saintifik bagaimana mempertahankan kehidupan manusia, makhluk cerdas yang dalam istilah Latinnya disebut homo sapiens, di planet Bumi ini.

Bahkan mereka juga sudah memikirkan secara profesional saintifik ihwal bagaimana menyelamatkan planet Bumi jika pada beberapa milyar tahun dari sekarang planet biru ini terancam musnah ditelan bintang Matahari yang karena fusi nuklir di dalamnya akan akhirnya berubah menjadi suatu bola api raksasa yang mengembung yang akan menelan planet kita./1/ Pendek kata, kalangan saintis yang ateistik ataupun agnostik tidak mengenal kata “akhir zaman” atau “kiamat” baik bagi peradaban manusia maupun bagi planet Bumi, pada masa kapanpun juga.

Seandainya pun planet Bumi nantinya tak bisa diselamatkan dari bencana kosmik tertelan oleh bintang Matahari yang berubah menjadi bola api besar dan dahsyat, mereka sudah memikirkan untuk menjadikan sebuah planet lain di kawasan sistem Matahari kita sebagai planet kedua kita untuk nanti kita tinggali, misalnya planet Mars yang sekarang ini sudah banyak dibicarakan, dikaji dan dieskplorasi khususnya berkaitan dengan sains yang perlu ditemukan dan teknologi yang perlu dihasilkan dalam rangka melakukan terraforming terhadap planet merah ini. Sebagaimana banyak saintis telah lihat, di antaranya almarhum Carl Sagan, dan juga Stephen Hawking, adalah sangat berbahaya bagi spesies manusia jika mereka hanya menjadi penghuni satu planet yang namanya Bumi; untuk survival di masa depan, manusia memerlukan planet kedua untuk mereka nantinya tinggali sebagai rumah kedua./2/

Kita dengan benar harus bertanya, Bagaimana nasib kita nantinya jika daya dukung planet Bumi sebagai sumber energi telah habis? Telah banyak saintis memikirkan hal ini, dan masing-masing telah menulis artikel-artikel dan buku-buku yang isinya futuristik, menyangkut masa depan peradaban manusia dan nasib spesies cerdas ini. Michio Kaku, misalnya, telah menuangkan pemikirannya yang futuristik mengenai topik ini, dan artikelnya tentang ihwal menjadikan peradaban Bumi sebagai salah satu peradaban galaktik, telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan telah saya pasang online./3/

Begitu juga, seorang saintis lainnya, yang sangat menggantungkan masa depan spesies kita pada teknologi modern, Ray Kurzweil, telah menulis sebuah buku tebal dan bagus yang isinya sangat futuristik, berjudul The Singularity Is Near./4/ Kurzweil bahkan mengantipasi minimal di ujung dua dekade di depan (2029), spesies manusia akan mengalami transformasi menjadi bionic humans (perpaduan manusia dan mesin robot yang cerdas), dengan kecerdasan dan daya tahan tubuh meningkat berlipat-lipat kali tak terbayangkan.

Nama-nama besar di atas saya sebut di sini hanya sebagai contoh saja. Hal selanjutnya yang harus kita lakukan adalah bertanya: Jika para saintis yang mengembangkan sains demi sains, dan tak mau didikte oleh kalangan agamawan yang mau menghambat mereka dengan fatalisme dan ajaran-ajaran moral agama, tetap memiliki kesadaran moral dan panggilan dari dunia sains untuk mempertahankan spesies manusia dan “mentransformasi” spesies ini ke suatu bentuk kehidupan yang jauh lebih cerdas dan jauh lebih kuat, dan menyelamatkan planet Bumi, dari manakah kesadaran moral ini tumbuh dalam diri mereka? Jawabnya: kesadaran moral mereka muncul dari gen yang memerintah otak mereka, otak yang menghasilkan ilmu sekaligus nilai-nilai moral, sementara mereka menjalani kehidupan real dalam masyarakat yang terus mengalami evolusi dan transformasi sosial. Kalau sains yang dihasilkan dari kerja otak manusia yang memiliki kemampuan sangat plastis untuk menganalisis segala sesuatu terbukti berfungsi, demikian jugalah seharusnya nilai-nilai moral yang dihasilkan dari pemikiran para saintis sekuler, yang sama sekali menolak intervensi agama ke dalam aktivitas profesional mereka.

Maka selanjutnya kita perlu sedikit membeberkan bagaimana sains bisa melahirkan nilai-nilai moral, yang selama ini diyakini hanya bisa diberikan oleh agama sekali untuk selamanya.

Sam Harris, dalam buku terbarunya yang terbit 2010, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values,/5/ menunjukkan bahwa sains modern, khususnya neurosains (= sains tentang sifat, kapasitas dan cara kerja neuron-neuron yang membentuk organ otak manusia), dapat menjadi satu sumber nilai-nilai moral yang dibangun berdasarkan suatu kesadaran bahwa semua manusia membutuhkan well-being, kesejahteraan, bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakatnya. Karena otak melahirkan sains, dan sains memunculkan teknologi, dan keduanya digunakan untuk kesejahteraan manusia dan ketahanan semua bentuk kehidupan, maka otak juga akan sanggup, tanpa agama sekalipun, untuk menggariskan nilai-nilai moral sekuler, yang mengarahkan tindakan manusia ke suatu tujuan pamungkas, yakni menghasilkan, mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan untuk semua insan.

Sebuah buku lainnya yang lebih mutakhir, yang mengulas hal yang sama, adalah buku Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality./6/ Churchland menunjukkan bahwa nilai-nilai moral diproduksi oleh otak manusia (yang disebutnya brain-based values); karena itu moralitas dapat dibangun secara saintifik lewat neurosains, sebuah disiplin ilmu yang menempatkan kerja neuron-neuron otak manusia dalam suatu jejaring yang melibatkan gen dan perilaku manusia. Dari jejaring organik dan psikologis ini manusia sanggup melahirkan nilai-nilai moral seperti kepedulian pada diri sendiri dan pada orang lain, kemampuan bekerja sama dan mempercayai orang lain sehingga terbentuk kehidupan sosial yang bermanfaat bagi ketahanan spesies. Kemampuan ini sudah ada dalam gen manusia jauh sebelum agama-agama muncul dalam dunia ini; dan sejauh agama-agama makin meningkatkan kemampuan moral ini, agama-agama masih berguna. Pada pihak lain, kemampuan bawaan genetik untuk bertahan hidup oleh nenek moyang manusia dieksternalisasi dan diverbalisasi dalam ajaran-ajaran moral, salah satunya ajaran moral dalam agama-agama. Jadi, agama-agama juga dihasilkan oleh gen  insani kita.

Perlu ditekankan bahwa sains modern sudah lama menunjukkan bahwa manusia memiliki suatu kemampuan genetik untuk mempertahankan kehidupan mereka, baik lewat “selfish gene” maupun lewat “altruistic gene” (Richard Dawkins) dan lewat suatu mekanisme sosio-biologis “the struggle for survival” (Charles Darwin) atau “survival of the fittest” yang bekerja dalam proses evolusi biologis, sosial dan kosmologis yang tak pernah selesai.

Altruistic gene mendorong setiap individu untuk mau berkorban diri demi survival komunitas. Selfish gene mendorong setiap individu untuk mempertahankan kehidupannya sendiri, yang akhirnya juga mempertahankan komunitasnya. Jadi, baik selfish gene maupun altruistic gene mendorong setiap individu membela dan mempertahankan komunitas, dengan caranya sendiri-sendiri. Dawkins antara lain menulis, “Karena itu, supaya suatu pola perilaku, baik yang altruistik maupun yang tamak, mengalami evolusi dan berkembang, maka suatu gen yang ‘mendukung’ perilaku itu harus bertahan hidup di dalam himpunan gen dengan lebih sukses ketimbang suatu gen pesaing yang ‘mendukung’ suatu perilaku yang berbeda.”/7/

Bagaimana cara gen manusia bekerja untuk menghasilkan ketahanan komunitas mereka? Tak ada cara lain selain gen insani itu mengatur cara otak manusia bekerja, demi survival manusia. Gen manusia bekerja sedemikian rupa lewat otak manusia untuk menghasilkan ketahanan komunitas. Tak ada jalur lain selain lewat otak, untuk gen kita memerintahkan kita mempertahankan kehidupan komunitas. Gen kita menghendaki spesies kita bertahan kekal di muka Bumi.

Untuk segala jenis kelakuan dan sikap mental, ada ruang-ruang neural-nya sendiri dalam organ otak kita. Menjadi liberal dalam beragama atau malah menjadi militan fundamentalis, juga ada ruang-ruang neurologisnya yang menentukan, dalam organ otak./8/ Demikian juga, ada ruang-ruang neural dalam organ otak kita yang membuat seseorang bisa berhaluan politik liberal atau bisa berhaluan politik konservatif, bergantung pada mana yang paling banyak diberi masukan mental dan pada kondisi fisik anatomis ruang-ruangnya./9/ Ihwal apakah seseorang menjadi psikopat (anti-sosial dan tak bisa berempati) juga ditentukan oleh kondisi kesehatan ruang-ruang neural tertentu dalam organ otaknya./10/

Dalam diri spesies homo sapiens, manusia cerdas, yang memiliki “self consciousness” (kesadaran diri), dorongan mempertahankan kehidupan, “the struggle  for survival”, tak lagi bersifat naluriah, melainkan dipikirkan, dirumuskan, diprogram, dan dievaluasi oleh otak manusia, dan dijalankan dalam tindakan dan perilaku. Dalam rangka inilah otak manusia, yang diperintah oleh gen, menunjukkan suatu kemampuan untuk melahirkan nilai-nilai moral, lewat sains, lewat kesadaran yang tertanam dalam otak, lewat kemampuan berpikir retroaktif dan antisipatif yang menembus ruang dan waktu, ke belakang maupun ke depan, dan tentu saja lewat pengalaman-pengalaman hidup dalam masyarakat yang terus mengalami transformasi dan evolusi.

Untuk memperkokoh argumen bagian ini bahwa moralitas lahir tidak dari agama, tetapi dari gen, saya perlu mengacu ke penemuan-penemuan di bidang-bidang lain. 

Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa makhluk manusia bertubuh modern homo sapiens muncul 300.000 tahun lalu di Afrika/11/, umur yang masih sangat muda dibandingkan usia planet Bumi sendiri (dan tata surya kita) 4,5 milyar tahun. Tetapi agama yang oleh antropolog Edward Tylor dinamakan “animisme” baru muncul 12.000 tahun SM, atau 14.000 tahun yang lalu./12/ Jika betul demikian, berarti selama 300.000 tahun minus 14.000 tahun, homo sapiens tak mengenal agama apapun. 

Tapi penemuan arkeologis lebih mutakhir oleh arkeolog Universitas Oslo Sheila Coulson dan timnya, mengharuskan kita menyimpulkan lain. Coulson mendapatkan bukti, ritual keagamaan yang sudah berkembang, sudah dipraktekkan orang Basarwa di Ngamiland, Afrika Selatan, 70.000 tahun lalu./13/ Dalam ritual religius mereka, orang Basarwa 70.000 tahun lalu menyembah ular Python besar yang dalam mitos penciptaan mereka dipandang sebagai leluhur yang melahirkan manusia. Jika demikian, berarti selama 300.000 tahun minus 70.000 tahun, nenek moyang homo sapiens hidup tanpa agama. Jika selama 230.000 tahun nenek moyang kita tak mengenal agama, dari manakah mereka mendapatkan moralitas untuk mengatur kehidupan mereka? Sudah pasti, tanpa agama apapun, nenek moyang homo sapiens bisa merumuskan moralitas (tentu tidak serumit moralitas dalam zaman modern sekarang ini) untuk ketahanan komunitas mereka. Jadi salah sekali jika kini kita beranggapan bahwa moralitas hanya bisa didapat dari agama.

Moralitas, sekali lagi, muncul dari kerja otak kita, yang diperintah gen kita untuk mengusahakan terus-menerus survival spesies kita dalam suatu proses evolusi yang tak pernah berhenti; dan gen ini juga yang melahirkan agama yang di dalamnya moralitas menjadi salah satu unsur bangunannya. Robert N. Bellah baru-baru ini telah menunjukkan dengan meyakinkan bahwa agama adalah anak kandung proses evolusi kosmik, biologis dan sosio-kultural yang masih berlangsung./14 / Dan, berkaitan dengan moralitas, “Jika evolusi bukanlah satu-satunya sumber penilaian-penilaian moral kita”, dan Allah juga bukan sumbernya, maka, kepekaan kita terhadap hal yang baik dan hal yang buruk kita miliki lewat proses “kita belajar”, demikian tulis Victor J. Stenger dalam buku terbarunya, God and the Folly of the Faith: The Incompatibility of Science and Religion./15/    


Otoritas Sains dan Otoritas Wahyu Skriptural

Pengetahuan modern dan cara menganalisis objek-objek secara saintifik baru muncul abad ke-16 atau abad ke-17 lewat kegiatan penelitian Galileo Galilei (1564-1642), yang kini diakui sebagai bapak sains modern (tetapi dulu ditolak dengan keras oleh gereja, diancam akan dieksekusi, tapi akhirnya dikenakan status tahanan rumah sampai akhir hayatnya), dan lewat analisis filosofis rasionalis René Descartes (1596-1650) yang diakui sebagai bapak filsafat modern dan dikenal luas lewat sebuah pernyataannya “Cogito, ergo sum”, “Aku berpikir, maka aku ada.”

Karena semua kitab suci ditulis pada masa pramodern, ketika orang belum mampu berpikir, mengobservasi dan menganalisis secara saintifik, jelas mustahil jika orang mau menemukan sains modern dalam kitab-kitab suci kuno. Jika kitab-kitab suci kuno benar memuat sains, mustinya sejak dulu para ahli kitab suci bisa menjadi para penemu sains. Faktanya tak demikian.

Pada sisi lain, tentu saja akan selalu ada orang-orang jenius dari latarbelakang berbagai agama yang sangat menghormati kitab suci mereka tetapi juga menjalani kehidupan profesional sebagai saintis. Meskipun demikian, fakta tetap menunjukkan bahwa mereka bisa menjadi saintis bukan karena ilham atau wangist dari kitab suci mereka, tetapi dari kegiatan-kegiatan mengobservasi dan menjelaskan berbagai realitas fisik objektif dengan logis dan dengan memakai teori-teori saintiifik yang sudah diterima, dan dari eksperimen-eksperimen yang disengaja, dari pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian tak disengaja yang kemudiian direnungi dan dipikirkan, dan dari bukti-bukti objektif dan autentik yang berhasil dikumpulkan.

Pada masa kehidupan Galileo Galilei dan sesudahnya, memang bermunculan saintis-saintis lain yang tetap setia pada gereja dan tetap memegang teguh kepercayaan-kepercayaan gereja; tetapi hal ini bisa terjadi bukan karena kepercayaan-kepercayaan Kristen sejalan dengan sains modern atau mendorong penemuan dan perkembangan sains, melainkan karena pada masa-masa itu hanya dengan tetap bernaung di bawah payung gereja para saintis akan tetap bisa memperoleh dan menggunakan berbagai fasilitas dan sarana yang mereka perlukan dalam penyelidikan-penyelidikan saintifik mereka. Kalaupun ada sumbangan dari kepercayaan Kristen yang dipegang mereka, sumbangan ini mungkin paling banter dalam bentuk dorongan kuat dalam diri para  saintis untuk mengeksplorasi alam, sejalan dengan sebuah perintah dalam kitab Kejadian supaya manusia menaklukkan alam, sebuah perintah skriptural yang (celakanya!) membuat manusia tak bersahabat lagi dengan alam.

Hal yang sudah pasti adalah bahwa sains modern lahir bukan dari kegiatan mengkaji kitab suci apapun, tetapi dari eksperimentasi, dari observasi atas segala fenomena alam, dan dari kegiatan berpikir yang logis, mendasar, runtut, analitis, konsisten, dan koheren dengan teori-teori saintifik yang sudah mapan, dan dari bukti-bukti empiris autentik objektif. Kontras dengan itu, kitab-kitab suci disusun berdasarkan suatu iman pada keberadaan makhluk-makhluk adikodrati (Allah, misalnya), tanpa suatu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim imaniah ini.

Suatu klaim saintifik hanya diterima benar jika ada bukti-bukti empiris (empirical evidence) yang mendukungnya; ini yang disebut sebagai epistemologi evidensialis (Latin: evidentia, bukti). Kitab-kitab suci mengklaim kebenaran berdasarkan kepercayaan (Latin: fidem), kebenaran imaniah yang berlaku absolut dan diyakini tak bisa salah karena dipercaya datang sebagai wahyu (Latin: revelationem); ini yang disebut sebagai epistemologi revelatif fideis, yang bertabrakan dengan epistemologi evidensialis dalam dunia sains. Sains tak bisa diabsolutkan, tak bisa diilahikan, meskipun tentu saja ada berbagai posisi saintifik yang sudah teruji dan sudah mapan. Sains juga tidak bisa diklaim tidak bisa salah, tetapi selalu terbuka pada falsifikasi saintifik dan reformulasi.

Banyak agamawan mengklaim bahwa kebenaran-kebenaran yang diberitakan dan dipertahankan dalam kitab suci mereka adalah kebenaran-kebenaran mutlak yang serba pasti, tak bisa salah dalam segala hal, karena dipercaya diberitahukan atau diwahyukan oleh Allah yang tak bisa salah, sehingga terjamin kebenarannya, dan berlaku kekal, tak pernah usang. Klaim ini sebetulnya salah sama sekali; lagi pula sangat merugikan.

Mengapa sangat merugikan? Sebab jika seseorang memperlakukan agamanya sebagai kebenaran mutlak satu-satunya yang tak bisa salah, seperti kebenaran-kebenaran dalam ilmu-ilmu pasti seperti matematika dan aritmetika, sehingga tak ada ruang ketidakpastian di dalam agamanya, si agamawan ini umumnya cenderung akan menjadi seorang agamawan yang bertemperamen keras dan menyukai kekerasan demi, disadari atau tidak olehnya, mempertahankan kepastian mutlak agamanya, suatu beban psikologis berat yang membuatnya stres setiap hari, ketika dia harus hidup di dalamnya dengan setiap hari dibombardir oleh berbagai fakta saintifik.

Si agamawan yang semacam ini mudah terkena stres berat dikarenakan dia sungguh tahu bahwa ada banyak segi dalam bangunan agamanya yang kalau ditelaah secara saintifik, akan terlihat kekeliruan dan kesalahannya oleh para pengamat netral yang mampu berpikir saintifik! Seorang agamawan yang semula yakin agamanya memberi kepastian mutlak dalam segala hal, akan merasa Bumi dan langit di atasnya gonjang-ganjing lalu runtuh menimpanya tanpa ampun ketika diperlihatkan kepadanya bahwa ada banyak sekali ketidakpastian, kesalahan, fiksi dan mitos dalam agamanya.

Kajian-kajian historis kritis yang antara lain dikenal sebagai historical criticism, ketika diterapkan terhadap kitab-kitab suci kuno, suatu kegiatan akademik yang sudah berlangsung lebih dari dua abad di Barat, berhasil memperlihatkan bahwa semua kitab suci adalah suatu produk kebudayaan manusia di dalam suatu konteks sosio-historis tertentu, sehingga selalu memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu yang serius. Siapapun yang mengabaikan fakta ini akan dengan mudah tergelincir masuk ke dalam parit anakronisme dan etnosentrisme ketika memaknai teks-teks kitab suci apapun.

Selanjutnya saya ingin menegaskan sejelas-jelasnya bahwa justru kebenaran-kebenaran yang diwartakan agama-agama adalah kebenaran-kebenaran yang paling tidak pasti, paling relatif, sebab hal-hal yang diklaim sebagai kebenaran dalam agama-agama tidak berpijak pada bukti-bukti empiris objektif autentik yang dapat diobservasi oleh indra atau oleh peralatan teknologis, melainkan hanya dipercaya saja secara subjektif. Hanya karena kepentingan-kepentingan sosio-politis (dan ekonomis) kaum agamawan sajalah, klaim-klaim keagamaan yang paling tidak pasti dan paling relatif ini diubah (lewat penetapan dogma-dogma, yang diindoktrinasikan ke dalam benak umat) menjadi klaim-klaim yang serba pasti dan serba mutlak.

Pada sisi lain, jika si agamawan memandang agamanya berisi banyak ketidakpastian, maka dia akan tak berkeberatan jika agamanya diusulkan untuk dipandang sebagai art and humor, seni dan banyolan, yang dapat mengobati penyakit stres yang diidap banyak manusia modern, termasuk dirinya sendiri.

Sebaliknya, kebenaran-kebenaran saintifik jauh lebih pasti ketimbang kebenaran-kebenaran yang diberitakan agama-agama, sebab semua kebenaran sains diklaim benar dengan berdasar bukti-bukti empiris autentik dan objektif yang bisa diobservasi oleh indra dan peralatan teknologis. Bahkan ada banyak kebenaran saintifik yang kebenarannya sudah mencapai status kebenaran mutlak, sebagai kebenaran-kebenaran saintifik yang sudah mapan, misalnya hukum-hukum besi fisika yang tak bisa salah, dan berlaku universal, di muka Bumi maupun di seluruh jagat raya kita.

Jangan menganggap setiap saintis akan bertemperamen keras dan suka kekerasan berhubung dia selalu bergelut dalam dunia sains yang eksak, yang konon bisa membuatnya stres berat. Justru sebaliknya, hal-hal yang eksak lebih membahagiakan hati semua saintis material ketimbang hal-hal yang spekulatif. Selain itu, umumnya kalangan saintis sangat menyukai art and humor, seni dan dagelan, sehingga emosi mereka bisa terjaga dalam keseimbangan, antara hal-hal yang eksak dan hal-hal yang non-eksak, antara sang filsuf perempuan pemberani Hypatia dan biduanita kondang Celine Dion, antara pengamat bintang Galileo Galilei dan pelukis tenar Van Gogh, antara fisikawan teoretis Albert Einstein dan komponis kondang Mozart, antara kosmologiwan beken Michio Kaku dan penyanyi kenamaan Kitaro, antara pakar mekanika quantum tersohor Richard Feynman dan pembanyol Mr. Bean. Tentang interaksi ini, sebagai selingan, tengoklah situs cultureLab di Internet./16/

Pada sisi lain, kita sudah tahu, jika seorang saintis memakai kekerasan dan kekuasaan politis untuk mempertahankan pandangannya, bukan memakai argumen saintifik lewat debat terbuka, dingin dan terhormat, maka otomatis reputasi dan kredibilitasnya sebagai saintis akan hancur lebur.

Banyak agamawan mengklaim bahwa kitab suci mereka sejalan dengan sains modern. Tetapi sebetulnya mereka hanya dengan paksa mencocok-cocokkan sains modern dengan kitab suci, sehingga lahirlah ngelmu baru yang dinamakan “cocokologi”. Jika sains yang semula diklaim sejalan dengan kitab suci berubah, mereka, dengan memakai cocokologi, pasti akan mencari sekian teks skriptural lain untuk dipaksa sejalan dengan sains modern. Dengan memakai cocokologi sebenarnya para agamawan dengan tanpa mereka sadari telah menaklukkan kitab suci mereka pada sains dan teknologi modern, sebab ke mana saja sains dan teknologi modern bergerak, ke arah sanalah teks-teks kitab suci akan dibawa dan ditaklukkan. Ini jelas adalah sebuah kegiatan yang sangat merugikan dan juga melelahkan kaum agamawan. Selain itu, para praktisi cocokologi (umumnya kaum agamawan konservatif) tampak tidak paham bahwa pandangan-pandangan saintifik tentang hal apapun adalah pandangan-pandangan yang sangat kompleks, yang jika diuraikan akan menghasilkan berjilid-jilid buku tebal, sehingga sama sekali tidak bisa disusutkan atau diredusir menjadi hanya satu atau dua penggal ayat-ayat kitab suci apapun, sesuci apapun. 

Para praktisi cocokologi sebetul-betulnya tidak menemukan sains modern apapun dalam ayat-ayat kitab suci mereka, tetapi memakai poin-poin tertentu dari pandangan-pandangan saintifik yang sudah diketahui mereka sebagai pra-paham (presupposition) yang menjadi bingkai imajinatif dalam memahami teks-teks kitab suci mereka. Jadi, imajinasi merekalah, yang bisa sangat liar, yang dengan paksa menentukan makna teks-teks kitab suci. Bukan teks-teks kitab suci sendiri yang berbicara, tetapi kemauan dan imajinasi mereka mengendalikan apa dan bagaimana isi teks-teks kitab suci yang mereka telah pilih-pilih, yang mereka mula-mula anggap paling dekat atau paling klop dengan pandangan-pandangan saintifik, sementara menyembunyikan atau menolak teks-teks lain yang tidak klop atau yang malah bertentangan. Cara “cherry picking” teks-teks kitab suci semacam ini hanya bisa dijalankan jika teks-teks kitab suci dipahami secara literalistik, dengan sama sekali melepaskan teks-teks ini dari konteks sejarah dan konteks kebudayaan zaman lampau yang telah memunculkan teks-teks ini. Padahal kita tahu, untuk memahami teks apapun dengan benar, teks ini harus ditempatkan dalam konteks sejarah dan konteks kebudayaannya di zaman lampau. Jika sebuah teks dilepaskan dari konteks sejarah dan konteks kebudayaannya di zaman lampau, teks ini bisa berbicara apapun sejalan dengan kehendak bebas penafsirnya.      

Kalaupun sejumlah agamawan bisa dengan jujur, tanpa memakai cocokologi, mempertemukan sains modern dengan keyakinan religius mereka, ternyata keyakinan religius mereka sudah sangat tidak ortodoks lagi, karena untuk bisa sejalan dengan sains modern setiap agama memang harus didekonstruksi habis-habisan lalu direkonstruksi dengan mamakai parameter-parameter sains sebagai bahan-bahan utama bangunannya─apa yang oleh Robert N. Bellah dinamakan “naturalisme religius”.

Kini banyak agamawan dari berbagai agama mengklaim bahwa pemikiran keagamaan mereka, dan khususnya yang terekam dalam kitab-kitab suci mereka, sejalan dengan fisika quantum sebagai sang primadona sains dewasa ini. Tetapi fisikawan Victor J. Stenger telah menunjukkan bahwa klaim-klaim semacam ini diajukan karena para agamawan itu salah memahami berbagai dimensi fisika quantum, atau dengan bulus memelintirnya; tentang ini, lihat bukunya Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness./17/

Kalaupun para agamawan dapat memasukkan Allah sebagai suatu faktor dalam sains, Allah semacam ini hanya berfungsi sebagai “god of the gaps”, Allah pengisi “celah-celah” yang masih belum bisa diisi oleh data sains mutakhir. Ketika celah-celah ini suatu saat berhasil ditutup oleh data serta bukti saintifik, Allah semacam ini akan menganggur, tak lagi aktif mengisi celah-celah sains. Tempat Allah semacam ini dalam dunia ditentukan oleh para agamawan, dan merekalah yang memberi tugas pada Allah ini, bukan sebaliknya. Aneh juga ada Allah semacam ini.

Allah sebagai “god of the gaps” paling dibutuhkan para agamawan ketika mereka berurusan dengan pertanyaan pamungkas dari mana asal usul jagat raya dan kehidupan, yang diyakini mereka tidak akan bisa dijawab oleh sains, karena Allah dalam pandangan mereka melampaui semua parameter saintifik yang kini dikenal. Hugh Ross, misalnya, menyatakan bahwa Allah adalah “suatu hakikat yang melampaui materi, energi, ruang, dan waktu kosmos”, namun juga menegaskan bahwa Allah yang semacam inilah yang juga menjadi “penyebab adanya kosmos.”/18/ Pandangan ini, yang mengasalkan benda-benda material pada suatu oknum immaterial, telah terus-menerus membuat para agamawan puas atas segala realitas natural yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri, karena mereka yakin bahwa semuanya memang sudah diciptakan dan disediakan oleh Allah mereka yang transenden begitu saja untuk mereka nikmati juga begitu saja dengan rasa syukur yang besar. Tentu siapa pun boleh kagum pada kemampuan mereka untuk mensyukuri semua hal yang ada dalam alam dan dalam semua kejadian yang mereka alami atau lihat sendiri.

Tetapi mengasalkan segala sesuatu pada Allah yang dipercaya sebagai sang pencipta akbar, atau memasukkan Allah ke dalam celah-celah pengetahuan yang belum bisa diisi dengan data dan bukti saintifik, hanya menghasilkan manusia pemalas yang tetap bodoh atau tetap ketinggalan zaman: ketimbang mengeskplorasi kosmos dan berusaha keras terus-menerus untuk menjelaskan berbagai realitas dan misteri kosmik secara saintifik sehingga sains terus berkembang progresif tanpa batas sehingga makin berguna buat kehidupan, mereka malah menghentikan progresivitas sains dengan “mantra-mantra” ucapan syukur mereka dan memenjarakan semua keingintahuan (curiosity) dalam sebuah penjara kokoh yang dinamakan iman dan ketaatan yang membuta pada dogma-dogma dan pada Allah yang dipercaya sebagai sang pencipta segala sesuatu yang tak boleh dijelaskan tetapi harus dipertahankan terus-menerus sebagai misteri ilahi. Ketahuilah, sama seperti dalam kisah skriptural Taman Eden, seorang suci Santo Agustinus (354-430 M), yang dipuja dalam gereja dari abad ke abad, dengan terbuka mengutuki rasa ingin tahu (kuriositas), tulisnya, “Ada satu bentuk godaan lagi, bahkan lebih berbahaya, yakni penyakit ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang selalu mendorong kita untuk mencoba menemukan rahasia-rahasia alam, rahasia-rahasia yang sebetulnya berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, yang hanya akan membuahkan kesia-siaan jika dicari, yang seharusnya manusia tidak ingin pelajari.”/19/

Berlatarbelakang keyakinan bahwa kitab-kitab suci mereka memuat berbagai penjelasan ilahi yang tak bisa salah atas semua misteri alam dan realitas kosmik, belakangan ini ada berbagai usaha kaum agamawan untuk membangun “sains skriptural”, misalnya sains Vedik, sains Quranik, atau sains Alkitabiah. Tujuannya antara lain bersifat politis, yakni untuk mengunggulkan kedudukan satu agama dalam suatu negara, dan untuk mengendalikan dan menjinakkan arah gerak progresif sains lewat kekuasaan “monster” agama, dengan akibat seluruh rakyat negara ini diperbodoh oleh para agamawan.

Di kalangan Muslim, misalnya, ada berbagai usaha untuk membangun sains Islam, yang dibuat berkonfrontasi dengan apa yang mereka dengan keliru sebut sains Barat, sains imperialis Amerika! Anehnya, banyak kaum bangsawan di Saudi Arabia malah menyekolahkan putera-puteri mereka di universitas-universitas besar di Amerika Serikat, sebuah negara besar modern yang mereka cap imperialis!

Seperti telah dibentangkan oleh F. A. Hayek dalam buku klasiknya, The Road to Serfdom, bab 11, pada masa rezim tiran Nazi berkuasa di Jerman pada era Perang Dunia II, banyak disiplin sains direkayasa untuk melayani kepentingan agenda politis perjuangan rezim ini, sehingga lahirlah “ilmu-ilmu sosial Marxis-Leninis”, “ilmu bedah Marxis-Leninis”, “matematika Nazi”, dan “fisika Jerman”—suatu keadaan yang dibenarkan hanya oleh orang-orang yang sudah tidak waras./20/

Akhirnya akan pasti tampak bahwa semua “sains skriptural” ini atau sains ideologis apapun hanyalah pseudo-science (atau malah junk science, dalam penilaian para saintis tulen Barat) yang tak memiliki bukti empiris dan dasar teoretis saintifik apapun, sehingga hanya pantas dipandang sebagai doktrin keagamaan, seperti halnya kreasionisme dan intelligent design yang diciptakan kekristenan konservatif Amerika.

Karena para agamawan kini sedang membawa agama ke dalam ranah sains dan ranah politik, tentu saja bisa dimengerti mengapa para saintis tulen (Barat) kini melakukan banyak pembedahan atas semua klaim keagamaan dengan memakai pisau-pisau bedah sains. Rekan-rekan mereka yang menjadi para pakar sosiologi juga tak mau ketinggalan; mereka juga melakukan kajian-kajian sosio-saintifik terhadap agama-agama. Kaum agamawan sudah selayaknya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para saintis yang dengan tenang dan kritis mengkaji agama-agama yang mereka anut; dan bukan malah naik pitam.  Tanpa kritik dan pembaruan, semua agama, hemat saya, akan binasa pada waktunya di dalam suatu dunia yang makin saintifik dan makin cepat berubah.

Meskipun pembedahan-pembedahan besar telah banyak dilakukan kalangan saintis terhadap agama-agama atas nama sains, para agamawan Kristen tetap saja mengklaim bahwa tanpa kekristenan lahir, tumbuh dan berkembang di Eropa pada masa kekaisaran Romawi, sains modern tak akan pernah muncul. Perhatikan dua penyataan berikut ini. Pernyataan yang pertama ditulis oleh Robert Hutchinson:

“Sebagaimana suatu generasi baru para sejarawan, sosiolog, filsuf sains telah buktikan, agama alkitabiah bukanlah musuh sains melainkan matriks intelektual yang pertama-tama memungkinkan munculnya sains. Tanpa wawasan-wawasan kunci yang kekristenan jumpai terpelihara dalam Alkitab dan menyebar ke seluruh Eropa, sains tidak akan pernah ada…. Bukti ini tak dapat diperdebatkan: Ini adalah teologi rasional baik dari Abad Pertengahan Katolik maupun Reformasi Protestan—yang diilhami oleh kebenaran-kebenaran implisit dan eksplisit yang diwahyukan dalam Alkitab Yahudi— yang bermuara pada penemuan-penemuan sains modern.”/21/

Pernyataan yang kedua, yang juga sama kelirunya, ditulis oleh Alvin Schmidt, demikian:

“Kepercayaan pada rasionalitas Allah tidak hanya bermuara pada metode induktif tetapi juga pada kesimpulan bahwa jagat raya ini diatur secara rasional oleh hukum-hukum yang dapat ditemukan. Asumsi ini sangat penting dan vital bagi riset saintifik karena di dalam suatu dunia pagan atau dunia politeistik, yang melihat dewa-dewanya sering terlibat dalam perilaku yang irasional dan cemburuan di dalam suatu dunia yang non-rasional, setiap investigasi sistematis atas dunia yang semacam ini akan tampak sia-sia. Hanya dalam pemikiran Kristen, yang mendalilkan ‘eksistensi suatu Allah tunggal, sang Pencipta dan Pengatur jagat raya, yang berfungsi dalam suatu cara yang secara normal dan tertata dapat diprediksi,’ adalah mungkin bagi sains untuk ada dan beroperasi.”/22/

Richard Carrier, Ph.D., pakar pengkaji sains dalam dunia kuno dan kekristenan, telah merontokkan pernyataan-pernyataan di atas yang memandang kekristenan sebagai satu-satunya pranata keagamaan yang bertanggungjawab bagi kelahiran sains modern.

Dalam tulisannya yang berjudul “Christianity Was Not Responsible for Modern Science”/23/, Carrier menunjukkan bahwa sains modern justru memiliki pijakan yang kuat di dalam pandangan dunia pagan yang menjadi konteks luas kelahiran kekristenan perdana, bukan di dalam kekristenan sendiri. Carrier menulis, “Kekristenan menguasai penuh seluruh dunia Barat dari abad kelima sampai abad kelima belas, namun di dalam jangka waktu seribu tahun itu tidak terjadi Revolusi Saintifik. Suatu penyebab yang gagal menghasilkan akibat yang diprediksikan, meskipun terus-menerus aktif selama seribu tahun, biasanya dipandang sebagai penyebab yang ditolak, bukan dikonfirmasikan.”

Carrier menyimpulkan, antara lain, bahwa “[N]ilai-nilai yang diperlukan bagi kemajuan sains, yakni merangkul keingintahuan sebagai suatu kebajikan moral, mengangkat empirisisme ke status otoritas tertinggi di dalam semua perdebatan tentang fakta, dan menghargai pengejaran kemajuan” dipegang oleh banyak pagan kuno “dengan sangat kuat dan terus-menerus sehingga mereka semuanya membuat kemajuan-kemajuan yang sinambung di dalam penemuan-penemuan dan metode-metode saintifik. Kontras dengan itu, kekristenan untuk waktu yang lama tidak pernah menghargai nilai-nilai ini, dan malah dalam banyak kasus mengutuk nilai-nilai ini.” Tandas Carrier, “[G]agasan baru ini bahwa Kekristenan bukan hanya bertanggungjawab tetapi juga diperlukan bagi munculnya sains modern pastinya adalah sebuah gagasan delusional. Suatu delusi menjadi patologis ketika kepercayaan ini dipertahankan dengan keyakinan mutlak bahkan di hadapan bukti yang kuat dan meyakinkan yang menyatakan hal sebaliknya.”

Bahwa kekristenan memusuhi sains sejak abad-abad pertama kelahirannya, dapat dicontohkan dari kasus pembumihangusan perpustakaan besar Alexandria di Mesir, dan pembunuhan seorang filsuf perempuan Hypatia, yang juga astronom dan matematikus, yang dilahirkan di kota ini, dalam suatu amuk massa Kristen pengikut Cyrillus, uskup kota ini, pada abad 5 M. Pembunuhan Hypatia dipicu oleh fitnah Cyrillus bahwa Hypatia adalah seorang ateis yang tak mempercayai Allah Kristen, dan seorang penyihir. Sebagaimana dituturkan oleh penulis skenario film AGORA (produksi 2009), Alejandro Amenabar, dalam film yang disutradarai Fernando Bovaira ini  dikisahkan ketika Hypatia yang non-Kristen pada saat genting ditanyai apa kepercayaannya, dia menjawab, “Aku percaya filsafat!” Kali lain, ketika dalam situasi mendesak Hypatia diminta seorang pejabat penting di Alexandria untuk juga masuk Kristen, Hypatia malah bertanya, “Mengapa engkau tak pernah mempertanyakan kepercayaanmu sendiri?”


Eksistensi Allah dan Hakikat Manusia

Sampai kini, faktanya, tak ada satu bukti empiris apapun yang membenarkan klaim agama-agama teistik bahwa Allah itu ada. Penelitian fisikawan Victor J. Stenger, misalnya, malah menghasilkan suatu kesimpulan bahwa Allah itu tidak ada, atau lebih tepat: hipotesis bahwa Allah itu ada, adalah sebuah hipotesis yang tak terbukti benar. Dua buku mutakhirnya perlu dibaca, Has Science Found God?/24/, dan God: The Failed Hypothesis./25/

Jesse Bering, dalam bukunya, The Belief Instinct, bertanya, “Apakah Allah-allah, jiwa-jiwa, dan nasib akhir manusia, sebenarnya hanyalah seperangkat ilusi yang mempesona, ilusi yang dapat dijelaskan asal-usulnya oleh evolusi luar biasa otak manusia?” Bering sendiri menjawab, “Mempersepsi suatu Oknum supernatural bukanlah magis, tetapi sesuatu yang jelas-jelas organik, yakni suatu fungsi otak manusia.”/26/

Bahwa berbagai pengalaman keagamaan, pengalaman spiritual, pengalaman tentang dunia ilahi, tidak mengacu ke dunia adikodrati yang tak kasat mata, melainkan semuanya diproduksi dalam neuron-neuron otak manusia,/27/ sudah dibeberkan dengan terang dalam banyak karya bagus kajian-kajian neurosains, di antaranya karya Andrew Newberg dan Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain/28/, dan karya Andrew Newberg, E. D’Aquili, dan V. Rause, Why God Wont Go Away./29/ Buku Michael A. Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs, perlu diberi perhatian khusus./30/

Para “saintis skriptural” Barat, dengan topangan dana dari The John Templeton Foundation, kini sedang fokus pada berbagai penelitian terhadap mind, pikiran, dengan harapan bahwa mind bisa dibuktikan sebagai suatu zat spiritual, bukan zat material. Alasan mereka: Jika pikiran manusia adalah suatu zat rohani, maka Allah sebagai roh tentu ada. Tapi pertanyaannya adalah: Mengapa pikiran manusia lenyap ketika otak, lewat aliran darah, tidak lagi menerima pasokan nutrisi, hormon dan oksigen, ketika tak ada lagi energi elektrokimiawi neurologis yang mengalir dalam otak manusia, ketika manusia mati? Bukankah kalau pikiran manusia itu suatu zat rohani yang independen, tak terikat pada zat material organ otak, pikiran ini akan tetap ada kendatipun otak rusak atau manusia si pemilik otak mati, dan manusia akan dapat tetap hidup hanya dengan roh sekalipun tidak memiliki organ otak? Karena manusia pasti mati ketika otaknya mati atau ketika otaknya dicopot, atau pikiran lenyap ketika otak mati, berarti roh manusia itu tidak ada, dus berarti juga Allah itu, sebagai suatu zat spiritual yang memberi roh kehidupan kepada jasad manusia, tidak ada; kecuali jika Allah itu dipahami sebagai suatu zat immaterial yang hingga sejauh ini tidak berhasil ditemukan keberadaannya secara objektif empiris.

Sebuah argumen ilustratif analogis telah diajukan kalangan agamawan untuk menolak kesimpulan dalam alinea di atas, bahwa roh Allah dan roh manusia itu tidak ada. Mereka memakai ilustrasi stasiun pemancar gelombang radio yang menyiarkan gelombang radio ke mana-mana lalu ditangkap oleh sebuah pesawat radio. Dalam ilustrasi ini, pemancar gelombang radio itu surga, dan gelombang radionya adalah roh Allah, dan pesawat penerima gelombang radio adalah otak manusia, yang berfungsi sebagai antena-antena penangkap “gelombang radio ilahi”. Kata mereka, kalau pesawat radionya dimatikan atau rusak, gelombang radionya dan stasiun pemancar gelombang radionya masih tetap ada, tidak ikut mati atau rusak.

Kepada kalangan agamawan yang berargumentasi demikian, hanya perlu diajukan satu permintaan: Tunjukkanlah kepada dunia di mana lokasi geografis stasiun pemancar gelombang radio yang mereka sebut surga, dan tunjukkanlah lewat radar atau lewat pesawat penerima gelombang radio, adanya gelombang radio ilahi yang mereka bayangkan sebagai roh Allah! Permintaan ini sangat serius, sebab kalau organ lunak berwarna putih, yang memiliki massa (satu setengah kilogram), yang objektif ada di dalam tempurung kepala kita, yang kita namakan otak, adalah penerima gelombang radio ilahi, maka gelombang radio ilahi ini juga harus bisa ditunjukkan keberadaannya secara empiris objektif di layar radar atau tertangkap oleh pesawat penerima radio yang biasa kita gunakan, dan lokasi pemancarannya juga harus dapat diidentifikasi—lebih-lebih sekarang ini teknologi radar dan teknologi pemancaran dan penerimaan gelombang radio sudah sangat maju!

Saya menantang kalangan agamawan yang percaya bahwa mind, pikiran, adalah zat rohani yang independen dan memiliki kesadaran sendiri, untuk menguji apakah kepercayaan mereka benar melalui dua eksperimen berikut.

Eksperimen pertama: Karena pikiran anda menurut anda adalah zat rohani yang independen sehingga bisa meninggalkan tubuh anda, atau lebih tepat meninggalkan otak anda, maka silakan pikiran anda keluar dari diri anda lalu masuk ke dalam otak saya yang sedang berpikir, lalu tangkap atau bacalah isi pikiran saya. Saya beri waktu 15 detik. Selanjutnya, kembalilah pikiran anda ke dalam otak anda, lalu beritahu saya apa isi pikiran saya yang anda telah baca tadi. Hasilnya bisa diprediksi: Nol besar!

Eksperimen kedua: Carilah sepuluh orang yang berasal dari latarbelakang pendidikan dan kesukuan/kebangsaan yang berbeda, yang diklaim bisa melakukan “OBE”, out-of-body-experience, yakni keluar dari diri sendiri sebagai roh atau jiwa atau pikiran, lalu pergi melayang ke mana saja mereka mau. Kumpulkanlah sepuluh orang ini di sebuah rumah besar yang mereka belum pernah masuki yang di dalamnya ada sebuah kamar besar rahasia. Tempatkanlah di tengah ruang kamar besar rahasia ini sebuah benda lengkap dengan asesoris lain di sekelilingnya.

Lalu di sebuah ruang lain yang jauh dari kamar besar rahasia ini sepuluh orang itu diminta untuk bermeditasi intens lalu jiwa atau roh atau pikiran mereka masing-masing diminta meninggalkan tubuh mereka masing-masing, melayang menuju ruang kamar besar rahasia itu yang mereka harus temukan sendiri. Setelah sekian waktu berlalu, mintalah jiwa atau roh atau pikiran mereka masing-masing kembali ke diri mereka.

Selanjutnya mereka masing-masing, dalam keadaan sadar penuh, diminta menuliskan pada selembar kertas hal-hal apa saja yang mereka masing-masing telah saksikan pada waktu mereka OBE dan berada di ruang kamar besar rahasia itu. Apa hasilnya? Bisa diprediksi: setiap orang yang bisa OBE itu menulis laporan yang satu sama lain tak sejalan bahkan bertentangan, sebab mereka semua menulis mengikuti kemauan imajinasi liar masing-masing.

Tak ada OBE; yang ada adalah imajinasi atau malah fantasi dalam organ otak yang dibiarkan melayang-layang tanpa arah! Begitu juga, tak ada “pengalaman keluar tubuh” menjelang kematian, lalu “roh” memasuki kembali jasad yang sebelumnya sudah ditinggalkan karena si pemilik jasad dinyatakan belum saatnya mati, pengalaman yang biasa disebut “Near-Death Experiences” (NDE). Di sinilah tugas para neurosaintis untuk menjelaskan OBE atau NDE yang kerap diklaim sebagai suatu fenomena paranormal, padahal sesungguhnya semua pengalaman ini real dirasakan karena semuanya memang berlangsung dalam organ otak saja, bukan di dalam dunia supernatural./31/

Sebagaimana sudah dilakukan banyak percobaan klinis oleh neurosaintis Michael A. Persinger, yang sudah dibeberkannya dalam karyanya yang sudah disebut di atas, Neuropsychological Bases of God Beliefs, berbagai pengalaman spiritual atau supernatural, antara lain OBE dan perasaan “dihadiri” oleh suatu wujud spiritual (Allah atau malaikat atau jin misalnya), muncul pada diri seseorang jika bagian temporal lobes dari otaknya (wilayah neural yang terletak persis di atas telinga) diberi rangsangan medan elektromagnetik yang menimbulkan apa yang disebut temporal lobe transients, ketika terjadi peningkatan dan ketidakstabilan pola-pola penembakan neuron-neuron otak dalam aktivitas elektrokimiawi pada wilayah temporal lobes ini.

Saya perlu juga menyebut tiga buku lainnya pada kesempatan ini, yang ketiganya berisi pembedahan saintifik atas banyak kejadian paranormal, yang dengan kuat memperlihatkan bahwa semua hal yang selama ini dipandang sebagai fenomena paranormal ternyata adalah hal-hal yang normal saja, karena semuanya bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh aksi dan reaksi neuron-neuron dalam otak kita. Buku pertama, karya Michael Shermer, Why People Believe Weird Things;/32/ buku kedua juga tulisan Michael Shermer, The Believing Brain,/33/ dan buku ketiga yang juga luar biasa, karangan Richard Wiseman, Paranormality: Why We See What Isn't There./34/

Sebagai eksperimen pembanding, selanjutnya masing-masing orang yang diklaim sebagai praktisi OBE itu dipersilakan dalam keadaan sadar penuh bergiliran berjalan kaki  menuju ruang kamar besar rahasia itu dengan sebelumnya (tentu saja) satu per satu ditunjukkan arahnya, lalu mereka masing-masing harus masuk ke dalam dan memeriksa secermat mungkin ruang besar itu. Setiap praktisi yang sudah kembali diminta langsung menuliskan laporan pada selembar kertas mengenai hal-hal apa saja yang mereka telah lihat di dalam ruang kamar besar rahasia itu. Setelah semuanya melakukan hal yang sama, kumpulkan dan bandingkan setiap laporan mereka masing-masing. Apa hasilnya? Bisa diprediksi: 90 persen isi laporan mereka masing-masing boleh dikata serupa atau bahkan sama!

Kesimpulan dari eksperimen imajiner dengan sepuluh praktisi OBE ini sangat jelas: roh atau pikiran itu menyatu dengan organ otak; dan hanya dalam kondisi tak terpisah dari organ otak ini, pikiran baru bisa bekerja atau berfungsi. Tanpa organ otak, tak ada pikiran. Tanpa organ otak, tak ada roh. Tulis Shermer dalam bukunya The Believing Brain, “Pikiran adalah apa yang dikerjakan otak. Tidak ada apa yang disebut ‘pikiran’ pada dirinya sendiri, di luar aktivitas otak. Pikiran hanyalah sebuah kata yang kita gunakan untuk mendeskripsikan aktivitas neurologis dalam otak. Jika otak tak ada, pikiran juga tak ada. Kita mengetahui ini karena jika suatu bagian dari otak hancur karena serangan stroke atau kanker atau luka atau pembedahan, apapun yang bagian otak yang rusak itu sebelumnya lakukan, kini lenyap sama sekali.... [T]anpa koneksi-koneksi neural dalam otak, pikiran tidak ada.”/35/ Jadi, tak ada zat yang dinamakan roh atau pikiran yang bisa lepas dari tubuh manusia.

Kalangan skripturalis teistik bagaimanapun juga akan berkeras bahwa manusia adalah suatu ciptaan unik Allah, yang menjadi hidup karena hembusan roh Allah, dan ada dalam planning Allah sejak awal untuk menjadikannya mahkota termulia dari semua ciptaan lain, untuk berkuasa atas jagat raya. Namun para saintis menegaskan bahwa manusia adalah salah satu bentuk kehidupan yang pada level fundamental tak berbeda dari semua benda material lain dalam jagat raya, yang tersusun dari partikel-partikel subatomik u-quark, d-quark, elektron dan berbagai partikel subatomik lainnya.

Kita sudah tahu bahwa sains evolusi, dengan didukung bukti-bukti empiris yang makin melimpah, sudah berhasil memperlihatkan bahwa homo sapiens, makhluk cerdas, yang kita beri nama manusia, adalah makhluk yang sungguh-sungguh berasal dari alam dan merupakan bagian dari alam, yang pada awalnya hanya memuat satu bentuk kehidupan bersel tunggal arkhaea. Buku bagus mutakhir yang menggambarkan proses evolusi ini dengan bukti-bukti sangat melimpah dan memakai argumen-argumen kokoh lintasilmu, adalah buku Richard Dawkins, The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution./36/ Sebuah buku tentang sains evolusi yang juga ada di rak buku saya, yang isinya sangat terang dan gamblang, adalah buku Jerry A. Coyne, Why Evolution Is True./37/

Sains evolusi menunjukkan bahwa manusia muncul di Bumi sebagai suatu hasil proses evolusi biologis sangat panjang menurut suatu mekanisme seleksi alamiah, proses evolusi yang terus berlangsung acak, buta, tak bertujuan, tak terencana dan tak terpandu oleh kekuatan eksternal adikodrati apapun. Jadi, “the intelligent designer”, sang perancang cerdas, yang mereka namakan Allah, sama sekali tak ada, tak memberi desain apapun atas alam ini dan semua bentuk kehidupan di dalamnya, dan khususnya tak merancang dengan cerdas sekali jadi homo sapiens dewasa. Kalaupun ada prinsip yang mengendalikan evolusi, ini adalah prinsip adaptasi terhadap lingkungan. Dalam menjelaskan asal-muasal semua bentuk kehidupan, khususnya bentuk kehidupan homo sapiens, hipotesis bahwa Allah adalah sumber semua bentuk kehidupan, sama sekali tidak diperlukan. The supernatural designer is dead!

Sains evolusi justru harus membuat kita takjub dan terpesona, sebab sudah dibentangkan di hadapan kita bukti-bukti empiris sangat kuat dan berlimpah bahwa kita, homo sapiens, adalah bagian tak terpisah dari semua organisme yang ada dalam alam. Kita semua bersaudara, baik dengan sesama manusia maupun dengan sesama binatang dan tetumbuhan, dan dengan semua bentuk kehidupan lainnya. Sains evolusi dengan demikian mendorong kita untuk hidup ramah dan bersaudara dengan semua bentuk kehidupan lain, sebagai sesama saudara—ini juga pesan Buddhisme yang mempesona.

Kitab-kitab suci agama-agama monoteistik, Alkitab, misalnya malah dengan keliru menempatkan manusia sebagai makhluk tertinggi dan termulia yang diberi mandat untuk berkuasa atas alam, untuk menaklukkan alam, bukan untuk membangun harmoni dengan alam. Sains evolusi justru jauh lebih bermoral dan agung ketimbang Alkitab, sebab sains ini, sekali lagi, menyadarkan kita sungguh-sungguh bahwa kita bersaudara dengan hewan dan dengan tetumbuhan dan dengan semua bentuk kehidupan lain, dan karena itu kita harus hidup harmonis dengan kosmos. Tentu kita harus terus mengembangkan sains dan teknologi untuk mengeksplorasi jagat raya, tetapi usaha-usaha saintifik dan teknologis ini kini dijalankan dengan suatu kesadaran penuh yang makin diperkuat untuk juga mempertahankan dan melestarikan daya dukung alam terhadap semua bentuk kehidupan di muka Bumi.

Validitas sains evolusi kini sudah sangat kokoh karena sains genetika, sains biologi molekuler, sains anatomi dan fisiologi komparatif, sains geologi, sains paleontologi, botani, zoologi, biogeografi, kajian fossil, biologi sintetis, berkonvergensi mendukung kebenaran fakta evolusi spesies. Charles Darwin, seorang naturalis kebangsaan Inggris (1809-1882), yang pada 1859 menerbitkan karyanya On the Origin of Species, sekarang tidak berdiri sendiri, tetapi bersanding dengan banyak ilmuwan besar.

Selain itu, dewasa ini aplikasi sains evolusi malah berkembang sehingga lahirlah psikologi evolusioner, neurosains evolusioner, kosmologi evolusioner, sains kognitif evolusioner, genetika evolusioner, dan sebagainya. Jika para agamawan masih ingin menolak sains evolusi karena alasan-alasan skriptural, mereka harus juga menolak semua disilpin ilmu lainnya ini. Jika ini mereka lakukan, mereka tak bisa lagi hidup dalam dunia modern, melainkan harus pulang ke Taman Eden purbakala yang ada hanya dalam mitos.

Jangan dilupakan, para saintis yang mempelajari angkasa luar dan isinya kini juga sedang sibuk meneliti dan mengobservasi bulan Titan dan bulan Enceladus dari antara 53 bulan planet Saturnus yang sudah diberi nama, lewat foto-foto yang sangat banyak yang dikirim baik oleh wahana antariksa tanpa awak Voyager 2 di tahun 1980-1981 maupun oleh wahana antariksa tak berawak Cassini yang pada 30 Juni 2004 masuk ke orbit planet ini.

Bulan Titan memiliki atmosfir padat (sepuluh kali lebih padat dari atmosfir Bumi) yang berisi banyak materi organik (carbon) dan permukaan yang kaya dengan berbagai senyawa kimiawi. Begitu juga, pada permukaannya bulan Enceladus memiliki banyak senjawa organik, dan juga air di bawah permukaannya. Kondisi-kondisi semacam ini di kedua bulan planet Saturnus ini menyerupai kondisi-kondisi awal di planet Bumi dulu, 3,5 milyar sampai 4,5 milyar tahun lalu, sebelum munculnya bentuk-bentuk kehidupan bersel tunggal yang kemudian berevolusi ke struktur-struktur biologis yang makin rumit. Kajian-kajian saintifik mendalam atas kondisi-kondisi kimiawi kedua bulan ini akan memberi banyak pengetahuan tambahan sangat penting bagi kita mengenai proses-proses natural kimiawi yang dapat memunculkan kehidupan dan evolusinya. Dengan demikian, kajian-kajian astrokimiawi atas kedua bulan ini akan memberi sumbangan penting bagi sains evolusi dan biologi yang sudah dikenal di Bumi.

Begitu juga, NASA sendiri dewasa ini sedang menjalankan sebuah proyek yang mereka beri nama SETG, the Search for Extra-terrestrial Genomes, proyek pencarian genome/DNA di antariksa, khususnya di planet Mars./38/ Proyek ini dilandaskan pada sebuah hipotesis tentang adanya keserupaan genomik antara berbagai DNA yang ada di Bumi dan berbagai DNA  yang mungkin ada di planet Mars, berdasarkan sebuah asumsi bahwa baik DNA di planet Mars maupun DNA di Bumi memiliki nenek moyang yang sama. Bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan makin bertambah, dan semuanya menunjukkan bahwa mikroba-mikroba yang dapat bertahan hidup, dapat tertransfer di antara kedua planet ini, suatu kemungkinan yang sebagian didasarkan pada kalkulasi-kalkulasi lintasan-lintasan meteor dan kajian-kajian magnetisasi yang mendukung hanya pemanasan yang moderat pada inti-inti meteor yang memungkinkan bentuk-bentuk kehidupan bisa bertahan di dalam berbagai meteor.

Sebagai bagian penting dari proyek SETG ini, NASA pada 26 November 2011 telah meluncurkan sebuah wantariksa tanpa awak yang berbentuk piring cembung dengan tujuan planet Mars. Wantariksa ini membawa sebuah mesin penjelajah beroda enam seberat 1 ton, yang diberi nama Curiosity, yang akan melakukan eksplorasi di sekian kawasan di planet merah ini, setelah didaratkan, menurut rencananya, pada 6 Agustus 2012 di kawasan kawah Gale di sana (dan pendaratan ini sudah berlangsung dengan sukses! Selamat buat NASA!). Salah satu tujuan penting Curiosity, sebagai Mars Science Laboratory, adalah melakukan serangkaian pengujian in situ di planet Mars atas bahan-bahan kimiawi yang membentuk DNA mikroorganisme./39/ Jadi, adalah suatu fakta sains yang keras jika saya menegaskan bahwa kalangan saintis kini mencari asal-usul bentuk-bentuk kehidupan di muka Bumi dengan mengarahkan penyelidikan ke antariksa. Asal-muasal kita, homo sapiens, sebagai salah satu bentuk kehidupan di Bumi kini diyakini angkasa luar, bukan Taman Eden mitologis di muka Bumi.       
  
                                                                                                                                                                             
Inilah piring terbang buatan NASA yang membawa rover Curiosity 
ke planet Mars, yang telah menempuh perjalanan terbang 
selama 8 bulan untuk tiba di planet ini, lalu mendaratkan rover ini 
di kawah Gale planet ini!

Tetapi, kalangan agamawan dan “saintis teistik” kini masuk dari sisi lain. Mereka berkeras bahwa alam semesta kita ini, dan khususnya sistem Matahari kita (solar system), telah dengan luar biasa “disetel dengan pas” (fine-tuned) sehingga menghasilkan suatu zona yang cocok bagi kemunculan bentuk-bentuk kehidupan dan khususnya spesies manusia di planet Bumi lewat evolusi. Zona yang terbentuk oleh fine-tuning ini dinamakan Goldilocks Zone. Kalangan ilmuwan juga mengajukan sebuah istilah lain, yakni prinsip anthropik dalam teori tentang fine-tuning ini. Prinsip ini menyatakan bahwa karena dalam jagat raya ini kita, manusia (anthropos), dapat hidup, maka semua hukum fisika dalam jagat raya kita haruslah hukum-hukum yang bersahabat dengan bentuk-bentuk kehidupan sehingga dapat memunculkan kehidupan.

Goldilocks Zone dalam sistem Matahari kita menempatkan bintang Matahari dalam jarak yang sangat pas dengan planet Bumi, tidak terlalu dekat dengan planet Bumi yang dapat mengakibatkan air di seluruh lautan memanas lalu mendidih lalu lenyap sebagai uap, atau terlalu jauh yang dapat membuat air di semua lautan membeku.

Dalam lingkup jagat raya kita, parameter-parameter di dalamnya tampak dengan sempurna telah “fine tuned”. Sebagai contoh, seandainya daya nuklir yang ada dalam kosmos lebih kuat dari yang faktual ada sekarang, maka bintang Matahari kita betul-betul akan sudah terbakar habis milyaran tahun lalu; atau seandainya daya ini lebih lemah, maka bintang Matahari kita tidak akan bernyala untuk menjalankan fungsinya sekarang. Jadi, daya nuklir dalam kosmos telah disetel pas.

Demikian juga, seandainya daya gravitasi semua materi dalam kosmos lebih kuat dari ambang batas densitas jagat raya (yang disebut “the critical density” atau “the density threshold”), maka jagat raya kita yang sedang makin cepat mengembang (disebabkan oleh daya sentrifugal dentuman big bang, dan oleh “dark energy”, energi gelap) mungkin sekali pada akhirnya akan berkontraksi (karena daya gravitasi seluruh materi dan daya gravitasi “dark matter”, materi gelap) lalu roboh dan saling bertabrakan dan mengerucut sehingga menghasilkan suatu lubang hitam (black hole) yang super-masif, super-panas, dan terunifikasi, atau yang disebut singularitas “Big Crunch” (yang akhirnya juga akan mendentum lagi sebagai “Big Bang” baru dalam suatu “Big Bounce” dan mengulangi kembali siklus kehidupan jagat raya). Seandainya daya gravitasi ini lebih lemah, maka jagat raya akan terus mengembang, lalu dalam pengembangannya ini segala sesuatu akhirnya akan membeku dalam suatu entropi (disorder) yang disebut “Suhu Dingin Besar”, Big Freeze (atau Big Chill). Jadi, daya gravitasi dalam kosmos telah disetel dengan pas (yang membuat kita bisa membayangkan jagat raya ini “datar”, flat, [bukan “datar” dalam arti datarnya kueh serabi dua dimensi, tetapi berdimensi tiga dengan cahaya tetap bergerak lurus di dalamnya] atau “statis”, tidak mengembang dan juga tidak berkontraksi sehingga menghasilkan suatu Big Bore, “Kebosanan Besar”).

Salah seorang yang dengan gigih mempertahankan teori tentang fine-tuning adalah seorang saintis yang berpengaruh, yang bernama Francis Collins, direktur National Institute of Health di Amerika Serikat. Collins yang telah berubah haluan dari seorang ateis menjadi seorang teis, telah menulis sebuah buku laris, The Language of God,/40/ yang di dalamnya si penulisnya ternyata tetap mempertahankan sains evolusi dan memperlihatkan dengan pas bahwa kreasionisme adalah omong kosong.

Selain itu, ada sejumlah orang yang melangkah lebih jauh untuk membela teisme, dengan menyatakan bahwa fine-tuning dan Goldilocks Zone tak bisa lain selain buah kreasi suatu Oknum cerdas supernatural yang merancang semua “kondisi awal”  yang tercipta pada saat big bang, yang memungkinkan terciptanya fine-tuning dan zona istimewa semacam ini; lantas mereka mengklaim bahwa “sains telah menemukan Allah”.

Tetapi lagi-lagi fisikawan Victor J. Stenger telah menulis sebuah buku mutakhir yang sangat bagus, yang menyajikan analisis-analisis saintifik untuk menunjukkan bahwa fine-tuning adalah sebuah konsep yang salah. Bukunya ini berjudul The Fallacy of Fine-Tuning./41/

Dalam bukunya itu, Stenger (dan banyak fisikawan lain) menegaskan bahwa jagat raya kita bukanlah satu-satunya jagat raya, melainkan suatu bagian dari banyak jagat raya yang dalam kosmologi mutakhir disebut multiverse, yang berisi jagat raya individual yang jumlahnya tak terbatas, yang membentang ke segala arah tak terbatas dalam ruang tak terbatas, dan untuk jangka waktu tak terbatas di masa lampau dan di masa depan. Secara kebetulan kita hidup dalam suatu jagat raya yang cocok untuk jenis kehidupan kita. Jagat raya tidak disetel dengan pas untuk mempersiapkan kedatangan manusia di dalamnya, melainkan kitalah, manusia, yang telah disetel dengan pas oleh kekuatan-kekuatan alam sehingga kita cocok dengan jagat raya kita khususnya. Tulis Stenger, “Parameter-parameter fisika dan kosmologi tidak secara khusus telah disetel untuk cocok bagi kehidupan, khususnya kehidupan manusia”, dan “jagat raya akan tampak sebagaimana seharusnya seandainya pun tidak disetel dengan pas untuk spesies manusia.” Alam pun tidak perduli apakah manusia akan muncul atau tidak di suatu tempat dalam jagat raya kita ini di suatu kurun kosmologis.

Tetapi kalangan agamawan teistik, bahkan juga sekian saintis yang tak beragama, menolak konsep multiverse yang digunakan untuk menolak fine-tuning, dengan alasan bahwa solusi multiverse adalah suatu solusi yang “non-saintifik” sebab kita tidak memiliki suatu cara apapun untuk dapat mengobservasi adanya jagat-jagat raya paralel di luar jagat raya kita sendiri.

Terhadap penolakan ini, Stenger, dalam bukunya itu, menulis: “Sesungguhnya suatu multiverse adalah suatu konsep yang lebih saintifik dan lebih hemat ketimbang menghipotesiskan adanya suatu roh pencipta yang tak dapat diobservasi dan konsep adanya hanya satu jagat raya tunggal. Multiverse adalah suatu hipotesis saintifik yang sah, sebab konsep ini sejalan dengan pengetahuan terbaik kita”/42/, salah satunya adalah teori dawai (string theory) yang diajukan antara lain oleh Leonard Susskind.

Menurut teori dawai, atom-atom fundamental dari jagat raya bukanlah partikel-partikel nol-dimensi, melainkan dawai-dawai (strings) satu-dimensi yang bervibrasi. Menurut teori ini, jagat raya memiliki enam atau bahkan sebelas dimensi, bukan hanya 4 dimensi ruang dan waktu. Menurut teori dawai, melalui proses quantum, terbentuk 10500  (10 pangkat 500) jagat raya yang masing-masing berbeda, dengan parameter-parameter yang berbeda, yang tentunya dari antaranya tidak hanya ada satu  jagat raya yang memiliki parameter seperti yang terdapat dalam jagat raya kita yang cocok untuk kehidupan.

Ketimbang menerima hipotesis kaum agamawan bahwa alam semesta ini ada karena telah diciptakan oleh Allah, sains fisika kini mengargumentasikan bahwa jagat raya ini tercipta sendiri dari ketiadaan, “from nothing”, karena bekerjanya gaya gravitasi supersimetri, prinsip relativitas, dan terjadinya fluktuasi quantum dalam suatu titik ruang-waktu yang kosong dan acak, yang tak memungkinkan adanya ruang kosong apapun yang tak berisi energi. Fluktuasi quantum ini bermuara pada suatu inflasi atau eskpansi besar yang selanjutnya menimbulkan big bang. Fisikawan besar Stephen Hawking adalah salah seorang saintis yang berargumentasi demikian belakangan ini, dalam bukunya The Grand Design./43/

Bahwa jagat raya tercipta dari ketiadaan, dengan gamblang dijelaskan antara lain oleh kosmologiwan Michio Kaku,/44/ seperti berikut.

Dalam teori dawai, kita memiliki suatu multiverse jagat-jagat raya, salah satu di antaranya adalah jagat raya kita. Anggaplah jagat raya kita sebagai permukaan suatu gelembung atau balon busa sabun, yang terus mengembung. Kita hidup pada permukaan kulit balon sabun ini. Dengan teori dawai, kita dapat memprediksi adanya balon-balon sabun lainnya di luar jagat raya kita, yang dapat bertabrakan dengan balon-balon sabun lainnya atau bahkan menumbuhkan cabang atau ranting balon-balon sabun bayi, seperti kita lihat pada waktu kita mandi dengan busa sabun.

Semua materi dalam jagat raya memiliki energi positif; tetapi gravitasi memiliki energi negatif. Penjelasan sederhananya demikian: Misalkan anda menambahkan energi pada Bumi untuk melepaskannya dari daya gravitasi Matahari sehingga Bumi keluar dari orbitnya. Ketika sudah terlepas dari sistem Matahari, maka Bumi memiliki energi gravitasi nol. Ini berarti sistem Matahari orisinalnya memiliki energi negatif.

Jika anda membuat sebuah perhitungan matematis, anda menemukan bahwa total energi positif materi dalam jagat raya dapat dibatalkan atau dihilangkan kalau diperhadapkan pada total energi negatif gravitasi, dan ini akan menghasilkan suatu jagat raya yang memiliki energi materi neto NOL (atau mendekati nol). Jadi, dalam arti tertentu, jagat-jagat raya ada tanpa biaya apapun, tak memerlukan energi atau membuang energi. Tidak diperlukan materi dan energi neto untuk menciptakan seluruh jagat raya. Dengan cara ini, dalam balon busa sabun mandi, balon-balonnya dapat bertabrakan, menciptakan balon-balon sabun bayi, atau begitu saja muncul balon baru dari ketiadaan.

Ini, kata Michio Kaku, memberi kita sebuah gambar big bang yang menakjubkan. Jagat raya kita muncul mungkin dari tabrakan dua jagat raya (disebut teori tabrakan besar, the big splat theory), atau muncul sebagai dahan atau cabang dari suatu jagat raya ayah/ibu, atau begitu saja muncul dari ketiadaan. Dengan demikian, jagat raya terus diciptakan tanpa henti.


Buku paling mutakhir yang berupaya menjelaskan terbentuknya jagat raya dari “ketiadaan” (nothing) ditulis oleh Lawrence M. Krauss, A Universe From Nothing: Why There Is Something Rather than Nothing (Afterword oleh Richard Dawkins) (New York, etc.: Free Press, 2012). Buku ini perlu dikaji secara khusus, di bawah tema jagat raya tercipta dari ketiadaan. Pada bagian epilog bukunya ini, Krauss menulis antara lain bahwa

“Kami telah menemukan bahwa semua tanda memperlihatkan suatu jagat raya yang dapat, dan masuk akal, tercipta dari suatu ketiadaan yang lebih dalam (“a deeper nothing”), mencakup juga ketiadaan ruang itu sendiri, dan yang pada suatu hari nanti akan kembali ke ketiadaan lewat  proses-proses yang bukan saja dapat dipahami, tetapi juga proses-proses yang tidak memerlukan kontrol atau tuntunan eksternal apapun. Dalam arti inilah, sains... tidak menjadikan tidak mungkin untuk percaya pada Allah, melainkan menjadikan mungkin untuk tidak percaya pada Allah. Tanpa sains, segala sesuatu menjadi mukjizat. Dengan sains, terbuka kemungkinan bahwa ketiadaan itu ada. Kepercayaan keagamaan, dalam hal ini, menjadi makin kurang perlu, dan juga makin kurang relevan.” /45/

Menyangkut terciptanya kehidupan, sains biologi sintetis di tahun 2010, seperti telah ditunjukkan oleh The J. Craig Venter Institute di Amerika Serikat, telah berhasil membuktikan dalam laboratorium bahwa kehidupan cukup dihasilkan dari zat-zat kimiawi yang mati, yang persenyawaannya dalam sebuah synthesizer berlangsung menurut suatu informasi genetik yang disusun secara digital oleh sebuah komputer.

Craig Venter dkk tidak komat-kamit berdoa meminta roh Allah menghidupkan senyawa kimiawi yang mati, tetapi otak mereka bekerja keras dan mata mereka terkonsentrasi pada peralatan teknologis yang sedang bekerja, ketika mereka melakukan uji-coba penciptaan kehidupan ini, yang bermuara pada suatu keberhasilan yang revolusioner gilang-gemilang./46/ Sukses ini menghantam habis kepercayaan keagamaan bahwa manusia (atau makhluk hidup apapun) diciptakan oleh Allah lewat pemberian nafas/roh kehidupan yang dihembuskan oleh Allah ini.

Banyak orang mengkritik dengan naif, asal kritik, bahwa bentuk kehidupan yang dihasilkan Craig Venter dkk hanyalah bentuk kehidupan bersel tunggal, dan bukan makhluk yang namanya manusia, sehingga revolusi saintifik di dunia biologi sintetis oleh Craig Venter ini ditepis begitu saja. Para pengkritik ini jelas tak tahu bahwa dalam alam yang kita kenal, kehidupan juga diawali oleh mikroorganisme bersel tunggal yang dinamakan arkhaea, yang setelah melewati proses evolusi biologis natural selama 4,5 milyar tahun memunculkan suatu bentuk kehidupan yang jauh lebih kompleks dan memiliki kecerdasan dan kesadaran diri, yang dinamakan homo sapiens. Jadi, kita tinggal menunggu waktu saja sampai para pakar biologi sintetis di masa depan dapat menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang lebih kompleks, dari senyawa-senyawa kimiawi yang mati, dengan memakai informasi-informasi genomik yang sudah bisa disusun.

Menutup tulisan ini, ada baiknya sejenak kita tengok Thomas Aquinas (1225-1274). Filsuf Katolik yang punya nama besar ini, dengan berpijak pada pandangan Aristoteles, membangun argumen berikut ini: untuk segala sesuatu yang ada dalam jagat raya ini, pasti ada penyebabnya, dan pada titik paling awal dari semua hal yang ada pasti ada penyebab yang tidak disebabkan oleh penyebab sebelumnya, yang olehnya disebut uncaused cause; dan untuk segala sesuatu yang bergerak dalam jagat raya pasti ada penggeraknya, dan pada titik paling awal dari semua yang bergerak pasti ada pengerak utama yang tak digerakkan oleh apapun sebelumnya, yang olehnya disebut unmoved prime mover. Nah, kata Aquinas, uncaused cause atau unmoved prime mover ini adalah Allah.

Jelas, argumen Aquinas ini bukan sebuah argumen saintifik, melainkan argumen imaniah. Sebab, kalau orang bergerak dalam jalur argumen saintifik, dia harus masuk ke dalam cause and effect continuum yang tak pernah selesai, baik kontinuumnya bergerak ke belakang, atau bergerak ke depan, maupun bergerak sirkular. Dilihat dari sudut pandang saintifik, tidak akan ada sesuatu dalam jagat raya ini (effect) yang tidak disebabkan oleh penyebab sebelumnya (cause); tidak akan ada uncaused cause atau unmoved prime mover. Jadi, bagi orang yang berpikir saintifik, Allah juga harus ada penyebab yang membuatnya ada, jika Allah memang dipandang ada. Tetapi jika Allah dipandang ada tanpa penyebab sebelumnya yang menyebabkan Allah ini ada, maka Allah yang semacam ini tidak ada sama sekali, sebab sesuatu apapun dalam jagat raya ini yang tidak ada penyebabnya, sesuatu ini tidak ada.

Tetapi, itu baru satu sisi dari argumen tandingan yang saya berhasil pikirkan, yang mungkin kini juga sudah menjadi sebuah argumen usang yang tak diperlukan lagi. Ada argumen lain yang sangat penting, yang didapat jka kita memasuki dunia mekanika quantum, yakni dunia partikel-partikel subatomik, seperti elektron, proton, neutron, quark, dan lain-lain.

Dalam dunia quantum ini ditemukan suatu fakta sains yang solid bahwa partikel-partikel subatomik muncul begitu saja tanpa asal-usul dan juga dengan cepat menghilang begitu saja ke lokasi yang tak bisa diprediksi, sehingga partikel-partikel ini tampak berasal “from nothing” lalu menjadi “something”, kemudian menjadi “nothing” kembali, dengan interval waktu yang sangat pendek. Partikel-partikel yang semacam ini dinamakan virtual particles.

Jadi, karena jagat raya kita berawal dari the big bang, dan big bang ini tentu memiliki “inti” sendiri yang umumnya disebut “singularitas” black hole yang sangat masif terkonsentrasi dan berenergi sangat besar, sudah seharusnya dalam singularitas inti big bang ini dunia yang ditemukan adalah dunia quantum. Dan hanya dalam dunia quantum inilah “something” terbentuk “from nothing”. Jadi, ditinjau dari dunia mekanika quantum, jagat raya kita pada awal sekali muncul dari ketiadaan, “from nothing”, tanpa memerlukan uncaused cause atau ummoved prime mover.

Jika kaum agamawan memandang Allah sebagai suatu zat spiritual yang tak termasuk ke dalam materi, energi dan ruang-waktu yang kita kenal, maka ditinjau dari sains fisika, Allah semacam ini juga adalah “nothing”. Berlebihankah jika saya berpendapat bahwa di dalam “nothingness” ini, sains fisika dan agama bertemu? Tetapi, saya juga bertanya lebih jauh pada diri saya sendiri: Jika Allah adalah “nothing”, apakah ada manfaat lebih jika kita menyebut “nothing” sebagai Allah, ataukah kita sebaiknya tetap menyebut “nothing” sebagai tetap “nothing” tanpa perlu memasukkan teologi ke dalam sebutan “nothing” ini? Saya merasa, saya harus menerima pilihan yang kedua ini: teologi tak perlu dibawa masuk ke dalam fisika. Lagi pula, saya rasa, tak ada orang yang beragama teistik mau menyebut Allah sebagai “nothing”, mereka maunya menamakan Allah sebagai “something”.         


Penutup

Semua orang beragama tentu ingin agama tetap bisa memandu sains. Kenyataannya, sains bergerak masuk ke wilayah-wilayah yang dulu hanya dikuasai oleh agama, lalu merebutnya dari tangan para agamawan. Maka para agamawan tak pelak lagi harus bekerja keras mencari jalan-jalan lain, dengan langkah pertamanya adalah memahami sains secara objektif, dan, sebagai langkah berikutnya, bersedia mengubah dogma dan doktrin keagamaan mereka jika dogma dan doktrin ini tak memiliki landasan saintifik apapun melainkan hanya diterima begitu saja tanpa bukti. Banyak orang akan setuju, jika dinyatakan bahwa mengajarkan dan memberitakan dogma dan doktrin keagamaan yang tak berpijak pada bukti-bukti objektif dan pandangan- pandangan saintifik adalah tindakan yang jauh dari kebenaran. Apa itu kebenaran, mungkin anda bertanya kepada saya. Bagi saya, truth is everything that corresponds to authentic and objective proofs!  

oleh ioanes rakhmat

Catatan-catatan

/1/ Tentang usaha-usaha ke arah ini yang sudah dipikirkan sejak sekarang, sudah saya gambarkan di http://ioanesrakhmat2009.blogspot.com/2009/08/kiamat-dan-pemindahan-planet-bumi.html. Lihat  juga tulisan saya yang lebih luas tentang topik ini, yang tersedia onlne di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/06/kiamat-dan-nasib-planet-bumi-di-masa.html.


/3/ Lihat http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/01/fisika-peradaban-luar-bumi-by-michio.html; dan juga Michio Kaku, Parallel Worlds: A Journey through Creation, Higher Dimensions, and the Future of the Cosmos (New York: Anchor Books, 2005) hlm. 304-342.

/4/ Ray Kurzweil, The Singularity Is Near: When Humans Transcend Biology (New York: Penguin Group, 2006 [paperback]; New York: Viking Press, 2005 [hardcover]).

/5/ Sam Harris, The Moral Landscape: How Science Can Determine Human Values (New York: Free Press, 2010).

/6/ Patricia S. Churchland, Braintrust: What Neuroscience Tells Us about Morality (Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 2011).

/7/ Lihat khususnya Richard Dawkins, The Selfish Gene (New York: Oxford University Press, 1976) hlm. 64.

/8/ Lihat Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings From A Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009); Michael Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987).



/11/ Lihat L. Vigilant et al., “African Populations and the Evolution of Human Mitochondrial DNA”, dalam Science 253, no. 5027 [1991], hlm. 1503-1507.

/12/ Robert Wright, The Evolution of God (New York, etc.: Little, Brown and Company, 2009) hlm. 17.

/13/ Reportase tentang temuan arkeologis ini tersedia online di http://www.afrol.com/articles/23093.

/14/ Robert N. Bellah, Religion in Human Evolution: From the Paleolithic to the Axial Age (Cambridge/London: The Belknap Press of Harvard University Press, 2011), Ikhtisar padat buku tebal Bellah ini (744 hlm) sudah saya buat, dan tersedia online di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2012/08/kelahiran-agama-menurut-robert-n-bellah.html.

/15/ Victor J. Stenger, God and the Folly of the Faith: The Incompatibility of Science and Religion (Amherst: Prometheus Books, 2012) hlm. 257-259.    


/17/ Victor J. Stenger, Quantum Gods: Creation, Chaos, and the Search for Cosmic Consciousness (Amherst, New York: Prometheus Books, 2009).

/18/Hugh Ross, The Creator and the Cosmos: How the Greatest Scientific Discoveries of the Century Reveal God (Colorado Springs: NavPress, 1995) hlm. 61.

/19/ Pernyataan Agustinus ini dikutip dalam Charles Freeman, The Closing of the Western Mind: The Rise of Faith and the Fall of Reason (London: Heinemann, 2002), hlm. vii.

/20/ Friedrich A. Hayek, The Road to Serfdom (London & New York: George Routledge & Sons, 1944; London: Routledge, 2001). Buku Hayek ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ioanes Rakhmat, terbit dengan judul Ancaman Kolektivisme (Jakarta: Freedom Institute & Friedrich Naumann Stiftung, 2011).

/21/ Robert Hutchinson, “The Biblical Origins of Modern Science”, dalam The Politically Incorrect Guide to the Bible (Washington, DC: Regnery, 2007) 139.

/22/ Alvin Schmidt, “Science: Its Christian Connections” dalam Under the Influence: How Christianity Transformed Civilization (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001) 221.

/23/ Richard Carrier dalam John W. Loftus, ed., The Christian Delusion: Why Faith Fails (Amherst, New York: Prometheus Books, 2010) 396-419.

/24/ Victor J. Stenger, Has Science Found God? The Latest Results in the Search for Purpose in the Universe (Amherst, New York: Prometheus Books, 2003).

/25/Victor J. Stenger, God: The Failed Hypothesis. How Science Shows That God Does Not Exist (Amherst, New York: Prometheus Books, 2007).

/26/ Jesse Bering, The Belief Instinct: The Psychology of Souls, Destiny, and the Meaning of Life (New York/London: W.W. Norton and Company, 2011) hlm. 8.

/27/Lihat tulisan saya tentang topik ini yang sudah tersedia online di http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2011/11/pengalaman-pengalaman-spiritual.html.

/28/ Andrew Newberg & Mark Robert Waldman, How God Changes Your Brain: Breakthrough Findings from a Leading Neuroscientist (New York: Ballantine Books, 2009).

/29/Andrew Newberg, E. D’Aquili, dan V. Rause, Why God Wont Go Away (New York: Ballantine Books, 2001).

/30/ Michael A. Persinger, Neuropsychological Bases of God Beliefs (New York: Praeger, 1987). 

/31/Lihat tulisan saya yang sudah dirujuk dalam catatan nomor 27 di atas; lihat juga Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (New York: Henry Holt and Company, 1997, 2002) hlm. 73-87; Victor J. Stenger, Has Science Found God?, hlm. 290-299.

/32/ Michael Shermer, Why People Believe Weird Things: Pseudoscience, Superstition, and Other Confusions of Our Time (New York: Henry Holt and Company, 1997, 2002).

/33/Michael Shermer, The Believing Brain: From Ghosts and Gods to Politics and ConspiraciesHow We Construct Beliefs and Reinforce Them as Truths (New York: Henry Holt and Company, 2011).

/34/ Richard Wiseman, Paranormality: Why We See What Isn't There (MacMillan, U.K., 2011).

/35/ Michael Shermer, The Believing Brain, hlm. 111.

/36/ Richard Dawkins, The Greatest Show on Earth: The Evidence for Evolution (New York: Free Press, 2009).

/37/ Jerry A. Coyne, Why Evolution Is True (Penguin Books, 2009).


/39/ Gambaran lebih luas tentang wahana Curiosity dan kondisi-kondisi lingkungan alam planet Mars dapat diperoleh di http://www.time.com/time/health/article/0,8599,2100299,00.html. Lihat juga  reportase di http://www.time.com/time/health/article/0,8599,2100310,00.html; dan penjelasan terperinci berjudul “Mega-rover ready to hunt for life signs on Mars” di http://www.newscientist.com/article/mg21228381.900-megarover-ready-to-hunt-for-life-signs-on-mars.html?full=true.

/40/ Francis Collins, The Language of God: A Scientist Presents Evidence for Belief (New York: Free Press, 2007).

/41/Victor J. Stenger, The Fallacy of Fine-Tuning: Why the Universe Is Not Designed for Us (New York, Amherst: Prometheus Books, 2011).

/42/ Victor J. Stenger, The Fallacy of Fine-Tuning, hlm. 22-23.

/43/ Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow, The Grand Design (New York: Bantam Books, 2010).


/45/ Lawrence M. Krauss, A Universe From Nothing: Why There Is Something Rather than Nothing (Afterword oleh Richard Dawkins) (New York, etc.: Free Press, 2012) hlm.  183.

 /46/ Tentang revolusi saintifik Craig Venter di bidang biologi sintetis ini, masuklah ke http://ioanesrakhmat.blogspot.com/2010/10/dna-sintetik-dan-kehidupan-artifisial.html. Perhatikan juga dengan seksama semua tulisan yang dirujuk sebagai sumber-sumber bagi tulisan saya ini.